AYUDINDA AURELI PALUPI

SISTEM PENCATATAN DAN PELAPORAN PUSKESMAS (SP3) REVISI II Juni 9, 2012
Filed under: kesehatan — ayudinda79 @ 4:25 am BAB. I PENDAHULUAN Pembangunan upaya kesehatan masyarakat dilakukan diseluruh pelosok Jawa Barat, melalui keberadaan Puskesmas, Puskesmas dengan Ruang Perawatan, Puskesmas pembantu, Puskesmas Keliling dan juga keberadaan Bidan di Desa. Fungsi indtitusi kesehatan terdepan (Puskesmas) tidak sekedar sebagai pemberi pelayanan kesehatan saja, namun juga melaksanakan berbagai program pembangunan kesehatan masyarakat baik yang bersifat promotif, preventif, kuratif bahkan terkadang sampai rehabilitasi. Disamping itu pembinaan terhadap sarananya baik milik pemerintah maupun swasta dan penggerakan peran serta masyarakat di bdang kesehatan yang berada di wilayah kerjanya yang menjadi tanggung jawabnya. Semua pelaksanaan kegiatan tersebut diatas perlu dicatat dan dilaporkan secara teratur, tepat waktu dan dengan pengisian data yang benar. Dalam era pembangunan ini keberadaan data dan informasi memegang peran yang sangat penting. Data yang benar-benar akurat, terpecaya, bersinambungan, tepat waktu dan mutakhir, sangat diperlukan dalam pengelolaan program, perencanaan, pemantauanpelakasanan program dan proyek serta kegiatan yang akan dilakukan. Salah satu pemantapan dan pengembangan Sistem Informasi Kesehatan melalui pengumpulan data di Puskesmas. Dalam gerak pelaksanaannya masih banyak masalah dan kendala yang dihadapi baik di tingkat Kabupaten/Kota maupun di Provinsi. Upaya pemecahan masalahnya antara lain melalui penyempurnaan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas (SP3) yang merupakan sebagaian kecil dari Sistem Informasi Kesehatan yang telah diakui sebagai sumber data yang berasal dari Puskesmas dan dapat dimanfaatkan diberbagai jenjang administrasi sejak tahun 1981, yang dulunya disebut Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP). Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas (SP3) Revisi I mulai dilaksanakan pada tahun 1996, sebagai penyempurnaan terhadap bentuk pelaporan yang ditetapkan pada tahun 1981. Perkembangan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas (SP3) telah mengalami perubahanperubahan sejak tahun 1996 sampai sekarang dalam upaya pembenahan untuk penyesuaian pemanfaatan data yang selalu berubah-rubah sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan waktu.

Dari hasil supervisi dan pemantauan yang dilaksanakan oleh tingkat Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota ke Puskesmas, masih banyak hal-hal yang menjadi halangan dalam melaksanakan SP3 baik menyangkut tentang pencatatan, pengolahan maupun pelaporannya. Halhal yang berakibatkan laporan SP3 menjadi tidak lengkap, tidak tepat waktu dan kebenarannya yang diragukan dapat diindentifikasikan antara lain meliputi : 1. Data yang dilaporkan tidak semuanya dapat dimanfaatkan baik dari aspek monitoring maupun dari aspek evaluasi; 2. Tidak adanya atau kurang petugas khusus di bidang informasi baik di tingkat Puskesmas maupun ditingkat yang lebih tinggi; 3. Kurangnya sarana dan prasarana untuk pencatatan, pengolahan maupun pelaporan; 4. Kurang trampilnya petugas penyedia, pengumpul dan pengolah data dan pembuat laporan; 5. Kurangnya tingkat kesadaran petugas akan pentingnya dan manfaatnya Data dan Informasi; 6. Semua kegiatan harus dicatat selengkap mungkin, meskipun yang dilaporkan terbatas. Sejalan dengan meningkatnya kebutuhan informasi, maka tahun 2008, sistem pelaporan ini disempurnakan kembali sebagai Revisi II. Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas (SP3) Revisi II merupakan “SP3-Program” yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan para pemegang, pengelola maupun pelaksanaan program di masing-masing tingkatan administrasi. Oleh karena itu bukanlah sesuatu yang mengada-ada kalau dalam penyusunan SP3, para pemegang, pengelola atau pelaksana program disemua tingkatan administrasi mempunyai peran yang sangat penting demi tercapainya “Evidence Based”. Diharapkan pembenahan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas ini dapat menghilangkan faktor masalah yang ada saat ini. Namun masih perlu dipikirkan tentang aspek pelaksanaan dan juga kesediaan pihak swasta untuk melaksanakan pelaporan tersebut dengan tertib. Dalam buku ini disajikan tentang Tujuan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas, Cara Pengisian, Pengertian-pengertian dan batasan-batasan operasional yang dipergunakan.

BAB. II TUJUAN 1. A. TUJUAN UMUM :

Didapatkan semua data hasil kegiatan Puskesmas (termasuk Puskesmas Pembantu, Puskesmas dengan Ruang Perawatan, Puskesmas Keliling, Bidan di desa, Posyandu, dan sebagainya), dan data lainnya yang berkaitan, serta dilaporkan data tersebut kepada jenjang administrasi di atasnya sesuai dengan kebutuhan secara benar, akurat, berkala, teratur guna menunjang pengelolaan upaya kesehatan masyarakat. 1. B. TUJUAN KHUSUS : 1. Tercatatnya semua data dari hasil kegiatan Puskesmas dan data yang berkaitan dalam format-format yang telah ditentukan dengan benar dan bersinambungan; 2. Terlapornya data tersebut di jenjang administrasi yang lebih tinggi sesuai dengan kebutuhan dan mempergunakan format yang telah ditetapkan secara benar, berkelanjutan dan teratur; 3. Terolahnya data tersebut menjadi informasi di Puskesmas dan disetiap jenjang administrasi di atasnya, sehingga bermanfaat untuk mengetahui permasalahan kesehatan yang ada di masyarakat serta merumuskan cara penanggulangan secara tepat; 4. Diperolehnya kesamaan pengertian tentang Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas (SP3), meliputi Batasan Operasional, tatacara pengisian format, pengolahan data dan informasi dan Mekanisme pelaporannya; 5. Mantapnya pelaksanaan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas (SP3) disemua jenjang administrasi, sehingga dapat berhasil guna dan berdaya guna dalam pengelolaan upaya kesehatan masyarakat; 6. Diperolehnya satu sumber data yang dapat dipakai, dimanfaatkan data dengan benar, akurat dan sama;

Yayasan Sarana Pelayanan Kesehatan Swasta a. Membuat laporan berkala ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota 4. Merupakan “Pusat Rujukan Antara” melayani penderita gawat darurat sebelum dapat dirujuk ke rumah sakit. Adapun anggota jaringannya meliputi : Puskesmas Pembantu (Pustu) Puskesmas Keliling (Pusling) Bidan Desa ( Bides) Posyandu Pengobatan Tradisional (Batra) Akupuntur. Puskesmas Perawatan adalah Puskesmas yang diberi tambahan ruangan dan fasilitas untuk menolong penderita gawat darurat berupa tindakan operatif terbatas maupun perawatan sementara di ruangan rawat inap denagn tempat tidur rawat inap.BAB. Shinse Lintas Sektoral LSM . III PENGORGANISASIAN SISTEM PENCATATAN DAN PELAPORAN PUSKESMAS (SP3) A. Memelihara Bank Data 5. Puskesmas merupakan pusat jaringan informasi di tingkat bawah sebagai ujung tombak segala informasi yang ada. Mencatat dan mengumpulkan data baik kegiatan dalam gedung maupun luar gedung dan Lintas Sektoral 2. Mengolah Data dan menganalisa menjadi informasi yang akurat dan dapat dipertanggung jawabkan 3. TINGKAT PUSKESMAS Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan kabupaten/Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja. Memberikan pelayanan data dan Informasi kepada masyarakat dan pihak-pihak berkepentingan lainnya di wilayah kerjanya. Puskesmas memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan antara lain : 1. Mengupayakan penggunaan data dan informasi untuk manajemen Puskesmas 6.l : .

Tugas sebagai berikut : a. dengan berpendidikan minimal SMA Pelaksana Program Dengan Tugas. Mengadakan pertemuan berkala dengan pelaksana program setiap 1 bulan satu kali untuk mengvalidasikan data dan mengevaluasi pelaksanaan SP3. b. Koordinator : • • • • • • Mengkoordinir Laporan Setiap Pemegang Program Mengumpulkan dan Mengolah Data Bertanggung-jawab atas kelancaran pelaksanaan SP3 kepada Kepala Puskesmas Mengkoordinir Entri Data bersama-sama dengan para pemegang program Mengirimkan Laporan ke Kab/Kota Tepat Waktu Distribusikan Format Laporan Ke Pemegang Program . dalam sistem pencatatan dan pelaporan. Kepala Puskesmas : • • • • • • • • • Penanggung-jawab di Tingkat Puskesmas Bertanggung Jawab terhadap Kualitas Data Bertanggung Jawab terhadap Pengumpulan Dan Pengolahan Data SP3 Bertanggung Jawab terhadap Kebenaran Isi Laporan SP3 Bertanggung Jawab terhadap Validasi Data Bertanggung Jawab terhadap Analisa Data Membimbing Kepada Koordinator dan Para Pelaksana Program Koordinasi dengan fasilitas kesehatan swasta dll . RB.BP. Praktek Dr/Drg/Bidan dll Wahana Polindes Poskestren Organisasi Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas (SP3) : Penanggung Jawab SP3 Koordinator SP3 Anggota : : : Kepala Puskesmas Seseorang yang ditunjuk oleh kepala Puskesmas.

Pusling. Memberikan pelayanan data dan Informasi kepada masyarakat dan pihak-pihak berkepentingan lainnya di wilayah kerjanya. Mengupayakan penggunaan data dan informasi untuk manajemen Kabupaten/Kota 7. TINGKAT KABUPATEN / KOTA : Kabupaten/Kota memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan antara lain : 1. Membuat laporan berkala ke Dinas Kesehatan Provinsi 5. Mencatat dan mengumpulkan data baik dari Puskesmas maupun Lintas Sektoral 2. Membuat transformasi pengolahan data yang tercatat sebagai kegiatan program dan merekapitulasi data program Mengisi Format Laporan SP3 sesuai kegiatannya dengan Tepat Waktu Entri Data bersama-sama dengan para pemegang program dan Koordinator Menyajikan Data/Informasi Membantu Kepala Puskesmas dalam Analisisi Data SP3 B. Mengolah Data dan menganalisa menjadi informasi yang akurat dan dapat dipertanggung jawabkan 3. (disesuaikan dengan SOTK di Kabupaten/Kota yang . Bidan di Desa. Pemegang Program : • • • • • • • Mencatat setiap kegiatan pada buku catatan register yang ada Menerima laporan dan mengadakan bimbingan terhadap Pustu. Memelihara Bank Data 6. Perawat Desa.• • • Meneliti Kelengkapan Isi Format Mengarsipkan Validasi Data c. Dan lain-lainnya. Organisasi Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas (SP3) : Penanggung Jawab SP3 Koordinator SP3 : : Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota Kepala Unit Kerja yang memiliki fungsi pengolahan data dan informasi atau seseorang yang ditunjuk oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Membuat Umpan Balik Laporan SP3 ke Puskesmas setiap 3 bulan sekali 4.

. Pemegang Program : • Mengadakan validasi dan koreksi data SP3 yang diterima dari koordinator SP3 Kabupaten/Kota. b.Tugas sebagai berikut : a. Penanggung Jawab SP3 : • • • Penanggung-jawab terhadap pelaksanaan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas Memberikan bimbingan dan pembinaan kepada koordinator. Koordinator SP3 : • • • • • • • • • • • • • • • Mengkoordinir Laporan SP3 Mengumpulkan Dan Mengolah Data Bertanggung-jawab atas kelancaran pelaksanaan SP3 Bertanggung-jawab atas Kualitas Data SP3 Bertanggung-jawab terhadap Pengumpulan Dan Pengolahan Data Sp3 Bertanggung-jawab terhadap Kebenaran Isi Laporan SP3 Bertanggung-jawab terhadap Validasi Data Bertanggung-jawab terhadap Analisa Data Mengkoordinir Entri Data bersama-sama dengan para pemegang program Mengirimkan Laporan Ke Propinsi dengan tepat waktu Distribusikan print out Laporan Ke Pemegang Program Membuat umpan balik SP3 secara periodik 3 bulan satu kali ke tingkat Puskesmas. Meneliti Kelengkapan Isi Format Mengarsipkan Validasi Data c. Mengadakan pertemuan berkala setiap 3 bulan sekali untuk melaksanakan evaluasi hasil pelaksanaan SP3 dan pencapaian kegiatan masing-masing program. pelaksana program baik di Kabupaten/Kota maupun Puskesmas .Anggota : bersangkutan) Pelaksana Program Dengan Tugas.

Organisasi Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas (SP3) : Penanggung Jawab SP3 Penanggung Jawab Pelaksana Koordinator SP3 Anggota : : : : Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan Kepala Seksi Teknologi Informasi Kesehatan Pelaksana Program Dengan Tugas. Memelihara Bank Data 5. Mengolah Data dan menganalisa menjadi informasi yang akurat dan dapat dipertanggung jawabkan 3. Mengadakan pertemuan berkala setiap 6 bulan sekali untuk melaksanakan evaluasi hasil pelaksanaan SP3 dan pencapaian kegiatan masing-masing program.Tugas sebagai berikut : a. • • . Mengupayakan penggunaan data dan informasi untuk manajemen Provinsi 6. C. Membantu kelancaran pelaksanaan SP3 di Puskesmas dan Kabupaten/Kota Mengikuti pertemuan berkala SP3 setiap 3 bulan sekali dan memberikan bahasannya. Mencatat dan mengumpulkan data baik dari Kabupaten/Kota maupun Lintas Sektoral 2. Memberikan pelayanan data dan Informasi kepada masyarakat dan pihak-pihak berkepentingan lainnya di wilayah kerjanya. pelaksana program di tingkat Propinsi Penanggung Jawab Pelaksana SP3 : Bertanggung jawab terhadap kelancaran pelaksanaan SP3. 1. Penanggung Jawab SP3 : • • Penanggung Jawab terhadap pelaksanaan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas (SP3) Memberikan bimbingan dan pembinaan kepada koordinator.• • • Menganalisis hasil olahan data tersebut dan membuat laporan narative serta melaksanakan tindak lanjut kegiatan sesuai hasil analisa data. Membuat Umpan Balik Laporan SP3 ke Kabupaten/Kota setiap 6 bulan sekali 4. TINGKAT PROPINSI : Kabupaten/Kota memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan antara lain : 1.

pelaksana program baik di tingkat Propinsi maupun Kabupaten/Kota dalam hal fasilitasi. Pemegang Program : • • • • • Mengadakan validasi dan koreksi data SP3 yang diterima dari koordinator SP3 Kabupaten/Kota. c. Mengirimkan hasil koreksinya ke koordinator SP3. pelaksana program baik di tingkat Propinsi maupun Kabupaten/Kota dalam hal fasilitasi. Koordinator SP3 : • • • • • • • • • • • • • • • • Mengkoordinir Laporan SP3 Mengumpulkan Dan Mengolah Data Bertanggung-jawab atas kelancaran pelaksanaan SP3 Bertanggung-jawab atas Kualitas Data SP3 Bertanggung-jawab Terhadap Pengumpulan Dan Pengolahan Data Sp3 Bertanggung-jawab Terhadap Kebenaran Isi Laporan SP3 Bertanggung-jawab Terhadap Validasi Data Bertanggung-jawab Terhadap Analisa Data Mengkoordinir Entri Data bersama-sama dengan para pemegang program Memberikan bimbingan dan pembinaan teknis dan substantif kepada koordinator.• Memberikan bimbingan dan pembinaan kepada koordinator. Mengirimkan Laporan Ke Pusat dengan tepat waktu Distribusikan hasil print out Laporan Ke Pemegang Program Membuat umpan balik SP3 secara periodik 6 bulan satu kali ke tingkat Kabupaten/Kota Meneliti Kelengkapan Isi Format Mengarsipkan Validasi Data d. . Menganalisis hasil olahan data tersebut dan membuat laporan narative serta melaksanakan tindak lanjut kegiatan sesuai hasil analisa data. Membantu kelancaran pelaksanaan SP3 di Puskesmas dan Kabupaten/Kota Mengikuti pertemuan berkala SP3 setiap 3 bulan sekali dan memberikan bahasannya.

Bidan Desa.BAB. 1. Balai pengobatan. 1. Laporan Bulanan mengenai Data Kesakitan Laporan Bulanan Program KIA/KB. IV PETUNJUK PENGISIAN Dalam pelaksanaan Sistem Pencatatan dan pelaporan Puskesmas perlu diketahui beberapa batasan tentang istilah yang digunakan untuk mendapatkan kesamaan pengertian. LB-4) dari Puskesmas ke Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota paling lambat pada tanggal 5 bulan berikutnya 2. Puskesmas Keliling. LSD-3) dari Puskesmas ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota paling lambat pada tanggal 10 Januari tahun berikutnya. Laporan Bulanan (LB-1. . LB-3. Puskesmas dengan Perawatan. B. Untuk berbagai data yang dikumpulkan melalui Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas digunakan Formulir standar yang terdiri dari 6 jenis laporan sebagai berikut yaitu : 1. Laporan LB-1 : 1. Dokter / Bidan Praktek swasta dan unit-unit pelayanan kesehatan lainnya baik pemerintah maupun swasta. dan Pemberantasan Pencegahan Penyakit Laporan LB-4 : Laporan Bulanan Kegiatan Puskesmas Laporan LSD-1 : Laporan Tahunan Sumber Daya mengenai data fasilitas dan data kesehatan lainnya serta data lingkungan kedinasan Puskesmas dan Jejaringnya Laporan LSD-2 : Laporan Tahunan Sumber Daya mengenai tenaga di Puskesmas baik dengan perawatan maupun tanpa perawatan dan Puskesmas Pembantu. Laporan LSD-3 : Laporan Tahunan Sumber Daya mengenai Jumlah dan Jenis Peralatan di Puskesmas baik dengan perawatan maupun tanpa perawatan. Pada Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas. FREKUENSI LAPORAN. Laporan Tahunan (LSD-1. Laporan LB-3 : 1. 1. Puskesmas Pembantu. sehingga pencatatan dan pelaporan dilakukan dengan benar dan sama. Gizi. Puskesmas Pembantu dan lainlain. Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas disini sudah mencakup pelayanan kesehatan di puskesmas. Frekwensi dan Periode disesuaikan dengan Jenis Data yang dikumpulkan : 1. Perawat Desa. LSD-2. Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas adalah pencatatan dan pelaporan yang harus dibuat oleh Puskesmas dan direkapitulasi disetiap tingkatan administrasi dengan waktu tertentu. A. FORMAT LAPORAN . 1. 1.

id 4. berdasarkan penderita yang berobat ke dalam gedung Puskesmas maupun luar gedung Puskesmas dan Jejaring Puskesmas yang berada di wilayah kerja Puskesmas. 2 digit berikutnya diisi dengan kode Kabupaten yang mengacu kepada kode wilayah dari BPS. 2 digit terakhir menyatakan nomor urut Puskesmas di kecamatan di mana Puskesmas yang bersangkutan berada. Laporan Bulanan tersebut dikirimkan setiap bulan ke Dinas Kesehatan Provinsi paling lambat pada tanggal 15 bulan berikutnya melalui disket/CD atau e-mail dengan alamat : datinjabar@yahoo. C. Kode Puskesmas adalah kode indentitas Puskesmas yang terdiri atas 11 digit alfanumerik yaitu: • • • • • 1 digit pertama diisi dengan huruf ”P” yang menandakan Puskesmas. Laporan Tahunan tersebut dikirmkan setiap tahun ke Dinas Kesehatan Provinsi paling lambat tanggal 15 Januari tahun berikutnya melalui disket/CD atau e-mail. 1 digit beikutnya diisi dengan angka ”1” apabila Puskesmas tersebut adalah Puskesmas Perawatan dan diisi dengan angka ”2” apabila Puskesmas tersebut adalah Puskesmas Non Perawatan. Agar Data/Informasi yang diperoleh berbasis Desa/Kelurahan.co. Dalam petunjuk pengisian ini tidak dijelaskan hal-hal yang sudah cukup jelas. Puskesmas mengisi Data per-Desa/Kelurahan yang ada di wilayah kerja dan Luar Wilayah kerja Puskesmas sesuai dengan kunjungan pelayanan kesehatan masyarakat. 3 digit berikutnya diisi dengan kode Kecamatan yang mengacu kepada kode wilayah dari BPS.3. pengertian dari variable dijelaskan khusus dalam batasan operasional. 1. • 1. Penjelasan mengenai arti. PETUNJUK PENGISIAN FORMULIR LAPORAN. Kasus penyakit yang dilaporkan berbasis Desa/Kelurahan. LAPORAN BULANAN PENYAKIT (LB 1 ) Laporan Bulanan Penyakit (LB 1) merupakan Laporan Bulanan mengenai Data Kesakitan mencakup data di wilayah kerja Puskesmas. 2 digit berikutnya diisi dengan kode Provinsi yang mengacu kepada kode wilayah dari BPS. maka untuk mengisi Laporan ini. baik berasal dari wilayah maupun luar wilayah kerja Puskesmas .

di posyandu dan melalui Puskesmas Keliling) dan Jejaring Puskesmas yang ada di wilayah kerja Puskesmas 12. Cantumkan nama dan NIP dengan jelas. diisi sesuai kode Puskesmas masing-masing 5. Laporan ini diisi dengan data yang terkumpul selama 1 bulan. Setiap lembar laporan harus diberi tanggal pembuatan dan ditanda-tangani oleh pelapor yaitu Pelaksana Program dan diketahui oleh Kepala Puskesmas.Data kesakitan yang dilaporkan dalam LB 1. LB-1 terdiri dari 18 kelompok penyakit dan 224 variabel penyakit 3. Puskesmas. Tahun : diisi lengkap tahun berjalan 11. Kolom yang telah di arsir. Nama Kabupaten/Kota. perawatan dilakukan di rumah. Telitilah sebelum ditanda-tangani oleh Penanggung jawab dan diketahui oleh Kepala Puskesmas. setiap awal bulan. Nama Bulan dan Tahun yang jelas. Nama Desa/Kelurahan. Provinsi asal. tidak perlu diisi. 3. 8. rangkap 2 (dua) yang masing-masing ditujukan kepada : • • Lembar 1 : Untuk Koordinator SP-3 di Dinas Kesehatan di Kabupaten/Kota Lembar 2 : Untuk Koordinator SP-3 di Puskesmas (arsip) 1. Kode Puskesmas terdiri 8 digit. juga mencakup data kesakitan yang sebelumnya telah dilaporkan baik melalui W1 maupun W2. Nama Puskesmas. Setiap membuat laporan dituliskan Kode Puskesmas. LB-1 dilaporkan setiap bulan. di panti. bulan berikutnya 4. LB-1 terdiri dari 10 halaman 2. Nama Kecamatan. Data Kesakitan yang dilaporkan dalam LB-1 juga mencakup data kesakitan yang telah dilaporkan dalam W-1 dan W-2 9. Nama-nama penyakit yang dilaporkan disesuaikan dengan nomor ICD X. PETUNJUK UMUM 1. diisi dengan nama Puskesmas sesuai dengan SK Puskesmas 6. 7. 2. PETUNJUK KHUSUS . 4. penderita dalam gedung Puskemas maupun luar gedung Puskesmas (pengobatan. Bulan : diisi dengan bulan pelaksanaan kegiatan yang dilaporkan 10. LB-1 terdiri dari 10 halaman. Laporan ini mencakup data dari Puskesmas. Puskesmas Pembantu dalam wilayah kerja Puskesmas.

Kolom 32. 2.1. disebut juga dengan lansia 1. merupakan penjumlahan kolom 33 + kolom 34 6. Kolom menurut kelompok umur diisi dengan angka sesuai dengan jumlah penderita yang ditemukan. Kolom 28. Puskesmas Pembantu. merupakan Kasus Baru menurut golongan umur dan jenis kelamin 2. Kolom 31. merupakan penjumlahan kolom 28 + kolom 29 4. menyangkut daftar kategori penyakit 3 angka atau 4 angka dari ICD-10. Bila tidak ditemukan penyakit pada kelompok umur tersebut isilah dengan angka 0 (nol). Kolom 30. Kolom 33. Kelompok umur dibagi menjadi 12 kelompok umur yaitu 0 – 7 hari 8 – 28 hari 29 hr – 1 thn 1 – 4 thn 5 – 9 tahun 10 – 14 thn 15 – 19 thn 20 – 44 thn 45 – 54 thn 55 – 59 thn 60 – 69 thn ≥ 70 thn : : : : : : : : : : : : Pasien bayi baru lahir sampai dengan berusia 7 hari Termasuk dalam periode Perinatal. merupakan Jumlah Kasus Lama menurut jenis kelamin 5. Penderita berusia 1 tahun sampai dengan 12 bulan kurang 1 hari Penderita berusia 12 bulan sampai dengan 5 tahun kurang sehari Penderita berusia 5 tahun sampai dengan 9 tahun kurang sehari Penderita berusia 10 tahun sampai dengan 14 tahun kurang sehari Penderita berusia 15 tahun sampai dengan 19 tahun kurang sehari Penderita berusia 20 tahun sampai dengan 44 tahun kurang sehari Penderita berusia 45 tahun sampai dengan 54 tahun kurang sehari. Penderita berusia 8 hari sampai dengan 28 hari termasuk dalam masa neonatal. . Nama dan Kode penyakit diisi sesuai dengan ICD 10. kolom 35. Kolom 34 . Puskesmas Keliling dan Jejaring Puskesmas pada kelompok umur tersebut. dan Neonatal. merupakan penjumlahan dari Kolom 4 s/d 27 Kasus Baru menurut jenis kelamin 3. Kolom 29. disebut juga dengan lansia Penderita 70 tahun atau lebih. disebut juga dengan pralansia Penderita berusia 55 tahun sampai dengan 59 tahun kurang sehari. disebut juga dengan lansia Penderita berusia 60 tahun sampai dengan 69 tahun kurang sehari. merupakan penjumlahan kolom 30 + kolom 33 7. Kolom 4 s/d 27 . merupakan Jumlah Peserta Keluarga Miskin (GAKIN) 8. dirawat dan berobat jalan di Puskesmas.

1. Persalinan dan Masa Nifas P 00 – P 96 Keadaan Tertentu yang Bermula pada Masa Perinatal Q 00 . 1. 1. 1. XVIII. 1. Kelainan Pembentukan dan Khromosom R 00 . 1. 1.Y 98 Penyebab Luar dari kesakitan dan Kematian Z 00 .O 99 Kehamilan. . 1.I 99 Penyakit Sistim Sirkulasi J 00 .H 95 Penyakit Telinga dan Prosesus Mastoid I 00 . 1. BAB KODE KATEGORI JENIS PENYAKIT 1. 1. ICD – 10 A 00 – B 99Penyakit Infeksi dan parasit tertentu C 00 – D 48 Penyakit Neoplasma D 50 – D 53 Penyakit Darah dan Orga Pembuat Darah dan beberapa kelainan yang berhubungan dengan mekanisme Kekebalan E 00 – E 90 Penyakit Endokrin. 1.G 99 Penyakit Sususnan Saraf H 00 .9.K 93 Penyakit Sistim Pencernaan L 00 . Nama dan Kode penyakit diisi sesuai dengan ICD 10. 1. Keracunan dan Akibat tertentu lainnya oleh Penyebeb dari luar V 01 . Nutrisi dan Metabolik F 00 – F 99 Penyakit Gangguan Jiwa dan Perilaku G 00 .N 99 Penyakit Sistem Kemih Kelamin O 00 .Z 99 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Status Kesehatan dan akses terhadap pe. 1. menyangkut daftar kategori penyakit 3 angka atau 4 angka dari ICD-10. 1. 1.ayanan Kesehatan 10. 1. Tanda dan Penemuan Abnormal secara Klinis dan laboratorium yang tidak diklasifikasikan di tempat lain S 00 .T 98 Cedera.J 99 Penyakit Sistim Pernafasan K 00 . 1. 1.L 99 Penyakit Kulit dan Jaringan Subkutan M 00 – M 99 Penyakit Sistem Muskulosketal dan Jaringan Ikat N 00 . 1. 1.H 59 Penyakit Mata dan Adneksa H 60 .R 99 Gejala. Kelompok Penyakit terdiri dari : 10.Q 99 Kelainan Bawaan.

termasuk pelayanan baik di dalam gedung maupun luar gedung Puskesmas dan Jejaring Puskesmas yang berada di wilayah kerja Puskesmas. 2. GIZI DAN PEMBERANTASAN PENCEGAHAN PENYAKIT (LB 3 ) Laporan bulanan kegiatan Puskesmas (LB 3) merupakan laporan bulanan Program KIA/KB. 4. Gizi. nama Desa/Kelurahan. Pengamatan Penyakit Malaria. dan Pemberantasan Pencegahan Penyakit. Anthraks. Laporan ini diisi dengan data yang tercatat selama satu bulan. Isilah kolom dengan angka. Telitilah sebelum ditanda-tangani oleh penanggung jawab dan diketahui oleh kepala Puskesmas. Penyakit Kelamin dan HIV/AIDS) 3.2. Bidan di desa. Puskesmas Pembantu) dan Jejaring Puskesmas yang ada di wilayah kerja Puskesmas 2. Format laporan terdiri dari 6 halaman : ¨ ¨ ¨ Halaman 1 – 2 : Kegiatan KIA/KB Halaman 3 Halaman 4 – 6 : Kegiatan Gizi : Kegiatan Pemberantasan Pencegahan Penyakit 1. Pemberantasan Pencegahan Penyakit (Immunisasi. Format laporan LB-3 mencakup laporan kegiatan KIA/KB. Filariasis. LB-3 terdiri dari 6 halaman. kemudian diberi tanggal pembuatan dan ditandatangani oleh pelapor yaitu pelaksana program dan diketahui oleh Kepala Puskesmas. Kusta. Pos Immunisasi. Puskesmas Keliling. nama Puskesmas. Keracunan Makanan. Kabupaten/Kota. sekolah. . Bila tidak ada data makan isilah dengan angka 0 (nol). 2. TBC. 3. Pes. bulan dan tahun. ISPA. PETUNJUK UMUM . LAPORAN BULANAN KIA/KB. Diare. Gizi. 1. Setiap lembar laporan harus diberi tanggal pembuatan dan ditanda-tangani oleh pelapor yaitu pelaksana program dan diketahui oleh Kepala Puskesmas. Rabies. rangkap 2 (dua) yang masing-masing ditujukan kepada : ¨ ¨ Lembar 1 : Untuk Koordinator SP-3 di Dinas Kesehatan di Kabupaten/Kota Lembar 2 : Untuk Koordinator SP-3 di Puskesmas (arsip) 1. Flu Burung /AI. Data yang dilaporkan dalam format laporan LB-3 adalah semua data pelayanan baik dari dalam gedung Puskesmas maupun dari luar gedung Puskesmas (Posyandu. Demam berdarah Dengue (DBD). Laporan harus diisi dengan kode Puskesmas. Cantumkan nama dan NIP dengan jelas.

Puskesmas Pembantu) dan Jejaring Puskesmas yang ada di wilayah kerja Puskesmas 2. Upaya Kesehatan Giigi (Pelayanan Di BP Gigi. 5. 1. Kegiatan Laboratorium dan Kegiatan Transfusi Darah.PETUNJUK KHUSUS 1. dalam kotak angka yang telah disediakan. LB-4 terdiri dari 4 halaman. 2. rangkap 2 (dua) yang masing-masing ditujukan kepada : ¨ ¨ Lembar 1 : Untuk Koordinator SP-3 di Dinas Kesehatan di Kabupaten/Kota Lembar 2 : Untuk Koordinator SP-3 di Puskesmas (arsip) . Kolom 4. Puskesmas Keliling. Puskesmas Keliling dan Jejaring Puskesmas yang ada di wilayah kerja Puskesmas. 3. Format laporan LB-4 terdiri dari 4 halaman : 4. Upaya Kesehatan Sekolah. Upaya Penyuluhan dan JPKM Kesehatan Masyarakat. termasuk pelayanan baik di dalam gedung maupun luar gedung Puskesmas dan Jejaring Puskesmas yang berada di wilayah kerja Puskesmas. dirawat dan berobat jalan di Puskesmas. sekolah. Rawat Inap. Pos Immunisasi. 3. Tindak Lanjut Perawatan Yang Selesai Dibina. LAPORAN BULANAN KEGIATAN PUSKESMAS (LB 4 ) Laporan bulanan kegiatan Puskesmas (LB 4) merupakan laporan bulanan kegiatan Puskesmas. Data yang dilaporkan dalam format laporan LB-4 adalah semua data pelayanan baik dari dalam gedung Puskesmas maupun dari luar gedung Puskesmas (Posyandu. Upaya Kesehatan Lingkungan. Pelayanan Di UKGS.Variabel Peserta Keluarga Miskin yang ditemukan. Pembinaan Kelompok Khusus/Panti). Kolom 3. Bila tidak ditemukan isilah dengan angka 0 (nol). Puskesmas Pembantu. Isilah kolom dengan angka. merupakan diisi dengan angka sesuai dengan Jumlah per. Puskesmas Pembantu. Bila tidak ditemukan isilah dengan angka 0 (nol). Pelayanan UKMD). Puskesmas Keliling dan Jejaring Puskesmas yang ada di wilayah kerja Puskesmas. Upaya Kesehatan Mata.Variabel yang ditemukan. Kegiatan Pengunjung Puskesmas. Bidan di desa. Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat (Pembinaan Keluarga Rawan. PETUNJUK UMUM. merupakan merupakan diisi dengan angka sesuai dengan Jumlah per. dirawat dan berobat jalan di Puskesmas. Gizi. Rawat Jalan. Bila tidak ada datanya maka isilah dengan angka 0 (nol). Format laporan LB-4 mencakup laporan Data Sasaran.

termasuk pelayanan baik di dalam gedung maupun luar gedung Puskesmas dan Jejaring Puskesmas yang berada di wilayah kerja Puskesmas. 4. Pustu yang ada dan yang melapor. Laporan harus diisi dengan kode Puskesmas. Data Kesehatan lain dan data fasilitas lainnya. LSD-1 merupakan Data yang dilaporkan mencakup : Data Umum. Data Keadaan Sarana Puskesmas dengan Jejaringnya. Setiap lembar laporan harus diberi tanggal pembuatan dan ditanda-tangani oleh pelapor yaitu pelksana program dan diketahui oleh Kepala Puskesmas 2. . PETUNJUK UMUM . 3. nama Puskesmas. Data Kesehatan Lingkungan. 3. Telitilah sebelum ditanda-tangani oleh penanggung jawab dan diketahui oleh Kepala Puskesmas. LAPORAN SUMBER DAYA PUSKESMAS (LSD 1 ) Laporan Tahunan Sumber Daya Puskesmas (LSD-1) merupakan laporan tahuan kegiatan pelayanan kesehatan Puskesmas. Data Upaya Kesehatan Sekolah. bulan dan tahun. kemudian diberi tanggal pembuatan dan ditanda-tangani oleh pelapor yaitu pelaksana program dan diketahui oleh Kepala Puskesmas. LSD-1 mencakup 2 kelompok yaitu • • Laporan Tahunan Puskesmas Lampiran LSD1 merupakan Data Lingkungan Kedinasan Puskesmas dan Puskesmas Pembantu 1. 4. Cantumkan nama dan NIP dengan jelas. LSD-1 terdiri dari 3 halaman. Laporan ini diisi dengan data selama 1 bulan. LSD-1 Lampiran terdiri dari 2 halaman. Data Peran Serta Masyarakat. Dilaporkan pada bulan Januari tahun berikutnya. dan rangkap 2 (dua) yang masing-masing ditujukan kepada : ¨ ¨ Lembar 1 : Untuk Koordinator SP-3 di Dinas Kesehatan di Kabupaten/Kota Lembar 2 : Untuk Koordinator SP-3 di Puskesmas (arsip) 1. Kabupaten/Kota. 2. 1. dan rangkap 2 (dua) yang masing-masing ditujukan kepada : ¨ ¨ Lembar 1 : Untuk Koordinator SP-3 di Dinas Kesehatan di Kabupaten/Kota Lembar 2 : Untuk Koordinator SP-3 di Puskesmas (arsip) 1. Laporan ini dibuat sekali dalam setahun sekali (data dari bulan Januari s/d Desember). LSD-1 terdiri dari 3 halaman.1.

nama Desa/Kelurahan. 5. Untuk Tenaga Kesehatan di bagi atas 7 kategoti yaitu : 1. kemudian diberi tanggal pembuatan dan ditandatangani oleh pelapor yaitu pelaksana program dan diketahui oleh Kepala Puskesmas. Sedang. Kolom 3. Berat dan Persetase yang Rusak. Tenaga Medik. diisi dengan Luas Bangunan untuk setiap Ruangan di Puskesmas dan Puskesmas Pembantu. 5. termasuk Puskesmas Pembantu.2. Telitilah sebelum ditanda-tangani oleh penanggung jawab dan diketahui oleh Kepala Puskesmas. Ringan. akademi perawat. Cantumkan nama dan NIP dengan jelas. Bila tidak ada datanya maka isilah dengan angka 0 (nol). dalam kotak angka yang telah disediakan. diisi dengan Kondisi Jenis Bangunan dan Tranportasi di Puskesmas menurut Fungsinya yaitu Baik. diisi dengan Jumlah Jenis Ruangan dan Transportasi yang ada di Puskesmas dan Puskesmas Pembantu 4. Bidan desa yang berada di wilayah kerja Puskesmas. Kolom 5-9. Tenaga Keperawatan. Laporan harus diisi dengan kode Puskesmas. perawat mahir. Kolom 2. PETUNJUK KHUSUS. Kolom 1. Ringan. yaitu Tenaga Kesehatan dan Tenaga Non Kesehatan. nama Puskesmas. Kolom 3. Setiap lembar laporan harus diberi tanggal pembuatan dan ditanda-tangani oleh pelapor yaitu pelksana program dan diketahui oleh Kepala Puskesmas. LAPORAN SUMBER DAYA TENAGA KESEHATAN (LSD 2 ) Laporan Sumber Daya Puskesmas (LSD-2) merupakan laporan Tahunan data Tenaga yang berada di Puskesmas. adalah Dokter Umum dan Dokter Gigi serta Dokter Ahli berbagai spesialisasi dan sub spesialisasi 2. bulan dan tahun. sekolah bidan dan sekolah juru rawat dan sejenisnya . 1. 3. 4. sekolah perawat. Berat dan Persetase yang Rusak. merupakan Jenis Bangunan dan Transportasi 3. 6. Isilah kolom dengan angka. diisi dengan nomor urut. Sedang. yaitu tenaga lulusan sarjana perawat. 6. LSD-1 Lampiran merupakan Data yang dilaporkan mencakup : Data jenis bangunan dan Transportasi di Puskesmas dan Puskesmas Pembantu. 2. diisi dengan Kondisi Jenis Bangunan dan Tranportasi di Puskesmas Pembantu menurut Fungsinya yaitu Baik. Kolom 10-14. 5. Jenis Tenaga Kesehatan dikelompokan menjadi 2 kelompok sesuai dengan PP 32 tahun 1996. Kabupaten/Kota.

Setiap lembar laporan harus diberi tanggal pembuatan dan ditanda-tangani oleh pelapor yaitu pelaksana program dan diketahui oleh Kepala Puskesmas. Kabupaten/Kota. Tenaga Keteknisan Medis Tenaga Non Kesehatan dibagi atas 6 kategori yaitu : 1. . Doktoral (S3) 2. kemudian diberi tanggal pembuatan dan ditanda-tangani oleh pelapor yaitu pelaksana program dan diketahui oleh Kepala Puskesmas. bulan dan tahun. Dilaporkan pada bulan Januari tahun berikutnya. nama Puskesmas.3. Tenaga Keterapian Fisik 7. Sarjana Muda / D 3 / Akademi 5. 2. Data yang dilaporkan mencakup : Data Jumlah dan Jenis Tenaga Puskesmas yang berada di Wilayah Kerja Puskesmas. 3. Tenaga Kesehatan Masyarakat termasuk sanitarian 5. Telitilah sebelum ditanda-tangani oleh penanggung jawab dan diketahui oleh Kepala Puskesmas. Sekolah Menengah Tingkat Pertama dan SD ke bawah PETUNJUK UMUM. LSD-2 terdiri dari 2 halaman. Sekolah Menengah Tingkat Atas 6. 2. Cantumkan nama dan NIP dengan jelas. Pasca Sarjana (S2) 3. Laporan harus diisi dengan kode Puskesmas. yaitu lulusan sarjana farmasi s/d tenaga kefarmasian lainnya 4. Sarjana ( S1) 4. dan rangkap 2 (dua) yang masing-masing ditujukan kepada : ¨ ¨ Lembar 1 : Untuk Koordinator SP-3 di Dinas Kesehatan di Kabupaten/Kota Lembar 2 : Untuk Koordinator SP-3 di Puskesmas (arsip) 1. Tenaga efarmasian. 1. Laporan ini dibuat Laporan ini dibuat sekali dalam setahun (data dari bulan Januari s/d Desember). Tenaga Gizi 6. 3. 4. PETUNJUK KHUSUS.

diisi sesuai dengan Jenis Tenaga yang terdapat pada kategori jenis tenaga 4. diisi dengan jabatan masing-masing pegawai. 8. TMT Golongan dan masa kerja dan diisi dengan tanggal mulai menduduki status tersebut. diisi dengan tanggal mulai bekerja di Puskesmas ini. Puskesmas Pembantu. Bidan desa yang berada di wilayah kerja Puskesmas. 21. Kolom 24. diisi dengan NIP (Nomor Induk Pegawai) dan Karpeg yaitu nomor seri dari kartu pegawai tersebut. 18.1. diisi dengan nama Jabatan Fungsional/Struktural/Teknis dari masingmasing pegawai 12. Kolom 16. termasuk Puskesmas Pembantu. Kolom 22. Puskesmas DTP ( PNS maupun Honorer ). 9. 6. 14.diisi Bila tidak ada datanya maka isilah dengan angka 0 (nol) dan sebutkan tahunnya. 10. diisi dengan nama dari masing-masing pegawai di Puskesmas. Kolom 6. Kolom 28–46. Kolom 23. 2. diisi dengan nama dimana Tempat kerja di Puskesmas atau Desa dari masing-masing pegawai 13. diisi dengan Jenis Kelamin “P” (Perempuan) atau “L” (Laki-Laki). Bila Ya datanya maka isilah dengan angka 1 (satu). Kolom 5. Kolom 1. PETUNJUK UMUM. 6. 5. diisi dengan status kepegawaian PNS dan non PNS. Kolom 20. 17. diisi dengan Pelatihan Fungsional yang telah diikuti oleh pegawai tersebut. 9. Kolom 7. diisi dengan tempat dan tanggal lahir dari masing-masing pegawai. Kolom 3. diisi dengan nomor urut. diisi dengan golongan dan pangkat dari masing-masing pegawai. Kolom 10 dan 15. Kolom 4. . 19. 7. 3. 8. diisi dengan Pendidikan dari masing-masing pegawai yaitu tentang pendidikan terakhir dan tahun lulusan. Kolom 2. 11. Kolom 27 diisi dengan pendidikan tambahan / Diklat yang telah diikuti oleh pegawai tersebut. TMT Golongan diisi dengan tanggal mulai menduduki status tersebut. data terhitung mulai tanggal berapa status tersebut disandang oleh pegawai tersebut. 15. LAPORAN SUMBER DAYA PERALATAN PUSKESMAS (LSD 3 ) Laporan Sumber Daya Peralatan Puskesmas (LSD-3) merupakan laporan Tahunan data peralatan yang berada di Puskesmas.

Kolom 3-5.1. 4. 5. 2. Cantumkan nama dan NIP dengan jelas. Kolom 9-11. dan rangkap 2 (dua) yang masing-masing ditujukan kepada : ¨ ¨ Lembar 1 : Untuk Koordinator SP-3 di Dinas Kesehatan di Kabupaten/Kota Lembar 2 : Untuk Koordinator SP-3 di Puskesmas (arsip) 1. diisi sesuai dengan Jenis peralatan yang ada di Puskesmas. Kolom 6-8. merupakan Jenis Peralatan yang ada di di Puskesmas. 4. Data yang dilaporkan mencakup : Data Peralatan yang ada di Puskesmas. Puskesmas DTP. Bagian yang telah diarsir tidak perlu diisi. 5. Setiap lembar laporan harus diberi tanggal pembuatan dan ditanda-tangani oleh pelapor yaitu pelksana program dan diketahui oleh Kepala Puskesmas. Tidak Berfungsi dan Tidak Ada alat tersebut dan diisi dengan angka jumlah alat tersebut. Puskesmas Pembantu. Kolom 1. Pembantu. diisi dengan nomor urut. Laporan harus diisi dengan kode Puskesmas. 2. Puskesmas Keliling. Telitilah sebelum ditanda-tangani oleh penanggung jawab dan diketahui oleh Kepala Puskesmas. Puskesmas Pembantu. 1. 3. Kabupaten/Kota. Sekolah. menurut Fungsi. PETUNJUK KHUSUS. Tidak Berfungsi dan Tidak Ada alat tersebut dan diisi dengan angka jumlah alat tersebut. Kolom 2. Sekolah dan Posyandu di wilayah kerja Puskesmas 3. menurut Fungsi. kemudian diberi tanggal pembuatan dan ditanda-tangani oleh pelapor yaitu pelaksana program dan diketahui oleh Kepala Puskesmas. . 6. 6. 2. menurut Fungsi. . Nama-nama dari peralatan telah dicantumkan di dalam format laporan 3. diisi sesuai dengan Jenis peralatan yang ada di Puskesmas. diisi sesuai dengan Jenis peralatan yang ada di Pos Kesehatan Desa (Poskesdes). Tidak Berfungsi dan Tidak Ada alat tersebut dan diisi dengan angka jumlah alat tersebut. Dilaporkan pada bulan Januari tahun berikutnya. Puskesmas Keliling. nama Puskesmas. Kolom 12-14. Tidak Berfungsi dan Tidak Ada alat tersebut dan diisi dengan angka jumlah alat tersebut. menurut Fungsi. diisi sesuai dengan Jenis peralatan yang ada di Puskesmas Keliling. bulan dan tahun. Puskesmas DTP. LSD-3 terdiri dari 4 halaman. Laporan ini dibuat Laporan ini dibuat sekali dalam setahun (data dari bulan Januari s/d Desember).

Tidak Berfungsi dan Tidak Ada alat tersebut dan diisi dengan angka jumlah alat tersebut. menurut Fungsi. Tidak Berfungsi dan Tidak Ada alat tersebut dan diisi dengan angka jumlah alat tersebut. Kolom 18-20. Kolom 15-17. menurut Fungsi. 8. diisi sesuai dengan Jenis peralatan yang ada di Puskesmas. diisi sesuai dengan Jenis peralatan yang ada di Pos Bersalin Desa (Polindes). .7.

oleh karena itu mencakup semua kegiatan yang dilakukan Puskesmas (termasuk bidan desa. Pemberian nomor Kode Puskesmas terdiri dari 12 angka. Pengunjung Lama Pengunjung Lama adalah pengunjung yang dating untuk kedua dan seterusnya. . PENGERTIAN. Pengunjung terdiri dari 2 kelompok yaitu 1. A. Puskesmas Keliling. V BATASAN OPERASIONAL 1. Kabupaten/Kota.PENGERTIAN Pelaksanaan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas (SP3) menganut konsep wilayah kerja Puskesmas berbasis Data per-Desa/Kelurahan. Tidak mendapat nomor rekam medik lagi. Desa/Kelurahan dan Puskesmas PENGUNJUNG PUSKESMAS Data untuk pengisian banyak Pengunjung Puskesmas diambil dari Buku register Penomoran yang ada pada addmiting office ( Loket penerimaan pasien atau tempat penjualan karcis yang dibuat setiap hari) . dengan mengikuti pengelompokan Provinsi.BAB. Puskesmas dengan Perawatan dan Jejaring Puskesmas termasuk unit pelayanan kesehatan swasta). Nomor Rekam Medik diberikan hanya 1 (satu) kali seumur hidup 1. Pengunjung Baru Pengunjung Baru adalah pengunjung yang baru pertama kali dating yang akses di Puskesmas . Puskesmas Pembantu. yang datang ke Puskemsas dengan jejaringnya yang sama atau berbeda sebagai kunjungan lama atau kunjungan baru dengan kasus lama dan kasus baru. Kecamatan. tapi dicatat dalam register pendaftaran pasien. Setiap Pengunjung Baru diberikan Nomor Rekam Medik dengan menggunakan register penomoran dan dibuatkan Folder Rekam Medik.

lemah. ¨ Demam Paratifoid adalah Infeksi Usus yang disebabkan A01. B. ¨ Gejala Umum : ¨ Sakit kepala. DEFINISI OPERASIONAL 1. demam selama 2-3 minggu. demam selama 2-3 minggu ¨ Demam Tifoid adalah Infeksi Usus yang disebabkan oleh Salmonella Typhi.0 Demam tifoid A01. tidak disertai rasa sakit perut. ¨ Muntah terus menerus. ¨ Kotoran seperti cucian air beras. lemah.1. ¨ Pemeriksaan laboratorium ditemukan Vibrio Cholerae di tinjanya. ¨ Gejala Umum : ¨ Sakit kepala. berbau amis. tidak ada nafsu makan. tidak ada nafsu makan. tidak Spesifik . LAPORAN BULANAN PENYAKIT (LB1) KODE ICD – 10 I A00-A09 A00 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT PENYAKIT INFEKSI DAN PARASIT TERTENTU PENYAKIT INFEKSI USUS Kolera ¨ Diare mendadak dan terus menerus. ¨ Dalam waktu singkat dapat terjadi dehydrasi dan menimbulkan syok.4 Demam paratifoid.

Infeksi virus dan Infeksi ¨ Diare dan Demam. muntah. sakit kepala Amubiasis. mual. mual. Kejang lainnya / kaku perut. tidak sembuh dengan antibiotik p Pernah mengeluarkan dahak bercampur dengan darah. mual. ¨ Anus terasa pedih. Shigelosis. muntah. A04. sakit perut.A08 A15-A19 A15. A07. pusing dan nyeri perut. Disentri Basiler ¨ Diare dengan tinja berdarah tidak Spesifik dan berlendir. Infeksi usus karena bakteri ¨ Diare. TUBERKULOSIS Tuberkulosa Paru BTA (+) ¨ Penyakit Tuberkulosa Paru dengan/tanpa pemeriksaan yang di diagnosa dengan biakan.0 oleh Salmonella Paratyphi.KODE ICD – 10 A02 A03 A04 A05 A06 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT A08 A09 A02. ¨ Gejala yang mungkin ada pada penderita adalah : p Batuk berdahak 3 minggu atau lebih. sakit perut. sering muntah dan bakteri lainnya panas. tinja bercampur darah dan lendir. Penyakit infeksi usus ¨ Diare. . Disentri Amuba ¨ Diare. Keracunan makanan karena ¨ Diare. Kejang lainnya tidak spesifik / kaku perut. usus tertentu lainnya Diare dan Gastroenteritis ¨ Penyakit yang ditandai dengan perubahan bentuk dan konsistensi tinja dari melembek hingga cair serta bertambahnya frekuensi buang air besar (lazimnya tiga kali atau lebih dalam sehari). Infeksi salmonela lainnya ¨ Diare. mual. muntah. pemeriksaan sputum (secara bakteriologi dan histopatologi) positif mengandung bakteri tuberkulosa.

3 -. ¨ Penyakit Tuberkulosa Paru yang tidak berdasarkan pada pemeriksaan secara bakteriologi maupun histopatologi. . nyeri dada. ¨ Gejala yang ada pada penderita Meningitis Tuberkulosa adalah : p Kesadaran yang menurun / tidak sadar.0 p Nafsu makan berkurang dan Berat Badan menurun.0 Tuberkulosis paru klinis A 15. tidak sembuh dengan antibiotik p Pernah mengeluarkan dahak bercampur dengan darah. A16.2 A16. p Nafsu makan berkurang dan Berat Badan menurun.9 A17. berkeringat malam hari Tuberkulosis alat nafas ¨ lainnya Meningitis Tuberkulosa ¨ Tuberkulosa pada Selaput Otak. p Mengalami sesak nafas dan nyeri pada dada.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT p Mengalami sesak nafas dan nyeri pada dada.1 – A 16. Tuberkulosis paru lainnya ¨ Demam. ¨ Gejala yang mungkin ada pada penderita adalah : p Batuk berdahak 3 minggu atau lebih. p Demam. penurunan berat badan.

nadi cepat dan tidak teratur. yang ditularkan melalui gigitan pinjal. penurunan tekanan darah. shock. ¨ Demam tinggi secara mendadak disertai pembesaran kelenjar pada lipat paha dan ketiak atau leher (disebut Bubo). Tuberkulosis Miliaris ¨ Penyakit tuberkulosa yang menyerang pembuluh darah baik pada paru maupun organ lainnya.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT A18 A19 A20-A29 A20 p Sering diikuti dengan kejang pada seluruh tubuh. kelenjar lymphe. kegelisahan dan kona (tidak sadar) ¨ Mengeluarkan dahak berdarah tanpa didahulukan oleh gejala batuk sebelumnya (Pes type paru-paru sekunder). kelemahan. tulang. Misal : usus. abrasi/luka. dapat melalui pernapasan (inhalasi) dan melalui mulut karena makan bahan makanan yg tercemar kuman antraks ¨ Gejala awal rasa gatal tanpa disertai rasa sakit dlm kurun waktu 2-3 hari membesar A22 Antraks . ¨ Antraks adalah suatu penyakit zoonosa yang disebabkan oleh bacillus anthracis ditularkan melalui kulit yang lecet. PENYAKIT INFEKSI BAKTERI HEWAN Pes/Sampar ¨ Penyakit ini ditimbukan karena Infeksi yang disebabkan oleh kuman/bakteri yersinia pestis (Pasteurella pestis). Tuberkulosis organ lainnya ¨ Penyakit Tuberkulosa yang terdapat pada organ lain selalin paru.gangguan mental.

tdk nafsu makan dan suhu badan meningkat. terjadi gastroenteritis akut yg kadang-kadang berdarah. terjadi pembengkakan lunak pd kelenjar limpha dengan masa inkubasi 1-5 hari (antraks kulit). cyanosis. malaise jarang ada. perut membesar dan keras. keringat berlebihan. muntah. sakit kepala. A27 Leptospirosis .KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT menjadi vesikel yang berisi cairan kemerahan. lumpur. dengan gejala konstitusi berupa demam yg sedang. acites. edema scrotum dengan masa inkubasi 2-5 hari (antraks pencernaan). dispneu. nadi lemah dan cepat. lemah. edema subkutan di daerah dada dan leher. dalam waktu 2-4 hari timbul gangguan respirasi berat. suhu meningkat. detak jantung lebih cepat. pembesaran limpheu daerah abdomen (antraks paru-paru) ¨ Leptospirosis adalah suatu penyakit zoonosa yang disebabkan oleh bakteri leptospira ditularkan melalui kontak dengan air. ¨ Rasa sakit perut yg hebat. pembesaran kelenjar limfe daerah inguinal/lipat paha. stridor. mual. tanaman yg dicemari oleh air seni dari rodent (tikus) dan hewan yg mengandung bakteri leptospira. hematemesis. demam. suhu subfebril dan batuk yg non produktif sesuai dg tanda-tanda bronchitis. kelamahan umum. ¨ Lesu.

Tanda-tanda Klinis Kusta MB : ¨ Tampak Makula dalam jumlah yang banyak ¨ Makula tersebar bilateral tetapi asimetris ¨ Permukaan macula halus dan mengkilap ¨ Batas macula tidak tegas / tidak jelas. INFEKSI BAKTERI LAINNYA Kusta I/T (MB) Gejala Umum Kusta : ¨ Bercak putih (Hipopigmentasi) atau Hiperpigmentasi. ¨ Pada daerah bercak tidak ditemukan keringat dan rambut. serta gagal ginjal. ¨ Otot dibangian sebelah bawah bercak cenderung untuk mengecil utamanya otot tangan (telapak tangan) dan tungkai bawah. nyeri kepala. atau bercak kemerahan (eritema) atau adanya penebalan kulit dan sub kutis (Infitrat) serta adanya nodul atau benjolan di bawah kulit.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT A30-A49 A30. paha. ¨ Hilangnya atau kurangnya rasa = Hypesthesia atai Hypoesthesia pada daerah bercak. ¨ Rasa hypesthesia atau . nyeri otot khususnya di daerah betis.0 ¨ Gejala umum : demam.

¨ Permukaan macula kering dan kasar ¨ Batas macula jelas dan tegas ¨ Hilang rasa. bila ada biasanya terbatas pada daerah makula ¨ Nodul tidak selalu ada.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT hypoesthesia tidak jelas ¨ Infiltrat menyebar. bilateral atau asimetris. ¨ Tanda-tanda klinis : A33 Tetanus Neonatorum p Demam.5 Kusta B/L (PB) ¨ Nodul tidak selalu ada. Tanda-tanda Klinis Kusta MB : ¨ Makula dapat muncul dalam jumlah yang tidak banyak yaitu 1 – 5 makula. p Bayi lahir hidup dan bisa menyusui tiba-tiba hari ketiga tidak dapat/sulit minum / menyusu. hypesthesia maupun hopoesthesia sangat jelas ¨ Infiltrat tidak selalu ada. ¨ Tetanus neonatorum adalah yang terjadi pada bayi yang baru lahir. ¨ Dengan distribusi unilateral. p Mulut mencucu seperti mulut . A30.

KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT ikan GEJALA PENYAKIT p Kejang-kejang. ¨ Tanda-tanda klinis : A35 Tetanus lainnya p Biasanya didahului dengan adanya luka pada tubuh. . ¨ Adalah Tetanus yang terjadi pada anak (balita. selain neonatus) dan orang dewasa. ¨ Penyakit yang timbul karena infeksi Corynebacterium diphtaeria ¨ Diagnosa pasti ditegakkan dengan pemeriksaan apus tenggorokan ¨ Tanda-tanda klinis : A36 Difteria p Panas p Terdapat selaput putih (pseudomembrane) pada laring. p Tidak menangis hanya merintih p Sering diikuti dengan sesak nafas. p Kesadaran menurun. p Kesadaran menurun p Demam p Kejang p Tidak dapat makan maupun minum.

lidah menjulur. A37 Pertusis/Batuk rejan p Berlangsung selama 2 minggu. Disebut Pertusis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertusis Tanda-tanda klinis terdiri dari 3 fase yaitu : ¨ Fase Katarak.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT pharing atau tonsil. sehingga dapat menimbulkan cyanosis. ¨ Fase Paroksismal. p Berlangsung pada minggu ke 9 . sulit berhenti. p Berlangsung pada minngu ke 4 – 6. bersin-bersin dan pilek. p Didahului dengan batuk ringan. ¨ Fase Penyembuhan = Konvalesen. p Sakit waktu menelan. mata melotot sampai dengan timbul perdarahan sub kunjungtiva. p Batuk semakin kuat dan berlangsung terus menerus. dan menimbulkan kesan sesak nafas hebat. p Sesak nafas disertai dengan nafas berbunyi disebut sebagai stridor. p Lehermembengkak disebut dengan bulls neck.

PENYAKIT SPIROKAETAL LAINNYA Frambusia ¨ Lesi pertama berbentuk Papiloma akan muncul di daerah dimana Treponema masuk ke dalam tubuh. menggigil. Infeksi Meningokok ¨ Septisemia ¨ Manifestasi umum infeksi disertai gangguan fungsi organ multipel antara lain berupa hiperpireksi. fibrinogen PENYAKIT INFEKSI YANG DITULARKAN MELALUI HUBUNGAN SEKSUAL Sifilis kongenital/bawaan ¨ Sifilis bawaan sejak lahir biasanya pada bayi yang ditularkan oleh ibu yang menderita IMS ¨ Gejala umum : matanya banyak sekret mata sampai tertutup Sifilis dini ¨ Tampak lesi “chancre” pada daerah kemaluan. disertai rasa sakit / panas waktu buang air kecil. granulasi toksik. Infeksi Gonokok ¨ Pada Pria : keluarnya cairan abnormal dari alat kelamin berupa nanah yang terjadi secara akut. anemia dan CRP positif. trombositopenia. gaduh gelisah. Pada keadaan lanjut maka akan tampak pembesaran kelenjar Bartholini dan Skene di daerah bibir kecil kemaluan.KODE ICD – 10 A39 A40-A41 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT A50-A64 A50 A51 A54 A65-A66 A66 – 10. ¨ Pada Wanita : seringkali tidak tampak adanya gejala. . Penurunan kadar protrombin. berbentuk buah arbei dengan permukaan basah. cutis marmoratae. proteinuria ¨ Pemeriksaan penunjang : leukopenia atau leukositosis.

¨ Tampak “Wet Crab” papiloma pada telapak tangan dan kaki.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT tidak ada nanah. papula. ¨ Makula. sakit kepala. Ulcerasi. ¨ Hyperkeratosis ¨ Kelainan pada tulang dan sendi yaitu ekstremitas gangosa. plak dan nodule. ¨ Papiloma tersebar disekitar dubur. PENYAKIT LAIN KARENA CHLAMYDIA Trakoma ¨ Kedua mata tampak merah dan berair ¨ Penderita sukar melihat cahaya terang dan merasa gatal di matanya ¨ Ditemukan folikel terutama di konjungitiva tarsalis superior dan kornea daerah limbus superior INFEKSI VIRUS PADA SUSUNAN SARAF PUSAT Poliomielitis akut ¨ Demam waktu mulai sakit ¨ Rangsangan pada selaput otak A70-A74 A71 A80-A89 A80 . module di artikulasi. maculapapula. mulut vagina. ¨ Ditemukan juga demam. hydraarthosis. mikro-papula. ¨ Tampak Gummata. nyeri tulang dan persendian.

muntah. demam. ¨ ¨ Sulit menelan. ¨ Sulit bernafas dan kesadaran menurun ¨ Keadaan ini terjadi beberapa minggu samapai dengan satu tahun setelah gigitan. Demam tinggi Sakit kepala hebat A82 Rabies ¨ Kelumpuhan mulai dari tungkai menjalar ke atas. Takut air. ¨ Kelumpuhan ekstremitas dan biasanya asimetris. Meningitis karena virus ¨ Lesu. timbul antara hari ke 3 dan 4. kejang.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT ¨ GEJALA PENYAKIT Nyeri otot berat. ubun-ubun besar menonjol dan tegang DEMAM BERDARAH VIRUS dan DEMAM VIRUS DITULARKAN OLEH ARTROPODA Demam Dengue ¨ Peningkatan suhu mendadak (39 – 40 0C disertai menggigil ¨ Nyeri kepala dan muka kemerahan ¨ Nyeri pada belakang mata apabila mata digerakkan atau A87 A90-A99 A90 . ¨ ¨ ¨ ¨ Reflek Tendon menurun Rasa raba biasanya normal. sakit kepala dan anoreksia ¨ Kesadaran menurun.

KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT bola mata digerakkan ¨ ¨ ¨ ¨ ¨ Fotofobia Nyeri otot atau sendi Anoreksia Konstipasi. nyeri perut/kolik Nyeri tenggorokan A91 ¨ Depresi pada pasien demam Demam Berdarah Dengue ¨ Demam mendadak 2 – 7 hari tanpa penyebab yang jelas ¨ Gelisah. ¨ Pada keadaan berikutnya dapat terjadi kesadaran menurun sampai syok ¨ Demam ¨ ¨ Persendiaan sakit Nyeri otot A92. ¨ Pada keadaan lanjut dapat terjadi buang air besar bercampur darah. nyeri pada ulu hati. mutah darah.0 Chikungunya B00-B09 B00 ¨ Ruam kemerahan pada kulit INFEKSI VIRUS DENGAN LESI KULIT DAN MEMBRAN MUKOSA Infeksi herpesvirus (herpes ¨ Gejala awal : Demam yang simplex) berlangsung kira-kira 3 minggu . ¨ Timbul bercak merah “Purpura” dan pendarahan kulit berbentuk bintik-bintik “Ptechiae”. keluar darah dari hidung.

¨ Rasa gatal dan pedih di daerah bintik kemerahan ¨ Demam ¨ Timbul kemerahan pada kulit ¨ Becak koplik pada daerah mukosa mulut bagian bukal. ¨ Radang selaput mata (konjungtiva). sehingga ruamnya dapat berubah menjadi ulserasi ¨ Demam. B01 Varisela/Cacar Air B05 Campak B15-B19 B15 HEPATITIS VIRUS Hepatitis A akut (klinis) ¨ ¨ ¨ Demam Badan lemas Mual ¨ Selaput mata berwarna kuning atau air kencing berwarna . ¨ Isi vesikel dapat jernih maupun seropurulen ¨ Pada daerah genitalis sering terjadi infeksi sekunder.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT ¨ Kelainan umumnya berupa vesikel berkelompok diatas kulit yang eritematous. ¨ Sering diikuti dengan batuk dan pilek. ¨ Timbul merah-merah pada kulit seluruh tubuh dan kemudian berisi nanah karena sering disertai dengan infeksi sekunder.

prurigo. muntah dan nyeri otot selama 1-2 hari. herpes zoster dalam 5 tahun terakhir. PENYAKIT VIRUS GANGGUAN DEFISIENSI IMUN PADA MANUSIA Penyakit HIV /AIDS ¨ Gejala : Asimptomatik. mual. berat badan menurun <10%. limfadenopati generalisata. ¨ Selaput mata (konjungtiva) berwarna kuning. ¨ Air kencing berwarna kuning tua seperti air teh dan kental. ulkus oral yang rekuren. Pembekakan ini B20-B24 B20-B24 B25-B34 B26 . biasanya diawali demam sakit kepala. kelainan kulit dan mukosa yang ringan seperti dermatitis seboroik. kheilitis angularis. muntah Pegal linu dan sakit kepala B17-B19 Hepatitis Virus lainnya ¨ Selaput mata berwarna kuning atau air kencing berwarna seperti air teh ¨ Demam ¨ Badan lemah ¨ Mual berkepanjangan sehingga nafsu makan menurun. infeksi saluran nafas bagian atas seperti sinusitis bakterialis PENYAKIT VIRUS LAINNYA Parotitis (Gondong) ¨ Masa tunas antara 14-24 hari ¨ Pembekakan parotis yang mula-mula unilateral.KODE ICD – 10 B16 JENIS PENYAKIT Hepatitis B akut GEJALA PENYAKIT seperti air teh ¨ Tidak nafsu makan ¨ ¨ Demam. anoreksia. onikomikosis.

sekit ovale kepala. menggigil. demam mendadak hilang timbul. ¨ Gejala yang timbul menunjukan ciri khas penyakit malaria. menggigil. demam mendadak hilang timbul. menggigil. ¨ Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan plasmodium falciparum. Malaria karena plasmodium ¨ Sakit pada otot-otot.8 B54 nyeri pada perabaan atau pada saat penedrita makan/minum sesuatu yang asam PENYAKIT DISEBABKAN OLEH PROTOSOA Malaria karena plasmodium ¨ Sakit pada otot-otot. tetapi pada pemeriksaan laboratorium ditemukan penyebab penyakit malaria Malaria Klinis ¨ Gejala penyakit malaria dapat diketahui tetapi tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium maupun pada pemeriksaan laboratorium tidak . ¨ Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan plasmodium malaria Malaria karena Plasmodium ¨ Sakit pada otot-otot.0 B53.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT B50-B64 B50 B51 B52 B53. sekit Falsiparum (Malaria kepala. sakit parasitologik tidak pada otot-otot. sering disertai dengan kesadaran menurun. demam Tropika) hingga timbul. ¨ Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan plasmodium ovale Malaria terbukti secara ¨ Demam hilang timbul. demam mendadak hilang timbul. menggigil. ¨ Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan plasmodium vivax Malaria karena plasmodium ¨ Sakit pada otot-otot. sekit malaria kepala. sakit kepala terklasifikasikan sampai menggigil. sekit Vivaks (Malaria Tertiana) kepala.

sakit (stadium dini). ¨ Radang saluran getah bening yang teraba seperti tali. Bila serangan timbul berulang kali. gejala sistemik lainnya dapat berupa mual. buah zakar. pembesaran menjadi menetap. ¨ Pembengkakan kelenjar getah bening (limfadenitis) di daerah lipatan paha. panas. Demam dapat hilang timbul sendiri biasanya berkaitan dengan aktifitas fisik. medial paha/lengan serta ketiak walaupun tidak ditemukan adanya luka. terasa panas dan sakit serta menjalar dari pangkal paha/ketiak kearah ujung (limfangitis retrograd) ¨ Abses (bisul) didaerah lipat paha/ketiak yang dapat pecah. ¨ Kedaan lanjut akan ditemukan Kaki Gajah. muntah. yang tampak kemerahan. timbul ulkus dan setelah sembuh meninggalkan bekas berupa jaringan parut (Skar) ¨ Pembesaran tungkai. buah dada. Biasanya tampak benjolan kemerahan. Biasanya pembesaran ini dapat berkurang /menghilang setelah serangan akut.KODE ICD – 10 B65-B83 B74 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT ditemukan penyebab malaria PENYAKIT YANG DISEBABKAN OLEH CACING Filariasis ¨ Demam berulang selama 3 – 5 hari. sakit dan panas. . kemerahan. lengan.

TUMOR GANAS/NEOPLASMA GANAS Tumor Ganas bibir. di bawah lipat payudara. vermicularis tidak dikeluarkan bersama tinja penderita. di antara jari-jari tangan. lipat ketiak dan daerah lipatan lunak lainnya disertai dengan rasa gatal terutama pada malam hari.KODE ICD – 10 B76 JENIS PENYAKIT Penyakit Cacing tambang GEJALA PENYAKIT B77 B79 B80 B85-B89 B86 II C00-C14 C15-C26 C30-C39 ¨ Perut buncit. rongga ¨ mulut. PEDIKULOSIS. tidak nafsu makan dan mudah lelah ¨ Pemeriksaan Laboratorium untuk konfirmasi Trikhuriasis (Penyakit ¨ Diare. mual.lesu/lemas ¨ Pemeriksaan Laboratorium untuk konfirmasi Askariasis (Penyakit Cacing ¨ Kolik perut. sakit perut Gelang) mendadak. badan kurus walaupun banyak makan. . faring Tumor Ganas saluran ¨ pencernaan Tumor Ganas sistem ¨ Batuk. berat badan menurun. AKARIASIS & GANGGUAN OLEH KUTU LAINNYA Skabies ¨ Lesi Inflamasi umumnya terjadi di daerah genitalia. diare. sedangkan untuk enterobiasis dapat ditegakkan dengan anal swab karena telur E. sampai dengan Cacing Cambuk) anemia ¨ Pemeriksaan Laboratorium untuk konfirmasi Enterobiasis ¨ Gejala yang khas adalah gatal-gatal di sekitar anus pada waktu malam hari saat cacing betina keluar dari usus untuk meletakkan telunya di daerah perianal. Diagnosis askariasis dan trikhuriasis dengan menemukan telur dalam tinja penderita.

D62-D64 Anemia lainnya ¨ PENYAKIT KELAINAN ENDOKRIN.9 Tumor Ganas Leher Rahim ¨ C54. sering berdebar.9 Anemia Defisiensi Gizi ¨ D51-D58. GIZI DAN IV METABOLIK E14 Diabetes Mellitus tidak ¨ Penderita dengan reduksi spesifik urin positif (benedik atau tes celup dengan kertas lakmus) ¨ Sering mengeluh lemah.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT pernafasan dan alat di sakit dada dan sesak nafas dalam rongga dada C50 Tumor Ganas Payudara ¨ C51-C58 TUMOR GANAS ALAT KELAMIN WANITA C53. Sering berkemih ¨ ¨ Berat badan menurun Gatal pada anggota badan . lekas lelah dan sakit kepala D53. D60. rasa baal ¨ Sering haus dan lapar. tempat dan tidak spesifik PENYAKIT DARAH DAN ALAT PEMBENTUK DARAH dan BEBERAPA KELAINAN YANG III BERHUBUNGAN DENGAN MEKANISME KEKEBALAN (IMUN) D50 Anemia Defisiensi Besi ¨ Lemas.9 Tumor Ganas Korpus rahim ¨ C56 Tumor ganas indung telur ¨ C60-C63 TUMOR GANAS ALAT KELAMIN PRIA C61 Tumor Ganas Prostat ¨ D10-D36 TUMOR JINAK D36 Tumor Jinak Lainnya dan ¨ tidak spesifik tempatnya TUMOR TERTENTU ATAU TIDAK DIKETAHUI D37-D 48 PERILAKUNYA D48 Tumor tertentu atau tidak ¨ diketahui perilaku lainnya.

perut buncit. kebingungan. iga gambang.9 ¨ Pandangan mata sayu dan rambut tipis/kemerahan Marasmus ¨ Badan tampak sangat kurus. perut cekung.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT yang kronis ¨ Bisul di kulit atau mungkin keputihan pada wanita ¨ Terjadi edema seluruh tubuh terutama di punggung kaki ¨ Wajah membulat dan sembab. Kekurangan Vitamin A ¨ Obesitas ¨ Deplesi volume (dehidrasi) ¨ GANGGUAN JIWA DAN PERILAKU Gangguan jiwa dan perilaku ¨ Gangguan perilaku dan yang disebabkan oleh emosi akibat penggunaaan obat / penggunaan lebih dari satu zat psikoaktif jenis obat dan zat psikoaktif lainnya Skisofrenia ¨ Gangguan kemampuan/daya menilai realitas ¨ Gangguan proses pikir : waham. otot mengecil E40 Kwasiorkor E41 E42 E43 E44 E45 E46 E50 E66 E86 V F19 F20. gangguan . wajah seperti orang tua dan kulit keriput Marasmik-Kwasiorkor ¨ Kurang Kalori Protein Berat¨ tidak Spsifik Kurang Kalori Protein ¨ Sedang dan Ringan Gangguan pertumbuhan ¨ karena kurang kalori portein Malnutrisi protein dan ¨ kalori tidak spesifik.

waham atau gangguan persepsi nyata tetapi bervariasi. penciuman. perabaan. diagnosa harus digantu menjadi gangguan waham yang menetap (F22. pendengaran.Jika terdapat gejala yang menetap. atau kecemasan dan kerentanan. ¨ Gangguan ini sering terjadi pada onset tiba-tiba. meningkat cepat dalam beberapa hari. Berbagai macam bentuk ini menggambarkan gambaran klinis dari psikosa yang tidak termasuk dalam diagnosa schizoprenia (F20.-).-). Emosi berubah-ubah dengan perubahan perasaan sementara baik gembira atau gembira yang luar biasa.Bouffe delirante tanpa gejala dari schizoprenia atau yang . dan kadang-kadang terlihat dalam pemecahan gejala yag cepat tanpa berulang kembali. ¨ Gangguan suasana perasaan/afek. perubahan dari hari ke hari atau dari jam ke jam. Gangguan Psikotik akut dan ¨ Gangguan psikosa akut sementara polimorfik tanpa gejala schizoprenia ¨ Gangguan psikosa akuta dimana halusinasi.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT daya ingat. pengecapan. sussana perasaan/afek tumpul atau tidak sesuai F23 ¨ Gangguan persepsi : halusinasi penglihatan. juga biasanya terjadi.

KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT tidak spesifik. ¨ Gangguan Schizoafektif. tipe manik ¨ Gangguan dimana terdapat baik gejala schizoprenik dan manik dominan. sehingga episode penyakit tidak dapat didiagnosis menjadi schizoprenia atau episode mania.tanpa gejala dari schizoprenia atau yang tidak spesifik.tipe manik. Pasien biasanya mengalami depresi tetapi masih dapat beraktivitas ¨ Sedang : Empat atau lebih gejala diatas biasanya ditemukan dan pasien biasanya mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas biasanya ¨ Berat : Episode depresi berat dengan gejala psikosa Episode depresi seperti diatas tetapi disertai adanya halusinasi. Psikosa schizoafektif . tipe manik: psikosa schizoprenifom. kemunduran psikomotor.Dimana episode yang utama adalah schizoafektif. atau stupor yang berat. dimana tidak mungkin melakukan F25 Gangguan Skizoafektif F32 Episode depresif .Psikosa sikloid. tipe manik Episode depresif : ¨ Ringan : Dua atau tiga gejala yang sudah disebutkan diatas. ¨ Kategori ini harus dimasukkan kedalam satu episode dan ganggua yang berulang . waham.

. dan sering disertai gangguan prilaku sosial. ¨ Kelainan somatisasi Ciri.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT aktivitas sosial yang umum. Jangka waktu singkat (kurang dari dua tahun) dan pola gejala yang kurang menyerang harus diklasifikasikan dalam penyakit badan yang tidak dibedakan. Disfungsi seksual. atau kelaparan. Kejadian pada kelainan kronis dan fluktuatif. berulang kali. Halusinasi atau waham yang utama tidak dapat menjadi mood yang sejalan. beberapa orang. yang banyak penyelidikan negatif atau kegagalan operasi telah dilakukan. yang dialami atau diekspresikan secara langsung atau diubah menjadi gejala. dehidrasi. Gejala. Tidak termasuk: sakit untuk menghindari tugas (rangsangan sadar ) ¨ Gejala utama : anxietas/kecemasan. dan keluarga.ciri utama adalah banyak. Kelainan psikomatic banyak.gejala dapat ditujukan kepada bagian atau sistem tubuh yang mana saja. seperti : Depresi. Kebanyakan pasien memiliki sejarah yang panjang dan kompleks dalam hubungan dengan perawatan medis primer dan spesialis. Obsesi ¨ Kedaan perkembangan mental yang terhenti atau tidak lengkap yang teruatama oleh F45 Gangguan somatoform F48 Gangguan emosi (neurotik/psisomatik) lainnya F79 Retardasi Mental tidak spesifik . dan sering bergantinya gejala. Phobia. dapat membahayakan diri dengan usaha bunuh diri.gejala jasmani dalam waktu sedikitnya dua tahun.

9 Gangguan lain pada Susunan Saraf yang tidak terklasifikasikan PENYAKIT PADA MATA DAN ADNEKSA Konjungtivitis ¨ Radang pada conjunctiva. mulut berbusa Migren dan sindrom nyeri ¨ Pada periode awal mungkin kepala lainnya merasa gelisah. unilateral dan bertambah berat setelah aktifitas fisik. Epilepsi ¨ Kejang yang dimulai dengan hilangnya kesadaran. kejang klonik. motorik dan sosial. Pemeriksaan laboratorium pada cairan serebrospinal (tulang belakang) dapat ditemukan bakteri penyebab meningitis. ¨ Mengeluh mual sampai muntah ¨ G98 VII H10. bahasa. hilangnya kendali terhadap gerak dan terjadinya kejang tonik atau klonik pada anggota badan ¨ Nafas mendekur. tidak nafsu makan dan mudah tersinggung ¨ Nyeri kepala khas berdenyut. jaringan mukosa tipis dan transparant yang melapisi bagian dalam kelopak mata dan bagian depan sklera sampai limbus dengan bagian liapatan diantaranya . PENYAKIT SUSUNAN SARAF Meningitis bakterialis ¨ Panas. sehingga berpengaruh pada semua tingkat intelegensia yaitu kemampuan kognitif. kaku kuduk.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT VI G00 G40-G41 G43-G44 adanya hambatan ketrampilan selama masa perkembangan. kesadaran menurun reflek patologi positif.

silau.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT ¨ Mata merah. ¨ Radang pada kornea ¨ Mata nyeri atau tarasa seperti ada benda asing. berair. kelopak mata bengkak.9 Keratitis H25 Katarak senilis H26 ¨ Mata tidak merah. ¨ Kekeruhan lensa mata karena usia lanjut ¨ Penglihatan kabur secara perlahan-lahan. terdapat korotan mata (secret). ¨ Katarak traumatic : p Penglihatan kabur secara perlahan-lahan p Melihat seperti terhalang asap / kabut p Ada riwayat trauma p Mata tidak merah p Katarak akibat penyakit . infeksi) ¨ Katarak congenital : sejak lahir pupil berwarna putih dan lensa keruh. ¨ Penglihatan menjadi kabur atau ketajaman penglihatan menurun. ¨ Melihat seperti terhalang asap / kabut. trauman. Katarak lain tidak spesifik ¨ Kekeruhan lensa karena sebab lain (kongenital. penglihatan tidak kabur. pedih. H16.

KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT sistemik (Misalnya iabetes Militus. mata merah ¨ Penglihatan kabur H40 Glaukoma tidak spesifik H52 Gangguan Refraksi dan Akomodasi ¨ Tekanan bola mata meninggi (palpasi meningkat) ¨ Gangguan pembiasan sinar ¨ Secara fisiologis tidak tampak kelainan mata ¨ Myopia = Rabun Jauh (minus atau Plus) p Penglihatan jauh kabur p Membaca dan menonton Televisi terlalu dekat ¨ Presbyopia = Rabun dekat p Kalau mambaca perlu alat bantu kaca mata plus p Penglihatan dekat terganggu p Kepala pusing p Usia diatas 40 tahun. ¨ BUTA : Tajam penglihatan <= 3/60 pada mataterbaik dengan koreksi terbaik ¨ RABUN : tajam penglihatan > 3/60 dan < 6/18 pada mata terbaik dengan koreksi terbaik Adalah gangguan mata lainnya : ¨ Pterigium : pertumbuhan selaput di conjunctiva yang dapat H54 Buta dan Rabun H57-H59 Gangguan Mata dan adneksa lainnya . therafi kortikosteroid) ¨ Sakit kepala. muntahmuntah.

banyak terjadi saat udara panas dan . Albus ¨ Otitis Externa Difus : dikenal sebagai swimmer ear. S. ¨ Hordeolum : radang akut kelenjar minyak kelopak mata ¨ Chalazion : Radang khronis kelenjar minyak kelopak mata ¨ Blepharitis : Radang pinggir dan pada kelopak mata ¨ Uveitis : radang pada selaput pelangi mata ¨ Dacryocystitis : radang pada saluran air mata ¨ Dacryoadenitis : Radang pada kelenjar air mata VIII H60 ¨ Strabismus/juling : kelainan keseimbangan otot bola mata Endhoptalmitis (infeksi yang terjadi pada intraokuler setelah mengalami operasi atau trauma) PENYAKIT TELINGA DAN PROSESUS MASTOIDEUS Otitis eksterna Radang telinga luar akut maupun khronis yang disebabkan karena bakteri. jamur maupun virus Klasifikasi Otitis Externa : ¨ Otitis Externa Sirkumskripta (Furunkel) . merupakan radang folikel rambut yang disebabkan kuman stafilokokus aureus atau.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT mengenai kornea.

antrum dan sel mastoid. ¨ Klasifikasi Otitis media serosa akut (barotrauma) dan Otitis media serosa khronis (Glue Ear) Otitis Media Supurativa ¨ Faktor penyebab non infeksi. Radang pada tulang mastoid . candida albicans dan pityrosporum ¨ Otitis Externa Maligna : sering terdapat pada orang tua dengan diabetes mellitus. banyak terdapat pada penduduk tropis dan penyebabnya aspergillus niger. cairan ditelingan tengah.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT kelembaban tinggi ¨ Otomikosis : merupakan radang karena jamur. vertigo (terkadang) H70 Mastoiditis ¨ Pemeriksaan otokopik tampak membran timpani : suram. inflamasi. Sensasi cairan telinga Tinitus. mobilitas terganggu. ¨ ¨ ¨ Pendengaran terganggu. tidak spesifik missal alergi. Tuba eustachius. unilateral dengan penyebab pseudomonas H65 H66 ¨ Otitis Externa Eksim : merupakan radang khronis yang meluas dari liang telinga ke jaringan sekitranya akibat reaksi kerentanan kulit Otitis Media Nonsupurativa ¨ Peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah.

menonjol atau perforasi disertai discharge Gangguan telinga lain tidak ¨ Tuli kongenital : tuli pada spesifik bayi yang disebabkan faktor yang mempengaruhi kehamilan maupun saat lahir ¨ Tuli akibat bising (noise induced hearing loss/NIHL) adalah ketulian akibat terpapar oleh bising yang cukup keras dalam jangka waktu lama biasanya disebabkan bising lingkungan kerja. Sifat ketuliannya adalah tuli saraf cochlea dan umumnya terjadi pada 2 telinga H93 . Perforasi membran timpani ¨ Pecahnya gendang telinga akibat infeksi atau trauma ¨ Demam. ¨ Demam tinggi disertai keadaan umum lemah. lunak dan nyeri tekan. ¨ Otoskopik : membran timpani perforasi. discharge purulen ¨ Penonjolan pada dinding posterosuperior liang telinga (saging) H72 ¨ Udema daerah postaurikuler. otalgia (nyeri telinga) ¨ Otoskopik : membran timpani merah.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT akibat komplikasi OMSK ¨ Kegagalan terapi otitis media supuratif akut.

terbakar ¨ Lama serangan nyeri < 20 menit dan hilang bila istirahat ¨ Pada pemeriksaan EKG didapatkan gambaran depresi atau elevasi segmen ST ¨ Nyeri dada seperti pada angina tetapi lama serangan nyeri > 20 menit dan tidak bisa hilang walaupun beristirahat. dapat diikuti dengan peningkatan kadar enzim jantung ¨ I21 Infark miokard Akut I23-I25 Penyakit Jantung Iskemik .KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT IX I10 I15 I20 ¨ Presbikusis adalah tuli saraf jenis sensorineural (saraf) frekuensi tinggi terutama di atas 2000 Hz. berat/diremas-remas. pil kontrasepsi) Angina pektoris ¨ Penderita mengeluh nyeri dada ¨ Keluhan nyeri dada sebelah kiri atau tengah seperti tertekan. yang penyebabnya tidak diketahui/tidak diikuti oleh penyakit lainnya Hipertensi sekunder ¨ Hipertensi yang diakibatkan oleh kelainan/penyakit pada organ-organ tertentu atau penggunaan obat-obat tertentu jangka panjang (obat golongan kortikostreroid. ¨ Bersifat khas. terjadi pada usia lanjut simetris 2 telinga PENYAKIT SISTEM PEMBULUH DARAH Hipertensi Primer (esensial) ¨ Meningkatnya tekanan darah sistolic > 140 mmHg dan atau diastolic > 95 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu 5 menit dalam keadaan cukup istirahat (tenang).

hemiplegia. meluas dan bertambah berat selama beberapa jam hingga beberapa hari sedangkan pada completed stroke. nyeri menelan ¨ Pembesaran kelenjar Limfe leher ¨ Dinding pharynx hyperemis (merah) ¨ Nyeri pada daerah hidung.KODE ICD – 10 I26 I50 I 63 I 64 JENIS PENYAKIT lainnya Emboli paru Penyakit Gagal Jantung (Decompensatio Cordis) Infark serebral Stroke. hemiestesia dengan atau tanpa gangguan sensibilitas yang timbul secara mendadak ¨ Pada progressive stroke. ¨ ¨ GEJALA PENYAKIT I 65-I69 I 84 I 95 I 99 X J00-J06 J00 Penyakit Serebrovaskular tidak spesifik Hemoroid (Wasir) Hipotensi tidak spesifik ¨ ¨ Gangguan neurologik berupa kelemahan atau kelumpuhan dapat berupa hemiparese. tidak menyebut perdarahan atau infark. gejala neurologik tidak berkembang lagi ¨ ¨ ¨ Tekanan darah di bawah normal ¨ Penyakit Pembuluh darah lain tidak spesifik PENYAKIT SYSTEM PERNAFASAN PENYAKIT INFEKSI SALURAN PERNAFASAN ATAS AKUT Nasofaringitis Akuta ¨ Diawali rhinitis (Common Cold) dengan/tanpa conjuctivitis ¨ Demam. gejala berkembang. muka dan sakit kepala J01 Sinusitis Akuta . sakit kepala.

Nyeri telan. suara sesak (stridor) ¨ Sakit berat. menggonggong) non produktif disertai sesak napas. ¨ Sering pada anak umur < 5 thn ¨ Demam Didahului oleh infeksi saluran nafas akut J02 Faringitis Akuta J03 Tonsilitis Akuta J04 Laringitis dan Trakeitis Akuta J06 ¨ Batuk khas (serak. bau mulut. post nasal drip ¨ Faring merah dan udem ¨ Nyeri menelan. gelisah.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT ¨ Sumbatan hidung. gejala menghebat pada malam hari Penyakit Infeksi Saluran ¨ Didahului oleh infeksi Pernafasan Atas Akut tidak saluran nafas akut spesifik ¨ Batuk khas diikuti oleh sesak napas yang makin berat. nasal discharge purulent dan berbau ¨ Mukosa kemerahan dan post nasal drip ¨ Udem periorbita (keadaan lanjut) ¨ Infeksi terbatas pada kelenjar limphe faring dan tonsil. demam. sering berasal dari sinusitis ¨ Demam. duduk . ¨ Tonsil membesar dan kemerahan ¨ Sering disertai pembesaran kelenjar limphe leher.

¨ Tenggorokan tampak hyperemia. sakit kepala. hidung tersumbat. ¨ Dalam rongga hidung tampak konka yang sembab dan hyperemia. bersin dan ingus encer disertai faringitis. seromukus atau muko purilen bila ada infeksi sekunder. Flu Burung batuk dan atau sakit tenggorokan dan atau ber-ingus serta dengan salah satu keadaan : • o Seminggu terakhir mengunjungi peternakan yang sedang berjangkit KLB Flu Burung • o Kontak dengan kasus konfirmasi Flu Burung dalam masa penularan o Bekerja pada satu laboratorium yang sedang memproses spesimen manusia atau binatang yang dicurigai menderita Flu Burung ¨ virus akut yaitu demam.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT J09-J18 J09 posisi tegak diikuti dengan liur menete drooling INFLUENZA DAN PNEUMONIA Suspek Avian Influenza/ ¨ gejala demam (suhu > 38°C). nyeri sendi dan nafsu makan hilang disertai gejala local berupa rasa menggelitik sampai nyeri tenggorokan kadang batuk kering. nyeri otot. . • J10-J11 Influenza ¨ Biasanya sembuh sendiri dalam 3 – 5 hari. ¨ Sekret dapat bersifat serius.

9 Pneumonia J20-J22 J22 J30-J99 J 30. sianosis ¨ Batuk yang mungkin kering atau berdahak mukoporulent bahkan mungkin berdarah ¨ Gejala umum infeksi adalah demam. lesu ¨ Gejala umum penyakit sal. sakit kepala lesu dll. retraksi dinding dada bawah atau nafas cuping hidung.3 J 32 J36-J39 J40 . dispneu. sakit kepala. purulen bahkan mungkin berdarah. nyeri tekan di daerah sinus Penyakit Saluran ¨ Pernafasan Bagian Atas lainnya Bronchitis tidak ditentukan ¨ Batuk lama akut atau kronik J12-16. Napas bawah : takipneu.0 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT Broncho Pneumonia tidak ¨ Gejala umum infeksi adalah spesifik demam. PENYAKIT INFEKSI SALURAN PERNAFASAN BAWAH AKUT LAINNYA Infeksi saluran pernafasan ¨ bawah akut tidak spesifik PENYAKIT SALURAN PERNAFASAN LAINNYA Alergi Rhinitis akibat kerja ¨ Sinusitis Kronik ¨ Sakit kepala. ¨ Tachypneu. dispneu. sianosis ¨ Tanda Pneumonia : perkusi pekak pada pneumonia lobaris. ronchi basah halus nyaring pada bronkopneumonia dan bronkofoni positif.KODE ICD – 10 J18. J18. ¨ Batuk yang mungkin kering atau berdahak mukopurulen. retraksi dinding dada bawah atau napas cuping hidung.

KODE ICD – 10

JENIS PENYAKIT ¨

GEJALA PENYAKIT Sputum produktif

J45

Asma

¨ Lama 3 bulan pertahun, selama 2 tahun berturut-turut ¨ Sesak nafas disertai suara wheezing (mengi) akibat kesulitan ekspirasi cyanosis bila berat ¨ Pada auskultasi terdengar wheezing dan akspirasi memanjang. ¨ Keadaan sesak hebat yang ditandai dengan giatnya otot-otot Bantu pernafasan dan sianosis dikenal sebagai status asmatikus yang dapat berakibat fatal, retraksi intercostals ¨ ¨ ¨ Hipersonor.

J46 J47 J84.9 XI K02

Status Asthmatikus Bronkiektasis dan Bronkiolektasis Penyakit Jaringan ¨ Interstitial Paru lainnya PENYAKIT SISTEM PENCERNAKAN Karies gigi ¨ Awal kerusakan gigi tampak kehitaman dibagian permukaan pit, fssure atau interproksimal gigi. ¨ Pada sondasi tersangkut

¨ Pada kerusakan gigi lebih lanjut, tampak gigi berlubang yang dapat meluas dari lapisan email sampai dentil, tetapi belum mengenai jaringan pulpa. Dapat juga mengenai semen gigi.

KODE ICD – 10

JENIS PENYAKIT

GEJALA PENYAKIT

K04

¨ Penderita tidak selalu mengeluh dengan rangsangan makanan/minuman manis, asam, panas dan dingin Penyakit Pulpa dan jaringan ¨ Gigi berlubang sudah Periapikal mengiritasi jaringan pulpa (Hyperraemi Pulpa). ¨ Terasa nyeri berdenyut terus menerus. ¨ Terasa sakit bila ada rangsangan asam, manis, dingin dan panas atau tanpa rangsangan. ¨ Pada keadaan lanjut kerusakan dapat mengenai jaringan pulpa dan jaringan periapikal (gangren pulpa, periodontitis apikalis). ¨ Jika menguyah terasa sakit dan mengganjal ¨ Pada perkusi / druk terasa sakit. ¨ Radang gusi ¨ ¨ ¨ Gusi berwarna merah Mulut berbau Tampak adanya saku gusi

K05-K06

Penyakit Gusi, jaringan Periodontal dan tulang alveolar

¨ Tidak terasa nyeri kadang terasa gatal ¨ Pada keadaan lanjut terjadi periodontitis marginalis (bukan penyebab gigi karies). ¨ Adanya saku gusi yang dalam dan gusi tampak kotor

KODE ICD – 10

JENIS PENYAKIT

GEJALA PENYAKIT (karang gigi dan stain)

K07

K08

K09

K25 K29.9 K 30 K35

K36 K40 K41 K42 K63 K76 K92 XII L01 L02

¨ Termasuk rdang gusi geraham bungsu (pericoronitis) gejala yang tampak : merah, demam, sukar membuka mulut dan abses. Kelainan dentofasial ¨ Gigi goyang bahkan bisa termasuk maloklusi sampai tanggal akibat penyakit sistemik (antara lain : Diabetes Mellitus). ¨ Gigi tanggal akibat kecelakaan penyakit periodontal. Gangguan Gigi dan jaringan¨ Kista ronga mulut, penyakit penunjang lainnya rahang, kelenjar ludah, stomatitis, penyakit bibir dan mukosa mulut, dan penyakit pada lidah. Penyakit rongga mulut, ¨ kelenjar ludah, rahang dan lainnya. Tukak Lambung ¨ Gastroduodenitis tidak ¨ spesifik Dispepsia ¨ Apendisitis Akuta tidak ¨ Nyeri perut biasanya spesifik dimulai di epigastrium, kemudian berpusat di letak apendiks Apendisitis lainnya ¨ Hernia Inguinalis ¨ Hernia Femoralis ¨ Hernia Umbilikalis ¨ Penyakit Usus Halus ¨ lainnya Penyakit Hati lainnya ¨ Penyakit Sistem Pencernaan ¨ tidak spesifik PENYAKIT KULIT DAN JARINGAN SUBKUTAN Impetigo ¨ Abses, furunkel, karbunkel ¨

nafsu makan hilang Kaku seluruh badan M54. PENYAKIT SISTEM MUSKULOSKELETAL DAN JARINGAN IKAT Gout ¨ Serangan nyeri sendi akut pada satu sendi ¨ Sendi terlihat tampak bengkak. Ruam kulit ¨ Gatal ¨ Ruam kulit ¨ L30. kemerahan.9 L98.5 Low Back Pain (Nyeri Punggung Bawah) ¨ Nyeri biasanya timbul bila udara dingin (pada artritis rematoid) ¨ Low Back Pain adalah nyeri yang dirasakan daerah punggung bawah. dengan kulit di atasnya teregang Artritis lainnya ¨ Nyeri sendi. merah ¨ ¨ ¨ ¨ Nyeri pada saat bergerak Sendi-sendi kaku Lemah. XIII M10 M13 Dermatitis lain. Nyeri ini terasa diantara sudut iga terbawah sampai lipat bokong bawah yaitu di daerah lumbal atau lumbosakral dan sering disertai dengan penjalaran nyeri ke arah tungkai dan kaki. protein.KODE ICD – 10 L23-L25 JENIS PENYAKIT kutan Dermatitis kontak GEJALA PENYAKIT ¨ Akibat kontak dengan zat kimia. hangat. bakteri atau virus ¨ Gatal. ¨ Adanya nyeri pada punggung bawah yang timbul tak . dapat merupakan nyeri lokal maupun nyeri radikuler atau keduanya. tidak spesifik (eksema) Gangguan lain pada kulit dan jaringan subkutan yang tidak terklasifikasikan. bengkak.

tidak spesifik PENYAKIT SISTEM SALURAN KEMIH DAN KELAMIN Sindroma Nefrotik ¨ Udem ¨ Ditemukan proteinuria.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT tergantung dengan waktu siang atau malam. kadang terdapat juga uremia Gagal Ginjal Akuta ¨ Batu sistem ¨ Warna kemih normal / merah kemih(ginjal. tidak spesifik M79. hypoalbuminemia dan hyperkolesterolemia. kencing keruh kadang merah. batuk ataupun mengejan. memberat terutama bila berjalan. bengkak. ¨ Nyeri sendi. saluran seperti air cucian daging. keringat dingin. nafsu makan hilang M79. Kolik ginjal tidak spesifik ¨ Nyeri hebat di pinggang yang memancar ke kemaluan dan paha disertai mual.0 Rematisme. Sistitis ¨ Sering kencing.1 M79. terasa panas dan sakit. kemih bawah) ¨ Reaksi anak kecil terhadap nyeri ini khas sekali: menarik batang penisnya ketika berkemih.2 XIV N04 N17 N20-N21 N23 N30 Myalgia Neuralgia dan Neuritis. merah ¨ ¨ ¨ Nyeri pada saat bergerak Sendi-sendi kaku Lemah. ¨ ¨ Rasa ingin kencing keruh Pada anak sering disertai ¨ Nyeri biasanya timbul bila udara dingin (pada artritis rematoid) ¨ ¨ . muntah.ureter.

p Pada pemeriksaan dalam terlihat kanalis servikalis terbuka dan jaringan dapat Pada pemeriksaan dalam terlihat kanalis servikalis terbuka dan jaringan dapat diraba dalam kavum uteri atau menonjol dari ostium uteri ekstem ¨ Gejala Abortus Kompletus : . ¨ Berdasarkan bagian janin yang keluar dari kandungan. N 34 N40-N42 XV O00 O03 Uretritis dan sindrom uretral Gangguan prostat ¨ KEHAMILAN. ¨ ¨ Kadang kencing berdarah. abortus dapat dibagi menjadi : Abortus Inkompletus dan Abortus Kompletus. atau keluarnya janin dengan berat kurang dari 1000 gram atau umur kehamilan kurang dari 20 minggu. ¨ Gejala Abortus Inkompletus: p Perdarahan pervagina pada kehamilan kurang dari 20 minggu dengan sebagian hasil konsepsi telah keluar. PERSALINAN DAN NIFAS Kehamilan ektopik (di luar ¨ kandungan) Abortus spontan ¨ Abortus adalah keluarnya hasil konsepsi sebelum janin mampu hidup di luar kandungan.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT demam ringan.

¨ Gejala : p Tekanan darah 140/90 mmHg sampai dengan 160/110 mmHg p Protein dalam urine p Penglihatan kabur p Muntah-muntah. Pre-eklamsia ringan ¨ Keadaan pada masa kehamilan dengan kenaikan tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg atau kenaikan tekanan darah sistolik lebih dari 30 mmHg dan atau kenaikan diastolic lebih dari 15 mmHg yang terjadi akibat kehamilan.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT p Keluarnya gumpalan darah pervagina pada kehamilan kurang dari 20 minggu. p Eudema pada muka dan tangan . p Pada pemeriksaan dalam terlihat ostium uteri telah menutup. O04 O05 O10 O13 ¨ Perdarahan masih ditemukan. tetapi jumlahnya tidak banyak. persalinan dan nifas. p Uterus telah mengecil. Abortus atas indikasi medis ¨ Abortus lainnya ¨ Hipertensi yang sudah ada ¨ sebelum kehamilan dan menjadi penyulit pada masa kehamilan.

¨ Keadaan pada masa kehamilan dengan kenaikan tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg atau kenaikan tekanan darah sistolik lebih dari 30 mmHg dan atau kenaikan diastolic lebih dari 15 mmHg yang terjadi akibat kehamilan. p Eudema pada muka dan tangan (tidak selalu ditemukan p Kesadaran menurun. ¨ Keadaan pada masa kehamilan dengan kenaikan tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg atau kenaikan tekanan darah sistolik lebih dari 30 mmHg dan atau kenaikan diastolic lebih dari 15 mmHg yang terjadi akibat kehamilan. ¨ Gejala : O14.1 Pre-eklamsia berat p Tekanan darah lebih dari / diatas 160/110 mmHg .KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT (tidak selalu ditemukan p Kesadaran menurun.0 Pre-eklamsia sedang p Tekanan darah 140/90 mmHg sampai dengan 160/110 mmHg p Protein dalam urine p Penglihatan kabur p Muntah-muntah. ¨ Gejala : O14.

p Eudema pada muka dan tangan (tidak selalu ditemukan p Kesadaran menurun.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT p Protein dalam urine p Penglihatan kabur p Muntah-muntah. ¨ Gejala : O15. Preeklamsia berat = lebih dari 160/110 mmHg) p Protein dalam urine ( + 2 atau lebih) p Penglihatan kabur p Muntah-muntah. p Kejang-kejang pada Bumil biasanya pada trimester ketiga atau pada saat persalinan / masa . ¨ Keadaan pada masa kehamilan dengan kenaikan tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg atau kenaikan tekanan darah sistolik lebih dari 30 mmHg dan atau kenaikan diastolic lebih dari 15 mmHg yang terjadi akibat kehamilan.0 Eklamsia selama Kehamilan p Tekanan darah 140/90 mmHg (pre-eklamsia ringan = sampai dengan 160/110 mmHg. p Eudema pada muka dan tangan (tidak selalu ditemukan p Kesadaran menurun.

1 O15.KODE ICD – 10 O15.3 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT nifas. ¨ O16 O21 O24 O25 O42 O46 Eklamsia dalam proses Melahirkan Eklamsia pada Masa Nifas ¨ Eklamsia tidak spesifik ¨ (selama kehamilan atau persalinan atau nifas) Hipertensi Maternal ¨ Muntah berlebihan selama ¨ Muntah berlebihan pada masa kehamilan kehamilan (Hiperemisis) Diabetes Mellitus (Penyakit ¨ Kencing Manis) dalam kehamilan Kehamilan dengan ¨ malnutrisi Ketuban Pecah Dini ¨ Perdarahan Antepartum ¨ Perdarahan pervagina yang terjadi pada kehamilan diantara umur kehamilan 28 minggu sampai sebelum kelahiran bayi ¨ Komplikasi kehamilan ini merupakan keadaan gawat darurat kebidanan. p Jumlah perdarahan mungkin sedikit atau banyak tergantung luasnya insersi placenta yang . karena dapat mengakibatkan kematian ibu maupun janin dalam waktu singkat. ¨ Penyebab perdarahan antepartum pada umumnya karena Plasenta Previa dan Solusio Placenta.2 O15. ¨ Gejala Placenta Previa : p Perdarahan per-vagina pada kehamilan 28 minggu atau lebih.

p Jumlah darah yang keluar tidak sesuai dengan keadaan umum penderita (perdarahan yang keluar mungkin sedikit. ¨ Gejala Solusio Placenta : p Perdarahan per-vagina pada kehamilan 28 minngu atau lebih. ¨ Keadaan persalinan yang berlangsung lebih dari 18 jam (sejak inpartu) ¨ Gejalanya : O63 Persalinan (Partus) lama p Pembukaan servik tidak bertambah dengan berlalunya waktu yaitu : . p Perut tegang dan nyeri perut. bila banyak keadaan umum pasien memburuk). p Bagian-bagian janin sulit dipalpasi. p Warna darah merah tua (darah lama). p Jumlah perdarahan sesuai dengan keadaan umum (bila sedikit keadaan umum pasien baik. p Warna darah merah segar.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT terlepas. p Perut tidak tegang dan tidak ada nyeri perut. tetapi pasien menunjukan tanda-tanda syok).

yang terjadi pada Kala III persalinan (setelah anak lahir). ¨ Penyebab perdarahan post partum yang paling sering adalah : Atonia Uteri. Sisa Plasenta atau Retensio Plasenta dan Robekan Jalan Lahir.Merupakan jenis komplikasi perdarahan yang sering terjadi dan merupakan keadaan gawat darurat kebidanan yang menjadi penyebab utama kematian ibu .KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT • GEJALA PENYAKIT Pembukaan serviks tetap 3 cm setelah 8 jam inpartu. garis pembukaan serviks berada di sebelah kanan garis waspada Persalinan dengan penyulit ¨ gawat janin Perdarahan setelah ¨ Perdarahan lebih dari 500 ml persalinan yang terjadi pada Kala III persalinan. Pembukaan yang belum lengkap setelah 18 jam inpartu • O68 O72 p Pada partograf. ¨ Gejalanya : p Perdarahan pervagina lebih dari 500ml atau 2 gelas. ¨ Keadaan umum ibu melemah dan pucat. p Tekanan darah menurun sampai syok. Persalinan tunggal spontan ¨ KONDISI TERTENTU YANG BERMULA PADA MASA O80 XVI . yang dapat terjadi sebelum atau setelah lahirnya plasenta.

KODE ICD – 10 P05 P 07 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT P21 P22 P29 P 50 P 55 P 58 P 59 P 95 XVII Q 35 PERINATAL Pertumbuhan janin lambat ¨ dan malnutrisi janin Gangguan yang ¨ berhubungan dengan pendeknya masa gestasi (kehamilan) dan berat badan lahir rendah. tidak terklasifikasikan di tempat lainnya Asfiksia waktu lahir ¨ Bayi yang pada masa lahir mengalami hipoksia (kekurangan oksigen) yang ditandai dengan nilai APGAR waktu lahir kurang dari 7. tidak bernafas atau tidak ada gerakan). KELAINAN PEMBENTUKAN DAN KHROMOSOM Celah palatum (langit¨ Merupakan kelainan yang . tidak teraba denyut tali pusat. tanpa menunjukan tanda-tanda kehidupan tidak terdengar detik jantung. KELAINAN BAWAAN. Sindrome distres saluran ¨ pernafasan (RDS) Gangguan kardiovaskuler ¨ yang berhubungan dengan masa perinatal Kehilangan darah janin ¨ Penyakit hemolitik pada ¨ janin dan bayi baru lahir Jaundis pada bayi baru lahir ¨ disebabkan oleh hemolisis berlebihan Jaundis pada bayi baru lahir ¨ yang disebabkan oleh penyebab tidak spesifik lainnya Lahir Mati ¨ Kelahiran seorang bayi dari kandungan yang berumur paling sedikit 28 minggu.

bisa unilateral atau bilateral p – Celah pada langit-langit ( palatum) bisa sederhana atau kompleks. TANDA dan PENEMUAN SECARA KLINIK DAN LABORATORIUM YANG TIDAK DIKLASI FIKASIKAN DI TEMPAT LAIN Nyeri pinggul dan perut ¨ Inkontinensia feses ¨ Retensi urin ¨ Demam yang tidak ¨ diketahui sebabnya Kejang yang tidak ¨ terklasifikasikan di tempat lain Gejala dan tanda umum ¨ lainnya CEDERA. tulang belakang. Q 36 Q 37 Q 38 XVIII R 10 R 15 R 33 R 50 R 56 R 68 XIX S00-S09 S10-S19 S20-S29 S30-S39 Celah bibir Celah palatum dengan celah bibir Kelainan bawaan lain pada Merupakan kelainan bawaan. . Manifestasi dalam rongga mulut : p Celah pada bibir.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT langit) GEJALA PENYAKIT disebabkan oleh bawaan. mulut dan faring selain celah palatum. celah bibir dan celah palatum dengan celah bibir GEJALA. ¨ Cukup jelas punggung. atau gangguan pada masa pembentukan rahang janin dalam kandungan. KERACUNAN DAN PENYEBAB EKSTERNAL LAIN Cedera pada kepala ¨ Cukup jelas Cedera pada leher ¨ Cukup jelas Cedera pada rongga dada ¨ Cukup jelas (toraks) Cedera pada perut. lidah.

S90.T12 gerak T00-T07 Cedera pada daerah badan multipel T20-T32 Luka bakar dan korosi T36-T50 Keracunan obat dan preparat biologik T51 – Tt50 Efek toksik bahan non medisinal (bukan obat) T61. kejang ¨ Mual. telapak kaki S42. muntah. S52. S60. lengan bawah. S82.diare. baik di dalam maupun di luar gedung .Cedera pada paha. lengan S69 atas. Kunjungan Baru Ibu Hamil (K1) Akses adalah jumlah kontak pertama ibu hamil dengan tenaga kesehatan tanpa melihat umur kehamilan. Fraktur tulang anggota T10. pusing. pusing. S99 kaki bagian bawah.S80-S89. pergelangan dan telapak tangan S70-S79. muntah. S92. 1. T62 Efek toksik bahan beracun lainnya yang dimakan sebagai makanan T60 Keracunan pestisida XXII U04 ¨ Cukup jelas ¨ ¨ ¨ ¨ Cukup jelas Cukup jelas Cukup jelas Cukup jelas ¨ Nek. lutut. pusing.Cedera pada bahu. abd cramps. siku. muntah. LAPORAN BULANAN KIA/KB (LB 3 – KIA / KB) IBU HAMIL 1. S50-S59. diare. S62. diare. shock ¨ Mual. kejang PENYAKIT BARU DENGAN ETIMOLOGI YANG BELUM JELAS Severe acute respiratory ¨ Sindroma gangguan syndrome (SARS) pernafasan yang terjadi mendadak dan dapat menjadi berat (hingga dapat menyebabkan kematian) disebabkan oleh virus corona Penyakit Lain-Lainnya 1.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT ¨ GEJALA PENYAKIT Cukup jelas dan pinggul S40-S49. A.

Ÿ minimal 2 kali kontak pada triwulan III. Kunjungan rumah. Polindes. yaitu: Ÿ Timbang Berat badan dan ukur tinggi badan. Penjaringan (deteksi risiko) : X 100% . Ÿ Pemberian Tablet zat besi (Fe) minimal 90 tablet selama kehamilan. Kunjungan ibu hamil (K4) adalah jumlah kontak ibu hamil dengan tenaga kesehatan ke-4 (atau lebih) baik di dalam maupun di luar gedung Puskesmas (Posyandu. Polindes. Kunjungan rumah. Rumah Sakit dan praktek swasta di wilayah kerja puskesmas) untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai dengan standar yang ditetapkan minimal (5T). Kunjungan rumah. baik di dalam maupun di luar gedung Puskesmas (Posyandu. Rumus perhitungan Cakupan K1 Murni adalah : Jumlah kunjungan baru ibu hamil (K1) Murni X 100% Jumlah sasaran ibu hamil dalam satu tahun 3. Kunjungan Baru Ibu Hamil (K1) Murni adalah jumlah kontak pertama ibu hamil dengan tenaga kesehatan pada umur kehamilan kurang dari 12 minggu. Rumah Sakit dan praktek swasta di wilayah kerja puskesmas) untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai dengan standar yang ditetapkan minimal (5T) dengan syarat : Ÿ minimal satu kali kontak pada triwulan I.Puskesmas (Posyandu. Polindes. Ÿ minimal satu kali kontak pada triwulan II. Rumus perhitungan Cakupan K1 akses adalah : Jumlah kunjungan baru ibu hamil (K1) akses Jumlah sasaran ibu hamil dalam satu tahun X 100% 2. Ÿ ukur Tinggi Fundus Uteri. Rumah Sakit Pemerintah/ Swasta dan praktek swasta di wilayah kerja puskesmas) untuk mendapatkan pelayanan antenatal. Ÿ ukur Tekanan Darah. Ÿ pemberian imunisasi Tetanus Toxoid. Rumus perhitungan Cakupan K4 adalah : Jumlah kunjungan ibu hamil keempat (K4) Jumlah sasaran ibu hamil dalam satu tahun 4.

Ÿ letak lintang pada umur kehamilan >32 mingu. Ÿ janin yang besar. Rumus perhitungan Cakupan adalah : Jumlah ibu hamil beresiko yang ditemukan oleh Nakes X 100% 20% Jumlah sasaran ibu hamil dalam satu tahun 1. . paraji). dll.1. b. tekanan darah tinggi. perawat) baik didalam gedung maupun diluar gedung. Ÿ penyakit kronis pada ibu seperti jantung. Ÿ infeksi berat/sepsis. kesadaran menurun . bidan. Ÿ persalinan prematur Ÿ kehamilan ganda. a. Ÿ letak sungsang pada primigravida. Ÿ Oedema yang nyata. paru. Ÿ perdarahan per vaginum. Tekanan darah tinggi (sistole> 140 dan diastole > 90 mmHg). ginjal. Rumus Cakupan perhitungan adalah : Jumlah ibu hamil beresiko yang dirujuk oleh dukun bayi/ kader ke tenaga kesehatan X 100% 20% Jumlah sasaran ibu hamil dalam satu tahun Catatan : Ibu Hamil yang mengalami risiko tinggi/ komplikasi (Pedoman PWS-KIA th 2004) Risiko tinggi/ komplikasi pada kehamilan meliputi : Ÿ Hb< 8 gr % . Ÿ ketuban pecah dini. Penjaringan (deteksi risiko) ibu hamil oleh masyarakat adalah ditemukannya ibu hamil berisiko/ komplikasi oleh masyarakat dan bisa dinilai oleh masyarakat (kader. Penjaringan (deteksi risiko) ibu hamil oleh tenaga kesehatan adalah ditemukannya ibu hamil berisiko/ komplikasi oleh tenaga kesehatan (dokter. Ÿ Eklampsia ( keracunan kehamilan) dengan gejala kejang-kejang.

RSIA/RSB. riwayat bedah sesar dan komplikasi kehamilan Catatan (Draf SPM 2007): Komplikasi kebidanan yang dimaksud adalah kesakitan pada ibu hamil. b. f. Perdarahan nifas 5. eklamsia) Kehamilan lewat waktu Ketuban pecah dini Komplikasi dalam persalinan : 1. RB. 3. eklamsia) Perdarahan pasca persalinan Infeksi berat/ sepsis Kontraksi dini/ persalinan prematur Kehamilan ganda - Komplikasi dalam nifas : 1. c. eklamsia) Infeksi nifas . c. Abortus Hiperemesis gravidarum Perdarahan per vaginam Hipertensi dalam kehamilan (preeklamsia. 2. e. . a. b. Hipertensi dalam kehamilan (preeklamsia.RSU. 6. a. puskesmas PONED. puskesmas. d. bersalin dan nifas dengan risiko tinggi/ komplikasi yang mendapatkan pelayanan sesuai standar ditingkat pelayanan kesehatan dasar dan rujukan (polindes. c. e. ibu bersalin dan ibu nifas yang dapat mengancam jiwa ibu dan/ atau bayi Komplikasi dalam kehamilan : 1. 5. 2.Ÿ riwayat obstetri buruk. 3. g. 4. a. 5. RSU PONEK). 4. 3. b. Kelainan letak/ presentasi janin Partus macet/ distosia Hipertensi dalam kehamilan (preeklamsia. 7. 6. d. 2. Penanganan Komplikasi Obstetri (Komplikasi Kebidanan Yang Ditangani) adalah jumlah ibu hamil. f.

RSIA/RSB. puskesmas PONED. Ibu bersalin dengan komplikasi yang tertangani/ selamat adalah jumlah ibu bersalin yang mengalami risiko tinggi/ komplikasi dan dapat ditangani/ dilayani di pelayanan dasar dan rujukan (polindes. . puskesmas.Rumus Cakupan perhitungan adalah : Jumlah kasus komplikasi obstetri/kebidanan (bumil. RSU PONEK) dan selamat Rumus Cakupan perhitungan adalah : Jumlah ibu hamil yg mengalami risiko tinggi/ komplikasi yg dilayani di pelayanan dasar & rujukan dan selamat X 100% 20% Jumlah sasaran ibu hamil dalam satu tahun 7. RSIA/RSB. Ibu Hamil dengan komplikasi yang tertangani/ selamat adalah jumlah ibu hamil yang mengalami risiko tinggi/ komplikasi dan dapat ditangani/ dilayani di pelayanan dasar dan rujukan (polindes. RB. C. nifas) yang ditangani disarana pelayanan kesehatan dasar dan rujukan X 100% Jumlah sasaran ibu hamil dalam satu tahun 6.RSU. IBU BERSALIN DENGAN KOMPLIKASI OBSTETRI 1. Rumus Cakupan perhitungan adalah : Jumlah ibu hamil yg mengalami risiko tinggi/ komplikasi dan dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap X 100% 20% Jumlah sasaran ibu hamil dalam satu tahun 8. Ibu bersalin dengan komplikasi yang dirujuk adalah jumlah ibu bersalin yang mengalami risiko tinggi/komplikasi dan dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap. bulin. puskesmas PONED. puskesmas. Ibu Hamil dengan komplikasi yang dirujuk adalah jumlah ibu hamil yang mengalami risiko tinggi/ komplikasi dan dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap. RB. RSU PONEK) dan selamat Rumus Cakupan perhitungan adalah : Jumlah ibu Bersalin yg mengalami risiko tinggi/ komplikasi yg dilayani di pelayanan dasar & rujukan X 100% dan selamat 20% Jumlah sasaran ibu hamil dalam satu tahun 2.RSU. Ibu hamil dengan komplikasi ditangani tetapi meninggal adalah jumlah ibu hamil yang mengalami risiko tinggi/ komplikasi dan kemudian meninggal baik disarana pelayanan kesehatan dasar maupun rujukan.

Rumus perhitungan adalah : Jumlah ibu Bersalin yg mengalami risiko tinggi/ komplikasi dan dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap X 100% 20% Jumlah sasaran ibu hamil dalam satu tahun 3. Ibu bersalin dengan komplikasi ditangani tetapi meninggal adalah jumlah ibu bersalin yang mengalami risiko tinggi/ komplikasi dan kemudian meninggal baik disarana pelayanan kesehatan dasar maupun rujukan.

D.

IBU NIFAS DENGAN KOMPLIKASI OBSTETRI

1. Ibu nifas dengan komplikasi yang tertangani/ selamat adalah jumlah ibu nifas yang mengalami risiko tinggi/ komplikasi dan dapat ditangani/ dilayani di pelayanan dasar dan rujukan (polindes, puskesmas, puskesmas PONED, RB, RSIA/RSB,RSU, RSU PONEK) dan selamat Rumus perhitungan adalah : Jumlah ibu Nifas yg mengalami risiko tinggi/ komplikasi yg dilayani di pelayanan dasar & rujukan dan selamat X 100% 20% Jumlah sasaran ibu hamil dalam satu tahun 2. Ibu nifas dengan komplikasi yang dirujuk adalah jumlah ibu nifas yang mengalami risiko tinggi/komplikasi dan dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap. Rumus Cakupan perhitungan adalah : Jumlah ibu Nifas yg mengalami risiko tinggi/ komplikasi dan dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap X 100% 20% Jumlah sasaran ibu hamil dalam satu tahun

3. Ibu nifas dengan komplikasi ditangani tetapi meninggal adalah jumlah ibu nifas yang mengalami risiko tinggi/ komplikasi yang ditangani dan kemudian meninggal baik disarana pelayanan kesehatan dasar maupun rujukan. 4. Jumlah Persalinan berdasarkan Penolong Persalinan 1. a. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah pelayanan persalinan yang aman yang dilakukan oleh tenaga kesehatan kompeten yaitu : dr SpOG, dr umum dan bidan.

Rumus Cakupan perhitungan adalah : Jumlah ibu bersalin ditolong oleh tenaga kesehatan X 100% Jumlah seluruh sasaran ibu bersalin dalam satu tahun 1. b. Pertolongan persalinan oleh dukun adalah pelayanan persalinan yang ditolong oleh dukun paraji. Rumus Cakupan perhitungan adalah :

Jumlah ibu bersalin ditolong oleh dukun paraji X 100% Jumlah seluruh sasaran ibu bersalin dalam satu tahun 1. c. Pertolongan persalinan lain-lain adalah pelayanan persalinan yang ditolong selain oleh tenaga kesehatan kompeten dan dukun. Rumus Cakupan perhitungan adalah : Jumlah ibu bersalin ditolong oleh selain tenaga kesehatan kompeten dan dukun X 100% Jumlah seluruh sasaran ibu bersalin dalam satu tahun

5.

Jumlah Persalinan Berdasarkan Tempat Persalinan. 1. Jumlah Persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan adalah jumlah persalinan yang dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan seperti polindes/ poskesdes, pustu, puskesmas, rumah bersalin/klinik bersalin, Bidan Praktek Swasta, Rumah Sakit. 2. Jumlah Persalinan di rumah adalah jumlah persalinan yang dilakukan rumah pasien. 3. Jumlah Persalinan di tempat lain-lain adalah jumlah persalinan yang terjadi selain di fasilitas pelayanan kesehatan dan rumah pasien (seperti di perjalanan dan lain-lain).

6.

Kunjungan nifas (KF 1) adalah pada masa 6 jam setelah persalinan sampai dengan 7 hari.

7. Kunjungan Ibu Nifas (KF Lengkap) adalah kontak ibu nifas dengan tenaga kesehatan yang berkompeten minimal 3 kali sesuai jadwal untuk mendapatkan pelayanan dan pemeriksaan kesehatan ibu nifas, baik didalam maupun diluar gedung puskesmas (termasuk bidan desa/polindes dan kunjungan rumah), termasuk pemberian vitamin A 2 kali dan persiapan KB pasca persalinan, dengan ketentuan : 1. Kunjungan nifas (KF 1) pada masa 6 jam setelah persalinan sampai dengan 7 hari. 2. Kunjungan nifas (KF 2) dalam waktu 2 minggu (8-14 hari) setelah persalinan. 3. Kunjungan nifas (KF 3) dalam waktu 6 minggu (35-42) hari setelah persalinan

Rumus Cakupan perhitungan adalah : Jumlah pelayanan ibu nifas oleh tenaga kesehatan minimal 3 kali sesuai jadwal X 100% Jumlah seluruh sasaran ibu bersalin dalam satu tahun 8. Jumlah kematian ibu maternal adalah Jumlah kematian ibu yang disebabkan oleh penyebab langsung pada kehamilan, persalinan dan nifas (perdarahan, eklamsia, infeksi) maupun tidak langsung seperti penyakit asma, penyakit jantung, dll. 1. Kematian ibu maternal karena pendarahan : Jumlah kematian ibu pada kehamilan, persalinan dan nifas yang disebabkan oleh pendarahan baik antepartum, intrapartum maupun postpartum. 2. Kematian ibu maternal karena partus lama : Jumlah kematian ibu pada persalinan kala II yang disebabkan karena penanganan yang tidak adekuat. 3. Kematian ibu maternal karena infeksi : Jumlah kematian ibu pada kehamilan, persalinan dan nifas yang disebabkan oleh infeksi 4. Kematian ibu maternal karena eklamsia : Jumlah kematian ibu pada kehamilan, persalinan dan nifas yang disebabkan oleh eklamsia 5. Kematian ibu maternal karena abortus : Jumlah kematian ibu pada kehamilan, persalinan dan nifas yang disebabkan oleh abortus. 6. Kematian ibu maternal karena lain-lain : Jumlah kematian ibu pada kehamilan, persalinan dan nifas yang disebabkan oleh keadaan maupun penyakit lainnya D. NEONATAL, BAYI DAN ANAK BALITA 1. Kelahiran Bayi adalah jumlah semua kelahiran bayi di satu wilayah kerja dalam kurun waktu tertentu a. BB Bayi lahir < 2.500 gram adalah jumlah bayi yang dilahirkan dengan berat badan kurang dari 2.500 gram b. BB Bayi lahir ≥ 2.500 gram adalah jumlah bayi yang dilahirkan dengan berat badan lebih dari atau sama dengan 2.500 gram 1. Bayi Lahir hidup : Jumlah bayi lahir hidup baik di dalam maupun di luar gedung puskesmas (termasuk bidan di desa, polindes, di rumah, Rumah Sakit pemerintah/ swasta, RB, Bidan Praktek Swasta di wilayah kerja puskesmas) 2. Bayi Lahir Matiadalah jumlah bayi yang pada waktu dilahirkan sudah dalam keadaan mati atau tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan (tidak terdengar detik jantung, tidak teraba denyut tali pusat, tidak bernafas atau tidak ada gerakan). 1. Bayi Lahir Matiberdasarkan tempat persalinan

Polindes. kunjungan rumah. RB. 2. Polindes. b. baik di dalam maupun di luar gedung puskesmas (termasuk bidan di desa. a.1. KN2. baik di dalam maupun di luar gedung puskesmas (termasuk bidan di desa. c. Kunjungan neonatal hari ke 8-28 (KN 3) adalah jumlah kunjungan neonatus umur 8-28 hari yang kontak dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan pelayanan dan pemeriksaan kesehatan neonatal sesuai standar. Jumlah Bayi Lahir Mati di rumah adalah bayi lahir mati yang persalinannya dilakukan di rumah. dengan ketentuan : 1. RB. Jumlah Bayi Lahir Mati di RS/RB/BPS adalah bayi lahir mati yang persalinannya dilakukan di RS/RB/BPS. RB. Kunjungan Neonatal hari ke 1 (KN1) adalah jumlah neonatus umur ≥ 24 jam – 2 hari yang kontak dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan pelayanan dan pemeriksaan kesehatan neonatal sesuai dengan standar. KN3). Polindes. Rumah Sakit pemerintah/ swasta. Rumah Sakit pemerintah/ swasta. dan Bidan Praktek Swasta di wilayah kerja puskesmas) 2. kunjungan rumah. Jumlah Bayi Lahir Mati di Puskesmas adalah bayi lahir mati yang persalinannya dilakukan di puskesmas 4. . Polindes. kunjungan rumah. baik di dalam maupun di luar gedung puskesmas (termasuk bidan di desa. Kunjungan Neonatal Lengkap (KN Lengkap)adalah jumlah neonatal yang mendapatkan pelayanan sesuai standar 3 kali (KN1. dan Bidan Praktek Swasta di wilayah kerja puskesmas) Rumus Cakupan perhitungan adalah : Jumlah neonatus yang mendapatkan pelayanan sesuai standar pada umur ≥ 24 jam – 2 hari Jumlah seluruh sasaran bayi dalam satu tahun X 100% 1. Rumah Sakit pemerintah/ swasta. Jumlah Bayi Lahir Mati di pustu/ polindes adalah bayi lahir mati yang persalinannya dilakukan di pustu/polindes 3. dan Bidan Praktek Swasta di wilayah kerja puskesmas) 3. 5. Kunjungan neonatal hari ke-3 (KN 2) adalah jumlah kunjungan neonatus umur 3-7 hari yang kontak dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan pelayanan dan pemeriksaan kesehatan neonatal sesuai standar. baik di dalam maupun di luar gedung puskesmas (termasuk bidan di desa. Kunjungan neonatal hari ke-1 (KN 1) adalah jumlah neonatus umur ≥ 24 jam – 2 hari yang kontak dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan pelayanan dan pemeriksaan kesehatan neonatal sesuai dengan standar.

Rumus Cakupan perhitungan adalah : Jumlah neonatus yang mendapatkan KN Lengkap X 100% Jumlah seluruh sasaran bayi dalam satu tahun 1. Neonatal dengan komplikasi yang dirujuk adalah jumlah neonatus dengan komplikasi yang dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap 3. c. 1. Kematian Neonatal karena BBLR adalah jumlah kematian neonatus umur 07 hari yang disebabkan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (< 2500 gr).kunjungan rumah. a. RB. Neonatal dengan komplikasi yang ditangani adalah jumlah neonatus dengan komplikasi yang ditolong dan dilayani oleh tenaga kesehatan terlatih (dokter dan bidan) di sarana pelayanan kesehatan dasar maupun di fasilitas kesehatan yang lebih lengkap. Kematian Neonatal karena infeksi adalah jumlah kematian neonatus umur 07 hari yang disebabkan karena mengalami infeksi. Kematian Neonatal karena Asphyxia adalah jumlah kematian neonatus 0-7 hari yang disebabkan karena asphyxia (gangguan pernafasan). 2. 3. 4. Kematian Neonatal karena Tetanus Neonatorum adalah jumlah kematian neonatus umur 0-7 hari yang disebabkan karena penyakit tetanus neonatorum (kejang-kejang). . d. Neonatal dengan komplikasi yang tertangani/ selamat adalah jumlah neonatus dengan komplikasi yang dapat ditolong dan dilayani oleh tenaga kesehatan terlatih (dokter dan bidan) di sarana pelayanan kesehatan dasar maupun di fasilitas kesehatan yang lebih lengkap dan selamat. Rumus Cakupan perhitungan adalah : Jumlah neonatus dengan komplikasi yang itangani dari satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu X 100% Sasaran neonatus dgn komplikasi (15% dari jumlah bayi baru lahir) Catatan : jika tidak diketahui jumlah bayi baru lahir maka sasaran neonatus dengan komplikasi dapat dihitung dari CBR X jumlah penduduk (BPS kab/ kota) 1. dan Bidan Praktek Swasta di wilayah kerja puskesmas). yang disebabkan oleh komplikasi neonatus. 2. 4. b. Kematian neonatal dini (0-7 hr)adalah jumlah kematian neonatus umur 0-7 hari. Rumah Sakit pemerintah/ swasta. Neonatal dengan komplikasi yang meninggal adalah jumlah neonatus dengan komplikasi yang ditangani dan kemudian meninggal baik di sarana pelayanan kesehatan dasar ataupun di fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.

g. tempat penitipan anak. puskesmas. perawat yang memiliki kompetensi klinis kesehatan minimal 4 kali di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. f. misalnya :kelainan rhesus. d. Kematian Neonatal karena infeksi adalah jumlah kematian neonatus umur 828 hari yang disebabkan karena mengalami infeksi. bidan. Pelayanan kesehatan bisa diberikan di sarana pelayanan kesehatan (polindes. gangguan pembekuan darah. dll 7. aspirasi pneumonia. Kematian Neonatal karena masalah hematologi adalah jumlah kematian neonatus umur 0-7 hari yang disebabkan karena masalah hematologi. Kematian Neonatal karena BBLR adalah jumlah kematian neonatus umur 828 hari yang disebabkan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (< 2500 gr). e. g. posyandu. dll 6. dll . e. misalnya : kelainan rhesus. 6. 1. dll 7. c. Kematian Neonatal karena lain-lain adalah Jumlah kematian neonatal umur 8-28 hari yang disebabkan selain penyebab diatas tidak termasuk kecelakaan. Kematian Neonatal karena lain-lain adalah jumlah kematian neonatus umur 0-7 hari yang disebabkan selain penyebab diatas 1. pustu. Kematian Neonatal karena Pneumonia adalah jumlah kematian neonatus 828 hari yang disebabkan karena pneumonia. Kematian Neonatal karena masalah gangguan pemberian ASI adalah jumlah kematian neonatus umur 0-7 hari yang disebabkan karena masalah gangguan pemberian ASI. b. misalnya : tersedak. Kematian Neonatal karena Tetanus Neonatorum adalah jumlah kematian neonatus umur 8-28 hari yang disebabkan karena penyakit tetanus neonatorum (kejang-kejang). 2. Pelayanan kesehatan : Ÿ Dalam keadaan sehat . 5. panti asuhan dan sebagainya melalui kunjungan & pemeriksaan oleh tenaga kesehatan. gangguan pembekuan darah. 3. 4. yang disebabkan oleh komplikasi neonatus. a. aspirasi pneumonia. RB dan RS pemerintah/ swasta) maupun di rumah. Kematian Neonatal karena masalah gangguan pemberian ASI adalah jumlah kematian neonatus umur 0-7 hari yang disebabkan karena masalah gangguan pemberian ASI. 8. Kunjungan Bayi (29 hari – 11 bulan) adalah jumlah kunjungan bayi umur 29 hari-11 bulan yang memperoleh pelayanan kesehatan sesuai standar oleh dokter. Kematian Neonatal karena masalah hematologi adalah jumlah kematian neonatus umur 0-7 hari yang disebabkan karena masalah hematologi. Kematian Neonatal Lanjut (8-28 hr)adalah jumlah kematian neonatus umur 8-28 hari.5. misalnya : tersedak. f.

Kematian Bayi Karena Pneumonia adalah jumlah kematian bayi umur antara 29 hari – 11 bln karena Pneumonia 2. Kematian Bayi karena Campak adalah jumlah kematian bayi umur antara 29 hari – 11 bln karena Campak 4. Kematian Bayi (29 hr-11 bln)adalah jumlah kematian bayi umur antara 29 hari – 11 bln karena sebab-sebab sebagai berikut : 1. misalnya : meningitis. 3. Kunjungan anak balitaadalah jumlah kunjungan anak balita (12 bln – 59 bln) yang memperoleh pemantauan pertumbuhan dan pelayanan kesehatan oleh petugas kesehatan sesuai dengan standar baik di dalam gedung ataupun diluar gedung puskesmas. Kematian Bayi karena Tetanus adalah jumlah kematian bayi umur antara 29 hari – 11 bln karena tetanus 5. minimal 4 kali di satu wilayah kerja pada X 100% kurun waktu tertentu Sasaran bayi di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu 1. Pelayanan yang berikan meliputi : 1. yaitu dalam warna hijau pada KMS tumbuh kembang) Ÿ Mengalami perkembangan sesuai dengan umurnya (SDIDTK) Ÿ Pemberian Vitamin A pada usia 6-12 bulan Rumus Cakupan perhitungan adalah : Jumlah bayi umur 1-12 bulan yang memperoleh pelayanan kesehatan sesuai standar. misalnya :atresia ani. Kematian Bayi karena Kelainan Syaraf adalah jumlah kematian bayi umur antara 29 hari – 11 bln karena kelainan syaraf.Ÿ Sudah diberi makanan pendamping ASI Ÿ Status imunisasi dasar lengkap Ÿ Gizi baik (BB sesuai umur. Kematian Bayi karena Kelainan Saluran Cerna adalah jumlah kematian bayi umur antara 29 hari – 11 bln karena kelainan saluran cerna. Kematian Bayi karena lain-lain adalah jumlah kematian bayi umur antara 29 hari – 11 bln yang disebabkan selain penyebab diatas tidak termasuk kecelakaan. encephalitis 7. 8. Kematian Bayi karena Diare adalah jumlah kematian bayi umur antara 29 hari – 11 bln karena Diare. Pemantauan pertumbuhan adalah pengukuran berat badan anak setiap bulan dan tercatat dalam KMS/ Buku KIA . obstruksi/ ileus paralitik 6.

bahasa. Jumlah Peserta KB Akseptor Baru Implant adalah jumlah peserta KB baru yang menggunakan alat kontrasepsi Implant. Jumlah Peserta KB Akseptor Baru lain-lain adalah jumlah peserta KB baru yang menggunakan metode selain cara KB di atas. f. h. g. KELUARGA BERENCANA 1. Jumlah Peserta KB Akseptor Baru suntik adalah jumlah peserta KB baru yang menggunakan obat kontrasepsi suntik. Jumlah Peserta KB Akseptor Baru dengan MOW adalah jumlah peserta KB baru yang menggunakan metode operasi wanita. sosialisasi dan kemandirian minimal 2 kali/tahun (setiap 6 bulan) 3. Pemberian Vitamin A dosis tinggi (200.2. 4. motorik halus. 7. 9. a. c. Jumlah Peserta KB Akseptor Baru Pil adalah jumlah peserta KB baru yang menggunakan obat kontrasepsi Pil.000 IU) 2 kali per tahun Rumus Cakupan perhitungan adalah : Jumlah anak balita (12 bln – 59 bln) yang memperoleh pelayanan pemantauan pertumbuhan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu X 100% Sasaran anak balita di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu E. b. Peserta KB Akseptor Baru 1. a. 3. Jumlah Peserta KB Akseptor Baru dengan IUD adalah jumlah peserta KB baru yang menggunakan alat kontrasepsi IUD. 6. . Peserta KB Akseptor Aktif 1. 5. Jumlah Peserta KB Akseptor Baru Kondom adalah jumlah peserta KB baru yang menggunakan alat kontrasepsi kondom. 8. 2. Jumlah Peserta KB Akseptor Aktif IUD adalah jumlah peserta KB yang hingga saat ini masih menggunakan alat kontrasepsi IUD dan diperiksa serta dibina oleh tenaga kesehatan. Jumlah Peserta KB Akseptor Baru dengan MOP adalah jumlah peserta KB baru yang menggunakan metode operasi pria. d. e. Pelayanan SDIDTK meliputi pemantauan perkembangan motorik masar.

7. 6. g. e. 8. Jumlah Peserta KB Akseptor Aktif Kondom adalah jumlah peserta KB yang hingga saat ini masih mempergunakan alat kontrasepsi kondom. . Jumlah Peserta KB Akseptor Aktif Pil adalah jumlah peserta KB yang sampai saat ini masih memakai alat kontrasepsi pil dan diperiksa serta dibina oleh tenaga kesehatan 4. Jumlah Peserta KB Akseptor Aktif lain-lain adalah jumlah peserta KB yang hingga saat ini masih mempergunakan alat kontrasepsi selain alat kontrasepsi di atas atau cara lain yang dapat mencegah terjadinya konsepsi. h. 5. Jumlah Peserta KB Akseptor Aktif Implant adalah jumlah peserta KB yang sampai saat ini masih memakai alat kontrasepsi implant dan diperiksa serta dibina oleh tenaga kesehatan. Peserta KB dengan efek samping 1. Peserta KB dengan efek samping Pil adalah jumlah akseptor yang mengalami keluhan akibat pemakaian alat kontrasepsi Pil dan diperiksa oleh tenaga kesehatan. Jumlah Peserta KB Akseptor Aktif MOP adalah jumlah peserta KB yang hingga saat ini masih mempergunakan cara Metoda Operasi Pria dan diperiksa serta dibina oleh tenaga kesehatan. d. 2. Peserta KB dengan efek samping IUD adalah jumlah akseptor yang mengalami keluhan akibat pemakaian alat kontrasepsi IUD dan diperiksa oleh tenaga kesehatan. c. f. 5. 4. Peserta KB dengan efek samping Implant adalah jumlah akseptor yang mengalami keluhan akibat pemakaian alat kontrasepsi Implant dan diperiksa oleh tenaga kesehatan.2. b. Jumlah Peserta KB Akseptor Aktif MOW adalah jumlah peserta KB yang hingga saat ini masih mempergunakan cara Metoda Operasi Wanita dan diperiksa serta dibina oleh tenaga kesehatan. 9. 3. Jumlah Peserta KB Akseptor Aktif suntik adalah jumlah peserta KB yang sampai saat ini masih memakai alat kontrasepsi suntikan dan diperiksa serta dibina oleh tenaga kesehatan 3. Peserta KB dengan efek samping MOW adalah jumlah akseptor yang mengalami keluhan akibat kontrasepsi MOW dan diperiksa oleh tenaga kesehatan. Peserta KB dengan efek samping Suntik adalah jumlah akseptor yang mengalami keluhan akibat pemakaian alat kontrasepsi Suntik dan diperiksa oleh tenaga kesehatan.

7. Peserta KB dengan komplikasi Suntik adalah Jumlah akseptor yang mengalami komplikasi akibat pemakaian obat kontrasepsi dan diperiksa oleh tenaga kesehatan 3. Peserta KB dengan komplikasi Pil adalah Jumlah akseptor yang mengalami komplikasi akibat pemakaian obat kontrasepsi dan diperiksa oleh tenaga kesehatan 4. Peserta KB dengan Komplikasi 1. Peserta KB dengan efek samping MOP adalah jumlah akseptor yang mengalami keluhan akibat kontrasepsi MOP dan diperiksa oleh tenaga kesehatan. Peserta KB dengan Kegagalan . Peserta KB dengan komplikasi Metoda KB lain-lain adalah Jumlah akseptor yang mengalami komplikasi akibat pemakaian alat /obat kontrasepsi selain alat kontrasepsi diatas dan diperiksa oleh tenaga kesehatan 9. Peserta KB dengan efek samping Kondom adalah jumlah akseptor yang mengalami keluhan akibat pemakaian alat kontrasepsi Kondom dan diperiksa oleh tenaga kesehatan. Peserta KB dengan komplikasi IUD adalah Jumlah akseptor yang mengalami komplikasi akibat pemakaian alat /obat kontrasepsi dan diperiksa oleh tenaga kesehatan 2.6. Peserta KB dengan komplikasi MOW adalah Jumlah akseptor yang mengalami komplikasi akibat tindakan kontrasepsi dan diperiksa oleh tenaga kesehatan 6. Peserta KB dengan komplikasi Kondom adalah Jumlah akseptor yang mengalami komplikasi akibat pemakaian alat kontrasepsi dan diperiksa oleh tenaga kesehatan 8. Peserta KB dengan efek samping Metoda KB lain-lain adalah jumlah akseptor yang mengalami keluhan akibat pemakain alat kontrasepsi selain alat kontrasepsi diatas dan diperiksa oleh tenaga kesehatan 9. Peserta KB dengan komplikasi MOP adalah Jumlah akseptor yang mengalami komplikasi akibat pemakaian tindakan kontrasepsi dan diperiksa oleh tenaga kesehatan 7. Peserta KB dengan komplikasi Implant adalah Jumlah akseptor yang mengalami komplikasi akibat pemakaian alat /obat kontrasepsi dan diperiksa oleh tenaga kesehatan 5. 8.

Peserta KB dengan kegagalan Kondom adalah jumlah akseptor yang masih memakai alat kontrasepsi Kondom tetapi terjadi kehamilan dan diperiksa oleh tenaga kesehatan. d. 8. Peserta KB dengan kegagalan MOP adalah jumlah akseptor dengan kontrasepsi MOP tetapi terjadi kehamilan dan diperiksa oleh tenaga kesehatan. 6. Peserta KB dengan kegagalan IUD adalah jumlah akseptor yang masih memakai alat kontrasepsi IUD tetapi terjadi kehamilan dan diperiksa oleh tenaga kesehatan. Peserta KB dengan kegagalan MOW adalah jumlah akseptor dengan kontrasepsi MOW tetapi terjadi kehamilan dan diperiksa oleh tenaga kesehatan. 3. Peserta KB dengan kegagalan Suntik adalah jumlah akseptor yang masih memakai alat kontrasepsi Suntik tetapi terjadi kehamilan dan diperiksa oleh tenaga kesehatan. 4. 5. Peserta KB dengan kegagalan Implant adalah jumlah akseptor yang masih memakai alat kontrasepsi Implant tetapi terjadi kehamilan dan diperiksa oleh tenaga kesehatan. LAPORAN BULANAN GIZI (LB 3 – GIZI) 1. 1. 2. Peserta KB dengan kegagalan metode kontrasepsi lain-lain adalah jumlah akseptor yang masih memakai alat kontrasepsi metode lain selain cara diatas tetapi terjadi kehamilan dan diperiksa oleh tenaga kesehatan. g. Peserta KB dengan kegagalan Pil adalah jumlah akseptor yang masih memakai alat kontrasepsi Pil tetapi terjadi kehamilan dan diperiksa oleh tenaga kesehatan. e. h. f. a. Bayi (0 – 11 bl) dengan KMS (K) adalah Jumlah bayi umur 0 – 11 bl yang mempunyai KMS bulan ini . 7. BAYI 1. A. 2. b.1. c.

Bayi (0-11 bl) Baru pertama kali ditimbang (B) adalah Jumlah bayi umur 0 – 11 bl yang baru pertama kali ditimbang bulan ini 3. Bayi (6-11 bulan) Gakin yang mendapat MP-ASI adalah Jumlah bayi 6-11 bulan dari Keluarga Miskin (Gakin) yg mendapatkan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) dengan porsi 100 gr/hr selama 90 hari. BALITA 1. Bayi (0 – 11 bl) Naik Berat Badan (N) adalah Jumlah bayi umur 0 – 11 bl yang Naik berat badannya bulan ini .2. tetapi tidak ditimbang bulan lalu 2. Bayi ( 6 – 11 bl) yang mendapatkan Vitamin A dosis tinggi adalah Jumlah bayi umur 6-11 bulan yang mendapat 1 x kapsul vitamin A dengan dosis 100. Bayi (0-11 bl) yang tidak ditimbang bulan lalu (O) adalah Jumlah bayi umur 0 – 11 bl yang ditimbang bulan ini. Bayi (0 – 11 bl) Ditimbang (D) adalah Jumlah bayi umur 0 – 11 bl yang Ditimbang bulan ini 3. B.000 SI (warna biru) pada bulan Februari atau Agustus 6. (Bentuk makanan bubuk/tepung) 1. Berat Badan Naik adalah: ¨ ¨ Berat badannya naik mengikuti pita warna pada KMS Pindah ke pita warna diatasnya 1. Anak Umur 12 – 59 bulan dengan KMS (K) adalah Jumlah anak umur 12-59 bl yang mempunyai KMS bulan ini . Bayi (0 – 11 bl) B G M adalah Jumlah bayi umur 0 – 11 bl yang berada pada atau di Bawah Garis Merah (BGM) pada KMS bulan ini 4. Bayi dengan ASI Eksklusif adalah Jumlah bayi umur 6 bulan yang mendapatkan ASI saja pada bulan ini 5. Bayi (0-11 bl) tidak Naik Berat Badan (T) adalah Jumlah bayi umur 0 – 11 bl yang Tidak naik berat badan bulan ini Berat badan tidak naik adalah: ¨ ¨ ¨ Bayi yang berat badannya turun Bayi yang berat badannya tetap Bayi yang berat badannya naik tetapi pindah ke pita warna dibawahnya 1.

Anak umur 12-59 bulan yang tidak ditimbang bulan lalu (O) adalah Jumlah anak umur 12-59 bl yang ditimbang bulan ini. tetapi tidak ditimbang bulan lalu 2. Anak Umur 12 – 59 bulan yang BGM adalah Jumlah anak umur 12-59 bl yang berada pada atau di Bawah Garis Merah (BGM) pada KMS bulan ini 4. Ibu Hamil yang mendapatkan Tablet Tambah Darah (Fe-1) adalah Jumlah ibu hamil yang mendapatkan 30 tablet Fe selama periode kehamilannya pada bulan ini . Balita (12-24 bulan) Gakin yang mendapat MP-ASI adalah Jumlah anak 12-24 bulan dari Keluarga Miskin (Gakin) yg mendapatkan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) dengan porsi 120 gr/hr selama 90 hari. C.2. IBU HAMIL 1. Anak Umur 12 – 59 bulan yang mendapatkan kapsul Vitamin A dosis tinggi adalah Jumlah anak umur 12-59 bulan yang mendapat 2 x kapsul vitamin A dengan dosis 200. Anak umur 12-59 bulan Baru pertama kali ditimbang (B) adalah Jumlah anak umur 12-59 bl yang baru pertama kali ditimbang bulan ini 3. Anak umur 12-59 bulan tidak naik berat badan (T) adalah Jumlah anak umur 12-59 bl yang Tidak naik berat badan bulan ini Tidak naik berat badan adalah: ¨ ¨ ¨ Balita yang berat badannya turun Balita yang berat badannya tetap Balita yang berat badannya naik tetapi pindah ke pita warna dibawahnya 1. Anak Umur 12 – 59 bulan yang Naik Berat Badan (N) adalah Jumlah anak umur 12-59 bl yang Naik berat badannya bulan ini Berat Badan Naik adalah: ¨ ¨ Berat badannya naik mengikuti pita warna pada KMS Pindah ke pita warna diatasnya 1. (Bentuk makanan padat) 1.000 SI (warna merah) pada bulan Februari atau Agustus 5. Anak Umur 12 – 59 bulan yang Ditimbang (D) adalah Jumlah anak umur 1259 bl yang Ditimbangbulan ini 1.

perut cekung. Ibu Hamil dengan HB < 11 gram % adalah yaitu ibu hamil dengan hasil pemeriksaan darah. E. otot mengecil. ¨ Tanpa gejala klinis adalah Jumlah Balita gizi buruk 0 – 59 bln tanpa gejala klinis yang ditentukan berdasarkan standar Berat badan per tinggi badan (BB/TB) = – 3 SD ¨ Marasmus adalah Balita gizi buruk 0 – 59 bln ditandai dengan : Tampak sangat kurus. Pengukuran dilakukan pada tangan sebelah kiri kecuali pada yang kidal.000 SI (kapsul merah) yang diberikan sesaat setelah melahirkan dan setelah 24 jam berikutnya GIZI BURUK 1.2. kadar Hb < 11 gr %. 1. pantat kendur (baggy pant). Balita Gizi Buruk adalah Jumlah balita (0-59 bulan) dengan indeks berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) <-3SD dan atau disertai dengan tanda-tanda klinis marasmus. ¨ Kwashiorkor adalah Balita gizi buruk 0 – 59 bln ditandai dengan : Edema seluruh tubuh terutama di punggung kaki. 1. Ibu Hamil yang mendapatkan Tablet Tambah Darah (Fe-3) adalah Jumlah ibu hamil yang mendapatkan minimal 90 tablet Fe selama periode kehamilannya pada bulan ini 3. Balita gizi buruk yang ditangani adalah Jumlah balita 0 – 59 Bln gizi buruk yang ditangani sesuai standar Tata Laksana Gizi Buruk Cakupan balita gizi buruk mendapat perawatan adalah balita gizi buruk yang ditangani di sarana pelayanan kesehatan sesuai tatalaksana gizi burk di satu wilayah kerja kurun waktu tertentu Rumus Cakupan perhitungan adalah : . kwashiorkor dan marasmus-kwashiorkor di suatu wilayah pada kurun waktu tertentu. Ibu Hamil KEK ( Lila < 23. perut buncit. wajah seperti orang tua.5 cm) adalah Jumlah ibu hamil dengan hasil pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) < 23. rambut tipis kemerahan (rambut jagung) ¨ Marasmic-kwashiorkor adalah Balita gizi buruk 0 – 59 bln ditandai dengan gabungan dari Marasmus dan Kwashiorkor 1. Ibu Nifas yang mendapatkan kapsul Vitamin A dosis tinggi adalah Jumlah ibu nifas yg mendapatkan 2x kapsul Vitamin A dengan dosis 200. D. IBU NIFAS 1.5 cm. 4. kulit keriput. wajah membulat (moon face) dan sembab. iga gambang.

Immunisasi Bayi (2-11 bl) yang divaksinasi DPT-Hb1 Combo adalah imunisasi DPTHb1combo yang diberikan pada bayi usia < 1 tahun dengan jadwal pemberian mulai usia 2 bulan.7 hr. Immunisasi Bayi (2-11 bl) yang divaksinasi DPT-Hb2 Combo adalah imunisasi DPTHb2combo yang diberikan pada bayi usia < 1 tahun dengan jadwal pemberian interval 1 bulan dari DPT-Hb1 combo. Immunisasi Bayi (0-11 bl) yang divaksinasi POLIO 2 adalah imunisasi POLIO 2 yang diberikan pada bayi usia < 1 tahun dengan jadwal pemberian interval 1 bulan dari polio 1 4. KEMATIAN 1. 3. Immunisasi Bayi (0-11 bl) yang divaksinasi POLIO 4 adalah imunisasi POLIO 4 yang diberikan pada bayi usia < 1 tahun dengan jadwal pemberian interval 1 bulan dari polio 3 6. LAPORAN BULANAN PEMBERANTASAN DAN PENCEGAHAN PENYAKIT (LB 3 – P2P) A. Immunisasi Bayi (0-11 bl) yang divaksinasi POLIO 1 adalah imunisasi POLIO 1 yang diberikan pada bayi usia < 1 tahun dengan jadwal pemberian mulai usia 0 bulan 3.Jumlah Balita yang Dirawat Jumlah Balita Gizi Buruk yang X 100% ditemukan 1. Pneumonia 2. Tuberculosis/ TBC B. Diare 3. DO IMMUNISASI 1. 7. Penyebab kematian anak balita yang disebabkan oleh : 1. Immunisasi Bayi (0. Malari 4. Balita Gizi Buruk yang meninggal adalah Jumlah balita 0 – 59 Bln gizi buruk yang meninggal 1. Immunisasi Bayi (0-11 bl) yang divaksinasi BCG adalah Imunisasi BCG yang diberikan pada bayi usia < 1 tahun dengan jadwal pemberian pada usia 0-2 bulan 2. Immunisasi Bayi (0-11 bl) yang divaksinasi POLIO 3 adalah imunisasi POLIO 3 yang diberikan pada bayi usia < 1 tahun dengan jadwal pemberian interval 1 bulan dari polio 2 5. Demam berdarah Dengue 5. 8.7hr ) yang divaksinasi Hb 0 adalah imunisasi Hb uniject yang diberikan pada bayi usia < 1 tahun dengan jadwal pemberian mulai usia 0. .

17. Ibu Hamil (kehamilan usia 0-8 bl) yang divaksinasi TT-1 adalah jumlah imunisasi TT yang didapatkan pada ibu hamil usia 0 – 8 bl dengan melihat riwayat imunisasi TT terdahulu.9. 15. rumah sakit. a. MALARIA Malaria merupakan Penyakit yang disebabkan oleh Parasite Malarae (Plasmodium) bentuk aseksual yang masuk kedalam tubuh manumur yang ditularkan oleh Nyamuk Malaria (Anopheles) Betina (WHO 1981) 1. Sediaan darah diperiksa ACD adalah Jumlah sediaan darah dengan cara pengambilan aktif/langsung dari penderita klinis malaria di luar gedung/ di luar sarana kesehatan oleh petugas unit pelayan kesehatan/kader yang terlatih (Juru Malaria Desa). 11. 12. Ibu Hamil (kehamilan usia 0-8 bl) yang divaksinasi TT-2 adalah jumlah imunisasi TT yang didapatkan pada ibu hamil usia 0 – 8 bl dengan melihat riwayat imunisasi TT terdahulu. C. Wanita Usia Subur (WUS) yang divaksinasi TT-2 adalah jumlah imunisasi TT-2 yang didapatkan pada wanita usia 15-39 tahun dengan melihat riwayat imunisasi TT terdahulu. 2. Wanita Usia Subur (WUS) yang divaksinasi TT-1 adalah jumlah imunisasi TT-1 yang didapatkan pada wanita usia 15-39 tahun dengan melihat riwayat imunisasi TT terdahulu. Sediaan darah diperiksa PCD adalah Jumlah sediaan darah dengan cara pengambilan pasif/langsung dari penderita klinis malaria di dalam gedung/ di sarana kesehatan (puskesmas. 10. Immunisasi Bayi (2-11 bl) yang divaksinasi DPT-Hb3 Combo adalah imunisasi DPTHb3combo yang diberikan pada bayi usia < 1 tahun dengan jadwal pemberian interval 1 bulan dari DPT-Hb2 combo.. . 14. Wanita Usia Subur (WUS) yang divaksinasi TT-4 adalah jumlah imunisasi TT-4 yang didapatkan pada wanita usia 15-39 tahun dengan melihat riwayat imunisasi TT terdahulu. PENGAMATAN PENYAKIT : 1. Immunisasi Bayi (9-11 bl) yang divaksinasi Campak adalah imunisasi campak yang diberikan pada bayi usia < 1 tahun dengan pemberian mulai usia 9 bulan. Wanita Usia Subur (WUS) yang divaksinasi TT-5 adalah jumlah imunisasi TT-5 yang didapatkan pada wanita usia 15-39 tahun dengan melihat riwayat imunisasi TT terdahulu. laboratorium) oleh petugas unit pelayan kesehatan. b. Wanita Usia Subur (WUS) yang divaksinasi TT-3 adalah jumlah imunisasi TT-3 yang didapatkan pada wanita usia 15-39 tahun dengan melihat riwayat imunisasi TT terdahulu. 13. 16.

sebelum pemeriksaan mikroskopis/laboratorium. d.II. i. yaitu pengobatan yang disesuaikan dengan species parasitnya dengan cara : Plasmodium Falcifarum : Klorokuin : hari I. kambuhan Kasus Relaps adalah Jumlah kasus malaria 4. e. III IV. II. Sediaan darah positif dari lain-lain adalah Jumlah hasil pemeriksaan sediaan darah positif yang berasal dari pengambilan sediaan darah oleh petugas pada kegiatan penyelidikan epidemiologi.3. l. III. Kasus Unklasifikasi adalah Jumlah kasus yang tidak dapat diidentifikasi dimana penderita tersebut tertular penyakit. • . c. Kasus Indigenous adalah jumlah sediaan darah positif malaria yang tertular di daerah setempat atau mendapat transmisi di wilayahnya h. dosis dan cara pengobatan : Dosis : obat yang dipakai adalah Klorokuin. 6. g. 8. V Primakuin : hari I.II. II. Bumil yang diprofilaksis adalah Jumlah bumil yang diberikan pengobatan profilaksis. follow up penderita dan survey (didaerah endemis).III • Primakuin : hari I. yaitu pemberian pengobatan pencegahan pada bumil. j. III • Plasmodium Vivax : Klorokuin : hari I. 7. 10. Radikal treatmen adalah jumlah penderita malaria yang mendapat pengobatan radikal. follow up penderita dan survey. k. 1. 5. Sediaan darah dari lain-lain adalah Jumlah sediaan darah yang diambil dari penderita klinis oleh petugas pada penyelidikan epidemiologi. Klinis Treatmen adalah pengobatan yang diberikan kepada penderita dengan gejala klinis malaria. Sediaan darah positif ACD adalah Jumlah sediaan darah malaria positif dari hasil pengambilan aktif/langsung dari penderita klinis malaria di luar gedung/ di luar sarana kesehatan oleh petugas unit pelayan kesehatan/kader yang terlatih (Juru Malaria Desa). dosis 5 mg/kg Berat badan atau 2 tablet dosis tunggal 2. Sediaan darah positif PCD adalah Jumlah sediaan darah malaria positif dari hasil pengambilan pasif/langsung dari penderita klinis malaria di dalam gedung/ di sarana kesehatan oleh petugas unit pelayan kesehatan f. 9.

. hipotensi dengan tekanan sistolik < 50 mmm Hg pada anak atau 70 mm Hg pada orang dewasa. Penderita Malaria Berat adalah Jumlah penderita yang pada darahnya ditemukan Plasmodium Falsifarum dalam bentuk aseksual pada pemeriksaan darah. disertai dengan keringat dingin. Penderita Meninggal karena Malaria adalah Jumlah kematian penderita karena malaria dengan konfirmasi laboratorium. Udema paru Hipoglikemia (gula darah < 40 mg %) Pendarahan spontan pada gusi. tapi disertai salah satu gejala : Penurunan kesadaran pada malaria cerebral (koma) Anemia berat dengan Hb < 5 %. gelisah. obat diberikan pada hari yang sama Obat diminum di depan petugas. 2. Kasus baru penyakit DBD adalah jumlah penderita baru yang berkunjung ke puskesmas dengan tanda-tanda sesuai kriteria diagnosa klinis DBD yaitu panas mendadak 2-7 hari tanpa sebab yang jelas.000/mm3 atau kurang). sekurang-kurangnya uji torniquet positif. 2. nyeri ulu hati disertai adanya tanda perdarahan di kulit berupa bintikpendarahan (petechiae). DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) 1. 1. muntah darah. trombositopeni (trombosit : 100. • • • • • • • • • • n. kadang-kadang mimisan.25 atau plasmabikarbonat < 15 mmol/liter Makroskopis hemoglobulinuria Post mortem pada biopsi otak ditemukan parasit sizon atau tropozoit. berak darah.• Cara pengobatan : Dimulai pada bulan ke-3 kehamilan sampai dengan masa nifas selesai dengan pemberian obat seminggu sekali. hemokonsentrasi (hematokrit meningkat 20 % atau lebih) dan semua penderita panas tanpa sebab jelas diserta tanda-tanda perdarahan. jangan diberikan dalam keadaan perut kosong.nadi kecil dan cepat Kejang-kejang berulang > 2 x 24 jam disamping pendinginan Acidosis : PH darah < 7. Produksi urine < 400 cc/jam pada orang dewasa atau 12 ml/kg BB/24 jam pada anak setelah dehidrasi dan kreatinin > 3 mg %. kesadaran menurun atau renjatan (shock). Penderita DBD yang ditangani adalah jumlah penderita DBD yang penanganannya sesuai standar di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. m. lebam (ecchymosis) atau ruam (purpura) dan atau pembesaran hati/hepar. lemah/lesu. hidung dan saluran gastro intestinal Gagal sirkulasi (syok).

Demam dapat hilang timbul sendiri biasanya berkaitan dengan aktifitas fisik. Kasus DBD yang di PE adalah kasus DBD yang ditindaklanjuti dengan penyelidikan epidemiologi (PE). Biasanya tampak benjolan kemerahan. 1. Sediaan darah yang diperiksa DBD adalah Jumlah sediaan darah dengan cara pengambilan darah dari penderita DBD 4. Kasus Klinis Akut Filariasis adalah jumlah kasus dengan gejala : • • Demam berulang selama 3 – 5 hari. yang tampak kemerahan. buah zakar. Biasanya pembesaran ini dapat berkurang /menghilang setelah serangan akut. Penyakit ini bersifat manahun (kronis) dan bila tidak diobati dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki. medial paha/lengan serta ketiak walaupun tidak ditemukan adanya luka. Rumah yang diperiksa terdapat jentik adalah Jumlah rumah/bangunan yang diperiksa jentik pada tempat-tempat penampungan air ternyata positif terdapat jentik. Radang saluran getah bening yang teraba seperti tali. serta tempat umum yang diperkirakan menjadi sumber penyebaran penyakit lebih lanjut. lengan dan alat kelamin baik pada perempuan maupun laki-laki. lengan. • • • . Bila serangan timbul berulang kali. 7. gejala sistemik lainnya dapat berupa mual. muntah. FILLARIASIS Fillariasis ( penyakit kaki gajah) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk. kemerahan. buah dada. timbul ulkus dan setelah sembuh meninggalkan bekas berupa jaringan parut (Skar) Pembesaran tungkai. sakit (stadium dini). Rumah yang diperiksa jentik adalah Jumlah rumah/bangunan yang diperiksa jentik pada tempat-tempat penampungan air dan tempat perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti 6. sakit dan panas. Sediaan darah yang diperiksa positif DBD adalah Jumlah sediaan darah DBD yang positif dari hasil pengambilan penderita klinis DBD 5. terasa panas dan sakit serta menjalar dari pangkal paha/ketiak kearah ujung (limfangitis retrograd) Abses (bisul) didaerah lipat paha/ketiak yang dapat pecah. Pembengkakan kelenjar getah bening (limfadenitis) di daerah lipatan paha. yaitu kegiatan pelacakan penderita/tersangka lainnya dan pemeriksaan jentik nyamuk penular penyakit demam derdarah dengue di rumah penderita/tersangka dan rumah-rumah sekitarnya dalam radius sekurang-kurangnya 100 meter. panas. pembesaran menjadi menetap. 3.3.

kucing dan kera dengan dosis tertentu segera disuntikkan setelah digigit . kepada setiap orang yang diduga tertular rabies melalui gigitan hewan (anjing. 2. seperti anjing. Kasus Klinis Akut Filariasis yang Sembuh adalah jumlah penderita Filariasis dengan gejala akut yang telah dinyatakan sembuh dan tidak menjadi kronis/tidak terjadi pembengkakan menetap. Kasus Klinis Kronis Limphadema adalah jumlah penderita Filariasis dengan gejala pembesaran yang menetap didaerah tungkai bawah dan atas. RABIES 1. Sediaan Darah Diperiksa Filariasis adalah Jumlah sediaan darah jari yang diambil dari penderita filariasis klinis dan sekitar penderita dilakukan paling cepat pada pukul 8 malam waktu setempat. ANTHRAX a. Data ini didapat dengan mempergunakan formulir survei filariasis lampiran 4 4. 5. Data ini didapat dengan mempergunakan formulir survei filariasis lampiran 4 6. Orang Yang Diberi Vaksin Anti Rabies adalah orang yang diberikan Vaksin Anti Rabies (VAR) indikasi vaksinasi kepada setiap orang yang diduga tertular rabies melalui gigitan hewan anjing. 2. Penderita Meninggal Karena Anthrak adalah Jumlah orang yang meninggal karena anthrak berdasarkan diagnosa klinis dan atau laboratorium . Kasus Klinis Filariasis yang Ditangani adalah jumlah kasus/penderita Filariasis yang mendapatkan pengobatan dosis tunggal. 5. hari ke 21 1 kali. Kasus Klinis Kronis Hidrokel adalah jumlah penderita Filariasis dengan gejala pembesaran yang menetap didaerah buah zakar/skrotum. lengan dan payudara. Sediaan Darah Diperiksa Positif Filariasis adalah Jumlah hasil pemeriksaan sediaan darah positif yang diambil dari penderita filariasis klinis dan sekitar penderita yang dilakukan dari rumah ke rumah oleh petugas. Orang Yang Digigit Hewan Penular Rabies adalah Jumlah orang yang digigit hewan yang dapat menularkan rabies. dilakukan perawatan mandiri dan dilakukan pemantauan serta evaluasi perkembangan kemajuan penderita. 3. kera dan kucing. Kematian Penderita Karena Rabies adalah Jumlah orang yang meninggal karena rabies berdasarkan diagnosa klinis dan specimen laboratorium pada hewan positif rabies. 3. Specimen Positif adalah Jumlah specimen positif anthrak hasil pemeriksaan dari laboratorium 1. kucing. Jumlah Orang Yang Diberi Vaksin Lengkap adalah orang yang diberikan Vaksin Anti Rabies (VAR) indikasi vaksinasi sebanyak 4 kali dengan interval 0 hr 2 kali. hari ke 7 1 kali.1. 4. kera) 4.

1. Bekerja pada satu laboratorium yang sedang memproses spesimen manusia atau binatang yang dicurigai menderita Flu Burung b. FLU BURUNG a. Kasus ”Probable” yang meninggal adalah jumlah semua penderita yang meninggal dunia yang diduga sebagai kasus ”Probable” Flu Burung e. • • Kontak dengan kasus konfirmasi Flu Burung dalam masa penularan . batuk dan atau sakit tenggorokan dan atau beringus serta dengan salah satu keadaan : § Seminggu terakhir mengunjungi peternakan yang sedang berjangkit KLB Flu Burung. Kasus Suspek yang meninggal adalah kasus suspek Flu Burung yang meninggal dunia. misal : Tes HI yang menggunakan antigen H5N1 · Dalam waktu singkat berlanjut menjadi pneumonia/gagal pernafasan/meninggal · Terbukti tidak terdapat penyebab lain d. Kasus Suspek Flu Burung adalah seseorang yang menderita ISPA dengan gejala demam (suhu > 38°C). Penderita Meninggal Karena Pes adalah Jumlah orang yang meninggal karena Pes berdasarkan diagnosa klinik 7. Kasus Konfirmasi Flu Burung adalah jumlah kasus suspek atau ”Probable” didukung oleh salah satu hasil pemeriksaan laboratorium : § Kultur virus influenza H5N1 positif § PCR influenza (H5) positif § Peningkatan titer antibody H5 sebesar 4 kali .6. PES 1. Kasus ”Probable” adalah kasus suspek disertai salah satu keadaan : · Bukti laboratorium terbatas yang mengarah kepada virus influenza A (H5N1).

• Diare : Penderita datang ke sarana kesehatan denga tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan tinja lembek sampai cair.1. Umur (1-4 th). keterangan sama dengan no. 1 untuk golongan umur > 5 tahun 3. puskesmas keliling. Penderita Diare Gol. Umur <1 th yang ditemukan kader adalah Penderita diare. dirawat tetapi tidak tertanggulangi (meninggal) 5. Kasus Baru Penyakit Diare Gol. 2. 1 untuk semua golongan umur. Umur (>5 th) yang meninggal adalah penderita diare golongan umur > 5 tahun datang berobat ke sarana kesehatan dan didiagnosa diare dengan derajat dehidrasi berat. Kasus Penyakit Diare semua golongan Umur di sarana kesehatan.2 dan 3 4. puskesmas pembantu. 8. biasanya terjadi pada saat KLB Diare • • 1. Umur (>5 th).f. keterangan sama dengan no. 1 untuk golongan umur 1-<5 tahun. Kasus Konfirmasi Flu Burung yang meninggal adalah jumlah semua kasus konfirmasi Flu Burung yang meninggal dunia 8. Penderita Diare gol. Umur <1 th) yang meninggal adalah penderita diare umur 0-<1 tahun yang datang berobat ke sarana kesehatan dan didiagnosa diare dengan derajat dehidrasi berat.6 dan 7. Penderita Diare gol. keterangan sama dengan no. Kasus Baru Penyakit Diare Gol. rumah sakit dan praktek swasta di wilayah kerja puskesmas) untuk kunjungan pertama atau kunjungan berikutnya. merupakan hasil penjumlahan dari no. Umur (1-4 th) yang meninggal adalah penderita diare golongan umur 1-<5 tahun yang datang berobat ke sarana kesehatan dan didiagnosa diare dengan derajat dehidrasi berat. DIARE 1. Umur yang meninggal adalah penderita diare semua golongan umur datang berobat ke sarana kesehatan dan didiagnosa diare dengan derajat dehidrasi berat. disentri dan suspek kolera yang berumur 0 bulan sampai < 1 tahun yang yang datang . 5. Penderita Diare gol. frekwensi Buang Air Besar (BAB) bertambah lebih dari biasanya (3 kali atau lebih dalam sehari) Disentri : Bila dalam tinja penderita terdapat darah dan lendir Suspek kholera : Penderita yang disangka kolera. Umur <1 th di sarana kesehatan adalah jumlah penderita diare. Kasus Baru Penyakit Diare Gol. disentri dan suspek Kolera yang berumur 0 bulan sampai <1 tahun yang datang berobat ke sarana kesehatan (Puskesmas. dirawat tetapi tidak tertanggulangi (meninggal) 7. Penderita Diare semua gol. merupakan penjumlahan no. dirawat tetapi tidak tertanggulangi (meninggal) 6. dirawat tetapi tidak tertanggulangi (meninggal).

Umur (>5 th) yang ditemukan kader adalah Penderita diare yang berumur > 5 tahun yang datang berobat atau ditemukan oleh kader dan diberi oralit kemudian dicatat dan dilaporkan ke puskesmas 11. Pemakaian Oralit di sarana kesehatan adalah Jumlah oralit yang dikeluarkan/dipakai di sarana kesehatan untuk menanggulangi penderita diare 18. 21. Penderita Diare gol. merupakan penjumlahan no. 12. Pemakaian RL cukup jelas 20. Penderita Diare gol. 9. Umur (1-4 th) yang meninggal yang ditemukan kader adalah penderita diare umur 1-4 tahun 11 bulan 29 hari yang ditemukan oleh kader sudah dalam keadaan meninggal berdasarkan keterangan keluarga penderita 14. . Penderita yang diinfus adalah Jumlah penderita diare yang datang ke sarana kesehatan diagnosa dengan derajat dehidrasi berat kemudian dirawat inap dan diberi infus (RL) 19. Penderita Diare semua golongan Umur yang meninggal yang ditemukan kader adalah penderita diare semua golongan umur yang ditemukan oleh kader sudah dalam keadaan meninggal. disentri dan suspek kolera yang berumur umur 1-<5 tahun yang datang berobat atau ditemukan oleh kader diberi oralitkemudian dicatat dan dilaporkan ke puskesmas 10. Penderita Diare gol. semua golongan umur. 16. Penderita Diare gol. Penderita Diare semua golongan Umur yang ditemukan kader adalah Penderita diare. 13.berobat atau ditemukan oleh kader dan diberi oralit kemudian dicatat dan dilaporkan ke puskesmas 9.10 dan 11. 14 dan 15. Penderita yang diberikan Oralit oleh kader adalah Jumlah penderita yang datang kepada kader atau ditemukan kader kemudian diberi oralit. Pemakaian Oralit di Kader adalah Jumlah oralit yang dikeluarkan oleh kader untuk menanggulangi penderita diare. yang datang berobat atau ditemukan oleh kader dan diberi oralit kemudian dicatat dan dilaporkan ke puskesmas. Umur <1 th yang meninggal yang ditemukan kader adalah penderita diare umur 0-<1 tahun yang ditemukan oleh kader sudah dalam keadaan meninggal berdasarkan keterangan keluarga penderita 13. Penderita yang diberikan Oralit adalah Jumlah penderita yang datang ke sarana kesehatan kemudian diberi oralit 17. Penderita Diare gol. merupakan penjumlahan no. Umur (1-4 th) yang ditemukan kader adalah Penderita diare. Umur (>5 th) yang meninggal yang ditemukan kader adalah penderita diare umur > 5 tahun yang ditemukan oleh kader sudah dalam keadaan meninggal 15.

Dahak tersangka TBC yang diperiksa adalah Dahak orang yang dicurigai menderita penyakit TBC e.22. tinja berdarah atau berlendir warna kehijauhijauan. banyak kulit jika dicubit kembalinya lambat. 23. kemudian kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif c. mulut kering. Kasus Diare Dengan Dehidrasi Berat adalah Jumlah penderita diare yang datang ke sarana kesehatan dengan gejala umum matanya cekung. 25. air mata tidak ada. Penderita Diare yang diberikan tablet zinc di sarana kesehatan adalah jumlah penderita diare akut yang datang ke sarana kesehatan kemudian diberi tablet zinc 26. 24. Kasus Diare Dengan Dehidrasi Ringan – Sedang adalah Jumlah penderita Diare yang ditandai dengan gejala umum gelisah. haus ingin minum. mata cekung. Penderita Baru TBC Paru BTA (+) adalah Penderita yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang OAT kurang dari satu bulan (30 dosis harian) b. Pemeriksaan suspek adalah Diagnosa TBC Paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan ditemukannya BTA pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis f. yaitu bentuk berat dan ringan. Penderita TBC BTA Negatif Rontgen (+) yang diobati adalah Penderita yang pemeriksaan 3 spesimen dahak SPS hasilnya BAT negatif dan foto rontgen dada menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif. d. Pemberian tablet zinc di sarana kesehatan adalah jumlah tablet zinc yang dikeluarkan/dipakai di sarana kesehatan untuk menanggulangi penderita diare 9. Penderita Kambuh TBC BTA (+) adalah Penderita tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh. Kasus TBC yang diobati paket OAT Kategori 1 . memerlukan infuse dan dirawat di RS. TBC Paru BTA Negatif rontgen positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya. TBC PARU-PARU a. kulit perut di cubit tidak kembali. Kasus Diare tanpa Dehidrasi adalah jumlah penderita diare yang datang ke sarana kesehatan tanpa mengalami dehidrasi. tidak mau makan minum.

dan pada satu pemeriksaan follow up sebelumnya) l. Kasus TBC Pengobatan Lengkap adalah Penderita yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tapi tidak ada hasil. Kasus TBC Teregister yang Meninggal adalah Penderita yang dalam masa pengobatan diketahui meninggal karena sebeb apapun . yaitu TBC kelenjar limfe (limfadenitis). pemeriksaan ulang dahak 2 kali berturut-turut m. TBC kulit. Kasus TBC yang diobati paket OAT Kategori 3 Yang menggunakan OAT ini adalah : • • Penderita baru BTA negatif dan rontgen positif sakit ringan Penderita ekstra paru ringan. pleuritis eksudativa unilateral.Yang menggunakan OAT ini adalah : • • • Penderita baru TBC Paru BTA Positif. Kasus TBC yang diobati paket OAT Kategori 2 Yang menggunakan OAT ini adalah : • • • Penderita kambuh (relaps) Penderita gagal (failure) Penderita dengan pengobatan setelah lalai(after default) h. Kasus TBC yang Telah Sembuh adalah Bila penderita telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan dahak (follow up) paling sedikit 2 (dua) kali berturut-turut hasilnya negatif yaitu pada AP dan atau sebulan sebelum AP. Penderita TBC Paru BTA negatif rontgen positif yang ’’sakit berat ” Penderita TBC Ekstra Paru Berat g. TBC tulang (kecuali tulang belakang). Kasus TBC yangdiobati 2-3 bulan yang lalu dengan paket OAT kategori 2 telah konversi adalah Penderita ini dapat meneruskan pengobatan dengan tahap lanjutan k. sendi dan kelenjar adrenalin i. Kasus TBC yang diobati 2-3 bulan yang lalu dengan paket OAT kategori 1 telah konversi adalah Penderita ini dapat meneruskan pengobatan dengan tahap lanjutan j.

Penderita Kusta Type MB dewasa yang mendapatkan pengobatan MDT adalah Penderita yang bercaknya > 5 (usia > 15 tahun) diobati dengan MDT sebanyak 12 dosis selama 12 bulan 1. Penderita Kusta Type MB anak yang mendapatkan pengobatan MDT dinyatakan RFT adalah Penderita Kusta usia < 15 tahun yang telah minum obat MDT sesuai dosis selama 12 – 18 bulan. Kasus TBC yang pindah bulan ini adalah Penderita yang yang pindah berobat ke daerah kabupaten/kota lain o. Penderita Kusta Type PB anak yang mendapatkan pengobatan MDT adalah Penderita Kusta yang bercaknya < 5 (usia < 15 tahun) diobati dengan MDT sebanyak 6 dosis selama 6 – 9 bulan 3. Penderita Kusta Type PB anak yang mendapatkan pengobatan MDT dinyatakan RFT adalah Penderita Kusta usia < 15 tahun yang telah minum obat MDT sesuai dosis selama 6 – 8 bulan 4. KUSTA 1. Penderita Kusta Type PB dewasa yang mendapatkan pengobatan MDT adalah Penderita Kusta yang bercaknya < 5 (usia > 15 tahun) diobati dengan MDT sebanyak 6 dosis selama 6 – 9 bulan 2. Penderita Kusta Type MB anak yang mendapatkan pengobatan MDT adalah Penderita yang bercaknya > 5 (usia < 15 tahun) diobati dengan MDT sebanyak 12 dosis selama 12 bulan 2.n. 5. Kasus TBC yang telah Default adalah Penderita yang tidak mengambil obat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai 10. Kasus TBC yang Gagal adalah Penderita BTA (+) yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada satu bulan sebelum akhir pengobatan atau pada akhir pengobatan p. 6. Total Penderita Kusta yang mendapatkan pengobatan MDT dinyatakan RFT adalah Jumlah penderita kusta Tipe PB dan MB yang telah menyelesaikan Pengobatan sesuai dengan waktunya. Penderita Kusta Type PB dewasa yang mendapatkan pengobatan MDT dinyatakan RFT adalah Penderita Kusta usia > 15 tahun telah minum obat MDT sesuai dosis selama 6 – 8 bulan 3. Penderita Kusta Type MB dewasa yang mendapatkan pengobatan MDT dinyatakan RFT adalah Penderita Kusta usia > 15 tahun yang telah minum obat MDT sesuai dosis selama 12 – 18 bulan. .

rumah sakit dan praktek swasta di wilayah kerja puskesmas maupun oleh bidan desa. PROGRAM ISPA 1. Temuan Cacat Tk II anak adalah Penemuan penderita kusta usia < 15 tahun yang sudah mengalami cacat fisik yang tampak (pada kaki. p Manfaat data: dapat mengetahui berapa kali episode bayi balita terkena pneumonia. 12. 1. 11. Kusta Tipe MB yang Droup Out adalah Penerita Kusta Tipe MB yang tidak minum selama 4 bulan berturut-turut atupaun tidak sehingga tidak menyelesaikan pengobatan selama 18 bulan. tangan dan wajah) 8. sedang dan sudah diobati yang mengalami reaksi akut disebakan oleh kuman kusta akibat meningkatnya ketahanan tubuh. Temuan Cacat Tk II dewasa adalah Penemuan penderita kusta usia > 15 tahun yang sudah mengalami cacat fisik yang tampak (pada kaki. . Gejala penumonia untuk umur: p 2 – <12 bulan : Tidak ada tarikan dinding dada ke dalam . Kasus Reaksi pada penderita yang sedang dalam pengobatan adalah Penderita kusta yang belum. sehingga tidak menyelasaikan pengobatan dalam waktu 9 bulan 10. nafas cepat lebih atau sama dengan 50 per menit p 1 – < 5 tahun : Tidak ada tarikan dinding ke dalam. Kasus Pneumonia Berat golongan umur 0 – 2 bln : adalah jumlah penderita umur 0-2 bln yang datang ke sarana kesehatan dengan tanda-tanda : nafas cepat (> 60 per menit) dan ada tarikan dinding dada ke dalam.7. Penderita Kusta Type PB anak yang mendapatkan pengobatan MDT adalah Penderita Kusta yang bercaknya < 5 (usia < 15 tahun) diobati dengan MDT sebanyak 6 dosis selama 6 – 9 bulan 12. tangan dan wajah) 9. 11. Kasus Keracunan Makan adalah Penderita Kusta yang bercaknya < 5 (usia > 15 tahun) diobati dengan MDT sebanyak 6 dosis selama 6 – 9 bulan 1. Kusta Tipe PB yang Droup Out adalah Penderita Kusta tipe PB yang tidak minum obat selama 2 bulan baik berturut-turut maupun tidak. puskesmas keliling. Total Penderita Kusta Yang Drop Out adalah Jumlah Penderita Kusta Tipe PB dan MB yang tidak menyelesaikan pengobatan sesuai dengan waktunya. Kasus Baru Penyakit Pneumonia adalah Jumlah kasus baru pneumonia balita yang ditemukan di sarana kesehatan (Puskesmas. puskesmas pembantu. nafas cepat lebih atau sama dengan 40 per menit. KERACUNAN MAKANAN 1.

. Kasus Pneumonia Berat golongan umur 1 – <5 th adalah jumlah penderita umur 1-<5 th yang datang ke sarana kesehatan dengan tanda-tanda : nafas cepat (> 40 per menit) dan ada tarikan dinding dada ke dalam. Kasus bukan pnemonia golongan umur 1 – < 5 tahun adalah kasus yang tidak ditemukan tarikan dinding dada ke dalam dan tidak ada nafas cepat. PENYAKIT ACUTE FLACID PARALYSIS (AFP) 1. Kasus Pneumonia Golongan Umur > 5 Th yang Meninggal adalah jumlah penderita umur >5 th yang meninggal. Kasus Pneumonia Golongan Umur 1 Th-<5 Th yang Meninggal adalah jumlah penderita umur 1 th-<5 th yang meninggal. 3. pustu atau petugas kesehatan. Kasus Pneumonia Golongan Umur 0-1 Th yang Meninggal adalah jumlah penderita umur 0-1 th yang meninggal. Kasus Pneumonia Berat golongan umur 2 bln – 1 th adalah Jumlah penderita umur 2 bln-1 th yang datang ke sarana kesehatan dengan tanda-tanda : nafas cepat (> 50 per menit) dan ada tarikan dinding dada ke dalam. 2. Pemakaian Amoksicylin adalah jumlah amoksicylin yang diberikan pada anak < 5 tahun yang terkena ISPA ( tablet / sirup ) 11. yang ditemukan di sarana kesehatan maupun lapangan. Pemakaian Kotrimoksasol adalah jumlah kortimoksasol yang diberikan pada anak < 5 tahun yang terkena ISPA ( tablet / sirup ) 10. Kasus AFP < 15 Tahun adalah semua anak berusia kurang dari 15 tahun dengan kelumpuhan yang sifatnya flacid (layuh) terjadi secara akut (mendadak) dan bukan disebabkan oleh rudapaksa. Kasus Pneumonia yang ditemukan oleh Kader adalah jumlah penderita pneumonia yang ditemukan oleh kader terlatih dan dirujuk ke Puskesmas. 8. Kasus bukan pnemonia golongan umur < 1 tahun adalah kasus yang tidak ditemukan tarikan dinding dada ke dalam dan tidak ada nafas cepat. p Manfaat : dapat diketahui keaktifan kader maupun pengetahuan dan keterampilan kader dalam menemukan kasus pneumonia 13. 9. 4. yang ditemukan di sarana kesehatan maupun lapangan 5.2. 7. Kasus AFP Non Polio adalah kasus AFP yang pada pemeriksaan spesimennya tidak ditemukan virus polio liar atau kasus AFP yang ditetapkan oleh tim ahli sebagai kasus AFP non polio dengan kriteria tertentu. Pemakaian Parasetamol adalah jumlah paracetamol yang diberikan pada anak < 5 tahun yang terkena ISPA ( tablet / sirup ) 12. yang ditemukan di sarana kesehatan maupun lapangan 6.

Orang yang melakukan Test HIV adalah Klien yang menyetujui untuk melakukan testing setelah mendapatkan pre test konseling yang dilakukan oleh konselor profesional/terlatih. TB paru. 2.14. 9. 10. KEJADIAN LUAR BIASA (KLB) . Pemeriksaan Smear GO Dan STS dari Keluarga Risti adalah Jumlah hasil pemeriksaan smear apabila ada survei GO dan STS pada kelompok risiko tinggi 2. 3. 4. Waria. 6. HIV 1. Penderita yang diperiksa GO adalah Jumlah penderita penyakit kelamin yang diperiksa GO 3. 15. ODHA yang dirujuk untuk mendapatkan ARV adalah Orang dengan HIV AIDS yang dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan obat anti retro viral. Orang yang melakukan Post Test Konseling adalah klien yang telah mengetahui hasil test dan melakukan konseling lanjutan. PENYAKIT KELAMIN 1. Penasun yang melakukan LJSS adalah Klien pengguna napza suntik yang mendapatkan layanan jarum suntik steril atau pengguna napza suntik yang melakukan pertukaran jarum suntik steril. dll 8. Orang dengan hasil test HIV positif adalah Hasil pemeriksaan laboratorium reaktif HIV dengan 3 kali reagen yang berbeda pada klien tidak bergejala atau 2 kali reagen yang berbeda pada klien dengan risiko tinggi (misal Pengguna napza suntik. ODHA yang mendapat pengobatan Infeksi Opurtinistik adalah Orang dengan HIV AIDS yang mendapat pengobatan infeksi opportunistik seperti Jamur. Herpes. Laki-laki seks dengan laki-laki) 7. Penjaja Seks. Penderita yang diperiksa Sifilis adalah Jumlah penderita penyakit kelamin yang diperiksa Sifilis 15. Orang yang melakukan Pre Test Konseling adalah Klien yang melakukan pre tes konseling pada tahapan awal proses konseling yang dilakukan oleh konselor profesional/terlatih. Orang yang berkunjung ke layanan VCT adalah Klien yang datang untuk mendapatkan layanan konseling dan testing secara sukarela yang dilakukan oleh seorang konselor profesional/terlatih. Orang yang Ditangani adalah Orang dengan HIV AIDS yang mendapat pelayanan kesehatan dasar. Orang yang mengambil Test HIV adalah Jumlah orang yang membuka hasil test HIV 5.

• Pengertian kurang dari 24 jam adalah sejak laporan W1 diterima sampai penyelidikan dilakukan dengan catatan selain formulir W1 dapat juga berupa fax atau telepon 1. Ibu nifas baru adalah Ibu nifas baru yang ditemukan bulan ini 5. DATA SASARAN 2. Bayi 6 bln baru adalah bayi 6 bln yang ditemukan baru bulan ini 9. Anak 12 – 23 bln baru adalah anak 12 -23 bln yang ditemukan baru bulan ini 11. Anak 24 – 59 bln baru adalah anaki 24 – 69 bln yang ditemukan baru bulan ini 12. 4. Ibu hamil baru adalah Ibu hamil baru yang ditemukan bulan ini 3. Anak balita 12 – 59 bln baru adalah anak balita 12 -59 bln yang ditemukan baru bulan ini . Bayi < 1 tahun baru adalah bayi < 1 Thn yang ditemukan baru bulan ini 8. c. LAPORAN BULANAN KEGIATAN PUSKESMAS (LB 4) 1. 2. Desa/Kelurahan terjadi KLB yang Ditangani < 24 jam adalah Desa/Kelurahan terjadi KLB yang ditangani mencakup penyelidikan dan penanggulangan KLB kurang dari 24 jam. Neonatal baru adalah neonatal yang ditemukan pada bulan ini 7.1. Desa/Kelurahan terjadi KLB adalah Desa/Kelurahan mengalami KLB bila terjadi peningkatan kesakitan atau kematian penyakit potensi KLB. Frekwensi KLB adalah jumlah terjadinya peningkatan kasus berpotensi KLB. 1. penyakit karantina atau keracunan makanan • Kejadian luar biasa adalah timbulnya atau meningkatnya timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan dan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu desa /kelurahan dalam waktu tertentu. Ibuu menyusui baru adalah Ibu menyusui baru yang ditemukan bulan ini 6. Bayi 6 – 11 bln baru adalah bayi 6 -11 bln yang ditemukan baru bulan ini 10. Ibu Bersalin baru adalah Ibu Bersalin baru yang ditemukan bulan ini 4. Balita 0 – 59 bln baru adalah balita 0 -59 ini bln yang ditemukan baru bulan 13.

untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Puskesmas Keliling dsb. a. untuk mendpatkan pelayanan kesehatan maupun sekedar mendapatkan surat keterangan sehat atau sakit. Pengunjung Lama Pengunjung Lama adalah pengunjung yang dating untuk kedua dan seterusnya. Nomor Rekam Medik diberikan hanya 1 (satu) kali seumur hidup 1. a. . b. b. Pengecualian kedua kategori tersebut pada Ibu Hamil. C. Ada 2 kategori kunjungan : 1. Tidak mendapat nomor rekam medik lagi. Puskesmas DTP. PENGUNJUNG PUSKESMAS Data untuk pengisian banyak Pengnjung Puskesmas diambil dari Buku register Penomoran yang ada pada addmiting office ( Loket penerimaan pasien atau tempat penjualan karcis yang dibuat setiap hari) . sehingga seumur hidupnya hanya dicatat satu kali kunjungan baru. Puskesmas Keliling dsb. tapi dicatat dalam register pendaftaran pasien. yang datang ke Puskemsas dengan jejaringnya yang sama atau berbeda sebagai kunjungan lama atau kunjungan baru dengan kasus lama dan kasus baru. Kunjungan Lama : Seseorang yang datang ke Puskesmas/Puskesmas DTP/Puskesmas Pembantu. Pengunjung terdiri dari 2 kelompok yaitu 1.B. 1. Puskesmas Pembantu. Ibu Menyusui dan Balita. Setiap Pengunjung Baru diberikan Nomor Rekam Medik dengan menggunakan register penomoran dan dibuatkan Folder Rekam Medik. Kunjungan Baru : Seseorang yang pertama kali dating ke Puskemas/Puskesmas DTP/Puskesmas Pembantu/Puskesmas Keliling dsb. RAWAT JALAN DAN RAWAT INAP 1. Pengunjung Baru Pengunjung Baru adalah pengunjung yang baru pertama kali dating yang akses di Puskesmas. yang kedua kali dan seterusnya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. KUNJUNGAN adalah Seseorang datang ke Puskesmas.

Kunjungan Ibu Hamil pada setiap kehamilan dianggap sebagai kunjungan baru. Dengan demikian penetapan kunjungan Ibu hamil tidak ditentukan oleh tahun/periode. KASUS . X 100% Ada 2 kategori kasus : 1. sedangkan kunjungan selanjutnya dari kasus lama dalam tahun/periode yang sama (selama belum sembuh) diperhitungkan kunjungan kasus lama. Kunjungan Ibu Menyusui termasuk ibu yang menyelesaikan kehamilannya karena abortus. sedangkan pada kunjungan kedua seterusnya hanya dihitung sebagai kasus lama dan kunjungan kasus lama. 2. selama periode menyusui 2 tahun dihitung sebagai kunjungan baru. 1.1. tetapi diberlakukan sebagai “Episode Of Iliness”. Kasus Baru : Adalah “ New Episode Of Iliness” yaitu pernyataan pertama kali seseorang menderita penyakit tertentu sebagai hasil diagnosa dokter atau tenaga paramedis. sedangkan kunjungan kedua dan seterusnya untuk pemeriksaan dianggap sebagai kunjungan lama. Khusus pada penderita Kusta hanya dikenai kasus baru yaitu saat pertama kali penemuannya. sedangkan kunjungan kedua dan seterusnya dari tahun yang bersangkutan dicatat sebagai kunjungan lama. Kunjungan Balita setiap tahun (setelah hari ulangtahun) dianggap sebagai kunjungan baru. 1. . Cakupan Rawat Jalan Rumus perhitungan adalah : Jumlah Kunjungan Pasien Baru Rawat Jalan di sarana Kesehatan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu Jumlah Penduduk di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu 2. Kasus Lama : Adalah kunjungan ke 2 (dua) dari kasus baru yang dinyatakan belum sembuh. Jumlah Kunjungan Kasus adalah Kasus Baru ditambah dengan Kasus Lama.

1. yang bersumber pada register rawat jalan kesehatan ibu anak. Kunjungan Puskesmasadalah seseorang (sehat maupun sakit) yang berkunjung ke Puskesmas untuk memperoleh pelayanan. Kunjungan Rawat Jalan KIA adalah kunjungan seseorang yang mendapatkan pelayanan pengobatan tanpa perlu rawat inap. 2. Penderita yang dirawat adalah jumlah pasien yang dirawat di Puskemas dengan Perawatan . didalam dan diluar gedung Puskesmas. Penderita Keluar Hidup adalah jumlah pasien yang keluar hidup selama bulan yang bersangkutan di Puskesmas dengan Perawatan. 9. Kunjungan Baru adalah seseorang (sehat maupun sakit) yang pertama kali berkunjung ke Puskesmas untuk memperoleh pelayanan. Kunjungan Rawat Jalan Lain-lain adalah kunjungan seseorang yang mendapatkan pelayanan pengobatan tanpa perlu rawat inap. didalam dan diluar gedung Puskesmas.1. didalam dan diluar gedung Puskesmas. 4. 8. 6. yang bersumber pada register rawat jalan gigi. Lama Perawatan adalah total lama dirawat dari pasien yang sudah keluar dari Puskesmas dengan Perawatan (hidup maupun meninggal). 3. Kunjungan Rawat Jalan Gigi adalah kunjungan seseorang yang mendapatkan pelayanan pengobatan tanpa perlu rawat inap. Kunjungan Rawat Jalan Umum adalah kunjungan seseorang yang mendapatkan pelayanan pengobatan tanpa perlu rawat inap. 10. Penderita Keluar Meninggal kurang dari 48 jam adalah jumlah pasien mati kurang dari 48 jam selama bulan yang bersangkutan di Puskesmas dengan Perawatan. didalam dan diluar gedung Puskesmas. Kunjungan Lama adalah seseorang (sehat maupun sakit) yang berkunjung berikutnya dari suatu kunjungan baru ke Puskesmas untuk memperoleh pelayanan. yang bersumber pada register rawat jalan laian-lainnya. Hari Perawatan adalah total hari rawat dari semua pasien yang dirawat selama bulan yang bersangkutan. 13. 12. 11. . 7. Kunjungan Rawat Jalan KB adalah kunjungan seseorang yang mendapatkan pelayanan pengobatan tanpa perlu rawat inap. yang bersumber pada register rawat jalan umum. yang bersumber pada register rawat jalan keluarga berencana. didalam dan diluar gedung Puskesmas. Penderita Keluar Meninggal adalah jumlah pasien yang keluar meninggal selama bulan yang bersangkutan di Puskesmas dengan Perawatan. 5.

Kunjungan Peserta Jamsostek adalah seseorang (sehat maupun sakit) yang berkunjung ke Puskesmas untuk memperoleh pelayanan dengan membawa/ mempergunakan Kartu dari Jamsostek. Sekolah. Penderita Keluar Meninggal lebih dari 48 jam adalah jumlah pasien mati dalam 48 jam dan lebih selama bulan yang bersangkutan di Puskesmas dengan Perawatan. 22. 26. Penderita yang dirujuk ke Rumah Sakit / Puskesmas DTP adalah jumlah penderita/ pasien yang dikirim dari Puskesmas kepada Rumah Sakit / Puskesmas DTP. Kunjungan peserta Assuransi kesehatan swasta adalah seseorang (sehat maupun sakit) yang berkunjung ke Puskesmas untuk memperoleh pelayanan dengan membawa/mempergunakan Kartu dari Assuransi kesehatan swasta. posyandu. Sekolah dll adalah jumlah penderita yang diterima dari kader. 23. 19. Kunjungan Dokter Ahli adalah kegiatan kunjungan dokter ahli yang datang ke Puskemas yang bersangkutan. 1. 21. 15. Rujukan dari Rumah Sakit ke Puskesmas adalah jumlah rujukan dari Rumah Sakit ke Puskesmas. Posyandu. Rujukan dari Kader. Askes adalah seseorang (sehat maupun sakit) yang berkunjung ke Puskesmas untuk memperoleh pelayanan dengan membawa/m empergunakan Kartu dari PT Askes. UPAYA KESEHATAN GIGI . 20. 18.14. 24. 16. Kunjungan peserta Assuransi lainnya adalah seseorang (sehat maupun sakit) yang berkunjung ke Puskesmas untuk memperoleh pelayanan dengan membawa/ mempergunakan Kartu dari Assuransi lainnya. Kunjungan Kartu Sehat adalah seseorang (sehat maupun sakit) yang berkunjung ke Puskesmas untuk memperoleh pelayanan dengan membawa/mempergunakan Kartu Sehat. Peserta Kartu Sehat terdaftar di Puskesmas adalah jumlah peserta yang terdaftar mempunyai kartu sehat. Kunjungan Peserta JPKM adalah seseorang (sehat maupun sakit) yang berkunjung ke Puskesmas untuk memperoleh pelayanan dengan membawa/ mempergunakan JPKM. Peserta Kartu Sehat yang dirujuk ke Rumah Sakit/Puskesmas DTP adalah jumlah peserta yang dirujuk ke Rumah Sakit/Puskesmas DTP yang mempunyai Kartu Sehat. BP. 17. BP. Kunjungan Peserta PT. 25. D.

Pengobatan Pulpa adalah jumlah kasus pengobatan pulpa pada perawatan endodontic 9. Kunjungan Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) 1. . 10. Tumpatan pada Gigi Tetap adalah jumlah semua tumpatan pada gigi tetap berupa tumpatan amalgam. Pencabutan Gigi Tetap adalah jumlah pencabutan (ekstraksi) pada gigi tetap di Sekolah. Gigi Puskesmas termasuk Puskesmas Keliling dan Puskesmas Pembantu. Tumpatan Gigi Sulung adalah jumlah semua tumpatan pada gigi sulung berupa tumpatan amalgam. Pengobatan Periodontal adalah jumlah kelainan dengan gejala radang gusi (gingivitis). 5. preventif. preventif. 11. 2. tumpatan silikat. 8. baik pelayanan promotif. Pencabutan Gigi Sulung adalah jumlah pencabutan (ekstraksi) pada gigi sulung 7. 3. 6. kuratif yang dilaksanakan di wilayah Puskesmas. Tumpatan pada Gigi Tetap adalah jumlah semua tumpatan pada gigi tetap berupa tumpatan amalgam. tumpatan silikat. kuratif yang dilaksanakan di wilayah Puskesmas. 4. Pembersihan Karang Gigi adalah Merupakan tindakan pelayanan berupa scaling dan atau root planing yang dilakukan terhadap geligi yang mengandung karang gigi atau plak . Kunjungan di Balai Pengobatan Gigi 1.1. Kunjungan lama Rawat Jalan Gigi adalah jumlah kunjungan yang kedua dan seterusnya pe penderita penyakit gigi yang mendapatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut. baik pelayanan promotif. tumpatan glass ionomer (ART) dan synthetic porcelen yang ditambalkan secara permanen. tumpatan silikat. sehingga terjadi kelainan periodontal (gigi goyang). 2. Kunjungan Baru Rawat Jalan Gigi adalah jumlah kunjungan yang pertama kali penderita penyakit gigi yang mendapatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut. Pencabutan Gigi Tetap adalah jumlah pencabutan (ekstraksi) pada gigi tetap. tumpatan glass ionomer (ART) dan synthetic porcelen yang ditambalkan secara permanen. tumpatan glass ionomer (ART) dan synthetic porcelen yang ditambalkan secara permanen yang dilaksanakan di Sekolah. Hari Buka Balai Pengobatan (BP) Gigi adalah jumlah buka praktek/pelayanan BP.

1. Penyuluhan di TK/RA adalah Pemberian informasi mengenai kesehatan gigi dan mulut oleh petugas kesehatan atau pendidik dengan teknik penyuluhan di TK/RA 4. 5. Murid SD UKGS adalah jumlah murid kelas I s/d VI SD UKGS yang menjadi sasaran program. Penyuluhan di SD/MI adalah Pemberian informasi mengenai kesehatan gigi dan mulut oleh petugas kesehatan atau pendidik dengan teknik penyuluhan di SD/MI 3. Pembinaan ke SD UKGS adalah jumlah kunjungan petugas Puskesmas ke SD UKGS dengan tujuan pembinaan program UKGS. Sikat gigi masal di SD/MI adalah tindakan menyikat gigi di sekolah yang di lakukan bersama sama si SD. Murid SD UKGS yang perlu Perawatanadalah jumlah murid SD UKGS dengan kasus yang perlu diatasi dengan tindakan pengobatan. tumpatan silikat. Sikat gigi masal di TK/RA adalah tindakan menyikat gigi di sekolah yang di lakukan bersama sama di TK/RA. Murid SD UKGS yang mendapat Perawatan adalah jumlah murid SD UKGS dengan kasus yang mendapatkan perawatan. Rujukan ke Puskesmas adalah anak sekolah yang tidak bisa diobati atau dilakukan tindakan di sekolah dikirim ke puskesmas. 9. 2. Tumpatan Gigi Sulung adalah jumlah semua tumpatan pada gigi sulung berupa tumpatan amalgam. Pembersihan Karang Gigi adalah Merupakan tindakan pelayanan berupa scaling dan atau root planing yang dilakukan terhadap geligi yang mengandung karang gigi atau plak. Pengobatan Periodontal adalah jumlah kasus periodontal yang diobati di sekolah. 8.3. 7. tumpatan glass ionomer (ART) dan synthetic porcelen yang ditambalkan secara permanen di Sekolah. 4. Pengobatan Pulpa adalah jumlah kasus pengobatan pulpa pada perawatan endodontik di sekolah 6. 11. . Pencabutan Gigi Sulung adalah jumlah pencabutan (ekstraksi) pada gigi sulung di Sekolah. 10.MI 5.

Keluarga tidak termasuk miskin yang mempunyai masalah kesehatan prioritas serta belum memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan. Bayi usia 0 – 11 bulan yang dibina dari keluarga rawan kesehatan adalah Bayi usia 0 – 11 bulan yang mendapatkan pelayanan keperawatan kesehatan . Penduduk yang dirujuk ke puskesmas oeh kader adalah penduduk yang tidak bisa ditangani oleh kader lalu dikirim ke puskesmas. 3. Ibu hamil yang dibina dari keluarga rawan kesehatan adalah Ibu hamil yang mendapatkan pelayanan keperawatan kesehatan 6. 2. 2. Keluarga Rawan Kesehatanadalah keluarga rentan (miskin) dan keluarga dengan kasus/ masalah risiko tinggi dengan prioritas : 1. Penduduk yang mendapatkan penyuluhan kesehatan gigi oleh kaderAdalah penduduk yang telah mendapatkan penyuluhan tentang kesehatan gigi dan mulut oleh kader di posyandu UKGMD 1. Keluarag miskin sudah memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan mempunyai masalah kesehatan terkait dengan pertumbuhan dan perkembangan balita.6. Keluarga Rawan Kesehatan yang dibina adalah keluarga yang pernah dikunjungi oleh petugas kesehatan dan mendapatkan asuhan keperawatan 5. Pembinaan ke Desa UKGMD adalah jumlah kunjungan petugas Puskesmas ke desa UKGMD dengan tujuan pembinaan program UKGMD. kesehatan reproduksi penyakit menular. Keluarga miskin belum kontak dengan sarana pelayanan kesehatan (Puskesmas dan jaringannya) dan belum masuk kuota miskin. 4. 7.

10. Keluarga Mandiri Tingkat pertama (KM-I) E. Penderita yang perlu tindak lanjut perawatan adalah penderita yang memerlukan asuhan keperawatan setelah rawat inap. 9. a. 11. Lanjut usia yang dibina adalah jumlah lansia yang dibina di wilayah kerja puskesmas. 12. bayi dan anak balita dari keluarga rawan kesehatan yang mendapatkan asuhan keperawatan.7. Tingkat kemandirian : 13. Kasus penyakit kronis adalah kasus selain ibu hamil. Keluarga Mandiri Tingkat Dua (KM-II) p Menerima petugas Perkesmas p Menerima pelayanan keperawatan yang diberikan sesuai dengan rencana keperawatan p Tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatannya secara benar p Melakukan perawatan sederhana sesuai dengan yang dianjurkan . Keluarga Rawan Kesehatan yang selesai dibina adalah jumlah keluarga yang telah dibina dan memperoleh asuhan keperawatan 2 sd 6 kali kunjungan. UPAYA PERAWATAN KESEHATAN MASYARAKAT p Menerima petugas Perawatan Kesehatan Masyarakat p Menerima Pelayanan Keperawatan yang diberikan sesuai rencana perawatan b. Anak balita usia 12 – 59 bulan yang dibina dari keluarga rawan kesehatan adalah Anak balita usia 12 – 59 bulan yang mendapatkan pelayanan keperawatan kesehatan 8.

F. UPAYA KESEHATAN SEKOLAH 1. 2. SMA / MTs yang melaksanakan Penjaringan adalah jumlah SMA / MTs yang melaksanakan penjaringan kesehatan oleh petugas kesehatan. SD / MI yang melaksanakan Penjaringan adalah jumlah SD/MI yang melaksanakan penjaringan kesehatan oleh petugas kesehatan. c. 6. 5. 3. Keluarga Mandiri Tingkat Empat (KM – IV) p Menerima petugas Perkesmas p Menerima pelayanan keperawatan yang diberikan sesuai dengan rencana keperawatan p Tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatannya secara benar p Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan secara aktif p Melakukan perawatan sederhana sesuai dengan yang dianjurkan p Melaksanakan tindakan pencegahan dan promotif secara aktif 1.c. . Keluarga Mandiri Tingkat Tiga (KM – III) p Menerima petugas Perkesmas p Menerima pelayanan keperawatan yang diberikan sesuai dengan rencana keperawatan p Tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatannya secara benar p Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan secara aktif p Melakukan perawatan sederhana sesuai dengan yang dianjurkan p Melaksanakan tindakan pencegahan secara aktif 1. Murid SD / MI yang diperiksa Penjaringan adalah jumlah murid SD/MI kelas I s/d VI yang diperiksa kesehatannya. 4. TK/RA yang melaksanakan Penjaringan adalah jumlah TK/RA yang melaksanakan penjaringan kesehatan oleh petugas kesehatan. Murid SMP / MTs yang diperiksa Penjaringan adalah jumlah murid SMP/MTs kelas I s/d III yang diperiksa kesehatannya. SMP / MTs yang melaksanakan Penjaringan adalah jumlah SMP / MTs yang melaksanakan penjaringan kesehatan oleh petugas kesehatan.

Murid Sekolah diperiksa dengan Berat Badan sesuai dengan Tinggi Badan adalah jumlah murid sekolah yang diperiksa pengukuran berat badan dan tinggi badannya disesuaikan dengan criteria normal (lihat table rujukan penentuan status gizi anak sekolah) 10. Anak Sekolah yang Sakit berobat di Puskesmas adalah jumlah murid yang sakit dan berobat ke Puskesmas. Penyakit Kulit yg ditemukan hasil penjaringan adalah jumlah murid yang ditemukan berpenyakit kulit. Anak Sekolah yang Sakit dirujuk ke Rumah Sakit adalah jumlah murid yang sakit dan dirujuk ke Rumah Sakit . 20. Penyakit Mata yg ditemukan hasil penjaringan adalah jumlah murid yang ditemukan berpenyakit gigi. Murid PONTREN yang diperiksa Penjaringan adalah jumlah murid Pontren yang diperiksa kesehatannya. 14. 17. 9. Murid yang mendapatkan Tablet Kecacingan adalah jumlah murid SD/MI yang mendapatkan Tablet Albendazol (kecacingan) pada bulan Mei dan November.7. Anak Berkelainan (ALB) yang dibina adalah jumlah anak sekolah yang berkelainan yang dibina oleh petugas Puskesmas 18. 16. Penyakit TB. Penyakit GIGI yg ditemukan hasil penjaringan adalah jumlah murid yang ditemukan berpenyakit gigi. Anak Berkelainan (ALB) adalah jumlah anak sekolah yang berkelainan yang terdapat di wilayah kerja Puskesmas. Paru-Paru yg ditemukan hasil penjaringan adalah jumlah murid yang ditemukan berpenyakit TBC. 15. 13. 12. 8. 19. Penyakit ISPA yg ditemukan hasil penjaringan adalah jumlah murid yang ditemukan berpenyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut. Murid SMA / MTs yang diperiksa Penjaringan adalah jumlah murid SMA/MTs kelas I s/d III yang diperiksa kesehatannya. 11. Penyakit Kusta yg ditemukan hasil penjaringan adalah jumlah murid yang ditemukan berpenyakit kusta.

Komplikasi mata adalah keadaan mata mengalami komplikasi setelah di operasi 1 hari. 2. 1 minggu dan 1 bulan. 1. Deteksi dini Glaukoma adalah Kegiatan deteksi secara dini keadaan tekanan bola mata yang lebih tinggi dari normal sehingga dapat menimbulkan kerusakan pada saraf optik dan bila tidak diobati secara dini dapat menimbulkan kebutaan secara perlahan-lahan. 8. 5. misal : p Forum Koordinasi Penanggulangan kebutaan akibat katarak di Propinsi Jawa Barat (Pemda Propinsi. 6.1. 2. Kegiatan Operasi Katarak Individuil adalah jumlah kegiatan pelaksanaan operasi katarak yang dilakukan oleh pasien atas biaya sendiri. Frekuensi Operasi Katarak Masal adalah jumlah kegiatan operasi katarak yang dilakukan secara masal yang dikoordinir tersendiri oleh Puskesmas atau kerja sama dengan pihak lain. Skrening awal penderita katarak adalah Kegiatan skrining awal katarak / pencarian kasus katarak gakin oleh petugas Puskesmas per tahun dengan melibatkan kader. . Murid yang memerlukan koreksi dengan kacamata adalah Murid yang mengalami kelainan tajam penglihatan yang harus dikoreksi dengan kaca mata sehingga sinar sejajar yang masuk mata dapat jatuh tepat di retina. G. p LSM langsung ke Puskesmas p Swadaya Masyarakat dengan Pemda setempat. Instansi lainnya. 3. Pasien glaukoma yang dirujuk adalah Jumlah kasus glaukoma yang dirujuk di sarana pelayanan rujukan (Rumah Sakit ). UPAYA KESEHATAN MATA 1. DinKes Propinsi RS. Perdami dan BKMM). Mata yang dioperasi adalah jumlah mata yang telah dilakukan operasi pada waktu pelayanan operasi katarak masal tersebut. 4. 7. Deteksi dini tajam penglihatan di SD adalah Deteksi secara dini kelainan tajam penglihatan dimana sinar sejajar yang masuk ke mata tanpa akomodasi tidak tepat jatuh ke retina. Cicendo. perawat dan dokter puskesmas. Skrening akhir katarak adalah Kegiatan skrining penderita katarak gakin yang dikirim oleh puskesmas / datang sendiri dan diperiksa oleh dokter spesialis mata di tempat operasi per tahun.

Peserta Asuransi Kesehatan swasta adalah jumlah peserta Asusransi kesehatan swasta yang mendapatkan pelayanan dari Puskesmas di wilayah kerja Puskesmas 6. 4. Peserta Askes adalah jumlah peserta Askes yang mendapatkan pelayanan dari Puskesmas di wilayah kerja Puskesmas 3. sudah jelas . Peserta Dana Sehat adalah jumlah peserta Dana Sehat di wilayah kerja Puskesmas. 3. Peserta Jamsostek adalah jumlah peserta Jamsostekyang mendapatkan pelayanan dari Puskesmas di wilayah kerja Puskesmas. Rumah yang mendapatkan Kunjungan Rumah adalah rumah yang dikunjungi untuk mendapat penyuluhan. Promosi kesehatan di dalam gedung adalah pemberian informasi di dalam tempat pelayanan kesehatan secara kelompok dengan teknik penyuluhan 1. 7. Frekwensi Penyuluhan adalah jumlah penyuluhan kesehatan yang dilaksanakan. Peserta Askeskin adalah Peserta dari keluarga miskin dimana pembiayaan kesehatannya ditanggung oleh pemerintah. . Forum masyarakat desa yang melaksanakan pertemuan. H. Materi penyuluhan adalah substansi penyuluhan yang dilaksanakan. 4. KEGIATAN PENYULUHAN DAN JPKM KESEHATAN MASYARAKAT 1. 6. 1. Peserta JPKM (KK) adalah jumlah peserta JPKM yang mendapatkan pelayanan dari Puskesmas di wilayah kerja Puskesmas. 5. 2.1. sudah jelas 8. Promosi kesehatan di luar gedung adalah pemberian informasi di luar tempat pelayanan kesehatan secara kelompok dengan teknik penyuluhan 5. 2. Pengunjung yang mendapatkan Komunikasi interpersonal adalah pemberian informasi dari petugas kesehatan terhadap pengunjung secara perorangan. Frekwensi penyuluhan adalah jumlah penyuluhan kesehatan yang dilaksanakan. keluarga dan masyarakat melalui peningkatan manajemen pendanaan. p Dana Sehat / JPKM merupakan suatu upaya dari oleh dan untuk masyarakat yang diselenggarakan secara swadaya masyarakat guna menjamin pemeliharaan kesehatan perorangan. Peserta Asuransi lainnya adalah jumlah peserta Asusransi lainnya yang mendapatkan pelayanan dari Puskesmas di wilayah kerja Puskesmas 7. Frekwensi pembinaan Forum masyarakat desa.

kecuali bebas jentik. pemandian umum dll. took penjualan makanan. antara lain seperti hotel. bioskop. Frekwensi pembinaan UKBM. 1. 5. tempat ibadah. 6. pengrajin makanan dll. 3. bila tersedia sarana kesehatan lingkungan dan keadaan rumah memenuhi syarat. jasa boga. restoran dan rumah makan. TPM (Tempat Pengelolaan Makanan) yang diperiksa adalah jumlah tempattempat/perisahaan makanan dan minuman diproduksi. . terminal. 8. halaman dan area sekelilingnya yang merupakan bagian atau yang berhubungan dengan tempat untuk memproduksi suatu barang (bukan termasuk industri makanan dan minuman). perkarangan. antara lain seperti : induatri makanan. disimpan. Rumah yang diperiksa secara umum adalah sarana tempat hunian setiap warga negara layak huni. dengan tidak memenuhi persyaratan minimal 9 syarat komponen pada kartu rumah. 4.9. salon. diangkut. pusat belanja. bebas tikus. TP 3 yang memenuhi syarat kesehatan adalah TP3 yang setelah melalui pemeriksaan sesuai prosedur-prosedur yang ditetapkan ternyata memenuhi criteria program atau standard dari persyaratan kesling /sanitasi yang berlaku. 9. Industri yang diperiksaadalah Suatu tempat dan segala fasilitasinya meliputi ruangan. UPAYA KESEHATAN LINGKUNGAN 1. TP 3 (Tempat Pengelolaan Pestisida) yang diperiksa adalah jumlah Tempat Pengelolaan Pestisida yang memiliki lokasi tetap dan memegang izin usaha dari Pemda. penggolongan sesuai dengan program. pasar. TPM yang memenuhi syarat kesehatan adalah TPM dengan skor hasil Inpeksi Sanitasi / Laik Sehat TPM = 70 %. apabila keluarga mempunyai ternak harus mempunyai persyaratan kandang. 2. kebersihan dan pemanfaatan. dijual dan disajikan bagi umum. TTU (Tempat Tempat Umum) yang diperiksa adalah tempat atau sarana atau jasa pelayanan umum yang memiliki lokasi tetap. Rumah yang tidak Sehat adalah jumlah rumah yang secara minimal tidak layak huni. I. 1. 7. sudah jelas . Industri yang memenuhi syarat kesehatan adalah Industri dengan skor hasil Inspeksi Sanitasi / Laik Sehat Industri = 80 %. TTU yang memenuhi syarat kesehatan adalah TTU dengan skor hasil Inpeksi Sanitasi / Laik Sehat TTU = 70 % – 80 %. diolah.

Sarana Sumur Gali 2. Industri yang memiliki IPAL adalah Industri yang memiliki pembuangan air limbah yang memenuhi syarat kesehatan. Sarana Terminal Air 5. SPAL yang memenuhi syarat kesehatan adalah SPAL dengan Skor hasil Inspeksi Sanitasi / Laik Sehat SPAL = 70 %. Sarana Sumur Pompa Tangan Dangkal/Dalam 3. 4. bakteriologi dan kimiawi. Sekolah yang memenuhi syarat keslingadalah Sekolah dengan skor hasil Inspeksi Sanitasi / Laik Sehat Sekolah = 70 % 1. 5. Sekolah yang diperiksa adalah suatu tempat termasuk fasilitasi yang dipergunakan untuk menyelenggarakan pendidikan dasar untuk anak-anak sekolah (SD). Sarana Air Bersih (SAB) yang mempunyai Risiko . tempat cuci. Sarana Hidran Umum. Sarana Air bersih yang memenuhi syarat kesehatan adalah Air bersih yang telah dilakukan pemeriksaan secara fisik. 8. Sarana Perlindungan Mata Air / Sumur Artetis 4.2. SPAL yang diperiksa adalah Suatu bangunan yang digunakan untuk membuang air buangan dari kamar mandi. 3. bukan termasuk septic tank. 6. dapur dan lain-lain bukan dari jamban atau peturasan yang berasal dari rumah tangga (SPAL Domestik / RT). 7. Sarana Air Bersih (SAB) yang dinspeksi Sanitasiadalah Sarana air bersih yang terdiri dari : 1. Sarana Sumur Gali Plus 6.

non organik sesuai Per-Menkes RI No. maupun hanya berupa lokasi tempat berkumpulnya gerobak sebelum sampah diangkut oleh truk. 2. 4. jenis jaga yang dimaksud adalah jamban leher angsa yang dilengkapi dengan septic tank atau sarana yang lain. Sumur Gali 1. TPS yang diperiksa adalah Tempat pembuangan sampah dapat berupa bangunan permanen (bak beton) maupun bak yang mudah diangkat oleh truk kontener. 416/1990. 416/1990 untuk parameter total coliform (air perpipaan) : 0 mg/l. Non perpipaan = < 50 mg/l. Sampel Air yang diperiksa secara Kimia adalah Sampel air bersih yang diperiksa secara kimia organik. 3. Sampel air secara Kimia memenuhi syarat kesehatan adalah Sampel air bersih yang diperiksa secara kimia organik. Jamban Keluarga (Jaga) yang diperiksa adalah SPAL dengan Skor hasil Inspeksi Sanitasi / Laik Sehat SPAL = 70 %. 1. p Jamban Keluarga adalah suatu banguan yang dipergunakan untuk membuang tinja / kotoran manusia bagi keluarga yang lazim disebut kakus / WC. 416/1990. Sampel air secara Bakteriologis memenuhi syarat kesehatan adalah Sampel air bersih yang diperiksa secara bakteriologi sesuai Per-Menkes RI No. Penampungan Air Hujan 1. non organik sesuai dengan PerMenkes RI No. Sumur Gali Plus 1.NO SARANA 1. 5. Jamban Keluarga (Jaga) yang memenuhi syarat kesehatan adalah Skor Resiko Pencemaran Memenuhi Syarat Rendah Sedang Buruk 1. No. Jaga 0–3 4 – 7 8 – 11 0–3 1. Sampel Air yang diperiksa secara Bakteriologi adalah Sampel air bersih yang diperiksa secara bakteriologi sesuai dengan Per-menkes RI No. Terminal Air 1. Hidran Umum SKOR RESIKO PENCEMARAN Rendah Sedang Tinggi Amat Tinggi 0–2 3–5 6–8 9 – 10 0–2 0–2 0–2 0–2 0–2 0–2 3–5 3–5 3–4 3–5 3–5 3–5 6–7 6–8 5–6 6–8 6–8 6–8 8 9 – 10 7–8 9 – 10 9 – 10 9 – 10 1. 416 / 1990 dari parameter yang diperiksa (pemeriksaan lengkap / pemeriksaan singkat) hasilnya memenuhi syarat semuanya. Perlindungan Mata Air/ Sumur Artetis 1. Sarana . SPT Dangkal / Dalam 1.

1 2 3 4 5 Skor Inspeksi Sanitasi / Laik Sehat Minimal Maksimal Memenuhi Syarat Keterangan A1 65 % 70 % 70 % 100 porsi A2 70 % 74 % 70 % 100 – 50 porsi A3 74 % 83 % 70 % > 500 porsi B 83 % 92 % 70 % Khusus C 92 % 100 % 70 % Bandara 1. Desa Pengrajin Makanan yang diperiksa adalah Desa yang sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian pengrajin makanan.2. GIZI Gol No. 2. TPS yang tidak berbau dari rumah terdekat 3. 5. Jasaboga yang memenuhi syarat kesehatan adalah No. dengan klasifikasi sebagai berikut : . TPS 1 – 18 19 – 59 60 – 124 1 – 18 1. 2. TPS yang memenuhi syarat kesehatan adalah Skor Resiko Pencemaran Memenuhi Syarat Rendah Sedang Buruk 1. 4. Desa Pengrajin Makanan yang memenuhi syarat kesehatan adalah Desa pengrajin dengan Skor hasil Inspeksi Sanitasi / Laik Sehat Desa Pengrajin Makanan = 70 %. TPA yang diperiksa adalah Upaya untuk memusnahkan sampah pada tempat tertentu yang disebut Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA). TPS yang indeks lalatnya < 6 ekor blok grill. TPA yang memenuhi syarat kesehatan adalah Skor Resiko Pencemaran Memenuhi Syarat Rendah Sedang Buruk 1. TPS 1 – 18 19 – 59 60 – 124 1 – 18 1. J. Sarana 1 Desa / Kelurahan Endemis Yodium adalah Desa/Kelurahan yang sebagian besar penduduknya mengalami pembesaran kelenjar gondok. 1. TPS memiliki jarak > 15 meter dari sumur terdekat 2. Sarana No. Jasaboga yang diperiksa adalah Perusahaan atau perorangan yang melakukan pengelolaan makanan yang disajikan di luar tempat usaha atau dasar pemesanan.

• • •

Daerah GAKY Berat, bila TGR > 30 % Daerah GAKY Sedang, bila TGR 20 – 29 % Daerah GAKY Ringan, bila TGR 5 – 19,9%

• Daerah Non Endemic, bila TGR < 5 % 2 Penduduk yang menderita GAKY adalah penduduk yang menderita akibat kekurangan unsure Yodium pada tumbuh kembang manusia secara terus menerus 3 Desa / Kelurahan disurvei Garam Beryodium ; Cukup jelas 4 Desa / Kelurahan dengan Garam Beryodium Baik Garam Beryodium adalah Garam konsumsi yang komponen utamanya Natrium Chorida (NaCL) dan mengandung senyawa Yodium melalui proses Yodisasi serta memenuhi SNI Nomor : 01-3556-1994

1. K.

KEGIATAN LABORATORIUM 1. Pemeriksaaan Specimen Darah adalah jumlah pemeriksaan yang dilakukan terhadap specimen darah, meliputi jenis-jenis pemeriksaan, hitunf eritrosit, hirung lekosit, hitung jenis lekosit, laju endapan darah, golongan darah, kadar HB dan malaria. 2. Pemeriksaaan Specimen Air Seni (Urine) adalah jumlah pemeriksaan yang dilakukan terhadap specimen air seni / urine, meliputi jenis-jenis pemeriksaan ; makroskopi (warna,kejernihan), berat jenis,PH,sedimen, protein, bilirubin, glukosa/reduksi dan tes kehamilan. 3. Pemeriksaaan Specimen Tinja adalah jumlah pemeriksaan yang dilakukan terhadap specimen tinja, meliputi jenis-jenis pemeriksaan; makroskopis (warna, bau, konsistensi, darah, lendir, cacing dewasa), mikroskopi (epitel, eritrosit, lekosit, sisa makanan), telur/larva, cacing, amuba. 4. Pemeriksaaan Specimen Lain-lain adalah jumlah pemeriksaan yang dilakukan terhadap specimen lain-lain, meliputi jenis-jenis pemeriksaan ; TBC (sputum dahak), GO (apus vagina, apus uretra, secret prostat), kusta, jamur permukaan (kerokan kulit, kuku, rambut), trichomonas/candida.

1. L.

KEGIATAN TRANFUSI DARAH 1. Pasien yang di Transfusi Darah adalah Jumlah pasien/ penderita yang mendapatkan tranfusi darah selama satu bulan yang bersangkutan

p Obstetrik/Kebidanan, adalah jumlah pasien obstetrik/kebidanan yang mendapatkan transfusi darah p Cidera (injury), adalah adalah jumlah pasien Cidera (injury) yang mendapatkan transfusi darah p Pasien lain-lainnya darah adalah jumlah pasien Pasien lain-lainnya yang mendapatkan transfusi

1. 5.

LAPORAN SUMBER DAYA PUSKESMAS (LSD-1)

1.Luas Wilayah adalah informasi mengenai berapa luas wilayah kerja Puskesmas

yang dinyatakan dalam satuan kilo meter persegi (km2). 1.Desa/Kelurahan adalah informasi mengenai jumlah desa, kelurahan, dan nagari yang berada di wilayah kerja Puskesmas. 1.Desa/Kelurahan di Perbatasan Kab/Kota/Prov Lain; cukup jelas 1.Desa/Kelurahan Tertinggal / Terpencil adalah Daerah yang sulit dijangkau karena berbagai sebab seperti keadaan geografi (kepulauan, pegunungan, daratan, hutan dan rawa), transportasi dan social budaya. Penyebaran penduduk yang tidak merata dan terisolasi, jsarana dan prasarana transportasi yang terbatas, jarak dengan rumah sakit dan pelayanan kesehatan lainnya jauh dan adanya kesulitan dalam hal menarik serta merekrut tenaga kesehatan, secara sosial diakibatkan permasalahan kemiskinan. 1.Desa yang mempunyai Bidan Desa; cukup jelas Bidan di desa yaitu jumlah bidan yang dimiliki Puskesmas yang bersangkutan yang bertugas di desa-desa wilayah kerja Puskesmas tersebut. Bidan di desa adalah tenaga bidan yang ditempatkan di desa dalam rangka meningkatkan mutu dan jangkauan pelayanan kesehatan Puskesmas secara umum, mempunyai wilayah kerja satu atau dua desa. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan sesuai kompetensi dan sumber daya yang dimiliki, terutama pertolongan persalinan, kesehatan ibu dan dan anak dan membina peran serta masyarakat dalam 5 program terpadu Posyandu yaitu Kesehatan Ibu dan Anak, Keluarga Berencana, Perbaikan Gizi, Imunisasi, pencegahan dan penanggulangan penyakit termasuk penyuluhan kesehatan kepada masyarakat. 1.Kepala Keluarga/Rumah Tangga adalah seseorang atau sekelompok orang yang mendiami sebagian atau seluruh bangunan fisik atau sensus dan umumnya tinggal bersama serta makan dari satu dapur. Yang dimaksud dengan satu dapur adalah bahwa pembiayaan keperluan jika pengurusan kebutuhan sehari-hari dikelola bersama-sama.

1.Rumah yang ada; cukup jelas 1.Jumlah Penduduk ; cukup jelas 1.Penduduk Laki-laki; cukup jelas 1.Penduduk Perempuan; cukup jelas 1.Keluarga Miskin adalah kelompok keluarga yang dikategorikan miskin atau sangat miskin. pengelompokan ini didasarkan atas pendapatan keluarga dimaksud dalam sebulan. menurut badan pusat statistik (bps), 1.Penduduk Keluarga Miskin adalah Anggota keluarga yang ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan makanan maupun non makanan yang bersifat mendasar. Batas kecukupan pangan dihitung dari besarnya rupaih yang dikeluarkan untuk makanan yang memenuhi kebutuhan minimum energi 2100 kalori perkapita perhari. (BPS) 1.Bayi ( 0 – < 1 thn) adalah anak berumur 0 – 12 bulan 1.Bayi 6 bulan adalah anak berumur 6 bulan 1.Anak Balita ( 1 – < 5 thn) ; cukup jelas 1.Neonatal ( 0 – 28 hari) ; cukup jelas 1.Batita ( 0 – < 3 thn) adalah anak berumur 0 – 35 tahun 1.Balita ( 0 – < 5 thn ) adalah anak yang berumur 0 – 59 bulan 1.Ibu Bersalin; cukup jelas 1.Penduduk Wanita Usia Subur (WUS)-(15 – < 49 thn) ; cukup jelas 1.Penduduk Produktif ( 15 – 64 thn ) ; cukup jelas 1.Penduduk Usia Remaja ( 10 – 19 thn ) ; cukup jelas 1.Anak Pra Sekolah (4 – 5 tahun) / TK, RA; cukup jelas 1.Anak Sekolah SD Kelas 1 (6 – 7 tahun) / SD, MI; cukup jelas 1.Anak Sekolah (6 – 12 tahun) / SD, MI; cukup jelas 1.Remaja (12 – 15 tahun) / SMP; cukup jelas 1.Remaja (15 – 19 tahun) / SMA; cukup jelas

Rumah Bersalin 1. 1.Puskesmas Pembantu yaitu informasi mengenai jumlah Puskesmas Pembantu (Pustu) yang dimiliki Puskesmas yang bersangkutan.Wanita Usia Subur (WUS) adalah Wanita dalam usia reproduktif yaitu usia 15-49 tahun baik yang berstatus kawin.Praktek Dokter Spesialis 1. Pustu adalah unit pelayanan kesehatan yang sederhana dan berfungsi menunjang dan membantu memperluas jangkauan Puskesmas dengan melaksanakan kegiatankegiatan yang dilakukan Puskesmas dalam ruang lingkup wilayah yang lebih kecil serta jenis dan kompetensi pelayanan yang disesuaikan dengan kemampuan tenaga dan sarana yang tersedia. Lansia umur 45 – 59 tahun.Puskesmas dengan fasilitas eye center 1.Praktek Dokter Gigi 1.Praktek Gigi Spesialis 1.B K I A 1.Jenis Puskesmas adalah keterangan mengenai jenis dari Puskesmas dimaksud apakah Puskesmas Perawatan atau Puskesmas Non Perawatan atau lainnya berdasarkan SK Bupati atau SK Wakilkota.Praktek Bidan 1. dalam hal ini termasuk pasangan yang isterinya berumur lebih dari 49 tahun tetapi masih tetap mendapatkan menstruasi 1.Tempat Tidur Puksesmas DTP 1.Puskesmas Pembantu PHBS adalah jumlah Puskesmas Pembantu yang melaksanakan pengembangan perilaku hidup bersih dan sehat sesuai pendekatan tatanan institusi kesehatan (terdapat 15 variabel perilaku yang menjadi indicator PHBS). janda maupun yang belum menikah. Lansia umur > 70 tahun. 1. cukup jelas 1. serta aktif didalam peran serta masyarakat di wilayah kerja Puskesmas 1.Balai Pengobatan . cukup jelas c.Pasangan Usia Subur (PUS) adalah Pasangan yang isterinya berumur antara 1545 tahun.Lansia : a.Praktek Dokter Umum 1. Lansia umur 60 – 69 tahun.Puskesmas Keliling 1. 1. cukup jelas b.1.

h. d. f. 1. tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi.Sarana Rehabilitasi Korban Penyalahgunaan 1.1. Pengobatan KIA KB P2M Hygiene / Sanitasi / Kesling Penyuluhan Kes. / Cabang Penyalur Alkes 1. e. g.Balai Keluarga Berencana 1.Optikal adalah sarana kesehatan tempat praktek Refraksionis Optisien 1.Apotik adalah Tempat tertentu.Balai Kesehatan Gigi 1.Balai Kesehatan Umum 1.Kemampuan 21 Pemeriksaan Laboratorium minimal 1.Sub. I.Balai Kesehatan Mata adalah Unit Pelaksana Teknis Departemen Kesehatan atau Dinas Kesehatan Provinsi / Kab / Kota yang menyelenggarakan upaya kesehatan mata untuk mengatasi masalah kesehatan mata masyarakat secara menyeluruh dan terpadu dalam suatu wilayah kerja.Desa di Wilayah Kerja Puskesmas yang sulit terjangkau 1. perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat 1. Masyarakat Peningkatan Gizi Kesehatan sekolah . j. b. Masyarakat/Promkes Pencatatan Pelaporan Perawatan Kes.Laboratorium adalah Sarana Pemeriksaan penunjang diagnostik penyakit yang diwilayah Puskesmas baik Pemda maupun Swasta 1.Balai Kesehatan Imunisasi 1. c.Sarana Penyediaan Air Bersih Utama untuk Puskesmas 1.Obat/Narkotika 1.Pelayanan yang diberikan a.Industri Rumah Tangga Makanan 1.Toko Obat 1.

Kesehatan Kerja o.TTU yang ada 1. Ledeng b. Lain-lain 1. Kesehatan Olah Raga q. Pelayanan Rawat Inap s.TPS yang ada 1. Yankes Remaja ( PKPR ) xx. PAH f.Sarana Air Bersih yang ada a. PAH f. PMA e. Puskesmas Santun Lansia 1.TPA yang ada . Kesehatan Telinga r. PKRE w. Sumur Pompa (SPT) d. Sumur Gali c. PMA e. Kesehatan Gigi l. Kesehatan Tradisional u.TP 3 yang ada 1.Keluarga (KK) yang menggunakan Air Limbah 1.Keluarga (KK) yang menggunakan Jamban Keluarga 1. Sumur Pompa (SPT) d. Kegawatdaruratan x. Laboratorium Sederhana t. Pelayanan HIV/AIDS y.TPM yang ada 1. Kesehatan Mata n. Lain – lain 1. Poned v.k.Keluarga (KK) yang menggunakan Tempat Sampah 1. Kesehatan Jiwa m.Penduduk yang menggunakan Sarana Air Bersih a. Ledeng b. Sumur Gali c.

SMP / MTs yang ada 1. Dokter Kecil Sekolah di SD / MI g.Pondok Pesantren (Poskestren) 1. dan bersama masyarakat guna memperoleh .Sekolah yang ada Tim Pelaksana UKS 1. untuk.SMA / MTs yang dilayani UKS 1. Murid yang mendapatkan perawatan (UKGS) e. oleh.SD/ Sederajat yang ada a.Jumlah Santri Husada 1.1.SMA / MTs yang ada 1. Kader UKS di SD / MI 1. Murid Yang diperiksa UKGS d.Posyandu yang ada yaitu jumlah pos pelayanan terpadu (Posyandu) yang menjadi binaan Puskesmas yang bersangkutan.Kader Kesehatan Sekolah di SD / MI 1.MCK yang ada di sekolah 1.Pontren dengan Dana Sehat 1. SD/MI dengan Dokter Kecil f.Santri Husada 1. SD / MI yang dilayani UKS c.SPAL yang ada 1.Sekolah yang melaksanakan Dana Sehat/JPKM 1.SMP / MTs yang dilayani UKS 1.Murid SD UKGS 1.SD/MI dengan Sikat Gigi Masal minimal 8 kali setahun 1. Jumlah murid b. Posyandu adalah salah satu wadah peran serta masyarakat yang dikelola dan diselenggarakan dari.Pontren dengan Poskestren 1.

Mandiri adalah Adanya tambahan dana sehat 1.Kader Terlatih 1. untuk dan bersama masyarakat setempat atas dasar musyawarah.Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) yaitu informasi mengenai jumlah pos kesehatan desa yang menjadi binaan Puskesmas yang bersangkutan. penimbangan kurang dari 8 kali b. sarana. preventif.Kader yang ada 1. Kegiatan tersebut dalam pelaksanaannya didukung oleh unsur-unsur tenaga. Di samping pertolongan persalinan juga dilakukan pelayanan antenatal dan pelayanan kesehatan lain sesuai kebutuhan masyarakat dan kompentensi teknis bidan tersebut.Kader Aktif 1.pelayanan kesehatan dasar dan memantau pertumbuhan balita dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia secara dini. Madya adalah Jumlah kader 15 orang. a. Kesehatan yang dilaksanakan adalah pelayanan kesehatan dasar. Purnama adalah Ada program tambahan di Posyandu d. kuratif dan rehabilitatif yang dipadukan dengan upaya kesehatan lain yang berwawasan kesehatan dan berbasis masyarakat setempat. dengan bantuan dari tenaga profesional kesehatan dan dukungan sektor terkait termasuk swasta dalam kerangka desa siaga demi terwujudnya desa sehat. mulai dari upaya promotif. 1. Polindes adalah bangunan yang dibangun dengan bantuan dana pemerintah dan partisipasi masyarakat desa untuk tempat pertolongan persalinan dan pemondokan ibu bersalin. sekaligus tempat tinggal Bidan di desa.Tenaga Penyuluhan Kesehatan Jiwa 1.Tenaga Pengobatan Tradisional yang ada 1. Pos obat desa adalah wujud peran serta masyarakat dalam hal pengobatan sederhana terutama bagi pengobatan sederhana. prasarana dan biaya yang dihimpun dari masyarakat. penimbangan lebih dari 8. cakupan < 50% c. Pratama adalah Jumlah kader kurang dari 5. terutama bagi penyakit yang sering terjadi pada masyarakat setempat .Posyandu dengan UKGMD 1. Pos Kesehatan Desa adalah wujud upaya kesehatan bersumber daya masyarakat yang dibentuk oleh.Dukun Bayi yang terlatih 1. swasta.Pondok Bersalin (Polindes) yaitu informasi mengenai jumlah pondok bersalin desa (Polindes) yang menjadi binaan Puskesmas yang bersangkutan.Pos Obat Desa (POD) yaitu informasi mengenai jumlah pos obat desa (POD) yang menjadi binaan Puskesmas yang bersangkutan. pemerintah 1.Dukun Bayi yang yang ada 1.

Adanya Sistem Kesiapsiagaan penanggulangan kegawatdaruratan dan bencana berbasis masyarakat 1.1. Adanya Forum Masyarakat Desa 1. Madya c. secara mandiri. Adanya Sistem Pengamatan Penyakit dan Faktor Resiko berbasis Masyarakat (Surveilans erbasis masyarakat) 1.Tanaman Obat Keluarga (Toga) 1. Adanya upaya menciptakan dan Strata Pratama V V V V Strata Madya V V V V Strata Utama V V V V V* V V* V* V* V V V .Kader Lansia yang ada 1.Kelompok Lansia / Paguyuban / Posbindu yang ada 1. Adanya upaya menciptakan dan terwujudnya lingkungan sehat 1. Ada 8 Indikator Desa Siaga yaitu : Indikator 1. Pratama b.Desa Siaga / Kelurahan Siaga adalah Desa/Kelurahan yang penduduknya memiliki kesiapansumber daya dan kemampuan kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan bencana dan kegawatdaruratan kesehatan. Purnama d. Adanya Sarana/fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan system rujukan 1.Posbindu yang ada a.Panti Wreda yang ada 1.Wahana Pelayanan Kesehatan dasar 1. Adanya upaya menciptakan dan terwujudnya PHBS 1.Keluarga yang Sadar Gizi (Kadarzi) 1. Mandiri 1. Adanya UKBM Siaga Maternal dan Posyandu yang dikembangkan 1.

Pekerja formal X 100% . teratur. penanggulangan bencana dan kegawatdaruratan. Pos UKK adalah wadah dari serangkaian upaya pemeliharaan kesehatan pekerja yang terencana.Toma/kader Desa Siaga aktif 1. 1.Pos Upaya Kesehatan Kerja (UKK) yaitu informasi mengenai jumlah pos usaha kesehatan kerja (UKK) yang menjadi binaan Puskesmas yang bersangkutan. penyakit.Mitra Jejaring Promkes 1.Tokoh Masyarakat desa 1.Desa dengan Dana Sehat 1.Desa Siaga / Kelurahan Siaga Aktif adalah desa yang mempunyai Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) atau UKBM lainnya yang buka setiap hari dan berfungsi sebagai pemberi pelayanan kesehatan dasar.Badan Penyelenggaraan Dana Sehat 1. surveilance berbasis masyarakat yang meliputi pemantauan pertumbuhan (gizi).Indikator terwujudnya Kadarzi Keterangan : ¨ Strata Pratama Strata Pratama Strata Madya Strata Utama : Bila memenuhi 4 indikator nominal (indikator 1 s/d 4) : Bila memenuhi 4 indikator minimal dan 2 indikator ¨ Strata Madya tambahan (*) ¨ Strata Utama : Bila memenuhi 8 indikator ( indikator 1 s/d 8 ) 1.Toma / Kader yang dilatih Desa Siaga 1. dan berkesinambungan yang diselenggarakan oleh masyarakat pekerja atau kelompok pekerja yang memiliki jenis kegiatan usaha yang sama. lingkungan dan perilaku sehingga masyarakatnya menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Cakupan Desa Siaga Aktif : Rumus perhitungan adalah : Jumlah Desa Siaga Yang Aktif Jumlah Desa Siaga yang dibentuk 1.Fasilitator Desa Siaga 1.

Makan buah dan sayura setiap hari 9.Pekerja Formal yang mendapat pelayan kesehatan 1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan 2. Menggunakan Jamban Sehat 7. Tidak merokok di dalam rumah 1. Memberi bayi ASI Eklusif 3. Menggunakan Air Bersih 5.Perusahaan formal yang memiliki klinik kesehatan 1. serta aktif didalam peran serta masyarakat di wilayah kerja Puskesmas.Tempat Tempat Umum PHBS adalah Jumlah Tempat – tempat Umum yang melaksanakan pengembangan perilaku hidup bersih dan sehat sesuai pendekatan tatanan institusi kesehatan (terdapat 15 variabel perilaku yang menjadi indicator PHBS).1.Pos Saka Bhakti Husada 1.Kwaran dengan Saka Bhakti Husada 1.Rumah tangga PHBS adalah Jumlah Rumah Tangga yang melaksanakan pengembangan perilaku hidup bersih dan sehat sesuai pendekatan tatanan institusi kesehatan (terdapat 10 variabel perilaku yang menjadi indicator PHBS).Pekerja informal 1. serta aktif didalam peran serta masyarakat di wilayah kerja Puskesmas .Jumlah Anggota Saka Bhakti Husada 1. Melakukan Aktifitas fisik setiap hari 10.Kwartir ranting 1. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun 6. 1. serta aktif .Perusahaan formal 1. 1. Menimbang Bayi dan Balita 4. Memberantas Jentik di rumah 8.Pekerja informal yang mendapat pelayanan kesehatan 1.Kantor/Instansi PHBS adalah Jumlah Kantor / Instansi yang melaksanakan pengembangan perilaku hidup bersih dan sehat sesuai pendekatan tatanan institusi kesehatan (terdapat 18 variabel perilaku yang menjadi indicator PHBS).

Kantor/Intitusi Pelayanan Kesehatan PHBS adalah Jumlah Kantor / Instansipelayanan kesehatan yang melaksanakan pengembangan perilaku hidup bersih dan sehat sesuai pendekatan tatanan institusi kesehatan (terdapat 18 variabel perilaku yang menjadi indicator PHBS). cukup jelas .Hotel.Industri Makanan. cukup jelas 1. cukup jelas 1.Jasa Boga. serta aktif didalam peran serta masyarakat di wilayah kerja Puskesmas 1. cukup jelas 1. serta aktif didalam peran serta masyarakat di wilayah kerja Puskesmas 1. cukup jelas 1. cukup jelas 1.Pedagang Keliling.Sekolah PHBS adalah jumlah Sekolah yang melaksanakan pengembangan perilaku hidup bersih dan sehat sesuai pendekatan tatanan institusi kesehatan (terdapat 18 variabel perilaku yang menjadi indicator PHBS).didalam peran serta masyarakat di wilayah kerja Puskesmas 1.Kolam Renang/Pemandian Umum. cukup jelas 1.Toko Makanan.Pasar.Terminal PBHS 1. cukup jelas 1. cukup jelas 1.Desa yang mencapai UCI 1.Kantin/Warung Makan.Desa/Kelurahan Endemis DBD 1. serta aktif didalam peran serta masyarakat di wilayah kerja Puskesmas 1.Desa/Kelurahan Sporadis DBD 1.Restoran. cukup jelas 1.Tempat Ibadah PHBS jumlah Tempat Ibadah yang melaksanakan pengembangan perilaku hidup bersih dan sehat sesuai pendekatan tatanan institusi kesehatan (terdapat 8 variabel perilaku yang menjadi indicator PHBS).Rumah Makan.Pengrajin Makanan. cukup jelas 1.Kecamatan yang mencapai UCI 1.

Kualitas data dan informasi tersebut sangat erat hubungannya dengan standarisasi pengertian tentang data yang ada dan data yang dikumpulkan serta dilaporkan . cukup jelas 1. cukup jelas 1.1.Perkantoran/Balai Desa. tepat waktu dan dapat dipercaya. cukup jelas BAB VI PENUTUP Pedoman Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas (SP3) dapat bermanfaat apabila semua pihak menyadari bahwa kebutuhan akan data dan informasi untuk penyusunan.Terminal. pengawasan/pengendalian dalam melaksanakan.Industri yang ada. serta penilaian suatu program kesehatan hendaknya tepat guna.

pedoman ini diakui masih banyak kekurangan dan masih memerlukan penjelasan yang lebih mendalam mengenai berbagai aspek pelaksanaan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas.Betapapun. namun demikian diharapkan pedoman ini dapat diterjemahkan dengan persepsi yang sama dan dapat memberikan gambaran yang jelas dan mengurai salah penafsiran baik oleh pengguna data dan informasi maupun Puskesmas sebagai sumber data. peran dinas kesehatan provinsi dan dinas kesehatan kabupaten/kota dalam pengorganisasian pelaksanaan pendataan Puskesmas menjadi sangat strategis. Demikian pula — sebagai landasan pijak — koordinasi dan komitmen para stakeholder di pusat dan daerah merupakan kunci keberhasilan pelaksanaan pendataan Puskesmas. sehingga dapat dijadikan acuan yang baik dalam pelaksanaan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas di Provinsi Jawa Barat Di sini. SISTEM PENCATATAN DAN PELAPORAN PUSKESMAS (SP3) .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful