Transfusi darah merupakan tindakan medis yang beresiko, karena itu pengelolaannya harus profesional dan sesuai standar

. Melakukan transfusi bukannya tanpa resiko. Pasien dapat tertular penyakit infeksi yang mungkin terdapat pada darah donor, karena itu darah yang akan digunakan untuk transfusi haruslah aman. Darah aman apabila disumbangkan oleh donor yang sehat melalui seleksi donor yang seksama, bebas dari agent yang dapat membahayakan pasien, ditransfusikan hanya jika dibutuhkan dan ditujukan untuk kesehatan dan kebaikan pasien. Keamanan darah adalah dari vena ke vena. Sebelum darah dikeluarkan untuk resipien darah yang telah dikumpulkan dari pada donor, diperiksa terlebih dahulu melalui serangkaian proses uji sehingga darah benar-benar aman untuk diberikan kepada resipien. Serangkaian proses uji tersebut tentulah dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya yaitu kualitas reagen serta kelayakan reagen tersebut untuk digunakan sehingga dapat memberikan hasil pemeriksaan yang valid dan dapat dipercaya. Pada praktikum ini dilakukan validasi reagensia. Reagensia adalah larutan zat dalam komposisi dan konsentrasi tertentu yang digunakan untuk mengenali zat lain yang belum diketahui sehingga diketahui isi zat lain tersebut. Reagensia yang baik harus memiliki sifat : mudah didapat, bahan murni, mudah dimurnikan, mudah pembuatannya, stabil, tahan lama, dapat membantu reaksi kimia, bereaksi sensitif dan spesifik dengan zat uji. Beberapa Reagensia memiliki komposisi yang unik sehingga perlu teknik atau proses perlakuan tertentu. Reagensia yang telah dibuat harus diberi label dalam botolnya supaya tidak tertukar, disertai dengan pemberian konsentrasi pada label tersebut. Dalam suatu pemeriksaan sangatlah diperlukan reagensia yang berkualitas sehingga dapat memberikan hasil pemeriksaan yang memuaskan. Validasi reagensia didasarkan atas pengujian terhadap reagensia yang ada untuk mengetahui apakah reagen tersebut masih baik atau tidak, apakah masih valid atau tidak serta layak digunakan untuk pemeriksaan selanjutnya. Validasi reagensia dalam dalam laboratorium transfusi darah dilakukan pada reagen Anti-A, anti-B, anti-D, Test Sel A Standar, Test sel B standar, Test sel O standar,

Sebelum dilakukan pemeriksaan reagen-reagen yang telah dikondisikan pada suhu ruang dihomogenkan agar semua komponen di dalamnya tercampur secara merata. pada sumur reaksi 2 diteteskan 2 tetes Anti-A +1 tetes suspensi sel B 10 % dan 2 tetes Anti-A + 1 tetes suspensi sel O 10 %. exp : April 2014 dan suhu penyimpanan : 2-8o C) menunjukkan hasil yang valid. sedangkan pada sumur 2 dan sumur 3 tidak terjadi aglutinasi. Sebelum dilakukan validasi reagensia alangkah baiknya terlebih dulu kita meyiapkan lembar kerja pemeriksaan test validasi reagen. dimana pada sumur 1 terjadi aglutinasi dengan derajat aglutinasi +4 (gumpalan besar dengan cairan jernih di sekitarnya) sedangkan pada sumur 2 dan 3 tidak terjadi aglutinasi. Setelah itu bioplate digoyanggoyangkan hingga tercampur merata dan diamati terjadinya aglutinasi. Pada sumur reaksi 1 diteteskan 2 tetes Anti-A + 1 tetes suspensi sel A 10 %.Bovine Albumine 22%. Uji validasi reagen Anti-A dikatakan valid apabila pada sumur reaksi 1 terjadi aglutinasi. pada sumur reaksi 2 diteteskan 2 tetes Anti-B +1 tetes suspensi sel B 10 % dan pada sumur 3 diteteskan 2 tetes Anti-B + 1 tetes suspensi sel O 10 %. Validasi selanjutnya dilakukan pada reagen Anti-B. barulah dilajutkan pada pengerjaan validasi reagen. Validasi dilakukan dengan metode bioplate. Setelah itu bioplate . Setelah setelah semua dicatat. AHG(Anti Human Globulin atau Coomb’s serum dan CCC (Coomb’s Control Cell). Untuk reagensia yang akan divalidasi dalam pemeriksaan ini semua reagen masih dalam kondisi baik dan tidak ada reagen yang lewat dari tanggal kedaluarsanya. reaksi 2 dan reaksi 3. reaksi 2 dan reaksi 3. expired date. Setelah dilakukan uji validasi. reagen Anti-A (batch no : 060413. No bacth. Di dalam formulir itu telah tercantum teknis kita melakukan validasi reagensia. Sumur pada bioplate diberi label reaksi 1. Sumur pada bioplate diberi label reaksi 1. tanggal pembuatan (jika ada) serta suhu penyimpanannya dicatat. Reagen pertama yang divalidasi adalah reagen Anti-A. Pada sumur reaksi 1 diteteskan 2 tetes Anti-B + 1 tetes suspensi sel A 10 %. Semua reagen yang akan divalidasi dikeluarkan dari tempat penyimpanannya lalu dikondisikan pada suhu ruang. Pengerjaan uji ini hampir sama dengan validasi reagen Anti-A. Terjadinya aglutinasi ini ditimbulkan oleh adanya ikatan antibodi dan antigen dimana Anti-A sebagai antibodi dan suspesi sel A 10% sebagai antigen.

pada sumur 3 diteteskan 2 tetes BA (Bovine Albumin) 22%+ 1 tetes suspensi sel A 10 % dan pada sumur 4 diteteksan 2 tetes BA (Bovine Albumine) 22%+ 1 tetes suspensi sel B 10 %. Terjadinya aglutinasi ini disebabkan oleh adanya ikatan antibodi dan antigen dimana reagen Anti-B sebagai antibodi dan suspesi sel B 10% sebagai antigen. Anti-B dan Anti-D biasanya digunakan untuk pada pemeriksaan golongan darah dan Rhesus. walaupun dewasa ini telah diketahui bahwa antisera tersebut juga dapat diisolasi dari jenis tumbuhtumbuhan tertentu. reaksi 2. exp : Maret ’14. Reagen Anti/Antisera untuk penentuan golongan darah umumnya dibuat dari serum darah manusia yang memiliki titer tinggi. Uji validasi reagen Anti-D dikatakan valid apabila pada sumur reaksi 1 dan 2 terjadi aglutinasi. Sedangkan untuk reagen Anti-D divalidasi dengan cara disiapkan bioplate dan masing-masing sumur diberi label reaksi 1. seperti dari biji Dolichos biflorus dan dari hewan yang diimunisasi. Setelah itu bioplate digoyanggoyangkan hingga tercampur merata dan diamati terjadinya aglutinasi. Pada sumur 1 diteteskan 2 tetes Anti-D IgM + 1 tetes suspensi sel A 10 %. reaksi 3 dan reaksi 4. Reagen Anti-A. Setelah dilakukan uji validasi. Uji validasi reagen Anti-B dikatakan valid apabila pada sumur reaksi 2 terjadi aglutinasi. exp : April 2014. . pada sumur 2 ditetekan 2 tetes Anti-D IgM+ 1 tetes suspensi sel B 10 %. Sumur 3 dan 4 biasanya digunakan sebagai kontrol. reagen Anti-B (batch no : 060413. sedangkan pada sumur 1 dan sumur 3 tidak terjadi aglutinasi. Setelah dilakukan uji validasi reagen Anti-D (batch no: 040313.digoyang-goyangkan hingga tercampur merata dan diamati terjadinya aglutinasi. dan suhu penyimpanan : 2-8o C) menunjukkan hasil yang valid dimana terjadi aglutinasi pada sumur reaksi 2 dengan derajat aglutinasi +4 (gumpalan besar dengan cairan jernih di sekitarnya) dan tidak terjadi aglutinasi pada sumur reaksi 2 dan 3. sedangkan pada sumur 3 dan sumur 4 tidak terjadi aglutinasi. suhu penyimpanan : 2-8o C) menunjukkan hasil yang valid hal ini ditunjukkan dengan terjadinya aglutinasi pada sumur reaksi 1 dengan derajat aglutinasi + 3 (sebagian sel bergumpal dengan cairan jernih di sekitarnya) dan pada sumur 2 terjadi aglutinasi dengan derajat aglutinasi +4 (gumpalan besar dengan cairan jernih di sekitarnya) sedangkan pada sumur reaksi 3 dan 4 tidak terjadi aglutinasi.

Pencucian dengan saline volume 3/4 tabung. Lalu diamati apakah terjadi aglutinasi atau tidak. bila hasil bovine albumin 22 % baik/valid. Untuk validasi CCC (Control Coomb’s Cell) dilakukan dengan menambahkan 1 tetes CCC pada tabung yang hasilnya negative (tidak terjadi aglutinasi . Validasi ini dilakukan dengan mencuci sebanyak 3 kali campuran pada tabung reaksi 1. dikocok perlahan . dan pada tabung reaksi 3 diteteskan 1 tetes susp sel O 5% + 2 tetes BA 22%. Untuk test validasi AHG hanya dapat dilanjutkan. reaksi 2 dan reaksi 3. Validasi pada reagen Bovine Albumine (BA) 22% dilakukan dengan meyiapkan 3 buah tabung reaksi lalu diberi label reaksi 1. Proses selanjutnya dilakukan validasi reagen pada reagen Anti Human Globulin (AHG) atau Coomb’s serum. Reagen Anti Human Globulin dikatakan valid apabila pada ketiga tabung reaksi menunjukkan hasil negative (tidak terjadi reaksi). centrifugasi untuk mempercepat terjadinya reaksi. dan dicentrifugasi pada kecepatan 3000 rpm selama 15 detik. Pada praktikum ini validasi yang dilakukan pada reagen Anti Human Globulin (SGA060812/Agst ‘14) menunjukkan hasil yang valid dimana tidak terjadi aglutinasi pada tabung reaksi 1. Anti Human Globulin dan CCC (Coomb’s Control Cell). 2 dan 3 menunjukkan hasil negatif (tidak terjadi aglutinasi). Pada praktikum ini reagen BA 22% (091012/Okt’13) menunjukkan hasil yang valid dimana tidak terjadi aglutinasi pada tabung reaksi no. minimal dilakukan 3 kali untuk membersihkan sisa antibodi yang dapat menetralisasi serum Anti Human Globulin sehingga dapat menimbulkan reaksi negatif palsu. dan 3. Pada tabung reaksi 1 diteteskan 1 tetes susp sel A 5% + 2 tetes BA 22%. Reagen BA 22% dikatakan valid apabila pada tabung reaksi no 1.Validasi selanjutnya dilakukan pada reagen Bovine Albumine 22%. 1. Validasi pada reagen Bovine Albumine 22%. pada tabung reaksi 2 diteteskan 1 tetes susp sel B 5% + 2 tetes BA 22%. Tujuan inkubasi ini untuk untuk menyamakan kondisi terjadinya reaksi dengan kondisi pada tubuh manusia. Setelah itu campuran dalam tabung dihomogenkan lalu diinkubasi 37o C dan dicentrifuge 3000 rpm selama 15 detik. Anti Human Globulin dan CCC (Coomb’s Control Cell) dilakukan dengan metode tabung (tube test). 2. sedangkan proses centrifugasi dilakukan untuk mempercepat reaksi yang terjadi. Setelah dicentrifugasi diamati apakah terjadi aglutinasi atau tidak. 2 dan 3 dengan saline lalu ditambahkan 2 tetes reagen Anti Human Globulin. . 2 dan 3.

lalu dicentrifuge 3000 rpm selama 15 detik. Validasi terhadap CCC dikatakan valid apabila hasil validasi menunjukkan hasil positif (terjadi aglutinasi). dan O 5 % . saat reagen akan kadaluarsa. test sel B suspense 10% (3/6/2013). dengan derajat aglutinasi +1 (gumpalan kecil dengan cairan merah di sekitarnya). Jika anti-A dan anti-B memberikan hasil yang valid. Dari pemeriksaan ini dapat dikatakan bahwa test sel A standar suspense 10% (3/6/2013). maka reagen harus divalidasi ulang. memberikan hasil yang valid. saat pemeriksaan menunjukkan hasil yang meragukan dan lain-lain.dan suspensi sel A 5 % (3/6/2013). maka test sel standar baik sel A. B dan O juga dapat dikatakan valid. Akan tetapi jika setelah digunakan untuk pemeriksaan reagen yang valid tersebut memberikan hasil yang meragukan. (3/6/2013). sel B maupun sel O dalam praktikum ini tidak dilakukan lagi. Karena reaksi yang diharapkan sama seperti reaksi pada pengujian antiA dan anti-B. Untuk menguji validitas test sel standar. Jika uji validitas reagen ini memberikan hasil yang valid maka reagen tersebut masih layak untuk digunakan dan begitu pula sebaliknya. sel B 5% (3/6/2013). Validasi reagen biasanya dilakukan secara rutin. Lalu diamati apakah terjadi aglutinasi. dan test sel O suspense 10% (3/6/2013). dan berkala. Pada praktikum ini validasi yang dilakukan pada CCC (tanggal pembuatan 3 Juni 2013) menunjukkan hasil yang valid. Karena ketika menguji validitas anti-A dan anti B dapat secara langsung untuk menguji test sel standar yang digunakan. atau digunakan reagen yang baru untuk pemeriksaan selanjutnya. dimana pada ketiga tabung terjadi aglutinasi. baik sel A.