You are on page 1of 16

LAPORAN TUTORIAL

SKENARIO 4 BLOK SISTEM TUBUH I GANJIL 2012 – 2013 Oleh : Ketua : Astinia Widyastuti (121610101069) Scriber Meja : Arum Risalah (121610101060) Scriber Papan : Retno Widyastuti (121610101066) Anggota : Arfi Rifadah Asti Widaryati Sabrina M.P. (121610101057) (121610101059) (121610101061) Annasa Nur H. (121610101065)

Wulandari Fajrin (121610101058) Galistyanissa W. (121610101067) Meidi Kurnia A. Agya Nanda P. (121610101068) (121610101064)

Weka Dayinta B.(121610101062) Syamsul Bachri (121610101063)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS JEMBER 2012

....................................................... Hormon ...................DAFTAR ISI I............................................................................................. IV........................ Tinjauan Pustaka .. Latar Belakang ............................. Tujuan dan Manfaat ........................................................ III..................................................................1.....................3.......... 2................... I........... ................................ Pembahasan ......................... Skenario .......... I................................... Pendahuluan .........................2........................................................................................ Rumusan masalah .........................4.....................................1.......................... 2...................... I... Daftar Pustaka ...... V.. I.......... Kesimpulan ....................................................................................2.... Klasifikasi Hormon ........................................................ II.......

Dalam skenario ini.2. membahas mengenai hormon.2. dan gejala – gejala lainnya.3 Mengetahui faktor-faktor penurunan kadar Hb .3 Tujuan dan Manfaat 1.1 Apa yang dimaksud dengan hipersensitivitas? 1. gejala yang ditimbulkan berlebihan.1 Mengetahui dan memahami mekanisme hipersensitivitas berdasarkan tipetipenya 1. maka yang akan berperan dalam tubuh adalah sel mast yang akan menaktifkan mediator kimia berupa gejala – gejala seperti utikaria. Dalam sistem imun.2 Bagaimana tipe-tipe hipersensitivitas? 1. klasifikasi hormon.1 Latar Belakang Berdasarkan dari skenario ke – 1.BAB I PENDAHULUAN 1.2 Rumusan Masalah 1.3 Apa faktor penyebab hipersensitivitas? 1. Hormon merupakan molekul signal ( first messenger ) yang berperan mengatur dan mengkoordinaasikan proses – proses seluler. Dalam kasus ini.3.3.2.2. Biasanya disebabkan oleh virus.5 Apa penyebab penurunan kadar Hb? 1.3. dan mekanisme kerja hormon.2 Mengetahui dan memahami faktor-faktor hipersensitivitas dan cara-cara penanganannya 1. sehingga menimbulkan hipersensitivitas. bakteri. disebutkan bahwa hipersensitivitas disebabkan oleh pengonsumsian obat – obatan. edema. dan obat-obatan yang masuk ke dalam tubuh. fungsi organ dan sistem pada organisme multiseluler.2. apabila tubuh terserang oleh antigen.4 Bagaimana cara menangani hipersensitivitas? 1. 1.

basofil dan sel mast). Bu Vera mengalami penurunan kadar Hb sehingga diperlukan transfusi darah.1. antiinflamasi dan multivitamin yang harus diminum secara teratur. Pada pemeriksaan sebelumnya diketahui Bu Vera memiliki golongan darah A. antara lain antibiotik. Dari pemerikasaan darah diketahui terdapat peningkatan jumlah leukosit (neutrofil. Selama masa pemulihan dan post operasi dokter memberikan beberapa obat-obatan. Setelah operasi. Dokter menyimpulkan bahwa Bu Vera mengalami hipersensitivitas/ alergi.4 Skenario Bu Vera. 27 tahun baru saja melahirkan anak pertama melalui operasi caesar. . Setelah sehari meminum obat tersebut Bu Vera mengalami urtikaria dan edema. selain itu juga terdapat penigkatan Ig E dan histamin. analgeik.

2006). dan obat-obatan (Underwood. (Hendra Sutardi. Pada reaksi tipe I .dan dermatitis atopi (Robert Coombs dan Philips Glell. Reaksi ini secara khas terjadi pada orang tertentu setelah kontak kedua kali-nya dengan suatu antigen khusus (alergen).asma. substansi makanan.II. 1999). Pada sebagian besar keadaan. reaksi hipersensitivitas disebabkan oleh antigen asing. seperti serbuk bunga.1 Hipersensitivitas Reaksi hipersensitivitas adalah reaksi imun yang patologik.2010) 2. Respons imun (nonspesifik maupun spesifik) padaumumnya berfungsi protektif. terjadi akibat respon imun yang berlebihan sehingga menimbulkan kerusakan jaringan tubuh (Karnen. Reaksi yang terjadi dibawa. Kontak pertama merupakan peristiwa awal yang diperlukan dan menginduksi sensitisasi terhadap allergen itu. baik melalui imunitas humoral (antibodi) maupun CMI (limfosit-T yang sensitif).III. tetapi dapat menimbulkan akibat buruk dan penyakit yang disebut hipersensitivitas.2 Tipe-tipe Hipersensitivitas Reaksi hipersensitivitas dibagi dalam 4 tipe reaksi berdasarkan cepatan dan mekanisme imun yang terjadi yaitu tipe I.Komponenkomponen sistem imun yang bekerja pada proteksi adalah sama dengan yang menimbulkan reaksi hipersensitivitas. dan IV Tipe I Tipe II Tipe III Tipe IV : Hipersensitivitas cepat ( Anafilaktik ) : Hipersensitivitas sitotoksik : Hipersensitivitas komplek imun : Hipersensitivitas lambat ( berperantara sel ) Tipe I : Hipersensitivitas cepat ( Anafilaktik ) Hipersensitivitas cepat timbul sebagai reaksi jaringan yang terjadi dalam beberapa menit setelah antigen (alergen) bergabung dengan antibodi yang sesuai.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.alergen yang masuk kedalam tubuh menimbulkan respons imun berupa produksi Ig E dan penyakit alergi seperti rinitis alergi. Jadi hipersensitivitas atau alergi menunjukkan suatu keadaan dimana respons imun mengakibatkan reaksi yang berlebihan sehingga menimbulkan kerusakan pada jaringan tubuh hospes.1963) . jamur.

Antibodi (Ig G atau Ig M) melekat pada antigen lewat daerah Fab dan bekerja sesuai suatu jembatan ke komplemen lewat daerah Fc. Pada DTH. dan lepra (Karnen. dan inflamasi. Kejadian ini menimbulkan banyak kerusakan jaringan. 2006). (Robert Coombs dan Philips Glell. A. seperti yang terjadi pada anemia hemolitik. antara lain enzim-enzim yang dapat merusak jaringan sekitarnya. Makrofag yang dikerahkan ke tempat tersebut melepas berbagai mediator. penyakit serum. peningkatan permeabilitas vaskular. Kompleks imun akan mengaktifkan sejumlah komponen sistem imun. Komplemen yang diaktifkan melepas anafilaktosis yang memacu sel mast dan basofil melepas histamin. virus. infeksi malaria. Mediator lainnya dan MCF mengerahkan polimorf yang melepas enzim proteolitik dan protein polikationik. Antibodi yang berperan biasanya jenis IgM atau IgG. Tipe IV : Hipersensitivitas lambat ( berperantara sel ) Hipersensitivitas tipe ini dibagi dalam Delayed Type Hypersensitivity yang terjadi melalui sel CD4 dan T Cell Mediated Cytolysis yang terjadi melalui sel CD8. reaksi transfusi ABO. artritis reumatoid. CD4 Th1 melepas sitokin yang mengaktifkan makrofag dan menginduksi inflamasi.Tipe II : Hipersensitivitas sitotoksik Antibodi yang diarahkan pada antigen permukaan sel akan mengaktifkan komplemen untuk merusak sel. Delayed Type Hipersensitivity (DTH) Pada DTH. Komplemen juga menimbulkan agregasi trombosit yang membentuk mikrotombi dan melepas amin vasoaktif.1963) Tipe III : Hipersensitivitas komplek imun Disebut juga reaksi kompleks imun. Neutrofil ditarik dan mengeliminasi kompleks. kerusakan jaringan disebabkan oleh produk makrofag yang diaktifkan seperti . Akibatnya dapat terjadi lisis yang berperantara-komplemen. atau penyakit hemolitik Rh. Terjadi bila kompleks antigen-antibodi ditemukan dalam sirkulasi atau dinding pembuluh darah atau jaringan dan mengaktifkan komplemen. Manifestasi klinisnya antara lain lupus eritamatosis sistemik. selain itu komplemen mengaktifkan makrofag yang melepas IL1 dan produk lainnya. Bahan vasoaktif yang dibentuk sel mast dan trombosit menimbulkan vasodilatasi. sel CD4 Th1 mengaktifkan makrofag yang berperan sebagai sel efektor. Bila neutrofil terkepung di jaringan akan sulit untuk memakan kompleks dan akan melepas granulnya (angry cell).

infeksi. Tuberkulosis. artritis reumatoid. DTH dapat merupakan reaksi fisiologik terhadap patogen yang sulit disingkirkan misalnya M. dan sitokin proinflamasi. Manifestasi klinisnya antara lain dermatitis kontak. Penyakit yang ditimbulkan hipersensitivitas selular cenderung terbatas kepada beberapa organ saja dan biasanya tidak sistemik. B. dll (Karnen. 2006). T Cell Mediated Cytolysis Dalam T Cell Mediated Cytolysis. sklerosis multipel. Pada keadaan yang paling menguntungkan DTH berakhir dengan hancurnya mikroorganisme oleh enzim lisosom dan produk makrofag lainnya seperti peroksid radikal dan superoksid. oksigen reaktif intermediat.enzim hidrolitik. DTH dapat juga terjadi sebagai respon terhadap bahan yang tidak berbahaya dalam lingkungan seperti nikel yang menimbulkan dermatitis kontak. kerusakan terjadi melalui sel CD8 yang langsung membunuh sel sasaran. diabetes insulin dependen. oksida nitrat. .

diartikan sebagai “reaksi pejamu yang berubah” bila terpapar dengan bahan yang sama untuk kedua kalinya atau lebih.BAB III PEMBAHASAN 3. . terjadi akibat respons imun yang berlebihan sehingga menimbulkan kerusakan jaringan tubuh. III.1 Tipe-tipe Hipersensitivitas Hipersensitivitas yaitu reaksi imun yang patologik. Fase sensitisasi yaitu waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan IgE sampai diikatnya oleh reseptor spesifik pada permukaan sel mastosit dan basofil. Reaksi tersebut oleh Gell dan Coombs dibagi dalam 4 tipe reaksi berdasarkan kecepatan dan mekanisme imun yang terjadi. Istilah ana berasal dari kata Junani yang berarti “jauh dari” dan phylaxis yang berarti “perlindungan”. yaitu tipe I. Reaksi Hipersensitivitas Tipe I Reaksi tipe I yang disebut juga reaksi cepat atau reaksi anafilaksis atau reaksi alergi. II. Pada reaksi ini alergen yang masuk ke dalam tubuh menimbulkan repons imun dengan dibentuknya IgE. Istilah alergi yang pertama kali digunakan Von Pirquet pada tahun 1906. Urutan kejadian reaksi tipe I adalah sebagai berikut: 1. Semula diduga bahwa tipe I berfungsi untuk melindungi badan terhadap parasit tertentu terutama cacing. I. timbul segera sesudah badan terpapar dengan alergen. Istilah tersebut adalah sebaliknya dari profilaksis. dan IV.

III. Selanjutnya ikatan antigen-antibodi dapat mengaktifkan komplemen yang melalui reseptor C3b memudahkan fagositosis dan menimbulkan lisis. II. tromboksan dan faktor pengatur trombosit. Conroh rekasi tipe II adalah destruksi sel darah merah akibat reaksi transfusi. Senyawa-senyawa lain yang berperajndapakmhipersensitivitas tipe 1 adalah prostaglandin. Komplemen yang diaktifkan kemudian melepas Macrophage Chemotactic Factor. mastosit melepas isinya yang berisikan granul yang menimbulkan reaksi. leukotrin. 3. Reaksi Hipersensitivitas Tipe III Reaksi tipe III disebut juga reaksi kompleks imun. rinitis.2. Antibodi tersebut dapat mengaktifkan sel K sebagai efektor Antibody Dependent Cell Cytotoxicity (ADCC). Fase efektor yaitu waktu rejadi respons yang kompleks (anafilaksis) sebagai efek bahan-bahan yang dilepas mastosit dengan aktivitas farmakologik. terjadi bila kompleks antigen-antibodi ditemukan dalam jaringan atau sirkulasi/dinding pembuluh darah dan mengaktifkan komplemen.. Fase aktivasi yaitu waktu selama terjadi pemaparan ulang dengan antigen yang spesifik. Reaksi Hipersensitivitas Tipe II Reaksi tipe II disebut juga reaksi sitotoksik. Gejala-gejala hipersensitivitas tipe 1 : asma. reaksi obat dan kerusakan jaringan pada penyakit autoimun. penyakit anemia hemolitik. dan urtikaria. Antibodi disini biasanya jenis IgG atau IgM. . terjadi karena dibentuknya antibodi jenis IgG atau IgM terhadapa antigen yang merupakan bagian sel pejamu.

Kontak yang berulang akan menimbulkan kelainan khas dari CMI. protein atau bahan kimia yang dapat menembus kulit dan bergabung dengan protein yang berfungsi sebagai carrier.Makrofag yang dikerahkan ke tempat tersebut melepaskan enzim yang dapat merusak jaringan di sekitarnya. dan tipe tuberkulin timbul damal 20-72 jam. Sel T melepaskan limfokin. Antigen dapat berasal dari infeksi kuman patogen yang persisten (malaria). sedangkan reaksi granuloma timbul beberapa minggu sesudah terpapar dengan antigen. Antigen yang dapat mencetuskan reaksi tersebut dapat berupa jaringan asing (seperti reaksi alograft). Reaksi terjadi karena respons sel T yang sudah disensitisasi terhadap antigen tertentu. mikroorganisme intraselular (virus. yaitu: 1. Reaksi Jones Mote 2. hipersentivitas kontak. Makrofag yang diaktifkan dapat menimbulkan kerusakan jaringan. Untuk reaksi tipe IV diperlukan masa sensitisasi selama 1-2 minggu. Infeksi dapat disertai dengan antigen dalam jumlah yang berlebihan. Akibat sensitisasi tersebut. Hipersensitivitas kontak 3. Ada 4 jenis reaksi hipersensitivitas tipe IV. IV. Reaksi tuberkulin 4. tetapi tanpa adanya respons antibodi yang efektif. yaitu untuk meningkatkan jumlah klon sel T yang spesifik untuk antigen tertentu. bahan yang terhirup (spora jamur yang menimbulkan alveolitis alergik ekstrinsik) atau dari jaringan sendiri (penyakit autoimun). Reaksi Hipersensitivitas Tipe IV Reaksi tipe IV disebut juga reaksi hipersensitivitas lambat. Di sini tidak ada peranan antibodi. Reaksi granuloma Reaksi Jones Mote. . Cell Mediated Immunity (CMI). Antigen tersebut harus dipresentasikan terlebih dahuku oleh APC. mycrobacteri). Delayed Type Hypersensitivity (DTH) atau reaksi tuberkulin yang timbul lebih dari 24 jam setelah tubuh terpapar dengan antigen. antara lain Macrophage Inhibition Factor (MIF) dan Macrophage Activation Factor (MAF).

2. penggunaan obat sulfametoksazol justru meningkatkan risiko timbulnya erupsi eksantematosa 10 sampai 50 kali dibandingkan dengan populasi normal. sel mononuklear Sel mononuklear. karet dan sebagainya Dermal tuberkulin dan mycrobacterium Ag/Ab dalam leishmania makrofag yang persisten 3. edema.1 Faktor-faktor Hipersensitivitas 1. Pada penderita AIDS misalnya. sel datia.Tipe Waktu reaksi Bentuk klinis Jones Mote 24 jam Kontak 48 jam Tuberkulin 48 jam Granuloma 4 minggu Pembengkakan kulit Eksema Indurasi lokal dan bengkak serta panas Indurasi kulit Gambaran histologik Basofil. epidermis menimbul Sel mononuklear. limfosit. belum ada satupun ahli yang mampu menjelaskan mekanisme ini. Usia Alergi obat dapat terjadi pada semua golongan umur terutama pada anakanak dan orang dewasa. nekrosis Ag atau kompleks Antigen Ag intradermal misalnya ovalbumin Epidermal misalnya nikel. makrofag menurun Sel epiteloid granulosis. Pada anak-anak mungkin disebabkan karena perkembangan . Walaupun demikian. 3. Sistem imunitas Erupsi alergi obat lebih mudah terjadi pada seseorang yang mengalami penurunan sistem imun. monosit. makrofag.2. limfosit. fibrosis.2 Faktor-faktor Hipersensitivitas dan Cara-cara penanganannya 3. Jenis kelamin Wanita mempunyai risiko untuk mengalami gangguan ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan pria.

Imuno terapi ada beberapa cara seperti Imuno supresan dan hiposensitisasi. imuno supresan yaitu melakukan limfosit T penolakan dengan transplantasi.menghalangi proliferasi.2.kromolinsodium. Reaktivasi dari infeksi virus laten dengan human herpes virus (HHV). Semakin besar pula kemungkinan timbulnya reaksi alergi pada penderita yang peka.2 Cara-cara Penanggulangan Hipersensitivitas 1. Pemberian obat – obatan Pemberian obat – obatan seperti antihistamin. Tetapi jika sudah melalui fase induksi. Umur yang lebih tua akan memperlambat munculnya onset erupsi obat tetapi menimbulkan mortalitas yang lebih tinggi bila terkena reaksi yang berat. Infeksi dan keganasan Mortalitas tinggi lainnya juga ditemukan pada penderita erupsi obat berat yang disertai dengan keganasan. dosis yang sangat kecil sekalipun sudah dapat menimbulkan reaksi alergi. 4. Sebaliknya. 3. Menghindari alergen dan bahan yang dapat menyebabkan energi 2. Imunisasi . 5. Semakin sering obat digunakan.umumnya ditemukan pada mereka yang mengalami sindrom hipersensitifitas obat. Imuno terapi Imuno terapi yaitu pengembalian toleran terhadap alergen dengan mengurangi produksi Ig E.mendeferensiasi menghambat proses transkripsi. Dosis Pemberian obat yang intermitten dengan dosis tinggi akan memudahkan timbulnya sensitisasi. 3.sistim immunologi yang belum sempurna. 5. 4. pada orang dewasa disebabkan karena lebih seringnya orang dewasa berkontak dengan bahan antigenik. Sedangkan hiposensitisasi yaitu melakukan injeksi alergen secara berulang dengan dosis tertentu dengan tujuan agar pembentukan Ig G meningkat sehingga mampu mengeliminasi alergen sebelum alergen berikatan dengan Ig E pada sel mast. Blocking terjadinya elektron Blocking terjadinya elektron ini yaitu dengan menyuntikan antihistamin dan epinefrin agar mencegah pelepasan histamin.

Pada orang-orang yang tidak mempunyai transferin dalam jumlah cukup di dalam darah. imunisasi pasif yaitu apabila mendapatkan antibodi dari orang lain yang sudah terkativasi sebelumnya. Biasanya. biasanya kadar sel darah merah yang ada dalam tubuh itu berkurang secara drastis. kegagalan pengangkutan besi ke eritroblas dapat menyebabkan anemia hipokrom yang berat. Kelebihan besi dalam darah disimpan terutama di hepatosit hati dan sedikit sel retikuoendotelial sumsum tulang. yang selanjutnya akan diangkut dengan plasma. sel darah . Kemudian besi itu bergabung dengan plasma darah dengan beta globulin. Pembentukan Hb dibantu oleh zat besi dan proses ini diawali dengan absorbsi besi yang ada di dalam usus. Sedangkan imunisasi aktif yaitu memasukan mikroorganisme dengan tujuan untuk merangsang pembentukan antibodi dalam tubuh. Besi ini akan berikatan secara longgar di dalam transferin dan akibatnya besi dapat dilepaskan ke setiap sel jaringan di setiap tempat dalam tubuh. Setiap gram hemoglobin dapat berikatan dengan 1. Hal itu menyebabkan konsentrasi sel darah merah menjadi rendah karena tubuh harus mengganti cairan plasma yang hilang akibat pendarahan atau luka karena operasi itu. untuk membentuk transferin. orang itu tidak dapat mengabsorbsi jumlah besi yang cukup dari usus untuk membentuk hemoglobin secepat jumlah darah yang hilang. 3. yaitu apotransferin. Pada orang yang baru saja melakukan operasi. Kemudian.Imunisasi ada 2 yaitu aktif dan pasif. Karakteristik unik dari molekul transferin adalah molekul ini berikatan erat dengan reseptor pada membran sel eritoblas di sumsum tulang. Sel-sel darah merah mampu mengonsentrasikan hemoglobin dalam cairan sel sampai sekitar 34 gram per 100 mililiter sel. yaitu sel darah merah yang mengandung lebih sedikit hemoglobin daripada sel darah yang normal. Bila jumlah besi dalam plasma sangat rendah.3 Faktor-faktor penurunan kadar Hb Hb atau hemoglobin adalah komponen yang ada dalam sel darah merah yang berfungsi untuk mengangkut oksigen dari paru-paru menuju jaringan.34 mililiter oksigen. beberapa besi yang terdapat di tempat penyimpanan feritin dilepaskan dengan mudah dan diangkut dalam bentuk transferin dalam plasma ke area tubuh yang membutuhkan.

yang terbentuk adalah sel yang berukuran jauh lebih kecil daripada ukuran sel darah yang jormal dan mengandung lebih sedikit hemoglobin di dalamnya. .

. usia. Ada 4 tipe reaksi hipersensitivitas berdasarkan kecepatan dan mekanisme imun yang terjadi. terjadi akibat respons imun yang berlebihan sehingga menimbulkan kerusakan jaringan tubuh. Hipersensitivitas dapat disebabkan oleh faktor jenis kelamin. dan IV. II dan III melibatkan antibodi sedangkan pada tipe IV disebabkan oleh sel T teraktivasi dan bukan oleh antibodi. Tipe I. II. yaitu tipe I. III.BAB IV KESIMPULAN Hipersensitivitas merupakan reaksi imun yang patologik. pemberian dosis obat dan infeksi. Sedangkan cara penanganan dalam kasus hipersensitivitas ini yang paling utama adalah dengan cara menghindari alergen dan bahan yang dapat menyebabkan energi. sistem imunitas.

Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula. 2007. John E. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC .BAB V DAFTAR PUSTAKA Arthur C. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Alih Bahasa : Irawati. 2007. Guyton. Jakarta : EGC William F. Yogyakarta: Graha Ilmu Sloane. Ed 11.Ethel. 2003. Jakarta : EGC Setiadi. Ed 22. Anatomi dan Fisiologi Manusia. Alih Bahasa : Brahm U. Ganong. Hall.