PP5202 Dampak Pariwisata Program Magister Perencanaan Kepariwisataan, Institut Teknologi Bandung, 2013

Dampak Sosial Pada Pariwisata
Ahmad Rimba Dirgantara NIM 95712002
Abstrak

Studi pada makalah ini berkaitan dengan dampak yang terjadi dalam kehidupan sosial masyarakat, yang terjadi akibat dari adanya kegiatan pariwisata di daerahnya. Tingginya jumlah wisatawan yang berkunjung ke suatu daerah atau objek wisata dapat berakibat positif maupun negatif. Untuk mengetahui pertumbuhan pengunjung, digunakan pendekatan teori Bulter sebagai acuan, teori ini merupakan implikasi dari dampak sosial pariwisata. Sedangkan pada dampak yang terlihat secara langsung menurut Ritchie dan Zins (1978) ialah handicraft, pakaian tradisional dan tekstil, bahasa, tradisi, gastronomy, arsitektur, agama, pakaian dan leisure aktivitas. Metode yang digunakan pada makalah ini ialah dengan menggunakan metode deskriptif dengan sumber data melalui data sekunder sebagai penguat argumen. Hasil dari makalah ini, diharapkan dapat dijadikan bahan studi kepariwisatan menyangkut dampak sosial yang dihasilkan oleh pariwisata.
Kata kunci: Dampak sosial, Pariwisata, Tourism life cycle, Bali.

Pendahuluan

Pariwisata telah menjadi sektor yang memberikan kontribusi signifikan dari ekonomi global. Selama tahun 1996 Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) memperkirakan bahwa ada total 592 juta pariwisata kedatangan internasional, meningkat 4,5 persen dari tahun 1995. Pengeluaran dari wisatawan ini berjumlah sekitar $, US423 miliar, atau meningkat 7,6 persen pada tahun sebelumnya. Dari data terbaru UNWTO menyebutkan bahwa kedatangan wisatawan internasional melampaui angka 1 miliar untuk pertama kalinya pada tahun 2012, mencapai total 1,035 miliar turis, 39 juta lebih dari tahun 2011. Hal tersebut mengindikasikan bahwa pertumbuhan pariwisata sangat pesat. Pesatnya pertumbuhan pariwisata selain berdampak positif juga berdampak negatif. Gee (1989) dalam bukunya yang berjudul “The Travel Industry”, mengatakan bahwa “as tourism grows and travelers increases, so does the potential for both positive and negative impacts ”. (Gee mengatakan adanya dampak atau pengaruh yang positif maupun negatif karena adanya pengembangan pariwisata dan kunjungan wisatawan yang meningkat). Dampak positif bisa terlihat jelas dan dapat diukur pada sektor ekonomi, disamping dampak negatifnya. Sedangkan pada sektor sosial budaya, dampak positif dan negatifnya sulit untuk diukur namun bisa terlihat jelas pada handicraft, pakaian tradisional dan tekstil, bahasa, tradisi, gastronomy, arsitektur, agama, pakaian dan leisure aktivitas. Kedelapan hal itu sebagaimana identifikasi menurut Ritchie dan Zins (1978). Untuk lebih jelas mengetahui dampak pariwista dapat mengacu pada Teori Butler sebagai acuan untuk melihat dampak sosial dari pariwisata. Dalam teori Butler, dimulai dari tahap exploration, involvement, development , consolidation and stagnation, decline or rejuvenation memiliki keterkaitan terhadap sikap masyarakat lokal terhadap wisatawan atau turis. Teori ini merupakan teori siklus destinasi pariwisata disamping teori lain yang berhubungan dengan sikap host communities (masyarakat lokal) terhadap wisatawan. Teori Doxey (1975) dan Milligan (1989) akan memaparkan lebih rinci mengenai sikap dari masyakarat lokal terhadap wisatawan atau turis.
Implikasi teori Butler pada dampak sosial pariwisata

Butler mengidentifikasikan enam tingkatan dalam evolusi area pariwisata, teori ini berhubungan dengan product lifecyle dalam teori marketing. Tingkatannya sebagai berikut: 1. The exploration stage Pada tingkatan satu ini, karakteristik wisatawan senang mengexplorasi atau berpetualang, dimana hanya sebagaian kecil pengunjung. Dalam identifikasi Plog (1977) disebut ‘allocentrics’ sedangkan Cohen (1979c) menyebutnya ‘explorers’, keduanya sama-sama memberi pengertian bahwa tingkatan ini wisatawan memiliki pengaturan tujuan sendiri dan terlihat lebih akrab dengan penduduk lokal. Dan juga wisatawan akan berusaha berbicara dengan bahasa penduduk lokal dan mengidentifikasi budaya setempat. Penduduk lokal akan menerima turis dengan “tangan terbuka”, turis

1

Resort telah mencapai kapasitas penuh. 2. menarik pangsa pasar dari pusat-pusat penduduk. Dan juga. yaitu dengan meminjam dan kepada pengusaha. Untuk itu mereka memcari tambahan dana melalui sumber komersial. begitu pun the niche tour operators. Masyarakat lokal mulai untuk menanggapi peningkatan jumlah wisatawan dengan membuat beberapa fasilitas tambahan khusus untuk wisatawan. meskipun masih dalam kerangka hubungan kebaikan. The consolidation and stagnation stages Pada fase ini ekspansi berhenti. Sedangkan menurut pendapat Turner dan Ash (1975) wisatawan penjelajah menyenangi sesuatu tempattempat yang baru dan belum teridentifikasi. hubungan pelayanan provider masih tetap dengan karakteristik interaksi komersial yang friendly disamping itu profesionalism industri ditingkatkan. pasar destinasi pariwisata diambil alih oleh perusahaan besar. resort kehilangan 'eksklusivitas'nya. dan karenanya fase stagnasi tercapai. 5. Butler menjelaskan tahap ini sebagai satu tempat dimana tempat masyarakat menjadi suatu resort wisata. The development stage Pada tahap ketiga sudah terjadi pengembangan yang terus berjalan. Dalam tahap eksplorasi. Pada bagian awal dari tahap ini. Proses komersialisasi dapat ditelusuri ke akarnya. Beberapa di antaranya dimiliki oleh warga sekitar dan beberapa oleh negara. secara individual atau berbasis keluarga. Bisnis ritel baru muncul. Pendapatan yang diperoleh dari wisatawan cenderung turun. The involvement stage Dalam tahap ini terdapat peningkatan jumlah turis atau wisatawan. Setiap aktivitas komersial yang terjadi adalah skala kecil. bahkan mungkin melebihi pada waktu-waktu tertentu dalam setahun. Hal ini tidak dapat dihindari bahwasannya hubungan antara penduduk lokal dan pengunjung akan berubah. Dari perspektif industri. pengusaha menjadi semakin 'profesional' dalam melakukan layanan mereka. aktivitas kewirausahaan tersebut masih cenderung berbasis keluarga. dampak sosial kecil. Dalam masa ini pertumbuhan industri bergerak lambat. Kombinasi komoditas produk wisata dan perubahaan alami wisatawan. dan para wisatawan masih memiliki keinginan yang tinggi dan simpati dengan cara lokal hidup. Para wisatawan dalam fase ini cenderung bersifat 'massal' dan ‘psychocentrics’. operator tur mungkin harus memberikan harga yang rendah untuk menarik jumlah wisatawan yang mereka anggap perlu untuk dipertahankan sebagai bahan investasi mereka. yang kemudian akan meneruskannya kepada teman-teman mereka. Hubungan antara turis dan penduduk lokal akan berubah. dan ada secara efektif tidak ada penerapan strategi pemasaran formal oleh anggota masyarakat lokal. 4. Tingkat pendapatan yang berasal dari turis mulai meningkat dan menjadi lebih penting bagi pengusaha. ‘pleasure periphery’ beralih.memberikan sesuatu hal yang baru dan tidak menutup kemungkinan untuk lebih menerima penduduk asing dari luar. yang memiliki pengalaman ritel atau katering. dan mungkin kemudian akan mencetak beberapa selebaran leaflet untuk diberikan kepada tamu mereka. keterlibatan penduduk lokal semakin berkurang digantikan oleh penduduk dari luar daerah sebagai pekerja hotel dan restoran. Hal ini berimplikasi bahwa hubungan antara pengunjung pada area wisata dan penduduk lokal yang tidak dapat secara langsung ikut dalam kegiatan pariwisata dapat dipertimbangkan. Rejuvenation or decline 2 . Pemilik akomodasi hanya menampilkan tanda-tanda yang menunjukkan bahwa ada kamar kosong. sedangkan pemasaran daerah masih kurang. 3. Strategi perusahaan beralih ke mempertahankan jumlah pengunjung. Dalam perspektif Plog (1977) disebut 'midcentrics' sedangkan pada pendapat Cohen (1979) disebut 'turis institusional' yang akan muncul. Beberapa anggota masyarakat memungkinkan berbagi sebagian tempat tinggalnya dijadikan tempat untuk turis menetap. pariwisata akan menjadi sebuah bisnis dan pariwisata tidak lagi menjadi sesuatu yang baru dan menggembirakan. Pada tahap akhir keterlibatan beberapa masyarakat lokal menyadari bahwa pariwisata akan terus tumbuh. Pengambilalihan dan merger terjadi dalam industri seperti pada transportasi-leisureakomodasi buyout perusahaan terjadi dan struktur industri yang 'rasional' atas dasar pengurangan biaya dan penyerapan keuntungan. dan untuk mengimbanginya membutuhkan perluasan fasilitas. Dalam rangka untuk mempertahankan jumlah pengunjung. Isu ini adalah menganggap apakah penduduk lokal tidak mendapatkan pekerjaan dalam pariwisata dan tetap menjadi isu yang ada bagi turis sebagai individu dan industri secara keseluruhan. Pada periode akhir ini keterlibatan dan tahap awal pengembangan. Pada tahap ini hubungan antara masyarakat lokal dan wisatawan masih harmonis. Tingkat kunjungan turis cukup tinggi. dan juga membuat kemungkinan antara penduduk lokal yang berpartisipasi atau ikut serta dalam industri dan bagi yang tidak. pengembangan dipusatkan pada tempattempat yang terdapat banyak turis. Hubungan antara host / penduduk dan tamu / pengunjung berubah perlahan dengan penyediakan layanan dan klien. masyarakat mulai menarik minat di luar pariwisata.

Oleh karena itu makro-dampak sosial mengacu pada pola yang luas dari pola budaya dan sosial dari perilaku. Konsep Milligan Sejalan dengan pendapat di atas. dan menjadi pengaruh studi Butler ialah studi Doxey pada tahun 1975. Doxey melihat konsekuensi dari banyak hotel yang memperkerjakan karyawannya dari luar 3 . Hubungan ini dapat dikategorikan sebagai berikut: 1. Kurva Konsep wisatawan menurut Doxey dalam Model Doxey Irredex B. dan menganggap pariwisata sebagai sumber pemasukan ekonomi yang menjanjikan. suatu destinasi pariwisata dapat dilihat evaluasinya selama berkiprah dalam sebuah industri pariwisata. Milligan (1989) berpendapat bahwa penduduk lokal merasa terganggu dengan kedatangan para wisatawan karena masalah kepadatan yang mereka bawa. Studi dari Milligan beberapa memiliki perbedaan konteks dengan apa yang di applikasikan oleh Doxey Irredex sebagai Guernsey. Tahap selanjutnya. 2. kebanyakan dari toko mengubah aturan mereka. terutama mereka yang 'outsiders' penjelajah. Perubahan lingkungan fisik yang didedikasikan untuk turis terlibat pada kegiatan umumnya hedonistik dibebaskan dari kendala yang normal dapat dikatakan berpotensi mewakili satu set spesifik nilai-nilai yang mungkin atau mungkin tidak sama dan sebangun dengan orang-orang dari komunitas penduduk. Dalam tahap 'Apathy' lambat laun perbandingan antara penduduk lokal dan wisatawan berubah. Langkah-langkah yang berlaku di sini termasuk jumlah interaksi penduduk keluar dengan kedatangan disuatu wilayah. siklus destinasi dapat diungkap. jalan-jalan menjadi macet. penolakan masyarakat lokal bergerak ke arah permusuhan (antagonism). Guernsey bukan merupakan pengembangan area atau wilayah. Hal ini berkaitan dengan pertukaran sosial pada tingkat pengalaman individu. pariwisata dianggap sebagai penyebab perubahan yang ada di daerah mereka. toko-toko suvenir misalnya yang digunakan sedikit orang lokal. durasi dan sifat pertemuanpertemuan. Walau bagaimana pun. Konsep wisatawan menurut Doxey dan Milligan A. Pada tahap ini masyarakat lokal bersikap terbuka terhadap wisatawan. masyarakat lokal menjadi kaum yang marginal dalam tempat tinggalnya sendiri. Ketika siklus bergerak ke tahap involvement. dan mereka bekerja di sektor perhotelan dan asosiasi. 1980) memungkinkan serangkaian model hubungan penduduk / pengunjung yang harus dipertimbangkan. Doxey mengamati bahwa hanya sebagian kecil dari masyarakat lokal yang turut andil dalam kegiatan pariwisata. dari sikap apathy ke sikap annoyance. Tahap yang pertama ialah 'Euphoria'. dan cara-cara di mana rapat tersebut ditandai dan dievaluasi. tetapi menikmati semua keuntungan yang diterima melalui pajak dengan pengaruhnya terhadap pekerja yang berada pada sektor finansial. Kepadatan mulai terjadi. Doxey menyarankan bahwa. apakah akan terus berjalan (sustainable) ataukah akan ditinggalkan oleh pengunjungnya (wisatawan). Akibatnya set perubahan budaya yang timbul dari efek demonstrasi dan afiliasi dapat terjadi yang berdampak pada kohesi sosial masyarakat penduduk dan cara-cara dimana ini diungkapkan. Tidak dapat ditutupi bahwasannya pariwisata telah menjadi bagian signifikan dari Ekonomi Guernsey.Pada tahapan ini. Tujuan Butler Lifecycle (Butler. Micro-individual interchanges. Masalah terjadi dalam kapasitas yang berlebihan merujuk pada tahap stagnasi pada siklus Bulter. dan juga kemarahan bisa langsung terjadi kepada para wisatawan. Dalam model Irridex. penduduk lokal mendapatkan pekerjaan yang layak. Perubahan dalam suasana fisik tidak bebas nilai. Konsep Doxey Salah satu studi pertama. Macro-social impacts Hal ini berkaitan dengan cara di mana lingkungan sosial dan fisik mulai berubah dalam menanggapi tingkat pertumbuhan pariwisata. perubahan spesifik dalam sikap terjadi dalam masyarakat lokal terhadap pariwisata. Kemungkinan karakter terbesar dapat terlihat pada segi industri sebagai contoh konsumen datang untuk menyediakan pelayanan.

tempat produksi yang 'authentic' dalam rangka menarik rute perjalanan wisata mereka. terutama dari mereka yang hanya membayar dengan sejumlah kecil uang. Dokumentasi tersebut mendefinisikan Maori bentuk seni tidak sepenuhnya oleh desain. Keyakinan pada perspektif suku Maori. menenun dan menempa logam. Mereka merasakan seperti orang yang 'inferior' karena mereka tidak tinggal menetap. Tentu saja pada tahun 2002 itu akan adil untuk menyatakan bahwa banyak seniman yang disetujui tidak akan melihat diri mereka sebagai memenuhi permintaan terutama dari turis. Kekhawatiran dari Aotearoa Maori Pariwisata Federasi bertemu pada tahun 2001 dengan berdirinya label iho toi oleh Selandia Baru Kreatif. telah ada beberapa penelitian dari industri tekstil di Amerika Selatan dan keterkaitan dengan pariwisata (misalnya Cohen. Pada dasarnya mereka berpendapat bahwa dalam kedua kasus karya asli suku Maori dan Navajo telah mendapatkan manfaat dari kontak dengan turis. Kebanyakan pekerja berusia muda.yang terakhir menerapkan untuk bekerja bersama-diproduksi oleh Maori dan non-Maori. bioskop. 2001). Milligan mengabarkan bahwa mereka dipakai untuk bekerja di beberapa toko. bahwasannya pakaian tradisional dinilai telah memberikan pengaruh kepada designer dari studio fashion terbesar. Sebagai contohnya di dalam promosi suatu tempat.'imported'. dengan merujuk pada kebudayaan suku Maori dan Navajo. contoh pada Seni suku 4 . diskotik dan tempat-tempat hiburan sebagai penduduk lokal. Tabel 1. terlepas dari niat baik di balik branding. juga dengan mengadakan pembentukan koperasi atau pameran untuk menjual produk textile dan seni kepada wisatawan. Kriteria untuk pekerjaan pertama adalah bahwa seniman harus membuktikan bahwa ia adalah keturunan Maori. Pakaian Tradisional dan Tekstil Pada kriteria ini. kebanyakan pekerja tidak bekerja secara lama di Guernsey karena mereka hanya bekerja pada saat bulan-bulan penuh wisatawan. bayaran dan prospek karir. Dua klasifikasi ada Toi iho maori dibuat dan Toi iho maori co-produksi . masalah ini bukan salah satu dari kepatuhan untuk menganggap 'authenticity' tetapi kontrol dan pengakuan dari nilai bentuk seni Maori. dan bukan sebagai penduduk lokal. seniman sendiri telah memasukkan warna baru dan tema ke dalam pekerjaan mereka. Di beberapa tempat skema mengenai merk atau logo 'authentical' mulai diperhitungkan. tetapi oleh apakah pekerjaan dipahami dan dilaksanakan oleh Maori. 37 seniman telah dikreditkan dengan hak untuk menggunakan merek tersebut. 1. para pekerja luar yang dipersalahkan atas semua itu yang turis tidak dapat bertanggung jawab secara langsung Apathy Annoyance Pengunjung menjadi terbiasa dengan pariwisata dan keadaan menjadi semakin formal Acceptance Kejenuhan mulai terlihat dan masyarakat lokal Annoyance mulai meragukan kegiatan pariwisata. Handicraft Ryan dan Crotts (1997) mengutarakan contoh mengenai hubungan jauh antara pariwisata dan seni memahat. hanya sebagian kecil saja yang terkena dampak dari masalah sosial pada pariwisata. tidak hanya turis menyediakan pasar. Lebih tradisional. harus menghasilkan karya yang jelas untuk suku Maori dan menjadi orang yang berdiri di masyarakat Maori. 2.1 di bawah ini sebagai perbandingan antara konsep Doxey dan Milligan. belum seragam diadopsi atau diterima bahkan dalam komunitas Maori. 1996). dengan memproduksi karya untuk pasar wisata. Namun. dan perencanaan memerlukan perbaikan sebelum promosi ditingkatkan untuk mengimbangi reputasi resort yang memburuk Antagonism Antagonism Delapan hal yang terpengaruh oleh kegiatan pariwisata Menurut pendapat Ritchie dan Zins (1978) terdapat delapan hal yang berdampak secara langsung oleh kegiatan pariwisata. Dalam studi ini sering terjadi pengacakan pola distribusi. bar. Untuk memperjelas pemahaman konsep mengenai sikap penduduk lokal terhadap wisatawan dapat mengacu kepada Tabel 1. Pariwisata tidak lagi menjadi perhatian penduduk lokal Bertambah gangguan terhadap turis adalah penyebab dari sikap apatis dari pekerja luar yang dilihat sebagai salah satu penyebab memburuknya standar Kedua belah pihak menyadari kebencian dan situasi di antara orang-orang muda yang berubah pendirian.1 di bawah ini merupakan konsep wisatawan menurut Doxey dan Milligan Doxey Irredex Model Euphoria Pengunjung diterima dengan baik dan yang ada hanya perencanaan kecil Milligan Modification Model Curiosity Seseorang seharusnya mengambil pekerjaan ini karena penduduk lokal menganggap bahwa mereka dibawah turis dalam hal status. dan pada tahun 2002. dan mereka berkompetisi di kawasan atau wilayah sebagai penyokong penduduk lokal. Kesempatan bagi industri rumahan menjadi terganggu dengan adanya rantai pola distribusi yang lebih cepat melalui outlet ritel pariwisata. dari perspektif studi pariwisata. Perencana berusaha untuk mengendalikan melalui peningkatan infrastruktur daripada membatasi pertumbuhan Terjadi iritasi terhadap ekpresi yang terbuka. dipublikasikan dalam dokumentasi oleh the Aotearoa Maori Tourism Federation (1995. Namun.

1984. Setiap diskusi tentang hubungan antara arsitektur dan pariwisata harus menyadari bahwa hal itu dapat hanya ada dalam konteks yang lebih luas tentang hubungan antara manusia dan lingkungannya. Salah satu souvenir pakaian yang signifikan menarik wisatawan untuk membeli. tetapi juga memberikan kesempatan kerja bagi mereka dalam industri makanan lokal. 5. ada keinginan untuk memiliki beberapa 'story telling'.Indian Navajo di Mexico. 3. dan ini adalah alasan mengapa kelompok minoritas menjaga kelestarian bahasanya. Keadaan ini berpengaruh terhadap bangunan ciri khas suatu tempat. adalah penting bahwa arsitektur berkaitan dengan kebutuhan masyarakat baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat. tingkat ketertarikan turis terhadap design pakaian 'authentic' Maori. Dalam studinya menemukan bahwa 40% dari wisatawan menempelkan beberapa motif lokal yang penting dalam pakaian souvenirnya dan mereka cenderung lebih suka membeli merk dari 'authentic' Maori daripada design dengan merk yang lain. Rockport dan Rockland. Healy (1994) Poin penting tentang souvenir pakaian dalam pariwisata adalah pada jumlah total pengeluaran para wisatawan dari jumlah proporsi yang kecil namun jumlah itu dapat mengubah akun tingkat pendapatan. Gastronomy Kegiatan pariwisata menghasilkan permintaan tidak hanya untuk makanan tradisional. Namun. Sebagian besar kapal yang dibangun pada pergantian abad ketika Amerika mengandalkan kapal berlayar untuk mengangkut kargo berat dari pelabuhan ke pelabuhan. Tercatat bahwasannya hotel Jamaika memulai menawarkan apa yang diinginkan oleh pengunjung. termasuk misalnya. Contoh. dan keberhasilan stasiun itu telah menjadi model bagi orang lain. Bahasa Bahasa memiliki peran penting tidak hanya sebagai alat komunikasi tetapi bagaimana cara mempersepsikan keadaan dunia. Untuk pendukung 'gerakan arsitektur masyarakat'. Bahasa menjadi salah satu komponen yang penting dari keberlangsungan suatu budaya. The Prince of Wales. Ini memiliki empat belas kapal yang beroperasi dari Camden. terletak di mid-coast Maine. 'story telling' adalah sarana untuk menyampaikan nilai-nilai dan kesamaan yang membantu mengidentifikasi orang. Tradisi Kegiatan pariwisata dapat membuat lapangan kerja. Sebagai contoh the Inuit memiliki 40 kata untuk mendeskripsikan salju. kurangnya regulasi mengenai masalah ini menjadikan bangunan di suatu tempat tidak memiliki ciri khasnya. tetapi juga untuk makanan yang baru. Dalam tradisi terutama lisan. Ziarah tetap menjadi motif yang kuat untuk melakukan suatu perjalanan. dan bahkan hari ini. Maine Windjammers Asosiasi mampu mempertahankan armada kapal berlayar untuk menciptakan masa lalu oleh katering untuk perdagangan turis. Asplet dan Cooper (2000) keduanya mensurvei mengenai isu ini. Bahwa masyarakat dari seluruh dunia berbondong-bondong maupun secara individual memungkinan untuk berziarah menuju Mekkah sebagai salah satu dari kewajiban bagi umat yang beragama Muslim. Henshall-Momsen. Dampak pariwisata terhadap agama sulit untuk dinilai. 4. 7. Pakaian dan Leisure aktivitas 5 . Dengan banyaknya hotel-hotel asing yang berada di daerah tempat wisata menjadi pemandangan yang sangat kontras dengan keadaan sekelilingnya. ketika desain dilakukan untuk menafsirkan pusat Wanuskewin di Saskatechewan Kanada. seperti HRH. Hal ini menyebabkan impor bahan makanan terutama dari Amerika Serikat. Seperti Gino Feruci Braga Hotel dan Aston Hotel. (Belisle. 1986) 6. Erosi dari bahasa membawa implikasi perubahan norma ekspresi. Sebagai salah satu contoh kawasan jalan braga bandung sebagai tempat bangunan bersejarah yang kini telah hilang ruh ke-khasannya karena banyak dari bangunannya sudah tidak terawat dan tergantikan oleh hotel-hotel. Sebagai contoh. namun terkadang kegiatannya tidak bisa konsisten dalam waktu kerjanya. ada untuk menjelaskan budaya masyarakat Indian dataran Amerika Utara yang menempati daerah itu. Agama Ryan (2003) Secara historis. pembicara Maori di Selandia Baru. terutama mereka yang mungkin berhubungan dengan kedua tontonan dan asmara. 8. mantan presiden International Union of Architects. Erosi dari bahasa membawa implikasi perubahan norma ekspresi. dan Rod Hackney. Arsitektur Dampak pariwisata terhadap arsitektur dapat terlihat dengan jelas. Dalam beberapa kasus kepentingan pariwisata menimbulkan dalam tradisi masa lalu. hotel sekarang menawarkan berbagai hidangan tradisional yang tidak hanya menyediakan pengunjung dengan pengalaman baru. Misalnya pembicara Welsh berusaha lama untuk mendapatkan saluran televisi Welsh SC4. ada hubungan kuat antara pariwisata dan agama. dan banyak terdaftar Landmark Bersejarah Nasional. seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang beragama Islam untuk melakukan perjalanan ke Mekkah dan Madinah. karena merupakan kewajiban (bagi yang mampu).

serta meruntuhkan sendi-sendi kerjasama dan tolong menolong yang semula kuat di masyarakat. ekonomis. menunjukkan bahwa masyarakat di daerah pariwisata telah meninggalkan nilai-nilai budayanya. sebagaimana dilaporkan Evelyne Hong (dalam Jafari. Untuk melihat perubahan yang terjadi. yaitu berubahnya sikap dan perilaku masyarakat yang sebelumnya bersifat ritual komunalistis mengarah pada kehidupan individualistis. pada saat ini masyarakat dan kebudayaannya telah mengalami proses transisi sebagai akibat dari pengaruh pariwisata. Berdasarkan penelitian Setyadi (2007) Warga Kuta sebagai representasi dari masyarakat Bali Dataran dan warga Tenganan Pegringsingan sebagai representasi masyarakat Bali Aga yang diteliti. Berkembangnya pola hubungan sosial yang lebih bersifat impersonal. tidak bisa dipercepat). Perubahan Aktivitas dan Etos Kerja Dalam era dimana sebagian besar masyarakat berstatus petani. Di lain pihak. sopir travel. Perubahan Mata Pencaharian Sebelum era 70an. 2. Case Study .Tidak semua objek wisata mengizinkan wisatawannya untuk menggunakan pakaian aslinya. berbagai macam profesi di jalani oleh masyarakat Bali. tingkat integrasi mereka ke daerah pariwisata tidak saja terbatas di dalam tingkat komunitas atau tingkat regional. 7.1986: 131). Adanya komersialisasi kebudayaan Sementara itu. Mundurnya aktivitas gotong royong. berikut ini adalah kutipannya. berapa orang yang masih mencantumkan “petani”? Hanya ada di desa-desa sana. Belakangan ini. pariwisata ditengarai telah merusak nilai-nilai solidaritas dan mengembangkan individualisme. mata pencaharian masyarakat Bali lebih banyak sebagai petani dan sebagian kecilnya pedagang. Hubungan sosial antarmanusia yang pada mulanya didasari oleh nilai-nilai moral berubah menjadi hubungan yang didasari oleh nilai-nilai ekonomi. mulai dari pengusaha hotel hingga pengusaha café remangremang.com/10-perubahan-paling-drastis-dalam-masyarakat-bali-per-2013/) 1. tetapi sudah mencapai tingkat nasional dan internasional. 3. Di era 80an. Meningkatnya mobilitas kerja. Penelitian Mac. Hal ini tercermin dengan adanya pergeseran mata pencaharian pokok masyarakat dari sektor pertanian dalam arti luas ke sektor industri khususnya industri pariwisata. Michelle Obama yang mengunjungi Masjid Istiqlal Jakarta. narkotika. khususnya generasi tua dan generasi muda. semua memakai hitungan masa (misalnya: padi baru bisa dipanen setelah berusia 3 bulan. mulai dari moderator talk show sampai key speaker seminar. perubahan atau pergeseran kebudayaan yang terjadi di kedua desa tersebut pada dasarnya berlangsung secara adaptif. Nilai-nilai tradisional menjadi rusak akibat perkembangan komersialisasi dan materialisme dalam hubungan antarmanusia.Dampak Sosial Pariwisata di Pulau Bali Menurut Setyadi (2007) Di berbagai daerah dan negara. mulai dari pedagang HP hingga pedagang narkoba. karena aktivitas bertani memang tidak bisa diburu-buru. 5. Adanya pertumbuhan penduduk yang cukup pesat di daerah wisata sebagai akibat dari adanya migrasi penduduk pencari kerja ke wilayah tersebut. Pada masyarakat Bali. mulai dari tukang parkir sampai tukang tagih ( debt-collector). travel. 6 . 4. 6. Sebagai contoh kunjungan Kate Middleton (isteri pangeran inggris) ke Masjid Assyakirin di pusat kota Kuala Lumpur. Penelitian di Malaysia. mulai dari calo tanah sampai calo perkara. Nanght juga mencatat terjadinya perubahan struktur dalam kehidupan masyarakat dan kebudayaan Tonga sebagai akibat pembangunan kepariwisataan (Pitana. Tentu saja. guide. 2007). mata pencaharian mulai bergeser ke pegawai pariwisata (pegawai hotel. dan terjadi komersialisasi kesenian. Hal ini disebabkan masyarakat cenderung untuk meniru pola hidup wisatawan dengan kebudayaan yang dibawanya yang dipandang lebih maju dan bernilai tinggi. maupun penyakit kelamin. etos kerja masyarakat Bali mungkin terlihat lamban dan cenderung santai. Berkembangnya konflik antargenerasi. 1. Apabila ditelusuri lebih mendalam. “10 Perubahan Paling Drastis Dalam Masyarakat Bali Per 2013” (http://popbali. Terjadinya gejala social deviance yang meliputi kejahatan. dan demokratis. Ciri-ciri berubahnya sikap dan perilaku masyarakat tersebut terutama terlihat dari kehidupan sehari-hari sampai pada ritus-ritus keagamaan. akibat dari perkembangan pariwisata masyarakat Bali sedang mengalami transisi. itupun mungkin jumlahnya sudah sangat sedikit. dlsb) dan pengerajin. dampak pariwisata khususnya dalam aspek sosial budaya sudah mulai tampak. yang menjadi konsekuensi logis dari adanya aktivitas pariwisata. Hal ini menjadi salah satu daya tarik bagi objek wisata tertentu. Silahkan periksa status pekerjaan yang tercantum di KTP. menurut Mantra (dalam Setyadi. 1994). Hal ini terutama ditandai dengan adanya beberapa indicator berikut. 2. Ini merupakan bentuk penghargaan dari wisatawan sebagai pengunjung terhadap masyarakat lokal dan budaya setempat. sebagaimana dilaporkan Geriya (1983).

Perubahan Busana Dahulu. Putu Ambrose Kusuma. Anak Agung Istri Vedayanti Uttari. Luh Cyntia Nugraha. nyaris tak berbekas kecuali Putu. Generasi yang lahir sebelum tahun 70an masih banyak yang menggunakan nama yang menurut masyarakat di luar Bali. atau • nama yang ‘ke-india-indiaan‘ (konon “kembali ke Hindu murni yang berpusat di India”) Yang mungkin menjadi aneh bagi masyarakat di luar Bali—terutama yang pernah tinggal lama di Bali—adalah adanya kecenderungan untuk tidak menggunakan “I” atau “Ni” di depan nama. Libur sehari untuk menengok upacara keluarga misalnya. yang namanya ‘kamen’ (kain) adalah pakaian sehari-hari. etos kerja masayarakt Bali pada saat itu dianggap santai. adalah kejadian langka. sulit ditemukan. dewasa ini. I Made Simpen. Yang tak kalah menariknya. Ada 2 trend yang paling menonjol menurut Pop Bali. sehingga namanya menjadi: Made Joddie Sijatmika. sekarang kenal. Dahulu Bali tidak mengenal istilah “nama keluarga (besar)”. setiap detail pakaian mengandung makna simbolis. menari. Anak Agung Gede Raka. MM. atau nama suami yang dijadikan nama belakang oleh si Istri— layaknya ‘family name’ dalam budaya barat. pakaian adat Bali menggunakan pakem tertentu. megeguritan. Anak Agung Jhoni (aktor Jhoni Indo). itupun tanpa “I” atau “Ni” di depannya. Misalnya: I Wayan Konten. Beruntung karena sampai saat ini sekolah masih mengajarkan bahasa Bali. Sebagian besar masyarakat Bali sudah lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia.” Semoga. Tutup kantor sekali. Saat ini kamen hanya digunakan dalam acaracara tertentu seperti: persembahyangan atau upacara dan upakara adat. meskipun dalam porsi waktu yang sangat minimal. tergolong drastis. “ time-is-money” kata mereka. dan lain sebagainya. atau Nyoman Sri Siva Kemala Devi. SSos. I Kadek Toni (artis Toni Koeswoyo). Tetapi ini fakta bahwa perubahan penggunaan nama di kalangan masyarakat Bali. I Putu Deni. di warung-warung atau terminal. Sekarang. Putu Gede Budianto. I Gede Dokar. menjadi super sibuk. Sehingga bagi orang di luar Bali. dlsb). yang menggunakan bahasa Bali murni tanpa dicampur dengan bahas lain. 4. Sehingga. Made. megenjekan. Disebut unik karena benar-benar hanya ada di Bali. Wayan. pria dan wanita Bali sudah seperti layaknya pria dan wanita modern—memakai celana panjang atau pendek. Satu-satunya wilayah dimana bahasa Bali cukup sering digunakan hanya di desa-desa. sejak siaran sinetron TV nasional mulai merambah hingga ke pelosok-pelosok. Perubahan Nama Mungkin bisa diperdebatkan. main arja. hampir sudah tidak ada waktu lagi untuk ‘menyama-braya’.Banyaknya waktu luang inilah yang membuat masyarakat Bali. Nyoman. jatah antrean nyupir di halaman hotel sudah diambil-alih orang lain. meniru nama artis ibu kota atau tokoh publik: I Gede Doni (aktor Doni Damara). ngerindik. ajaib. dan Ketut yang masih digunakan. 3. meniup seruling. Ayu Michelle Arianta. penamaan anak sudah mulai bergeser ke nasional. Etos kerja masyarakat Bali saat ini sudah berubah drastis. perubahan penamaan anak sangat drastis. I Kadek Edi. Perubahan Bahasa Sepuluh tahun lalu kita masih sering mendengar percakapan. Melihat orang bertegur sapa di jalanan. dahulu banyak orang tua yang dipanggil dengan menggunakan nama si kecil (anaknya). Ida Ayu Mariana (artis Dina Mariana). yaitu: • nama yang mengarah ke ‘kebarat-baratan’ (mereka menyebutnya “international name”). Selebihnya. Perubahan ini tentu terjadi akibat perubahan mata pencaharian yang begitu drastis dan ledakan angkatan kerja yang mengakibatkan kempetisi menjadi begitu ketat. Dahulu. atau malah dipandang aneh (“terlalu basa-basi. 7 . di era itu. Saat ini. lebian tutur. unik. Disamping masalah efektifitas (berbahasa Bali konon “ribet”). kini. menurut pendapat sebagian orang. Ciri khas nama orang Bali. Ida Bagus Krishna Aditama. kecuali di desa-desa yang jauh di kaki bukit sana. Ni Nyoman Ceraki. banyak juga yang beralasan bahwa menggunakan bahasa Indonesia bisa meminimalkan kesalahan dalam menggunakan bahasa ‘sor-madia-singgih’. 5. Konon. megambel. Nengah. saat ini. dan istrinya dipanggil “Men Ronji”. Ni Luh Pujut. Sekarang kebalikannya. Misalnya: Ayu Michelle Arianta di atas adalah puterinya yang terhormat bapak anggota dewan I Putu Arianta. Di Era 70-80. membaca lontar. nama Ayah atau keluarga besar (biasanya yang paling terkenal) yang dijadikan nama belakang oleh si anak. “supaya kelak si anak siap menyongsong era globalisasi. I Putu Danu.” kata mereka). itupun sudah bercampur-campur. misalnya: I Gede Batur yang punya anak perempuan Ni Ronji dipanggil “Pan Ronji”. selalu punya waktu untuk aktivitasaktivitas berkesenian dan melestarikan budaya (misalnya: mekekawin. AA Putu Keramas. pelanggan sudah marah-marah.

makin pendek siklus. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana para pedagang acung. Orang Bali yang sekarang. tidak harus mengundang banjar. banyak merica dan rempah. kalau sudah urusan uang/harta tak ada istilah “lek”. Contoh lainnya adalah penjualan barang-barang pusaka warisan leluhur. Pak Made dan Pak Ketut yang dahulu sering main Arja sekarang sudah sibuk seminar ini-itu dan sosialiasi ini-itu. melainkan karena sangat menghargai pola pikir dan orientasi orang Bali yang jauh dari ketamakan. Entah disadari atau tidak. makin banyak yang bisa diproduksi. Masyarakat Balipun tidak terkecuali. Gung Aji dan Pak De yang dahulu selalu punya waktu untuk mekekawin di balai Banjar. gerai makanan cepat saji seperti ini telah menjamur dan selalu dipadati oleh masyarakat Bali. Dahulu orang Bali tak kenal yang namanya ‘kebab turki’ atau ‘sashimi’. apa-apa menggunakan ukuran normatif. saat ini. pakaian pengantin pria Bali misalnya. untuk menggalang simpati. Atu Aji. Selera minum orang Bali saat ini adalah beer atau wine. sudah langka. yang dikagumi oleh orang barat. suara dan dukungan pileg dan pilkada. Yang namanya ‘saling asah-asih-dan-asuh’. Keuntungan diri sendiri dan kelompok adalah segalanya. Gung De dan Yan Ajus yang dahulu rajin megambel sekarang sudah lebih sering track-trackan di lapangan Renon atau balapa mobil gelap di Bypass Ngurah Rai ala film “Fast and Furious”. kini sudah lebih sering nongkrong di “Kudeta” atau “Blue Eyes”—untuk entertain relasi bisnis. makin tinggi permintaan. banyak orang asing yang mengadopsi orang Bali untuk dijadikan anak atau saudara. Itu sebabnya orang asing senang dan percaya sepenuhnya dengan orang Bali. 8. nggak enak). sudah sulit dibedakan dengan pakaian adat Sumtera yang menggunakan ‘Baju Bodo’ atau boleronya Aziz Gagap di acara OVJ. survivalitas kini telah menjadi perioritas utama. 8 . sekarang sudah bisa diganti dengan ‘dosa’ dalam bentuk uang. Perubahan Orientasi dan Pola Pikir Ledakan pertumbuhan penduduk ditambah transmigran dari luar pulau. Individualitis mendominasi kebersamaan. tentu tak lepas dari proses industrilisasi secara umum—dimana makin cepat perubahan. Atu Biyang dan Bik I Luh yang dahulu sering terlihat ‘nyait tamas’. ‘Pang kuala untung’ (=yang penting untung). Makanan khas Bali biasanya pedas. dagang bakso dan soto selalu lebih ramai dibandingkan dagang nasi lawar atau siobak Buleleng. saat ini. Ajakan “Lan dum pada mebedik” (=meskipun sedikit ayo kita bagi bersama) sudah kian jarang terdengar. kini lebih sering pergi ke pusat-pusat perbelanjaan. Bukan karena orang asingnya pelit atau memanfaatkan sifat pemalunya orang Bali jaman dahulu. yang penting ‘nu maan susuk’ (=masih dapat selisih antara penghasilan dengan bayar denda). bahkan sampai mewariskan harta bendanya. hanya bisa di temukan di lontar-lontar atau acara ‘dharma wacana’ (kotbah). sulit kita temukan dalam pelaksanaan sehari-hari. cenderung pragmatis. sudah bisa digantikan oleh event organizer dan catering—yang penting punya uang. ‘pang kuala maan pis’ (yang penting dapat uang). Perubahan Makanan dan Minuman Selera makan orang Bali juga sudah banyak mengalami perubahan. mengambil-alih perusahaan tersebut karena namanya dipakai di dalam akte perusahaan. Dahulu. Orang Bali dahulu. menempatkan norma di atas segalanya. kekaguman dan kepercayaan orang asing terhadap kesederhanaan pola pikir dan orientasi orang Bali saat ini. Apa-apa yang penting untung. membuat kompetisi hidup di Bali menjadi semakin ketat. dan lain sebagainya. cenderung manis atau sedang. Perubahan Gaya Hidup dan Pergaulan Mata pencaharian dan profesi yang berubah juga berakibat pada perubahan gaya hidup. Yang namanya ‘berem’. Apa-apa yang penting uang. Pak Wayan. makin banyak uang mengalir ke dalam rekening. ‘pang kuala menang’ (=yang penting menang). pencurian ‘pretima’. bahkan untuk mengambil sesuatu yang menjadi haknya sekalipun. Sekarang. Kesibukan berupacara dan berupakara. Ini jelas representasi dari pergeseran selera makanan. sudah jauh merosot dibandingkan dahulu. Gus Tu. di daerah wisata.Sekarang. yang kerap setengah memaksa turis untuk membeli barang dagangannya. 7. Ada juga kasus dimana orang Bali yang dipercaya mengelola perusahaan oleh orang asing. Itupun belum cukup bagi masyarakat Bali saat ini. Sekarang sudah tidak ada bedanya dengan masakan jawa atau padang. Aktivitas dan kehidupan masyarakat Bali di jaman dahulu yang lebih banyak berada di sekitar desa dan balai banjar kini sudah jauh bergeser. 6. akhirnya ‘pang kuala misi kenehe’ (=yang penting segala ambisi keturutan). Ada pergeseran pola pikir dan orientasi yang sangat drastis di Bali. mereka memegang prinsip “lek” (malu. Perubahan ini. butiq atau SPA. Ketidaksanggupan ‘ngayah’ (gotong royong) misalnya. Diantara masalah-masalah hidup lainnya. Sudah jauh dari pakem aslinya.

yaitu: • Pertama. Bali yang sekarang sudah sangat kompleks. Ada 2 perubahan. 10. Murid menjadi tak segan di luar sekolah karena para guru menempatkan anak didik bukan sebagai anak asuh. sudah nyaris tanpa batas. dimanapun berada. 2005) Pariwisata membawa manfaat ekonomi tetapi memerlukan biaya sosial-budaya. Konversi dari Hindu ke Islam pun belakangan ini juga kian meningkat—terutama melalui proses pernikahan. yang ada hanya “Hindu Bali”. tangisan sedih memprediksi bahwa pariwisata akan menyebabkan disintegrasi budaya Bali yang diimbangi dengan klaim optimis bahwa budaya ini begitu tangguh dan fleksibel yang akan terus bertahan sebagian besar utuh. • Kedua. Konversi yang paling menonjol adalah dari Hindu ke Katolik dan Kristen. Kebutuhan akan kehangatan orang tua digantikan dengan benda mati. Kesimpulan Dampak sosial dari pariwisata terkadang dapat untuk dinilai dan diteliti. Padahal yang terjadi sebaliknya. Anak Agung. I Gusti. plin-plan dan membuat pengecualian-pengecualian untuk kenyamanan diri sendiri. yang menonjol belakangan ini. 9. bagi mereka yang ada di luar Bali. etikapun mengalami perubahan yang cukup drastis—baik dari ucapan maupun perilaku. masih perlu melihat hal-hal lain. Dengan menggunakan pendekataan dari teori Butler sebagai salah satu cara untuk mengetahui siklus hidup destinasi pariwisata kita akan dapat lebih mudah untuk mengidentifikasi dampak sosial dari kegiatan pariwisata. dalam hal agama yang dianut oleh orang Bali. Guru Rupaka (ayah dan ibu) hanya terhormat bila mampu membelikan berbagai fasilitas yang diinginkan oleh anak. Saat ini? Belum tentu. Otonan sudah digantikan dengan hadiah pesta ulang tahun di cafe. pengajian dan wisesa) dahulu adalah sosok yang sangat dihormati di Bali. Namun. setiap orang yang menggunakan nama I Putu. sudah tidak dihormati lagi. perubahan drastis juga terjadi hingga ke bagian dalam. melainkan sebagai pelanggan yang membayar uang sekolah dalam jumlah tinggi. Sedangkan untuk mengetahui secara lebih rinci tentang sikap dari penduduk sekitar tempat destinasi. Figur seorang ‘guru’ (rupaka. Guru Wisesa (pemerintah) hanya dihormati saat masih pegang stempel institusi— menjabat. munculnya perbedaan sekte-sekte diantara penganut Hindu sendiri. mengakibatkan tingkatan dampak negatif menjadi semakin besar. dalam Howe. orientasi. Bahkan konon ada yang sampai tidak ‘mesebelan’ (berdukacita) ketika ada anggota keluarga beda sekte meninggal. Bagaimanapun juga mereka banyak mencontoh perilaku sang guru. dapat mengacu pada model Doxey Irredex dan Milligan. dan datang ke kesimpulan yang sangat berbeda. sudah pasti penganut Hindu. Dari hasil studi di atas dapat disimpulkan bahwasannya kegiatan pariwisata tidak selalu membawa kebaikan atau dampak positif bagi 9 . yaitu: agama. dalam beberapa kasus dampat itu seakan berat untuk dinilai. dan pola pikir. Perubahan Etika Seiring dengan gaya hidup. Michel Picard (1996: 93.Sekarang? Jarang atau mungkin memang sudah tidak pernah ada lagi. di dengarkan wejangan dan arahannya. justru menimbulkan sekte-sekte. yang kian tajam belakangan ini. Gusti Ayu. Ni Luh. mobil dan ticket berlibur. Ketika masalah dikonseptualisasikan dengan cara ini tidaklah mengherankan bahwa pengamat menekankan baik manfaat atau biaya. Biaya ini berasal dari potensi perubahan budaya radikal didorong oleh kebutuhan dan harapan dari para wisatawan daripada masyarakat lokal. di luar sekolah sudah tidak dianggap siapa-siapa. Hal tersebut dapat dilihat pada contoh perubahan di atas. karena ketergantungan berlebih pada industri pariwisata. Perubahan Agama Bukan hanya bagian luar. Begitu tidak berkuasa. Agung Ayu. adanya konversi orang Bali yang semula penganut Hindu ke non-Hindu yang juga massif terjadi di Bali. Anak-anak menjadi tidak mendengar ucapan orang tua karena acapkali ucapan ayah dan ibu tidak bisa dipegang. Dahulu. Untuk melihat apa agama yang dianut oleh orang Bali masa kini. Saat ini. Tentu degradasi etika ini bukan salah generasi muda semata. tidak cukup hanya mengetahui namanya. atau Ida Bagus. Di kalangan orang Bali sendiri banyak yang mengkhawatirkan kemungkinan perubahan status Bali sebagai “pulau seribu Pura” sebentar lagi tinggal kenangan. Guru Pengajian (guru sekolah) hanya disegani di lingkungan sekolah. misalnya: apakah lengannya mengenakan benang ‘Tri Datu’ (gelang benang berwarna ‘merah-hitam-putih’)? Apakah pernah menggunakan ‘bija’ (bijih beras) di dahinya? Howe (2005) Paradoks pariwisata di Bali adalah bahwa. Dahulu nyaris tak ada perbedaan sekte-sekte. Kesadaran masyarakat Bali untuk konon “kembali ke Hindu murni” yang berpusat di India. seperti biasa banyak wisatawan tiba.

Sydney. Pariwisata dan Perubahan Nilai-Nilai Sosial Budaya Berdasarkan Lingkungan Tradisi Pada Masyarakat Bali. tetapi banyak juga dampak negatif yang ditimbulkannya. Sumber lain: http://popbali. Toronto. London and New York. 2005. society and tourism. Ryan. diharapkan kita bisa meminimalisirnya dengan cara yang tepat. Leo. 2003. Recreational Tourism: Demand and Impacts. Setyadi. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Yulianto Bambang. Routledge. Clevedon. Referensi: Howe. Chris. dengan mengetahui dampak-dampak itu. The Changing World of Bali: Religion. Buffalo.com/10-perubahan-paling-drastis-dalam-masyarakat-bali-per-2013/ 10 . Channel View Publication. 2007.pelakunya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful