PEMBAHARUAN SISTEM PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA (Menggagas Format Pendidikan Islam Ideal di Tengah Arus Perubahan) Oleh: Ali

Murtadlo MS.

A. Pendahuluan. Menggagas soal pendidikan, pada dasarnya adalah menggagas soal kebudayaan dan peradaban manusia. Bahkan secara spesifik, gagasan-gagasan tentang dari, oleh, dan untuk pendidikan itu akan merambah masuk secara dinamis kepada wilayah pembentukan peradaban manusia di masa depan. Hal ini lebih disebabkan karena pendidikan merupakan upaya umat manusia untuk merekonstruksi pengalaman-pengalaman peradabannya di masa lalu secara berkelanjutan guna memenuhi tugas kehidupannya dalam meraihkebudayaandanperadabanmasadepanyanglebihbaik. Dengankatalainpendidikanmerupakansebuahsistemdancarameningkatkankualitashidup manusia dalam segala aspek kehidupannya.

Dalam sejarah umat manusia, sekalipun dalam masyarakat yang masih terbelakang (primitif), hampir tidak ada kelompok manusia yang tidak menggunakan pendidikan sebagai alat pembudayaan dan peningkatan kualitasnya. Pendidikan dijadikan sebagai usaha sadar yang dibutuhkan untuk menyiapkan anak manusia demi menunjang perannya dalam dinamika perubahan kebudayaan masyarakat di masa datang. Karena itu, upaya pendidikan yang dilakukan oleh suatu bangsa tentu memiliki hubungan yang sangat signifikan dengan blue print peradaban bangsa itu di masa mendatang. Upaya ini menunjukkan bahwa pendidikan merupakan salah satu kebutuhan asasi manusia. Lebih jauh dari itu, M. Natsir pernah menegaskan bahwa pendidikan merupakan salah satu faktor yang ikut menentukan maju mundurnya kehidupan masyarakat tersebut.[1] 1Pernyataan M. Natsir ini menunjukkan bahwa pendidikan memegang peran yang sangat vital dalam bagi menentukan maju mundurnya kehidupan manusia. Pendidikan menjadi pemicu masyarakat untuk meningkatkan kualitasnya dalam segala aspek kehidupan demi mencapai kemajuan, dan untuk menjunjung perannya di masa datang. Hal ini terbukti dalam kehidupan sekarang pendidikan tampil dengan daya pengaruh yang sangat besar dan menjadi
1

B. langkah penyelesaiannya harus bersifat menyeluruh dan tidak bisa dengan cara parsial atau kasuistik. dewasa ini. apakah perubahan atau dinamika dalam masyarakat merupakan perubahan budaya (cultural change) atau perubahan sosial (social change). Karena itu. Perubahan ini tentu saja akan mempengaruhi pilihan masyarakat terhadap pendidikan sebagai agent of change. informatif. Tidak saja pada persoalan tataran normatiffilosofis. Dinamika Masyarakat: Pergeseran Pandangan terhadap Pendidikan Secara umum. Sesuai dengan ciri masyarakat seperti ini. pola-pola perilaku. Perubahan peradaban dan kebudayaan masyarakat. Selain itu pendidikan 2 . karena terdapat kaitan yang bersifat causal relationship.variabel pokok masa depan manusia. Perubahan dapat terjadi di bidang norma-norma. Dan yang lebih penting lagi. tetapi juga menyangkut orientasi kultural di masa depan. berjalan secara cepat dan berkelindan. maka pendidikan yang akan dipilihnya adalah pendidikan yang dapat memberikan kemampuan secara teknologis fungsional. kemampuan secara etik dan moral yang dapat dikembangkan melalui agama. Rangkaian persoalan itu tidak dapat dipisahkan. Dalam konteks inilah akan dijumpai betapa pendidikan Islam—yang dari segi kuantitas menunjukkan perkembangan yang dinamis mulai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi—menghadapi berbagai persoalan. Dari semua itu. perubahan dipahami sebagai terjadinya perubahan di semua sektor kehidupan masyarakat. pendidikan yang kurang memberikan janji masa depan tidak akan mengundang minat atau antusiasme masyarakat. susunan dan stratifikasi kemasyarakatan serta lembaga kemasyarakatan. dan terbuka.[2]2 Dalam kajian teoritik seringkali diperdebatkan. individual. nilai-nilai. Dipandang dari perspektif fungsional—suatu teori yang berpandangan bahwa masyarakat merupakan kesatuan sistem yang saling tergantung dan berhubungan—pendidikan dituntut melakukan penyesuaian terus-menerus dengan perkembangan masyarakat. Sebaliknya. Sedangkan yang kedua berkaitan dengan perubahan di bidang pola hubungan dalam masyarakat dan perkembangan kelembagaannya. Pendidikan yang akan dipilih masyarakat sudah barang tentu yang dapat mengembangkan kualitas dirinya sesuai dengan perkembangan perubahan itu. pada akhirnya kita mempertanyakan posisi dan peran pendidikan Islam di Indonesia. organisasi. Kedua perubahan itu mempunyai hubungan timbal balik. Yang pertama berkaitan dengan perubahan yang berhubungan dengan ide-ide dan nilai-nilai yang dianut oleh kelompok masyarakat.

Di sinilah dituntut kemampuan proyektif dari pendidikan dalam menangkap kecenderungan yang akan terjadi di masa depan. Harus disadari. maka tidak mustahil jika citra kebudayaan bangsa tetap akan memegang predikat tertinggal. Kini. baik modal maupun manusia (human and capital investmen) untuk membantu meningkatkan keterampilan dan pengetahuan sekaligus mempunyai kemampuan produktif di masa depan yang diukur dari tingkat penghasilan yang diperolehnya. 3 4 5 . Inilah yang disebut masyarakat sebagai kesatuan sistem. kebudayaan ada karena adanya manusia. Menurut Musya Asy‟ari.juga harus memainkan peran yang terarah sejalan dengan karakteristiknya selaku institusi teleologis. berapa besar investasi serta keuntungan atau efektivitas yang akan diperolehnya. Di sisi lain pendidikan dipandang sebagai bentuk investasi. masyarakat melihat pendidikan tidak lagi dipandang hanya sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan terhadap perolehan pengetahuan dan keterampilan dalam konteks waktu sekarang. tidak mengherankan apabila pendidikan selalu dipertimbangkan nilai imbalannya (rate of return). Perubahan demikian merupakan akibat dari rangkaian perubahan yang terjadi dalam skala makro. terjadi karena adanya pergerakan dinamis pengetahuan manusia. Karena itu. Pertimbangan demikian tampaknya tidak hanya berlaku dalam kebijakan ekonomi makro suatu negara. secara ontologis. wajar saja apabila saat ini masyarakat sudah mulai selektif dalam memilih lembaga pendidikan dari tingkat taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Karenanya.[4]4 Ini menunjukkan bahwa pendidikan menjadi generator penggerak dan pembentuk kebudayaan. yang sering ditangkap dengan jelas dalam masyarakat akhir-akhir ini adalah adanya pergeseran pandangan terhadap pendidikan seiring dengan tuntutan masyarakat (social demand) yang berkembang dalam skala yang lebih makro. perubahan yang terjadi di dalam masyarakat dalam bidang yang lain mempengaruhi pula pandangan dan pilihan masyarakat terhadap pendidikan.[3]3 Berkaitan dengan kemampuan proyektif ini. Artinya. tetapi juga dipandang sebagai pembentuk citra kebudayaan bangsa untuk waktu yang akan datang. dinamika dan perkembangan kehidupan umat manusia yang dahsyat sekarang ini.[5]5 Karena itu. jika pendidikan kita masih saja terus menerus jalan di tempat dan tidak mengikuti dinamika dan perkembangan kehidupan manusia. tetapi sudah berlaku secara universal dalam masyarakat. Yakni. proses perkembangan ilmu pengetahuan yang membentuk kebudayaan umat manusia di suatu bangsa.

kecenderungan perilaku masyarakat yang semakin fungsional. Dalam masyarakat seperti ini. yakni masyarakat yang sepenuhnya berjalan dan diatur oleh sistem yang terbuka (open system). sebagaimana dikatakan oleh Parson. Kedua. bahwa perubahan tersebut bersifat universal (universal change) yang meliputi berbagai aspek kehidupan manusia. pendidikan dan media masa. Jadi dalam masyarakat seperti itu terjadi pergeseran pola hubungan sosial dari affective ke effective neutral. komunikasi. Kondisi Pendidikan di Indonesia di Tengah Arus Perubahan Mencermati kondisi pendidikan di Indonesia dewasa ini. C. kehidupan yang makin sistemik dan terbuka. Keberadaan seseorang sangat ditentukan sejauh mana ia fungsional bagi orang lain. Dan bahkan berjalan secara revolutif seperti terjadinya revolusi di bidang teknologi. norma. Hanya saja. Keempat. Dalam masyarakat seperti ini hubungan sosial hanya dilihat dari sudut kegunaan dan kepentingan semata. pertama. membawa kepada kesadaran bahwa sebenarnya telah banyak dilakukan berbagai pembaruan di berbagai bidang. perilaku. Ahmad Watik Pratiknya[7]7 lebih jelas menggambarkan corak dan ciri-ciri masyarakat yang akan berkembang di masa sekarang dan masa yang akan datang. “pendidikan nasional terperangkap di dalam sistem kehidupan yang operatif sehingga telah terkungkung di dalam paradigma-paradigma yang tunduk kepada kekuasaan otoriter dan memperbodoh rakyat 6 7 8 .[6]6 Terjadinya revolusi ini secara sistematis berpengaruh terhadap ide.Dalam kajian sosiologis digambarkan. keberadaan seseorang sangat ditentukan oleh berapa banyak dan sejauh mana ia menguasi informasi. yaitu makin dominannya pertimbangan efisiensi dan produktivitas. masyarakat padat informasi. tujuan pembaruan itu pada akhirnya adalah sebatas “untuk menjaga agar produk pendidikan kita tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja atau persyaratan bagi pendidikan lanjut pada jenjang pendidikan berikutnya. terjadinya teknologisasi kehidupan sebagai akibat adanya loncatan revolusi di bidang ilmu pengetahuan dan tekonologi. yakni perubahan dari hubungan yang mempribadi dan emosional ke hubungna yang tidak mempribadi dan berjarak. hubungna sosial dan kelembagaan dalam masyarakat dengan corak dan cirinya yang lebih baru. Karena itu kemampuan seseorang secara individual sangat dibutuhkan. Masyarakat tekonologis ditandai dengan adanya pembakuan kerja dan perubahan nilai. Ketiga.”[8]8 Tampaknya hal itu disebabkan karena.

sistem yang kaku dan sentralistik. sebagaimana diamanatkan dalam pembukaan UndangUndang Dasar 1945. tetapi mementingkan interest pribadi maupun kelompok. kondisi pendidikan Islam di Indonesia. juga menghadapi nasib yang sama dengan pendidikan nasional.”[9]9 Era rezim Orde Baru yang otoriter dan birokratis telah melahirkan sistem pendidikan yang tidak mampu melakukan pemberdayaan masyarakat secara efektif. kendatipun secara jujur kita juga harus mengakui bahwa rezim ini memang telah mampu menunjukkan prestasinya yang cukup baik di bidang pendidikan berupa kemajuan-kemajuan pendidikan secara kuantitatif.banyak. kurang memiliki kemampuan bersaing secara kompetitif dan kreatif. telah sirna dan diganti dengan praktik-praktik “memberatkan” rakyat untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas. Meskipun telah ada beberapa madrasah yang sudah mampu menggungguli kualitas sekolah umum. Kedua. sistem pendidikan tidak berorientasi pada pemberdayaan masyarakat. tetapi juga tenggelamnya pluralitas budaya lokal. Ketiga. Nepotisme (KKN) dan koncoisme (cronyism). yaitu pertama. pada kenyataannya sistem pendidikan kita sekarang ini belum mengantisipasi masa depan dan masyarakat “madani” artinya belum mampu menyiapkan output yang sesuai dengan permintaan pasar dan kondisi riil perubahan masyarakat. sistem pendidikan nasional di dalam pelaksanaannya telah diracuni oleh unsur-unsur Korupsi. Pendidikan pada masa Orde Baru memiliki empat ciri utama. Ciri ini tidak hanya menyebabkan terbunuhnya kreatifitas dan potensi anak didik khususnya. madrasah dan sekolah-sekolah Islam pada umumnya. 9 10 . tetapi secara umum kualitas madrasah dan sekolah-sekolah serta perguruan tinggi Islam masih belum memadai. sistem pendidikan tidak mengutamakan kualitas. mulai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Adalah suatu kenyataan bahwa dalam rangking kelulusan Ebtanas. Secara umum. sehingga tujuan pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kualitas lembaga pendidikan Islam secara umum masih menyedihkan. dan hanya sekedar mengandalkan ijazah resmi dari bidang studi dan dari suatu lembaga pendidikan tertentu dengan kemampuan yang sangat terbatas atau pas-pasan. Akibatnya. yaitu suatu sistem pendidikan yang terperangkap di dalam kekuasaan otoritas pasti dan sistem birokrasi yang kaku sifatnya. Citra lembaga pendidikan Islam relatif rendah.[10]10 Keempat. Barangkali tidaklah berlebihan kalau ciri ini menyebabkan get nothing and lose everything. Kolusi.

perencanaan dan penyusunan materi. Memperhatikan kelemahan-kelemahan pendidikan Islam di atas. Gaji guru secara umum masih kecil. baik interest pribadi maupun yang bersifat politik ataupun sosiologis. fanatik. tampaknya pendidikan Islam menghadapi tantangan yang begitu kompleks. yaitu berupa persoalan dikotomi pendidikan. maka out put pendidikannya dengan sendirinya akan rendah. Guru adalah kunci keberhasilan sekolah. kurikulum. baik internal maupn eksternal.[12]12 Adanya tantangan eksternal tersebut membuat kita semakin sadar dan harus mengakui dengan jujur bahwa pendidikan Islam hingga saat ini kelihatan sering terlambat merumuskan diri untuk merespon perubahan dan kecenderungan perkembangan masyarakat kita sekarang dan masa yang akan datang. Latar belakdang siswa-siswi lembaga pendidikan Islam pada umumnya dari kelas menengah ke bawah.[11]11 Secara lebih khusus.berada dalam urutan bawah sekolah-sekolah negeri dan swasta lainnya. tujuan. sempitnya pemahaman terhadap esensi ajaran Islam. pelaksanaan dan penyelenggaraan pendidikan Islam masih bersikap eksklusif dan belum mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan yang lainnya. perubahan sosial ekonomi dan budaya dengan segala dampaknya. Tantangan internal yang dihadapi menyangkut dengan sisi pendidikan Islam sebagai program pendidikan. Tantangan eksternal yang dihadapi berupa berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berdampak pada munculnya scientific criticism terhadap pelajaran agama yang bersifat konservatif. kemajemukan masyarakat yang beragam yang masih belum siap untuk berbeda paham dan justru cenderung bersikap apologis. tekstual dan skriptualistik. pendidikan Islam menghadapi berbagai persoalan dan kesenjangan dalam berbagai aspek yang lebih kompleks daripada pendidikan nasional. absolutis. Jika gurunya berkualitas rendah dan rasio guru murid tidak memadai. sumber daya. Kelemahan juga terlihat pada kualitas dan kuantitas guru yang masih belum memadai. Tantangan pada era globalisasi di bidang informasi. pendidikan. Sistem pendidikan Islam kebanyakan masih lebih cenderung mengorientasikan diri pada bidang-bidang humaniora dan ilmu-ilmu sosial ketimbang ilmu-ilmu eksakta semacam 11 12 . serta truth claim yang dibungkus dalam simpul-simpul interest. tradisional. yaitu persoalan dikotomi. serta manajemen pendidikan Islam. orientasi pendidikan Islam yang kurang tepat. Tidak sedikit guru madrasah swasta yang gajinya di bawah tingkat upah minimum regional (UMR). metodologi dan evaluasi yang kurang tepat.

Tetapi sekarang ini.[14]14 Dalam posisi yang sangat tergantung dengan peradaban industri ini. Selain itu. kondisi yang terjadi sebaliknya. kimia. Pendidikan Islam di Indonesia Antara Cita dan Fakta. kondisi pendidikan Islam sekarang ini berada pada posisi determinisme historik dan realisme. Hanya saja. “Pendidikan Islam di Indonesia dalam Transformasi Sosial Budaya” dalam Muslih Usa (ed). Rusli Karim. sebagian besar sistem pendidikan Islam belum dikelola secara profesional. kita menyadari bahwa “usaha pembaharuan dan peningkatan pendidikan Islam sering bersifat sepotong-sepotong atau tidak komprehensif dan menyeluruh. Hal inipun didukung oleh sebagian umat Islam yang kurang meminati ilmu-ilmu umum dan bahkan sampai pada tingkat mengharamkan. dikotomi masih sangat kuat dan pelaksanaan pendidikan Islam hanya mampu menyesuiakan diri dengan kecenderungan pendidikan yang lebih berorientasi pada materialistis dalam segala aspeknya dan kondisi inipun cukup diperparah dengan kuatnya kecenderungan sekularistik pada sistem pendidikan Islam dewasa ini. Menyadari kondisi pendidikan Islam. Artinya.”[15]15 Dengan kenyataan ini. Sebab usaha pembaharuan atau peningkatan itu dilakukan sekenanya atau seingatnya. artinya dalam realitas praktis sekarang ini pendidikan Islam seakan-akan tidak berdaya karena dihadapkan dengan realitas perkembangan masyarakat industri modern. biologi. maka tidak terjadi perubahan esensial dalam sistem pendidikan Islam. sebagaimana pendidikan nasional. pada sejarah awalnya pendidikan Islam pernah mencapai puncak kejayaannya. pendidikan Islam belum mampu mengintegrasikan ilmu sebagaimana idealisasinya. h.[13]13 Di sisi lain. 129 15 ] Azyumardi Azra. Ilmu-ilmu eksakta ini belum mendapat apresiasi dan tempat yang sepatutnya dalam sistem pendidikan Islam. Pendidikan Islam: …. Padahal keempat ilmu ini mutlak diperlukan dan pengembangan teknologi canggih. Dalam kondisi ini.fisika. maka sebenarnya “sistem pendidikan Islam haruslah senantiasa mengorientasikan diri kepada menjawab kebutuhan dan tantangan yang muncul dalam 13 M. selama ini sebenarnya juga telah ada berbagai usaha pembaaharuan dan peningkatan kualitas pendidikan Islam. kalau kita mau jujur. Ketika itu dunia Islam mampu melahirkan tokoh-tokoh ilmu pengetahuan yang berkaliber dunia dan bersama dengan perkembangan ilmu tersebut berkembang dan maju dalam peradaban Islam. h. 59 14 . dan matematika modern. 1991). atau kurang bersifat future oriented. Sistem pendidikan Islam tetap cenderung berorientasi ke masa silam ketimbang berorientasi ke masa depan. (Yogyakarta: Tiara Wacana.

kini harus memberikan penekanan khusus kepada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. pragmatik. humanistik. Perkembangan ini tentu saja sangat sehat dan positif.masyarakat kita sebagai konsekuensi logis dari perubahan”[16]16 dan hanya dengan respon yang tepat. Menggagas Pendidikan Islam yang Ideal Dengan mempertimbangkan semua perkembangan dan dinamika masyarakat itu. kian disadari pual perlunya pemantapan penghayatan dan pengamalan ajaran agama. Gejala ini terlihat jelas di dalam masyarakat kita. semakin banyak pula dibangun rumah-rumah ibadah. Pada satu segi. Dengan kata lain. Dengan kian baiknya ekonomi masyarakat. sistem pendidikan Islam harus memenuhi dua tantangan pokok tadi. sebaliknya di Indonesia pembangunan justru menghasilkan gairah atau antusiasme baru dan peningkatan kesetiaan kepada agama. D. pendidikan Islam dapat diharapkan lebih fungsional dalam mempersiapkan anak didik untuk menjawab tantangan perkembangan Indonesia modern yang terus semakin kompleks. 58 . di mana terjadi proses sekularisasi dan penyingkiran agama dalam kehidupan publik.[17]17 Kompleksitas tantangan itu dapat dilihat dari kenyataan bahwa berbarengan dengan semakin tingginya tuntutan terhadap penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Singkat kata berbeda dengan pengalaman proses modernisasi di banyak negara Barat. Di Indonesia kita melihat begitu jelas kaitan antara peningkatan kondisi ekonomi masyarakat dengan intensifikasi penghayatan dan pengamalan ajaran agama. sistem pendidikan Islam jelas selain mesti berorientasi kepada pembinaan dan pengembangan nilai-nilai agama dalam diri anak didik. Kedua-duanya dilakukan secara integral. h. kita melihat terjadinya “kebangkitan agama” atau dengan istilah yang lebih moderat. dengan memperhatikan budaya lokal dan 16 17 Azyumardi Azra. pertama. Pendidikan Islam: …. h. Dalam konteks terakhir ini. tetapi pada saat yang sama kita menyadari pula bahwa agama semakin diperlukan untuk menyantuni masyarakat yang menghadapi kegoncangan nilai atau gegar budaya. 57 Azyumardi Azra. seperti selama ini dilakukan. atau semakin banyak pula warga kita yang mampu menunaikan ibadah haji yang menuntut biaya besar itu. Pendidikan Islam: …. kita melihat dan merasakan terjadinya akselerasi pembangunan yang menuntut iptek yang kian canggih. kedua penanaman pemahaman dan pengamalan ajaran agama. intesifikasi penghayatan dan pengamalan ajaran-ajaran agama.

yang menguasai iptek dan berkeimanan dan mengamalkan agama. dengan mengembalikan manusia kepada fitrahnya sebagai sebaik-baik makhluk. Berdasarkan pertimbangan tersebut. egoistik. mempertahankan. seperti hak untuk berlaku dan diperlakukan dengan adil. yaitu pendidikan yang integralistik. Ali Noer Zaman “Etika Ekonomi-Politik Global: Mencari Visi Baru bagi Kelangsungan Agama Abad XXI. pendidikan yang integralistik mengandung komponen-komponen kehidupan yang meliputi: Tuhan. dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan yang bisa mengganti sifat individualistik. intelektual-perasaan. yakni makhluk ciptaan Tuhan dengan fitrah-fitrah tertentu. A Global Ethics for Global Politics and Economics. Hanya dengan cara ini pula kita secara sistematis dan programatis dapat melakukan pengentasan kemiskinan—secara bertahap namun pasti. yang bisa menyatu dengan dirinya sendiri (sehingga tidak memiliki kepribadian belah). hak menyuarakan kebenaran. Pendidikan yang humanistik diharapkan dapat mengembalikan hati manusia di tempatnya yang semula. dan berkemauan. dan mengembangkan hidup. dan individu-sosial. pendidikan yang humanistik memandang manusia sebagai manusia. dan alam pada umumnya sebagai suatu yang integral bagi terwujudnya kehidupan yang baik. serta pendidikan yang menganggap manusia sebagai sebuah pribadi jasmani-rohani. 187 18 19 . hak untuk berbuat kasih sayang dan sebagainya. sifat saling menolong. Pertama. [19]19 Pendidikan yang integralistik diharapkan bisa menghasilkan manusia yang memiliki integritas tinggi. ia harus melangsungkan. humanistik. berasa. serta integralistik dalam orientasi pendidikan yang filosofis dengan kepentingan pragmatis. h. Kedua. sifat ingin mencari Hans Kung. menyatu dengan masyarakat (sehingga bisa menghilangkan disintegrasi sosial). terj. (Jakarta: Qalam. 2002). Hanya dengan cara ini pendidikan Islam bisa fungsional di tengah-tengah masyarakat dalam menyiapkan dan membina SDM masa depan menuju tatanan masyarakat global[18]18 seutuhnya. dan berakar budaya kuat. Sebagai makhluk batas—antara hewan dan malaikat—ia menghargai hak-hak asasi manusia. yang bisa bersyukur dan menyatu dengan kehendak Tuhan-nya. pragmatik. sifat ingin memberi dan menerima. egosentrik. maka pendidikan Islam diharapkan mampu menjadi pendidikan yang ideal. dan bisa menyatu dengan alam (sehingga tidak membuat kerusakan). Sebagai makhluk hidup. manusia.didasarkan kepada nilai-nilai religiusitas. Manusia “yang manusiawi” yang dihasilkan oleh pendidikan yang humanistik diharapkan bisa berpikir. dengan sifat kasih sayang kepada sesama manusia.

yaitu pendidikan yang tidak meninggalkan akarakar sejarah. Keempat. pendidikan Islam harus berusaha untuk membangun manusia berkualitas. mempertahankan dan mengembangkan hidupnya baik bersifat jasmani. keterampilan dan ketakwaan sebagai realisasi dari adanya relasi vertikal-horizontal dengan nilainilai ilahiyah. nilai-nilai agama dan etik. baik sejarah kemanusiaan pada umumnya maupun sejarah kebudayaan suatu bangsa atau kelompok etnis tentang. merasa. pengetahuan. percaya pada diri sendiri. yang menolak begitu saja arus transformasi budaya dari luar (al-muhafadhah „ala al‟qadim al-sholih wa al-akhdzu bi al-jadid alashlah). Paradigma …. Sebagai pendidikan yang ideal. pendidikan yang pragmatik adalah pendidikan yang memandang manusia sebagai makhluk hidup yang selalu membutuhkan sesuatu untuk melangsungkan.”[20]20 Harapan ini tidaklah berlebihan mengingat dalam proses. sehingga mampu melahirkan manusia-manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dan memiliki kematangan profesional serta sekaligus hidup dalam nilai-nilai agama. peka terhadap masalah-masalah kemanusiaan dan dapat membedakan manusia dari kondisi dan situasi yang tidak manusiawi. Ketiga. karena pendidikan memiliki peran sentral dalam proses mendorong individu dan masyarakat untuk mencapai kemajuan pada semua aspek kehidupan yang didasarkan pada nilai-nilai ajaran Islam.kesamaan dan sebagainya. Pendidikan yang pragmatik diharapkan dapat mencetak manusia pragmatik yang sadar akan kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Dengan demikian. pendidikan Islam diharapkan menjadi wahana yang strategis bagi upaya peningkatan mutu kehidupan dengan terbentuknya berbagai pilihan dan kesempatan untuk mengembangkan diri di masa depan. papan. dan sebagainya. aktualisasi diri. kasih sayang dan keadilan maupun kebutuhan sukmawi seperti dorongan untuk berhubungan dengan Tuhan. pendidikan yang berakar budaya kuat. maka “sistem pendidikan Islam diharapkan dapat mengintegrasikan nilai-nilai ilmu pengetahuan. sandang. Pendidikan yang berakar budaya kuat diharapkan dapat membentuk manusia yang mempunyai kepribadian. dan membangun peradaban berdasarkan budayanya sendiri yang merupakan warisan monumental dari nenek moyangnya.. seperti pangan. 20 Muhaimin et. juga yang bersifat rohani seperti berpikir. harga diri.al. h. yang ditandai dengan peningkatan kecerdasan. Tetapi bukan orang yang anti kemodernan. 46 .

yaitu kerangka dasar filosofis dan teoritis pendidikan Islam harus ditempatkan dalam konteks supra-sistem masyarakat. bangsa dan negara serta kepentingan umat di mana pendidikan itu diterapkan. lingkungan. maka pembaruan pendidikan Islam tidak mempunyai pondasi yang kuat dan juga tidak mempunyai arah yang pasti. bangsa. dan ajaran Islam. dan negara Indonesia dalam menghadapi tuntutan perubahan. Langkah berikutnya adalah mengembangkan kerangka dasar sistematik. Apabila terlepas dari konteks ini.Langkah awal yang harus dilakukan dalam mengadakan perubahan pendidikan adalah merumuskan kerangka dasar filosofis yang sesuai dengan ajaran Islam kemudian mengembangkan teori pendidikan yang didasarkan pada sumsi-asumsi dasar tentang manusia yang hubungannya dengan masyarakat. . Tanpa kerangka dasar “filosofis” dan “teoritis” yang kuat. pendidikan akan menjadi tidak relevan dengan kebutuhan masyarakat.

1973. 1999. Kapita Selecta. Setangkai Bunga Sosiologi. A Global Ethics for Global Politics and Economics. 1991.A. Jakarta: Fajar Dunia Ace Suryadi dan H. 1973 M. Ali Noer Zaman “Etika Ekonomi-Politik Global: Mencari Visi Baru bagi Kelangsungan Agama Abad XXI.R. Jakarta: Bulan Bintang. Natsir. 1980. Bandung: Remaja Rosdakarya Musa Asy‟ari. Natsir. Tilaar. 1998. 2000. “Reformasi Pendidikan Islam dalam Millenium III” dalam Mudjia Rahardjo. Bakker SJ. Quo Vadis Pendidikan Islam: Pembacaan Realitas Pendidikan Islam.M. “Pendidikan Islam di Indonesia dalam Transformasi Sosial Budaya” dalam Muslih Usa ed.R. Refleksi dan Reformasi Pendidikan di Indonesia Memasuki Millenium III. 1974) . Jakarta: Logos H. Malang: Cendekia Putramulya Hans Kung. h. Sosial dan Pengetahuan. Filsafat Islam tentang Kebudayaan. (Jakarta: Bulan Bintang. Yogyakarta: Adicipta Karya Nusa [1] M. 77 [2] Selo Soemarjan dan Soelaman Soemardi. Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Rusli Karim. Setangkai Bunga Sosiologi.DAFTAR PUSTAKA A. Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Dhorifi Umar dan Sulthon Fa. Yogyakarta: Lembaga Studi Filsafat Islam Selo Soemarjan dan Soelaman Soemardi. 2002. Magelang: Tera Indonesia H. Tilaar.al. 1999. Jakarta: Kanisius M. 1974. Filsafat Kebudayaan: Sebuah Pengantar. 1993. 2002.. 2001. Perspective on Modernization: Toward a General Theology of Third World Development. Analisis Kebijakan Pendidikan Suatu Pengantar.. University Press of America M. 1999. Pendidikan Islam di Indonesia Antara Cita dan Fakta.A. (Jakarta: FE UI. Reorientasi Pendidikan Islam. Malik Fajar. Yogyakarta: Tiara Wacana Muhaimin et. Kapita Selecta. terj. Bambang Pranowo. Bandung: Remaja Rosdakarya Azyumardi Azra. Jakarta: Qalam J.W. Francis Abraham. Dja‟far eds. Jakarta: FE UI. Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional dalam Perspektif Abad 21.. 1973).M. 1984. 1974 Suyanto dan Djihad Hasyim.

1984). Pendidikan Islam di Indonesia Antara Cita dan Fakta.. 2002). 22 [9] H. Sosial dan Pengetahuan. h. h. “Reformasi Pendidikan Islam dalam Millenium III” dalam Mudjia Rahardjo.92 [13] Azyumardi Azra.R. (Jakarta: Kanisius. Bakker SJ. (Jakarta: Logos. Filsafat Islam tentang Kebudayaan. Pendidikan Islam: …. “Pendidikan Islam di Indonesia dalam Transformasi Sosial Budaya” dalam Muslih Usa (ed). 57 [17] Azyumardi Azra. Reorientasi Pendidikan Islam. Refleksi dan Reformasi Pendidikan di Indonesia Memasuki Millenium III. Analisis Kebijakan Pendidikan Suatu Pengantar. h. 1999).al. h. Reorientasi …. komitmen terhadap budaya solidaritas dan keteraturan ekonomi. (Yogyakarta: Tiara Wacana. 36—37 [12] Muhaimin et. Malik Fajar. Bambang Pranowo. 26 [11] H.R. (Yogyakarta: Adicipta Karya Nusa. 129 [15] Azyumardi Azra. 1999). h. h. Rusli Karim. h. Dhorifi Umar dan Sulthon Fa. 26 [10] H. Tilaar. Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional dalam Perspektif Abad 21. h. Pendidikan Islam: …. Francis Abraham. h. h. h. 2000). 1999). kedua.M. 2001).77 [8] Suyanto dan Djihad Hasyim. Beberapa Agenda …. (Bandung: Remaja Rosdakarya. Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru.M. 59 [14] M.. 58 [18] Tatanan global mensyaratkan terpenuhinya empat kewajiban etika global. h. Quo Vadis Pendidikan Islam: Pembacaan Realitas Pendidikan Islam.. h. 1993) [6] M.A. (University Press of America. komitmen . Empat kewajiban itu adalah: pertama komitmen terhadap budaya anti kekerasan dan hormat terhadap kehidupan. Malik Fajar.R. Filsafat Kebudayaan: Sebuah Pengantar. (Malang: Cendekia Putramulya. (Bandung: Remaja Rosdakarya. Perspective on Modernization: Toward a General Theology of Third World Development. 1998). 1991). 59 [16] Azyumardi Azra. h.A. 14 [5] Ace Suryadi dan H. Tilaar. (Magelang: Tera Indonesia. (Yogyakarta: Lembaga Studi Filsafat Islam. Tilaar. Pendidikan Islam: ….A. 61. Dja‟far (eds).75—81 [4] Musa Asy‟ari. 1980) [7] Dalam A. (Jakarta: Fajar Dunia. ketiga. Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah.W. J.[3] Lihat A.

Kedua. 187 [19] Alasan mendasar perlunya integralistik ini. Ketiga. [20] Muhaimin et. dalam proses ini. terjadinya perubahan secara continue menuju masa depan. komitmen terhadap equalitas dan komitmen partnership.al. 46 . realitas sosiologis yang selalu terlibat dengan proses dialektika fundamental dalam kehidupan masyarakat. pertama. Ali Noer Zaman “Etika Ekonomi-Politik Global: Mencari Visi Baru bagi Kelangsungan Agama Abad XXI. A Global Ethics for Global Politics and Economics. h. pendidikan pada dasarnya sebagai suatu instrumen strategis pengembangan potensi dasar yang dimiliki oleh setiap manusia. baik secara negatif maupun positif. 2002). (Jakarta: Qalam. manusia tidak hanya recipient.terhadap budaya toleransi dan hidup penuh kebenaran. misalnya potensi moral yang menjadikan manusia secara esensial dan eksistensial sebagai makhluk religius. tetapi sekaligus secara dialektikal sebagai subyek yang terlibat secara aktif dan kreatif dengan proses kebudayaan disamping tidak menutup kemungkinan mendapatkan pengaruh. h. baik secara evolutif maupun revolutif.. terj. Hans Kung. dan keempat. Paradigma ….

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful