Pengertian dan Tujuan Pemecahan Masalah Matematika Pengertian dan Tujuan Pemecahan Masalah Matematika Polya (1981: 117

) mendefinisikan pemecahan masalah (problem solving) sebagai to s earch consciously for some action appropriate to attain a clearly conceived, but not immediately attainable, aim . Makna dari pernyataan tersebut adalah pemecahan masalah sebagai usaha sadar untuk mencari jalan keluar dari suatu kesulitan, te tapi tujuan tersebut tidak segera dapat dicapai. Osborne & Kasten (1980: 54) menyatakan bahwa Problem solving is taught to develop methods of thinking and logigal reasoning . Maknanya adalah pemecahan masalah dia jar untuk mengembangkan metode-metode mengenai pemikiran dan logika penalaran. D alam NCTM (2000: 52), pemecahan masalah merupakan proses menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya pada situasi baru dan berbeda. Apabila dikaitkan dengan pernyataan Osborne & Kasten di atas, maka proses menerapkan pengetahuan matematika ini melibatkan keterampilan berpikir dan bernalar pada diri siswa. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pemecahan masalah merupakan suatu tingkat aktivitas intelektual yang sangat tinggi untuk mencari penyelesaia n masalah yang dihadapi dengan melibatkan keterampilan berpikir dan bernalar ser ta menggunakan bekal pengetahuan yang sudah dimiliki. NCTM (2000: 52 & 334) mengungkapkan tujuan pengajaran pemecahan masalah dari seb elum taman kanak-kanak hingga kelas XII sebagai berikut. · build new mathematical knowledge through problem solving; · solve problems that arise in mathematics and in other contexts; · apply and adapt a variety of appropriate strategies to solve problems; · monitor and reflect on the process of mathematical problem solving. Tujuan pengajaran pemecahan masalah secara umum adalah untuk: 1) membangun penge tahuan matematika baru melalui pemecahan masalah; 2) memecahkan masalah yang mun cul dalam matematika dan di dalam konteks-konteks lainnya; 3) menerapkan dan men yesuaikan bermacam strategi yang sesuai untuk memecahkan permasalahan; dan 4) me mantau dan merefleksikan proses dari pemecahan masalah matematika. NCTM (Posamentier & Stepelman, 1990: 109) menyatakan apa yang diharapankan setel ah siswa belajar memecahkan masalah sebagai berikut. In grades 9 12, the mathematics curriculum should include refinement and extensi on of methods of mathematical problem solving so that all students can: · use with increasing confidence, problem-solving approaches to investigat e and understanding mathematical content; · apply integrated mathematical problem-solving strategies to solve proble ms within and outside of mathematics; · recognize and formulate problems within and outside of mathematics; · apply the process of mathematical modeling to real-world problem situati ons. Setelah belajar memecahkan masalah matematika diharapkan siswa dapat: 1) menggun akan pendekatan pemecahan masalah untuk menyelidiki dan memahami isi matematika; 2) menggunakan perpaduan strategi pemecahan masalah untuk memecahkan masalah da lam atau di luar matematika; 3) mengenal dan merumuskan masalah dal am atau di luar matematika; dan 4) menggunakan proses pemodelan matematika untuk situasi masalah nyata. Peran Pemecahan Masalah dalam Pembelajaran Matematika Matematika merupakan ilmu yang melatih cara berpikir dan mengolah logika yang be nar sesuai dengan aturan yang terdiri dari aksioma dan dalil-dalil. Proses berpi kir matematik dimulai dari penemuan informasi, pengolahan, penyimpanan, dan mema nggil kembali informasi tersebut dari ingatan. Berpikir matematik merupakan pela ksanaan kegiatan atau proses matematik (doing math) atau tugas matematika (mathe

Meskipun pemecahan masalah dapat diinterpre tasikan sebagai suatu keterampilan. 3. NCTM (2000: 29) menyatakan bah wa cara penting untuk memperoleh dan mempergunakan pengetahuan meliputi pemecaha n masalah (problem solving). dan d) usaha mengembangkan suatu ketera mpilan baru. maksudnya masalah yang berkaitan dengan pe ngalaman sehari-hari dapat meyakinkan guru dan siswa akan nilai matematika. Masalah dalam pembelajaran matematika disini berperan sebagai: a) just ifikasi dalam mengajarkan matematika. maksudnya masalah matematika menjadi tantangan atau permainan yang menyenangka n siswa agar semakin terampil dan mahir. artinya kemampuan memecahkan masalah merupakan kemampuan dasar dalam belajar matematika . maksudnya adalah masalah digunakan sebagai sarana untuk mengajarkan suatu topik matematika. c) rekreasi . kemudian konsep atau prinsip yang telah berhasil dipahami tersebut diterapkan dalam soalsoal pemecahan masalah untuk melatih keterampilan siswa.matical task). maksudnya masalah diberikan dalam urutan tertentu untuk mengenalkan siswa pada materi baru dan sebagai konteks untuk bahan diskusi selanjutnya. memungkinkan siswa me njadi lebih analitik dalam mengambil keputusan di dalam kehidupannya. kemudian diberikan tugas berupa latihan-latihan sehingga siswa dapat meng uasai teknik tersebut. Tujuan utama dari prose s ini adalah untuk memahami konsep matematika dan bukanlah pemecahan masalah itu sendiri. Herman Hudojo (2005: 128 129) mengatakan bahwa pemecahan masalah merupakan suat u hal yang esensial dalam pembelajaran matematika. b) m otivasi yang spesifik untuk suatu topik. Pada hakik atnya. maksudnya masalah digunakan untuk menge nalkan suatu topik melalui pemahaman secara eksplisit atau implisit. Berkenaan dengan apa yang didapatkan siswa dari melakukan suatu pemecahan masala h. Lebih jauh Cooney. Hal ini dikarenakan: 1. 1. penalaran dan pembuktian (reasoning and proof). Siswa belajar bagaimana melakukan penemuan dengan melalui proses melakuk an penemuan. Davis. siswa dikatakan telah memiliki keterampilan pemecahan masalah sebaik penguas aannya terhadap fakta dan prosedur yang telah dipelajari. Siswa diajarkan suatu teknik pemecahan masalah sebagai materi pela jaran. 1992: 338) mengidentifikasi peran pemecahan masalah dalam pembelajaran matemat ika sebagai berikut. kemudian menganali sanya dan akhirnya meneliti kembali hasilnya. kom unikasi (communication). asumsi pedagogi dan epistemologi yang mendas arinya adalah keterampilan merupakan penguasaan suatu strategi atau teknik pemec ahan masalah. Potensi intelektual siswa meningkat. & Henderson (Herman Hudojo. 3. Siswa menjadi terampil menyeleksi informasi yang relevan. Problem solving as context. Pemecahan masalah berfungsi sebagai konteks. Problem solving as art Pemecahan masalah sebagai seni dari matematika atau jantungnya matematika (heart of mathematics). penyajian dan (representation). Makna dari pernyat aan ini adalah pemecahan masalah merupakan inti dari seluruh matematika. 4. 2. Pembelajaran matematika dimulai dari pemecahan masalah sebagai konteks un tuk memperkenalkan atau memahami suatu konsep atau prinsip matematika. Stanick & Kilpatrick (Schoenfeld . maksudnya adalah matematika merupakan pemecahan masalah itu se ndiri. Berkenaan dengan proses matematik. 1980: 3) bahwa: Proble m solving has been said to be at the heart of all mathematics . Pendapat tersebut didukung oleh pernyataan Lester (Branca. Setelah memperoleh pengajaran pemecahan masalah seperti i ni. 2. 2005: 126) berpendapat b ahwa dengan mengajarkan siswa untuk menyelesaikan masalah. koneksi (connections). yakni berpikir atau bernalar untuk meng . Problem solving as skill Pemecahan masalah sebagai keterampilan yaitu berupa kemampuan untuk memperoleh s olusi dari masalah yang dihadapinya. belajar pemecahan masalah adalah belajar berpikir (learning to think) ata u belajar bernalar (learning to reason). Dalam perspektif historis kurikulum matematika. Kepuasan intelektual akan timbul dari dalam merupakan hadiah intrinsik b agi siswa.

successively. 5. Selanjutnya. yaitu kesadaran atas suatu kesukar an. Dalam memecahkan masalah matematika. Siswa harus dapat memberikan jawaban dalam b atasan yang relevan dengan data dalam masalah tersebut. Meningkatkan keterampilan pemecahan masalah siswa merupakan tujuan utama dalam p embelajaran matematika. as defined by the situation which poses the problem . 3) memanfaa tkan pengalaman-pengalaman sebelumnya. yaitu klarifikasi dan definisi. Employing previous experiences. a sense o f frustration. siswa perlu berpikir untuk memilih atau me nemukan data yang diperlukan untuk memecahkan masalah. Evaluating the solutions and drawing a conclu­sion based on the evidence. siswa m enyatakan jawaban secara lengkap sesuai dengan apa yang ditanyakan. gambar atau mendaftar ide-ide dalam urutan tertentu. wondering or doubt. Keterampilan berpikir yang dikembangkan dalam proses pemecahan masalah antara la in kemampuan siswa untuk memahami masalah dan merumuskan pertanyaan dalam masala h tersebut. such as relevant information. This involves incorporating the successful solution into one's existing understa nding and applying it to other instances of the same problem. 2. perasaan frustasi. Tahap-tahap Pemecahan Masalah Matematika Terdapat beberapa pendapat tentang proses pemecahan masalah matematika. They were presented in the following or der. dan 5) mengevaluasi penyelesaian-penyelesaian dan menarik k esimpulan berdasarkan bukti. Proses untuk memahami kondisi dan variabel dalam masalah dapat terbantu dengan cara membuat model. t he problem may be reformulated. 1. 2) mengidentifikasi masalah . If necessary. atau gagasan-gagasan terdahulu untuk merumuskan hipotesis-hi potesis dan proposisi pemecahan masalah. Dewey (P osamentier & Stepelman. atau keraguan. penyele saian-penyelesaian. Hal ini berarti. keingintahuan. siswa mengur aikan dalam bagian-bagian masalah yang perlu dipecahkan terlebih dahulu dan memi lih strategi pemecahan yang sesuai. Testing. including designati on of the goal to be sought. 3. tetapi juga meningkatk an pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang matematika. siswa perlu mengevaluasi apakah jawaban yang diperolehnya tersebut masuk akal a tau cukup rasional. diagram. Identifying the problem clarification and def­inition. termasuk perumusan sasaran yang hendak dicapai sebagaimana ditentukan oleh situasi yang mengedepankan masalah itu. Proses ini mencakup usaha untuk membaca kembali apa masalahn ya dan menguji jawabannya tersebut pada kondisi dan variabel yang terdapat pada . siswa tidak hanya m enggunakan kemampuan matematika yang telah mereka miliki. Melalui pemecahan m asalah siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan beradaptasi t erhadap situasi belajar yang baru. outlined five steps for problem solving. 4. Siswa juga perlu memahami kondisi dan variabel yang terlibat dalam m asalah tersebut. Makna dari pernyataan di atas adalah terdapat lima langkah pemecahan masalah seb agai berikut: 1) mengenali adanya masalah. 4) menguji hipotesis-hipotesis atau kem ungkinan-kemungkinan penyelesaian secara berurutan (jika perlu merumuskan kembal i masalah tersebut). Recognizing that a problem exists an aware­ness of a difficulty. former sol utions. Selanjutnya. or ideas to formulate hypotheses and problem-solving propositions. 1990: 110) mengungkapkan sebagai berikut. misalnya: informasi yang relevan. hypotheses or possible solutions. yang melibatkan pemasukan penyelesaian ke dalam pem ahaman yang dimiliki orang tersebut dan menerapkannya pada bentuk-bentuk lain da ri masalah yang sama. sehingga siswa dapat mengkonstruksi pengetahuan mer eka sendiri.aplikasikan pengetahuan-pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya dalam rangka memecahkan masalah-masalah baru yang belum pernah dijumpai. Sejalan dengan itu. Hal ini mengakiba tkan pemecahan masalah dalam matematika dapat digunakan sebagai dasar pembelajar an konsep-konsep matematika.

Oleh karena itu. penggunaan beragam keterampilan dan pro sedur. keyakinan dan berbagai k emampuan lainnya. P roses pemecahan masalah atau strategi pemecahan masalah ini disebut dengan heuri stic. Maknanya adalah empat fase dalam proses pemecahan masalah. Hal ini mencakup proses dal am memori untuk mengingat kembali fakta. Rangkaian aktivitas berpikir siswa dan perilaku siswa selama memecahkan masalah dapat dianalisa berdasarkan model Polya (Gorman. Polya (1973: 6) menyatakan bahwa It is generally use less to carry out details without having seen the main connection. Kata heuristik menurut Polya (1973: 112) sering disebut sketsa (outline). Dengan kata lain. Melakukan rencana Siswa dapat melaksanakan langkah 2) dan mencoba melakukan semua kemungkinan yang dapat dilakukan. terga ntung kebutuhan siswa melewati keadaan yang masih rahasia menuju jalan keluar. Second. we review and discuss it. we have to understand the problem. ana logi. dan kep ercayaan diri siswa. Lebih jauh lagi. we have to se e clearly what is required. First. yaitu: 1. we carry out our plan. Memahami masalah Siswa dapat mengidentifikasi kelengkapan data termasuk mengungkap data yang masi h samar-samar yang berguna dalam penyelesaian. motivasi. Ide tersebut akan membongkar segala yang masih rahasia menjadi suatu jawaban.masalah tersebut. 1985: 45). or having mad e a sort of plan . perilaku. 1974: 299. Akibatnya. four phases of the work. intuisi. we have to see how the various items are con nected. pemecahan masalah meliputi koordinasi dari pengetahuan. 2. Fourth. 3. peragaan. Memeriksa kembali kebenaran jawaban Siswa dapat melengkapi langkah-langkah yang telah dibuatnya ataupun membuat alte rnatif jawaban lain. mengujinya pada pertanyaan. kemampuan untuk mengevalusi jalan berpikir dan kemajuan yang dicapai keti ka memecahkan masalah. Tujuan dari heuristik adalah untuk mempelajari metode dan aturan-aturan untuk memperole h solusi masalah. keberhasilan sisw a dalam memecahkan masalah sangat tergantung pada minat siswa. langkah-l angkah pemecahan dapat saja berubah-ubah atau kembali ke tahap sebelumnya. how the un­known is linked to the data. to make a plan. Menurut Polya (1973: 5 6) terdapat empat fase dalam pemecahan masalah sebagai beri kut. we look back at the completed solution. dan kemampuan lainnya. Proses Heuristik dalam Pemecahan Masalah Matematika Pemecahan masalah merupakan aktivitas yang kompleks. Strategi heuristik membuat keadaan masalah menjadi kelihatan belum jelas (samarsamar) dan terkadang belum sebagai jawaban yang sesungguhnya. pengalaman sebelumnya. in order to obtain the idea of the solution. Setiap langkah yang dilakukan selalu bersifat istimewa karena semuanya dapat mem bawa ide berbeda. Menyusun rencana Siswa dapat membuat beberapa alternatif jalan penyelesaian untuk menuju jawaban. atau mensketsa gambar. karena ide siswa keluar dari keempat fase tersebut dan siswa membuat gene ralisasi yang tidak berkaitan dengan keseluruhan data soal. dan 4. atau melakukan estimasi untuk mene ntukan apakah jawabannya tersebut cukup masuk akal. . Third. strategi heuristik Poly a dalam pemecahan masalah adalah mensketsa kerangka yang paling mungkin. Pemecahan masalah menggunakan strategi heuristik berarti proses pemecahan masalah menggunakan stra tegi-strategi agar dapat mengambil keputusan berdasarkan keputusan induktif. Maknanya adalah siswa bisa saja mengalami kegagalan memperoleh hasil. Oleh karena itu. sehingga memungkinkan pemecah masalah untuk memperoleh pengert ian secara sistematis dari struktur masalah tersebut melalui usahanya sendiri. Selanjutnya. sis wa perlu selalu meneliti setiap tahap yang telah dilakukan. Lester.

Hal ini sesuai pernyataan Schoenfeld (1980: 14) sebagai beriku . the problem solver must be able to construct or recall and appropriate problem related in mathemati cal structure to the problem at hand. bisa saja siswa tersebu t sudah dapat mengungkap suatu masalah bahkan sampai keseluruhan dapat diselesai kan. mengevaluasi prosedur yang dibuat sampai benar­-benar dimen gerti. Tahap ini merupakan tahap yang penting dimana siswa mengembangkan p emaknaan dari representasi masalah yang dihadapi sebagai dasar untuk merencanaka n strategi pemecahan masalah (Lester. Seandainya hanya sebagian dari strategi heuristik yang diterapkan dan seorang pe mecah masalah hanya mencoba dalam waktu relatif singkat. siswa perlu memahami dengan baik ruang lingkup dan hakikat masalah yang dihadapi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Silver & Smith (19 80: 146) To make effective use of Polya s heuristic suggestion. siswa harus dapat mencari informasi ya ng relevan. Strategi heuristik tidak berarti menjamin siswa sudah pasti terbantu pada saat m emecahkan masalah. 1985: 46). Oleh karena itu. . maupun antara siswa dan guru merupakan cara untuk saling mengutaraka n ide dalam usahanya memecahkan masalah. perhatian guru hendaknya lebih diarahkan kepada usaha siswa m emperoleh solusi daripada kebenaran jawaban semata. siswa perlu mencari jejak langk ah-langkah sebelumnya. dalam mengimplementasikan suatu langkah. moves. siswa merumuskan solusi yang memu ngkinkan atau menyusun rencana pemecahan. yaitu membuat keadaan agar terjadi penyuplai penemuan (serving t o discovery). Maknanya. dan sanggup mengatur bagian-bagian masalah yang dimiliki secara tepat. dan menentukan langkah yang terlengkap da lam eksplorasi masalah dan menyelesaikannya secara keseluruhan. Tetapi siswa juga dapat mencoba-cobakan beberapa kunci meskipun membutuhkan waktu yang panjang. memilih strategi atau pendeka tan yang dipandangnya sesuai dengan masalah tersebut dan melakukan perbaikan ter hadap strateginya. Pada tahap menyusun rencana pemecahan masalah. siswa harus berani menentukan bahwa ya ng dilakukan itu adalah benar. betapa pentingnya mengetahui k unci yang sesuai. beragam strategi pemecahan masalah dikemukakan sehingga guru dapat memberikan perhatian terhadap struktur pengetahuan matematika siswa dalam proses memperoleh solusi. Untuk itu. Pada tahap evaluasi.Pada tahap memahami masalah. steps) which are typically useful in solving problems. mendefinisikan masalah dengan jelas dan menjelaskan dengan kata-kata nya sendiri. teta pi dengan melakukan strategi heuristik berarti siswa berusaha keras mempelajari prosedur operasi yang telah digunakan dengan cara menukar-nukar langkah yang leb ih memungkinkan. siswa melakukan pengujian terhadap dugannya tersebut. siswa tidak hanya melakukan pengecek an terhadap solusi yang diperolehnya. Polya memberi petunjuk kepada guru matematika untuk memecahkan masalah dengan st rategi heuristik. but it may endeavor to study procedures (mental ope rations. Dalam tahap perencanaan dan pelaksanaan ini terdapat aktivita s metakognitif untuk memantau kemajuan yang telah dicapai. penerapan intelektualnya. tetapi siswa juga bernalar secara indukti f untuk bisa memperoleh beberapa prinsip umum matematika dari solusi yang dipero lehnya. penyelenggaraan heuristik yang masuk akal tidak dapat terjadi setiap saat. Polya (1973: 172) menyatakan A reasonable sort of heuristic ca nnot aim at unfailing rules. Untuk itu. Seperti itulah pe ran yang dilakukan seorang pemecah masalah yang menggunakan kognitif dan metakog nitifnya dalam melakukan operasi. . Kegiatan diskusi interaktif antarsiswa. Oleh karena itu. hingga diperoleh solusi yang te pat bagi masalah tersebut. Hal ini dapat terjadi jika siswa tepat memilih strategi heuristik yang coco k untuk dipakai. Dalam hal ini. melak ukan verifikasi terhadap solusi yang dihasilkan. juga mampu memanfaatkan semua yang diperolehnya u ntuk menentukan atau memutuskan penyelesaian yang paling baik. Sebelum menemukan penyelesaian. Untuk mengefektifkan penerapan heuristik Polya ini. siswa perlu bimbingan u ntuk mengenali kapan suatu strategi dapat berguna. Dalam kesempatan ini. Dalam tahap ini. pemecah masala h harus mampu mengkonstruksi hubungan dalam masalah dengan tepat sesuai dengan s truktur matematika yang ada. memilih cara yang paling benar.

Berdasarkan pendapat mengenai peran guru dalam membantu siswa melakukan pemecaha n masalah di atas.t: If problem solver have only the time to try a few of those keys. siswa dapat menemukan ide yang membantunya keluar dari kesulitan. sebaiknya siswa harus memiliki kreativitas yang tinggi dan diimbangi dengan semangat yang kontin u dalam mencari pemecahan masalah. it was thought that creativity was a genetic capacity granted to the fortunate few. bu t now a number of psychologists have attempted to demonstrate that processes ass ociated with creativity are teachable (or. Untuk menempuh tahap-tahap pemecahan masalah matematika. guru hendaknya . they may fail to unlock the problem even if the right key was at their disposal all long. we may define creativity as the ability to evolve unusual. dapat disimpulkan bahwa guru harus berusaha melatih siswa aga r berani melakukan pemecahan sendiri. Misalnya guru melakukan strategi heuristik sehingga siswa dapat me nemukan inti permasalahan (kunci persoalan atau ide utama) yang harus ditempuh. an application. Walaupun hubungan antara tingkat kreasi dan i ntelegensi bukanlah hal penentu. O ne of the major difficulties is in defining the term itself. Ada kalanya suatu masalah matematika memerlukan penyusunan pemecahan secara luar biasa dan membutuhkan penyelesaian yang unik. Then th ey need specific strstegies that they can apply within the global structure. Oleh karena itu. highly useful or unique solutions to problems. bahkan kalau bisa guru membantu mereka menterjema hkan suatu simbol atau notasi-notasi yang ada. Hal ini sesuai dengan pernyataan Suydam (1980: 40) T he heuristic method involves such factors as transformastion. perhaps. dan membiarkan siswa secara bebas menggunakan notasi yang ada atau mencoba menghubungkan bentuk-bentuk yang dihadapi. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Posa mentier & Stepelman (1990: 131-132) sebagai berikut. simbol ataupun istilah-istilah matematika. Siswa membutuh kan bantuan dalam pemikirannya berupa wawasan dan kata atau simbol atau notasi y ang perlu dipakainya. Berkaitan dengan ini. If there is difficulty in teaching effective ways of using the techniques of pro blem solving. Guru menyadari bahwa siswa membutuhkan banyak prosedur sebagai pedoman untuk men untaskan suatu masalah agar menemukan celah jalan keluar dari inti permasalahan. 1997: 84) mengisyaratkan bahwa dala m mengenal notasi. Ketika mengartikan bentuk simbol yang dihadapi. Ketika menentukan strategi spesifik yang dimaksud. guru dapat memperkenalkan metode heuristik mengenai kegiatan mentrans fomasi data soal menjadi sederhana. Sel ecting the key is as important as knowing how to use it . greather difficulty in teaching for creativity . guru dapat memp erhatikan kinerja siswanya. Agar suat u soal memungkinkan untuk membuat siswa melakukan pemecahan masalah. encourageable). Begitu pula karena m emecahkan masalah membutuhkan kreasi dan kreativitas yang tinggi. Suydam (1980: 43) menyatakan Children need and overall proc edure for attacking a problem. At one time. at least. it is slower but more general and flexible. Keadaan ini membutuh kan arahan dari guru agar siswa tetap mau berkreasi sehingga membantunya untuk m enemukan ide. Kreativitas menemukan jawaban meru pakan kegiatan pemecahan masalah dan kreativitas dapat membenahi masalah yang ma sih kacau menjadi jawaban yang benar. Proses pemecahan masalah diperkenalkan gur u kepada siswa melalui dialog yang mengakibatkan siswa terlibat dalam kreativita s mengkaji soal dan mengeksplorasinya hingga menuntaskan penyelesaian. menyusun generalisasi dari transformasi ters ebut dan mengaplikasikannya. guru harus mempersiapkan soal-soal yang sesuai dengan kemampuan siswa. Terkadang siswa kehabisan akal dan siswa menjadi frustasi. Makn anya adalah hanya melalui strategi-strategi spesifik. tetapi faktor kreativitas siswa yang tinggi dan oleh integritas gurunya maka kemampuan siswa lebih memungkinkan untuk memanfaat kan kreasi dalam melakukan pemecahan masalah. sebaiknya guru men jaga agar siswa tidak bingung. For our pur poses. there is. this provides a global sense of security. Brown (Franke & Carey. . goal reduction. siswa berusaha mengarti kan bentuk simbol yang dihadapi dan menggunakan simbol-simbol tersebut berdasark an pemahamannya.

Terdap at beberapa aspek dalam diri siswa yang perlu dikembangkan untuk menunjang kemam puannya dalam memecahkan masalah antara lain adalah: 1) strategi pemecahan masal . Perry et al (1983: 350) seb agai berikut Pu­pils in the top quarter of the norm group are among the rapid learn ers in mathematics. Intelegensi yang diperlukan dalam p embelajaran pemecahan masalah adalah harus mampu memberikan pertanyaan dan pedom an yang membantu. dan tinggi. sedang. . Apabila berhadapan dengan sejumlah siswa yang tidak dipilih secara khusus kecerd asannya. Polya berharap agar pada saat siswa memecahkan suatu masalah matematika. guru perlu menyediakan pertanyaan-pertanyaan yang ditujuka n kepada siswa untuk mengontrol keadaan siswa.memperhatikan bantuan yang diberikan kepada siswa agar siswa tetap bersemangat menghadapi situasi-situasi yang sulit. Berdasarkan hasil tes siswa. dan lemah. siswa perlu membedakan kelebihan dan kekurangan cara-cara tersebut. Apabila guru selalu mengarahkan siswa melalui pertanyaan Bagaimana cara kamu melakukannya? . dari sekelompok siswa yang tidak dipilih secara khusus terdapat se jumlah siswa berbakat yang ada di atas kelompok sedang yang jumlahnya sama denga n siswa tidak berbakat yang ada dibawah kemampuan siswa sedang tersebut. Selanjutnya. sedang. maka secara eksplisit guru akan membentuk kemungkinan siswa untuk mencoba menemukan jawaban dengan cara sen diri. Oleh karena itu. dan lugas menempatkan pertanyaan it u untuk menggugah semangat kerja siswa. sehingga guru dapat memperbaiki k esalahan siswa. maka pengelompokan kemampuan siswa dalam penelitia n ini dibuat berdasarkan rata-rata nilai tes prasyarat dan nilai tes awal ruang dimensi tiga yang terdiri dari tiga kelompok kategori yaitu rendah. Den gan demikian. berintelegensi dan berintegrit as tinggi dalam memberikan pertanyaan atau pemberian anjuran yang akan membantu siswa. Siswa disibukkan dengan aktivitas strateg i heuristik dan berusaha mendapatkan cara yang spesifik agar penemuan yang luar biasa dapat terjadi pada siswa. Guru harus benar-benar mengerti dengan keterangan dan ilustras i contoh suatu pertanyaan yang diberikannya. Berdasarkan pendapat di atas. whereas the pupils who score in the lowest quarter are among the slow learners. 27% skor terbawah disebut kelompok bawah (rendah). Untuk melakukan hal ini sangat diperlukan falsafah yang tidak memberikan langkah yang sudah jadi (harus samar-samar). O leh karena itu. Menurut Suharsimi Arikunto (2006: 2 12). Kategori Kemampuan Siswa Kategori kemampuan siswa sangat erat kaitannya dengan perolehan hasil belajar. dan bawah. Apabila ditemukan beberapa cara yang dianggap benar. dimana s ebagian besar dari mereka mempunyai inteligensi sedang-sedang saja (normal). Polya (1973: 172 & 206) menganjurkan dalam melakukan pemecahan masa lah sebaiknya guru memiliki semangat yang tinggi. kategori kemampuan merupakan hal yang penting untuk diperhatikan khususnya dalam pengembangan pendekatan pembelajaran baru agar tercipta pembela jaran yang lebih berpusat pada siswa dengan hasil optimal. dan sisanya merupakan kelompok sedang. maka diantara mereka terdapat siswa pandai. dapat ditentukan seberapa besar jumlah siswa yang b erada pada kelompok atas. sedang. The middle 50 percent are relatively homoge­neous in their abi lities to achieve in mathematics. 27% skor teratas disebut kelompok atas (tinggi). Perhatian tersebut te rutama ditujukan pada antisipasi untuk melakukan intervensi yang perlu dipersiap kan guru sesuai dengan latar belakang kemampuan siswa. Faktor-faktor yang dapat Meningkatkan Kemampuan Memecahkan Masalah Matematika Kemampuan pemecahan masalah siswa berkembang secara perlahan dan kontinu. guru me mberi arahan melalui pertanyaan Apakah kamu tahu hubungan yang ada dalam masalah ini? . Reckzeh. bahkan siswa nantinya m enetapkan sendiri cara yang paling sesuai. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Grossnickle.

pengeta huan tentang rumus-rumus. 2) proses metakognitif. Basis pengetahuan ma tematika siswa meliputi pengetahuan informalnya tentang matematika dan pengetahu an intuitif. Kegiatan memproses informasi tersebut bermula dari rangsang yang dapat diterima oleh indera manusia. siswa juga menyadari langkah yang diambil apakah ber jalan dengan baik atau menemui hambatan sehingga dapat mendorong siswa untuk mem ikirkan alternatif lain atau berusaha memahami kembali apa masalahnya. Pengetahuan matematika yang tersimpan dalam memori jangka panjang siswa inilah yang akan dimanfaatkan untuk mencari penyelesaian masalah. atau hanya tersimpan sementara dalam me mori jangka pendek dan beberapa akan bertahan dalam memori jangka panjang siswa. Sebagaima na halnya dengan strategi. siswa menyadari bagaimana dan mengapa diri nya melakukan hal tersebut. yaitu informasi yang diperoleh dari penglihatannya. Kemudian. Penemuan untuk menyel esaikan masalah berdasarkan pengetahuan tergantung dari muatan dalam memori sisw a. terkadang strategi yang di gunakan untuk memperoleh solusi tidak selalu berjalan dengan baik sehingga siswa juga perlu memiliki fleksibilitas dalam memilih pendekatan dan fleksibilitas da lam berpikir. Pros es untuk mengakses pengetahuan yang tersimpan dalam memori tersebut dapat digamb arkan pada Bagan 1 (Schoenfeld. Di samping itu. 2) mengetahui keberadaannya tetapi tidak secara detil. Pendekatan terhadap masalah juga mencakup usaha un tuk memahami masalah. dan 3) keyakinan dan perilaku siswa terhadap matemat ika. faktor kemampuan dalam memilih pendekatan pe mecahan masalah. mengidentiflkasi informasi yang relevan dan yang tidak rel evan. pendeng arannya atau perabaannya dari lingkungan di sekitarnya atau dari suatu penugasan . Menurut Gorman (1974: 312). keyakinan dan k esungguhan. prosedur rutin. definisi. prosedur algoritmik. Beberapa inf ormasi akan hilang atau tidak tersimpan. dan 4) yak . dan bagaimana pengetahuan tersebut dikembangkan. fakta dasar. bagaimana perasaan siswa tentang pemecahan masalah dan tentang matematika secara umum mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap usahanya untuk memecahka n masalah dan keberhasilannya dalam matematika. bila informasi tersebut tidak diabaikan akan diubah dalam bentuk yan g dapat diproses dalam otak manusia untuk disimpan dalam memorinya.ah. Kemampuan siswa dalam memecahkan masalah terk ait dengan pengetahuan yang dimilikinya. objektivitas dan keterbukaan dalam berpikir juga d apat meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. memilih strategi yang sesuai. serta latihan-latihan. masalah dapat dibagi menjadi empat. Proses metakognitif ini. yaitu pengetahuan yang tersimpan dalam memorinya. 1992: 351). Key akinan diinterpretasikan sebagai pemahaman dan perasaan seseorang yang membentuk konseptualisasi dan keterikatan seseorang dengan matematika. kemampuan metakognitif ini juga dapat dipelajari. Namun. monitoring dan kontrol. strategi pemecahan masalah. Pendekatan pemecahan masalah yang berdasarkan pada keterampilan bernalar berupa uji hipotesis lebih efektif dibandingkan dengan pendekatan yang tidak berdasarkan pada keterampilan bernalar. Sisw a harus dapat membedakan informasi yang relevan dan yang tidak relevan terhadap masalah yang dihadapinya. yaitu: 1) sama sekali tidak mengetahui . yaitu mencakup kepercayaan diri. yaitu: basis pengetahuan. prinsip matematika atau aturan lain yang relevan. siswa perlu memantau jalan berpikirnya. kesungguh­-sungguhan dan ketekunan si swa dalam mencari pemecahan masalah. faktor-faktor yang dapat meningkatkan kemampuan peme cahan masalah. antara lain adalah kemampuan mencari informasi yang relevan. 3) mengetahui sebagian atau memiliki dugaan secara detil tetapi tidak terlalu yakin. tekad. Strategi pemecahan masalah merupakan metode yang dapat diidentifikasi untuk mela kukan pendekatan dalam menyelesaikan masalah. Kemudian. Berdasarkan tingkatan pengetahuan siswa berkaitan dengan masalah yang dihadap inya. Dalam proses memecahkan masalah. sehingga suatu strategi pemecahan masalah dapat digeneralisasi. Schoenfeld (1992: 348) mensintesiskan lima aspek kognitif penting. Di samping penguas aan siswa akan beragam strategi pemecahan masalah dan pentingnya proses metakogn itif. serta menilai apakah jawaban yang dihasilkan tersebut rasional. Objektivitas dapat m embantu siswa untuk bernalar secara logis.

meng gunakan kalkulator atau komputer. The Structure of Memory The Structure of Memory Dalam pembelajaran. Keyaki nan siswa tentang hakikat matematika antara lain: masalah matematika hanya memil iki satu jawaban benar. sehin gga mereka merasa lebih mudah untuk menghafalkan saja dan menerapkannya secara m ekanistis tanpa pemahaman. Siswa umumnya juga berkeyakinan bahwa belajar matematika merupakan aktivit as terisolir dan individu. 2) menghargai pertanyaan siswa dan ide-i denya. membuat gambar. mencari pola. Kemampuan pemecahan masalah merupakan keterampilan yang diperoleh siswa dari bel ajar matematika. antara lain: 1) menyediakan lingkungan belajar yang mendorong ke bebasan siswa untuk berekspresi. setidaknya ada dua unsur yang terlibat yaitu siswa dan guru. Posamentier & Stepelman (1990: 132) memaparkan faktor-faktor yang dapat meningka tkan kreativitas siswa dalam memecahkan masalah dilihat dari aspek lingkungan be lajar dan guru. 1990: 117 118). Siswa hendaknya memiliki keterampilan untuk memilih sendiri strategi apa yang tepat un tuk masalah yang dihadapinya tersebut. Bagaimana keyakinan siswa tentang matematika dan bagaimana keyakinan guru tenta ng matematika tentu berpengaruh terhadap proses pembelajaran itu sendiri. Adapun keyakinan guru tentang matematika misalnya: ma tematika lebih merupakan ide dan proses berpikir daripada fakta. membuat tabel. Cara itu biasanya adalah cara yang sering diajarkan guru di k elas. penemuan dan verifikasi merupakan proses yang penting dalam pembelajaran matem atika. memperhitungkan segala kemungkinan.in mengetahui. Untuk itu. semakin baik pula kemampuan pemecahan masalahnya. atau mengg unakan sudut pandang yang berbeda (Posamentier & Stepelman. membuat dan mengorganis ir data atau informasi. matematika yang dipelajari di sekolah hanya memiliki sedikit keterkaitan atau tidak terkait sama sekali dengan dunia nyata. dan hanya ada satu cara yang benar untuk menyelesaikan m asalah matematika. Guru seharusnya mendorong siswa untuk membuat dugaan dan menalar sesuatu de ngan usahanya sendiri daripada menunjukkan kepada siswa bagaimana cara mencapai solusi atau jawaban. Guru seharusnya dapat menarik intuisi dan pengalaman siswa ketika menyajikan suatu materi agar menjadikannya lebih bermakna (Schoenfeld. matematika akan lebih baik dipahami dengan cara menemukan kembali ide tersebut. sehingga latihan merupakan hal yang penting agar siswa semakin terampil. menuliskan persamaan atau kalimat terbuka. Faktor lain yang dapat meningkatkan k emampuan pemecahan masalah dari aspek guru yaitu perlakuan motivasional terhadap . Guru juga berkeyakinan bahwa tujuan utama dari belajar matematika adalah mengembangkan keterampilan bernalar yang penting bagi pemecahan masalah. dan 4) memberi penilaian terhadap orisinalitas ide siswa dan mendorong pembelajaran kooperatif yang mengembangkan kreativitas pemecahan masal ah siswa. Bentuk kegiatan pemecahan masalah secara berkelompok dinilai lebih efe ktif daripada dilakukan secara individual. mencoba pada masa lah analog yang lebih sederhana. siswa juga hendaknya dapat menggunakan st rategi tersebut pada beragam masalah yang melibatkan konteks yang berbeda dan ba gian yang berbeda dari matematika. siswa diberi kebebasan untuk melakukan dugaan dan pembuktian sendiri berdasarkan konsep-konsep matematika yang dimilikinya. a ntara lain: strategi coba-coba atau menebak kemudian menguji. bekerja mundur. Strategi pemecahan masalah yang biasa diajarkan dalam pembelajaran matematika. Akan l ebih baik bila siswa tidak hanya dilatih untuk menggunakan satu strategi dalam m emecahkan masalah. 19 92: 359 360). menalar dengan logika. Siswa ber kemampuan rata-rata tidak dapat diharapkan untuk bisa memahami matematika. Oleh karena itu . 3) memberi kesempatan bagi siswa untuk mencari dan menemukan solusi denga n caranya sendiri. Semakin siswa berpengalaman dalam memecahkan beragam masalah. Guru ha rus merancang dan mengelola aktivitas belajar yang bersifat terbuka dan informal agar siswa memiliki kebebasan untuk bertanya dan mengeksplorasi ide mereka send iri. me nggunakan model matematika.

Kemampuan metakognitif atau kemampuan untuk melakukan monitoring dan kontrol selama proses memecahkan masalah. den gan setiap usaha yang dilakukannya tidak bersifat menilai tetapi hanya bersifat mendorong dan selalu menghargai setiap solusi yang diperoleh siswa. Keterampilan berpikir dan bernalar siswa yaitu kemampuan berpikir yang fleksibe l dan objektif. dan karakteristik yang ditempuh oleh siswa dalam menyelesaikan masalah sehing ga menemukan jawaban soal. Selanjutnya. Keyakinan yang positif tentang be lajar matematika. bernegosiasi dengan sesam a teman dan guru. Kemampuan memecah kan masalah menjadi target pembelajaran matematika yang sangat berguna bagi sisw a dalam kehidupannya. Kemampuan pendukung ter sebut diantaranya berkolaborasi. Dalam penelitian ini. . Dengan demikian. Perilaku siswa yang positif.siswa seperti memberikan toleransi dan pengertian. strateg i. tekad. kesungguh-sungguhan dan ketekunan siswa dalam mencari pemecahan masalah s erta latihan-latihan. melakukan kooperatif. Sementara guru berperan sebagai fasilisator dan motivator. maka pemecahan masalah merupakan suatu subjek (mater i yang harus dipelajari). faktor-faktor yang dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masal ah siswa adalah kemampuan memahami ruang lingkup masalah dan mencari informasi y ang relevan untuk mencapai solusi. kemampuan memecahkan masalah matematika dalam penelitian ini merupakan kemampuan berpikir siswa dalam menyelesaikan soal matematika berd asarkan pada suatu kegiatan yang lebih mengutamakan pentingnya prosedur. Melalui aktivitas pemecahan masalah. pemecahan masalah dianggap sebagai standar kemampuan yang harus dimiliki siswa setelah menyelesaikan suatu pembelajaran. yaitu mencakup kepercayaan diri. strategi pembelajaran dan merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam matematika yang harus dimiliki oleh siswa sehingga dapat m elakukan aktivitas matematika doing math dalam situasi di dalam maupun di luar pem belajaran. kemampuan dalam memilih pendekatan pemecahan masalah atau strategi pemecahan masalah dimana kemampuan ini dipengaruhi oleh ke terampilan siswa dalam merepresentasikan masalah dan struktur pengetahuan siswa. siswa dapat memperbai ki kemampuan dirinya melakukan semua ketentuan pemecahan masalah. Berdasarkan uraian di atas. Siswa menjadi biasa melakukan tahap-tahap pemecahan masalah matematika dan melengkapi keteramp ilan pendukung untuk menyelusuri setiap tahap pemecahan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful