Jual Skripsi

Home > Hukum > Pengertian Hak Tanggungan Makalah, Undang Undang, Eksekusi, Kasus, Ciri dan Sifat Pengertian Hak Tanggungan Makalah, Undang Undang, Eksekusi, Kasus, Ciri dan Sifat

adplus

Pengertian Hak Tanggungan Makalah, Undang Undang, Eksekusi, Kasus, Ciri dan Sifat - Pengertian Hak tanggungan: Pasal 33 ayat (3) Undang-undang Dasar 1945 menegaskan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang ada di dalam bumi digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat Indonesia.

Makalah Hak Tanggungan - Pelaksanaan Pasal 33 ayat (3) Undang-undang dasar 1945 yang berkenaan dengan tanah diatur dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Agraria. Undang-undang ini mencabut Buku II KUH Perdata sepanjang mengenai bumi, air, dan kekayaan alam yang ada di dalamnya, kecuali ketentuan-ketentuan yang mengatur mengenai hipotik. Namun demikian ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan, yaitu:

Dengan meningkatnya pembangunan nasional yang bertitik berat pada bidang ekonomi, dibutuhkan penyediaan dana yang cukup besar, sehingga memerlukan lembaga hak jaminan yang kuat dan mampu memberi kepastian hukum bagi pihak-pihak yang berkepentingan, yang dapat mendorong peningkatan pertisipasi masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945;

Sejak berlakunya Undang-undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria sampai dengan saat ini, ketentuan-ketentuan yang lengkap mengenai Hak Tanggungan sebagai lembaga hak jaminan yang dapat dibebankan atas tanah berikut atau tidak berikut benda-benda yang berkaitan dengan tanah, belum terbentuk;

Ketentuan mengenai hipotik sebagaimana diatur dalam Buku II KUH Perdata Indonesia sepanjang mengenai tanah, dan ketentuan mengenai credietverband dalam staatsblad 1908-542 sebagaimana

hal. 1999. sebagaimana dimaksud dalam UU No. hal. yang secara resmi menurut Pasal 30 Undang-undang tersebut yang selanjutnya disebut Undang-undang Hak Tanggungan (UUHT). dan 39 diatur dengan Undang-undang. sekaligus mewujudkan unifikasi hukum tanah nasional. Jaminan-jaminan untuk Pemberian Kredit. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-benda yang Berkaitan Dengan Tanah. Mengingat perkembangan yang telah dan akan terjadi di bidang pengaturan dan administrasi hak-hak atas tanah serta untuk memenuhi kebutuhan masyarakat banyak selain hak milik. 5 Tahun 1960 tentang Dasar Pokok-pokok Agraria. Bandung. sehubungan dengan perkembangan tata ekonomi Indonesia. Djambatan. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria. atau yang dikenal sebagai Undang-undang Pokok Agraria (UUPA) Pasal 51 tersebut menyatakan: “Hak Tanggungan yang dapat dibebankan pada hak milik. hak pakai atas tanah tertentu yang wajib didaftar dan menurut sifatnya dapat dipindahtangankan. 1996. Jakarta. 39) Undang-undang No. yang berdasarkan Pasal 57 Undang-undang No. termasuk Hak Tanggungan. dipandang tidak sesuai lagi dengan kebutuhankebutuhan perkreditan. hak guna usaha dan hak guna bangunan tersebut dalam Pasal 25. Citra Aditya Bakti. dengan persetujuan DPR. hak guna usaha. 33. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria. Pasal-pasal Tentang Hak Tanggungan Atas Tanah. (Rachmadi Usman.” . ditetapkan untuk memenuhi ketentuan Pasal 51 UU No. Undang-undang ini diundangkan dalam Lembaran Negara RI No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-benda yang Berkaitan dengan Tanah. pemerintah Republik Indonesia memandang perlu membentuk Undang-undang yang mengatur Hak Tanggungan atas tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah. Menurut Hukum Indonesia. Presiden Republik Indonesia telah mengesahkan Undangundang No. masih diberlakukan sementara sampai dengan terbentuknya Undang-undang tentang Hak Tanggungan. perlu juga dimungkinkan untuk dibebani Hak Tanggungan. 41-42) Berhubungan dengan hal tersebut dengan hal-hal tersebut diatas. dan hak guna bangunan yang telah ditunjuk sebagai objek Hak Tanggungan oleh Undang-undang No.telah diubah dengan staatsblad 1937-190. 3632. Pada tanggal 9 April 1996. (Subekti.

. berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah itu. Dalam hal ini pemegang Hak Tanggungan sebagai kreditur memperoleh hak didahulukan dari kreditur lainnya untuk memperoleh pembayaran piutangnya dari hasil penjualan (pencairan) objek jaminan kredit yang diikat dengan Hak Tanggungan tersebut. artinya memberikan kedudukan yang diutamakan atau mendahului kepada pemegangnya (Pasal 1 angka 1 dan Pasal 20 ayat 1). Kedudukan kreditur yang mempunyai hak didahulukan dari kreditur lain (kreditur preferen) akan sangat menguntungkan kepada pihak yang bersangkutan dalam memperoleh pembayaran kembali (pelunasan) pinjaman uang yang diberikannya kepada debitur yang ingkar janji (wanprestasi). maka ketentuan mengenai hipotek yang diatur dalam Buku II KUH Perdata sepanjang mengenai pembebanan Hak Tanggungan pada hak atas tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah. 4 Tahun 1996 dikemukakan bahwa sebagai lembaga hak jaminan atas tanah yang kuat.Dengan berlakunya UUHT. serta ketentuan tentang credietverband yang diatur dalam staatsblad 1908-542 dan staatsblad 1937-190 dinyatakan tidak berlaku lagi. hal. Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-benda yang Berkaitan dengan Tanah. Hak Tanggungan harus mengandung ciri-ciri: a. 70) Ciri-ciri dan Sifat Hak Tanggungan Dalam Penjelasan Umum Undang-undang Hak Tanggungan No.Cit. Menurut Pasal 1 angka 1 UUHT.” Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa Hak Tanggungan merupakan lembaga jaminan yang kuat karena Hak Tanggungan memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditur tertentu terhadap kreditur lain. yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditur tertentu terhadap kreditur-kreditur lain. (Rachmadi Usman. Droit de preferent. untuk pelunasan hutang tertentu. yang untuk selanjutnya disebut Hak Tanggungan adalah: “Hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam UUPA. Op.

Sifat ini merupakan salah satu jaminan khusus bagi kepentingan pemegang Hak Tanggungan. c. Mudah dan pasti pelaksanaan eksekusinya Salah satu ciri Hak Tanggungan yang kuat adalah mudah dan pasti dalam pelaksanaan eksekusinya jika debitur cidera janji. Op. dipandang perlu untuk memasukkan secara khusus mengenai eksekusi Hak Tanggungan dalam Undang-undang ini. Droit de suite. yaitu yang mengatur mengenai lembaga parate executie sebagaimana dimaksud dalam Pasal 224 HIR dan Pasal 258 Reglemen Hukum Acara untuk Daerah Luar Jawa dan Madura. yaitu dengan memperjanjikan bahwa apabila Hak Tanggungan dibebankan pada beberapa hak atas tanah. khususnya kegiatan perkreditan. Hal ini mengandung arti bahwa apabila hutang (kredit) yang dijamin pelunasannya dengan Hak Tanggungan baru dilunasi sebagian. dan wajib didaftarkan di Kantor Pertanahan sehingga terbuka untuk umum (syarat publisitas). Meskipun objek dari Hak Tanggungan sudah berpindah tangan dan menjadi milik pihak lain. (M. hal. jika debitur cidera janji. maka Hak Tanggungan tetap membebani seluruh objek Hak Tanggungan. Besarnya . maka pelunasan kredit yang dijamin dapat dilakukan dengan cara angsuran. Dengan menggunakan klausula tersebut.Cit. sifat tidak dapat dibagi-bagi dari Hak Tanggungan dapat disimpangi.b. Berdasarkan hal tersebut maka sahnya pembebanan Hak Tanggungan disyaratkan wajib disebutkan dengan jelas piutang mana dan berapa jumlahnya yang dijamin serta benda-benda mana yang dijadikan jaminan (syarat spesialitas). maka Hak Tanggungan akan membebani secara utuh objek Hak tanggungan. kreditur masih tetap dapat menggunakan haknya melalui eksekusi. Dalam Pasal 7 UUHT disebutkan bahwa Hak tanggungan tetap mengikuti objeknya dalam tangan siapapun objek itu berada. Meskipun secara umum ketentuan mengenai eksekusi telah diatur dalam hukum acara perdata yang berlaku. artinya selalu mengikuti jaminan hutang dalam tangan siapapun objek tersebut berada (Pasal 7). 41) Klausula “kecuali jika diperjanjikan dalam APHT” dalam Pasal 2 UUHT. seperti ditetapkan dalam Pasal 2 UUHT. Op. hal. dicantumkan dengan maksud untuk menampung kebutuhan perkembangan dunia perbankan.23-25) Hak Tanggungan memiliki sifat tidak dapat dibagi-bagi kecuali jika diperjanjikan dalam Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT). (Subekti. Memenuhi asas spesialitas dan publisitas sehingga dapat mengikat pihak ketiga dan memberikan kepastian hukum kepada pihak-pihak yang berkepentingan. d. Dengan sifatnya yang tidak dapat dibagi-bagi.Cit. Bahsan .

Objek Hak Tanggungan Terhadap benda-benda (tanah) yang akan dijadikan objek Hak Tanggungan. Perjanjian pokok bagi perjanjian Hak Tanggungan adalah perjanjian hutang piutang yang menimbulkan hutang yang dijamin itu. Sifat lain dari Hak Tanggungan adalah Hak tanggungan merupakan accecoir dari perjanjian pokok. suatu Kajian Mengenai UUHT. 40) . Hak Tanggungan hanya akan membebani sisa objek Hak tanggungan untuk menjamin sisa kredit yang belum dilunasi (Penjelasan Pasal 2 ayat (1) jo ayat (2) UUHT). yang akan dibebaskan dari Hak Tanggungan tersebut. Dengan demikian setelah suatu angsuran dibayarkan. Dapat dinilai dengan uang. 1999. hal. Mempunyai sifat dapat dipindah tangankan. Hukum Agraria Indonesia. hal.angsuran sama dengan nilai masing-masing hak atas tanah yang merupakan bagian dari objek Hak Tanggungan. Hak Tanggungan: Asas-asas. Surabaya. Termasuk hak yang didaftar dalam daftar umum. yang didasarkan pada suatu perjanjian hutang piutang atau perjanjian lain. karena apabila debitur cidera janji. Isi dan Pelaksanaannya. benda yang dijadikan jaminan akan dapat dijual di muka umum. Airlangga University Press. karena hutang yang dijamin berupa uang. karena harus memenuhi syarat publisitas. 20) Hal ini sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam butir 8 Penjelasan Umum UUHT yang memberikan penjelasan bahwa karena Hak Tanggungan menurut sifatnya merupakan ikatan atau accecoir pada suatu piutang tertentu. maka kelahiran dan keberadaanya ditentukan oleh adanya piutang yang dijamin pelunasannya. Jakarta. tetapi keberadaannya adalah karena adanya perjanjian lain yang disebut dengan perjanjian pokok. maka harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut. Perlu ditunjuk oleh Undang-undang sebagai hak yang dapat dibebani dengan Hak Tanggungan. Sejarah Pembentukan UUPA. (Sutan Remi Syahdeini. Ketentuan-ketentuan Pokok dan Masalah-masalah yang dihadapi Oleh Pihak Perbankan. Djambatan. 1996. artinya bahwa perjanjian Hak Tanggungan bukan merupakan perjanjian yang berdiri sendiri. (Boedi Harsono.

Pasal 4 UUHT telah menentukan hak atas tanah yang dapat dijadikan objek Hak Tanggungan. Hak atas tanah berikut bangunan (baik yang berada di atas maupun di bawah tanah). Hak jaminan atas rumah susun tersebut meliputi: Rumah susun yang berdiri atas tanah Hak Milik. Yang dimaksud akta otentik di sini adalah Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan (SKMHT) atas benda-benda di atas tanah tersebut yang dibebani Hak Tanggungan (Pasal 4 ayat (5) UUHT). tanaman. Hak Guna Bangunan. yang walaupun wajib didaftarkan. dan Hak milik atas satuan rumah susun yang bangunannya berdiri di atas tanah hak-hak yang tersebut di atas. tanaman dan hasil karya yang telah ada atau akan ada. tanaman dan hasil karya tersebut diatas harus dinyatakan dengan tegas di dalam APHT (Pasal 4 ayat (4) UUHT). Terhadap hak pakai atas tanah negara. hal. Hak Pakai yang diberikan oleh negara. Pembebanan Hak Tanggungan atas bangunan. tetapi karena sifatnya tidak dapat dipindah tangankan. 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun. dan yang merupakan milik pemegang hak atas tanah. 45-46) Objek Hak Tanggungan menjadi lebih luas jika dikaitkan dengan Pasal 12 UU No. Hak Guna Usaha. Hak Guna Bangunan. tanaman dan hasil karya tersebut. Apabila bangunan. dan yang merupakan milik pemegang hak atas tanah.Cit. (Subekti. . dan hasil karya sebagaimana disebut diatas tidak dimiliki oleh pemegang hak atas tanah. yaitu meliputi: Hak Milik.Berkaitan dengan hal tersebut. maka hak pakai tersebut tidak termasuk dalam objek Hak Tanggungan. yang menyatakan bahwa ketentuan Hak Tanggungan berlaku juga terhadap pembebanan hak jaminan atas rumah susun. sebagaimana tertuang dalam Pasal 27 UUHT. Op. Pembebanan Hak Tanggungan atas bangunan. pembebanan Hak Tanggungan atas bendabenda tersebut hanya dilakukan dengan penandatanganan serta (bersama) pada APHT yang bersangkutan oleh pemiliknya atau yang diberi kuasa oleh pemilik benda-benda tersebut untuk menandatangani serta (bersama) APHT dengan akta otentik. yamg merupakan satu kesatuan dengan tanah tersebut. Hak Pakai atas Tanah Negara yang menurut ketentuan yang berlaku wajib didaftar dan menurut sifatnya dapat dipindah tangankan. dan Hak Guna Usaha sebagaimana dimaksud dalam UUPA (Pasal 4 ayat (1) UUHT).

Proses Pembebanan Hak Tanggungan . a. Dari penjelasan umum UUHT antara lain dijelaskan bahwa pada saat pembuatan SKMHT dan APHT. Meskipun kepastian mengenai dimilikinya kewenangan tersebut baru dipersyaratkan pada waktu pemberian Hak Tanggungan itu didaftar. Kewenangan tersebut harus ada pada pemberi Hak Tanggungan pada saat pendaftaran Hak Tanggungan (Pasal 8 UUHT). harus sudah ada keyakinan pada Notaris atau PPAT yang bersangkutan bahwa pemberi Hak Tanggungan mempunyai kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum terhadap objek Hak Tanggungan yang dibebankan. b. Pemegang Hak Tanggungan Pemegang Hak Tanggungan adalah orang atau badan hukum yang berkedudukan sebagai pihak yang berpiutang (Pasal 9 UUHT). Karena Hak Tanggungan sebagai lembaga hak atas tanah tidak mengandung kewenagan untuk menguasai secara fisik dan menggunakan tanah yang dijadikan pemberi Hak Tanggungan kecuali dalam keadaan yang disebutkan dalam Pasal 11 ayat (2) huruf c.Subjek Hak Tanggungan Yang dimaksud subjek Hak Tanggungan dalam hal ini adalah pemberi dan pemegang Hak Tanggungan. maka pemegang Hak tanggungan dapat dilakukan oleh Warga Negara Indonesia atau Badan Hukum Indonesia atau Warga Negara Asing atau Badan Hukum Asing. Pemberi Hak Tanggungan Pemberi Hak Tanggungan adalah orang atau badan hukum yang mempunyai kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum terhadap objek Hak Tanggungan.

Setelah formulir diisi dengan lengkap dan benar. maka kemudian dilakukan negosiasi antara kedua belah pihak. Pihak bank kemudian melakukan analisis dan evaluasi kredit atas dasar data yang tercantum dalam formulir permohonan kredit tersebut. Setelah dilakukan pengikatan jaminan Hak Tanggungan dan PPAT telah memberikan keterangan bahwa calon debitur dinyatakan telah memenuhi persyaratan. 32) Pengikatan jaminan Hak Tanggungan yang dilakukan dalam perjanjian kredit yang dimaksud di sini adalah melalui proses pembebanan Hak Tanggungan sebagaimana telah ditentukan dalam UUHT yaitu melalui dua tahap berupa: Tahap pemberian Hak Tanggungan yang dilakukan di hadapan PPAT. . yang dalam hal ini adalah pihak bank yaitu dengan melalui tahap sebagai berikut: Calon debitur mengajukan permohonan kredit dan menyerahkan berkas-berkas yang diperlukan dan telah ditentukan pihak bank dalam pengajuan kredit. Apabila terhadap hasil analisis dan evaluasi kredit calon debitur dinyatakan layak oleh pihak bank untuk memperoleh kredit. yaitu pihak bank dan calon debitur. (Thomas Suyatno. formulir tersebut kemudian diserahkan kembali kepada bank.Secara umum prosedur pemberian kredit dengan jaminan Hak Tanggungan yang diajukan calon debitur kepada kreditur.. dalam hal ini berupa jaminan Hak Tanggungan. bunga dan sebagainya. dihadapan PPAT dan pejabat bank. 1993. Apabila telah terjadi kesepakatan antara kedua belah pihak maka dilakukan penandatanganan perjanjian kredit yang berupa surat pengakuan hutang dengan pengikatan jaminan. Selain itu. Tujuan analisis ini adalah untuk memastikan kebenaran data dan informasi yang diberikan dalam permohonan kredit. hal. jangka waktu kredit. biaya administrasi. Dasar-dasar Hukum Perkreditan Edisi Ketiga. Tahap pendaftaran Hak tanggungan yang dilakukan di Kantor Pertanahan Kabupaten atau Kota setempat. baru kemudian bank merealisasikan kredit kepada calon debitur. yang merupakan saat lahirnya Hak Tanggungan. Calon debitur mengisi formulir permohonan kredit yang telah disediakan oleh pihak bank. denda. Jakarta. hasil analisis dan evaluasi kredit ini digunakan sebagai dasar pertimbangan akan diterima atau ditolaknya permohonan kredit tersebut. keperluan kredit. Negosiasi kredit ini antara lain mengenai maksimal kredit yang akan diberikan. Gramedia Pustaka Utama.

Cit. APHT yang dibuat oleh PPAT tersebut merupakan akta otentik (Penjelasan Umum angka 7 UUHT). artinya hak atas tanah tersebut belum bersertifikat. yang dituangkan di dalam dan merupakan bagian tidak terpisahkan dari perjanjian hutang piutang yang bersangkutan. Tahap Pemberian Hak Tanggungan Sesuai dengan sifat Accecoir dari Hak Tanggungan. pemegang Hak Tanggungan dan dua orang saksi. Bahsan. Hal ini adalah sebagaimana tersebut dalam Pasal 10 ayat (1) UUHT yang menyatakan bahwa pemberian Hak Tanggungan didahului dengan janji untuk memberikan Hak Tanggungan sebagaimana jaminan pelunasan hutang tertentu. Maka pembebanan Hak Tanggungan didahului dengan perjanjian yang menimbulkan hubungan hukum hutang piutang yang dijamin pelunasannya.Menurut Pasal 1 angka 4 UUHT disebutkan bahwa PPAT adalah pejabat umum yang diberi wewenang untuk membuat akta pemindahan hak atas tanah. Terhadap objek Hak Tanggungan berupa hak atas tanah yang berasal dari konversi hak lama yang telah memenuhi syarat didaftarkan akan tetapi pendaftarannya belum dilakukan. Dengan ketentuan bahwa bidang-bidang tanah tersebut harus terletak dalam satu daerah kerja Kantor Pertanahan Kabupaten/ Kota (Pasal 3 ayat (2) Peraturan Menteri Agraria No. maka akta yang dibuat oleh PPAT merupakan akta otentik. untuk pembuatan pemberian APHT yang bersangkutan PPAT memerlukan ijin dari Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional (BPN) Propinsi. akta pembebanan hak atas tanah. yang merupakan perjanjian pokoknya. Menurut ketentuan Pasal 10 ayat (2) UUHT pemberian Hak Tanggungan yang wajib dihadiri oleh pemberi Hak Tanggungan. 15 Tahun 1961 dan Pasal 3 . Hak lama yang dimaksud disini adalah hak yang kepemilikan atas tanah menurut hukum adat yang telah ada akan tetapi proses administrasi dalam konversinya belum selesai dilaksanakan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. a. dilakukan dengan pembuatan APHT yang dibuat oleh PPAT sesuai peraturan Perundang-undangan yang berlaku. (M. hal. Op. dan akta pemberian kuasa pembebanan Hak Tanggungan. Dalam penjelasan umum angka 7 dijelaskan pula bahwa dalam kedudukan sebagaimana tersebut dalam Pasal 1 angka 4. 31) Terhadap objek Hak Tanggungan yang terdiri lebih dari satu bidang tanah dan diantaranya ada yang letaknya diluar daerah kerjanya. pemberian Hak Tanggungan dilakukan bersamaan dengan permohonan pendaftaran hak atas tanah yang bersangkutan.

Bandung. atau bagi tanah yang belum terdaftar sekurang-kurangnya memuat uraian mengenai pemilikan. maka janji-janji terdebut juga mempunyai kekuatan mengikat terhadap pihak ketiga. 67/DDA/1968). Dalam Pasal 11 ayat (1) UUHT disebutkan hal-hal yang wajib dicantumkan dalam APHT. letak. Uraian yang jelas mengenai objek Hak Tanggungan. hal. Dalam hal ini pihak-pihak bebas menentukan untuk menyebutkan atau tidak menyebutkan janji-janji tersebut dalam APHT. Apabila domisili pilihan itu tidak dicantumkan dalam APHT maka kantor PPAT tempat pembuatan APHT dianggap sebagai domisili yang dipilih. yaitu: Nama dan identitas pemberi dan pemegang Hak Tanggungan. batas-batas. SK. baginya harus pula dicantumkan suatu domisili pilihan di Indonesia. Domisili pihak-pihak sebagaimana dimaksud pada angka 1. Op. 1996. Penunjukan secara jelas hutang atau hutang-hutang yang dijamin pelunasannya dengan Hak Tanggungan dan meliputi juga nama dan identitas debitur yang bersangkutan. dan luas tanah. (Rachmadi Usman. Persiapan Pelaksanaan Hak Tanggungan di Lingkungan Perbankan (Hasil Seminar).Keputusan Direktur Jenderal Agraria No. (Bambang Setijoprodjo dalam Lembaga Kajian Hukum dan Bisnis Fakultas Hukum USU Medan. hal. Nilai tanggungan. 58-59) Selanjutnya Undang-undang menetapkan isi yang sifatnya wajib untuk sahnya APHT. Citra Aditya Bakti. dan apabila di antara mereka ada yang berdomisili di luar Indonesia. antara lain: . 110) Adapun janji-janji yang disebutkan dalam APHT sebagaimana tersebut dalam Pasal 11 ayat (2). Cit. yakni meliputi rincian mengenai sertfikat hak atas tanah yang bersangkutan. Selain hal tersebut di atas. Maka mengakibatkan akta yang bersangkutan menjadi batal demi hukum. Dalam dimuatnya janji-janji itu dalam APHT yang kemudian di daftar pada Kantor Pertanahan. dalam APHT dapat dicantumkan janji-janji yang sifatnya fakultatif dan tidak mempunyai pengaruh terhadap sahnya APHT (Pasal 11 ayat (2) UUHT). Dengan tidak mencantumkannya secara lengkap hal-hal yang wajib disebut dalam APHT.

Ada janji yang dilarang untuk dilakukan. jika objek Hak Tanggungan diasuransikan. Janji bahwa pemegang Hak Tanggungan pertama mempunyai hak untuk menjual atas kekuasaan sendiri objek Hak Tanggungan apabila debitur cidera janji. Janji bahwa pemegang Hak Tanggungan tidak akan melepaskan haknya atas objek Hak Tanggungan tanpa persetujuan tertulis terlebih dahulu dari pemegang Hak Tanggungan. Janji bahwa pemegang Hak Tanggungan akan memperoleh seluruh atau sebagian dari uang asuransi yang diterima pemberi Hak Tanggungan untuk pelunasan piutangnya. Ketentuan tersebut diadakan dalam rangka melindungi kepentingan debitur dan . yaitu janji yang disebutkan dalam Pasal 12 UUHT. yaitu dilarang diperjanjikan pemberian kewenangan kepada debitur untuk memiliki objek Hak Tanggungan apabila debitur cidera janji. Janji yang diberikan oleh pemegang Hak Tanggungan pertama bahwa objek Hak Tanggungan tidak akan dibersihkan dari Hak Tanggungan. kecuali dengan persetujuan tertulis lebih dahulu dari pemegang Hak Tanggungan. jika hal itu diperlukan untuk pelaksanaan eksekusi atau untuk mencegah menjadi hapusnya atau dibatalkannya hak yang menjadi objek Hak Tanggungan karena tidak dipenuhi atau dilanggarnya ketentuan Undang-undang. Janji yang membatasi kewenangan pemberi Hak Tanggungan. Janji bahwa pemegang Hak Tanggungan akan mengosongkan objek Hak Tanggungan pada waktu eksekusi Hak Tanggungan. Janji yang memberikan kewenangan kepada pemegang Hak Tanggungan berdasarkan penetapan Ketua Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi objek Hak Tanggungan apabila debitur sungguh-sungguh cidera janji. kecuali dengan persetujuan tertulis terlebih dahulu dari pemegang Hak Tanggungan. Janji bahwa pemegang Hak Tanggungan akan memperoleh seluruh atau sebagian dari ganti rugi yang diterima pemberi Hak Tanggungan untuk pelunasan piutangnya apabila objek Hak Tanggungan dilepaskan dari haknya oleh pemberi Hak Tanggungan atau dicabut haknya untuk kepentingan umum. Janji yang memberikan kewenangan kepada pemegang Hak Tanggungan untuk menyelamatkan objek Hak Tanggungan. Janji bahwa sertifikat hak atas tanah yang telah dibubuhi catatan pembebanan Hak Tanggungan tetap berada di tangan kreditur sampai seluruh kewajiban debitur dipenuhi sebagaimana mestinya.Janji yang membatasi kewenangan pemberi Hak Tanggungan untuk menyewakan objek Hak Tanggungan dan/ atau menentukan atau mengubah jangka waktu sewa di muka.

pemberi Hak Tanggungan lainnya. 143) Dengan dibuatnya buku tanah tersebut. PPAT wajib melaksanakan ketentuan tersebut karena jabatannya. Op. Citra Aditya Bakti. hal. Jika hari ke-7 jatuh pada hari libur. dengan kedudukan mendahului dari krediturkreditur lain. 3 Tahun 1997. Tahap Pendaftaran Hak Tanggungan Menurut Pasal 13 UUHT. Hak Tanggungan. dengan dibuatkan buku tanah Hak Tanggungan. serta selalu berpedoman pada tujuannya untuk didaftarkannya Hak Tanggungan itu secepat mungkin. Buku 2. Satrio. terutama jika nilai objek Hak Tanggungan melebihi besarnya hutang yang dijamin. Kepastian tanggal buku tanah itu dimaksudkan agar pembuatan buku tanah Hak Tanggungan tidak berlarut-larut sehingga dapat merugikan pihak-pihak yang berkepentingan dan mengurangi jaminan kepastian hukum. (Bambang Setijoprodjo dalam Lembaga Kajian Hukum Bisnis Fakultas Hukum USU Medan.Cit. dan identitas pihak-pihak yang bersangkutan. .(J. Hukum Jaminan. Bentuk dan isi buku tanah Hak Tanggungan telah ditetapkan berdasarkan Peraturan Menteri Agraria No. Bandung. Dengan pengiriman oleh PPAT berarti akta dan berkas lain yang diperlukan itu disampaikan ke Kantor Pertanahan melalui petugasnya atau dikirim melalui pos tercatat. PPAT wajib menggunakan cara yang paling baik dan aman dengan memperhatikan kondisi di daerah dan fasilitas yang ada. Hak Tanggungan lahir dan kreditur menjadi kreditur pemegang Hak Tanggungan. hal. Oleh karena itu pemegang Hak Tanggungan dilarang untuk serta merta menjadi pemilik objek Hak Tanggungan jika debitur cidera janji. PPAT wajib mengirimkan APHT yang bersangkutan dan berkas lainnya yang diperlukan kepada Kantor Pertanahan. 1998. Hak Jaminan Kebendaan. termasuk di dalamnya sertifikat hak atas tanah dan/ atau surat-surat keterangan mengenai objek Hak Tanggungan. pamberian Hak Tanggungan wajib didaftarkan ke Kantor Pertanahan selambatlambatnya 7 hari kerja setelah penandatanganan APHT. 69 ) Pendaftaran Hak Tanggungan dilakukan oleh Kantor Pertanahan atas dasar data di dalam APHT serta berkas pendaftaran yang diterimanya dari PPAT. buku tanah yang bersangkutan diberi tanggal hari kerja berikutnya. b. Menurut Pasal 13 ayat (4) UUHT tanggal pembuatan buku tanah Hak Tanggungan adalah hari ke-7 setelah penerimaan secara lengkap surat-surat yang diperlukan bagi pendaftaran Hak Tanggungan. Berkas lain yang dimaksud di sini adalah meliputi surat-surat bukti yang berkaitan dengan objek Hak Tanggungan. Sanksi atas pelanggarannya akan ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur jabatan PPAT.

eksekusi Hak Tanggungan dilakukan berdasarkan: Hak pemegang Hak Tanggungan pertama untuk menjual objek Hak Tanggungan atas dasar kewenangan dan janji yang disebut dalam Pasal 6 UUHT. dihitung sejak selesainya pendaftaran hak atas tanah yang bersangkutan. . 2000. (Habib Ajie. Setelah sertifikat Hak Tanggungan selesai dibuat. sertifikat Hak Tanggungan diberi irah-irah dengan membubuhkan pada sampulnya kalimat “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA” (Pasal 14 ayat (2) dan (3) UUHT). Eksekusi Hak Tanggungan yaitu terjadi apabila debitur cidera janji sehingga objek Hak Tanggungan kemudian dijual melalui pelelangan umum menurut cara yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku dan pemegang Hak Tanggungan berhak mengambil seluruh atau sebagian dari hasilnya untuk pelunasan piutangnya dengan hak mendahului daripada kreditur-kreditur lain. Bandung. Hak Tanggungan Sebagai Lembaga Jaminan Atas Tanah.Dalam hal hak atas tanah yang dijadikan jaminan belum bersertifikat terlebih dahulu sebelum dilakukan pendaftaran Hak Tanggungan. kemudian sertifikat Hak Tanggungan tersebut diserahkan kepada pemegang Hak Tanggungan yang bersangkutan. 22) Menurut Pasal 20 ayat (1) UUHT. maka untuk itu dapat dipergunakan Lembaga Parate Eksekusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 224 HIR dan 258 Rbg. hal. Eksekusi Hak Tanggungan Salah satu ciri dari Hak Tanggungan adalah mudah dan pasti dalam pelaksanaan eksekusinya apabila dikemudian hari debitur wanprestasi. Untuk memberikan kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap. Dengan pencantuman irah-irah tersebut pada sertifikat Hak Tanggungan. Waktu hari ketujuh yang ditetapkan sebagai tanggal buku tanah Hak Tanggungan tersebut dalam hal yang demikian. Titel eksekutorial yang terdapat dalam sertifikat Hak Tanggungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2) UUHT. Mandar Maju.

Pelelangan ini langsung . sertifikat Hak Tanggungan mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap. pemegang Hak Tanggungan pertama mempunyai hak untuk menjual objek Hak Tanggungan atas kekuasaan sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan tersebut. Dengan irah-irah tersebut.Berdasarkan Pasal 6 UUHT disebutkan bahwa apabila debitur cidera janji. Eksekusi Hak Tanggungan dengan titel eksekutorial dapat dilakukan karena berdasarkan Pasal 14 ayat (2) UUHT. Penjualan barang secara prosedural ini dimungkinkan dapat diperoleh harga yang tertinggi sehingga menguntungkan semua pihak. Permohonan eksekusi ini diajukan kepada Ketua Pengadilan Negeri. Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan eksekusi objek Hak Tanggungan dapat dilakukan melalui 3 (tiga) cara. yaitu: a. melalui pelelangan umum yang dilakukan oleh Kantor Lelang Negara. Parate Eksekusi (Pasal 14 ayat (2) UUHT) Dalam hal ini kreditur pemegang Hak Tanggungan harus menunjukkan bukti bahwa debitur ingkar janji dalam memenuhi kewajibannya dan dengan menyerahkan sertifikat Hak Tanggungan yang bersangkutan sebagai dasarnya. serta tidak ada pernyataan keberatan (Pasal 22 ayat (2) dan (3) UUHT). Penjualan objek Hak Tanggungan dapat juga dilakukan di bawah tangan asalkan atas kesepakatan pemberi dan pemegang Hak Tanggungan. sertifikat Hak Tanggungan sebagai tanda atau alat bukti adanya Hak Tanggungan yang memuat irah-irah yang berbunyi “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA”. karena dalam pelelangan ini tidak diperlukan perintah Ketua Pengadilan Negeri untuk melakukan penjualan terhadap objek Hak Tanggungan yang bersangkutan. Eksekusi kemudian dilakukan atas dasar perintah dan dengan Pimpinan Ketua Pengadilan Negeri tersebut. Hal ini dilakukan setelah lewat 1 (satu) bulan sejak diberitahukan secara tertulis oleh pemberi atau pemegang Hak Tanggungan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dan diumumkan dalam 2 (dua) surat kabar yang beredar di daerah yang bersangkutan atau media masa setempat. Pelelangan Umum (Pasal 6 UUHT) Pelaksanaan pelelangan umum berdasarkan pada Pasal 6 UUHT ini lebih mudah daripada “Parate Eksekusi”. b.

sehingga dalam hal ini kreditur pemegang Hak Tanggungan langsung dapat mengajukan permintaan penjualan objek Hak Tanggungan yang bersangkutan kepada Kantor Lelang Negara. 14 Tahun 1997 tentang pendaftaran tanah. c. maka atas kesepakatan pemberi dan pemegang Hak Tanggungan.dapat dilakukan karena dimilikinya kekuatan eksekutorial yang termuat pada irah-irah sertfikat Hak Tanggungan tersebut. Penjualan di Bawah Tangan (Pasal 6 UUHT) Dalam keadaan tertentu apabila melalui pelelangan umum diperkirakan tidak akan menghasilkan harga tertinggi. jika dengan cara demikian itu akan dapat diperoleh harga tertinggi yang menguntungkan semua pihak. dimungkinkan eksekusi dilakukan dengan cara penjualan di bawah tangan. . yaitu harus dilakukan dihadapan PPAT yang membuat aktanya dan diikuti dengan pendaftarannya di Kantor Pertanahan. Penjualan di bawah tangan terhadap objek Hak Tanggungan ini wajib dilakukan menurut ketentuan PP No.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful