TUGAS BELAJAR DAN PEMBELAJARAN TEORI PEMBELAJARAN Dosen: Dr. H. Syahwani Umar. M.

pd

DIKERJAKAN OLEH: NAMA NIM REG/KELAS : ZULFIKRI : F55012045 : A/A

PRODI PENDIDIKAN SOSIOLOGI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA 2013

1

A. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. atau gerakan) dan respons ( yang juga bisa berupa pikiran. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Watson. Tokoh-tokoh aliran behavioristik di antaranya adalah Thorndike. proses belajar menurut Thorndike melalui proses: 2 . perasaan. atau yang nonkonkret (tidak bias diamati). Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin. Teori Thorndike disebut sebagai “aliran koneksionis” (connectionism). Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya. sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Berikut akan dibahas karya-karya para tokoh aliran behavioristik dan analisis serta peranannya dalam pembelajaran. ALIRAN BEHAVIORISTIK (Tingkah Laku) aliran behavioristik (tingkah laku) adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik.1. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Edwin Guthrie. 2000:143). Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Clark Hull. mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. atau gerakan). perubahan tingkah laku boleh berwujud sesuatu yang konkret (dapat diamati). Karena latihan yang terus menerus maka waktu yang dipergunakan untuk melakukan perbuatan yang cocok itu makin lama makin efisien. Menurut teori trial and error (mencoba-coba dan gagal) ini. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Jadi. Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. maka perbuatan yang cocok itu kemudian “dipegangnya”. Jika dalam usaha mencoba itu kemudian secara kebetulan ada perbuatan yang dianggap memenuhi tuntutan situasi. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar. menurut Thorndike. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement) maka respon juga semakin kuat. Teori ini mengutamakan pengukuran. belajar adalah proses interaksi antara stimulus (yang mungkin berupa pikiran. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon. Jelasnya. salah seorang pendiri aliran tingkah laku. setiap organisme jika dihadapkan dengan situasi baru akan melakukan tindakan-tindakan yang sifatnya coba-coba secara membabi buta. Thorndike Menurut Thorndike (1911). sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut. perasaan. dan Skinner. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.

3) Ruangan kelas harus dimulai dari yang sedemikian rupa sehingga memudahkan terjadinya proses belajar. maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara StimulusRespons. Kecepatan berespon berubah bila besarnya hadiah (revaro) berubah. seperti halnya teori evolusi. adalah sebagai berikut: 1) Teori belajar didasarkan pada Drive-reduction atau drive stimulus reduction. 1991). Gredler. C. Watson adalah seorang behavioris murni. maka hubungan Stimulus – Respons akan semakin kuat. namun dia menganggap faktor tersebut sebagai hal yang tidak perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati. semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons. 5) Kecemasan harus ditimbulkan untuk mendorong kemauan belajar. yaitu sejauh mana dapat diamati dan diukur. Penguatan tingkah laku juga masuk dalam teori ini. Oleh sebab itu Hull mengatakan kebutuhan biologis (drive) dan pemuasan kebutuhan biologis (drive reduction) adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia. Namun dia sangat terpengaruh oleh teori evolusi Charles Darwin. jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih. 2) Law of Readiness bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit). Watson Watson mendefinisikan belajar sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon. dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Sebaliknya. Bagi Hull. karena kajiannya tentang belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperi Fisika atau Biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik semata.1) Law of Effect bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan. sehingga stimulus (stimulus dorongan) dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis. Dua hal yang sangat penting dalam proses belajar dari Hull ialah adanya Incentive motivation (motivasi insentif) dan Drive reduction (pengurangan stimulus pendorong). 2) Intruksional obyektif harus dirumuskan secara spesifik dan jelas. 4) Pelajaran harus dimulai dari yang sederhana/ mudah menuju kepada yang lebih kompleks/ sulit. B. 3) Law of Exercise bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat. tetapi juga dikaitkan dengan kondisi biologis (Bell. Jadi walaupun dia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar. 3 . semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga agar organisme tetap bertahan hidup. namun stimulus dan respon yang dimaksud harus dapat diamati (observable) dan dapat diukur. Clark Hull Clark Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan pengertian belajar. walaupun respon yang akan muncul mungkin dapat berwujud macam-macam. Penggunaan praktis teori belajar dari Hull ini untuk kegiatan dalam kelas.

seorang anak perempuan yang setiap kali pulang sekolah. Terutama Skinner makin mempopulerkan ide tentang “penguatan” (reinforcement). namun lebih komprehensif. Kemudian ibunya menyuruh agar baju dan topi dipakai kembali oleh anaknya. Hubungan antara stimulus dan respon bersifat sementara. Penguatan sekedar hanya melindungi hasil belajar yang baru agar tidak hilang dengan jalan mencegah perolehan respon yang baru. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana. selalu mencampakkan baju dan topinya di lantai. Meskipun demikian. Dalam mengelola kelas guru tidak boleh memberikan tugas yang mungkin diabaikan oleh anak (Bell. yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku. nantinya faktor hukuman ini tidak lagi dominan dalam teori-teori tingkah laku. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah tingkah laku seseorang. Menurutnya respon yang diterima seseorang tidak sesederhana itu. 2000). Pebelajar harus dibimbing melakukan apa yang harus dipelajari. E. kelelahan tidak boleh menggangu belajar. Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. 7) Urutan mata pelajaran diatur sedemikian rupa sehingga mata pelajaran yang terdahulu tidak menghambat tetapi justru harus menjadi perangsang yang mendorong belajar pada mata pelajaran berikutnya.6) Latihan harus didistribusikan dengan hati-hati supaya tidak terjadi inhibisi. 1991). Edwin Guthrie zas belajar Guthrie yang utama adalah hukum kontiguiti. 1991). Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya. Gredler. oleh karena dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberi stimulus agar hubungan stimulus dan respon bersifat lebih kuat dan menetap. Gredler. serta memahami konsep yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin timbul akibat respon tersebut. Oleh karena itu dalam memahami tingkah laku seseorang secara benar harus memahami hubungan antara stimulus yang satu dengan lainnya. Saran utama dari teori ini adalah guru harus dapat mengasosiasi stimulus respon secara tepat. D. lalu kembali keluar. Yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang nantinya memengaruhi munculnya perilaku (Slavin. pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti oleh gerakan yang sama (Bell. karena stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan memengaruhi respon yang dihasilkan. Skinner Konsep-konsep yang dikemukanan Skinner tentang belajar lebih mengungguli konsep para tokoh sebelumnya. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi. tidaklah sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh tokoh sebelumnya. Sebagai contoh. respons menggantung topi dan baju menjadi terisolasi dengan stimulus memasuki rumah. Dengan perkataan lain. Setelah beberapa kali melakukan hal itu. Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. dan masuk rumah kembali sambil menggantungkan topi dan bajunya di tempat gantungan. Skinner juga mengemukakan bahwa dengan menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan 4 . Belajar terjadi karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi stimulus sedangkan tidak ada respon lain yang dapat terjadi.

3) Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri. Prinsip belajar Skinner adalah : 1) Hasil belajar harus segera diberitahukan pada siswa jika salah dibetulkan. 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operantadalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. Dari eksperimen yang dilakukan B. maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat. 2) Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar. APLIKASI DASAR TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK Aplikasi teori ini dalam pembelajaran.Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu. dan evaluasi menuntut satu jawaban benar. 2) Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat. 5 . diantaranya : 1) Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat. Beberapa program pembelajaran seperti Teaching machine. Mathetics. Jawaban yang benar menunjukkan bahwa siswa telah menyelesaikan tugas belajarnya. bahwa kegiatan belajar ditekankan sebagai aktivitas “mimetic” yang menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari. Materi pelajaran digunakan sebagai sistem modul. maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah. jika benar diberi penguat. dan factor penguat (reinforcement). Penyajian materi pelajaran mengikuti urutan dari bagian-bagian ke keseluruhan. 5) Dalam pembelajaran digunakan shapping. 4) Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah dan sebaiknya hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variable ratio reinforcer.F. demikian seterusnya. atau program-program lain yang memakai konsep stimulus. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus. melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar. respons. Reber (Muhibin Syah. namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning Dari semua pendukung teori tingkah laku. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil. adalah contoh-contoh program yang memanfaatkan teori skinner. Sebab setiap alat yang digunakan perlu penjelasan lagi. mungkn teori Skinner lah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar. Untuk itu lingkungan perlu diubah untuk menghindari hukuman. tidak digunakan hukuman.tingkah laku hanya akan menambah rumitnya masalah.

Bruner Menurut pandangan Brunner (1964) bahwa teori belajar itu bersifat deskriptif. bahwa proses belajar sebenarnya terdiri dari tiga tahapan. 2) Dapat berfungsi sebagai jembatan antara apa yang sedang dipelajari siswa saat ini dengan apa yang akan dipelajari siswa. terutama mereka yang berada di tingkat pendidikan dasar. Prinsip utama pembelajaran.[15] C. 3) Mampu membantu siswa untuk memahami bahan belajar secara lebih mudah. Ausubel Ausubel ( Teori Belajar Bermakna) Ausubel berpendapat bahwa guru harus dapat mengembangkan potensi kognitif siswamelalui proses belajar yang bermakna. Piaget Menurut Jean Piaget (1975) salah seorang penganut aliran kognitif yang kuat. Ausubel percaya bahwa “advance organizer” dapat memberikan tiga manfaat. Pertumbuhan intelektual adalah tidak kuantitatif. Ausubel beranggapan bahwa aktivitas belajar siswa. Piaget memandang bahwa proses berpikir sebagai aktivitas gradual dari fungsi intelektual dari konkret menuju abstrak. ALIRAN KOGNITIF A. pertumbuhan kapasitas mental memberikan kemampuan-kemapuan mental yang sebelumnya tidak ada. karena ia tak daapat belajar dari apa yang telah diketahuinya. melainkan kualitatif. 1. maka kegiatan langsung akan menyita banyak waktu. sedemikian rupa sehingga. B. menurut Ausubel. Akomodasi adalah penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi yang baru 3) Equilibrasi (penyeimbangan) Equilibrasi adalah penyesuain berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi. Pada intinya. 1) Dapat menyediakan suatu kerangka konseptual untuk materi belajar yang akan dipelajari oleh siswa. Pokok – Pokok Pembelajaran Aliran Kognitif. diagram. yakni 1) Asimilasi. dan ilustrasi. lebih efektif kalau guru menggunakan penjelasan. Dalam teorinya.Untuk mereka. sedangkan teori pembelajaran menguraikan bagaimana cara mengajarkan penjumlahan. teori penjumlahan.akanbermanfaat kalau mereka banyak dilibatkan dalam kegiatan langsung. Misalnya. Kepada siswa harus diberikan suatu area yang belum diketahui agar ia dapat belajar. 6 . perkembangan kognitif bergantung kepada akomodasi. Piaget adalah ahli psikolog developmentat karena penelitiannya mengenai tahap tahap perkembangan pribadi serta perubahan umur yang mempengaruhi kemampuan belajar individu.2. Menurut Piaget. petakonsep. sedangkan teori pembelajaran itu bersifat preskriptif. Proses asimilasi adalah proses penyatuan (pengintegrasian) informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada dalam benak siswa 2) Akomodasi. demonstrasi. Namun untuk siswapada tingkat pendidikan lebih tinggi.

Sebaliknya lewat interaksi sosial. mengajukan pertanyaan dan mencari jawaban sendiri. 2) Belajar lewat interakksi sosial. guru menyusun materi dengan menggunakan pola atau logika tertentu dari sederhana ke kompleks. anak usia pra sekolah dan awal sekolah dasar belajar menggunakan benda-benda konkret. kepadanya perlu diciptakan kondisi belajar yang memungkinkan anak belajar sendiri. APLIKASI DASAR TEORI BELAJAR KOGNITIF guru harus memahami bahwa siswa bukan sebagai orang dewasa yang mudah dalam proses berpikirnya. memperhatian perbedaan individual siswa untuk mencapai keberhasilan siswa. Manipulasi symbol-simbol. Tanpa intraksi sosial. perkembangan kognitif anak akan tetap bersifat egosentris. 3) Belajar lewat pengalaman sendiri. perkembangan kognitif anak akan mengarah pada banyak pandangan dengan macam-macam sudut pandang dari alternatif tindakan. 7 . guru menciptakan pembelajaran yang bermakna.1) Belajar aktif Untuk membantu perkembangan kognitif anak. keaktifan siswa sangat dipentingkan. misalnya melakukan percobaan. namun bila menggunakan bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi tanpa pernah karena pengalaman sendiri makaperkembangan anak cenderung mengarah pada verbalisme. membandingkan penemuan sendiri dengan penemuan temannya. Bahasa memang memegang peranan penting dalam perkembangan kognitif .

Naturalisasi (melakukan gerak secara wajar). Pengorganisasisan (menghubung-hubungkan nilai-nilai yang dipercayai) e. yaitu. Sintesis (menggabungkan bagian-bagian konsep menjadi suatu konsep utuh) f. seorang siswa hanya mampu sekedar ikut mengalami suatu kejadian. ALIRAN HUMANISTIK A. Pengamatan aktif dan reflektif c. a. Pemahaman(menginterprestasikan) c. e. yaitu: a. dan sebagainya) 2) Psikomotor Psikomotor terdiri dari lima tingkatan. 8 . yang tercakup dalam tiga kawasan berikut. 3) Afektif Afektif terdiri dari lima tingkatan. Ketepatan (melakukan gerak dengan benar). Pengalaman konkret b. 1) Kognif Kognitif terdiri dari enam tingkatan yaitu : a. Merespons (aktif berpartisipasi) c.3. b. Pada tahap kedua. Evaluasi (membandingkan nilai. sadar akan adanya sesuatu) b. Peniruan (menirukan gerak). c. seorang ahli yang bernama Kolb membagi tahapan belajar menjadi empat tahap. Ekperimen aktif Pada tahap paling dini dalam proses belajar. Bloon dan Krathowl Dalam hal ini. Aplikasi (menggunakan konsep untuk memecahkan suatu masalah) d. Penghargaan (menerima nilai-nilai. Konseptualisasi d. B. metode. Dia belum mempunyai kesadaran tentang hakikat kejadian tersebut. Penggunaan (menggunakan konsep untuk melakukan gerak). Kolb Sementara itu. ide. Bloom dan Krathowl menunjukkan apa yang mungkin dikuasai (dipelajari) oleh siswa. Analisis (menjabarkan suatu konsep) e. serta mulai berusaha memikirkan dan memahaminya. Pengenalan (ingin menerima. a. Perangkaian (beberapa gerakan sekaligus dengan benar). siswa tersebut lambat laun mampu mengadakan observasi aktif terhadap kejadian itu. Pengamalan (menjadikan nilai-nilai sebagi bagian dari pola hidup). setia pada nilai nilai tertentu) d. Pengetahuan (mengingat. menghafal) b. d.

ke arah pembentukan manusia yang dicita-citakan tersebut. APLIKASI DASAR TEORI BELAJAR HUMANISTIK Teori humanistik sering dikritik karena sukar diterapkan dalam konteks yang lebih praktis. sehingga upaya pembelajaran apapun dan pada konteks manapun akan selalu diarahkan dan dilakukan untuk mencapai tujuannya. 1. Belajar teknis (technical learning) 2. dan d. teori humanistik akan sangat membantu para pendidik dalam memahami arah belajar pada dimensi yang lebih luas. Teori ini dianggap lebih dekat dengan bidang filsafat. Ide-ide. siswa mulai belajar untuk membuat abstraksi atau “teori” tentang suatu hal yang diamatinya. Pada tahap akhir (eksperimentasi aktif). a. Menurut mereka ada empat macam atau tipe siswa. Honey dan Mumford Berdasarkan teori Kolb ini. yaitu. konsep-konsep yang telah dirumuskannya dapat membantu para pendidik dan guru untuk memahami hakekat kejiwaan manusia. Pragmatis D. yaitu memanusiakan-manusia. Dalam prakteknya teori humanistik ini cenderung mengarahkan siswa untuk berpikir induktif. Dengan asumsi ini. Habermas mengelompokkan tipe belajar menjadi tiga bagian. penentuan materi. siswa sudah mampu mengaplikasikan suatu aturan umum kesituasi yang baru. teori keperibadian dan psikoterapi dari pada bidang pendidikan. baik dengan lingkungan maupun dengan sesama manusia. sehingga sukar menterjemahkannya ke dalam langkah-langkah yang lebih konkret dan praktis. Belajar praktis (practical learning) 3. serta pengembangan alat evaluasi. Habermas Ahli psikologi lain adalah Habermas yang dalam pandangannya bahwa belajar sangat dipengaruhi oleh interaksi. yaitu. serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar. maka teori humanistik mampu memberikan arah terhadap semua komponen pembelajaran untuk mendukung tercapainnya tujuan tersebut (Budiningsih. Meskipun teori humanistik ini Masih sukar diterjemahkan ke dalam langkah-langkah pembelajaran yang praktis dan operasional.Pada tahap ketiga. 9 . Reflector c. pemilihan strategi pembelajaran. Belajar emansipatoris (emancipatory learning). mementingkan pengalaman. namun sumbangan teori ini amat besar. C. 2008). Teoris. Honey dan Mumford membuat penggolongan siswa. Hal ini akan dapat membantu mereka dalam menentukan komponen-komponen pembelajaran seperti perumusan tujuan. Namun karena sifatnya yang ideal. Aktivis b.

4. menyelesaikan persoalan. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis. guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini. Proses mengkonstruksi. dengan membri kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan ide – ide mereka sendiri. terdapat dua teori belajar yang dikaji dan dikembangkan oleh Jean Piaget dan Vygotsky. satu prinsip yang mendasar adalah guru tidak hanya memberikan pengetahuan kepada siswa. ALIRAN KONSTRUKTIVISME Belajar menurut konstruktivisme adalah suatu proses mengasimilasikan dan mengkaitkan pengalaman atau pelajaran yang dipelajari dengan pngertian yang sudah dimilikinya. apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. mengadakan renungan. sebagaimana dijelaskan Jean Piaget adalah sebagai berikut: A. Dalam mengkonstruksi pengetahuan tersebut peserta didik diharuskan mempunyai dasar bagaimana membuat hipotesis dan mempunyai kemampuan untuk mengujinya. Peran guru dalam pembelajaran menurut teori kontruktivisme adalah sebagai fasilitator atau moderator. Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif. Pandangan tentang anak dari kalangan konstruktivistik yang lebih mutakhir yang dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skemata yang dimilikinya. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru. Skemata Sekumpulan konsep yang digunakan ketika berinteraksi dengan lingkungan disebut dengan skemata. kontruktivisme lebih memahami belajar sebagai kegiatan manusia membangun atau menciptakan pengetahuan dengan memberi makna pada pengetahuannya sesuai dengan pengalamanya. namun siswa juga harus berperan aktif membangun sendiri pengetahuan di dalam memorinya. yang dapat diuraikan sebagai berikut:  Teori Belajar Konstruktivisme Jean Piaget Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar. mencari arti dari apa yang mereka pelajari dan merupakan proses menyelesaikan konsep dan idea-idea baru dengan kerangka berfikir yang telah ada dan dimilikinya (Shymansky. mengekspresikan ide dan gagasan sehingga diperoleh konstruksi yang baru. bahwa makna belajar menurut konstruktivisme adalah aktivitas yang aktif. dimana pesrta didik membina sendiri pengtahuannya. Beda dengan aliran behavioristik yang memahami hakikat belajar sebagai kegiatan yang bersifat mekanistik antara stimulus respon. dan mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. sehingga pengetahuannya dapat dikembangkan. Dalam hal ini. Dari uraian tersebut dapat dikatakan. Guru dapat memberikan siswa anak tangga yang membawasiswa ke tingkat pemahaman yang lebih tinggi dengan catatan siswa sendiri yang mereka tulis dengan bahasa dan kata – kata mereka sendiri. 10 .1992). Berkaitan dengan konstruktivisme. mencari jawaban dari persoalan yang ditemuinya. Menurut teori ini. 1989: 159) menegaskan bahwa penekanan teori kontruktivisme pada proses untuk menemukan teori atau pengetahuan yang dibangun dari realitas lapangan.

Asimilasi Asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi. maka semakin sempunalah skema yang dimilikinya. Keseimbangan Ekuilibrasi adalah keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi sedangkan diskuilibrasi adalah keadaan dimana tidak seimbangnya antara proses asimilasi dan akomodasi. Semakin dewasa anak. sehingga siswa dapat berinteraksi dalam mengerjakan tugas-tugas yang sulit dan saling memunculkan strategistrategi pemecahan masalah yang efektif di dalam daerah pengembangan terdekat/proksimal masing-masing. C. Proses penyempurnaan sekema dilakukan melalui proses asimilasi dan akomodasi. dikehendakinya setting kelas berbentuk pembelajaran kooperatif antar kelompok-kelompok siswa dengan kemampuan yang berbeda. Skema terbentuk karena pengalaman. konsep ataupun pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya. perkembangan bergantung pada sistem-sistem isyarat mengacu pada simbol-simbol yang diciptakan oleh budaya untuk membantu orang berfikir. ia dapat menangkap perbedaan keduanya. Asimilasi dipandang sebagai suatu proses kognitif yang menempatkan dan mengklasifikasikan kejadian atau rangsangan baru dalam skema yang telah ada.  Teori Belajar Konstruktivisme Vygotsky Ratumanan (2004:45) mengemukakan bahwa karya Vygotsky didasarkan pada dua ide utama. berkomunikasi dan memecahkan masalah. Pada akhirnya. pendekatan Vygotsky dalam pembelajaran menekankan perancahan 11 . Kedua. perkembangan intelektual dapat dipahami hanya bila ditinjau dari konteks historis dan budaya pengalaman anak. Kedua. yaitu bahwa kucing berkaki empat dan kelinci berkaki dua.Sejak kecil anak sudah memiliki struktur kognitif yang kemudian dinamakan skema (schema). berkat pengalaman itulah dalam struktur kognitif anak terbentuk skema tentang binatang berkaki empat dan binatang berkaki dua. 2004:49) ada dua implikasi utama teori Vygotsky dalam pendidikan. Pengalaman yang baru itu bisa jadi sama sekali tidak cocok dengan skema yang telah ada. Asimilasi adalah salah satu proses individu dalam mengadaptasikan dan mengorganisasikan diri dengan lingkungan baru pengertian orang itu berkembang. B. D. Asimilasi tidak akan menyebabkan perubahan/pergantian skemata melainkan perkembangan skemata. Menurut Slavin (Ratumanan. Akomodasi tejadi untuk membentuk skema baru yang cocok dengan rangsangan yang baru atau memodifikasi skema yang telah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu. Berkat keseringannya. dengan demikian perkembangan kognitif anak mensyaratkan sistem komunikasi budaya dan belajar menggunakan sistem-sistem ini untuk menyesuaikan proses-proses berfikir diri sendiri. Proses asimilasi ini berjalan terus. Pertama. Dalam keadaan demikian orang akan mengadakan akomodasi. anak senang bermain dengan kucing dan kelinci yang sama-sama berbulu putih. Misalnya. Akomodasi Dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman baru seseorang tidak dapat mengasimilasikan pengalaman yang baru dengan skemata yang telah dipunyai. ekuilibrasi dapat membuat seseorang menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamnya. Pertama.

Interaksi sosial ini memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual peserta didik. semakin lama siswa semakin dapat mengambil tanggungjawab untuk pembelajarannya sendiri. tugas yang tidak dapat diselesaikan sendiri akan dapat mereka selesaikan dengan bimbingan atau bantuan orang lain.1985). 3) pembelajaran dilakukan dengan mengkaitkan kepada kenyataan yang sesuai. Guru hanyalah berfungsi sebagai mediator. latihan memcahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari dan 2) peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya. Pemberian bimbingan Menurut Vygotsky. pada saat peserta didik melaksanakan aktivitas di dalam daerah perkembangan terdekat mereka. 1999: 63) adalah sebagai berikut:tujuan pendidikan menurut teori belajar konstruktivisme adalah menghasilkan individu atau anak yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi. 5) pembelajaran dilaksanakan dengan menyesuaikan kepada kehidupan social peserta didik. 2) pembelajaran dilaksanakan dengan mengkaitkan kepada kehidupan nyata. Dikatakan juga bahwa pembelajaran yang memenuhi metode konstruktivis hendaknya memenuhi beberapa prinsip. yaitu tugas-tugas yang terletak di atas peringkat perkembangannya. 6) pembelajaran menggunakan barbagia sarana.(scaffolding). Pengelolaan pembelajaran Interaksi sosial individu dengan lingkungannya sengat mempengaruhi perkembanganbelajar seseorang. Implikasi Konstruktivisme dalam Pembelajaran Adapun implikasi dari teori belajar konstruktivisme dalam pendidikan anak (Poedjiadi. A. 12 . sehingga perkemkembangan sifat-sifat dan jenis manusia akan dipengaruhi oleh kedua unsur tersebut. fasilitor. Menurut Vygotsky. Menurut Vygotsky dalam Slavin (2000). 4) memotivasi peserta didik untuk aktif dalam pembelajaran. yaitu: 1) menyediakan pengalaman belajar yang menjadikan peserta didik dapat melakukan konstruksi pengetahuan. 7) melibatkan peringkat emosional peserta didik dalam mengkonstruksi pengetahuan peserta didik (Knuth & Cunningham. dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik. peserta didik melaksanakan aktivitas belajar melalui interaksi dengan orang dewasa dan teman sejawat yang mempunyai kemampuan lebih. tujuan belajar akan tercapai dengan belajar menyelesaikan tugastugas yang belum dipelajari tetapi tugas-tugas tersebut masih berada dalam daerah perkembangan terdekat mereka (Wersch. Selain itu. B. Dengan scaffolding.1996). 1) kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik.

Untuk itu. Pembelajaran kompetensi 3. yaitu: 1. Pendalaman 5. Pengenalan 2. Pengayaan 13 . maka akan menyulitkan peserta didik untuk belajar sesuatu secara benar. Apabila prakonsep ini tidak diperhatikan. Apabila peserta didik mempunyai miskonsepsi yang tidak dikoreksi atau dibiarkan. guru perlu mencermati prakonsep ini dalam menanamkan konsep-konsep baru. kemungkinan akan terjadi miskonsepsi atau konsep yang salah. Dalam menerapkan teori kontruktivisme dalam belajar dapat digunakan model pembelajaran yang melibatkan beberapa tahap. Pemulihan 4.APLIKASI DASAR TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISME Dalam belajar sesuatu peserta didik telah mempunyai prakonsep berdasarkan pengalaman yang telah di perolehnya.

Materi pelajaran tertentu akan lebih tepat disajikan dalam urutan yang teratur. Menurut Landa. konvergen. Sebuah informasi mungkin akan dipelajari oleh seorang siswa dengan satu macam proses belajar. dengan harapan pemahaman mereka terhadap konsep itu tidak tunggal. bukan detail-detail yang diamati lebih dahulu. Proses belajar akan berjalan dengan baik jika materi pelajaran yang hendak dipelajari atau masalah yang hendak di pecahkan diketahui ciri-cirinya. B. namun yang lebih penting lagi adalah sistem informasi yang diproses yang akan dipelajari siswa (Budiningsih. akan lebih baik jika proses berfikir siswa dibimbing kearah yang “menyebar” atau berfikir heuristik. karena suatu rumus matematika biasanya mengikuti aturan tahap demi tahap yang sudah teratur dan mengarah ke satu target tertentu. Ibarat melihat lukisan. monoton. Sebab cara belajar sangat ditentukan oleh sistem informasi. Asumsi lain dari teori sibernetik adalah bahwa tidak ada satu proses belajarpun yang ideal untuk segala situasi. tahap demi tahap. Namun untuk memahami makna suatu konsep yang lebih luas dan banyak mengandung intrepetasi. Teori ini berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi dan ilmu informasi. cara berfikir menyeluruh adalah berfikir yang cenderung melompat kedepan. langsung ke gambaran lengkap sebuah sistem informasi. menuju kebeberapa target tujuan sekaligus (Budiningsih. yaitu proses berfikir algoritmik dan proses berfikir heuristik. mungkin akan lebih efektif jika presentasi informasi tentang rumus tersebut disajikan secara algoritmik. A. ada dua macam proses berfikir. linier. sekuensial. yaitu proses berfikir yang sistematis. 2008: 81). 2005: 87). agar siswa mampu memahami suatu rumus matematika. misalnya konsep keadilan atau demokrasi. yaitu cara berfikir serialis dan cara berfikir wholist atau menyeluruh. Pendekatan serialis yang dikemukakannya memiliki kesamaan dengan pendekatan algoritmik. Proses belajar memang penting dalam teori sibernetik. lurus menuju kesatu tujuan tertentu. Menurut mereka ada dua macam cara berfikir. 1) Proses berfikir algoritmik. Alasannya. yaitu cara berfikir devergen. Bedanya. Misalnya. dan yang cocok untuk semua siswa.5. 2) Proses berfikir heuristik. Landa Landa merupakan salah seorang ahli psikologi yang beraliran sibernetik. Pask dan Scott Pask dan scott juga termasuk penganut teori sibernetik. linier. belajar adalah pengolahan informasi. melainkan seluruh 14 . ALIRAN SIBERNETIK Teori belajar sibernetik merupakan teori belajar yang relatif baru dibandingkan dengan teori-teori belajar yang sudah dibahas sebelumnya. Menurut teori sibernetik. Seolah-olah teori ini mempunyai kesamaan dengan teori kognitif yaitu mementingkan proses belajar daripada hasil belajar. sedangkan materi pelajaran lainnya akan lebih tepat bila disajikan dalam bentuk “terbuka” dan memberi kebebasan kepada siswa untuk berimajenasi dan berfikir. Namun apa yang dikatakan sebagai cara berfikir menyeluruh (wholist) tidak sama dengan cara berfikir heuristik. dan informasi yang sama mungkin akan dipelajari siswa lain melalui proses belajar yang berbeda. dogmatik. atau linier.

lukisan itu sekaligus baru sesudah itu ke bagian-bagian yang lebih detail. Menyajikan materi dan membimbing siswa belajar dengan pola yang sesuai dengan urutan materi pelajaran. Sedangkan cara berfikir heuristik yang dikemukakan oleh Landa adalah cara berfikir devergen mengarah kebeberapa aspek sekaligus (Budiningsih. Berdasarkan pandangan tersebut maka diasumsikan bahwa manusia merupakan mahluk yang mampu mengolah. Ulasan teori ini cenderung ke dunia psikologi dan informasi dengan mencoba melihat mekanisme kerja otak. Menyusun materi pelajaran dalam urutan yang sesuai dengan sistem informasinya. Dari model ini dikembangkan prinsip-prinsip belajar seperti: 1) Proses mental dalam belajar terfokus pada pengetahuan yang bermakna. Teori ini memandang manusia sebagai pengolah infomasi. menyimpan. 3) Proses mental bermuara pada pengorganisasian pengaktulisasian informasi. 3. pemikir. Menentukan tujuan-tujuan pembelajaran Menentukan materi pembelajaran Mengkaji sistem informasi yang terkandung dalam materi pelajaran Menentukan pendekatan belajar yang sesuai dengan sistem informasi tersebut (apakah algoritmik atau heuristik) 5. 2005: 88). 6. Teori sibernetik sebagai teori belajar sering kali dikritik karena tidak secara langsung membahas tentang proses belajar sehingga menyulitkan dalam penerapan. 2. 15 . Asumsi diatas direfleksikan dalam model belajar dan pembelajaran yang menggambarkan proses mental dalam belajar yang terstuktur membentuk suatu sistem kegiatan mental. 2) Proses mental tersebut mampu menyandi informasi secara bermakna. dan mengorganisasikan informasi. dan pencipta. 4. Siswa tipe wholist atau menyeluruh biasanya dalam mempelajari sesuatu cenderung dilakukan dari tahap yang paling umum kemudian bergerak ke yang lebih khusus atau detail. APLIKASI DASAR TEORI BELAJAR SIBERNATIK Aplikasi teori belajar sibernetik dalam kegiatan pembelajaran sebagaimana yang dikemukakan oleh Suciati dan Prasetya Irwan (2001) baik diterapkan dengan langkahlangkah sebagai berikut: 1. Sedangkan siswa tipe serialist dalam mempelajari sesuatu cenderung menggunakan cara berfikir secara algoritmik. Karena pengetahuan dan pemahaman akan mekanisme ini sangat terbatas maka terbatas pula kemampuan untuk menerapkan teori ini.

2006 http://id. suciati dan Irwan. Asri Budingsih (2002). Asri. Jakarta: Bumi Aksara. 16 . 2005. B. Yogyakarta: FIP UNY. Budiningsih. (2006) Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: Depdiknas. PAU. 2005 C. P. Jakarta: PT Rineka Cipta. Hamzah. Belajar dan Pembelajaran. Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. (2001). Uno. Jakarta: PT. Teori Belajar dan Motivasi. Hamzah B.wikipedia. Bumi Aksara.DAFTAR PUSTAKA Uno.org/wiki/Teori_Belajar_Behavioristik. Belajar dan Pembelajaran. Dirjen PT.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful