BAB I TINJAUAN PUSTAKA 1.

1 Sistem Pernafasan Selama Kehamilan Selama kehamilan terjadi perubahan fisiologi sistem pernafasan yang disebabkan oleh perubahan hormonal dan faktor mekanik. Perubahan-perubahan ini diperlukan untuk mencukupi peningkatan kebutuhan metabolik dan sirkulasi untuk pertumbuhan janin, plasenta dan uterus. Selama kehamilan kapasitas vital pernapasan tetap sama dengan kapasitas sebelum hamil yaitu 3200 cc, akan tetapi terjadi peningkatan volume tidal dari 450 cc menjadi 600 cc, yang menyebabkan terjadinya peningkatan ventilasi permenit selama kehamilan antara 19-50 %. Peningkatan volume tidal ini diduga disebabkan oleh efek progesteron terhadap resistensi saluran nafas dan dengan meningkatkan sensitifitas pusat pernapasan terhadap karbondioksida. Dari faktor mekanis, terjadinya peningkatan diafragma terutama setelah pertengahan kedua kehamilan akibat membesarnya janin, menyebabkan turunnya kapasitas residu fungsional, yang merupakan volume udara yang tidak digunakan dalam paru, sebesar 20%. Selama kehamilan normal terjadi penurunan resistensi saluran napas sebesar 50%. Perubahan-perubahan ini menyebabkan terjadinya perubahan pada kimia dan gas darah. Karena meningkatnya ventilasi maka terjadi penurunan pCO2 menjadi 30 mm Hg, sedangkan pO2 tetap berkisar dari 90-106 mmHg, sebagai penurunan pCO2 akan terjadi mekanisme sekunder ginjal untuk mengurangi plasma bikarbonat menjadi 18-22 mEq/L, sehingga pH darah tidak mengalami perubahan. Secara anatomi terjadi peningkatan sudut subkostal dari 68,5 – 103,5 selama kehamilan. Perubahan fisik ini disebabkan karena elevasi diafragma sekitar 4 cm dan peningkatan diameter tranversal dada maksimal sebesar 2 cm. Adanya perubahan-perubahan ini menyebabkan perubahan pola pernapasan dari pernapasan abdominal menjadi torakal yang juga memberikan pengaruh untuk memenuhi peningkatan konsumsi oksigen maternal selama kehamilan. Laju basal metabolisme meningkat selama kehamilan seperti terbukti oleh peningkatan konsumsi oksigen. Selama melahirkan, konsumsi O2 dapat meningkat 20-25 %. Bila fungsi paru terganggu karena penyakit paru, kemampuan untuk meningkatkan konsumsi oksigen terbatas dan mungkin tidak cukup untuk mendukung partus normal, sebagai konsekuensi fetal distress dapat terjadi.
1

1.2 Pengaruh Perubahan Hormonal Selama Kehamilan Keadaan hormonal selama kehamilan sangat berbeda dengan keadaan tidak hamil dan mengalami perubahan selama perjalanan kehamilan. Perubahan-perubahan ini akan memberikan pengaruh terhadap fungsi paru. Progesteron tampaknya memberikan pengaruh awal dengan meningkatkan sensitifitas terhadap CO2, yang menyebabkan terjadinya hiperventilasi ringan, yang bisa disebut sebagai dispnea selama kehamilan. Lebih lanjut dapat dilihat adanya efek relaksasi otot polos. Pengaruh total progesteron selama kehamilan karena peningkatannya yang mencapai 50-100 kali dari keadaan tidak hamil, masih diperdebatkan dengan adanya berbagai temuan klinis yang terbuka diperdebatkan. Selama kehamilan kadar estrogen meningkat, dan terdapat data-data yang menunjukkan bahwa peningkatan ini menyebabkan menurunnya kapasitas difusi pada jalinan kapiler karena meningkatnya jumlah sekresi asam mukopolisakarida perikapiler. Estrogen memberikan pengaruh terhadap asma selama kehamilan.dengan menurunkan klirens metabolik glukokortikoid sehingga terjadi peningkatan kadar kortisol. Estrogen juga mempotensiasi relaksasi bronkial yang diinduksi oleh isoproterenol. Kadar kortisol bebas plasma meningkat selama kehamilan, demikian pula kadar total kortisol plasma. Peningkatan kadar kortisol ini seharusnya memberikan perbaikan terhadap keadaan penderita asma, akan tetapi dalam kenyataannya tidak demikian. Tampaknya beberapa wanita hamil refrakter terhadap kortisol meskipun terjadi peningkatan kadar dalam serum 2-3 kali lipat. Hal ini mungkin disebabkan terjadinya kompetisi pada reseptor glukoortikoid oleh progesteron, deoksikortikosteron dan aldosteron yang semuanya meningkat selama kehamilan. Semua tipe prostaglandin meningkat dalam serum maternal selama kehamilan, terutama menjelang persalinan aterm. Meskipun dijumpai adanya peningkatan kadar matabolit prostalandin PGF 2x yang merupakan suatu bronkokonstriktor kuat, dalam serum sebesar 10%-30%, hal ini tidak selalu memberikan pengaruh buruk pada penderita asma selama persalinan. Pada jaringan janin ditemukan histamin dalam konsentrasi tinggi. Sebagai respon terhadap stimulus ini maka plasenta menghasilkan histaminase (diaminoksidase) dalam jumlah besar mencapai 1000 kali lipat dibandingkan wanita yang tidak hamil. Penelitian dewasa ini belum membuktikan perubahan biokkimiawi ini dengan pengaruh klinik yang ditimbulkannya.

2

Selama serangan asma. beratnya pernapasan umumnya terjadi saat serangan asma. Ada pula yang berbeda. pulsus paradoksus. Hal ini disebut brokokonstriksi yang memperbesar obstruksi yaitu asma.6 % dari populasi.4 Gejala Penilaian secara subyektif tidak dapat secara akurat menentukan derajat asma. hipoksia dapat dikompensasi hiperventilasi. Namun. Bila terjadi gagal napas. hiperkapnea. tidak ada gejala sama sekali. Scoggin membagi perjalanan klinis asma sebagai berikut : 1. Namun. Pasien melaporkan gejala seperti gangguan tidur dan nyeri dada. Pemeriksaan fungsi paru tanpa provokasi tetap normal. Hal tersebut membuat asma menjadi salah satu permasalahan yang biasa ditemukan dalam kehamilan. Penderita ini sangat jarang jatuh ke dalam status asmatikus dan dalam pengobatannya sangat jarang memerlukan kortikosteroid. takikardi. dan batuk malam hari. Mucus juga menjadi lebih kental karena sel-sel mati terkelupas. ekspirasi memanjang. bila bertambah berat akan terjadi kelelahan yang menyebabkan retensi O2 akibat hiperventilasi. wheezing. Manifestasi klinis asma ditandai dengan dyspnea. Keadaan ini bersifat reversible dan dapat ditoleransi.Kontraksi otot bronkus menyebabkan saluran udara menyempit atau konstriksi. prevalensi asma sekitar 5 . ditandai asidosis. 3 . Gejala klinik bervariasi mulai dari wheezing ringan sampai bronkokonstriksi berat. kesesakan dada. sebagian karena cepat. atau berlanjut terus. dapat berbahaya. 1.1. penggunaan otot asesoris pernapasan. adanya pernapasan dalam. mucus cenderung menjadi kering dan sukar. Prevalensi asma dalam kehamilan sekitar 3. beberapa penderita asma hanya dimulai wheezing tanpa batuk. Pada keadaan ringan. di mana hanya menjadi tanda dalam beberapa kasus. Batuk yang memicu spasme atau kesesakan dalam saluran pernapasan. Beberapa serangan dimulai dengan batuk yang menjadi progresif lebih “sesak”. Beberapa yang lain tidak pernah wheezing tetapi hanya batuk selama serangan asma terjadi. pada kehamilan sangat berbahaya akibat adanya penurunan kapasitas residu. sianosis sentral. Asma akut intermiten : Di luar serangan.7 – 4 %.3 Prevalensi Di Indonesia. dan kemudian bunyi wheezing terjadi. sampai gangguan kesadaran.

Puncak aliran udara ekspirasi > 80% diduga akan tanpa gejala. 3. Asma Ringan • • • • • • Singkat (< 1 jam ) eksaserbasi symptomatic < dua kali/minggu. Asma kronik persisten (asma kronik): Pada asma kronik selalu ditemukan gejala-gejala obstruksi jalan napas. Bila serangan asma akut tidak dapat diatasi dengan obat-obat adrenergik beta dan teofilin disebut status asmatikus. 4 . hiperkapnia dan asidosis pada tingkat lanjut. 1. Asma Berat • • • Gejala terus menerus menganggu aktivitas sehari-hari Puncak aliran ekspirasi dan kemampuan volume ekspirasi kurang dari 60% dengan variasi luas Diperlukan kortikosteroid oral untuk menghilangkan gejala. Asma akut dan status asmatikus: Serangan asma dapat demikian beratnya sehingga penderita segera mencari pertolongan.5 Patofisiologi Asma Pada Kehamilan Pada asma terdapat penyempitan saluran pernafasan yang disebabkan oleh spasme otot polos saluran nafas. distribusi ventilasi tidak merata dalam sirkulasi darah pulmonal dan gangguan difusi gas di tingkat alveoli. Modifikasi asma berdasarkan National Asthma Education Program (NAEPP) yaitu : 1. Asma Sedang Gejala asma kambuh >2 kali / mingggu Kekambuhan mempengaruhi aktivitasnya Kekambuhan mungkin berlangsung berhari-hari Kemampuan puncak ekspirasi /detik dan kemampuan volume ekspirasi berkisar antara 60-80%. sehingga diperlukan pengobatan yang terus menerus. edema mukosa dan adanya hipersekresi yang kental. Hal tersebut disebabkan oleh karena saluran nafas penderita terlalu sensitif selain adanya faktor pencetus yang terus-menerus.2. 2. 3. Penyempitan ini akan menyebabkan gangguan ventilasi (hipoventilasi). Akhirnya akan berkembang menjadi hipoksemia.

PGD2. sinus dan paru. terutama selama trimester ketiga. Pada asma dengan kausa non alergenik terjadinya bronkokontriksi tampaknya diperantarai oleh perubahan aktifitas eferen vagal yang mana terjadi ketidak seimbangan antara tonus simpatis dan parasimpatis. agen anti-inflamasi merupakan hal pokok dalam pengawasan asma persisten. Peningkatan hormon estrogen menyebabkan kongesti kapiler hidung. Mediator yang dilepaskan meliputi bradikinin.E. leukotrien juga meningkatkan sekresi mukus dan menyebabkan terganggunya mekanisme transpor mukosilia. sedangkan prostaglandin F2 dapat memperburuk gejala asma karena efek bronkokonstriksi yang ditimbulkannya. dan tromboksan A2. di samping kemampuan mediator-mediator ini untuk menimbulkan bronkokontriksi. Terlepasnya mediator-mediator ini menimbulkan efek langsung cepat pada otot polos saluran nafas dan permiabilitas kapiler bronkus. leukotrien C. PGD2a. Timbulnya serangan asma disebabkan terjadinya reaksi antigen antibodi pada permukaan sel mast paru.D. Walaupun kortikosteroid mengurangi produksi sitokin dan chemokines pada pasien asma atau dengan rhinitis dan alur pengobatan utama untuk banyak pasien. Saraf simpatis dengan reseptor beta-2 menimbulkan bronkodilatasi. Patofisiologi asma yang terbaru berbicara mengenai konsep inflamasi saluran pernapasan mutakhir dan strategi terapeutik di masa mendatang. Pengaruh Kehamilan Pada Asma Perubahan hormonal yang terjadi selama kehamilan mempengaruhi hidung . prostaglandin PGG2. leukotriene modifiers and antagonis juga bersifat anti-inflamasi. Beecroft dkk mengatakan bahwa jenis kelamin janin dapat mempengaruhi serangan asma pada kehamilan.Ciri patofisiologi asma adalah inflamasi kronis and hiperaktif bronkial termasuk interaksi antara banyak sel dan mediator radang. Pada studi prospektif blind. Mediator-mediator ini menimbulkan reaksi peradangan dengan bronkokonstriksi. Karena alasan inilah. sedangkan saraf parasimpatis menimbulkan bronkokontriksi. Bronkodilatasi yang dimediasi oleh progesteron serta peningkatan kadar kortisol serum bebas merupakan salah satu perubahan fisiologis kehamilan yang dapat memperbaiki gejala asma. Hal ini berhubungan dengan perubahan hormonal selama kehamilan. yang akan diikuti dengan pelepasan berbagai mediator kimia untuk reaksi hipersentifitas cepat. Perubahan fisiologis selama kehamilan mengubah prognosis asma. kongesti vaskuler dan timbulnya edema. terdiri dari yang terbesar adalah eosinofil dan limfosit T¬¬H2. Sel infiltrate saluran pernapasan yang radang termasuk T sel aktif. sedangkan peningkatan kadar hormon progesteron menyebabkan peningkatan laju pernapasan . ditemukan 50% ibu bayi perempuan mengalami 5 .

4%). Mabie dkk (1992) melaporkan peningkatan 18 kali lipat resiko eksaserbasi pada persalinan dengan seksio sesarea dibandingkan dengan pervaginam. Sekitar 10% akan mengalami eksaserbasi pada persalinan. karena ibu dan janin akan mengalami hipoksia. Pengaruh kehamilan terhadap timbulnya serangan asma pada setiap penderita tidaklah sama. Ada hubungan antara keadaan asma sebelum hamil dan morbiditasnya pada kehamilan. Sebanyak 20 % dari ibu dengan asma ringan dan moderat mengalami serangan intrapartum. dan berat janin yang tidak sesuai dengan umur kehamilan. dan asma berat 50 %. Sekitar 60% wanita hamil yang mendapat serangan asma dapat menyelesaikan kehamilannya dengan baik. bahkan pada seorang penderita asma serangannya tidak sama pada kehamilan pertama dan kehamilan berikutnya. serta peningkatan risiko serangan 18 kali lipat setelah persalinan dengan seksio sesarea jika dibandingkan dengan persalinan per vaginam. 6 . Ibu dengan bayi laki-laki menunjukkan perbaikan gejala asma (44. persalinan prematur. pada asma moderat 26 %. hipertensi pada kehamilan. 49% kasus tetap seperti sebelum terjadinya kehamilan. Pengaruh asma pada ibu dan janin sangat bergantung dari frekuensi dan beratnya serangan asma. dan 22% kasus memburuk dengan bertambahnya umur kehamilan. Hipoksia janin terjadi sebelum hipoksia ibu terjadi. berupa abortus.2% ibu bayi laki-laki. namun serangan asma berat dan asma yang tak terkontrol dapat menyebabkan hipoksemia ibu sehingga berefek pada janin. Biasanya serangan akan timbul mulai usai kehamilan 24 minggu sampai 36 minggu.peningkatan gejala asma selama kehamilan dibandingkan dengan 22. Dampak yang terjadi dapat berupa kelahiran prematur. dan akan berkurang pada akhir kehamilan. Pengaruh Asma Pada Kehamilan Asma pada kehamilan pada umumnya tidak mempengaruhi janin. Efek kehamilan pada asma tidak dapat diprediksi. Turner et al dalam suatu penelitian yang melibatkan 1054 wanita hamil yang menderita asma menemukan bahwa 29% kasus membaik dengan terjadinya kehamilan. dan seksio sesaria . Pada asma ringan 13 % mengalami serangan pada kehamilan. sementara tidak satu pun ibu dari bayi perempuan mengalami perbaikan. Keadaan hipoksia jika tidak segera diatasi tentu akan memberikan pengaruh buruk pada janin. Asma pada kehamilan berdampak penting bagi ibu dan janin selama kehamilan dan persalinan. abrupsio plasenta. Penelitian ini menyimpulkan bahwa gejolak adrenergik yang dialami ibu selama mengandung janin laki-laki dapat meringankan gejala asma. usia kehamilan muda. korioamnionitis.

Derajat berat asma dapat dikelompokkan sebagai asma intermiten. Menurut pendapat kelompok kerja NAEPP.1. kegagalan pernapasan. Pasien dengan VEP1 60-80% prediksi meningkatkan risiko terjadinya asma pada kehamilan. tetapi pengukuran APE dengan peak flow meter biasanya sudah cukup. asma persisten ringan. asma malam hari. Asma pada kehamilan berhubungan dengan kejadian Intra Uterine Growth Retardation (IUGR) dan kelahiran prematur. dan cacat wheezing. 2) wanita dengan asma sedang sampai berat. episode serangan dan faal paru. dan dilanjutkan dengan pemantauan rutin pada kunjungan pasien selanjutnya. dan pasien dengan VEP1 kurang dari 60% prediksi memiliki risiko yang lebih tinggi. yang bersifat reversibel atau reversibel sebagian. dokter paru serta perawat yang khusus menangani asma dan ibu hamil itu sendiri. perawatan di ruang emergensi. 3) wanita setelah pulih dari serangan asma berat. sangatlah penting untuk menegakkan waktu kehamilan secara akurat melalui pemeriksaan USG pada trimester pertama. Kelompok kerja National Asthma Education and Prevention Program (NAEPP) berpendapat bahwa pasien asma persisten harus dievaluasi minimal setiap bulannya selama kehamilan. serta faal paru. Pentingnya pengobatan asma adalah mencegah kematian. evaluasi aktivitas dan perkembangan janin dengan pemeriksaan USG rutin dipertimbangkan bagi : 1) wanita dengan asma terkontrol. gangguan aktivitas. auskultasi paru. asma persisten sedang dan asma persisten berat. bidan. tergantung pada frekwensi dan derajat berat gejalanya. Terapi medikasi asma selama kehamilan hampir sama dengan terapi penderita asma tidak hamil. dengan pelega kerja singkat serta terapi harian jangka panjang untuk mengatasi inflamasi. 1.6 Diagnosis dan Perjalanan Penyakit Diagnosis asma ditegakkan berdasar gejala episodic obstruksi aliran jalan nafas.7 Penatalaksanaan Penatalaksanaan asma selama kehamilan membutuhkan pendekatan kooperatif antara dokter kandungan. Tujuan serta terapi pada prinsipnya sama dengan pada penderita asma yang tidak hamil. Evaluasi termasuk riwayat penyakit (frekuensi gejala. serangan dan penggunaan obat ). 7 . status asmatikus. Uji spirometri dilakukan pada diagnosis pertama kali. mulai kehamilan minggu ke-32. termasuk gejala malam.

tungau. aspirin. jamur. makanan. Menghindari faktor pencetus asma Mengenali serta menghindari faktor pencetus asma dapat meningkatkan kesejahteraan ibu dengan kebutuhan medikasi yang minimal. sinusitis. Wanita hamil perokok harus berhenti merokok. Gastroesophageal reflux (GER) dikenal sebagai pencetus asma dan terjadi pada hampir 1/3 wanita hamil. Prednison. Asma yang dicetuskan oleh GER dapat disebabkan oleh aspirasi isi lambung kedalam paru sehingga menyebabkan bronkospasme. dan hewan peliharaan dapat menyebabkan asma. Tiap pasien memiliki nilai baseline masing-masing sehingga terapi dapat disesuaikan. pencetus terkemuka serangan asma termasuk serbuk/tepung. Wanita hamil yang merokok berhubungan dengan peningkatan risiko wheezing dan kejadian asma pada anaknya. teofilin. kelembaban. asap kimiawi. amukan hewan. misalnya: asap rokok. obat-obatan anti inflamasi non steroid (NSAID). c. Di samping itu. Ibu hamil harus mengerti cara mengurangi paparan agar dapat mengendalikan faktor-faktor pencetus asma. kortikosteroid inhalasi. Rekomendasi 8 . Penilaian obyektif fungsi paru dan kesejahteraan janin Pasien harus mengukur PEFR 2 kali sehari dengan target 380 – 550 liter/menit. antihistamin. dan hormone. kelinci. dan iritan. emosi.Penatalaksaan asma kronis pada kehamilan harus mencakup hal-hal berikut : a. Terapi farmakologi selama kehamilan Kelompok kerja NAEPP merekomendasikan prinsip serta pendekatan terapi farmakologi dalam penatalaksanaan asma pada kehamilan dan laktasi. infeksi saluran napas atas. Ibu hamil harus mampu mengenali dan mengobati tanda-tanda asma yang memburuk agar mencegah hipoksia ibu dan janin. d. termasuk kecoak. maupun aktivasi arkus refleks vagal dari esofagus ke paru sehingga menyebabkan bronkokonstriksi. Semua hewan pengerat. dan menghindari paparan asap tembakau serta iritan lain di sekitarnya. Asma dapat dicetuskan oleh berbagai faktor termasuk alergi. β2 agonis dan kromolin bukan merupakan kontra indikasi pada penderita asma yang menyusui. Pada umumnya kucing merupakan hewan kesayangan yang menyebabkan asma. b. exercise. Edukasi Mengontrol asma selama kehamilan penting bagi kesejahteraan janin.

Komplikasi asma pada kehamilan bagi ibu : Asma tak terkontrol dapat menyebabkan stres yang berlebihan bagi ibu. retensi air serta proteinuria.8 – 1 mg/kgBB/jam sampai tercapai kadar terapeutik dalam plasma sebesar 10 – 20 µg/ml. pengukuran FEV1 (forced expiratory volume in one second). Asma berat yang tidak berespons terhadap terapi dalam 30 – 60 menit dimasukkan dalam kategori status asmatikus.penatalaksanaan asma selama laktasi sama dengan penatalaksanaan asma selama kehamilan. PEFR. Penanganan lini pertama adalah β adrenergic agonis (sub-kutan.V. dan fetal monitoring. Farmakoterapi tdak boleh bersifat teratogenik pada janin atau berbahaya pada ibu. tetapi hospitality threshold lebih rendah. terutama sekali sejak efek pada janin tidak diketahui. Asma tak terkontrol pada kehamilan menyebabkan komplikasi baik bagi ibu maupun janin. oral. 9 . tetapi penggunaan jangka panjang seharusnya dihindari pada kehamilan muda.8 Komplikasi Asma pada kehamilan yang tidak terkontrol dapat mengakibatkan penurunan asupan oksigen ibu. Dilakukan penanganan aktif dengan hidrasi intravena. seperti metaproterenol. inhalasi) loading dose 4 – 6 mg/kgBB dan dilanjutkan dengan dosis 0. Penatalaksaan asma akut pada kehamilan adalah sebagai berikut : Penanganan asma akut pada kehamilan sama dengan non-hamil. dan hipoksemia akan memperbaiki morbiditas dan mortalitas. Terapi asma modern dengan teofilin. pulse oximetry. metilprednisolon 40. retensi CO2.60 mg I. sehingga berefek negative bagi janin. Penggunaan beta agonis. serta penggunaan ventilasi mekanik pada keadaan kelelahan. Penanganan aktif. Dan kortikosteroid. pemberian masker oksigen. pemeriksaan analisis gas darah. kortikosteroid dan beta agonis menurunkan risiko komplikasi kehamilan menjadi rendah baik pada ibu maupun janin. Komplikasi asma tak terkontrol bagi ibu termasuk : 1) Preeklampsia (11 %). Terapi selanjutnya bergantung pada pemantauan respons hasil terapi. dan albuterol. di ICU dan intubasi dini. dapat digunakan dalam pengobatan darurat pada asma berat dalam kehamilan. 1. ditandai dengan peningkatan tekanan darah. tiap 6 jam.

Satu studi mencatat kematian janin disebabkan oleh asma berat sebagai akibat episode wheezing yang tidak terkontrol. faktor genetik ikut menentukan kerentanan seseorang terhadap penyakiit asma. sehingga dapat menghambat perkembangan janin . Plasenta memegang peranan penting dalam mengontrol perkembangan janin dengan memberi suplai nutrisi dan oksigen dari ibu. Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa selain factor lingkungan. Komplikasi ini bergantung pada derajat penyakit asma. Enzim plasenta 11β-hidroksisteroid dehidrogenase tipe-2 (11β-HSD2) berperan sebagai barier dengan memetabolisme kortisol menjadi kortison inaktif. derajat berat asma dan terapi asma. akan tetapi terdapat beberapa factor yang mendukung seperti perubahan fungsi plasenta. Angka kematian secara substantive meningkatkan apabila asmanya memerlukan ventilasi mekanis. 10 . Penyulit yang mengancam nyawa adalah pnemotoraks. kor pulmonale akut. dan dapat menyebabkan komplikasi pada 7% kehamilan. Mekanisme penyebab berat bayi lahir rendah pada wanita asma masih belum diketahui. oksigen tidak adekuat bagi sel-sel. Komplikasi asma pada kehamilan bagi janin : Kekurangan oksigen ibu ke janin menyebabkan beberapa masalah kesehatan janin. pneumotoraks. gangguan perkembangan janin dalam rahim menyebabkan janin lebih kecil dari umur kehamilannya. termasuk : 1) Kematian perinatal. pneumomediastinum. 3) Kehamilan preterm (12 %). 3) Hiperemesis gravidarum. pneumomediastinum. 4) Hipoksia neonatal. 5) Berat bayi lahir rendah. dan kelelahan otot disertai henti napas. yaitu tekanan darah tinggi selama kehamilan. kor pulmonale akut. dan aritmia jantung. Penyakit ini dapat dijumpai pada ibu yang sedang hamil. 4) Perdarahan pervaginam Induksi kehamilan dan atau komplikasi kehamilan. Plasenta juga mencegah transfer konsentrasi kortisol dalam jumlah besar dari ibu ke janin. 2) IUGR (12 %) . Mortalitas meningkat pada penggunaan ventilasi mekanik. Status asmatikus dapat menyebabkan gagal napas. ditandai dengan mual-mual. aritmia jantung. berat badan turun serta ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.2) Hipertensi kehamilan.

DJAMIL tanggal 12 Februari 2012 jam 12.15 WIB dengan : Keluhan Utama : Kontrol kehamilan. muntah (-). Apel II no.6) : mual (-). perdarahan (-). Riwayat Penyakit Sekarang : • • • • • • • • • • Nyeri pinggang yang menjalar ke ari-ari tidak ada. Keluar lendir bercampur darah dari kemaluan tidak ada. Apel II no.152 Gerak anak dirasakan sejak 2 bulan yang lalu.5.BAB II LAPORAN KASUS IDENTITAS PASIEN  Nama  Umur  MR  Pendidikan  Pekerjaan  Suku  Agama belimbing  Alamat ANAMNESA Seorang pasien wanita umur 33 tahun masuk ke poliklinik Kebidanan RSUP M.95 : Tamat SMA : IRT : Minang : Islam Nama Suami : Joni Umur Pendidikan Pekerjaan Suku Agama : 34 tahun : Tamat SMA : swasta : Minang : Islam Alamat : Jl. perdarahan (-) 11 . HPHT : 21/07/2011 TP : 28/04/2012 : Jl.4. Tidak haid sejak 7 bulan yang lalu. Riwayat hamil muda Prenatal care Riwayat hamil tua : mual (-). muntah (-).01. : ke Puskesmas (3. Keluar air-air yang banyak tidak ada Keluar darah yang banyak dari kemaluan tidak ada.152 belimbing : Siska` : 33 tahun : 78.

hidup 3. Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada riwayat keluarga mempunyai penyakit keturunan. lamanya 4-5 hari.spontan. Dalam pengobatan. paru. kelenjar tiroid tidak membesar. siklus teratur. 2002.cukup bulan.perempuan.3100 gram.3000 gram.spontan. nyeri haid (-). hati. : 12 . KGB tidak membesar.hidup 2. Kaki terasa kebas Riwayat Penyakit Dahulu : Riwayat asma (+) Tidak ada riwayat sakit jantung. ginjal. jumlah 3-4 ganti duk/hari.2900 gram. ambroxol dan salbutamol.spontan.bidan.perempuan. Riwayat pernikahan 1 x tahun 1998 : 4/0/3 : Riwayat kehamilan/abortus/persalinan 1. 2001. Sekarang Riwayat kontrasepsi : pasien sudah kontap massal RSUD pada bulan April 2011 Riwayat imunisasi : TT 2 x selama kehamilan Pemeriksaan Fisik 1) Keadaan umum 2) Kesadaran 3) Tekanan darah 4) Frekuensi nadi 5) Frekuensi nafas 6) Suhu Mata Leher Thorak : sedang : CMC : 120 / 70 mmHg : 86 /menit : 28 /menit : 370C Keadaan gizi : sedang Demam Sianosis Anemis TB BB :(-) :(-) :(-) : 155 cm : 60 kg : konjungtiva tidak anemis. menular dan kejiwaan.hidup 4. cukup bulan. pasien memiliki riwayat asma. Sesak nafas 3 hari yang lalu. DM dan hipertensi.bidan.perempuan. 1999.• • • Riwayat menstruasi : menarche umur 13 tahun. sklera tidak ikterik : JVP 5-2 cm H2O.cukup bulan.bidan.

) Abdomen Genitalia Ekstremitas : Status obstetrikus : Status obstetrikus : edem -/-.) Jantung I : Iktus tidak terlihat P : Iktus teraba satu jari medial LMCS RIC V Pk: Batas jantung dalam batas normal A : Murni. teratur. RP-/- Status Obstetrik • • • Muka : chloasma gravidarum (+) Mammae : membesar. RF + / +. menegang. wheezing ( + ). -striae gravidarum (+) -sikatrik (-). areola dan papilla hiperpigmentasi.Paru I : Pergerakan simetris kiri sama dengan kanan P : Fremitus normal kiri kanan Pk: Sonor A : Vesikuler normal. Palpasi : FUT teraba 2 jari atas pusat balottement (+) Perkusi : Tymphani BU (+)/N BJA :158x/menit Auskultasi : Genitalia : Inspeksi : v/u tenang VT : Diagnosis Kerja : G4 P3 A0 H3 gravid 30-31 minggu + riwayat asma dalam pengobatan Sikap : 13 . ronkhi ( . bising ( . Abdomen : Inspeksi : -tampak sedikit membuncit -Linea mediana hiperpigmentasi.

Biometri : BPD : 79 mm PL TBJ AFI : 21 cm : 61 mm : 1700-1800 gram HL AC : 55 mm : 275 mm Plasenta tertanam di korpus uteri Kesan : gravid sesuai biometri 31-32 minggu janin hidup. Anjuran : Kontrol 1 bulan lagi : DIAGNOSA KERJA intra uterin presentasi kepala.00 WIB ANAMNESA Keluhan Utama : 14 .• • • • USG Cek labor darah rutin Cek urin rutin konsul pulmonologi Follow Up 23 April 2012 ANAMNESA • Kontrol G4P3A0H3 31 – 32 minggu HASIL USG Janin hidup tunggal intra uterin letak kepala Antipitas gerak janin baik. SIKAP Konsul ke pulmologi G4P3A0H3 gravid 31-32 minggu + riwayat asma (dalam pengobatan)janin hidup tunggal 23 Februari 2012 jam 09.

Sesak nafas sejak 3 hari yang lalu.os hamil 31-32 minggu Paru Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : simetris kiri=kanan : fremitus kiri=kanan : sonor : expirasi memanjang (+)/(+).wheezing (-)/(-).menciut dipengaruhi oleh emosi cuaca dan makanan.batuk darah (-) ..ronkhi (-)/(-) Diagnosa kerja : Asma Bronchial + Gravid G4P3A0H3 Terapi : Aminophilin tablet 3x 150 Berotec MD 1 24 Februari 2012 jam 11.penurunan nafsu makan (-) dan BB (-) .00 WIB ANAMNESA • • • Kontrol ulang dengan G4P3A0H3 gravid 34-35 minggu Keluhan sesak sudah berkurang Tanda inpartu (-) 15 .keringat malam (-) .nyeri dada (-) .sesak dirasakan 2 kali daam sebulan.riwayat minum OAT (-) .demam (-) .batuk (-) .adik ortu perempuan menderita asma .sesak pertama kali dirasakan umur 17 tahun .

PPV (-) DJJ : 140 x/menit SIKAP : Kontrol 1 bulan lagi 22 Maret 2012 jam 13.00 WIB ANAMNESA Seorang pasien permepuan umur 32 tahun datang ke poliklinik kebidanan RSUP Dr.ronkhi (-) Abdomen Genitalia Inspeksi DIAGNOSIS : G4 P3 A0 H3 gravid 31-32 minggu + riwayat asma (dalam pengobatan) Janin hidup tunggal intra uterin presentasi kepala Terapi : • • SF 1x1 Calac 1x1 : HIS (-) : : v/u tenang.PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Frekuensi nadi Frekuensi nafas Suhu : sedang : komposmentis kooperatif : 120 / 70 mmHg : 80x /menit : 20x /menit : 37 C Thorax : paru = wheezing (-). M Djamil padang dengan Keluhan utama : Kontrol kahamilan ulang Riwayat Penyakit sekarang : 16 .

perdarahan (-) : Menarche umur 13 tahun. Tidak ada yang menderita penyakit menular. Riwayat Hamil Tua Riwayat menstruasi bulan.hati.3100 gram.5 bulan yang lalu HPHT : 21 -7-2011 TP :28-4-2012 Gerak anak dirasakan sejak 4 bualn yang lalu Riwayat hamil muda ANC : mual (-).hidup 6.bidan.cukup bulan.bidan.hidup 8.2900 gram. muntah (-). perdarahan (-) : control kehamilan teratur 4 x di puskesmas.banyaknya 23 x ganti duk / hari.perempuan.lamanya 5-6 hari. cukup bulan.spontan.ginjal.paru.perempuan.perempuan. 2001.spontan. siklus teratur 1x 1 M Djamil padang sejak kehamilan 7 bulan. Sekarang Riwayat kontrasepsi : pasien sudah kontap massal RSUD pada bulan April 2011 PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Frekuensi nadi Frekuensi nafas : sedang : komposmentis kooperatif : 120 / 70 mmHg : 84x /menit : 20x /menit 17 .3000 gram.spontan.• • • • • • • • • • • Nyeri pinggang menjalar ke ari-ari (-) Keluar lendir bercampur darah (-) Keluar darah yang banyak dari kemaluan (-) Keluar air-air yang banyak dari kemaluan (-) Pasien tidak hamil sejak 8.keturunan dan kejiwaan.control kehamilan di RS : Mual (-).muntah (-).nyeri haid (-) Riwayat penyakit dahulu Tidak pernah menderita penyait jantung.hidup 7.bidan.cukup bulan. : : 4/0/3 1 x tahun 1998 Riwayat penyakit keluarga Riwayat pernikahan Riwayat kehamilan/abortus/persalinan 5. 1999. 2002.hipertensi dan DM.

:: timpani : BU (+) normal.RP(-)/(-) G4 P3 A0 H3 garvid preterm 35-36 minggu + riwayat asma terkontrol Janin hidup tunggal intra uterin letak kepala SIKAP : Control 2 minggu lagi TERAPI : -natavit 1x1 tablet 9 April 2012 jam 13.PPV (-) : Edema (-).Suhu Mata Leher Thorax Abdomen minggu : afebris : konjuntiva tidak anemis. M Djamil padang dengan 18 .sikatrik (-). :teraba tahanan besar di kiri Bagian kecil di kanan : teraba massa keras.striae (+).00 WIB ANAMNESA Seorang pasien permepuan umur 32 tahun datang ke poliklinik kebidanan RSUP Dr.lunak dan nodular.melenting dan tidak terfiksir.kelenjar tiroid tidak membesar : C/P dalam batas normal : Inspeksi : tampak membuncit sesuai usia kehamilan 35-36 Linea mediana hiperpigmentasi. Palpasi: L1 L2 L3 L4 Perkusi Auskultasi :TFU 4 jari di bawah processus Xipoideus Teraba massa besar.RF (+)/(+).bulat.DJJ: 154 x /menit Genitalia Inspeksi Extremitas DIAGNOSIS : : : v/u tenang.sclera tidak ikterik : JVP 5-2 cmH2O.

sclera tidak ikterik : JVP 5-2 cmH2O. Riwayat Hamil Tua Riwayat menstruasi bulan. Abdomen : Inspeksi : tampak membuncit sesuai usia kehamilan 35-36 Minggu Linea mediana hiperpigmentasi. perdarahan (-) : Menarche umur 13 tahun. siklus teratur 1x 1 M Djamil padang sejak kehamilan 7 bulan. muntah (-). 19 .wheezing +/+.ronkhi TB ` BB : 158 cm : 75 kg : 66 kg BB sebelum lahir LILA :32 cm -/-.striae (+).Keluhan utama : Kontrol kahamilan ulang (Gr 4-38 minggu) Riwayat Penyakit sekarang : • • • • • • • • • • • Nyeri pinggang menjalar ke ari-ari (-) Keluar lender bercampur darah (-) Keluar darah yang banyak dari kemaluan (-) Keluar air-air yang banyak dari kemaluan (-) Pasien tidak hamil sejak 9 bulan yang lalu HPHT : 21 -7-2011 TP :28-4-2012 Gerak anak dirasakan sejak 5 bulan yang lalu Riwayat hamil muda ANC : mual (-).control kehamilan di RS : Mual (-).pulmonal : vesikuler. perdarahan (-) : control kehamilan teratur 4 x di puskesmas.nyeri haid (-) PEMERIKSAAN FISIK • • • • • • • • • • Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Frekuensi nadi Frekuensi nafas Suhu Mata Leher Thorax : sedang : komposmentis kooperatif : 120 / 70 mmHg : 84x /menit : 20x /menit : afebris : konjuntiva tidak anemis.lamanya 5-6 hari.banyaknya 23 x ganti duk / hari.sikatrik (-).muntah (-).kelenjar tiroid tidak membesar : C/P dalam batas normal.

DJJ: 135 x /menit TBJ : 2745 gram HIS : (-) DIAGNOSIS : G4 P3 A0 H3 garvid preterm 37-39 minggu + riwayat asma terkontrol Janin hidup tunggal intra uterin letak kepala floating USG dan CTG USG : Janin hidup tunggal intra uterin presentasi kepalaa Aktivitas gerak janin baik Biometri : BPD FL HL AL K/S : janin hidup Intra uterin :94 :73 :64 : 335 HC/AC FL/HC TBA AFI : 1.9 Plasenta tertanam di corpus uteri dengan derajat II-III 20 .melenting dan tidak terfiksir. : Edema (-). L2 :teraba tahanan besar di kiri Bagian kecil di kanan L3 : teraba massa keras.PPV (-) Ketuban tidak bisa dinilai Teraba kepala masih floating UPD dan UPL • Extremitas : kesan panggul luas.RP(-)/(-) : pembukaan tidak ada : timpani : BU (+) normal.bulat.RF (+)/(+).2 : 3280 gram : 9. L4 : TFU : 31 cm Perkusi Auskultasi • Genitalia VT : Inspeksi : v/u tenang.0 : 0.lunak dan nodular.Palpasi: L1 :TFU 3 jari di bawah processus Xipoideus Teraba massa besar.

lunak dan nodular.SIKAP TERAPI SF 1x1 : : Control 1 minggu lagi Ca lactat 1x1 16 April 2012 Jam 12.striae (+).wheezing +/+.pulmonal : vesikuler.00 WIB Kontrol G4P3A0H3 aterm ANAMNESIS • • • • • • • • • • Control kehamilan Gerak anak (+) : sedang : komposmentis kooperatif : 120 / 70 mmHg : 84x /menit : 20x /menit : afebris : konjuntiva tidak anemis. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Frekuensi nadi Frekuensi nafas Suhu Mata Leher Thorax 21 .ronkhi -/.bulat.melenting dan tidak terfiksir.sclera tidak ikterik : JVP 5-2 cmH2O. Palpasi: L1 L2 L3 :TFU 3 jari di bawah processus Xipoideus Teraba massa besar.sikatrik (-). :teraba tahanan besar di kiri Bagian kecil di kanan : teraba massa keras.kelenjar tiroid tidak membesar : C/P dalam batas normal. Abdomen : Inspeksi : tampak membuncit sesuai usia kehamilan 35-36 Minggu Linea mediana hiperpigmentasi.

L4 Perkusi Auskultasi • • Genitalia Inspeksi : : v/u tenang.DJJ: 159 x /menit TFU : 31 cm TBJ : pembukaan tidak ada Ketuban tidak bisa dinilai Teraba kepala masih floating UPD dan UPL • Extremitas : kesan panggul luas. : Edema (-).PPV (-) • VT :: 2745 gram HIS : (-) : timpani : BU (+) normal.RP(-)/(-) DIAGNOSIS : G4 P3 A0 H3 garvid preterm 38-39 minggu + riwayat asma terkontrol Janin hidup tunggal intra uterin letak kepala SIKAP CTG : 22 .RF (+)/(+).

Pasien juga mengeluhkan sesak napas sejak 3 hari yang lalu. bagian terbesar janin teraba sebelah kanan. Dari pemeriksaan USG didapatkan kesan gravid aterm 38 – 39 minggu sesuai biometri janin dan gerak janin baik. Gerak anak dirasakan sejak 4 bulan yang lalu. striae gravidarum (+). Pasien sudah tidak haid sejak 9 bulan yang lalu dengan HPHT 21-07-2011. frekuensi nafas dalam batas normal. pada leopold 3 teraba massa bulat. noduler. sikatrik (-). lunak. Djamil Padang pada tanggal 16 April 2012 dengan keluhan utama untuk kontrol kehamilan. Dari anamnesis didapatkan pasien datang untuk kontrol kehamilan yang ke-3 di RSUP Dr.M. Pada pasien juga dianjurkan untuk datang ke IGD jika ada tanda-tanda: nyeri pinggang menjalar ke ari-ari. wheezing tidak ada.DISKUSI Telah dilaporkan sebuah kasus seorang pasien wanita umur 33 tahun datang ke Poliklinik kebidanan RS. keluar air-air yang banyak dari kemaluan. keras dan melenting. M. tekanan darah 120/80 mmHg. Pasien memiliki riwayat penyakit asma dan saat ini sedang dalam pengobatan. linea mediana hiperpigmentasi. hilang timbul. teraba masa besar. keluar darah bercampur lendir dari kemaluan. dan keluar darah yang banyak dari kemaluan 23 . dan taksiran partus 28-04-2012. bagian kecil janin teraba disebelah kiri. Djamil Padang (sebelumnya tanggal 22 Maret dan 9 April 2012). FUT teraba 3 jari di bawah processus xhypoideus. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum sedang. Pada pasien direncanakan untuk dikonsulkan ke bagian pulmonologi dan diberikan edukasi mengenai asma dalam kehamilan. Sementara untuk pemeriksaan status obsterikus didapatkan perut tampak membuncit sesuai usia kehamilan.

Ed.wordpress. http://www. 24 . Bernadeta. Sanjay dkk.com/2007/06/Pregnancy-and-tuberculosis/html Soedarto. Pregnancy and Tuberculosis.org/journal/2006_4802_april/index/htm Frieri. 2007. Sylvia & Wilson Lorraine. Jakarta : EGC Prawirohardjo. 2006. 2006. 21. 2. Sinopsis Kedokteran Tropis. Volume 7 Number 8 September 2004. Ilmu Kebidanan. Patofisiologi Konsep Klinik Proses-Proses Penyakit. Jilid 2. Price. http://lelynursinginfo. F.bhj. Penggunaan Obat Antituberkulosis Pada Ibu Hamil. Jakarta : PT. Gary. EGC Price. 12 Juni 2007. Edisi 4. Revisi 20. http://yosefw. Arifin. Vol. Mirmayanti. Sarwono. Journal : Tuberculosis in Pregnancy and The Impact of Directly Observed-Short Course (DOTS).DAFTAR PUSTAKA Cunningham.com/2007/12/21/Penggunaan-Obat-Antituberkulosis-PadaIbu-Hamil/ Rao. Laily. 2006. 21 Desember 2007. Surabaya : Airlangga University Press. 402-412 WOMEN’S HEALTH IN PRIMARY CARE.blogspot. Buku Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6. Sylvia Anderson et al. 2008. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Marianne. Management of Asthma in Women. Obstetric Williams.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful