PENGARUH INDEKS HARGA KONSUMEN (CONSUMER PRICE INDEX), INDEKS HARGA PERDAGANGAN (WHOLE SALE PRICE INDEKS), TERHADAP

INFLASI

MOHAMMAD LUKMAN HAKIM
(Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan FEB UIN Syarif Hidayatulaah Jakarta) Email : Mohammadlukman336@yahoo.com Pembimbing Tony S. Chendrawan, ST., SE., M.Si

Abstract The purpose of this study was to examine the association index number with the Indonesian economy, especially in the price of staple items that can determine the increase or decrease in the price of goods. This study were drawn from the rising prices of basic goods in 2003 to 2012 in the BPS. as well as whole sale price index data is useful for measuring changes in the price of ten periods. Measured in the whole sale price index are raw materials and finished goods are bought and sold in the primary market and the price used is the price the manufacturer, and the consumer price index measured by the purchasing power of the price that can lead to national inflation. Keywords: MOHAMMAD LUKMAN HAKIM (1111084000005), CONSUMER PRICE INDEX, WHOLE SALE PRICE INDEX, INFLATION.

I.

PENDAHULUAN

2. Indeks Harga Besar(IHPB)

Perdagangan

Indeks harga yang lazim digunakan untuk menghitung laju inflasi antara lain sebagai berikut: 1. Indeks Harga Besar(IHPB) Perdagangan

Perhitungan Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) menggunakan data Harga Perdagangan Besar (HPB),mencakup barang – barang perdagangan dalam jumlah besar (grosir) yang terdiri atas 5 (lima) macam, yaitu hasil pertanian,hasil pertambangan,hasil industri,impor dan ekspor. Indeks Harga Perdagangan Besar(IHPB) berguna untuk melihat perkembangan perekonomian secara nasional.

Indeks Harga Konsumen (IHK) dihitung dengan menggunakan data Harga Konsumen (HK). Harga Konsumen (HK) adalah harga barang – barang yang diperdagangkan dalam eceran untuk dikonsumsi sendiri,bukan untuk dijual. Harga Konsumen (HK) di ambil dari data 4 (empat) kelompok yaitu,makanan,perumahan,sandang, dan aneka barang dan jasa. Dari data Harga Konsumen (HK) diolah pula Indeks Bahan Pokok (IBP), yang terdiri dari beras,ikan asin,minyak goring,gula pasir,minyak tanah,sabun cuci,tekstil dan batik. Indeks Harga Konsumen (IHK) di gunakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai indikator inflasi di Indonesia. Data Indeks harga konsumen dan Indeks harga produsen dan laju inflasi di Indonesia dari Tahun 2003 sampai 2013 Tabel 1.1

“Jurnal Ekonomi Moneter”, JURUSAN ILMU EKONOMI STUDI PEMBANGUNAN FEB UIN SYARIF HIDAYATULLAHJAKARTA Page 1

Indeks harga konsumen (cunsomer price index), indeks harga perdagangan (whole sale price indeks) dan laju inflasi pada tahun 20032012 TAHUN 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Inflasi 5.06 6.4 17.11 6.6 6.59 11.06 2.78 6.96 3.79 4.3 IHK 3355 1359 1501.1 1697.8 1806.1 1592.7 1380.7 1451.6 1529.4 1594.8 IHPB 122 131 151 172 195 246 163 171 183 193

yang akhirnya memaksa Pemerintah untuk menaikkan harga BBM pada bulan Mei 2008 memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap tingkat inflasi, walaupun efek kenaikan harga BBM tersebut sudah tidak signifikan lagi pada bulan Juli 2008. Selain itu, meningkatnya harga komoditas pangan dunia (kebutuhan bahan pangan impor seperti kedelai, jagung dan terigu), sejak akhir tahun 2007 yang otomatis meningkatkan biaya pokok produksi perusahaan juga memberikan kontribusi angka inflasi yang sangat besar. Hal-hal lain seperti kelangkaan sumber energi baik gas maupun minyak di berbagai daerah maupun kekurangan suplai listrik yang mengharuskan terjadinya pemadaman juga berperan meningkatkan inflasi karena mendorong pembengkakan biaya produksi.

Sumber: BPS dan Tahun 2003-2013 (diolah kembali)

II.

KERANGKA TEORITIS TINJAUAN PUSTAKA 1.1.

DAN

Berdasarkan data tersebut laju inflasi di Indonesia mulai menurun sejak tahun tertinggi terjadinya inflasi di Tahun 2005 yaitu 11.06 lalu diikuti turun sampai tahun 2007 sebesar 6.59 persen. Akan tetapi laju inflasi kembali naik setelah sesaat turun di tahun 2007, pada tahun 2008 sebesar 11.06 persen dan IHK mulai turun sebesar 1592.7 dan IHPB sebesar 246. Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi dari Januari 2008 sampai dengan Juli 2008 sebesar 8,85 persen dan inflasi year on year periode Juli (2007-2008) sebesar 11,9 persen. Hal ini menunjukkan bahwa realisasi inflasi sampai dengan bulan Juli 2008 telah melebihi target yang ditetapkan Pemerintah. Inflasi dapat timbul karena adanya tekanan dari sisi penawaran (cost push inflation), dari sisi permintaan (demand pull inflation). Penyumbang inflasi terbesar pada tahun 2008 ini adalah lebih banyak dari sisi cost push inflation. Meningkatnya harga minyak dunia

Indeks Harga Konsumen (berisi teori-teori/konsep tentang Consumer Price Index)

INDEKS HARGA KONSUMEN (Consumer Price Index, CPI) Menurut B. Barsky dlam N. Gregory Mankiw (2005;30), ukuran mengenai tingkat harga yang paling banyak digunkan adalah indeks harga konsumen (IHK) atau consumer price Indeks (CPI). Indeks Harga Konsumen adalah indeks harga yang paling sering dipakai, tetapi bukan satu-satunya indeks.Masih ada indeks harga produsen, yang mengukur harga sekelompok barang yang dibeli perusahaan, bukan konsumen. Selain indeks harga keseluruhan,Biro Statistik Tenaga Kerja juga menghitung indeks harga untuk jenis-jenis barang tertentu, seperti makanan, perumahan dan energy. Sedangkan CPI adalah harga sekelompok barang dan jasa

“Jurnal Ekonomi Moneter”, JURUSAN ILMU EKONOMI STUDI PEMBANGUNAN FEB UIN SYARIF HIDAYATULLAHJAKARTA Page 2

relative terhadap sekelompok barang dan jasa yang sama pada tahun dasar. Indeks harga konsumen adalah ukuran yang paling dicermati. Dalam N. Gregory Mankiw (2004;446), indeks harga konsumen adalah suatu ukuran keseluruhan biaya yang harus dibayar oleh seorang konsemen guna memperoleh barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Indeks harga konsumen menunjukkan biaya sekeranjang belanjaan barang dan jasa disuatu waktu dibandingkan dengan harga atau biayanya pada tahun dasar.Indeks ini digunakan untuk mengukur keseluruhann tingkat harga dalam suatu perekonomian.Persentase perubahan indeks harga konsumen inilah yang disebut tingkat inflasi. IHK bukan merupakan ukuran yang sempurna atas biaya hidup karena tiga alas an. Pertama, indeks ini tidak meperhitungkan kemampuan konsumen melakukan subtitusi atau penggantian konsumsi kebarang atau jasa yang menjadi relative murah seiring dengan perjalanan waktu.Kedua, indeks ini juga mempehitungkan peningkatan daya beli uang sehubungan dengan adanya produk-produk baru.Ketiga, indeks harga konsumen jugatidak sepenuhnya mampu memperhitungkan perubahan kualitas barang dan jasa.Akibat adanya kelemahan-kelemahan ini. CPI cenderung menerepakan inflasi tahunan sekitar 1 persentase poin lebih tinggi dari pada yang sebenarnya.

satu indikator untuk melihat perkembangan perekonomian secara umum serta sebagai bahan dalam analisa pasar dan moneter, dan disajikan dalam bentuk indeks umum dan juga sektoral yang meliputi pertanian, pertambangan dan penggalian, industri, impor, dan ekspor.Jumlah besar artinya tidak atau bukan eceran.Di sini memang sulit untuk menentukan tentang batasan jumlah besar di dalam suatu perdagangan, karena biasanya dilihat dari dua matra yang kadang-kadang tidak selalu bisa dipertemukan. Matra yang dimaksud adalah kuantitas dan nilai,pengertian jumlah besar tidak bisa diukur dengan kuantitas karena kuantitas yang besar belum tentu menjamin tingkat perdagangan besar. (http://sirusa.bps.go.id/index.php?r=istilah/vie w&id=2347)

1.3.

Inflasi (berisi teoriteori/konsep tentang Inflasi)

1.2.

Indeks Harga Perdagangan (berisi teori-teori/konsep tentang Whole Sale Price Index)

Teori Inflasi Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang yang kadangkala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga. Walaupun analisis ekonomi dan kebijakan ekonomi terhadap inflasi sejak tahun 1970-an dapat dibedakan menjadi dua kelompok aliran, yakni Keynesian dan Monetaris namun dalam beberapa literatur disebutkan versi yang berbeda, dimana aliran inflasi dibagi menjadi, Klasik, Keynesian, Moneterisme, dan Ekspektasi. 1. Teori Inflasi Klasik Teori ini berpendapat bahwa tingkat harga terutama ditentukan oleh jumlah uang beredar, yang dapat dijelaskan melalui hubungan antara nilai uang dengan jumlah uang, serta nilai uang dan harga. Bila jumlah uang bertambah lebih cepat dari pertambahan barang maka nilai uang akan merosot dan ini sama dengan

Indeks harga perdagangan besar adalah indeks yang mengukur rata-rata perubahan harga antarwaktu dari suatu paket jenis barang pada tingkat perdagangan besar atau penjualan secara partai besar.Indeks harga ini merupakan salah

“Jurnal Ekonomi Moneter”, JURUSAN ILMU EKONOMI STUDI PEMBANGUNAN FEB UIN SYARIF HIDAYATULLAHJAKARTA Page 3

kenaikan harga. Jadi menurut Klasik, inflasi berarti terlalu banyak uang beredar atau terlalu banyak kredit dibandingkan dengan volume transaksi maka obatnya adalah membatasi jumlah uang beredar dan kredit. Pendapat Klasik tersebut lebih jauh dapat dirumuskan sebagai berikut : Inflasi = f(jumlah uang beredar, kredit) 2. Teori Inflasi Keynes Teori ini mengasumsikan bahwa perekonomian sudah berada pada tingkat full employment. Menurut Keynes kuantitas uang tidak berpengaruh terhadap tingkat permintaan total, karena suatu perekonomian dapat mengalami inflasi walaupun tingkat kuantitas uang tetap konstan. Jika uang beredar bertambah maka harga akan naik. Kenaikan harga ini akan menyebabkan bertambahnya permintaan uang untuk transaksi, dengan demikian akan menaikkan suku bunga. Hal ini akan mencegah pertambahan permintaan untuk investasi dan akan melunakkan tekanan inflasi. Analisa Keynes mengenai inflasi permintaan dirumuskan berdasarkan konsep inflationary gap. Menurut Keynes, inflasi permintaan yang benar-benar penting adalah yang ditimbulkan oleh pengeluran pemerintah, terutama yang berkaitan dengan peperangan, program investasi yang besar-besaran dalam kapital sosial. Dengan demikian pemikiran Keynes tentang inflasi dapat dirumuskan menjadi : Inflasi = f(jumlah uang beredar, pengeluaran pemerintah, suku bunga, investasi). 3. Teori Inflasi Moneterisme Teori ini berpendapat bahwa, inflasi disebabkan oleh kebijaksanaan moneter dan fiskal yang ekspansif, sehingga jumlah uang beredar di masyarakat sangat berlebihan. Kelebihan uang beredar di masyarakat akan menyebabkan terjadinya kelebihan permintaan barang dan jasa di sektor riil. Menurut golongan moneteris, inflasi dapat diturunkan dengan

caramenahan dan menghilangkan kelebihan permintaan melalui kebijakan moneter dan fiskal yang bersifat kontraktif, atau melalui kontrol terhadap peningkatan upah serta penghapusan terhadap subsidi atas nilai tukar valuta asing. Sehingga teori inflasi menurut Moneterisme dapat dinotasikan sebagai berikut : Inflasi = f(kebijakan moneter ekspansif, kebijakan fiskal ekspansif) 4. Teori Ekspektasi Menurut Dornbusch, bahwa pelaku ekonomi membentuk ekspektasi laju inflasi berdasarkan ekspektasi adaptif dan ekspektasi rasional. Ekspektasi rasional adalah ramalan optimal mengenai masa depan dengan menggunakan semua informasi yang ada. Pengertian rasional adalah suatu tindakan yang logis untuk mencapai tujuan berdasarkan informasi yang ada. Artinya secara sederhana teori ekspektasi dapat dinotasikan menjadi : Inflasi = f(ekspektasi adaftif,ekspektasi rasional) 5. Teori Strukturalis Adalah teori mengenai inflasi yang didasarkan atas pengalaman di negara Amerika Latin.Teori ini memberi tekanan pada ketegaran (rigidities) dari struktur perekonomian yang sedang berkembang.Karena inflasi dikaitkan dengan faktor-faktor struktural dari perekonomian (faktor-faktor ini hanya bisa berubah secara gradual dan dalam jangka panjang) maka teori ini disebut juga teori inflasi jangka panjang.

1.4.

Kerangka Pemikiran (teori dan diagram kerangka pemikiran)

Kerangka berfikir merupakan alur pemikiran seseorang dalam memahami masalah yang sedang dipahami saat ini.Hal ini dapat

“Jurnal Ekonomi Moneter”, JURUSAN ILMU EKONOMI STUDI PEMBANGUNAN FEB UIN SYARIF HIDAYATULLAHJAKARTA Page 4

dijadikan contoh untuk memecahkan masalah yang sedang diteliti secara logis dan matematis. Kerangka berfikir penelitian yang sedang dipahami pada Analisis Pengaruh IHK dan IHPB terhadapInflasi di Indonesia Tahun 2003-2012 adalah sebagai berikut: Inflasi Kenaikan harga-harga bukanlah semata karena pengaruh teknologi, sifat-sifat barang maupun karena pengaruh ketika menjelang hari besar, tetapi karena adanya pengaruh inflasi yang pada umumnya berlangsung dalam jangka waktucukup lama. “Pengukuran atau yang disebut dengan indikator inflasi dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan, yaitu: 1. Indeks Harga Konsumen (IHK/ Consumen Price Index) 2. Indeks Harga Peradagangan Besar (IHPB/Whole Sale Price Index).” “klasifikasi inflasi berdasarkan jenisnya meliputi beberapa hal di bawah ini:  Inflasi berdasarakan sebab terjadinya: a. Inflasi yang timbul karena permintaan masyarakat yang terlalu berlebihan terhadap suatubarang dan jasa (demandfull inflation). b. Inflasi yang disebabkan oleh kenaikan biaya produksi (Cost Push Inflation). Penyebab inflasi dapat dikategorikan sebagai berikut: a. Demand full inflation, inflasi yang disebabkan oleh adanyapeningkatan permintaan sehingga timbul inflation gap. b. Wage cost-push inflation, yaitu inflasi yang disebabkankenaikan upah buruh atau harga barang. c. Import cost-push inflation, yaitu inflasi yang disebabkan olehkenaikan harga impor sehingga menyebabkan kenaikan hargadomestik.

d. Expectational inflation, yaitu inflasi yang disebabkan hargadan upah yang naik akibat adanya dugaan bahwa inflasi akanterus berlangsung. e. e. Intertial inflation, yaitu inflasi yang disebabkan oleh penentuharga dan upah yang menacu pada pesaingnya dan bersifathati-hati dalam menentukan upah dan harga yang ditentukan.  Inflasi berdasarkan besarnya: a. Inflasi ringan (dibawah 10% setahun) b. Inflasi sedang (antara 10%-30% setahun) c. Inflasi berat (antara 30%-100% setahun) d. Inflasi sangat berat/Hyper Inflation (di atas 100% setahun)  Inflasi berdasarkan asalnya: a. Inflasi yang berasal dari dalam negeri (domestic inflation). b. Inflasi yang berasal dari luar negeri (imported inflation).”(Boediono, dalam bukunya yang berjudul “Ekonomi Moneter”1996; 96) Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
Indeks Harga Konsumen (IHK/ Consumen Price Index) Indeks Harga Peradagangan Besar (IHPB/Whole Sale Price Index)

Inflasi (Inflation)

“Jurnal Ekonomi Moneter”, JURUSAN ILMU EKONOMI STUDI PEMBANGUNAN FEB UIN SYARIF HIDAYATULLAHJAKARTA Page 5

1.5.

Hipotesis

Berdasarkan kerangka pemikiran yang telah dikemukakan, maka dibuatlah hipotesis sebagai berikut.

Analisi regresi digunakan untuk mengetahui hunbungan antara suatu variabel dependen dengan variabel independen. Dalam dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda dengan menggunakan persamaan sebagai berikut : Y = β0 + β1X1 + β2X2 + ε Keterangan : Y = Inflasi X1 = IHK X2 = IHPB ε = Error β0 = Konstanta PENGUJIAN ASUMSI KLASIK 1. Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan untuk melihat apakah variabel bebas dan variabel terikat mempunyai distribusi normal. Maksud data distribusi normal adalah data akan mengikuti arah garis diagonal dan menyebar disekitar garis diagonal. Menurut Suliyanto (2011:70), uji normalitas dimaksudkan untuk menguji apakah nilai residual yang telah distandarisasi pada model regresi berditribusi normal atau tidak. Nilai residual dikatakan berdistribusi normal jika residual nilai residual terstandarisasi tersebut sebagian besar mendekati nilai rata-ratanya. Nilai residual terstandarisasi yang berdistribusi normal jika digambarkan dalam bentuk kurva akan membentuk gambar lonceng (bell-shaped curve) yang kedua sisinya melebar hingga sampai tidak terhingga. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan uji normalitas dengan analisis grafik. Adapun dasar pengambilan keputusan dalam uji ini adalah sebagai berikut: 1) Histogram Jika Histogram Standardized Regression Residual membentuk kurva seperti

H0 = β1 = β2 : Tidak ada pengaruh yang
signifikan antara IHK dan IHPB terhadap laju Inflasi pada tahun 2003-2012. H1 = β1 ≠ β2 ≠ 0 : Terdapat pengaruh yang signifikan antara IHK dan IHPB terhadap laju Inflasi pada tahun 2003-2012. Kaidah keputusan dengan taraf nyata 5% sebagai berikut :  H0 diterima jika Fhitung < Ftabel  H0 ditolak jika Fhitung > Ftabel

III.

DAN TINJAUAN PUSTAKA METODOLOGI

Data yang digunakan dalam studi ini merupakan data sekunder berbentuk data time series tahunan. Data yang digunakan meliputi data IHK, IHPB dan Inflasi yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik. Penelitian ini menggunakan metode analisis regresi bergandaOrdinary Least Square dengan menggunakan program komputer (software) Eviews 7 dengan persamaan sebagai berikut : Statistik Deskriptif Statistik deskriptif berhubungan dengan pengumpulan dan peringkasan data serta penyajiannya yang biasanya disajikan dalam bentuk tabulasi baik secara grafik dan atau numerik. Statistik deskriptif memberikan gambaran suatu data yang dilihat dari nilai ratarata (mean), standar deviasi, nilai maksimum dan minimum (Ghozali, 2011:19) 1)

2)

Regresi Berganda

“Jurnal Ekonomi Moneter”, JURUSAN ILMU EKONOMI STUDI PEMBANGUNAN FEB UIN SYARIF HIDAYATULLAHJAKARTA Page 6

lonceng maka nilai residual tersebut dinyatakan normal. 2) Jarque-Bera Jarque-Bera adalah uji statistic untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal.Uji ini mengukur perbedaan skewness dan kurtosis data dan dibandingkan dengan apabila datanya bersifat normal. Berikut adalah rumus yang digunakan untuk menghitung Jarque-Bera Jarque-Bera = N –k,S
2

probabilitasnya lebih kecil dari α=5% maka dapat disimpulkan bahwa data tersebut bersifat heteroskadastisitas.WingW. Winaryo,(2011:5.16). 3. Autokorelasi Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1.Uji autokorelasi bertujuan untuk mengetahui apakah ada korelasi antara anggota serangkaian data observasi yang diuraikan menurut waktu (timeseries) atau ruang (cross section). Salah satu penyebab munculnya masalah autokorelasi adalah adanya kelembaman (inertia) artinya kemungkinan besar akan mengandung saling ketergantungan (interdependence) pada data observasi periode sebelumnya dan periode sekarang (Suliyanto, 2011:125). Dalam penelitian ini untuk mengetahui apakah terjadi autokorelasi atau tidak maka dilakukan identifikasi dengan menggunakan Uji Durbin Watson, Menurut Winarno,(2011:5.28) apabila nilai Durbin Watson berada diantara 1,54 dan 2,46 maka tidak tidak ada autokorelasi. Dengan demikian berdasarkan ketentuan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa model dalam penelitian tidak mengandung autokorelasi. Pengujian Hipotesis Dalam melakukan pengujian hipotesis, penulis memakai α = 5% (0,05) atau tingkat kepercayaan 95%. Metode pengujian hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: i. Uji t Menurut Nachrowi & Usman (2006:18) setelah melakukan uji koefisien regresi secara keseluruhan, maka langkah selanjutnya adalah menghitung koefisien regresi secara individu, dengan menggunakan suatu uji yang dikenal dengan sebutan Uji-t.Menurut singgih santoso (2007:225) Uji t digunakan untuk menguji signifikasi konstanta dan setiap variabel

+ (K–3)

2

6 4 S adalah skewness, K adalah kurtosis, dan k menggambarkan banyaknya koefisien yang digunakan dalam persamaan. Dengan H0 pada data berdistribusi normal, uji Jarque-Bera didistribusi dengan X2dengan derajat bebas (degree of freedom) sebesar 2.Probability menunjukan kemungkinan nilai Jarque-Bera melebihi (dalam nilai Absolut) nilai terobservasi di bawah hipotesis nol. Nilai probilitas yang kecil cenderung mengarahkan pada penolakan hipotesis nol distribusi normal. Pada angka Jarque-Bera diatas sebesar 0,8637 (lebih besar dari 5%), kita tak dapat menolak H0 bahwa data berdistribusi normal. Wing Wahyu Winaryo, (2011:5.37). 2. Uji Heteroskedastisitas Heteroskedastisitas yaitu kondisi dimana semua residual atau error mempunyai varian yang tidak konstan atau berubahubah.Untuk mengetahui apakah suatu data bersifat heteroskedastisitas atau tidak, maka perlu pengujian.Pengujian heteroskedastisitas pada penelitian ini menggunakan metode Analisis Grafik dan metode uji White. Uji White menggunakan residual kuadrat sebagai variable dependen, dan variable independennya terdiri dari atas variable independen yang sudah ada, ditambah dengan kuadrat variable independen, jika nila

“Jurnal Ekonomi Moneter”, JURUSAN ILMU EKONOMI STUDI PEMBANGUNAN FEB UIN SYARIF HIDAYATULLAHJAKARTA Page 7

independen. Menurut Suliyanto (2011:55), nilai t hitung digunakan untuk menguji pengaruh secara parsial (per variabel) terhadap terikatnya. Apakah variabel tersebut memiliki pengaruh yang berarti terhadap variabel terikatnya atau tidak.Uji t digunakan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh masing-masing variabel independen secara individual (parsial) terhadap variabel dependen yang diuji pada tingkat signifikasi 0.05 maka variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen (Ghozali, 2011). Jika nilai probability t lebih besar dari 0,05 maka tidak ada pengaruh dari variabel independen terhadap variabel dependen (koefisien regresi tidak signifikan). Sedangkan jika nilai probability t lebih kecil maka koefisien regresi signifikan. Riduwan Engkos,(2007:118). ii. Uji Koefisien Determinasi (R2) Koefisien Determinasi (R2) bertujuan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan variabel independen menjelaskan variabel dependen. Nilai R square berada diantara 0 – 1, semakin dekat nilai R square dengan 1 maka garis regresi yang digambarkan menjelaskan 100% variasi dalam Y. Sebaliknya, jika nilai R square sama dengan 0 atau mendekatinya maka garis regresi tidak menjelaskan variasi dalam Y. Menurut Suliyanto (2011:55), koefisien determinasi merupakan besarnya kontribusi variabel bebas terhadap variabel terikatnya. Semakin tinggi koefisien determinasi, semakin tinggi kemampuan variabel bebas dalam menjelaskan variasi perubahan pada variabel terikatnya. Koefisien determinasi memiliki kelemahan, yaitu bias terhadap jumlah variabel bebas yang dimasukkan dalam model regresi di mana setiap penambahan satu variabel bebas dan jumlah pengamatan dalam model akan meningkatkan nilai R2 meskipun variabel yang dimasukkan tersebut tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikatnya. Untuk mengurangi kelemahan tersebut maka

digunakan koefisien determinasi yang telah disesuaikan, Adjusted R Square (R2adj). Koefisien determinasi yang telah disesuaikan(R2adj) berarti bahwa koefisien tersebut telah dikoreksi dengan memasukkan jumlah variabel dan ukuran sampel yang digunakan. Dengan menggunakan koefisien determinasi yang disesuaikan maka nilai koefisien determinasi yang disesuaikan itu dapat naik atau turun oleh adanya penambahan variabel baru dalam model.

iii. Pengujian Koefisien Regresi Secara Serentak (Uji F-Statistik) Uji-F digunakan untuk mengetahui tingkat signifikansi pengaruh variable bebas secara serentak terhadap variabel tidak bebas. Adapun pengujiannya dilakukan dengan rumus sebagai berikut (Gujarati 1999):

F=

F R2

= Nilai F hitung = Koefisien determinan (R-Square) K = Banyaknya variabel dalam penelitian N = Banyaknya sampel Dengan derajat kebebasan (df) = (k-1)(n-1) dan tingkat keyakinan 95% atau α = 0,05. Kriteria Pengujian: F hitung ≤ F tabel, artinya variabel bebas (independent variable) yang bekerja secara bersama-sama tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel tidak bebasnya (dependent variable). F hitung > F tabel, artinya variabel bebas (independent variable) yang bekerja secara bersama-sama berpengaruh secara signifikan terhadap variabel tidak bebasnya (dependent variable).

“Jurnal Ekonomi Moneter”, JURUSAN ILMU EKONOMI STUDI PEMBANGUNAN FEB UIN SYARIF HIDAYATULLAHJAKARTA Page 8

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

N

Infl asi

10

10

10

Dari hasil penelitian data IHK dan IHPB terhadap inflasi tahun 2003-2012 dengan menggunakan metode regresi sederhana dan menggunakan perangkat lunak SPSS versi 17 diperoleh hasil sebagai berikut:
Descriptive Statistics Mean Inflasi IHK IHPB 7.0650 1726.8200 172.7000 Std. Deviation 4.19668 588.24370 35.38063 N 10 10 10

IHK IHP B

10 10

10 10

10 10

Dalam tabel Correlations, diketahui bahwa menurut cara Pearson; jika variabel Inflasi mengalami kenaikan sejumlah 1 unit maka akan berpengaruh -.150unit bagi variabel IHK dan .109 unit bagi variable IHPB. Demikian pula jika variabel Inflasi 1 unit, maka akan berpengaruh -.150unit bagi variabel IHK dan .109 unit bagi variable IHPB.
Variables Entered/Removed
b

Dari tabel Descriptive Statistics, maka diketahui bahwa rata-rata Inflasi adalah 7.0650 dengan standar deviasi 4.19668. Sedangkan ratarata IHK adalah 1726.8200 dan IHPB 172.7000 dengan standar deviasi IHK adalah 588.14370 sedangkan IHPB adalah 35.38063.

Model

Variables Entered

Variables Removed Method . Enter

1
d i

IHPB, IHK

a

m

e

n

s

i

Correlations

o

n

0

Inflasi Pearson Correlation Infl asi IHK IHP B Sig. (1-tailed) Infl asi IHK IHP B .340 .382 . -.150 .109 1.000

IHK -.150

IHPB .109

a. All requested variables entered. b. Dependent Variable: Inflasi

1.000 -.380

-.380 1.000

Dari tabel Variables Entered/Removed, menunjukkan variabel yang dimasukkan adalah IHPB dan IHK, sedangkan variabel yang dikeluarkan tidak ada.

.340

.382

. .139

.139 .

“Jurnal Ekonomi Moneter”, JURUSAN ILMU EKONOMI STUDI PEMBANGUNAN FEB UIN SYARIF HIDAYATULLAHJAKARTA Page 9

Model Summary Model R Squar R
d

b

a. Predictors: (Constant), IHPB, IHK

Adjusted R Square -.253

Std. Error of the Estimate 4.69736

b. Dependent Variable: Inflasi

e
a

1

.160

.026

i

m

e

n

s

i

Berdasarkan tabel Anova, diketahui bahwa besar signifikansi regresi sebesar 0.913.Nilai F hitung sebesar 0.092. Maka dapat diketahui bahwa, berdasarkan nilai Signifikan 0.913 berarti probabilitas 0.913 tidak lebih besar dari 0.05 maka Ho diterima, maka model regresi tidak dapat dipakai untuk memprediksi Inflasi.

o

n

0

a. Predictors: (Constant), IHPB, IHK b. Dependent Variable: Inflasi Model

Coefficients

a

Dari tabel Model Summary (Model Sisaan) angka R Square adalah0.026 yaitu hasil kuadrat dari koefisien korelasi (0.160 X 0.160 = 0.026).Nilai Standard Error of Estimate adalah 4.69736.Pada standar deviasi Inflasi4.19668, jauh lebih besar dari standar error.Oleh karena lebih kecil dari standar deviasi, maka model regresi bagus dalam bertindak sebagai predictor variabel tetap yaitu Inflasi.

Standar dized Unstandardized Coeffici Coefficients Std. B Error Beta t Sig. ents

1

(Cons tant) IHK

7.370 11.245

.655 .533

-.001

.003

-.126

.313

.763

ANOVA Model Sum of Square s 1 Regre ssion Resid ual Total 154.45 6 158.50 9 9 7 4.053 df 2

b

IHPB

.007

.048

.061

.151 .884

a. Dependent Variable: Inflasi Mean Square 2.026 F .092 Sig. .913
a

22.065

Dari tabel Coefficience diketahui bahwa besarnya nilai t test IHK sebesar -0.313dan IHPB sebesar 0.151sedangkan besarnya signifikansi IHK 0.763 dan IHPB 0.884 lebih besar dari 0,05. Dengan demikian H0 diterima yang berarti tidak ada pengaruh variabel IHK dan IHPB terhadap Inflasi. Dan dari tabel Coefficient di atas, kolom B pada Constant (a)

“Jurnal Ekonomi Moneter”, JURUSAN ILMU EKONOMI STUDI PEMBANGUNAN FEB UIN SYARIF HIDAYATULLAHJAKARTA Page 10

adalah 7.370sedangkan IHK IHPB adalah 0.007

adalah-0.001dan

Dalam kurva kelinieran diatas, dapat terlihat bahwa sebaran data sebagian besar tidak terdapat dalam sumbu normal, maka dapat dikatakan bahwa pernyataan normalitas tidak dapat dipenuhi.

V.

KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian dan menurut teori yang telah dikemukakan maka dapat di ambil kesimpulan bahwa di Indonesia Pengaruh Inflasi tidak hanya di pengaruhi oleh IHK dan IHPB saja teapi banyak faktor yang menyebabkan tejadinya inflasi.Dari penelitian diketahui bahwa IHK dan IHPBdi Indonesia memiliki pengaruh positif terhadap laju Inflasi. Dikarenakan IHK dan IHPB memiliki tujuan mempengaruhi laju Inflasi dan naik turunnya serta cepat atau lambatnya pertumbuhan inflasi di indonesia. Bila harga secara umum naik terus-menerus maka masyarakat akan panik, sehingga perekonomian tidak berjalan normal, karena

disatu sisi ada masyarakat yang berlebihan uang memborong sementara yang kekurangan uang tidak bisa membeli barang akibatnya negara rentan terhadap segala macam kekacauan yang ditimbulkannya, Sebagai akibat dari kepanikan tersebut maka masyarakat cenderung untuk menarik tabungan guna membeli dan menumpuk barang sehingga banyak bank di rush akibatnya bank kekurangan dana berdampak pada tutup (bangkrut ) atau rendahnya dana investasi yang tersedia,Produsen cenderung memanfaatkan kesempatan kenaikan harga untuk memperbesar keuntungan dengan cara mempermainkan harga dipasaran.Distribusi barang relative tidak adil karena adanya penumpukan dan konsentrasi produk pada daerah yang masyarakatnya dekat dengan sumber produksi dan yang masyarakatnya memiliki banyak uang.Bila inflasi berkepanjanagn produsen banyak yang bangkrut karena produknya relatif akan semakin mahal sehingga tidak ada yang mampu membeli, Jurang antara kemiskinan dan kekayaan masyarakat semakin nyata yang mengarah pada sentimen dan kecemburuan ekonomi yang dapat berakhir pada penjarahan dan perampasan. Saran dari penulis: 1. Masyarakat harus selektif dalam mengkonsumsi, produksi akan diusahakan seefisien mungkin dan konsumtifme dapat ditekan. 2. Inflasi yang berkepanjangan dapat menumbuhkan industri kecil dalam negeri menjadi semakin dipercaya dan tangguh. 3. Tingkat pengangguran cenderung akan menurun karena masyarakat akan tergerak untuk melakukan kegiatan produksi dengan cara mendirikan atau membuka usaha.

VI.

REFERENSI

http://www.bps.go.id/eng/aboutus.php?inflasi =1

“Jurnal Ekonomi Moneter”, JURUSAN ILMU EKONOMI STUDI PEMBANGUNAN FEB UIN SYARIF HIDAYATULLAHJAKARTA Page 11

http://www.bps.go.id/ihpb.php http://sirusa.bps.go.id/index.php?r=istilah/view &id=2347 Prof.Dr. Bambang Juanda dan Junaidi, SE,M.Si. Ekonometrika, “Pemodelan dan Pendugaan”: Bab 7-8. www.spss.com

“Jurnal Ekonomi Moneter”, JURUSAN ILMU EKONOMI STUDI PEMBANGUNAN FEB UIN SYARIF HIDAYATULLAHJAKARTA Page 12