PERUBAHAN SOSIAL SURAKARTA 1830-1930

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah : Sejarah Sosial Ekonomi Dosen Pengampu : Dr. Warto, M. Hum

Oleh: Sumargono (S861208031)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

2012

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pasca Konvensi London tahun 1814, yaitu Belanda mendapatkan kembali Hindia Belanda, maka Belanda terus memadamkan pemberontakan yang banyak terjadi di daerahdaerah. Dampak kembalinya Belanda ini membawa dampak yang cukup besar bagi pribumi yaitu mengalami kegoncangan terhadap kehidupan bermasyarakat ditambah lagi Belanda menerapkan pembaharuan dalam berbagai bidang seperti dibidang politik, ekonomi sehingga membawa dampak dalam berbagai bidang juga, salah satunya dibidang sosial. Tindakan pemerintah kolonial untuk menghapus kedudukan menurut adat penguasa pribumi untuk dijadikan Handlanger Gubernermen telah menurunkan kewibawaan penguasa tradisional ini. Secara administratif para bupati atau para penguasa pribumi lainnya sebagai pegawai pemerintah Belanda yang ditempatkan di bawah pemerintahan kolonial. Ini juga berdampak pada struktur sosial masyarakat. Lebih-lebih pada penduduk pedesaan, mereka harus menghadapi secara langsung intensifikasi penetrasi kekuasaan politik dan ekonomi barat yang telah terjadi sejak awal abad ke 19. Dengan dikenalnya sistem sewa tanah, pajak, pembukaan perkebunan swasta, dan ekonomi uang masyarakat mengalami perubahan sosial ekonomi dengan cepat dan dibarengi dengan disorganisasi masyarakat tradisional beserta lembaga-lembaganya. Sebelumya sejak politik etis dilancarkan, pemerintah kolonial mulai memperhatikan perkembangan di pribumi. Perubahan-perubahan sosial ini terjadi, selain sebab-sebab di atas, sebab lain adalah perluasan pendidikan, terutama pendidikan dasar, kemudian layanan kesehatan mulai meluas sampai pelabuhan dan kampung-kampung. Peraturan baru tentang perlindungan terhadap tenaga buruh atau kuli pabrik/perkebunan, kemudian transportasi, budaya tandingan dari masyarakat, diperluasnya perkebunan dan masih banyak lagi perubahan yang terjadi. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, ada beberapa rumusan masalah yang perlu dibahas lebih lanjut, diantaranya : 1. Bagaimana gambaran umum wilayah Surakarta dan struktur sosial masyarakatnya pada awal abad ke-20? 2. Perubahan sosial apa saja yang terjadi di Surakarta pada kurun waktu 1830-1930? 3. Apa saja bentuk keresahan masyarakat dari dampak perubahan sosial tersebut?

BAB II PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Wilayah Surakarta 1. Wilayah Praja Kasunanan Surakarta Karesidenan Surakarta masuk dalam wilayah Vorstenlanden (wilayah raja-raja), merupakan tempat kedudukan kerajaan yang berdiri sendiri dibawah kekuasaan Hindia Belanda. Secara geografis Karesidenan Surakarta adalah dataran rendah yang berada diantara pertemuan kali atau sungai Pepe, Jenes dan Bengawan Sala, serta berada pada ketinggian + 92 m di atas permukaan laut. Secara administratif, Karesidenan Surakarta di sebelah barat berbatasan dengan Karesidenan Yogyakarta, Kedu, Semarang dan Madiun. Di sebelah utara berbatasan dengan Gunung Merapi (2.875 m) dan Gunung Merbabu (3.145 m). Di sebelah timur berbatasan dengan pegunungan Kendeng dan Gunung Lawu (326 m). Antara Gunung Merapi, Gunung Merbabu dengan Gunung Lawu membentuk dataran rendah yang luas, meliputi daerah Klaten, Boyolali, dan Kartasura yang kaya sedimen vulkanis. Dari lereng gunung Merapi mengalir sungai Opak ke Selatan, menjadi batas antara Karesidenan Surakarta dan Yogyakarta. Sungai Dengkeng menyatu dengan Bengawan Sala yang mata airnya berasal dari distrik sembuyan, dengan nama sungai Penembangan. Di Lereng Barat Gunung Lawu mengalir sungai Samin, Colo, Wingko, dan Jenes. Sungai-sungai ini mengalir ke dataran rendah Karanganyar yang membentuk daerah persawahan. Kota Sala adalah ibu kota kerajaan Surakarta yang memiliki luas 24 Km2 dengan ukuran 6 Km membentang dari arah barat ke timur dan 4 Km dari arah utara ke selatan. Kota ini berada di tanah dataran rendah di tepi sebelah barat sungai Bengawan. Wilayah kota Surakarta batas – batas teritorial sebagai berikut: 1. Sebelah Utara berbatasan dengan kabupaten Karanganyar dan Boyolali 2. Sebelah Timur berbatasan dengan kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Karanganyar. 3. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo dan Karangayar. Luas wilayah kerajaan Surakarta (karesidenan Surakarta) adalah 6.159.78 Km2 dengan perincian daerah Kasunanan luasnya 3.288,63 Km2. Sedangkan Mangkunegaraan ditambah daerah Ngawen seluas 33, 47 Km yang berada di daerah Kasunanan. Luas seluruh Mangkunegaraan menjadi 2.784, 11 Km2.

Membicarakan kondisi sosial masyarakat Surakarta pada masa kolonial tidak dapat lepas dari masalah struktur sosial masyarakat. Hal tersebut disebabkan setiap anggota sebuah lapisan masyarakat mempunyai kedudukan dan peranan. “Vorstenlanden”.34. gedung bioskop atau pertunjukann klub-klub. sedangkan seperlimanya milik Mangkunegaran diantara keraton Surakarta dan Kepatihan. 1931. Kedudukan dan peranan masyarakat terkait dengan hak-hak yang telah ditetapkan oleh pranata sosial masyarakat. bagian terbesar kota ini menjadi milik Kasunanan. Adatrechtbundels. 2. hal 64-65 (dalam Suhartono. Sumber dipetakan dari G. Corak . rumah residen.P Rouffaer. Struktur Sosial Masyarakat Surakarta Pada Awal Abad 20.Gambar 1 : Peta daerah-daerah di karisidenan Surakarta. sekolah dan benteng Vastenburg. gereja. 1991 hal. 26) Kota Surakarta menjadi tempat kedudukan bagi Keraton Kasunanan dan Mangkunegaran serta kantor residen Belanda terletak di tengah dataran Sala. pegawai-pegawai. tepat di sebelah utara alun-alun terletak pemukiman orangorang Eropa.

Dalam kekuasaan sosialnya mempunyai hak-hak istimewa yang tidak dimiliki oleh golongan lain. tertuang dalam Indische Statregeeling (IS) pasal 163. serta mempunyai sistem budaya yang berbeda dengan orang Jawa. Diskriminasi politik kolonial Belanda tersebut. stratifikasi masyarakat didasarkan pula pada struktur kelas. Golongan Eropa umumnya dan orang Belanda sendiri khususnya. Munculnya orang-orang Arab di Surakarta sejak abad ke XX membawa akibat semakin kompleknya struktur masyarakat Surakarta. terdiri dari orang India dan terutama orang Tionghoa dan Arab. Ketika Belanda menanamkan kekuasaannya di Jawa pada abad XVII dan XVIII. hal tersebut mengingatkan pada suatu masyarakat yang terbagi dalam kasta. Di antara golongan Timur Asing yang paling besar jumlahnya ialah orang Tionghua (Cina). Sifat dasar tersebut mempengaruhi arah pembaharuan yang dilakukan dalam masyarakat. sebagai golongan yang secara budaya homogen. Dijelaskan dalam pasal tersebut. Stratifikasi masyarakat pada masa kolonial terbagi menjadi beberapa golongan. yaitu mereka yang memenuhi syarat-syarat peraturan negara Nederlands. mereka merupakan minoritas yang jelas batas-batasnya dan terpisah dari masyarakat luas. yaitu golongan Eropa. Umumnya golongan Eropa dan Belanda menduduki jabatan penting dalam birokrasi pemerintahan. namun hal ini tidak mengubah sistem hierarki tradisional yang sudah ditentukan sejak zaman Kerajaan Mataram yang masih berlaku bagi generasi penerusnya dan mencoba tetap untuk dipertahankan yaitu Keraton Surakarta. Hak-hak yang diperoleh setiap anggota masyarakat menunjukkan bahwa pembagian kelas tersebut bersifat tertutup dan tradisional. maka keturunan tersebut dikhususkan bagi keturunan raja atau keluarga raja yang disebut bangsawan yang kedua kedudukan seseorang ditentukan dalam hierarkhi atau pemerintahan. Golongan Timur Asing yaitu orang yang bukan termasuk orang Eropa dan Bumiputera. . Posisi atau kedudukan seseorang di dalam hierarki ada 2: yaitu pertama keturunan atau hubungan darah seseorang dengan penguasa mengingat di dalam tata masyarakat feodal. Orang-orang Arab. Golongan Eropa adalah semua warga Nederlands. Timur Asing dan Bumiputera. raja adalah sebagai intinya atau yang berada di lapisan paling atas. bahwa rakyat kolonial dibagi menjadi tiga golongan pokok. Istilah kasta dipakai untuk menunjukkan adanya hambatan-hambatan yang hampir tidak dapat ditembus dan menghalangi kenaikan sosial seorang. Pengaruh barat telah masuk ke dalam kehidupan Kerajaan.masyarakat Surakarta era kolonial menunjukkan adanya pembagian kelas dalam struktur masyarakat. Seluruh hukum terdapat perbedaan hak dan kewajiban yang bersumber pada pasal dan Undangundang di atas.

Raja dan keluarga Raja (sentana dalem) Lapisan pertama yang menduduki tingkatan sosial teratas dalam sebuah kerajaan adalah raja.Struktur Kelompok Sosial Kasunanan Surakarta Raja+Keluarga (Sentana Dalem) Pegawai dan Pejabat Kerajaan (Abdi Dalem) Abdi Dalem Keraton(Istana) Abdi Dalem Nagari (Kerajaan) Bupati Nayaka ( Gol. yang disebut bangsawan atau sentana dalem yaitu pemegang kekuasaan pemerintahan. Raja merupakan pemimpin yang absolut dan mutlak. Modin dll Santri Dari Struktur Kelompok Sosial tersebut di atas dapat diketahui bahwa Kasunanan Surakarta terbagi dalam tiga kelompok sosial yaitu: 1. Keluarga raja atau yang memiliki hubungan darah dengan raja masuk kedalam tingkat sosial pertama ini. Kepatihan )+ Gol. Sentana Dalem adalah kerabat raja yaitu putra-putra atau ipar raja yang sedang memerintah. Kadipaten+ Kapengulon Abdi Dalem Tungguk Abdi Dalem Prajurit Sentana+Orang Biasa (Wong Cilik) Penghulu Ageng Penghulu Naib Kawedananan Naib Kecamatan Penghulu ( Patih+Bupati Nayaka +Panewu Mantri+Lurah +Jajar+ Abdi Dalem Praja ) (Prajurit Njaba+ Prajurit Njero ) Rakyat Biasa ( Kawula dalem) Abangan Kaum. Keturunan Raja .

Panewu. putra raja. Mereka adalah orang-orang yang diperintah oleh raja dan Sentana dalem. golongan kadipaten mengurusi masalah hal-hal yang berhubungn dengan kepentingan para putra dan kerabat raja. cicit. 2. Sedangkan Abdi Dalem Nagari terdiri dari Abdi dalem tungguk dan Abdi dalem prajurit. Mantri. golongan kapengulon mengurusi hal-hal yang berhubungan dengan rokhaniah. Abdi dalem terbagi dalam 2 kelompok yaitu: Abdi dalem keraton (istana). atau istilah lainnya priyayi. Jika golongan Kepatihan mengurusi pemerintahan seluruh kerajaan.yang masuk ke dalam golongan Sentana Dalem adalah permaisuri sebagai istri raja. Nayaka. Abdi dalem kraton bertugas dalam lingkungan kraton yang terdiri para sentana maupun orang biasa atau wong cilik . (buyut). Kelompok-kelompok muslim . Keturunan raja setelah wareng yaitu udeg-udeg. Disampingnya masih terdapat golongan kadipaten dan pengulon. Lurah. Ada 2 kelompok yang dibedakan dalam golongan masyarakat tersebut: kaum muslimin pedesaan yang mengelompok di sekeliling para guru agama Islam dan sekolah-sekolah agama mereka (pesantren tempat para santri) dan di lain pihak. Dalam Masyarakat Jawa. Jajar. Abdi dalem prajurit dibagi ke dalam dua golongan yaitu Prajurit jero dan Prajurit jaba. Bupati. dan Abdi dalem nagari (kerajaan). golongan kadipaten dikepalai oleh pangeran adipati anom dan wakilnya atau seorang pangeran yang ditunjuk raja dan golongan kapengulon dikepalai oleh penghulu. Abdi Dalem di dalam kerajaan dibagi menjadi beberapa golongan yang dipimpin oleh bupati nayaka. Pegawai dan pejabat kerajaan (abdi dalem) Orang yang bekerja untuk raja disebut sebagai abdi dalem. putihan (golongan putih ) atau santri (murid sekolah agama). gantung siwur dan seterusnya tergolong kedalam golongan rakyat biasa (kawula dalem). Abdi dalem prajurit bertugas menjaga ketentraman dan keamanan kerajaan. canggah dan wareng. Abdi dalem tungguk secara berurutan terdiri atas Patih. Golongan-golongan di bawah kekuasaan para bupati nayaka itu dijadikan satu merupakan golongan besar yang disebut golongan kepatihan. kelompok-kelompok muslim perkotaan yang sering kali melibatkan diri dalam bidang perdagangan. Golongan kepatihan dikepalai oleh pepatih dalem. Kawula dalem milik raja sepenuhnya. raja berwenang menentukan nasib mereka. Rakyat biasa (kawula dalem) Rakyat biasa merupakan tingkatan terendah dalam stratifikasi sosial masyarakat feodal. kelompok minoritas yaitu kelompok santri (putihan) berusaha benar-benar mentaati kewajiban-kewajiban Islam dalam kehidupan sehari-hari mereka disebut sebagai Wong muslimun (kaum muslim). cucu raja. 3.

menulis. artinya sumber ilmu. Salah seorang lulusan sana yaitu anak sunan sendiri. Sebenarnya jauh sebelum Belanda datang ke Indonesia. Perubahan Sosial Masyarakat Surakarta 1830-1930 1. Pendidikan barat biasanya menjadi idaman karena memberikan prioritas dalam memperoleh kedudukan dan kekuasaan. HIS Pamardi Putri. Masalahnya ialah. di Surakarta banyak didirikan sekolah-sekolah. masyarakat pribumi telah mengenal lembaga pendidikan sendiri. TK Pamardi Siwi. didirikan pada tahun 1910. mempertinggi semangat. dan ketrampilan-ketrampilan teknis. Mamba’ul Ulum. Dalam Bidang Pendidikan Pada saat Sunan Paku Buwono X berkuasa. dan kemanusiaan. B. Tetapi pada mulanya pendidikan barat sangat terbatas. Sekolah ini berbasis pada pendidikan barat. ia berusaha memajukan kualitas rakyatnya dengan berbagai cara. menjadi pengurus sekolah tersebut. meninggikan moral. yaitu murid putri yang sekolah di HIS Kesatriyan dipindah disini. ini didirikan khusus untuk putri. HIS Pamardi Putri (1927). di Surakarta juga terdapat sekolah pondok-pondok pesantren lainnya dengan murid yang cukup banyak. Tujuanya adalah untuk mencetak kader-kader yang nantinya akan dijadikan ulama. Para priyayi di Surakarta mengirimkan anak-anak mereka untuk di sekolahkan di ELS ( sekolah . Sekolah ini mengajarkan pada masyarakat membaca. lama sekolah ini adalah 7 tahun. didirikan pada tahun 1929. Sekolah desa berlangsung selama 3 tahun dan sekolah angka II selama 5 tahun. Selain Mamba’ul Ulum. yaitu pesantren. yang tujuannya untuk memperkaya pikiran murid. Lalu sekolah pertanian delanggu. Lulusan sekolah itu dapat diterima menjadi siswa pada Universitas Al Azhar di Kairo. yang telah didirikan pada abad kesembilan belas terlalu mahal biayanya.perkotaan tinggal di daerah-daerah terpisah di kota-kota Jawa yang disebut Kauman ( tempat orang-orang yang saleh) biasanya di dekat masjid utama. Sekolahan ini adalah sekolah agama dengan sistem pesantren. sekolah desa. menghargai nilai-nilai spiritual. dibiayai dengan kas kesunanan. antara lain. Didirikan oleh Sunan pada tahun 1905. dan menempati bangsal Pawestren Masjid Agung. didirikan oleh Sunan. juga ada lulusan Mamba’ul Ulum dengan melalui tambahan kursus pendidikan umum. dan masyarakat desa tidak bisa memasuki sekolah tersebut. Sekolah HIS Kesatriyan. dilatarbelakangi oleh tuntutan tenaga pertanian dan perkebunan yang berkualitas. hanya tersedia bagi anak-anak priyayi yang berkedudukan tinggi. Sekolah HIS Kesatriyan. Sekolah-sekolah dasar untuk umum yang tersebar di Surakarta. bahwa sekolah-sekolah rendah gubernermen. Kemudian Mamba’ul Ulum. Dalam hal ini. salah satunya dalam bidang pendidikan.

dapat diterima di ELS. Tolok ukur yang menetapkan bagaimana sekolah-sekolah rendah Eropa (ELS) menjadi terbuka bagi orang Indonesia dan orang Cina. Sebagian besar dari mahasiswa Indonesia yang berada di negeri Belanda belajar di Universitas Leiden. Golongan priyayi yaitu pepatih dalem mampu menyekolahkan putranya sampai ke luar negeri. tetapi disisi lain kaum petani. diantaranya memasuki Sekolah Teknik di Delft. maka dari itu hanya kalangan orang kota yang dapat menikmati pendidikan.rendah Eropa). termasuk Yogyakarta dan Surakata. tetapi juga pusat intelektual dan politik kolonial yang etis. Sekolah juga belum sampai ke desa. dan pekerja pabrik memikirkan masa depan anaknya. karena sekolah yag didirikan oleh pemerintah sangat terbatas. maka sekolahan itu ditujukan untuk mendidik menjadi pegawai yang terutama berasal dari kalangan anak priyayi. Sikap para priyayi. yang terdiri dari orang-orang Indonesia yang terhormat dan kaya memiliki lebih banyak kebutuhan pengajaran dari pada “sekolah-sekolah pribumi” yang memberikan pelajaran selama tiga tahun. yang pada dasarnya diperuntukan untuk orang-orang Belanda dan sedikit banyak merupakan tiruan belaka dari sekolah rendah Belanda. dapat memberikan tempat di sekolahsekolah rendah yang lamanya tujuh tahun pelajaran. Sepanjang keadaan lingkungannya tempat asal anak-anak. Pada akhir abad ke 19 di antara bupati-bupati mulai ada yang berusaha mendidik anak-anak mereka seperti orang barat dan dengan bahasa Belanda. dalam abad kesembilan belas dan kedua puluh tidak terlalu sama. Yang telah menjadi fakta ialah. Pemerintah Hindia Belanda juga berupaya meningkatkan pendidikan putra– putra atau calon pengganti kepala daerah swapraja. Lapisan atas masyarakat pribumi. Adapun yang lainya contohnya yaitu seorang anak pepatih ndalem yang bernama Sasrasuwarna yang sekolah di Universitas Leiden. yang bukan saja merupakan salah satu pusat ilmu yang tertua di Eropa. mereka berpikir bahwa pendidikan akan menngubah nasib mereka ke arah yang lebih baik. Tetapi prinsipnya selalu sama: orang Indonesia yang memenuhi syarat tertentu. pegawai perkebunan. bahwa massa yang lebih besar dari penduduk agraris sama sekali tidak menyadari kegunaan sekolah. . Mereka hanya memikirkan supaya anaknya kelak dapat meneruskan pekerjaanya. pedagang. selain itu faktor keterbatasan biaya. telah cukup “di-Belanda-kan”.

Sebelum seorang bekel diangkat. para bekel juga dipercaya memungut hasil bumi dari petani. 2/5 bagian untuk raja atau . Mereka diangkat oleh raja berdasarkan orientasi kepada status dan askripsi. Teori domein ini dimanfaatkan oleh para ahli hukum adat yang melihat hal seperti yang digambarkan oleh Rouffaer itu sebagai hasil proses userpasi kekuasaan raja yang semakin kuat. dan dalam arti luas ia harus mengawasi keamanan desa. termasuk menyediakan tanah dan tenaga kerja. Tanah-tanah narawita menghasilkan bahan pangan. sistem apanage menentukan dan mengatur pola hubungan sosial politik masyarkat agraris. yaitu tanah yang menghasilkan sesuatu (barang) yang ditentukan dan diperlukan oleh raja. maka di samping raja menggunakan tanah untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Selain mewakili patuh. pembagian hasil tanah dilakukan dengan maro. Karena mereka bertempat tinggal di kuthagara. raja adalah pemilik tanah seluruh kerajaan dan dalam pemerintahannya ia dibantu oleh para birokat yang terdiri dari sentana dan narapraja. ia harus mendapat persetujuan dahulu dari gunung. Raja dan patuh menyerahkan penggarapan tanah itu kepada bekel. Oleh karena itu. Mereka diberi tanah apanage atau tanah lungguh sebagai gaji yang merupakan imbalan jasanya. Dalam arti sempit tugas seorang bekel adalah pengumpul pajak dari petani di desa-desa. Berdasarkan teori milik raja (vorstendomein) dari Rouffaer. kudapan dan bahan-bahan yang diperlukan oleh istana. tugas itu dikerjakannya dengan baik karena bekel dengan mudah mengarahkan petani di kebekelannya. Mengikuti pendapat bahwa hak atas tanah tertinggi ada pada raja.2. Menurut fungsinya tanah-tanah di Kasunanan dan Mangkunegaran dibedakan menjadi Bumi narawita. kewajiban dan sangsinya. Perubahan Kekuasaan Bekel a) Sistem Apanage Peranan tanah dan mekanismenya menciptakan timbulnya interaksi sosial dalam masyarakat. b) Struktur Apanage Dilihat dari strukturnya. yaitu seorang penguasa distrik yang membawahi bekel. meskipun patuh membebani bekel dengan berbagai tugas dan kewajiban. tanah-tanah itu juga diberikan sementara kepada sentana dan narapraja sebagai siti atau bumi gadhuhan. Bekel yang diangkat dikukuhkan dengan surat pengangkatan yang disebut piagem yang di dalamnya tercantum tugas. maka penggarapan apanagenya dilakukan oleh seorang bekel. Para patuh diberi hak untuk memungut sebagian hasil tanah apanagenya. tanah apanage dapat dibedakan menjadi tanah narawita (kroondomein) di satu pihak dan tanah apanage untuk sentana dan narapraja. Dengan kata lain. Untuk desa-desa besar bekel-bekel ada di bawah pengawasan demang. Seperti yang sudah lazim berlaku.

pada waktu itu dikeluarkannya peraturan tentang tugas kepala-kepala desa. Rupanya tidak diragukan lagi bahwa sering terjadi kebocoran dalam pembayarannya sehingga sejumlah pajak yang diharapkan tidak sampai kepada patuh. Golongan sikep menyediakan tenaga kerja untuk menggarap tanah-tanah apanage. dilihat dari struktur sosial yang berlaku. 2/5 untuk sikep. dan yang 1/5 untuk bekel. Namun. Golongan besar ini terdiri dari sikep dan kuli-kuli lainnya yang disebut wong cilik. Selain itu. Diperkirakan sikep tidak dapat memenuhi pasokan sehingga jumlah pemasukan pajak berkurang. Tertib tidaknya penarikan pajak dari petani sangat bergantung pada para bekel sebagai penanggung jawab. Oleh karena itu.patuh. Pola hubungan ke bawah dari raja atau patuh kepada bekel dan sikep baik di tanah narawita maupun di tanah apanage merupakan pola tetap. Priyayi mengawasi para sikep karena ia memberi tanah garapan kepada mereka. Sejak terjadinya perluasan perkebunan. artinya ia mempunyai kekuasaan sebagai kepala desa. Didalam sistem apanage. Rupanya setelah pertengahan abad XIX jelas ada kecenderungan menyebut bekel sebagai kepala desa. Dengan demikian. berkurangnya pemasukan pajak diperkirakan berasal dari sikep yang tidak sanggup membayarnya. Tugas tambahan menjadi pengawas penarikan pajak ini secara tidak sengaja memunculkan peranan bekel sebagai penguasa desa. peranan bekel sebagai penguasa desa menjadi makin jelas. tetapi juga sangat besar kemungkinannya pasokan itu sebelum sampai pada patuh diambil sebagian oleh kepalakepala di atas bekel. Selain itu. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ada dua golongan sosial besar. setelah tahun itu masih selalu terjadi kesalahan dalam menyebut bekel sebagai penebas pajak ataukah bekel sebagai pemegang kekuasaan desa atau kepala desa. Golongan priyayi yang terdiri dari para sentana dan narapraja merupakan sebagian kecil penduduk terdiri dari golongan penguasa yang berada di atas golongan sosial besar. tampak adanya dominasi dan eksploitasi oleh golongan sosial di atas suasana desa. c) Bekel dalam Masyarakat Tradisional Peranan bekel timbul karena sistem apanage yang mempercayai bekel sebagai penebas pajak yang dibayarkan secara teratur maupun okasional. hubungan ke bawah berasal dari para pejabat tinggi dan rendah istana yang semuanya adalah para patuh. Perubahan itu terjadi pada tahun 1848. bekel ditempatkan sebagai penghubung ke atas dan ke bawah. sikep harus diawasi sehingga bekel diberi tugas baru sebagai pengawas penarikan pajak dan sekaligus sebagai penjaga keamanan desa. Hubungan ke atas menempatkan bekel sebagai penebas tanah apanage sebagai siti . yaitu golongan priyayi di satu pihak dan wong cilik di pihak lain.

dan ia bertanggung jawab dalam pembayaran sejumlah pajak seperti yang disebutkan dalam piagem. Proses reorganisasi adalah salah satu cara untuk memperbaiki keadaan di pedesaan. termasuk penyederhanaan manajemennya d) Kekuasaan Bekel Perubahan kekuasaan bekel secara resmi baru dilakukan bersamaan dengan reorganisasi tanah dan pembentukan pemerintahan desa pada tahun 1912 untuk desa kejawen. Pada dasarnya terdapat persamaan wewenang bekel dengan lurah. Perubahan-perubahan itu mempercepat runtuhnya kelembagaan desa. Dalam hal ini kedudukan patuh sangat kuat karena ia berkuasa untuk memaksa bekel agar memenuhi tuntutannya. Loyalitas kuli kepada bekel tidak diragukan lagi dalam hubungannya dengan pengerahan tenaga untuk mengerjakan sawah. Perubahan kedudukan tanah apanage dan peranan bekel mempunyai dampak luas dan sangat kompleks dalam masyarakat. khususnya dengan mengubah kedudukan tanah dan membentuk pemerintahan desa.gadhuhan dari raja. Reorganisasi agraria merupakan dasar pembaharuan karena ekstrasi kolonial selama ini belum memperoleh keuntungan maksimal. dan intensifikasi ekstraksi berlangsung sesuai dengan kemajuan penetrasi kolonial dan komersialisasi di pihak lain. dengan kata lain bekel harus loyal kepada patuh. Dukungan dari beberapa teori perlu dicocokan kebenarannya terutama korelasi antara perubahan kedudukan tanah dan pemerintahan desa dengan proses komersialisasi dan monetisasi. Jadi. Desa-desa kejawen yang terdiri dari beberapa kabekelan dihapus. Sedangkan hubungan ke bawah antara bekel dengan sikep dan kuli-kuli lainnya menempatkan bekel sebagai pelindungnya sehingga para kuli itu sangat tergantung pada bekel. tahun 1917 untuk desa perkebunan. dan dibentuk kelurahan yang dikepalai oleh seorang lurah desa atau kepala desa. Oleh karena itu. yaitu dengan menghapus tanah apanage agar ada kepastian usaha bagi modal swasta. Kuduran atau sambatan wajib juga berlaku pada petani jika bekel memerlukan tenaga kuli dikabekelannya. kelurahan mempunyai wewenang nyata untuk mengatur desa-desa guna mendapatkan tanah dan tenaga kerja melalui persewaan dan kontrak individual . Hal ini dimaksudkan agar pemerintah kolonial mempunyai pegangan kuat terhadap desa-desa dalam rangka mengubah sistem apanage ke industrialisasi agraris. Reorganisasi peradilan yang dilakukan sebelumnya guna menunjang keamanan bagi usahausaha swasta ternyata belum cukup menjamin. Dengan kata lain. diperlukan reorganisasi agraria. Dengan demikian ekstraksi lama tetap berjalan disatu pihak. tetapi wewenang lurah dipersempit pada urusan administrasi dan pemerintahan. ekstrasi hasil bumi dan tenaga kerja petani ditingkatkan. Oleh karena itu.

tetapi perubahan tersebut tidak mendasar. karena petani bekerja kepada bekel. Maksudnya. supaya pemerintah kolonial Belanda dengan sistem yang baru yaitu sistem apanage menjadi industrialisasi agraris dapat berjalan lancar. Sebenarnya perubahan tersebut ditujukan untuk membatasi wewenang bekel. Pengerjaan lungguh itu dilakukan oleh petani. Selain itu. sehingga dengan begitu masyarakat mematuhinya. ia mempunyai banyak tugas dan tanggung jawab kepada atasan. bekel mempunyai fungsi ekonomis yaitu sebagai pemungut pajak. Bekel membangun wewenangnya. ia tahu apa yang diinginkan oleh petani dan hal-hal yang tidak disukai. disisi lain petani juga mendapat perlingdungan dari bekel itu sendiri. dalam perkebunan peran bekel ini sangat penting. Meskipun terjadi perubahan kekuasaan pada bekel. Sehingga ia juga memperluas lungguhnya melebihi peraturan yang ada. tetapi oleh perusahaan perkebunan diubah sebagai kepala desa. karena kekuasaan bersifat polimorfik.e) Perubahan Kekuasaan Bekel Pada petengahan abad ke 19. Disini bekel menjadi semakin pintar untuk melihat keadaan. Di tempatkannya bekel sebagai agen perusahaan perkebunan dan kaki tangan pemerintah koloni sedikit banyak memperkuat peranannya sebagai makelar tenaga kerja. Ia menguasai tanah dan tenaga kerja petani yang kemudian dijadikan sumber legitimasinya. Para bekel ini dapat memilih tenaga kerja yang berkompeten untuk dipekerjakan di pabrik maupun di perkebunan. dalam arti lain “mempersempit” kekuasaan bekel dalam hal administrasi dan pemerintahan. Di dalam sistem apanage. bersamaan dengan perluasan perkebunan yang menuntut lapangan keahlian fungsi bekel ini perlu ditambah dan disesuaikan dengan kepentingan baru yaitu kepentingan dia menguasai dan memanfaatkan tanah tersebut. Pembentukan pemerintahan desa adalah merupakan perubahan struktural yang melibatkan kekuasaan bekel. Bekel tidak segansegan bertindak kepada para petani untuk tidak membangkang pada perintahnya. Petani harus memberikan layanan kerja kepada perkebunan yang diatur dan disesuaikan dengan kebutuhan. Perubahan kekuasaan bekel secara resmi baru dilakukan bersamaan dengan reorganisasi tanah dan pembentukan pemerintahan desa pada tahun 1912 untuk desa kejawen dan tahun 1927 untuk desa perkebunan. Perluasan daerah perkebunan menjadikan tenaga kerja petani harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. dan . Reorganisasi adalah dasar pembaharuan yang bertujuan untuk memperbaiki keadaan pedesaan atas sistem yang sebelumnya sudah berjalan dan bertujuan untuk mengintegrasikan tanah-tanah yang terpotong-potong dan menjadikannya sebuah areal perkebunan yang luas. Bekel juga berperan sebagai penghubung antara pemegang otoritas desa dengan para petani. Peranan bekel juga didukung oleh kekayaan yang memperkuat kekuasaanya sebagai penguasa desa.

yaitu sebagai perantara antara patuh dan petani. Setelah reorganisasi agraria. Bekel dipandang sebagai “Agent of Change”. serat. maupun tanaman keras seperti kopi. antara lain saat masa penarikan pajak. Pedesaan sudah mulai terbuka dari pengaruh luar. sehingga dalam perjalannanya petani memberikan loyalitas yang besar terhadap bekel. yang dulu sebagai patronnya petani diganti oleh pabrik-pabrik. 3. Di daerah Vornstenlanden peran bekel bersifat tradisional. Perubahan sosial dibukannya perkebunan Sejak dasawarsa pertama abad ke-19 Vorstenlanden yaitu daerah kerajaan Jogjakarta dan Surakarta persewaan tanah telah dilakukan baik oleh orang Cina maupun orang Eropa. peran bekel yang dulu sebagai penguasa ekonomi kemudian menjadi pemegang kekuasaan lokal walaupun memerlukan waktu yang lama. Kekuasaan bekel ini memperlancar terjadinya perubahan sosial. yaitu bebas memilih majikan baru berdasarkan kepentingan sosial dan ekonominya. Posisi bekel berada dalam urutan yang paling bawah dalam hirarki feodalistik sehingga ia bertanggung jawab dan memberikan pelayanan kepada atasan. dulunya segmentasi vertikal dan horizontal yang menghambat petani. Dengan ini para petani mempunyai alternatif baru. Sistem tanam Paksa yang diterapkan pemerintah kolonial . bukan dari atasan. yaitu sebagai penghubung antara patuh dan petani. petani yang terdesak mendapat bantuan dari bekel. Sebagai contohnya. kepemimpinan. para petani ini tidak punya tanah sama sekali dan hanya sebagai penggarap. Peran ini menyebabkan ia menguasai sumber daya di pedesaan dan menghimpun solidaritas komunal untuk kepentingan patuh dan kolonial. sedangkan di daerah Gubernermen bersifat dualistik. Perkebunan yang dilakukan pada masa awal meliputi tanaman semusim seperti padi. Bekel juga sebagai pelindung petani. karena ia sebagai perantara masuknya pengaruh luar ke desa. dan ini menyebabkan kedudukan bekel berubah. organisasi dan hubungan ke luar desa. Petani yang menggarap tanah dinas atau tanah lungguh dari pemungut pajak itu harus membayar sewa yang tinggi. Dalam posisi ini keuntungan yang diperoleh bekel berasal dari bawah yaitu para petani. karena di desa-desa mengalami perubahan sosial.nasibnya bergantung pada majikannya. Faktor-faktor inilah yang membuat bekel dianggap sebagai pemimpin desa. hal ini mengendorkan unsur-unsur kelembagaan desa yang dulunya masyarakat bersifat segmental dan komunal. berubah menjadi asosiatif dan terintegrasi. dan perusahaan perkebunan atau pemerintah kolonial dengan petani. perkebunan dan sebagainya yang masih di atas suasana desa. Peran bekel di daerah Vornstenlanden sangat lambat untuk dimasukkan ke dalam pemerintahan. berbeda dengan daerah Gubrenermen yang diubah pada tahun 1830. perannya mencakup kekuasaan. Komunikasi menjadi diferensiasi fungsional.

4 perikanan. Perkembangan industri pedesaan dan manufaktur mengalami kenaikan pada akhir abad ke-19.025 1.5 4. dan pemasaran.807 5. jasa angkutan. Dengan adanya perkebunan ini maka perbedaan yang terjadi antara penduduk pribumi dan golongan Eropa sangat mencolok. seperti pekerjaan pengusaha kecil.2 1.7 10. bakulan. Tenaga Kerja ( dalam ribuan) Kegiatan ekonomi Laki-laki Pertanian Pertambangan Kerajinan Perdagangan Pengangkutan Jasa-jasa (kehutanan. Meskipun demikian pada kurun tersebut para pengusaha Eropa berhasil memperoleh kesempatan menyewa lahan para bangsawan untuk mengusahakan tanaman perkebunan seperti gula.0 Tabel 1: Kegiatan ekonomi dari tenaga kerja di Indonesia tahun 1930 Sumber : Sejarah Nasional Indonesia V (1993). tukang batu. pedagang. Orang Eropa memiliki gaya hidup yang sangat mewah.698 67.020 96 2.105 1.6 6.7 0.502 41 628 290 66 317 628 14. 10. Mereka mulai melepaskan diri dari kegiatan–kegiatan usaha tani dan beralih kebidang usaha non-pertanian. Dalam kondisi yang seperti ini maka dapat dilihat taraf hidup . 112. sedangkan penduduk pribumi harus menderita dalam mencari nafkah.di Tanah Jawa sebagai cara untuk memperoleh penyerahan wajib atas hasil bumi pada periode 1830-1870 tidak dapat diterapkan di wilayah Kerajaan yang masih dianggap memiliki kekuasaan. op. hlm. Upah yang diterima para kuli sangat sedikit.cit.477 801 225 661 3. sehingga mengakibatkan kesengsaraan. Di Surakarta rupanya transformasi sosial mulai menunjukkan bentuknya antara lain dengan munculnya kelompok baru dalam masyarakat pedesaan adalah kelompok masyarakat yang aktif dalam sektor sekunder yaitu pengolahan hasil pertanian serta manufaktur lain seperti pembuatan pakaian. Pada tahun 1890 misalnya kerajinan berkembang dan hasilnya dijual di pasar-pasar yang ada di sekitar perkebunan maupun pasar di luar daerah Surakarta. dan kopi. pembuatan mebeler atau alat rumah tangga atau sektor tertier seperti penjualan jasa angkutan.518 55 1.070 diketahui..279 100.472 20.091 291 1.9 8. tukang kayu dan buruh disektor non-pertanian. peternakan) Wanita Jumlah Prosentase Lain-lain dan yang tak 1. Jumlah Semua 14. diminimalkan oleh para pengusaha perkebunan.

menghisap candu. petani juga membeli barang-barang rumah tangga di pasar. Dengan hiburan tersebut maka merubah pola hidup mereka. . Masuknya Sistem Uang dan perubahnnya Tahun 1870 dengan dicanangkannya Undang-undang Agraria menandai berakhirnya pelaksanaan Sistem Tanam Paksa di Jawa. 4. Kain yang dihasilkan oleh penduduk tergeser oleh kain yang dihasilkan oleh luar. Alat-alat pertanian pertanian dibeli di tukang besi. Banyak kuli yang terjebak ke dalam jerat pinjaman. Uang yang diterima oleh petani ini menimbulkan dampak yang begitu luas. Sementara itu. Petani menggunakan uangnya untuk membeli candu. Penjualan barang ini dilakukan oleh orang-orang Cina. kain impor karena kain impor mempunyai kualitas yang lebih baik daripada kain tenun. kesemuanya menjerumuskannya dalam ikatan-pinjaman. Di Surakarta. Kebijakan baru ini bertujuan untuk mendukung perkembangan perkebunan swasta di Tanah Jajahan. Prinsip kerja bebas yang diterapkan oleh pemerintah pada awal abad ke-20 memperoleh dukungan pengusaha swasta sampai dengan Masa depresi Ekonomi. tetapi karena kuatnya ikatan feodal maka kerja dan penyerahan wajib kepada petani masih dilakukan dengan ketat. Dalam keadaan itu orang hendak menghibur diri dengan berjudi. kain dan lain sebagainya. karena kuli-kuli itu akan lebih terikat pada pekerjaan di perkebunan. kemerosotan kesehatan dan kesejahteraan. yang secara nyata mendorong meningkatnya jumlah perusahaan perkebunan yang beroperasi di tanah jawa termasuk Surakarta. melacur. petani melakukan kerja wajib dengan upah di perkebunan yang disebut glidig. Di Surakarta tidak berlaku tanam paksa seperti di daerah gubernermen. hal mana dipandang menguntungkan perusahaan perkebunan. minuman keras. Kain berkualitas tinggi dari India diimpor oleh Kompeni. dan masih ditambah lagi dengan penjualan hasil-hasil tanaman pekarangan. Di desa-desa didaerah perkebunan menjadi tempat penjualan barang-barang import karena di daerah ini ada upah kerja. yang sekarang dipenuhi dengan bekerja keras kemudian mencari hiburan untuk menyenangkan dirinya setelah lelah dengan kehidupan mereka. seperti cabe. Untuk membelinya para petani harus menjual berasnya dan mengumpulkan uang dari hasil kerjanya. seperti alat pemasak nasi dari tembaga dan di pasar-pasar saat pasar musiman buka atau yang dijajakan di desa desa setelah musim panen tiba.para petani ini adalah rendah. Pada masa ini ekonomi uang sedemikian dasyat merasuk ke dalam kehidupan masyarakat Surakarta. terung dll. kacang panjang. Model baru yang mengikat mereka seperti ini dimanfaatkan oleh mandor dan perusahaan perkebunan dengan menjual barang dengan harga tinggi dan bisa diangsur.

Kesejahteraan petani juga pasang surut. C. Dengan kurangnya uang di pedesaan. Hal ini disebabkan oleh kedudukan petani yang rendah yang membawa konsekuensi bermacammacam. perdagangan yang ada dalam negeri saat itu sama sekali tidak berarti. Dengan ini kesejahteraan masyarakat pedesaan belum juga meningkat walaupun sudah adanya uang. dan perkreditan yang dirintis oleh pemerintah gubernermen. petani juga memperoleh pendapatan berupa hasil tanah. Satusatunya milik petani yaitu tenaga kerja dijadikan salah satu faktor produksi. Munculnya Keresahan Masyarakat Sejak masa kerajaan. pasar-pasar dan sebagainya membuat daya beli masyarakat menjadi tinggi. Dr.dan karena petani tidak dapat membeli barang tersebut dengan tunai. Semakin maju dan luas perkebunan di pedesaan semakin cepat pula cepat pula perubahan kehidupan petani. artinya dengan beredarnya uang di masyarakat dan didirikannya bank. maka barang tersebut dibeli dengan cara cicilan. Di dalam proses produksi kapitalis. bank. selain itu mereka juga menjual candu dan minuman keras. kondisi sosio-ekonomi petani tidak pernah berlebihan. dapat dikatakan perkebunan dan pabrik menguasai sektorsektor keperluan yang hanya dapat dipenuhi oleh petani. Sementara itu didekat perkebunan atau pabrik sudah ada warung-warung yang menjual makanan dan minuman untuk para kuli ini. D H Burger. meskipun barang-barang yang dibeli hanyalah untuk kebutuhan sendiri. Pendapatan petani yang ada dibawah subsistensi selalu mengalami penyusutan dan tampak sekali bahwa tidak sesuainya penghasilan dengan kebutuhan hidup. Hal ini bertujuan untuk menolong petani dari lintah darat yang selalu saja merugikan petani. meluasnya barang-barang import yang masuk membuat petani dalam memproduksi barang menjadi menurun dan lebih konsumtif. Tetapi perolehan petani dikonsumsikan kembali dan praktis mereka tidak mempunyai uang kontan lagi. karena barang perdagangan itu diorganisir dengan ikatan adat dan sifatnya diorganisir secara kontrak. Selain itu Crediet Bank der Dezentjesche Onderenemingen memberi pinjaman kepada petani dengan bunga rendah yang manfaatnya tak kunjung tampak. pegadaian. maka pemerintah mendirikan bank untuk mengatasi hal ini dan dinas pegadaian selanjutnya dibangun. Perbanditan yang timbul di pedesaan tidak dapat dilepaskan dengan hilangnya fungsi tanah. Orang Cina ini sebenarnya berperan kembali menarik uang yang beredar dengan menyediakan barang-barang kebutuhan masyarakat dengan kata lain desa tersebut dibuat agar selalu kurang uang. Dari hubungan pemilikan tanah dan kewajiban pajak. Perkebunan dan . Hal ini disimpulkan oleh Prof. petani menjadi penyedia tenaga kerja.

dan tidak segan-segan membunuh korban. pemberontakan (rebellion). dan penekanan. sedangkan rampok dan kecu termasuk kejahatan besar atau kejahatan serius. Reaksi yang muncul dari petani karena tekanan pajak dan kerja wajib yang berat mengakibatkan kemiskinan. penghisapan. dan berani berhadapan dengan korban dan bukan hanya itu tetapi juga memaksa. dan culeg lebih dari 3 orang. Kedudukan petani dan buruh sangat lemah. kriminalitas (criminal bandit). Mereka ini digolongkan kejahatan kecil.pabrik hanya dapat berjalan jika upah kerja ditekan. Di daerah ini perbanditan meliputi jenis individual dan juga kolektif. Kehidupan ekonomi petani yang selalu ada dibawah. Masuknya kultur barat ke pedesaan menyebabkan juga petani kehilangan orientasi dan lepas dari budaya aslinya sehingga. roverbende. dan keuntungan jadi berlipat ganda jika upah kerja itu ditekan seminimum mungkin. roverij untuk menyebut bandit. Daerah Surakarta memiliki daerah yang subur dan perkebunannya juga banyak. Perbanditan selalau memperkuat militansinya dengan kekuatan magiskeagamaan. a) Kecu dan kerusuhan-kerusuhan lain . Demikianlah nasib petani. b). koyok lebih dari 5 orang. Maling atau pencuri dan begal. Perbanditan lebih bersifat lokal dan jaringan dengan lokal lain sangat jarang. Kecu dan rampok terdiri dari kawanan yang lebih dari 20 orang. jelas tidak memberi harapan lahirnya kesejahteraan mereka. semakin berat tekanan semakin keras pula tekanannya. yaitu: a). Dalam kacamata pemerintah perbanditan digolongkan menjadi 3. dan bahkan diantara mereka terjadi persaingan siapa yang paling berpengaruh di satu daerah. Pencurian dan pembakaran lebih menunjukkan kegiatan perseorangan. Di jawa bandit dapat disamakan dengan durjana. roofpartij. dan lain-lain. Dalam laporan kolonial digunakan berbagai istilah bendewezen. perbanditan (banditry). secara struktural kedudukan petani ada distrata bawah yang mau tidak mau dikuasai struktur atas. Perasaan tidak puas yang tidak dapat ditoleransikan sebagai akibat dominasi perkebunan mendorong petani menyiapkan diri akhirnya membulatkan tekad untuk melawan pihak-pihak yang dianggap merugikan petani. mereka mencari jalan keluar antara lain berupa perbanditan. bajingan. Reaksi yang dilancarkan petani sebanding dengan tekanan yang diterimanya. sedangkan kecu merupakan kegiatan kolektif yang sangat dominan. Yang jelas sasaran mereka individu pula yang merugikan petani. dan c). meskipun sering dilakukan lebih dari seorang dapat digolongkan resistensi individu. menyiksa. lun. mereka tidak berdaya menghadapi penguasa-penguasa.

dan mendesak lembaga-lembaga tradisional. dan pengenalan pajak baru jelas memperberat beban. Sehubungan dengan perluasan agroindustri dan birokrasi timbulah diferensiasi struktural yang menciptakan peranan baru dalam masyarakat. Dominasi Barat menciptakan desintegrasi yang meliputi: dominasi onomi. seperti tanah. Jadi.Sejak pertengahan abad XVIII daerah Surakarta tidak pernah aman dari gangguan kecu dan sejenisnya. tenaga kerja. Kehidupan petani menjadi sangat tergantung pada perusahaan perkebunan maupun penguasa kolonial. alat keamanan yang ada tidak berwibawa sehingga kerusuhan makin meningkat. Perluasan administrasi kolonial yang legal-rasional menempatkan penguasa kerajaan di bawah kekuasaannya. Dominasi politik membuahkan hubungan yang tidak wajar sehingga terjadi ketegangan dan ketidakserasian. Di pedesaan Surakarta petani mengalami kesulitan hidup seperti petani di Jawa umumnya. . mereka menempuh jalan pintas. Timbulnya kerusuhan itu disebabkan oleh kondisi ekonomi dan hubungan feodal eksploitatif. Dalam hal itu petani tidak mendapat perlindungan lagi. Dominasi ekonomi yang berupa perluasan monetisasi faktor-faktor produksi. Melalui "prentah alus" petani harus membayar pajak baru dan pungutan kadangkala. pemerintah kolonial merasa tidak berdaya. Dalam menghadapi gangguan keamanan ini. politik. dan politik. Karena inilah pemerintah kolonial cenderung untuk menganggap kerusuhan itu sebagai tindakan kriminal tanpa melihat sebab-sebabnya yang lebih mendalam. Sebagai kelompok yang terdesak petani mengisolasikan diri dan membentuk kelompok untuk mempertahankan hidupnya. Oleh karena tidak tersedia jalan untuk mengadukan nasibnya. Dalam keadaan seperti ini diperlukan pegangan hidup yang menuntun ke arah orientasi baru yang menenteramkan. komoditas ekspor. protes sosial dan kerusuhan merupakan jalan keluar yang ditempuh oleh pimpinan gerakan untuk mengembalikan situasi lama yang aman. dan kultural. Gangguan ini meningkat bersamaan dengan perluasan perkebunan pada pertengahan abad XIX. ekonomi. Hal ini didapat dengan menggali nilai-nilai tradisional. Sementara itu. Dominasi kultural Barat jelas mendesak norma-norma yang ada sehingga masyarakat kehilangan orientasi. Gambaran di atas menunjukkan bahwa kerusuhan yang terjadi terus-menerus di pedesaan Surakarta disebabkan oleh faktor-faktor sosial. yaitu bergerak melalui kekerasan dan kekuatan untuk mendapatkan haknya yang telah diambli) oleh pemerintah kolonial.

Komunikasi dengan dunia luar dilakukan dengan berbuat bohong. Perlu dicatat bahwa seringkali kecu mempunyai kekuatan fisik yang besar. Adapun yang menjadi dasar ideologi kecu adalah anti. dan tenaga pengangkut barang rampokan yang jumlahnya paling banyak. Kerjasama mereka sangat rapi untuk mewujudkan kebebasan terhadap kungkungan situasi yang melilitnya. Selanjutnya. semacam "bendahara". Loyalitas yang tinggi terhadap pimpinannya merupakan syarat mutlak bagi setiap anggotanya. artinya komunikasi timbal-balik tidakakan terjadi. pengerahan anggotanya dan gambaran ideologinya jelas menunjukkan refleksi situasi pedesaan. mengibul. Dengan demikian. dan tidak jarang disertai tindakan nekad dengan menyiksa atau membunuh korbannya. roverbende adalah kawanan perampok semacam kecu vang sudah ada berabad-abad. mata-mata. dan mampu menekan penguasa lokal. Sartono Kartodirdjo mengatakan bahwa kecu termasuk perbanditan sosial dalam pergerakan sosial. Dapat ditambahkan bahwa susunan organisasi. . Kecu dipimpin oleh seorang benggol yang kebal dan mahir berkelahi. Menurut pemerintah koionial. Pada dasarnya daerah operasi kecu adalah pedesaan karena di tempat itu sering terjadi ketidakadilan.pengaruh luar yang diwujudkan dalam tindakan perampokan.1) Kecu Istilah kecu digunakan untuk menyebut sekelompok orang bersenjata yang meminta dengan paksa harta korban pada malam hari. Antara pimpinan dan anggotanya berlaku hubungan seperti guru-murid. Di dalam laporan kolonial disebutkan bahwa gangguan keamanan yang meresahkan masyarakat adalah kecu (ketjoepartij) Menurut van Wulfften Palthe. Pembagian tugas bagi anggotanya dilakukan dengan ketat. tepat kalau kecu juga disebut sebagai perbanditan agraris yang menuntut pulihnya kepincangan sosial. dan merupakan lembaga tradisional. kegiatan kecu bertentangan dengan tata-tertib masyarakat sehingga diklasifikasikan sebagai gerakan antiketertiban dan juga dipandang sebagai gerakan bawah tanah di pedesaan. untuk menjaga rahasia kelompoknya. dan mengatakan yang tidak benar. hubungan dengan dunia luar digunakan "sistem topeng. Dapat ditambahkan bahwa kecu termasuk salah satu perkumpulan rahasia (conspiracies) yang bereputasi buruk dan menjadi musuh pemerintah. Hanya kepada orang-orang tertentu saja mereka memberikan keterangan yang benar. Jabatan penting dalam struktur "organisasi'' kecu itu antara lain adalah benggol.

Dapat ditambahkan bahwa pengangkatan penguasa-penguasa desa sering didasarkan pada kemampuannya mengamankan desa dari gangguan kecu. patinggi. Keterangan mengenai korbannya diperoleh melalui mata-mata yang diturunkan lebin dulu. Adapun korban pengkecuan dapat diikuti dari kasus-kasus pengkecuan di bawah ini.Secara sepihak kecu telah mengetahui kelemahan korbannya. Semarang. Gerombolan kecu menempati perbatasan-perbatasan yang strategis dengan keresidenan Yogyakarta. Demikian pula mereka mempunyai jimat yang diperoleh melalui laku atau dengan cara yang berat. dan Madiun sehingga menyulitkan pengejaran. dan bekel. penguasapenguasa desa yaitu demang. Korban-korban pengkecuan meliputi: pertama. gangguan keamanan. petani dan pedagang kaya. Sudah disinggung di muka bahwa korban pengkecuan adalah orang-orang yang secara langsung maupun tidak langsung membantu pemerintah kolonial yang menyebabkan kerugian dan kemiskinan petani. dan jika ada salah seorang mengambil bagian barang rampokan itu lebih banyak dari ketentuan. tidak jarang mereka adalah para benggol. kedua. rangga. 2) Beberapa kasus pengkecuan Sejak pertengahan abad XIX. Anggota kecu dikenakan disiplin keras. Akan tetapi. Keduanya tinggal di pedesaan sehingga saling mengenai. Antara penguasa desa dengan kecu sering terjadi komunikasi agar mereka mematuhi "perjanjian" untuk saling tidak mengganggu. mereka wajib mempunyai ngelmu durjana. sebelum mereka melakukan pengkecuan sudah diberitahukan lebih dulu rencana-rencananya kepada penguasa-penguasa desa secara tidak langsung. ia akan dikucilkan atau dikeluarkan dari kelompoknya. Selain dituntut loyalitas yang tinggi pada pimpinannya dan kerjasama yang baik dengan sesama anggotanya. Sebaliknya. Dengan kata lain penguasa-penguasa desa itu hidup dalam dua dunia sehingga mereka dikatakan seperti uler (sic) endhas loro atau ulat berkepala dua. Keadaan demikian ini merepotkan pemerintah dan penyewa tanah yang tinggal di pedesaan sebab mereka terancam keselamatan jiwa dan hartanya. Mereka adalah ibarat air dan ikan. khususnya kecu makin meluas di pedesaan Vorstenlanden. para penyewa tanah dan orang-orang Cina. yaitu ilmu yang biasa dipakai oleh penjahat. Untuk menghadapi gangguan . Para penguasa desa sudah tahu hal ikhwal kecu sehingga setiap kali terjadi pengkecuan hampir dapat dipastikan para penguasa desa itu mengetahui pelakunya dan rencana mereka. dan ketiga.

L. sedangkan istri mudanya yang tidur di rumah belakang sedikit pun tidak cedera. serta beberapa pikul padi.84. Gerombolan kecu terus menghilang setelah membawa harta milik korban. Selain itu. Bekel itu kehilangan hartanya sebesar f 400. penyewa tanah di Melambong merasa khawatir sehingga ia mempekerjakan dua orang Afrika untuk mengusir kecu. Kawanan kecu itu berhasil melarikan kekayaan f 108. dan seorang penduduk desa itu diduga sebagai penunjuk jalan. ternyata kecu itu berasal dari daerah Yogyakarta. Semalam kemudian terjadi pengkecuan di rumah seorang Cina di desa Jotangan. gerombolan kecu terdiri dari dua puluh orang yang dengan mata gelap telah membunuh istri tua bekel itu yang tidur di rumah muka. Blommestein. Selanjutnya pada tanggai 24 April Bekel Wirokromo di desa Popongan. dan 11 ekor kerbau. Para penyewa tanah dan pimpinan perusahaan perkebunan merupakan korban yang selalu diincar oleh kecu karena mereka dianggap penyebab penderitaan petani. pengkecuan meningkat sehingga D. Pada tanggal 15 Nopember 1873 terjadi pengkecuan di rumah seorang bekel di desa Kretek. Dengan ditemukannya kunci pintu yang disembunyikan di bawah tikar. Menurut Asisten Residen Sragen. juga di daerah Klaten. Mereka terus melarikan diri kearah Grobogan. Setelah diusut. Pada musim kemarau tahun 1867. Dalam tahun 1871 terjadi beberapa kali pengkecuan.. Kamidin dan Pak Tumpuk yang tidur di rumah bekel itu dilukai.50. Klaten.keamanan ini para penyewa tanah mengirim surat permohonan kepada pemerintah agar memperbaiki keamanan. Sragen didatangi kecu. daerah Sragen. Setelah diadakan penyelidikan ternyata ada beberapa orang yang terlibat dalam pengkecuan itu. Pada tanggal 12 April 1871 terjadi pengkecuan di rumah Ngabehi Onggodimejo di desa Keringan. Di bawah ini ditunjukkan beberapa kasus pengkecuan di daerah Surakarta. jika . Boyolali juga menjadi korban pengkecuan yang terjadi pada bulan Oktober 1875. Sragen kedatangan kawanan kecu yang akan membunuhnya dengan senjata tajam. kecu berhasil melarikan harta korban senilai f 1117.C. tetapi pemerintah tidak mampu membiayai polisi untuk mengamankan pedesaan. Dikatakannya bahwa sudah banyak uang mengalir dari Jawa.dan peristiwa itu segera diusut. Bekel Surodimejo dari desa Sumberjayan. Kawanan kecu yang cukup cerdik berhasil menemukan kunci pintu rumah seorang bekel bernama Sumowedono di desa Onggopatran. Klaten pada tanggai 9 Januari 1875. Pada malam itu juga rumah seorang Cina di desa Sambungmacan.

sedangkan pemberantasannya sukar dilakukan tanpa mengetahui situasi sosial politik di pedesaan sebagai latar belakangnya. Untuk mencegah perluasan kecu. Ponthung Pinanggul. Pada tahun 1870-an pencegahan terhadap kecu pernah dilakukan oleh Residen Zoutelief dengan mengadakan ronda malam hari. Namun usaha ini hanya sekedar mengurangi aktivitas kecu. Kandhang Jinongkeng.pengkecuan berhasil dapat dipastikan mereka akan memperoleh harta rampokan yang banyak. Dhadhung Sinedel. "Drama" semacam ini hampir setiap malam terjadi. Diakui oleh pemerintah bahwa organisasi kecu cukup rapi. mereka mengeluarkan kecu sirkuler yang isinya agar setiap perkebunan memperkuat penjagaan keamanan dan mempunyai polisi sendiri. di daerah Simo. Sirkuler itu memuat cara-cara pengkecuan dan kecerdikan para kecu. Sebulan kemudian terjadi pengkecuan terhadap pimpinan perkebunan Gebong. Kabupaten 1885 1887 1892 1895 1898 1900 Jumlah . Pengkecuan terhadap penyewa tanah ini dilakukan terhadap Casperz yang tinggal di Gondang manis. sedangkan di daerah Yogyakarta pada pemerintahan Sultan Hamengku Buwono V dikenal nama-nama benggol ulung karena kawedhugannya. Tempat tinggal mereka berpindah-pindah sehingga menyulitkan pengejaran. anlara lain: Gobang Kinosek. Pada tahun 1886 terjadi banjir besar. Keadaan tidak aman ternyata Berlangsung sampai abad XLX. pintu-pintu masuk ke desa-desa dan pekarangan rumah harus ditutup. dll. Ampel pada tanggal 17 Juni 1880. Kesan dari para residen yang pernah menjabat di Vorstenlanden mengatakan bahwa daerah mereka tidak pernah aman dari gangguan kecu. dan para pimpinan perusahaan perkebunan sudah memperkirakan bahwa kerusuhan akan meningkat. Mengenai jumlah pengkecuan antara tahun 1885-1900 dapat dilihat tabel berikut ini. dan berita pengkecuan selalu dimuat dalam surat kabar Mataram yang kemudian dikenal sebagai "koran kecu". Demikian pula perbaikan polisi belum menjamin keamanan di pedesaan menjadi baik. la tidak luput dari rasa penasaran segerombolan kecu. Pada pertengahan abad XIX di daerah Sragen terdapat seorang benggol ulung bernama Jodongso.

Banyak di antara mereka membatalkan niatnya untuk ke pasar-pasar. b) Begal Selain pengkecuan. begal juga dapat dipandang sebagai gangguan yang meresahkan masyarakat karena mereka mencegat korbannya di jalan-jalan yang menuju ke pusat-pusat kegiatan ekonomi seperti pasar.1991 hal. dan Wonogiri jumlahnya jauh lebih rendah dibandingkan dengan daerah Kiaten. Boyolali. Dapat ditambahkan bahwa pada tahun 1877 di Surakarta terdapat 206 orang hukuman termasuk 30 orang wanita. kurang dari lima orang yang memaksa korbannya untuk menyerahkan barang-barangnya. 25 orang di antaranya dijatuhi hukuman kerja paksa dengan dirantai kakinya. sedangkan di kota dapat dikatakan jarang sekali terjadi. 158) Tabel di atas menunjukkan bahwa antara tahun 1885-1900 di daerah Klaten terjadi pengkecuan paling tinggi. Surakarta. Biasanya begal terdiri dari kelompok kecil. Para pedagang keliling dan Cina klonthong selalu diincar dan (dijadikan sasaran para begal). 1885-1900 (dalam Suhartono. Gangguan begal cukup meresahkan masyarakat karena korbannya adalah para pedagang yang akan ke pasar. Jadi. Korban dicegat di tengah jalan pada waktu siang atau malam hari dan barang-barang yang diminta biasanya tidak terlalu tinggi harganya. sedangkan daerah-daerah Sragen. dan orang-orang yang bepergian. Diakui pula oleh pemerintah. Telah disebut di atas bahwa pengkecuan banyak terjadi di pedesaan. Rupanya orang-orang yang dihukum itu sebagian besar karena melakukan pengkecuan. pembegalan juga dianggap sebagai gangguan keamanan di pedesaan oleh pemerintah kolonial. banyaknya pembegalan disebabkan oleh lemahnya sistem pengawasan . dan pabrik. perkebunan.Surakarta Klaten Boyolali Sragen Wonogiri Jumlah 8 2 — 10 5 25 _ 8 1 — 3 12 1 11 1 1 — 14 2 2 1 1 — 7 1 — 6 2 — 9 2 — 4 2 — 8 15 23 13 16 8 75 Tabel 2: Pengkecuan pada tahun 1885-1900 Sumber Angka-angka di atas dikumpulkan dari AVS.

tembakau dan kopi. Hal ini terjadi karena renggangnya ikatan sosial makin lebar sehingga petani harus menyingkir dan meninggalkan desanya. termasuk pembakaran dan perbuatan kriminal. Kebakaran di keresidenan Surakarta dapat dikatakan tidak sampai meluas seperti di Pasuruan dan Probolinggo. dan dalam pengembaraannya berbuat sekehendaknya. pemerintah setengahnya membenarkan bahwa kebakaran itu terjadi karena ketidaksengajaan dan kelalaian kuli.yang tidak menjangkau seluruh pedesaan. Sebab-sebab kebakaran tidak diungkapkan dalam laporan itu karena mungkin hanya terjadi dalam skala kecil. Sragen 17. yang jelas ialah bahwa tindakan itu merupakan protes petani terhadap perusahaan perkebunan yang banyak merugikan petani. Namun. khususnya di perkebunan tebu. Sungguhpun demikian. lebih-lebih pada musim kemarau. Rupanya angka-angka itu hanya berlaku bagi "pembegalan besar". Klaten 12 dan Surakarta-kota dan sekitarnya 8 kali. sedangkan pembegalan yang kecil tidak dilaporkan. tetapi kejadian ini jelas meresahkan perusahaan perkebunan sehingga banyak dipekerjakan penjaga kebun tebu yang digaji cukup agar los-los tembakau dan gudang-gudang kopi bebas dari pembakaran. Di dalam laporan kolonial tidak disebutkan secara rinci jenis bangunan dan tanaman yang terbakar serta berapa luas serta kerugian akibat kebakaran itu. kemudian digunakan oleh SI sebagai satu cara untuk melawan kapitalisme pada dasawarsa kedua abad XX. Di dalam laporan kolonial disebutkan bahwa banyaknya pembegalan antara tahun 1885-1900 tercatat sebagai berikut: Wonogiri 20. Hal ini mungkin juga dilakukan untuk mengimbangi tindakan perusahaan membabat padi petani sebelum dipanen. Kebakaran itu sebenarnya membuktikan bahwa maksud pemerintah melindungi petani ternyata tidak berhasil karena meluasnya protes-protes petani yang bersifat destruktif. Antara tahun 1885-1900 tercatat banyaknya kebakaran didaerah Wonogiri. 25 dan 19 kali.28. c) Kebakaran Di pedesaan. Petunjuk lain yang kuat mengatakan bahwa kebakaran itu disengaja oleh petani agar perkebunan mempercepat penyerahan sawah-sawah petani. Di antara mereka terdapat orang-orang yang meninggalkan kegiatan agraris. Pembakaran itu sendiri adalah manifestasi ketidakpuasan. .45. Gejalagejala menyempitnya sumber kehidupan di pedesaan makin tampak pada tahun 1870-an yang ditandai oleh banyaknya pengembara dari desa ke desa. Boyolali. Klaten. Surakarta dan Sragen secara berturut-turut 68. sering terjadi kebakaran.

Oleh karena itu. Namun.-. dan hal ini memudahkan pencuri untuk membawanya lari. Pada tahun 1860 harga seekor sapi mencapai f 40. Pemilik hewan itu dianggap terpandang. Ada 425 ekor kuda yang digunakan untuk menarik kereta penumpang. Dampak lain dari pencurian hewan itu adalah timbulnya kerajinan kulit yang bahannya berasal dari hewan itu. Sudah disebut di alas bahwa hewan itu merupakan satu-satunya kekayaan petam sehingga hewan dijadikan sasaran pencurian. Seperti lazimnya. Dapat ditambahkan bahwa pencurian hewan mempunyai kaitan dan dampak yang luas dalam masyarakat. dan daging kerbau 30 sen setiap kati. e) Pembunuhan . Pada tahun 1860 di pasar-pasar banyak dijual "daging gelap" yang sudah barang tentu berasal dari hewan curian. Pada waktu itu harga daging sapi tercatat 27 sen.393 ekor kerbau. Rupanya kerjasama antara pencuri dan jagal ini sudah berlangsung lama karena jagal berusaha menghindari pajak penyembelihan. dan juga untuk menarik cikar dan gerobak seperti yang sudah lazim berlaku di pedesaan. cukup beralasan jika harga hewan mahal karena selain hewan itu digunakan untuk mengerjakan sawahnya sendiri juga menghasilkan pendapatan tambahan yang tidak sedikik Di pabrik-pabrik gula.228 ekor kuda.. Ternyata barang kerajinan itu dapat menembus pasaran di luar keresidenan Surakarta. hewan itu disewa untuk memutar gilingan tebu. Di beberapa tempat berkembang kerajinan kulit yang membuat perlengkapan pakaian kuda. tidak semua petani memeliharanya karena hewan ini harganya mahal.d) Pencurian hewan Di pedesaaa sapi dan kerbau dipelihara oleh petani. Dengan kata lain pemilikan hewan itu menunjukkan status sosial seseorang di pedesaan. dan 27. hewan itu ditambatkan di luar rumah.715 ekor sapi. dan mempunyai status sosial yang tinggi di masyarakat. tidak mengherankan jika terjadi pengkecuan dua atau tiga kali setiap malam. Pada tahun 1875 di keresidenan Surakarta tercatat 144. alat-alat dan perhiasan dari tanduk. Kebanyakan hewan curian itu dijual pada jagal gelap yang sekaligus sebagai penadahnya. 88.dan kerbau f 54. Jadi. dan 2.960 ekor untuk menarik kereta atau gerobak. dan barang-barang kerajinan dari kulit.

Selain itu yang selalu menjadi korban pembunuhan adalah orang-orang yang dianggap merugikan petani baik orang-orang Cina maupun penguasa desa.Meskipun jumlah korban pembunuhan tidak banyak. Pembunuhan sebagai pernyataan anti-asing pernah terjadi pada tahun 1843. peristiwa itu sebenarnya merupakan puncak dari protes petani. Biasanya pembunuhan itu dilakukan pada waktu pengkecuan. Antara tahun 1885-1900 rata-rata terjadi pembunuhan empat kali setahun di setiap kabupaten dan sembilan kali setahun di seluruh keresidenan Surakarta. BAB III PENUTUP Kesimpulan . Jadi pembunuhan terhadap orang asing merupakan tindakan terakhir dari protes sosial terhadap perluasan kekuasaan kolonial. J. yang dilakukan oleh petani terhadap penyewa tanah di Klaten. Angka-angka tentang pembunuhan dalam setahun tidak menunjukkan jumlah yang luar biasa. Jozes. Jadi tindakan ini merupakan pelampiasan anti-asing terutama terhadap penyadap kekayaan petani.

dan lain sebagainya. karena di desa-desa mengalami perubahan sosial. Dengan ini para petani mempunyai alternatif baru. Hal-hal ini adalah sebagai pelampiasan dari penderitaan mereka. Dalam bidang lain. . petani) mulai mengenal candu. Maksudnya. dulunya segmentasi vertikal dan horizontal yang menghambat petani. Selain itu. Karena pada perkembangannya pendidikan adalah yang menentukan status sosial dalam masyarakat. yang pada tujuan awalnya adalah untuk mendidik para penerus pegawai dinas kolonial. bekel bukan lagi sebagai pemilik tanah. dan otomatis disini ada uang. penyedia tenaga kerja dan lain-lain. dan di pedesaan belum terjamah pendidikan. Namun pendidikan ini hanya dapat dinikmati oleh golongan atas saja. pangreh praja. termasuk Surakarta. Dalam berbagai sisi. sebagai perangsang. yang ada dalam pikiran mereka adalah bagaimana besok anaknya bisa dan mampu meneruskan pekerjaan yang telah turun temurun ini. minuman keras. dan ini menyebabkan kedudukan bekel berubah. misalnya orang-orang Cina. dan dibawah pengawasan kolonial. Dalam kekuasaan bekel. buruh. bupati. Untuk candu dan minuman keras memang sudah dikenal sejak lama di Jawa. Pemerintah kolonial juga mendirikan sekolah-sekolah. pembukaan perkebunan membawa dampak yang luas dalam segala bidang. yang dulu sebagai patronnya petani diganti oleh pabrik-pabrik. Pedesaan sudah mulai terbuka dari pengaruh luar. misalnya pemerintah desa. Barang-barang impor juga sudah dikenal. mandor dan semuanya yang berhubungan dengan administrasi dan birokrasi Belanda. mereka mulai memperhatikan pendidikan untuk anak-anaknya. terutama dalam bidang sosial.Perubahan sosial masyarakat Surakarta kurun waktu 1830-1930 dalam bidang pendidikan terjadi peningkatan. yaitu bebas memilih majikan baru berdasarkan kepentingan sosial dan ekonominya. mereka mulai mencari kesenangan setelah lelah bekerja keras. Komunikasi menjadi diferensiasi fungsional. terutama dikalangan priyayi. Fungsinya telah dialihkan dalam bidang admistratif. perkebunan dan sebagainya yang masih di atas suasana desa. mereka tahu bahwa di perkebunan itu ada sistem upah/gaji. Para petani juga tidak pernah berpikir untuk menyekolahkan anak-anaknya. Bekel dipandang sebagai media perubahan. candu ini membuat para pekerja menjadi malas. dan sistem pemberian jabatan secara turuntemurun dihapuskan. mulai banyak pula para pedagang dadakan yang datang dan berjualan di sekitar perkebunan. Mereka menyediakan barang-barang yang disukai dan dibutuhkan kembali. tetapi diganti menjadi penarik pajak. Para pekerja (kuli. pegawai perkebunan. dan makin banyak yang masuk ke pulau jawa. tapi disisi lain. Ada juga salah satu perkebunan di Surakarta yang memberikan candu-candu ini untuk para kulinya. perkreditan. setelah adanya reorganisasi.

dalam bidang tekstil. kain impor lebih murah dari pada kain pribumi. bajingan.Produk lokal dan produk impor bersaing. seperti batik dan lain-lain. H dan I. Reaksi yang muncul dari petani karena tekanan pajak dan kerja wajib yang berat mengakibatkan kemiskinan. dan lain-lain. Brugmans. Politik Etis dan Revolusi Kemerdekaan. semakin berat tekanan semakin keras pula tekanannya. secara struktural kedudukan petani ada distrata bawah yang mau tidak mau dikuasai struktur atas. Di jawa bandit dapat disamakan dengan durjana. roofpartij. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. roverij untuk menyebut bandit. penghisapan. lun. jelas tidak memberi harapan lahirnya kesejahteraan mereka. 1987. pencurian dan bahkan pembunuhan sebagai tindak protes dari petani terhadap keadaan yang dirasakannya Daftar Pustaka Baudet. mereka mencari jalan keluar antara lain berupa perbanditan. pembakaran. . roverbende. Demikianlah nasib petani.J. (Terjemahan Amir Sutaarga). Perasaan tidak puas yang tidak dapat ditoleransikan sebagai akibat dominasi perkebunan mendorong petani menyiapkan diri akhirnya membulatkan tekad untuk melawan pihak-pihak yang dianggap merugikan petani. Di dalam prakteknya di Surakarta perbanditan dilakukan melalui pengkecuan yang disertai dengan begal. Reaksi yang dilancarkan petani sebanding dengan tekanan yang diterimanya. dan penekanan. mereka tidak berdaya menghadapi penguasa-penguasa. Masuknya kultur barat ke pedesaan menyebabkan juga petani kehilangan orientasi dan lepas dari budaya aslinya sehingga. Kedudukan petani dan buruh sangat lemah. Kehidupan ekonomi petani yang selalu ada dibawah. Dalam laporan kolonial digunakan berbagai istilah bendewezen.

2009. Yogyakarta: Aditya Media. Yogyakarta: Aditya Media. et al. 1987. Jakarta: Balai Pustaka. 1993. Djoko & R. 2002.(cetakan ke-8). Sejarah Perkebunan di Indonesia (Kajian Sosial dan Ekonomi). Jasa. Wonogiri: Bina Citra Pustaka. Apanage dan Bekel..Boomgard. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Sejarah Nasional Indonesia V. _________1995. Sri Susuhunan Pakubuwono X: (Pejuangan. Purwadi. (Perubahan Sosial di pedesaan Surakarta 18301920). Ong. Djoenoed dan Nugroho Notosusanto. Bandit-bandit Pedesaan di Jawa (Studi Historis 1850-1942). Peter. 1991. Sartono dan Djoko Suryo.Djakarta: Pratnjaparamita. Prof. 2004. Kartodirjo. Bandit-bandit dan Pejuang di Simpang Bengawan.M Soedarsono & Djoko Soekiman. 1985. D. Lungguh dan lurah dalam Perspektif Sejarah. Perkembangan Peradaban Priyayi. Suhartono. H. Yogyakarta: YIPKP Lembaga Javanologi. Jakarta: Bangun Bangsa. Ibrahim. _________1990. Suryo. M. Julianto. Jakarta: Djambatan. Sartono et al. . Anak Jajahan Belanda (Sejarah sosial dan ekonomi Jawa 17951880). dan Pengabdiannya untuk Bangsa). Jakarta: Kompas. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya. Dari Soal Priyayi sampai Nyi Blorong (Refleksi Historis Nusantara). Yogyakarta: P3KN Javanologi. Poesponegoro. 2004. Hok Ham. 1991. Kartodirjo. Gaya hidup masyarakat Jawa di pedesaan: (Pola kehidupan sosial-ekonomi dan budaya). Dr. Burger. Sedjarah Ekonomis Sosiologis Indonesia. 1962.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful