KAJIAN DAERAH RAWAN BENCANA TSUNAMI BERDASARKAN CITRA SATELIT ALOS DI CILACAP, JAWA TENGAH

Oleh : Agus Supiyan C64104017

Skripsi

PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

ii

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul:

KAJIAN DAERAH RAWAN BENCANA TSUNAMI BERDASARKAN CITRA SATELIT ALOS DI CILACAP, JAWA TENGAH adalah benar merupakan hasil karya sendiri dan belum pernah dilakukan sebelumnya oleh pihak lain baik di perguruan tinggi IPB maupun perguruan tinggi yang lain. Data yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini merupakan data yang diperoleh dari hasil penelitian dan pengamatan yang telah dilakukan. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, September 2008

Agus Supiyan C64104017

iii

RINGKASAN AGUS SUPIYAN. Kajian Daerah Rawan Tsunami Berdasarkan Citra Satelit ALOS di Cilacap, Jawa Tengah. Dibimbing oleh VINCENTIUS P. SIREGAR dan ITA CAROLITA. Bencana tsunami yang terjadi pada tanggal 17 Juli 2006 di Pantai Pangandaran melanda wilayah daratan Pulau Jawa termasuk daerah pesisir Cilacap yang menyebabkan kerugian baik secara material maupun non material yang sangat besar. Hal ini disebabkan karena Pantai Cilacap yang dekat dengan lempengan tektonik yang terus selalu bergerak. Penelitian ini dilakukan sebagai simulasi serta prediksi area limpasan tsunami disekitar pesisir Pantai Kabupaten Cilacap berdasarkan analisis penginderaan jauh dengan metode integrasi pemodelan tsunami dengan data ALOS (Advanced Land Observing Satellite). ALOS adalah satelit pemantau lingkungan yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pemantauan bencana alam dan memiliki resolusi spasial yang tinggi dan bersifat stereo. Sensor PRISM (Panchromatic Remote-Sensing Intsrument for Stereo Mapping) adalah sensor optis yang mempunyai kemampuan untuk menghasilkan citra stereo yang dapat diproses lebih lanjut untuk menghasilkan DEM. Saat ini kajian DEM digunakan untuk menghasilkan berbagai informasi, seperti : peta kontur, kemiringan lahan dan animasi 3D. Informasi tersebut sangat diperlukan untuk mendukung keberhasilan program kegiatan pemetaan lahan dan manajemen bencana tsunami. Digital Elevation Model (DEM) yang digunakan pada penelitian ini untuk menentukan daerah rawan tsunami di Cilacap, Jawa Tengah berdasarkan kondisi topografinya. Penentuan daerah rawan tsunami berdasarkan penggunaan lahannya diperoleh dengan cara penggabungan (overlay) antara model tsunami dengan peta penutupan/penggunaan lahan Kabupaten Cilacap yang berasal dari citra ALOS. Penggunaan metode pansharpan adalah cara untuk meningkatkan informasi pengkelasan yang lebih banyak dan akurat . Model Tsunami Universitas Tohoku menggunakan data DEM sebagai salah satu faktor yang menentukan seberapa jauh tsunami dapat menjangkau daratan. Selain DEM, faktor batimteri, serta kekuatan gempa turut mempengaruhi tinggi dan limpasan tsunami yang dihasilkan. Pemilihan skenario gempa yang digunakan model tsunami ini yaitu 7.7 Mw, 8.7 Mw, serta 8.9 Mw bertujuan untuk mengkaji seberapa besar kerusakan yang ditimbulkan pada tiap skenario gempanya. Tiga skenario gempa yang dapat menghasilkan tsunami yaitu 7.7 Mw, 8.7 Mw, serta 8.9 Mw menggenangi beberapa desa pesisir di Kabupten Cilacap. Desa Tegal Kamulyan adalah Desa rawan tsunami dengan tingkat kerusakan yang paling besar yaitu 7.87 ha pada skala gempa 7.7 Mw, 120.914 ha pada skala gempa 8.7 Mw, dan 142.513 ha pada skala gempa 8.9 Mw. Hal ini disebabkan landainya topografi dan tipe penggunaan lahan yang padat pemukiman dibandingkan dengan desa lain yang terkena limpasan tsunami.

KAJIAN DAERAH RAWAN BENCANA TSUNAMI BERDASARKAN CITRA SATELIT ALOS DI CILACAP. JAWA TENGAH Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor Oleh : Agus Supiyan C64104017 PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 .

131 471 372 Ir. Ir. Siregar. Indra Jaya.Si NIP. Dosen pembimbing Pembimbing I Pembimbing II Dr. M. Ir. 131 578 799 Tanggal lulus : 12 September 2008 . 300 001 380 Mengetahui. M. Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Prof.Sc NIP. Vincentius P. DEA NIP. JAWA TENGAH Agus Supiyan C64104017 Nama Mahasiswa Nomor Pokok : : Disetujui. Ita Carolita. Dr.SKRIPSI Judul Skripsi : KAJIAN DAERAH RAWAN BENCANA TSUNAMI BERDASARKAN CITRA SATELIT ALOS DI CILACAP.

Penentuan daerah rawan tsunami melalui integrasi antara data penginderaan jauh yaitu ALOS dengan model tsunami Tohoku berdasarkan area limpasannya (inundation). Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Ita Carolita. semoga skripsi ini dapat berguna bagi pihak – pihak yang berkepentingan. Aris Subarkah. Siregar. September 2008 . Si selaku komisi pembimbing serta Ir. yang selalu membimbing selangkah demi selangkah sehingga skripsi dengan judul ”Kajian Daerah Rawan Bencana tsunami Berdasarkan Citra Satelit ALOS di Kabupaten Cilacap. Semua pihak yang telah memberi masukan. Vincentius P.Ir. Bogor. MT selaku pembimbing lapangan. Jawa Tengah berdasarkan tiga skenario gempa. DEA dan Ir. dan dapat diimplementasikan sesuai dengan apa yang telah direncanakan. JawaTengah” dapat terselesaikan.vi KATA PENGANTAR Puji dan syukur pada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karunia. Akhir kata. JAXA dan LAPAN yang telah memberikan izin dalam hal penggunaan data. dan membantu penulis dalam penyusunan skripsi ini. Skripsi ini dibuat agar dapat mengkaji daerah rawan tsunami di Pantai Selatan Kabupaten Cilacap. M.

6. 2. 9. Semua anggota keluarga. 3. Dosen pembimbing pembimbing skripsi. pikiran.vii UCAPAN TERIMA KASIH Skripsi ini tidak lepas dari bantuan banyak pihak yang membimbing dan mendorong serta memberikan dukungan pada penulis untuk dapat menyelesaikannya. Allah SWT.T. dan hati penulis. Teman-teman ITK 41 yang telah memberi semangat dan dukungan. Sahabat. Imam (Ra). Pihak BMG. Siregar. DEA dan Ir. 8. Ita Carolita. suri tauladan bagi saya dan kita sebagai umatNya. Vincentius P. 5.. M. Aris Subarkah. yang telah banyak memberi masukan dan bimbingan. Asep (Men) dan Budi yang selalu menjadi bagian dalam cerita hidup penulis. Dion (Mil). Dosen pembimbing lapang. Semua pihak yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini. 4.Si. Ayahanda Sumarna dan Ibunda Aminah. Ela. M. atas karunia dan rahmat Nya menuntun setiap hamba Nya ke jalan kebenaran. Dr.sahabatku : Guntur dan Dody (P2b). Asep. Indra Gunawan S. Ir. dan anggota keluarga lain yang selalu mendoakan saya . Penulis . 7. 12. Bayu (Al). atas segala bimbingan dan arahan pengolahan di bidang tsunami modelling sehingga terselesaikannya skripsi ini. atas segala bantuan dan bimbingan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.Si. oleh karenanya penulis ucapkan terima kasih kepada : 1. Irma.Ir. Nabi Muhammad SAW. Seorang wanita yang akan selalu dalam mata.

............... 3.........3 Gelombang tsunami dan Pembangkitnya ... 2. 2...... 3............. 3....5.........1 Kondisi umum lokasi penelitian . Pengertian dan karakteristik citra ALOS .................................2 Tujuan ..........................2.................................................................. xiv 1 1 2 3 3 5 7 7 9 13 14 16 17 17 18 19 22 24 26 31 31 32 32 33 33 34 34 39 39 41 43 47 50 51 1.......................5 Faktor-faktor kerawanan tsunami ..........................2............................................................3.............................1........................... 3............................ TINJAUAN PUSTAKA ...... Pembangkit tsunami ................................................. 3..1......................................... 2....5.5 Integrasi model dan citra ................................. 3.... 3.. Persamaan kontinuitas ...........2.......................... 3............................................ Faktor-faktor penyebab tsunami .................................. Metode pansharpan ALOS .............. 2..... 2.......................5.........................3.............................. 2... 3.........4.. Deformasi dasar Laut ............... 2...............1 Latar belakang ....1...............................................2 Processing (pacu model) ....................................4 Pemodelan gelombang tsunami .................... 3.... 2..................1 Waktu dan lokasi penelitian .. 3.....................3....................................................3.........2. BAHAN DAN METODE .. 2.............................. 2..........3.............. 3.............4............................................1 Alat .......... 3...............2.......... 1..............3 Metode penelitian ..............................3 Pengolahan pansharpan ALOS ........... Penutupan/penggunaan lahan .........................................................2 Bahan ..................2 Alat dan bahan ...................................5...... 2...........................................................4 Pengolahan penutupan/penggunaan lahan ..4 Pengolahan Pemodelan Tsunami .............................3..4.............. PENDAHULUAN ....................................................................... 2...............................................................1 Pengolahan citra awal ...............................................2 Definisi dan batasan wilayah pesisir ....................................viii DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN ............... 3..................... xi . .........................1 Pre-processing (pengolahan awal) ...... 2..............................................3................................................2 Penurunan data elevation model ....3..................3............4.3 Post-processing (interpretasi) .............................................4.... 2............... 2...4...... Digital Elevation Model (DEM) .............. 3..................... 2.... Persamaan penjalaran gelombang tsunami ......... 1................3..................... x ............ Pengertian dan karakteristik gelombang tsunami ………........................................4.................

.......... 4........6 Ketinggian tsunami (run-up tsunami) ..1 Limpasan tsunami dan DEM ........................5........................................................... 4.......ix 4.........5......1 Area simulasi dan batimetri ......................................................5 Tsunami modeling .............................. 114 ...................................7......... 5................................................2 Pengukuran ketinggian dari citra ALOS ....7.............................................................................3 Pansharpan ALOS .................... 117 .. 4................................ 4...7............................................. 4......................................................................................... 4.................................4 Peta penutupan/penggunaan lahan .................................................... 4... 4......2 Sumber gempa .................................................. KESIMPULAN DAN SARAN DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 54 54 57 64 67 70 70 75 77 83 89 89 93 99 107 .... 112 ..............................7 Integrasi (overlay) data penginderaan jauh dengan model tsunami.... HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................. 137 RIWAYAT HDUP .......................... 4....8 Penentuan daerah rawan tsunami Kabupaten Cilacap ................2 Limpasan tsunami pada Land Use ................................ 4............... 4.....3 Limpasan tsunami di desa/kecamatan ........... 4.......................1 Digital Elevation Model (DEM) ....3 Area genangan tsunami ...............................................5..................... 4................................ 4................

..........7 SM) pada kelas topografi (ha) 16... 2....................... ............................ 10...... Parameter gempa ............... Keterangan umum sensor PRISM Ukuran minimum unit penggunaan lahan Informasi sensor penurunan DEM ALOS Parameter triangulasi DEM ... 18............................................. Area Limpasan tsunami (8....................... Luasan limpasan tsunami (8........................ 11................ .......7 SM) dan pada tipe penggunaan lahan (ha) .... ........................................................................ 8........ 6 7.... 3...... Luasan limpasan tsunami (8.. ............................................................................9 SM) pada Desa/Kecamatan (ha) 21... ......................... 17... .7 SM) pada kelas topografi (ha) 14.. .................. Posisi pengukuran topografi (survey LAPAN dan BPPT) Perbandingan topografi survey lapangan............. 5... ................ ................ ALOS dan SRTM ...............................................................................................7 SM) pada Desa/Kecamatan (ha) . Keterangan umum ALOS Keterangan umum AVNIR Keterangan umum PALSAR ...... Luasan area limpasan tsunami (8................ 13.......... Area limpasan tsunami (7. ..................................... Luasan area limpasan tsunami (8... Luasan limpasan tsunami (7............................................ 4......... ..7 SM) pada Desa/Kecamatan (ha) 20.............................................9 SM) dan pada tipe penggunaan lahan (ha) ............... Area Limpasan tsunami (8.9 SM) pada kelas topografi (ha) 15..x DAFTAR TABEL Halaman 20 20 21 22 28 38 38 56 62 62 71 75 90 91 92 94 96 98 99 103 106 1.. .............. Data statistik perbandingan topografi ................................... Luasan area limpasan tsunami (7....................... 9. Area (domain) topografi dan area batimetri 12............................. ..... 19.............7 SM) dan pada tipe penggunaan lahan (ha) ...

.............................................................. 17............................... ........... Citra ALOS pansharpan (PRISM-AVNIR) 30........ dip.... Bagan alir metode pansharpan 15............................xi DAFTAR GAMBAR Halaman ................................................... Grafik perbandingan (a) DEM ALOS dan (b) DEM SRTM 25................................... .......................... ....................... ......... Perbandingan panjang gelombang tsunami 3................ Perbedaan DEM dan DTM dan DSM ............................................................. 13............................................... Grid area batimetri dan topografi 29................. Lempeng-lempeng tektonik Indonesia 5..... ... dan arah slip 7.................. ........ Gelombang yang terbentuk akibat deformasi 8........... Perbandingan DEM ALOS dan SRTM 90 ........... Citra ALOS AVNIR (hasil croping) 27............................ 6 Parameter orientasi sesar strike... Satelit ALOS (Jaxa............... Prinsip pengukuran DEM dengan sifat paralak satelit 14................. .................... Diagram alir keseluruhan penelitian 21........................................ Sejarah gempa tsunami tahun 1973-2007 ................................... Bagan alir proses pacu model (running) tsunami modelling 19............ Pembuatan domain ... 4 ......................................... 9... Sejarah tsunami Indonesia 18.......................... 2006) 12..................... Lokasi pengamatan topografi Teluk Penyu (Cilacap) 22...... Penutupan/penggunaan lahan Kabupaten Cilacap .............. Citra ALOS PRISM 20.................. Lokasi domain model 16................................ Jawa Tengah 2................................ Model bidang sesar dalam kerangka model penjalaran gelombang 11......................................... ...................................................... ........................ Digital Elevation Model Kabupaten Cilacap 2D 23....... .. Jenis-jenis patahan 4......... ...................... .................................... Peta lokasi penelitian .............................................. Lokasi Kabupaten Cilacap..... 24........................ ........................................... Digital Elevation Model Cilacap 3D (Teluk Penyu) 26..... ................... .................... ALOS PRISM-Nadir (hasil croping) ............. ............ ................ .... Skema numerik beda hingga 10.. ................... 28....... ............ ....................... ..................................... 8 10 11 11 13 14 15 18 19 23 31 35 41 43 47 48 49 53 55 58 59 61 61 63 64 65 66 68 71 1..................................................

.. Area Limpasan Tsunami 8.5 LS dan 109: 05:31......... ........... Run-Up tsunami 7........................9 SM (posisi -7:41: 28................................................ Cilacap................... Penjalaran tsunami 8.... 46...... 59.............. ................ Penjalaran tsunami 7.. Peta batimetri (GRID-A) Pulau Jawa 33............................ Area Limpasan Tsunami 8..... . .......... ... Area limpasan tsunami 7..7 SM (a) setelah 1 jam (b) 2 jam 38........7 SM di Kabupaten Cilacap 54...............3 BT) … 45.. 44............................. Run-up tsunami 7. 39........................................ 51............................7 SM (posisi -7:41: 28.........7 SM (posisi -7:41: 28... 72 73 74 76 78 79 80 82 84 84 85 86 86 87 88 89 90 92 89 95 97 99 100 102 104 105 107 108 108 32......7 SM (a) setelah 1 jam (b) 2 jam 36..... Peta batimetri (GRID-D) Kab.7 SM di Kabupaten Cilacap .......... Posisi epicenter dan kekuatan gempa .. 2005) 35. Maksimum run-up tsunami .............................. ....................6 LS dan 109:05:30..... Area limpasan tsunami 7........ 50......................................... 52..7 BT) ......... Kalsifikasi perairan Indonesia (Sumber : TNI AL............. ............................7 SM pada penggunaan/penutupan lahan di Kabupaten Cilacap . Cilacap 34......... 40........ .9 SM di Kabupaten Cilacap 57........ Cilacap ............... .......5 LS dan 109: 05:31... DEM dan limpasan tsunami 7.9 SM pada Penggunaan/Penutupan Lahan di Kabupaten Cilacap .6 LS dan 109:05:30......... Run-up tsunami 8.....7 BT) ..... Area Limpasan tsunami 8....7 SM (posisi -7:46: 36... .....9 SM (a) setelah 1 jam (b) 2 jam 37................. Penjalaran tsunami 8.. ............... 49........................ Penjalaran tsunami berdasarkan waktu tempuh (arrival time) .......... Run-up tsunami 7........7 SM 47.9 SM di Kabupaten Cilacap 56.....3 BT)….....7 SM di Kabupaten Cilacap 53..................... DEM dan limpasan tsunami 8......7 SM di Kabupaten Cilacap 55........ ........... DEM dan limpasan tsunami 8.9 SM 48...................7 SM (posisi -7:46: 36.xii 31..7 BT)… 41.... Run-Up tsunami 8.. Run-up tsunami 8........ Run-up tsunami 8.................. . Run-up tsunami 8............... Luasan area kelas penggunaan lahan pada tiap Desa di Kab..... ....... Area limpasan tsunami 8......... Luasan area kelas topografi pada tiap Desa di Kab..... 58......7 SM ...........9 SM (posisi -7:46: 36.............3 BT)… 43..........5 LS dan 109: 05:31...7 SM pada Penggunaan/Penutupan Lahan di Kabupaten Cilacap .... 42.. Run-up tsunami 8..................6 LS dan 109:05:30..

........... Tingkat kerusakan limpasan tsunami 8........ .....9 SM 62.................. 109 110 111 ..7 SM 61.. ......7 SM .............xiii 60.............................. Tingkat kerusakan limpasan tsunami 8......... Tingkat kerusakan limpasan tsunami 7.

.... 5............................... Foto-foto kegiatan survey lapangan 3........ 8..................... 6 Tabel hubungan skala tsunami 8......... Tabel hubungan kelas topografi dengan desa .......xiv DAFTAR LAMPIRAN 1........... Tabel hubungan skala tsunami 8............ ... ....... Halaman 117 117 128 129 129 130 130 125 136 2................................................ 7.... ..9 dengan tutupan lahan .......... Tabel pengukuran tinggi gelombang tsunami ..........................7 dengan tutupan lahan ...... Tabel hubungan skala tsunami 7...................................... Tabel hasil survey lapangan (track GPS dan wawancara) 4...... Survey lapangan ......... 9................................. Data USGS 2008 .........................................................7 dengan tutupan lahan ......

Kabupaten Cilacap merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang memiliki pantai yang berhadapan dengan Samudera Hindia. Menurut Arnold (1986) in Diposaptono dan Budiman (2005). wilayah pesisir Indonesia juga memiliki potensi bencana yang besar. Walaupun jarang terjadi. Indo-Australia. Daerah Teluk Penyu adalah salah satu bagian dari pantai yang dimiliki Kabupaten Cilacap yang rawan terhadap bahaya tsunami karena letaknya berdekatan dengan patahan lempeng . Tsunami adalah salah satu bencana alam yang senantiasa mengancam penduduk pesisir. Pentingnya pesisir bagi manusia khususnya para nelayan adalah diperolehnya sumber penghidupan dari berbagai aktivitas di sekitar pesisir laut. Gempa-gempa tersebut sebagian besar berpusat di dasar Samudra Hindia dan beberapa di antaranya mengakibatkan gelombang laut besar (tsunami). Namun disamping mempunyai potensi sumberdaya yang besar. PENDAHULUAN 1. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kegempaan tinggi di dunia. dan lempeng Filipina) yang tiap waktu terus bergerak. Dibandingkan dengan gempa di Amerika Serikat maka Indonesia memiliki frekuensi gempa 10 kali lipatnya.1 1. Hal ini disebabkan karena wilayah Indonesia terletak pada daerah pertemuan empat lempeng tektonik (lempeng Eurasia.1 Latar belakang Wilayah pesisir Indonesia merupakan daerah yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Samudera Pasifik. Indonesia sebagai negara kepulauan secara geologis rentan terhadap bencana alam pesisir. namun daya hancurnya yang besar membuatnya harus diperhitungkan.

Rendahnya tingkat akurasi topografi dari SRTM ini menyebabkan perlu adanya data topografi yang memiliki ketelitian yang lebih tinggi dari SRTM yaitu data DEM dari citra satelit penginderaan jauh. Data topografi yang biasa dijadikan sebagai faktor kerawanan tsunami adalah data SRTM. Penelitian mengenai daerah rawan tsunami yang berbasis penginderaan jauh saat ini sudah banyak dilakukan. Jawa Tengah. saat ini sedang dikembangkan secara aktif oleh para peneliti. Namun penelitian mengenai daerah rawan tsunami dengan menggunakan integrasi pemodelan dan data penginderaan jauh.2 Indo-Australia di Selatan Pulau Jawa. Tujuan Tujuan penelitian ini adalah melakukan kajian daerah rawan bencana tsunami yang difokuskan pada kajian limpasan (inundation) secara spasial dengan menggunakan Digital Elevation Model ALOS dan pemodelan tsunami di daerah pesisir Cilacap. .2. lembaga penelitian. Salah satu bencana tsunami yang terjadi pada tanggal 17 Juli 2006 di Pantai Pangandaran melanda wilayah pesisir Cilacap menyebabkan kerugian baik secara material maupun non material yang besar. 1. dan perguruan tinggi di dunia. Penelitian mengenai daerah rawan bencana tsunami di Cilacap ini dilakukan untuk mengidentifikasi dan menganalisis daerah rawan terkena bencana tsunami berdasarkan analisis menggunakan penginderaan jarak jauh dan model tsunami.

Posisi geografis Kabupaten Cilacap berada antara 07°30’00” LS . Cilacap dulunya merupakan Kota Administratif. Gandrungmangu. Adipala. tidak dikenal adanya kota administratif.07°45’20” LS dan 108°04’30” BT . Nusawungu. Desa-desa tersebar di 21 kecamatan. Berikut adalah kecamatan-kecamatan yang tersebar di Kabupaten Cilacap ini : Dayeuhluhur. . dimana meliputi kecamatan Cilacap Utara.3 2. dan dari utara ke selatan 35 km yaitu dari Cilacap ke Sampang. Kampung laut ( BAPPEDA Cilacap. Kondisi umum lokasi penelitian Daerah penelitian berlokasi di Pantai Selatan Cilacap Jawa Tengah. Sidareja. Bantarsari. Jeruklegi. TINJAUAN PUSTAKA 2. sedangkan kelurahan terdiri dari 3 kecamatan (Gambar 1). 2005). Kawunganten. Maos. Sedangkan batas-batas wilayah kabupaten Cilacap ini adalah sebagai berikut : Sebelah utara Sebelah selatan Sebelah timur Sebelah barat : Kabupaten Brebes dan Kabupaten Banyumas : Samudera Hindia : Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Kebumen : Kabupaten Ciamis dan Kota Banjar Ibukota Kabupaten Cilacap adalah Cilacap. Cimanggu. Kroya.360. dan Cilacap Selatan.1. namun sejak diberlakukannya Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Binangun. Kesugihan. Kabupaten Cilacap terbagi menjadi 24 kecamatan dengan jarak terjauh dari barat ke timur 152 km dari Dayeuhluhur ke Nusawungu.840 ha. Majenang. Cilacap Tengah. Kedungreja.109°30’30”BT. dengan luas wilayah 225. Patimuan. Sampang. Cipari. Wanareja. Karang pucung.

Kawasan hutan menutupi lahan Kabupaten Cilacap bagian utara. Karangpucung.360. Sedangkan bagian selatan merupakan dataran rendah.142.146 meter.84 Ha diatas ketinggian 0 – 1.347 meter). timur. dan Kroya. membuat kabupaten ini memiliki dua kode telepon (Wikipedia. Sidareja. .6% dari total wilayah Jawa Tengah yaitu sekitar 2. Gambar 1.57 Km2 atau lebih kurang 225. Lokasi Kabupaten Cilacap.4 dan Kota Administratif Cilacap kembali menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Cilacap. Bagian utara adalah daerah perbukitan salah satu puncaknya adalah Gunung Pojoktiga (1. 2007). Majenang menjadi pusat pertumbuhan kabupaten Cilacap di bagian Barat sedangkan Kroya dan Sampang menjadi pusat pertumbuhan di Bagian Timur. Luas wilayahnya sekitar 6. Begitu luasnya. 2005) Kabupaten Cilacap merupakan kabupaten terluas di Jawa Tengah. Jawa Tengah (BAPPEDA Cilacap. Sampang. Diantara kota-kota kecamatan yang cukup signifikan di Kabupaten Cilacap adalah: Majenang.

maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran. 2.5 dan selatan. Kabupaten Cilacap termasuk zona B yang memiliki tingkat kerawanan tsunami yang tinggi dengan periode ulang sekitar 10-15 tahun. yang memiliki Cagar Alam Nusakambangan. Diposaptono (2005) membagi ke dalam enam zona seismotektonik. menurut hasil registrasi penduduk pada akhir tahun 2004 mencapai 1.908 jiwa yang terdiri dari laki-laki 855. Definisi dan batasan wilayah pesisir Wilayah pesisir adalah suatu daerah pertemuan antara darat dan laut. Berdasarkan hubungan antara tsunami dan karakteristik seismotektonik. Di sebelah selatan terdapat Nusa Kambangan. 2007).2.838 jiwa dan perempuan 854.709.31 persen). Pertumbuhan ini merupakan pertumbuhan penduduk yang terendah sejak tahun 1984 (Wikipedia.20 persen). dengan pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2000 (1. sedangkan kearah laut wilayah pesisir mencangkup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses-proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar. dan terendah pada tahun 2004 (0.070 jiwa. Dan pantai adalah . angin laut. dimana ke arah darat wilayah pesisir meliputi bagian daratan. Selama 5 tahun terakhir rata-rata pertumbuhan penduduk per tahun sebesar 0. baik kering maupun terendam air yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut seperti pasang surut. dan perembesan air asin.69 persen. Penduduk Kabupaten Cilacap setiap tahun terus bertambah. Bagian barat daya terdapat sebuah inlet yang dikenal dengan Segara Anakan. I bukota kabupaten Cilacap berada di tepi pantai Samudera Hindia.

Sedangkan menurut Diposaptono (2005) pengertian daerah pesisir merupakan daerah yang memiliki dua macam batas (boundaries). . yang memiliki ciri geosfer yang khusus. 1999). Pertemuan antara air laut dan daratan ini dibatasi oleh garis pantai (shore line). pengaruh gelombang dan arus laut (Triatmodjo. sedangkan ke arah laut dibatasi oleh proses alami serta akibat kegiatan manusia terhadap lingkungan di darat Pada bentang lahan pesisir (coastal landscape) tercakup perairan laut yang disebut dengan pantai atau tepi laut. Pertimbangan tersebut diambil berkaitan dengan pendekatan spasial yang digunakan dalam penelitian ini untuk identifikasi dan analisis daerah limpasan tsunami. Penelitian ini menggunakan batasan pesisir yang ditinjau untuk kepentingan pengelolaan wilayah rawan tsunami Kota Cilacap. yang kedudukannya berubah sesuai dengan kedudukan pada saat pasang surut.6 daerah di tepi perairan yang dipengaruhi oleh air pasang tertinggi dan air surut terendah (Triatmodjo. namun terdapat kesepakatan umum di dunia bahwa wilayah pesisir adalah wilayah peralihan antara daratan dan lautan. Wilayah pesisir adalah suatu jalur saling pengaruh antara darat dan laut. kearah darat dibatasi oleh pengaruh sifatsifat fisik laut dan sosial ekonomi bahari. adalah suatu daerah yang meluas dari titik terendah air laut pada saat surut hingga ke arah daratan sampai mencapai batas efektif dari gelombang. yaitu : batas yang sejajar dengan garis pantai (longshore) dan batas yang tegak lurus terhadap garis pantai (cross-shore). 1999). Walaupun demikian sampai sekarang belum ada definisi wilayah pesisir yang baku.

. tsunami berasal dari Bahasa Jepang. atau longsoran (land-slide) (Diposaptono dan Budiman. 2005). Gelombang yang dibangkitkan oleh angin hanya menggerakan air laut bagian atas. Panjang gelombang tsunami dapat mencapai 240 km di laut terbuka seperti samudera pasifik dengan panjang gelombang rata-rata 4600 m dengan kecepatan gelombang mencapai 760 km/jam Gelombang tsunami yang ditimbulkan oleh gaya impulsif ini bersifat transien. “Tsu” berarti pelabuhan dan “nami” adalah gelombang.1 Pengertian dan karakteristik gelombang tsunami Secara harfiah. Secara umum tsunami diartikan sebagai pasang laut yang besar di pelabuhan. erupsi vulkanik. Periode gelombang angin hanya beberapa detik (kurang dari 20 detik). 1969 in Diposaptono dan Budiman. Gelombang ini berbeda dengan gelombang laut lainya yang bersifat kontinyu seperti gelombang laut yang ditimbulkan oleh gaya gesek angin atau gelombang pasang surut yang ditimbulkan oleh gaya tarik benda angkasa. dapat dideskripsikan tsunami sebagai gelombang laut dengan periode panjang yang ditimbulkan oleh gangguan impulsif yang terjadi pada medium laut. Gangguan impulsif itu bisa berupa gempa bumi tektonik. 2005).7 2. Hal diatas disetujui oleh Ingmanson dan Wallace (1973) bahwa tsunami merupakan gelombang laut yang mempunyai periode panjang yang ditimbulkan oleh suatu gangguan di laut. yakni gelombangnya bersifat sesaat. Perbedaan gelombang tsunami dengan gelombang yang dibangkitkan oleh angin adalah terletak pada gerakan airnya.3. Sementara itu periode gelombang tsunami berkisar antara 10-60 menit (Barber. Jadi.3 Gelombang tsunami dan Pembangkitnya 2.

Kecepatan penjalaran tsunami tersebut sangat tergantung dari kedalaman laut dan penjalarannya dapat mencapai ribuan kilometer dari pusatnya. Kecepatan rambatnya di laut dalam (deep sea) berkisar dari 400 sampai 1000 km/jam. gelombang pasang surut. Selama penjalaran dari tengah laut (pusat terbentuknya tsunami) menuju pantai. bisa mencapai puluhan kilometer. Perbedaan gelombang.gelombang tersebut dapat dilihat pada Gambar 2. Perbandingan panjang gelombang antara gelombang yang disebabkan oleh angin. 2005) Ciri lainnya dari tsunami adalah panjang gelombangnya yang besar. Gambar 2.8 Namun pada gelombang tsunami menggerakan seluruh kolom air dari permukaan sampai dasar. kecepatan semakin berkurang karena gesekan dengan . dan gelombang tsunami (Diposaptono dan Budiman.

dan 1% oleh tanah longsor (Diposaptono dan Budiman. (Diposaptono dan Budiman. Tsunami akibat gempa tektonik Gempa tektonik merupakan gerakan-gerakan retakan yang akan menyebabkan pergerakan vertikal massa batuan bukan pergerakan horizontal massa batuan. 2005). Berbagai pergerakan massa batuan yang disebabkan oleh gempa tektonik ini dapat dilihat pada (Gambar 3). 2 Faktor-faktor penyebab terjadinya tsunami Terjadinya tsunami di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor. Aktivitas tektonik yang disebabkan adanya pergerakan dua lempeng tersebut menimbulkan energi elastis yang dapat terakumulasi dari waktu ke waktu . tinggi gelombang di pantai menjadi semakin besar karena adanya penumpukkan massa air akibat adanya penurunan kecepatan. Ketika mencapai pantai. 90 % disebabkan oleh gempagempa tektonik. 2005). gelombang naik (run-up) ke daratan dengan kecepatan yang berkurang menjadi sekitar 25-100 km/jam (Diposaptono dan Budiman. Proses terjadinya gempa tektonik dimulai dengan adanya pergerakan dua lempeng yang saling berbatasan saling bergerak reatif terhadap sesamanya. Dari berbagai tsunami yang pernah terjadi di Indonesia. 2005). Akibatnya.9 dasar laut yang semakin dangkal. 9% disebabkan oleh gunung berapi. Jika proses tersebut terjadi di dasar laut maka akan menyebabkan perubahan muka laut yaitu terbentuknya puncak dan lembah gelombang yang berukuran 150 km antara puncak gelombang yang satu dengan puncak gelombang berikutnya ke segala arah.3. 2. A.

2005). maka tsunami akan terjadi (Diposaptono dan Budiman. (c) sesar horizontal (strike slip) (Diposaptono dan Budiman. jika gempanya berkekuatan lebih dari 6. konvergen. gunung api dan tsunami yang terletak pada batas-batas lempeng.5 SM. Jenis-jenis patahan : (a) sesar turun (normal fault). lembah. Gambar 3. . Batas lempeng yang terbentuk terdiri dari 3 jenis yaitu. divergen. Zona ini terdiri dari dua jenis.10 sehingga menyebabkan pembentukan pegunungan. (b) sesar naik (reverse fault). tumbukan dan subduksi. Secara empiris. 2005) Zona konvergen ditandai dengan gerakan dua lempeng yang berbatasan itu ke bawah lempeng benua. kedua lempeng bergerak saling mendekati karena mempunyai berat jenis sama sehingga lempeng melipat ke atas. Pada zona tumbukan. dan singgungan. dan pusat gempa berada pada kedalaman kurang 60 km dari dasar laut. Apabila gempa dengan patahan naik maupun turun (lebih dari beberapa meter secara mendadak dan vertikal) terjadi di laut dengan kedalaman mencapai ribuan meter. Sedangkan pada zona subduksi. kedua lempeng yang bertumbukkan mempunyai berat jenis yang berbeda.

dan satu kali oleh tanah longsor di dasar laut (Gambar 5). gempa tektonik memang menyumbang kontribusi terbesar terjadinya tsunami baik di dalam maupun luar negeri. sebanyak 98 kali tsunami disebabkan gempa bumi. 2007) Berdasarkan catatan. Sejarah gempa tsunami tahun 1973-2007 (USGS. Gambar 5. 2008) . Di Indonesia sepanjang tahun 1600 sampai 2005 telah terjadi 107 kali tsunami.11 Gambar 4. Lempeng-lempeng tektonik Indonesia (Gunawan. Dari jumlah itu. sembilan kali karena letusan gunung berapi.

atau longsor di dasar laut. B. 2. pusat gempanya berada kurang dari 60 km dari permukaan laut (gempa dangkal). Tanah longsor tersebut runtuhnya bebatuan dalam jumlah yang banyak kemudian menimbulkan gelombang dengan puncak gelombang bisa mencapai 535 meter di atas garis pantai. Selain itu gempa tersebut harus menghasilkan deformasi dasar laut secara vertikal cukup besar.12 Memang tidak semua gempa bisa menghasilkan tsunami. lebih dari 2 meter. gempa-gempa. . Jadi. kegiatan gunung berapi.5 SM. Tsunami akibat tanah longsor Penyebab kedua terjadinya tsunami adalah adanya longsor besar yang disebabkan oleh gempa. jika ada gempa tektonik yang terjadi pada kedalaman lebih dari 60 km. tsunami bisa terwujud jika kekuatan gempa minimal 6.3 Pembangkit Tsunami Tsunami yang terjadi menyebabkan fluktuasi muka laut secara mendadak berkaitan erat dengan kegiatan bumi yang terus-menerus bergerak dinamis. tidak akan menghasilkan tsunami walaupun kekuatan gempanya diatas 6. Sebagian besar tsunami dibangkitkan oleh deformasi vertikal dasar laut yang berasosiasi dengan penyesaran. Syarat lain.5 SM. erupsi vulkanik di bawah laut. .3. Berdasarkan hasil penelitian.

Hal itu dapat dijelaskan karena pergerakan vertikal lantai Samudera dapat menyebabkan perubahan massa air di atas lantai Samudera yang bergerak tersebut. dip. Jika lantai Samudera naik (uplift) atau turun dengan cepat . dan arah slip (Diposaptono dan Budiman. slip dan mekanisme fokus (strike. Parameter orientasi sesar strike. kedalaman pusat gempa. Kedua sesar tersebut mengakibatkan perubahan kerak bumi dalam arah vertikal yang dimanifestasikan oleh komponen dip-slip yang dapat membangkitkan tsunami. energi atau magnitude. dan sudut slip) adalah paramter-parameter yang utama dari sumber gempa (Gambar 6) Gambar 6. Dua struktur yang menimbulkan tsunami perubahan-perubahan tersebut dapat berupa struktur sesar naik (thrusting fault) atau sesar normal (normal fault). dip. Rake adalah sudut pergeseran antara strike dengan garis bidang sesar. 2005) Strike (jurus) merupakan arah garis horizontal yang terletak pada bidang sesar. Tsunami biasanya terjadi pada gempa-gempa dangkal yang mengakibatkan reformasi pada kerak bumi yang selanjutnya memberikan pengaruh yang kuat terhadap perubahan dasar laut. Dip (kemiringan) adalah sudut kemiringan foot wall terhadap bidang horizontal.13 Parameter-paramter sesar seperti panjang dan lebar sesar.

Smylie. maka akan menaikkan dan menurunkan air laut dalam skala besar. 1971) 2. Proses kegiatan yang menggunakan pendekatan sistem sebagai kerangka bahasan dikenal dengan istilah permodelan (modelling). . Gambar 7. Pemodelan tsunami pada dasarnya bertujuan memperkirakan sebaran tinggi dan limpasan tsunami dalam ruang dan waktu. Manshinha dan D. Pemodelan tsunami adalah upaya untuk mensimulasikan penjalaran gelombang tsunami yang disebabkan oleh deformasi dasar laut (gempa).E. 2001). Model-model suatu ekosistem umumnya lebih sederhana dari arti sesungguhnya.4 Pemodelan Gelombang Tsunami Model merupakan suatu abstraksi atau penyederhanan dari sebuah sistem yang lebih kompleks (Soetaert dan Herman. Gelombang yang terbentuk akibat deformasi (L.14 sebagi respon terhadap gempa bumi. mulai dari lantai Samudera sampai permukaan.

penjalaran. t ) = + o(Δt ) dan ∂t Δt (2.jn dimana n adalah langkah waktu ke-n. notasi skema numeriknya ditulis seperti fi. t + Δt ) − ∂η ( x. Subskrip i menunjukkan nomor sel pada arah-x dan subskrip j menunjukkan nomor sel pada arah sumbu-y. Pendekatan untuk menyelesaikan deret Taylor ini terdiri dari 3 cara yaitu : hampiran beda maju (forward difference).j dimana f adalah variabel suatu fungsi dan subskrip i. hampiran beda mundur (backward difference) dan hampiran beda tengah (central difference). Untuk fungsi yang berubah terhadap waktu serta berubah terhadap jarak. Pada dasarnya notasi numerik beda hingga sering ditulis fi.15 Pembangkitan. 2006) Metode numerik beda hingga didasari pada persamaan matematik dalam bentuk deret yang disebut deret Taylor.1) (2. Jarak antara dua titik dalam arah-x adalah ∆x dan jarak antara dua titik dalam arah-y adalah ∆y. dan run-up tsunami dapat dihitung dengan menggunakan metode beda hingga (finite difference method atau FDM).2) 1 1 ∂η (t ) ∂η (t + 2 Δt ) − ∂η (t − 2 Δt ) = + o(Δt ) ∂t Δt . Skema numerik beda hingga (Immamura. Metode beda hingga yang digunakan pada model tsunami menggunakan: forward difference central difference ∂η ( x. t ) ∂η ( x.j menunjukkan nomor sel dimana variabel tersebut berada. Gambar 8.

Teori gelombang dangkal menyebutkan bahwa syarat terjadinya gelombang dangkal adalah jika nilai perbandingan antara kedalaman air yang dilalui oleh gelombang tersebut dan panjang gelombangnya lebih kecil dari 1/20.g.(z.3) Berdasarkan kondisi batas dinamik dan kinematika dasar maka diperoleh persamaan integrasi Teori Gelombang Dangkal ( Immamura. Sehingga berdasarkan pendekatan ini gerak vertikal dan partikel air tidak berpengaruh pada distribusi tekanan. aproksimasi.16 Penggunaan metode beda hingga ini biasanya digunakan untuk interpolasi dalam perhitungan numerik. dan τy A : total kedalaman yang diberikan oleh h+ η. dan diferensiasi. D τx. 2. Persamaan momentum dalam koordinat z dengan kondisi dinamik pada permukaan p=0 memberikan tekanan hidrostatik : P = -ρ. salah satu faktor penyebab utama tsunami adalah adanya gerakan dasar laut akibat gempa bumi yang dapat menimbulkan perairan dangkal atau gelombang panjang (long wave).1 Persamaan Penjalaran Gelombang Tsunami Seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Teori ini menjelaskan bahwa percepatan vertikal air dapat diabaikan. karena besarnya lebih kecil daripada percepatan gravitasi.4. 2006): (2. : gesekan dasar dalam arah x dan y : visikositas Eddy horizontal (konstan) .4) Dimana.η) (2.

5) Persamaan di atas berlaku untuk dimana saja di dalam fluida. dan sudut kemiringan) dan dinamik (kecepatahan patahan dan pertambahan waktu dislokasi).2 Persamaan Kontinuitas Selain persamaan gerak yang mempengaruhi model tsunami ini. ∂η ∂u ∂v + + =0 ∂t ∂x ∂y (2. lebar.7) Dimana M dan N adalah discharge fluks dalam arah x dan y 2. merupakan arah garis horisontal yang terletak pada bidang sesar di ukur searah jarum jam dari arah utara serta dengan asumsi haning wall berada di sebelah kanan ( 0˚≤ Ф ≤360˚ ) . Sehingga hasil akhirnya adalah sebagai berikut : ∂η ∂M ∂N + + =0 ∂t ∂x ∂y (2. dislokasi.17 2. 2006). Untuk menyederhanakan persamaan di atas maka diperlukan syarat batas.3 Deformasi Dasar Laut Menurut Manshina.4. 1997 deformasi dasar laut diestimasi melalui parameter-parameter patahan. slip. Paramater patahan ini ada dua macam yaitu: parameter statik (panjang. 1971 in Abietto.4. Strike (jurus) Ф. persamaan kontinuitas sebagai persamaan konversi massa tiga dimensi juga mempengaruhi untuk fluida incompresible (Imammura. Parameter-parameter bidang sesar tersebut anatara lain adalah : a.6) Dimana : (2.

Model bidang sesar dalam kerangka model penjalaran gelombang (Abietto.18 b.5 Sistem Penginderaan Jauh Penginderaan jauh adalah ilmu. seni dan teknologi untuk memperoleh informasi tentang objek daerah atau gejala yang didapat dengan analisis data yang diperoleh melalui alat tanpa kontak langsung dengan objek daerah atau fenomena yang dikaji (Lillesand dan Kiefer. 1997) 2. Rake (sudut pergeseran) λ merupakan sudut antara strike dengan garis bidang sesar arau slip yang merupakan arah hanging wall. Dip (kemiringan) δ adalah sudut kemiringan foot wall terhadap bidang horisontal ( 0˚≤ δ ≤90˚ ) c. Rake bernilai positif pada sesar naik dan bernilai negatif pada sesar normal ( -180˚≤ λ ≤180˚ ) Gambar 9.1990) .

ALOS yang diluncurkan pada tahun 2006 adalah satelit pemantau lingkungan yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan kartografi. 2003) .19 2. pemantauan bencana alam. dan survey sumber daya alam.5. Satelit ALOS (JAXA. Advanced Visible and Near Infrared Radiometer type-2 (AVNIR-2) untuk pemantauan penutup lahan secara lebih tepat. dan PhasedArray type L-band Synthetic Aperture Radar (PALSAR) untuk pemantauan permukaan bumi dan cuaca pada siang dan malam hari (Ginting et al.1 Pengertian dan Karakteristik Citra Alos Pada penelitian ini data penginderaan jauh yang dipakai adalah data citra dari satelit ALOS (Advanced Land Observing Satellite). observasi wilayah. 2006) ALOS singkatan dari Advanced Land Observing Satellite adalah satelit milik Jepang yang merupakan satelit generasi lanjutan dari JERS-1 dan ADEOS yang dilengkapi dengan teknologi yang lebih maju. ALOS dilengkapi dengan 3 instrumen penginderaan jauh : yaitu Panchromatik Remote-sensing Instrument for Stereo Mapping (PRISM) yang dirancang untuk dapat memperoleh data Digital Terrain Model (DTM). Gambar 10.

2006 Panchromatic Remote-sensing Instrumen for Stereo mapping (PRISM) adalah instrumen penginderaan jauh pada satelit ALOS dengan sensor pankromatik dengan resolusi spasial 2.5 m 35 km ( Triplet Mode ) 70 km (hanya pengambilan tegak) 28 000 / Kanal (lebar cakupan 70 Km) 14 000 / Kanal (lebar cakupan 35 Km) 1.5 m dan memiliki kemampuan untuk mengambil obyek yang sama pada permukaan bumi dari 3 posisi yang berbeda. Resolusi untuk high resolution mode dan ScanSAR masingmasing 10 meter dan 100 meter.20 Satelit ALOS telah diluncurkan oleh Badan Luar Angkasa Jepang (JAXA) pada bulan Januari 2006 dan telah berhasil merekam informasi permukaan bumi. Secara umum satelit ini memiliki karakteristik yang dapat dijelaskan pada tabel dibawah ini : Tabel 1.52 – 0. 2006 . Di bawah ini tabel karakteristik sensor PRISM : Tabel 2. Keterangan umum sensor PRISM Panjang Gelombang Banyaknya Optik Base to High Ratio S/N MTF Resolusi Spasial Lebar Cakupan Jumlah Detektor Sudut pengambailan Panjang Bit 0.5 Derajat 8 bit Sumber : JAXA. Backward) 1.0 ( Forward dengan Backward) Diatas 70 0.2 0 Sumber : JAXA. Nadir.77 µm 3 buah ( Forward.2 atau lebih 2. Keterangan umum ALOS Alat peluncuran Tempat peluncuran Berat Satelit Power Waktu Operasional Orbit Roket H-IIA Pusat Ruang Angkasa Tanagashima 4 000 Kg 7 000 W 3 sampai 5 Tahun Sun-Synchronous Sub-Recurr Orbit Recurrent Period : 46 hari Sub cycle 2 hari Tinggi Lintasan : 692 km di atas Equator Inclinasi : 98.

Keterangan umum AVNIR Kanal Observasi Kanal-1 : 0.50 µm Kanal-2 : 0.20 10 m ( Nadir) 70 km (Nadir) 7000 / Kanal .61 – 0.44 to +44 Derajat 8 bit S/N MTF Resolusi Lebar Cakupan Jumlah Detector Sudut pengambailan Panjang bit Sumber : JAXA. .89 µm > 200 Kanal 1-3 : > 0. Resolusi untuk high resolusion mode dan ScanSAR masing-masing 10 meter dan 100 meter.76 – 0.52 – 0.60 µm Kanal-3 : 0.42 – 0.21 Advanced Vicible and Near-Imfrared Radiometer type-2 (AVNIR-2) merupakan instrumen pada satelit ALOS yang dilengkapi kanal multispektral untuk pengamatan permukaan daratan dan wilayah pesisir dengan resolusi spasial lebih baik dari AVNIR-ADEOS. Sensor Phased Array type L-band Synthetic Aperture Radar (PALSAR) ini mempunyai keistimewaan dapat menembus awan.69 µm Kanal-4 : 0. Tabel 3.25 Kanal 4 : > 0. dengan memiliki kemampuan cross track pointing untuk pemantauan bencana alam. sehingga informasi permukaan bumi dapat diperoleh setiap saat. baik malam maupun siang hari. 2006 PALSAR merupakan salah satu sensor untuk pengamatan cuaca dan permukaan daratan pada siang dan malam hari dengan sistem yang lebih maju dari JERS-1 SAR. Sensor ini digunakan untuk tujuan pemetaan dan klasifikasi penutup/penggunaan lahan skala regional.

2006). Data DEM dapat dibuat berdasarkan data titik tinggi (spot height) yang dapat diperoleh dari pengolahan foto udara.9 m x EL: 2. DTM merupakan informasi ketinggian dari permukaan bumi tanpa tutupan lahan diatasnya. Data DEM ini dapat diperoleh dengan beberapa cara seperti dengan pengolahan berbagai peta topografi atau peta rupa bumi.y) dan elevasi (z) pada setiap selnya.29 dB 3 bit / 5 bit Sumber : JAXA.9 m HH+HV+VH+VV 30 m 30 Km 8 –30 derajat < .5. sedangkan warna putih memperlihatkan daerah topografi tinggi).22 Tabel 4. 2006 2. citra satelit secara fotogrametri atau citra RADAR melalui proses interferometri. Data ini digunakan untuk menggambarkan kondisi topografi suatu wilayah. sedangkan DSM merupakan informasi tutupan lahan dari .2 Digital Elevation Model (DEM) Digital Elevation Model (DEM) merupakan data dijital dengan format raster yang memiliki informasi koordinat posisi (x. DEM berbeda dengan DTM (Digital Terrain Model) dan DSM (Digital Surface Model).BAND) 28 / 14MHz Polarimetric HH atau VV / HH +HV atau VV + VH 10 m (2 look)/ 20m(4 look) 70 Km 8-60 derajat < . Keterangan umum PALSAR Mode Frekuensi Lebar Kanal Polarisasi Resolusi Spasial Lebar Cakupan Incidence Angle NE Sigma 0 Panjang bit Ukuran Antena Fine ScanSAR 1270 MHz (L .23 dB (70 Km) < -25 dB (60 Km) 3 bit / 5 bit HH atau VV 100 m (multi look) 250 – 350 Km 18-43 derajat < . Namun secara konvensional DEM diperoleh melalui survey lapangan dengan menggunakan berbagai alat survey (Hajar.25 dB 5 bit AZ: 8. DEM merupakan informasi ketinggian permukaan bumi yang ditampilkan dengan perbedaan warna (warna hitam memperlihatkan daerah topografi rendah.

23 permukaan bumi beserta tutupan lahan diatasnya misal. daerah perkotaan yang memperlihatkan 3D dari gedung-gedung. DEM: Digital Elevation Model DTM: Digital Terain Model DSM: Digital Surface Model Rendah Tinggi Gambar 11.000. Pengolahan data DEM akan mengahasilkan kesalahan atau sink dari proses interpolasi yang akan berpengaruh terhadap akurasi data. Perbedaan DEM dan DTM dan DSM (Trisakti.2004). Pengolahan data DEM menggunakan data titik atau garis tinggi dapat dilakukan melalui proses interpolasi dengan beberapa cara seperti Inverse Distance Weigted Spline dan Kriging (Ermapper. Sink tersebut perlu dihilangkan agar mendapatkan data yang memiliki keakurasian data yang tinggi. . Apabila titik tinggi diperoleh dari garis kontur peta pada skala 1 : 50. 2006) Akurasi dari data ini tergantung dari sumber titik tinggi dan resolusi spasial suatu data DEM.2004). maka semakin tinggi akurasi data yang dihasilkan (Ermapper. maka ketelitian yang diperoleh dari data DEM ini nantinya memiliki akurasi yang tinggi dan semakin tinggi resolusi spasial yang dimiliki suatu data DEM.

2. Cara kedua yaitu dengan penurunan DEM mengunakan citra stereo. Pan-Sharpenning merupakan salah satu jenis image data fusion.3 Metode Pansharpan Alos Image fusion merupakan kombinasi dua atau lebih dari image/citra yang berbeda untuk menghasilkan image baru dengan menggunakan berbagai algorithma. Salah satu dari sekian banyak . yaitu menggunakan 2 atau lebih citra yang diperoleh dari sudut pandang yang berbeda. Data citra berwarna dengan resolusi rendah digabungkan dengan data monokrom yang beresolusi tinggi yang hasilnya adalah sebuah image data citra berwarna dengan resolusi tinggi. RadarSAT dan PALSAR-ALOS) digunakan untuk memetakan ketinggian (topografi) dari permukaan bumi.5. Dan cara lainnya yaitu dengan Radar Interferometri (InSAR) atau teknik dimana data dari sensor radar dari satelit penginderaan jauh (contoh: ERS. yaitu melakukan interpolasi terhadap titik ketinggian (dimana titik berisi informasi ketinggian Z dan koordinat XY) atau interpolasi terhadap garis kontur untuk menghasilkan DEM. Menurut Prahasta (2008) data fusion merupakan menggabungkan atau mengkombinasikan (fusi) data (dengan cakupan wilayah yang sama) yang berasal dari berbagai (rekaman) sensor satelit (dan dengan resolusi-resolusi spasial yang berbeda) merupakan cara yang sangat efektif dan efisien dalam memberdayakan sumber-sumber basis data spasial secara optimal.24 Data ketinggian suatu objek dari satelit bisa didapatkan dengan beberapa metode. JERS-1. yaitu diantaranya: DEM yang dihasilkan dari interpolasi.

Hasil keluaran gambar RGB akan mendapatkan nilai pixel dari input data resolusi tinggi. Hasilnya digunakan sebagai alat bantu pada interpretasi citra digital secara visual.25 bentuk dari aktifitas ini adalah Pan-sharpen yang mengkombinasikan citra digital pankromatik (band tunggal yang beresolusi spasial lebih tinggi) dengan citra digital multi-spektral (beberapa band berwarna tetapi memiliki resolusi spasial lebih rendah).8) Dimana i (=1. Color Normalized (Brovey) Sharpenning Digunakan untuk mendapatkan teknik Sharpenning dengan menggunakan kombinasi matematika image berwarna dan data resolusi tinggi. diantaranya : 1. . Gambar HSI di convert kembali ke tempat RGB.9) Setiap band di Image Color dikalikan dengan rasio data resolusi tinggi dibagi dengan jumlah color bands. atau cubic convolution technique. HSV (or HSI) Sharpenning Hue Saturation Intensity (Hue Saturation Value) menggunakan resolusi rendah image RGB (Red Green Blue). Fungsi otomatis dari color bands sampai ukuran pixel dengan resolusi tinggi menggunakan nearest neighbor.2. Fusion i = (MULTi/MULTi Sum)x PAN (2.3. 2. Image data sebaiknya tercatat dengan akurasi level tinggi terlebih dahulu menggunakan fusion algorithma. Hasil yang diharapkan dari proses ini adalah citra digital mutispektral dengan resolusi yang sama dengan pankromatik.) merupakan band particular dalam MS Image dan MULTi SUM = MULTI1 + MULTI2 + MULTI3 (2.. bilinnear. Band pankromatik disesuaikan dan diganti untuk intensity band.

Data multispectral otomatis memperbaiki nilai pixel resolusi tinggi menggunakan nearest neighbor. Kemudian. (2.5. PC band 1 digantikan dengan band resolusi tinggi dengan skala yang sesuai dengan PC band 1 sehingga tidak ada distorsi informasi spectral. diperlukan antara lain peta tutupan lahan. PC Spectral Sharpenning Digunakan untuk Sharpen Spectral Image data dengan data resolusi tinggi menggunakan prinsip transformasi komponen hasil data multispectral. u dan v adalah vector ortogonal 2. dan es glasial merupakan penutup lahan. dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh.11) Dimana. Danau. Gram Schmidt Algoritm Merupakan Kodak/ RSI yang memiliki algoritma Sharpenning. Istilah penutup lahan berkaitan dengan jenis kenampakan yang ada di permukaan bumi. pohon. misalnya dengan menganalisa citra satelit (Winardi dan Cahyono.4 Penutupan/Penggunaan Lahan Dalam perencanaan dan pegembangan suatu wilayah. digunakan untuk transform kembali. Algorithma ini merupakan dasar dalam persamaan rotasi di alam untuk PCA.10) (2. . bilinnear. 2005). atau cubic convolution technique. 4.26 3. Dalam pembuatan peta tutupan lahan.

Ketelitian interpretasi untuk beberapa kategori harus tidak kran lebih sama. 5. . Tingkat ketelitian interpretasi minimum dengan menggunakan penginderaan jauh tidak kurang dari 85 persen. Sistem klasifikasi harus dapat diterapkan untuk daerah yang luas. Sistem klasifikasi penggunaan lahan dan penutup lahan USGS disusun berdasarkan kriteria berikut : 1. Informasi penggunaan lahan dan penutup lahan sebaiknya disajikan pada peta secara terpisah dan tidak dijadikan satu sistem klasifikasi USGS. 4. Survey geologi Amerika Serikat telah menyusun sistem klasifikasi penggunaan lahan dan penutup lahan untuk digunakan dengan data penginderaan jauh yang dilaporkan dalam USGS Profesional Paper 964 (5).27 Sedangkan penggunaan lahan berkaitan dengan kegiatan manusia pada bidang lahan tertentu. Akan tetapi dari segi praktisnya lebih efisien menggabungkan dua sistem tersebut apabila data penginderaan jauh digunakan sebagai sumber data utama untuk kegiatan pemetaanya. Sistem klasifikasi harus dapat digunakan dengan data penginderaan jauh yang diperoleh pada waktu yang berbeda. Hasil yang dapat diulang harus dapat diperoleh dari penafsir yang satu ke yang lain dan dari satu saat penginderaan ke saat yang lain. 6. 3. Kategorisasi harus memungkinkan penggunaan lahan ditafsir dari tipe penutup lahanya. 2.

Ukuran Minimum Unit Penggunaan lahan/Penutup lahan (Lillesand/Kiefer. Sejalan dengan itu maka untuk pemetaan pada tingkat IV juga harus diperoleh sejumlah besar informasi penunjang.5 ha 0. 10. 9. Dapat dibandingkan dengan data penggunaan lahan dan penutupan lahan pada masa yang akan datang. disamping yang diperoleh dari foto udara skala besar.35 ha . Untuk pemetaan pada tingkat III. (Satelit) 1 : 500. Tingkat II disusun untuk digunakan pada foto udara skala kecil.000 150 ha II.28 7. Citra yang paling banyak digunakan untuk pemetaan tingkat II adalah foto udara inframerah berwarna dengan ketinggian terbang tinggi. (Foto udara skala menengah) 1 : 62. Ukuran minimum suatu daerah yang dapat dipetakan dalam kelas penggunaan lahan/penutup lahan tergantung pada skala dan resolusi citra.500 1: 24.000 2. (Foto udara skala kecil) III. sejumlah besar informasi penunjang harus diperoleh disamping informasi yang diperoleh dari foto udara skala sedang. Kategori harus dapat dirinci ke dalam sub-kategori yang lebih rinci yang dapat diperoleh dari citra skala besar atau survey lapangan. Sistem klasifikasi USGS juga menyajikan kategori penggunaan lahan/ penutupan lahan terdiri dari 4 tingkatan yang terdiri dari : sistem klasifikasi tingkat I yang disusun untuk digunakan pada citra skala kecil seperti citra Landsat. Bila memungkinkan lahan multiguna dapat dikenali. 1990) Tingkat Interpretasi Citra Skala Peta yang Ukuran Minimum reperentatif Dipetakan I. Pengelompokkan kategori harus dapat dilakukan. 8. Tabel 5.

kanal. maka harus diambil kategori yang utama. sebidang lahan mungkin dapat dikelompokkan dalam lebih dari satu kategori sehingga diperlukan suatu definisi khusus untuk menjelaskan prioritas klasifikasinya. diklasifikasikan sebagai kategori air. anggur. rumput buah-buahan. Lahan hutan adalah daerah yang kepadatan tajuk pohonnya (persentasi penutup tajuk) 10 persen atau lebih. daerah pembibitan dan tanaman hias. Remote sensing (RS atau penginderaan jauh) merupakan salah satu alat mutakhir guna menunjang kegiatan riset tsunami seperti halnya dalam pembuatan DEM dan penuutupan/penggunaan lahan. dan muara. maka harus dimasukkan dalam kategori lahan bangunan/ lahan terbangun. teluk.Misalnya.daerah pemukiman yang penutupan vegetasinya cukup lebat dan memenuhi kriteria lahan hutan. Apabila obyek mempunyai lebih dari satu kategori. Kategori air antara lain: sungai. . Seperti yang telah disebutkan diatas.29 Lahan pertanian secara luas dapat diartikan sebagai lahan yang penggunaanya terutama untuk menghasilkan makanan dan serabut. Kategori ini meliputi penggunaan seperti tanaman semusim dan padang. Penentuan daerah rawan tsunami yang digunakan pada penelitian ini berdasarkan daerah limpasan tsunami pada penutupan/penggunaan lahannya. danau. batang pohonya menghasilkan kayu atau produksi kayu lainnya dan mempengaruhi iklim atau tata air lokal. Lahan gundul ialah lahan yang kemampuannya terbatas untuk mendukung kehidupan dan vegetasi atau penutup lainnya kurang dari sepertiga luas daerahnya. Daerah yang berair dangkal dimana timbul vegetasi aquatik. jeruk. waduk.

baik sebelum. Analisis aspek historis kejadian tsunami Indonesia terutama mekanisme pembangkitan tsunami. lembaga penelitian. 4. 3. visual. Namun penelitian mengenai daerah rawan tsunami dengan menggunakan integrasi pemodelan dan data penginderaan jauh. Penelitian mengenai daerah rawan tsunami yang berbasis penginderaan jauh saat ini sudah banyak dilakukan. . digital. sewaktu. Jawa Tengah. maupun setelah tsunami. Identifikasi daerah yang berpotensi mengalami bencana tsunami dilakukan secara bertahap dengan empat langkah sebagai berikut : 1. saat ini sedang dikembangkan secara aktif oleh para peneliti. Identifikasi jalur lempeng yang berpotensi menyebabkan gempa dan tsunami baik near field ataupun far field. dan multi temporal dapat memberikan informasi mengenai dinamika yang terjadi di daerah pesisir. Mengannalisis aspek historis kejadian gempa yang mempunyai pusat di bawah laut.30 Citra satelit secara global. Simulasi numerik hubungan antara pembangkit tsunami dan tinggi tsunami melalui pemodelan matematika dari hasil analisis gempa dan tsunami sebelumnya. dan perguruan tinggi di dunia. 2. Seperti halnya yang telah dilakukan peneliti dari LAPAN dan BPPT yang telah memodelkan tsunami dengan menggunakan data ALOS PRISM (Nadir-Forward) dan SRTM pada tahun 2007 di Cilacap.

Penelitian ini mulai dilakukan pada bulan Februari 2008 sampai dengan bulan September 2008.109°06’57”BT (Gambar 12). Kabupaten Cilacap yang secara administratif merupakan salah satu kabupaten di Pulau Jawa yang termasuk ke dalam Propinsi Jawa Tengah.31 3. Gambar 12. Peta lokasi penelitian . Lokasi Penelitian terletak antara 07°38’54” LS 07°48’33” LS dan 108°57’22” BT . Proses pengolahan data dilakukan dalam tiga tahap yaitu: pengolahan data Penginderaan Jarak Jauh dilakukan di Laboratorium Komputer Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Jakarta Timur sedangkan pengolahan tsunami modeling dilakukan di Laboratorium balai Pengkajian Dinamika Pantai BPPT Yogyakarta serta survey lapangan.1 Waktu dan lokasi penelitian Lokasi penelitian terletak di Perairan Cilacap. BAHAN DAN METODE 3.

sebagai alat dalam kegiatan survey lapangan 4.2 Alat dan bahan 3. Kamera digital memori 512 MB dan alat perekam suara. dan post-processing model (Interpretasi dan animasi). . Perangkat lunak berupa software-software yang digunakan untuk mengolah data citra ALOS yaitu : • Perangkat lunak pengolah image processing. • • Printer sebagai pencetak data Flash disk 1 GB dan Hard disk external 40 GB sebagai media penyimpan data 2.2.1 Alat Peralatan yang dipakai dalam pelaksanaan penelitian ini terdiri dari : 1. processing model (running model/pacu model). sebagai alat dokumentasi dan wawancara dalam kegiatan survey lapangan. Global Positioning System (GPS). Perangkat keras pengolah citra yaitu : • Berupa seperangkat PC (Personal computer) berbasis Intel dengan sistem operasi Windows yang digunakan untuk mengolah data citra. 3. serta perangkat lunak untuk menyajikan layout citra • perangkat lunak pengolahan pre-processing model (input data sumber/parameter tsunami).32 3. pembuatan DEM dari citra.

2 Bahan Bahan yang diperlukan dalam penelitian ini terdiri dari : 1. . Data Primer Data primer yang digunakan penelitian ini meliputi : Citra satelit ALOS (Advanced Land Observation Satellite). data batimetri GEBCO (General Bathymetric Chart of the Oceans ) serta data topogarfi yang didapatkan saat survey lapangan (data pengukuran DEM LAPAN dan BPPT dan data cek lapangan terhadap data penutupan/penggunaan lahan) . data posisi dan kekuatan gempa USGS.3 Metode penelitian Penelitian ini dilakukan berdasarkan analisis penginderaan jarak jauh dengan metode integrasi data model numerik dengan data citra untuk memperoleh daerah rawan tsunami. 3. pengolahan pemodelan tsunami sebagai input data kerawanan tsunami. Peta Rupa Bumi Indonesia skala 1:25000 serta peta penutupan/penggunaan lahan Kabupten Cilacap skala 1:25000 . dan integrasi citra dengan model. Alur pengolahan penelitian ini meliputi tiga tahapan. yaitu pengolahan penurunan DEM dari citra.2. serta data program pemodelan tsunami Universitas Tohoku serta data lapangan seperti wawancara dan hasil groundchek data tutupan/penggunaan lahan yang mendukung penelitian ini. 2. Data Sekunder Data citra SPOT terkoreksi.33 3.

34

3.3.1 Pengolahan citra awal

Penelitian ini menggunakan data citra ALOS (Advanced Land Observing Satellite) sensor PRISM yang diakuisisi 05 Mei 2007 dan sensor AVNIR pada tanggal 04 Januari 2007 dari LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional). Namun citra yang diperoleh tidah sepenuhnya digunakan dalam analisis, untuk itu perlu dilakukan pemotongan citra (cropping). Pemotongan citra ini bertujuan untuk membatasi daerah sesuai lokasi penelitian. Selanjutnya dilakukan pemulihan citra yaitu koreksi geometrik Koreksi geometrik dilakukan untuk memperbaiki distorsi posisi atau letak objek. Distorsi ini dihasilkan oleh faktor seperti variasi tinggi satelit, ketegakan dan kecepatan satelit (Lillesand and Kiefer, 1990). Setelah koreksi geometrik dilakukan maka didapat citra yang sesuai dengan posisi sebenarnya di bumi.

3.3.2 Penurunan Data Elevation Model

Pengukuran Data Elevation Model (DEM) pada prinsipnya berhubungan dengan sifat stereo yang dipandang sebagai objek. Data ketinggian suatu objek dari satelit bisa didapatkan dengan beberapa metode, yaitu diantaranya: interpolasi, penurunan dari citra stereo, dan Interferometri. Paralak citra menunjukkan perubahan yang tampak pada posisi relatif suatu obyek yang tak bergerak, yang disebabkan oleh perubahan posisi pengamatan. Gambar 13 , melukiskan sifat paralak pada citra stereo satelit ALOS yang bertampalan yang dipotret di atas medan yang beraneka. Perhatikan posisi

35

relatif titik 1 dan 2 yang berubah dengan berpindahnya posisi pengamatan (dalam hal ini titik pengamatan).

Gambar 13. Prinsip pengukuran DEM dengan sifat paralak satelit (Trisakti, 2006)

Teleskop1 akan melakukan merekam bagian puncak dan bagian dasar objek pada waktu yang sama (waktu t1), sedangkan teleskop 2 akan merekam terlebih dahulu pada bagian puncak objek (waktu t2 dan jarak X2 dari posisi rekam sensor 1) kemudian merekam bagian dasar (waktu t3 dan jarak X1 dari posisi rekam sensor 1). Sehingga terjadi perbedaan waktu dan jarak untuk merekam antara bagian puncak dan dasar objek sebesar t3-t2 dan X1-X2. Perbedaan ini akan mengakibatkan terjadinya perbedaan posisi antara puncak dan dasar objek pada citra perekaman arah miring, sedangkan pada citra perekaman

36

tegak lurus, puncak atau dasar objek akan mengacu hanya pada posisi dasar objek. Perbedaan ini disebut perbedaan paralak atau jarak paralak Δp yang besarnya sama dengan jarak perekaman arah miring antara puncak dan dasar objek X1-X2, atau Δp= X1-X2. Sudut arah miring terhadap garis vertikal (atau sudut yang dibentuk antara telescop 1 dan teleskop 2) adalah sebesar α, dimana tan α senilai dengan X1 dibagi ketinggian satelit dari permukaan bumi, atau B/H Selanjutnya ketinggian objek Δh dapat dihitung dengan formula trigonometri sederhana yaitu: tan α = (X1-X2)/Δh. Sehingga persamaannya menjadi sebagai berikut
Δh = (X1-X2)/tan α Δh = Δp/ (B/H) Δh = H*Δp/B (3.1)

(3.2) (3.3)

Data Elevation Model (DEM) yang digunakan pada penelitian ini merupakan data penurunan DEM dari citra ALOS PRISM. Penurunan DEM dapat dilakukan dengan menggunakan kombinasi data yang berbeda, sebagai contoh adalah kombinasi antara Nadir-Forward, Nadir-Backward atau ForwardBackward, atau kalau memungkinkan adalah triplet Nadir-Forward-Backward. Namun yang digunakan pada penelitian ini adalah menggunakan kombinasi Nadir-Backward. Citra stereo ALOS PRISM (Nadir dan Backward) dipilih area kajian penelitian yang sama dan sesuai dengan cropping area sehingga overlap antara keduanya tepat. Setelah penyiapan data, maka proses selanjutnya adalah proses penurunan DEM. Data yang digunakan selain data PRISM juga data hasil

Proses pemasukan input-input parameter yang diperlukan seperti penyesuaian zona 49 UTM (dareah kajian Cilacap) dan parameter sensor (disajikan pada Tabel 6). Data DGPS ini diperoleh dari pengukuran lapangan yang dilakukan oleh Pusat Pengembangan dan Pemanfaatan dan Teknologi Penideraan Jarak Jauh LAPAN. Proses selanjutnya adalah masukan data DGPS hasil pengukuran lapangan sebagai data referensi untuk menyesuaikan posisi topografi dengan ALOS PRISM. distribusi sebaran GCP. Side incidence adalah posisi satelit yang bias bergerak ke kiri atau ke kanan. Ground resolution adalah ukuran sebenarnya di bumi dalam setiap sel di citra. jumlah GCP. yang direkomendasikan minimal 50 titik Sehingga pada penelitian ini menggunakan titik ikat sebanyak 50 buah titik. . Sensor line along axis pada sumbu Y karena paralak terjadi pada sumbu Y (proses masukkan informasi sensor terlihat pada Tabel 6). Data DGPS ini merupakan data GCP (XYZ). Pengambilan GCP pada tiap-tiap sensor disesuaikan dengan data referensi satu-persatu posisi dengan tepat. RMSE dari nilai paralaks dan ketepatan peletakan titik GCP. AIT (Asian Institute of Technology) dan data DGPS BPPT . (XY) untuk koordinat horisontal dan (Z) untuk koordinat vertikal. Semakin banyak titik ikat maka ketelitian semakin baik. Tingkat akurasi GCP referensi yang digunakan. Untuk menambah keakuratan dan mempercepat pembuatan DEM yang dibuat maka diperlukan titik ikat otomatis.37 pengukuran ketinggian topografi menggunakan DGPS (Differential GPS) sebagai referensi. Track incidence adalah sudut yang dibentuk dari Backward-Nadir atau Forward-Nadir.

Informasi Sensor penuruan DEM ALOS Frame Editor Forward Tab Frame Attributes 1.5 m) Diaktifkan. maka penurunan DEM bisa dilakukan Tabel 7.38 Tabel 6.5 0 2.5 y Backward 1939 0 0 0.007 16214 2 2 2 1 1 2 Nilai RMSE yang didapatkan merupakan nilai yang menunjukkan seberapa besar ketelitian DEM yang kita dapatkan.001 Dinonaktifkan Pixels Same weighted values (X.5 Ground resolution (meters) y Sensor line along axis Sensor Information Tab General Focal length (mm) Principal point x0 (mm) Principal point y0 (mm) Pixel size (mm) Sensor columns Tab Model Parameters X Y Z Omega Phi Kappa Forward Nadir Backward 1.57 2.007 16247 2 2 2 1 1 2 1939 0 0 0.5 Side incidence (degrees) 26. Z = 2. Sehingga setelah proses triangulasi selesai. Y. Parameter Triangulasi DEM Tab Parameter General Maximum normal iterations Iterations with relaxation Convergence value (pixels) Compute accuracy for unknowns Image coordinate unit for report Point Type Keterangan / nilai 5 3 0.57 Track incidence (degrees) 2. nilai 3 Advanced Simple gross error check options Use image observations of check point Diaktifkan in triangulation Consider earth curvature in Dinonaktifkan Dinonaktifkan calculation Define topocenter (degrees) .5 –26.007 14650 2 2 2 1 1 2 1939 0 0 0.5 Æ resolusi spasial ALOS Prism = 2. Semaikn kecil nilai RMSE nya maka semakin baik ketelitian Dem yang dihasilkan.5 y Nadir 1.

Metode pansharpan ini bertujuan untuk mendapatkan data citra yang memiliki karakteristik citra yang lebih baik yaitu memiliki resolusi tinggi (2.3. Algoritma metode pansharpan yang digunakan pada penelitian ini adalah algoritma Gramd Smith karena algoritma ini adalah algoritma fusion citra yang paling baik secara visual untuk membedakan objek-objek pada penutupan/penggunaan lahan. 3. Sedangkan karakteristik AVNIR memiliki resolusi lebih rendah dibandingkan PRISM yaitu 10 m dengan multispektral.5 m. Koreksi citra AVNIR terhadap citra yang sudah terkoreksi yaitu dengan menggunakan citra SPOT.3 Pengolahan pansharpan ALOS Citra ALOS yang digunakan pada penelitian ini adalah citra ALOS PRISM dan AVNIR. Klasifikasi yang digunakan pada penelitian ini adalah klasifikasi tak terbimbing (unsupervised classification). kemudian citra PRISM (Nadir) dikoreksi geometrik terhadap citra AVNIR yang sudah terkoreksi sebelumnya. Misalnya dapat membedakan antara tanah dan vegetasi secara lebih jelas dibandingkan dengan algoritma yang lain.39 3. Langkah pertama adalah koreksi geometri kedua citra sehingga ketika proses fusion atau pansharpaning dilakukan akan mendapatkan citra pansharpan yang tepat.3.4 Pengolahan Penutupan Lahan Klasifikasi merupakan proses penglemopokkan nilai reflektansi dari setiap obyek ke dalam kelas-kelas tertentu sehingga mudah dikenali.5 m) dan termasuk multispektral. . Karakteristik PRISM termasuk citra panchromatik yang memiliki resolusi tinggi yaitu 2.

Pemilihan kelas klasifikasi yang dipilih peneliti terdiri dari kelas : pemukiman/bangunan. Pada penelitian ini pemilihan tutupan/penggunaan lahan ditujukan untuk mendapatkan daerah kalsifikasi yang digenangi tsunami dan daerah rawan tsunami. industri. Setelah proses pansharpan dilakukan maka dilakukan proses klasifikasi tak terbimbing (unsupervised classification). Dengan demikian. sawah. Kandungan informasi dapat diperoleh melalui kegiatan klasifikasi dan interpretasi data. air dan lain-lain. luasan dan lokasi berbagai obyek di permukaan bumi.5 m dengan monospketral dan citra AVNIR sebagai citra yang memiliki resolusi spasial 10 m dengan multispektral. Serta informasi penggunaan lahan yang berasal dari digitasi pada peta . pasir. tanam tanaman. mangrove. tambak. Metode Pansharpan ini menggunakan citra PRISM sebagai citra yang memiliki resolusi spasial 2.40 Data citra ALOS yang digunakan untuk mendapatkan citra terklasifikasi berdasarkan tutupan lahanya yaitu menggunakan data citra ALOS AVNIR (Advanced Vicible and Near-Imfrared Radiometer) dan ALOS PRISM ( Nadir). Proses pengolahan awal adalah dengan menggunakan metode Pansharpan. vegetasi lain. melalui pengenalan penggunaan/penutup lahan dapat diketahui sebaran. bentuk. seperti bangunan urban. kebun/perkebunan..ladang. Setelah kedua citra yang memiliki resolusi spasial dan sensor yang berbeda diintegrasikan maka dihasilkan citra baru yang memiliki resolusi spasial yang lebih tinggi dengan disertai sifat multispektral. Banyaknya kelas klasifikasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. interpretasi dibatasi pada pengenalan penggunaan/penutup lahan (land cover) yang didefinisikan sebagai pengenalan tipe kemunculan obyek yang ada di permukaan bumi. lahan terbuka.

. dan tempat peribadatan. jalan. Hal ini cukup mewakili karena model tsunami dalam penelitian ini berjenis ” Near Fields Tsunami” dimana jarak antara pembangkit tsunami dengan pantai cukup dekat. sekolah. Bagan alir metode pansharpan 3. Citra ALOS ALOS PRISM Pankromatik ALOS AVNIR Multi spektral Fusion / Pan sharpening Ortho rectification Klasifikasi Unsupervised Land Use Map/Landcover Gambar 14.4 Pengolahan Pemodelan Tsunami Model tsunami yang digunakan dalam penelitian ini. hanya dibangkitkan oleh pergerakan dasar laut akibat gempa. kurang dari 2000 km. Demikian pula untuk suku gesekan dasar dalam perhitungan ini belum digunakan.41 penutupan/penggunaan lahan yaitu: rumah sakit. Sedangkan persamaan gerak gelombang yang digunakan adalah persamaan gerak gelombang panjang suku-suku linier.

discharge fluks dalam arah x N = ∫ vdz = v (h + η) . Pengaruh gelombang yang diakibatkan angin dan pasang surut tidak diperhitungkan. Hal ini dikarenakan simulasi tsunami hanya memiliki durasi sekitar satu hingga tiga jam. dan gelombang terefleksi secara sempurna.4) C = kecepatan penjalaran gelombang Δt= spatial waktu Δx= spatial grid dalam arah –x . discharge fluks dalam arah y g = percepatan gravitasi bumi h = kedalaman perairan η = elevasi muka air laut Program ini hanya digunakan untuk gelombang tsunami. Sehingga tidak ada aliran yang melewatinya.42 Persamaan di bawah ini adalah persamaan dasar penjalaran gelombang tsunami yang digunakan dalam model ini (Immamura.3) dimana. Paras muka laut diberikan oleh pasang surut saat tersebut dan diasumsikan konstan selama pemodelan tsunami. 2006) ∂η ∂M ∂N + + =0 ∂t ∂x ∂y (3. Δt ≤1 Δx (3. Dengan kondisi stabil jika h jauh lebih besar dari η C Dimana. Syarat batas tertutup dalam model ini menggunakan asumsi garis sebagai dinding. M = ∫ udz = ū (h + η) .

Tahap selanjutnya adalah proses running model atau pacu model. Proses pengolahan awal (pre-processing ) adalah membuat input data sumber atau parameter tsunami dan data dasar. sedangkan domain B. Tahap terakhir dari pengolahan model tsunami pada penelitian ini yaitu tahap interpretasi dan animasi. dan post processing.43 Pengolahan model dilakukan tiga tahapan yaitu : pre-processing. dan domain A merupakan daerah nonkajian yaitu meliputi daerah yang luasannya lebih besar dibandingkan domain D. domain D merupakan daerah kajian penelitian yaitu di cilacap. 3. Sehingga selain daerah kajian.1 Pre-processing Pembuatan data input model berupa data batimetri GEBCO. DEM citra ALOS yang telah dibuat pada tahap pengolahan citra sebelumnya. Gambar 15. maka dibuat tiga domain lainnya. processing. C. Keempat domain yang digunakan menggunakan metode nested grid. . Pada pembuatan input ini daerah domain yang digunakan oleh program terdiri dari empat domain. Lokasi domain model Jumlah input batimetri dan topografi terdiri dari empat buah.4.

0. Agar dapat dibaca pada software yang .0. Kemudian file tersebut disimpan dalam bnetuk ekstensi *hdf untuk kemudian digabung dengan data batimetri. Proses konversi data DEM menjadi data ASCII menggunakan software ENVI 4. Proses pengintegrasian ini dilakukan dengan bantuan perangkat lunak Global Mapper 8. Batas penentuan daerah kajian penelitian disesuaikan dengan batas daerah citra dan DEM yang telah ditentukan sebelumnya sehingga pada saat dilakukan overlay akan tepat.0. Hal ini dilakukan untuk membantu pada tahap pemasukan data batimetri terhadap DEM.3. Proses selanjutnya yaitu penggabungan data dan interpolasi data dengan metode kriging yaitu data topografi. dan GEBCO Centenary edition. Langkah Pembuatan input domain D dilakukan dengan mengintegrasikan data batimetri GEBCO dengan DEM ALOS. Setelah input data SRTM dan GEBCO selesai maka sebelum diintegrasikan dengan DEM ALOS. Data hasil interpolasi dibaca dengan menggunakan software Transform.44 Penentuan domain dilakukan dengan menggunakan software Mapsource sehingga batas penentuan domain lebih mudah dan jelas. Pengolahan dimulai pembuatan topografi dan garis pantai dari data SRTM. dan batimetri pada software Surfer 8. Transform. Surfer 8. maka data DEM tersebut harus dikonversi terlebih dahulu ke dalam bentuk data ASCII sehingga dapat dibaca dan diintegrasikan dengan data batimetri. Proses pembuatan input domain D dimulai dengan membuat terlebih dahulu input data dari SRTM 90. Kemudian pembuatan batimetri dari GEBCO sesuai batas domain D. garis pantai. Sedangkan untuk daerah nonkajian ditentukan dengan syarat luasan domain C < domain B < domain A. Textpad.

Program pemodelan tsunami ini hanya dapat membaca pada ukuran grid 30 x 30. Misalnya pada sel (20. Sehingga dihasilkan input model domain D yang terdiri dari DEM sebagai topografi dan batimeri. Sehingga data DEM perlu dibuat sama ukuran gridnya menjadi ukuran 30 x 30. Proses ini memerlukan penyesuaian ukuran grid antara data DEM dan GEBCO sehingga untuk memudahkan proses penggabungan data. Demikian seterusnya sehingga semua sel yang bernilai nol pada data DEM terisi dengan data batimetri pada GEBCO. Selanjutnya dilakukan pembuatan pembuatan file input domain C.15).0 dan dimulai dengan nomor grid satu.15) artinya pada baris ke-20 dan kolom ke-15 pada DEM memiliki nilai 0 (perairan). Proses pembuatan ketiga input ini dengan menggunakan data . Hal ini disebabkan kemampuan dari media running program yaitu komputer yang ada pada saat ini tidak mampu untuk menjalankan program pada grid yang berukuran lebih kecil dari 30 x 30 sehingga pembuat program menentukan ukuran grid yang berukuran 30 x 30. Proses penggabungan data dengan cara memasukkan data batimetri ke dalam data DEM ALOS pada posisi grid sel yang sama. dan domain A. maka diisi dengan nilai pada data GEBCO pada sel yang sama yaitu (20. Setelah pembuatan input dari data SRTM dan GEBCO selesai maka dilakukan pengintegrasian batimetri dari input SRTM-GEBCO terhadap DEM. nomor grid dirubah dari UTM menjadi ukuran nomor grid satuan dengan interval 1. B.45 sama yaitu Transform maka data ASCII tersebut dibuka dengan Textpad lalu header citra dihilangkan dan disimpan dalam bentuk *txt dan dibuka dengan Transform.

B.0 dengan proses interpolasi kriging dengan space grid sesuai dengan luasan grid domainnya disimpan dalam bnetuk *dat. dan C maka untuk input domain C adalah gabungan antara input domain D dan domain C . Caranya yaitu dengan merubah kembali nomor sel ke dalam bentuk UTM. Proses pembuatan di mulai dengan penentuan daerah domain pada software GEBCO kemudian disimpan dalam bentuk grid data dengan ekstension *asc. File input A. dan C di atas bukan merupakan input model. Hal ini disebabkan selain domain A. B. B. Kemudian ketiga file input diatas dibuka dengan software Transform dan disimpan dalam bentuk *hdf untuk masing-masing domain. Batas-batas penentuan domain sesuai dengan batas yang sudah ditentukan sebelumnya. kemudian pada posisi koordinat UTM domain D pada domain C disi dengan semua data pada file input domain D. . Tetapi pada proses ini hanya menggunakan data GEBCO sebagai data dasar. Sehingga input domain C adalah data topografi dan batimetri dari domain D dan domain C hasilnya dapat dilihat pada Gambar 16 Untuk mendapatkan input domain B dan A dilakukan proses yang sama seperti pada pengolahan domain C. B. B. Kemudian diolah dengan menggunakan software Surfer 8. Untuk membuat input model domain A. dan C ini hampir sama dengan pembuatan input domain D.46 GEBCO (topografi dan kedalaman laut). Sehingga didapatkan file input domain C. dan C ini bukan daerah kajian penelitian juga adanya keterbatasan data ALOS yang digunakan pada pembuatan input model. Pada tahap pembuatan input domain A.

dan grid-a) yang digunakan pada tahap selanjutnya yiatu tahap processing. Pembuatan domain C (gabungan input D dan C) 3.47 dan domain A (grid-c.2 Processing Tahap pacu model (running model) ini adalah proses simulasi model dari input-input yang disiapkan pada proses sebelumnya serta input parameter gempa sehingga dihasilkan sebuah model simulasi tsunami dengan menggunakan software Fortran 9. grid b.0 . Domain D (DEM ALOS) Domain C Batimetri GEBCO Gambar 16.4.

7 Mw pada posisi gempa di titik -10.Yo). Pada tahap ini proses pansharpan disimulasikan berdasarkan tiga kasus yang berbeda. Selain itu parameter waktu tempuh simulasi yang dijalankan model disesuaikan dengan kondisi yang diinginkan peneliti yaitu waktu tempuh tsunami hingga menjalar ke daratan selama 3 jam.48 Parameter gempa yang digunakan pada model ini adalah : kekuatan gempa (Mw) dan posisi gempa (Xo. Sejarah tsunami Indonesia (Gunawan. Data sejarah gempa dasar laut yang menyebabkan tsunami 17 Juli 2006 yaitu terjadi akibat gempa dengan kekuatan gempa 7. Epicentrum gempa dasar laut Gambar 17.28 LS dan 107. 2007) Skenario kedua pada tahapan processing model ini adalah simulasi model pada posisi gempa yang sama dengan kekuatan gempa lebih besar daripada . kekuatan. Simulasi model yang dilakukan pertama adalah pansharpan untuk kejadian tsunami berdasarkan tsunami 17 Juli 2006 dengan parameter gempa (posisi.82 BT (Gambar 17). dan waktu tempuh) yang disesuaikan dengan data sekunder yang didapat dari data USGS.

Bagan alir proses pacu model (running) tsunami modelling . Pada penelitian ini. Proses kinerja program dapat dilihat pada Gambar 18. J MAX INPUT DX . kekuatan gempa 8.9 Mw dipilih sebagai perbandingan pengaruh besarnya kekuatan gempa pada daerah gempa yang sama. Sedangkan untuk skenario ketiga maka dipilih sebagai simulasi model untuk posisi dan kekuatan gempa yang berbeda yang dipilih oleh peneliti. DY INPUT TOTAL SEC OUTPUT (OUT SEC) FILE OUTPUT SEC INPUT BATIMETRI INPUT DEFORMASI CEK AREA KOMPUTASI No WAKTU > TOTAL WAKTU Yes OUTPUT Gambar 18. Untuk simulasi ketiga ini dipilih posisi gempa yang berbeda dengan posisi gempa berdasarkan sejarah terjadinya gempa tetapi masih berada pada daerah subduksi.7 Mw. INPUT I MAX .49 7.

C. Tetapi jika waktu pacu model kurang dari waktu total. maka peyajian peta dan video animasi diolah dengan menggunakan software Xview. Total input model yang digunakan pada program ini terdiri dari empat input dimana input domain D adalah grid kajian pada penelitian ini. Bmp2Avi. maka proses komputasi selesai. Program ini adalah program untuk menampilkan fluktuasi muka air laut dari model yang sudah didapatkan sebelumnya. Untuk menyajikan tinggi fluktuasi muka air laut yang diakibatkan oleh gelombang tsunami maka dapat disajikan dengan bantuan Matlab 6. . maka proses komputasi akan terus dilanjutkan sampai menghasilkan output model yaitu nilai run-up tsunami.3 Post Processing Pada tahap ini hasil simulasi model yang telah didapatkan dari proses sebelumnya berupa luasan genangan (innudation) tsunami di daratan serta tinggi (run-up) tsunami.j) berupa data utama pengolahan model berupa data topografi yang berasal dari penurunan DEM dari citra stereo. dan D).50 Masukan (i. 3. Jika waktu pacu model sudah melebihi total waktu (3 jam). Proses selanjutnya adalah proses komputasi yang menghitung setiap nilai pada tiap sel. Input model memiliki increment dx-dy sesuai ukuran tiap grid (A.4.5 dengan program yang sudah dapat dieksekusi. Kemudian agar pengkajian simulasi dapat diinterpretasikan secara sederhana.B. Batimetri dan topografi (DEM) Cilacap adalah input proses pacu model dengan adanya parameter gempa sehingga menimbulkan deformasi vertikal dasar laut. dan Matlab sebagai sarana penyajian interpretasi model.

banyaknya kelas tinggi tsunami dibagi menjadi 5 kelas dengan selang interval 1 m. 3. Setelah itu pembuatan video animasi menggunakan software Bmp2Avi sehingga menghasilkan video hasil simulasi model dalam bentuk *avi. Pada skenario gempa 8. dimana banyaknya kelas serta interval kelas ditentukan sesuai dengan nilai terendah dan tertinggi dari kelas tersebut dengan menggunakan training area.5 . Perangkat lunak Xview adalah software untuk mengkonversi hasil simulasi dari bentuk *txt menjadi bentuk gambar dengan ekstensi *bmp.View 3. Proses integrasi ini dilakukan dengan mengoverlay hasil genangan (innudation) model dengan tutupan lahan dan penggunaan lahan. Pengkelasan tinggi tsunami.9 Mw dan 8.7 Mw. Proses overlay dilakukan dengan menggunakan software Arc. sedangkan skenario gempa 7. Kemudian proses overlay dilakukan dengan citra atau peta sesuai analisis kajian yaitu daerah mana saja yang terkena tsunami beserta luasannya pada tiga skenario yang berbeda.7 Mw menggunakan selang 0.5 Integrasi Model dan Citra Proses integrasi ini dilakukan untuk mendapatkan informasi daerah yang tergenang tsunami serta ketinggiannya pada daerah kajian yaitu di Cilacap. Dimana daerah genangan maksimum terlebih dahulu diregistrasi terlebih dahulu dengan empat titik sudut GCP pada ujung-ujung model.51 Sedangkan untuk menampilkan video animasi dari hasil simluasi model dengan menggunakan software Bmp2Avi dan Xview. pengkelasan topografi darat pada tiap skenario dengan menggunakan sistem pengkelasan supervised.4.

misal pohon atau semak/rumput.4.sekolah. View 3. Untuk mengetahui luasan limpasan tsunami pada kelas penggunaan lahannya. Penentuan daerah rawan tsunami didasarkan atas luasnya limpasan pada area topografi rendah dengan tipe penggunaan lahan yang paling berbahaya dan dianggap rawan jika terjadi tsunami jika menggenangi kelas tersebut. Hasilnya adalah data tabular dan overlay antara dua kelas tersebut. Proses selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 19.view dan dilakukan analisis hubungan antara dua kelas. lahan terbangun seperti industri. Urutan tipe penggunaan lahan tersebut adalah tipe penggunaan lahan pemukiman.52 kemudian ditamplikan di Arc. area budidaya. serta area tutupan lahan alami. maka dilakukan analisis tabular antara kedua kelas tersebut dengan perintah intersection theme di Arc. dan tempat peribadatan. Kemudan penelitian mengenai daerah rawan tsunami dengan menggunakan metode integrasi penginderaan jauh dan model numerik tsunami juga telah dilakukan oleh peneliti LAPAN bekerja sama dengan peneliti BPPT pada tahun 2007. dan kelas tidak terlalu bahaya jika tsunami menggenanginya. . Pada penelitian ini data ALOS yang digunakan untuk menurunkan DEM adalah ALOS Backward-Nadir. sedang pada penelitian sebelumnya telah dilakukan penurunan DEM ALOS Forward-Nadir dan SRTM oleh peneliti LAPAN.

Citra ALOS AVNIR Citra ALOS PRISM Citra ALOS PRISM Citra ALOS PRISM Data Lapangan Batimetri GEBCO Parameter Gempa Koreksi geometrik Pansharpan Klasifikasi Landcover/ Land Use Penentuan GCP Running DEM DEM Tsunami Inundation Modeling Genangan Maksimum overlay Daerah Prediksi Genangan Daerah Rawan Tsunami Gambar 19. Diaglam alir keseluruhan penelitian 53 .

yaitu: data ketinggian dan data posisi koordinat dari ketingian tersebut di permukaan bumi. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Pengukuran dilakukan pada 18 titik pengamatan oleh LAPAN yaitu menyebar diseluruh wilayah cilacap. daerah perkotaan yang memperlihatkan 3D dari gedung-gedung) Pengukuran ketinggian topografi dilaksanakan pada bulan. Menurut Trisakti (2006) mengatakan bahwa DEM berbeda dengan data yang mempunyai informasi ketinggian lainnya seperti DTM (Digital Terrain Model) dan DSM (Digital Surface Model). DTM merupakan informasi ketinggian dari permukaan bumi tanpa tutupan lahan diatasnya. 1 Digital Elevation Model ( DEM) Penentuan daerah rawan tsunami dengan menggunakan pemodelan numerik dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: faktor topografi. Menurut Trisakti (2006) data digital Elevation Model atau DEM adalah model dijital yang memberikan informasi bentuk permukaan bumi (topografi) dalam bentuk data raster atau bentuk data lainnya. DEM terdiri dari 2 informasi. sedangkan warna putih memperlihatkan daerah topografi tinggi). .Desember 2007 oleh pihak LAPAN dan BPPT di sepanjang Teluk Penyu Cilacap. dan gempa sebagai sumber pembangkit tsunami. sedangkan 15 titik pengamatan dilakukan oleh BPPT di sepanjang pantai Teluk Penyu Cilacap. batimetri . DEM merupakan informasi ketinggian permukaan bumi yang ditampilkan dengan perbedaan warna (warna hitam memperlihatkan daerah topografi rendah.4. sedangkan DSM merupakan informasi tutupan lahan dari permukaan bumi beserta tutupan lahan diatasnya (sebagai contoh.

atau disekitar lapang terbuka. Kebonmanis. Menganti. Tegal Kamulyan. titik pangamatan dilakukan pada titik stasiun yang bersifat konstan seperti persimpangan jalan. Lomanis. Mertasinga. Donan. dan Gunung Simpang. Sedangkan untuk survey BPPT dilakukan pengamatan pada . Sidakaya. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan sampling titik ketinggian topografi yang mewakili seluruh bagian Cilacap. jembatan. Survey LAPAN dilaksanakan menyebar ke seluruh bagian Cilacap.55 Gambar 20. Selain itu. Lokasi pengamatan topografi Teluk Penyu (Cilacap) Pengamatan dilakukan di daerah Sidanegara.

01974 109. Hal ini dimaksudkan untuk mengamati titik ketinggian topografi daerah dekat pantai yang rawan terkena tsunami.01879 109.72562 7.02306 109.54 5.03596 109.99946 109.71599 7.0183 109.475 1.0013 109.852 1.452 2.595 1. Posisi Pengukuran Topografi (Survey LAPAN dan BPPT) (Carolita dan Subarkah.72828 7. 2008) No x 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 7.02259 109.04979 109.71279 7. Tabel 8.02058 109.72077 7.56 daerah sepanjang pantai.74035 7.994 0.7054 7.0194 109.01982 109.70939 7.73666 7.127 3.115 3.426 1.74251 7. Topografi pada stasiun .74095 7.69023 7.961 1.583 1.66188 7.032 0.05072 109.75162 7.9977 108.74245 7.70734 7.04 2.02745 109.0745 109.036 7.04979 109.68669 7.04009 109.69944 7.75193 7.817 3.68887 7.01012 108.64 1.399 7.874 2.02879 109.73447 7.02111 109.145 2.04763 109.03277 109.06954 109.032 Tabel 8 menunjukkan posisi pengukuran dan ketinggian topografi daerah Cilacap yang dilakukan oleh LAPAN dan BPPT.03007 109.519 3.049 3.568 2.74005 7.68834 7.524 2.01214 109.0088 109.69408 7.74646 7.71768 7.836 0.01932 109.418 1.74254 7.71916 7.68 2.01969 109.235 2.684 5.74352 Koordinat y 109.0346 109.74117 7.33 2.504 1.01994 109.69944 7.01946 Tinggi (m) Survey (LAPAN dan BPPT) 4.674 3.079 2.72796 7.70108 7.03894 109.

sedangkan arah depan dan arah belakang merekam dengan swath sebesar 35 Km.5 m dan memiliki kemampuan untuk mengambil obyek yang sama pada permukaan bumi dari 3 posisi yang berbeda. Ketinggian maksimum pada stasiun pengukuran adalah 7.80.69408 LS dan 109. Teleskop pada arah tegak lurus dapat merekam citra dengan swath 70 Km.57 pengukuran dilakukan dengan menggunakan GPS differensial dengan kalibrasi benchmark Cilacap untuk mengukur ketinggian topografi.68834 LS dan 109.2 Pengukuran Ketinggian dari Citra ALOS Panchromatic Remote-sensing Instrumen for Stereo mapping (PRISM) adalah instrument penginderaan jauh pada satelit ALOS dengan sensor pankromatik dengan resolusi spasial 2. backward.0346 BT . Secara visual perbedaan anatara kedua citra dapat dilihat pada Gambar 21.54 m di Desa Tritih Lor pada posisi 7. ini bertujuan untuk menghasilkan data stereo dengan rasio lebar (base)/tinggi (height) . Sudut yang dibentuk teleskop arah depan dan arah belakang terhadap arah tegak lurus adalah 23.0745 BT yaitu di Desa Tegal Kamulyan . Sedangkan topografi terendah adalah 0. Sensor ini mempunyai 3 teleskop untuk merekam citra stereo dari arah depan (Forward). dan forward) terdiri dari 3 cermin dan beberapa detektor CCD untuk melakukan perekaman dengan menggunakan metoda push-broom scanning. Penurunan DEM dari citra membutuhkan citra yang memiliki sifat stereo seperti yang dimiliki PRISM dimana setiap teleskop (nadir . 4.452 m pada posisi 7. arah tegak lurus (Nadir ) dan arah belakang (Backward) searah dengan orbit satelit (along track).

000 atau lebih besar (JAXA. Citra ALOS PRISM Pada penelitian ini dilakukan penurunan DEM dari citra ALOS PRISM dengan metode penurunan DEM mengunakan citra stereo. Gambar 21. Kedua citra hasil crooping mewakili wilayah pantai di selatan Kabupaten Cilacap yang menjadi daerah yang rawan terkena tsunami. . 2006).58 yang mendekati nilai 1. yaitu menggunakan 2 citra yang diperoleh dari sudut pandang yang berbeda yaitu citra PRISM Nadir dan citra PRISM Backward) daerah Cilacap khususnya di Teluk Penyu yang menjadi daerah kajian penelitian. Kombinasi citra stereo tersebut dapat digunakan untuk menghasilkan DEM dengan akurasi yang cukup untuk memetakan permukaan bumi dalam skala 1:25.

Berikut adalah gambar hasil penurunan DEM dari cita stereo ALOS pada Gambar 22. (Lang H. and Welch (1999) in Trisakti et al. yang biasa disebut perbedaan paralak atau jarak paralak Δp yang besarnya sama dengan jarak perekaman arah miring antara puncak dan dasar objek.59 Penurunan DEM dari citra stereo seperti ALOS atau ASTER berdasarkan prinsip waktu dan jarak perekaman sensor yang ada pada satelit. Untuk memperoleh ketinggian objek dapat ditentukan dari perhitungan jarak paralak tersebut. (2006)) Gambar 22 Digital Elevation Model Kabupaten Cilacap 2D Kabupaten Cilacap merupakan dataran rendah dimana daerah timur mempunyai konfigurasi pantai melengkukng ke arah timur laut sampai muara .

Hal ini ditunjukkan secara visual dimana semakin tinggi topografi daratan maka warna yang ditunjukan akan mempunyai gradasi warna yang lebih putih atau cerah. Akurasi dari data ini tergantung dari sumber titik tinggi dan resolusi spasial suatu data DEM. Titik ikat tersebut dapat membantu dalam pembuatan DEM agar proses pembuatan menjadi lebih cepat dan mudah.5 m dibandingkan dengan SRTM resolusi 90 m. Daerah kajian penelitian pada umumnya berwarna gelap sehingga menunjukkan dataran yang rendah. Dan sebaliknya semakin gelap warna pada citra DEM maka semakin rendah topografi. Untuk menambah ketelitian dan mempercepat pembuatan DEM.28 m. Proses pembuatan DEM ini memerlukan nilai triangulasi dan Control Point yang baik. Semakin banyak titik ikat otomatis. Semakin kecil nilai RMS maka semakin tinggi tingkat akurasinya. peneliti menggunakan 50 titik ikat otomatis yang ditambahkan. Pada penelitian ini dapat diketahui topografi Cilacap mempunyai ketinggian maksimum yaitu 65. Semakin tinggi resolusi spasial yang dimiliki . Sedangkan warna cerah pada citra di atas menunjukkan dataran tinggi yang mempunyai topografi yang tinggi yaitu Pulau Nusakambangan. Gambar 23 memperlihatkan bahwa pada posisi yang sama (ditunjukkan dengan transek 6 stasiun) data topografi ALOS memiliki data yang lebih menyerupai topografi sebenarnya dan relief lebih halus dibandingkan dengan DEM SRTM. diperlukan titik ikat (tie point) selain GCP/CP yang telah dimasukkan.60 Sungai Serayu. Hal ini disebabkan tingginya akurasi DEM ALOS yang diturunkan dari citra stereo (PRISM) dengan resolusi 2. maka semakin baik hasil akurasinya. Namun dalam penelitian ini.

61

suatu data DEM, maka semakin tinggi akurasi data yang dihasilkan (Prahasta,2008).

(a)

(b)

Gambar 23. Perbandingan DEM ALOS dan SRTM 90 Terlihat pada Gambar 24 merupakan hasil pengolahan DEM ALOS dan SRTM 90 m dalam bentuk grafik. Secara visual terlihat relief dari DEM ALOS lebih rapat dan halus dibandingkan DEM SRTM 90. Selain itu nilai topografi yang dimiliki DEM ALOS lebih menyerupai keadaan topografi sebenarnya dibandingkan dengan nilai ketinggian SRTM (Tabel 9).

Gambar 24. Grafik perbandingan (a) DEM ALOS dan (b) DEM SRTM

62

Tabel 9. Perbandingan topografi survey lapangan, ALOS dan SRTM
Koordinat No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 x 280733 280538 279538 284636 282726 283699 284894 284997 287068 287615 281599 281608 281494 281690 281747 281959 281907 282586 283022 283373 283827 284894 280384 281556 279351 282439 281600 281563 281570 279168 283215 281627 281441 y 9149830 9143803 9149583 9152592 9146598 9147774 9148439 9148258 9149467 9149679 9142652 9143898 9143931 9144307 9144549 9145235 9145270 9146410 9146953 9147331 9147560 9148439 9145522 9143222 9146054 9146246 9143656 9143659 9143547 9143820 9149024 9142617 9143665 Survey 4.6840 5.0360 7.0790 2.5190 3.6740 3.3990 7.5400 5.3300 2.0400 2.9940 0.8360 0.9610 1.1270 3.0320 0.4520 2.0490 3.8740 2.6800 2.8170 3.8520 1.5240 2.2350 2.1450 2.5950 1.5680 2.4260 1.6400 1.5040 1.4750 1.4180 1.5830 1.1150 3.0320 Tinggi (m) ALOS 4.4499 5.4283 7.6504 2.0814 2.8800 3.1393 7.3244 4.1077 2.0791 2.9818 0.8268 0.9356 1.3118 2.8195 0.6299 2.1650 1.4949 2.2400 1.9759 3.1393 1.4537 2.2923 2.1423 2.8800 1.5691 2.2288 1.7709 1.9614 1.4537 1.8928 1.4812 1.0044 3.0031 SRTM 9.8956 10.6924 7.7269 4.8757 5.9341 4.3814 10.4338 3.8738 4.0000 2.1803 4.8862 6.0000 10.7914 9.9942 4.8532 5.9419 5.9992 6.8785 5.5492 4.3814 5.1872 6.9946 2.0004 8.6893 4.0000 3.8312 3.2041 3.7082 5.1872 4.3730 2.9410 2.8639 2.9175 Bias Ketinggian [Survey-ALOS] 0.2341 0.3923 0.5714 0.4376 0.7940 0.2597 0.2156 1.2223 0.0391 0.0122 0.0092 0.0254 0.1848 0.2125 0.1779 0.1160 2.3791 0.4400 0.8411 0.7127 0.0703 0.0573 0.0027 0.2850 0.0011 0.1972 0.1309 0.4574 0.0213 0.4748 0.1018 0.1106 0.0289 [Survey-SRTM] 5.2116 5.6564 0.6479 2.3567 2.2601 0.9824 2.8938 1.4562 1.9600 0.8137 4.0502 5.0390 9.6644 6.9622 4.4012 3.8929 2.1252 4.1985 2.7322 0.5294 3.6632 4.7596 0.1446 6.0943 2.4320 1.4052 1.5641 2.2042 3.7122 2.9550 1.3580 1.7489 0.1145

Tabel 10. Data statistik perbandingan bias topografi
Topografi Rata-rata Maksimum Minimum ALOS (m) 0.3399 2.3791 0.0011 SRTM (m) 3.0300 9.6644 0.1145

63

Tingkat ketelitian DEM yang berasal dari citra stereo ALOS dapat dilihat pada table 9. Secara keseluruhan data ketinggian yang terukur pada saat survey lapangan hampir sama dengan data ketinggian dari ALOS. Rata-rata ketinggian pada area pengamatan di lapangan mencapai 2.7 m. Nilai ketinggian ini hampir menyerupai dengan rata-rata ketinggian yang berasal dari DEM ALOS yaitu sebesar 2.5 m. Nilai bias ketinggian ALOS lebih kecil (0.3 m) dari pada nilai bias SRTM (3.03 m) terhadap topografi sebenarnya. Hal ini menunjukkan bahwa ketelitian ALOS lebih tinggi karena mendekati nilai topografi sebenarnya.

Berikut adalah tampilan DEM ALOS dalam bentuk 3 dimensi (Gambar 25).

Gambar 25. Digital Elevation Model Cilacap 3D (Teluk Penyu)

Gambar 25 menunjukkan topografi Cilacap berdasarkan tampilan 3 dimensi. Warna kuning muda menunjukkan topografi bernilai nol atau terlihat pada gambar ketinggian nol termasuk perairan. Sedangkan semakin warna

Citra ALOS AVNIR (hasil croping) . satelit buatan Jepang ini juga memiliki instrumen yang dilengkapi kanal multispektral untuk pengamatan permukaan daratan dan wilayah pesisir dengan resolusi spasial yang dapat digunakan untuk tujuan pemetaan dan klasifikasi penutupan/penggunaan lahan skala regional yaitu AVNIR (terlihat pada Gambar 26). Sensor AVNIR ini memiliki resolusi spasial (10 m) yang lebih rendah dibanding resolusi spasial PRISM (2.5 m) tetapi memiliki multispektral. Gambar 26. Terlihat kisaran topografi Cilacap termasuk topografi yang landai berkisar antara 0 m hingga 43 m 4.3 Pansharpan ALOS Selain PRISM.64 cokelat kebiru-biruan.5 m) dan termasuk multispektral yang dapat digunakan untuk pengolahan selanjutnya yaitu pemetaan penutupan atau penggunaan lahan. Pengolahan pansaharpan ini bertujuan untuk mendapatkan data citra yang memiliki karakteristik citra yang lebih baik yaitu memiliki resolusi tinggi (2. maka menunjukkan topografi yang lebih tinggi.

Selain itu penajaman citra dilakukan dengan membuat komposit citra RGB. Komposit dilakukan pada kanal 3.65 Gambar di atas adalah citra AVNIR croping dan zooming dengan kombinasi RGB 321. Sehingga kombinasi tersebut yang paling sesuai untuk penampakan penutupan/ penggunaan lahan.2. ALOS PRISM –Nadir (hasil croping) . dan lahan kering. Gambar 27. dan kanal 1 secara berurutan untuk RGB. terutama untuk obyek perairan. vegetasi darat. Kombinasi RGB 321 tersebut mempunyai tingkat kekontrasan yang baik. Pemotongan dan pembesaran citra dilakukan untuk mengetahui perbandingan tampilan dengan PRISM pada area pemotongan yang sama sehingga dapat terlihat jelas setelah dilakukan proses pansharpan .

5 m dan pankromatik (monospektral). Tetapi meskipun area yang terekam lebih jelas tetapi sifatnya yang monospektral.5 m Gambar 28. Citra ALOS pansharpan (PRISM-AVNIR) Menurut Prahasta (2008) pansharpening adalah penggabungan atau mengkombinasikan (fusi) data (dengan cakupan wilayah yang sama) yang berasal dari berbagai (rekaman) sensor satelit (dan dengan resolusi-resolusi spasial yang . maka setelah dilakukan pansarhpan dengan metode Gram Schmidt Algoritm (terlihat pada Gambar 28) AVNIR 10 m Phansarpan-Multispektral 2. Area yang terekam pada sensor ini bisa memberikan informasi yang lebih detil dibandingkan AVNIR.5 m PRISM 2.66 PRISM nadir hasil pemotongan citra pada Gambar 27 memperlihatkan citra alos yang mempunyai resolusi spasial yang tinggi yaitu 2.

5 m dan multspektral sehingga dapat mempermudah dalam ekstraksi informasi pada pembuatan peta penutupan atau penggunaan lahan. Maka proses editing dilakukan untuk memisahkan kelas-kelas yang tercampur dengan cara editing region tiap kelas. 4. Dalam penelitian ini klasifikasi yang digunakan adalah klasifikasi tak terbimbing (Unsupervised classification) dan digitasi peta penggunaan lahan sebagai informasi tambahan. Hasil klasifikasi secara digital tidak terlalu baik. maka 50 stasiun sesuai dengan hasil lapangan (dapat dilihat pada lampiran) . Kelas penutupan. masih ada kelas-kelas yang tercampur. Dari 53 stasiun pengamatan. Hasil penggabungan dua citra yang memiliki resolusi spasial yang berbeda ini adalah citra lebih jelas dengan resolusi 2.penggunaan lahan hasil ekstraksi dari pansharpan ALOS menghasilkan kelas-kelas penutupan/penggunaan lahan akurasi yang tinggi. Hal ini telah dibuktikan oleh peneliti langsung dengan survey lapangan.67 berbeda) yang mengkombinasikan citra digital pankromatik (band tunggal yang beresolusi spasial lebih tinggi) dengan citra digital multi-spektral (beberapa band berwarna tetapi memiliki resolusi spasial lebih rendah).4 Peta Penutupan/Penggunaan Lahan (Land Use) Klasifikasi merupakan suatu proses pengelompokkan nilai reflektansi dari setiap objek ke dalam kelas-kelas tertentu sehingga mudah dikenali.

68 Gambar 29. Kelas penutupan/penggunaan lahan yang dapat diekstrak dari citra ALOS pada penelitian ini terdiri dari 16 jenis/kelas penggunaan lahan: pemukiman dan bangunan. industri. ladang. semak/rumput. sawah. Penutupan/penggunaan lahan Kabupaten Cilacap Menurut Purbowaseso (1995) satu faktor penting untuk menentukan kesuksesan pemetaan penggunaan lahan dan pentutpan lahan terletak pada pemilihan skema klasifikasi yang tepat dirancang untuk satu tujuan dimaksud. vegetasi . tambak. Pada penelitian ini pembuatan peta penutupan lahan/penggunaan lahan dimaksudkan untuk mengklasifikasi area penutupan/penggunaan lahan di Kabupaten Cilacap yang rawan terhadap tsunami. lahan terbuka.

mangorve. sekolah. Tujuan metode ini adalah untuk memunculkan kelas-kelas yang tidak bisa dibedakan dengan kelas yang berdekatan nilai pantulannya. Sedangkan informasi tambahan hasil digitasi dari peta rupa bumi Bakosurtanal skala 1:25000 adalah jalan. Sistem pengkalsifikasian yang digunakan penelitian ini adalah sistem klasifikasi lahan dan penutupan lahan USGS (United State Geological Survey) tingkat I dengan menggunakan data penginderaan jauh. rumah sakit. seperti kelas vegetasi lain (pohon-pohon disekitar area pemukiman. serta kelas rumput dan semak akan sulit dibedakan dengan vegetasi lain). Pembuatan peta penutupan/penggunaan lahan pada penelitian ini dibuat berdasarkan metode pansaharpan dari citra ALOS AVNIR (resolusi spasial 10 m) dan PRISM (2. kategorisasi memungkinkan penggunaan lahan ditafsir dari tipe penutup lahannya. Hal ini sesuai dengan kriteria yang diberikan USGS (Purbawoseso. .5 m) sehingga pengkelasan yang dihasilkan lebih memberikan informasi kelas-kelas penggunaan lahan yang lebih banyak dibandingkan jika hanya mengggunakan sensor AVNIR saja. dan tempat peribadatan. hasil yang dapat diulang dapat diperoleh dari penafsir yang satu ke yang lain dan dari satu saat penginderaan ke saat yang lain (dalam hal ini sudah ada penelitian mengenai penutupan/penggunaan lahan di Kabupaten Cilacap ini dan hasilnya adalah kurang lebih sama ). dan sungai/perairan.69 lain. sistem klasifikasi dapat diterapkan untuk daerah yang luas yaitu area kabupaten. 1995) yaitu : level kecermatan interpretasi minimum dengan menggunakan penginderaan jauh tidak kurang dari 85 persen. Hal ini membantu dalam pengkelasan penutupan/penggunaan lahan untuk area rawan tsunami. pasir.

Hal ini penting untuk mempermudah proses komputasi. pemodelan tsunami adalah input utama yang akan memberikan informasi secara spasial mengenai daerah yang rawan yang akan terkena tsunami berdasarkan area genangan/limpasan tsunami.1 Area Simulasi dan Batimetri Area genangan yang disimulasikan adalah daerah domain D atau area kajian saja yaitu di sekitar Pantai Teluk Penyu. Perhitungan komputasi dimulai dari domain tersempit (D) hingga terluas (Grid A). Berikut adalah area topografi dan area batimetri sebagai input model (Gambar 30). topografi daratan yang merupakan hasil penurunan DEM dari ALOS.70 4. Faktor-faktor yang berperan dalam pemodelan tsunami ini adalah karakter dasar laut yang ditunjukkan dengan batimetri. dan area C tidak dilakukan simulasi genangan karena tidak termasuk area kajian penelitian. serta faktor pembangkit gelombang tsunami yaitu gempa dasar laut yang berpotensi menghasilkan deformasi dasar laut dan berpotensi menimbulkan tsunami. Sedangkan Area A. 5 Tsunami Modeling Pemodelan tsunami saat ini sedang dikembangkan secara aktif oleh para peneliti untuk dapat memprediksi tinggi awal gelombang tsunami akibat deformasi dasar laut dan perhitungan run-up gelombang pantai.5. Oleh sebab itu pada penelitian ini. Pembuatan domain model berdasarkan metode nested area. . Kabupaten Cilacap. 4. B.

Area (Domain) Topografi dan Area Batimetri Posisi No 1 Grid A1 A2 A3 A4 B1 B2 B3 B4 C1 C2 C3 C4 D1 D2 D3 D4 Geografi 11.71 Gambar 30.58116 7.01973 113.98 7.11585 Batimetri adalah ukuran keadaan profil laut yang berhubungan dengan tinggi rendahnya dasar laut (Dishidros.584 7.13 105.98298 7.95545 109.2007).16 108.44879 8.33543 108.455 7.55 7.71316 109.47 6.55195 8. Karakter dasar laut yang berubah .80926 105.711 109.337 108.64853 7.47446 11. Grid area batimetri dan topografi (Tsunami Modeling Program) Tabel 11.708 108.64926 7.95622 109.70452 108.56 6.02 UTM 502181 8722100 735569 502181 735569 204531 357428 204531 357428 247677 316533 247677 316533 274542 292237 274542 292237 9284347 9284347 8722100 9053868 9175743 9175743 9053868 9117213 9161340 9161340 9117213 9136325 9154022 9154022 9136325 2 3 4 113.316 109.80851 7.11656 108.32319 109.55715 7.

Data batimetri yang digunakan pada penelitian ini adalah data batimetri GEBCO (General Bathymetric Chart of the Oceans ) yang berasal dari bank data berupa Digital Atlas GDA Software Interface. Data batimetri yang tersimpan pada software GDA Software Interface ini. kecepatan semaking berkurang karena gesekan dengan dasar laut yang semakin dangkal. mencangkup data-data yang terekam oleh GEBCO dalam selang 1 menit per satu grid dengan luasan 1.72 pada setiap kedalamannya mempengaruhi penjalaran tsunami. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Diposaptono (2006) mengenai gelombang di tempat dangkal bahwa tsunami merupakan gelombang perairan dangkal yang dipengaruhi oleh perbandingan antara kedalaman laut dan panjang gelombang yang lebih kecil dari seperduapuluh (1/20). Gambar 31.85 km. Pengaruh penjalaran tsunami dari tengah laut (pusat terbentuknya tsunami) menuju pantai. Peta batimetri (GRID-A) Pulau Jawa .

Area grid A terletak pada posisi 6. Profil kedalaman dasar laut selatan di Pulau Jawa ini termasuk laut dalam dan curam karena memiliki profil yang khas dimana setelah beberapa meter dari pantai maka ketinggian kedalaman semakin meningkat sehingga laut selatan ini termasuk laut dalam (Gambar 32).02113. dan C adalah area yang lebih kecil dari area A. C. Domain D adalah area penelitian yaitu di Kabupaten Cilacap khususnya di Teluk Penyu Cilacap. Dimana domain A adalah area terluas yang disimulasikan oleh model. Kedalaman laut tertinggi pada area simulasi adalah 7500 m.13 Bujur Timur dengan interval kedalaman 500 m.56 Lintang Selatan dan 105. Kalsifikasi perairan Indonesia (Sumber : TNI AL. dan Jawa Timur. Sedangkan Domain B. Gambar 32.73 Dalam pemodelan tsunami ini. tsunami modeling program memerlukan area simulasi yang terdiri dari empat grid atau domain yang disimulasikan yaitu domain D. B. Domain A dalam model ini meliputi daerah Pulau Jawa. khususnya Propinsi Jawa Barat. 2005) .46 -11. dan domain A berbentuk nested grid . Jawa Tengah.

74 Hal ini ditetapkan oleh TNI AL pada Laporannya yang berjudul Rencana Pembangunan Jangka Panjang TNI AL (2005).11 Bujur Timur.95-109. Peta batimetri (GRID-D) Kab. Gambar 33. sedangkan warna hijau menunjukkan laut dalam (deep water) tetapi di luar laut terbuka (non open sea).80 Lintang Selatan dan 108.64 -7. Terlihat pada Gambar bahwa semakin mendekati pantai maka kontur semakin dangkal dan hampir homogen area sepanjang Pantai Teluk Penyu yaitu pada kedalaman < 6 m yang ditunjukkan dengan warna kontur . Cilacap Input batimetri domain D adalah area kajian tsunami inundation yang menjadi wilayah domain topografi daratan Cilacap (DEM ALOS) yang telah dibuat sebelumnya yaitu terletak pada posisi 7. warna biru menunjukkan laut dalam (deep water) dan merupakan laut terbuka (open sea). Warna merah menunjukkan laut dangkal (shallow water) terdiri dari Dangkalan Sunda di Barat dan Dangkalan Sahul di Timur.

75

yang semakin biru muda. Kedalaman laut maksimum adalah sebesar 55 m. Jika merujuk Gambar 31 maka area grid D ini adalah termasuk laut dangkal (berwarna merah).
4.5.2 Sumber Gempa

Pemodelan tsunami secara spasial pada penelitian ini dilakukan berdasarkan tiga skenario yang berbeda. Model pertama adalah simulasi model berdasarkan sejarah tsunami yang telah terjadi yaitu kejadian tsunami tsunami 17 Juli 2006 dengan parameter gempa (posisi, kekuatan, dan waktu tempuh) yang disesuaikan dengan data sekunder yang didapat dari data USGS. Data sejarah gempa dasar laut yang menyebabkan tsunami 17 Juli 2006 yaitu terjadi akibat gempa dengan kekuatan gempa 7.7 SM pada posisi gempa di titik -10.28 LS dan 107.82 BT dengan kedalaman pusat gempa 20.4 km. Sedangkan model yang kedua adalah model tsunami skenario yang ditentukan berdasarkan analisis dan prediksi peneliti sendiri yaitu model tsunami pada posisi epicenter gempa yang sama yaitu di titik -10.28 LS dan 107.82 BT dengan kedalaman pusat gempa yang sama pula yaitu 20.4 km. Tetapi dengan kekuatan gempa 8.9 SM (sesuai tsuanami Aceh 2004). Dan model ketiga adalah model skenario prediksi tsunami yaitu dengan kekuatan gempa 8.7 SM dan posisi gempa yang pernah terjadi pada tahun 2008 yaitu tepatnya pada 8.49 LS dan 108.78 BT. Tabel 12. Parameter gempa NO Gempa Xo 1 Skenario 1 -10.28 2 Skenario 2 -10.28 -9.195 3 Skenario 3

Yo 107.82 107.82 109.59

M 7.7 8.9 8.7

D 2.28 9.09 7.22

L 78.82 314 249

W 39 157 125

76

Menurut Budiman dan Diposaptono (2005) parameter sesar yang dihasilkan gempa seperti panjang dan lebar sesar, energi atau magnitude, kedalaman pusat gempa, slip dan mekanisme fokus (strike, dip, dan sudut slip) adalah parameter-parameter yang utama dari sumber gempa. Namun parameter sesar yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari komponen posisi gempa (Xo, Yo), kekuatan gempa (SM), dislokasi gempa (derajat), panjang (L) dan lebar (W) patahan yang diakibatkan gempa.

pusat gempa

pusat gempa
(a)

(b)

pusat gempa
(c)

Gambar 34. Posisi epicenter dan kekuatan gempa (a) 7.7 SM (b) 8.9 SM (c) 8.7 SM

77

Ketiga pusat gempa di atas adalah gempa-gempa yang pernah terjadi di area pantai selatan Pulau Jawa. Berdasarkan data USGS pusat gempa yang pernah terjadi pada tahun 17 Juli 2006 berada pada jarak 220 km dari arah utara Pulau Christmas, 245 km dari arah barat Tasikmalaya, 265 km dari arah selatan Bandung, dan 355 km dari arah Utara Jakarta. Sedangkan pada skenario gempa ketiga berdasarkan gempa yang terjadi pada tahun 2008 yang jaraknya lebih dekat dengan Cilacap yaitu sekitar 165 km. Skenario ketiga dipilih untuk melihat pengaruh dari parameter jarak dan kekuatan gempa pada posisi yang lebih dekat dengan daerah kajian. Gempa dengan kekuatan 7.7 SM menghasilkan gempa yang mempunyai panjang patahan 78.82 km, lebar patahan 39 km, dan sudut dislokasi sebesar 2.28 derajat. Gempa dengan kekuatan 8.9 SM menghasilkan panjang patahan sebesar 314 km, lebar patahan 157 km, dan sudut dislokasi sebesar 9.09 derajat. Gempa berkekuatan 8.7 SM menghasilkan panjang dan lebar patahan sebesar 249 km dan 125 km dengan besar dislokasi 7.22 derajat. Pembangkitan tsunami dipengaruhi oleh besarnya kekuatan gempa dengan ditunjukkan perbedaan hasil lebar dan panjang patahan serta sudut dislokasi akibat patahannya.

4.5.3 Area Genangan Tsunami (Inundation Area of Tsunami)

Gelombang Tsunami awal akibat gempa bumi, akan menjalar keseluruh arah. Akibat adanya perbedaan kontur kedalaman, maka akan terjadi pembelokan arah dan tinggi gelombang tsunami. Di bawah ini disajikan tiga skenario pembangkitan gelombang tsunami pada dua waktu tempuh simulasi yaitu 1 jam dan 2 jam setelah pembangkitan.

terlihat pada Gambar (a) sudah terlihat adanya area yang terkena tsunami namun masih dalam skala yang tidak terlalu luas akibat Tsunami.7 SM (a) setelah 1 jam (b) 2 jam Gempa di dasar laut dengan kekuatan energi magnitude 7. Kebumen .78 (meter) (a) (meter) (b) Gambar 35.7 SM menghasilkan tsunami di beberapa daerah diantaranya : Pangandaran . penjalaran tsunami belum sampai ke daerah Cilacap. Berdasarkan data BMG (2008). Penjalaran tsunami pada setelah dua jam waktu simulasi. maka tsunami mulai terasa dampaknya di daerah Cilacap dengan kondisi perairan belum terdapat fluktuasi gelombang yang signifikan dengan perairan disekitarnya. dampak yang ditimbulkan tsunami di sekitar pesisir Cilacap meskipun tidak sebesar dampaknya di daerah lain seperti Pangandaran. area . Yogyakarta. Pada satu jam pertama waktu simulasi. dan hingga terasa di daerah Cilacap (daerah kajian penelitian). Penjalaran tsunami 7.

pada penelitian ini peneliti menggunakan waktu simulasi 3 jam (10800 detik) dengan asumsi waktu 3 jam tersebut adalah waktu tempuh dimana tsunami sudah terasa pengaruhnya di Pantai Cilacap. Energi magnitude dan posisi sesar yang disimulasikan sudah disesuaikan dengan kondisi pada waktu tsunami 17 Juli 2006.9 SM (a) setelah 1 jam (b) 2 jam . Penjalaran tsunami 8. Pemilihan skenario penjalaran tsunami ini didasarkan Tsunami yang terjadi di Pangandaran pada tanggal 17 Juli 2006. (meter) (a) (meter) (b) Gambar 36.79 genangan tsunami pada tanggal 17 Juli 2006 di daerah Cilacap mencapai 300 m di daerah karang Tirta dan Ngantik Kisik. tetapi waktu yang digunakan untuk mengsimulasikan belum ada data historis yang pasti mengenai waktu awal pembangkitan sampai air surut kembali.

9 SM adalah kekuatan gempa yang pernah terjadi di Indonesia yang menjadi peristiwa yang paling dahsyat sekaligus mengerikan bagi seluruh masyarakat Indonesia. pengaruh tsunami di area Cilacap sudah sangat terasa dampaknya. Simulasi dengan kekuatan 8. (meter) (a) (meter) (b) Gambar 37. Penjalaran tsunami 8. Sedangkan pada jam ke-2 waktu simulasi. pada gempa 8.7 SM (a) setelah 1 jam (b) 2 jam .9 SM pun masih belum terasa di area pesisir pada jam ke-1 (3600 detik pertama). baik itu tinggi maupun luasan limpasan air akibat tsunami.7 SM.80 Seperti halnya simulasi skenario tsunami dengan kekuatan gempa 7. Namun kondisi perairan sudah terdapat fluktuasi gelombang yang diakibatkan oleh tsunami dengan kisaran tinggi gelombang lebih besar (terlihat secara visual warna merah muda) dibanding yang dihasilkan gempa dengan kekuatan 7.7 SM pada waktu tempuh yang sama.

81 Skenario ketiga adalah tsunami yang disebabkan oleh kekuatan gempa sebesar 8. Area penjalaran tsunami lebih cepat dibandingkan dengan yang lainnya.7 SM dibandingkan skenario simulasi tsunami kedua yaitu sebesar 8. Skenario ini bertujuan untuk melihat pengaruh jarak epicenter dan kekuatan gempa terhadap area yang lebih dekat dengan area kajian penelitian yaitu di Teuk Penyu. Pada waktu tempuh 1 jam pertama waktu simulasi. dampak tsunami sudah langsung terasa di pesisir Cilacap. Hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa faktor yang mempengaruhi tinggi atau rendahnya tsunami yang dihasilkan tergantung dari faktor jarak dari sumberr gempa dan kekuatan gempa yang membangkitkan tsunami. (a) (b) . namun pengaruh jarak pusat gempa terhadap daerah Cilacap adalah sangat besar. jika dibandingkan dengan dua skenario sebelumnya.9 SM.7 SM pada posisi epicenter yang lebih jauh lebih dekat dengan area pantai di Cilacap tetapi masih pada area dekat zona subduksi dasar laut. Cilacap Jawa Tengah. Walaupun kekuatan gempa lebih kecil yaitu 8.

1-0.7 SM Simulasi model dengan tiga skenario yang berbeda memperlihatkan area maksimum genangan atau limpasan tsunami yang berbeda pula.4)x 1023erg.9 SM (c) 8.82 (c) Gambar 38. maka pengaruh lainnya yang sangat berpengaruh terhadap area genangan atau limpasan akibat tsunami yaitu topografi (DEM ALOS) wilayah disekitar pantai yang menentukan kelandaian pantai dan seberapa jauh tsunami menghempas ke daratan serta .6 x 1023 erg. energi yang ditimbulkan lebih dari 1. Menurut Iida (1963) in Diposaptono dan Budiman (2005) menyebutkan hubungan linier antara kekuatan gempa yang ditunjukkan dengan skala Iida. Dimana. Sedangkan gempa yang berkekuatan 8-9 SM bisa menghasilkan skala lebih dari 3 artinya. Maksimum run-up tsunami (a) 7. Selain dari pengaruh kekuatan gempa dan posisi gempa.7 SM (b) 8. gempa dengan kekuatan 7 SR dapat menghasilkan skala tsunami 1-2 dengan energi tsunami yang dihasilkan (0.

5 m .6 Ketinggian tsunami (Run-up Tsunami) Naik atau turunnya permukaan air laut akibat tsunami mengikuti teori elastic body (benda elastis).6” LS dan 109°05’30. Semakin dangkal maka air laut terdorong naik karena adanya konversi kecepatan yang berkurang menjadi ketinggian gelombang tsunami. Apabila sudah mendekati tepi pantai. Ibarat bola karet. sehingga permukaan laut di dekat pantai naik secara mendadak (Diposaptono dan Budiman. Apabila dasar laut terjadi tonjolan naik.7” BT dan kedalaman 1. maka permukaan air meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa fluktuasi muka air laut yang diakibatkan tsunami bersifat transien dan kontinu. 2005). . Dari dasar laut sampai permukaan laut pergerakan orbit air bolak-balik dengan kecepatan yang hampir sama. Pengaruh kedalaman laut terhadap penjalaran tsunami didasarkan pada teori tsunami sebagai gelombang dangkal. 4. maka pada bagian lain akan mengembang. Hal ini bertujuan untuk mengetahui penjalaran tsunami di dua titik lokasi yang berlainan. Di bawah ini disajikan grafik tinggi fluktuasi muka air laut yang diakibatkan tsunami di dua titik pengamatan yaitu -7°46’36. orbit bundaran tidak tutup lagi karena dampak gesekan dasar laut yang berubah seiring dengan berkurangnya kedalaman laut.5” LS dan 109° 05’31.83 batimetri (GEBCO) sebagai faktor yang berpengaruh di dalam penjalaran tsunami di laut (pusat gempa) hingga pantai.3” BT sebagai titik pengamatan kesatu yang letaknya dekat dengan sumber gempa pada kedalaman 18 m. Posisi pengamatan kedua yaitu lokasi yang dekat dengan pesisir/daratan di Desa Karang Kandri pada posisi -7°41’28. apabila ditekan satu bagian.

7 SM (Posisi -7:46: 36. Nilai negatif pada grafik menujukkan tinggi gelombang dibawah nilai -0. Gambar 40.58 m pada waktu ke-7620 detik (menit ke-127 menit).84 Gambar 39. Run-up tsunami 7.001 m).5 LS 109: 05:31.8) m.3300 detik (menit ke-55) dengan ketinggian tsunami mencapai 1.001 (MSL) yaitu berkisar antara (0-0. Tinggi tsunami di titik pengamatan berkisar antara (0-1.6 dan 109:05:30. Tsunami mulai terlihat tinggi kembali hingga 0. Pada grafik terlihat bahwa tsunami mulai terlihat tinggi di posisi dekat sumber gempa pada waktu kurang lebih ke. Run-up tsunami 7.08 meter.3 BT) Pada Gambar 39 menunjukkan hubungan antara tinggi gelombang dengan waktu tempuh simulasi model tsunami.4 m (dibawah MSL -0.2) m dari MSL (mean Sea Level) dari titik acuan. Kemudian beberapa menit kemudian menurun dengan ketinggian kurang dari 0.7 BT) .7 SM (Posisi -7:41: 28.

Hal ini menunjukkan bahwa penjalaran tsunami pada posisi pertama sudah lebih terjadi dibandingkan pada posisi pengamatan kedua karena titik pengamatan pertama lebih dekat sumber gempa dibandingkan dengan titik pengamatan kedua yang lebih dekat dengan pesisir.85 Gambar 40. Pada grafik dapat diketahui bahwa tinggi tsunami tertinggi mencapai 1. Waktu tempuh yang berbeda dengan simulasi model disebabkan oleh perbedaan jarak sumber gempa yang dipakai oleh simulasi BMG dengan pada penelitian ini yang menggunakan posisi . tsunami baru terasa dampaknya pada menit ke-25 (Gambar ). menunjukkan hubungan antara tinggi tsunami (run-up) dengan waktu tempuh simulasi pada titik pengamatan yang letaknya lebih mendekati daratan (dekat Desa Karang Kandri) atau lebih jauh dari pusat sumber gempa. 2008) Berdasarkan pengolahan tsunami Pangandaran oleh BMG. Gambar 41.49 m di atas MSL (-0. Penjalaran Tsunami berdasarkan Waktu Tempuh (Arrival time) (BMG.01 m) pada detik ke-2160 (menit ke-41).

Run-up Tsunami 8. Tinggi gelombang yang dihasilkan mencapai 3.15 m).49 m pada menit ke-54. kondisi perairan masih terlihat tenang. Namun perubahan muka air laut mulai terlihat pada menit ke-34 dimulai terjadinya penurunan muka air laut hingga 0. .6 dan 109:05:30. Gambar 42.47 m di bawah MSL (0.9 SM (Posisi -7:46: 36.86 sumber gempa USGS sehingga arrival time yang dibutuhkan tsunami masuk ke daratan juga berbeda. tetapi 2 menit sebelumnya terjadi penurunan fluktuasi muka air laut hingga 2.25 m di bawah MSL.3 BT) Sebelum terjadi perubahan muka air laut di titik ini.

menunjukkan grafik hubungan tinggi tsunami dengan waktu tempuh pembangkitan tsunami. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa skenario model tsunami untuk kekuatan gempa 8.9 SM (Posisi -7:41: 28.49 m) pada detik ke-10440 (menit ke-174).7 BT) Gambar 42 .9 SM jauh lebih besar dibandingkan tsunami yang dihasilkan gempa berkekuatan 7. Hal ini ditunjukkan tinggi tsunami tertinggi mencapai 4. Run-up Tsunami 8. Tingginya tsunami pada titik pengamatan ini sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa tsunami akan mengalami perubahan tinggi dan kecepatan di perairan dangkal (pantai) yang disebabkan kehilangan energi akibat berkurangya kecepatan sehingga energi tersebut ditransfer ke dalam bentuk pembesaran tinggi gelombang.9 SM dimaksudkan untuk prediksi tsunami jika pada masa yang akan datang terjadi kembali tsunami pada posisi sumber gempa yang sama dengan kekeuatan gempa yang jauh lebih besar dibandingkan dengan tsunami 17 Juli 2006.7 SM. .87 Gambar 43. 2005).5 LS 109: 05:31. Akibatnya panjang gelombang di laut dangkal memendek dan menimbulkan gelombang yang lebih tinggi (Diposaptono dan Budiman.36 m diatas MSL (0. Dari grafik dapat diketahui bahwa tinggi tsunami yang dihasilkan gempa berkekuatan 8.

3 BT) Tsunami yang diakibatkan oleh gempa dasar laut dengan kekuatan 8.06 m) setelah 5 menit kemudian.7 SM (Posisi -7:46: 36.4 m dibawah MSL (-0.7 SM (Posisi -7:41: 28.9 m.59 m pada menit ke-36 dan turun hingga 1.88 Gambar 44. Run-up Tsunami 8.5 LS 109: 05:31. . Hal ini disebabkan adanya pendangkalan dasar laut sehingga terjadi peningkatan tinggi gelombang akibat perubahan energi kecepatan menjadi tinggi gelombang.7 BT) Terlihat tinggi air maksimum pada tsunami dengan kekuatan gempa 8. Setelah beberapa detik kemudian maka air mulai turun hingga di bawah MSL (0. Gambar 45.1 m. Namun di titik ini.7 SM mulai terlihat di posisi pengamatan kesatu yaitu pada waktu menit ke-47 dengan ketinggian tsunami mencapai 2. Run-up Tsunami 8. Setelah mencapai titik kedua maka air mengalami kenaikan yang sangat besar disbanding di titik pengamatan yang pertama.29 m pada menit ke-115.7 SM mencapai 5.25 m) dengan ketinggian 1.6 dan 109:05:30. air mengalami tinggi maksimum pada menit ke-131 yaitu setinggi 2.

Tinggi tsunami yang terukur pada model adalah tinggi tsunami yang di atas topografi bukan dari MSL. (2-4 m). (6-8 m). Peneliti membagi lima kelas topografi yaitu : (0-2 m). dan (8-10) m. (4-6 m). 4. Pemilihan kelas-kelas topografi didasarkan atas nilai ketinggian terendah lebih besar dari 0 m dan tertinggi lebih kecil dari 10 m.1 Limpasan Tsunami dan Citra DEM ALOS (PRISM) Kelas-kelas topografi dihasilkan dengan menggunakan metode klasifikasi terbimbing (supervised classification).7 Integrasi (Overlay) Data Penginderaan Jauh dengan Model Tsunami Penentuan daerah rawan tsunami di kabupaten Cilacap berdasarkan metode pemodelan tsunami (area limpasan tsunami) didasarkan pada kondisi topografi daratan di sekitar pesisir dan penutupan/penggunaan lahannya.7.89 4. .

90 Gambar 46.5) m yaitu sebesar 58. Luasan limpasan tsunami (7.55 0 2. Hasil survey lapangan menunjukkan bahwa hampir 90% area terkena tsunami sama dengan model yang dihasilkan (Lampiran 3).7 SM .92 8.7 SM) pada kelas topografi (ha) Kelas Ketinggian Topografi (m) 0-2 2-4 4-6 6-8 8-10 Kelas Ketinggian Tsunami (m) 0-0.5-1 1-1. Dan tabel 10.29 0 0 1.42 2.89 2. menunjukkan area luas limpasan tsunami pada kelas topogarfi yang dihasilkan gempa yang berkekuatan 7. .5 58.55 6. Landainya topografi daratan mempengaruhi seberapa luas masuknya tsunami ke daratan.26 0 0 0 0 Gambar 46 memperlihatkan luasan tsunami pada kelas-kelas topografi Cilacap yang digunakan pada penelitian ini.53 0. Luasan limpasan tsunami tertinggi berada pada kelas topografi (0-2) m dengan kelas tinggi tsunami (0-0. DEM dan Limpasan Tsunami 7.924 ha.5 0.7 SM Tabel 13.

39 24.60 1.28 0 Kelas Ketinggian Tsunami (m) 1-2 85. tsunami menggenangi hingga 110.479 ha.9 SM menunjukkan area limpasan yang lebih besar dibanding dengan tsunami yang dihasilkan gempa berkekuatan 7.9 SM) pada kelas Topografi (ha) Kelas Ketinggian Topografi (m) 0-1 0-2 2-4 4-6 6-8 8-10 218. .94 1.17 13.20 32.74 53.04 0. Hal ini menunjukkan daerah yang memiliki topografi yang relatif rendah lebih berpotensi untuk digenangi tsunami lebih luas dibandingkan daerah yang memiliki topografi lebih tinggi.88 2.93 3.21 Tabel 14 menunjukkan kelas ketinggian topografi yang paling rendah (02) m adalah kelas yang paling banyak terkena tsunami yaitu sebesar 218. Dibanding dengan topografi yang lebih tinggi dari 2 m.86 0 4-5 11.17 ha.85 2.48 163.7 W. Tabel 14.24 0 3-4 110.86 1.69 1.04 1. Bahkan pada kelas tinggi tsunami 3-4 m. DEM dan Limpasan Tsunami 8.66 0 2-3 70.91 Gambar 47.9 SM Hasil overlay DEM dan limpasan tsunami menunjukkan bahwa pengaruh topogarfi terhadap luasan limpasan tsunami dapat dilihat pada Gambar 47. Topografi rendah memberikan limpasan tsunami dengan mudah hingga mencapai ratusan meter.64 7.04 1. LuasanLimpasan Tsunami (8. Tsunami yang dihasilkan gempa berkekuatan 8. Pada tiap kelas ketinggian tsunami menunjukkan bahwa ketinggian (0-2) m adalah wilayah yang lebih banyak terkena tsunami.

62 3.41 4-5 0 0.50 46.06 2.92 Gambar 48.79 137.67 5.20 0 0 0 .04 0.78 5.7 SM) pada kelas topografi (ha) Kelas Ketinggian Topografi (m) 0-2 2-4 4-6 6-8 8-10 Kelas Ketinggian Tsunami (m) 1-2 2-3 3-4 245.04 5.46 33.87 3. Tabel 15.04 0.83 4.54 192. bahwa area terluas limpasan berada pada kelas topografi (0-2) m dengan tinggi tsunami (1-2) m yaitu sebesar 245.7 SM Prediksi tsunami yang dibangkitkan oleh gempa yang berkekuatan 8. Terlihat pada Tabel.498 ha.43 1. DEM dan limpasan tsunami 8.83 29.99 98. Luasan limpasan tsunami (8.81 0 0 0-1 141.7 SM menunjukkan area limpasan area tsunami yang jauh lebih besar.

2 Limpasan Tsunami pada Penutupan/penggunaan Lahan Selain faktor topografi yang landai. Hal ini penting untuk penentuan prediksi daerah rawan tsunami berdasarkan limpasaan tsunami yang menghempas tipe penggunaan lahan tertentu. Gambar 49. Area yang bisa dikategorikan rawan tsunami yaitu berdasarkan penggunaan lahannya bagi kepentingan masyarakat yang menempati wilayah tersebut.93 4. Peta penutupan/penggunaan lahan yang dihasilkan dari citra ALOS memberikan informasi penutupan/penggunaan lahan yang lebih akurat.7. Area limpasan tsunami 7.7 SM pada penggunaan/penutupan lahan di Kabupaten Cilacap . maka penentuan daerah rawan tsunami didasarkan pada penutupan/penggunaan lahannya.

5 0 0 2.76 4.7 SM menghempas area yang tidak terlalu jauh ke daratan dan hanya menggenangi kelas dekat pesisir yaitu pada kelas tambak sebesar 27.91 3.77 0-0.75 1. dan budidaya seperti sawah.08 27. dan ladang dan kelas terakhir adalah kelas penutupan lahan yang tidak terlalu rawan jika dibandingkan dengan kelas pemukiman atau budidaya. Kelas pemukiman terbesar yang terkena tsunami 7.5 m.7 SM adalah 6.293 ha .63 1.02 4. Sedangkan kelas kedua adalah kelas-kelas penggunaan untuk kepentingan masyarakat dalam hal penggunaan untuk industri. Kelas pemukiman menjadi kelas pertama dalam penentuan area rawan tsunami.53 12. Hal ini deisebabkan tsunami dengan kekuatan gemap 7.22 4.53 11. fasilitas umum seperti jalan dan lapangan (lahan terbuka).63 ha dengan tinggi tsunami 0-0.04 2.57 0. Hal ini disebabkan area pemukiman merupakan lahan yang paling penting dan akan menjadi rawan tsunami apabila area tersebut terkena tsunami.04 3.94 Tabel 16. Luasan Area Limpasan Tsunami dan pada Tipe Penggunaan Lahan (ha) Kelas Landuse Pemukiman Industri Jalan Lahan Terbuka Tambak Sawah Pasir Vegetasi Lain Kelas Skala Tsunami (m) 0.08 25. tambak.26 0.77 0.26 Tabel 16 menunjukkan hubungan kelas penggunaan/penutupan lahan yang terkena tsunami dengan kelas skala tinggi tsunaminya.5-1 6.5 1-1.32 0.51 0. Sedangkan kelas penutupan/penggunaan lahan yang terkena tsunami yang paling besar adalah kelas tambak.34 0.77 1.29 7.

Terlihat pada peta di atas. daerah limpasan tsunami lebih besar dibandingkan dengan tsunami 7.7 SM dan merusak beberapa penutupan/penggunaan lahan yang lebih besar (Tabel 17) . Area limpasan tsunami 8.9 SM. memperlihatkan area genangan tsunami yang dihasilkan gempa berkekuatan 8.9 SM pada penggunaan/penutupan lahan di Kabupaten Cilacap Gambar 50.95 Gambar 50.

96 Tabel 17 .62 5. Hal ini menunjukkan bahwa kelas kebun/perkebunan di Kabupaten Cilacap berada di area topografi yang tinggi sehingga kecil kemungkinan akan tergenang tsunami.23 8.46 2.22 19.37 32.92 ha dengan ketinggian tsunami.87 91.63 ha pada kelas ketinggian tsunami 0-1 m .81 0.65 0. Kelas pemukiman yang terkena tsunami sebesar 132.50 51.62 17.42 30.49 11.62 16.21 0 0 0 0 Kelas penutupan/penggunaan lahan yang terkena tsunami jauh lebih banyak dan besar dibanding tsunami yang dihasilkan gempa yang lebih kecil.54 17.98 ha dengan tinggi tsunami 0-1 m.07 1.84 4.44 66.48 15.63 4-5 3.47 26.08 159. Kebun atau perkebunan menempati kelas yang paling sedikit tergenang tsunami.60 51.86 4.00 316.10 71.76 2. Luas area tergenang tsunami pada kelas kebun hanya mencapai 0. Kelas penutupan/penggunaan lahan terbesar yang terkena genangan tsunami 8.21 0 0.12 41.65 0.37 4.08 20.85 23.92 57.63 0.11 11.75 3.45 17.48 0.9 SM ini adalah jalan yaitu sebesar 316.42 0 0 4.21 0 0 0 0 0 0-1 132.86 5.98 22.51 49.38 1.02 23.88 22.62 0 2. Kelas penggunaan lahan tambahan yang terkena limpasan tsunami adalah sekolah dan tempat peribadatan. Luasan Area Limpasan Tsunami dan pada Tipe Penggunaan Lahan (ha) Kelas Landuse Pemukiman Industri Sekolah Tempat Ibadah Jalan Lahan Terbuka Tambak Sawah Pasir Vegetasi lain Ladang Rumput/Semak Kebun/Perkebunan Kelas Skala Tsunami (m) 1-2 2-3 3-4 34.23 0 2.21 2.14 2.

Area limpasan tsunami 8.97 Gambar 51. Hal ini disebabkan meskipun kekuatan gempa yang membangkitkan tsunami lebih kecil dari skenario sebelumnya. . namun dampak yang ditimbulkan lebih besar karena pengaruh jarak dari pusat gempa lebih dekat dibandingkan dengan skenario sebelumnya.7 SM pada penggunaan/penutupan lahan di Kabupaten Cilacap Skenario ketiga memperlihatkan area genangan tsunami jauh lebih merusak tipe penutupan/penggunaan lahan yang berada di Kabupaten Cilacap.

38 17.03 18.54 1.52 0.91 203.82 4-5 0 0 0 0 0 0 0.29 ha dengan tinggi tsunami 0-1 m.41 2. Luasan Area Limpasan Tsunami dan pada Tipe Penggunaan Lahan (ha) Kelas Landuse Pemukiman Industri Sekolah Rumah Sakit Tempat Ibadah Jalan Lahan Terbuka Tambak Sawah Pasir Vegetasi lain Ladang Rumput/Semak Kebun/Perkebunan Kelas Skala Tsunami (m) 1-2 2-3 3-4 66.46 24.65 16.31 38.751 ha pada ketinggian tsunami yang sama.51 31 6. Ini menunjukkan bahwa pada tsunami yang berkekuatan 8.14 0 0-1 163.27 0.42 0 0 0 Area pemukiman yang terkena tsunami sebesar 1630.14 0 0 0.71 0.87 7.59 55.61 1.70 39.99 0 0 58.14 2.61 2. sedangakan kelas penggunaan lahan sawah menjadi area yang paling besar terkena tsunami yaitu sebesar 203.98 Tabel 18.13 124 45.05 49.23 17.99 54.62 23. Pada skenario ketiga memperlihatkan kondisi limpasan tsunami yang lebih luas dan lebih banyak merusak tipe penutupan/penggunaan lahan.34 14.68 3.13 19.67 11.52 122.65 16.95 11.38 0 0 0 0 0 0.14 1.75 0.14 0 0 0. .42 0.46 1.89 14.7 SM adalah kondisi atau skenario paling buruk karean telah merusak area penutupan/penggunaan lahan yang lebih besar.06 3.14 0. Hal ini terlihat pada Tabel 15. adanya kelas tambahan yang terkena tsunami yaitu rumah sakit yang pada kedua skenario sebelumnya kelas tersebut belum terkena tsunami.14 0 0.70 0.

176 49. Area limpasan tsunami 7. khususnya pada wilayah yang rawan tsunami sperti di Cilacap.686 12.562 1-1.750 4.5 0.310 0.373 0.562 3. Area Limpasan tsunami pada Desa (ha) Nama Desa Menganti Karang kandri Slarang Cilacap Selatan Tegal Kamulyan Mertasinga Kelas Skala Tsunami (m) 0-0. Wilayah yang terkena tsunami mengindikasikan wilayah tersebut rawan tsunami.185 0.122 0 0 0.5 18.7.187 0.742 1. Kabupaten Cilacap Tsunami sangat merugikan manusia.7 SM di Kabupaten Cilacap Tabel 19. Gambar 52 . Selain karena topografinya termasuk dataran rendah juga karena letaknya yang langsung berhadapan dengan zona patahan di Samudera Hindia.5-1 1.750 7.5-2 0 0 0 0 0.124 0.870 4.750 1.99 4.280 3.3 Limpasan Tsunami di Desa.187 0 .

7 SM di Kabupaten Cilacap . Gambar 53. Hal ini disebabkan selain letaknya dekat pantai. Hal ini disebabkan desa atau kecamatan tersebut memiliki topografi yang lebih tinggi serta terlindung dari tsunami oleh Pulau Nusa Kambangan yang topografinya tinggi. Desa yang terkena tsunami paling kecil adalah Kecamatan Cilacap Selatan yaitu seluas 0.96 m dari garis pantai di desa Karang Kandri.100 Tsunami yang dihasilkan gempa tektonik pada tanggal 17 Juli 2006 telah merusak beberapa wilayah di kabupaten Cilacap.5 m di atas topografi tersebut dan jarak terjauh limpasan tsunami hingga 355. Dalam penelitian ini area tergenang tsunami menacapai 49. Run-up tsunami 7. Desa Karang Kandri juga memiliki topografi yang lebih rendah dibandingkan daerah lainnya sehingga tsunami masuk lebih luas di desa tersebut.280 ha di Karang Kandri dengan tinggi tsunami 0-0.75 ha.

3 m dari atas topografi desa tersebut.66 m dengan jarak terjauh hingga 1000 m. Tsunami masih terasa hingga Sidakaya. Namun pada dasarnya model yang dihasilkan pada penelitian ini memiliki akurasi yang baik. Namun jika dibandingkan data BMG (2006) hasil Survey Tsunami Jepang-Korea-Indonesia tinggi tsunami 17 Juli 2006 mencapai 5 meter di Lengkong (tidak termasuk area kajian penelitian) dengan jarak terjauh inundation dari garis pantai sepanjang 400 m. Sedangkan pada pengamatan survey lapangan.7 SM melanda beberapa wilayah di Cilacap. Selain itu adanya arrival time yang dihasilkan model hanya didasarkan atas waktu pacu model selama 3 jam.101 Informasi ketinggian tsunami (run-up) yang dibangkitkan gempa dengan kekuatan 7. Pada model penelitian ini tinggi run-up tsunami dihitung berdasarkan tinggi tsunami dari topografi di titik tersebut. ketinggian tsunami mencapai 4. namun ketinggian tsunami di desa tersebut tidak terlalu besar hanya 0. Di wilayah Adipala (tidak termasuk area kajian penelitian). Hal ini disebabkan tidak adanya data history tsunami dari mulai pembangkitan hingga run down tsunami yang akurat yang dimiliki pemerintah. Tinggi tsunami tertinggi terletak di Desa Slarang setinggi 1. pengukuran run-up tsunami dihitung dari MSL. Maka hasilnya model Tohoku University memiliki akurasi mencapai +1 (100%) (Gunawan. Perbedaan pengukuran run-up dan inundation tsunami hasil survey lapangan dan hasil model disebabkan oleh perbedaan titik pengamatan dan pengukuran. 2007) . Hal ini telah dibuktikan dengan pengukuran data tide gauge oleh peneliti BMG lalu dibandingkan dengan hasil model.27 m.

48 m dari garis pantai di desa Tegal Kamulyan hingga Desa Salarang. Area yang tergenang tsunami berdasarkan pembagian desa di Kabupaten Cilacap dapat dilihat pada tabel 20.9 SM di Kabupaten Cilacap Kekuatan gempa 8. Limpasan tsunami hingga mencapai jarak 599. Tingkat kerusakan tsunami berdasarkan klasifikasi tinggi tsunami. Area limpasan tsunami 8. . Pengukuran jarak limpasan tsunami dengan mengukur tegak lurus dari garis pantai mencapai limpasan tsunami terjauh.102 Gambar 54.9 SM mengakibatkan kerusakan yang besar pada penggunaan lahan manusia seperti pemukiman (Gambar 54).

88 65.83 54.40 0.56 54.57 0 4.09 12.68 3. Sama halnya di Tegal Kamulyan.60 1.11 0 1.40 0 6. Menganti. Gunung Simpang.70 0 3.34 2-3 1.50 15. Hal ini tentu lebih besar dibandingkan tsunami dengan gempa 7. Slarang.69 0 5. Gumilir. Kalisabuk.39 25.51 9.47 5. Area Limpasan tsunami pada Desa (ha) Kelas Skala Tsunami (m) Nama Desa Desa Baru Sidanegara Tambakreja Menganti Karang Kandri Slarang Kalisabuk Buton Sidakaya Cilacap Tegal Kamulyan Gumilir Mertasinga Kebon Manis Gunung Simpang 0-1 39.7 SM.91 92.68 0 0 4.103 Tabel 20. Desa Karang kandri juga termasuk area terkena limpasan tsunami yang tidak kecil yaitu sebesar 108.02 0 0 27.58 1-2 34.513 ha dengan ketinggian tsunami 0-1 m.05 26. Kebon Manis.58 13.70 3.68 11.09 13.02 51.57 7. Sidanegara. Karangkandri. Mertasinga. Maka prediksi wilayah yang tergenang tsunami jauh lebih luas meliputi : Desa Baru.41 0 0 3-4 1. Tegal Kamulyan.56 6.63 0.02 0 0 12.75 0 0 4-5 0 0 0 3.61 0 0. .36 32.11 76.581 ha pada ketinggian tsunami 3-4 m.05 0 0 0 0 0 0 0 Kerusakan yang diakibatkan pada skenario ini lebih meluas hingga 15 desa/kecamatan di Kabupaten Cilacap. Cilacap.97 142.27 1. Buton.63 41.39 1.45 71.70 22.47 1.34 23.15 108.41 0 0. Tambakreja. Desa Tegal Kamulyan adalah desa paling banyak terkena limpasan tsunami hingga 142.02 19. Sidakaya.

7 SM). Pada umumnya tsunami yang dihasilkan lebih dari 1 m berada di desa/kecamatan Karang Kandri dan Slarang dengan tinggi maksimum berada di Slarang.7 SM. tinggi tsunami dengan kekuatan gempa 8. Namun seperti halnya skenario gempa satu (7. Jika dibandingkan dengan tinggi tsunami dengan skenario gempa 7. maka keduanya memiliki pusat area yang paling rawan terkena tsunami yaitu Desa Slarang dan Karang Kandri. Run-up tsunami 8.9 SM menghasilkan tinggi tsunami yang lebih tinggi dan menyebar diseluruh pesisir Cilacap.104 Gambar 55.9 SM di Kabupaten Cilacap Gambar 55 mennjukkan tinggi tsunami pada skenario gempa 8.9 SM menghasilkan interval tinggi tsunami 1. .5 – 3.75 m di beberapa titik pengamatan.

7 SM dan 8.7 SM menghasilkan area genangan tsunami yang jauh lebih besar dibandingkan dua skenario gempa sebelumnya yaitu 7.7 SM di Kabupaten Cilacap Dampak tsunami 8. . Area Limpasan Tsunami 8.105 Gambar 56.7 SM ini dapat dilihat pada tabel 21. Informasi luasan limpasan tsunami yang dibangkitkan gempa berkekuatan 8. Pada gempa 8.9 SM ini area limpasan mencapai 843.92 m dari garis pantai yang berada hingga Desa Slarang (Gambar 56). Secara visual area tergenang tsunami terlihat paling luas hingga lebih dari 800 m berada di area yang jauh dari Pulau Nusakambangan. Hal ini menyebabkan Desa yang tidak terlindung Pulau Nusakambangan mendapat limpsan tsunami yang lebih luas.9 SM.

96 4. Sehingga tingkat kerusakan yang dihasilkan lebih besar dibandingkan tsunami dengan kekuatan gempa 8.29 114.18 21.22 20.02 36. Hal ini terlihat pada area limpasan yang tergenang tsunami lebih jauh mencapai daratan dibandingkan dua skenario sebelumnya.88 0 7.12 4-5 0 0 0 0 0 0 0.9 SM (Skala Magnitude). Area Limpasan tsunami pada Desa (ha) Nama Desa Sidanegara Tambakreja Menganti Karang Kandri Sidakaya Cilacap Tegal Kamulyan Gumilir Mertasinga Kebon Manis Gunung Simpang Slarang Kalisabuk Buton Kelas Skala Tsunami (m) 0-1 44.89 3.61 0 0.43 0 8.24 0 0 0 0 1. Meskipun kekuatan gempa juga mempengaruhi tetapi faktor jarak terhadap sumber gempa pada penelitian ini lebih berpengaruh.89 102. Skenario gempa 8.21 5.41 1.83 0 2.00 9.65 30.24 0 0.29 1. Faktor jarak sumber gempa terhadap daratan sangat mempengaruhi besarnya tsunami yang dihasilkan.85 40.89 Luas area genangan tsunami terbesar terletak di Desa Slarang hingga mencapai 134.89 6.94 27.72 0 0 2.07 3-4 0 0 15.7 SM (Skala Magnitude) menghasilkan tsunami yang lebih besar.32 1.106 Tabel 21.35 21.92 m dari garis pantai.27 58.613 ha dengan ketinggian tsunami 0-1 m.19 0 2.23 134.25 17.939 ha pada ketinggian tsunami yang sama yaitu 0-1 m dengan jarak terjauh limpasan mencapai 843.44 1-2 5.08 90.37 2-3 0 0 28. Sedangkan wilayah Tegal Kamulyan menempati urutan kedua daerah rawan tsunami dengan prediksi luasan tsunami hingga 120.89 26.59 13.06 22.63 70.32 8. .83 37.61 2.54 120.01 14.34 0 1.32 39.92 0 1.

107

Gambar 57. Run-up tsunami 8.7 SM di Kabupaten Cilacap Tinggi tsunami pada skenario ketiga yaitu tsunami yang dihasilkan gempa 8.7 SM memiliki run-up yang menyebar dan tinggi tsunami yang lebih tinggi dibanding dengan kedua skenario sebelumnya. Seperti yang terlihat pada Gambar 57, tinggi tsunami menyebar diseluruh pesisir dengan ketinggian 0.5-3.75 m. Run-up tsunami paling tinggi berada di desa Karang Kandri yaitu sekitar 3.7 m dari topografi titik pengamatan.

4.8 Penentuan Daerah Rawan Tsunami Kabupaten Cilacap

Penentuan daerah rawan tsunami pada penelitian ini didasarkan pada prediksi area tergenang tsunami dengan menggunakan tiga model skenario gempa. Daerah tergenang tsunami pada kekuatan gempa dasar laut 7.7 SM, 8.7 SM dan

108

8.9 SM menunjukkan area pesisir merupakan daerah rawan tergenang tsunami. Namun dalam penentuan daerah rawan tsunami, faktor kelas penggunaan lahan ikut mempengaruhi. Sehingga suatu daerah bisa dikatakan rawan jika daerah tersebut memiliki kriteria jenis penutupan/penggunaan lahan yang paling penting.

Gambar 58 . Luasan area kelas penutupan/penggunaan lahan pada tiap Desa di Kab. Cilacap

Gambar 59 . Luasan area kelas topografi pada tiap Desa di Kab. Cilacap

109

Gambar ( 58 dan 59) menunjukkan luasan jenis-jenis penggunaan lahan tiap desa dan luasan area tiap desa berdasarkan kelas topografinya. Tsunami akan mudah menghempas pada daerah yang memiliki topografi yang rendah. Hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan terjal dan landainya morfologi pantai akan mempengaruhi jangkauan tsunami yang menghempasnya. Pada pantai yang terjal, tsunami tidak akan terlalu jauh mencapai daratan karena sebagian tsunami tersebut akan tertahan dan dipantulkan kembali oleh tebing pantai, sedangkan pada pantai yang landai seperti pantai Cilacap ini, tsunami dapat menerjang sampai beberapa kilometer masuk ke daratan. Desa Tegal kamulyan adalah desa yang memiliki topografi yang rendah (0-2) m yang paling luas dibandingkan dengan desa lainnya yaitu sebesar 158 ha. Sedangkan Desa Karang kandri adalah desa yang memiliki luas topografi lebih dari 8 m paling luas yaitu sebesar 19.665 m. Namun desa ini juga memiliki topografi yang rendah yang cukup luas yaitu sebesar 126.648 ha.

Gambar 60. Tingkat kerusakan jenis penutupan/penggunaan lahan oleh limpasan tsunami 7.7 SM

513 ha pada kelas tinggi tsunami 0-1 m. Tingkat kerusakan penggunaan lahan tipe pemukiman dan bangunan sebesar 132.648 ha. Gambar 61. Namun jika dibandingkan desa pesisir lain yang tergenang tsunami.220 ha. maka desa yang bisa dikatakan rawan tsunami adalah desa Tegal Kamulyan karena wilayah ini merupakan daerah yang padat area pemukiman (Gambar 61) dengan topografi 0-2 m yang lebih luas yaitu 158.110 Tsunami dengan kekuatan gempa dasar laut 7.7 SM menggenangi daerah Karang Kandri paling luas mencapai 49. Tingkat kerusakan jenis penutupan/penggunaan lahan oleh limpasan tsunami 8.982 ha dan luasan topografi 0-2 m sebesar 158.9 SM Sedangkan pada skenario gempa kedua menunjukkan Desa Tegal Kamulyan adalah desa rawan tsunami dengan luasan limpasan tertinggi sebesar 142. Data ini menujukkan bahwa desa ini termasuk daerah rawan .220 ha dibandingkan Karang Kandri.28 ha dengan luas topografi 0-2 m sebesar 126.

982 ha.7 SM lebih tinggi dibanding dua skenario sebelumnya.9 SM pada posisi epicenter dibanding desa lain yang tergenang tsunami.7 SM menjukkan bahwa desa Tegal Kamulyan adalah desa yang paling rawan dibandingkan desa-desa lainnya yang tergenang tsunami di Kabupaten Cilacap. Hal ini terlihat jelas dari Gambar .9 SM yang hanya merusak kelas pemukiman sebesar 132. Gambar 62. Hal ini disebabkan desa ini merupakan area pesisir yang memiliki tipe penggunaan lahan padat pemukiman dan bangunan dibanding dengan desa lainnya yang terkena limpasan tsunami juga.7 SM Tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh tsunami berkekuatan gempa 8. Nilai ini lebih besar disbanding tsunami dengan kekuatan 8.111 tsunami jika pada terjadi gempa dengan kekuatan 8. misalnya tingkat kerusakan penggunaan lahan jenis pemukiman mencapai 163.029 ha. Tingkat kerusakan jenis penutupan/penggunaan lahan oleh limpasan tsunami 8. . Area rawan tsunami daerah pesisir Cilacap pada skenario gempa 8.

92 m dari garis pantai di Desa Tegal Kamulyan pada tiap skenario.9 Mw. Jarak terjauh limpasan mencapai 355. 599. 8. dan 120.7 Mw.112 5.7 Mw menggenangi beberapa desa pesisir di Kabupten Cilacap. topografi dan faktor kedalaman laut pada penelitian ini mempunyai pengaruh terhadap besarnya area limpasan tsunami di daerah peisisir pantai Cilacap.48 m dan 843.serta jarak sumber gempa). Semakin besar kekuatan gempa maka tingkat kerusakan tsunami semakin tinggi.9 Mw serta 8.7 Mw. Hal ini disebabkan landainya topografi dan tipe penggunaan lahan yang padat pemukiman dibandingkan dengan desa lain yang terkena limpasan tsunami.87 ha pada skala gempa 7.513 ha pada skala gempa 8. Parameter gempa (kekuatan.914 ha pada skala gempa 8. . Begitu pula metode pansharpan AVNIR dan PRISM pada penelitian ini mempengaruhi banyaknya informasi pengkelasan landuse sehingga tingkat ketelitian data penutupan/penggunaan lahan semakin akurat. KESIMPULAN DAN SARAN 5. Desa Tegal Kamulyan adalah Desa rawan tsunami dengan tingkat kerusakan yang paling besar yaitu 7.96 m.1 Kesimpulan DEM hasil penurunan dari citra ALOS memiliki ketelitian yang lebih detil dengan relief menyerupai topografi sesungguhnya. Tiga skenario gempa yang dapat menghasilkan tsunami yaitu 7. 142.7 Mw. Jarak sumber gempa mempengaruhi limpasan tsunami yang semakin luas di daerah pesesisir Cilacap.

sehingga dapat diketahui perbandingan tingkat akurasi dari model DEM yang dihasilkan. lebar sesar dan kekuatan gempa yang lebih bervariasi sehingga dapat membedakan pengaruh dari tiap parameter gempa tersebut. maka disarankan untuk penelitian selanjutnya menggunakan algoritma yang lain sehingga dapat diketahui tingkat akurasi tiap algoritma penggabungan citra. Selain itu penggunaan parameter-parameter gempa selain: posisi epicenter. dip. panjang sesar.2 Saran Penelitian selanjutnya disarankan membandingkan model dengan menggunakan DEM interferometri.113 5. Pada penelitian ini metode pansharpan yang digunakan adalah metode algoritma Gram Schmidt. .

Dalam : Prosiding Penerapan Hasil Riset untuk Penanggulangan Bencana Tsunami di Indonesia. Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA). Tsunami. Pusat Pengembangan Pemanfaatan dan Teknologi Penginderaan Jauh Deputi Bidang Penginderaan Jauh. S. Jakarta. IndonesiaIntegrating numerical model with remote sensing and GIS. 2006.id (24 Mei 2008) BAPPEDA (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) Cilacap. BMG : Jakarta Gunawan. Carolita. Bambang. A. Cilacap Dalam Angka 2005. 2003. Kebutuhan Riset Tsunami untuk Mendukung Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu di Indonesia. ER Mapper 6. Bogor Ermapper. Institut Teknologi Bandung. Skripsi (Tidak Dipublikasikan). Y. Agency for the Assessment & Application of Technology. . R. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Program Studi Ilmu Kelautan. Pengantar Oseanografi. S dan Budiman. 1988. Evans. Permasalahan dan Dinamika Pantai pada Daerah Wisata Pantai Baron dan Krakal Yogyakarta . 2007. 2007. Tsunami hazard assessment of Cilacap.114 DAFTAR PUSTAKA Abietto. Indonesia (BPPT). 2005. Institut Pertanian Bogor. 2004. Skripsi (Tidak Dipublikasikan). dan A. BPPT.0 : Helping People Manage the Earth. Tsunami Propagation and Inundation Modeling Using ComMit Interface. 2005. Bandung BAKOSURTANAL. 1990. Subarkah. 1997.co. Model Numerik Penjalaran Gelombang Tsunami Biak Tahun 1996. Cilacap. M. I dan Fachrizal. GIC Asia Institute of Technology Diposaptono. Indonesia National Aeronautics and Space Institute (LAPAN). dan Idriawan. 2006. Hlm: 207-233 Diposaptono. Bogor Hutabarat. Buku Ilmiah Populer. M. Program Studi Geofisika dan Metereologi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. BMG : Jakarta Hajar. I. Survey Tsunami Pantai Selatan Jawa : Pangandaran-Cilacao-Kebumen-Yogyakarta. LAPAN Gunawan. I. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kajian Sateli Masa Depan – ALOS. Earth Resource Mapping Pty Ld Ginting. BAPPEDA. S dan S. 2005. Pemetaan Tingkat Kerawanan Bencana Tsunami Menggunakan Data Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG) Studi kasus : Kota Padang. http:// ugm.

1995. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra.wikipedia. Surface Deformation due to Shear and Tensor Fault in Falf-space. PT Iinformatika. 2007.1990. B. Penginderaan jauh terapan.. California Imammura. Bull.115 Iingmason. http:// google. 75.com/earthquake havard (12 Juni 2008) Wikipedia. Tsunami Modelling Manual. Yogyakarta. L.. Remote Sensing. Disaster Control Research Center.J. Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Gajah Mada University Press. http://usgs. Bandung Purbowaseso. dan W. 2006. Digital Elevation Model Menggunakan Citra Stereo Satelit Optis dan Potensi Pemanfaatanya. E. Penginderaan Jauh.Yogyakarta. B. Gajah Mada University Press.Ame. 1998. Centre for Estuarine and Marine Ecology. 2005. 1971.2007. Teknik Pantai. TNI-AL. Kiefer.org/wiki/Kabupaten_Cilacap (10 Februari 2008) .M dan F. 1973. Oceanography an Introduction. Earth Observation Research Center Japan Aerospace Exploration Agency. Pusat Pengembangan Pemanfaatan dan Teknologi Penginderaan Jauh. Japan LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional).. Pages 11351154. dan P. Dulbahri. Harvard Moment Tensor Solution. 2006. Yogyakarta. D. Jepang JAXA. Berita Inderaja. 2008. Deputi Bidang Penginderaan Jauh. Ecological modelling lecture notes. K. 2008. Lillesand. Kabupaten Cilacap http://id. Soc. Rencana Pembangunan Jangka Panjang TNI-AL. E. Universitas Indonesia-Press : Jakata Soetaert. And D. ALOS User handbook. Prahasta. Seism. Herman. T. Tohoku University.E. B.W. Wadsworth Publishing Company. Mansinha. Trisakti. LAPAN: Jakarta USGS. vii+252 h. Netherlands Institut of Ecology Sutanto.co.Wallace. Jilid I. Gadjah Mada University Press. 2006.id/batimetri indonesia (24 Mei 2008) Triatmodjo. Diterjemahkan oleh R. 1999. Smylie. Vol. 2001.

Institut Sepuluh November. Surabaya . Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV. Studi Perubahan Tutupan Lahan dengan Citra Landsat Menggunakan Geographic Resources Analyis Support System ( GRASS). Program Studi Teknik Geodesi. 2005.116 Winardi. W dan A. Cahyono.

L A M P I R AN .

lahan : Masjid Prediksi 8. Survey Lapangan Gambar 63.5" LS : 109o 00' 39.7-8.9 SM : Tidak terkena . Masjid Alun-alun Tsunami 2006 : 01 : 07o 43' 40. Posisi stasiun survey lapangan penelitian 2. Foto-foto kegiatan survey lapangan No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 1.117 1.3" BT : 05:46 WIB : 19 m : Tidak terkena Jenis pengg.

3" BT : 06:50 WIB : 25 m : Tidak terkena Jenis pengg.0" LS : 109o 01' 09. lahan : Sekolah Prediksi 8.9 SM : Tidak terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 3. SMP 8 Cilacap Tsunami 2006 : 03 : 07o 44' 51. Tugu Tsunami 2006 : 02 : 07o 43' 59. lahan : Industri Prediksi 8.7-8.3" LS : 109o 01' 17.9 SM : Tidak terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 4.7-8. lahan : Bangunan Prediksi 8.3" LS : 109o 00' 55.1" BT : 05:57 WIB : 16 m : Tidak terkena Jenis pengg.7-8.118 No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 2.1" BT : 05:50 WIB : 20 m : Tidak terkena Jenis pengg.9 SM : terkena . Pertamina Tsunami 2006 : 04 : 07o 44' 51.

9" LS : 109o 01' 08.9 SM : terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 7.9 SM : terkena . Pasir pantai Cilacap : 05 : 07o 44' 34. Dermaga : 06 : 07o 44' 32.6" BT : 07:15 WIB : 21 m Jenis pengg.7-8. lahan : Dermaga Tsunami 2006 : Tidak terkena Prediksi 8.9 SM : terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 6.7" LS : 109o 01' 11. lahan : Pasir Tsunami 2006 : Tidak terkena Prediksi 8.2" BT : 07:08 WIB : 22 m Jenis pengg. Vegetasi lain : 07 : 07o 44' 31.119 No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 5.7-8.7-8.2" LS : 109o 01' 15. lahan : Vegetasi lain Tsunami 2006 : Tidak terkena Prediksi 8.5" BT : 07:25 WIB : 22 m Jenisi pengg.

Permukiman : 08 : 07o 44' 24.2" BT : 07:43 WIB : 22 m Jenis pengg.7-8. lahan : Jalan Tsunami 2006 : Tidak terkena Prediksi 8.9" LS : 109o 01' 06.3" LS : 109o 01' 07.1" BT : 07:38 WIB : 21 m Jenis pengg. lahan : Permukiman Tsunami 2006 : Tidak terkena Prediksi 8.9 SM : terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 9.120 No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 8.6" BT : 07:31 WIB : 21 m Jenis pengg.5" LS : 109o 01' 08. Jalan : 11 : 07o 44' 07. lahan : Industri Tsunami 2006 : Tidak terkena Prediksi 8.9 SM : terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 10. PT Antam Tbk : 10 : 07o 44' 15.7-8.7-8.9 SM : terkena .

5" BT : 08:50 WIB : 20 m Jenis pengg. lahan : Jembatan Tsunami 2006 : Tidak terkena Prediksi 8. lahan : Bangunan Gamb 13.7-8.5" BT : 07:56 WIB : 16 m Jenis pengg. lahan : Bangunan Tsunami 2006 : Tidak terkena Prediksi 8.2" BT : 08:32 WIB :7m Jenis pengg.7-8.6" LS : 109o 01' 27.9 SM : terkena . Pelabuhan : 18 : 07o 43' 40.9 SM : terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 12. Jembatan : 14 : 07o 44' 01.121 No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 11. Pembangunan gedung Tsunami 2006 : Tidak terkena Prediksi 8.9 SM : terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi : 20 : 07o 43' 36.7-8.3" LS : 109o 01' 21.2" LS : 109o 01' 10.

8" BT : 09:18 WIB : 19 m Jenis pengg.9 SM : Tidak terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 16.9 SM : Tidak terkena . Gedung Olahraga : 27 : 07o 43' 00.7" BT : 09:08 WIB : 20 m Jenis pengg. lahan : Jalan Tsunami 2006 : Tidak terkena Prediksi 8.2" LS : 109o 01' 14.7-8.3" LS : 109o 01' 10.7-8.7-8. lahan : Sawah Tsunami 2006 : Tidak terkena Prediksi 8.8" LS : 109o 01' 13.9 SM : Tidak terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 15.8" BT : 09:31 WIB : 21 m Jenis pengg. Sawah : 23 : 07o 43' 15. Jalan : 24 : 07o 43' 09. lahan : Bangunan Tsunami 2006 : Tidak terkena Prediksi 8.122 No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 14.

7" LS : 109o 01' 39.1" LS : 109o 01' 27.7-8.9" BT : 09:39 WIB : 23 m Jenis pengg.2" BT : 10:16 WIB : 25 m Jenis pengg.9 SM : terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 18. lahan : Bangunan Tsunami 2006 : Tidak terkena Prediksi 8.7-8.9 SM : Tidak terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 19. Sawah : 31 : 07o 42' 57. lahan : Industri Tsunami 2006 : Tidak terkena Prediksi 8.9 SM : terkena .6" BT : 10:09 WIB : 22 m Jenis pengg.0" LS : 109o 01' 17. Lapangan Tenis : 28 : 07o 43' 09.123 No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 17.7-8. lahan : Sawah Tsunami 2006 : Tidak terkena Prediksi 8. Industri ikan asin : 32 : 07o 42' 53.

3" BT : 10:20 WIB : 22 m Jenis pengg. lahan : Bangunan Tsunami 2006 : Tidak terkena Prediksi 8.9 SM : terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 22. Jemb. Perkebunan : 35 : 07o 42' 56.9 SM : terkena .4" LS : 109o 01' 39. lahan : Perkebunan Tsunami 2006 : Tidak terkena Prediksi 8. lahan : Jembatan Tsunami 2006 : Tidak terkena Prediksi 8.3" LS : 109o 01' 42. Tegalkatilayu : 33 : 07o 42' 54.7-8.7-8.9" LS : 109o 01' 42.8" BT : 10:19 WIB : 22 m Jenis pengg.9 SM : terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 21.7-8.124 No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 20. TPI Tegalkatilayu : 34 : 07o 42' 55.9" BT : 10:25 WIB : 13 m Jenis pengg.

lahan : Pasir Tsunami 2006 : terkena Prediksi 8.0" BT : 11:46 WIB : 25 m Jenis pengg. lahan : Lahan Terbuka Tsunami 2006 : tidak terkena Prediksi 8.9 SM : terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 24.9 SM : terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 25.5" LS : 109o 01' 51.4" BT : 10:33 WIB : 17 m Jenis pengg.6" BT : 11:45 WIB : 24 m Jenis pengg.7-8.125 No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 23.5" LS : 109o 02' 16.9 SM : terkena .7-8.7-8. Pasir : 38 : 07o 42' 53.5" LS : 109o 01' 57. Lahan Terbuka : 41 : 07o 42' 25. lahan : Tambak Tsunami 2006 : Tidak terkena Prediksi 8. Tambak : 36 : 07o 42' 57.

Pertamina : 45 : 07o 42' 11.9 SM : terkena .3" LS : 109o 03' 43. lahan : Sawah Tsunami 2006 : terkena Prediksi 8.1" BT : 14:00 WIB : 13 m Jenis pengg.7-8.9 SM : terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 28.9 SM : terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 27. lahan : Bangunan Tsunami 2006 : tidak terkena Prediksi 8.126 No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 26.7-8. Sawah : 48 : 07o 41' 35. Jalan ke PLTU : 47 : 07o 41' 43.9"LS : 109o 03' 26. lahan : Jalan Tsunami 2006 : terkena Prediksi 8.4"LS : 109o 02' 32. RS.0" BT : 13:03 WIB : 20 m Jenis pengg.7-8.1" BT : 13:40 WIB : 19 m Jenis pengg.

TPI Lengkong : 49 : 07o 41' 28. Kota Cilacap : 53 : 07o 42' 09.9 SM : terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 31.4" LS : 109o 01' 28.7-8. lahan : Bangunan Tsunami 2006 : terkena Prediksi 8.1" BT : 15:00 WIB : 27 m Jenis pengg.2" LS : 109o 01' 28. lahan : Industri Tsunami 2006 : terkena Prediksi 8. PLTU Mertasinga : 51 : 07o 42' 09.9 SM : terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 30.6" LS : 109o 04' 00.3" BT : 14:26 WIB : 19 m Jenis pengg.7-8.7-8.127 No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 29. lahan : Jalan Tsunami 2006 : tidak terkena Prediksi 8.5" BT : 17:00 WIB : 26 m Jenis pengg.9 SM : tidak terkena .

4" 109o 01' 13.9" 109o 01' 27.2" 109o 01' 06.2" 109o 01' 04.1" 07o 42' 53.9" 109o 01' 21.9" 07o 44' 24.2" 07o 44' 31.8" 109o 01' 09.7" 109o 01' 10.5" 07o 42' 53.1" 109o 01' 08.8" 109o 01' 29. Tabel hasil survey lapangan (track GPS dan wawancara) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 Jenis/Tipe Masjid Alun-alun Tugu Cilacap (bangunan) SMP 8 (sekolah) Pertamina (industri) Pasir Darmaga (bangunan) Pohon (vegetasi lain) Permukiman Pohon (vegetasi lain) PT Antam Tbk (industri) Jalan SDN 10 Permukiman Jembatan Jalan Darmaga (bangunan) Vegetasi Pelabuhan Samudera Cilacap HNSI (bangunan) Bangunan Jembatan Sawah Sawah Jalan Sawah Jalan Gedung Olahraga (bangunan) Lap.2" 109o 01' 13.6" 109o 02' 08.3" 07o 44' 51.128 3.3" 109o 00' 55.6" 07o 43' 00.3" 109o 01' 13.0" 07o 43' 09.0" 109o 02' 23.0" 07o 43' 00.2" 109o 01' 04.5" 07o 42' 37.5" 07o 43' 59.7" 07o 42' 54.2" 07o 43' 09.6" 07o 42' 57.3" 07o 42' 57.3" 07o 43' 07.1" 07o 43' 44.5" 109o 01' 16.6" 109o 01' 08.8" 07o 43' 09.0" 109o 01' 27.7" 07o 44' 32.9" 07o 43' 15.1" 109o 01' 09.6" 109o 01' 27.4" 109o 01' 52.6" 07o 42' 25.9" 109o 01' 51.8" 109o 01' 57.3" 07o 43' 30.3" 07o 44' 51.2" 07o 44' 03.8" 109o 01' 42.2" 07o 44' 01.1" 07o 42' 28.9" 109o 01' 14.2" 109o 01' 39.4" 07o 42' 55. Tenis Jalan Permukiman Sawah Industri ikan asin Jembatan TPI Tegalkatilayu Kebun Tambak Pasir Pasir Jalan Vegetasi Tanah terbuka Tegalkamulyan Latitude (LS) 07o 43' 40.0" 07o 44' 34.8" 109o 01' 17.5" 109o 01' 07.1" 07o 44' 15.3" 07o 44' 00.1" 109o 01' 17.2" Longitude (BT) 109o 00' 39.4" 07o 43' 36.6" 07o 43' 37.7" Waktu 5:46 5:50 5:57 6:50 7:08 7:15 7:25 7:31 7:33 7:38 7:43 7:46 7:49 7:56 8:10 8:24 8:30 8:32 8:48 8:50 8:55 9:01 9:08 9:18 9:22 9:27 9:31 9:39 9:43 10:07 10:09 10:16 10:19 10:20 10:25 10:33 10:38 11:45 11:36 11:40 11:46 12:00 Elevasi (m) 19 20 16 25 22 21 22 21 23 21 22 21 23 16 24 20 20 7 29 20 28 23 20 19 18 16 21 23 22 20 22 25 22 22 13 17 21 24 24 18 25 3 Tsunami 2006 Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Terkena .3" 109o 01' 42.2" 109o 01' 15.5" 109o 02' 14.9" 07o 42' 56.1" 109o 02' 16.3" 109o 01' 11.5" 07o 42' 14.2" 109o 01' 20.3" 07o 44' 23.5" 07o 43' 40.3" 109o 01' 26.6" 109o 01' 05.8" 109o 01' 10.9" 07o 44' 07.5" 109o 01' 19.5" 07o 44' 04.3" 07o 43' 26.5" 07o 42' 58.6" 109o 01' 39.5" 07o 43' 03.9" 07o 43' 47.3" 109o 01' 21.

7 MW Kelas Landuse Pemukiman Industri Jalan Lahan Terbuka Tambak Sawah Pasir Vegetasi Lain ladang Rumput/Semak Kebun/Perkebunan 0-0.5304827 1.3363675 0 0 0 0.1" 109o 02' 29.6722938 38.9074937 0.6" 07o 42' 11.2681586 0.0" 12:27 12:56 13:03 13:27 13:40 14:00 14:26 14:32 14:50 15:00 17:00 17:30 19 19 20 29 19 13 19 20 20 27 26 33 Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Terkena Terkena Tidak terkena Tidak terkena 4.7631246 27.4581853 3-4 6. Tabel hubungan skala tsunami 8.140907 0 .3160457 0.2550804 0 0 0 5.0812871 7.6542771 0. Pertamina Masjid Pertamina RS.0" 109o 01' 28.11" 07o 42' 09.7652413 4.3" 07o 41' 28.2235394 25.6171085 39.0288329 18.5304827 4.5711262 0.2" 07o 42' 09.9087813 1-2 66.4" 07o 42' 00.890197 49.2936073 3.517733 >4 0 0 0 0 0 0 0.4587529 1.340793 3.0812871 4.6537095 16.1409065 0.69524 14.8" 07o 41' 43.7 dengan tutupan lahan No 1 2 3 4 5 6 7 8 Kelas Landuse Pemukiman Industri Sekolah Rumah Sakit Tempat Ibadah Jalan Lahan Terbuka Tambak Kelas Skala Tsunami (m)-8.7 MW 0-1 163.1" 109o 01' 28.0" 109o 02' 45.0406435 3.8" 109o 03' 26.0203218 0.129 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 RS.7 dengan tutupan lahan Kelas Skala Tsunami (m)-7.0633422 0.6" 07o 41' 25. Pertamina Kebun Jalan Sawah/jalan TPI Lengkong Sawah PLTU PLTU Mertasinga Kota/jalan Terminal 07o 42' 09.1" 109o 03' 43.5-1 1.1409065 1.1409065 0 0 23.3129165 17.0496878 2-3 30.231558 24.7" 07o 41' 07.9994324 16.2" 109o 02' 32.6320915 12.9863456 58.1" 109o 04' 00.5 0 0 2.4" 07o 42' 09.5" 109o 01' 30.0" 109o 05' 05.7652413 0 0 0 1-1.5078731 14. Tabel hubungan skala tsunami 7.1272521 123.0406435 2.5226628 0 0 0 11.1" 07o 42' 09.7652413 1.4227195 0.2550804 0.5 6.9" 07o 41' 35.9977295 45.5101609 0.3" 109o 04' 09.7540221 11.2" 109o 02' 28.

000 14.670 29.7508145 0.5052926 30.9 dengan tutupan lahan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Kelas Landuse Pemukiman Industri Sekolah Tempat Ibadah Jalan Lahan Terbuka Tambak Sawah Pasir Vegetasi lain Ladang Rumput/Semak Kebun/Perkebunan Kelas Skala Tsunami (m)-8.1272521 2.648 33.4968981 51.788 126.330 0.000 100.2052153 2.1249518 51.443 5.000 34.495 30.205 5.6218498 17.5886643 1.1004009 23.9207697 57. Tabel hubungan skala tsunami 8.748449 15.205 64.087 116.262 2.3817563 0 0.175 148.361 0.463673 2.4505625 66.195 5.438155 32.722 0.759209 2.948 10.8564368 1.954 1.658 55.000 0.278 6.183 14.0740598 0 0 0 >4 3.665 0.417 8-10 0.895 5.114192 11.9 MW 0-1 132.9956328 316.651222 0.5370299 0 0 49.000 0.215976 41.422838 0 0 4.283 0.887 0.637 39.055 2.3762587 2.0831725 20.220 16.494 252.6089516 0 0 0.803 0.6342575 0.009 174.490694 17.0215204 19.531 158.526 0.6772237 0 0 0 0 0. Tabel hubungan kelas topografi dengan desa Desa/Kecamatan Sidanegara Tambakreja Tritih Wetan Tritih Lor Menganti Karang Kandri Slarang Kalisabuk Kuripan Kuripan kl Sidakaya Cilacap Tegalreja Tegal Kamulyan Gumilir Kelas Topografi 2-4 4-6 6-8 256.613314 1.1409065 2.6342575 1-2 34.6952404 0.9535392 11.3827065 4.130 9 10 11 12 13 14 Sawah Pasir Vegetasi lain Ladang Rumput/Semak Kebun/Perkebunan 203.004 56.205 71.819 34.08482 159.9863456 54.8744541 71.829 13.4799341 5.000 2.4799341 0.593 0.541 0.98265 22.000 76.704533 0.4675265 17.613 19.5363172 7.000 0.000 0.252 0.985 0.8626406 0.418765 26.2318364 2.83947 4.42272 0 0 0 6.135712 1.5970346 2.805545 0.849 106.6512215 0.211419 0 0 0 0 7.149 0-2 129.722 125.884161 11.098 90.6214639 5.033 235.165 0.628 59.2114192 0 0 3-4 16.566 34.000 10.706 0.8546912 22.1409065 55.361 .319 4.000 90.587 1.4090651 19.593 2.867818 3.954 38.3748553 4.180 2.977 47.2318364 8.6218498 2.180 0.000 121.3748553 3.2114192 0 2-3 22.541 0.1409065 17.361 12.6233623 91.541 127.8181302 122.526 87.464 0.

526 6.084 246.319 0.541 0.807 54.7 Mw 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Waktu (detik) 60 120 180 240 300 360 420 480 540 600 660 720 780 840 900 960 1020 1080 1140 1200 1260 1320 1380 1440 1500 1560 1620 1680 .335 7.360 36.000 0.283 0.484 196.495 0.541 17.287 35.9 Mw 8.985 0.000 6.876 222.067 1.525 50.317 52.440 166.902 11.185 3.699 84. Tabel pengukuran tinggi gelombang tsunami Run-up Tsunami (meter) di dua Posisi Pengamatan 7.000 10.7 Mw 8.117 126.957 35.626 174.577 79.096 262.922 0.804 107.230 113.536 148.106 180.680 292.361 156.000 8.131 Mertasinga Tritih kulon Karang Tal Kebon manis Donan Gunung Simpang Lomanis Kutawaru 24.839 222.675 2.252 15.

12 -1.93 1.01 0 -0.98 -0.27 2.56 -0.25 -0.68 -0.61 -0.39 .82 -0.1 2.44 -0.42 2.01 0.2 -0.09 0.62 -0.15 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 -0.04 -0.28 -0.21 4.78 1.93 3.26 0.62 0.19 -0.89 0.27 -0.34 1.22 -1.11 -1.18 -0.45 0.84 -0.64 0.31 -0.51 -0.08 0.08 0.19 -0.32 0 0 0 0 0 0.17 -0.05 0.36 -0.19 -0.52 -0.09 -0.68 -0.12 -0.05 -1.06 0.53 1.28 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2.15 -0.99 2.22 -0.02 0 0 0 0 0 -0.95 1.68 0.25 -0.03 -0.63 1.13 0.89 0.01 0.91 -0.01 -0.47 0.28 -0.21 0.41 -1.07 0.11 -0.76 -0.05 -0.66 0.09 0.94 -1.09 0.02 -0.17 -0.132 1740 1800 1860 1920 1980 2040 2100 2160 2220 2280 2340 2400 2460 2520 2580 2640 2700 2760 2820 2880 2940 3000 3060 3120 3180 3240 3300 3360 3420 3480 3540 3600 3660 3720 3780 3840 3900 3960 4020 4080 4140 4200 4260 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0.25 -0.45 -0.44 -0.26 -0.34 -0.12 -0.91 -0.22 -0.35 0 0 0 0 0 0.01 1.08 -0.25 0.79 -0.55 0.92 1.08 -0.38 5.47 -0.2 -0.1 0.03 0.27 2.08 0.08 -1.21 -1.16 -0.6 2.59 4.27 1.32 0.51 0.32 -0.1 0.3 -0.05 -0.07 -0.63 -1.39 -1.72 0.17 1.91 -1.51 -1.86 -2.06 -0.49 0.03 -1.16 0.25 -1.54 0.02 0.16 -0.31 2.43 -0.04 -1.04 0.5 -0.11 0.02 -0.24 -0.05 -0.86 -0.13 -0.35 0.1 -0.49 2.76 -0.92 0.17 -1.43 -0.06 -0.2 -1.75 1.61 0.86 0.24 -0.12 -0.13 0.07 -0.09 -0.03 -0.76 -0.18 -0.97 -1.08 -0.61 1.33 0.12 -0.1 -0.07 0.19 -2.06 0.44 -0.96 -0.59 -0.

77 0.64 1.05 -0.21 -0.34 -0.09 -0.04 -1.4 -0.04 -2.14 -0.05 0.29 2.68 -0.06 -0.3 -0.29 -0.33 1.49 1.2 -0.3 0.47 -0.09 0.17 1.08 2.2 0.8 0.89 -0.16 0.77 1.47 1.01 -0.02 0.16 0.28 1.07 0.45 0.29 1.12 -1.11 -0.55 -1.61 1.92 1.05 0.48 1.19 0.09 0.33 -0.05 0.62 -0.53 1.05 -1.08 -1.09 0.86 -0.09 -0.16 -0.11 0.84 0.11 1.13 -0.31 -0.26 -0.81 -0.24 -0.133 4320 4380 4440 4500 4560 4620 4680 4740 4800 4860 4920 4980 5040 5100 5160 5220 5280 5340 5400 5460 5520 5580 5640 5700 5760 5820 5880 5940 6000 6060 6120 6180 6240 6300 6360 6420 6480 6540 6600 6660 6720 6780 6840 -0.37 0.05 -0.67 0.07 0.29 0.05 -0.03 0.13 -0.02 0.73 1.08 1.31 -1.04 -0.16 -0.56 1.46 0.55 1.66 -0.75 -0.15 -0.17 -0.77 -0.36 -0.08 -0.63 -1.24 1.21 -0.23 0.01 -2.32 -1.25 -1.16 4.34 -0.05 -0.32 -0.27 -0.51 0.14 -0.71 2.63 3.11 -0.72 2.94 -1.2 -0.4 -0.87 1.74 -0.94 -1.07 -0.14 -0.93 0.12 0.68 2.54 -0.91 -0.62 -0.35 3.9 1.83 -0.47 1.04 -0.46 -1.19 -0.55 0.37 -0.83 -0.14 -0.64 -0.41 -0.94 -1 -1.47 -0.12 -0.25 -1.06 -0.43 -0.46 0.51 1.34 -0.36 0.16 -1.9 1.07 -0.04 -0.12 -1.09 -1.37 -2.48 0.12 0.04 -0.53 -0.12 0.42 0.37 -0.52 2.2 -1.61 -0.43 -0.26 -0.11 -0.83 0.4 -0.21 1.98 1.16 0 0.08 -0.69 -0.38 -0.6 2.39 -0.1 0.76 -1.03 -0.06 -0.5 -0.07 -1.4 3.09 -0.03 -0.63 1.28 -1.58 1.42 -0.45 2.19 -2.7 .86 1.42 0.51 1.08 -0.7 -1.52 0.08 1.35 0.54 0.55 -0.54 0.28 -0.04 0.09 0.88 -2.82 -1.31 -0.22 -0.04 -0.08 0.19 -1.13 1.74 -1.5 3.48 -1.15 0.28 1.21 0.24 -0.21 -0.14 -0.05 1.22 -0.35 2.76 0.89 0.28 -1.85 1.25 0.34 0.33 -0.04 -1.31 0.8 -0.95 -1.15 0.52 -0.07 0.86 1.82 -1.04 0.13 1.25 3.05 -0.11 0.76 3.11 -1.64 0.31 0.04 0.29 1.17 -0.27 -0.17 -1.05 -0.98 -1.12 -1.

21 0.58 0.39 1.42 -2.53 0.31 1.06 0.19 2.32 -0.43 1.134 6900 6960 7020 7080 7140 7200 7260 7320 7380 7440 7500 7560 7620 7680 7740 7800 7860 7920 7980 8040 8100 8160 8220 8280 8340 8400 8460 8520 8580 8640 8700 8760 8820 8880 8940 9000 9060 9120 9180 9240 9300 9360 9420 0 0 -0.34 0.81 1.38 0.15 -0.43 2.85 -0.11 -1.66 -0.01 -0.2 1.28 0.34 2 2.11 -0.48 0.08 0.32 0.1 -0.08 0.81 -0.02 -0.33 0.84 1.73 -0.14 -0.38 0.02 -0.05 1.11 1.08 1.56 2.14 0.88 -0.11 0.38 0.04 -0.37 1.97 -0.34 1.03 0.74 -0.13 -0.47 0.18 1.19 1.07 -0.68 -0.86 -0.02 -0.84 1.12 -0.13 -0.3 0.16 0.37 0.1 0.11 -0.25 1.1 2.38 0.2 1.67 1 0.95 -0.35 0.08 0.14 0.09 0.19 -0.02 0.59 0.04 -0.87 -0.12 -0.69 -0.01 -0.82 0.22 0.01 -1.71 2.1 -0.02 0 0.38 1.01 2.09 -1.33 1.89 2.26 1.9 1.1 0.06 0.13 -0.3 -0.17 0.18 0.04 -0.24 0.07 -0.4 -0.25 0.1 0.08 -0.41 0.83 1.27 0.83 -0.15 -0.89 0.58 0.01 -0.83 1.11 -0.1 -0.24 -1.23 1.31 .68 0.41 1.58 0.45 0.65 2.06 0.3 -0.34 -2.26 0.13 0.46 1.79 0.6 1.78 -1.78 -0.09 1.1 0.28 0.07 -1.04 0.87 1.28 0.1 -0.07 0.22 -0.34 -0.41 0.05 0.49 -0.42 -0.67 -1.19 -1.57 -0.35 0.05 0.32 0.5 1.23 -0.12 0.06 -0.12 1.06 0.59 0.45 -0.37 -0.11 -0.02 0.91 -0.51 -2 -2.06 0.99 -1 -0.03 -0.07 1.01 0.33 0.15 1.24 0.01 0.58 0.49 0.09 -2.07 0.27 0.54 -0.17 -0.33 2.06 -0.34 -0.04 0.4 0.01 0.68 -1.04 -0.29 -1.21 0.63 2.52 0.01 1.16 1.28 1.03 -0.1 0.57 1.11 -0.46 -0.08 -0.17 0.08 0.28 0.53 0.93 -0.09 0.9 2.23 0.75 0.21 -0.54 0.62 -0.68 0.1 0.07 1.42 0.81 -1.25 -0.71 1.61 1.13 0.05 -0.26 0.35 0.66 -0.05 -3.09 0.1 0.48 1.3 1.42 1.73 -0.11 -0.84 0.8 0.57 2.01 0.08 0.21 0.42 1.93 -2.

12 -0.31 -0.28 1.06 -1.04 0.04 -0.02 0.75 0.34 -0.21 -0.39 -0.24 -0.07 0.52 -0.31 -0.56 0.22 1.18 0.26 1.68 -0.19 -0.12 -0.03 0 0.02 0.15 -0.97 2.62 0.97 0.18 -0.73 -0.42 -0.11 -0.25 -0.02 -0.69 -1.28 -0.65 -0.13 0.75 0.41 -0.6 2.46 1.18 0.05 -0.53 -1.15 -0.05 0.25 3.19 0.12 -0.29 -0.58 0.15 2.91 3.13 -0.27 -0.56 -1.44 1.53 -0.1 -0.74 0.32 -0.11 -1.94 2.49 -0.9 2.02 0.2 3.52 -0.46 0.5 -0.64 -1.19 0.92 1.11 -0.13 1.14 0.11 -0.96 2.45 2.16 -0.04 -1.25 -0.27 -1.9 1.2 0.75 1.12 -0.14 0.4 0.5 -0.06 -0.19 1.22 -0.31 -1.38 -0.23 -1.46 -0.43 0.54 1 1.83 0.31 0.1 -0.92 3.135 9480 9540 9600 9660 9720 9780 9840 9900 9960 10020 10080 10140 10200 10260 10320 10380 10440 10500 10560 10620 10680 10740 10800 0.49 -0.37 -0.61 2.32 -1.91 4.43 0.61 -0.12 0.84 .77 -2.15 -0.21 -0.05 -0.82 -0.4 -0.39 -0.89 -1.35 0.22 0.14 -0.26 -0.45 2.19 2.33 0.11 2.36 4.54 -0.62 -0.19 0.34 -0.45 0.02 -2.

SLIP= 95 NP2:STRIKE=104.DIP=80. MOMENT TENSOR SOLUTION HARVARD EVENT-FILE NAME M071706A DATA USED: GSN MANTLE WAVES: 73S. SOUTH OF JAVA. 2006 at 08:19:28 UTC July 17.60 0.1 0.0 MOMENT TENSOR. MTT=-1.7. MRT= 3.2 LAT 10.PLG=55.01.(T) VAL= 4.01.28S 0. 195 BEST DOUBLE COUPLE:M0=4. 2006.01 MPP=-0.AZM= 13 2.32 0.28 0.7 CENTROID.49 0.194C.DIP=10.07. INDONESIA. SCALE 10**27 D-CM MRR= 1.0*10**27 NP1:STRIKE=289.SLIP= 89 . 1.01.87. MW=7.19.HALF-DURATION 50. T=150 CENTROID LOCATION: ORIGIN TIME 08:20:39. INDONESIA Monday.06.4 0. MTP= 0.136 9.21 0.(N) -0.82E 0. 104 3. 35.01 DEP 20.14 MRP=-0. July 17.7 SOUTH OF JAVA.01 PRINCIPAL AXES: 1.90 0. Data USGS 2008 Harvard Moment Tensor Solution Magnitude 7.LON 107.(P) -3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful