PERJANJIAN PEMBERIAN KUASA

BAB I PENDAHULUAN Di jaman yang tingkat mobilitasnya sangat tinggi seperti saat ini para profesional, eksekutif muda, pengusahawan, dan lainnya dituntut untuk bekerja ekstra cepat dan tanpa mengenal waktu. Karena begitu padatnya jadwal yang mereka miliki, sehingga mengakibatkan banyak hal-hal yang dapat dikatakan terbengkalai karena kesibukan pekerjaan mereka tersebut dalam menjalankan tugasnya. Oleh karena itu orang-orang tersebut diatas membutuhkan bantuan dari para profesional lain untuk menyelesaikan urusan-urusan pekerjaan yang tidak dapat mereka tangani sendiri. Yang dimaksudkan dengan menyelenggarakan suatu urusan adalah melakukan sesuatu perbuatan hukum, yaitu suatu perbuatan yang mempunyai akibat hukum. Seseorang yang telah diberikan kekuasaan atau wewenang untuk melakukan suatu perbuatan hukum atas nama orang lain atau orang yang telah memberikan kuasa, dapat dikatakan bahwa ia mewakili si pemberi kuasa. Artinya bahwa apa yang dilakukan si penerima kuasa adalah tanggungan dari si pemberi kuasa dan segala hak dan kewajiban yang timbul dari perbuatan yang dilakukannya itu menjadi hak dan kewajiban orang yang memberi kuasa. Sebagaimana kita ketahui bersama, pemberian kuasa kepada si penerima kuasa akan menerbitkan suatu perwakilan, yaitu adanya seseorang yang diwakili kepentingan hukumnya dan seseorang yang mewakili orang lain untuk melakukan suatu perbuatan hukum. Di dalam makalah ini akan dibahas mengenai pemberian kuasa khususnya dalam hal pemberian kuasa kepada Penasehat Hukum / Advocat/ Lawyer, dimana penerima kuasa ini bertugas untuk menyelesaikan kasus-kasus hukum yang dimiliki oleh si pemberi kuasa. Oleh karena itu penulis akan membahas beberapa hal penting mengenai pemberian kuasa kepada Penasehat hukum atau Advocat, diantaranya adalah sebagai berikut : § Di dalam Bab berikutnya tentang Pembahasan akan dijelaskan secara menyeluruh mengenai maksud dari kuasa dan pemberian kuasa, serta akan dijelaskan kewajiban-kewajiban dari pemberi dan penerima kuasa, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada yaitu KUHPerdata. § Selain itu di bab II akan dijelaskan mengenai, apakah surat kuasa termasuk dalam perjanjian timbal balik atau perjanjian sepihak? Karena sebagaimana kita ketahui bersama banyak sekali pandangan serta doktrin yang berbeda-beda mengenai hal ini, oleh karena itu permaslahan ini akan dibahas secara mendalam dengan mengkaitkannya dengan Pasal-pasal yang ada di dalam KUHPer dan juga akan dikaitkann dengan pandangan dari para sarjana hukum terkemuka. § Di dalam bab berikutnya juga akan dijelaskan mengenai kuasa substitusi, cara-cara berakhirnya perjanjian pemberian kuasa dan juga perbedaan antara lastgeving (perjanjian pembebanan perintah) dengan pemberian kuasa. BAB II PEMBAHASAN A. pengertian umum Surat Kuasa adalah surat yang berisi tentang pemberian kuasa kepada seseorang untuk mengurus sesuatu sedangkan Pemberian Kuasa (lastgeving, Bld) adalah pemberian kewenangan kepada orang lain untuk melakukan perbuatan-perbuatan hukum atas nama si pemberi kuasa.

sekalipun apa yang telah diterimanya itu tidak seharusnya dibayar kepada si pemberi kuasa. B. kewajiban-kewajiban penerima kuasa Hal ini diatur dalam Pasal 1800 – 1806 KUHPerdata. apabila pada waktu si pemberi kuasa meninggal dunia. dimana disitu terdapat kata-kata “menyelenggarakan suatu urusan” dan kata-kata “untuk atas namanya” ditinjau dari sisi yuridis kata-kata “menyelenggarakan suatu urusan” berarti bahwa disitu terdapat suatu perbuatan hukum yang akan mengakibatkan akibat hukum tertentu sedangkan kata-kata “untuk atas namanya” berarti adanya seserorang yang mewakilkan kepada orang lain untuk melakukan suatu perbuatan tertentu. maka menurut Pasal 1813 hal ini menyebabkan perjanjian pemberian kuasa berakhir. Dengan tetap berpegangan pada unsur tersebut maka dapat dilihat antara pemberi kuasa dan penerima kuasa mempunyai hubungan seperti layaknya atasan dan bawahan. selama pemberian kuasa tidak terhenti dalam hal-hal yang disebutkan dalam Pasal 1813 dan seterusnya. . Substitusi § Pengertian Kuasa Substitusi Yang dimaksud dengan Kuasa Substitusi adalah penggantian penerima kuasa melalui pengalihan. Sesuai dengan Pasal 1800 kewajiban terpenting yang harus dilaksanakan oleh si penerima kuasa adalah melaksanakan kekuasaan yang dilimpahkan kepadanya oleh pihak yang memberikan kuasa. Kekuasaan yang dilimpahkan oleh pemberi kuasa adalah mutlak berasal dari dirinya karena sangat mustahil pemberi kuasa dapat melimpahkan kekuasaannya kepada si penerima kuasa tetapi kekuasaan tersebut merupakan milik orang lain. Akan tetapi ayat 2 dari Pasal 1800 BW menentukan. karena penerima kuasa harus menjalankan tugas dari pemberi kuasa. Sehingga dapat diartikan bahwa orang yang menerima kuasa dalam melakukan urusan tersebut adalah mewakili dan dalam hal ini berarti si penerima kuasa berbuat untuk dan atas nama si pemberi kuasa. Berdasarkan pengertian Pasal 1792 diatas maka unsur yang harus ada dalam sebuah pemberian kuasa adalah. Atau dengan kata lain bahwa Kuasa Substitusi adalah Kuasa yang dapat dikuasakan kembali kepada orang lain. maka pemberi kuasa memiliki kebebasan penuh untuk mencabut kekuasaan tersebut dari penerima kuasa. Yang perlu dicermati dan digarisbawahi dalam pengertian diatas adalah definisi menurut KUH Perdata. untuk atas namanya menyelenggarakan suatu urusan”. Dan penerima kuasa bertanggung jawab atas segala kerugian yang diderita sebagai akibat dari ketiadaan pelaksanaan kekuasaan. Karena kekuasaan pemberi kuasa adalah mutlak. maka ia diwajibkan untuk menyelesaikan tugasnya tersebut. Menurut Pasal 1801 BW si penerima kuasa tidak saja bertanggung jawab tentang perbuatan-perbuatan yang dilakukan dengan sengaja tetapi penerima kuasa juga bertanggung jawab atas kelalaian dalam menjalankan tugasnya. adanya persetujuan yang berisi pemberian kekuasaan kepada orang lain dimana kekuasaan itu diberikan untuk melaksanakan sesuatu atas nama orang yang memberi kuasa. Pasal 1802 BW mewajibkan si penerima kuasa untuk melaporkan kepada si pemberi kuasa tentang apa yang telah diperbuatnya dan memberikan perhitungan kepada si pemberi kuasa tentang segala apa yang telah diterimanya berdasarkan kuasanya. si penerima kuasa sudah mulai melakukan tugasnya selaku kuasa. si pemberi kuasa meninggal dunia. Apabila perjanjian pemberian kuasa masih berlaku.Sesuai dengan Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUH Perdata) pasal 1792 yang dimaksud dengan pemberian kuasa yaitu: “suatu perjanjian dengan mana seseorang memberikan kekuasaan kepada seseorang lain yang menerimanya. serta akan menimbulkan hak dan kewajiban baik dari si pemberi kuasa maupun penerima kuasa tersebut.

sebagai pengganti posisinya dalam melaksanakan kuasanya. dan lain sebagainya. serta si pemberi kuasa wajib untuk membayar upah kepada si penerima kuasa apabila hal ini telah diperjanjikan sebelumnya. dalam suatu tulisan dibawah tangan. dalam bahasa inggris disebut “Power of attourney”. Untuk melakukan perbuatan-perbuatan tertentu. Apabila seorang penerima kuasa diangkat oleh lebih dari satu orang untuk mewakili suatu urusan bersama maka orang-orang tersebut bertanggung jawab bersama atas segala akibat dari pemberian kuasa itu kepada si penerima kuasa.§ Tanggung jawab Penerima Kuasa substitusi Pasal 1803 KUH Perdata menegaskan bahwa “Si penerima kuasa bertanggung jawab atas orang yang telah ditunjuknya. bahkan dalam sepucuk surat ataupun dengan lisan. diperlukan pemberian kuasa khusus yang menyebutkan perbuatan yang harus dilakukan. Pemberian kuasa dapat dilakukan secara khusus. Jadi jelas bahwa pasal tersebut menghendaki apabila pengangkatan kuasa substitusi tidak diperbolehkan atau tidak mendapat persetujuan dari Pemberi Kuasa (pemberi kuasa pertama kali sebelum terbit kuasa substitusi) dan apabila pengangkatan kuasa substitusi telah mendapat wewenang dari Pemberi Kuasa tanpa menentukan siapa orangnya. yaitu misalnya untuk menjual sebuah rumah. yaitu mengenai hanya satu kepentingan tertentu atau lebih. Dari ketentuan ini dapat kita lihat bahwa pemberian kuasa itu adalah bebas dari sesuatu bentuk cara (Formalitas) tertentu . C. dimana kewajiban dari pemberi kuasa adalah sebagai berikut : Pemberi kuasa diwajibkan untuk memenuhi perikatan-perikatan yang dibuat oleh penerima kuasa menurut kekuasaan yang telah diberikan kepadanya. dengan perkataan lain. atau secara umum yaitu meliputi segala kepentingan si pemberi kuasa. Pemberi kuasa wajib untuk mengembalikan biaya-biaya yang telah dikeluarkan si penerima kuasa selama ia diberikan kuasa untuk mengurus segala urusan-urusan yang dimiliki oleh si pemberi kuasa. Kekuasaan atau wewenang yang diberikan untuk melakukan perbuatan hukum atas nama orang lain itu dalam bahasa belanda disebut “Volmacht”. ia adalah suatu perjanjian konsensual artinya sudah mengikat (sah) pada saat tercapainya kata sepakat antara si pemberi dan penerima kuasa. Jika dalam hal yang terakhir upahnya tidak ditentukan dengan tegas maka si penerima kuasa tidak boleh meminta upah yang lebih dari pada yang ditentukan dalam pasal 411 untuk seorang wali. kuasa umum dan kuasa khusus Kuasa dapat diberikan dan diterima dalam suatu akte umum. sedangkan orang yang dipilihnya itu ternyata seorang yang tak-cakap atau tak mampu. yang dilahirkan dalam jaman dimana orang-orang yang diberikan kuasa itu biasanya melakukan suatu jasa dengan cuma-cuma untuk kepentingan seorang kawan. Tidak semua perbuatan hukum dapat dikuasakan kepada orang lain. Pemberian suatu kuasa umum hanya memberi kewenangan . Sesuai dengan Pasal 1794 Pemberian kuasa terjadi dengan cuma-cuma kecuali diperjanjikan sebaliknya. Ketentuan pasal tersebut dapat dikatakan sudah usang karena berasal dari hukum romawi. misalnya saja dalam hal pembuatan surat wasiat (Testament) atau memberikan suara dalam rapat anggota suatu perkumpulan. D. Kewajiban-kewajiban pemberi kuasa Kewajiban dari pemberi kuasa diatur dalam Pasal 1807 – 1812. ternyata orang tersebut tidak cakap atau tidak mampu maka hal tersebut menjadi tanggung jawab dari Pemberi Kuasa substitusi. untuk mencarikan seorang partner dalam usaha perdagangan. Penerimaan suatu kuasa dapat pula terjadi secara diam-diam sesuai dengan ketentuan yang ada dalam Pasal 1793 BW. yaitu diantaranya adalah : ü Jika ia tidak diberikan kekuasaan untuk menunjuk seorang lain sebagai penggantinya ü Jika kekuasaan itu telah diberikan kepadanya tanpa penyebutan seorang tertentu.

Kemudian Trimoelja. Untuk mengajukan suatu perkara gugatan di muka pengadilan. apabila surat kuasa dikualifikasikan sebagai kesepakatan atau perjanjian timbal-balik. Yahya Harahap menerangkan pada dasarnya surat kuasa memang perjanjian hukum sepihak. karena perjanjian pemberian kuasa adalah suatu perjanjian hukum sepihak. Si penerima kuasa tidak boleh melakukan sesuatu apapun yang melampaui kuasanya. Disini menggambarkan adanya perbedaan interpretasi (penafsiran) mengenai surat kuasa. menurut pasal 123 HIR diperlukan suatu kuasa khusus tertulis. maka argumen Fadlil yang meminta penerima kuasa menandatangani surat kuasa mungkin bisa dibenarkan. kemudian di depan sidang itu menyatakan kehendaknya untuk memberikan kuasa kepada orang yang dibawanya itu untuk mengurus perkara yang akan diperiksa. “Tetapi kalau seandainya dituangkan dalam kesepakatan. untuk atas namanya menyelenggarakan suatu urusan”. meliputi kekuasaan untuk menjual barang-barang dagangan yang berada dalam toko itu dan membeli stock baru. apabila surat kuasa dianggap sebagai perjanjian timbalbalik. harus dibedakan antara perjanjian timbal-balik dengan perjanjian sepihak. Kemudian timbul lagi pertanyaan. Perdebatan ini terjadi antara Todung Mulya Lubis cs dengan Panitera Mahkamah Konstitusi (MK) Ahmad Fadlil Sumadi saat pendaftaran permohonan judicial review UU Pemilu Legislatif. maka penerima kuasa wajib menandatangani surat kuasa. hal itu juga bisa dilakukan. apabila penggugat membawa orang yang akan diberi kuasa itu ke depan sidang pengadilan. Namun. Sifat khusus itu ditujukan pada keharusan menyebutkan nama pihak yang digugat dan mengenai perkara apa. “Apakah surat kuasa itu perjanjian timbal-balik atau perjanjian sepihak?”. tetapi berbeda dengan kuasa. Pada dasarnya surat kuasa memang dikualifikasikan sebagai perjanjian. Dengan sendirinya pemberian kuasa untuk mengurus sebuah toko. Di dalam Pasal 1792 BW disebutkan bahwa “Pemberian kuasa adalah suatu perjanjian dengan mana seseorang memberikan kekuasaan kepada seorang lain. penolakan para advokat yang tak mau membubuhi tanda tangan di surat kuasa tersebut adalah benar. SURAT KUASA: PERJANJIAN TIMBAL BALIK ATAU PERJANJIAN SEPIHAK? Bila dikualifikasikan sebagai perjanjian sepihak. Apakah pencabutan surat kuasa bisa dilakukan sepihak oleh pemberi kuasa? . Kemudian timbul persoalan ketika muncul pertanyaan. ia menjelaskan bahwa pemberian kuasa menurut teori hukum merupakan perjanjian sepihak. di satu sisi juga ada yang beranggapan apabila surat kuasa dipandang sebagai perjanjian sepihak. misalnya terhadap perusahaannya si pemberi kuasa untuk mengurus perusahaan itu dan sekali-kali tidak boleh menjual perusahaan itu. maka penerima kuasa tak perlu menandatangani surat kuasa. Menurut Trimoelja. kekuasaan yang diberikan untuk menyelesaikan suatu urusan dengan jalan perdamaian. karena itu termasuk pengertian “mengurus” toko . yang menerimanya. Di satu sisi ada yang mempunyai pendapat. yang tidak boleh adalah menjual tokonya. Karena pada dasarnya. “Perjanjian sewa-menyewa atau jual-beli adalah perjanjian timbal-balik makanya harus ada tanda tangan kedua belah pihak. sebagaimana perjanjian pada umumnya. yang merupakan konsultan hukum dan juga advocat memberikan argumennya mengenai masalah ini. Bila sebagai perjanjian timbal-balik. Ahmad Fadlil meminta para advokat yang namanya tercantum sebagai penerima kuasa untuk menandatangani surat kuasa. sedangkan Todung cs menilai tanda tangan dari pemberi kuasa saja sudah cukup. sekali-kali tidak mengandung kekuasaan untuk menyerahkan perkaranya kepada putusan wasit E.untuk melakukan perbuatan-perbuatan pengurusan. Kuasa tersebut dapat diberikan secara lisan. pihak yang memberikan kuasa sewaktu-waktu dapat mencabut kembali tanpa perlu meminta persetujuan dari si penerima kuasa. Mantan hakim agung M. Surat kuasa masuk pada ruang lingkup perjanjian tertentu. penerapannya tidak terlalu kaku”. sesuai dengan dasar pengaturannya yang ada dalam Buku Ketiga KUHPerdata atau Burgerlijk Wetboek voor Indonesie (BW) tentang perikatan.

salah satu atau keduanya meninggal dunia. pencabutan secara sepihak yang dilakukan pemberi kuasa pada dasarnya tidak bertentangan. Namun prakteknya. BAB III PENUTUP A. sesuai dengan 1813 – 1819 KUHPerdata ada beberapa cara untuk mengakhiri Perjanjian Pemberian Kuasa. syarat batal dalam suatu perjanjian dianggap selalu tercantum dalam perjanjian. Kesimpulan Sebagaimana telah dijelaskan dalam bab sebelumnya. maka dari itu bolehboleh saja dicabut secara sepihak oleh pemberi kuasa tanpa melewati proses gugat perdata. Perkembangan hukum di negeri asal nya KUHPerdata (Belanda) sendiri – melalui Nieuw BW. Lastgeving merupakan perjanjian pembebanan perintah yang menimbulkan kewajiban bagi si penerima kuasa untuk melaksanakan kuasa. Sedangkan Penulis buku Hukum Perwakilan dan Kuasa.Atau harus melewati gugatan perdata seperti pembatalan perjanjian pada umumnya? Dalam konteks perjanjian timbal-balik. ia menjelaskan bahwa pengaturan tentang kuasa di KUHPerdata. maka menurutnya lastgeving kepada advokat tidak bisa seenaknya saja ditarik. Cara – cara berakhirnya pemberian kuasa Mengenai cara – cara berakhirnya pemberian kuasa diatur dalam Pasal 1813 – 1819 BW. banyak sarjana hukum menerjemahkannya sebagai pemberian kuasa. Dalam bukunya. F. Yahya Harahap mengatakan bahwa banyak orang yang berpendapat secara strict atau kaku. § Perjanjian pemberian kuasa berakhir dengan adanya perkawinan antara Pemberi dan Penerima Kuasa. kalau kuasa itu merupakan perjanjian sepihak. dapat dilihat bahwa ada hubungan yang sangat erat antara Pemberian Kuasa dengan Perwakilan. sebuah kitab revisi atas BW – telah membedakan antara kuasa dan lastgeving. harus ada pembayaran ganti rugi dan semacamnya”. lastgeving berbeda dengan pemberian kuasa. Di dalam surat kuasa. § Penerima Kuasa dalam keadaan pailit. Pada prinsipnya. karena di dalam undangundang sendiri yang menentukan bisa dicabut secara sepihak oleh pemberi kuasa. § Pemberi Kuasa menarik kembali kuasanya. Karena undang-undang sendiri yang mengatakan bisa dicabut secara sepihak. Rachmad setiawan mengatakan bahwa lastgeving bersifat timbal-balik sedangkan kuasa atau volmacht hanya sepihak. Pasal 1266 BW menyatakan bahwa pembatalan perjanjian dalam hal salah satu pihak tidak melaksanakan kewajiban. § Pemberi atau penerima kuasa. oleh karena itu perjanjian pemberian kuasa ini bisa dibatalkan. salah satu atau keduanya berada di bawah pengampuan. Rachmad Setiawan berpendapat sedikit berbeda. Menurut pendapatnya “Kuasa kepada lawyer itu lastgeving”. Orang-orang yang berpendapat seperti ini mendasarkan pada Pasal 1813-1819 BW yang menyatakan bahwa kuasa dapat dicabut secara sepihak oleh si pemberi kuasa. “Tetapi seandainya perjanjian pemberian kuasa itu dibuat dan ditandatangani oleh penerima kuasa. telah disebutkan tentang kewajiban-kewajiban yang harus dijalankan oleh si penerima kuasa dan apabila hal tersebut tidak dijalankan berarti si penerima kuasa telah melakukan wanprestasi. § Pemberi atau penerima kuasa. Pada prinsipnya. sebenarnya mengatur soal lastgeving yang terjemahan harfiahnya “pemberian beban perintah”. Pemberian kuasa terhadap lawyer atau pengacara dapat dikatakan sebagai perjanjian sepihak. antara lain : § Penerima Kuasa menghentikan kuasa yang diberikan kepadanya. Sedangkan kuasa merupakan kewenangan mewakili. harus dimintakan kepada hakim. Karena bersifat timbalbalik. “Kuasanya bisa ditarik secara sepihak. karena berdasarkan penjelasan dalam bab pembahasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa perjanjian pemberian kuasa tersebut termasuk kedalam perjanjian . M. Tapi untuk perjanjiannya tidak bisa ditarik sepihak.

Diposkan oleh Dickson Pardede. Aneka Perjanjian. agar dapat memudahkan masyarakat memperoleh kepastian hukum. P. COM ü Membahas tentang perjanjian pemberian kuasa. COM ü Kasus – kasus tentang pemberian kuasa terhadap Penasehat Hukum. oleh karena itu dapat dipastikan tujuan hukum yang pada dasarnya untuk menjamin kepastian hukum masyarakat pasti akan sulit untuk dicapai. karena ada juga yang berpendapat bahwa perjanjian pemberian kuasa termasuk ke dalam perjanjian timbal-balik. COM ü Tinjauan terhadap surat kuasa. § WWW. HUKUM ONLINE.sepihak karena pada dasarnya perjanjian terhadap lawyer atau pengacara dapat ditarik secara sepihak oleh pemberi kuasa tanpa terlebih dahulu meminta persetujuan dari pihak penerima kuasa. sehingga dengan demikian akan tercapai kepastian hukum. Prof. Bandung : 1986. di 19. B. § WWW. Yahya Harahap dimana beliau menerangkan bahwa pada dasarnya surat kuasa memang perjanjian hukum sepihak. khususnya dalam hal pasal-pasal yang berkaitan dengan perjanjian pemberian kuasa. yang kemudian mengakibatkan munculnya berbagai interpretasi karena tidak jelasnya peraturan perunadng-undangan yang ada. M. karena penerapannya tidak terlalu kaku”. Jakarta : 1972. karena setelah di analisa secara mendalam ternyata banyak sekali kekurangan yang terdapat di dalam pasal-pasal yang berkaitan dengan perjanjian pemberian kuasa. § Penulis juga berharap agar dibuat peraturan-peraturan yang mengatur secara khusus mengenai perjanjian pemberian kuasa. Hukum Perdata tentang Persetujuan-persetujuan Tertentu. hal itu juga bisa dilakukan. Alumni. Saran § Penulis berharap agar pemerintah khususnya para pembuat undang-undang untuk segera melakukan revisi atas KUHPerdata. Surat kuasa masuk pada ruang lingkup perjanjian tertentu. ü Surat kuasa termasuk perjanjian sepihak atau perjanjian timbal balik.16 . S. Jakarta : 2005 § Yahya Harahap. § WWW. DAFTAR PUSTAKA § Wiryono. § Subekti. sehingga jelas bahwa perjanjian pemberian kuasa khusunya pemberian kuasa kepada lawyer adalah perjanjian sepihak. selain itu juga sesuai dengan pasal 1814 BW yang mengatakan bahwa Si Pemberi Kuasa dapat menarik kembali kuasanya manakala ia menghendakinya. GOOGLE. Prof. Tetapi hal ini sampai saat ini masih terus diperdebatkan oleh para sarjana hukum Indonesia. R.H. Segi-segi Hukum Perjanjian. Intermassa. KOMPAS. ü Pandangan para sarjana hukum indonesia tentang perjanjian pemberian kuasa. “Tetapi kalau seandainya dituangkan dalam kesepakatan. Sumur Bandung. hal ini sesuai dengan argumen yang diberikan oleh Mantan hakim agung M.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful