You are on page 1of 12

LAPORAN KASUS ANESTESI

A. IDENTITAS Nama Umur Jenis Kelamin Agama Alamat Tanggal MRS Nomer RM B. ANAMNESA Keluhan utama Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang dengan keluhan benjolan di kantung zakar sebelah kanan. Keadaan ini dialami pasien semenjak pasien masih muda. Awalnya benjolan tersebut terdapat di perut kanan, tetapi lama kelamaan benjolan tersebut turun ke kantung buah zakar. Benjolan tersebut bisa keluar masuk. Benjolan tersebut bisa keluar ( terlihat menonjol si kantung zakar ) ketika pasien beraktifitas ( bertani ), saat pasien batuk atau ketika pasien kecapean. Tetapi benjolan tersebut dapat dimasukan kembali oleh pasien. Benjolan tersebut biasanya mengecil ketika pasien berbaring. Flatus (-), BAB (+) tadi malam dan terdapat sedikit darah, mual (-), muntah (-), nyeri (-). Karena lama kelamaan benjolan tersebut semakin membesar maka pasien berinisiatif memeriksakan penyakitnya ke RS. Riwayat Penyakit Dahulu: Sebelumnya pasien tidak pernah menderita penyakit serius Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada keluarga dengan keluhan serupa : Terdapat benjolan di kantung buah zakar sebelah kanan : Tn. Munakrip : 84 tahun : laki-laki : Islam : cukur gondang ( pasuruan ) : 15 Oktober 2010 : 445126

1

hangat. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum Kesadaran GCS Airway Breathing : baik :compos mentis :456 : jalan napas bebas : RR Sesak Asma Suara Napas tambahan Circulation :Tensi Nadi Perfusi Suhu Grimace Makan/minum Mual/muntah : 36. kering 2 .4°C : (+) : (+) : (-) : 24x/menit : (-) : (-) : (-) :170/80 mmHg : 60x/menit : merah.Riwayat kebiasaan : • • • Merokok (+) Minum alkohol (-) Minum obat – obatan HT (-). DM (-) Riwayat pengobatan : • Pasien tidak pernah operasi sebelumnya Riwayat Alergi : • Pasien tidak mempunyai riwayat alergi obat-obatan maupun makanan. C.

P: 2-6 mg/dl o Gula darah  Acak (sewaktu) 60 mg/dl N: <140 mg/dl o Darah lengkap      Haemoglobin Lekosit Diff.P<17 U/I N:L<22.000-450.P<17 U/I N: 60-170 U/I o Fungsi ginjal    BUN Creatinine Uric acid 19.7 mg/dl N: L:3-7mg/dl. P:35-47% N: 150. P 12-16 g/dl N: 4000-11000/cmm N:0-2/0-1/1-3/45-70/35-50/0-2% N: L: 40-54.8 mg/dl N: 10-20 mg/dl N: 0.000 N: L:13-18 . Assesment Hernia scrotalis dextra reponibilis F.000/cmm E.4 mg/dl 4.4 mg/dl 1. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium: o Fungsi hati    SGOT SGPT Alkali Fosfatase 47 U/I 20 U/I 156 U/I N:L<18.1 g/dl 8400/cmm 1/-/6/51/39/3 33% 301. Status Operasi ASA III 3 . Planning Op Herniotomi dengan regional anestesi SAB G.D.5-1.count PCV(hematokrit) Trombosit 9.

tujuan operasi pada geriatri adalah : a Mengadakan pemulihan lengkap atas status kesehatan yang terganggu b. Untuk itu sangat penting dilakukan pemeriksaan secara bertahap terhadap segala komponen yang berpengaruh sebelum dilakukan anestesi pada terapi pembedahan usia lanjut. Untuk itu dokter anestesi harus memperhatikan dan mencari informasi sebanyak mungkin informasi tentang kesehatan pasien sebelum operasi untuk dapat memilih obat yang tepat untuk digunakan sebagai obat anestesi. mengetahui obat yang digunakan. Pada tiap pemberian anestesi ada beberapa syarat dasar yang harus dipenuhi.PEMBAHASAN PENDAHULUAN Menurut penelitian. serta memperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengariuhi kerja obat sebagai upaya pembuktian sesudah operasi tentang kebenaran prosedur operasi yang telah dilakukan. Pemeriksan sebelum operasi mencakup observasi terhadap pasien dan pola hidup pasien. riwayat penyakit danpemeriksaan laboratorium. diperkirakan lebih dari 100000 orang yang berumur lebih dari 65 tahun meninggal setelah operasi dalam tiap tahunnya. Upaya mengurangi dan menghilangkan disabilitas c Menunda (terbatas) kematian yang mengancam 4 . mengetahui syarat dan masalah yang terjadi pada pembedahan dan memahami tehnik anestesi yang dipilih DEFINISI Geriatri adalah seseorang yang telah berumur 6 5 tahun ke atas. yaitu : mengetahui penyakit penderita. ‡ Menurut Glen (1973).

. fungsi hati dan fungsi ginjal masih baik. maka pada pasien usila ini secara organis dapat dilakukan operasi.Laboratorium : gula darah. Namun demikian. Disini dapat ditentukan tingkat kejernihan pikiran pasien. . 5 . tidak nyata ada kelainan koroner.Activity Daily Living (ADL) scoring. fungsi paru menurut hasil spirometri masih sesuai untuk batas umurnya. begitu juga tak ada kelainan pada hemostasis. fungsi ginjal.Penilaian Pemeriksaan Organik Setelah dilakukan pemeriksaan klinis dan ditambah dengan pemeriksaan penunjang tadi. apakah sudah menderita demensia ataupun prademensia.Pemeriksaan mental pasien.PEMERIKSAAN PERSIAPAN OPERASI Pemeriksaan yang lazim dilakukan adalah: • • • Anamnesis Pemeriksaan fisik Pemeriksaan penunjang . risiko operasi pada usila tetap lebih tinggi daripada usia muda. pada gambaran foto dada tidak ada infiltrat ataupun emfisema yang nyata. Pemeriksaan tambahan pada pasien geriatri adalah . fungsi hati. -Foto rongen thorax -Elektrokardiogram -Bila perlu ekokardiogram untuk melihat fungsi jantung -Spirometri untuk menilai fungsi paru -EEG bila perlu. diagnosis dapat ditentukan demikian pula keadaan fungsional organ-organ dan selanjutnya dapat ditentukan apakah layak operasi atau tidak. Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan derajat kemandirian seorang usila. Misalnya. jantung dalam keadaan terkompensasi.hemostasis dan urin. darahperiferlengkap.

kontraktilitas dinding dada menurun. angiotensin. a) Secara umum pada usila terjadi penurunan cairan tubuh total dan lean body mass dan juga menurunnya respons regulasi termal. sehingga berisiko terjadi infeksi dan aspirasi. usia lebih dari 70 tahun memiliki risiko lebih tinggi. Sensitivitas baroreseptor berkurang sehingga menurunkan respons heart rate terhadap stres dan menurunnya kadar renin. Menurunnya respons terhadap hiperkapnia. d) Paru dan sistem pernafasan: elastisitas jaringan paru berkurang. compliance ventrikel berkurang. c) Sistem kardiovaskular: pada jantung terjadi proses degeneratif pada sistem hantaran. Compliance arteri berkurang. dengan akibat mudah terjadi intoksikasi obat dan juga mudah terjadi hipotermia. Proteksi jalan nafas yaitu batuk. PERUBAHAN FISIOLOGIS Perubahan fisiologis proses penuaan dapat mempengaruhi hasil operasi. meningkatnya pernafasan dia-fragma. aldosteron sehingga mudah terjadi hipotensi. b) Pada kulit: terjadi reepitelisasi yang melambat dan juga vaskularisasi berkurang sehingga penyembuhan luka lebih lama. Menurut skoring Goldman. tetapi penyakit penyerta lebih berperan sebagai faktor risiko. jalan nafas menyempit dan terjadilah hipoksemia. mengakibatkan terjadinya hipotensi bila terjadi dehidrasi. takiaritmia atau vasodilatasi. Katup mitral menebal. sehingga dapat terjadi gagal nafas. sehingga dapat menyebabkan gangguan irama jantung. sehingga mudah terjadi hipertensi sistolik. sehingga mengganggu mekanisme ventilasi. sehingga menyebabkan gangguan pengisian ventrikel pada fase diastolik dini. meningkatnya ketidakserasian antara ventilasi dan perfusi. pembersihan mucociliary berkurang. relaksasi isovolemik memanjang.karena secara fisiologi sudah terjadi proses penuaan. 6 . dengan akibat menurunnya kapasitas vital dan cadangan paru.

yaitu: penyakit jantung kronis. sehingga meskipun kreatinin serum normal. diabetes melitus dan lain-lain. seperti pneumonia. emboli paru dan salah satu faktornya adalah rokok dan penyakit paru sebelumnya terutama PPOK. dengan akibat mudah terjadi intoksikasi obat. ternyata hampir seperempat dari infark miokard adalah silent. Respons terhadap kekurangan Na menurun. Produksi kreatinin menurun karena berkurangnya massa otot. g) Hati: aliran darah dan oksidasi mikrosomal berkurang. Ambang rangsang glukosuria meninggi. aspirasi. h) Sistem imun: fungsi sel T terganggu dan terjadi involusi kelenjar timus. tetapi LFG telah menurun. hipertensi. Misalnya terapi cairan harus diperhitungkan lebih teliti mengingat fungsi jantung dan fungsi ginjal yang sudah menurun dan pada usila harus diingat juga bahwa volume cairan tubuh sudah berkurang sehingga mudah terjadi dehidrasi. Semua penyakit penyerta ini hendaknya diobati atau ditenangkan lebih dahulu dan selama operasi harus juga ikut dimonitor dan diatasi. sehingga laju filtrasi glomerulus (LFG) menurun. Pada penilaian prabedah perlu memperhatikan keadaan organ-organ yang sudah mengalami proses menua ini. sehingga glukosa urin tidak dapat dipercaya. dapat terjadi overload cairan dan juga menyebabkan kadar hiponatremia. Begitu juga dari penelitian Framingham. Sedangkan penyakit-penyakit paru merupakan komplikasi utama dan penyebab kematian pasca bedah. dengan akibat risiko infeksi. sehingga berisiko terjadi dehidrasi. Kemampuan mengeluarkan garam dan air berkurang. penyakit paru obstruktif kronik/menahun. j) Hipertrofi prostat menyebabkan retensi urin. karena pasien geriatri umumnya sudah mengidap beberapa penyakit yang berhubungan dengan usia.e) Ginjal: jumlah nefron berkurang. 75% dari subyek yang berusia 60 tahun terdapat minimal satu stenosis koroner signifikan dan hanya setengah dari kasus-kasus ini yang bermanifestasi klinis. Penanganan selama operasi ataupun 7 . i) Otak: semakin tua terjadi atrofi serebri. motilitas usus berkurang. sehingga fungsi metabolisme obat juga menurun. f) Saluran pencernaan: asam lambung sudah berkurang. Penyakit-penyakit penyerta pada usila harus diperhatikan. Pada autopsi.

atau berkurangnya klirens obat akibat hati dipengaruhi oleh obat yang lain. dan waktu paruh obat juga memanjang. Di samping kecenderungan terjadi penurunan berat badan. 2. Perubahan metabolisme obat berarti penting karena kadar enzim hati menurun disertai penurunan sirkulasi hati. perubahan lamanya efek obat. 3. walaupun operasinya berjalan sukses. dapat dikemukakan bahwa jumlah reseptor di setiap jaringan menurun sejalan dengan pertambahan usia. kinerja (performance) ginjal sudah menurun sehingga kadar obat di dalam darah menjadi lebih tinggi.pascabedah. terjadi kecenderungan menurunnya cairan tubuh total dan massa tubuh. 4. PENATALAKSANAAN ANESTESIA 8 . Dari segi farmakodinamik. Pengikatan obat oleh plasma menurun sehingga kadar obat bebas di dalam darah meningkat. yaitu: efek samping yang timbul akibat efek penjumlahan (additive) atau sinergi. FARMAKODINAMIK DAN FARMAKOKINETIK OBAT PADA MANULA Farmakokinetik (hal yang terjadi terhadap obat di dalam tubuh manusia) obat pada manula mengandung hal-hal sebagai berikut: 1. misalnya pemberian Anti Inflamasi Non Steroid (AINS) per oral dapat mengakibatkan pendarahan lambung. Banyak masalah yang timbul pada manula merupakan akibat polifarmasi. Dengan demikian. harus memperhatikan kondisi organ-organ yang sudah menua ini. disertai peningkatan lemak. Akan tetapi kemampuan mengingat dan memberi respon dari reseptor yang masih ada tidak berubah. untuk mendapatkan respon tertentu dosis obat harus lebih kecil dari dosis yang diberikan kepada orang muda. Pergeseran isi cairan ini dapat mengubah distribusi obat dan waktu paruh obat serta dapat menimbulkan respon yang tak terduga. INTERAKST OBAT Interaksi obat-obat yang tak diharapkan lebih sering terjadi pada manula dibandingkan pada usia muda.

Atropin atau alkaloid beladona yang lain biasanya tidak diperlukan. sehingga kita harus waspada tentang kemungkinan hipovolemia atau hipokalemia. gagal jantung. Sering manula mendapat diuretika. Untuk ini diperlukan konsultasi dengan dokter yang merawat sebelumnya. Obat lain yang banyak dipakai oleh manula adalah hipnotika-sedativa untuk mengatasi insomia atau gangguan psikiatrik. Apabila mungkin sebaiknya diberikan analgesia regional. Apabila ada kecurigaan iskemia dinding inferior atau aritmia sebaiknya dipantau lead II. sedangkan lead V5 terbaik untuk men-deteksi iskemia anterolateral. gangguan irama jantung. Premedikasi sebaiknya diberikan dengan hati-hati dan dosis sekecil mungkin. konduksi jantung dan dapat berinteraksi dengan obat anestetika. penyakit paru kronik. tidak boleh terjadi gejolak peningkatan penurunan tekanan darah dan laju nadi. Hal ini mempersulit pemasangan sungkup muka yang pas. gagal ginjal kronik atau penyakit degenerasi lain. keadaan pasien harus dioptimumkan. Selama Anestesia Masalah anatomi pada manula adalah gigi-geligi yang sudah tanggal dan goyah dengan jaringan penunjang yang sudah jelek. Teknik mana pun yang dipilih. EKG sebaiknya dipantau secara rutin. Apabila mungkin. Karena pasien yang sadar pada analgesia regional memungkinkan kita lebih mudah dan lebih cepat mengenal serangan angina atau perubahan serebral akut. bila perlu dengan menunda pembedahan untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas. atau ditanyakan kepada keluarganya. Obat-obat yang sedang dipakai oleh pasien manula harus dicatat. dosisnya atau kapan dosis terakhir diminum. Harus diingat. Pemasangan kateter intraarterial untuk memantau tekanan darah dilakukan bila 9 .Praanestesia Penilaian pasien manula prabedah harus dilakukan dengan seksama. dan kemungkinan terjadi gigi lepas pada waktu intubasi trakea. Daerah-daerah yang mendapat tekanan harus dilindungi dengan batalan untuk mencegah kerusakan saraf akibat penekanan. Akan tetapi kemungkinan penyulit paru pasca analgesia regional sama dengan pasca anestesia umum. Dosis obat anestetika umum maupun lokal harus dikurangi. Pemantauan yang dilakukan disesuaikan dengan keadaan pasien. Obat-obat tersebut mungkin sudah mempengaruhi hati. manula mungkin lupa obat-obat apa yang dipakai. secara titrasi dengan mengingat bahwa waktu sirkulasi memanjang dan kemungkinan terjadinya interaksi dengan obat-obat yang sudah diminum oleh pasien pra anestesia. Biasanya hanya diperlukan diazepam 5 mg melalui mulut. diabetes. mengingat bahwa manula kemungkinan sudah menderita hipertensi. dan diberikan menurut kebutuhan. Kemungkinan adanya artritis vertebra leher mengharuskan kita lebih berhati-hati pada waktu melakukan ekstensi leher untuk intubasi.

Keadan sirkulasi juga harus dipantau dengan ketat. manula perokok. Faktor yang meningkatkan kejadian penyakit pernafasan pasca bedah adalah kegemukan. dan bila diperlukan pemeriksaan analisis gas darah yang berulang-ulang. Yang penting adalah pemantauan di ruang pulih. penyakit pembuluh darah otak. nyeri. Pasca Anestesia Penatalaksanaan sirkulasi dan pernafasan Ada kemungkinan bahwa penyulit pernafasan pasca bedah dini lebih sering terjadi pada manula. sebaiknya dipakai kopnograf dan pemantau saturasi oksigen perkutaneus. pulih terjadi hipotensi atau renjatan.E fek anestesi lebih panjang ok absorbsi lambat 10 . Demikian pula suhu ruang pulih yang dingin dapat berpengaruh ANESTESI PILIHAN TERBAIK UNTUK GERIATRI Anestesi regional m e r u p a k a n pilihan yang baik pada geriatri K euntungannya adalah . dan distensi abdomen. Hal ini perlu lebih ditekankan bila anestesia memakai narkotikpelemas otot. pemantauan cukup dengan EKG dan sfigmomanometer disamping pemantauan anestesia yang baku. hipertensi.K alsifikasi tulang belakang menyulitkan tehnik anestesi -Penyempitan ruang epidural. sehingga dapat segera diatasi bila terjadi penyulit. hipertensi pulmonal.cadangan kordiovaskuler sangat rendah seperti pada penyakit koroner atau katup jantung yang berat. pembedahan darah abdomen atas atau toraks. Apabila keadaan pasien cukup baik dan tindakan bedah tidak memerlukan pemantauan seperti tersebut di atas.Penderita bebas dari sedasi . Karena sering terjadi bahwa pasien mengalami kembali depresi pernafasan di ruang pulih yang tenang. Pada pasien dengan keadaan pertukaran gas yang jelek. sehingga dosis harus dikurangi . Kateter vena sentral perlu dipasang bila diperlukan pemantauan yang ketat terhadap isi cairan intra-vaskuler. karena sering dengan perubahan posisi atau pemindahan pasien ke ranjang.G angguan SSP lebih kecil K erugian .

Mengatasi sepsis .5%. adalah: . tetapi penurunan fisiologis ini tidak semua sama pada setiap usila. Secara umum angka kematian akibat operasi tergantung dari empat faktor risiko utama. Makin lama dan lanjut derajat sakitnya. hemodinamik.8–6.Jenis operasi juga menentukan angka mortalitas.Gangguan saluran cerna diatasi .Prosedur bedah . Mengenai usia tua.Rehidrasi. gejala-tanda klinik dan outcome. intra abdominal 3. informed consent. yaitu mengenai : Dosis obat.Perawatan perioperatif termasuk tindakan anestesi. torakotomi 12. sedangkan operasi mata 0%. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada perioperative care pasien usila. 11 . angka kematian setelah 2 hari pasca bedah pada pasien usila > 90 tahun. terdapat hubungan antara usia tua. pada operasi mayor vaskular sebesar 20%. jenis anestesi. misalnya risiko operasi major vascular dan torakotomi lebih tinggi daripada operasi prostat dan mata. yaitu: . monitoring. bila terjadi dehidrasi .Mengatasi edem pada gagal jantung kongestif Selain itu dalam rangka manajemen anestesi ada prinsip dasar yang juga harus diperhatikan dalam penanganan pasien usila. fisiologi setiap pasien. merangsang masuknya cairan ke dalam rongga ketiga (third space) dan juga menekan fungsi jantung.H ati2 penggunaan epinefrin karena resiko hipotensi pasca operasi ASPEK ANESTESI PADA GERIATRI Anestesi dapat menyebabkan dilatasi vena. Faktor yang lebih penting dibandingkan faktor usia adalah penyakit penyerta. penurunan fisiologis karena proses menua dan penyakit.Usia .Mengatasi pendarahan (blood loss) bila ada . hipotermia. Di klinik Mayo.Penyakit penyerta .. makin tinggi risikonya.7%.

12 .