Tanda & Gejala Dispepsia Gejala-gejala dispepsia, antara lain (Djojodiningrat, 2006): Nyeri terbakar dan rasa tidak

nyaman di regio epigastrium Nyeri saat lapar Perasaan tekanan dan kembung Perasaan kenyang Cepat terasa penuh saat makan Bersendawa, peningkatan emisi gas Adanya refluks ke esofagus dari lambung Mual dengan atau tanpa muntah Muntah

Prognosis Dispepsia bukanlah penyakit, melainkan gejala dari penyakit lain atau gangguan. Akibatnya, hasil prediksi akhirnya tergantung pada penyebab yang mendasari gejala dispepsia. Untuk pengobatan akut dispepsia, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa obat antasida bekerja lebih baik daripada senyawa inert (plasebo) dalam mengurangi gejala. Namun demikian, efek antasid untuk mengurangi gejala dispepsia dapat menurunkan jumlah prosedur yang ekstensif dan mahal, seperti endoskopi. Antagonis reseptor histamin mengakibatkan penurunan 50% dalam output asam oleh lambung, dan ini telah ditemukan untuk menghasilkan peningkatan yang signifikan pada individu yang mengalami nyeri dan mual. Agen prokinetik ditemukan untuk menjadi pengobatan yang paling efektif untuk gangguan motilitas gastrointestinal. Obat yang menghambat sekresi asam oleh lambung (proton pump inhibitors) biasanya pengobatan terbaik untuk refluks asam dari lambung ke kerongkongan (gastroesophageal reflux). Statistik menunjukkan rata-rata 20% pasien dengan dispepsia memiliki duodenalor gastric ulcer disease, 20% memiliki sindrom iritasi usus besar, kurang dari 1% pasien memiliki kanker, dan rentang untuk fungsional, atau non-ulkus dispepsia adalah 5-40%. Pasien dispepsia fungsional memiliki prognosis kualitas hidup lebih rendah dibandingkan dengan individu dengan dispepsia organik. Tingkat kecemasan sedang hingga berat juga lebih sering dialami oleh individu dispepsia fungsional. Lebih jauh diteliti, terungkap bahwa pasien dispepsia fungsional, terutama yang refrakter terhadap pengobatan, memiliki kecenderungan tinggi untuk mengalami depresi dan gangguan psikiatris. Pada dasarnya prognosis dispepsia ini baik. Hanya akan menjadi buruk apabila telat ditangani dan sudah menjadi kronik pada penyakit tertentu (Werdmuller et al, 1999). Dispepsia fungsional yang ditegakkan setelah

2006) Komplikasi Penderita dispepsia selama bertahun-tahun. Tapi komplikasi kronik yang paling berbahaya adalah terjadinya kanker lambung yang mengharuskan penderitanya melakukan operasi (Werdmuller et al. Dengan terganggunya fungsi tersebut bisa mengakibatkan beberapa komplikasi. B. Long-term follow-up of Symptoms after Anti H. San Fransisco: Neth J Med Aug 55(2): 64-70 . Functional Dyspepsia has a good prognosis irrespective of H. Pylori Treatment. Pylori status. salah satunya karena adanya iritasi oleh asam lambung.pemeriksaan klinis dan penunjang yang akurat. Komplikasi dari dispepsia yang potensial adalah ulkus peptikum. Jakarta: Penerbit FKUI Werdmuller. 1999. dapat memicu adanya komplikasi yang tidak ringan. Djojodiningrat. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Dispepsia Fungsional Edisi IV Jilid I. Tentu banyak yang bisa menjadi penyebabnya. Muntah darah ini sebenarnya pertanda yang timbul belakangan.F. 1999). luka akan semakin dalam dan dapat menimbulkan komplikasi pendarahan saluran cerna yang ditandai dengan terjadinya muntah darah. 2006. mempunyai prognosis yang baik (Djojodiningrat. et al. Bila keadaan ulkus peptikum ini terus terjadi. Selain itu ada pula komplikasi peradangan pada lambung atau gastritis. Awalnya penderita pasti akan mengalami buang air besar berwarna hitam terlebih dulu. D.