Sejarah munculnya ilmu kalam

Secara detail kita dapat mengungkapkan faktor – faktor munculnya ilmu kalam yaitu : 1. Faktor Internal Faktor internal yaitu yang berasal dari umat Islam itu sendiri, yang dapat diklasifikasikan menjadi 2 yaitu a. Alquran Alquran mendorong manusia untuk mempunyai ilmu pengetahuan, melakukan penelitian mengenai fenomena alam, juga mengangkat kedudukan orang berilmu. b. Politik Peristiwa politik berawal dari fitnah kubra stelah terbunuhnya Utsman bin Affan yang melahirkan konflik politik yang merembet kedalam persoalan akidah. Hal ini dikarenakan karena masing – masing pihak menjustifikasi kelompoknya dengan argumentasi teologis. Ini dapat dibuktikan dalam kasus pengkafiran Khawarij kepada Ali bin Abi Thalib ra dan Mu’awiyah akibat kasus politik yang menyangkut isu tahkhim (pengambilan keputusan) yang keduanya dikatakan oleh Khawarij tidak berhukum kepada Allah SWT melainkan kepada manusia. 2. Faktor Eksternal Faktor – faktor eksternal ini ada karena adanya pengaruh futuhat (penaklukan) yang dilakukan oleh kaum muslimin terhadap wilayah romawi, Persia, dan India yang merupakan tempat lahir dan berkembangnya filsafat serta agama – agama non Islam antara lain seperti Maijusi, Yahudi, Nasrani, Sabilah, dan sebagainya. Juga karena factor penerjemahan filsafat kedalam bahasa Arab.

Sejarah Lahirnya aliran-aliran ilmu kalam
A. QADARIYAH 1. Latar Belakang dan Sejarah Perkembangan Aliran Qadariyah Qadariyah berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata yang artinya kemampuan dan kekuatan. Secara terminologi, qadariyah adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diintervensi oleh Tuhan . Aliran ini berpendapat bahwa tiap-tiap orang adalah pencipta bagi segala perbuatannya, ia dapat berbuat sesuatu atau meninggalkannya atas kehendaknya sendiri. Berdasarkan pengertian diatas, dapat dipahami bahwa qadariyah dipakai untuk nama suatu aliran yang memberi penekanan atas kebebasan dan kekuatan manusia dalam mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Harun Nasution menegaskan bahwa kaum qadariyah berasal dari pengertian bahwa manusia mempunyai qudrah atau kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya, dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk pada qadar Tuhan . Seharusnya, sebutan Qadariyah diberikan kepada aliran yang berpendapat bahwa qadar menentukan segala tingkah laku manusia, baik yang bagus maupun yang jahat. Namun sebutan tersebut telah melekat pada kaum sunni, yang percaya bahwa manusia mempunyai kebebasan berkehendak . Menurut Ahmad Amin dalam Rosihon Anwar, sebutan ini diberikan kepada para

Sementara itu Ibnu Nabatah dalam kitabnya Syarh Al-Uyun. sebagaimana dikatan Muhammad Ibnu Syu’ib yang memperoleh informasi dari Al-Auzai. menerangkan bahwa ia adalah tabi’in yang dapat dipercaya. 2. ada banyak kesulitan untuk menentukannya. memberi informasi lain bahwa yang pertama sekali memunculkan faham qadariyah adalah orang Irak yang semula beragama Kristen kemudian masuk Islam dan balik lagi ke agama Kristen. Berkaitan dengan persoalan pertama kalinya qadariyah muncul. 1. meskipun kebanyakan mengatakan bahwa terbunuhnya karena soal zindik. Para peneliti sebelumnya pun belum sepakat mengenai hal ini karena penganut qadariyah ketika itu banyak sekali. tantangan dari pemerintah. Sehingga ketika faham qadariyah dikembangkan. Tampaknya disini ia dibunuh karena soal politik. mereka merasa diri mereka lemah dan tidak mampu menghadapi kesukaran hidup yang ditimbulkan oleh alam sekelilingnya. ada beberapa ahli teologi Islam yang menghubungkan faham qadariyah ini dengan kaum Khawarij. karena para pejabat pemerintahan menganut faham jabariyah. Hadits tersebut berbunyi: artinya: “Kaum Qadariyah adalah majusinya umat ini. Faham ini mendapat tantangan keras dari umat Islam ketika itu. Sebagian terdapat di Irak dengan bukti bahwa gerakan ini terjadi pada pengajian Hasan Al-Basri. Pemahaman mereka (kaum khawarij) tentang konsep iman. pengakuan hati dan amal dapat menimbulkan kesadaran bahwa manusia mampu sepenuhnya memilih dan menentukan tindakannya sendiri. Namun. Ma’bad Al-Jauhani Menurut Al-Zahabi dalam kitabnya Mizan al-I’tidal. bahwa tokoh yang pertama kali memunculkan faham qadariyah dalam Islam adalah Ma’bad Al-Jauhani dan temannya Ghailan Al-Dimasyqy. Lalu ia dibunuh oleh al-Hajjaj karena ia memberontak bersama Ibnu al-Asy’as. Menurut Ahmad Amin seperti dikutip Abuddin Nata. berpendapat bahwa faham qadariyah pertama sekali dimunculkan oleh Ma’bad Al-Jauhani dan Ghailan Ad-Dimasyqy . yang dikutip Ahmad Amin dalam Sirajuddin Zar. mereka tidak dapat menerimanya karena dianggap bertentangan dengan Islam.pengikut faham qadar oleh lawan mereka dengan merujuk hadits yang menimbulkan kesan negatif bagi nama Qadariyah . Dari orang inilah Ma’bad dan Ghailan mengambil faham ini . karena masyarakat Arab sebelum Islam kelihatannya dipengaruhi oleh faham fatalis. adalah Susan. Kehidupan bangsa Arab ketika itu serba sederhana dan jauh dari pengetahuan. Pemerintah menganggap faham qadariyah sebagai suatu usaha menyebarkan faham dinamis dan daya kritis rakyat. Tokoh dan Ajaran dalam Aliran Qadariyah Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya reaksi keras ini. diduga disebabkan oleh pengaruh orang-orang Kristen yang banyak dipekerjakan di istana-istana khalifah. seperti pendapat Harun Nasution. Kedua. yang pada gilirannya mampu mengkritik kebijakan-kebijakan mereka yang dianggap tidak sesuai dan bahkan dapat menggulingkan mereka dari tahta kerajaan. Orang Irak yang dimaksud. Sebagian lain berpendapat bahwa faham ini muncul di Damaskus. tidak dapat diketahui secara pasti. tetapi ia memberikan contoh yang tidak baik dan mengatakan tentang qadar. pertama. Ma’bad Al-Jauhani . Tentang kapan munculnya faham Qadariyah dalam Islam.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya. diantaranya adalah: Dalam surat al-Ra’d ayat 11. nama qadariyah adalah sebutan bagi kaum yang mengingkari qadar. Ghailan Ibnu Muslim Al-Damasyqy Sepeninggal Ma’bad. dan banyak penduduk Basrah yang mengikuti alirannya . aliran qadariyah sangat menekankan posisi manusia yang amat menentukan dalam gerak laku dan perbuatannya. Manusia dinilai mempunyai kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya sendiri atau untuk tidak melaksanakan kehendaknya itu. Allah berfirman: . Sebelum dijatuhi hukuman bunuh diadakan perdebatan antara Ghailan dan al-Awza’i yang dihadiri oleh Hisyam sendiri . Ia akhirnya mati dihukum bunuh oleh Hisyam ‘Abd al-Malik (724-743). maka beban itu adalah sia-sia. terlepas apakah faham qadariyah itu dipengaruhi oleh faham dari luar atau tidak. Dalam menentukan keputusan yang menyangkut perbuatannya sendiri. Ia pernah taubat terhadap pengertian faham qadariyahnya dihadapan Umar Ibnu Abdul Aziz. menurut Harun Nasution. Dalam ajarannya. Nama qadariyah bukan berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk pada qadar Tuhan . Dalam surat Fushshilat ayat 40. namun setelah Umar wafat ia kembali lagi dengan mazhabnya . tanpa ada campur tangan Tuhan. 2. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaanyang ada pada diri mereka sendiri”. Penjelasan yang menyatakan bahwa manusia mempunyai qudrah lebih lanjut dijelaskan oleh ‘Ali Musthafha al-Ghurabi antara lain menyatakan bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan manusia dan menjadikan baginya kekuatan agar dapat melaksanakan apa yang dibebankan oleh Tuhan kepadanya. Dengan demikin dapat disimpulkan bahwa faham qadariyah telah meletakkan manusia pada posisi merdeka dalam menentukan tingkah laku dan kehendaknya.pernah belajar kepada Hasan Al-Bashri. karena jika Allah memberi beban kepada manusia. manusialah yang menentukan. yang jelas di dalam Al-Quran dapat dijumpai ayat-ayat yang dapat menimbulkan faham qadariyah sebagaimana disebutkan diatas . maka semua itu adalah atas pilihannya sendiri. Ghailan Ibnu Muslim al-dimasyqy yang dikenal juga dengan Abu Marwan. namun Ia tidak memberikan kekuatan. Selanjutnya. Jika manusia berbuat baik maka hal itu adalah atas kehendak dan kemauannya sendiri serta berdasarkan kemerdekaan dan kebebasan memilih yang ia miliki. atau diberi siksaan di neraka. yang mendustakan bahwa segala sesuatu sudah ditakdirkan oleh Allah. Oleh karena itu jika seseorang diberi ganjaran yang baik berupa surga di akhirat. sedangkan kesia-siaan itu bagi Allah adalah suatu hal yang tidak boleh terjadi . Menurut Khairuddin al-Zarkali dalam Sirajuddin Zar menjelaskan bahwa Ghailan adalah seorang penulis yang pada masa mudanya pernah menjadi pengikut Al-Haris Ibnu Sa’id yang dikenal sebagai pendusta.

Harun Nasution menjelaskan bahwa dalam situasi demikian masyarakat Arab tidak melihat jalan untuk mengubah keadaan di sekeliling mereka sesuai dengan kehidupan yang diinginkan. Ia adalah sekretaris Suraih bin Al-Haris dan selalu . Dengan kata lain adalah manusia mengerjakan perbuatan dalam keadaan terpaksa (majbur) . tapi yang tumbuh hanya rumput yang kering dan beberapa pohon kuat untuk menghadapi panasnya musim serta keringnya udara. Latar Belakang dan Sejarah Perkembangan Aliran Jabariyah Secara bahasa jabariyah berasal dari kata yang mengandung pengertian memaksa. Faham ini pertama kali diperkenalkan oleh Ja’d bin Dirham kemudian disebarkan oleh Jahm bin Shafwan dari Khurasan. Pendapat lain mengatakan bahwa paham ini diduga telah muncul sejak sebelum agama Islam datang ke masyarakat Arab. Ketika itu para ulama membicarakan tentang masalah qadar dan kekuasaan manusia ketika berhadapan dengan kekuasaan mutlak Tuhan . Di tengah bumi yang disinari terik matahari dengan air yang sangat sedikit dan udara yang panas ternyata tidak dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya pepohonan dan suburnya tanaman. B. Di sini manusia tidak mempunyai kebebasan dalam berbuat karena tidak memiliki kemampuan. Dalam surat al-Kahfi ayat 29. Di dalam kamus Al-Munjid dijelaskan bahwa nama jabariyah berasal dari kata jabara yang mengandung arti memaksa dan mengharuskannya melakukan sesuatu. Artinya mereka banyak bergantung pada alam. Jahm tercatat sebagai tokoh yang mendirikan aliran jahmiyah dalam kalangan Murji’ah. dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir”. JABARIYAH 1. Maksudnya adalah bahwa setiap perbuatan yang dikerjakan manusia tidak berdasarkan kehendak manusia. Abu Zahra menuturkan bahwa faham ini muncul sejak zaman sahabat dan masa bani Umayyah. Dengan demikian faham qadariyah memiliki dasar yang kuat dalam Islam. Sedangkan secara istilah. Mereka merasa lemah dalam menghadapi kesukaran-kesukaran hidup. Allah berfirman: “Katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman. sehingga menyebabkan mereka menganut faham fanatisme .“Perbuatlah apa yang kamu kehendaki. jabariyah adalah menolak adanya perbuatan dari manusia dan menyandarkan semua perbuatan kepada Allah. Ada yang mengistilahkan bahwa jabariyah adalah aliran manusia menjadi wayang dan Tuhan sebagai dalangnya . namun diciptakan oleh Tuhan dan dengan kehendak-Nya. Menurut Harun Nasution jabariyah adalah faham yang menyebutkan bahwa segala perbuatan manusia telah ditentukan oleh qadha dan qadar Allah. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan”. dan tidaklah beralasan jika ada sebagian orang menilai faham ini sesat atau keluar dari Islam. Adapun mengenai latar belakang lahirnya aliran jabariyah tidak ada penjelasan yang jelas. Kehidupan bangsa Arab yang diliputi oleh gurun pasir sahara telah memberikan pengaruh besar dalam cara hidup mereka. Dalam sejarah teologi Islam.

Namun. Nabi melarang mereka untuk memperdebatkan persoalan tersebut. Sebenarnya benih-benih faham jabariyah juga dapat dilihat dalam beberapa peristiwa sejarah diantaranya: 1. yakni oleh kedua tokoh yang telah disebutkan diatas. jabariyah sebagai suatu pola pikir atau aliran yang dianut. gugur pula janji dan dan ancaman Allah. Orang itu bertanya apabila (perjalanan menuju perang Siffin) itu terjadi dengan qadha dan qadar Tuhan. Adanya bibit pengaruh faham jabariyah yang telah muncul dari pemahaman terhadap ajaran Islam itu sendiri. Bani Umayah menolaknya. Kemudian Ali menjelaskannya bahwa qadha dan qadar Tuhan bukanlah sebuah paksaan. Ada sebuah pandangan mengatakan bahwa aliran jabariyah muncul karena ada pengaruh dari pemikiran asing yaitu pengaruh agama Yahudi bermazhab qurra dan dar agama Kristen bermazhab yacobit. ia seorang da’i yang fasih dan lincah (orator). Tokoh dan Ajaran dalam Aliran Jabariyah Seperti yang telah disinggung sebelumnya. agar terhindar dari kekeliruan penafsiran tentang ayat-ayat Tuhan mengenai takdir. Paparan diatas menjelaskan bahwa. dan bertempat tinggal di Khuffah. 2. Sekiranya qadha dan qadar itu merupakan paksaan. tetapi setelah tampak pikiran-pikirannya yang kontroversial. 1. 2.menemaninya dalam gerakan melawan Bani Umayah. Ia menjabat sebagai sekretaris Harits bin Surais seorang mawali yang menentang pemerintahan Bani Umayah di Khurasan. Suatu ketika Nabi menjumpai sahabatnya yang sedang bertengkar dalam masalah takdir Tuhan. 2. Ia dibesarkan di dalam lingkungan orang Kristen yang senang membicarakan teologi. 4. Jahm Ibnu Shafwan Nama lengkapnya adalah Abu Mahrus Jaham bin Shafwan. Ia dibunuh karena masalah politik dan tidak ada kaiatannya dengan agama . baru terjadi pada masa pemerintahan Daulah Bani Umayah. tidak ada pahala sebagai balasannya. bibit faham jabariyah telah muncul sejak awal periode Islam. dan tidak ada pujian bagi orang yang baik dan tidak ada celaan bagi orang berbuat dosa. tinggal di Damaskus. Ia ditawan dalam pemberontakan dan dibunuh pada tahun 128H. Kemudia Al-Ja’d lari ke Kufah dan disana ia bertemu dengan Jahm untuk dikembangkan dan disebarluaskan . Ia termasuk Maulana Bani Rasib. . juga seorang tabi’in berasal dari Khurasan. Al-Ja’d bin Dirham Ja’d adalah seorang Maulana Bani Hakim. Ketika Ali bin Abu Thalib ditanya tentang qadar Tuhan dalam kaitannya dengan siksa dan pahala. dipelajari dan dikembangkan. Ketika diinterogasi pencuri itu berkata “Tuhan telah menentukan aku mencuri” mendengar itu Umar memberikan dua jenis hukuman kepada orang itu yaitu hukuman potong tangan dan hukuman dera karena menggunakan dalil takdir Tuhan. 3. bahwa yang pertama kali memperkenalkan faham jabariyah adalah Ja’d bin Dirham dan Jahm bin Shafwan. Khalifah Umar bin al-Khattab pernah menangkap seorang pencuri. maka tidak ada pahala dengan siksa. Semula ia dipercaya untuk mengajar di lingkungan Bani Umayah.

Yang termasuk tokoh jabariyah moderat adalah sebagai berikut: 1) An-Najjar Nama lengkapnya adalah Husain bin Muhammad An-Najjar. Begitu pula Tuhan tidak dapat dilihat dengan indera mata di akhirat kelak. Di antara ajaran jabariyah ekstrim adalah pendapatnya bahwa segala perbuatan manusia bukan merupakan perbuatan yang timbul dari kemauannya sendiri. 2. Berbeda dengan jabariyah ekstrim. Di antara pendapat-pendapatnya adalah: 1. dia baru.Jabariyah dapat dikelompokkan menjadi dua bagian. mendengar c. d. Sesuatu yang baru itu tidak dapat disifatkan Allah b. Itulah yang disebut kasab. Akan tetapi an-Najjar mengatakan bahwa Tuhan dapat saja memindahkan potensi hati (ma’rifat) pada mata. yaitu ekstrim dan moderat. Pendapatnya mengenai persoalan teologi adalah sebagai berikut: a. Dalam hal ini. tetapi manusia memperoleh perbuatan yang diciptakan Tuhan . Tuhan menciptakan segala perbuatan manusia. Manusia tidak mampu untuk berbuat apa-apa. baik perbuatan jahat maupun perbuatan baik. Menurut faham kasab. tetapi perbuatannya yang dipaksakan atas dirinya. b. Surge dan neraka tidak kekal. Tetapi manusia mempunyai bagian di dalamnya. c. Tidak ada yang kekal selain Tuhan. . tetapi manusia mengambil bagian atau peran dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan itu. Ajaran pokok Ja’d bin Dirham secara umum sama dengan pikiran Jahm. Tuhan tidak dapat dilihat di akhirat. Sebagai penganut dan penyebar faham jabariyah. Oleh karena itu. Al-Qur’an itu adalah makhluk. Ia juga berpendapat bahwa hujjah yang dapat diterima setelah Nabi adalah Ijtihad. Kalam Tuhan adalah makhluk Allah mahasuci dari segala sifat dan keserupaan dengan manusia seperti berbicara. melihat. manusia tidaklah majbur (dipaksa oleh Tuhan). Al-Ghuraby menjelaskannya sebagai berikut: a. Allah tidak mempunyai sifat yang serupa dengan makhluk seperti berbicara. mendengar dan melihat. ia tidak mempunyai daya. tidak mempunyai kehendak sendiri dan tidak mempunyai pilihan. Manusia terpaksa oleh Allah dalam segala-galanya . Inilah yang dimaksud dengan kasab . jabariyah moderat mengatakan bahwa Tuhan memang menciptakan perbuatan manusia. sehingga manusia dapat melihat Tuhan 2) Adh-Dhirar Dhirar mengatakan bahwa Tuhan dapat dilihat di akhirat melalui indera ke enam. Iman adalah ma’rifat atau membenarkan dalam hati. Hadits ahad tidak dapat dijadikan sumber dalam menetapkan hukum. Tenaga yang diciptakan dalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatannya. banyak usaha yang dilakukan Jahm yang tersebar keberbagai tempat. pendapatnya dengan konsep Iman yang dimajukan kaum Murji’ah. seperti ke Tirmidz dan Balk . tidak seperti wayang yang dikendalikan oleh dalang dan tidak pula menjadi pencipta perbuatan.

Terlepas dari perbedaan pendapat tentang awal lahirnya aliran ini. Dalam surat Al-Anfal ayat 17. sebab Tuhan telah lebih dahulu menentukan segala-galanya. kecuali jika Allah menghendaki”. Allah berfirman: “Mereka tidak akan beriman. dalam al-Qur’an sendiri banyak terdapat ayat-ayat yang melatar belakangi lahirnya faham jabariyah di antaranya: Dalam surat Ash-Shaffat ayat 96. . Allah berfirman: “Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar. Seluruh tindakan dan perbuatan manusia tidak boleh lepas dari aturan dan skenario serta kehendak Tuhan. Dalam surat Al-An’am ayat 111. Mungkin inilah yang menyebabkan pola pikir jabariyah masih tetap ada di kalangan umat Islam hingga kini walaupun anjurannya telah tiada. Ayat-ayat diatas terkesan membawa seseorang pada alam pikiran jabariyah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa. orang akan mendapat pahala dengan usaha dan ikhtiarnya. Jadi. Sementara Ahlussunnah menetapkan usaha dan ikhtiar bagi manusia dan Allah yang menentukan. terikat dengan kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan.Adapun golongan jabariyah mengatakan bahwa tidak ada ikhtiar bagi manusia. tak berdaya. juga sebaliknya ia akan mendapat dosa oleh sebab usaha dan ikhtiarnya. tetapi Allah-lah yang melempar”. manusia dalam paham jabariyah adalah sangat lemah. Allah berfirman: “Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful