You are on page 1of 6

ANALISIS PENGARUH SUKU BUNGA KREDIT DAN INFALSI TERHADAP PENANAMAN MODAL DALAM NEGRI DI PROVINSI YOGYAKARTA PRIODE

2002-2012

Ridwan Choirul Hadianto (Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi Dan Studi Pembangunan) (FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) Email : ridwanlegion13@gmail.com

Pembimbing Tony S. Chendrawan, ST., SE., M.Si

ABSTRACT
Investment is one of the important factors in the economy, especially in the development of an area in which development will show the strength of a country's economy. PMDN is coordinated so that will have a positive impact on the region that can provide benefits back to the State. Use of PMDN So that has been given should be used as well as possible in order to provide positive impact on all aspects of good investment, inflation and credit interest rates. This study aimed to determine the effect of the level of credit interest rates, inflation of PMDN in Yogyakarta province in the period 2002-2012. Model analysis is a multiple regression model using the least squares method is simple (Ordinary Last Square). According to the results of regression analysis found that the level of credit interest rates and inflation influenced positively on PMDN changes in Yogyakarta Province Keywords: Suku BungaKredit, Inflasi, Penanaman Modal Dalam Negri, PMDN, credit interst tates, inflation, 1111084000043

I.

PENDAHULUAN

Pengertian PMDN yang terkandung dalam Undang-Undang No. 25 Tahun 1997 tentang Penanaman Modal adalah kegiatan menanam modal untuk melakukan usaha di wilayah negara Republik Indonesia yang dilakukan oleh penanam modal dalam negeri dengan menggunakan modal dalam negeri. Penanam modal dalam negeri adalah perseorangan warga negara Indonesia, badan usaha Indonesia, negara Republik Indonesia atau daerah yang melakukan penanaman modal di wilayah negara Republik Indonesia. Sedangkan modal dalam negeri adalah modal yang dimiliki oleh negara Republik Indonesia, perseorangan warga negara Indonesia, atau badan usaha yang berbentuk badan hukum atau tidak berbadan hukum. Penanaman modal

dalam negeri dapat dilakukan dalam bentuk badan usaha yang berbentuk badan hukum, tidak berbadan hukum atau usaha perseorangan, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Adapun faktor-faktor yang disinyalir mempengaruhi PMDN di Indonesia adalah Produk Domestik Bruto, tingkat suk bunga, dan tingkat inflasI. Faktor yang berpengaruh terhadap PMDN adalah suku bunga kredit. Di dalam teori Klasik dinyatakan bahwa tingkat suku bunga, yang merupakan harga dari penggunaan modal, berpengaruh negatif terhadap investasi. Oleh karena itu, semakin tinggi suku bunga kredit maka nilai PMDN akan semakin menurun. Faktor yang berpengaruh terhadap PMDN adalah tingkat inflasi. Tingkat inflasi

mempunyai pengaruh negatif terhadap investasi. Hal ini dikarenakan ketika terjadi tingkat inflasi yang tinggi di suatu negara akan meningkatkan resiko untuk berinvestasi di negara tersebut sehingga investor tidak tertarik untuk melakukan penanaman modal. Oleh karena itu, semakin tinggi tingkat inflasi maka semakin rendah nilai PMDN yang terjadi. II. KERANGKA TEORITIS

2.1 Teori Suku Bunga Kredit Menurut Kaslan A. Tohir, yang dimaksud dengan bunga kredit adalah penggantian kerugian yang diterima oleh si pemberi kredit untuk penyerahan penggunaan uang itu (Tohir, 1970:58). Teori Bunga Keynes Menurut Keynes bunga itu adalah pengganti dari pengorbanan likuiditas. Menurut Keynes bunga itu ditentukan oleh preferensi likuiditas (Liquidity Prefrence) atau jumlah uang. Liquidity preference disebabkan oleh 3 hal, yaitu : Transaction motive, dimana orang membutuhkan uang untuk melakukan transaksi pembayaran sehari hari. Precautionary motive, dimana orang ingin mempunyai persediaan uang untuk menghadapi peristiwa yang tidak diduga dalam arti kata persediaan apabila dalam waktu waktu harus melakukan pembayaran. Speculative motive, adalah orang ingin mempunyai uang, mencari keuntungan dengan cara spekulasi. Teori Bunga Aliran Klasik Teori bunga aliran klasik dinamakan The Pure Theory of Interest. Menurut teori ini. Tinggi rendahnya tingkat bunga ditentukan oleh permintaan dan penawaran akan modal. Jadi modal ini telah dianggap sebagai harga dari kesempatan penggunaan modal. Sama seperti harga barang-barang dan jasa, tinggi rendahnya ditentukan oleh permintaan dan penawaran, demikian pula tinggi rendahnya bunga modal ditentukan oleh permintaan dan penawaran modal. 2.2 Teori tentang Inflasi Teori Kuantitas,

Teori Kuantitas yaitu teori yang menganalisis peranan dari i). Jumlah uang beredar, dan ii).ekspektasi masyarakat mengenai kemungkinan kenaikan harga (peranan psikologis). Menurut teori ini, pertambaham volume uang yang beredar sangat dominan terhadap kemungkinan timbulnya inflasi. Kenaikan harga yang tidak dibarengi dengan pertambahan jumlah uang beredar sifatnya hanya sementara. Dengan demikian menurut teori ini, apabila jmlah uang tidak ditambah, kenaikan harga akan berhenti dengan sendirinya. Berdasarkan teori ini, walaupun jumlah uang bertambah tetapi masyarakat belum menduga adanya kenaikan, maka pertambahan uang beredar hanya akan menambah simpanan atau uang kas karena belum dibelanjakan. Dengan demikian harga barang-barang tidak naik. Jika masyarakat menduga bahwa besok bahwa dalam waktu dekat harga barang akan naik, masyarakat cenderung membelanjakan uangnya karena khawatir akan penurunan nilai uang, sehingga akan memicu inflasi. Inti dari teori kuantitas adalah sebagai berikut: 1. Inflasi hanya bisa terjadi kalau ada penambahan volume uang yang beredar (baik penambahan uang kartal atau penambahan uang giral). Menurut teori kuantitas yang dikemukakan oleh Irving Fisher MV = PT, faktor yang dianggap konstan adalah V dan T, sehingga jika M (Money in circulation) bertambah, maka akan terjadi inflasi (kenaikan harga). 2. Laju inflasi ditentukan oleh laju pertambahan jumlah uang yang beredar dan oleh psikologi (harapan) masyarakat mengenai kenaikan harga di masa yang akan datang. Apabila masyarakat sudah beranggapan demikian, maka tidak ada kecenderungan untuk menyimpang uang tunai lagi dan mereka lebih suka menyimpan harta kekayaannya dalam bentuk barang. Teori Inflasi Keyness Menurut Keynes, inflasi pada dasarnya disebabkan oleh ketidakseimbangan antara permintaan masyarakat (demand) terhadap barang-barang dagangan (stock), dimana permintaan lebih banyak dibandingkan dengan barang yang tersedia, sehingga terdapat gap yang disebut inflationaty gap.

Teori Struktural Teori ini berlandaskan kepada struktur perekonomian dari suatu negara (umumnya negara berkembang). Menurut teori ini, inflasi disebabkan oleh: Hasil ekspor meningkat namun lambat dibandingkan dengan pertumbuhan sektor lainnya. Peningkatan hasil eksport yang lambat antara lain disebabkan karena harga barang yang dieksport kurang menguntungkan dibandingkan dengan kebutuhan barang-barang import yang harus dibayar. Dengan kata lain daya tukar barangbarang negera tersebut semakin memburuk. Ketidakseimbangan antara pertumbuhan produksi bahan makanan dengan jumlah penduduk, sehingga mengakibatkan kelonjakan kenaikan harga bahan makanan. Hal ini dapat menimbulkan tuntutan kenaikan upah dari kalangan buruh / pegawai tetap akibat kenaikan biaya hidup. Kenaikan upah selanjutnya akan meningkatkan biaya produksi dan mendorong terjadinya inflasi

2.3 Teori Penanaman Modal Dalam Negeri Menurut Francis (1991), investasi adalah penanaman modal yang diharapkan dapat menghasilkan tambahan dana pada masa yang akan datang. Menurut Reilly (2003) mengatakan, investasi adalah komitmen satu dollar dalam satu periode tertentu, akan mampu memenuhi kebutuhan investor di masa yang akan datang dengan: waktu dana tersebut akan digunakan, tingkat inflasi yang terjadi, ketidakpastian kondisi ekonomi di masa yang akan datang. Menurut Nelson, mensyaratkan adanya tingkat penanaman modal yang tinggi agar masyarakat terlepas dari The Low Level Equilibrium Trap dan ini diperlukan adanya peningkatan tabungan masyarakat.

2.4 Kerangka Pemikiran Gambar 2.4 Diagram kerangka pemikiran

X1 Suku Bunga Kredit Teori Bunga Keynes

Y Penanaman Modal Dalam Negeri Teori Menurut Reilly

X2 Inflasi Teori Inflasi Keynes

2.5 Hipotesis : = = 0 tidak terdapat pengaruh suku bunga kredit dan inflasi terhadap penanaman modal dalam negeri di provinsi Yogyakarta

: 0 terdapat pengaruh suku bunga kredit dan inflasi terhadap penanaman modal dalam negeri di provinsi Yogyakarta

III.

METODOLOGI PENELITIAN

Sumber data dari penelitian ini ialah dari Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistika, adapun objek penelitian yang diteliti adalah Suku Bunga Kredit, Inflasi dan Penanaman Modal Dalam Negeri di Daerah Istimewa Yogyakarta periode 2002 2012.

penelitian ini adalah model regresi berganda dengan metode kuadrat terkecil sederhana (Ordinary Least Square). Analisis regresi adalah studi

Metode yang akan digunakan dalam

Model fungsi PMDN = f (Sbk, Inf)

ketergantungan dari variabel dependen pada satu atau lebih variabel lain, yaitu variabel independen (Gujarati, 1999).

Persamaan PMDN = = 5%

Sbk +

Inf + ;

Tabel 3.1 Tabel Operasional Variabel


No 1 Variabel Suku Bunga Kredit ( ) Desk (konseptuasi) Menurut Keynes bunga itu adalah pengganti dari pengorbanan likuiditas. Menurut Keynes bunga itu ditentukan oleh preferensi likuiditas (Liquidity Prefrence) atau jumlah uang. Liquidity preference disebabkan oleh 3 hal, yaitu : Transaction motive, dimana orang membutuhkan uang untuk melakukan transaksi pembayaran sehari hari. Precautionary motive, dimana orang ingin mempunyai persediaan uang untuk menghadapi peristiwa yang tidak diduga dalam arti kata persediaan apabila dalam waktu waktu harus melakukan pembayaran. (menurut Keynes) Menurut Keynes, inflasi pada dasarnya disebabkan oleh ketidakseimbangan antara permintaan masyarakat (demand) terhadap barang-barang dagangan (stock), dimana permintaan lebih banyak dibandingkan dengan barang yang tersedia, sehingga terdapat gap yang disebut inflationaty gap. (menurut Keynes) Menurut Reilly (2003) mengatakan, investasi adalah komitmen satu dollar dalam satu periode tertentu, akan mampu memenuhi kebutuhan investor di masa yang akan datang dengan: waktu dana tersebut akan digunakan, tingkat inflasi yang terjadi, ketidakpastian kondisi ekonomi di masa yang akan datang. (menurut Reily) Skala Pengukuran Rasio

Inflasi (

Rasio

Penanaman Modal Dalam Negeri (Y)

Rasio

Berikut adalah data Suku Bunga kredit, Inflasi dan Penanaman Modal dalam Negeri. Data-data berikut di peroleh dari Bank Indonesia, dengan sumber data adalah Badan Pusat Statistika dan Bank Indonesia.
Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Suku Bunga Kredit 2.484.202.000.000 228.781.000.000 299.663.000.000 44.029.000.000 567.256.000.000 680.484.000.000 877.208.000.000 379.637.000.000 467.904.000.000 634.910.000.000 Inflasi 0,1201 0,0573 0,0695 0,1498 0,104 0,0799 0,0293 0,0738 0,0388 0,0431 PMDN 777.000.000.000 13.017.000.000 15.400.000.000 28.000.000.000 20.000.000.000 33.100.000.000 1.806.000.000 1.882.000.000 10.038.000.000 1.589.700.000

2012

817.515.000.000

0,0431

333.983.700.000

Sumber : Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistika

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Sum of Model Squares df Mean Square F Sig.
a

Dari data yang diambil dari Bank Indonesia (BI) dan Badan Pusat Statistika (BPS) pada tahun 2002-2012 mengenai Suku Bunga Kredit, Inflasi dan Penanaman Modal Dalam Negeri yang terjadi di D.I Yogyakarta adalah sebagai berikut :
Descriptive Statistics Std. N Suku Bunga Kredit INFLASI Penanaman Modal dalam Negeri Valid N (listwise) Mean Deviation 6.493E11 .0377479 2.407E11

1 Regression 4.921E23 Residual Total 8.709E22

2 2.461E23 22.605 .001 8 1.089E22

5.792E23 10

a. Predictors: (Constant), INFLASI, Suku Bunga Kredit b. Dependent Variable: Penanaman Modal dalam Negeri

11 6.80E11 11 .073518

11 1.12E11 11

Berdasarkan tabel descriptive statistics diatas, maka dapat diketahui bahwa rata-rata Suku Bunga Kredit sebesar 6.80E11 dengan standar deviasi 6.493E11. Dan juga rata-rata Inflasi sebesar 0.073518 dan standar deviasinya sebesar 0.0377479. Sedangkan rata-rata PMDN sebesar 1.12E11 dengan standar deviasi 2.407E11.
Model Summary R Model 1 R .922
a

Berdasarkan tabel ANOVAb, dapat diketahui bahwa besar signifikan regresi sebesar 0.001. nilai F hitung sebesar 22.605 maka berdasarkan nilai signifikan 0.001 berarti probabilitas 22.605 lebih besar dari 0.05 maka diterima. Tidak ada koefisien yang tidak nol atau koefisien berarti. Maka model regresi dapat dipakai untuk memprediksi Tingkat Penanaman Modal Dalam Negeri.
Coefficients
a

Stand ardize d Unstandardized Coefficients Model 1 (Cons tant) Suku Bung a Kredit INFL ASI 1.144E12 8.840E11 .179 1.295 .232 .325 .051 .878 6.330 .000 B Coeffi cients t Sig.

Adjusted Std. Error of the Estimate 1.043E11

Square R Square .850 .812

a. Predictors: (Constant), INFLASI, Suku Bunga Kredit

Std. Error Beta

Dari tabel Model Summary angka R square adalah 0.850 yaitu hasil kuadrat dari koefisien korelasi (0.922x0.922=0.850). Nilai tersebut menunjukkan 85% dari PMDN di Yogyakarta dipengaruhi oleh Suku Bunga Kredit dan Inflasinya. Dan 15% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Nilai standar error of Estimate adalah 1.043. Pada standar deviasi tingkat PMDN 2.407E11, jauh lebih besar dari standar error. Maka model regresi bagus dalam bertindak sebagai predictor tingkat Reksadana Saham.
ANOVA
b

-1.931E11 7.586E10

-2.545 .034

a. Dependent Variable: Penanaman Modal dalam Negeri

Berdasarkan tabel Coefficience, dapat diketahui bahwa besarnya signifikansi = 0.034 lebih kecil dari 0.05. Dengan demikian ditolak sehingga diterima yang berarti ada pengaruh variabel Suku Bunga Kredit dan Inflasi terhadap Penanaman Modal Dalam Negeri. Dan dari tabel Coefficient di atas, kolom B pada Constant (a) adalah -1.391 sedangkan Laju Suku Bunga Kredit ( ) adalah 0.325 dan Laju Inflasi ( ) adalah 1.144. Sehingga persamaan Regresinya adalah: Y = a+ + + 1.144

Indonesia. Semarang : Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro. Badan Pusat Statistik. Berbagai tahun. Suku Bunga Kredit Yogyakarta: Badan Pusat Statistik. Badan Koordinasi Promosi dan Penanaman Modal Daerah. Berbagai tahun. Realisasi Investasi PMA dan PMDN di Yogyakarta. Yogyakarta: BKPPMD. Case & Fair.2004.Prinsip-prinsip Ekonomi Makro. Jakarta. PT Indeks. Samuelson, Paul A. Dan Nordhaus William D. 1996. Makro Ekonomi. Edisi ke-17. Cetakan ketiga. Jakarta: Erlangga. Sukirno, Sadono. 2006. Makroekonomi Teori Pengantar. Jakarta. PT RajaGrafindo Persada.

Y = -1.391 + 0.325

V.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan penelitian dan menurut teori yang telah dikemukakan maka dapat di ambil kesimpulan bahwa perubahan laju Suku Bunga Kredit dan Inflasi diimbangi dengan perubahan tingkat Penanaman Modal Dalam Negeri. Hal ini diketahui dari hasil persamaan regresi yaitu: Y = -1.391 + 0.325 + 1.144

Dari penelitian di atas juga menunjukkan 85% dari PMDN di Yogyakarta dipengaruhi oleh Suku Bunga Kredit dan Inflasinya. Dan 15% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Mungkin saja dipengaruhi oleh Penanaman Modal Asing di daerah tersebut. Semakin kecil suku bunga kredit akan mengakibatkan semakin banyak yang melakukan usaha sehingga meningkatkan pembangunan daerah tersebut. Maka dari itu pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta harus berupaya menekan laju inflasi yang terjadi agar Penanaman Modal Dalam Negeri terhadap daerah tersebut semakin besar. VI. REFERENSI

Achfuda Putra, Vio. 2010. Analisis Pengaruh Suku Bunga Kredit, PDB,nInflasi, dan Tingkat Teknologi terhadap PMDN di