You are on page 1of 9

EFEK RADIASI SINAR – X PADA RONGGA MULUT

Sinar X adalah pancaran gelombang elektromagnetik yang sejenis dengan gelombang radio, panas, cahaya dan sinar ultraviolet tetapi dengan panjang gelombang yang sangat pendek. Sinar X bersifat heterogen, panjang gelombang bervariasi dan tidak terlihat. Perbedaan antara sinar X dengan sinar elektromagnetik lainnya juga terletak pada panjang gelombangnya, dimana panjang gelombang sinar X sangat pendek yaitu hanya 1/10.000 panjang gelombang cahaya yang keliahatan, karena panjang gelombang yang pendek itu, maka sinar X dapat menembus benda. Dinegara-negara maju sepertiga hingga separuh keputusan medic yang menentukan bergantung pada diagnosis sinar X, bahkan beberapa penyakit diagnosis awalnya bergantung pada pemeriksaan sinar X, hal ini karena perkembangan radiologi dirasakan sangat cepat, sehingga peranannya sebagai penunjang diagnosis semakin penting. Untuk orang sehat, penyinaran radiasi harus selalu dibuat seminimal mungkin. Pada kasus penyakit atau kecelakaan tertentu, secara medis dapat dibenarkan terapi radiasi ionisasi untuk mendapatkan hasil diagnose yang bermanfaat. Sinar X, selain memiliki sifat yang menguntungkan juga memiliki beberapa efek yang berdampak buruk pada tubuh maupun lingkungan. Sejak ditemukannya pada tahun 1895 oleh Wilhem Conrad Roentgen, ternyata kemudian dilaporkan adanya kelainan dari jaringan tubuh yang terkena radiasi sinar X. Ketika menembus jaringan tubuh, radiasi sinar ionisasi menimbulkan kerusakan pada tubuh, terutama dengan ionisasi atom-atom pembentuk jaringan. Indikasi radiasi yang merusak dalam tingkat atom akan menimbulkan perubahan molekul, yang menimbulkan kerusakan seluler, serta menimbulkan fungsi sel abnormal atau hilangnya fungsi sel. Efek radiasi pada manusia merupakan hasil dari rangkaian proses fisik dan kimia yang terjadi segera setelah terpapar (10-15 detik), kemudian diikuti dengan proses biologic dalam tubuh. Proses biologic meliputi rangkaian perubahan pada tingkat molekuler, seluler, jaringan dan tubuh. Konsekuensi yang timbul dapat berupa kematian sel atau perubahan pada sel. Bergantung pada dosis radiasi yang diterima tubuh. Pada paparan akut dosis relative tinggi, efek yang timbul merupakan hasil kematian dari sel yang dapat menyebabkan gangguan fungsi jaringan dan organ tubuh, bahkan kematian. Efek seperti ini disebut efek deterministic yang umumnya segera dapat teramati secara klinis setelah tubuh terppar radiasi dengan dosis diatas dosis ambang. Selain itu, radiasi dapat tidak mematikan sel tetapi menyebabkan perubahan atau transformasi sel sehingga terbentuk sel baru yang abnormal. Perubahan ini terutama karena rusaknya materi inti sel, kususnya DNA dan kromosom. Perubahan ini berpotensi menyebabkan terbentuknya kanker pada sebagian individu terpapar atau penyakit herediter meningkat dengan bertambahnya dosis, tetapi tidak halnya dengan keparahannya. Efek ini disebut efek stokastik yang terjadi akibat paparan radiasi tanpa ada dosis ambang. Dengan demikian, radiasi pada dosis serendah apapun, dapat menimbulkan efek kesehatan karena sebuah kejadian ionisasi dapat menimbulkan kerusakan DNA. Dosis kecil 10-100mSv, meningkatkan sekitar 1% laju latar kerusakan DNA yang terjadi secara alamiah. Tidak diragukan lagi bahwa tidak ada dosis atau laju dosis radiasi yang aman dalam hal menimbulkan efek pada manusia. Adanya efek kesehatan radiasi pengion dosis rendah telah mengubah pernytaan “small dose may cause harm” menjadi “small dose definitely will cause harm”. Ketika diketahui adanya efek radiasi ionisasi yang berbahaya, kalangan medis memutuskan bahwa perlu dilakukan reduksi radiasi penyinaran diseluruh dunia dengan cara membuat standard pengukuran dan membatasi penyinaran. Radiografer gigi harusn mengenal jumlah dan unit radiasi standard agar dapat mengukur radiasi penyinaran pasien dan raqdiografer secara konsisten.

II.1 Filosofi Radiasi(1) Filosofi modern dari perlindungan radiasi adalah berdasar pada anggapan bahwa terdapat hubungan linier antara dosis radiasi dan respon biologi. Hal ini berarti bahwa kemungkinan untuk dapat terkena kerusakan biologi dan jumlah kerusakan berhubungan langsung dengan jumlah radiasi yang terserap dan belum ada batas dosis absorbs tertentu dimana bila radiasi dibuat

Dapat diserap oleh timah hitam (Pb) 5. sebelumnya perlu diketahui satuan dari radiasi sinar X yaitu Roentgen(R). Contoh sehari-hari darin periode laten adalah kulit yang semakin gelap dari hari ke hari setelah terpapar sinar matahari. Tak dapat dilihat dengan mata 2. efek radiasi tidak akan dapat dilihat selama beberapa waktu setelah terapi sinar X.lebih kecil dari batas tersebut. Dapat juga dikatakan sebagai suatu pemaparan radiasi yang memberikan muatan 2.95 0. dan organ. Roentgen(R) adalah satuan radiasi sinar X atau sinar tembus lain yang setara yaitu banyaknya radiasi yang dikeluarkan pada 1 cm3 volume udara dengan tekanan tertentu. Akan tetapi. II.58 x 10-4 coulomb / kg udara (1 R = 1000mR) Tabel dosis serap kira-kira untuk jaringan / Roentgen pemaparan Jaringan Rad per Roentgen pemaparan 50 KVp 1 MsV Jaringan lunak 0. Sebagian dari energy radiasi akan diserap oleh tubuh manusia. Mempunyai daya tembus yang tinggi 10. Dapat menimbulkan sindrom susnan syaraf pusat Karena mempunyai sifat-sifat yang seperti di atas. Tidak dapat difokuskan oleh lensa apapun 4. Akibatnya. Filosofi modern juga mengatakan bahwa radiasi ionisasi memiliki manfaat dan kemampuan merusak sehingga dianjurkan jika menggunakannya untuk keperluan pengobatan pasien.9 II. manfaat radiasi ionisasi ini harus lebih besar daripada kerugiannya. Dapat memutasikan sel-sel gonad 15. sehingga dapat menimbulkan efek biologis pada sel tubuh yang masih hidup. tidak ada kemungkinan terjadinya kerusakan biologi. II. rentang waktu ini disebut sebagai “periode laten”. Radiasi sinar X dapat mengakibatkan perubahan-perubahan struktur kimia tubuh. sel-sel. perubahan jaringan atau sel yang terkena radiasi sinar X sebagai akibat terurainya ion-ion air (akibat ionisasi) dengan terbentuknya molekul air dan peroksida yang merupakan racun dalam jaringan atau sel. serta terbentuknya ion bebas hydrogen yang akan menimbulkan reaksi kimiawi pada jaringan atau sel. Mempunyai frekuensi gelombang yang tinggi 9. Sifat-sifat itu antara lain : (2) 1.3 Dosis Radiasi(1) Sebelum mengetahui dosis serap kira-kira untuk jaringan baik jaringan lunak maupun keras. yaitu kegunaan sinar X dalam membuat roentgenogram dengan teknik radiografi intraoral dan kegunaan sinar X dalam membuat roentgenogram dengan teknik radiografi eksternal II.95 Tulang 5 0.2 Sifat Radiasi Sinar X(1) Sebelum memahami penggunaan sinar X perlu dipahami bahwa sinar X memiliki beberapa sifat yang apabila dapat dipahami dapat menjadi batasan kita dalam pemanfaatan sinar X agar dapat meminimalisir efek negative yang dapat timbul. Dapat menyebabkan nekrotik pada jaringan tubuh hidup 14. bahkan dosis radiasi yang sekecil apapun juga dapat menimbulkan kerusakan.2) . Kegunaan sinar X dalam ilmu Kedokteran Gigi dapat terbagi dalam dua bagian. Secara umum. Dapat difaksikan oleh unsur kristal tertentu 7. jaringan. salah satunya adalah kedokteran gigi. Dapat dibelokan setelah menembus logam atau benda padat 6.4 Kerusakan Biologis Akibat Terapi Radiasi Sinar X(1) Penggunaan radiasi pengion dosis tinggi yang digunakan pada terapi radiasi dapat berpengaruh pada sel-sel tubuh yang masih sehat. Tidak dapat dibelokan oleh medan magnet 3. Mempunyai panjang gelombang sangat pendek 8. Dapat bereaksi dengan film yang digunakan untuk roentgenodiagnosa 12. karena tubuh manusia tidak dapat dilindungi sepenuhnya dari sinar radiasi baik sinar terapi radiasi maupun radiodiagnosis.5 Efek Radiasi Sinar X pada Rongga Mulut(1. Dapat menimbulkan efek biologik sebagai akibat energi ionisasi 11. maka Sinar X dapat digunakan dalam bidang kedokteran. Dapat menstimulasi sel-sel muda dari organ tubuh hidup 13.

sangat tidak nyaman. Sebagai hasilnya tumor dapat dimatikan dengan cepat dan massa tumor mengecil. Keadaan ini seringkali diperparah oleh timbulnya infeksi jamur pada mukosa lidah serta palatum. Rongga mulut di radiasi selama perawatan radiosensitiftumor maligna. Penanganan mukositis akut kadang membutuhkan waktu satu minggi setelah penghentian terapi. beberapa sel tersebut mati. Daerah yang akan diobati akan dipetakan dengan seksama dan mesin pengobatan akan diatur sehingga sel-sel limfoma yang terpapar dosis penuh radioterapi. membrane mukosa yang terkena radiasi mulai mengalami kerusakan. ulcerative-bacteriologic. mulut kering dan hilangnya cita rasa (taste). dan saluranh akar sebelum dilakukan akses ke gigi. Pada akhir terapi mukositis biasanya bertambah parah. kamar pulpa. histology.Begitu pentingnya manfaat radiografi sehingga bidang kedokteran gigipun menggunakannya baik sebagai penegak diagnose maupun terapi radiasi. Terapi radiasi untuk tumor maligna pada rongga mulut biasanya diindikasikan ketika lesi tersebut radiosesitif. Membrane mukosa mulut terdiri dari sel basla yang komposisinya terdiri dari sel yang radiosensitive dan sel intermitotik yang berdifferensiasi. Jika terapi dilanjutkan. Radiasi digunakan untuk membunuh sel-sel kanker tetapi perawatan ini juga dapat merusak sel yang normal sehingga menyebabkan masalah pada gigi dan jaringan lunak. membrane mukosa mulai kemerahan dan mengalami inflamasi (mukositis). untuk mematikan tumor yang tersisa jarak radiasi harus dikurangi dan difusi oksigen melewati tumor harus dilakukan. pemeriksaan radiografis juga teramat penting untuk diagnosis. radiosensifitas. Efek radiasi menyebabkan perubahan di dalam rongga mulut salah satunya mucositis. tetapi bila terdapat nyeri biasanya memerlukan pengobatan analgesic sistemik. biasanya squamosa sel karsinoma. dokter mendapatkan informasi penting menyangkut kesulitan kasus dan prognosis jangka panjang hasil pemeriksaan radiografis sebelum memulai perawatan. Pemecahan dosis juga juga dapat meningkatkan tekanan oksigen pada tmor yang diradiasi. Perawatan spesiifik merupakan pilihan untuk lesi tersebut berdasarkan banyaknya tumor. Kebersihan mulut yang baik akan mengurangi infeksi.3) Radiasi pada daerah kepala dan leher khususnya nasofaring akan mengikutsertakan sebagian besar mukosa mulut. lokasi. Selain itu. seperti sinar X untuk membunuh sel-sel limfoma non –Hodgkin atau memperlambat pertumbuhan perkembangannya.Dalam pemeriksaan dan perawatan gigi. mengalami perluasan. Mucositis digambarkan sebagai suatu proses kompleks biologi yang dimana terjadi dalam empat tahap serial: pembengkakan vaskuler. Anastesi topical/local mungkin bermanfaat. Radiografis juga digunakan untuk menentukan anatomi gigi dan pulpa sebelum membuat akses endodonti.6 Efek Radiasi pada Membran Mukosa Mulut(2. invasi pada jaringan terdekat. diagnose yang tepat dan . meskipun riwayat kesehatan gigi dan temuan klinis sangat penting bagi dokter. Akibatnya dalam keadaan akut akan terjadi efek samping pada mukosa mulut berupa mukositis yang dirasa pasien sebagai nyeri pada saat menelan. letaknya sangat dalam sehingga tidak dapat dilakukan pembedahan.membran yang putih kekuning-kuningan (lapisan epitel terdesquamasi). Pada minggu kedua terapi sebelum terapi berakhir. sulit utuk makan. Perencanaan pengobatan dan meminimalkan efek samping adalah bagian penting dalam radioterapi. Infeksi sekunder oleh Candida albicans merupakan komplikasi yang umum dan harus dilakukan perawatan. dikenal juga radioterapi yang berfungsi sebagai pengobatan. dan penyembuhan. Setelah radiasi selesai maka efek samping akut di atas akan menghilang dengan pengobatan simptomatik. dan untuk mengevaluasi keberhasilan perawatan. perencanaan pengobatan sangat penting pada radioterapi. Agar radiasi benar ditujukan pada limfoma dan efek samping diperkecil. epithelial. Sama halnya dengan radiografi. Peecahan dosis juga dapat dipercaya mempunyai sifat penyembuhan yang cukup baik. II. ukuran. untuk menetapkan panjang saluran. Topical anastesi mungkin diperlukan sebelum makan. Pemisahan dari total radiasi menjadi dosis-dosis yang kecil dapat membuat kerusakan tumor yang lebih ringan daripada pemberian dosis yang besar sekaligus. Selama infeksi masih ada. Umumnya satu radiografi periapikal saja dapat memberi informasi yang diperlukan. memastikan penempatan konguta perca. glandula saliva dan rahang. Radiografi awal bertujuan untuk membantu menegakkan diagnosis dan menunjukkan keadaan anatomi gigi. dengan membentuk lapisan . dan durasi gejalanya. Radioterapi merupakan radiasi.

Solusi saliva buatan dan saliva yang digantikan dengan pelumas terbatas dalam membantu sebagian besar pasien dengan mulut kering. Durasi ini menurunkan fungsi air liur yang bermacam-macam antara satu pasien dengan pasien yan lain. serta tanda dan gejala xerostomia (mulut kering dengan perasaan tidak nyaman. lengket. Pengurangan aliran saliva tergantung dosis yang diberikan. Hal ini ditunjukkan denan berkurangnya volume saliva. mengunyah permen karet dan permen asam dapat menolong. pilocarpine. pengurangan saliva adalah dampak utama. sementum) mengakibatkan karies gigi.blogspot. meskipun kerusakannya baru tampak setelah beberapa tahun setelah radiasi. Infeksi virus jarang berkomplikasi dari penyebab mukositis. Lesi berupa demineralisasi yang lebih daripada karies pada umumnya. dan sangat mengganggu pasien. . serta pembengkakan dan nyeri karena berkurangnya saliva sehingga menyebabkan hilangnya fungis lubrikasi.60 Gy. tebal. Beberapa pasien tidak dapat memproduksi lebih dari 1 ml (15 tetes) cadangan saliva dalam waktu 10 menit. Beberapa regenerasi dapat terjadi selama beberapa bulan setalah pengobatan.data/51.7 Efek Radiasi pada Glandula Salivarius(2. hydrochloride merupakan jalan keluar dalam merangsang produksi saliva. semakin buruk prognosis xerostomia.3) Gigi yang telah erupsi cenderung mengalami kerukan akibat radiasi daerah rongga mulut.8 Efek Radiasi pada Gigi(2. Pada gigi terjadi dua efek radiasi yaitu efek radiasi secara langsung dan tidak langsung. dengan pola melintas gigi dan menyebabkan kerusakan mahkota gigi pada daerah servikal. Komponen parenkim labih radiosensitive (glandula parotid lebih jika dibandingkan glandula submandibular atau sublingual).edu. Gambar 1. Xerostomia atau dry mouth Sumber: www. reversible Perngrusakan irreversible jaringan kelenjar (Hipoplasia Irreversibel) Glandula saliva mayor harus dihindari terkena radiasi dengan pancaran sinar 20 sampai 30 Gy selama radioterapi untuk kanker mulut atau oropharink. Secara radiografi daerah karies bersifat radiolusen bila dibandingkan dengan email atau dentin. proses menegmbalikan saliva sampai cukup untuk kenyamanan dan fungsi mulut mebutuhkan waktu sampai 12 bulan. Selama radiasi. sekresi kelenjar biasanya berkurang. Gejala kehilangan sekresi saliva selama beberpa minggu pertama radioterapi biasanya dapat terlihat. Selain itu.tufts. Bagaimanapun.agen antimikroba harus diperhatikan baik untuk organisme jamur maupun bakteri.html II. Martariwansyah. Kerusakan jaringan keras gigi (email. dentin. semakin tinggi dosis radiasi.3) Terapi radiasi pada daerah leher dan kepala untuk perawatan kanker telah terbukiti dapat mengakibatka rusaknya struktur kelenjar saliva dengan berbagai drajat kerusakan pada kelenjar saliva yang terkena radioterapi. Mulut akan menjadi kering (Xerostomia) dan sakit. Ocw. Efek sampingnya adalah berkeringat dan rasa tidak nyama pada perut. Pada beberapa pasien. Dosis Gejala < 10 Gray 10 – 15 Gray 15 – 40 Gray >40 Gray Reduksi tidak tetap sekresi saliva Hipoplasia yang jelas dapat ditunjukkan Reduksi masih terus berlangsung. biasanaya 0. Mukositis pada jaringan lunak lidah Sumber : www. Gambar 2. Jimlah dan keparahan kerusakan jaringan kelenjar saliva tergantung dosis dan lamanya penyinaran. dan prognosis untuk pengobatan selanjutnya sangat buruk. Bagi yang kekurangan gula. Manifestasi kerusakan berupa destruksi substansi gigi yang disebut karies radiasi dan dimulai pada servikal gigi. Hal ini penting bagi pendiagnosa untuk melihat radiografi dalam situasi pengamatan yang tepat dengan pandangan yang jelas agar dapat membedakan antara restorasi dan anatomi gigi yang normal. Kenyataannya. Minum air dan berkumur teratur penting untuk mengontrol sebagian efek radiasi penyebab xeroxtomia.com II. Pengobatan sistemik prednisone dalam jangka pendek (40-80 mg/hari idak lebih dari satu minggu) telaj membantu menurunkan inflamasi dan rasa tidak nyaman. sukar berbicara dan menelan) dapat diubah. sias saliva yang tidak mencukupi merupakan sebagian besar keluhan utama setelah pengobatan. Bila kelenjar parotis terkena sinar radiasi pada saat pengobatan.

9 Efek Radiasi pada Tulang(2. Pada penelitian Bedwinek dilakukan perbandingan dua periode. Radiasi karies merupakan bentuk rampan dari kerusakan gigi yang dapat terjadi pada tiap individu yang mendapatkan radioterapi termasuk penyinaran dari glandula saliva.html II. Kerusakan primer pada tulang disebabkan oleh penyinaran yan mengakibatkan rusaknya pembuluh darah periosteum dan tulang kortikal. Jika keadaan ini bertambah parah tulang akan mangalami kematian. hal tersebut merupakan indikasi terjadinya nekrosis. hipoxik. endosteum menjadi terjadi atrofi pada endosteum menunjukkan berkurangnya aktifitas osteoblas dan osteoklas. Fraktur patoogis dari mandibula dapat terjadi melalui daerah osteoradionekrosis. Selain itu. nekrosis radiasi. membuat dentin menjadi terbuka. Biasanya karies radiasi pada beberapa gigi bahkan seluruh region yang terkena pancaran sinar radiasi. Juga terdapat nekrosis dan pembentukan nanah yang tertunda serta kelainan bentuk permanen. b. Pada periode pertama. yang dalam keadaan normalnya sudah tipis. osteoradionekrosis ini ditandai dengan tulang terbuka yang telanjang. dan sangat dianjurkan sehari-hari menggunakan gel yang berfluoride. Tipe lain meliputi cementum dan dentin pada daerah cervical . Pernanahan biasanya ada dan perdaran dari daerah ulserasi seringkali terjadi.a. Derajat mineralisasi menjadi berkurang. Pada periode kedua. Efek Radiasi Langsung Efek radiasi ini terjadi paling dini dari benih gigi. aytau perubahandari tulang yang normal. Karies sekunder yang disebabkan radiasi memiliki bentuk jelas yang merata pada cement enamel junction (CEJ) dari permukaan bukolabial. Tipe akhir terlihat sebagai pigmentasi yang gelap dari keseluruhan mahkota. Daerah ini terjadi demineralisasi bila saliva menjadi asam dan kehilangan suplai mineral yang secara normal mengisi ion negative berubah. 1969-1971. Karies radiograph Sumber: drstoute. menyebabkan erosi. gangguan perkembangan benih gigi dan gangguan erupsi gigi. Penurunan arus. ada kebijaksanaan baru yaitu mempertahankan semua gigi kecuali gigi yang tidak dapat . lesi ini dapat meningkat mengelilingi servikal dan menyebabkan kehilangan mahkota. terdapat 3 tipe karies radiasi. kemudian terkena radiasi ionosasi. memicu terjadinya kerapuhan.4) Perawatan kanker pada daerah mulut sering dialkukan penyinaran termasuk pada mandibula. Efek Radiasi tidak Langsung Efek radiasi tidak langsung terjadi setelah pembentukan gigi dan erupsi gigi normal berada dalam rongga mulut. Gejala utamanya adalah sakiy yang berdenyut-denyut dan konstan. Jaringan sumsusm tulang menjadi hipovaskular. maka akan terlihat kelainan gigi tersebut misalnya adanya karies radiasi. penurunan kapasitas buffer karena adanya perubahan elektrolit dan peningkatan viskositas. peningkatan pH. juga dapat terjadi trismus. Meyers menentukan rasio 26 mandibuka terhadap satu maksila. Secaa klinis. Kebersihan mulut utamanya harus dijaga. keadaan ini disebut rampan karies radiasi. merupakan lokasi yang biasanya tahan terhadap karies. Lesi juga disebut sebagai osteonekrosis radiasi. Gambar 3. berupa gangguan kalsifikasi benih gigi. Sebagai tambahan.3. dan hiposelular. dan osteodisplasia radiasi.com/procedures/pat_pics. Radiasi juga dapat merusak osteoblas dan osteoklas. Secara klinis. insisal dan palatal. permukaan lembut. Saliva normal dapat menurun dan akumulasi debris yang cepat karena tidak adanya tindakan pembersihan. kondisi seperti ini disebut osteoradionecrosis. osteitis radiasi. kehailangan translusensi dan sering fraktur. Osteoradionekrosis merupakan komplikasi klinik yang sangat serius yang muncul pada tulang setelah terapi radiasi. 1966-1969 dilakukan pencabutan dengan dasar elektif dari semua gigigigi yang tidak berada pada kondisi yang baik. dan beberapa lacuna pada tulang yang kompak tampak kosong. Osteoradionekrosis adalah istilah yang biasa digunakan untuk komplikasi serius seelah radioterapi dan karsinoma kepala dan leher. Lesi karies dihasilkan dari perubahan glandula salivarius. Biasanya kebanyakan meluas pada lesi superficial menyerang permukaan bukal. Permukaan bukal dan lingual sering Nampak warna putih atau opak karena terjadi demineralisasi dari email. oklusal. Fosteoradionekrosis terjadi hampir hanya pada mandibula karena mandibula mempunyai suplai vascular yang terbatas bila dibandingkan dengan maksila dan biasana berada lebih pada garis radiasi.

Secara histologist. Pada periode pertama. gambar radiograf akan kabur. II. mengurangi kecemasan dan menimbulkan kooperatif. Radiasi juga menimbulkan penebalan dinding-dinding arteri dan arteriole yang mendorong terjandinya endarteritis obliterasi. Sedangkan komunikasi yang buruk/ tidak jelas dapat menyebabkan pasien kurang mau bekerja sama. Radiograf ini hanya sedikit atau tidak mempunyai manfaat diagnosa. selama pemeriksaan radiografy intervensional dimana pasien merasa ada sensasi tertentu sehingga terkejut dan memberi tanda bahwa ada sesuatu yang salah pada operator atau dokter gigi. Komunikasi Efektif Komunikasi menimbulkan rasa dekat. sel-sel lain juga turut mati akibat efek radiasi.10 Efek Radiasi pada Pulpa(5) Apoptosis adalah mekanisme biologis yang merupakan jenis kematian sel yang terprogram. Apoptosis digunakan oleh organism multi sel untuk membuang sel yang sudah tidak diperlukan oleh tubuh.11 Perlindungan terhadap Efek Radiasi(1. Pasien dengan tumor primer di atas atau di dekat tulang juga mempunyai resiko tinggi untuk terserang osteoradionerosis spontan daripada pasien dengan tumor yang tidak terletak di dekat tulang.n2. Osteoradionekrose Sumber : navyhyperbaric. Kemungkinan terjadinya osteoradionekrosis spontan berhubungan dengan dosis yang diterima mandibula dan tampaknya da ambang dosis sebesar 6000 rad. Immobilisasi Bila pasien bergerak selama penyinaran radiografy. meenjaga kebersihan mulut yang baik dan kumur-kumut dengan fluoride setiap hari.6) I. Kebijaksanaan untuk mempertahankan gigi yang meliputi pembuatan restorasi gigi. Namun. bahkan pada pasien bergigi. sebagai mekanisme homeostatis untuk menjaga atau memelihara populasi sel dalam jaringan. maka operator atau dokter gigi melakukan pembatasan penyinaran dengan cara : a. Apoptosis pada jaringan fibroral pulpa dapat terjadi akibat dosis radiasi yang diterima selama terapi radiasi adalah ± 200 rad sehingga apoptosis pada sel fibrolas pulpa meningkat pulpa sehingga selain sel sel fibrolas. Sisanya.com II. Pernanahan dari tulang yang terserang isteoradionekrosis terbentuk lebih lambat daripada nekrosis karena infeksi dan trauma saja. 35% dianggap timbul secara spontan. terlihat kemungkinan tidak terserang nekrosis lebih drai 94%. Pada penelitian Breumer dkk (1972) ditemukan bahwa pasien yang masih bergigi mempunyai resiko terserang osteoradionekrosis empat kali lebih besar daripada pasien tidak bergigi. Apoptosis umumnya berlangsung seumur hidup dan bersifat menguntungkan bagi tubuh. Dikarenakan sel fibrolas merupakan sel terbanyak yang ada di pulpa dengan fungsi sebagai menjaga integritas dan vitalitas pulpa berupa membentuk dan mempertahankan matriks jaringan pulpa dengan membentuk ground substance dan serat kolagen sehingga apoptosis pada sel fibrolas pulpa menjadi proses awal terjadinya karies radiasi. Hal ini menyebabkan perlunya penyinaran ulang b. osteoradionekrosis jarang terjadi. yang mempunyai koefisen absorpsi tulang yang lebih rendah daripada ortovoltase yang menimbulkan kerusakan selular tulang daripada ortovoltase yang menimbulkan ketusakan seluler tulang yang lebih ringan. Perlindungan Radiasi bagi Pasien Pasien merupakan yang paling rentan terkena radiasi sinar X dikarenakan pasien berkontak langsung dengan sinar X itu sendiri. Peneliti yang sama huga menemukan bahwa dari 54 kaus osteoradionekrosis.dipertahankan lagi. Selain perkembangan cara perawatan seperti penggunaan megavoltase. osteoradionekrosis ditandai dengan kerusakan osteosit dan tidak adanya osteoblast. Hal ini dapat menyebabkan penyinaran yang berulang kali contohnya. sebagai mekanisme pertahanan jika sel rusak oleh suatu penyakit atau bahan racun pada proses penuaan.mil. Untuk menjaga perlindungan bagi pasien itu sendiri. masih terus dilakukan usaha untuk dapat mempertahankan semua gigi-gigi. Gambar 4. yang dapat terjadi pada kondisi fisiologis maupun patologis. 65% berhubungan dengan pencabutan gigi atau iritasi gigitiruan. Sehingga perlu dilakukan pemeriksaan . insiden osteoradionekrosis aalah 20% sedang pada periode kedua hanya 8%. Apoptosis dapat terjadi selama selama perkembangan. di bawah dosis ini.

Filtrasi Tambahan Filttrasi tambahan terdiri dari lembaran aluminium dengan ketebalan tertentu. Cone Adalah tabung logam bulat yang diletakkan pada tempat tabung sinar X. minyak isolasi yang mengelilingi tabung. Tempat dan lokasi ruangan radiasi harus memenuhi syarat internasional. Mengingat lingkup kerja mereka sehari-hari berhubungan dengan sinar X. Dinding di dalam ruangan harus dilapisi lembaran atau lempengan timah hitam setebal minimal 2 mm 3. berfungsi untuk memperkecil sinar ke ukuran dan bentuk yang sudah di tentukan. Ruang Radiasi Usaha menjaga atau memproteksi ruangan radiasi adalah : 1. II. Filtrasi tambahan diletakkan di luar jendela kaca dari wadah tabung. Perlindungan Radiasi bagi Operator Tidak hanya pasien yang rentan akan dampak negatif dari sinar X melainkan juga operator atau dokter gigi. Terdiri dari sepotong timah datar dengan lubang di bagian tengahnya. Kaca . g. dapat mengurangi penyinaran pada kulit pasien dan jaringan superfacial dengan menyerap sebagian besar foton energi bawah (gelombang panjang atau sinar x yang lembut) dari pancaran heterogenus.Radiografy gigi biasanya terbatas pada penyinaran kepala dan leher . Lubang Diaphragma Adalah alat yang berfungsi untuk memperkecil pancaran sinar yang paling sederhana. c.25 sampai 1.Pelindung yang paling sering digunakan adalah apron timah (Pb) . c.menguasai teknik radiograf dan faktor penyinaran sehingga menghasilkan radiograf berkualitas tinggi pada setiap pemeriksaan pertama kali. Penggunaan Pelindung . yang menyebabkan pasien dan radiografer menerima radiasi tambahan.Pemeriksaan ulang karena kecerobohan atau penilaian yang buruk dari radiograf gigi harus dihindari Oleh karena itu. Filtrasi ini biasanya dinyatakan dengan ketebalan aluminium dan harus seimbang dengan sekurang-kurangnya 0. Penempatan pesawat roentgen diatur sedemikian rupa agar arah sinar radiasi ke tempat yang aman 4. Jumlah Radiograf Ulang Se-sedikit Mungkin .ulang. a.Pasien pada kursi unit membutuhkan perlindungan untuk organ-organ reproduksi . Ada dua tipe filtrasi yaitu : 1. dan jendela kaca pada wadah tabung.Apron timah tersedia dalam berbagai model dan dibuat dengan ketebalan timah yang bervariasi dari 0. intensitas radiografi akan berkurang.5 mm aluminium. Teknik Pemrosesan Radiografy yang Baik Pemrosesan radiografy yang tepat akan menambah kualitas gambar sehingga memberikan informasi diagnosa yang tepat. 2. Filtrasi yang Tepat Filtrasi pancaran sinar radiography. yaitu sinar radiasi tidak menembus ruangan lain 2. Menggunakan kaca pelindung untuk membuat sebagian dinding tembus pandang. Alat untuk Membatasi Pancaran Sinar 1. Radiograf yang terproses kurang baik menghasilkan informasi diagnosa yang kurang baik sehingga perlu dilajkan radiograf ulang. 2. Desain alat ini berupa : cone retangular dan silinder lurus.Radiograf ulang akan memperbesar dosis radiasi pada pasien . radiografer gigi harus memilih.25 mm dan bersifat fleksibel f. Filtrasi Cekat Filtrasi cekat meliputi sampul kaca yang membungkus tabung sinar x.Radiograf ulang hanya kadang-kadang saja dilakukan oleh dokter gigi untuk mendapat informasi diagnosa tambahan . Filtrasi tambahan dan cekat bersama-sama berkombinasi menghasilkan jumlah filtrasi yang diperlukan untuk memfiltrasi pancaran sinar efektif. Karena filtrasi menyerap beberapa foton pada pancaran radiograf. e.

Dalam pemeriksaan ditemukan adanya debris plak dan karies pada beberapa gigi. hydrochloride merupakan jalan keluar atau tablet (salagen®) efektif dalam merangsang produksi saliva (5 mg 3 atau 4 kali sehari). sukar menelan dan berbicara. Posisi yang dianjurkan adalah daerah antara 90 dan 135 dari arah berkas sinar radiasi primer. Apron untuk kelenjar tiroid.1 Laporan Kasus Seorang wanita berumur 45 tahun dating ke rumah sakit gigi dengan keluhan saliva kental dan lengket. . diberikan 30mg kapsul 3 kali sehari.5 III. pilocarpine. mulut kering dengan perasaan tidak nyaman.10 No. Perangsang saliva yang lain adalah cevimeline (Evoxac®).pelindung ini dibuat dari campuran bubuk timah hitam dengan butir-butir kaca b. Sumber : Indonesian Journal of Dentistry Vol. Wanita ini menjalani pemeriksaan terapi radasi inflamasi beberapa bulan yang lalu. c. Solusi saliva buatan dan saliva yang digantikan dengan pelumas terbatas dalam membantu sebagian besar pasien dengan mulut kering. Baju pelindung timah untuk seluruh tubuh (whole body) yaitu melindungi tubuh dari bahu sampai tungkai bawah 2. apron ini disebut tiroid shield 3. BAB III PEMBAHASAN III. Memakai Baju Timah Hitam (Apron) Terdapat berbagai jenis pelindung timah antara lain : 1. Posisi Operator Posisi operator selama penyinaran harus berdiri sekurang-kurangnya 2-3 meter dari pasien dan sumber radiasi. pasien didiagnosa menderita xerostomia dengan gejala-gejala yang diperlihatkan dengan dugaan terjadinya xerostomia akibat terapi radiasi yang dijalani pasien beberapa saat yang lalu. Efek sampingnya adalah berkeringat dan rasa tidak nyaman pada perut. mengunyah permen karet dan permen asam dapat menolong.2 Penanganan Kasus Dari kasus diatas. Penanganan yang dapat dilakukan adalah meminum air dan berkumur teratur penting untuk mengontrol sebagian efek radiasi penyebab xeroxtomia. Pada beberapa pasien. Obat ini kontraindikasi dengan pasien asma. Bagi yang kekurangan gula. Apron untuk kelenjar gonad. disebut Gonadopron berbentuk seperti celemek tukang masak yang hanya melindungi perut bagian bawah. telah membantu beberapa pasien xerostomia. GI ulcer dan glaucoma.

xerostomia.95 dan pada 1 MRV adalah 0. Jakarta : Hipokrates .2007 6. dimana semakin tinggi dosis radiasi. Perlindungan radiasi bagi pasien dapat berupa meminimalkan frekuensi dan penyinaran yang berulang dengan mengefektifkan komunikasi. Editor. alat pelindung.BAB IV PENUTUP IV. Brahmanta Arya. osteoradionekrose pada mandibula.Efek Samping Terapi Radiasi di Daerah Kepala dan Leher terhadap Jaringan Sekitarnya. Langais Robert P. Lilian yuwono. dan apoptosis berlebihan pada sel fibrolas pulpa 4. dan teknik yang baik 5. Efek radiasi pada rongga mulut dapat berupa mukositis pada jaringan mukosa. Jurnal PDGI th. Vol. Jakarta : EGC .Apoptosis Sel Fibrolas Jaringan Pulpa Akibat Paparan Radiasi Ionisasi.1 ed. 1990.14. 1991 5. Atlas Berwarna Kelainan Rongga Mulut yang Lazim. maka respon biologis yang diberikan semakin tinggi pula 2. serta bekerja pada posisi yang benar Sumber >>> 1. memakai baju pelindung. No. Statkiewichz.2007 4.46. Perlindungan radiasi bagi operator dapat berupa pemenuhan ruang radiasi yang memenuhi standar. 1994 3.1 ed. Jakarta : CV Mosby Company . Lilian Juwono. Sarianoferni. Filosofi modern dari perlindungan radiasi adalah berdasar pada anggapan bahwa terdapat hubungan linier antara dosis radiasi dan respon biologi. Pindborg Jens J. Supriyadi. No.Khusus. Perlindungan Radiasi Bagi Pasien dan Dokter Gigi.2007 . Proteksi Radiasi di Bidang Kedokteran Gigi.1 Kesimpulan 1.95 sedangkan dosis serap tulang pada 50KVp adalah 5 dan pada 1 MRV adalah 0. Miller Craig S. alat filter. karies radiography pada gigi geligi. Indonesian Journal of dentistry vol.1. Russel ritenour. Oedijani. 1. Edwards Cris. DENTA Jurnal Kedokteran Gigi. Dosis serap untuk jaringan lunak pada 50KVp adalah 0. 2.9 3. Kanker dan Prakenker Rongga Mulut. Editor. Editor: Lilian Yuwono. No.Khusus.