Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan Jiwa Masyarakat Harga Diri Rendah

A. Latar Belakang Bencana yang tidak habis-habisnya, baik oleh karena manusia maupun karena kejadian alam merupakan sumber stressor yang berat yang data mengakibatkan terjadinya berbagai masalah kesehatan jiwa masyarakat, baik yang ringan sampai yang berat. Masalah kesehatan jiwa yang ringan berupa masalah psikososial seperti kecemasan, psikosomatis dapat terjadi pada orang yang mengalami bencana. Bahkan keadaan yang lebih berat seperti depresi dan psikosis dapat terjadi jika orang yang mengalami masalah psikososial tidak ditangani dengan baik (Keliat dkk, 2007). Biasanya harga diri sangat rentan terganggu pada saat remaja dan usia lanjut. Dari hasil riset ditemukan bahwa masalah kesehatan fisik mengakibatkan harga diri rendah. Harga diri tinggi terkait dengam ansietas yang rendah, efektif dalam kelompok dan diterima oleh orang lain. Sedangkan harga diri rendah terkait dengan hubungan interpersonal yang buruk dan resiko terjadi harga diri rendah (Rusniati 2008). Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri. Harga diri rendah dapat terjadi secara situasional (trauma) atau kronis (negatif self evaluasi yang telah berlangsung lama). Dan dapat di ekspresikan secara langsung atau tidak langsung (nyata atau tidak nyata). Konsep diri sangat erat kaitannya dengan diri individu. Kehidupan yang sehat, baik fisik maupun psikologi salah satunya di dukung oleh konsep diri yang baik dan stabil. Konsep diri adalah hal-hal yang berkaitan dengan ide, pikiran, kepercayaan serta keyakinan yang diketahui dan dipahami oleh individu tentang dirinya. Hal ini akan mempengaruhi kemampuan individu dalam membina hubungan interpersonal. Meskipun konsep diri tidak langsung ada, begitu individu di lahirkan, tetapi secara bertahap seiring dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan individu, konsep diri akan terbentuk karena pengaruh ligkungannya. selain itu

konsep diri juga akan di pelajari oleh individu melalui kontak dan pengalaman dengan orang lain termasuk berbagai stressor yang dilalui individu tersebut. Hal ini akan membentuk persepsi individu terhadap dirinya sendiri dan penilaian persepsinya terhadap pengalaman akan situasi tertentu. Gambaran penilaian tentang konsep diri dapat di ketahui melalui rentang respon dari adaptif sampai dengan maladaptif. Konsep diri itu sendiri terdiri dari beberapa bagian, yaitu: gambaran diri (body Image), ideal diri, harga diri, peran dan identitas (Rusniati, 2008). Penanganan kesehatan jiwa secara cepat dan tepat memungkinkan hasil yang baik. Berdasarkan penelitian ditemukan bahwa pemulihan normal (25 %) dan kemandirian (25%) akan mencapai jka pasien gangguan jiwa ditangani dengan benar. Dengan fakta seperti ini, bahkan produktivitas pasien gangguan jiwa masih dapat diharapkan. Direktorat Kesehatan Jiwa Masyarakat ( 2005) dilanjutkan Direktorat Bina Kesehatan Jiwa (2006) Departemen Kesehatan Republik Indonesia menetapkan tatanan pelayanan kesehatan jiwa tersebut dalam bentuk piramida. Piramida pelayanan kesehatan tersebut menjabarkan, pelayanan kesehatan bersifat berkesinambungan darai komunitas ke rumah sakit dan sebaliknya.Pelayanan kesehatan jiwa dimulai di masyarakat dalam bentuk pelayanan mandiri oleh pasien dan keluarganya. Pelayanan lanjutan berikutnya adalah puskesmas, rumah sakit umum, dan yang paling tinggi adalah pelayanan di rumah sakit jiwa sebagai pelayanan rujukan tertinggi untuk kesehatan jiwa (Keliat dkk, 2007). Upaya mewujudkan kesinambungan pelayanan kesehatan jiwa telah imulai di Indonesia Bentuk pelayanan yang diterapkan adalah pelayanan kesehatan jiwa komunitas (Community Mental Health Nursing/ CMHN). Pelayanan kesehatan jiwa komunitas diberikan oleh perawat puskesmas yang mendapat pelatihan BC-CMHN (Basic Course of Community Mental Health Nursing. Dengan keberhasilan program CMHN, pasien yang tidak tertangani di masyarakat diharapkan akan rujik ke rumah sakit jiwa untuk mendapatkan pelayanan yang lebih baik. Tatanan pelayanan kesehatan jiwa di masyarakat telah dikembangkan dengan baik (Keliat dkk, 2007). Hingga sekarang penanganan penderita gangguan jiwa belum memuaskan, hal ini terutama terjadi di Negara-negara yang sedang berkembang,disebabkan ketidak tahuan keluarga maupun masyarakat terhadap penderita gangguan jiwa. Diantaranya adalah masih terdapatnya pandangan

para normal dan lain sejenis. orang pintar. Hal ini tidak hanya berakibat buruk pada penderita. bahkan dikucilkan karena malu. dan kelima.Sebagai contoh misalnya: Aksis 1 : Skizoprenia tipe paranoid Aksis 2 : Gangguan kepribadian paranoid . Dengan adanya stigma di atas maka kadang kala penderita gangguan jiwa tidak di bawa ke dokter/ RSJ untuk memperoleh pengobatan yang rasional melainkan dibawa berobat ke cara-cara yang tidak rasional misalnya ke dukun. diagnosis Stres psikososial. tapi juga bagi keluarga karena sering mengajukan syarat-syarat yang tidak rasional tetapi juga memberikan analisa yang tidak rasional pula sehingga menimbulkan fitnah dan rasa permusuhan.kemasukan roh jahat . diagnosis kemampuan adaptasi dalam satu tahun terakhir. 2001).Dalam kaitannya dengan gangguan jiwa. Hal ini menyebabkan penderita gangguan jiwa tidak sembuh bahkan tambah parah.kemasukan setan. Kata stigma berasal dari bahasa Inggris yang artinya noda atau cacat. Sebagai akibatnya sering dijumpai di masyarakat praktek-parktek perdukunan misalnya dukun santet. melanggar larangan atau tabu dan lain sejenisnya. keempat. Sikap keluarga dan masyarakat yang menganggap bahwa gangguan jiwa merupakan penyakit yang disebabkan oleh hal-hal yang tidak rasional ataupun supranatural (gunaguna. diagnosis gangguan jiwa. yang dikenal dengan diagnosis Multi-Aksial yaitu: pertama.yang negative (stigma) dan bahwa gangguan jiwa bukanlah suatu penyakit yang dapat diobati dan disembuhkan. ketiga. kedua. Di dalam Ilmu Kedokteran Jiwa untuk mengungkap suatu diagnosis suatu penyakit termasuk gangguan jiwa dipakai poros (axis). Sikap keluarga dan masyarakat yang menganggap bahwa gangguan jiwa merupakan aib bagi keluarga.dukun pellet dan sejenisnya (Hawari. 2. yang dimaksud Stigma adalah: 1. diagnosos gangguan kepribadian. diagnosis penyakit fisik. sehingga sering kali penderita gangguan jiwa disembunyikan.

Tujuan keperawatan jiwa menolong klien agar dapat kembali ke masyarakat sebagai individu yang mandiri dan berguna. yaitu terapinya tidak hanya ditujukan pada aksis 1 saja.Aksis 3 : Hipertensi Aksis 4 : Pengangguran (PHK).Dengan demikian maka rentang asuhan keperawatan adalah dari pelayanan di masyarakat sampai pelayanan di rumah sakit. Menurut Federasi kesehatan sedunia: . 3. Keperawatan jiwa adalah proses interpersonal yang berupaya untuk meningkatkan dan mempertahankan perilaku individu yang menyokong kesatuan fungsi.komprehensif dan holistic.terapi psikososial dan terapi psiko religius.Hal ini mungkin dilakukan melalui integrasi kesehatan jiwa masyarakat di Puskesma.sakit.keperawatan jiwa merupakan suatu bidang spesialisasi praktek keperawatan yang menerapkan teori perilaku manusia sebagai ilmunya dan diri individu sendiri secara terapeutik sebagai seninya untuk meningkatkan .memulihkan kesehatan jiwa klien dan meningkatkan kesehatan mental masyarakat di mana klien berada.Jika tidak mungkin dipertahankan maka Puskesmas merujuk ke RS/RSJ.melainkan juga terhadap keempat aksis lainnya dengan menggunakan terapi medik (somatic) psikofarmaka.Dengan kata lain pelayanan secara terus menerus pada setiap keadaan klien yang mungkin berfluktuasi disepanjang rentang sehat .Hal ini dapat dicapai melalui proses komonikasi: 1)menerima dirinya sendiri. psikoterapi. 2. 2) memperbaiki hubungan interpersonal dan 3) mengusahakan klien dapat mandiri. PENGERTIAN DAN ISTILAH-ISTILAH 1. Menurut ANA.mendorong dicanangkannya pelayanan kesehatan jiwa masyarakat (Community based service) yaitu mempertahankan klien sedapat mungkin dimasyarakat.maka pendekatan terapinya akan lebih bersifat rasional. taraf berat Aksis 5 : Adaptasi (taraf buruk) Dengan penegakkan diagnosis Multi-Aksial seperti contoh di atas. Dampak negative dari perawatan di rumah sakit jiwa.

Integrasi dan ketanggapan emosional d.1992). 5.intelektual dan emosional seseorang secara oftimal sehingga ia mampu tumbuh dan beradaptasi dengan lingkungannya secara wajar dengan harkat martabat manusia.intelektual dan emosional sepanjang hal itu tidak bertentangn dengan kepentingan orang lain. Penguasaan lingkungan dan kompetisi sosial. Sikap positif terhadap diri sendiri b. Kesehatan jiwa adalah suatu kondiri yang memungkinkan perkembangan optimal bagi individu secara fisik. b. Ketiga rumusan tersebut menunjukkan pentingnya hubungan wajar antara manusia sebagai satu landasan pokok dalam kesehatan jiwa. Pertumbuhan. 6. Persepsi realitas yang akurat f.baik intelektual maupun emosional melalui pendekatan peningkatan kesehatan. Suatu masyarakat yang baik adalah masyarakat yang menjamin perkembangan oftimal sambil menanggung pula perkembangannya sendiri dan ada toleransi terhadap masyarakat lainnya.perkembangan dan aktualisasi diri c. c.UU tentang kesehatan. 4.berarti suatu kehidupan bersama pada taraf internasional. Otonomi dan kemantapan diri e. Suatu kewarga negaraan dunia.Upaya peningkatan kesehatan jiwa dilakukan untuk mewujudkan jiwa yang sehat secara oftimal. Kesehatan jiwa deselenggarakan untuk mewujudkan jiwa yang sehat secara oftimal baik intelektual maupun emosional (pasal 24.a. Sehat jiwa menurut Merie Yahoda: a.pencegahan dan . Sehat jiwa menurut Dirjen Keswa Depkes RI (1991) adalah kondisi yang memungkinkan berkembangnya fisik.

4) menyembunyikan kebenaran terhadap diri sendiri.agar seseorang dapat tetap atau kembali hidup secara harmonis. . Aktif. 3) melarikan diri dari keadaan sulit.dapat dikuatkan atau dilemahkan.penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. 2) menutup diri terhadap kesulitan-kesulitan hidup. Perilaku manusia selalu dipengaruhi faktor yang menimbulkan tekanan sosial. Kesadaran akan identitas pribadinya dan memiliki tujuan hidup b. Mau melihat kenyataan dan bersedia menyelesaikan masalah. Normal menurut Ilmu Kedokteran Jiwa a. Dapat menghadapi stress dan dapat bereaksi secara fleksibel dan rasional f.baik dalam lingkungan keluarga.lingkungan kerja dan atau dalam lingkungan masyarakat. Motivasi untuk merawat klien dengan masalah kesehatan jiwa: 1. Perilaku manusia selalu dapat diarahkan pada respon yang baru 3. g. 7. Dapat menerima batas-batas kesanggupan secara realistik e. Sadar akan otonomi dirinya/pribadinya c.produktif dan tekun dalam menyelesaikan tugas d. Gejala-gejala gangguan jiwa mungkin merupakan usaha untuk: 1) menghadapi kecemasan. Gangguan jiwa tidak pernah merusak seluruh kepribadian dan perilaku manusia 2. Dapat menikmati kegembiraan dari berbagai sumber.

Persiapan atau rencana pulang bertujuan untuk: a. f. Rencana tindakan keperawatan yang dilakukan selama klien dirawat: Pada awal klien di rawat. Menyiapkan klien dan keluarga secara fisik. Mengadakan pertemuan antar keluarga klien:diskusi. Menganjurkan kunjungan keluarga yang teratur.Untuk itu.mengidentifikasi kebutuhan dan masalahnya.melaksanakan alternative yang dipilih serta mengevaluasi hasilnya.mengatasi masalah klien.membagi pengalaman. Menjelaskan pola perilaku klien dan cara penanganannya c.Persiapan pulang dilakukan segera mungkin setelah dirawat serta diintegrasikan di dalam proses keperawatan.PERAWATAN KLIEN DI RUMAH SAKIT JIWA Rencana keperawatan klien di rumah sakit jiwa meliputi: 1.Tindakan keperawatan terhadap keluarga antara lain: a. Membantu keluarga berperilaku terapeutik. e. Menyertakan keluarga dalam rencana perawatan klien b.mencari alternative pemecahan masalah. 2.yang dapat menolong memecahkan masalah klien. Persiapan Pulang: Perawatan di rumah sakit akan bermakna jika dilajutkan dengan perawatan di rumah.perawat hendaknya melakukan kontrak hubungan dengan klien dan keluarga.Keluarga mengetahui peran dan tanggung jawabnya dalam proses keperawatan yang direncanakan melalui kontrak yang telah disepakati.Hubungan saling percaya antara perawat dan klien merupakan dasar utama untuk membantu klien mengungkapkan dan mengenal perasaannya. d.selama di rumah sakit perlu dilakukan persiapan pulang.psikologis dan sosial . Melakukan terapi .keluarga.

reedukasi. Integrasi kesehatan jiwa di Puskesmas sebaiknya mempunyai hubungan langsung dengan rumah sakit. Rujukan.bahkan kalau perlu masyarakat dipersiapkan. 3. Pendidikan (edukasi. c.identifikasi gejala kambuh.aturan makan obat.Kegiatan yang dilakukan klien dan keluarga di rumah dapat dibuat daftar dan dievaluasi keberhasilannya sebagai data untuk rencana berikut. Program pulang bertahap.Tujuannya adalah melatih klien kembali ke lingkungan keluarga dan masyarakat. Program pendidikan yang dapat dilakukan adalah: 1) Ketrampilan khusus: ADL.Perawat.Setelah klien mempunyai kemampuan dan ktrampilan mandiri maka klien dapat mengikuti program pulang bertahap.reorientasi). apa yang harus dilakukan keluarga untuk membantu adaptasi.keluarga. Beberapa tindakan keperawatan yang dapat dilakukan dalam persiapan pulang adalah: a. sebaiknya klien melakukan perawatan lanjutan pada Puskesmas di wilayahnya yang mempunyai program integrasi kesehatan jiwa. c. 2) Keterampilan umum: komunikasi efektif.Klien.pemecahan masalah.ekspresi emosi yang konstruktif.relaksasi.Pendidikan kesehatan ini ditujukan pula untuk mencegah atau menguraikan dampak gangguan jiwa bagi klien.Perawat komuniti (Puskesmas) sebaiknya mengetahui perkembangan klien di rumah sakit dan berperan serta dalam membuat rencana pulang.pengelolaan stress (stress management).perilaku adaptif.b.penataan rumah tangga. Melaksanakan proses pulang yang bertahap.Youssef menemukan penurunan angka kambuh pada klien dan keluarga yang mengikuti program pendidikan. Setelah klien pulang ke rumah. Meningkatkan kemandirian klien dan keluarga. Melaksanakan rentang perawatan antara rumah sakit dan masyarakat d. antara laian apa yang harus dilakukan klien di rumah.klien dan keluarga bekerja sama untuk membantu proses adaptasi . Rencana Perawatan di rumah. b.Perawat komuniti yang menangani klien dapat menganggap rumah klien sebagai “ruang perawatan”.

Perawat dapat membuat kontrak dengan keluarga tentang jadwal kunjungan rumah dan aftercare di Puskesmas.perawatan mandiri dan kemampuan memecahkan masalah.ditemani keluarga Bulan kedua : 2 kali per bulan. sendiri. . sendiri Selanjutnya : 1 kali per bulan. Perawat membantu klien dan keluarga menyesuaikan diri dilingkungan keluarga. diantar ke kendaraan Bulan ketiga : 2 kali per bulan.klien di dalam keluarga dan masyarakat. (Jadwal kunjungan rumah dan aftercare dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan klien). Contoh Jadwal Kunjungan Rumah: Minggu pertama : 2 kali per hari Minggu kedua : 1 kali per hari Minggu ketiga : 3 kali per minggu Minggu keempat : 2 kali per minggu Bulan kedua s/d 6 bulan : 1 kali per minggu Selanjutnya : 1 kali per bulan Contoh Jadwal Aftercare Bulan pertama : 2 kali per bulan.dalam hal sosialisasi.

Anti psikotik bila klien sukar dikendalikan kemauannya. Konseling keluarga 3.Bila klien dapat membahayakan dirinya dan orang lain.PENATALAKSANAAN GANGGUAN JIWA DI PUSKESMAS Perawat komuniti (Puskesmas) sebaiknya mengetahui perkembangan klien di rumah sakit dan berperan serta dalam membuat rencana pulang. 2. Terapi dalam psikiatri yang sering ditemukan di PKM dapat dibagi dalam : 1.ECT 2. Psikoterapi suportif 3. Somatoterapi 2. Terapi sosial dan tindakan lainnya (manipulasi lingkungan). Keagamaan/religious dan bila perlu rujuk ke RSJ Gangguan Neurosisa : Cemas : . Psikoterapi suportif/singkat 3. Keagamaan/ religius dan bila perlu rujuk ke RSJ Gangguan Kepribadian: 1.Anti psikotik. dan sebaliknya pada klien gangguan jiwa yang akan dirujuk ke RSJ. Penatalaksanaan gangguan jiwa di Puskesmas disesuaikan dengan jenis gangguan jiwa seperti: Gangguan Psikosis/Psikotik : 1.

d. Psikoterapi suportif c. Anti depresi b. Relaksasi. Relaksasi. Psokoterapi suportif dan konseling keluarga. Anti Axietas atau anti depresi tetapi terhadap penyakit fisiknya b. rekreasi dan olah raga d. RSJ atau RSKO bila perlu Reterdasi Mental : b. Bila perlu rujuk ke RSJ Depresi : a.rekreasi dan olah raga. Relaksasi. Anti Ansietas b. Psikoterapi suportif c. Psikoterapi Suportif c. Terapi simptomatik tergantung zat yang digunakan c. Rujuk ke RSU.rekreasi dan olah raga d. Bila perlu rujuk ke RSJ Psikosomati: a. Anti psikotik untuk mengatasi tingkah lakunya .Bila perlu rujuk ke RSJ Ketergantungan Alkohol/obat (gangguan penggunaan zat) b.a.

c.perhatian dan kasih sayan pada kondisi-kondisi:ganguan tidur. Bila perlu rujuk ke RSJ Terapi farmakologik dilakukan dengan menggunakan obat-obat yang tersedia di Puskesmas atau bila perlu diresepkan untuk beli di apotik luar.masalah makan.pertemuan konsultasi kesehatan jiwa yang diselenggarakan secara berkala.menyenangkan.Bila perlu Psiko terapi/konseling lebih lanjut. Gangguan Keshatan Jiwa anak Remaja: b.stimulasi (Matelfenidat)untuk gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif. Anti psikotik atau kondisi-kondisi: Psikosis. Anti Depresan untuk kondisi-kondisi: gangguan afektif.Peningkatan pengetahuan dan keterampilan dapat dilakukan pada seminar.c.kesempatan menyalurkan keinginan/dorongan dalam dirinya. Epilepsi a. Kalau perlu rujuk ke RSJ untuk pemerikasaan dan evaluasi lebih lanjut.gangguan gerak streotipi. Konseling keluarga d.sediakan waktu tersendiri. Berikan perasaan aman/tenang.menolak pergi sekolah d. SLB e. Psikoterapi suportif c.masalah ketakutan.agresif. Anti epiliptika b. Bila perlu rujuk ke RSJ .

maka gangguan yang terjadi pada salah stu anggota dapat mempengaruhi seluruh system.FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN JIWA DI MASYARAKAT Keluarga merupakan unit yang paling dekat dengan klien.dan merupakan “ perawat utama” bagi klien. Dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa salah satu faktor penyebab kambuh gangguan jiwa adalah keluarga yang tidak tahu cara menangani perilaku klien di rumah ( Keliet.Semua ini merupakan persiapan individu untuk berperan dimasyarakat. Peran serta keluarga sejak awal asuhan keperaatan di rumah sakit akan meningkatkan kemampuan keluarga merawat klien di rumah sehingga kemungkinan kambuh dapat dicegah.Sebaliknya disfungsi keluarga dapat pula merupakan salah satu penyebab terjadinya gangguan pada anggota. menanggulangi berbagai masalah dan mempertahankan keadaan adaftif.1996). Berbagai pelayanan kesehatan jiwa bukan tempat klien seumur hidup tetapi hanya fasilitas yang membantu klien dan keluarga mengembangkan kemampuan dalam mencegah terjadinya masalah. Pertama.sikap dan perilaku. . keluarga merupakan tempat dimana individu memulai hubungan interpersonal dengan lingkungannya.keyakinan.Individu menguji coba perilakunya di dalam keluarga. 4.Keluarga merupakan “institusi” pendidikan utama bagi individu untuk belajar dan mengembangkan nilai.Keberhasilan perawat di rumah sakit dapat sia-sia jika tidak diteruskan di rumah yang kemudian mengakibatkan klien harus dirawat kembali (kambuh). Keluarga berperan dalam menentukan cara atau asuhan yang diperlukan klien di rumah. Pentingnya peran serta keluarga dalam perawatan klien gangguan jiwa dapat dipandang dari berbagai segi: 1. 3. dan umpan balik keluarga mempengaruhi individu dalam mengadopsi perilaku tertentu. Jika keluarga dipandang sebagai suatu system. 2.

Balai latihan kerja (BLK).Penyaluran tenaga kerja klien dapat dilakukan melalui kerja sama dengan departemen tenaga kerja.keluarga dan masyarakat dapat mengungkapkan masalah.group home. 6.peran serta keluarga dalam proses pemulihan dan pencegahan kambuh kembali klien gangguan jiwa sangat diperlukan. Hot line service : Pelayanan gratis melalui telepon. Half Way House: Fasilitas perumahan yang dapat digunakan klien sebagai tempat tinggal peralihan dari rumah sakit ke keluarga perlu pula dikembangkan. Penanggung jawab utama pelayanan kesehatan jiwa di masyarakat adalah unit Integrasi kesehatan jiwa di Puskesmas.misalnya klien yang ingin bunuh diri. 7.atau kelompok masyarakat tertentu yang berminat dalam kesehatan jiwa merupakan system . Sistem Pendukung: Persatuan keluarga klien dan klien. Oleh karena itu.swasta.klinik krisis.Pelayanan ini diperlukan pada keadaan darurat. persatuan orang tua dan teman klien.Dari keempat pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa keluarga berperan penting dalam peristiwa terjadinya gangguan jiwa dan proses penyesuaian kembali setiap klien. dan teman klien.klien amuk.atau sukarela.sehingga setiap saat keuarga memerlukan dapat segera dilayani tanpa perlu langsung dirawat di rumah sakit jiwa. 9.Klien. Dalam rencana pulang.mendapat informasi yang diperlukan tanpa memberitahu identitas.Fasilitas ini perlu dibantu oleh unit pelayanan yang lain dapat berupa pemerintah.Petugas di klinik krisis dapat menentukan apakah klien perlu dirawat di rumah sakit atau cukup mendapat perawatan rumah yang intensif. identifikasi fasilitas BLK yang ada di daerah tempat tinggal klien telah dilakukan sehingga rujukan dapat dilaksankan.half way house .hot line servce. 8. Program latihan kerja yang telah dilakukan klien di rumah sakit prlu dilanjutkan setelah klien pulang ke rumah.seperti: latihan kerja.Petugas di perumahan ini hanya sebagai motivator dan fasilitator. Klinik krisis: Pelayanan 24 jam diperlukan untuk segera memberikan pelayanan pada keadaan kritis. 5.

Semua pelayanan dan asuhan dilaksanakan secara terpadu dengan berbagai disiplin lain dalam tim kesehatan jiwa.psikiater.terapis okupasi. Selain itu kelompok dapat mengadakan pertemuan ilmiah baik untuk keluarga klien maupun masyarakat luas.perawat. sosial.psikolog.Tukar pengalaman dalam merawat klien merupakan proses belajar yang baik yang dapat diselenggarakan kelompok. Kelompok dapat membuat pertemuan yang teratur.pekerja masyarakat.mendiskusikan masalah yang dihadapi klien serta mencari pemecahan yang terbaik.keluarga dan .pendukung klien. dokter.

Selain tanda dan gejala tersebut. 5. pada pasien dengan harga diri rendah dapat diamati dari penampilan seseorang tampak kurang memperhatikan perawatan diri. Perasaan tidak mampu. Tanda dan Gejala Harga Diri Rendah Tanda dan gejala dari harga diri antara lain: 1. selera makan menurun. berpakaian tidak rapi. 2007). Penolakan terhadap kemampuan diri. C. D. Pandangan hidup yang pesimis Penurunan produktivitas. beberapa tindakan keperawatan yang dapat di lakukan baik pada pasien dan keluarganya antara lain sebagai berikut: . B. Diagnosa Keperawatan Berdasarkan tanda dan gejala yang didapat melalui observasi. wawancara atau pemeriksaan fisik bahkan melalui sumber sekunder. maka dapat dirumuskan diagnose keperawatan gangguan konsep diri: harga diri rendah. tidak berani menatap lawan bicara. 4. Pengertian Harga Diri Rendah Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga. Tindakan Keperawatan Setelah menegakan diagnosa keperawatan. Mengkritik diri sendiri. dan bicara lambat dengan nada suara lemah.TINJAUAN TEORI A. tidak berarti dan renah diri yang berkepanjangan akibat evaluasi negarif terhadap diri sendiri dan kemampuan diri (Keliat dkk. 3. Harga diri juga dapat didefinisikan sebagai kondisi menolak dirinya sebagai sesuatu yang berharga dan tidak dapat bertanggungjawab pada kehidupannya sendiri. 2. lebih banyak menunduk.

Identifikasi kemampuan dan aspek positif yang masih dimiliki pasien. Tindakan keperawatan pada pasien Tujuan keperawatan 1) 2) 3) 4) 5) Pasien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki. a. b) Beri pujian yang realistic dan hindarkan penilaian yang negatif Bantu pasien menilai kemampuan yang dapat digunakan dengan cara-cara berikut: a) Diskusikan dengan pasien mengenai kemampuannya yang masih dapat dilakukan saat b) c) Bantu pasien menyebutkannya dan beri penguatan terhadap kemampuan diri yang b. 3) . Bantu pasien untuk memilih kegiatan yang dapat pasien lakukan dengan mandiri atau dengan bantuan minimal. dengan melakukan hal-hal berikut ini: a) Diskusikan tentang sejumlah kemampuan dan aspek positif yang dimiliki pasien seperti kegiatan pasien di rumah sakit. Perlihatkan respon yang kondusif dan upayakan menjadi pendengar yang aktif. Pasien dapat melakukan kegiatan yang sudah dilatih sesuai jadwal. Pasien dapat memilih kegiatan sesuai dengan kemampuan. Untik membantu pasien mengungkapkan kemampuan dan aspek positif yang masih dimilikinya. Tindakan keperawatan 1) 2) ini. Latih kemampuan yang dipilih pasien dengan cara berikut: Diskusikan dengan pasien langkah-langkah pelaksanaan keiatan. dan di rumah. Membantu pasien untuk memilih atau menetapkan kemempuan yang akan dilatih. adanya keluarga dan lingkungan terdekat pasien. Berikan dukungan dan pujian pada setiap kegiatan yang dapat dilakukan pasien. Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut: a) b) 4) a) b) c) Diskusikan dengan pasien kegiatan yang akan diplih sebagai kegiatan yang akan pasien lakukan sehari-hari.1. Pasien dapat melatih kegiatan yang dipilih sesuai dengan kemampuan. peragakan kegiatan yang di tetapkan. diungkapkan pasien. Pasien dapat menilai kemempuan yang dapat dilakukan. Bersama pasien.

Jelaskan kepada keluarga tentang harga diri rendah yang dialami pasien Diskusikan dengan keluarga mengenai kemampuan yang imiliki pasien dan puji pasien atas kemampuannya. Tindakan keperawatan pada keluarga a.5) Bantu pasien menyusun jadwal pelaksanaan kemampuan yang dilatih. 2. a) b) c) d) Beri kesempatan kepada pasien untuk mencoba kegiatan yang telah dilatih. Keluarga dapat memotivasi pasien untuk melaksanakan kegiatan yang sudah dilatih dan memberikan pujian atas keberhasilan pasien. Sesi 1. Keluarga mampu menilai perkembangan perubahan kemampuan pasien. . Susun jadwal untuk melaksanakan kegiatan yang telah dilatih. 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) Tujuan keperawatan Keluarga dapat membantu pasien mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki pasien Keluarga dapat memfasilitasi pelaksanaan kemampuan yang masih dimiliki pasien. Bantu keluarga menyusun rencana kegiatan pasien dirumah. Beri pujian atas kegiatan yang dapat dilakukan pasien setiap hari. e) Berikan pasien kesempatan mengungkapkan perasaannya setelah pelaksanaan kegiatan. mengidentifikasi hal positif diri Sesi 2. Beri kesempatan kepada keluarga untuk mempraktekan cara merawat pasien harga diri rendah seperti yang telah di demonstrasikan sebelumnya. melatih positif pada diri. 1) 2) 3) 4) b. Tindakan keperawatan 3. Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien. Terapi aktivitas kelompok Terapi aktivitas kelompok untu k pasien harga diri rendah adalah terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi yang terdiri dari dua hal berikut: a. Jelaskan cara-cara merawat pasien harga diri rendah. b. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan tingkat toleransi dan perubahan setiap kegiatan. Demonstrasikan cara merawat pasien harga diri rendah.

. evaluasi dilakukan terhadap kemampuan pasien harga diri rendah dan keluarganya serta kemampuan perawat dalam merawat pasien harga diri rendah.E. Evaluasi Keperawatan Setelah tindakan keperawatan.

memandang dirinya tidak sebaik teman-temannya di sekolah.Data Inti (Core) a. Keamanan & transportasi c.PROSES KEPERAWATAN JIWA MASYARAKAT A. Diagnosa Keperawatan Harga diri rendah situasional pada remaja di kelurahan Patimuan berhubungan dengan Gangguan gambaran diri yang dimanifestasikan dengan Akibat dimarahi dan diperlakukan kasar sama orang tua. 3) Riwayat trauma 4) Konflik b. : takut yang berlebihan : penganiayaan . Demografi 1) Vital statistik 2) Agama 3) Budaya 2. Komunikasi g. Petugas di jalan raya d. Riwayat 1) Usia penderita: a) Anak b) Orang tua : 15 – 20 tahun : 32 tahun 2) Jenis ganguan jiwa yang pernah diderita: gangguan konsep diri: harga diri rendah. Rekreasi B. Data Delapan subsistem a. Lingkungan fisik b. Pengkajian Keperawatan 1. Ekonomi h. Pelayanan umum dan kesehatan f. Politik & pemerintahan e.

Tidak terjadi Kekerasan pada remaja Remaja tidak lagi takut dengan orangtuanya. d. 2. c. . e. Kedekatan orang tua dan remaja menjadi lebih baik. Tujuan Jangka Panjang Koping komunitas di kelurahan Patimuan menjadi efektif dalam menjalani masalah. Tujuan Jangka Pendek Orangtua dapat mengatasi Stres. Percaya Diri pada remaja meningkat. a. b. Perencanan 1.C.

Jakarta :Salemba Medika. Buu Saku Keperawatan Jiwa Edis . 2005.blogspot.DAFTAR PUSTAKA Nita Fitria.html . 2002. Gail W. Buku Saku Keperawatn Jiwa Edisi 5. Jakarta : EGC Stuart.Prinsip Dasar dan Aplikasi penulisan Laporan Pendahuluan dan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (LP dan SP ) untuk 7 Diagnosis Keperawatan Jiwa Berat Bagi Program S-1 Keperawatan. Sundeen. 2002.com/2012/06/asuhan-keperawatan-komunitas-jiwa.html http://blogilmukeperawatan. Jakarta : EGC http://ramlankaper. Jakarta : EGC Stuart.blogspot. dkk. Gail W dan Sandra J. Susilawati.2012. Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa.com/2010/02/askep-psikososial-pada-pasien-dengan.

Tugas Keperawatan Jiwa Asuhan Keperawatan Jiwa Masyarakat Di Susun Oleh: Kelompok 7 Nama : Apriani Tetelepta Juliana Talakua Wisalpie Titihalawa Wenses Lethulur YAYASAN MALUKU HUSADA SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MALUKU HUSADA PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN PROGRAM KHUSUS / B 2013 .

atas berkat dan rahmat serta hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan salah satu tugas “ Asuhan Keperawatan Jiwa Masyarakat “ pada mata Kulia Keperawatan Jiwa. Tugas ini berisikan tentang Lapoaran Pendahuluan dan Asuhan Keperawatan Jiwa masyarakat dengan masalah Harga Diri Rendah.Kes.Kep..S. Penyusunan tugas ini masih jauh dari sempurna.KATA PENGANTAR Puji dan syukur Kami panjatkan Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa.S. Terima kasih disampaikan kepada N..KAINAMA. Masohi Mei 2013 Penyusun .M.. Akhir kata semoga tugas ini dapat bermanfaat dan dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.Kep selaku dosen mata kuliah Keperawatan Jiwa yang telah memberikan tugas ini untuk di buat sehingga menambah wawasan dan ilmu pengetahuan. dan Ns.USMAN OHORELLA.. untuk itu saran dan masukan yang membangun sangat diharapkan untuk perbaikan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful