You are on page 1of 10

Vaginosis Bakterial

 Definisi : Vaginosis bakterial adalah suatu keadaan abnormal pada ekosistem vagina yang disebabkan oleh bertambahnya pertumbuhan flora vagina bakteri anaerob (terutama Bacteroides sp., Mobilincus sp.,Gardnerella vaginalis, dan Mycoplasma hominis)menggantikanLactobacillus yang mempunyai konsenterasi tinggi sebagai flora normal vagina. Jadi vaginosis bakterial bukan suatu infeksi yang disebabkan oleh satu organisme, tetapi timbul akibat perubahan kimiawi dan pertumbuhan berlebih dari bakteri yang berkolonisasi di vagina.Perlu diketahui, pada vagina wanita sehat dapat ditemukan beberapa jenis mikroorganisme antara lain: Mycoplasma hominis,Ureaplasma urealyticum, Lactobacillus, Streptococcus agalactiae(Streptococcus grup B), Bacteroides bivius, Peptostreptococcus, Mobilincus, Gardnerella vaginalis,dan Fusobacterium nucleatum.  Prevalensi : Menurut Amsel & Hoist BV banyak ditemukan pada wanita yang memakai penggunaan alat intrauterin . Penyakit vaginosis bakterial sering juga ditemukan pd wanita yang memeriksakan kesehatannya daripada vaginitis jenis lainnya. Pada pasien hamil, prevalensi vaginosis bakterial mencapai 16%.  Berisiko untuk BV:
• • • •

Memiliki pasangan seks baru atau pasangan seks Douching (Pencucian Vagina) Menggunakan alat kontrasepsi (IUD) untuk pengendalian kelahiran Tidak menggunakan kondom

 Patogenesis :

mengakibatkan tetap stabilnya sistem ekologi yang mengarah pada kesehatan ekosistem vagina. Lactobacillus sendiri merupakan bakteri anaerob batang besar yang membantu menjaga keasaman vagina dan menghambat mikroorganisme anaerob lain untuk tumbuh di vagina. Salah satu komponen lengkap dari ekosistem vagina adalah mikroflora vagina endogen. Hidrogen peroksida dominan terdapat pada ekosistem vagina normal tetapi tidak pada bakterial vaginosis. Kemampuan memproduksi H2O2 adalah mekanisme lain yang menyebabkan Lactobacillus hidup dominan daripada bakteri obligat anaerob yang kekurangan enzim katalase. yang terdiri dari gram positif dan gram negatif aerobik. Asam laktat seperti organic acid lanilla yang dihasilkan oleh Lactobacillus. ekosistem vagina didominasi oleh bakteri Lactobacillus yang menghasilkan asam organik seperti asam laktat. dan bakteriosin. Aksi sinergetik dan antagonistik antara mikroflora vagina endogen bersama dengan komponen lain. bakteri fakultatif dan obligat anaerobik. G.5 (antara 3. Beberapa faktor / kondisi yang menghasilkan perubahan keseimbangan menyebabkan ketidakseimbangan dalam ekosistem vagina dan perubahan pada mikroflora vagina.8 . .2).4. dimana merupakan tempat yang tidak sesuai bagi pertumbuhan bakteri khususnya mikroorganisme yang patogen bagi vagina. hidrogen peroksida (H2O2).Ekosistem vagina adalah biokomuniti yang dinamik dan kompleks yang terdiri dari unsur-unsur yang berbeda yang saling mempengaruhi. Perubahan ini terjadi akibat berkurangnya jumlah Lactobacillus yang menghasilkan hidrogen peroksida. Dalam keseimbangannya. Mekanisme ketiga pertahanan yang diproduksi oleh Lactobacillus adalah bakteriosin yang merupakan suatu protein dengan berat molekul rendah yang menghambat pertumbuhan banyak bakteri khususnya Gardnerella vaginalis. vaginalis sendiri juga merupakan bakteri anaerob batang variabel gram yang mengalami hiperpopulasi sehingga menggantikan flora normal vagina dari yang tadinya bersifat asam menjadi bersifat basa. memegang peranan yang penting dalam memelihara pH tetap di bawah 4.

Pada wanita. Dalam kondisi normal. disiens yang dapat diisolasikan dari infeksi genitalia. 3. yaitu: 1.Sekret vagina adalah suatu yang umum dan normal pada wanita usia produktif. Trichomonas. sekret vagina tersebut tampak jernih. Pada bakterial vaginosis dapat terjadi simbiosis antara G. tipis. 2.Organisme ini tidak invasive dan respon inflamasi lokal yang terbatas dapat dibuktikan dengan sedikitnya jumlah leukosit dalam sekret vagina dan dengan pemeriksaan histopatologis. memiliki pH kurang dari 5. Gambaran Clue Cell : .0 terdiri dari sel-sel epitel yang matur.G. Timbulnya bakterial vaginosis ada hubungannya dengan aktivitas seksual atau pernah menderita infeksi Trichomonas.pH vagina > 4. putih keruh. atau berwarna kekuningan ketika mengering di pakaian. vaginalis melekat pada sel-sel epitel vagina in vitro. Capilosus dan B. tanpa jamur. sekret vagina ini merupakan suatu hal yang alami dari tubuh untuk membersihkan diri. dan berwarna seperti susu. kelenjar pada serviks menghasilkan suatu cairan jernih yang keluar. kental.Adanya bau amis setelah penetesan KOH 10% pada cairan vagina (whiff test).vaginalis sebagai pembentuk asam amino dan kuman anaerob beserta bakteri fakultatif dalam vagina yang mengubah asam amino menjadi amin sehingga menaikkan pH sekret vagina sampai suasana yang sesuai bagi pertumbuhan G. sel-sel vagina yang terlepas dan sekresi dari kelenjar Bartolini.5 dengan menggunakan phenaphthazine paper (nitrazine paper). bercampur dengan bakteri. vaginalis. B. kemudian menambahkan deskuamasi sel epitel vagina sehingga terjadi perlekatan duh tubuh pada dinding vagina. tanpa clue cell.Beberapa amin diketahui menyebabkan iritasi kulit dan menambah pelepasan sel epitel dan menyebabkan duh tubuh berbau tidak sedap yang keluar dari vagina.Duh yang homogen. dan pertahanan dari berbagai infeksi. sebagai pelicin. sejumlah normal leukosit.Adanya selclue pada pemeriksaan mikroskopik sediaan basah.Basil-basil anaerob yang menyertai bakterial vaginosis diantaranya Bacteroides bivins. 4. Dalam kondisi normal.  Kriteria Diagnostik: Diagnosis klinis vaginosis bakterial menurut Amsel dkk adalah jika tiga dari empat kriteria berikut ditemukan .

Ternyata diagnosis vaginosis bakterial menggunakan kriteria Spiegel dkk.  Derajat 2 :intermediate. tidak ditemukan Lactobacillus atau hanya ditemukan beberapa kuman tersebut. Akhir-akhir ini tingkat kepercayaan dan reproducibility dalam mengenal berbagai morfologi kuman dari pulasan vagina dievaluasi.  Hubungan Stres dengan Keputihan . tingkat kepercayaannya tidak terlalu tinggi . Sistem skoring yang digunakan untuk melihat flora vagina pada pewarnaan Gram adalah berdasarkan pengenalan morfologi kuman yang paling dapat dipercaya. yaitu dapat untuk menyingkirkan flora normal atau dengan perkataan lain dapat untuk membantu menentukan apakah yang terlihat dengan pewarnaan Gram merupakan gambaran flora normal atau vaginosis bacterial. didominasi oleh Lactobacillus. Gram negatif halus/batang dengan ukuran bervariasi (Bacteroides atauGardnerella). jumlah Lactobacillus berkurang. Diagnosis Klinis : vaginosis bakterial mmenurut Spiegel dkk dengan menggunakan pewarnaan gram adalah sebagai berikut:  Derajat1: normal. dan Gram negatif bengkok/ batang dengan ukuran bervariasi(M obilincus). karena morfologi kuman berdasarkan pewarnaan Gram sangat variabel dan sangat tergantung pada kemampuan interpretasi hasil pewarnaan Gram.Meskipun demikian sistem skoring ini masih tetap mempunyai keuntungan. disertai dengan bertambahnya jumlah Gardnerella vaginalis atau lainnya.  Derajat 3: abnormal. yaitu: bentuk batang Gram positif ukuran besar (Lactobacillus).

baik secara fisik atau emosi. Kortisol akan membantu kita menyediakan cadangan energi dan meningkatkan kemampuan untuk melawan infeksi.Ketika stres tubuh secara alami dapat mengatasinya.Masalahnya adalah.  Langkah Diagnosis  Anamnesis Beberapa anamnesis tambahan yang dapat diberikan pada pasien ini untuk dapat menegakkan diagnosis antara lain: a. Namun untuk memastikannya harus dilakukan pemeriksaan sekret vagina. Warna dan konsistensi: hal ini sangat penting ditanyakan sebab warna sekret dan konsistensi dapat menjadi petunjuk patogen penyebab timbulnya gejala. dan ketidaknormalan pada tekanan darah. . Hormon stres ini akan membantu mengantur tekanan darah dan sistem imun ketika sedang berada dalam kondisi tertekan atau krisis. sistem imun. b. Pada Kasus dapat di ambil kesimpulan bahwa:  Nn Ita saat stress kehilangan nafsu makan  Saat menghadapi ujian Nona Ita giat belajar hingga tidak sempat mengurus diri. kondisi stres yang berkepanjangan akan meningkatkan kadar kortisol sehingga mengakibatkan masalah pada tidur. yaitu dengan menghasilkan kortisol. Onset: untuk mengetahui sejak kapan gejala seperti ini dialami dan apakah ini merupakan gejala berulang atau pertama kalinya.

Riwayat penyakit sebelumnya dan penggunaan obat antibiotic  Pemeriksaan fisis • • • • • • Inspeksi : kekentalan.c.8 – 4. dan apakah siklus haidnya teratur. g. Hal ini untuk memastikan apakah penyebaran penyakit telah mencapai organ urinarius atau viseral. Gejala lain: Keputihan patologis biasanya selain ditandai bau amis.5 Pulasan dengan pewarnaan gram . d. ada juga sejumlah gejala lain yang menyertai seperti rasa gatal pada daerah trigonum genitalia. f. Aktivitas seksual: pertanyaan yang menyangkut hal ini cukup sensitif namun harus ditanyakan karena banyak penyakit kelamin menular melalui aktivitas seksual yang tidak sehat. Selain itu perlu juga ditanyakan apakah pada sekret vagina terdapat nanah ataupun darah. bau dan warna leukore Warna kuning kehijauan berbusa : parasit ( trichomonas) Warna kuning. Gejala lain yang perlu ditanyakan adalah ada tidaknya rasa panas pada saat buang air kecil dan nyeri abdomen. kental : GO Warna putih : jamur Warna merah muda : bakteri non spesifik Palpasi : pada kelenjar bartolini  Pemeriksaan Ginekologi • • Inspekulo Pemeriksaan bimanual  Laboratorium • • Pemeriksaan PH vagina pH normal vagina : 3. e. Perilaku menjaga kebersihan organ genitalia: sangat penting menanyakan perilaku higienitas pasien sebab salah satu faktor yang dapat memicu meningkatnya penyakit kelamin adalah ketidaktepatan saat membersihkan organ genitalia. Siklus haid: pada umumnya sekret vagina mengalami peningkatan pada saat ovulasi dan akhir masa menstruasi sehingga penting ditanyakan pada pasien apakah saat ini dia sedang haid atau tidak.

• • Pemeriksaan dengan larutan garam fisiologis dan KOH 10% Kultur  Manajemen Pengobatan :  Regimen yg direkomendasikan oleh CDC adalah: • Metronidazole 500 mg 2 kali sehari peroral selama 7 hari.  Untuk wanita hamil dengan gejala vaginosis bakterial dapat diberikan: • • • Metronidazole 500 mg 2 kali sehari selama 7 hari. bakterial vaginosis tidak menimbulkan komplikasi setelah pengobatan. dapat terjadi komplikasi yang berat. sekali sehari selama 5 hari atau Clindamycin cream 2%. atau Metronidazole 250 mg 3 kali sehari peroral selama 7 hari.Dilaporkan terjadi perbaikan spontan pada lebih dari 1/3 kasus. Namun pada keadaan tertentu. Untuk mencegah rekurens dari vaginosis bakterial dapat digunakan metronidazole gel 2 kali seminggu selama 6 bulan. .  Komplikasi : Pada kebanyakan kasus. atau Metronidazole gel 0. karena infeksinya dapat disembuhkan.Prognosis bakterial vaginosis sangat baik. dosis tunggal (5 gram) intravaginal sebelum tidur selama 7 hari. Dengan pengobatan metronidazol dan klindamisin memberi angka kesembuhan yang tinggi (8496%). Clindamycin 300 mg 2 kali sehari peroral selama 7 hari  Prognosis Prognosis bakterial vaginosis dapat timbul kembali pada 20-30% wanita walaupun tidak menunjukkan gejala. dosis tunggal (5 gr) intravaginal.75%. atau Clindamycin ovules 100 g intravaginal sebelum tidur selama 3 hari. Pengobatan ulang dengan antibiotik yang sama dapat dipakai.  Regimen alternatif lain adalah : • Clindamycin 300 mg 2 kali sehari peroral selama 7 hari.

• Jangan douche. anal. Sebuah bendungan gigi adalah bahan karet yang bisa ditempatkan di atas anus atau vagina sebelum berhubungan seksual. Setia satu sama lain. Untuk seks vaginal. Prinsip bahwa konsentrasi tinggi bakteri pada suatu tempat meningkatkan frekuensi di tempat yang berdekatan.• Bakterial vaginosis sering dikaitkan dengan penyakit radang panggul (Pelvic Inflamatory Disease/PID). Kondom harus digunakan untuk semua jenis seks dengan pasangan setiap. . Untuk seks anal. dimana angka kejadian bakterial vaginosis tinggi pada penderita PID. Untuk seks oral. yang berarti bahwa Anda hanya berhubungan seks dengan satu sama lain dan tidak ada orang lain. Bakterial vaginosis disertai peningkatan resiko infeksi traktus urinarius. bayi berat lahir rendah. ketuban pecah dini. Terjadi peningkatan infeksi traktus genitalis atas berhubungan dengan bakterial vaginosis. Memiliki hubungan seksual dengan satu pasangan adalah cara lain untuk mengurangi kesempatan Anda terinfeksi. atau oral seks vaginal. Pada penderita bakterial vaginosis yang sedang hamil. Melindungi diri dengan waktu SETIAP kondom Anda miliki. • •  Pencegah Bakteri vaginosis menurunkan resiko Anda untuk mendapatkan BV: • Tidak berhubungan seks.. • Gunakan kondom. walaupun tidak menunjukkan gejala sama sekali. gunakan dental dam. dapat menimbulkan komplikasi antara lain : kelahiran prematur. beberapa ahli menyarankan agar semua wanita hamil yang sebelumnya melahirkan bayi prematur agar memeriksakan diri untuk screening vaginosis bakterial. Cara terbaik untuk mencegah STD adalah untuk berlatih menahan nafsu. gunakan kondom laki-laki lateks atau polyurethane kondom perempuan. • Setia. gunakan kondom lateks laki-laki. dan endometritis post partum. Oleh karena itu. atau anal seks. atau tidak memiliki vagina oral.

Hal ini dapat meningkatkan kesempatan Anda mendapatkan BV. . • Apakah pemeriksaan panggul rutin. Bicarakan dengan dokter Anda tentang seberapa sering Anda membutuhkannya. Anda masih harus menyelesaikan semua obat. • Jika Anda sedang hamil dan mengalami gejala BV atau pernah melahirkan bayi prematur atau bayi berat lahir rendah di masa lalu. Bicara tentang apapun debit pada daerah kelamin.Douching menghilangkan beberapa bakteri normal dalam vagina yang melindungi Anda dari infeksi. menjalani tes BV hamil. • Berbicara terus terang dengan dokter Anda atau perawat dan pasangan seks Anda (s) tentang segala PMS Anda atau pasangan Anda memiliki atau telah. Itu terserah Anda untuk memastikan Anda dilindungi. Banyak tes untuk penyakit menular seksual dapat dilakukan selama ujian. Hal ini juga dapat meningkatkan peluang BV kembali setelah perawatan. Jika Anda memiliki BV. Dapatkan diuji segera setelah Anda pikir Anda mungkin. Cobalah untuk tidak malu. selesaikan semua obat yang Anda diberikan untuk mengobatinya. • Anda Selesai obat. • Bicarakan dengan pasangan seks Anda (s) tentang PMS dan menggunakan kondom. Bahkan jika gejala pergi.

vaginalis dengan biotipe yang sama dalam uretra tetapi tidak menyebabkan uretritis pada laki-laki (asimptomatik) sehingga wanita yang telah mengalami pengobatan bakterial vaginosis cenderung untuk kambuh lagi akibat kontak seksual yang tidak menggunakan pelindung.(6) 4.(6) 3. Kegagalan selama pengobatan untuk mengembalikan Lactobacillus sebagai flora normal yang berfungsi sebagai protektor dalam vagina. Laki-laki yang mitra seksual wanitanya terinfeksi G. Infeksi berulang dari pasangan yang telah ada mikroorganisme penyebab bakterial vaginosis. vaginalis mengandung G.(6) 2. Kekambuhan disebabkan oleh mikroorganisme bakterial vaginosis yang hanya dihambat pertumbuhannya tetapi tidak dibunuh.(6) Walaupun alasan sering rekurennya belum sepenuhnya dipahami namun ada 4 kemungkinan yang dapat menjelaskan yaitu : 1.Bakterial vaginosis yang sering rekurens bisa disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang faktor penyebab berulangnya atau etiologi penyakit ini.(6) . Menetapnya mikroorganisme lain yang belum diidentifikasi faktor hostnya pada penderita. membuatnya rentan terhadap kekambuhan.