You are on page 1of 19

MAKALAH PARASITOLOGI TOXOPLASMA GONDII

DISUSUN OLEH : CIPTO SURIANTIKA (1204015080) ELSA ELFIYANA (1204015148) KHORISMAN ADE SAMPA (1204015220) OKA TANNIA PURNASITA (1204015323) OKTAVIANI HERDIANA (1204015324) RATIH TRI ERVIANI (1204015342) YULIA RISTIANA (1204015455)

KELAS II C KELOMPOK VI

PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS FARMASI DAN SAINS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA JAKARTA 2013

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah SWT, Pencipta dan Pengatur Tunggal Alam Semesta, dan hanya kepadaNya kami memohon perlindungan terhadap semua urusan. Di abad modern ini telah banyak para ilmuan meneliti tertang berbagai ilmu yang ada di alam semesta ini, salah satu ilmu tersebut ialah ilmu parasitologi, dimana disini di jabarkan berbagai jenis-jenis parasit, berbagai penyakit yang di timbulkan dan lain-lainnya. Oleh karena itu dengan kesempatan yang telah diberikan kepada kami ini, kami mempersembahkan makalah parasitologi yang berjudul Toxoplasma gondii Kami akan menyajikan berbagai informasi tentang parasit terutama parasit yang sedang kami bahas yaitu Toxoplasma gondii mulai dari habitat, siklus hidup sampai penyakit yang dapat ditimbulkan dari parasit ini. Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam makalah (karya tulis) ini. Oleh karena itu segala kritikan dan saran yang membangun akan kami terima dengan lapang dada sebagai wujud koreksi atas diri kami yang masih belajar. Akhir kata, semoga makalah (karya tulis) ini bermanfaat bagi kita semua.

Jakarta , 9 Mei 2013

Penulis

DAFTAR ISI

COVER. ....................................................................................................... I KATA PENGANTAR. ................................................................................ III BAB I PENDAHULUAN. ....................................................................................... IV BAB II PEMBAHASAN A. Sejarah. .................................................................................................... 6 B. Defenisi. .................................................................................................. 6 C. Morfologi. ............................................................................................... 7-8 D. Klasifikasi. .............................................................................................. 8-10 E. Siklus Hidup. ........................................................................................... 10-11 F. Cara Infeksi. ............................................................................................ 12 G. Diagnose. ................................................................................................. 12-13 H. Epidemiologi. .......................................................................................... 13-14 I. Gejala Klinik. .......................................................................................... 14-15 J. Pengobatan. ............................................................................................. 16 K. Pencegahan. ............................................................................................. 16-17 BAB III PENUTUP. ................................................................................................... 18 DAFTAR PUSTAKA. ................................................................................. 19

BAB I PENDAHULUAN

Di negara beriklim lembab, penyakit parasit masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang cukup serius. Salah satu di antaranya adalah infeksi protozoa yang ditularkan melalui tubuh kucing. Infeksi penyakit yang ditularkan oleh kucing ini mempunyai prevalensi yang cukup tinggi, terutama pada masyarakat yang mempunyai kebiasaan makan daging mentah atau kurang matang. Di Indonesia faktor-faktor tersebut disertai dengan keadaan sanitasi lingkungan dan banyaknya sumber penularan (Sasmita dkk, 1988). Toksoplasmosis, suatu penyakit yang disebabkan oleh Toxoplasma gondii, merupakan penyakit parasit pada manusia dan juga pada hewan yang menghasilkan daging bagi konsumsi manusia (Konishi dkk, 1987). Infeksi yang disebabkan oleh T. gondii tersebar di seluruh dunia, pada hewan berdarah panas dan mamalia lainnya termasuk manusia sebagai hospes perantara, kucing dan berbagai jenis Felidae lainnya sebagai hospes definitif (WHO, 1979). Infeksi Toxoplasma tersebar luas dan sebagian besar berlangsung asimtomatis, meskipun penyakit ini belum digolongkan sebagai penyakit parasiter yang diutamakan pemberantasannya oleh pemerintah, tetapi beberapa penelitian telah dilakukan di beberapa tempat untuk mengetahui derajat distribusi dan prevalensinya. Indonesia sebagai negara tropik merupakan tempat yang sesuai untuk perkembangan parasit tersebut. Keadaan ini ditunjang oleh beberapa factor seperti sanitasi lingkungan dan banyak sumber penularan terutama kucing dan sebangsanya (Felidae) (Adyatma, 1980 ; Levine, 1990). Manusia dapat terkena infeksi parasit ini dengan cara didapat (Aquired toxoplasmosis) maupun diperoleh semenjak dalam kandungan (Congenital toxoplasmosis). Diperkirakan sepertiga penduduk dunia mengalami infeksi penyakit ini. Protozoa ini hidup dalam sel epitel usus muda hospes definitif, sedangkan ookistanya dikeluarkan bersama tinjanya. Penularan parasit ini terjadi dengan tertelannya ookista dan kista jaringan dalam daging mentah atau kurang matang

serta transplasental pada waktu janin dalam kandungan. Diagnosis infeksi protozoa ini dilakukan dengan mendapatkan antibodi IgM dan IgG anti T. gondii dalam tes serologi (WHO, 1979 ; Zaman dan Keong, 1988). Sebagai parasit, T. gondii ditemukan dalam segala macam sel jaringan tubuh kecuali sel darah merah. Tetapi pada umumnya parasit ini ditemukan dalam sel retikulo endotelial dan sistem syaraf pusat (Remington dan Desmonts, 1983). Bertitik tolak dari masalah tersebut di atas, dalam makalah ini penulis mencoba menguraikan dan menginformasikan mengenai Epidemiologi

Toxoplasma gondii.

BAB II PEMBAHASAN

A. Sejarah Toxoplasma gondii pertama kali ditemukan oleh Nicole dan Manceaux tahun 1908 pada limfa dan hati hewan pengerat Ctenodactylus gundi di Tunisia Afrika dan pada seekor kelinci di Brazil. Lebih lanjut Mello pada tahun 1908 melaporkan protozoa yang sama pada anjing di Italia, sedangkan Janku pada tahun 1923 menemukan protozoa tersebut pada penderita korioretinitis dan oleh Wolf pada tahun 1937 telah di isolasinya dari neonatus dengan ensefalitis dan dinyatakan sebagai penyebab infeksi kongenital pada anak. Walaupun perpindahan intra-uterin secara transplasental sudah diketahui, tetapi baru pada tahun 1970 daur hidup parasit ini menjadi jelas ketika ditemukan daur seksualnya pacta kucing (Hutchison,1970). Menurut Brotowidjoyo (1987), pada tahun 1969 posisi T. gondii dalam klasifikasi masih belum pasti, namun pada tahun 1970 dapat ditetapkan bahwa T.gondii termasuk kelas Sporozoa yang mirip dengan Isospora. Pada tahun 1970, ditemukan secara serentak di beberapa negara bahwa T. gondii ternyata memproduksi ookista di dalam tubuh kucing yang tidak dapat dibedakan dengan suatu ookista yang kemudian disebut Isospora bigemina. Dengan kata lain, ookista ini berisi dua sporokista yang masingmasing berisi empat sporozoit (Levine, 1990). Di Indonesia toksoplasmosis mulai diteliti pakar ilmu kesehatan pada tahun 1972 baik pada manusia ataupun pada hewan (Sasmita, 1989).

B. Defenisi a. Toxoplasma gondii adalah hewan bersel satu yang disebut protozoa. b. Penyakit yang ditimbulkan yaitu Toxoplasmosis congenital Toxoplasmosis akuisita c. Hospes definitive : kucing dan binatang sejenisnya d. Hospes perantara : manusia, mamalia lainnya dan burung. dan

C. Morfologi Toxoplasma gondii merupakan protozoa obligat intraseluler.

Toxoplasma gondii terdapat dalam tiga bentuk yaitu takizoit (bentuk poriferatif), kista (berisi bradizoit) dan ookista (berisi sporozoit). 1. Bentuk Takizoit (Bentuk Poriferatif) Takizoit memiliki ciri-ciri: a) menyerupai bulan sabit dengan ujung yang runcing dan ujung lain agak membulat. b) Ukuran panjang 4 - 8 mikron, lebar 2 - 4 mikron dan mempunyai selaput sel, satu inti yang terletak di tengah bulan sabit dan beberapa organel lain seperti mitokondria dan badan golgi. c) Tidak mempunyai kinetoplas dan sentrosom serta tidak berpigmen. Bentuk ini terdapat di dalam tubuh hospes perantara seperti burung dan mamalia termasuk manusia dan kucing sebagal hospes definitif. d) Takizoit ditemukan pada infeksi akut dalam berbagai jaringan tubuh. e) Takizoit dapat memasuki tiap sel yang berinti.

Keterangan : A. Takizoit dalam sel mononuklear besar B. Takizoit bebas dalam darah
7

2. Bentuk Kista (Berisi Bradizoid) Memiliki cirri-ciri : a) Kista dibentuk di dalam sel hospes bila takizoit yang membelah telah membentuk dinding. b) Ukuran kista berbeda-beda, ada yang berukuran kecil hanya berisi beberapa bradizoit dan ada yang berukuran 200 mikron berisi kirakira 3000 bradizoit. c) Kista dalam tubuh hospes dapat ditemukan seumur hidup terutama di otak, otot jantung, dan otot bergaris. d) Di otak bentuk kista lonjong atau bulat, tetapi di dalam otot bentuk kista mengikuti bentuk sel otot.

3. Bentuk Ookista (Berisi Sporozoid) Memiliki ciri-ciri : a) Ookista berbentuk lonjong, berukuran 12,5 mikron. b) Ookista mempunyai dinding, berisi satu sporoblas yang membelah menjadi dua sporoblas. c) Pada perkembangan selanjutnya ke dua sporoblas membentuk dinding dan menjadi sporokista. d) Masing-masing sporokista tersebut berisi 4 sporozoit yang berukuran 8 x 2 mikron dan sebuah benda residu.

D. Klasifikasi Klasifikasi Toxoplasma gondii Kingdom Sub Kingdom Filum Kelas Sub Kelas Ordo Animalia Protozoa Apicomplexa Conoidasida Coccidiasina Eucoccidiorida

Sub Ordo Famili Genus Spesies

Eimerioorina Sarcocystidae Toxoplasma Toxoplasma gondii

Toxoplasma gondii merupakan spesies parasit protozoa dalam genus Toxoplasma. Toxoplasmosis , gondii adalah kucing , tetapi parasit dapat dilakukan oleh hewan berdarah panas banyak (burung atau mamalia, termasuk manusia). Toxoplasmosis gondii adalah agen penyebab, biasanya kecil dan membatasi diri tetapi dapat memiliki atau bahkan fatal efek serius pada janin yang ibunya kontrak pertama penyakit selama kehamilan atau pada kekebalan manusia atau kucing. Siklus hidup Toxoplasma gondii memiliki dua fase. Yaitu seksual bagian dari siklus kehidupan ( coccidian ) seperti berlangsung hanya dalam kucing , baik domestik maupun liar (keluarga Felidae ). Tahap kedua, aseksual bagian dari siklus kehidupan, dapat terjadi pada hewan berdarah panas lain, termasuk kucing, tikus, manusia, dan burung. Dimana reproduksi aseksual terjadi disebut hospes perantara. Tikus adalah hospes perantara khas. Dalam kedua jenis semesta alam, parasit Toxoplasma menyerang sel dan bentuk ruang yang disebut vakuola. Di dalam vakuola ini khusus, yang disebut vakuola parasitophorous, bentuk-bentuk parasit bradyzoites, yang merupakan versi mereplikasi perlahan-lahan dari parasit. Vakuola yang berisi bradyzoites reproduksi bentuk kista terutama di jaringan otot dan otak. Karena parasit berada di dalam sel, mereka aman dari host sistem kekebalan tubuh, yang tidak menanggapi kista. Toxoplasmosis resistensi terhadap antibiotik bervariasi, tetapi kista sangat sulit untuk memberantas sepenuhnya. Toxoplasma gondii ulangan itu sendiri (dengan endodyogeny) sampai mengisi sel yang terinfeksi dengan parasit dan meledak, melepaskan takizoit bentuk reproduksi aseksual parasit. Berbeda dengan bradyzoites, para takizoit bebas biasanya efisien dibersihkan oleh sistem kekebalan tubuh inang, meskipun beberapa dari mereka berhasil
9

menginfeksi

sel-sel

dan

bradyzoites

bentuk,

dengan

demikian

mempertahankan infeksi. Jaringan kista adalah dicerna oleh kucing (misalnya, dengan memberi makan pada tikus yang terinfeksi). Kista bertahan melintasi perut kucing dan parasit menginfeksi sel epitel dari usus kecil dimana mereka mengalami reproduksi seksual dan ookista formasi. Ookista adalah gudang dengan kotoran. Hewan dan manusia yang menelan ookista (misalnya, dengan makan sayuran dicuci) atau jaringan kista dalam sistem daging dimasak menjadi terinfeksi. Parasit masuk makrofag dalam lapisan usus dan didistribusikan melalui aliran darah ke seluruh tubuh. Tahap infeksi akut Toxoplasma bisa tanpa gejala, tetapi sering memberikan gejala flu pada tahap akut awal, dan flu seperti bisa menjadi, dalam kasus yang sangat langka, fatal. Akut memudar dalam beberapa hari ke bulan, yang mengarah ke tahap laten. Infeksi laten biasanya asimtomatik, namun, dalam kasus pasien immunocompromised (seperti mereka yang terinfeksi dengan HIV atau penerima transplantasi pada terapi imunosupresif), toksoplasmosis dapat berkembang. Yang paling penting manifestasi toxoplasmosis pada pasien immunocompromised adalah toksoplasma

ensefalitis, yang dapat mematikan. Jika infeksi dengan Toxoplasma gondii terjadi untuk pertama kalinya selama kehamilan, parasit dapat melewati plasenta, mungkin menyebabkan hydrocephalus atau microcephaly, kalsifikasi intrakranial, dan chorioretinitis, dengan kemungkinan aborsi spontan (keguguran) atau kematian intrauterin.

E. Siklus Hidup Daur hidup Toxoplasma gondii A. Daur hidup Toxoplasma gondii pada manusia Dalam sel epitel usus kucing berlangsung daur seksual (skizogoni) dan daur seksual (gametogoni sporogoni) Trofozoit (apabila tertelan manusia) kista (berisi bradizoit). ookista (dalam tinja kucing) Takizoit

10

Pada hospes perantara tidak dibentuk stadium seksual tetapi dibentuk pada stadium istirahat yaitu kista jaringan.

Bila kucing sebagai hospes definitive makan hospes perantara yang terinfeksi, maka terbentuk lagi berbagai stadium seksual didalam sel epitel usus kecilnya

B. Daur hidup Toxoplasma gondii pada kucing Jaringan tubuh kucing secara endodiogenis) (kista jaringan). Kista jaringan ini dapat ditemukan didalam hospes seumur hidup terutama di otak, otot jantung dan otot bergaris. Di otak kista berbentuk lonjong atau bulat, sedangkan di otot kista mengikuti bentuk sel otot. trofozoit sel pecah takizoit membentuk (berkembang dinding

Daur Hidup Toxoplasma gondii

11

F. Cara infektsi Toxoplasma gondii a) Pada Toksoplasmosis congenial transmisi Toxoplasma kepada janin terjadi in utero melalui plasenta, bila ibunya mendapat infeksi primer waktu hamil b) Pada Toksoplasmosis akuisita infeksi dapat terjadi bila memakan daging mentah atau kurang matang (misalnya sate), kalau daging tersebut mengandung kista jaringan atau takizoit Toxoplasma. Pada orang yang tidak makan daging dapat terinfeksi bila ookista yang dikeluarkan dengan tinja kucing tertelan. c) Terinfeksi melalui transplantasi organ tubuh dari donor penderita toksoplasmosis laten kepada resipien yang belum pernah terinfeksi Toxoplasma gondii. d) Kecelakaan laboratorium dapat terjadi melalui jarum suntik dan alat laboratoriurn lain yang terkontaminasi oleh Toxoplasma gondii. e) Transfusi darah lengkap dapat menyebabkan infeksi.

G. Diagnosa Diagnosis toksoplasmosis dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :


a) Pemeriksaan sediaan mikroskopis, untuk menemukan ookista yang di

dalam tinja kucing , atau takizoit didalam eksudat peritoneal atau biakan jaringan, Toxoplasma dapat ditemukan didalam usapan dari irisan jaringan atau eksudat yang diwarnai . Uji warna masih paling memuaskan sampai saat ini.
b) Pemeriksaan darah atau jaringan tubuh penderita(histopatologi)

Diagnosis dapat ditegakkan jika ditemukan parasit di dalam jaringan atau cairan tubuh penderita. Hal ini dilakukan dengan cara menemukan secara langsung parasit yang diambil dari cairan serebrospinal, atau hasil biopsi jaringan tubuh yang lainya. Namun diagnosis berdasarkan penemuan parasit secara langsung jarang dilakukan karena kesulitan dalam hal pengambilan spesimen yang akan diteliti.

12

c) Pemeriksaan serologis

Pemeriksaan serologis dilakukan dengan dasar bahwa antigen toksoplasma akan membentuk antibodi yang spesifik pada serum darah penderita. Beberapa pemeriksaan serologi yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis toksoplasmosis antara lain: Complement Fixation Test Dye Test Sabin Fieldman mmunoflourescense Assay(IFA) Enzyme Linked Immuno Sorbent Assay(ELISA)

d) PCR(Polymerase Chain Reaction)

Metode lain yang relatif singkat dengan sensitivitas yang tinggi adalah metode PCR. Teknik PCR ini dapat mendeteksi toksoplasma yang berasal dari darah, cairan serebrospinal, dan cairan amnion.

H. Epidemiologi Kucing sering dianggap menjadi penyebab keguguran pada wanita hamil, karena ibu / calon ibu secara tidak sadar terinfeksi toxoplasmosis . Namun kucing bukan satu-satunya sumber penularan toxoplasmosis pada manusia, disamping itu penularannya bukanlah melalui sentuhan atau berdekatan dengan hewan penderita. Dari hasil survey di berbagai negara di dunia yang didasarkan atas pemeriksaan serologi positif sangat bervariasi. Demikian juga di berbagai daerah di Indonesia. Sekitar 27% kucing liar dan 15% kucing ras di Surabaya teruji positif toxoplasmosis . Hasil survey di beberapa tempat di pulau Jawa menunjukkan tingkat kejadian penyakit ini pada babi berkisar antara 7 - 56%, sedangkan pada kambing dapat mencapai 80%. Kejadian pada sapi relatif lebih rendah, karena kejadiannya tidak banyak dilaporkan. Kejadian seropositif di Indonesia pada orang sehat bervariasi antara 5 51%, dari RSUD Dr. Sutomo Surabaya dilaporkan mencapai 26.6%. Di negara
13

yang warganya mempunyai kebiasaan mengkonsumsi daging setengah matang, kejadiannya relatif sangat tinggi, antara lain ; Prancis : anak-anak 33% , orang dewasa 87% ; Elsavador : anak-anak 40%, orang dewasa 93%. Yang paling rentan terhadap infeksi toxoplasmosis adalah : Bayi yang dikandung oleh ibu yang tertular untuk pertama kalinya oleh infeksi toxoplasma beberapa bulan sebelum kehamilan atau selama kehamilan. Seseorang yang mengalami penurunan system kekebalan yang hebat, misalnya penderita HIV / AIDS ; sedang menjalani khemoterapi terhadap tumor ; atau baru saja mendapat transplantasi organ.

Secara singkat dapat kita simpulkan epidemiologi dari Toxoplasma gondii a. Di Indonesia, prevalensi zat anti T. gondii pada hewan adalah sebagai berikut: kucing 35-73 %, babi 11-36 %, kambing 11-61 %, anjing 75 % dan pada ternak lain kurang dari 10%. b. Infeksi terjadi apabila memakan daging mentah atau kurang matang c. Apabila orang yang tidak makan dagingdapat tertular melalui ookista pada tinja kucing. d. Pencegahan dapat terjadi dengan menghindari makan daging kurang matang yang mungkin mengandung kista jaringan dan menelan ookista matang yang terdapat dalam tinja kucing (pada wanita sedang hamil), mencuci tangan dengan sabun setelah memegang daging mentah, menutup rapat makanan agar tidak dijamah oleh lalat atau lipas, mencuci bersih sayur-mayur lalapan dan memberikan makanan yang matang kepada kucing sebagai hewan peliharaan.

I. Gejala Klinik

1. Infeksi Toxoplasma gondii ditandai dengan gejala seperti demam, malaise,


nyeri sendi, pembengkakan kelenjar getah bening (toxoplasmosis limfonodosa acuta). Gejala mirip dengan mononukleosis infeksiosa.

14

2. Hidrosefalus, yaitu: kondisi abnormal dimana cairan serebrospinal terkumpul di ventrikel otak, pada janin dapat menyebabkan cepatnya pertumbuhan kepala dan penonjolan fontanela (sehingga kepala tampak membesar karena berisi cairan) dan wajah yang kecil. 3. Korioretinitis, yaitu: radang/inflamasi lapisan koroid di belakang retina mata. 4. Pengapuran (calcification) otak dan intraseluler. 5. Kondisi ini paling berat saat infeksi maternal (yang berasal dari ibu) terjadi sejak dini saat masa kehamilan. 6. Sekitar 15-55% anak yang menderita infeksi bawaan atau sejak lahir (congenitally infected children) tidak memiliki antibodi IgM spesifikT.gondii yang dapat dideteksi saat lahir atau masa tumbuh-kembang awal (early infancy). 7. Sekitar 67% penderita tidak disertai tanda atau gejala infeksi. Juga dilaporkan: radang mata (chorioretinitis) terjadi pada sekitar 15% penderita, penulangan intrakranial (10%), kepala kecil (microcephaly). 8. Disertai ketidaknormalan jumlah sel darah putih (leukosit) di cairan otak dan sumsum tulang (cerebrospinal fluid), yang dalam istilah medis disebut dengan pleocytosis. Sedangkan nilai protein meningkat pada 20% penderita. 9. Janin baru lahir yang terinfeksi T.gondii dapat mengalami anemia, penurunan trombosit, dan penyakit kuning (jaundice) saat lahir. 10. Janin yang terinfeksi dapat tanpa gejala sama sekali, atau hanya didapatkan pertumbuhan janin terhambat, atau gambaran hyperechoic bowel. 11. Bayi yang bertahan hidup (affected survivors) dapat menderita retardasi mental, kejang (seizures), kerusakan penglihatan (visual defects), spasticity, atau gejala sisa neurologis (berhubungan dengan saraf) yang berat lainnya.

15

J. Pengobatan A. Terapi Awal : diberikan selama 6 bulan 1. Pirimetamin : 200 mg (loading doses) dilanjutkan 50-75 mg setiap 6 jam diberikan bersama Sulfadiazin 1000 mg (untuk < 60 Kg ) atau 1500 mg ( untuk > 60 Kg ) dan asama folinat 10-20 mg per hari 2. Alternative a) Pirimetamin + Asam Folinat + Klindamisin 600 mg (iv) atau per oral tiap 6 jam b) Trimetoprin + Sulfametoxazol ( trimetoprin 5 mg/Kg BB dan Sulfametoxazol 25 mg/Kb BB) iv atau per oral tiap 12 jam c) Pirimetamin + Asam Folinat + salah satu obat dibawah ini : - Dapson 100 mg per oral setiap 6 jam - Klaritromisn 500 mg per oral setiap 12 jam - Azitromisin 900-1200 mg per oral setiap 6 jam - Atovaquon 1500 mg per olar setiap 12 jam deberiakan bersama makanan atau suplemen nutrisi d) Atovaquon + Sulfadiazin e) Atovaquon saja bila ada intoleransi terhadap pirimetamin dan sulfadiazine. Pemberian steroid bila ada edema. B. Terapi Pemeliharaan (supretif, profilaksis sekundera) diberikan seumur hidup, jika rekonstitusi imun tidak terjadi. 1. Pirimetamin 25-50 mg per oral setiap 6 jam + Asam Folinat 10-25 mg per oral setiap 6 jam + Sulfadiazin 500-1000 mg per oral tiap 6 jam 2. Alternatif a) Klindamisin 300-450 mg tiap 6-8 jam + Pirimetamin + Asam Folinat (per oral) b) Atovaquon 750 mg tiap 6-12 jam + Pirimetamin 25 mg tiap 6 jam + Asam folinat 10 mg tiap 6 jam ( per oral) 3. Terapi supresif dapat dipertimbangakan untuk dihentikan jika : Terapi diberikan sedikitnya selama 6 minggu : - Pasien tidak mempunyai gejala dan tanda klinis ensefalitis toksoplasmik.

K. Pencegahan Tindakan pencegahan tentu saja harus dilakukan demi menghindari terinfeksi parasit ini. Beberapa langkah yang bisa dilakukan adalah:

16

1. Jangan memberi makan hewan peliharaan dengan daging jeroan dan tulang mentah/tidak dimasak. Demikian juga susu harus dimasak dulu. 2. Mencegah kucing dan anjing berburu burung, tikus, lalat, dan kecoa. 3. Pasir tempat kotoran kucing sebaiknya dibersihkan setiap hari. Ookista yang mungkin keluar bersama kotoran memerlukan waktu 24 jam untuk menginfeksi. 4. Setelah mencuci daging mentah, sebaiknya cuci tangan dengan sabun. 5. Untuk ibu-ibu yang sedang hamil jangan mencuci/membersihkan daging/jeroan yang akan dimasak. 6. Sebaiknya sayuran maupun buah-buahan yang akan dimakan dicuci bersih. 7. Untuk orang-orang yang biasa makan dengan tidak memakai sendok, jangan lupa mencuci tangan dengan sabun. 8. Untuk ibu-ibu yang merencanakan kehamilan sebaiknya periksa darah, untuk mengetahui ada tidaknya infeksi taksoplasma. Setelah hamil, pemeriksaan darah diulang pada trisemester pertama dan akhir kehamilan. 9. Ibu hamil jangan membersihkan tempat kotoran kucing. (Erkus/berbagai sumber)

17

BAB III PENUTUP

KESIMPULAN Dari uraian di atas, kita dapat menyimpulkan: a. Toksoplasmosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh protozoa obligat intraseluler yaitu Toksoplasma gondii. b. Kucing bukan satu-satunya pembawa Toxoplasma. Karena parasit ini dapat hidup dan dibawa oleh semua satwa berdarah panas. c. Jangan biarkan kucing atau bintang peliharaan mengkosumsi satwa liar, buah dan sayur mentah yang belum dicuci bersih. d. Buat jadwal rutin untuk memeriksa kesehatan satwa peliharaan ke dokter hewan. e. Hidup bersih dan sehat. Budayakan selalu mencuci tangan usai bermain dengan satwa peliharaan, membersihkan kotoran satwa, hendak makan dan memegang daging mentah atau kurang matang. f. Hindari mengkosumsi air dan daging mentah atau kurang matang. g. Tempatkan makanan di tempat yang aman agar tidak dihinggapi lalat atau kecoa.

18

DAFTAR PUSTAKA

http://emmaferdian.blogspot.com/2012/08/toxoplasma-morfologi.html akses pada hari kamis tanggal 9 Mei 2013

di

http://maksumprocedure.blogspot.com/2012/05/toxoplasma-gondii.html akses pada hari kamis tanggal 9 Mei 2013

di

http://netsains.net/2009/12/apa-tanda-dan-gejala-toksoplasmosis/ pada hari kamis tanggal 9 Mei 2013

di

akses

http://wawashahab.blogspot.com/2012/01/pemahaman-lebih-dalam-tentangparasit.html di akses pada hari kamis tanggal 9 Mei 2013

http://www.slideshare.net/viviyunisa/toxoplasma-gondii-13897798 di akses pada hari kamis pada tanggal 9 Mei 2013

http://www.sodiycxacun.web.id/2010/02/toxolisa-sebagai-penunjangdiagnosa.html di akses pada hari kamis pada tanggal 9 Mei 2013

http://ys-parasitology.blogspot.com/2009/04/toxoplasmosis.html di akses pada hari kamis pada tanggal 9 Mei 2013

19