TINJAUAN INTEGRATIF STUDI DIFUSI INOVASI TEKNOLOGI PENDIDIKAN DI SEKOLAH Oleh: Suyantiningsih ABSTRACT Our educational systems nowadays

are facing inordinate difficulties in trying to meet the needs of a changing and increasingly technological society. However, there are many uncertainties related to the benefits of technology utilisation and development and the changes that the adoption of technology necessitates, such as demand for technical and non-technical supports, pedagogical and instructional issues, instuctional management issues, and teacher professional development. This article discusses three components of diffussion innovation in general concept. The first component includes characteristics of the innovation itself. A second component involves the characteristics of innovators (actors) that influence the probability of adoption of an innovation. The third component involves characteristics of the environmental context that modulate diffusion via structural characteristics of the modern world. These latter characteristics incorporate four sets of variables: geographical settings, societal culture, political conditions, and global uniformity. This article also presents a diverse set of literature in the area of "adoption" of educational technology in schools. Some questions related to how innovation research help explain the adoption process in schools and how does the school context influence the change facilitation and implementation process will be answered in this article. A diffusion model will be presented to provide a snapshot of utilization of computer technology and telecommunications in schools. By combining the contextual factors, concerns about the innovation, and the individual stage of innovation-decision, the results will be a holistic view of the overall diffusion process. Keywords: Diffusion, Innovation, Computer Technology, Educational Technology, Change in Schools Pendahuluan Perkembangan teknologi sudah seharusnya terjadi di sekolah dan institusi pendidikan dan menjadi bagian dari agenda perubahan jika kita akan mempersiapkan peserta didik dalam

persaingan global. Gerakan reformasi pendidikan telah berupaya untuk mendorong terjadinya perubahan yang terjadi dalam praktek-praktek pedagogis tradisional. Seiring dengan perjalanan waktu pula, para praktisi pendidikan dan pemerintah juga sudah menyadari signifikansi dan efektivitas teknologi pendidikan dalam membangun tujuan-tujuan baru yang lebih inovatif dan mengimplementasikan metode-metode pedagogis yang inovatif pula. See (1994: 30) menyatakan bahwa teknologi saat ini telah berhasil merubah manusia dalam hal mengakses, mengumpulkan, menganalisis, mentransmisi, dan mensimulasikan informasi. Beberapa praktisi pendidikan bahkan meyakini bahwa jaringan komputer dan komunikasi dapat dipergunakan secara produktif untuk mendukung dan mensukseskan reformasi pendidikan. Teknologiteknologi informasi yang baru dapat memberikan kekuatan dan energi bagi para guru dan siswa di kelas. Perkembangan ilmu yang sangat pesat di bidang telekomunikasi, pemrosesan informasi, dan diseminasi teknologi adalah merupakan bentuk nyata eksistensi dari akselerasi pemerolehan dan pencapaian pengetahuan baru. Namun demikian, perlu disadari pula bahwa sistem pendidikan kita saat ini tengah menghadapi kendala-kendala yang cukup besar dalam upaya memenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat kita akan teknologi yang senantiasa berkembang dan berubah. Selain itu, ketersediaan technical support, permasalahan-permasalahan yang berhubungan dengan manajemen instruksional dan pedagogis, pengembangan profesionalisme guru, infrastruktur jaringan, dan biaya seluruh komponen yang terlibat dalam pengadaan dan pemeliharaan, juga berkontribusi terhadap lambannya implementasi inovasi dan reformasi pendidikan. Oleh karena itu, ada beberapa pertanyaan yang perlu dicari jawabannya, yakni: Dengan adanya akselerasi ilmu pengetahuan dan akses terhadap informasi yang sedemikian cepat, bagaimana kita dapat memposisikan dan memanfaatkan teknologi pendidikan secara efektif dan efisien?; Bagaimana kita dapat mengelola guru, proses pembelajaran, teknologi, dan manajemen institusional sesuai dengan kapasitas masng-masing?; Model apa yang bisa dipergunakan dan diintegrasikan untuk mengahadapi proses perubahan, difusi inovasi, dan adopsi teknologi informasi (komputer) di sekolah? Artikel ini akan membahas mengenai tiga komponen utama difusi inovasi, yakni karakteristik inovasi, karakteristik innovator dan karakteristik konteks environmental yang dapat memodulasi difusi melalui karakteristik struktural sesuai dengan perkembangan teknologi modern. Artikel ini juga akan mendeskripsikan area adopsi teknologi pendidikan di sekolah, teknologi komputer dan telekomunikasi pendidikan, termasuk faktor-faktor apa saja yang melekat dan mempengaruhi

inovasi pendidikan. Sebuah model difusi inovasi berbasis teoretis juga akan diformulasikan sebagai hasil dari kombinasi berbagai literatur yang telah dideskripsikan. Tiga Komponen Utama Difusi Inovasi Pendidikan Rogers (1995: 11) mendefinisikan sebuah inovasi sebagai “gagasan, praktek, atau obyek yang dianggap baru, baik oleh individu maupun kelompok untuk diadopsi”. Sedangkan difusi adalah “proses dimana inovasi dikomunikasikan melalui saluran-saluran tertentu antar anggota sistem social” (Rogers, 1995: 10). Proses inovasi merupakan suatu proses dimana individu atau kelompok bergerak mulai dari penerimaan gagasan inovasi ke pembentukan sikap terhadap inovasi tersebut, berlanjut kepada pengambilan keputusan untuk mengadopsi atau menolak, mengimplementasikan gagasan baru dan mengkonfirmasi keputusan yang telah diambil. Proses inovasi terdiri dari serangkaian tindakan dan pilihan dan melalui tahap-tahap sebagai berikut: 1) pengetahuan – memperkenalkan eksistensi inovasi beserta fungsinya; 2) persuasi – pembentukan sikap terhadap inovasi; 3) keputusan – keterlibatan secara aktif di dalam aktivitas-aktivitas yang mengarah kepada pilihan untuk mengadopsi atau menolak inovasi; 4) implementasi – menerapkan inovasi; and 5) konfirmasi – mencari dukungan atau penguatan terhadap keputusan inovasi yang telah dibuat (baik penerimaan ataupun penolakan inovasi). Selain tahap-tahap tersebut, ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses inovasi, yakni kondisi-kondisi awal, karakteristik individu atau masyarakat, karakteristik inovasi, dan saluran komunikasinya. Ilmu Sosiologi sudah lama tertarik dengan faktor-faktor yang mempengaruhi penyebaran inovasi lintas kelompok, komunitas, masyarakat, dan negara. Dengan fenomena globlalisasi mutakhir, yang ditandai dengan sistem komunikasi yang semakin efisien dan ketergantungan global dalam bidang ekonomi, bisnis, marketing, bahasa dan kebudayaan, minat sosiologi terhadap inovasi lebih difokuskan lagi pada area difusi. Difusi inovasi merujuk pada penyebaran gagasan-gagasan dan konsep abstrak, informasi teknis, dan praktek-praktek aktual dalam suatu sistem sosial, dimana penyebarannya mengindikasikan adanya aliran atau gerakan dari sumber inovasi ke pihak adaptor, melalui saluran komunikasi dan persuasi. Selain itu, proses-proses adopsi memiliki derajat perbedaan yang bervariasi baik individu maupun entitas kelompok sehingga berimplikasi pula kepada perbedaan sifat proses adopsi. Ada tiga variabel utama atau komponen difusi yakni: 1) karakteristik inovasi; 2) karakteristik inovator; dan 3) konteks lingkungan (environmental context). Ketiga komponen utama difusi tersebut masing-masing akan dideskripsikan secara lebih mendetail sebagai berikut ini:

Perbedaan tersebut terutama terletak pada mekanisme interaksi antara sumber inovasi dengan adopter akibat dari proses difusi yang memang sudah berbeda dari sejak awal. Konteks Lingkungan. konsekuensi public versus private dan benefits versus costs. misalnya ilkim. Sedangkan benefits versus costs terkait dengan variabel biaya baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung. terutama ketika biaya proses adopsi melampaui jumlah biaya yang dimiliki oleh adopter. Karakteristik Inovator. tergantung pada dampak atau efek-efek inovasi yang dihasilkan. ada dua aspek budaya atau kultur yang dapat mempengaruhi laju adopsi inovasi. Kedua. norma. posisi jaringan sosial. oleh karenanya keberhasilan sebuah transmisi inovasi (proses difusi) sangat tergantung pada kemampuan mereka untuk beradaptasi dengan lingkungan baru ketika memasuki dan selama proses difusi berlangsung (Ormrod. tingkat familiaritas atau seberapa dalam pengetahuan yang dimiliki adaptor terhadap inovasi tersebut. bahasa. karaktersitik status. dan karaktersitik personal. derajat homogenitas kultural dapat . namun prosedur penyaluran informasi dari sumber ke adopter berbeda-beda. tradisionalisme kultural. serta resikoresiko yang berhubungan dengan adopsi sebuah inovasi. yakni setting geografis. merupakan spektrum variabel yang lebih luas. merupakan karakteristik khusus yang memodulasikan proses difusi. dan komunitas desa dan perkotaan. agama. Konsekuensi public versus private merujuk pada dampak adopsi inovasi pada kelompok tertentu dan bukan pada aktor inovasi. misalnya sistem kepercayaan (nilai. ideologi). 1990). Satu hal yang menarik untuk digarisbawahi adalah. Keenam variabel tersebut adalah entitas sosial inovator. Meskipun kedua tipe inovasi berdampak pada perubahanperubahan yang bersifat sosial. homogenitas kultural. karaktersitik sosial dan ekonomi. Pertama. cuaca. terdiri dari enam variabel yang berkontribusi terhadap keberhasilan adopsi inovasi. Kultur sosial. tingginya derajat tradisionalisme kultural yang sering diasosiasikan dengan apatisme masyarakat dalam mengadopsi gagasan-gagasan baru yang dapat berdampak negatif pada proses adopsi inovasi. Konteks environmental terdiri dari empat elemen. merupakan elemen fundamental dalam teori adopsi inovasi yaitu suatu pengakuan bahwa inovasi bukan merupakan sesuatu yang independen dari konteks lingkungannya melainkan berkembang dalam konteks kultural dan ekologi yang spesifik. dan sosialisasi aktor-aktor individu (pelaku inovasi).Karakteristik Inovasi. merupakan elemen yang dapat mempengaruhi proses adopsi dengan cara mengintervensi aplikabilitas inovasi terhadap infrastruktur ekologi adopter. terdiri dari dua komponen yakni. Pembiayaan inovasi seringkali menjadi faktor penghambat proses adopsi.

yang dikarakterisasikan dengan perkembangan kelompok dalam proses kohesif evolusi. perilaku. Efek yang kedua berkenaan dengan eksistensi informasi media yang berinteraksi dengan pelaku inovasi yang secara aktif menyeleksi informasi dan mentransmisikannya ke seluruh jaringan sosial. Tinjauan tentang Difusi Inovasi Teknologi Pendidikan di Sekolah Penelitian mengenai difusi inovasi dapat ditemukan di sejumlah bidang studi. Proses adopsi inovasi dengan demikian melibatkan komunikasi media yang memungkinkan terjadinya interaksi positif dan aktif baik dengan jaringan interpersonal maupun organisasi. diantaranya antropologi. besar (baik fisik maupun networking-nya) serta dipimpin oleh seseorang yang memiliki orientasi kearah perubahan (change-oriented leaders). Kondisi politik yang demikian tersebut berimplikasi pada terhambatnya atau tertundanya proses adopsi inovasi. Kondisi politik. pendidikan. persepsi. Keseragaman global juga diperoleh melalui dua efek media adopsi inovasi yang berbeda. komunikasi. Banyak penelitian yang mengindikasikan bahwa sekolah yang memiliki kecenderungan besar untuk mengadopsi suatu inovasi adalah sekolah yang kaya. sosiologi. Efek publisitas media yang pertama adalah terjadinya diseminasi informasi mengenai seluk beluk inovasi yang akan dikenakan kepada adopter. Menurut Arbena (1988) institusionalisasi dan teknologi global berperan penting dalam proses difusi karena dapat memberi stimulasi dan mempercepat proses adopsi. dan geografi. berhubungan dengan refleksi pandangan dunia kontemporer sebagai salah satu komunitas kultural. Di bidang pendidikan itu sendiri. 1991). dan perasaan yang dialami oleh individu yang terlibat dalam proses perubahan tersebut. berhubungan dengan dampak kondisi politik pada adopsi inovasi yang paling banyak dipengaruhi oleh karakter sistem politik dan juga regulasi serta norma-norma yang berkembang dalam sistem hukum yang secara tidak langsung turut mengendalikan perilaku aktor atau pelaku inovasi. . kesehatan. Perubahan tersebut juga harus melibatkan pengalaman menyeluruh dan pengembangan keterampilan yang berkala serta mutakhir terhadap penggunaan inovasi. Media tersebut secara langsung bertindak sebagai saluran komunikasi utama dalam proses difusi yang akan atau sedang berjalan. beberapa ahli menekankan pada hubungan antara karaktersitik struktur sekolah atau lingkungan dengan adopsi inovasi. Perubahan itu sendiri lebih merupakan sebuah proses dibandingkan suatu event dan harus diuji dengan berbagai macam motivasi.mempengaruhi proses adopsi inovasi karena dapat meningkatkan derajat ekuivalensi struktural antara transmitter dengan adopter (Takada & Jain. Keseragaman global.

ekonomi. perhatian tersebut kemudian berubah menjadi lebih intensif pada area manajemen atau task concerns. yakni keuntungan relatif (relative advantage). triabilitas (trialability). merupakan panggilan alam bahwa restrukturisasi pendidikan sudah sangat urgen untuk dilakukan.Pada awal proses perubahan. Fakta-fakta tersebut merepresentasikan laju adopsi yang cukup mengesankan. adopsi difusi inovasi telah diteliti secara komprehensif pada beberapa konteks yang cukup bervariasi dengan mempergunakan kerangka konseptual yang cukup ampuh untuk membantu para praktisi pendidikan dalam memahami invasi mikro-komputer dengan lebih baik. 1994). dan observabilitas (observability). Lima karakteristik inovasi dari Rogers (1983). politik. industri maupun institusi lainnya. namun demikian sekolah tidak mengimbanginya dengan perubahan struktur organisasi dasar mereka. Hal ini didukung dengan diakuinya bahwa mikro-komputer memiliki keuntungan ekonomi relatif. Selama lebih dari tiga dekade terakhir telah ditandai dengan perubahan yang cukup ekstrim dalam bidang sosial. Selain itu. individu yang bertipikal "non-user" sangat memperhatikan hal-hal yang bersifat kesadaran diri atau self concerns (Kesadaran. Informasi. 1981) telah memaksa kita untuk memasuki era informasi post-industrial dimana perubahan secara kontinyu akan terus terjadi di semua level masyarakat. Adanya pengakuan bahwa kurikulum dan metodologi yang telah diimplementasikan di masa lalu sudah tidak sesuai lagi untuk diaplikasikan pada saat sekarang ini. yang memiliki kecenderungan semakin user friendly dan kompatibel. Sejak pertengahan tahun 1980-an. Non-user juga lebih memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan pemerolehan informasi tentang inovasi dan bagaimana perubahan akibat dari dampak inovasi tersebut bisa merubah mereka secara personal. Mengapa? Menurut Huff (1987). maupun industri rumah tangga. semakin ringan dan portable. mikro-komputer telah menginvasi hampir seluruh perusahaan. sekolah. dan dapat dipakai dengan menggunakan program-program tutorial serta memiliki layar grafis yang elegan yang dapat menarik perhatian para adopter potensial. Komputer dan teknologi multimedia akan membentuk dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses restrukturisasi tersebut (Stinson. kompatibilitas (compatibility). dapat dipergunakan untuk membantu menjelaskan laju adopsi komputer di sekolah. dan Personal). era "third wave" (Toffler. kompleksitas (complexity). dapat dieksperimentasikan secara personal. Seiring dengan mulai terbiasanya mereka dengan berjalannya program maupun inovasi baru. serta teknologi. .

bagi sekolah yang berkeinginan kuat untuk maju. Restrukturisasi juga melibatkan perubahan-perubahan tentang bagaimana sebuah sekolah itu diorganisasikan. Pemanfaatan dan eksperimentasi teknologi pendidikan oleh guru sangat membantu mereka dalam mengemban dan menjalankan berbagai tugas-tugas akademik mereka secara lebih cepat. dan bahkan pihak-pihak di luar zona sekolah. terutama dalam aspek bagaimana cara guru mengajar. Selain itu. selain berorientasi pada peningkatan hasil belajar siswa. mengakomodasi gaya-gaya belajar individual. pendidikan multikultural. pembimbing. dengan cara membawa berbagai macam variasi sumber-sumber belajar di kelas. 1994). Telekomunikasi juga dapat meruntuhkan dinding-dinding isolasi yang menghambat profesionalisme guru dan memberi peluang seluas-luasnya bagi guru untuk berkomunikasi dengan kolega.Merestrukturisasi sekolah melibatkan perubahan yang mendalam dan kontinyu. orang tua. keterampilan komunikasi. ahli-ahli pendidikan. mentor. advisor. memotivasi peserta didik. cara siswa belajar. pelatih. meningkatkan daya ekspresi diri (self-expression) dan belajar aktif (active learning). sumber dan pengelola teknologi. dan peserta didik dalam pengaturan dan manajemen sekolah. guru yang berperan sebagai pemimpin atau pioner dalam telekomunikasi maupun teknologi lainnya harus mampu mendemonstrasikan bagaimana teknologi tersebut dapat dijadikan sebagai medium untuk pengembangan profesionalisme guru baik formal maupun informal secara kontinyu dan berkesinambungan. dan cara guru mengevaluasi hasil belajar siswa. dan motivasi peserta didik. Teknologi-teknologi komputer telah berhasil mengubah peran guru dari pemberi informasi ke peran fasilitator. Restrukturisasi juga turut mendefinisikan apa yang sebenarnya terjadi di dalam kelas. dan mediator bagi para peserta didiknya (Lee & Reigeluth. orang tua. administrator. co-learner. komunitas sekolah. menyediakan alat pembelajaran yang baru. konselor. pembelajaran kooperatif (cooperative learning). mudah dan efektif. guru yang berorientasi pada pemanfaatan teknologi juga mampu mengekspresikan antusiasme dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Dengan demikian. . Beberapa reorganisasi tersebut membutuhkan redefinisi tentang peran guru. dan bahkan meredefinisikan peran guru. Dengan demikian. guru harus tidak resisten terhadap perubahan. Hal ini diperkuat dengan pendapat Barron and Orwig (1993) bahwa keuntungan teknologi pendidikan diantaranya adalah kemampuan menyampaikan pesan pembelajaran secara multisensori (multisensory delivery).

Faktor terakhir. retensi dan proses pembelajaran. motivasi siswa. melainkan juga bagaimana cara mengintegrasikan teknologi tersebut ke dalam kurikulum. dan Endurance (Eksistensi atau kontinuitas). dan evaluasi. yakni evaluasi berhubungan dengan apa yang disebut dengan tiga E oleh Anandam dan Terence Kelly (1981). . Pengembangan profesionalisme juga akan lebih efektif ketika proses pengembangan tersebut mampu memotivasi guru untuk berpartisipasi aktif dalam proses pengembangan profesionalisme diri mereka dibandingkan hanya menyuplai guru dengan seperangkat informasi atau pelatihan. sehingga dengan demikian antara perangkat keras (hardware).Namun demikian. 1999). komunikasi. Extensiveness merujuk pada tingkat penggunaan teknologi dalam pendidikan. Tujuannya adalah bukan hanya untuk mengajarkan mereka bagaimana cara menggunakan perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software). pengembangan staf dinilai bersifat imperatif terhadap integrasi teknologi di sekolah. melainkan juga pengetahuan bagaimana inovasi teknologi pendidikan dapat menjadi bagian penting dalam repertoire cara mengajar mereka. Faktor lain yang turut berpengaruh terhadap keberhasilan dan kegagalan inovasi adalah kompatibilitas. yakni Extensiveness (Ekstensivitas). perangkat lunak (software) dan pengembangan profesionalisme akan tercipta hubungan yang bersifat interdependen atau interdependent relationship (Scheffler & Logan. sedangkan endurance berkenaan dengan kontinuitas inovasi. Sedangkan komunikasi memainkan peran kunci dalam mengatasi kendala resistensi terhadap inovasi dan mereduksi ketidakpastian akibat kurangnya komunikasi yang intensif. effectiveness berhubungan dengan peningkatan kepuasan manusia (human satisfaction). sebagai tiga fase evaluasi dalam proses difusi inovasi yang berhubungan dengan teknologi pendidikan. Memastikan bahwa inovasi yang akan diadopsi dan didifusikan kompatibel dengan filosofi dan misi sekolah dan disetujui oleh dewan sekolah adalah merupakan sesuatu hal yang bersifat imperatif atau sangat urgen. Meskipun guru secara otomatis akan mencari tahu dan belajar tentang teknologi dan metode instruksional baru. Praktek-praktek pelatihan guru ( inservice training) harus bisa memodelkan bagaimana menggunakan teknologi dalam proses belajar mengajar. namun pada kenyataannya guru yang kurang percaya diri untuk mengintegrasikan inovasi ke dalam program instruksional mereka cenderung akan mengabaikan proses pengembangan profesionalismenya. Effectiveness (Efektivitas). Guru tidak hanya harus memiliki pengalaman pelatihan penggunaan teknologi semata.

bagaimanakah cara mengkompilasikan faktor-faktor tersebut untuk memvisualisasikan apa yang sebenarnya terjadi di sekolah? Untuk mengintegrasikan informasi tentang proses difusi dan perhatian individu. kepercayaan. norma. persuasi. Anderson & Becker. Model Difusi Inovasi Teknologi Pendidikan: Sebuah Alternatif Perubahan sekolah pada dasarnya bersifat sangat kompleks. implementasi. dengan demikian. pelatih internal. Sedangkan faktor-faktor lain yang berdampak pada proses implementasi perubahan. dan konfirmasi). tugas.Selanjutnya. dan dampak). namun mereka tidak menyadari keberadaan komputer dan teknologi pendidikan sebagai katalis perubahan. dan nilai-nilai yang berhubungan dengan kultur sekolah. dan tujuan atau visi bersama yang dikombinasikan untuk menciptakan kultur yang mendukung terjadinya inovasi. yakni peran kepala sekolah dan pihak-pihak lain yang membantu guru mengintegrasikan teknologi ke dalam praktek pembelajaran di sekolah. Guru yang telah mengadopsi praktek-praktek mengajar yang bersifat progresif cenderung merasa bahwa komputer dan teknologi pendidikan telah membantu mereka dalam mengarungi proses perubahan. keputusan. Ada beberapa faktor kontekstual yang berdampak pada proses fasilitasi perubahan. Model ini memberikan sebuah gambaran ringkas mengenai difusi teknologi komputer dan telekomunikasi. menengah dan tinggi. guru sebagai pengguna teknologi pendidikan dalam level rendah. kolegialitas. melainkan melakukan refleksi terhadap pengalaman dan konteks ataupun kultur sekolah. Dooley (1995) telah mengembangkan sebuah model yang mengkombinasikan antara faktor-faktor kontekstual dengan tahap-tahap dalam proses pengambilan keputusan yang berasal dari perspektif kepala sekolah. 1999). perilaku. diantaranya adalah peran guru pada berbagai level kompetensi teknis dan tahap dimana individu berada dalam proses keputusan inovasi (pengetahuan. Norma-norma yang dimaksud adalah norma yang dapat memfasilitasi peningkatan performa sekolah seperti misalnya introspeksi. timbul pertanyaan penting bagaimanakah dampak perubahan fasilitasi dan proses implementasi difusi inovasi teknologi pendidikan terhadap konteks sekolah? Setiap sekolah memiliki baik konteks maupun kultur unik tersendiri. Purkey dan Smith (1983) menyatakan bahwa perubahan yang terjadi di sekolah berimplikasi pada berubahnya sikap. serta sebuah grafik yang merepresentasikan persentase perhatian (berupa diri. Model tersebut membentuk lingkaran . Selanjutnya. pelatih eksternal. bagi guru yang mengimplementasikan penggunaan teknologi pendidikan dengan pendekatan yang konstruktivist (constructivist manner). mereka harus memiliki kesempatan untuk mengkonstruk pengetahuan pedagogis dalam iklim yang suportif (Dexter.

Model Difusi Inovasi . dan batas tengah atau pusat merepresentasikan level difusi yang rendah. penyelenggara pelatihan tentang teknologi pendidikan dan telekomunikasi serta teknologi komputer harus memiliki kemampuan untuk menginfusikan model keputusan inovasi yang dikemukakan oleh Rogers. Selain itu. Model ini mewakili berbagai perspektif dengan tujuan untuk memvisualisasikan progresivitas individu melalui tahap-tahap difusi yang dikemukakan oleh Rogers.untuk merepresentasikan keseluruhan konteks sekolah. Gambar model yang dimaksud. bisa divisualisasikan sebagai berikut: Gambar 1. Model ini mengindikasikan bahwa difusi teknologi komputer dan telekomunikasi sangat tergantung pada kemauan fasilitator ataupun agen perubahan untuk memahami dan berkolaborasi dengan guru dalam mengembangkan program-program pelatihan dan in-service programs untuk memenuhi kebutuhan mereka. dimana batas terluar mengindikasikan level difusi yang lebih tinggi. terutama dalam hal implementasi dan konfirmasi atau tahap diantara kedua proses tersebut.

Sedangkan individu. perlengkapan dan infrastruktur lainnya. negara-negara industrial telah beranjak menjadi masyarakat informasi ( Information Societies). Meskipun difusi teknologi komputer dan telekomunikasi serta teknologi pendidikan lainnya sangat tergantung kepada visi dan kepemimpinan fasilitator perubahan. Sekolah pada dasarnya berjalan dibawah kepemimpinan seorang kepala sekolah dan dibantu oleh personel pendukung lainnya dimana pihak-pihak inilah yang berperan sebagai fasilitator perubahan yang bertugas dan bertanggung jawab untuk menyediakan dana (grants). Teknologi-teknologi maju dan berkembang telah menciptakan revolusi komunikasi yang cukup signifikan. Dari model tersebut terlihat pula bahwa terdapat hubungan antara faktor-faktor internal dan eksternal yang menjadi bagian dari konteks sekolah. telah menjadi partisipan aktif dalam proses perubahan ke arah revolusi telekomunikasi tersebut. melalui teknologi komputer dan teknologi pendidikan. pengguna teknologi pendidikan. Penggunaan teknologi pendidikan termasuk media telekomunikasi dan komputer merupakan salah satu bentuk inovasi di sekolah dimana media tersebut termasuk di dalam area media interaktif yang dapat memberi dampak positif pada kehidupan intelektual. Rogers (1995) lebih memperkuat argumen tersebut dengan menyatakan bahwa . Penutup Infusi faktor-faktor utama dan faktor pendukung keterlaksanaan difusi inovasi pada hakekatnya memerlukan suatu pendekatan yang sistemik dan holistik dimana infusi keseluruhan faktor tersebut harus disinergikan secara efektif dan efisien dalam upaya memfasilitasi dan mengimplementasikan perubahan. komputer maupun telekomunikasi yang berlevel rendah lebih dekat ke titik tengah atau diameter dari lingkaran tersebut. namun sesungguhnya guru lah yang memegang peran paling penting dalam membawa dampak signifikan terhadap penggunaan teknologi pendidikan di dalam kelas.Menurut model di atas. keberhasilan proses difusi sangat tergantung pada pengetahuan sifat inovasi dan juga adopter sasaran serta konteks sosio-organisasional mereka. Aspek "human" atau manusia merupakan human capital yang sangat signifikan berkenaan dengan pentingnya mereka dalam memahami teknologi komunikasi dan penggunaan sistem media teknologi mutakhir untuk berbagai kepentingan. Saat ini. Selain itu. terutama kepentingan pembelajaran oleh guru dan siswa serta komunitas sekolah pada umumnya. serta melatih guru. sedangkan pengguna level tinggi berada lebih dekat dengan lingkaran terluar. serta sosial para penggunanya. karena implementasi perubahan ataupun penerimaan perubahan bagaimanapun juga tidak dapat dipisahkan dari penerimaan guru terhadap inovasi yang didifusikan. organisasional.

H. The diffusion of computer technology and telecommunications: A comparative case study of middle schools in the Texas Education Collaborative . Journal of Educational Technology Systems. New York: Free. Educational Technology. . 280-291. Sport and Society in Latin America: Diffusion. 31 (3). Barron. peserta didik. Cross-National Analysis of Diffusion of Durable Goods in Pacific rim Countries. M. J (1999). J. The Elementary School Journal. Rogers EM. CT: Greenwood. S. (1981).bidang teknologi komunikasi dengan berbagai implikasinya bagi para peneliti. J. (1987). S. (1993). 61-72.. Takada H. New York. Reinventing high school. 83 (4). L. 13 (4). 7-9. 34 (1). & Orwig. (1995). I. Dooley. A. E. CO: Libraries Dexter. 54: 48 – 54. C. Stinson. Evaluating the use of technology in education.. The third wave. & Becker. (1983). and Rise of Mass Culture. Toffler. Huff. TX: Texas A&M University. Local Context and Innovation Diffusion in a Well-Connected World. Anadam. Jain D. S. Daftar Pustaka Arbena JL. & Smith. 4th edition. J. Teachers’ views of computers as catalysts for changes in their teaching practice. L. Business Quarterly. Market. K. 10 (1). 66: 109 – 22 Parr. Journal of Research on Computing in Education. G. Summer. (1995). 31 (3). Dependency. (1994). A. (1981). Journal of Research on Computing in Education. J. (1999). (1994). Englewood. R. W. 20-25. Wesport. College Station. & Reigeluth. Diffusion and Innovations. Purkey. (1990). Computing as innovation. Empowering teachers for new roles in a new educational system. C. E. (1991). T. K. dan praktisi pendidikan akan memberi dampak pada pertumbuhan pertukaran informasi mutakhir. M. 21-31. Extending educational computing: A case of extensive teacher development and support. Ormord RK. (1988). M. Unpublished dissertation. & Kelly. Economics Geographic Journal. S. Electronic Learning. Effective schools: A review. NY: Bantam Books. 427-452. E. 221-239. Anderson. New technologies for education . Lee.

Mei 2011. atas semangat dan kemauan rekanrekan mahasiswa yang telah membantu memberikan saran dan do’a dalam penyelesaian makalah ini. bahwa banyak kelemahan dan kekurangan dalam penyusunan makalah ini. disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Difusi dan Inovasi Pembelajaran dengan kode sandi MTP .. Cianjur. Sigit Wibowo selaku dosen mata kuliah ini yang telah meyakinkan saya bahwa inovasi itu adalah tantangan sekaligus energi untuk belajar terus dan terus. Last but not least.. untuk kesempurnaan penyusunan makalah selanjutnya. Oleh karena itu. bahkan the most important thing. Penulis DAFTAR ISI . baik dalam fungsi perencanaan. saya ucapkan terima kasih serta penghargaan yang setinggi-tingginya kepada bapak Dr. Rasa syukur saya panjatkan pula kepada Allah SWT.. mohon saran dan kritik dari para pembaca. Pembelajaran sebagai suatu konsep pedagogik secara teknis dapat diartikan sebagai upaya sistematik dan sistemik untuk menciptakan lingkungan belajar yang potensial menghasilkan proses belajar yang bermuara pada berkembangnya potensi individu sebagai peserta didik. Saya menyadari. Pendidik yang memiliki komitmen tinggi terhadap profesinya ditunjukan oleh penguasaan terhadap aspek-aspek pembelajaran. pengembangan dan pelaksanaan maupun pelaporan hasil pembelajaran secara akuntable kepada masyarakat.555.KATA PENGANTAR Makalah berjudul “Hakikat Difusi & Inovasi Pembelajaran (Latar Belakang Kehadiran Inovasi dalam Pembelajaran)”..

........ 9 DAFTAR PUSTAKA................................................ Latar Belakang ......................................................................................................... ii BAB I PENDAHULUAN.................................... Difusi dan Inovasi Pembelajaran..................................................................................... 2 BAB II KAJIAN TEORI................................................................................ Latar Belakang....................................................... 3 B...................................................... 3 A................... 10 BAB I PENDAHULUAN A................................................................................................. Pembelajaran............................................................. 5 KESIMPULAN........................ 1 B............................................................................................ 1 A................................ i DAFTAR ISI............ Tujuan Penulisan...................................................Halaman KATA PENGANTAR... 3 BAB III BAB IV PEMBAHASAN...............................

Walaupun demikian perlu diingat bahwa tidak semua proses belajar konsekuensi dari pembelajaran. Untuk menjelajahi berbagai sisi dari pemikiran para pakar terkait tentang konsep pembelajaran dan inovasi dalam pembelajaran. Pembelajaran sebagai suatu konsep pedagogik secara teknis dapat diartikan sebagai upaya sistematik dan sistemik untuk menciptakan lingkungan belajar yang potensial menghasilkan proses belajar yang bermuara pada berkembangnya potensi individu sebagai peserta didik. dapat pula dikatakan bahwa akuntabilitas belajar bersifat internal-individual. adalah mampu melaksanakan tugas profesionalnya yaitu memahami bagaimana peserta didik belajar dan bagaimana mengorganisasikan proses pembelajaran yang mampu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak peserta didik. sebagai salah satu unsur pendidik. Untuk dapat memahami proses yang terjadi pada diri siswa. yang pada akhirnya seseorang itu berubah jadi rajin belajar. . B. Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan makalah ini adalah memperoleh dorongan dalam mengkaji secara kritis dan kreatif dalam implikasi operasional dari konsep pembelajaran dan inovasi pembelajaran yang selanjutnya diimplementasikan terhadap pembelajaran di sekolah. guru perlu melakukan inovasi dalam pembelajaran atau mengadopsi suatu hasil inovasi. Keterkaitan fungsional pembelajaran dengan belajar adalah bahwa pembelajaran sengaja dilakukan untuk menghasilkan belajar atau dengan kata lain belajar merupakan parameter pembelajaran. Misalnya seseorang berubah perilakunya yang cenderung malas belajar secara kebetulan teman dekatnya tidak naik kelas karena malas belajar. karena fungsi utama pembelajaran adalah memfasilitasi tumbuh dan berkembangnya belajar dalam diri peserta didik sesuai dengan tuntutan zaman. Oleh karena itu. sedangkan akuntabilitas pembelajaran bersifat publik. serta memahami tentang bagaimana siswa belajar. Secara proporsional penjelajahan terhadap pemikiran tersebut akan dipaparkan dalam makalah ini tentang : Konsep pembelajaran.Salah satu kemampuan yang harus dimiliki guru. Dan menerapkannya dalam kegiatan pembelajaran. konsep Difusi dan Inovasi serta Latar Belakang Kehadiran Inovasi dalam bidang Pembelajaran.

mendefinisikan difusi inovasi sebagai proses untuk mengkomunikasikan suatu inovasi kepada anggota suatu sistem sosial melalui saluran komunikasi tertentu dan berlangsung sepanjang waktu.. B.proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”. Dalam Pasal 1 butir 20 pembelajaran diartikan sebagai “. Oleh sebab itu. Secara sederhana istilah pembelajaran (instruction) adalah upaya untuk membelajarkan seseorang atau sekelompok orang melalui satu atau lebih strategi. Everett M. Pembelajaran Istilah pembelajaran sudah mulai dikenal luas dalam masyarakat. dan pendekatan tertentu ke arah pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Pembelajaran merupakan suatu kegiatan terencana untuk mengkondisikan seseorang atau sekelompok orang agar bisa belajar dengan baik. lebih-lebih setelah diundangkannya Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Difusi dan Inovasi Pembelajaran Inovasi termasuk inovasi pendidikan atau pembelajaran merupakan pemikiran cemerlang yang bercirikan hal baru ataupun berupa praktik-praktik tertentu ataupun berupa produk dari suatu hasil olah-pikir dan olah-teknologi yang diterapkan melalui tahapan tertentu yang diyakini dan dimaksudkan untuk memecahkan persoalan yang timbul dan memperbaiki suatu keadaan tertentu ataupun proses tertentu yang terjadi di masyarakat. Rogers (1983). metode.. .BAB II KAJIAN TEORI A. unsur utama pembelajaran adalah siswa bukan guru.. yang secara legal formal memberi pengertian tentang pembelajaran. “Diffusion is the process by which an inovation is communicated through certain cannels over time among the members of asocial system”.

mahasiswa. seperti pelajar. Perubahan sosial menjadi satu kebutuhan karena dengan memahami proses perubahan sosial serta sistem pengelolaannya akan dapat mengarahkan terjadinya perubahan sosial ke arah tujuan yang akan dicapai secara efektif. pimpinan agama. ibu-ibu rumah tangga. Teknologi berubah. Sementara itu. difusi inovasi pendidikan atau pembelajaran diartikan sebagai penyebarluasan dari gagasan inovasi pendidikan melalui suatu proses komunikasi yang dilakukan dengan menggunakan saluran tertentu dalam suatu rentang waktu tertentu di antara anggota sistem sosial masyarakat. ide.Oleh karena difusi adalah proses komunikasi untuk menyebarluaskan gagasan. tata nilai berubah. BAB III PEMBAHASAN Dalam sejarah manusia belum pernah terjadi begitu besar perubahan masyarakat terhadap perubahan sosial. Hal ini terbukti dengan adanya berbagai macam bentuk kegiatan sosial yang dilakukan oleh warga masyarakat. Dampak dari cepatnya perubahan sosial. sistem pendidikan berubah dan berubah pulalah berbagai macam pranata sosial yang lain. Dengan demikian difusi inovasi pendidikan atau pembelajaran adalah proses untuk mengkominukasikan suatu inovasi dalam bidang pendidikan atau pembelajaran kepada anggota suatu sistem sosial melalui saluran komunikasi tertentu dan berlangsung sepanjang waktu. pengusaha. pola tingkah laku berubah. ide. ataupun produk tersebut. Dengan kemajuan teknologi yang sangat cepat maka berubah dengan cepat pula berbagai bidang kehidupan. Pada hakikatnya setiap perubahan sosial itu bersifat . karya sebagai suatu produk inovasi maka aspek komunikasi menjadi sangat penting dalam menyebarluaskan gagasan. sarana kehidupan berubah. meningkatkan kepekaan dan kesadaraan warga masyarakat terhadap permasalahan sosial. seperti yang terjadi pada akhir abad ke-20 ini.

pembelajaran (instruction). namun juga sebagai fasilitator yang membantu siswa belajar. Paradigma ini menggali lebih dalam lagi seluruh aspek belajar. Dalam paradigma ini guru tidak hanya sebagai satu-satunya narasumber dan tidak hanya sebagai pengajar. yaitu paradigma pengajaran (teaching). Paradigma ketiga adalah proses belajar (learning). Sampai saat ini pendidikan kita telah melalui tiga paradigma. Paradigma pengajaran (teaching) dapat diartikan bahwa pendidikan atau pembelajaran hanya terjadi di sekolah. Revolusi pertama Masyarakat memberikan wewenang pendidikan terhadap orang tertentu (sufi) sehingga timbul profesi guru. tidak hanya proses belajar yang berada dalam lingkungan pendidikan formal tapi juga di lembaga nonformal. dimana sudah ada guru yang mengajar. Alat bantu mengajar yang digunakan oleh guru bersifat mendukung penjelasan guru. Tugas guru sebagai komunikator adalah mengolah pesan dan menentukan penyampaian agar pesan dapat diterima dengan baik oleh siswa. Penerapan pendekatan sistem yaitu guru sebagai subsistem berperan dalam merancang. sebagai proses komunikasi. Sementara Perkembangan pendidikan menurut Eric Ashby (1972) mengalami empat revolusi 1. adanya perubahan paradigma dalam pendidikan atau pembelajaran. hal 2). 2000. Guru sebagai satu-satunya narasumber yang akan mentransfer ilmu. Proses komunikasi dan pendekatan sistem mulai diterapkan pada paradigma ini. sedangkan siswa menyimak dan mengerjakan tugas yang diberikan guru. Media digunakan sebagai sumber belajar dan guru sebagai fasilitator. Perubahan sosial berdampak pula pada sistem pendidikan atau pembelajaran yaitu. alat bantu tersebut ditentukan oleh guru.kompleks dan relatif (Ibrahim. Revolusi ini mengakibatkan pergeseran pendidikan di rumah dan orang tua . hal 5) Kompleks artinya akan menyangkut berbagai bidang kehidupan dan relatif artinya dari satu sudut pandang yang menguntungkan tapi dari sudut pandang yang lain dapat merugikan. Paradigma kedua adalah paradigma pembelajaran (instuctional) paradigma ini lebih memberikan perhatian kepada siswa. mengelola dan menilai proses pembelajaran. guru berperan sebagai kominikator/pengirim pesan. guru berperan sebagai penyaji materi artinya guru menjelaskan materi kepada siswa. dan proses belajar (learning) (Dewi Salma P. Dalam proses pembelajaran.

Pertama kaum sufi mempersiapkan secara teliti terlebih dahulu sebelum mentransfer ilmu pengetahuan kepada masyarakat . seperti pembelajaran mandiri melalui internet. dimana pada saat pembelajaran dengan ceramah dan diskusi. Ada tiga cara yang dilakukan kaum sufi dalam menyebarkan ilmu pengetahuan. materi-materi yang diberikan. Kemajuan teknologi salah satunya adalah teknologi komunikasi yang menunjang proses belajar tanpa batas. Belajar mandiri merupakan . Revolusi ketiga Ditemukannya mesin cetak yang pada gilirannya menyebabkan banyaknya buku yang tersedia di sekolah. tetapi semua itu hanya dapat dilakukan melalui pendidikan. disesuaikan dengan keinginan masyarakat. Pada sekitar 500 tahun SM kita mengenal kaum sufi sebagai penjual ilmu pengetahuan. Revolusi kedua Dipakai bahasa tulisan di samping bahasa lisan dalam menyajikan pelajaran di sekolah. Pada revolusi ini telah dimanfaatkan teknologi modern software atau hardware dalam bidang pendidikan. Kedua.ke arah pendidikan formal di sekolah. Ketiga melakukan berbagai diskusi dengan masyarakat yang belajar. yaitu orang yang memberikan pelajaran dengan mendapatkan upah. Abad ke-21 merupakan abad kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi karena teknologi merupakan suatu keharusan dalam menghadapi era globasisasi. Revolusi ke empat Teknologi modern dalam bidang komunikasi dengan produk yang berupa peralatan elektronika dan bahan (software) yang disajikan telah mempengaruhi seluruh sektor kehidupan termasuk pendidikan. 4. 3. Revolusi ketiga ini awal digunakannya buku-buku sebagai sumber ilmu pengetahuan. Revolusi kedua ini berkembang dengan adanya bahasa tulisan dalam menyajikan pelajaran. Revolusi kedua merupakan perkembangan revolusi pertama. 2. Perkembangan pendidikan semakin maju pesat di abad ke 21. Kaum Sufi berpendapat bahwa semua orang mempunyai potensi untuk berkembang dan sama-sama mempunyai tanggung jawab sosial untuk mengatur dunia.

proses belajar (learning). paradigma pengajaran (teaching). Cyber learning merupakan akumulasi informasi yang serba cepat dan mudah untuk dikuasai. . yaitu adanya perubahan paradigma pendidikan. Perubahan sosial menimbulkan adanya perkembangan inovasi pendidikan yang ditandai dengan adanya 4 revolusi perkembangan pendidikan. Perubahan sosial ini menimbulkan dampak. pembelajaran (instruction). Dengan demikian. Latar belakang kehadiran inovasi diawali dengan adanya perkembangan masyarakat atau perubahan sosial. masuknya proses pembelajaran cyber learning akan membuyarkan perbedaan antara pendidikan sekolah dan luar sekolah. Perubahan sosial menimbulkan adanya perkembangan inovasi pendidikan ditandai dengan adanya 4 revolusi. intensif dan serba terkini ( up to date). BAB IV KESIMPULAN Inovasi termasuk inovasi pendidikan atau pembelajaran merupakan pemikiran cemerlang yang bercirikan hal baru ataupun berupa praktik-praktik tertentu ataupun berupa produk dari suatu hasil olah-pikir dan olah-teknologi yang diterapkan melalui tahapan tertentu yang diyakini dan dimaksudkan untuk memecahkan persoalan yang timbul dan memperbaiki suatu keadaan tertentu ataupun proses tertentu yang terjadi di masyarakat. yaitu adanya perubahan paradigma pendidikan dan pembelajaran.inti dan proses pembelajaran di masa depan yang cepat. Paradigma pendidikan selama ini telah mengalami 3 paradigma yaitu. Perubahan sosial ini menimbulkan dampak. Belajar mandiri ini pada abad ke-21 ini disebut Cyber learning. Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa latar belakang kehadiran inovasi diawali dengan adanya perkembangan masyarakat atau perubahan sosial.

Jakarta: Kencana. (1999). DAFTAR PUSTAKA DEWI SALMA PRAWIRADILAGA. Prinsip Desain Pembelajaran. (2003). (2009) Ibrahim. Inovasi Pendidikan. Communication of Innovation.Munculnya cyber learning sebagai suatu inovasi dalam pembelajaran di abad ke-21 merupakan bentuk proses belajar tanpa batas. London : Collier Macmiliian Publisher Republik Indonesia. Everet M (1997). Jakarta : Balai Pustaka. 1999 Rogers. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional .

...................... ... Pengertian Difusi.................................. 2 B...................................DAFTAR ISI KATA PENGANTAR............................................................................................................................................................................... Aplikasi Difusi Inovasi Dalam Pembelajaran........................................................................ 6 DAFTAR PUSTAKA......... 3 C.......... 1 B....... 1 A........... i DAFTAR ISI............ 1 BAB II PEMBAHASAN.... 4 BAB III KESIMPULAN...................................................................... 2 A............... ii BAB I PENDAHULUAN...................... tetapi di segala bidang termasuk bidang pendidikan dan pembelajaran.......................................................................................................................................... Hakikat Inovasi............................................... 7 BAB I PENDAHULUAN A... Tujuan Penulisan..................... Pembaharuan pendidikan diterapkan di dalam berbagai jenjang pendidikan juga dalam setiap komponen sistem pendidikan termasuk dalam pembelajaran........................................................................................... Latar Belakang Pembaharuan (inovasi) diperlukan bukan saja dalam bidang teknologi.............................................................. Latar Belakang.........

B. Contohnya komputer dengan sistem jaringan komunikasi internasional (internet). Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) berkembang sangat pesat. handphone. kita harus mengetahui dan dapat menerapkan inovasi-inovasi agar dapat mengembangkan proses pembelajaran yang kondusif sehingga dapat diperoleh hasil yang maksimal.Sebagai pendidik. Hakikat Inovasi Kita sering mendengar istilah inovasi/pembaruan. Tujuan Penulisan Tujuan secara umum Meningkatkan keprofesionalan dalam Penulisan makalah. 1. 2. Menambah wawasan keilmuan. Ini ditandai dengan adanya kemajuan dan penemuan-penemuan baru di segala bidang. namun apakah sebenarnya inovasi/pembaruan itu? Memasuki milenium III. Memperoleh motivasi untuk selalu melakukan inovasi dalam dunia pembelajaran sesuai dengan jabatan yang diampu. Tujuan secara khusus Tujuan secara khusus penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas individu dalam mata kuliah Difusi dan Inovasi Pembelajaran kode mata kuliah MTP-555. BAB II PEMBAHASAN A. . Misalnya kemajuan di bidang teknologi komunikasi dan informasi yang sangat menonjol sehingga menghasilkan penemuan baru di bidang komunikasi dan informasi tersebut. Meningkatkan kinerja dalam pengembangan profesi. dan lain-lain.

1982. Perubahan ini menuntut manusia untuk menciptakan. Duncan. Inovasi (innovation) sebagai pembaruan atau perubahan secara baru.. page 11). tata nilai.Kemajuan teknologi tersebut mengakibatkan adanya perubahan diberbagai bidang kehidupan. Segala sesuatu yang diciptakan oleh manusia dan dirasakan sebagai hal yang baru oleh seseorang atau masyarakat sehingga dapat bermanfaat bagi kehidupannya dikenal dengan istilah “inovasi”. If the idea seems new to the individual. Dalam kamus Bahasa inggris E. wheather or not an idea is “objectively” new as measured by the lapse of time since its first use or discovery. 1. Echols. is an idea. B.7). it is an innovation M. memanfaatkan dan mengembangkan lingkungannya bagi kesejahteraan hidupnya. cara. Dari beberapa pengertian inovasi di atas dapat kita lihat bahwa tidak terjadi perbedaan yang mendasar tentang pengertian inovasi antara satu dengan yang lain. sistem pendidikan dan pranata sosial. practice. yaitu perubahan terhadap sarana kehidupan. inovasi/pembaruan penemuan diadakan untuk memecahkan masalah guna mencapai tujuan. Ely.. Pola tingkah laku masyarakat. Rogers. Untuk memperoleh wawasan saya. 1973. Holbek. It matters little. Jadi. or object that is perceived as new by an individual. Pengertian Difusi . so for as human bahavior is concerned. Seminar an Educational Change) 2. it is synonymous with invention : that is. page. A person or organization of the literature on creativity treats the term innovation in this fashion (Zaltman. yang dapat diamati atau dirasakan sebagai sesuatu yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat). An Innovation is an idea for accomplishing some recognize social and in a new way or for a means of accomplishing some new social (Donald P. 3. berikut ini akan diuraikan pengertian inovasi menurut berbagai pakar. In one contex. hal-hal yang praktis. it refers to a creative process where by two or more existing concepts or entities or combined in some novel way to produce a configuration not previously know by the person involved. The term innovation is usually employed in three different contexts.. metode. 1983. barang-barang.. Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa inovasi merupakan suatu ide. . The perceived newness of the idea for the individual determines his or her reaction to it.

b) bagamana informasi tentang inovasi dikomunikasikan. teknologi telah memainkan peranan penting dalam proses pembelajaran. Pada sisi lain. Keberhasilan penyebaran atau difusi teknologi . termasuk sistem pendidikan. Dari definisi di atas dalam proses difusi terjadi interaksi antara empat komponen. organisasi. yaitu : a) karakteristik inovasi itu sendiri. masih banyak juga lembaga pendidikan yang belum akrab dengan teknologi tersebut. A number of factors interact to influence the diffusion of an innovation. Ketidak akraban tersebut pada satu sisi dapat diduga sebagai akibat difusi teknologi yang tidak merata. Difusi merupakan suatu proses mengkomunikasikan inovasi melalui suatu saluran dalam suatu rentang waktu diantara anggota suatu sistem sosial. c) waktu . Aplikasi Difusi Inovasi Dalam Pembelajaran Pembelajaran merupakan salah satu cabang dari disiplin ilmu pendidikan yang berkembang seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Melalui proses difusi tersebut. Oleh karena itu. Difusi diartikan sebagai proses suatu inovasi dikomunikasikan. The four major factors that influence the diffusion process are the innovation it self. time. 1995). diadopsi dan dimanfaatkan oleh warga masyarakat tertentu. and the nature of the social system into which the innovation is being introduced.Menurut Everett Rogers (1995) difusi adalah sebagai berikut : Diffusion as the process by which an innovation is adopted and gains acceptance by members of a certain community. atau secara sengaja merencanakan dan mengupayakannya terjadinya suatu perubahan. Anggota sistem sosial yaitu individu. kelompok informal. Sebagian lembaga pendidikan telah mengadopsi teknologi untuk memfasilitasi dan memudahkan proses pembelajaran baik di dalam maupun di luar kelas. dan atau subsistem (Rogers. dan d) sifat sistem sosial di mana inovasi diperkenalkan. ada kemungkinan karena keterbatasan biaya dan sumber daya manusia dalam lembaga pendidikan tersebut. Dalam bidang pendidikan. how information about the innovation is communicated. Jadi proses difusi terjadi karena ada pihak-pihak yang menginginkannya. tujuan utama proses difusi adalah diadopsinya suatu inovasi oleh anggota sistem sosial tertentu. C. memungkinkan suatu inovasi diketahui oleh orang banyak dan dikomunikasikan sehingga menyebarluas dan akhirnya digunakan oleh masyarakat. Namun.

Dengan alat tersebut. barang-barang buatan manusia yang diamati atau dirasakan sebagai sesuatu yang baru yang selanjutnya diadopsi dan dimanfaatkan oleh seseorang atau sekelompok orang (masyarakat) dalam rentang waktu tertentu pula. Perkembangan selanjutnya mulai ditemukan mesin hitung dan alat-alat bertenaga listrik yaitu kalkulator. kemudian muncul simpoa yang digunakan untuk penambahan dan pengurangan. Contoh difusi inovasi yang paling sederhana dalam pembelajaran misalnya saja pada alat berhitung. televisi. cara. Simpoa mudah dibawa ke mana-mana. baik berupa gagasan. seperti pemanfaatan siaran radio. Masyarakat yang sedang membangun merasa berkepentingan dengan inovasi. metode. penemuan baru. dan internet dengan berbagai jenis inovasi turunannya sudah pasti menuntut pendidik dan pesrta didik mampu mengubah dirinya menjadi pengguna teknologi. sudah pasti kualitas proses pembelajarannya akan meningkat. sistem sosial dan organisasi. BAB III KESIMPULAN Pembelajaran adalah suatu bidang inovasi dan perubahan dalam sistem pendidikan. Dahulu orang menggunakan jarinya atau kerikil sebagai alat menghitung. Inovasi-inovasi dibidang pembelajaran. dapat menghitung jauh lebih cepat dan jarang salah. Difusi dan inovasi adalah pangkal terjadinya perubahan sosial (social change) yang merupakan inti pembangunan masyarakat. komputer. Salah satu kawasan teknologi pembelajaran adalah pemanfaatan dengan salah satu kategorinya yaitu difusi inovasi. hal-hal yang praktis. . Studi tentang difusi (penyebaran) dan inovasi (pembaruan) pembelajaran merupakan hal penting dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran masyarakat. Bentuknya berupa kerangka kayu dengan manik-manik pada batang-batangnya. khususnya teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang kreatif.merupakan suatu inovasi yang dapat melembaga (institusionalisasi) dalam suatu masyarakat melalui peran agen pembaruan. barang atau alat baru maupun tindakan. Oleh karena difusi inovasi itu adalah merupakan suatu proses komunikasi ide.

. Communication of Innovation. kemudian muncul simpoa yang digunakan untuk penambahan dan pengurangan. Dengan alat tersebut.Contoh difusi inovasi yang paling sederhana dalam pembelajaran misalnya saja pada alat berhitung. (2008). Perkembangan selanjutnya mulai ditemukan mesin hitung dan alat-alat bertenaga listrik yaitu kalkulator. London : Collier Macmiliian Publisher. Everet M (1997). Bambang Warsita. dapat menghitung jauh lebih cepat dan jarang salah. Bentuknya berupa kerangka kayu dengan manik-manik pada batang-batangnya. Instructional Technology : The Definition and Domain of the field. Wasington DC : Association for Education Communication and Technology. Simpoa mudah dibawa ke mana-mana. DAFTAR PUSTAKA Barbara. Rogers. Seel B dan Richey C. Jakarta: Rineka Cipta. Teknologi Pembelajaran dan aplikasinya. Dahulu orang menggunakan jarinya atau kerikil sebagai alat menghitung. (1994 ).

....................................... kami mohon kepada bapak Dosen atau sahabat-sahabat dan siapa saja yang dapat memberikan arahan dan bimbingan untuk selanjutnya dan kritikan yang bersifat membangun untuk menuju kearah yang lebih baik.................. Mei 2011 Penulis DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR .............. i DAFTAR ISI .......... dalam kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih kepada mereka.............. Kami menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penjelasannya bahkan masih jauh dari kesempurnaan................... Saya menyadari bahwa penyusunan makalah ini dapat diselesaikan atas dukungan dan bantuan dari berbagai pihak..... Penyusunan makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Difusi dan Inovasi Pembelajaran MTP ..........KATA PENGANTAR Segala Puji dan syukur hanya bagi Allah SWT yang telah memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kami........... Khususnya ucapan terima kasih kepada Bapak Dr.............. ........................ Oleh karena itu. ............................. Cianjur................................... ii BAB I PENDAHULUAN .. sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Hakikat Difusi dan Inovasi Pembelajaran” ..................... Sigit Wibowo Selaku dosen mata kuliah ini atas doa dan restunya untuk penyusunan makalah ini...... Oleh karena itu.....555.....

.................. 3 B................. Inovasi Pendidikan .......... 5 BAB IV KESIMPULAN .................................A.......................................................................................................................... Difusi Inovasi Pendidikan ..................... 4 C.................................................................................. .........................1 B............................................... Latar Belakang ......... 9 DAFTAR PUSTAKA .......................................... Tujuan Penulisan ............................................... Pembelajaran ....................................................................... ..................... .... ...................................... 10 ................ 2 BAB II PEMBAHASAN A...................................................................................................

seorang guru yang profesional harus mampu menjadi inovator atau adaptor dari hasil inovasi agar siswa memiliki pengalaman belajar yang bermakna dan berhasil. Oleh karena itu. Perkembangan masyarakat dan perkembangan pendidikan yang semakin maju pesat menghasilkan inovasi di berbagai bidang. Difusi inovasi pembelajaran yang tepat dan efektif akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pelaksanaan pembelajaran. yaitu usaha untuk mengubah proses pembelajaran. Hal yang ingin dicapai melalui inovasi pendidikan juga meliputi sistem administrasi dan manajemen pendidikan secara keseluruhan dan hubungannya dengan kebijakkan nasional. perubahan dalam situasi belajar yang menyangkut kurikulum. tetapi juga kalangan swasta yang mulai melirik dunia pendidikan dalam mengembangkan usahanya. Pemimpin yang berpengaruh (opinion leaders) memiliki peran yang sangat penting pada perubahan perilaku individu. Pendidikan menjadi salah satu modal bagi seseorang agar dapat berhasil dan mampu meraih kesuksesan dalam kehidupannya. maka proses difusi inovasi tidak senantiasa berjalan mulus. . Peningkatan kualitas pendidikan tidak dapat berjalan tanpa adanya inovasi pendidikan. Difusi inovasi pada dasarnya merupakan penyebarluasan gagasan inovasi melalui suatu proses komunikasi yang dilakukan dengan menggunakan saluran tertentu dalam suatu rentang waktu tertentu di antara anggota sistem sosial masyarakat.BAB I PENDAHULUAN A. Apa yang ingin dicapai melalui inovasi-inovasi pendidikan tersebut. Oleh karena sistem sosial merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi adopsi inovasi. melakukan perubahan kurikulum untuk mencoba mengakomodasi kebutuhan siswa. Sarana untuk memperoleh pendidikan yang disediakan oleh pemerintah masih dirasakan sangat kurang dalam upaya memenuhi kebutuhan masyarakat akan pendidikan. Latar Belakang Pendidikan adalah hal yang sangat penting untuk diperoleh anak-anak ataupun orang dewasa. peningkatan fasilitas belajar mengajar serta peningkatan mutu profesional guru. Hal ini disebabkan perbedaan latar belakang dan sistem sosial yang berlaku. Peningkatan kualitas pendidikan pada saat ini menjadi perhatian. Kesadaran akan pentingnya pendidikan bukan hanya dirasakan oleh pemerintah. Proses pembelajaran pada hakikatnya merupakan suatu proses yang ditata dan diatur sedemikian rupa menurut langkah-langkah tertentu agar dalam pelaksanaannya dapat mencapai hasil yang diharapkan dan kompetensi dasar dapat tercapai secara efektif. maka pemerintah pun mencanangkan program wajib belajar 9 tahun. Opinion Leadership is the degree to which an individual is able to influence other individualis’ attitudes or overt behavior informally in a desired way with relative frequency . Mengingat akan pentingnya pendidikan.

sesuai dengan norma yang berlaku. . B. Sementara tujuan secara khususnya adalah untuk memenuhi salah satu tugas individu mata kuliah Difusi dan Inovasi Pembelajaran dengan kode mata kuliah 555.Kepemimpinan yang berpengaruh merupakan suatu tingkat di mana seorang individu secara tidak optimal ke arah kondisi yang diharapkan. Maka melalui penulisan makalah ini yang akan menjadi bahasan adalah beberapa hal yang berkaitan dengan Hakikat Difusi dan Inovasi Pembelajaran. Sementara itu. Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai sarana untuk meningkatkan keprofesionalan yang dimiliki. agen perubahan (Change agent) merupakan individu yang mempengaruhi pengambilan inovasi ke arah yang dapat diharapkan. dan selain itu untuk mengkaji sejauhmana inovasi pembelajaran yang telah dilakukan dibandingkan dengan teori-teori yang telah diperoleh.

perubahan baru. Menurut Gagne. tapi tidak semua proses belajar terjadi karena pembelajaran. Pembelajaran digunakan untuk menunjukan kegiatan guru dan siswa. seperti belajar dari pengalaman sendiri.BAB II PEMBAHASAN A. Instruction is a set of events that affect learners in such a way that learning is facilitated . Proses Pembelajaran yakni proses membuat orang melakukan proses belajar sesuai dengan rancangan. Inovasi adakalanya diartikan sebagai penemuan tetapi berbeda maknanya dengan penemuan dalam arti diskoveri . Proses belajar terjadi juga dalam konteks interaksi sosial-kultural dalam lingkungan masyarakat. namun harus diberi catatan bahwa tidak semua proses belajar terjadi karena ada proses pembelajaran. Sebelumnya. Jika kembali kepada konsep pembelajaran atau pengajaran dalam kaitannya dengan konsep belajar dapat dikemukakan bahwa pembelajaran merupakan sarana untuk memungkinkan terjadinya proses belajar dalam arti perubahan prilaku individu melalui proses mengalami sesuatu yang diciptakan dalam rancangan proses pembelajaran. pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadinya proses belajar pada siswa. dan Wager. dan Wager (1992). Belajar terjadi apabila suatu stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatanya (performance-nya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu setelah ia mengalami situasi tadi. dan dengan jenis hakikat. bukan hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan saja. Istilah pembelajaran seperti yang dikemukakan oleh Romiszowski (1981:4) merujuk pada proses pembelajaran berpusat pada tujuan atau goal directed teaching process yang dalam banyak hal dapat direncanakan sebelumnya (pre-planned). Briggs. hal 3). (Gagne. Maka dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menginisiasi. Briggs. Oleh karena pembelajaran merupakan upaya sistematis dan sistemik untuk menginisiasi. dan meningkatkan intensitas dan kualitas belajar pada diri peserta didik. memfasilitasi. kita menggunakan istilah “proses belajar-mengajar” dan “pengajaran”. Pembelajaran harus menghasilkan belajar. B. Istilah pembelajaran merupakan terjemahan dari kata “instuction”. dan jenis belajar serta hasil belajar tersebut. 1992. Pembelajaran Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia yang terjadi setelah belajar secara terus menerus. memfasilitasi. unsur kesengajaan dari pihak diluar individu yang melakukan proses belajar merupakan ciri utama dari konsep pembelajaran. Inovasi Pendidikan Secara etimologi inovasi berasal dari kata innovation yang bermakna pembaharuan.

Menurut Hamijoyo mengemukakaan inovasi pendidikan adalah suatu perubahan yang baru dan kualitatif berbeda dari hal yang ada sebelumnya serta sengaja diusahakan untuk meningkatkan kemampuan guna mencapai tujuan tertentu dalam pendidikan. mode busana. metode yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat) baik berupa hasil inversi atau diskoversi yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau memecahkan masalah-masalah pendidikan. Seperti halnya yang ditemukan di negara-negara maju atau di negaranegara yang melihat pendidikan sebagai kunci dari pengembangan sumber daya manusia yang diperlukan bagi eksistensi kehidupan bangsa. baik berupa hasil diskoveri atau invensi yang digunakan untuk tujuan tertentu. dan sebagainya. Apabila masyarakat telah merasakan bahwa inovasi pendidikan merupakan suatu keharusan maka akan melahirkan pemikiran-pemikiran dan pelaksanaan inovasi pendidikan. Sedangkan menurut Ibrahim mendefinisikan inovasi pendidikan adalah inovasi (pembaruan) dalam bidang pendidikan atau inovasi yang dilakukan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan. barang. A number of factors interact to influence the difusion of an innovation. Inovasi pendidikan menurut Tilaar harus didukung oleh kesadaran masyarakat untuk berubah. C. Inovasi adalah suatu ide. Inovasi pendidikan merupakan upaya dasar dalam memperbaiki aspekaspek pendidikan dalam praktiknya. Diskoveri mempunyai makna penemuan sesuatu itu telah ada sebelumnya tetapi belum diketahui orang. dapat ditarik kesimpulan bahwa inovasi pendidikan adalah ide. Invensi adalah penemuan yang benar-benar baru sebagai hasil kreasi manusia contohnya teori belajar. artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran. Difusi Inovasi Pendidikan Menurut Evrett Rogers (1995) difusi adalah sebagai berikut : Diffusion as process by which an innovation is adopted and gains acceptance by members of a certain community. Pendidikan berasal dari kata “didik”. Apabila suatu masyarakat belum menghendaki suatu sistem pendidikan yang diinginkannya maka tidak akan mungkin suatu perubahan atau inovasi pendidikan terjadi. Inovasi pendidikan merupakan suatu ide. The four major factors . dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran (kamus besar bahasa indonesia.atau invensi. Selanjutnya pengertian pendidikan menurut kamus besar bahasa indonesia ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya mengajaran dan pelatihan. Dari kedua pendapat pakar di atas mengenai inovasi pendidikan. metode yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat) yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu dalam pendidikan atau memecahkan masalah-masalah pendidikan. barang. lalu kata ini mendapatkan awalan me sehingga menjadi “mendidik”. 1991: 232). produk. tuntunan. metode dan seterusnya yang dirasakan sebagai sesuatu yang baru.

sarana dan prasarana. Inovasi harus berpusat atau bertitik tolak atau diciptakan atas dasar kesesuaian bagi peserta didik sehingga mempunyai implikasi yang positif bagi kemudahan belajar bagi peserta didik. dan atau susbsistem (Rogers. Difusi diartikan sebagai proses sebagai proses suatu inovasi dikomunikasikan. that influence the diffusion process are the innovation it self. Tidak ada yang dapat mengklaim paling benar sepanjang belum dapat dibuktikan efektivitas dan efesiensinya terhadap hasil belajar yang diharapkan oleh dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik dalam kurun . Difusi merupakan suatu proses mengkomunikasikan inovasi melalui saluran dalam suatu rentang waktu diantara anggota suatu sistem sosial termasuk sistem pendidikan. tujuan utama proses difusi adalah diadopsinya suatu inovasi oleh anggota sistem sosial tertentu.1. and the nature of the social system into which the innovationis being introduced. time. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menerapkan inovasi dalam teknologi pembelajaran yang diharapkan berimplikasi positif bagi proses belajar dan pembelajaran adalah sebagai berikut. diadopsi. 3. Anggota sistem sosial yaitu individu. dan dimanfaatkan oleh warga masyarakat tertentu. Inovasi lebih dari mengemukakan suatu gagasan yang cemerlang. Bentuk inovasi yang disesuaikan dengan kemampuan satuan pendidikan tempat inovasi tersebut dilaksanakan cenderung akan menghasilkan inovasi yang parsial dan seadanya. Inovasi seperti ini memerlukan upaya sungguhsungguh dan strategi yang handal untuk dapat diterapkan dalam sistem pembelajaran di sekolah. dan biaya. Inovasi dalam teknologi pembelajaran dapat dilakukan pada salah satu atau beberapa komponen pembelajaran. Inovasi dalam teknologi pembelajaran dapat dikatakan berhasil bilamana berdampak positif bagi proses pembelajaran peserta didik. 4. Inovasi yang efektif perlu dilakukan secara bertahap dan hati-hati. Inovasi yang dilakukan untuk meningkatkan efektivitas dan efesiensi pembelajaran bagi peserta didik tertentu yang menuntut pendidik/guru menciptakan berbagai strategi pembelajaran yang sesuai dengan setiap karakteristik peserta didik. kelompok informal. Para pakar. perancang pembelajaran. Inovasi yang terlalu ambisius menjadi tidak realistis sehingga sangat besar kemungkinannya mengalami kegagalan atau penolakan dari berbagai pihak yang terkait dengan upaya inovasi tersebut. 1995). 2. Komponen-komponen tersebut meliputi peserta didik. how information about the innovation is communicated. melainkan bagaimana mewujudkan gagasan tersebut dalam tindakan nyata yang berdampak positif bagi peningkatan kualitas pembelajaran. Melalui proses difusi tersebut memungkinkan suatu inovasi diketahui oleh orang banyak dan dikomunikasikan sehingga menyebar luas dan akhirnya digunakan oleh masyarakat. Oleh karena itu. organisasi. dan para pendidik/guru yang pada umumnya mensintesa suatu sistem pembelajaran dari bentuk-bentuk inovasi yang ditarik dari seluruh subsistem pembelajaran yang komprehensif. pendidik/ guru. 5.

maka para teknolog mempertimbangkan faktor-faktor yang menghambat dan mempermudah difusi inovasi teknologi pembelajaran tersebut. fasilitas belajar. . diskusi.waktu tertentu. 7. dan kemudian seluruh komponen dalam institusi akan tunduk mengikutinya dengan tertib dan disiplin. 6. ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam melakukan inovasi dalam pembelajaran. 5. komitmen pimpinan puncak guna mengarahkan transformasi atau perubahan pengetahuan . yaitu : 1. pendidikan nonformal/kursus/pelatihan. dari lingkungan budaya yang satu kelingkungan budaya yang lain dari peserta didik yang sama. sosialisasi. Oleh karena itu. partisipasi seluruh komponen serta sumber daya manusia dalam suatu organisasi pendidikan. keberhasilan adopsi inovasi teknologi pembelajaran banyak ditentukan oleh sosialisasi gagasan yang handal dan menyeluruh. sikap dan perilaku sesuai dengan harapan dan tujuan inovasi teknologi pembelajaran untuk memberikan kemudahan. Dengan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi inovasi tersebut. Oleh karena itu. dan kegiatan pembelajaran. Secara alamiah. namun selalu menciptakan perubahan yang dinamis dari waktu ke waktu dan dari lingkungan budaya yang satu ke lingkungan budaya peserta didik yang lain. 3. jalur dan jenjang pendidikan yang terkait dengan berbagai bidang kehidupan. Akhirnya. setiap inovasi harus terus dilaksanakan sampai berhasil kecuali bila ditemukan inovasi yang lebih tepat. bimbingan. inovasi yang berhasil disuatu tempat belum tentu berhasil ditempat lain. Teori difusi inovasi dapat diaplikasikan dalam teknologi pembelajaran. maupun pendidikan informal pada segala macam bentuk. 4. serta pelatihan harus dilakukan agar proses inovasi teknologi pembelajaran berhasil. dan sama halnya pula tidak akan ada hasil yang dapat kita raih tanpa upaya yang sungguh-sungguh dalam melakukan inovasi teknologi pembelajaran. Inovasi dalam teknologi pembelajaran bukan suatu upaya sekali jadi. Agar efektif. dipersiapkan serta dilaksanakan tahap demi tahap sehingga inovasi diterima (diadopsi) dengan baik. hampir dapat dipastikan bahwa setiap gagasan atau teknologi baru dalam pembelajaran akan mendapatkan tantangan dan mungkin tantangan yang keras dari berbagai pihak. 2. Di dunia ini tidak ada upaya tanpa hasil. Banyak upaya persuasi. Untuk keberhasilan suatu inovasi dalam teknologi pembelajaran ada beberapa hal yang harus diantisipasi. Suatu inovasi dalam teknologi pembelajaran dapat mengancam kemapanan sekelompok orang dalam suatu institusi yang selama ini sudah merasa mapan. Inovasi dalam pembelajaran dapat dilaksanakan baik pada sektor pendidikan formal. Tantangan terbesar pada inovasi teknologi pembelajaran adalah pada saat gagasan atau teknologi baru mulai diluncurkan. Inovasi selalu diwarnai dengan suasana ketidakpastian mengenai efektivitasnya terhadap kualitas pembelajaran.

Jangan pernah berhenti menciptakan inovasi karena tercapainya cita-cita mulia mencerdaskan bangsa selalu membutuhkan inovasi berkelanjutan dalam teknologi pembelajaran. Faktor dalam diri misalnya keinginan dan kebutuhan serta adanya potensi untuk meningkatkan dan memenuhi kebutuhan hidupnya. . Inovasi akan terus terjadi karena didorong oleh adanya faktor luar dan faktor dalam diri manusia serta adanya interaksi antara keduanya. sehingga tujuan inovasi dapat dicapai. 7. Selamat berinovasi.6. Jangan pernah menyerah sebelum inovasi berhasil dilaksanakan secara efektif. Sedangkan faktor luar adalah perubahan-perubahan yang terjadi dilingkungannya. Akhirnya mari kita lakukan inovasi secara sistematis. Interaksi antara faktor dari luar dan faktor dalam menyebabkan terjadinya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta inovasi tanpa henti.

termasuk perubahan di bidang pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu inovasi apabila perubahan tersebut dilakukan dengan sengaja untuk memperbaiki keadaan sebelumnya agar lebih menguntungkan demi upaya untuk meningkatkan kehidupan yang lebih baik. hal ini dipengaruhi oleh keberadaan masyarakat iru sendiri. Difusi dan inovasi berawal dari keinginan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan dapat diterima oleh masyarakat. Proses pembelajaran harus dengan sengaja diorganisasikan dengan baik agar dapat menumbuhkan proses belajar yang baik yang pada gilirannya dapat mencapai hasil belajar yang optimal. Suatu perubahan.BAB III KESIMPULAN Proses pembelajaran yaitu proses membuat orang melakukan proses belajar sesuai dengan rancangan. Proses penciptaan difusi dan inovasi tentunya membutuhakn waktu yang lama. . Pencipta inovasi harus memiliki persepsi terhadap kebutuhan masyarakat yang cocok dengan kodisi dan kebutuhan masyarakat dimana ia hidup. Unsur kesengajaan dari pihak di luar individu yang melakukan proses belajar merupakan ciri utama dari konsep pembelajaran. Inovasi pendidikan digunakan untuk memecahkan masalah pendidikan atau untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Difusi inovasi dimaknakan sebagai penyebarluasan gagasan inovasi melalui suatu proses komunikasi tertentu yang dilakukan menggunakan saluran tertentu dalam suatu rentang waktu tertentu di antara anggota sistem sosial masyarakat.

Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Tilaar. (2011). Perencanaan Pengajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya. Jakarta : Balai Pustaka Muhibbin Syah. Everet M (1997). (1995). Jakarta: Ditjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam. Udin S Winataputra [et al. (2004). Inovasi Pendidikan. (1991). (1999). Rogers. Edisi kedua.DAFTAR PUSTAKA Sigit Wibowo. (2008). Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional dalam Prespektif Abad ke 21. . Bambang Warsita.2008. Teknologi Pembelajaran dan aplikasinya. Difusi dan Inovasi Pembelajaran Handout kuliah Universitas Islam As-Syafi’iyah. Communication of Innovation. Udin Saripuddin Winataputra dan Rustana Ardiwinata. Jakarta:UT. al.A.Jakarta Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.Psikologi Pendidikan. (1991). Jakarta: Rineka Cipta. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Bandung: Rosdakarya. Pembaruan dalam Bidang Pendidikan. Cece et.] teori belajar dan pembelajaran. London : Collier Macmiliian Publisher Ibrahim. H. Magelang: Indonesia Tora Wijaya. (1999).R.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful