FRAKTUR BASIS CRANII Fraktur basis cranii adalah suatu fraktur linear yang terjadi pada dasar tulang

tengkorak yang tebal. Fraktur ini seringkali disertai dengan robekan pada duramater. Fraktur basis cranii paling sering terjadi pada dua lokasi anatomi tertentu yaitu regio temporal dan regio occipital condylar. Fraktur basis cranii dapat dibagi berdasarkan letak anatomis fossanya menjadi fraktur fossa anterior, fraktur fossa media, dan fraktur fossa posterior. Jenis fraktur lain pada tulang tengkorak yang mungkin terjadi yaitu : 1. Fraktur linear yang paling sering terjadi merupakan fraktur tanpa pergeseran, dan umumnya tidak diperlukan intervensi. 2. Fraktur depresi terjadi bila fragmen tulang terdorong kedalam dengan atau tanpa kerusakan pada scalp. Fraktur depresi mungkin memerlukan tindakan operasi untuk mengoreksi deformitas yang terjadi. 3. Fraktur diastatik terjadi di sepanjang sutura dan biasanya terjadi pada neonatus dan bayi yang suturanya belum menyatu. Pada fraktur jenis ini, garis sutura normal jadi melebar. 4. Fraktur basis merupakan yang paling serius dan melibatkan tulang-tulang dasar tengkorak dengan komplikasi rhinorrhea dan otorrhea cairan serebrospinal (Cerebrospinal Fluid). Suatu fraktur tulang tengkorak berarti patahnya tulang tengkorak dan biasanya terjadi akibat benturan langsung. Tulang tengkorak mengalami deformitas akibat benturan terlokalisir yang dapat merusak isi bagian dalam meski tanpa fraktur tulang tengkorak. Suatu fraktur menunjukkan adanya sejumlah besar gaya yang terjadi pada kepala dan kemungkinan besar menyebabkan kerusakan pada bagian dalam dari isi cranium. Fraktur tulang tengkorak dapat terjadi tanpa disertai kerusakan neurologis, dan sebaliknya, cedera yang fatal pada membran, pembuluh-pembuluh darah, dan otak mungkin terjadi tanpa fraktur. Otak dikelilingi oleh cairan serebrospinal, diselubungi oleh penutup meningeal, dan terlindung di dalam tulang tengkorak. Selain itu, fascia dan otot-otot tulang tengkorak manjadi bantalan tambahan untuk jaringan otak. Hasil uji coba telah menunjukkan bahwa diperlukan kekuatan sepuluh kali lebih besar untuk menimbulkan fraktur pada tulang tengkorak kadaver dengan kulit kepala utuh dibanding yang tanpa kulit kepala.

1

000 orang di Amerika meninggal akibat berbagai jenis cedera. kerusakan nervus cranialis. Insiden rata-rata (gabungan jumlah masuk rumah sakit dan tingkat mortalitas) adalah 95 kasus per 100.000 penduduk. Fraktur depresi melibatkan pergeseran tulang tengkorak atau fragmennya ke bagian lebih dalam dan memerlukan tindakan bedah saraf segera terutama bila bersifat terbuka dimana fraktur depresi yang terjadi melebihi ketebalan tulang tengkorak. kebocoran cairan serebrospinal (CSF) dan meningitis. Fraktur basis cranii merupakan fraktur yang terjadi pada dasar tulang tengkorak yang bisa melibatkan banyak struktur neurovaskuler pada basis cranii.Fraktur tulang tengkorak dapat menyebabkan hematom.02%). Fraktur depresi antara lain frontoparietal (75%). Fraktur ini terjadi pada titik kontak dan dapat meluas jauh dari titik tersebut. Sebagian besar fraktur depresi merupakan fraktur terbuka (75-90%). Insiden fraktur tulang tengkorak ratarata 1 dari 6. terutama pada anak usia dibawah 5 tahun di Amerika Serikat. Pada 1998 sebanyak 148. Fraktur tulang temporal sebanyak 15-48% dari seluruh kejadian fraktur tulang tengkorak. atau 42. Sejauh ini fraktur linear adalah jenis yang banyak.409 orang setiap tahunnya. dan pada daerah-daerah lain (10%). Trauma kapitis menyebabkan 50. Angka kejadian fraktur linear mencapai 80% dari seluruh fraktur tulang tengkorak. yang merupakan jenis yang paling umum. 2 . Lebih dari 60% dari kasus fraktur tulang tengkorak merupakan kasus fraktur linear sederhana. dan dapat menyebabkan kebocoran cairan serebrospinal melalui hidung dan telinga dan menjadi indikasi untuk evaluasi segera di bidang bedah saraf. occipital (5%). Sebagian besar sembuh tanpa komplikasi atau intervensi.000 kematian. terutama pada anak usia dibawah 5 tahun.413 penduduk (0.000 kejadian cedera medulla spinalis. Sebanyak 22% pasien trauma kapitis meninggal akibat cederanya. Setiap tahunnya sekitar 10. kejang dan cedera jaringan (parenkim) otak. tenaga benturan yang besar.000-20. INSIDEN Cedera pada susunan saraf pusat masih merupakan penyebab utama tingginya angka morbiditas dan mortalitas pada usia muda di seluruh dunia. temporal (10%). dan fraktur basis cranii sebesar 19-21%.

Tabula eksterna dan tabula interna dihubungkan oleh tulang kanselosa dan celah tulang rawan (diploë). hipotalamus. 1. and middle ear. Pars anterior dinding lateral fossa media dibentuk alae major os sphenoidal. Fossa media dan fossa posterior dibatasi satu sama lain di lateral oleh bagian atas os petrosus. labirin. dan sulcus chiasmatis. fossa media. temporal. dan bagian depan dari alae minor os sphenoid. os parietal dan alae major os sphenoid. Pyramid petrous mengandung membrane tympani. dan stapes). yang dibagi menjadi fossa anterior. Pada fossa cranii anterior terdapat sinus frontalis di bagian depan. dan hipofise. Bagian dalam basis cranii membentuk lantai cavitas cranii. Di lateral dibatasi oleh pars squamosa ossis temporalis. incus. Di bagian anterior dibatasi oleh sisi posterior alae minor. Di kedua sisi lateralnya terdapat tiga foramina (foramen spinosum. Sutura coronaria memanjang melintasi sepertiga frontal atap cranium. Fossa media lebih dalam dan lebih luas daripada fossa anterior. diantaranya terdapat crista galli. Merupakan tempat untuk permukaan basal dari lobus temporal. dan fossa posterior. dan di medial oleh jugum sphenoidale. Fossa anterior dibentuk oleh os frontal di bagian depan dan samping. Sutura sagitalis berada pada garis tengah. dan foramen rotundum). 3 . lantainya dibentuk oleh os frontale pars orbitale. di bawah pterion terdapat percabangan arteri meningeal media. Di belakang dibatasi oleh batas atas os temporal dan dorsum sellae os sphenoid. Tulang-tulang yang membentuk atap cranium (calvaria) pada remaja dan orang dewasa terhubung oleh sutura dan kartilago (synchondroses) dengan kaku. alae minor os sphenoidale yang dengan bersamasama pars orbitalis os frontal membentuk atap orbita dengan struktur-struktur di midline. processus clinoideus anterior. dan cochlea telinga dalam. terutama ke arah lateral. pars cribriformis dan pars sphenoidal. Daerah perhubungan os frontal. dan sphenoidal disebut pterion. tulang-tulang pendengaran (malleus. Fossa ini menampung traktus olfaktorius dan permukaan basal dari lobus frontalis. pars cribriformis os ethmoidal. Fossa anterior dan media dipisahkan di lateral oleh tepi posterior alae minor os sphenoidale. dan telinga tengah. memanjang ke belakang dari sutura coronaria dan bercabang di occipital untuk membentuk sutura lambdoidea. foramen ovale. di medial oleh dorsum sellae. 2. dan fossa hipofiseal di tengah. parietal. Sisa dinding lateral lainnya dibentuk oleh pars squamosa os temporal yang merupakan tempat processus mastoideus dan mastoid air cells serta kanalis auditorius eksternus.ANATOMI Bagian cranium yang membungkus otak (neurocranium / brain box) menutupi otak.

Fraktur-fraktur ini dapat 4 . dan tegmen timpani. Biasanya disertai dengan robekan pada duramater dan terjadi pada daerah tertentu dari basis cranii. transversal.5 mm). Meatus akustikus interna terdapat pada bagian posteromedial pars petrosa ossis temporalis. Lapisan tulang tengkorak disusun oleh tulang cancellous (diploë) menyerupai roti sandwich di antara dua tablets. pons. dan tipe campuran (mixed). Fraktur Temporal terjadi pada 75% dari seluruh kasus fraktur basis cranii. Tulang tengkorak menebal di daerah glabella. sehingga lebih tipis dan rentan terhadap fraktur. Bagian anterolateral dibatasi oleh sisi posterior pars petrosa ossis temporalis. dan processus angular eksternal dan disatukan oleh 3 arches pada masing-masing sisinya. Jenis penyebab dan pola fraktur. Diploë tidak ditemukan pada bagian tulang tengkorak yang dilapisi oleh otot. suatu fraktur basiler adalah suatu fraktur linear pada basis cranii. processus mastoideus. perluasan.5 mm). di lateral oleh os parietal. Fossa posterior adalah fossa yang terbesar dan terdalam merupakan tempat untuk cerebellum. dilalui oleh medulla oblongata. PATOFISIOLOGI Trauma dapat menyebabkan fraktur tulang tengkorak yang diklasifikasikan menjadi : • fraktur sederhana (simple) suatu fraktur linear pada tulang tengkorak • fraktur depresi (depressed) apabila fragmen tulang tertekan lebih dalam dari tulang tengkorak • fraktur campuran (compound) bila terdapat hubungan langsung dengan lingkungan luar. Tiga subtipe dari fraktur temporal yaitu : tipe longitudinal. atap dari canalis auditorius eksterna. Fraktur longitudinal terjadi pada regio temporoparietal dan melibatkan pars skuamosa os temporal. Foramen jugular berada di kedua sisi lateral foramen magnum. dan medulla. dan lamina interna (0. dan di posterior oleh os occipital. protuberansia eksternal occipital. lamina externa (1. tipe. Di bagian anteromedial dibatasi oleh dorsum sellae yang melanjutkan diri menjadi clivus. dan posisi adalah hal-hal yang penting dalam menentukan cedera yang ada. Foramen jugular dilalui oleh vena jugularis yang perluasan ke anterior dari sinus sagitalis superior dan melanjutkan diri menjadi sinus transversus dan sinus sigmoideus. Lubang paling besar yang ada di basis cranii terdapat pada os occipital yaitu foramen magnum. Ini dapat disebabkan oleh laserasi pada fraktur atau fraktur basis cranii yang biasanya melalui sinus-sinus.3. Pada dasarnya.

Fraktur clivus digambarkan sebagai akibat dari benturan bertenaga besar yang biasanya disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor. Fraktur tipe longitudinal memiliki prognosis paling buruk. atau cedera rotasi pada ligamentum alar. Ini berpotensi menjadi suatu fraktur yang tidak stabil. dan kebocoran cairan serebrospinal (dapat diidentifikasi dari kandungan glukosanya) dari telinga dan hidung. ekimosis periorbita (racoon eyes). Biasanya fraktur tipe ini disertai dengan defisit n. dimana fraktur nonpetrous termasuk didalamnya fraktur yang melibatkan tulang mastoid. Fraktur tipe III adalah suatu fraktur akibat cedera avulsi sebagai akibat rotasi yang dipaksakan dan lekukan lateral. Fraktur jenis ini dibagi menjadi tiga tipe berdasarkan mekanisme cedera yang terjadi. ekimosis retroauricular ( Battle’s sign). II. IV. Fraktur tipe II merupakan akibat dari benturan langsung.VII. Fraktur campuran merupakan gabungan dari fraktur longitudinal dan fraktur transversal. III.VI dan n. berakhir di fossa media. Masih ada sistem pengelompokan lain untuk fraktur os temporal yang sedang diusulkan. berakhir di fossa media dekat foramen spinosum atau pada tulang mastoid secara berurut. Fraktur ini adalah suatu fraktur yang stabil. GAMBARAN KLINIS Gambaran klinis dari fraktur basis cranii yaitu hemotimpanum. 5 . Fraktur-fraktur ini tidak dikaitkan dengan defisit dari nervus cranialis Fraktur condylus occipital adalah akibat dari trauma tumpul bertenaga besar dengan kompresi ke arah aksial. Fraktur transversal mulai dari foramen magnum dan meluas ke cochlea dan labyrinth. transversal. dan oblique. Cara lain membagi fraktur ini menjadi fraktur bergeser dan fraktur stabil misalnya dengan /tanpa cedera ligamentum yakni : Fraktur tipe I. Parese nervus cranialis (nervus I. Fraktur temporal dibagi menjadi fraktur petrous dan nonpetrous. lengkungan ke lateral. fraktur tipe II dikelompokkan sebagai fraktur stabil karena masih utuhnya ligamentum alae dan membran tectorial. Sumber literatur mengelompokkannya menjadi tipe longitudinal. Meskipun akan  meluas menjadi fraktur basioccipital. terutama bila mengenai sistem vertebrobasilar.berjalan ke anterior dan ke posterior hingga cochlea dan labyrinthine capsule. VII dan VIII dalam berbagai kombinasi) juga dapat terjadi. adalah fraktur sekunder akibat kompresi axial yang mengakibatkan fraktur kominutif condylus occipital.

MRI memberikan pencitraan jaringan lunak yang lebih baik dibanding CT scan. Di daerah pedalaman dimana CT-scan tidak tersedia. bila di dab dengan menggunakan kertas tissu akan menunjukkan adanya suatu cincin 6 .PEMERIKSAAN PENUNJANG a. atau pneumosefal. lesi osteolitik atau osteoblastik. Pemeriksaan penunjang lainnya Perdarahan melalui telinga dan hidung pada kasus-kasus yang dicurigai adanya kebocoran CSF. dengan rekonstruksi sagital berguna dalam menilai cedera yang terjadi. Potongan slice tipis pada bone windows hingga ketebalan 1-1. dan pemberian tetanus toxoid (yang sesuai seperti pada fraktur terbuka tulang tengkorak). dan proses-proses osteolitik atau osteoblastik. deformitas tulang belakang. lateral. Towne’s view dan tangensial terhadap bagian yang mengalami benturan untuk menunjukkan suatu fraktur depresi. tetapi biasanya rekonstruksi tiga dimensi tidak diperlukan. 18 • CT scan : CT scan adalah kriteria modalitas standar untuk menunjang diagnosa fraktur pada cranium. maka penggunaan foto Rontgen cranium dianggap kurang optimal.5 mm. pemeriksaan darah rutin. pemeriksaan yang paling menunjang untuk diagnosa satu fraktur adalah pemeriksaan radiologi • Foto Rontgen: Sejak ditemukannya CT-scan. Diperlukan foto posisi AP. Cedera pada tulang jauh lebih baik diperiksa dengan menggunakan CT scan. pembengkakan jaringan lunak. Dengan pengecualian untuk kasus-kasus tertentu seperti fraktur pada vertex yang mungkin lolos dari CT-can dan dapat dideteksi dengan foto polos maka CTscan dianggap lebih menguntungkan daripada foto Rontgen kepala.Pemeriksaan Laboratorium Sebagai tambahan pada suatu pemeriksaan neurologis lengkap. Foto polos cranium dapat menunjukkan adanya fraktur. CT scan Helical sangat membantu untuk penilaian fraktur condylar occipital. • MRI (Magnetic Resonance Angiography) : bernilai sebagai pemeriksaan penunjang tambahan terutama untuk kecurigaan adanya cedera ligamentum dan vaskular. maka foto polos x-ray dapat memberikan informasi yang bermanfaat. Foto polos tulang belakang digunakan untuk menilai adanya fraktur.

gas darah arteri C  Circulation Penilaian kemungkinan kehilangan darah. Selama pemeriksaan. Suatu kebocoran CSF juga dapat diketahui dengan menganalisa kadar glukosa dan mengukur tau-transferrin.jernih pada tissu yang telah basah diluar dari noda darah yang kemudian disebut suat u “halo” atau “ring” sign. pengawasan vertebra servikal hingga diyakini tidak ada cedera B  Breathing Penilaian ventilasi dan gerakan dada. DIAGNOSA BANDING Echimosis periorbita (racoon eyes) dapat disebabkan oleh trauma langsung seperti kontusio fasial atau blow-out fracture dimana terjadi fraktur pada tulang-tulang yang membentuk dasar orbita (arcus os zygomaticus. pengawasan secara rutin tekanan darah pulsasi nadi. bisa didapatkan riwayat medis yang lengkap dan mekanisme trauma. kecurigaan adanya fraktur cranium atau cedera penetrasi antara lain : • Keluar cairan jernih (CSF) dari hidung • Keluar darah atau cairan jernih dari telinga • Adanya luka memar di sekeliling mata tanpa adanya trauma pada mata (panda eyes) • Adanya luka memar di belakang telinga (Battle’s sign) • Adanya ketulian unilateral yang baru terjadi • Luka yang signifikan pada kulit kepala atau tulang tengkorak. suatu polipeptida yang berperan dalam transport ion Fe. Trauma pada kepala dapat menyebabkan gangguan neurologis dan memerlukan tindak lanjut medis yang lebih jauh. pemasangan IV line D Dysfunction of CNS Penilaian GCS (Glasgow Coma Scale) secara rutin 7 . DIAGNOSIS Diagnosa cedera kepala dibuat melalui suatu pemeriksaan fisis dan pemeriksaan diagnostik. dan fraktur dinding medial atau sekeliling orbital). Rhinorrhea dan otorrhea selain akibat fraktur basis cranii juga bisa diakibatkan oleh : • Kongenital • Ablasi tumor atau hidrosefalus • Penyakit-penyakit kronis atau infeksi • Tindakan bedah PENATALAKSANAAN A Airway Pembersihan jalan nafas. fraktur Le Fort tipe II atau III.

terutama pada fraktur basis cranii dengan rhinorrhea. Gejala dari fraktur basis cranii seperti defisit neurologis (anosmia. Tingkat kesadaran dinilai berdasarkan Glasgow Coma Scale (GCS). Sebagian besar pasien dengan fraktur condyler occipital terutama tipe III berada dalam keadaan koma dan disertai dengan 8 . dari ujung kepala hingga ujung kaki. dan kelemahan ekstremitas. Setelah menyelesaikan resusitasi cardiovaskuler awal. Hal ini memerlukan deteksi yang tepat mengenai lokasi kebocoran sebelum dilakukan tindakan operasi. Fraktur ini menunjukkan adanya benturan yang kuat dan bisa tampak pada CT scan. Belum ada bukti efektifitas antibiotik mencegah meningitis pada pasien-pasien dengan kebocoran CSF. Mungkin diperlukan ossiculoplasty jika terjadi hilang pendengaran lebih dari 3 bulan apabila membran timpani tidak dapat sembuh sendiri. fungsi pupil. sekalipun tanpa antibiotik rutin. Nasogastric tube dapat dipasang kecuali pada pasien dengan kecurigaan cedera nasal dan basis cranii. Paralisis otot-otot fasialis dan rantai tulang-tulang pendengaran dapat menjadi komplikasi dari fraktur basis cranii. dari depan dan belakang. Tindakan bedah tertunda dilakukan pada kasus frakur dengan inkongruensitas tulang-tulang pendengaran akibat fraktur basis cranii longitudinal tulang temporal. Indikasi lain adalah kebocoran CSF persisten setelah mengalami fraktur basis cranii. Steroid dapat membantu pada paralisis nervus fasialis. Fraktur condyler tulang occipital adalah suatu cedera serius yang sangat jarang terjadi. Fraktur basis cranii sering terjadi pada pasien-pasien dengan trauma kapitis. Evaluasi untuk cedera cranium dan otak adalah langkah berikut yang paling penting. sehingga lebih aman jika digunakan orogastric tube. otorrhea). dilakukan pemeriksaan fisis menyeluruh pada pasien. Jika tidak bergejala maka tidak diperlukan penanganan. Alat monitor tambahan dapat dipasang dan dilakukan pemeriksaan laboratorium. Neuropati cranial traumatik umumnya ditindaki secara konservatif. KOMPLIKASI Resiko infeksi tidak tinggi. Seringkali kebocoran CSF akan pulih dengan elevasi kepala terhadap tempat tidur selama beberapa hari walaupun kadang memerlukan drain lumbal atau tindakan bedah repair langsung. Cedera kulit kepala yang atau trauma kapitis yang sudah jelas memerlukan pemeriksaan dan tindakan dari bagian bedah saraf. paralisis fasialis) dan kebocoran CSF (rhinorhea.E  Exposure Identifikasi seluruh cedera.

VI bukanlah suatu dampak langsung dari fraktur namun akibat regangan pada nervus tersebut. Meski demikian. sternocleidomastoideus. and XI. dan berpotensi menyebabkan terjadinya pseudoaneurisma dan fistel caroticocavernosus (mencapai struktur vena). pallatum molle (curtain sign). termasuk fraktur depresi tulang cranium tidak memerlukan tindakan operasi 9 . paralisis facialis yang muncul setelah 2-3 hari adalah gejala sekunder dari neurapraxia n. XI.VII dan responsif terhadap steroid dengan prognosis baik. pembuluh darah. Isolasi n. Cedera caroticus dicurigai terjadi pada kasus-kasus dimana fraktur melalui canal carotid. dan VI juga dapat mengenai a. IV. konstriktor faringeal superior. sebagian besar jenis fraktur adalah jenis fraktur linear pada anak-anak dan tidak disertai dengan hematom epidural. dan cedera langsung pada otak. dan trapezius. dalam hal ini direkomendasikan untuk melakukan pemeriksaan CT-angiografi. Pasien-pasien ini juga mungkin datang dengan gangguan-gangguan nervus cranialis dan hemiplegi atau quadriplegi. Fraktur ujung tulang temporal petrosus dapat mengenai ganglion Gasserian / trigeminal. X. Fraktur basis cranii juga dapat menimbulkan gangguan terhadap nervus-nervus cranialis lain. dan XII. Pasien-pasien dengan keluhan kesulitan phonation dan aspirasi dan paralisis otot-otot pita suara. X. Sindrom Vernet atau sindrom foramen jugular adalah fraktur basis cranii yang terkait dengan gangguan nervus IX.cedera vertebra servikal. Fraktur tulang sphenoid dapat berdampak terhadap nervus III. Sindrom Collet-Sicard adalah fraktur condyler occipital yang juga berdampak terhadap nervus IX. Sebagian besar fraktur. Suatu onset paralisis facialis yang komplit dan terjadi secara tiba-tiba akibat fraktur biasanya merupakan gejala dari transection dari nervus dengan prognosis buruk. PROGNOSIS Walaupan fraktur pada cranium memiliki potensi resiko tinggi untuk cedera nervus cranialis.caroticus interna.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful