Kti Meningioma

KARYA TULIS ILMIAH

TINJAUAN KEPUSTAKAAN

MENINGIOMA

Tim Penulis :
Ellen Riorita Wiyono (10-1??) Ongko Setunggal Wibowo (10-212)

Pembibing :
dr. Jovrizal Azmi

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BAITURRAHMAH 2013

LEMBARAN PENGESAHAN

Karya tulis ilmiah yang berjudul “ Meningioma ” ini telah disetujui ,dan siap untuk diperiksa kebenarannya dihadapan tim penguji Karya Tulis Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah.

Padang , Oktober 2012 Pembimbing

dr. Jovrizal Azmi

KATA PENGANTAR Dengan mengucapakan puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kesehatan dan kesempatan sehingga kami dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah yang telah dievaluasi oleh pembimbing skill lab C1 tepat pada waktunya. Shalawat serta salam juga kami tuturkan kepada junjungan besar Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umat manusia dari zaman jahiliyah menuju zaman yang penuh dengan ilmu pengetahuan bagi umat yang bertaqwa kepada -Nya . Karya tulis ilmiah yang berjudul “ MENINGIOMA “ ini penulis buat sebagai tugas akhir Skill Lab semester V Modul Gawat Darurat Medik dan sebagai wadah untuk menambah wawasan mengenai pemeriksaan terhadap pasien yang menderita pielonefritis. Banyak sekali hambatan dan tantangan yang dialami penulis selama menyelesaikan karya tulis ilmiah ini. Dengan dorongan, bimbingan, dan arahan dari beberapa pihak, akhirnya penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini tepat pada waktunya. Penulis banyak mendapat bimbingan dari berbagai pihak yang sangat membantu semasa penulisan dilakukan. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan Rahmat dan Karunia-Nya kepada semua pihak yang telah memberikan segala bantuan tersebut di atas. Penulis menyadari bahwa penyusunan dan penulisan karya tulis ilmiah ini masih terdapat banyak kekurangan karena keterbasan ilmu pengetahuan dan pengalaman penulis. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang berguna untuk membaiki kesilapan dan juga untuk menambah ilmu pengetahuan agar karya yang dihasilkan berkualitas. Penulis mengharapkan agar karya tulis ilmiah ini dapat memberikan sumbangan ilmiah kepada pihak Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah serta kepada siapa saja yang ingin memanfaatkannya. Kami tim penulis amat sadar karena keterbatasan yang kami miliki saat menulis karya tulis ini. Untuk itu, para pembaca dipersilahkan menelusuri kepustakaan yang telah dicantumkan sebagai bacaan anjuran di akhir karya tulis ilmiah dengan memegang asas medicine is a life-long study. Padang, Oktober 2012 Tim penulis

ABSTRACT Meningiomas are the most common primary intracranial tumors. three are grade II. Other chromosomal abnormalities associated with tumorogenesis and increased grade of meningiomas include loss of heterozygosity for chromosome 1p. nuclear atypia. evidence of brain invasion. They are usually durally based and are often found adjacent to venous sinuses and dural infoldings. is the most common genetic abnormality found in meningiomas. atypical. or WHO grade III. Grade II and III meningiomas show a greater tendency than Grade I tumors to recur and metastasize. abnormalities of chromosome 10 and 17q. Radiation-induced meningiomas are more often multiple and have higher recurrence rates than standard meningiomas.telomerase activity increases with meningiomas grade as well. loss of 14q. Loss of the long arm of chromosome 22. Nine of these are WHO grade I . anaplastic. . The current WHO scheme recognizes 15 histologic subtypes of meningiomas. deletion of 9p21. and necrosis. The majority of these tumors are WHO grade I. although a minority is WHO grade II. meningiomas can also be graded on the basis of mitotic activity. The only proven environment risk factor meningiomas radiation. which is usually with inactivation of the NF2 gene. growth pattern cellular density. In addition to these histologic subtypes. and three are grade III.

. Mereka biasanya durallyberbasis dan sering di temukan berdekatan dengan sinus vena dan infoldings dural. Radiasi meningioma lebih sering multipel dan memiliki tingkat kekambuhan lebih tinggi dari meningioma standar. Sebagian besar tumor ini WHO grade I. anaplastik. yang biasanya dikaitkan dengan inaktivasi gen NF2. nuklir atypia. Aktivitas telomerase meningkat dengan grade meningioma juga faktor resiko hanya terbukti lingkungan untuk meningioma adalah radiasi pengion. adalah kelainan genetik yang paling umum ditemukan di meningioma. Sembilan diantaranya WHO kelas I. Kelainan kromosom lain yang terkait dengan tumorogenesis dan meningkatkan meningioma gradeof termasuk hilangnya heterozigositas untuk kromosom 1p.ABSTRAK Meningioma adalah tumor yang paling umum intrakranial primer. bukti invasi otak. dan nekrosis. pertumbuhan kepadatan pola seluler. walaupun minoritas adalah WHO grade II. penghapusan 9p21. atipikal atau WHO grade III. Kehilangan lengan panjang kromosom 22. Grade II dan III meningioma menunjukan kecenderungan lebih besar dari kelas I tumor kambuh an bermetastasis. meningioma juga dapat dinilai berdasarkan aktivitas mitosis. tiga grade II dan tiga adalah kelas III. hilangnya 14q. Skema WHO saatn ini mengakuia 15 subtipe histologis dari meningioma. kelainan kromosom 10 dan 17q. Selain subtipe histologis ini.

..... Tujuan umum ………………………………………………………. 3 . 2.....2..... 1.. Manifestasi Klinis ………………………………………………………… ..9.. Pendahuluan 1. Patofisiologi …………………………………………………………………... Faktor Resiko ……………………………………………………………….... Tinjauan Kepustakaan 2.......2. Gambaran Histopatologi …………………………………………………….Manfaat ………………………………………….. Definis ……………………………………………………………………… 2.. Epidemiologi ………………………………………………………………… 2..5........ v …………………………………………………………….. Tujuan khusus ………………………………………………………... Etiologi ………………………………………………………………………..2.....2..8.3......6... Anatomi Meningen ………………………………………………………….........4.........DAFTAR ISI Lembar Pengesahan Kata pengantar Abstract Abstrak Daftar isi Daftar table Daftar gambar Bab I......... 1..3...............Latar Belakang 1...... i ………………………………………............ vi ……………………………………………………………... 1...... 2.iii …………………………………………………………….……………………....1..1.1.3........7.... 2........ Manfaat bagi pembaca ……………………………………………… Bab II...2. Manfaat bagi penulis ….. 2.......3...ii ……………………………………………………………....Tujuan …………………………………………………………....………………………………………………… 2....iv ……………………………………………………….... 1 ……………………………………………………………….. 3 1..…..............1..…………………......2... Klasifikasi …………………. vii 1.... 2.....

2. Penatalaksanaan …………………………………………………………….11.10.1. Prognosis ……………………………………………………………………. 2.. 2.2. Diagnosa …………………………………………………………………….13. 2. Anamnesis ………………………………………………………….2.10. Diagnosa Banding …………………………………………………………. BAB IV. Pemeriksaan laboratorium dan penunjang ……………………….10.... Pemeriksaan fisik …………………………………………………. Kesimpulan dan saran ……………………………………………………………. Daftar pustaka …………………………………………………………………… .. 2. BAB III. 2.10.12.3..

Daftar Tabel .

Daftar Gambar .

3. Memahami dan menjelaskan definisi meningioma.2. Etiologi dari tumor ini diduga berhubungan debgan genetic. terapi radiasi.2.1 Latar Belakang Karena kemajuan tehnik diagnosa pada dewasa ini.2. Dari semua otopsi tumor. Meningioma yang kecil atau dengan gejala yang minimal sering kali ditemukan secara kebetulan. Tumor otak yang tergolong jinak ini secara histopatologis berasal dari sel pembungkus arakhnoid (arakhnoid cap cells) yang mengalami granulasi dan perubahan bentuk.44% meningioma intrakranial yang sebagian besar tanpa adanya gejala-gejala klinik. diharapkan mahasiswa mampu : 1. kasus-kasus intrakranial menjadi lebih sering dilaporkan.2 Tujuan 1. Meningioma intrakranial merupakan tumor kedua yang tersering disamping Glioma. hormone sex. Pada umumnya. dilaporkan terdapat 1. 2. Bahkan oleh karena perjalanannya yang sangat lambat sebagian besar kasus tanpa disertai adanya gejala-gejala klinik. tumor intrakranial timbul dengan cepat dan progressif. Namun tidak demikian hanya dengan kasus-kasus meningioma dimana penderita datang pada keadaan yang sudah lanjut dan tentunya ukuran tumor sudah menjadi sangat besar. Patofisiologi terjadinya meningioma sampai saat ini masih belum jelas. Tujuan umum Setelah menyelesaikan tinjauan pustaka ini diharapkan mahasiswa dapat mengerti. sehingga mendorong penderitanya untuk segera mendapatkan pengobatan ke dokter. . dan merupakan 13-20% dari tumor susunan saraf pusat. 1. Memahami dan menjelaskan patofisiologi meningioma. infeksi virus dan riwayat kepala. 1.BAB I PENDAHULUAN 1. Seperti banyak kasus neoplasma lainnya. Memahami dan menjelaskan etiologo meningioma. memahami dan menjelaskan mengenai meningioma. Tujuan khusus Setelah mempelajari tinjauan pustaka ini. masih banyak hal yang belum diketahui dari meningioma.1.

1.3. 2. Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penyusunan karya tulis ilmiah ini adalah untuk menambah pengetahuan bagi penulis tentang penyakit meningioma terutama mengenai penegakan diagnosa dan penatalaksanaan penyakit tersebut. Dapat meningkatkan pengetahuan tentang penegakan diagnosa dan penatalaksanaan meningioma bagi teman sejawat. Membantu memberikan informasi tambahan pada pembaca mengenai meningioma.3. Dapat meningkatkan pengetahuan tentang meningioma. 5. 1. Memahami dan menjelaskan penatalaksanaan dari meningioma.3 Manfaat 1. Bagi pembaca.3. 1. Memahami dan menjelaskan faktor resiko dari meningioma.4. Bagi penulis.4. 3. .

Chusing.1. Orville Bailey (1940) mengemukakan bahwa sel-sel arachnoid berasal dari neural crest. sel-sel arachnoid disebut Cap cells. Gambar 1 . bermula dari unsure ectoderm. Dari observasi yang dilakukan Mallary (1920) dan didukung Penifield (1923) didapatkan suatu konsep bahwa sel yang membentuk tumor ini ialah fibroblast sehingga mereka menyebutnya arachnoid fibroblast atau meningeal fibroblast.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. 1922 menamakannya meningioma karena tumor ini yang berdekatan dengan meningen. Tumbuhnya meningioma kebanyakan di tempat ditenukan banyak vili arachnoid. Meningioma berasal dari leptomening yang biasanya berkembang jinak. Namun istilah meningioma yang diajukan Cushing (1922) ternyata dapat diterima dan didukung oleh Bailey dan Bucy (1931). Di antara sel-sel meningen itu belum dapat dipastikan sel mana yang membentuk tumor tetapi terdapat hubungan erat antara tumor ini dengan vili arachnoid. pendapat ini didukung Harstadius (1950). DEFINISI Meningioma adalah tumor otak jinak yang berasal dari sel-sel yang terdapat pada lapisan meningen serta derivat-derivatnya. Zuich tetap menggolongkan meningioma ke dalam tumor mesodermal. Ahli patologi pada umumnya lebih menyukai label histology dari pada label anatomi untuk suatu tumor.

terutama pada sutura. Falx cerebelli 4. Diaphragma sellae Gambar 2 : Lapisan Meningen .2. Tentorium cerebelli 3. Duramater terdiri dari jaringan fibrous yang kuat. arachnoid da piamater.2. Pada enchepalon lamina endostealis melekat erat pada permukaan interior cranium. dan membentuk empat buah septa. Lamina meningialis mempunyai permukaan yang licin dan dilapisi oleh suatu lapisan sel. Terdiri dari duramater. menjadi endosteum (=periosteum). yang letaknya berurutan dari superfisial ke profunda. bais crania dan tepi foramen occipital magnum. Pada medulla spinalis lamina endostealis melekat erat pada dinding canalis vertebralis. Antara duramater dan arachnoidterdapat spatium subdurale yang berisi cairan lymphe. berwarna putih. Falx cerebri 2. terdiri dari lamina meningialis dan lamina endostealis. Bersama-sama arachnoid dan piamater disebut leptomening. sehingga di antara lamina meningialis dan lamina endostealis terdapat spatium extradualis (spatium epiduralis) yang berisi jaringan ikat longgar. ANATOMI MENINGEN Meningea adalah suatu selaput jaringan ikat yang membungkus enchepalon dan medulla spinalis. yaitu : 1. lemak dan pleksus venosus.

Antara arachnoid dan piamater terdapat spatium subarachnoideum yang berisi liquor cerebrospinalis. Kedua lapisan ini dihubungkan satu sama lain oleh trabekula arachnoidae. ditutupi oleh pembuluh–pembuluh darah cerebral. Arachnoid yang membungkus basis serebri berbentuk tebal sedangkan yang membungkus facies superior cerebri tipis dan transparan. Dibentuk oleh serabut-serabut reticularis dan elastic. Berlawanan dengan arachnoid. Arachnoid adalah suatu selubung tipis. membentuk spatium subdurale dengan duramater. masuk kedalam sinus venosus. membrane ini menutupi semua permukaan otak dan medulla spinalis. Piamater terdiri dari lapisan sel mesodermal tipis seperti endothelium.Gambar 3 : Kavitas Kranium Arachnoid bersama-sama dengan piamater disebut leptomeninges. Lapisan disebelah profunda meluas ke dalam gyrus cerebri dan diantara folia cerebri. terutama sinus sagitalis superior. Arachnoid membentuk tonjolan-tonjolan kecil disebut granulation arachnoidea. . membentuk tela choridea venticuli.

Meningioma intrakranial merupakan tumor kedua yang tersering disamping Glioma.Gambar 4 : kulit kepala. kalvaria dan meningen 2. Angka tertinggi penderita meningioma adalah pada usia 50-50 tahun. Meskipun demikian dilaporkan juga dua kasus meningioma kongenital pada bayi. EPIDEMIOLOGI Meningioma dapat dijumpai pada semua umur. dan frekuensinya relatif lebih tinggi dibandingkan tumor lain yang tumbuh di region ini. Meningioma pada bayi lebih banyak pada pria. Meningioma dapat terjadi pada semua usia namun jarang didapatkan pada bayi dan anak-anak. Meningioma juga bisa timbul di sepanjang kanalis spinalis. Meningioma intrakranial merupakan 15-20% dari semua tumor primer di region ini. namun paling banyak dijumpai pada usia pertengahan. Meningioma ini lebih banyak didapatkan pada wanita dari pada laki-laki. sedangkan JACOBSON dkk mendapatkan perbandingan wanita dan laki-laki adalah 7:4. meningioma banyak ditemukan pada wanita dibanding pria (2:1). . sedangkan pada kanalis spinalis lebih tinggi lagi (4:1). merupakan 13-20% dari tumor susunan saraf pusat. KOOS dan MULLER menyatakan mulai usia 12 tahun insidens meningioma meningkat secara progressif. Di intrakranial. Perbandingan antara wanita dan laki-laki adalah 3:2.3.

8. parellar. Meningioma dapat tumbuh dimana saja di sepanjang meningen dan dapat menimbulkan manifestasi klinis yang sangat bervariasi sesuai dengan bagian otak yang terganggu. kebanyakan didapati dan di samping medial os petrosum di dekat sudut serebelopontin. Meningioma yang bulat sering menimbulkan penipisan pada tulang tengkorak sedangkan yang gepeng justru menimbulkan hyperostosis. dan baso-frontal biasanya gepeng atau kecil bundar. yang terletak di krista sphenoid. Meningioma spinalis mempunyai kecenderungan untuk memilih tempat di bagian T. Sekitar 40% meningioma berlokasi di lobus frontalis dan 20% menimbulkan gejala sindroma lobus frontalis. Bilamana meningioma terletak infratentorial. Sindroma lobus frontalis sendiri merupakan gejala ketidakmampuan mengatur perilaku seperti .4 sampai T.Tabel 1 : Tumor otak yang berasal dari saraf Tempat predileksi di ruang cranium supratentorial ialah daerah parasagital.

penggunaan telepon genggam. Tetapi penyelidikan ini kemudian dibantah bahwa pemeriksaan electron microscope inclusion bodies ini adalah proyeksi cytoplasma yang berada dalam membran inti. Pada penyelidikan dilaporkan 1/3 dari meningioma mengalami trauma. 2. dan Faktor-faktor terpenting sebagai penyebab meningiomaadalah trauma. ETIOLOGI deficit memori dan atensi. apati. Pada penyelidikan dengan light microscope ditemukan virus like inclusion bodies dalam nuclei dari meningioma. ketidakmampuan mengatur mood. disorganisasi. Faktor lain yang telah diteliti yaitu penggunaan hormon endogen dan eksogen. dan variasi genetik atau polimorfisme. pajanan timbale. dan virus. mungkin hal ini dapat dijelaskan atas dasar adanya hidrasi otak yang meningkat pada saat itu. radiasi juga merupakan penyebab yang berperan. Teori lain menyatakan bahwa virus dapat juga sebagai penyebabnya.5.  Radiasi kepala dengan dosis yang besar. 2. kehamilan. Faktor lain yang dinilai berperan adalah keadaan penyakit yang sudah ada seperti diabetes mellitus. sinar radiasi pengion. dapat menimbulkan meningioma dalam waktu singkat. hipertensi. dan epilepsi.  Pada sisi lain.4. Pada beberapa kasus ada hubungan langsung antara tempat terjadinya trauma dengan tempat timbulnya tumor. pemakaian pewarna rambut. disfungsi eksekutif.  Pasien yang mendapatkan radiasi dosis kecil untuk linea kapitis dapat berkembang menjadi meningioma.  Umumnya abnormalitas kromosom juga menjadi penyebab. faktor lingkungan berupa gaya hidup dan genetik telah dipelajari namun perannya masih dipertanyakan.impulsif. faktor lain yang dinilai konsisten berhubungan dengan risiko terjadinya meningioma yaitu. Sehingga disimpulkan bahwa penyebab timbulnya meningioma adalah trauma. FAKTOR RESIKO Selain peningkatan usia. . Beberapa penyelidikan berpendapat hanya sedikit bukti yang menunjukkan adanya hubungan antara meningioma dengan trauma. Dilaporkan juga bahwa meningioma ini sering pada akhir kehamilan.

dan alergi.1 tahun untuk dosis menengah. Pada sebuah penelitian telah meneliti mengenai hubungan antara pemakaian kontrasepsi oral dan terapi pengganti hormone pada wanita pre-menopause dan post-menopause untuk melihat risiko kemungkinan meningioma. dan menopause. dan pasien pajanan radiasi terapeutik atau diagnostic. usia saat dietemukannya meningioma pada seseorang semakin rendah bila dosis pajanan radiasi pengion semakin besar. siklus menstruarsi. 26. Radiasi Pengion Faktor yang dinilai memiliki bukti kuat ilmiah dalam meningkatkan risiko kejadian meningioma adalah pajanan radiasi pengion.2 tahun untuk dosis rendah. dan adanya perbedaan kriteria dan pajanan. Penelitian mengenai radiasi pengion sebagai faktor risiko dilakukan pada cohort tinea capitis di Israel. selain itu dosis radiasi yang semakin tinggi memiliki kecenderungan akan munculnya tumor multiple atau sifat meningioma yang atipikal atau malignant. dan 19. sedangkan contoh radiasi pengion dosis rendah sebagai factor risiko meningioma dapat diketahui dalam penelitian cohort tinea capitis. Hormon Melihat dari dominannya insidensi meningioma pada wanita dibanding pria. adanya ekspresi hormone pada beberapa tumor tertentu. sekitar 35. trauma kepala.5 tahun umtuk dosis radiasi pengion tinggi. kemungkinan adanya hubungan dengan kanker payudara dan laporan perubahan ukuran tumor saat kehamilan. beberapa peneleti menyatakanadanya hubungan antara hormone sebagai faktor risiko meningioma. hal ini dpat disebabkan jumlah sampel penelitian yang sedikit.secara umum data-data tidak memperlihatkan bukti . korban bom atom yang masih hidup. Bukti terkuat radiasi pengion dosis tinggi mempengaruhi insidensi meningioma ditemukan pada individu yang mendapatkan pajanan radiasi dosis tinggi dalam pengobatan tumor leher dan kepala. merokok. Periode laten munculnya meningioma setelah pajanan radiasi pengion bergantung pada dosis radiasi. Sebagian faktor risiko diatas dinilai tidak signifikan atau tidak konsisten bila dihubungkan dengan risiko yang ditemukan pada pasien meningioma. waktu follow up yang singkat.pajanan gelombang micro atau medan magnet. Dengan kata lain.

7 [1. dan Israel untuk mencari hubungan pemakaian telepon genggam dengan risiko tumor otak. Pemakaian telepon genggam Pertanyaan mengenai penggunaan telepon genggam dapat menyebabkanmeningioma sangat marak di masyarakat namun sampai sekarang bukti yangmenunjukkan hal tersebut masih sedikit.8]). Berbagai penelitian kasus kontrol sudahdilakukan di populasi Amerika Serikat. kelainanini memiliki insidensi 1 per 30. Sindrom genetik yang diketahui menjadi faktor risiko pertumbuhan meningioma hanya sedikit dan jarang. Namun demikian beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemakaian telepon genggam jangka panjang (>10tahun) menunjukkan peningkatan risiko neuroma akustik. suatu tipe glioma high grade. Selain itu. Penelitian cohort tinea capitis. pasien meningioma yang sebelumnya mendapat radiasi pengion lebih banyak insidensinya pada pasien yang memiliki orang tua dengan riwayat pajanan radiasi pengion.000 di Amerika Serikat.79]).06 [1. Perlu diperhatikan bahwa tidak semua penelitian menunjukkan hubungan antara pemakaian terapi pengganti hormone dengan meningioma. semua penelitian di atas tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Dilaporkan meningioma pada keluarga-keluarga di Swedia tanpa ditemukan adanya gen NF2. Genetik Sebagian besar meningioma merupakan tumor sporadik. sebuah kelainan autosom dominan yang disebabkan oleh mutasi pada gen NF2 di 22q12. Wigertz dan kawan-kawan menemukan bahwa terdapat peningkatan signifikan risiko meningioma pada wanita post-menopause di Swedia yang pernahmenggunakan terapi pengganti hormone (OR [95%CI] 1. hasil ini mengkonfirmasi penemuan Jhawar dan kawankawan dalam penelitian Nurse health study.yang kuat bahwa kontrasepsioral sebagai faktor risiko meningioma namun sebaliknya pemakaian terapi pengganti hormone mengindikasikan kemungkinan hubungan sebagai faktor risiko.84– 4. terdapat kemungkinan banyak gen disamping NF2 yang terlibat dalam meningioma familial. pasien dengan lesi sporadic tidak memilii riwayat tumor otak pada keluarganya.000 – 40. Meningioma dapat ditemukan pada pasien dengan NF2. sekitar 50% pasien meningioma sporadic juga memiliki mutasi pada gen NF2 atau mutasi gen lain yang melibatkan lengan kromosom 22q12.0-2. Namun demikian. . Eropa. hal ini menggambarkan kerentanan genetik. terdapat hubungan signifikan antara diagnosis meningioma dengan riwayat meningioma pada orang tua ([95% CI] 3.

PATOFISIOLOGI Seperti banyak kasus neoplasma lainnya. Kaskade eikosanoid diduga memainkan peranan dalam tumorogenesis dan perkembangan edema peritumoral. Jacobs dkk (10) melaporkan meningioma secara bermakna tidak berhubungan dengan karsinoma mammae. dopamine. Philips et al melaporkan adanya sedikit peningkatan kasus meningioma setelah trauma kepala. Meningioma merupakan tumor otak yang pertumbuhannya lambat dan tidak menginvasi otak maupun medulla spinalis. Trauma dan virus sebagai kemungkinan penyebab meningioma telah diteliti. tapi belum didapatkan bukti nyata hubugan trauma dan virus sebagai penyebab meningioma.2. reseptor progesteron lebih tinggi dibandingkan pada meningioma soliter. tapi beberapa penelitian lainnya melaporkan hubungan karsinoma mammae dengan meningioma. Patofisiologi terjadinya meningioma sampai saat ini masih belum jelas. Dengan teknik imunohistokimia yang spesifik dan teknik biologi molekuler diketahui bahwa estrogen diekspresikan dalam konsentrasi yang rendah. Tumor otak yang yang tergolong jinak ini secara histopatologis berasal dari sel pembungkus arakhnoid (arakhnoid cap cells) yang mengalami granulasi dan perubahan bentuk. . Pertumbuhan meningioma dapat menjadi cepat selama periodic peningkatan hormone. Meningioma juga berhubungan dengan hormone seks dan seperti halnya factor etiologi lainnya mekanisme hormone sex hingga memicu me ningioma hingga saat ini masih menjadi perdebatan. Reseptor somatostatin juga ditemukan konsisten pada meningioma. Beberapa reseptor hormon sex diekspresikan oleh meningioma. Reseptor progesterone yang ditemukan pada meningioma sama dengan yang ditemukan pada karsinoma mammae. fase luteal pada siklus menstruasi dan kehamilan. reseptor hormon lain juga ditemukan pada tumor ini termasuk estrogen. Tidak hanya progesteron.6. masih banyak ha l yang belum diketahui dari meningioma. Stimulus hormon merupakan faktor yang penting dalam pertumbuhan meningioma. Pada meningioma multiple. Pada sekitar 2/3 kasus meningioma ditemukan reseptor progesterone. androgen. Reseptor progesteron dapat ditemukan dalam sitosol dari meningioma. dan reseptor untuk platelet derived growth factor.

namun jarang menyebuk ke jaringan otak. rasio small cell dan nuclei sitoplasma yang tinggi. meningioma biasanya berbentuk globuler dan meliputi dura secara luas. Dikatakan atipikal jika ditemukan proses mitosis pada 4 sel per lapangan pandang electron atau terdapat peningkatan selularitas. tampak pucat translusen atau merah kecoklatan homogen serta dapat seperti berpasir. abnormalitas pola pertumbuhan meningioma dan infiltrasi serebral. . selanjutnya di daerah permukaan konveks lateral dan falx cerebri. Kadang-kadang ditemukan focus-fokus kalsifikasi kecil-kecil yang berasal dari psammona bodies. Stain negative untuk anti-Leu 7 antibodi (positif pada Schwannomas) dan glial fibrillary acidid protein (GFAP). GAMBARAN HISTOPATOLOGI Meningioma intrakranial banyak ditemukan di regio parasagital.7. Imunohistokimia adanya epithelial membrane antigen (EMA) yang positif. bahkan dapat ditemukan pembentukan jaringan tulang yang baru. nuclear pleomorphism. Pertumbuhan tumor ini mengakibatkan tekanan hebat pada jaringan sekitarnya. Di kanalis spinalis meningioma lebih sering menempati region torakal.2. Pada permukaan potongan. Secara histologist. Sedangkan pada anaplastik akan ditemukan peningkatan jumlah mitosis sel. uninterrupted patternless dan sheel-like growth.

Meningioma angioblastik Terdiri atas sel-sel yang tersusun padat. sebagian dari kelompok-kelompok sel tersebut tersusun dalam lobules-lobulus membentuk massa yang solid. Bailey dkk. Meningioma fibroblastic 3. batas-batas sitoplasma tidak jelas. Beberapa penulis melaporkan bahwa meningioma angioblastik lebih sering kambuh. sedangkan membrane sel tidak jelas. Adanya serabut retikulin yang berlebihan dan serabut kolagen yang menjadi pemisah antara sel pada meningioma tipe ini. Whorls dan psammona bodies juga merupakan gambaran khas tumor ini. berinti bulat atau oval. kadang-kadang dengan bagian-bagian menyerupai struktur palisade. sehingga sukar untuk di identifikasi. sebagian lagi kompresi. inti sel tersusun rapat. yaitu: 1. . (1928) beranggapan bahwa sel -sel tumor ini berasal dari elemen dinding pembuluh darah.8. Jaringan ikat pada batas-batas lobules. namun kapiler-kapiler tersebut sebagian mengalami dilatasi. KLASIFIKASI Klasifikasi menurut Kernohan dan Sayre. Sel-sel tersebut mirip dengan fibroblast. Sel-sel tersebut umunya menempel pada dinding kapiler. namun inti sel identik dengan inti sel meningioma meningiomatosa. mengandung satu atau dua nuklcoii nyata. 2. merupakan tanda yang khas.2. Meningioma angioblastik Yang terakhir ada yang menggolongkan sebagai haemangioperisitoma tipe transisional atau tipe campuran digolongkan ke dalam kelompok meningioma meningiotheliomatosa. Meningioma fibroblastic Terdiri atas sel-sel yang pipih yang membentuk berkas-berkas yang saling beranyaman. Meningioma meningiotheliomatosa (syncytial. endothclimatous). Meningioma meningotheliomatosa Terdiri atas sel-sel uniform.

Tumor tidak menimbulkan gejala. Meningioma grade II biasanya membutuhkan terapi radiasi setelah pembedahan. Jika tumor semakin berkembang. Penatalaksanaannya pun berbeda. Gambar 5 b. Grade III Meningioma berkembang dengan sangat agresif dan disebut meningioma malignant atau meningioma anaplastik. termasuk meningioma. Tumor diklasifikasikan melalui tipe sel dan derajat pada hasil biopsi yang dilihat di bawah mikroskop. mungkin pertumbuhannya sangat baik jika diobservasi dengan MRI secara periodik.WHO mengembangkan sistem klasifikasi untuk beberapa t umor yang telahdiketahui. Grade II (Atipikal meningioma 6-7%) Meningioma grade II disebut juga meningioma atypical. a. Kebanyakan meningioma grade I diterapi dengan tindakan bedah dan observasi secara berterusan. Pembedahan adalah penatalaksanaan awal pada tipe ini. Jenis ini tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan grade I dan mempunyai angka kekambuhan yang lebih tinggi juga. Meningioma malignant terhitung kurang dari 1% dari seluruh kejadian . maka pada akhirnya dapat menimbulkan gejala.beda di tiap derajatnya. Grade I (Tipikal / Meningioma benign 90%) Meningioma tumbuh dengan lambat. kemudian penatalaksanaan bedah dapat direkomendasikan. c.

Meningioma juga diklasifikasikan ke dalam subtype berdasarkan lokasi dari tumor : 1. Spinal meningioma (kurang dari 10%). Falx adalah selaput yang terletak antara dua sisi otak yang memisahkan hemisfer kiri dan kanan. 9. Banyak terjadi pada wanita.Jika terjadi rekurensi tumor. Terjadi pada ruangan yang berisi cairan di selurubagian otak. gangguan kencing. 7. dapat dilakukan kemoterapi. 6. Terjadi dibagian belakang sella tursic. Akan selalu terjadi pada medulla spinalis dapat menyebabkan gejala seperti nyeri radikuler di sekeliling dinding dada. dan nyeri tungkai. Tipe ini berkembang pada atau di sekitar mata cavum orbita. Banyak terjadi pada wanita yang berumur antara 40 dan 70 tahun. Meningioma olfactorius (10%). 4.meningioma. 5. Menigioma sphenoid (20%) daerah sphenoidalis berlokasi pada daerah belakang mata. Meningioma falx dan parasagital (25% dari kasus meningioma). Tipe ini berkembang di permukaan bawah bagian belakang otak. . 8. Parasagital meningioma terdapat di sekitar falx. Meningioma suprasellar (10%). Meningioma convexitas (20%). Meningioma intraventrikular (2%). Falx cerebri mengandung pembuluh darah besar. Pembedahan adalah penatalaksanaan yang pertama untuk grade III diikuri dengan terapi radiasi. 3. sebuah kotak pada dasar terngkorak dimana terdapat kelenjar pituitary. 2. Tipe ini terjadi di sepanjang nervus yang menghubungkan otak dengan hidung. Meningioma fossa posterior (10%). Meningioma intraorbital (kurang dari 10%). Tipe meningioma ini terdapat pada permukaan atas otak.

. dating pergi (rekuren) dengan interval tak teratur beberapa menit sampai beberapa jam. penurunan kesadaran. gangguan visual dan sebagainya. Edema papil dan defisit neurologis lain biasanya ditemukan pada stadium yang lebih lanjut. Gejala umumnya seperti : a. Sakit kepala Nyeri kepala biasanya terlokalisir. MANIFESTASI KLINIS Gejala umum yang terjadi disebabkan karena gangguan fungsi serebral akibat edema otak dan tekanan intrakranial yang meningkat. bisa berupa nyeri kepala. muntah.Gambar 6 :Lokasi umum meningioma 2. Nyeri kepala juga bertambah beratwaktu posisi berbaring. gangguan mental. kejang. Biasanya muncul pada pagi hari setelah bangun tidur dan berlangsung beberapa waktu. Serangan semakin lama semakin sering dengan interval semakin pendek. bersin atau mengejan (misalnya waktu buang air besar atau koitus). tapi bias juga menyeluruh.9. dan berkurang bila duduk. Nyeri kepala ini bertambah hebat pada waktu penderita batuk. Gejala spesifik terjadi akibat destruksi dan kompresi jaringan saraf.

pembuluh darah melebar atau kadang-kadang tampak terputus-putus. Muntah biasanya proyektil (menyemprot) tanpa didahului rasa mual. Mual muntah Lebih jarang dibanding dengan nyeri kepala. Tapi bila kejang terjadi pertama kali pada usia dekade III dari kehidupan harus diwaspadai kemungkinan adanya tumor otak. perubahan status mental c) Meningioma sphenoid Kurangnya sensibilitas wajah.Penyebab nyeri kepala ini diduga akibat tarikan (traksi) pada pain sensitive structure seperti dura. warna pupil berubah menjadi kemerahan dan pucat. sakit kepala. Gejala dapat pula spesifik terhadap lokasi tumor : a) Meningioma falx dan parasagital Nyeri tungkai b) Meningioma convexitas Kejang. d. Penyebab edema papil ini masih diperdebatkan. c. serabut saraf atau pembuluh darah. defisit neurologis fokal. b. Kejang Ini terjadi bila tumor berada di hemisfer serebri serta merangsang korteksmotorik. kebutaan dan penglihatan ganda d) Meningioma olfaktorius . Kejang yang sifatnya lokal sukar dibedakan dengan kejang akibat lesi otak lainnya. Untuk mengetahui gambaran edema papil seharusnya kita sudah mengetahui gambaran papil normal terlebih dahulu. gangguan lapangan pandang. dan jarang terjadi tanpa disertai nyeri kepala. Edema papil Keadaan ini bisa terlihat dengan pemeriksaan funduskopi menggunakan oftalmoskop. Gambarannya berupa kaburnya batas pupil. tapi diduga akibat penekanan terhadap vena sentralis retinae. sedang kejang yang sifatnya umum/general sukar dibedakan dengan kejang karena epilepsy.

- Kurangnya kepekaan penciuman. Gambar 7 : posisi klasik pada meningioma Tanda-tanda yang menyesatkan (False Localizing Signs = FLS) FLS dari tumor-tumor intrakranial adalah tanda-tanda yang tidak semuanya berhubungan dengan gangguan fungsi pada tempat tumor tersebut. Biasanya terlihat sebagai gejala fokal dari tempat-tempat yang jauh dari tumor dimana hal ini dapat membingungkan untuk menentukan lokalisasi tumor tersebut. penonjolan bola mata i) Meningioma intraventrikular Perubahan mental. Dari 250 kasus meningioma . dan spasme otot-otot wajah. masalah visus e) Meningioma fossa posterior Nyeri tajam pada wajah. apabila pada kasus-kasus yang tanda-tandanya tidak jelas. sakit kepala. pusing. masalah visus g) Spinal meningioma Nyeri pungggung. gangguan menelan. tetapi kurangnya pengetahuan akan FLS menyebabkan kesalahn-kesalahan pada diagnosa. gangguan gaya berjalan f) Meningioma suprasellar Pembengkakan duktus optikus. myeri dada dan lengan h) Meningioma intraorbital Penurunan visus. berkurangnya pendengaran. Seperti biasanya diagnosa klinik dutegakkan dari kumpulan atau tandatanda. mati rasa.

Yang termasuk silent area.10. Sesak napas e. 2. Penciuman (hidung) d.10.10. Diagnosa yang salah karena gejala-gejala yang tidak jelas disertai adanya FLS. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik dapat dilakukan untuk mengetahui apabila ada gejala-gejala meningioma yang dapat dilihat melalui inspeksi. Gejala-gejala yang tidak jelas dapat disebabkan oleh karena adanya silent area dimana tumor-tumor itu pada permulaannya tidak menunjukkan gejala. Pola napas c. Pendengaran (telinga) c. parasagital anterior. Penglihatan (mata) diplopia b.intrakranial didapatkan 101 kasus dengan FLS. hilangnya ketajaman atau a.2. convexitas frontal dan intraventrikular. Inspeksi a. dan auskultasi. palpasi. 27x/menit : tidak ada bising paru :+ ::+ Persyarafan B3 (brain) : penurunan penglihatan pada mata kiri. DIAGNOSA 2. Retraksi otot bantu napas  : normal : tidak teratur. Batuk f.1. Pengecapan (lidah) : terganggu karena terdapat tonjolan pada daerah temporal : mengeluh bau yang tidak biasanya : penurunan sensasi (parathesia) . Anamnesa 2. Suara napas d. Bentuk dada b.

Nyeri dada Palpasi a. 52x/menit : 170/110 mmHG : normal 2. a. Afasia : ketika di ajak komunikasi.3. Kesadaran auskultasi  Kardiovaskular B2 (blood) : irregular :: compos mentis : kelemahan atau paralysis genggaman tangan tidak seimbang. sampai COSTERO dkk pada tahun 1955 mendapatkan pertumbuhan meningioma whorls yang khusus. Bunyi jantung : bradikardi. Ekstremitas berkurangnya reflex tendon g. pasien tidak mampu menyebutkan nama ibu pasien yang selalu menunggu pasien f. jawaban pasien tidak sesuai dengan pertanyaan perawat.e. tetapi tidak didapatkan bentuk-bentuk pertumbuhan. Irama jantung b. Bentuk whorls tidak selalu didapatkan pada semua pembiakan jaringan meningioma. Tekanan darah c.10. Nadi b. tetapi whorls ini merupakan tanda khas adanya meningioma dan tidak pernah didapatkan pada tumor-tumor yang lain baik intra maupun ekstraserebral. . Pemeriksaan Labor dan Penunjang  Pemeriksaan labor Pembiakan jaringan (Tissue Culture) Sejak tahun 1928 pembiakan jaringan meningioma telah dilakukan.

Kalsifikasi terdapat pada 20-25% kasus dapat bersifat fokal maupun difus. Dahulu angiografi. terutama untuk tumor-tumor di daerah fossa posterior. 2. 1. Pembesaran pembuluh darah mening menggambarkan dilatasi arteri meningea yang mensuplai darah ke tumor. Di indikasikan untuk tumor pada meningen. CT tanpa kontras Kebanyakan meningioma memperlihatkan lesi hiperdens yang homogen atau berbintikbintik. bentuknya reguler dan berbatas tegas. Foto polos Hiperostosis adalah salah satu gambaran mayor dari meningioma pada foto polos. nekrosis. sekalipun dengan kontras. kalsifikasi dan lesi litik pada tulang tengkorak. Karena CT Scan sukar mendiagnosis tumor otak akibat banyaknya artefak. degenerasi lipomatous atau rongga-rongga. kemudian CT Scan dan terakhir MRI. Kadang-kadang meningioma memperlihatkan komponen hipodens yang prominen apabila disertai dengan komponen kistik. Pemeriksaan Penunjang Dahulu mendiagnosa suatu tumor otak. Tampak erosi tulang dan dekstruksi sinus sphenoidales. Bagian yang hiperdens dapat memperlihatkan gambaran psammomatus calcifications. CT Scan Meningioma mempunyai gambaran yang agak khas tetapi tidak cukup spesifik apabila diagnosis tanpa dilengkapi pemeriksaan angiografi dan eksplorasi bedah. selain klinis peranan radiologi sangat besar. . Dengan MRI suatu tumor dapat dengan jelas tervisualisasi melalui di potongan 3 dimensi sehingga memudahkan ahli bedah saraf untuk dapat menentukan teknik operasi atau menentukan tumor tersebut tidak dapat di operasi mengingat risiko atau komplikasi yang akan timbul. Angiografi penting untuk menentukan suplai pembuluh darah ke meningiomanya dan untuk menilai efek di sekitar struktur arteri dan venanya.

2. CT dengan kontras Semua meningioma memperlihatkan enchancement kontras yang nyata kecuali lesi-lesi dengan perkapuran. Disekitar lesi yang menunjukkan enchancement. Meningioma sering menunjukkan enchancement heterogen yang kompleks.dengan gejala tergantung pada lokasi tumor berada. Magnetic Resonance Imaging (MRI) MRI merupakan pencitraan yang sangat baik digunakan untuk mengevaluasi meningioma. tanda yang relative sspesifik karena bias tampak juga pada glioma dan metastasis. Angiografi Umunya meningioma merupakan tumor vascular. Pola echancement biasanya homogeny tajam (intense) dan berbatas tegas. perdarahan subarachnoid dan meningitis serosa. Seringkali juga menyerupai chronic subdural hematoma. bisa disertai gambaran hypodense semilunar collar atau berbentuk cincin. 4.11. Selanjutnya arteri d a n k a p i l e r m e m p e r l i h a t k a n g a m b a r a n vascular ya n g homogen d a n prominen yang disebut dengan mother and law phenomenon. Telah dibuat sejumlah diagnosa banding pada beberapa penyelidikan.CSF yang loculated Sepertiga dari meningioma memperlihatkan gambaran isodens yang biasanya dapat dilihat berbeda dari jaringan parenkim di sekitarnya dan. Dan dapat menimbulkan gambaran “spoke wheel appearance”. DIAGNOSA BANDING Diagnosa banding tergantung dari bentuk gejala sebenarnya dan usia penderita. Kira-kira separo dari kasus-kasus dengan insuffisiensia serebral sepintas dan berulang-ulang pada penderita yang tua menyerupai infark otak atau insuffisiensia serebro vaskuler. . Duramater yang berlanjut ke lesinya biasanya tebal. 3. MRI memperlihatkan lesi berupa massa. hampir semua lesi-lesi isodens ini menyebabkan efek masa yang bermakna.

perlekatan dural dan tulang abnormal : Reseksi total tumor. . dan pemberian cephalosporin generasi III yang memiliki aktifitas terhadap organisme pseudomonas. atau mungkin perlekatan ekstradural (misalnya sinus yang terserang atau tulsng ysng hiperostotik) Operasi Grade IV : Reseksi parsial tumor Grade V : Dekompresi sederhana (biopsy) Meningioma yang terletak di vault biasanya dapat dioperasi seluruhnya.12. ukuran dan konsistensi. Klasifikasi symptom dari ukuran reseksi pada meningioma intracranial : Grade I Grade II : Reseksi total tumor. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan meningioma terganting darilokasi dan ukuran tumor itusendiri. Rencana Preoperatif Pada pasien dengan meningioma supratentorial. Pada basis otak terdapat kesukaran teknis untuk diambil seluruhnya. Terapi meningioma masih menempatkan reseksi operatif sebagai pilihan pertama. pemberian antikonvulsan dapat segera diberikan. Lebih jauh lagi. pola. rencana operasi dm tujuannya berubah berdasarkan factor risiko. dan pada kasus rekurensi. vaskularisasi dan pengaruh terhadap sel saraf. dan tulanguntuk menurunkan kejadian rekurensi. dekametason diberikan dan dilindungi pemberian H2 antagonis beberapa hari sebelum operasi dilaksanakan. koagulasi dan perlekatan dura Grade III : Reseksi total tumor. tanpa reseksi atau koagulasi dari perlekatan dura. sinus paranasal. jaringan lunak. riwayat operasi sebelumnya dan atau radiot erapi. atau mastoid. dan rekurensi tumor. serta pemberian metronidazol (untuk organism anaerob) ditambahkan apabila operasi direncanakan dengan pendekatan melalui mulut.2. telinga. Tindakan operasi tidak hanya mengangkat seluruh tumor tetapi juga termasuk dura. Beberapa factor yang mempengaruhi operasi removal massa tumor ini antara lain lokasi tumor. Pemberian a n t i b i o t i k perioperatif digunakan sebagai profilaksis pada semua pasien untuk organism stafilokokkus.

External beam irradiation dengan 4500-6000 cGy dilaporkan efektif untuk melanjutkan terapi operasi meningioma reseksi subtotal. yang paling sering digunakan adalah sinar foton yang berasal dari Cogamma (gamma knife) atau linear accelerators (LINAC) dan partikel berat (proton. Pada kasus meningioma yang tidak dapat dioperasi karena lokasi yang sulit. tekanan intrakranial meningkat secara massif dan oedema otak yang ikut menyertainya. Sumber energi yang digunakan didapat melalui teknik yang bervariasi. external beam irradiation masih belum menunjukkan keefektifitasannya. Efektifitas pertimbangan dosis yang lebih tinggi dari radioterapi pada harus dengan komplikasi yang ditimbulkan terutama meningioma. Radiasi Stereotaktik Terapi radiasi tumor menggunakan stereotaktik pertama kali diperkenalkan pada tahun 1960an menggunakan alat Harvard proton beam. keadaan pasien yang buruk. Terapi Adjuvan Radioterapi Penggunaan external beam irradiation pada meningioma semakin banyak dipakai untuk terapi. Komplikasi lainy a n g d a p a t d i t i m b u l k a n b e r u p a i n s u f i s i e n s i p i t u i t a r i a t a u p u n n e k r o s i s a k i b a t radioterapi. atau pada pasien yang menolak dilakukan operasi. malignant) . kasus-kasus rekurensi baik yang didahului dengan operasi sebelumnya ataupun tidak. Teori terakhir menyatakan terapi external beam irradiation tampaknya akan efektif pada kasus meningioma yang agresif (atypical. ion helium) dari cyclotrons. Setelah itu penggunaan stereotaktik radioterapi ini semakin banyak dilakukanuntuk meningioma. Semua . Saraf optikus sangat rentan mengalami kerusakan akibat radioterapi.Drainage Ventrikel Cara ini digunakan umpamanya pada neoplasma dari fossa posterior dengan obstruksi akut dari system ventrikel. tetapi informasi yang mendukung teori ini belum banyak dikemukakan.

Pada studi yang pertama didapatkan 5 dari 14 pasien menunjukkan perbaikan secara objektif yaitu sedikit pengurangan massa tumor pada empat pasien dan satu pasien gangguan lapang pandangnya membaik walaupun tidak terdapat pengurangan massa tumor. Pada dua studi terpisah dilakukan pemberian mifepristone (RU486) 200 mg perhari selama 2 minggu hingga 31 bulan.teknik radioterapi stereotaktik ini dapat mengurangi komplikasi. Pada . dan vincristine dapat memperbaiki angka harapanhidup dengan rata-rata sekitar 5. stabilisasi sementara pertumbuhan tumor pada 6 pasien. walaupun regimen tersebut efektifitasnya sangat baik pada tumor jaringan lunak. tetapi terapi menggunakan regimen kemoterapi (baik intravena atau intraarterial cisplatinum. Laporan dari Chamberlin pemberian terapi kombinasi menggunakan cyclophosphamide. Dilaporkan juga terapi ini kurang menimbulkan toksisitas dibanding pemberian dengan kemoterapi. Kemoterapi Modalitas kemoterapi dengan regimen antineoplasma masih belum banyak diketahui efikasinya untuk terapi meningioma jinak maupun maligna. Terdapat pertumbuhan tumor pada 10 pasien. Pertumbuhan sel pada meningioma dihambat pada fase S dari siklus sel dan menginduksi apoptosis dari beberapa sel dengan pemberian hydroxyurea. Pemberian hormon antagonis mitogen telah juga dilakukan pada kasus dengan meningioma. adriamycin. Preparat yang dipakai biasanya tamoxifen (anti estrogen) dan mifepristone (anti progesterone). Pemberian Alfainterferon dilaporkan dapat memperpanjang waktu terjadinya rekurensi pada kasus meningioma yang agresif.5 cm. Kemoterapisebagai terapi ajuvan untuk rekuren meningioma atipikal atau jinak baru sedikit sekali diaplikasikan pada pasien. terutama pada lesi dengandiameter kurang dari 2. decarbazine (DTIC) dan adriamycin) menunjukkan hasil yang kurang memuaskan (De monte dan De yung). dan respon minimal atau parsial pada tiga pasien. Dan dilaporkan pada satu kasus pemberian hydroxyurea ini memberikan efek pada pasien-pasien dengan rekurensi dan meningioma yang tidak dapat direseksi. Pemberian obat kemoterapi lain seperti hydroxyurea sedang dalam penelitian. terdapat pertumbuhan ulang pada salah satu pasien tersebut. Tamoxifen (40 mg/m2 2 kali/hari selama 4 hari dan dilanjutkan 10 mg 2 kali/hari) telah digunakan oleh kelompok onkologi Southwest pada 19 pasien dengan meningioma yang sulit dilakukan reseksi dan refrakter.3 tahun.

9% dan (1957-1966) adalah 8. perubahan menjadi keganasan lebih besar dan tumor dapat menjadi sangat besar. dan bila letaknya mudah dapat diangkat seluruhnya. dengan kemajuan teknik dan pengalaman operasi para ahli bedah maka angka kematian post operasi makin kecil. 2. Degenerasi keganasan tampak bila ada : Invasi dan kerusakan tulang Tumor tidak berkapsul pada saat operasi Invasi pada jaringan otak Angka kematian (mortalitas) meningioma sebelum operasi karang dilaporkan. Sejak 18 tahun meningioma dipandang sebagai tumor jinak. stabil pada tiga pasien. dan pengurangan ukuran yang minimal pada tiga pasien.13. PROGNOSIS Pada umumnya prognosa meningioma adalah baik.Pada penyelidikan pengarang-pengarang barat lebih dari 10% meningioma akanmengalami keganasan dan kekambuhannya tinggi.5%. karena pengangkatan tumor yang sempurna akan memberikan penyembuhan yang permanen. Pada anak-anak lebih agresif. dilaporkan survival rate lima tahun adalah 75%. Diperkirakan angka kematian post operasi selama lima tahun (1942-1946) adalah 7. Tiga jenis obat tersebut sedang dilakukan penelitian dengan jumlah sampel yang lebih besar pada meningioma tetapi sampai sekarang belum ada terapi yang menjadi prosedur tetap untuk terapi pada tumor ini.studi yang kedua dari kelompok Netherlands dengan jumlah pasien 10 orang menunjukkan pertumbuhan tumor berlanjut pada empat pasien. . Sebab-sebab kematian menurut laporan-laporan yaitu perdarahan dan oedema otak. Pada orang dewasa survivalnya relative lebih tinggi dibandingkan pada anak-anak.

muntah. Diagnose banding seringkali menyerupai insufisiensi serebral sementara dan berulang seperti. kami mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca. perdarahan sub arakhnoiddan meningitis serosa. gangguan mental. Prognosa meningioma pada umumnya adalah baik. Gejala umum yang terjadi disebabkan karena gangguan fungsi serebral akibat edema otak dan tekanan intrakranial yang meningkat. agar dilain kesempatan tim . penurunan kesadaran. Terapi meningioma masih menempatkan reseksi operatif sebagai pilihan utama. Edema papil dan defisit neurologis lain biasanya ditemukan pada stadium yang lebih lanjut. bis a berupa nyeri kepala. dengan angka harapan hidup lima tahun sebesar 75%. Gejala spesifik terjadi akibat destruksi dan kompresi jaringan saraf. Patofisiologi terjadinya meningioma sampai saat ini masih belum jelas. Apabila ada kesalahan dalam penulisan karya tulis ilmiah ini. Penatalaksaan meningioma tergantung dari lokasi dan ukuran tumor sendiri. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang sering digunakan termasuk CT Scan. b. radioterapi dan kemoterapi. Diduga penyebab meningioma ini adalah trauma. kejang. gangguan visual dan sebagainya. Diagnose ditegakkan berdasarkan anamnesa. radiasi pengion dan pemakain telepon genggam. Dengan insiden paling banyak pada usia pertengahan. chronic subdural hematoma. Kesimpulan Meningioma adalah tumor pada meningen yang berasal dari jaringan duramater dan arakhnoid. Factor resiko selain usia yaitu dipengaruhi oleh genetic.BAB III KESIMPULAN DAN SARAN a. hormone. infark otak. drainage ventrikel. MRI dan angiografi. Saran Dari karya tulis ilmiah yang berjudul “ meningioma “ ini diharapkan para pembaca dapat mengambil manfaat dari karya tulis ini. Lokalisasi tersering didaerah supratentorial. kehamilan dan virus.

.penulis dapat menyempurnakan karya tulis ini sehingga dapat dijadikan sumber tambahan untuk menambah ilmu pengetahuan.

BAB IV DAFTAR PUSTAKA .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful