Porto Kegawatan

PORTOFOLIO

KASUS KEGAWATAN
KEJANG DEMAM

Oleh:
dr. Lolla Samiah

RSUD PANDANARANG BOYOLALI 2012

19 UNSOED : Kejang Demam : dr.Berita Acara Presentasi Portofolio Pada hari Kamis tanggal 10 Mei 2012 Telah di Presentasikan Portofolio. (dr. UNSOED 2011.011.ID dan Nama Wahana : Lolla Samiah : 2011.Siti Nur Rohmah : RSUD Pandanarang Boyolali No 1. 04.Siti Nur Rohmah) No. 04. 011. ID peserta Dengan Judul/ topik No.19. Nama Peserta Ajeng Destara W Lita Hati Dwi P.04. 3. 011. ID: .07. E Tri Subiantoro Lolla Samiah Dini Anggini No. 04. UNSOED Tanda Tangan Berita Acara ini ditulis dan disampaikan sesuai dengan sesungguhnya Pendamping. ID Peserta 2011. 2. 04.ID dan Nama Pendamping No. 4. UNSOED 2011. UNSOED 2011. UNSOED 2011.27.18.03. 04. 011. 5. 011. 011. oleh: Nama No.

04.011.19 UNSOED/ dr. Tidak ada riwayat kejang sebelumnya dan tidak ada riwayat kejang tanpa demam. RM: 06179573) : 10 Mei 2012 : RSUD Pandanaranag Boyolali : dr. Muh Alil BB: 10 kg (No.KASUS 3 No.Siti Nur Rohmah : □ Keilmuan □Keterampilan □Penyegaran □Tinjauan : Anak perempuan.ID dan Nama Peserta No.ID dan Nama Wahana Topik Tanggal (kasus) Nama Pasien Tanggal presentasi Tempat presentasi Pendamping Obyek presentasi pustaka □ Diagnostik □Manajemen □ Neonatus □ Dewasa Deskripsi □Bayi □Lansia □Masalah □ Anak □Ibu Hamil □ Istimewa □ Remaja : 2011. usia 1 tahun 3 bulan datang dengan keluhan kejang berulang disertai demam dan batuk. Tujuan Bahan bahasan Cara Membahas : Manajemen kegawatan : □ Tinjauan pustaka : □ Diskusi □ Riset □ Kasus □Email □ Audit □Pos □ Presentasi&diskusi .Lolla Samiah : RSUD Pandanarang Boyolali : Kejang demam : 14 Februari 2012 : An.

nafas cuping hidung -/-. BAB dan BAK normal seperti biasa. t 39°C. Kejang tetap berlangsung setelah pasien sampai di RS. Satu hari sebelum masuk rumah sakit pasien panas. RP -/- Riwayat pengobatan : (-) Riwayat kesehatan/penyakit : Tidak ada riwayat kejang yang disertai demam sebelumnya dan tidak ada riwayat kejang tanpa demam sebelumnya. Ibu mengatakan anak masih mau makan dan minum. gusi berdarah. Pb : 76 cm Vital Sign : Nadi 120x. RR 32x.Data Utama untuk bahan diskusi Diagnosis kerja/Gambaran klinis : Kejang demam Pasien datang ke IGD dengan keluhan kejang. Kaku Kuduk (-) : otot bantu pernafasan -/-. tangan dan kaki kaku. SI -/-. RBH -/Abdomen : dalam batas normal Ekstremitas : akral hangat. Pasien mengalami kejang pertama pada tangan kiri selama + 3 menit kemudian sadar dan menangis. kejang seluruh tubuh : 10 kg . Kepala Leher Thorax : CA -/-. Pemeriksaan Fisik:         KU BB : tidak menangis. kejang berlangsung selama ± 10 menit. batuk. Dalam perjalalan menuju IGD pasien mengalami kejang kembali seluruh tubuh. tidak mencret. tidak pilek. RF (+)n /(+) n . ptekie (-). maupun BAB berwarna hitam. faring hiperemis (+) : simetris. dan air kencing berwarna kuning jernih. Riwayat keluarga : Tidak ada keluarga yang mengalami kejang tanpa demam. RBK -/-. Ayah pasien pernah mengalami kejang saat demam sewaktu kecil Riwayat pekerjaan Riwayat imunisasi Lain-lain : (-) : ibu pasien mengaku bayi di imunisasi lengkap dibidan : (-) . retraksi (–) Wheezing inspirasi -/-. dan mata melirik ke atas. Tidak ada riwayat mimisan.

Staf Pengajar IKA FKUI. IDAI. 1995. 2006. Jakarta: Badan Penerbit IDA 3. Konsensus penatalaksanaan kejang demam. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2010. Buku Ajar Kesehatan Anak.Daftar Pustaka: 1. Pedoman Pelayanan Medis Jilid I. Hasil Pembelajaran: Diagnosis Kejang Demam Penatalaksanaan Kejang Demam . Jakarta: Badan Penerbit IDA 2. UKK neurologi IDAI.

Pb: 76cm Vital Sign : Nadi 120x. Dalam perjalalan menuju IGD pasien mengalami kejang kembali seluruh tubuh. faring hiperemis (+) : simetris. Kaku Kuduk (-) : otot bantu pernafasan -/-. tangan dan kaki kaku. retraksi (–) Wheezing inspirasi -/-. Satu hari sebelum masuk rumah sakit pasien panas. Subyektif (Allowanamnesis) Pasien datang ke IGD dengan keluhan kejang. RBH -/Abdomen : dalam batas normal Ekstremitas : akral hangat. tidak pilek. RR 32x. SI -/-. RBK -/-. 2. Kejang tetap berlangsung setelah pasien sampai di RS. ptekie (-).000 /L .Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio Kejang Demam (Kasus Kegawatan) 1. kejang berlangsung selama ± 10 menit.09 jt/ml : 345. t 39°C Kepala Leher Thorax : CA -/-. RP -/- Darah : Hb Lekosit Hematokrit Eritrosit Trombosit : 13 g/dl : 6. Ibu mengatakan anak masih mau makan dan minum.700 / L : 37 % : 4. dan air kencing berwarna kuning jernih. dan mata melirik ke atas. tidak mencret. maupun BAB berwarna hitam. Tidak ada riwayat mimisan. BAB dan BAK normal seperti biasa. batuk. gusi berdarah. RF (+)n /(+) n . Tidak ada riwayat kejang yang disertai demam sebelumnya dan tidak ada riwayat kejang tanpa demam sebelumnya. Pasien mengalami kejang pertama pada tangan kiri selama + 3 menit kemudian sadar dan menangis. nafas cuping hidung -/-. kejang seluruh tubuh : 10 kg. Obyektif KU BB : tidak menangis.

15 Evaluasi: Anak kejang kembali. 2. Plan Diagnosis: Diagnosis kerja pada pasien ini adalah Kejang demam kompleks e. tidak kejang 3. Untuk mendapat diagnosis yang pasti dibutuhkan EEG atau pemeriksaaan cairan serebrospinal Penangan : Pkl 16.05 Evaluasi : anak menagis.c faringitis akut. seluruh tubuh disetai panas dan batuk dan tidak adanya riwayat kejang yang disertai demam sebelumnya ataupun riwayat kejang tanpa demam sebelumnya disertai hasil pemeriksaan fisik mengarah kepada kejang demam kompleks e. seluruh tubuh Inj. :: kegiatan Anamnesis Pemeriksaan Fisik Periode Setiap hari dilakukan Setiap hari dilakukan Hasil yang diharapkan Keluhan berkurang Keadaaan umum baik. Laboratorium - .c faringitis akut 4. Kejang berhenti (kejang + 3 menit) Awasi keadaan umum dan vital sign Konsul dr. kejang berhenti IVFD RL 10 tpm makro Inj.00 (saat datang) : O2 1-2 liter/menit Nasal kanul pediatric Diazepam rectal 5 mg Pkl 16.c faringitis akut keluhan kejang berulang.sp. Diazepam 3 mg iv Pkl 17. Diazepam 3 mg iv jika kejang Paracetamol syr 3x1 cth Pkl 17.A jika kejang terjadi kembali Konsultasi : Rujukan Kontrol no 1. Assessment : Kejang demam kompleks e.3.20 Evaluasi: Anak menangis.

Nilai ambang kejang antara suhu (38. 16% berulang dalam waktu 24 jam. Sekitar 6-15% terjadi pada usia lebih 4 tahun. Setelah kejang demam pertama.41. perlu dipikirkan kemungkinan lain misalnya infeksi SSP. 8% berlangsung lama yakni lebih dari 15 menit. Biasanya terjadi pada anak berusia 6 bulan sampai dengan 5 tahun. maka resiko kejang demam kedua 50%. Kejang demam merupakan penyakit yang paling sering dijumpai di bidang neurologi khususnya anak. Bila anak berusia kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun mengalami kejang didahului demam. 2-4% anak akan berkembang menjadi epilepsi dan ini 4 kali resikonya dibanding dengan populasi umum. kemudian kejang demam kembali tidak termasuk dalam kejang demam. DEFINISI Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rectal di atas 380 celcius) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium. Kejang demam dibagi menjadi 2 yakni kejang demam sederhana dan kejang demam kompleks. sedangkan di Asia dilaporkan lebih tinggi. I. Bila kejang demam sederhana yang pertama terjadi pada usia kurang dari 12 bulan.8 . Dan bila kejang demam sederhana pertama terjadi pada usia 12 bulan/ lebih. Kejang pertama terbanyak terjadi antara usia 18-23 bulan.4)0C. . maka resiko kejang demam kedua menjadi 30%. Amerika Selatan. dan Eropa Barat. dimana anak laki-laki lebih sering mengalami kejang demam. Kejang demam terjadi pada 2-4% di Amerika Serikat. Anak yang pernah mengalami kejang tanpa demam. Kejang demam seringkali terjadi pada usia 6 bulan-3 tahun dengan insidensi tertinggi pada usia 18 bulan.PEMBAHASAN Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rectal di atas 380C) yang disebakan oleh proses ekstrakranium. 80% dari kasus kejang demam merupakan kejang demam sedehana sedangkan 20% kasus adalah kejang demam komplek. Kejang demam terjadi pada 2%-4% dari populasi anak yang berusia 6 bulan hingga 5 tahun. Kejang disertai demam pada bayi berusia kurang dari 1 bulan tidak termasuk dalam kejang demam. atau epilepsi yang kebetulan terjadi bersama demam.

Akibatnya konsentrasi ion K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi ion Na+ rendah. kimiawi. Jadi pada kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion K+ maupun ion Na+ melalui membran tersebut. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun ke sel-sel tetangganya melalui bantuan neurotransmitter dan terjadilah kejang. dan perubahan pathofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan. Pada keadaan demam. Paling sering penyebabnya adalah infeksi. atau aliran listrik dari sekitarnya.2)0C dalam rentang waktu tertentu. kenaikan suhu 10 celsius akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal 10%-15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%.8-37. Untuk menjaga keseimbangan potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim Na-K ATP-ase yang terdapat di permukaan sel. dengan akibat akan terjadi lepas muatan listrik. Pada anak usia 3 tahun. Keseimbangan potensial membran ini dapat dirubah oleh adanya perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraselular. sedangkan di luar sel neuron terjadi sebaliknya. dibandingkan pada orang dewasa yang hanya 15%. Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan di luar sel. . Demam adalah meningkatnya suhu tubuh diatas nilai normal (35. sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh. PATOFISIOLOGI Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel atau organ otak diperlukan suatu energi yang didapat dari metabolisme. Melalui proses oksidasi glukosa dipecah menjadi CO2 dan air. Dalam keadaan normal. Sel neuron dikelilingi oleh suatu membran yang terdiri dari permukaan dalam adalah lipoid dan permukaan luar adalah ionik. Bahan baku untuk metabolisme otak yang terpenting adalah glukosa. Sifat proses itu adalah oksidasi dimana oksigen disediakan melalui fungsi paru-paru dan diteruskan ke otak melalui sistem kardiovaskuler. kecuali ion (Cl-). dalam hal ini adalah infeksi saluran nafas disusul dengan infeksi saluran cerna pada anak-anak. maka terdapat perbedaan potensial yang disebut sebagai potensial membran dari sel neuron. Demam merupakan salah satu keluhan dan gejala yang paling sering terjadi pada anak dengan penyebab berupa infeksi dan non infeksi.II. rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis. membran sel dapat dilalui dengan mudah oleh ion kalium (K+) dan sangat sulit dilalui oleh ion (Na+) dan elektrolit lainnya.

kejang dapat terjadi pada suhu 38 0C dan pada anak yang memiliki batas ambang kejang yang tinggi. Tergantung dari ambang kejang yang dimilikinya. Pada anak yang memiliki ambang kejang rendah. seorang anak menderita kejang pada kenaikan suhu tertentu. Berdasarkan hal ini dapat disimpulkan bahwa terulangnya kejang demam lebih sering tejadi pada ambang kejang yang rendah sehingga dalam penanggulangannya perlu diperhatikan pada suhu berapa penderita kejang. . kejang baru terjadi pada suhu 400C atau lebih.Tiap anak memiliki ambang kejang yang berbeda.

III. Begitu kejang berhenti anak tidak memberi reaksi apapun untuk sejenak. Lama kejang singkat kurang dari 15 menit 3. Tidak ada kelainan neurologi sebelum dan setelah kejang 8. klonik. tetapi setelah beberapa detik atau menit anak akan terbangun dan sadar kembali tanpa adanya kelainan saraf. Sifat kejang fokal atau parsial satu sisi atau kejang umum yang didahului oleh suatu kejang parsial 3. Terjadi pada usia 6 bulan – 4 tahun 2. Kejang demam sederhana (Simple Febrile Seizure) menurut Livingstone memiliki beberapa kriteria. Kejang timbul pada 16 jam pertama setelah timbulnya demam 6. Tanpa adanya gerakan fokal atau berulang dalam 24 jam 7. Umunya berhenti sendiri dan pasien segera sadar 5. 80% dari kasus kejang demam merupakan kejang demam sederhana sedangkan 20% kasus adalah kejang demam komplek. Serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam. Frekuensi kejang kurang dari 4x dalam 1 tahun 9. berlangsung singkat dan dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonik-klonik. Kejang berulang atau terjadi lebih dari 1 kali dalam 24 jam . Sifatnya kejang umum. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya 1 minggu sesudah suhu normal tidak menunjukkan adanya kelainan Kejang Demam Komplek (Complex Febrile Seizure) memiliki ciri – cirri gejala klinis sebagai berikut: 1. Kejang berlangsung lama lebih dari 15 menit 2. yakni: 1. IV. MANIFESTASI KLINIS Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat yang disebabkan oleh proses infeksi di luar susunan saraf pusat. Umumnya kejang berhenti sendiri. fokal atau akinetik. tonik dan atau klonik 4. tonik. KLASIFIKASI Kejang demam memiliki 2 bentuk yakni kejang demam kejang demam sederhana dan kejang demam komplek.

asidosis laktat disebabkan oleh metabolisme anaerobik. V. Rangkaian peristiwa diatas adalah penyebab rusaknya neuron otak selama berlangsung kejang yang lama. disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh yang makin meningkat. Dalam anamnesa khususnya pada penyakit anak dapat digali data – data yang berhubungan dengan kejang demam meliputi: a. umur penndidikan dan pekerjaan orang tua. umur. hiperkapnea. Anamnesa Anamnesa adalah cara pemeriksaan yang dilakukan dengan wawancara baik langsung pada pasien (autoanamnesis) atau kepada orang tua atau sumber lain (aloanamnesis) misalnya wali atau pengantar. Identitas Identitas meliputi nama. nama orang tua. alamat. hipotensi arterial. meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet yang pada akhirnya terjadi hipoksemia. . Kejang tipe ini mempunyai suatu dasar kelainan yang menyebabkan timbulnya kejang. dapat terjadi serangan epilepsi yang spontan. Kejang demam yang berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya dan tidak menimbulkan gejala sisa. kejang demam yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelainan antomis di otak hingga terjadi epilepsi. biasanya disertai terjadinya apnea. Sehingga. jenis kelamin. Kerusakan pada daerah lobus temporalis setelah mendapat serangan kejang yang berlangsung lama. disebabkan oleh meningkatnya aktifitas otot dan selanjutnya menyebabkan metabolisme otak meningkat. Tetapi pada kejang yang berlangsung lama. pemeriksaan fisik. Faktor terpenting adalah terjadinya gangguan peredaran darah yang menyebabkan hipoksia sehingga meningkatkan permeabilitas kapiler dan timbulnya edema otak yang mengakibatkan kerusakan sel neuron otak. 1.Menurut Livingstone. lebih dari 15 menit. kejang demam komplek digolongkan sebagai epilepsi yang diprovokasi oleh demam. sedangkan demam hanya merupakan faktor pencetus saja. Pemerikasaan dan Diagnosis Penegakan diagnosa kejang demam dapat diperoleh melalui beberapa langkah yakni anamnesa. dan pemeriksaan penunjang yang terdiri dari laboratorium dan pencitraan jika diperlukan. agama dan suku bangsa.

umum. dan apakah ada kemunduran kepandaian anak. terinci. perlu digali informasi mengenai demam dan kejang itu sendiri. dan riwayat adanya reaksi alergi terhadap obat. dsb. ada atau tidaknya penyakit. kontinou. perlu ditanyakan kapan berobat. berapa jarak antara demam dengan onset kejang. Bila pasien mendapat pengobatan sebelumnya. adanya manifestasi perdarahan. saat anak umur berapa mulai muncul kejang pertama).Sebagaimana disebutkan sebelumnya. Gejala lain yang menyertai juga penting termasuk panas. apakah kejang ini baru pertama kalinya atau sudah pernah sebelumnya (bila sudah pernah berapa kali (frekuensi per tahun). kepada siapa. apakah terutama saat malam hari. Pada riwayat perjalanan penyakit disusun cerita yang kronologis. penurunan kesadaran. serta upaya apa yang dilakukan untuk mengatasi . kejang. Pada setiap keluhan demam perlu ditanyakan berapa lama demam berlangsung. muntah. Riwayat Penyakit. tonik. Demam didapatkan pada penyakit infeksi dan non infeksi. atau fokal. adanya kelumpuhan. Pada kasus kejang demam. Riwayat Kehamilan. sesak nafas. Pada kejang demam juga perlu dibedakan apakah termasuk kejang demam sederhana atau kejang suatu epilepsi yang dibangkitkan serangannya oleh demam (berdasarkan kriteria Livingstone). epidemiologi kejang demam lebih banyak terjadi pada anak laki-laki pada usia 6 bulan sampai dengan 5 tahun. Pada riwayat penyakit perlu ditanyakan keluhan utama dan riwayat perjalanan penyakit. merancau. hasil dari pengobatan tersebut. Hal lain yang menyertai demam juga perlu ditanyakan misalnya menggigil. apakah terjadi kejang ulangan dalam 24 jam. berapa lama waktu sekali kejang. c. Tipe kejang harus ditanyakan secara teliti apakah kejang bersifat klonik. Ditanyakan pula lamanya serangan kejang. Dari anamnesa diharapkan kita bisa mengarahkan kecurigaan terhadap penyebab demam itu sendiri. karakteristik demam apakah timbul mendadak. kesadaran pada saat kejang dan setelah kejang. dan jelas mengenai keadaan kesehatan pasien sejak sebelum ada keluhan sampai anak dibawa berobat. obat yang sudah diberikan. Ibu Perlu ditanyakan kesehatan ibu selama hamil. interval antara dua serangan. Keluhan utama adalah keluhan atau gejala yang menyebabkan pasien dibawa berobat. mencret. mengigau. b. muntah. Pada anamnesa kejang perlu digali informasi mengenai kapan kejang terjadi. intermitten. kesadaran menurun. apakah didahului adanya demam. remitten. dsb.

ibu. atau saudara kandung). siapa yang menolong. tekanan darah. Perlu juga ditanyakan adanya kejadian ikutan pasca imunisasi g. sesuai jadwal yang diberikan. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan. Data ini dapat diperoleh dari KMS atau kartu pemeriksaan kesehatan lainnya. Perlu ditanyakan kapan tanggal lahir pasien. Dengan mengetahui informasi yang lengkap tentang keadaan ibu saat hamil dan riwayat persalinan anak dapat disimpulkan beberapa hal penting termasuk terdapatnya asfiksia. infeksi intrapartum. Pada anak balita perlu ditanyakan perkembangan motorik kasar. d. cara persalinan. merokok. nadi. Makanan dinilai dari segi kualitas dan kuantitasnya h. Riwayat Penyakit Yang Pernah Diderita. Riwayat Imunisasi. Pada kejang demam perlu ditanyakan apakah sebelumnya pernah mengalami kejang dengan atau tanpa demam.penyakit. sosial-personal. minuman keras. misalnya kejang demam. Status perkembangan pasien perlu ditelaah secara rinci untuk mengetahui ada tidaknya penyimpangan. rutin. sedang. Riwayat Persalinan. dan hari-hari pertama setelah lahir. keadaan bayi setelah lahir. oleh sebab itu perlu ditanyakan riwayat familial penderita. Riwayat mengkonsumsi obat-obatan tertentu. status . Riwayat Makanan. motorik halus. Apakah penderita mendapat imunisasi secara lengkap. atau berat). konsumsi makanan ibu selama hamil. berat badan dan panjang badan bayi saat lahir.dsb yang mungkin berhubungan dengan riwayat penyakit sekarang. pernafasan. Perlu juga ditanyakan masa kehamilan apakah cukup bulan atau kurang bulan atau lewat bulan. Biasanya didapatkan riwayat kejang demam pada keluarga lainnya (ayah. tanda –tanda vital pasien (kesadaran pasien. trauma lahir. e. tempat kelahiran. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik dibagi menjadi 2 yakni pemeriksaan umum dan pemeriksaan sistematis. Riwayat Keluarga. i. Perlu digali bagaimana status pertumbuhan anak yang dapat ditelaah dari kurva berat badan terhadap umur dan panjang badan terhadap umur. apakah pernah mengalami penyakit saraf sebelumnya. dan bahasa f. dan suhu tubuh). Penilaian keadaan umum pasien antara lain meliputi kesan keadaan sakit pasien (tampak sakit ringan. 2.

Tindakan pungsi lumbal untuk pemeriksaan CSS dilakukan untuk menegakkan atau menyingkirkan kemungkinan meningitis. Perlu dicari adanya sumber terjadinya demam. adanya tanda-tanda lateralisasi. elektrolit. Perlu diperiksa keadaan pupil. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang terdiri dari: a. Kernig sign. paralisa. Selanjutnya dilanjutkan dengan pemeriksaan sistematik organ dari ujung rambut sampai ujung kuku untuk mengarahkan ke suatu diagnosis. lingkar kepala. kecuali bila ada tanda-tanda meningitis . apakah ada kecurigaan yang mengarah pada infeksi baik virus. kecuali untuk mengevaluasi sumber infeksi/ mencari penyebab (darah tepi. tonik. atau adanya proses non infeksi seperti misalnya kelainan darah yang biasanya ditandai dengan dengan pucat. adanya paresis. Pada pemerikasaan kasus kejang demam perlu diperiksa faktor faktor yang berkaitan dengan terjadinya kejang dan demam itu sendiri. Pada bayi kecil. Amati pula kesadaran pasien pada saat dan setelah kejang. namun paling sering disebabkan oleh infeksi. atau perdarahan. pemeriksaan laboratorium. Pada pemeriksaan fisik. pemeriksaan rutin tidak dianjurkan. berat badan. rangsangan meningeal (kaku kuduk. Jika kita mendapatkan pasien dalam keadaan kejang. ada tidaknya fokus infeksi. Brudzinski I. Foto X-ray kepala dan neuropencitraan CT scan atau MRI tidak rutin dan hanya dikerjakan atas indikasi. atau fokal. lingkar dada). adanya spastisitas.gizi pasien. umum. bakteri maupun jamur. pasien diukur suhunya baik aksila maupun rektal. c. Pemeriksaaan kejang sendiri lebih diarahkan untuk membedakan apakah kejang disebabkan oleh proses ekstra atau intrakranial. dan gula darah). maka tindakan pungsi lumbal dikerjakan dengan ketentuan sebagai berikut: bayi < 12 bulan : diharuskan bayi antara 12-18 bulan : dianjurkan bayi > 18 bulan : tidak rutin. serta data antropometrik (panjang badan. Demam merupakan salah satu keluhan dan gejala yang paling sering terjadi pada anak dengan penyebab bisa infeksi maupun non infeksi. II). pemeriksaan cairan serebrospinal (CSS). perlu diamati teliti apakah kejang bersifat klonik. pemeriksaan reflek patologis dan fisiologis. b. pemeriksaan radiologi. panas. klinis meningitis tidak jelas. 3.

Atau diazepam rectal dengan dosis 5 mg untuk anak di bawah 3 tahun atau dosis 7. VI. pemberian obat selanjutnya tergantung dari jenis kejang demamnya dan faktor resikonya apakah kejang demam sederhana atau kejang demam kompleks.3 – 0.75 mg/kgBB/kali atau diazepam rektal 5 mg untuk anak berat badan di bawah 10 kg dan 10 mg untuk anak dengan berat badan diatas 10 kg.5 mg/kgBB/kali secara perlahan dengan kecepatan 1-2 mg/menit atau dalam waktu 2 menit dengan dosis maksimal 20 mg. kejang sudah berhenti. maka pasien harus dirawat di ruang intensif. Apabila datang dalam keadaan kejang obat yang paling cepat untuk menghentikan kejang adalah diazepam yang diberikan secara intravena dengan dosis 0.oleh sebab itu tidak direkomendasikan.0.5 mg/kgBB/kali.5 . kecuali pada kejang demam yang tidak khas (misalnya pada kejang demam komplikata pada anak usia > 6 tahun atau kejang demam fokal). Kejang yang tetap belum berhenti dengan diazepam rektal dapat diulang lagi dengan cara dan dosis yang sama dengan interval waktu 5 menit.5 mg untuk anak usia di atas 3 tahun. Bila kejang berhenti. Bila kejang telah berhenti. d. Pemeriksaan elektroensefalografi (EEG). selanjutnya diberikan dosis rumatan 4-8 mg/kgbb/hari (12 jam setelah pemberian loading dose). Bila kejang belum berhenti. Penatalaksanaan Kejang Penatalaksanaan kejang demam meliputi penanganan pada saat kejang dan pencegahan kejang: a. Pemeriksaan EEG tidak dapat memprediksi berulangnya kejang atau memperkirakan kemungkinan kejadian epilepsi pada pasien kejang demam. Obat yang praktis dan dapat diberikan kepada orang tua atau di rumah adalah diazepam rektal dengan dosis 0.3-0. Bila 2 kali dengan diazepam rektal masih kejang. Dan disini dapat dimulai pemberian diazepam intravena dengan dosis 0. Bila kejang tetap belum berhenti diberikan fenithoin secara iv dengan loading dose 10-20 mg/kgbb/kali dengan kecepatan 1 mg/kgbb/menit atau kurang dari 50 mg/menit.Bila yakin bukan meningitis secara klinis tidak perlu lumbal pungsi. . Penanganan Pada Saat Kejang Biasanya kejang demam berlangsung singkat dan pada saat datang ke tempat pelayanan kesehatan. dianjurkan orang tua untuk segera ke rumah sakit.

3 mg/kgbb setiap 8 jam pada saat demam menurunkan resiko berulangnya kejang (1/3 s. menjaga keseimbangan air dan elektrolit. Parasetamol 10 mg/kgbb sama efektifnya dengan ibuprofen 5 mg/kgbb dalam menurunkan suhu tubuh (Van Esch A dkk. Pengobatan Penyebab. d.b. dan sedasi yang cukup berat pada 25-39% kasus. Antibiotik diberikan sesuai indikasi dengan penyakit penyebabnya. 1995). Fenobarbital. Antikonvulsan Pemakaian diazepam oral dosis 0. karbamazepin.5 mg/kgbb setiap 8 jam pada suhu > 38. Kompres anak dengan suhu > 39 0C dengan air hangat. suhu > 38 0C dengan air biasa. pemberian oksigen. Dosis ibuprofen 510mg/kgbb/kali diberikan 3-4x per hari. meskipun jarang. kejang demam dapat berkembang menjadi: a. Turunkan Demam Antipiretik pada saat kejang dianjurkan walaupun tidak ditemukan bukti bahwa penggunaan antipiretik mengurangi resiko terjadinya kejang demam. Kejang demam berulang Kejang demam akan terjadi kembali pada sebagian kasus. c. pertahankan keseimbangan tekanan darah VII.5 0C. Asetaminofen dapat menyebabkan sindroma Reye terutama pada anak kurang dari 18 bulan. Meliputi bebaskan jalan nafas. Penanganan supportif lainnya. Faktor resiko terjadinya kejang demam berulang adalah: riwayat kejang demam dalam keluarga usia kurang dari 15 bulan temperatur yang rendah saat kejang cepatnya kejang saat demam . Dosis tersebut cukup tinggi dan menyebabkan ataksia. e. Begitu pula dengan diazepam rektal dosis 0. iritabel. dan fenitoin pada saat demam tidak berguna untuk mencegah kejang demam. Pragnosa Apabila tidak diterapi dengan baik.d 2/3 kasus). Dosis asetaminofen yang digunakan berkisar 10-15 mg/kgbb/kali diberikan 4 kali sehari dan tidak boleh diberikan lebih dari 5x per hari.

15% kemungkinan berulang. cerebral palsy. b. Kejadian kecacatan sebagai komplikasi kejang demam tidak pernah dilaporkan. Pemberian obat rumat Pengobatan rumatan hanya diberikan bila kejang demam menunjukkan ciri sebagai berikut (salah satu): kejang > 15 menit adanya kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah kejang misalnya hemiparesis. dan hidrosephalus. Epilepsi Faktor resiko lain adalah terjadinya epilepsi di kemudian hari.Bila seluruh faktor di atas ada. . Kelainan neurologis tidak nyata misalnya keterlambatan perkembangan ringan bukan merupakan indikasi. Faktor resiko menjadi epilepsi adalah kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum kejang demam pertama kejang demam kompleks riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara kandung Masing-masing faktor resiko meningkatkan kemungkinan kejadian epilepsi sampai 4-6%. Kemungkinan berulang adalah pada tahun pertama. kemungkinan berulang 80% sedangkan bila tidak terdapat faktor tersebut hanya 10% . Kemungkinan menjadi epilepsi tidak dapat dicegah dengan pemberian obat rumat pada kejang demam c. Kombinasi dari faktor resiko tersebut meningkatkan kemungkinan epilepsi 10-49%. Kejang fokal    Pengobatan rumat dipertimbangkan apabila Kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam Kejang demam terjadi pada bayi kurang 12 bulan Kejang demam ≥ 4 kali per tahun Sebagian besar peneliti setuju bahwa kejang > 15 menit merupakan indikasi pengobatan rumat. Kematian karena kejang demam tidak pernah dilaporkan VIII. retardasi mental. Kejang fokal atau fokal menjadi umum menunjukkan bahwa anak mempunyai fokus organik.

Tidak ada bukti bahwa terapi akan mengurangi kejadian epilepsi Beberapa hal yang harus dikerjakan orang tua di rumah bila anak kembali kejang: 1. berupa asam valproat 15-40 mg/kgbb/hari per oral dibagi menjadi 2-3 dosis. kemudian dihentikan secara bertahap selama 1-2 bulan IX. Memberikan cara penanganan kejang 3.Terapi rumat kejang demam dibedakan menjadi pencegahan berkala (intermitten) dan pencegahan kontinu. Berikan diazepam rektal selama kejang. Memberikan informasi kemungkinan kejang kembali 4. Pada saat kejang sebagian besar orang tua beranggapan bahwa anaknya telah meninggal. Walaupun kemungkinan lidah tergigit jangan memasukkan sesuatu ke dalam mulut 4. berupa diazepam 0. .3 mg/kgbb/dosis per oral dan antipiretika. observasi dan catat lama dan bentuk kejang 5. Kendorkan pakaian yang ketat terutama di sekitar leher 3. Bila tidak sadar. Kecemasan ini harus dikurangi dengan cara: 1. Bersihkan muntahan atau lendir di mulut atau hidung. Meyakinkan bahwa kejang demam umumnya ”benign” 2. Terapi memang efektif mencegah rekurensi tetapi memiliki efek samping 5. Pencegahan kontinu diperuntukkan bagi kejang demam komplek. Tetap tenang dan tidak panik 2. Dan jangan diberikan jika kejang telah berhenti 7. diberikan pada saat anak menderita penyakit yang disertai demam. Edukasi pada Orang Tua Kejang selalu merupakan peristiwa yang menakutkan bagi orang tua. Ukur suhu. Pengobatan rumat kejang demam diberikan sampai1 tahun bebas kejang. posisikan anak telentang dengan kepala miring. Tetap bersama pasien selama kejang 6. Bawa ke dokter atau rumah sakit bila kejang berlangsung 5 menit atau lebih. Pencegahan berkala diperuntukkan bagi kejang demam sederhana.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful