You are on page 1of 29

MO OGR “SEORANG WANITA 20 TAHUN DENGAN PERDARAHAN POSTPARTUM”

Kelompok VI
03007156 03008006 03008016 03008036 MARISSA RUSYANI ADINDA PUSPITA DEwI ALEXANDRA VICTORIA A R AREVIA MEGA DIDUTA UTAMI

03008046AUDRA FIRTHI DEA NOORAFIATTY 03008076 03008096 03008106 DEWI SETYOWATI WIDJOJO FAISHAL LATHIFI FRISKA MONITA

03008126INES DAMAYANTI OCTAVIANI 03008156MARIZA WANDA APRILA 03008186 03008286 NURUL AZIZAH MUHAMMAD SYAHFIQ BIN ISMA

03008269ANAS BIN YAHYA

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI Jakarta, 8 Juli 2011

BAB I
1

PENDAHULUAN Anemia adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin (Hb) dalam darahnya kurang dari 12 gr% .Sedangkan anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin dibawah 11 gr% pada trimester I dan III atau kadar < 10,5 gr% pada trimester II . Anemia karena defisiensi zat besi merupakan penyebab utama anemia pada ibu hamil dibandingkan dengan defisiensi zat gizi lain. Oleh karena itu anemia gizi pada masa kehamilan sering diidentikkan dengan anemia gizi besi. Sekitar 70 % ibu hamil di Indonesia menderita anemia gizi. Anemia defisiensi zat besi merupakan masalah gizi yang paling lazim di dunia dan menjangkiti lebih dari 600 juta manusia. Dengan frekuensi yang masih cukup tinggi, berkisar antara 10% dan 20%. Badan kesehatan dunia (World Health Organization/WHO) melaporkan bahwa prevalensi ibu-ibu hamil yang mengalami defisiensi besi sekitar 35-75%, serta semakin meningkat seiring dengan pertambahan usia kehamilan. Anemia defisiensi zat besi lebih cenderung berlangsung di negara yang sedang berkembang daripada negara yang sudah maju. Darah akan bertambah banyak dalam kehamilan yang lazim disebut Hidremia atau Hipervolemia. Akan tetapi, bertambahnya sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya plasma sehingga terjadi pengenceran darah.

Perbandingan tersebut adalah sebagai berikut : plasma 30%, sel darah 18% dan haemoglobin 19%. Pada saat persalinan anemia dapat menyebabkan gangguan his primer dan sekunder, janin lahir dengan anemia, persalinan dengan tindakan-tindakan tinggi karena ibu cepat lelah dan gangguan perjalanan persalinan sehingga anemia dikaitkan menjadi faktor predisposisi perdarahan postpartum.

BAB II
2

BJJ 148 dpm regular. Haid terakhir 2 Oktober 2010.8°C. GDS 98 mg/dl. urinalisa dalam batas normal. arah mendatar. Jantung: BJ I-II murni. gallop (-). Ekstremitas: akral hangat. Sebelumnya pasien belum pernah kontrol hamil. anak ke empat 3400 g. Mata: konjunktiva pucat. HBsAg (-). keadaan umum baik. sklera tak ikterik. MCHC 28 % (30-38). frekuensi nadi 90 x/menit regular isi cukup. Paru: vesikuler. edema (-). td 110/70 mmHg. Pasien datang ke RS 2 hari kemudian dengan keluhan mules-mules dan keluar air-air sejak 4 jam yang lalu. suhu 36. TD 110/70 mmHg. Saat ini suami pasien bekerja sebagai buruh bangunan. Pemeriksaan obstetrik: TFU 32 cm. jumlah leukosit 10. Dianjurkan untuk pemeriksaan laboratorium dan kembali kontrol 1 minggu kemudian. memanjang. MCH 20 pg (24-34). relaksasi baik. hematokrit 24 %. Pasien dan suami tamat SMP. suhu 36. His 3x/10 menit. dan terkecil 3 tahun. Pada pasien ini dilakukan transfusi darah. sebelum hamil siklus haid teratur. FN 92 x/menit. hitung jenis -/2/4/56/34/4. Y. BJJ 150 dpm reguler. Pada pemeriksaan. panjang 1cm. hasil pemeriksaan darah rutin: Hb 6.dilatasi 3 cm. Lain-lain dalam batas normal Pemeriksaan obstetrik TFU 32 cm. air ketuban jernih jumlah sedikit. Pada pemeriksaan USG: biometri janin sesuai hamil aterm.7°C. Pada pemeriksaan fisik didapatkan: keadaan umum baik. HIV (-). wheezing (-/-). Abdomen: membuncit sesuai kehamilan. kekuatan sedang. CTG: CST (-). PRC 200cc ( persediaan darah untuk golongan darah pasien kosong. AS 8/10. pada palpasi kepala teraba 3/5.500 g/dL.selaput ketuban (-). proses persalinan lancar. Perdarahan kala III 700 cc. janin reaktif.LAPORAN KASUS Ny. frekuensi nafas 24 x/menit. jumlah eritrosit 4 juta/mikroliter. frekuensi nafas 24 x/menit. TBJ 3100 g. Keempat persalinan sebelumnya dilakukan di dukun. keluarga pasien dianjurkan untuk donor darah ). MCV 60 fl (80-96). 37 tahun . jumlah trombosit 200 000 mikroliter. uterus atonia. G5P4 datang ke dokter untuk periksa kehamilan. ronki (-/-). Berat bayi tidak pernah ditimbang.8 g/ dL (duplo). 3 . Usia anak terbesar 10 tahun. Pasien belum melakukan pemeriksaan laboratorium yang dianjurkan. murmur (-). Pemeriksaan dalam: portio lunak. Pada pemeriksaan laboratorium. Sembilan jam kemudian lahir bayi 3000 gr. kepala H II. presentasi kepala. ferritin 40 ug/l.

perdarahan pervaginam (+) mengalir.Dilakukan pijat uterus. Diputuskan untuk melakukan laparotomi dan histrektomi. Diberikan uterotonik secara simultan ( oksitoksin. BAB III PEMBAHASAN 4 . metergin dan misoprostol ) kontraksi uterus hilang timbul. kontraksi tidak membaik. keadaan umum pasien lemah. kontraksi uterus tidak membaik. Dilakukan kompresi bimanual interna (KBI).

Pemeriksaan fisik Keadaan umum Tekanan darah Frekuensi nadi Suhu Frekuensi nafas Mata Jantung Paru Abdomen Ekstremitas Status TFU Palpasi BJJ USG TBJ : baik : 110/70 mmHg  normal : 90 x/menit. Keempat persalinan sebelumnya dilakukan di dukun. Y : 37 tahun ::: Sudah menikah Jenis kelamin : Wanita Riwayat obstetrik : Haid terakhir 2 Oktober 2010. sklera anikterik  normal : bunyi jantung I. sebelum hamil siklus haid teratur. gallop (-). wheezing (-/-)  normal : membuncit sesuai kehamilan  normal : akral hangat.II murni. presentasi kepala : kepala teraba 3/5 : 150 dpm regular : biometri janin sesuai hamil aterm : 3100 gram 5  normal Pemeriksaan obstetrik .7°C : 24 x/menit : konjunktiva pucat  anemis.Kunjungan Pertama Anamnesis Identitas Pasien Nama Umur Pekerjaan Alamat Status : Ny. edema (-)  normal : G5P4 : 32 cm. regular. ronki (-/-). isi cukup  normal : 36. murmur (-)  normal : vesikuler. proses persalinan lancar. memanjang. Usia anak terbesar 10 tahun. dan terkecil 3 tahun.

ditambah lagi dengan pekerjaan suami sebagai buruh bangunan. . Merupakan kehamilan kelima. BJJ normal 4. pasien datang lagi. Hal ini menandakan tingkat sosial ekonomi yang rendah. didapatkan: 1. tahun +1 = 9 Juli 2011 Usia kehamilan : Trisemester III Karena kehamilan matur berlangsung antara 38-40 minggu. 2. kemungkinan waktu pasien dapat mengalami partus yaitu sekitar 25 Juni – 9 Juli 2011. hari +7. USG biometri janin sesuai usia kehamilan 38 minggu Setelah 2 hari kemudian. menandakan pasien telah 4 kali melahirkan dan saat ini merupakan kehamilan yang ke-5. 2. Keluhan utama Pemeriksaan fisik 6 : mules-mules dan keluar air-air sejak 4 jam yang lalu. Hari pertama haid terakhir (HPHT) : 2 Oktober 2010 Taksiran partus dikira berdasarkan Rumus Neagel: Dari HPHT. TFU sesuai dengan usia kehamilan 3. Ke empat persalinan sebelumnya dilakukan di dukun. tempat tinggal dan lingkungan sosial. 3.Berdasarkan ananmnesis dan pemeriksaan fisik. G5P4 (Gravid 5. Anamnesis tambahan: pekerjaan ibu. riwayat penyakit ibu contohnya DM.bulan -3. dan tidak pernah control. hipertensi atau penyakit infeksi riwayat trauma atau perdarahan riwayat imunisasi sebelum kehamilan riwayat penggunaan obat-obatan riwayat merokok dan mengonsumsi alkohol Bagaimana asupan nutrisi/makanan? adakah terdapat gejala penyerta untuk anemia pergerakan janin Daripada pemeriksaan obstetrik. Terdapat tanda-tanda anemi yaitu konjunktiva pucat. masalah pada pasien pada saat pertama kali datang adalah : 1. Partus 4).

000-450. arah mendatar.8 g/dl 10.selaput . kepala Hodge II  Hodge II menunjukkan janin terletak setinggi bagian bawah simpisis. relaksasi baik ketuban (-).500/ mikroliter -/2/4/56/34/4 200.000/ mikroliter 24% 4 juta/µl 60 fl 20 pg 28% 98 mg/dl 40 ug/l Dalam batas normal Nilai normal Hamil trisemester III 11 g/dl 5.000/ mikroliter 0-1/1-3/0-7/5065/25-40/4-10 150.Keadaan umum TD Frekuensi nadi Suhu Frekuensi nafas Lain-lain : baik : 110/70 mmHg  normal : 92 x/menit : 36.dilatasi 3 cm.000-10. kekuatan sedang. janin reaktif  normal Pemeriksaan laboratorium Hasil Hb Leukosit Hitung jenis Trombosit Hematokrit Eritrosit MCV MCH MCHC GDS Ferritin HBsAg HIV Urinalisa 6.8 oC : 24 x/menit  normal  normal  normal : dalam batas normal Pemeriksaan obstetrik Tinggi fundus uteri : 29 cm BJJ His : 148 dpm regular  normal : 3x/10 menit. CTG : CST (-). panjang 1cm.000/ mikroliter Hamil trisemester III 33 % 4-5 juta/µl 80-96 fl 24-34 pg 30-38 % < 200 mg/dl 50-200 ug /l Catatan Anemi Sedikit meningkat Normal Normal ↓ Normal ↓ (mikrositik) ↓ (hipokrom) ↓ Normal ↓ Normal Normal Normal 7 Pemeriksaan dalam : portio lunak.

Ini karena anemia merupakan faktor predisposisi terjadinya perdarahan postpartum. Untuk memastikan dapat dilakukan pemeriksaan sediaan apus darah tepi. uterus atonia. air ketuban jernih jumlah sedikit. Transfusi PRC pada pasien ini sebelum proses melahirkan merupakan salah satu tindakan dalam mengantisipasi perdarahan postpartum. Evaluasi keadaan ibu : 8 . Perdarahan kala III 700cc. AS 8/10. dapat disimpulkan pada pasien ini terjadi anemia defesiensi besi  pada kehamilan. Pemeriksaan SADT Hasil SADT  Eritrosit mikrositik hipokrom  Anisositosis : ukuran kepingan eritrosit tidak sama besar  Poikilositosis : bentuk kepingan eritrosit tidak sama/ bermacam-macam  Sel pensil (+) Dari hasil pemeriksaan SADT.Dari pemeriksaan laboratorium didapatkan adanya anemia mikrositik hipokrom akibat defisiensi besi. Pasien ditrasfusi darah. keluarga pasien dianjurkan untuk donor darah). Kemungkinan. PRC 200cc (persediaan darah untuk golongan darah pasien kosong. kehilangan zat besi terjadi akibat pengalihan besi maternal ke janin untuk eritropoiesis. pasien mengawali kehamilan dengan cadangan besi yang rendah.[3] Penatalaksanaan sebelum proses melahirkan 1.maka kebutuhan tambahan ini berakibat pada anemia defisiensi besi.[6] Sembilan jam kemudian lahir bayi 3000g.

Evaluasi keadaan bayi :  Berat : 3000g  dalam batas normal (2500g-4000g)  AS 8/10  bayi dalam keadaan baik (jumlah skor berkisar di 7 – 10 pada menit pertama. Menurut definisi fungsional. bayi dianggap normal)  Air ketuban jernih  cairan ketuban tidak dicemari dengan meconium. Lazimnya. HPP adalah perdarahan yang melebihi 500ml setelah bayi lahir. Tanda-tanda vital pasien diperiksa dengan segera  Uterus atonia  keadaan lemahnya tonus/ kontraksi rahim yang menyebabkan uterus tidak mampu menutup perdarahan terbuka dari tempat implantasi plasenta setelah bayi dan plasenta lahir. pada kehamilan juga akan terjadi pertambahan darah yang 9 . secara fisiologisnya volume cairan amnion akan berkurang Diagnosis Perdarahan postpartum et causa atonia uteri Patofisiologi Pada kehamilan kebutuhan oksigen lebih tinggi sehingga memicu peningkatan produksi eritropoietin. risiko aspirasi mekonium negatif  Air ketuban jumlah sedikit  setelah kehamilan 38 minggu. HPP adalah kehilangan darah yang berpotensi menyebabkan perubahan hemodinamik. Perdarahan kala III 700cc  terjadi perdarahan postpartum (HPP) Menurut definisi tradisional.

Kontraksi uterus atonia akan menyebabkan perdarahan karena uterus tidak mampu menutup perdarahan terbuka di tempat bayi dan 10 . bertambahnya zat gizi yang hilang. Akibatnya. dan hitung eritrosit. metabolisme panghasilan ATP di otot polos uterus (miometrium) bertukar dari metabolisme aerob ke metabolism anaerob. sehingga berpengaruh terhadap pasokan oksigen pada uterus yang sedang berkontraksi. konsentrasi hemoglobin darah (Hb). Pada saat melahirkan bayi (kala II). pada saat ingin melahirkan plasenta (kala III). ATP yang kurang mengakibatkan kontraksi uterus melemah (uterus atonia). kebutuhan yang berlebihan dan kurangnya utilasi nutrisi hemopoietik. Defesiensi nutrisi tersering ialah zat besi (Fe) sehingga menimbulkan anemia defesiensi besi. maka hemoglobin yang dihasilkan kurang sehingga terlihat gambaran eritrosit mikrositik hipokrom pada SADT. pada wanita hamil juga sering terjadi anemia nutrisional yang didasari oleh asupan yang tidak cukup. peningkatan volume plasma terjadi dalam proporsi yang lebih besar jika dibandingkan dengan peningkatan eritrosit sehingga terjadi penurunan konsentrasi hemoglobin (Hb) akibat hemodilusi. sehingga ATP yang dihasilkan lebih sedikit. volume plasma bertambah dan sel darah merah (eritrosit) meningkat. kontraksi uterus berlangsung bagus karena keadaan anemia telah diperbaiki dengan pemberian PRC 200cc sebelumnya.[3] Oleh karena besi merupakan salah satu bahan baku untuk memproduksi hemoglobin di dalam eritrosit. Namun. [5] Keadaan anemia pada pasien akan mempengaruhi pasokan darah dan juga oksigen ke uterus saat proses kelahiran.salah satu faktor yang dibutuhkan adalah ATP.disebut hipervolemi. Ekspansi volume plasma merupakan penyebab anemia fisiologik pada kehamilan. Volume plasma yang terekspansi menurunkan hematokrit (Ht). terjadi perdarahan yang banyak akibat lepasnya plasenta dari tempat implantasi. absorbsi yang tidak adekuat. Akibat dari oksigen yang kurang. Timbul bentuk dan ukuran yang bermacam-macam (anisopoikilositosis) dan sel pensil.[3] Selain anemia yang fisiologis. Untuk terjadinya kontrasi yang baik. Kandungan hemoglobin dalam eritrosit yang kurang turut mempengaruhi morfologi eritrosit. Tetapi.

3. 11 . lakukan kompresi bimanual interna. Pemberian oksitosin dengan dosis 5 units IV bolus atau 10 units intramiometrium untuk merangsang kontraksi uterus agar lebih baik. plasenta dikeluarkan secara manual. Jadi tiga hal yang harus diperhatikan dalam menangani persalinan dengan perdarahan postpartum adalah menghentikan perdarahan. Untuk mengatasi perdarahan. Pada pasien ini. Penatalaksanaan Banyaknya darah yang hilang akan mempengaruhi keadaan umum pasien. 5. cukup dengan pemberian cairan kristaloid sahaja. dapat memperparah terjadinya perdarahan postpartum. dilakukan masase uterus pada bahagian fundus hingga kontraksi uterus baik. Monitor tanda vital dan periksa kembali lab darah pasien. 4. tindakan pertama yang perlu dilakukan adalah dengan memeriksa keadaan umum dan observasi tanda vital. Setelah plasenta dilahirkan. [3] 1. Jika tanda vital menurun dan lab darah tidak normal. 7. 2. teruskan kompresi bimanual interna hingga 5 menit. 6. Pemasangan intravenous line untuk pemberian cairan kristaloid yaitu Ringer Laktat (RL) untuk membantu memulihkan cairan yang hilang. Jika uterus berkontraksi. Faktor predisposisi atonia uteri yang terdapat pada kasus yaitu kehamilan grande-multipara dan keadaan umum ibu yang buruk dimana ibu mengalami anemia. keluarkan tangan setelah 1 hingga 2 menit. Sekiranya tindakan masase uterus dan pemberian oksitosin tidak berhasil. Jika uterus tetap tidak berkontraksi. mencegah timbulnya syok dan mengganti darah yang hilang.plasenta lahir sehingga terjadilah perdarahan postpartum. dapat dilakukan transfusi darah tetapi jika masih dalam batas normal.

perdarahan postpartum yang terjadi pada 24 jam pertama setelah bayi lahir dapat menyebabkan kematian ibu sebanyak 45% . Selain itu. [3] Prognosis untuk bayi adalah ad bonam kerana berdasarkan dari berat bayi yang lahir yaitu 3000 g tergolong dalam berat bayi baru lahir yang normal.Prognosis Ibu Bayi : Dubia : Ad bonam Prognosis untuk ibu adalah dubia kerana tergantung pada penanganan yang adekuat dalam mengatasi perdarahan dan juga keadaan pasien setelah tindakan dilakukan. Selain itu. Anemia menyebabkan berkurangnya 12 . berdasarkaan dari Apgar Score untuk bayi ini yaitu 8/10 juga tergolong sebagai baik dimana nilai Apgar score pada menit pertama berkisar antara 7 – 10 ( bayi dianggap normal) BAB IV TINJAUAN PUSTAKA ANEMIA Definisi Anemia ialah suatu keadaan yang menggambarkan kadar hemoglobin atau jumlah eritrosit dalam darah kurang dari nilai standar (normal).

Dan efeknya akan memberi pengaruh buruk pada bayi. perdarahan pasca melahirkan. Bertambahnya darah dalam kehamilan sudah dimulai sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 32 dan 36 minggu. Perdarahan antepartum (perdarahan dalam kehamilan) yang disebabkan karena lokasi implantasi plasenta (ari-ari) yang abnormal atau lepasnya plasenta dari tempat implantasinya yang dapat disertai gangguan pembekuan darah (DIC : Disseminated Intravascular Coagulation) dapat memperberat kondisi anemia saat kehamilan. sel darah 18% dan haemoglobin 19%. Hal ini menyebabkan angka kematian ibu masih sangat besar. Diperkirakan dalam 1 jam. Etiologi Ada tiga faktor terpenting yang menyebabkan orang menjadi anemia. Anemia dalam kehamilan yang paling sering ialah anemia akibat kekurangan zat besi. bertambahnya sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya plasma sehingga terjadi pengenceran darah. 2 ibu meninggal akibat perdarahan. anemia juga dapat menyebabkan gagal jantung. Perdarahan dapat terjadi eksternal maupun internal. syok serta infeksi pada saat persalinan atau setelahnya. Gagal jantung baru akan terjadi pada seorang wanita jika Hbnya berada pada ukuran kurang dari 4 gr/dl. persalinan. infeksi. nifas dan masa selanjutnya. sehingga darah tidak dapat mengangkut oksigen dalam jumlah sesuai yang diperlukan tubuh Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin dibawah 11 gr% pada trimester I dan III atau kadar <10 gr% pada trimester II . Perbandingan tersebut adalah sebagai berikut: plasma 30%. Seseorang dapat menjadi anemia karena perdarahan dan kehilangan sel sel darah merah dari tubuhnya. Selain itu. Pengaruhnya bisa menyebabkan abortus (keguguran). 13 . seperti lahir dengan berat lahir rendah sampai kematian perinatal. Akan tetapi. yaitu kehilangan darah karena perdarahan. Darah akan bertambah banyak dalam kehamilan yang lazim disebut Hidremia atau Hipervolemia. Anemia dapat memperburuk kondisi wanita dalam masa kehamilan. hipertensi dan adanya protein dalam air seni). kerusakan sel darah merah dan produksi sel darah merah tidak cukup banyak. preeklampsia (penyakit pada wanita hamil dimana terjadi bengkak pada kaki. persalinan yang lama karena rahim tidak berkontraksi. gangguan reabsorbsi. kelahiran prematur (lahir sebelum waktu-nya). abortus dan persalinan yang macet.jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin dalam sel darah merah. Kekurangan ini disebabkan karena kurang masuknya unsur zat besi dalam makanan. Pendarahan. dan penggunaan terlalu banyaknya zat besi.

kanker pada saluran pencernaan. Klasifikasi Anemia Klasifikasi anemia dapat dikelompokkan menjadi beberapa golongan tergantung segi peninjauannya. Karena itu untuk anemia jenis ini. Umur sel darah merah kira kira 120 hari. tapi terus menerus. maka yang bersangkutan dapat menjadi anemia. obat-obatan atau racun binatang yang menyebabkan penekanan terhadap pembuatan sel sel darah merah. pemberian besi kurang bermanfaat. Anemia karena kehilangan darah. jadi asam folat diperlukan di dalam pengobatan anemia hemolitik. tukak lambung. wasir dan lain lain. Tetapi asam folat di dalam sel sel darah merah yang telah rusak tidak dapat digunakan lagi. Hal ini mungkin dapat disebabkan karena makanan yang dikonsumsi tidak cukup banyak mengandung zat gizi. sumsum tulang mengganti sel darah merah yang tua membuat sel darah merah yang baru. Bila tidak tersedia cukup banyak zat gizi yang diperlukan. maka terjadi gangguan pembuatan sel darah merah baru. Perdarahan dapat pula terjadi karena racun. 2. Ini menyebabkan anemia hemolitik. tetapi tetap dapat digunakan kembali untuk membentuk sel-sel darah merah yang baru. shock. besi yang ada di dalamnya tidak hilang. khususnya pada keadaan yang akut seperti forward failure. Bila keadaan ini berlangsung lama. Kerusakan Sel Darah Merah. Perdarahan yang terus menerus ini dapat menyebabkan anemia. Produk Sel Darah Merah Tidak Cukup Banyak. sel-sel darah merah dirusak di dalam pembuluh darah. Bila sel-sel darah merah rusak di dalam tubuh. Kemampuan membuat sel darah merah baru sama cepatnya dengan banyaknya sel darah merah tua yang hilang. Berdasarkan penyebab dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu: 1. sehingga jumiah sel darah merah dipertahankan selalu cukup banyak di dalam darah. Adapula perdarahan kronis. Pada beberapa penyakit misalnya malaria dan talasemia. yaitu perdarahan sedikit demi sedikit. atau karena kesalahan pencernaan yang tidak dapat mengabsorpsi dengan baik zat zat itu sehingga banyak zat gizi yang terbuang bersama kotoran. Anemia yang diderita karena kekurangan zat gizi ini disebut anemia defisiensi (Fe. yaitu berdasarkan penyebab dan berdasarkan morfometrik. B12 dan asam folat). misalnya pada waktu kecelakaan.Pendarahan mendadak dan banyak disebut perdarahan eksternal. Penyebabnya antara lain. namun secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) kelompok besar. Anemia karena pembentukan terganggu yang diakibatkan oleh: 14 .

lesu.95 . Anemia normositer normokhromik (MCV = 85 . putih telur. Anemia sedang. Vertigo 5. Anemia makrositer normokhromik (MCV ≥ 95 . Anemia ringan. MCHC = 20 – 24 mmol /L) . letih. dengan kadar Hb < 6g/Dl Manifestasi Klinis 1. Gangguan yang merusak bagian sel. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan umum : Takikardi. lethargi) 4. Anemia berat.4). dapat dikelompokkan menjadi 4 (empat) yaitu: 1. Penyakit pada sumsum tulang dan kerusakan pada sumsum tulang. Gangguan endokrin. Anemia mikrositer hipokrom (MCV ≤85 . Defisiensi bahan-bahan pembangun penting seperti besi. vitamin B12. takipnea. Anemia karena penghancuran yang meningkat yang diakibatkan oleh:   Sedangkan berdasarkan morfometrik. Pucat 2. asam folium. dengan kadar Hb 8-10g/dL 2. MCHC = 20 – 24 mmol /L) 3. lemah. dan tekanan nadi yang melebar merupakan mekanisme kompensasi untuk meningkatkan aliran darah dan pengangkutan oksigen ke organ 15 .   3. Pada orang tua: -tanda payah jantung -angina pectoris -claudicatio intermittent Gejala-gejala tambahan mungkin termasuk: • • • kehilangan rambut. 4. 5L ( lelah. MCHC ≤20 mmol /L) Derajat/tingkat keseriusan dalam anemia didasarkan pada kadar HB yang dapat dibagi dalam tingkat: 1. dan perburukan persoalan-persoalan jantung. vitamin C. malaise (perasaan umum dari tidak enak badan). MCHC = 20 – 24 mmol/L) 2. Sesak setelah kegiatan fisik (dyspnea on effort) 3. dengan kadar Hb 6-8g/dL 3. Anemia mikrositer normokhrom (MCV ≥ 85 . Kelainan sejak lahir.

kedua perdarahan waktu persalinan. pertama pengenceran dapat meringankan beban jantung yang harus bekerja lebih berat dalam masa kehamilan.Pengenceran darah dianggap penyesuaian diri secara fisiologi dalam kehamilan dan bermanfaat bagi wanita.00 gr% dan hemotokrit < 30.00%.00-33. karena sebagai akibat hidremia cardiac output untuk meningkatkan kerja jantung lebih ringan apabila viskositas rendah. Resistensi perifer berkurang.utama. Pertambahan tersebut berbanding plasma 30. sehingga tekanan darah tidak naik. sehingga pengenceran darah. sebagai berikut : Bahaya Pada Trimester I Pada trimester I. bising. hitung jenis leukosit dan perkiraan kekuatan trombosit.00%.00%. Sediaan apus darah tepi memberikan evaluasi morfologi. Bertambahnya volume darah dalam kehamilan dimulai sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan 32 dan 36 minggu.00 atau 11. sel darah merah 18. Tetapi pembentukan sel darah merah yang terlalu lambat sehingga menyebabkan kekurangan sel darah merah atau anemia. Bahaya Pada Trimester II 16 . banyaknya unsur besi yang hilang lebih sedikit dibandingkan dengan apabila darah ibu tetap kental.00% dan Hemoglobin 19. sedangkan pengaruh komplikasi pada kehamilan dapat diuraikan. anemia dapat menyebabkan terjadinya missed abortion. kelainan congenital. eritrosit. Tetapi pengenceran darah yang tidak diikuti pembentukan sel darah merah yang seimbang dapat menyebabkan anemia. abortus / keguguran. hepatomegali dan splenomegali Tes Laboratorium Hitung sel darah merah dan sediaan apus darah tepi : untuk tujuan praktis maka anemia selama kehamilan dapat didefinisikan sebagai Hb < 10. Gambaran fisik lain yang menyertai anemia berat meliputi kardiomegali. Patofisiologi Darah bertambah banyak dalam kehamilan yang lazim disebut hidremia atau hipervolemia. akan tetapi bertambahnya sel-sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya plasma. Pengaruh pada kehamilan Komplikasi anemia dalam kehamilan memberikan pengaruh langsung terhadap janin. Ikterus dapat dilihat pada anemia hemolitik.

Terapinya adalah oral (pemberian ferro sulfat 60 mg / hari menaikkan kadar Hb 1. Oleh karena itu pencegahan anemia terutama di daerah-daerah dengan frekuensi kehamilan yang tinggi sebaiknya wanita hamil diberi sulfas ferrossus atau glukonas ferrosus. vitamin B12 1. adapun terapinya adalah asam folat 15-30 mg / hari. Bahaya Saat Persalinan Pada saat persalinan anemia dapat menyebabkan gangguan his primer. sekunder.00 gr% dan kombinasi 60 mg besi + 500 mcg asam folat) dan parenteral (pemberian ferrum dextran sebanyak 1000 mg (20 ml) intravena atau 2 x 50 ml gr diberikan secara intramuskular pada gluteus maksimus dapat meningkatkan Hb relatif lebih cepat yaitu 2. 17 .Pada trimester II. dan dekompensasi kordis hingga kematian ibu. Pada kehamilan memerlukan tambahan zat besi untuk meningkatkan jumlah sel darah merah dan membentuk sel darah merah janin dan plasenta. Terutama pada trimester kedua dan ketiga wanita hamil memerlukan zat besi dalam jumlah banyak.00 gr% (dalam waktu 24 jam). Pemberian parentral zat besi mempunyai indikasi kepada ibu hamil yang terkena anemia berat). selain itu wanita dinasihatkan pula untuk makan lebih banyak protein dan sayur-sayuran yang banyak mengandung mineral serta vitamin. Anemia Megaloblastik Pencegahannya adalah apabila pemberian zat besi tidak berhasil maka ditambah dengan asam folat. pada kasus berat dan pengobatan per oral lambat sehingga dapat diberikan transfusi darah. gestosis dan mudah terkena infeksi. janin lahir dengan anemia. oleh karena itu pada trimester kedua dan ketiga harus mendapatkan tambahan zat besi. persalinan dengan tindakan-tindakan tinggi karena ibu cepat lelah dan gangguan perjalanan persalinan perlu tindakan operatif .50 cc / IC. gangguan pertumbuhan janin dalam rahim. Penatalaksanaan anemia pada kehamilan Pencegahan dan terapi anemia pada kehamilan berdasarkan klasifikasi anemia adalah sebagai berikut : Anemia Defisiensi Besi Wanita Hamil Saat hamil zat besi dibutuhkan lebih banyak daripada saat tidak hamil. kebutuhan zat besi pada setiap trimester berbeda. anemia dapat menyebabkan terjadinya partus premature. cukup 1 tablet sehari. perdarahan ante partum. Anemia Hipoplastik Anemia hipoplastik ini dianggap komplikasi kehamilan dimana pengobatan adalah tranfusi darah. sulfas ferrosus 500 mg / hari.25 mg / hari. Sebelum pemberian rencana parenteral harus dilakukan test alergi sebanyak 0. asfiksia intrapartum sampai kematian.

Dengan pertimbangan bahwa sebagian besar ibu hamil mengalami anemia. 2) Perdarahan postpartum adalah kehilangan darah lebih dari 1000ml setelah melahirkan secara seksio caesarean. faktor-faktor yang menyebabkan hemorrhage postpartum adalah atonia uteri. sisa plasenta. Perdarahan Post partum diklasifikasikan menjadi 2. Mencegah timbulnya syok. Menghentikan perdarahan. Atonia uteri terjadi ketika myometrium 18 . 3. Tone Dimished : Atonia uteri Atonia uteri adalah suatu keadaan dimana uterus gagal untuk berkontraksi dan mengecil sesudah janin keluar dari rahim. Fungsional Kehilangan darah yang berpotensi menyebabkan perubahan hemodinamik. kelainan pembekuan darah.Perdarahan postpartum secara fisiologis di control oleh kontraksi serat-serat myometrium terutama yang berada disekitar pembuluh darah yang mensuplai darah pada tempat perlengketan plasenta. retensio plasenta. perlukaan jalan lahir. artinya ibu hamil setiap hari mengkonsumsi 1 tablet besi.Early Postpartum : Terjadi 24 jam pertama setelah bayi lahir . 1.Anemia Lain Dengan pemeriksaan darah dilakukan minimal dua kali selama kehamilan yaitu pada trimester I dan III. maka dilakukan pemberian tablet besi sebanyak 90 tablet pada ibu hamil di Puskesmas. 2. Mengganti darah yang hilang.Late Postpartum : Terjadi lebih dari 24 jam pertama setelah bayi lahir Tiga hal yang harus diperhatikan dalam menolong persalinan dengan komplikasi perdarahan post partum : 1. yaitu: . PERDARAHAN POSTPARTUM Definisi Tradisional 1) Perdarahan postpartum adalah perdarahan lebih dari 500-600 ml setelah partus per vaginam. Etiologi Banyak faktor potensial yang dapat menyebabkan hemorrhage postpartum.

Atonia uteri merupakan penyebab utama perdarahan postpartum.Fetal macrosomia ( berat janin antara 4500 – 5000 gram ) -polyhydramnion • • • • • • • Kehamilan lewat waktu. perdarahan postpartum memperbesar kemungkinan infeksi puerperal karena daya tahan penderita berkurang. dengan memijat uterus dan mendorongnya kebawah dalam usaha melahirkan plasenta. tidak terjadi perarahan. Plasenta previa. Jika plasenta belum lepas sama sekali. sedang sebenarnya bukan terlepas dari uterus. Portus lama Grande multipara ( fibrosis otot-otot uterus ). General anestesi (pada persalinan dengan operasi ). Solutio plasenta. penurunan metabolisme dengan hipotensi. amenorea dan kehilangan fungsi laktasi. turunnya berat badan sampai menimbulkan kakeksia. Sisa plasenta c.tidak dapat berkontraksi. Retensio plasenta b. hal itu dinamakan 2. Anestesi yang dalam Infeksi uterus ( chorioamnionitis. endomyometritis. uterus membesar dan lembek pada palpusi. Tissue retensio plasenta. septicemia ). Pada perdarahan karena atonia uteri. Atonia uteri juga dapat timbul karena salah penanganan kala III persalinan. penurunan fungsi seksual dengan atrofi alat-alat genital. Disamping menyebabkan kematian. Plasenta acreta dan variasinya. a. Beberapa hal yang dapat mencetuskan terjadinya atonia meliputi : • • • Manipulasi uterus yang berlebihan. Apabila plasenta belum lahir setengah jam setelah janin lahir. hipotensi. Uterus yang teregang berlebihan : -Kehamilan kembar . Perdarahan yang banyak bisa menyebabkan “ Sindroma Sheehan “ sebagai akibat nekrosis pada hipofisis pars anterior sehingga terjadi insufiensi bagian tersebut dengan gejala : astenia. dengan anemia. kehilangan rambut pubis dan ketiak. tapi apabila terlepas sebagian maka akan terjadi perdarahan yang 19 . Hal ini bisa disebabkan karena : plasenta belum lepas dari dinding uterus atau plasenta sudah lepas akan tetapi belum dilahirkan.

Sehingga terjadi lingkaran konstriksi pada bagian bawah uterus yang menghalangi keluarnya plasenta ( inkarserasio plasenta ). Apabila didapatkan cavum uteri kosong tidak perlu dilakukan dilatasi dan curettage. Inversi uterus c.Episiotomi dapat menyebabkan perdarahan yang berlebihan jika mengenai arteri atau vena yang besar. cervix. jika episitomi luas. riwayat operasi uterus sebelumnya. Trauma Sekitar 20% kasus hemorraghe postpartum disebabkan oleh trauma jalan lahir : a. Ruptur uterus b.merupakan indikasi untuk mengeluarkannya. jika ada penundaan antara episitomi dan persalinan. vagina. atau vulva.Sisa plasenta yang tertinggal merupakan penyebab 20-25 % dari kasus perdarahan postpartum. Vaginal hematom Ruptur spontan uterus jarang terjadi. Hal ini bisa digunakan jika perdarahan beberapa jam setelah persalinan ataupun pada late postpartum hemorraghe. dan persalinan dengan induksi oxytosin.Perdarahan yang terus terjadi ( terutama merah menyala ) dan kontraksi uterus baik akan mengarah pada perdarahan dari laserasi ataupun episitomi. walau begitu laserasi bisa terjadi pada sembarang persalinan. malpresentasi. perdarahan akan tersamarkan dan dapat menjadi berbahaya karena tidak akan terdeteksi selama beberapa jam dan bisa menyebabkan terjadinya syok. Perlukaan jalan lahir d. Repture uterus sering terjadi akibat jaringan parut section secarea sebelumnya. dan biasanya terjadi karena persalinan secara operasi ataupun persalinan pervaginam dengan bayi besar. Plasenta karena: belum lepas dari dinding uterus .kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta ( plasenta adhesiva ) . faktor resiko yang bisa menyebabkan antara lain grande multipara. Laserasi dapat mengenai uterus. Ketika laserasi cervix atau vagina diketahui sebagai penyebab perdarahan 20 . terminasi kehamilan dengan vacuum atau forcep.Plasenta melekat erat pada dinding uterus oleh sebab vilis komalis menembus desidva sampai miometrium – sampai dibawah peritoneum ( plasenta akreta – perkreta ) Plasenta yang sudah lepas dari dinding uterus akan tetapi belum keluar disebabkan oleh tidak adanya usaha untuk melahirkan atau karena salah penanganan kala III. Laserasi pembuluh darah dibawah mukosa vagina dan vulva akan menyebabkan hematom.Penemuan Ultrasonografi adanya masa uterus yang echogenic mendukung diagnosa retensio sisa plasenta. 3. atau jika ada penundaan antara persalinan dan perbaikan episitomi.

Uterus dengan vagina semuanya terbalik. HELLP syndrome ( hemolysis. Dilutional coagulopathy bisa terjadi pada transfusi darah lebih dari 8 unit karena darah donor biasanya tidak fresh sehingga komponen fibrin dan trombosit sudah rusak. Grande multipara 2.Pada penderita dengan syok perdarahan dan fundus uteri tidak ditemukan pada tempat yang lazim pada kala III atau setelah persalinan selesai.maka repair adalah solusi terbaik. Reposisi secepat mungkin memberi harapan yang terbaik untuk keselamatan penderita. kelainan pembekuan darah bisa berupa : • • • • • • Hipofibrinogenemia. and low platelet count) Disseminated Intravaskuler Coagulation.Pada inversion uteri bagian atas uterus memasuki kovum uteri. untuk sebagian besar terletak diluar vagina. Kelainan tersebut dapat menyebabkan keadaan gawat dengan angka kematian tinggi ( 15 – 70 % ). Tindakan yang dapat menyebabkan inversion uteri ialah perasat crede pada korpus uteri yang tidak berkontraksi baik dan tarikan pada tali pusat dengan plasenta yang belum lepas dari dinding uterus. Faktor Resiko Riwayat hemorraghe postpartum pada persalinan sebelumnya merupakan faktor resiko paling besar untuk terjadinya hemorraghe postpartum sehingga segala upaya harus dilakukan untuk menentukan keparahan dan penyebabnya. sehingga tundus uteri sebelah dalam menonjol kedalam kavum uteri. Inversio uteri dapat dibagi : .Korpus uteri yang terbalik sudah masuk kedalam vagina. . Beberapa faktor lain yang perlu kita ketahui karena dapat menyebabkan terjadinya hemorraghe postpartum : 1. 4. Pemeriksaan dalam dapat menunjukkan tumor yang lunak diatas servix uteri atau dalam vagina. Perpanjangan persalinan 21 . Trombocitopeni.Fundus uteri menonjol kedalam kavum uteri tetapi belum keluar dari ruang tersebut. Idiopathic thrombocytopenic purpura. . elevated liver enzymes. Thrombin : Kelainan pembekuan darah Gejala-gejala kelainan pembekuan darah bisa berupa penyakit keturunan ataupun didapat.Peristiwa ini terjadi tiba-tiba dalam kala III atau segera setelah plasenta keluar.

Pembengkakan dan nyeri pada jaringan daerah vagina dan sekitar perineum. Lakukan ekplorasi kavum uteri untuk mencari : a. sisa plasenta. Pada perdarahan yang terjadi setelah plasenta lahir perlu dibedakan sebabnya antara atonia uteri. Inspekulo : untuk melihat robekan pada cervix. penyebabnya haruslah diketahui dan ditatalaksana sesuai penyebabnya. Bila kontraksi uterus baik dilakukan eksplorasi untuk mengetahui adanya sisa plasenta atau laserasi jalan lahir. karena apabila umur kehamilan kurang dari 20 minggu disebut sebagai aborsi spontan. pucat. Perpanjangan pemberian oxytocin Diagnosis Pendarahan postpartum digunakan untuk persalinan dengan umur kehamilan lebih dari 20 minggu. nadi dan napas cepat. Kehamilan multiple 5. Injeksi Magnesium sulfat 6. Chorioamnionitis 4. Perdarahan hanyalah gejala. dan varises yang 22 . Sisa plasenta dan ketuban b. bila karena retensio plasenta maka perdarahan akan berhenti setelah plasenta lahir. timbul gejala penurunan tekanan darah. Robekan rahim c. sampai terjadi syok. Perdarahan yang tidak dapat dikontrol 2.Beberapa gejala yang bisa menunjukkan hemorraghe postpartum : 1. Atau dapat berupa perdarahan yang merembes perlahan-lahan tapi terjadi terus menerus sehingga akhirnya menjadi banyak dan menyebabkan ibu lemas ataupun jatuh kedalam syok.Pada perdarahan sebelum plasenta lahir biasanya disebabkan retensio plasenta atau laserasi jalan lahir. Palpasi uterus : bagaimana kontraksi uterus dan tinggi fundus uteri 2. extremitas dingin. Plasenta succenturiata 4.Pada perdarahan melebihi 20% volume total. Peningkatan detak jantung 4.Perdarahan postpartum dapat berupa perdarahan yang hebat dan menakutkan sehingga dalam waktu singkat ibu dapat jatuh kedalam keadaan syok.3.Berikut langkah-langkah sistematik untuk mendiagnosa perdarahan postpartum 1. Penurunan tekanan darah 3. atau trauma jalan lahir. vagina. Penurunan hitung sel darah merah ( hematocrit ) 5. Pada pemeriksaan obstretik kontraksi uterus akan lembek dan membesar jika ada atonia uteri. Memeriksa plasenta dan ketuban : apakah lengkap atau tidak 3.

Pemeriksaan laboratorium : bleeding time. dan bila memungkinkan sediakan donor darah dan dititipkan di bank darah. • Persalinan. Pemberian oxytocin selama kala tiga terbukti mengurangi volume darah yang hilang dan kejadian perdarahan postpartum sebesar 40%. ibu-ibu yang mempunyai predisposisi atau riwayat perdarahan postpartum sangat dianjurkan untuk bersalin di rumah sakit. Menangani anemia dalam kehamilan adalah penting. Pemasangan cateter intravena dengan lobang yang besar untuk persiapan apabila diperlukan transfusi. golongan darah. • • Kala tiga dan Kala empat Uterotonica dapat diberikan segera sesudah bahu depan dilahirkan. selama ataupun sesudah lahirnya plasenta bisa mengganggu kontraksi normal myometrium dan bahkan mempercepat kontraksi akan menyebabkan kehilangan darah yang berlebihan dan memicu terjadinya perdarahan postpartum. Usaha untuk mempercepat pelepasan tidak ada untungnya justru dapat 23 . Tindakan pencegahan tidak saja dilakukan sewaktu bersalin tetapi sudah dimulai sejak ibu hamil dengan melakukan antenatal care yang baik.Sangat dianjurkan pada pasien dengan resiko perdarahan postpartum untuk menabung darahnya sendiri dan digunakan saat persalinan. Massae yang berlebihan atau terlalu keras terhadap uterus sebelum. Pencegahan dan Manajemen 1. Di rumah sakit diperiksa keadaan fisik. • Pada umumnya plasenta akan lepas dengan sendirinya dalam 5 menit setelah bayi lahir. Study memperlihatkan penurunan insiden perdarahan postpartum pada pasien yang mendapat oxytocin setelah bahu depan dilahirkan. Hb. Clot Observation test dan lain-lain. Untuk pasien dengan anemia berat sebaiknya langsung dilakukan transfusi. Mencegah atau sekurang-kurangnya bersiap siaga pada kasus-kasus yang disangka akan terjadi perdarahan adalah penting. Hanya saja lebih baik berhati-hati pada pasien dengan kecurigaan hamil kembar apabila tidak ada USG untuk memastikan. keadaan umum. tidak didapatkan peningkatan insiden terjadinya retensio plasenta. Pencegahan Perdarahan Postpartum • Perawatan masa kehamilan. Setelah bayi lahir. kadar Hb. 5. • Persiapan persalinan. lakukan massae uterus dengan arah gerakan circular atau maju mundur sampai uterus menjadi keras dan berkontraksi dengan baik.pecah.

banyak yang menganjurkan dilakukan manual plasenta 30 menit setelah bayi lahir. Apabila sekarang didapatkan perdarahan adalah tidak ada alas an untuk menunggu pelepasan plasenta secara spontan dan manual plasenta harus dilakukan tanpa ditunda lagi. Luka trauma ataupun episiotomi segera dijahit sesudah didapatkan uterus yang mengeras dan berkontraksi dengan baik. dan tali plasenta terlihat bergerak keluar dari vagina.Terapi pada pasien dengan hemorraghe postpartum mempunyai 2 bagian pokok : a. • Lakukan pemeriksaan secara teliti untuk mencari adanya perlukaan jalan lahir yang dapat menyebabkan perdarahan dengan penerangan yang cukup. Manajemen penyebab hemorraghe postpartum : 1) Tentukan penyebab hemorraghe postpartum : • Atonia uteri Periksa ukuran dan tonus uterus dengan meletakkan satu tangan di fundus uteri dan lakukan massase untuk mengeluarkan bekuan darah di uterus dan vagina. tampak aliran darah yang keluar mendadak dari vagina. uterus terus di eksplorasi untuk mencari bagian-bagian kecil dari sisa plasenta. Untuk “ manual plasenta “ ada perbedaan pendapat waktu dilakukannya manual plasenta.menyebabkan kerugian. Pantau terus perdarahan. Selanjutnya plasenta dapat dikeluarkan dengan cara menarik tali pusat secra hati-hati. • • • Pemberian cairan : berikan normal saline atau ringer lactate Transfusi darah : bisa berupa whole blood ataupun packed red cell Evaluasi pemberian cairan dengan memantau produksi urine (dikatakan perfusi cairan ke ginjal adekuat bila produksi urin dalam 1jam 30 cc atau lebih) b. uterus terlihat menonjol ke abdomen. Resusitasi dan manajemen yang baik terhadap perdarahan pasien dengan hemorraghe postpartum memerlukan penggantian cairan dan pemeliharaan volume sirkulasi darah ke organ – organ penting. Pastikan dua kateler intravena ukuran besar untuk memudahkan pemberian cairan dan darah secara bersamaan apabila diperlukan resusitasi cairan cepat. kesadaran dan tanda-tanda vital pasien. Jika tidak didapatkan perdarahan. Apabila dalam pemeriksaan plasenta kesan tidak lengkap. Apabila terus teraba lembek 24 . Penatalaksanaan Tujuan utama pertrolongan pada pasien dengan perdarahan postpartum adalah menemukan dan menghentikan penyebab dari perdarahan secepat mungkin. Segera sesudah lahir plasenta diperiksa apakah lengkap atau tidak. Pelepasan plasenta akan terjadi ketika uterus mulai mengecil dan mengeras.

Lakukan kompres bimanual apabila perdarahan masih berlanjut. bersamaan pemberian uterotonica lakukan eksplorasi. penetalaksanaannya bisa dilakukan incise dan drainase. Lanjutkan dengan pemberian product darah pengganti (trombosit.Pengosongan kandung kemih bisa mempermudah kontraksi uterus dan memudahkan tindakan selanjutnya. pilihan berikutnya adalah ergotamine.dan tidak berkontraksi dengan baik perlu dilakukan massase yang lebih keras dan pemberian oxytocin. Jangan hentikan pemberian uterotonica selama dilakukan eksplorasi. Lakukan evaluasi perdarahan setelah penjahitan selesai. Lakukan eksplorasi jalan lahir untuk mencari perlukaan jalan lahir dengan penerangan yang cukup. 2) Terapi pembedahan 25 . sisa plasenta dan perlukaan jalan lahir disertai kontraksi uterus yang baik mak kecurigaan penyebab perdarahan adalah gangguan pembekuan darah. Setelah eksplorasi lakukan massase dan kompresi bimanual ulang tanpa menghentikan pemberian uterotonica. • Gangguan pembekuan darah Jika manual eksplorasi telah menyingkirkan adanya rupture uteri. Pemberian uterotonica jenis lain dianjurkan apabila setelah pemberian oxytocin dan kompresi bimanual gagal menghentikan perdarahan. cari dan lakukan ligasi untuk menghentikan perdarahan.fibrinogen). pastikan penjahitan dimulai diatas puncak luka dan berakhir dibawah dasar luka.Pemasangan tamponade uterrovaginal juga cukup berguna untuk menghentikan perdarahan selama persiapan operasi • Trauma jalan lahir Perlukaan jalan lahir sebagai penyebab pedarahan apabila uterus sudah berkontraksi dengan baik tapi perdarahan terus berlanjut. Beberapa ahli menganjurkan eksplorasi secepatnya. akan tetapi hal ini sulit dilakukan tanpa general anestesi kecuali pasien jatuh dalam syok. • Sisa plasenta Apabila kontraksi uterus jelek atau kembali lembek setelah kompresi bimanual ataupun massase dihentikan. Apabila hematom sangat besar curigai sumber hematom karena pecahnya arteri.Pemberian antibiotic spectrum luas setelah tindakan ekslorasi dan manual removal.Hematom jalan lahir bagian bawah biasanya terjadi apabila terjadi laserasi pembuluh darah dibawah mukosa.Apabila perdarahan masih berlanjut dan kontraksi uterus tidak baik bisa dipertimbangkan untuk dilakukan laparatomi. Lakukan reparasi penjahitan setelah diketahui sumber perdarahan. letakkan satu tangan di belakang fundus uteri dan tangan yang satunya dimasukkan lewat jalan lahir dan ditekankan pada fornix anterior.

Begitu masuk.5 menit b. Laparatomi Pemilihan jenis irisan vertical ataupun horizontal (Pfannenstiel) adalah tergantung operator.  Histerektomi Merupakan tindakan kuratif dalam menghentikan perdarahan yang berasal dari uterus. pilihan berikutnya adalah histerektomi. Onset dalam 2 hingga 5 menit 26 . servix. Intravena : 40 units/liter at 250 cc/hour 2. Ergotamine ( Methergine ) a. -Ligasi arteri iliaca interna. Pemasangan drainase apabila perlu. b. Pitocin a. Reparasi tergantung tebal tipisnya rupture. Onset antara 3 . hal ini disebabkan subtotal histerektomi tidak begitu efektif menghentikan perdarahan apabila berasal dari segmen bawah rahim. Tidak ada gangguan aliran menstruasi dan kesuburan. Pastikan reparasi benarbenar menghentikan perdarahan dan tidak ada perdarahan dalam karena hanya akan menyebabkan perdarahan keluar lewat vagina.2 mg IM atau PO setiap 6-8 jam b. Dosis : 0. Prosedur sederhana dan efektif menghentikan perdarahan yang berasal dari uterus karena uteri ini mensuplai 90% darah yang mengalir ke uterus.  Ligasi arteri a. -Ligasi arteri ovarii. fornix vagina. Total histerektomi dianggap lebih baik dalam kasus ini walaupun subtotal histerektomi lebih mudah dilakukan. Ligasi uteri uterine. Apabila tidak berhasil menghentikan perdarahan. Efektif mengurangi perdarahan yany bersumber dari semua traktus genetalia dengan mengurangi tekanan darah dan circulasi darah sekitar pelvis. Apabila setelah pembedahan ditemukan uterus intact dan tidak ada perlukaan ataupun rupture lakukan kompresi bimanual disertai pemberian uterotonica. Referensi pemberian uterotonika : 1. Intramuskular : 10-20 units c. Mudah dilakukan tapi kurang sebanding dengan hasil yang diberikan c. bersihkan darah bebas untuk memudahkan mengeksplorasiuterus dan jaringan sekitarnya untuk mencari tempat rupture uteri ataupun hematom.

Y ini yang utama adalah untuk mengembalikan keadaan umumnya dan mengobati anemia defisiensi besi yang dialami olehnya selain pengobatan perdarahan postpartum. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa pasien ini mengalami anemia dan perdarahan postpartum. prognosis bagi pasien ini adalah baik.25 mg Intramuskular atau intramiometrium b. Misoprostol 600 mcg PO atau PR17 BAB V KESIMPULAN Berdasarkan dari anamnesis.c. 27 . Administer every 15 minutes to maximum of 2 mg 4. Penanganan yang dilakukan pada Ny. Onset < 5 menit c. Prostaglandin ( Hemabate ) a. Kontraindikasi   Hipertensi Pregnancy Induced hypertntion Hipersensitivitas  3. Dosing : 0. Apabila keadaan ini dapat ditangani dengan adekuat.

Edisi 9. Jakarta 2.. 28 .. PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. vol.2009. Pernoll LM.BAB VI DAFTAR PUSTAKA 1. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Saifuddin A.1994. Gary F. Jakarta. Benson CR. ed .21. Buku Saku Obstetric dan Ginekologi.4. Cunningham. 3. ed. et al. Obstetri Williams. Ilmu Kebidanan. Penerbit Buku Kedokteran ECG. Rachimhadhi T.2. 2004. Wiknjosastro G.

p 298 29 . Iron deficiency anemia at http://emedicine. Oats J. 6. 2005.Perdarahan Postpartum. accessed on 31 January 2011 .com/article/202333-overview. 5. 8th ed.medscape. Educational bulletin no. Abraham S. Jakarta : EGC. Elsevier Mosby . Rustam Mochtar. Sinopsis Obstetri. 7.4. January 1998. American College of Obstetricions and Gynecologist : Postpartum hemorrhage. 1998. p187-9. Prof. Philadhelphia.243. MPH. Fundamentals of Obstetric and Gynaecology. Ed 2. Dr.