Latar Belakang Masalah Dewasa ini banyak sekali masalah kesehatan masyarakat yang timbul di Indonesia akibat perilaku

masyarakat yang semakin kompleks. Faktor pelayanan kesehatan dari pemerintah sangat menentukan pemecahan solusi yang tepat bagi penangan permasalahan tersebut. Program obat generik merupakan salah satu terobosan yang dikeluarkan pemerintah untuk mengatasi hal tersebut. Pemerintah mencanangkan program obat generik dengan maksud untuk memberikan kemudahan dalam akses pelayanan kesehatan masyarakat, karena telah disadari bahwa tingkat perekonomian dan daya beli masyarakat rendah. Di samping itu, tujuan dicanangkannya obat generik ialah untuk memberikan alternatif obat yang terjangkau dan berkualitas kepada masyarakat. Ironis memang ketika ditemukan sejumlah bukti bahwa pelaksanaan program obat generik tidaklah semudah apa yang dicanangkan pemerintah selama ini. Banyak faktor yang justru menimbulkan masalah baru dalam pelaksanaan program obat generik. Masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui apa itu obat generik, dan perbedaannya dengan obat yang lainnya. Masyrakat masih menganggap mana mungkin ada obat yang berkhasiat dengan harga yang murah. Banyak masyarakat yang tidak mengerti tentang obat dan kualitasnya. Ketika mendengar obat generik, umumnya orang akan langsung mengasumsikannya sebagai obat kelas dua, artinya mutunya kurang bagus. Obat generik pun kerap dicap obat bagi kaum tak mampu. Betulkah asumsi ini?[1] Kurangnya informasi seputar obat generik merupakan salah satu faktor penyebab obat generik dipandang sebelah mata. Padahal dengan beranggapan demikian, selain merugikan pemerintah, pihak pasien sendiri menjadi tidak efisien dalam membeli obat. Membeli obat tidaklah bisa disamakan dengan membeli barang rumah tangga. Umumnya harga barang rumah tangga sebanding dengan kualitasnya, di mana semakin mahal harganya maka semakin bagus kualitasnya. Edukasi ke masyarakat mengenai obat generik menjadi perlu dan wajib untuk dilakukan.Sosialisasi yang digencarkan pemerintah sepertinya belum mengena di masyrakat luas. Di samping itu harga dari obat generik juga menjadi permasalah dalam pelaksanaan program obat generik yang diagungkan pemerintah. Karena pemerintah dituntut untuk dapat menyediakan obat yang berkualitas dengan harga yang murah. Berdasarkan penjelasan dalam latar belakang masalah tersebut di atas, maka pembahasannya dapat difokuskan dalam 6 permasalahan yaitu sebagai berikut :

Dalam obat generik bermerek.Kes. Menurut UU No. Ketersediaan obat generik berkualitas dan penentuan harga yang tepat masih diragukan. Penulisan karya tulis ini disusun dengan tujuan: Untuk meneliti apa yang menjadi penyebab kekurang efektifannya program obat generik. Ketidakpahaman masyarakat tentang obat generik. Untuk mengetahui kualitas yang terkandung dalam obat generik. Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) periode 2006-2009.[2] Menurut DR. oleh pabrik ”A” diberi merek ”inemicillin”. 14 Tahun 2001 masa berlaku paten di Indonesia adalah 20 tahun. LANDASAN TEORI 2. . bahannya sama: amoxicillin. sesuai keinginan pabrik obat. Zat aktif amoxicillin misalnya. Fachmi Idris. Krisis kepercayaan yang menimpa masyarakat dalam penggunaan obat generik. sehingga dapat diproduksi oleh semua perusahaan farmasi tanpa perlu membayar royalti. Untuk mengevaluasi peranan pemerintah. yaitu obat generik bermerek dagang dan obat generik berlogo yang dipasarkan dengan merek kandungan zat aktifnya. Obat paten adalah obat yang baru ditemukan berdasarkan riset dan memiliki masa paten yang tergantung dari jenis obatnya. Kurangnya sosialisasi dari pemerintah dan tenaga medis tentang obat generik. Dr. kandungan zat aktif itu diberi nama (merek). M.1 Pengertian Obat Generik Obat generik adalah obat yang telah habis masa patennya. Dari berbagai merek tersebut.Kualitas obat generik masih diragukan. secara internasional obat hanya dibagi menjadi menjadi 2 yaitu obat paten dan obat generik. dinas kesehatan yang terkait ataupun tenaga medis dalam pelaksanaan program obat generik. Perusahaan lain tidak diperkenankan untuk memproduksi dan memasarkan obat serupa kecuali jika memiliki perjanjian khusus dengan pemilik paten. Selama 20 tahun itu. perusahaan farmasi tersebut memiliki hak eksklusif di Indonesia untuk memproduksi obat yang dimaksud. sedangkan pabrik ”B” memberi nama ”gatoticilin” dan seterusnya. Program obat generik belum diterapkan secara maksimal. Untuk memberi solusi yang tepat terhadap pelaksanaan program obat generik. Ada dua jenis obat generik.

Kes. satu lagi diberi logo” ungkap DR. Nah. Harga obat generik bisa ditekan karena obat generik hanya berisi zat yang dikandungnya dan dijual dalam kemasan dengan jumlah besar.Setelah obat paten berhenti masa patennya. Jenis obat ini mengacu pada Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) yang merupakan obat esensial untuk penyakit tertentu. antara lain: Hak untuk informasi yang benar. Tidak ada perbedaan zat berkhasiat antara generik berlogo dengan generik bermerk. peningkatan pemanfaatan obat generik akan memperluas akses terhadap pelayanan kesehatan terutama bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah. Proporsi biaya iklan obat dapat mencapai 20-30%. jelas dan jujur. obat generik inipun dibagi lagi menjadi 2 yaitu generik berlogo dan generik bermerk (branded generic). Mengingat obat merupakan komponen terbesar dalam pelayanan kesehatan. SE. sejak tahun 1985 pemerintah menetapkan penggunaan obat generik pada fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah. Dr. sehingga biaya iklan obat akan mempengaruhi harga obat secara signifikan. Fachmi Idris. “Bedanya. . sedangkan obat generik bermerk yang lebih umum disebut obat bermerk adalah obat yang diberi merk dagang oleh perusahaan farmasi yang memproduksinya. sehingga tidak diperlukan biaya kemasan dan biaya iklan dalam pemasarannya. obat paten kemudian disebut sebagai obat generik (generik= nama zat berkhasiatnya).[4] 2. UU No. M.[3] 2.3 Landasan Hukum Menurut dr.8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen telah menguraikan apa yang menjadi hak-hak seorang pasien. Harga obat generik dikendalikan oleh pemerintah untuk menjamin akses masyarakat terhadap obat.2 Sejarah Obat Generik di Indonesia Obat Generik Berlogo (OGB) diluncurkan pada tahun 1991 oleh pemerintah yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kelas menengah ke bawah akan obat. Marius Widjajarta. yang satu diberi merk. Oleh karena itu. Obat generik berlogo yang lebih umum disebut obat generik saja adalah obat yang menggunakan nama zat berkhasiatnya dan mencantumkan logo perusahaan farmasi yang memproduksinya pada kemasan obat.

Sebagaimana penjelasan tentang sub sistem upaya kesehatan dan sediaan farmasi dalam Sistem Kesehatan Nasional juga mempertegas bahwa pasien berhak menerima upaya kesehatan dengan didukung oleh ketersediaan obat yang berkualitas baik dengan harga yang terjangkau. memperoleh layanan yang manusiawi. Hak untuk didengar. Perlindungan hak pasien juga tercantum dalam pasal 32 Undang-Undang No. f) g) mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang didapatkan. dan tanpa diskriminasi. Hak untuk memilih. e) memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien terhindar dari kerugian fisik dan materi. 8 tahun 1999.Hak untuk jaminan kemanan dan keselamatan. Hak-hak yang diatur oleh perundang-undangan. jujur. jujur dan jelas maka dokter bisa melanggar UU No. adil. memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional. b) c) d) memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban pasien. Hak untuk ganti rugi. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit. BAB III METODE PENULISAN . Pasien mempunyai hak untuk memilih pengobatan dan memilih dokter. yaitu: a) memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di Rumah Sakit. memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan peraturan yang berlaku di Rumah Sakit. Hak untuk mendapatkan advokasi. hendaknya pasien meminta obat generik ketika berobat ke dokter dan ingatkan dokter bahwa jika dokter tidak memberikan informasi yang benar. Jadi.

Generik kemasannya dibuat biasa. Begitu pula dengan obat. Selain itu juga ada persyaratan untuk obat yang disebut uji Bioavailabilitas/Bioekivalensi (BA/BE). Ibarat sebuah baju. Membahas secara deskriptif temuan-temuan yang ada secara umum atau universal.1 Kualitas Obat Generik Berbicara mengenai obat generik tidaklah terlepas dari wacana tentang kualitas dan khasiatnya. Obat generik dan obat bermerk yang diregistrasikan ke BPOM harus menunjukkan kesetaraan biologi (BE) dengan obat . Marius Widjajarta. karena yang menyembuhkan generiknya. Mutu obat generik tidak berbeda dengan obat paten karena bahan bakunya sama. yang bermerek dagang kemasannya dibuat lebih menarik dengan berbagai warna. dan membantu menemukan solusi permasalahan tersebut dengan mencoba melibatkan fungsi dan peranan pemerintah serta dinas kesehatan terkait. Kemasan itulah yang membuat obat bermerek lebih mahal. BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN MASALAH 4.Untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukan. Hanya saja. SE. Marius ini tidak kalah dengan obat bermerk karena dalam memproduksinya perusahaan farmasi bersangkutan harus melengkapi persyaratan ketat dalam Cara-cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) yang dikeluarkan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Padahal generik atau zat berkhasiat yang dikandung obat generik sama dengan obat bermerk. Namun. Kualitas obat generik yang disebut ´tidak genit tapi menarik´ oleh dr. “Orang kan makan generiknya bukan merknya. Menganalisis data yang ada yang bersumber dari artikel-artikel tentang temuan fakta di lapangan. karena yang terpenting bisa melindungi produk yang ada di dalamnya. browsing di internet maupun literatur-literatur yang berhubungan dengan penulisan karya tulis ini. Harganya yang terbilang murah membuat masyarakat tidak percaya bahwa obat generik sama berkualitasnya dengan obat bermerk. kemudian dibahas secara spesifik dan lebih khusus tentang permasalahan yang timbul di masyarakat terhadap pelaksanaan program obat generik.” ungkap dr. penyusun menggunakan metode deskriptif dan induktif. Orang sering mengira bahwa mutu obat generik kurang dibandingkan obat bermerk. fungsi dasarnya untuk melindungi tubuh dari sengatan matahari dan udara dingin. modelnya bajunya beraneka ragam.

difenhidramin. Respon terapetik dapat diartikan sebagai hasil kerja obat hingga mencapai efek yang diinginkan dari penggunaan obat tersebut. 4. dekstrometorfan. maka menurut ilmu psikologi itu akan mempengaruhi motivasi dan emosi seseorang . gentamisin. “Namun. ditemukan “zat inti berkhasiat terapetik”. Permasalahannya ialah obat generik hanya mengandung salah satu manfaat dari yang dikehendakinya saja. M. Berbeda dengan obat paten yang harganya mahal biasanya bersifat multifunction. Namun itu semua kembali ke sistem imun tubuh seseorang dalam melawan virus penyakit yang menyerang. berbeda halnya dengan pasien dengan keluhan yang sama meminum obat paten yang harganya jauh di atas obat generik ia hanya cukup minum beberapa obat saja. Mereka masih berpikir mana mungkin ada obat dengan harga yang murah namun memiliki kualitas yang bagus. Dr. gliserilguaiakolat. Namun untuk masalah khasiat obat generik mempunyai khasiat yang sama dengan obat jenis lainnya. Sebenarnya untuk masalah kesembuhan dipengaruhi oleh sistem imun tubuh dan sugesti seseorang dalam melawan penyakitnya. pasien tidak mengalami kesembuhan yang cepat ketika dia mengkonsumsi obat generik.2 Paradigma Masyarakat Seperti yang telah dibahas di sub bab sebelumnya. Fachmi Idris.” ungkap DR. Di samping itu obat generik hanya meningkatkan ambang batas kesakitan saja karena sifatnya yang terapetik. yang setelah diteliti sekian lama. Banyak cerita yang ditemukan di lapangan bahwa beberapa kasus. jika seorang pasien penderita flu berat diberikan obat generik oleh sang dokter maka ia harus meminum banyak jenis obat tersebut. Studi BA dan atau BE seharusnya telah dilakukan terhadap semua produk obat yang berada di pasaran baik obat bermerk maupun obat generik. bahwa sebenarnya obat generik memiliki kualitas yang sama dan cukup baik dengan obat lainnya. Setelah disetujui oleh otoritas kesehatan. chlorpheniramin maleat (CTM). Seperti misalnya sugesti bahwa obat generik tidaklah manjur. eritromisin.[5] Obat dibuat dari bahan-bahan tertentu. Tapi fakta yang ditemukan ialah kebanyakan masyarakat belum percaya bahwa obat generik memiliki khasiat yang sama dengan obat lainnya. Inovator yang dimaksud adalah obat yang pertama kali dikembangkan dan berhasil muncul di pasaran dengan melalui serangkaian pengujian. hanya yang membedakan sifat obatnya saja. dari bahan generik ini.Kes.pembanding inovator. bisa dibuat “obat generik”. pemerintah dalam hal ini BPOM masih fokus pada pelaksanaan CPOB. termasuk pengujian BA. Beberapa contoh nama obat generik yang berdedar di masyarakat paracetamol. namun ketika dia beralih ke obat paten yang harganya jauh di atas obat generik ia langsung merasakan kesembuhan. Jadi tidak heran. Zat ini yang secara umum disebut “generik”. amoksisilin.

Padahal dengan beranggapan demikian. Sebaliknya mereka berpendapat bahwa obat paten adalah obat yang sangat bagus mutunya bila dibandingkan dengan obat generik. penyakitnya tidak bisa terobati karena lebih mempercayai obat paten. Pandangan masyakat yang memandang obat paten sebagai obat bagus tentu tidaklah sepenuhnya salah. yang penting khasiatnya” kata sebuah iklan dalam mempromosikan obat generik. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan istilah ‘obat paten’ yang salah di masyarakat. masayarakat atau pasien merasa tidak puas terhadap pelayanan kesehatan bila mendapat obat generik. Puskesmas yang . 4. Masyarakat menganggap pengobatan yang diberikat bukanlah pelayanan maksimal.’ Sehingga secara langsung memandang obat paten adalah obat paling bagus dan sebaliknya obat generik adalah obat berkualitas rendah. Istilah ‘obat paten’ bagi masyarakat di Indonesia langsung dikaitkan dengan kualitasnya. Puskesmas yang menyediakan pelayanan kesehatan terdepan dengan memberikan obat generik dianggap sebagai tempat berobat masyarakat kelas bawah. pihak pasien sendiri menjadi tidak efisien dalam membeli obat.3 Ketidakpahaman Masyarakat Karena Kurangnya Sosialisasi “Buat apa beli mereknya. serta telah mengalami pergeseran makna. Masyarakat tetap menganggap bahwa obat generik adalah obat kelas bawah dan bermutu rendah. Pandangan rendah terhadap obat generik jelas menimbulkan masalah dalam pelayanan kesehatan di tanah air.dalam menjalani proses kesembuhannya dan itu tidaklah mereka sadari. selain merugikan pemerintah. Dengan memandang rendah mutu obat generik. Kurangnya informasi seputar obat generik adalah salah satu faktor penyebab obat generik dipandang sebelah mata.[6] Kondisi ini menyebabkan banyak orang yang tidak mampu membeli obat. Namun persepsi masyarakat terhadap obat generik tidak jauh berubah. karena kata-kata ‘paten’ dalam keseharian masyarakat bermakna ‘top’ atau ‘paling bagus. tetapi menganggap obat generik sebagai obat kelas bawah dan bermutu rendah inilah yang tidak benar. Pandangan rendah masyarakat terhadap obat generik ini diperparah oleh dokter pada preaktek pribadi dan pelayanan swasta yang hampir tidak pernah memberikan informasi apalagi memberikan resep obat generik tersebut. begitupun sebaliknya. Pandangan rendah ini juga berimbas kepada pandangan masyarakat pada pengobatan di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Akhirnya menjadi asumsi bahwa obat generik adalah obat yang berkualitas rendah karena jarang disarankan oleh dokter.

Oleh karena itu. Salah satu usaha untuk memperbaiki pandangan masyarakat terhadap obat generik dan Puskesmas adalah melalui penyuluhan. Pusat Pelayanan Kesehatan Strata Pertama Puskesmas diharapkan dapat membina dan memberikan sosialisasi terhadap masyarakat tentang kegunaan obat generik yang sebenarnya. perilaku dan gaya berobat seperti ini merupakan suatu ‘prestise’ dan sebaliknya mereka ‘gengsi’ untuk berobat ke Puskesmas. Pusat Penggerak Pembangunan Berwawasan Kesehatan 2. dokter akan lebih fokus pada kasus-kasus tingkat lanjut. Pusat Pemberdayaan Masyarakat 3. Pada kelompok masyarakat yang mempunyai Asuransi Kesehatan (Askes) yang harus mendapatkan rujukan untuk berobat ke Rumah Sakit (RS) besar tidak jarang datang ke Puskesmas bukan untuk menceritakan keluhannya. untuk mengubah citra kurang baik pada obat generik dan Puskesmas harus dilakukan upaya menyeluruh mulai dari pendidikan terhadap masyarakat tentang obat dan pelayanan kesehatan.seharusnya menjadi pusat pelayan kesehatan menyeluruh mulai kedokteran pencegahan dan pengobatan tidak dapat berjalan dengan baik. tetapi datang langsung untuk meminta surat rujukan. . Pada sebagian masyarakat. meskipun penyakitnya hanya pegal-pegal atau batuk pilek biasa. Juga. Padahal jika kasus yang dirujuk bukanlah penyakit yang membutuhkan pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut justru akan merugikan pasien itu sendiri. Masyarakat harus diberikan pemahaman tentang apa dan bagaimana obat generik itu sebenarnya. karena dengan banyaknya kasus dan kunjungan di RS. hingga kebijakan pelayanan. Mereka menilai berobat ke ke RS adalah hak mereka. pengobatan yang didapat di RS juga tidak akan jauh berbeda dengan di Puskesmas yang mungkin hanya dengan ‘merek’ obat yang berbeda. Masyarakat yang mempunyai biaya yang cukup untuk berobat lebih cenderung untuk berobat langsung ke dokter spesialis atau ke rumah sakit besar. Sebagaimana tugas dan fungsi puskesmas dalam melaksanakan Pelayanan Kesehatan Dasar (PKD) ialah: 1. Bahkan harus diusahakan dapat memasyarakatkan penggunaan istilah ‘obat bermerek’ sebagai pengganti istilah obat paten. perilaku petugas kesehatan. Tidak lupa dibantu dengan Dinas Kesehatan terkait yang saling bekerja sama dengan puskesmas dan para tenaga medis yang saling terintegrasi di dalamnya.

Distribusi dan Harga Obat Generik Menurut berita yang dilansir oleh Metronews. III dan IV. Kepulauan Riau. Lampung dan Banten. Penambahan biaya distribusi hanya diperbolehkan pada penyaluran obat generik ke daerahdaerah yang berada pada regional II. 4. dan Sulawesi dapat menambahkan biaya distribusi maksimal 10 persen. hingga rakyat biasa harus memahami dan menghargai pelayanan kesehatan kepada Puskesmas. Untuk regional II mencakup Pulau Sumatra. Harus diakui juga. Sementara untuk di regional III seperti Nanggroe Aceh Darussalam.com. Bahkan bila penyakit hanya membutuhkan obat tertentu maka memberikan obat tunggal (non kombinasi) dan obat generik adalah pilihan yang tepat. anggota dewan. karena bila dengan obat generik tentu harus mengkonsumsi lebih dari satu macam obat. Jawa Barat. Hal itu dilakukan karena tingkat penggunaan obat . Kepulauan Bangka Belitung dan Nusa Tenggara Barat.01/Menkes/146/I/2010 tanggal 27 Januari 2010 tentang harga obat generik. Para pelayan kesehatan terutama pada pusat pelayan kesehatan swasta juga harus memberikan informasi yang benar. dan pasien juga seharusnya dapat menentukan pilihan untuk mendapatkan obat generik. Bali. Kalimantan. objektif dan jelas tentang obat generik pada pasien. PBF yang mendistribusikan obat generik ke daerah regional I termasuk DKI Jakarta. Daerah Istimewa Yogyakarta. Ketentuan itu tercantum dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK. Jawa Timur. tidak boleh menambahkan biaya distribusi ke harga obat. Namun memandang rendah obat generik adalah suatu kesalahan. Puskesmas harus dihargai sebagai pelayanan kesehatan terdepan bukan hanya bagi masyarakat berekonomi lemah. semua komponen masyarakat mulai dari pejabat. dapat menambahkan biaya distribusi maksimum lima persen.03. Jawa Tengah. Selanjutnya. ada beberapa keuntungan berobat dengan obat bermerek bila obat tersebut merupakan obat kombinasi. Pemerintah melonggarkan aturan distribusi obat generik dengan memperbolehkan pabrik obat dan atau pedagang besar farmasi (PBF) menambahkan biaya distribusi pada harga obat generik yang disalurkan ke daerah di luar Pulau Jawa dan Bali.4 Ketersediaan. tetapi biasanya obat ini adalah untuk penatalaksanaan penyakit tingkat lanjut.Memang ada beberapa obat yang hanya dipasarkan dengan nama dagang tertentu.[7] Kementerian Kesehatan telah menerbitkan peraturan baru tentang peresepan dan distribusi obat generik untuk menggalakkan penggunaan obat generik dalam pelayanan kesehatan publik.

com/2008/09/obat-generik-dan-puskesmasterlalu.solopos.525 triliun (10% dari pasar obat nasional) menjadi Rp 2. “Obat Generik.com/index.generik belum sesuai harapan.Kes. penggunaan obat generik mengalami penurunan bermakna dalam beberapa tahun terakhir.mobi/id/Obat_generik [3] DR.” http://medicastore. M.cit [4] Ibid [5] Ibid [6] Hardisman. ” http://metrotvnews.372 triliun (7. Untuk sehat tidak harus dengan obat mahal. “Obat Generik. Dr. 22 Feb 2010. M. tetapi obat yang dijual dengan harga tidak mahal. Bahkan menurut catatan Kementerian Kesehatan. “Obat Generik dan Puskesmas: Terlalu Dipandang Rendah. dalam lima tahun terakhir pasar obat generik turun dari Rp 2.” http://hardi-dasman.com/2010/channel/nasional/pemerintah-inspeksi-distribusi-obatgenerik-15420 .[8] Jadi.590 triliun pada 2005 menjadi Rp 32.com/obat_generik/ [2] Majalah Farmaca. Dan obat generik bukan obat murahan.html [7] Metronews. namun tingkat peresepan obat generik di rumah sakit umum masih 66% sementara di rumah sakit swasta dan apotek hanya 49%. [1] DR. Dr. “Pemerintah inspeksi distribusi obat generik” http://www. Ketersediaan obat esensial generik di sarana pelayanan kesehatan juga baru mencapai 69. Padahal pasar obat nasional meningkat dari Rp 23. “ Aturan Distribusi Obat Generik Diperlonggar.” http://wapedia. Fachmi Idris. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan. Harga Murah Tapi Mutu Tidak Kalah.php/metromain/news/2010/02/07/10303/AturanDistribusi-Obat-Generik-Diperlonggar [8] Solo Pos. Loc.blogspot. Fachmi Idris. Meski tingkat peresepan obat generik di Puskesmas sudah mencapai 90%.2% dari pasar obat nasional).74% dari target 95%.938 triliun tahun 2009.Kes. Badan POM.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful