You are on page 1of 17

PROJECT BASED LEARNING NURSING CARE

KONSTIPASI & ILEUS PARALITIK

Disusun oleh: NI MADE PUTRI P. 105070200111027 PSIK - Reguler

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013

4. rektum seperti pensil 5. cerna atau perdarahan saluran cerna bagin bawah. benda. asing. erdarahan saluran bagian atas. mukosa usus. 2. makanan yang biasa dimakan. atau 3. mukus. frekuensi buang air besar pada bayi sebanyak 4-6 kali/hari. Bau berbentuk Sesuai diameter Kecil. Faktor yang mempengaruhi eliminasi Faktor yang mempengaruhi eliminasi antara lain perilaku kebiasaaan defekasi. makanan Konsistensi Lunak Bentuk oleh bau dan Cair Diare dan absorbsi kurang bentuknya Obstruksi peristaltik dan yang bleeding. diet (makanan yang mempengaruhi defeasi). Keadaaan feses meliputi : No. dan air/ benda. makanan . tertelan 2. Internal dicerna. cepat yang Darah. iritasi. Secara normal. atau Infeksi. cacing. Pola defekasi dan keluhan selama defekasi Pengkajian ini antara lain : bagaimana pola defekasi dan keluhan selama defekasi. Keadaan Warna Normal Bayi : kuning Abnormal Putih.Asuhan Keperawatan Konstipasi Pengkajian 1. bakteri yang mati. sedangkan orang dewasa adalah 2-3 kali/hari dengan jumlah rata-rata pembuangan perhari adalah 150gram. empedu. Dewasa : coklat Pucat berlemak Malabsorbsi lemak Khas Fese dan Amis dan perubahan Darah dan infeksi dipengaruhi 3. konstituen Makanan tidak lemak. pigmen inflamasi. 1. pus. hitam/tar/merah Penyebab Kurangnya kadar empedu.

Riwayat medis dan bedah masa lalu. pemeriksaan rektum dan anus dinilai dari ada atau tidaknya inflamasi. serta stress. stres. Informasi gaya hidup harus dikaji. penggunaan obat. pola emliminasi saat ini dan masa lalu.yang dihindari dan pola makan yang teratur atau tidak. adanya massa pada perut dan tenderness. Area peritonial diinspeksi terhadap adanya hemoroid. Riwayat kesehatan dibuat untuk mendapatkan informasi tentang awitan dan durasi konstipasi. gerakan peristaltik. pembedahan/ penyakit menetap. aktivitas (kegiatan sehari-hari). mengejan berlebihan saat defekasi. dan iritasi kulit. simetris atau tidak. atau diare encer. ukuran. pekerjaan. terapi obat-obatan saat ini. bentuk. termasuk latihan dan tingkat aktifitas. konsistensi. flatulens. cairan (jumlah dan jenis minuman/hari). dan komponen. bau. dll/ 4. Distensi abdomen diperhatikan. Pemeriksaan fisik Meliputi keadaan abdomen seperti ada atau tidaknya distensi. Kemudian. Analisa data Data Data subyektif : Seminggu tidak BAB. nyeri abdomen. Pasien harus ditanya tentang adanya tekanan rektal atau rasa penuh. kegiatan yang spesifik. dan massa. dan penggunaan laksatif serta enema adalah penting. Abdomen diauskultasi terhadap adanya bising usus dan karakternya. kebiasaan BAB tiga kali sehari Data obyektif : • Pola Etiologi BAB tidak feses Masalah teraturKontipasi tidak Eliminasi lancar  konstipasi Inspeksi : pembesaran abdomen Palpasi : perut terasa keras. lesi. asupan nutrisi dan cairan. ada impaksi feses Perkusi : redup Auskultasi : bising • • • . fisura. serta harapan pasien tentang elininasi defekasi. Pengkajian objektif mencakup inspeksi feses terhadap warna. sperti perubahan warna.

Nyeri akut berhubungan dengan akumulasi feses keras pada abdomen. 2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan hilangnya nafsu makan. 3. Intervensi dan Rasional Diagnosa Tujuan • • • : Konstipasi berhubungan dengan pola defekasi tidak teratur : pasien dapat defekasi dengan teratur (setiap hari) Kriteria hasil : Defekasi dapat dilakukan satu kali sehari Konsistensi feses lembut Eliminasi feses tanpa perlu mengejan berlebihan Intervensi Mandiri • Rasional • Tentukan pola defekasi bagi klien dan latih klien untuk menjalankannya Atiur waktu yang tepat untuk defekasi klien seperti sesudah makan Berikan cakupan nutrisi berserat sesuai dengan indikasi Berikan cairan jika tidak Untuk mengembalikan keteraturan pola defekasi klien Untuk memfasilitasi refleks defekasi Nutrisi serat tinggi untuk melancarkan eliminasi fekal Untuk melunakkan eliminasi feses • • • • • • . Konstipasi berhubungan dengan pola defekasi tidak teratur.usus tidak terdengar Data Subjektif : Klien tidak nafsu makan Data Objektif : Bising usus tidak terdengar Sulit BAB  Perut terasaNutrisi kurang dari begah  Nafsu makankebutuhan menurun  Menurunnya intake makanan  Nutrisi kurang dari kebutuhan Konsistensi tinja yang kerasNyeri akut  sulit keluar  Akumulasi di kolon  Nyeri anbdomen Data Subjektif : Keluhan nyeri dari pasien Data Objektif : Perubahan nafsu makan Diagnosa Keperawatan 1.

• Tinggi karbohidrat. • Pastikan diet memenuhi kebutuhan tubuh sesuai indikasi.kontraindikasi 2-3 liter per hari Kolaborasi • Pemberian laksatif atau enema sesuai indikasi • Untuk melunakkan feses Diagnosa Tujuan • • • • : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan : menunjukkan status gizi baik hilangnya nafsu makan. dan kalori diperlukan atau dibutuhkan selama perawatan. • Pastikan pola diet yang pasien yang disukai atau tidak disukai. • Untuk mendukung peningkatan nafsu makan pasien Mengetahui keseimbangan intake dan pengeluaran asuapan makanan • • . Kriteria Hasil : Toleransi terhadap diet yang dibutuhkan Mempertahankan massa tubuh dan berat badan dalam batas normal Nilai laboratorium dalam batas normal Melaporkan keadekuatan tingkat energi Intervensi Mandiri • Rasional • Buat perencanaan makan dengan pasien untuk dimasukkan ke dalam jadwal makan. Menjaga pola makan pasien sehingga pasien makan secara teratur • Dukung anggota keluarga untuk membawa makanan kesukaan pasien dari rumah. protein. • Pasien merasa nyaman dengan makanan yang dibawa dari rumah dan dapat meningkatkan nafsu makan pasien. • Tawarkan makanan porsi besar disiang hari ketika nafsu makan tinggi • Dengan pemberian porsi yang besar dapat menjaga keadekuatan nutrisi yang masuk. Pantau masukan dan pengeluaran dan berat badan secara periodik.

dan kadar glukosa darah • Untuk dapat mengetahui tingkat kekurangan kandungan Hb. albumin. Melaporkan kesehatan fisik dan psikologisi. dan glukosa dalam darah • Ajarkan metode untuk perencanaan makan • Klien terbiasa makan dengan terencana dan teratur. • • • Mempertahankan tingkat nyeri pada skala kecil. albumin.• Kaji turgor kulit pasien • Sebagai data penunjang adanya perubahan nutrisi yang kurang dari kebutuhan Kolaborasi Observasi • Pantau nilai laboratorium. Intervensi Rasional • • Mandiri • Bantu pasien untuk lebih berfokus pada aktivitas dari nyeri dengan melakukan penggalihan melalui televisi atau radio Klien dapat mengalihkan perhatian dari nyeri • Perhatikan bahwa lansia mengalami peningkatan sensitifitas • Hati-hati dalam pemberian anlgesik opiat . Menggunakan tindakan mengurangi nyeri dengan analgesik dan nonanalgesik secara tepat. seperti Hb. Health Edukasi • Ajarkan pasien dan keluarga tentang makanan yang bergizi dan tidak mahal • Menjaga keadekuatan asupan nutrisi yang dibutuhkan. Diagnosa abdomen Tujuan • : Nyeri akut berhubungan dengan akumulasi feses keras pada : Menunjukkan nyeri telah berkurang Kriteria Hasil : Menunjukkan teknik relaksasi secara individual yang efektif untuk mencapai kenyamanan. Mengenali faktor penyebab dan menggunakan tindakan untuk mencegah nyeri.

Klien BAB teratur setiap hari dengan konsistensi feses lunak tanpa defekasi berlebih.terhadap efek analgesik opiat • Perhatikan kemungkinan interaksi obat – obat dan obat penyakit pada lansia • Hati-hati dalam pemberian obatobatan pada lansia Observasi • Minta pasien untuk menilai nyeri atau ketidak nyaman pada skala 0 – 10 • Mengetahui tingkat nyeri yang dirasakan klien • • Gunakan lembar alur nyeri Lakukan pengkajian nyeri yang komperhensif • • Mengetahui karakteristik nyeri Agar mngetahui nyeri secara spesifik Health education • Instruksikan pasien untuk meminformasikan pada perawat jika pengurang nyeri kurang tercapai • Perawat dapat melakukan tindakan yang tepat dalam mengatasi nyeri klien • Berikan informasi tetang nyeri • Agar pasien tidak merasa cemas Evaluasi 1. Klien tidak merasakan nyeri abdomen Asuhan Keperawatan pasien dengan Ileus Paralitik 1. 2. Pengkajian . Berat badan dan nafsu makan normal 3.

perawat mengkaji riwayat pembedahan abdominal. pneumonia pascabedah. namun belum ada penelitian dalam literatur yang mendukung penggunaan selang nasogastrik untuk memfasilitasi resolusi ileus. dan trauma abdominal berat. TTV biasa didapatkan perubahan. dan nyeri ringan pada abdomen. Keluhan adanya kembung dan tidak bisa flatus bersifat akut disertai mual. gangguan metabolik. kondisi klinik preoperatif. pengetahuan mobilisasi dini pasien pasien praoperatif. anoreksia. jenis pembedahan.pengkajian ileus terdiri atas pengkajian anamnesis. seperti adanya sepsis. Pasien harus menerima hidrasi intravena. dan adanya penyakit sistemik yang memperberat. Pada survei umum pasien terlihat lemah. Pada pemeriksaan fisik fokus akan didapatkan : Inspeksi Auskultasi Palpasi Perkusi : secara umum akan terlihat kembung dan didapatkan adanya distensi abdominal : bising usus atau tidak ada : nyeri tekan lokal pada abdominal : timpani akibat abdominal mengalami kembung diagnostik yang dapat membantu. Konservatif Sebagian besar kasus ileus pasca bedah mendaat intervensi konservatif. Untuk pasien dengan muntah dan distensi. dan evaluas diagnostik. pemeriksaan fisik. Pengkajian psikososial akan didapatkan peningkatan kecemasan karena perut kembung dan belum bisa melakukan flatus. meliputi pemeriksaan Pengkajian laboratorium untuk mendeteksi adanya gangguan elektrolit atau metabolik. Panjang selang ke saluran gastrointestinal tidak memiliki manfaat atau . serta perlunya pemenuhan informasi pemeriksaan fisik yang didapatkan sesuai dengan manifestasi klinik. Pengkajian Penatalaksanaan Medis : 1. penggunaan selang nasogastrik diberikan untuk menurunan gejala. penyakit jantung. penyebab adanya intervensi bedah. prosedur bedah saraf. pada pengkajian riwayat penyakit sekarang. pada anamnesa keluhan utama yang lazim didapatkan adalah keluhan kembung dan tidak bisa kentut(flatus). foto polos abdomen untuk mendeteksi adanya dilatasi gas berlebihan dari usus kecil dan usus besar. muntah.

Untuk pasien dengan ileus berlarut-arut. Sembilan belas pasien menjalani elektif laparokpi colectmy secara acak. namun kelemahan OAINS digunakan mencakup disfungsi trombosit dan ulserasi mukosa lambung. Pemberian enteral secara hati-hati dan dilakukan secara bertahap (Ng WQ. Laporan dari pasien bahwa sudah terjadi flatus harus dinilai ulang dengan seksama secara pemeriksaan fisik dan diagnostik yang akurat. Lkondisi ini didiagosis dan diperbaiki (Mukherjee. obstruksi mekanis harus diperiksa dengan kontras. 2000) Pengguna narkotika pascaoperasi dapat dikurangi dengan suplemen dengan obat antiinflamasi non steroid (OAINS). dan hipomagnesemia. dimana studi ini telah mengungkapkan resolusi lebih cepat dari yang diberikan pada pasien ileus versus yang diberikan ketorolac morfin.serta tidak boleh hanya mengandalkan dari laporan pasien (Mukherjee. Studi miolelektrik dari elektroda ditempatkan pada usus besar. OAINS dapat menurunkan ileus dengan menurunkan peradangan lokal dan dengan mengurangijumalh narkotika yang digunakan. hiponatremia. Pada suatu studi pemberian permen karet menunjukkan bahwa mengunyah permen karet sebagai bentuk pemberian makanan palsu pada fase pemulihan awal dari ileus pascabedah setelah laparoskopi colectomy. Pemeriksaan kondisi klinis masi menjadi perameter penting untuk mengevaluasi asupan oral dan fungsi usus yang baik. Sepuluh pasien yang ditetapkan ke grup permen karet dan sembilan untuk kelompok kontrol. Terapi diet Umumnya. 2008) 2. dapat memperburuk ileus. Kondisi ini dapat dipertimbangkan dengan penggnaan agen cyclooxygen-2 untuk menurunkan efek ini (Ferraz. 2008) Cara lainnya adalah menghentikanobat yang memproduksi ileus (misalnya :opiat). jumlah morfin yang diberikan secara langsung akan berhubungan dengan terjadinya ileus (Cali. Namun. menunda intake makan oral sampai tanda klinis ileus berakhir. Dalam bentuk suatu studi. 1995) Sampai saai ini belum ada suatu variabel yang secara akurat memprediksi resolusi ieus.perbaikan ileus. Terjadinya flatus lebih cepat dalam . kondisi ileus tidak menghalangi pemberian nutrisi enteral. Kelompok permen karet yang digunakan tiga kali sehari pascaoperasi pertama pagi sampai intake oral. Sepsis dan gangguan elektrolit yang mendasari terutama hipokalemia . 2003).

dan yang lainnya 24 pasien ditugaskan untuk ambualasi pada pascabedah hari ke-4. Dalam sebuah studi nonrandomized mengevaluasi 34 pasien. Analisa Data Data Etiologi Masalah Keperawatan . dan pneumonia tetapi tidak memiliki peran dalam mengobati ileus. ternyata tidak ada perbedaan yang signifikan dari hasil mioelektrik dalam pemulihan di lambung. 2002) 3. atau usus antara 2 kelompok tersebut (Waldhausen. Sepuluh pasien ditugaskan untuk ambulasi pada pascaoperasi hari pertama. Data telah menunjukkan bahwa pemberian obat ini dapat benar-benar memperburuk ileus (Mukherjee. elektroda bipolar seromuskular di tempatkan di segmen saluran gastrointestinal setelah laparotomi. Meskipun hal ini belum ditunjukkan dalam literatur.21 hari dalam kelompok permen karet versus 5. 4. misalnya alvimopan. 1990). Eritromisin. 2008). Akan tetapi pelaksanaan ambulansi tetap bermanfaat dalam mencegah pembentukan ateleksis. sebuah antagonis dopaminergik. Metoklopramid. sebagai obat antimuntah dan prokinetik. suatu agonis reseptor motilin. 2008). Alvimopan ini ditunjukkan untuk membantu mencegah ileus postoperatif reseksi usus (Maron. terapi aktivitas Kebijakan konvensional pada praktik klinik memberikan pemahaman bahwa ambulansi dini merangsang fungsi usus dan meningkatkan ileus pascabedah. Hasil yang didapat.kelompok permen karet daripada di kelompok kontrl buang air besar pertama tercatat pada 3. telah digunakan untuk paresis pasca operasi lambung namun belum terbukti bermanfaat bagi ileus. Terapi farmakologis yang dianjurkan adalah golongan Opioid antagonis selektif. jejunu. 2. obstruksi vena provunda. terapi farmakologis Sampai saat ini belum ada studi yang menilai manfaat supositoria dan enema untuk pengobatan ileus.8 hari pada kelompok kontrol (asao.

cairan dan elektrolit Risiko ketidakseimbangan DS : DO : cairan tubuh Faktor predisposisi ileus paralitik hipomotilitas (kelumpuhan) intestinal gangguan muntah.DS : • klien seminggu sehari DO : • Faktor predisposisi ileus mengeluh paralitik tidak hipomotilitas kemampuan dalam pasase BAB. turgor anoreksiakehilangan kulit menurun. Faktor predisposisi ileus mengeluh paralitik hipomotilitas (kelumpuhan) intestinal gangguan GI mual. lemas. GI mual. mata cowong. (kelumpuhan) intestinal intestinal kebiasaan BAB tiga kali hilangnya material feses Inspeksi : pembesaran abdomen Palpasi : perut terasa keras. kembung Risiko kekurangan volume cairan Mukosa bibir kering. muntah. kembung Risiko tinggi nutrisi kurang dari kebutuhan anoreksiaasupan nutrisi tidak adekuat Risiko tinggi nutrisi kurang dari kebutuhan . feses ada impaksi Konstipasi • • Perkusi : redup Auskultasi : bising usus tidak terdengar DS : • DO : • klien sering haus.

kemampuan absorpsi air oleh intestinal 3. Risiko kekurangan volume cairan b. Diagnosa Keperawatan 1. Rasional Walaupun predisposisi ileus biasanya terjadi akibat pasca bedah abdomen. Risiko tinggi nutrisi kurang dari kebutuhan b. hipomotilitas intestinal 2. kondisi gangguan Monitoring status cairan. Tujuan : dalam waktu 5 x 24 jam terjadi perbaikannkonstipasi. kurangnya intake makanan yang adekuat 4.d. Gambaran foto polos abdomen tidak terdapat adanya akumulasi gas di dalam intestinal. frekuensi 5-25 x/menit. d. tetapi ada faktor predisposisi lain yang mendukung dikolaborasikan intervensi medis. keluar cairan tubuh dari muntah. peningkatan untuk misalnya resiko mendapat adanya terjadinya ileus. Bising usus terdengar normal. hipomotilitas / kelumpuhan. Konstipasi b. Evaluasi secara berkala laporan pasien Pemantauan secara rutin dapat tentang flatus dan periksa kondisi bising memberikan data dasar pada perawat . elektrolit harus dikoreksi. Kriteria Hasil : Laporan pasien sudah mampu flatus dan keinginann untuk BAB. Konstipasi b. Peran perawat kondisi harus status mendokumentasikan cairan dan harus melaporkan apabila didapatkan adanya perubahan yang signifikan.3. Hal ini harus segera sepsis harus diatasi. Intervensi Kaji faktor predisposisi terjadinya ileus.d.d. Intervensi dan Kriteria Hasil 1. Penurunan volume cairan akan meningkatkan resiko ileus semakin parah karena terjadi gangguan elektrolit.

ternyata tidak ada perbedaan yang signifikan dari hasil mioelektrik dalam pemulihan di lambung. Walaupun terdapat studi yang tidak berhubungan randomise elektroda ditempatkan gastrointestinal Sepuluh ambulasi ditugaskan pascabedah pada untuk hari dengan peningkatan 34 pasien. obstruksi vena provunda. peran untuk evaluasi kolaborasi harus dengan medis tentang kondisi perbaikan Hasil didokumentasikan secara hati-hati pada Pasang selang nasogastrik. atausebagai ileus. Akan tetapi pelaksanaan ambulansi tetap bermanfaat mencegah pembentukan ateleksis. Hasil laparorotomi. Pemasangan kembung dan selang distensi nasogastrik abdomen. dilakukan untuk menurunkan keluhan Perawat melakukan pemantauan setiap 4 jam daripengeluaran pada selang Lakukan teknik ambulansi. atau usus antara 2 kelompok tersebut (Waldhausen. dan Kolaborasi : Opioid antagonis selektif. dalam 1990). Dalam sebuah studi nonmengevaluasi bipolar di setelah seromuskular segmen ditugaskan pascaoperasi ambualasi ke-4. Alvimopan ini ditunjukkan untuk membantu mencegah ileus postoperatif . nasogastrik. dan yang lainnya 24 pasien didapat. saluran untuk hari pada yang resolusi ileus. pasien pertama. jejunu. status medis. pneumonia.usus.

2.d. dan diaforesis secara teratur. • Jalur yang paten penting untuk Intervensi Menitoring status cairan (turgor. Kolaborasi • Pertahankan pemberian cairan secara mempertahankan TD Mengetahui adanya oengaruh adanya peningkatan tahanan perifer.reseksi usus (Marom. Penurunan volume cairan mengakibatkan menurunnya produksi urin. keluar cairan tubuh dari muntah. monitoring yang ketat pada produksi urin <600 ml/hari merupakan tanda-tanda Kaji sumber kehilangan cairan terjadi syok hipovolemik. 2008). sianosis. Kehilangan cairan dan muntah dapat disertai dengan keluarnya via oral yang juga akan meningkatkan risiko Dokumentasikan intake dan output cairan Monitor TTV secara berkala gangguan elektrolit Sebagai data dasar dalam pemberian terapi cairan dan pemenuhan hidrasi tubuh secara umum. Rasional Jumlah dan tipe cairan pengganti ditentukan dari keadaan status cairan. kemampuan absorpsi air oleh intestinal Tujuan : dalam waktu 5 x 24 jam tidak terjadi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit Kriteria Hasil : Pasien tidak mengeluh pusing. urin > 600ml/hari Laboratorium : nilai elektrolit normal. suhu. membran mukosa. membran mukosa lembap. Hipotensi dapat terjadi pada hipovolemi yang memberikan manifestasi sudah terlibatnya sistem kardiovaskular untuk melakukan kompensasi Kaji warna kulit. urin output) . turgor kulit normal. TTV dalam batas normal CRT < 3 detik. Risiko kekurangan volume cairan b. nadi perifer.

19 menjalani elektif laparoskomi kolektomi secara acak. kurangnya intake makanan yang adekuat Tujuan Kriteria Hasil : dalam 7 x 24 jam asupan nutrisi adekuat : .bising usus kembali noraml dengan frekuensi 5-25x/menit . 10 pasien ditetapkan ke grup permen karet dan 9 untuk kelompok berupa .berat badan pada hari ke 7 pascabedah meningkat minimal 0.IV pemberian cairan cepat dan memudahkan perawat dalam melakukan kontrol intake dan output cairan • Evaluasi kadar elektrolit • Sebagai deteksi awal menghindari gangguan elektrolit sekunder dari muntah pada pasien peritonitis. 3.d.5kg • • evaluasi Intervensi secara berkala kondisi • • Rasional sebagai data dasar teknik pemberian asupan nutrisi pemberian enteral diberikan secara hati-hati • berikan stimulan permen karet • dan dilakukan bertahap sesuai tingkat toleransi dari pasien pada studi pemberian permen karet menunjukan permen bahwa mengunyah bentuk karet sebagai motilitas usu berikan nutrisi parenteral pemberian makanan palsu pada fase pemulihan awal dari ileus pascabedah setelah pasien laparoskopi yang kolektomi.pasien dapat menunjukan metode menelan makanan yang tepat . Risiko tinggi nutrisi kurang dari kebutuhan b.terjadi penurunan gejala kembung dan distensi abdomen .

11 november 2011 Brunner & Suddarth (2002). Panduan diagnosa kaperawatan nanda 2005-2006. Terpenuhinya informasi kesehatan.Jakarta : EGC Farmacia (2007). Nyeri terkontrol atau teradaptasi. Jakarta : EGC Budi santosa. Halaman 284-291.majalah-farmacia. Prima medika .permen karet denan durasi 3kali/hari pada terjadi palsu • pantau intake dan output. 5.International Digestive Disease Week. 6. Pasien tidak mengalami syok hipovolemik. Asupan nutrisis tubuh optimal. Mei 2007 .com. Terjadi penurunan respon kecemasan. Diagnosis Keperawatan Aplikasi pd praktik klinis Edisi 9. kemamapuan motilitas pasien meningkat konstipasi dapat teratasi. anjurkan • untuk timbang berat badan secara periodik (sekali seminggu) • • lakukan perawatan mulut • intervensi untuk menurunkan risiko infeksi oral kolaborasi dengan ahli gizi mengenai • jenis nutrisi yang akan digunakan pasien ahli gizi harus terlibat dan dalam jenis penentuan komposisi hari pertama lebih karet pascaoperasi. 7. cepat pada di flatus permen kelompok yang mendapat makanan daripada kelompok kontrol berguna dalam mengukur keefektifan nutrisi dan dukungan cairan makanan yang akan diberikan sesuai dengan kebutuhan individu Evaluasi Hasil yang diharapkan setelah dilakukan tindakan keperawatan adalah : 1. 2. Tidak terjadi ketidakseimbangan cairan tubuh. 3. from http://www.10. Lynda Juall.6 No.2. Daftar Pustaka Carpenito. Buku ajar keperawatan medikal-bedah edisi 8 vol.Vol. 4. SIMPOSIA .

Diagnosa keperawatan aplikasi Nanda dan NIC NOC.Susanty. Yogyakarta : Modya karya . ely (2011).