BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Beberapa jenis tumbuhan dapat digunakan sebagai sumber bahan-bahan alami untuk pembuatan obat, pestisida, parfum, penyedap rasa, dan zat tambahan makanan. Kebutuhan akan bahan obat semakin meningkat, hal ini menyebabkan banyak dilakukannya penelitian-penelitian yang mengarah pada metode yang dapat menghasilkan bahan bioaktif sebagai bahan dasar pembuatan obat secara efektif dan efesien. Bahan bioaktif yang terdapat pada tumbuhan umumnya merupakan metabolit sekunder yaitu metabolisme sekunder. Secara konvensional, metabolit sekunder dapat diperoleh dengan cara mengekstraksi langsung dari organ tumbuhan. Namun cara tersebut membutuhkan budidaya tanaman dalam skala besar dan biaya yang besar pula. Permasalahan yang kerap muncul dalam industri farmasi adalah pengadaan bahan baku obat. Salah satu sumber bahan baku obat tersebut berasal dari metabolit sekunder yang diproduksi oleh tanaman. Namun, produksi metabolit sekunder secara konvensional pada tanaman biasanya memiliki kadar yang sedikit. Metabolit sekunder merupakan senyawa yang tidak terlibat langsung dalam pertumbuhan, perkembangan, atau reproduksi mahluk hidup yang fungsinya masih belum diketahui secara pasti. Senyawa ini biasa digunakan untuk pertahanan dan perkembangbiakan tanaman. Kebanyakan senyawa metabolit sekunder ini beracun bagi hewan. Penggolongan metabolit sekunder berdasarkan biosintesisnya meliputi senyawa alkaloid, fenol, dan terpenoid (Anonim, 2010). Metabolit sekunder adalah hasil samping dalam proses metabolisme primer di dalam sel. Contoh dari metabolit sekunder yang telah diketahui melalui berbagai penelitian antara lain nicotine cocaine theobromine sinigrin menthol linalool parthenolid gossypol digitogenin carotene rubber spinasterol caffeic, chlorogenic gallotannin, condensed tannin anthocyanin, catechin dan lignin. Hal-hal tersebut merupakan kendala, terutama jika zat bioaktif itu dibutuhkan dalam jumlah yang cukup banyak maka dibutuhkan tanaman yang banyak pula. Oleh sebab itu untuk mengatasi masalah tersebut, kultur jaringan dapat digunakan sebagai salah satu alternatif untuk memproduksi bahan bioaktif dalam tumbuhan. Keuntungan penggunaan teknik kultur jaringan adalah metabolit sekunder yang dihasilkan mudah dimurnikan karena sel-sel yang dihasilkan
1

tidak banyak mengandung pigmen. Hal ini dapat mengurangi biaya pemurnian menjadi lebih murah. Selain itu dengan teknik kultur jaringan tidak membutuhkan lahan yang luas, bahan yang banyak, dan dapat diproduksi secara terus-menerus dan waktu yang dibutuhkan untuk siklus sel lebih cepat. Metode bioteknologi telah terbukti dapat meningkatkan produksi beberapa metabolit sekunder pada tanaman. Salah satu metode bioteknologi yang dimanfaatkan untuk memproduksi metabolit sekunder adalah kultur jaringan tanaman. Kultur jaringan adalah budidaya organ, jaringan, sel atau bagian sel di dalam suatu media yang sesuai secara aseptik dengan tujuan tertentu yang sifat-sifatnya akan sama dengan sifat genetik induknya. Prisip budidaya melalui kultur jaringan bertitik tolak dari teori sel yang ditemukan oleh Schleiden dan Schwann, yaitu bahwa sel mempunyai kemampuan autonom, bahkan mempunyai sifat totipotensi. Totipotensi adalah kemampuan tiap-tiap sel yang diambil dari bagian manapun, yang jika diletakkan pada lingkungan sesuai akan tumbuh menjadi tanaman yang sempurna. Menurut Mantell dan Smith (1998), kandungan metabolit sekunder dalam beberapa metode kultur jaringan masih relatif rendah. Oleh karena itu, diperlukan metode dalam kultur jaringan yang dapat meningkatkan kandungan metabolit sekunder termasuk bahan bioaktif tumbuhan. Salah satu teknik yang telah dikembangkan adalah teknik elisitasi.

Keuntungan Produksi Metabolit Sekunder dengan Kultur Jaringan Tanaman
1. Dapat mengurangi pengaruh faktor lingkungan 2. Dapat mengendalikan faktor cahaya, suhu, campuran gas, nutrisi. 3. Dapat dikuranginya faktor saling mempengaruhi antar organ 4. Dapat dicegahnya pengaruh organisme lain seperti kapang, bakteri, serangga. 5. Dapat digunakan untuk pengawetan plasma nutfah → pemuliaan tanaman 6. Dapat digunakan untuk produksi senyawa dengan nilai ekonomis tinggi.

Produksi senyawa bioaktif melalui kultur jaringan dapat ditingkatkan dengan elisitasi. Elisitasi merupakan metode yang mengacu pada fenomena alam dalam mekanisme pertahanan inang terhadap patogennya. Interaksi antara patogen dengan tumbuhan inang yang menginduksi pembentukan fitoaleksin pada tumbuhan merupakan respon terhadap serangan mikroba patogen (Vanconsuelo & Boland 2007, Yoshikawa & Sugimito 1993). Senyawa yang berperan dalam proses elisitasi disebut elisitor.
2

Kultur jaringan merupakan salah satu metode perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kultur jaringan tertua dilakukan pada biji anggrek dengan tujuan untuk mengecambahkannya dalam media yang kaya nutrisi karena biji dari anggrek tidak mempunyai cadangan makanan. Kultur jaringan terus berkembang dari mengkulturkan biji berkembang dengan mengkulturkan jaringan dan terus berkembang hingga mampu mengkulturkan satu sel dari tanaman. Penggunaan kultur jaringan mempunyai kelebihan yaitu mampu memproduksi bibit yang seragam dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang relatifr singkat. Oleh karena itu kultur jaringan sering dijadikan solusi sebagai metode perbanyakana tanaman dan juga dapat digunakan sebagai suatu metode penyimpanan plasma nutfah yang tidak membutuhkan temapat yang besar. Keberhasilan darai kultur jaringan sangat bergantung dari ketepatan konsentrasi nutrisi yang berada di dalam media kultur. Ketepatan konsentrasi ini menyangkut pada ketersediaan nutrisi bagi eksplan tanaman. Kelebihan nutrisi dari tanaman akan menyebabkan tanaman mengalami keracunan unsur hara. Oleh karena itu, pembuatan larutan stock dan sterilisasi media dianggap penting untuk diketahui sebagai sarana penenunjang kebutuhan informasi akan kultur jaringan. 1.2 Tujuan Percobaan Tujuan dari praktikum ini adalah :      Mengetahui prosedur pembuatan larutan stock Mengetahui langkah-langkah dalam pembuatan media kultur jaringan Mengetahui prosedur sterilisasi alat dan media kultur Tujuan dari praktikum ini adalah Mengetahui teknik kultur jaringan wortel, nanas, dan rosella Mengetahui cara melakukan subkultur pada eksplan

3

BAB II PEMBAHASAN. 2.1 Tinjauan Pustaka Kultur Jaringan

Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap. Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbayakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril. Beberapa pengertian lain dari kultur jaringan antara lain: dalam bahasa Inggris, kultur jaringan disebut tissue culture. Tissue atau jaringan adalah sekelompok sel yang mempunyai bentuk dan fungsi yang sama, sedangkan culture adalah budaya (Nugroho & Sugito, 1995). Sedangkan dalam Yusnita , 2004 menyatakan bahwa kultur jaringan tanaman merupakan teknik menumbuhkembangkan bagian-bagian tanaman, baik berupa sel, jaringan atau organ dalam kondisi aseptic secara invitro. Teknik kultur jaringan bukanlah suatu cabang ilmu tersendiri, melainkan merupakan suatu teknik yang yang mempunyai kegunaan sangat luas dalam penerapan dan pengembangan berbagai cabang ilmu (Sumadi, 2007). Berdasarkan bagian tanaman yang dikulturkan, secara lebih spesifik terdapat beberapa tipe kultur, yaitu kultur kalus, kultur suspensi sel, kultur akar, kultur pucuk tunas, kultur embrio, kultur ovulum, kultur anther dan kultur kuncup bunga (Yusnita, 2004). Ilmuwan yang pertama kali menemukan tentang teknik kultur jaringan adalah Schleiden dan Schwann yaitu dengan menggunakan teori totipotensi. Dalam teorinya Schleiden dan Schwann menyatakan bahwa “sel mempunyai kemampuan otonom (mampu tumbuh mandiri), bahkan mempunyai kemampuan totipotensi (total potensial genetik). Totipotensi adalah kemampuan setiap sel, dari bagian manapun sel tersebut diambil, apabila diletakkan dalam lingkungan yang sesuai akan menjadi tanaman yang sempurna. Kultur jaringan akan berhasil dengan baik jika dipenuhi beberapa syarat yaitu pemilihan eksplan, penggunaan media yang cocok, keadaan yang aseptis dan pengaturan udara yang baik (Nugroho & Sugito, 1995). Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif. Bibit yang dihasilkan
4

hara-hara makro dan mikro. zat pengatur tumbuh. agar-agar atau gelrite sebagai pemadat media (Yusnita. Bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan kultur jaringan adalah tunas. Komponen media kultur yang lengkap sebagai berikut. 3) Sterilisasi Sterilisasi merupakan pembersihan alat. kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin. vitamin. mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang singkat.dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan. asam amino. suplemen berupa bahan-bahan alami jika diperlukan. Cara untuk membebaskan ruangan. dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas. Tahapan yang dilakukan dalam perbanyakan tanaman dengan teknik kultur jaringan adalah: 1) Pembuatan media 2) Inisiasi 3) Sterilisasi 4) Multiplikasi 5) Pengakaran 6) Aklimatisasi 1) Pembuatan media Media kultur jaringan merupakan salah satu faktor penunjang keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan. tempat maupun eksplan yang akan digunakan agar terhindar dari berbagai mikrob yang dapat mengganggu kelancaran selama proses pengkulturan. maupun media eksplan dari berbagai mikroorganisme. 2004). kecepatan tumbuh bibit lebih cepat dibandingkan dengan perbanyakan secara konvensional. 5 . dan bahan organik lain. 2) Inisiasi Inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan dikulturkan. gula umumnya sukrosa sebagai sumber energi. masing-masing menggunakan cara-cara yang sangat berbeda. antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya. alat. air destilata (aquades) air bebas ion sebagai pelarut atau solven.

yaitu dengan memberikan sungkup. senyawa kimia yang digunakan adalah kanamisin dan kimisitin. Sedangkan sebagai antibiotik. dan hipoklorit. 5) Pengakaran Pengakaran adalah fase dimana eksplan akan menunjukkan adanya pertumbuhan akar yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang dilakukan mulai berjalan dengan baik. menggunakan sinar UV atau sinar gamma. sterilisasi dilakukan dengan menggunakan udara keringdan panas. 6) Aklimatisasi Aklimatisasi adalah kegiatan memindahkan eksplan keluar dari ruangan aseptic ke bedeng. Secara kimiawi. Sebagai antiseptik. digunakan sterilisasi dengan pengapian atau pemijaran.Secara fisis. dan sinar UV. Tabung reaksi yang telah ditanami ekplan diletakkan pada rak-rak dan ditempatkan di tempat yang steril dengan suhu kamar. Kegiatan ini dilakukan di laminar flow untuk menghindari adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan eksplan. dilakukan dengan menggunakan pemanasann oven. sterilisasi dilakukan dengan menggunakan senyawa-senyawa kimia. 4) Multiplikasi Multiplikasi merupakan kegiatan dalam memperbanyak calon tanaman dengan menanam eksplan pada media. alkohol. Sedangkan untuk alat-alat yang berasal dari logam. menggunakan filtrasi. menggunakan uap air bertekanan. Eksplan yang terkontaminasi akan menunjukkan gejala seperti berwarna putih atau biru (disebabkan jamur) atau busuk (disebabkan bakteri). senyawa kimia yang digunakan antara lain: etilen oksida. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap. 6 . uap air panas. autoklaf. Pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan akar serta untuk melihat adanya kontaminasi oleh bakteri ataupun jamur. serta bisa pula menggunakan pemijaran atau pengganggangan. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar. Untuk sterilisasi alat. Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit generatif. spiritus.

Menghasilkan tanaman yang bebas virus 3. Pelaksanaan teknik ini memerlukan berbagai prasyarat untuk mendukung kehidupan jaringan yang dibiakkan. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral. dan hormon. akan megakibatkan timbulnya suatu awan debu yang hampir tidak tampak. membantu pemulian tanaman untuk mempercepat pencapaian tujuan penelitian pada tanaman yang biasa diperbanyak secara vegetatif (Anonim. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Media adalah tempat bagi jaringan untuk tumbuh dan mengambil nutrisi yang mendukung kehidupan jaringan. Apabila kita melakukan gerakan-gerakan selama bekerja di dalam laboratorium. Mengatasi inkompabilitas pada fertilisasi lewat fusi protoplas Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Transformasi gen lewat kultur jaringan atau kultur protoplas 7. Media tumbuh menyediakan berbagai bahan yang diperlukan jaringan untuk hidup dan memperbanyak dirinya (Hendra. 2008). vitamin. diperlukan juga bahan tambahan seperti agar. Produksi metabolit sekunder 6. 2008). 7 . baik jenisnya maupun jumlahnya. 2007). Membantu pemuliaann tanaman 4. tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. dan lain-lain. gula. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf (Anonim. Konservasi dan preservasi plasma nutfah 5. antara lain: 1. Tujuan kegiatan kultur jaringan adalah perbanyakan massal tanaman yang biasanya sangat lambat dengan metoda konvensional dalam jumlah yang besar dalam waktu yang singkat. Debu tersebut mengandung spora yang sangat besar jumlahnya. Selain itu. Yang paling esensial adalah wadah dan media tumbuh yang steril. selain itu diperoleh tanaman yang bebas virus.Kultur jaringan memiliki berbagai manfaat. Propagasi dalam rangka menyediakan bibit yang unggul 2.

Suatu aturan sederhana yang mungkin dapat digunakan sebagai pegangan adalah bahwa kita harus menggunakan tanaman sumber eksplan yang sehat dan tumbuh kuat.1. spora kan tumbuh dengan cepat. fungisida selama 3 bulan setiap hari dengan konsentrasi 150-200 mg/l (Anonim. tetapi meskipun demikian. Ketidaktepatan ukuran dapat menyebabkan terjadinya proses yang dikehendaki. Pada umumnya untuk suatu keperluan. 1988). Konsentrasi dan jumlah hormon ini sangat tergant ung pada faktor-faktor sepert umur bahan stek. Cara penggulangannya dilakukan treatment pada tanaman yang akan dijadikan sebagai sumber eksplan. Untuk melakukan perubahan ini diperlukan acuan yang mantap atau pengalaman (Rahardja. Berdasarkan pengalaman kelompok auksin yang baik untuk perakaran terutama untuk tanaman kehutanan Dipterocarpaceae adalah dari kelompok IBA (Indole Butyric Acid) (Irwanto. cara pemberian hormon. Treatment-nya adalah dengan mengisolasi eksplan. Dalam beberapa hari spora akan tumbuh menjadi koloni yang terlihat oleh mata biasa (Wetherel. Walaupun sterilisasi telah dilakukan dengan berbagai cara. dengan mengganti zat-zat tertentu. 2008).Bila spora ini kontak dengan media kultur yang digunakan dalam pekerjaan tersebut. diperlukan penimbangan dan penakaran bahan secara tepat. namun kadang-kadang kontaminasi tetap saja terjadi.1 KULTUR JARINGAN WORTEL 8 . 1988). Kontaminasi dari eksplanlah yang paling sulit diatasi karena dalam hal ini metode sterilisasi harus selektif. disemprot dengan bakterisida. Sehingga kadang-kadang perlu melakukan langkah coba-coba bila akan mengkulturkan suatu species atau varietas tanaman yang belum pernah dilakukan sebelumnya (Wetherel. 2001). media yang telah dirumuskan dapat diubah atau diperbarui. 1982). banyak pengecualian-pengecualiannya. memilih jaringan yang muda dan menggunakan eksplan yang cukup besar. 1988). jenis tanaman dan sistim stek yang digunakan (Yasman dan Smits. waktu/lamanya pemberian hormon. Dalam hal ini dikarenakan pada eksplan telah terjadi kontaminasi internal. Untuk membuat media dengan jumlah zat seperti yang ditentukan. Proses pemberian hormon harus memperhatikan jumlah dan konsentrasinya agar didapatkan sistim perakaran yang baik dalam waktu relatif singkat. 2. atau menambah zat lain.

Wortel (Daucus carota) adalah tumbuhan sayur yang ditanam sepanjang tahun. morfogenesis akar dan tunas serta embriogenesis. Zat pengatur tumbuh dari golongan auksin berperan antara lain dalam pembentukan kalus. kurang lebih pada ketinggian 1200 ineter di atas permukaan laut. ukurannya keci. NAA atau dikombinasikan dengan sitokinin dengan konsentrasi rendah) umumnya digunakan untuk induksi kalus embriogenik. jenis dan konsentrasi hormon. Tanaman wortel diperbanyak dengan bijinya.jenis chantenang. Kebutuhan benih wortel untuk setiap hektarnya sekitar 1. Benih wortel dapat diperoleh dengan cara membeli di kios atau toko-toko pertanian. 2. di antaranya: Wortel (Daucus carota.5 kg-3 kg (Ali et al.4-D. yakni wortel yang memiliki umbi akar berbentuk bulat panjang dan rasanya manis. Menurut para botanis. wortel (Daucus carota) dapat dibedakan atas beberapa jenis. Jenis imperator. jenis asam amino serta rasio auksin dan sitokinin sangat menentukan dalam menginduksi pembentukan kalus ( Purnamaningsih. Perbanyakan secara kultur in vitro pada wortel dilakukan untuk memperbanyak tanaman dan juga sebagai bahan pelatihan kultur jaringan karena perlakuan sterilisasi dan penanaman relatif lebih mudah. . Penggunaan auksin dengan daya aktivitas kuat (antara lain 2. 2006). Pemilihan konsentrasi dan jenis auksin ditentukan antara lain oleh tipe pertumbuhan dan perkembangan eksplan yang dikehendaki. berbulu dan saling melekat satu sama lain.2 KULTUR JARINGAN NANAS 9 . Setiap 1 gr benih terdapat 200 biji. yakni wortel yang memiliki umbi akar berukuran panjang dengan ujung meruncing dan rasanya kurang manis. Tumbuhan wortel mernbutuhkan sinar matahari dan dapat turnbuh pada sernua musim. Biji untuk penanaman ini dikenal dengan istilah benih.2. Selain itu. Benih wortel berwarna cokelat. Terutama di daerah pegunungan yang memiliki suhu udara dingin dan lembab.2003). Linn.).

fungisida selama 3 bulan setiap hari dengan konsentrasi 150-200 mg/l (Anonim. dimana setiap satu buku dari mahkota atau sulur yang masak dapat memproduksi bibit merupakan teknik yang berguna untuk menyediakan lebih dari 40 bibit per tunas. Cara penggulangannya dilakukan treatment pada tanaman yang akan dijadikan sebagai sumber eksplan. Berdasarkan pengalaman kelompok auksin yang baik untuk perakaran terutama untuk tanaman kehutanan Dipterocarpaceae adalah dari kelompok IBA (Indole Butyric Acid) (Irwanto. terutama dari mahkota daunnya. 1988). Dalam hal ini dikarenakan pada eksplan telah terjadi kontaminasi internal. Proses pemberian hormon harus memperhatikan jumlah dan konsentrasinya agar didapatkan sistim perakaran yang baik dalam waktu relatif singkat. 2001). Penanaman dengan kultur jaringan telah 10 . Secara umum bahan penanaman yang baik digunakan untuk pertumbuhan dan pembuahan yang seragam. campuran tipe tunas dapat digunakan. Propagasi vegetatif dengan tunas daun.Suatu aturan sederhana yang mungkin dapat digunakan sebagai pegangan adalah bahwa kita harus menggunakan tanaman sumber eksplan yang sehat dan tumbuh kuat. namun kadang-kadang kontaminasi tetap saja terjadi. memilih jaringan yang muda dan menggunakan eksplan yang cukup besar. Sehingga kadang-kadang perlu melakukan langkah coba-coba bila akan mengkulturkan suatu species atau varietas tanaman yang belum pernah dilakukan sebelumnya (Wetherel. Nanas diperbanyak dengan mahkota atau stek. 2008). tetapi meskipun demikian. Walaupun sterilisasi telah dilakukan dengan berbagai cara. waktu/lamanya pemberian hormon. cara pemberian hormon. Untuk nanas yang ditanam untuk pasar buah segar dan dimana semua bahan tanam bernilai. Konsentrasi dan jumlah hormon ini sangat tergant ung pada faktor-faktor sepert umur bahan stek. Treatment-nya adalah dengan mengisolasi eksplan. banyak pengecualian-pengecualiannya. Kontaminasi dari eksplanlah yang paling sulit diatasi karena dalam hal ini metode sterilisasi harus selektif. 1988). disemprot dengan bakterisida. jenis tanaman dan sistim stek yang digunakan (Yasman dan Smits.

Penanaman biasanya dalam 2 garis dengan parit yang lebar (Anonim. Masalah yang dihadapi dalam perbanyakan vegetatif nanas Si Madu secara konvensional adalah timbulnya keragaman sehingga sifat pohon induknya tidak dapat dipertahankan. 2006) 2.dikembangkan. 2003). Penggunaan auksin dengan daya aktivitas kuat (antara lain 2. Dalam hal ini tanaman (planlet) yang dihasilkan dari jalur embriogenesis berasal dari satu sel sehingga terjadinya khimera dapat dihindari.3 SUBKULTUR Subkultur merupakan salah satu tahap dalam perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan. Pada dasarnya subkultur merupakan tahap kegiatan yang relatif mudah dibandingkan dengan kegiatan lain dalam kultur jaringan.2. membelah dan menanam kembali eksplan yang telah tumbuh sehingga jumlah tanaman akan bertambah banyak. Sedangkan prospek penerapan teknik kultur in vitro tanaman nanas di Indonesia cukup bagus terutama untuk mengatasi permasalahan perbanyakan nanas Si Madu yang kemungkinan me-rupakan pertumbuhan sel mutan dari tanaman khimera. terutama introduksi baru klon atau hibrid. Subkultur dilakukan karena beberapa alasan berikut: o Tanaman sudah memenuhi atau sudah setinggi botol o Tanaman sudah berada lama didalam botol sehingga pertumbuhannya berkurang o Tanaman mulai kekurangan hara o Media dalam botol sudah mongering 11 . karakteristik nanas Si Madu diharapkan dapat dipertahankan. Pemilihan konsentrasi dan jenis auksin ditentukan antara lain oleh tipe pertumbuhan dan perkembangan eksplan yang dikehendaki. jenis asam amino serta rasio auksin dan sitokinin sangat menentukan dalam menginduksi pembentukan kalus ( Purnamaningsih. Selain itu. NAA atau dikombinasikan dengan sitokinin dengan konsentrasi rendah) umumnya digunakan untuk induksi kalus embriogenik. morfogenesis akar dan tunas serta embriogenesis. jenis dan konsentrasi hormon. Zat pengatur tumbuh dari golongan auksin berperan antara lain dalam pembentukan kalus. Melalui jalur embrio-genesis.4-D. Pada dasarnya subkultur kita memotong.

maka subkultur dapat dilakukan dengan memisahkan anakan tanaman dari koloninya atau melakukan penjarangan. Sehingga cara dan waktu subkultur juga berbeda-beda. Contoh tanamannya adalah anggrek. 2008). Pertumbuhan tanaman sudah memenuhi botol atau tabung sehingga berdesakan. Terjadi pencoklatan pada media sehingga bila dibiarkan akan mematikan jaringan. 2009) Untuk tanaman yang diperbanyak dengan multifikasi tunas.1998) TAHAPAN SUBKULTUR Tahapan subkultur meliputi : 1. ALASAN DILAKUKAN SUBKULTUR        Unsur hara dalammedia sudah banyak berkurang. Contoh tanamannya adalah jati. Tanaman yang relatif lama adalah aglaonema. (Pelatihan. dan caladium. menjadi cair karena penurunan pH oleh tanaman. pisang. Untuk tanaman yang tipe pertumbuhannya dengan pemanjangan batang maka subkultur bisa dilakukan dengan memotong tanaman perruas tanaman yang ada. Nutrisi dalam media menguap karena kering. dan tanaman lain yang memiliki karakteristik pertumbuhan yang sama. Regenerasi 12 . alokasia. maka subkulturnya cukup dilakukan dengan dipisahkan dari induknya dan ditanam kembali secara terpisah. akibatnya media mengandung garam dan gula tinggi. Sudah saatnya dipindah untuk diperbanyak atau diakarkan. Tanaman yang harus segera atau relatif cepat disubkultur adalah jenis pisang-pisangan.Kegiatan subkultur dilakukan sesuai dengan jenis tanaman yang dikulturkan. Subkultur adalah memindahkan eksplan ke media multiplikasi (tujuan perbanyakan atau pengakaran) (Andri. Media berubah. dan tanaman lain yang satu tipe pertumbuhan. krisan. Namun jika ada planlet yang masih terlalu kecil dan beresiko tinggi untuk dipotong. Setiap tanaman memiliki karakteristik dan kecepatan tumbuh yang berbeda-beda. Eksplant memerlukan komposisi media baru untuk membentuk organ atau struktur baru. kita dapat menghitung kecepatan produksi tanaman dengan mengetahui kecepatan tanaman melakukan multifikasi hingga siap disubkultur. (Wardiyati.

2009a) 2. Dengan modifikasi media yang sesuai. Tahapan ini umumnya dilakukan sebanyak 8 – 10 kali sehingga akan dapat dihasilkan sejumlah besar tunas (ribuan tunas) dari satu eksplan pada tahapan inisiasi.2.2. Multiplikasi Tujuan dari tahapan ini adalah untuk memperoleh dan memperbanyak tunas. semi padat maupun media padat. Media MS tersebut di tambah dengan Zat Pengatur Tumbuh Sitokinin (MS+BA 0. Setelah pembuatan media multiplikasi. 2008) Pada tahapan ini. tunas yang dihasilkan dipotong-potong dengan teknik single-node/ multiple node culture maupun dengan mengambil pucuknya sebagai eksplan untuk perbanyakan.(Andri. Tunas tersebut selanjutnya dibesarkan atau diakarkan pada tahap mikropropagasi berikutnya. dalam tahap ini masing-masing plantlet yang dihasilkan ditumbuhkan untuk pembesaran.4 KULTUR JARINGAN ROSELA Klasifikasi Rosella adalah sebagai berikut: Divisi Sub – Divisi Kelas : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotyledonae 13 .5-2ppm). Pada tahap ini dapat digunakan media cair (media tanpa agar). Pengakaran Tunas atau plantlet yang dihasilkan dari tahapan ke 2 tersebut umumnya masih sangat kecil atau tunas yang belum dilengkapi dengan akar sehingga belum mampu untuk mendukung pertumbuhannya dalam kondisi in-vivo. eksplan dipindah ke media pengakaran (MS + Auksin + arang aktif). pengakaran dan perangsangan aktifitas fotosintesisnya. tunas-tunas baru akan tumbuh dari potongan eksplan. 3. Oleh karena itu. Tahap selanjutnya adalah inisiasi eksplan.(Anonymous. Bahan tersebut kemudian ditanam pada media baru yang umumnya mengandung sitokinin pada konsentrasi yang lebih tinggi dari auksin.

Terutama vitamin C. Tanaman rosela (Hibiscus Sabdariffa L) merupakan tanaman serbaguna. antikanker. banyak keanekaragaman tanaman yang ada di Indonesia. dan tonik. mencegah sariawan dan panas dalam. aprodisiak (meningkatkan gairah seksual). Diabetes Mellitus.Bangsa Suku Marga Jenis : Malvales : Malvceae : Hibiscus : Hibiscus Sabdariffa Indonesia berada didaerah tropis. Salah satu tanaman yang dapat dijadikan bahan obat dan dihidangkan yaitu tanaman rosela dalam bahasa latin Hibiscus Sabdariffa L. Chau-Jong Wang. meredakan batuk. diuretik (peluruh kencing). Bagian batang tanaman ini dimanfaatkan untuk diambil seratnya. sedatif. mencegah flu. ekstrak kelopak rosela berkhasiat sebagai antibiotik. memperbaiki metabolisme tubuh. Manfaat dan Khasiat bunga rosella Khasiat rosela antara lain untuk menurunkan asam urat. Dulu hanya bagian batangnya saja yang dimanfaatkan. sedativ (penenang). antibiotik. Pemanfaatan kelopak bunga Rosela sudah dikenal dan diteliti baik oleh pakar kesehatan modern maupun pakar kesehatan tradisional di berbagai negara di dunia Secara tradisional. Berbagai macam tanaman dapat dimanfaatkan sebagai ahan pangan maupun bahan obat. Hipertensi. menghambat sel kanker. antidepresi. konsumsi rosela digunakan sebagai salah satu cara baru untuk mengurangi risiko penyakit jantung. antioksidan. menambah vitalitas. Flora ini terbukti secara klinis mampu mengurangi 14 . antihipertensi. Sebuah penelitian yang dilakukan ilmuwan Chung San Medical University di Taiwan. Hampir semua bagian tanaman dapat dimanfaatkan industri karung rami telah memanfaatkan tanaman ini. melangsingkan Tubuh. pelarut. Kelopak bunga rosela yang berwarna merah ternyata menyimpan bermacam-macam zat yang sangat bermanfaat bagi tubuh. diuretik (melancarkan buang air kecil). sekarang ini telah ada yang memanfaatkan kelopak bunga rosela. tonik. dan menurunkan absorpsi alkohol. aprodisiak.

tartrat. dan fosfat dalam urin pada 36 pria yang mengkonsumsi jus rosela sebanyak 16-24 g/dl/hari (Kirdpon. 1999).jumlah plak yang menempel pada dinding pembuluh darah. 2. membantu mengendalikan nafsu makan yang berlebihan. dan dapat dimanfaatkan untuk melancarkan buang air besar. Sangat baik untuk membentuk tubuh yang ideal. 2004). mengkonsumsi olahan kelopak bunga rosela secara teratur menunjukkan kesetaraan hasil dengan pengobatan modern (farmakologis) pada beberapa penyakit berikut ini: 1. Ditinjau menurut sudut pandang medis modern (kedokteran). rosela juga memiliki potensi untuk mengurangi kadar kolesterol jahat yang disebut LDL dan lemak dalam tubuh. Kondisi ini dapat memicu kesakitan pada ginjal. Hal ini menunjukkan bahwa rosela juga bermanfaat terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi (tekanan darah tinggi). Tidak hanya itu. Rosela terstandar tersebut dibuat dari 10 gram kelopak kering dan 0. sitrat. Asam Urat dan Kesehatan Ginjal Tingginya kadar asam urat. 3. dan kolestrol jahat yang 15 . asam urat. melancarkan dahak bagi batuk berdahak. ditemukan penurunan kreatinin.7% setelah diberi terapi teh rosela selama 12 hari pada 31 penderita hipertensi sedang (Haji Faraji. Dengan mengkonsumsi rosela.6 miligram anthocyanin setiap hari selama 4 minggu. Memelihara kecantikan dan keindahan tubuh Secara tradisional rosella membantu memelihara kesehatan dan kecantikan. Sebagai Terapi Hipertensi Pemberian ekstrak kelopak rosela yang mengandung 9. natrium. lemak. membantu program diet bagi penderita kegemukan (obesitas). rosella dapat membantu memelihara system pencernaan dan usus serta menghambat penyerapan gula. melancarkan peredaran darah.Kandungan vitamin C dan kaya akan serat. Terdapat penurunan tekanan darah sistolik sebesar 11. kalsium. 1994).52 liter air (Herrera-Arellano. mampu menurunkan tekanan darah yang hampir sama dengan pemberian captopril 50 mg/hari. menurunkan demam umum.2 % dan tekanan diastolik sebesar 10. Jika kondisi demikian dibiarkan berlangsung lama akan memberatkan kerja ginjal sebagai penyaring darah dalam tubuh. kalsium dan natrium dalam darah secara mekanisme normal tubuh akan dikurangi dengan membuang kelebihan unsur tersebut melalui ginjal.

3.ikut ketika mengkonsumsi makanan. Juga dapat sembuhkan sembelit serta memperlancar buang air besar.2 Alat. Mengandung banyak anti oksidan sehingga sangat bermanfaat membersihkan tubuh dari zat racun/ toksin. Manfaat lainnya o Membantu menurunkan hipertensi & kolesterol o Membantu menurunkan kadar gula dalam darah bagi penderita diabetes o Bersifat menetralkan racun alias detosifikasi o Membantu mengurangi panas dalam & sembelit o Membantu meredakan pusing / migrain o Membantu menyeimbangkan berat badan & menghaluskan kulit o Menormalkan darah rendah atau darah tinggi o Mencerdaskan otak o Menyehatkan mata o Meredakan batuk kronis o Menurunkan suhu badan o Maag menahun o Mengurangi kecanduan narkoba BAB III METODELOGI 3. Alat o Laminar air flow cabinet o Petridish danbotol-botol kultur o Peralatan diseksi yaitu pinset besar/kecil dan pisau pemes 16 .00 Wib bertempat di Laboratorium Kultur Jaringan Fakultas Pertanian Universitas Riau.1 Waktu dan tempat pelaksanaan : Praktikum kultur jaringan ini dilaksanakan pada hari Selasa April – Mei 2013 pukul 13. Bahan Dan Prosedur kerja : A. 4.

ZPT o NaOH 1 N dan HCL 1 N 17 . Bahan o Eksplan nanas (Ananas comosus ) o Ekplan Rosella (Hibiscus Sabdariffa) o Media kultur o Eksplan Wortel (Daucus carota) o Alkohol 96% o Aquadest steril o Spirtus o Clorox (sunclin) o Agar – agar o Sukrosa o Larutan stok terdiri atas hara makro.o Alumunium Foil o Pinset o Oven o Autoclave o Ph meter o Shaker o Rak inkubasi o Magnetic stirrer o Batang pengaduk o spatel B. hara mikro. vitamin.

Misalnya : untuk stok G ( Vitamin )  Sediakan Erlenmeyer sesuai ukuran misalnya untuk volume 100 ml lalu tambahkan aquadest sebanyak 50 ml  Timbang Niacin 10 x 0.50 mg = 5 mg dan lakukan hal yang sama seperti Niacin.C. Timbang bahan kimia yang telah ditentukan sesuai dengan kebutuhan.  Timbang Thiamin – HCl 10 x 1. Pelaksanaan 1) Pembuatan larutan stok Prosedur kerja :  Siapkan semua bahan kimia yang diperlukan untuk membuat media  Siapkan wadah larutan stok ( Erlenmeyer ) sebanyak jenis atau macam larutan stok. maka volume dicukupkan menjadi 100 ml ( sesuai dengan volume larutan stok ) dan beri label ( stok G )  Tutup dengan alumunium foil dan simpan didalam refrigerator  Lakukanprosedur yang sama untuk pembuatan larutan stok yang lainnya 2) Pembuatan Larutan Media Prosedur untuk pembuatan larutan media sebanyak 1 liter :  Siapkan gelas piala ( beaker glass) volume 1000 ml dan diisi dengan aquadest sebanyak 500 ml 18 .  Timbang pyridoxine – HCl 10 x 0.00 mg = 10 mg dan lakukan hal yang sama dengan Niacin  Setelah semua bahan – bahan vitamin larut.50 = 5 mg masukkan dan larutkan kedalam aquadest yang sudah ditambahkan dalam Erlenmeyer.

7 – 5.  Menyimpan alat-alat kultur dalam oven 19 . pisau scalpel dan pinset dengan kertas koran. tujuannya adalah untuk memastikan bahwa media benar – benar steril . setelah PH yang ditentukan tercapai.5 kg/cm2 selama 10 menit. kemudian lakukan pengukuran PH larutan . kisaran ph 5. tekanan 1. lalu diberi label selanjutnya sterilkan kedalam autoclave pada suhu 120 ° c .8 maka tambahkan HCL dan jika ph kecil dari 5.  Panaskan media sampai larutan terlihat bening  Panaskan media kedalam botol kultur ± 20 ml .  Memasukkan botol-botol berisi media dan alat-alat kultur yang telah dibungkus kertas koran ke dalam autoklaf untuk proses sterilisasi pada suhu 120 °C. Kebutuhan larutan stok = x volume media  Tambahkan aquadest sehingga volume menjadi 900 ml . Disarankan untuk mengurutkan pengambilan stoknya. 3) Melakukan sterilisasi Alat dan Media Kultur  Sterilissasi alat dan media kultur jaringan dilakukan secara bersama-sama menggunakan autoklaf  Membungkus alat-alat kultir seperti petridish. Ambil masing-masing larutan stok sesuai dengan kebutuhan atau sesuai dengan jumlah yang dipipet dan tuangkan kedalam gelas piala yang telah disisapkan yang telah berisi 500 ml aquadest tadi. sehingga siap untuk digunakan. tututp dengan alumunium foil .8 jika ph > 5. tekanan 15 psi selama 10 menit. tambahkan sukrosa sebanyak 20 gram dan 7 gram agar dan terakhir cukupkan volume larutan menjadi 1000 ml dengan menambahkan aquadest.7 tambahkan KOH sedikit demi sedikit .  Media yang sudah disterilisasi selanjutnya diinkubasi dalam ruang steril selama 1 minggu .

selama 10 menit 5. Siapkan alat yang sudah di sterilkan dan bahan 2. alcohol 96 % diletakkan dilaminar air flow cabinet ( LAFC) . bunsen . Pindahkan pada media tanam c.eksplan di inkubasi dengan suhu 37°C selama 3 hari 9. Setelah tumbuh seperti daun kecil selama 3 minggu sampai 1 bulan 13. Pilih wortel yang baik. Wortel Prosedur Kerja 1. selama 20 menit 6. Nanas b. 8. Bakal jar. setelah itu lampu UV dinyalakan selama 30 menit 20 . Jika mulai tumbuh akar baru kemudian di pindahkan ke toples 11. botol yang berisi eksplan atau planlet yang akan disubkultur . ambil emplur yang dekat dengan akar setinggi 5 cm. selama 5 menit 4. petridish steril . Subkultur Prosedur kerja : o Semua peralatan diseksi setril. Masukan di letakkan dileminar air flow 30 menit dengan betadin. Masukan emplur wortel kedalam cawan petri berisi Betadine 5 ml. Menyimpan media pada rak penyimpanan media yang bertujuan untuk mengantisipasi ada tidaknya kontaminasi pada media sehingga dapat dicegah penggunaan media yang telah terkontaminasi pada saat penanaman. botol berisi media tanam. Pindahkan ke rak sampai dengan 7 hari 10. Emplur wortel pada cawan petri yang berisi media NA 7. kemudian di potong wortel 1 cm X 1 cm 3. Masukan dalam tempat yang sejuk 12. 4) Isolasi jaringan a. Masukan emplur wortel kedalam cawan petri berisi Bayclin 5 ml. 30 menit dengan bayclin. Masukan emplur wortel kedalam cawan petri berisi Alkohol 5 ml.

o Botol yang berisi media baru dibuka tutup alumunium foilnya .o Setelah itu lampu UV dimatikan . selanjutnya diberi label yang berisikan informasi tanggal peminadan .1.1 Hasil Pengamatan 4. lalu eksplan atau planlet ditanam kemedia tersebut dengan menggunakan pinset o Setelah itu botol kultur yang telah ditanam eksplan atau planlet tersebut ditutup kembali dengan alumunium foil . o Eksplan atau planlet yang akan disubkulur dikeluarkan dari botol kultur sebelumnya dan diletakkan diatas petridish o Selanjutnya eksplan dibersihkan dari agar media yang melekat dengan menggunakan pinset. blower dan lampu LAFC dinyalakan dan pelaksanaan subkultur bias dilaksanakn . media dan lain.lain o Media baru yang telah ditanam eksplan tersebut dikeluarkan dari LAFC dan ditempatkan pada rak kultur diruang inkubasi BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Nama dan kegunaan alat No Nama Alat Gambar Fungsi 21 .

terkadang juga digunakan untuk penutup parsel atau buah-buahan.1 Botol Kultur Sebagai tempat untuk menkulturkan atau menanam eksplan 2 Wrapping plastic untuk menutup media atau botol kultur agar tidak terkontaminasi oleh cendawan. 3 Cawan Petridish sebagai media perkembangan mikroorganisme 4 Laminar Air Flow untuk menanam eksplan ke dalam botol dalam kondisi steril atau melakukan sub kultur yang dilengkapi dengan blower dan lampu UV 22 .

setelah dilakukan inokulasi eksplan. 23 . Juga dapat digunakan untuk sterilisasi tanah atau kompos yang akan digunakan untuk media tanaman. dan lain sebagainya yang digunakan dalam kultur jaringan 8 Shaker mesin pengguncang. baik media agar atau pun media cair. Hot plate juga merupakan alat untuk mencampur dan memasak media kultur. pinset. gunting.Hot plate digunakan untuk memasak segala macam bahan nutrisi dengan melibatkan pengaduk dan pemanas. 7 Oven Digunakan untuk sterilisasi botol kultur.5 Autoclave untuk mensterilkan media. yang digunakan dalam proses perbanyakan sel atau pertumbuhan PLB (Protocrm Likes Body) dalam kegiatan kultur jaringan. pisau. 6 Hotplate untuk homogen dan juga untuk pemanas.

4.9 Pinset Untuk mengambil eksplan 10 Gelas Ukur Untuk menuangkan atau mempersiapkan bahan kimia dan aquades dalam pembuatan media.2 Rekapan kultur jaringan tanaman nanas (Ananas comosus) Macam eksplan Ulangan Saat muncul akar Nanas 1 2 3 Saat muncul tunas Saat muncul kalus Tinggi tunas Jumlah tunas Jumlah akar Saat muncul daun 0% Persentase keberhasilan Sumber : Laporan Sementara 4.1.1.3 Rekapan Kultur Jaringan Tanaman wortel (Daucus carota) Macam eksplan Ulangan Saat muncul akar Wortel 1 2 Saat muncul tunas Saat muncul kalus Tinggi tunas Jumlah tunas Jumlah akar Saat muncul daun 0% Persentase keberhasilan 24 .

25 . Tabung reaksi digunakan pada saat mengerjakan isolasi protoplas dan isiolasi khloroplas. Autoclave berfungsi untuk mensterilkan bahan atau alat yang pada umumnya terbuat dari logam. Setelah disterilisasi dapat langsung digunakan.2 Pembahasan 4.1. mulut botol harus ditutup dengan aluminium foil. tekstil gelas juga liquid (cairan) dalam keadaan terbungkus maupun tidak.1 Nama dan Kegunaan Alat Botol kultur merupakan tempat untuk mengkulturkan atau menanam eksplan. Bila botol akan disimpan untuk beberapa lama maka sewaktu sterilisasi. Cawan petridish berfungsi sebagai tempat untuk memotong-motong eksplan yang akan di tanam dalam botol kultur. plastik.4 Rekapan kultur jaringan tanaman nanas (Ananas comosus) Macam eksplan Ulangan Saat muncul akar Saat muncul tunas - Saat muncul kalus - Tinggi tunas Jumlah tunas Jumlah akar Saat muncul daun Persentase keberhasilan Rosella 1 2 3 - - - - 0% Sumber : Laporan Sementara 4. Cara sterilisasinya yaitu dicuci bersih kemudian dimasukkan dalam oven dan dipanaskan selama 4 jam pada temperatur 160C. Cara sterilisasinya yaitu dicuci bersih kemudian dimasukkan dalam oven. Cara sterilisasinya yaitu dicuci bersih kemudian dimasukkan dalam oven tetapi terlebih dahulu dibuingkus dengan kertas. Oven berfungsi sebagai alat untuk mensterilisasikan alat-alat dengan cara memasukkan alat-alat kultur kedalamnya dengan mengatur tekanan dan waktu yang dibutuhkan dalam sterilisasi tersebut.3 - - - - - - - Sumber : Laporan Sementara 4. karet.2.

Inkubator berfungsi untuk mensterilisasi alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum. pH meter berfungsi untuk mengukur pH suatu media yang dibuat dengan menetralkan alat tersebut kemudian memasukkan ujung alat tersebut pada media yang telah jadi. Erlenmeyer berfungsi sebagai tempat untuk memanaskan media yang akan dibuat. Cara menggunakannya yaitu dengan memasukkan alat tersebut ke dalam nutrisi yang akan diambil kemudian mengeluarkannya pada wadah yang berisi media. Timbangan analitik sangat penting dalam kultur jaringan karena memudahkan untuk mengukur nutrisi.2.2 Pada Wortel Bahan eksplan yang digunakan berupa umbi wortel dan daging bonggol dari mahkota nanas. Rak ini juga harus selalu dibersihkan agar tetap steril. Laminar air flow berfungsi sebagai alat untuk mensterilisasikan media. Alat ini digunakan untuk mengocok media cair sambil dipanasi. maka alat ini akan menghomogenkan sekaligus memanaskannya. Timbangan analitik berfungsi untuk menimbang nutrisi yang akan diberikan pada media. Pipet micron berfungsi untuk mengambil nutrisi yang akan diberikan pada media.Cara menggunakannya yaitu alat-alat yang digunakan dimasukkan kedalamnya kemudian mengatur tekanan dan waktu yang akan digunakan. Cara menggunakannya yaitu memasukkan alat dan bahan kemudian mengatur tekanannya. Kompor listrik untuk pemanas saat memasak media. Bahan yang digunakan dari kedua tanaman ini mempunyai karakteristik yang sama yaitu keduanya merupakan jaringan tebal dan berair. pada bahan tanam sebelum dilakukan penanaman terlebuih dahulu dilakukan sterilisasi. 4. Setelah alat ini dihubungkan dengan arus listrik. Rak penyimpanan media berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan botol-botol kultur yang berisi media. Cara menggunakannya yaitu mencuci bersih alat tersebut kemudian memasukkan bahan yang akan dibuat media dan selanjutnya dipanaskan pada kompor listrik. Sterilisasi eksplan dilakukan menggunakan clorox (sunclin) dengan 26 . Penggunaan alat ini sangat penting karena digunakan untuk melakukan pembuatan eksplan dan juga pengambilan tanaman mini yang telah jadi dari hasil kultur jaringan.

Cara penggulangannya dilakukan treatment pada tanaman yang akan dijadikan sebagai sumber eksplan dengan mencuci eksplan pada larutan fungisida dan bakterisida. beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya adalah (Anonimous. Pembentukan kalus ini akibat dari pengaruh hormon BAP yang diberikan pada media. Sterilisasi bahan harus dilakukan dengan tepat. Kontaminasi dari eksplanlah yang paling sulit diatasi. Dalam melakukan penanaman. Dalam hal ini dikarenakan pada eksplan telah terjadi kontaminasi internal. Berdasarkan namanya. Kalus yang terbentuk dapat dipacu untuk berdiferensiasi menjadi tunas dengan menambahkan kandungan IBA pada media. namun kadang-kadang kontaminasi tetap saja terjadi. 3 eksplan nanas). Persentase keberhasilan dari kultur nanas adalah 30% dan prosentase keberhasilan dari kultur wortel adalah 30%. Sedangkan eksplan yang lain mengalami browning dan kontaminasi. 2009): 27 . laminar ini mengandung pergerakan udara yang steril. Pengaruh BAP pada eksplan lebih dominan karena kandungan di dalam media lebih besar daripada IBA sehingga terbentuklah kalus pada eksplan. Kontaminasi ini dikarenakan media MS merupakan media yang kaya akan nutrisi sehingga mikroba di sekeliling tanaman atau udara sekitar eksplan juga tumbuh dan berkompetisi dengan eksplan. Pada 5 MST muncul kalus pada wortel dan nanas yang berjumlah 6 eksplan (3 eksplan wortel. Sehingga memungkinkan bekerja melakukan penanaman dalam kondisi yang steril. BAP merupakan senyawa kelompok sitokinin yang memacu pembelahan sel sehingga mampu memacu pembentukan kalus atau massa sel. walaupun sterilisasi telah dilakukan dengan berbagai cara. apabila sterilisasi terlalu singkat maka bahan tanam yang digunakan akan membawa bibit – bibit kontaminasi.melakukan perendaman selama ± 3 menit pada bahan dan membilas bahan dengan aquadest. Tingkat keberhasilan dari kultur wortel dan kultur nanas ini pling tinggi jika dibandingkan dengan kultur bahan yang lain karena bahan tanam yang digunakan lebih mudah menyerap media sehingga pertumbuhan kalus lebih banyak dan lebih cepat. Untuk menanggulangi kontamiknasi setelah ekspaln dikulturkan maka dilakukan pemeliharaan secara dengan melakukan penyemprotan spirtus ataupun alkohol pada permukaan botol kultur dua hari sekali. Kalus merupakan sekumpulan massa sel yang belum terdiferensiasi menjadi organ dari tanaman. apabila perendaman clorox terlalu lama maka jaringan dari bahan tanam akan mengalami kematian (browning) sehingga tidak mampu membentuk individu baru. Penanaman eksplan wortel (Daucus carota) dan bawang putih (Allium sativum) dilakukan di dalam LAF (Laminar Air Flow). Kalus yang muncul merupakan hasil dari pembelahana sel-sel yang berda dalam jaringan eksplan.

namun kontaminasi masih sering terjadi. kelembaban tinggi dan suhu yang hangat. Eksplan atau dapat terkontaminasi oleh berbagai mikrooganisme seperti jamur. semprot atau usap dengan 70% ethanol dan tutup cabinet. Kontaminasi yang terjadi diperkirakan disebabkan oleh mikrobia golongan protista. Organisme–organisme tersebut secara universal terdapat pada jaringan tanaman. Kontaminasi tersebut terjadi pada kultur umbi wortel. serangga atau virus. berhati-hatilah 6. 28 . Alcohol 70% penting dinguankan. Semprot atau usap baigan dalam laminar flow cabinet dengan 70% etil atau isopropyl alcohol sebelum menghidupkan cabinet. absolute alcohol (95%) tidak membunuh mikroba) 2. yaitu mengandung sukrosa dan hara dalam konsentrasi tinggi. terdapat lender berwarna kuning. mengalahkan eksplan. 7. Tapi. Semprot semua wadah dan bahan dengan ethanol 70% sebelum meletakkannya dalam cabinet. Hidupkan cabinet. Jika menggunakan api. Jika bahan tanaman jatuh ke permukaan cabinet. artinya mereka tidak menyebabkan bahaya bagi tanaman inang pada kondisi normal. Cuci tangan dan lengan dengan sabun dan air dan usap dengan 70% ethanol sebelum mengambil tanaman. Atur ruang kerja dalam cabinet sehingga tidak banyak gerakan tangan menyilang di dalam cabinet. Jika anda menggunakan lampu UV pastikan anda sudah mematikannya sebelum meletakkan bahan tanaman di dalam cabinet. Meskipun usaha sterilisasi untuk menciptakan lingkungan yang aseptic sudah sering dilakukan. 4. anggap terkontaminasi dan buang 8. matikan cabinet. Kondisi kering dan adanya organisme competitor menyebabkan mereka dalam kondisi terkontrol. bakteri. Banyak yang bersifat non-patogenik.1. juga disukai mikroorganisme yang seringkali tumbuh dan berkembang sangat cepat. Setelah selesai mentransfer kultur. kondisi in vitro yang disukai eksplan. karenanya sebaiknya menggunakan Hexifoam (desinfektan untuk kulit). Hal ini ditentukan berdasarkan morfologi koloni yaitu adanya plasmodium yang tersebar di seluruh permukaan medium kultur yang terkontaminasi. 5. Plasmodium ini lama kelamaan membentuk agregrat berupa benang miselium yang sangat halus dan menjadi pusat koloni. Pada pengamatannya. Yaitu Kapang lendir seluler yang menurut Susilowati (2001) adalah genus Dictyostelium. Penting dicatat bahwa ethanol memiliki efek residual. 3.

apabila sterilisasi terlalu singkat maka bahan tanam yang digunakan akan membawa bibit – bibit kontaminasi. Untuk menanggulangi kontamiknasi setelah ekspaln dikulturkan maka dilakukan pemeliharaan secara dengan melakukan penyemprotan spirtus ataupun alkohol pada permukaan botol kultur dua hari sekali. Bahan yang digunakan dari kedua tanaman ini mempunyai karakteristik yang sama yaitu keduanya merupakan jaringan tebal dan berair. walaupun sterilisasi telah dilakukan dengan berbagai cara. Digunakan pula fungisidad untuk membunuh spora ataupun cendawan yang diperkirakan ada pada eksplan. PEMBAHASAN LAIN Bahan eksplan yang digunakan berupa umbi wortel dan daging bonggol dari mahkota nanas. Sterilisasi bahan harus dilakukan dengan tepat. Kontaminasi dari eksplanlah yang paling sulit diatasi. Selanjutnya dicelupkan pada larutan klorok untuk membunuh mikroba terutama yang ada di bagian dalam eksplan.Sebagai sumber utama kontaminan. pada bahan tanam sebelum dilakukan penanama terlebuih dahulu dilakukan sterilisasi. Dalam hal ini dikarenakan pada eksplan telah terjadi kontaminasi internal. Selanjutnya di rendam dalah alcohol untuk menghilangkan atau membunuh kuman. Sterilisasi eksplan dilakukan menggunakan clorox (sunclin) dengan melakukan perendaman selama ± 3 menit pada bahan dan membilas bahan dengan aquadest. eksplan memiliki perlakuan khusus pada proses sterilisasinya. 29 . Diantranya adalah pencucian dengan menggunakan deterjen ditujukan untuk menghilangkan sisia-sisa tanah pada umbi eksplan. namun kadang-kadang kontaminasi tetap saja terjadi. apabila perendaman clorox terlalu lama maka jaringan dari bahan tanam akan mengalami kematian (browning) sehingga tidak mampu membentuk individu baru. Cara penggulangannya dilakukan treatment pada tanaman yang akan dijadikan sebagai sumber eksplan dengan mencuci eksplan pada larutan fungisida dan bakterisida.

Kalus yang terbentuk dapat dipacu untuk berdiferensiasi menjadi tunas dengan menambahkan kandungan IBA pada media. Pengaruh BAP pada eksplan lebih dominan karena kandungan di dalam media lebih besar daripada IBA sehingga terbentuklah kalus pada eksplan. 3 eksplan nanas). 30 . Kalus yang muncul merupakan hasil dari pembelahana sel-sel yang berda dalam jaringan eksplan. Pembentukan kalus ini akibat dari pengaruh hormon BAP yang diberikan pada media. Prosentase keberhasilan dari kultur nanas adalah 30% dan prosentase keberhasilan dari kultur wortel adalah 30%. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN A. BAP merupakan senyawa kelompok sitokinin yang memacu pembelahan sel sehingga mampu memacu pembentukan kalus atau massa sel. Hasil Pengamatan 1. Kalus merupakan sekumpulan massa sel yang belum terdiferensiasi menjadi organ dari tanaman. Tingkat keberhasilan dari kultur wortel dan kultur nanas ini pling tinggi jika dibandingkan dengan kultur bahan yang lain karena bahan tanam yang digunakan lebih mudah menyerap media sehingga pertumbuhan kalus lebih banyak dan lebih cepat. Eksplan umbi Wortel . § Pada eksplan: warna eksplan pudar disekitar eksplan terdapat lendir.Jenis Kontaminasi § Pada Media: berwarna kuning. Kontaminasi ini dikarenakan media MS merupakan media yang kaya akan nutrisi sehingga mikroba di sekeliling tanaman atau udara sekitar eksplan juga tumbuh dan berkompetisi dengan eksplan.Pada 5 MST muncul kalus pada wortel dan nanas yang berjumlah eksplan (3 eksplan wortel. Sedangkan eksplan yang lain mengalami browning dan kontaminasi. semula berwarna putih.

Jenis Kontaminasi: . maka hal pertama yang harus diperhatikan adalah steril tidaknya eksplan tersebut.Waktu Kontaminasi § Pada media: 4 hari setelah penanaman § Pada eksplan: 4 hari setelah penanaman 2. wortel terlebih dahulu harus dicuci menggunakan detergen dan setelah itu harus dicuci lagi menggunakan alkohol untuk memastikan sterilnya eksplan. daun dan batang anggrek. Kemudian eksplan wortel ini ditumbuhkan pada media B yang merupakan media dengan kandungan hormon 2. B. Dalam hal ini. Pada hari keenam. Terjadinya kontaminasi disebabkan eksplan terlalu dekat dengan udara luar saat penanaman sehingga terkontaminasi oleh praktikan saat berbicara. Eksplan umbi Bawang Putih . sebelum masuk lab. biji tomat. lima hari setelah penanaman terjadi kontaminasi. Media yang kedua ini berfungsi dalam differensiasi untuk menumbuhkan embrio somatik. ekspalan yang digunakan antara lain: wortel.Tingkat kontaminasi: . . kurang teliti saat kultivasi.Tumbuh tidaknya eksplan: tidak terdapat tanda-tanda kontaminasi pada keempat pengamatan. Tanda-tanda tumbuh juga tidak terlihat. misalnya tangan dilewatkan diatas eksplan yang akan dikulturkan.Waktu kontaminasi: . Seharusnya setelah kalus terbentuk.4 D (2. Akan tetapi.. Pembahasan alam melakukan praktikum kultur jaringan. yang mana media ini berfungsi untuk menstimulasi pembentukan kallus. Dalam melakukan kultur terhadap suatu jaringan tanaman. Kemungkinan eksplan mengalami stagnasi..4 Dikloro fenoxi acetic acid). serta biji bunga merak. 31 .Tingkat Kontaminasi § Pada media: pada seluruh bagian media § Pada eksplan: pada bagian eksplan yang kontak dengan media. eksplan disubkultur ke dalam media C yaitu media dengan kandungan hormon NAA dan sitokinin.

Setelah terdeteksi adanya kontaminasi. Proses sterilisasi dan penanaman yang kurang tepat menyebabkan eksplan mudah terkontaminasi sehingga proses propagasi yang ditandai dengan terbentuknya kalus sulit terjadi. Hal ini karena tidak terbentuk kalus atau proses pengakaran sehingga tidak dapat dilakukan proses selanjutnya. Hal ini dikarenakan eksudasi berlebih pada eksplan sehingga mengeluarkan cairan yang mengakibatkan dehidrasi. pada medium yang baru tersebut daun mengalami degradasi klorofil yang ditandai dengan menguningnya daun. bagian batang yang digunakan adalah bagian nodus (buku). Sehingga dalam hal ini bisa dipastikan bahwa jaringan daun anggrek ini telah mati. harus segera dilakukan pemisahan antara bagian daun yang terkontaminasi dengan yang tidak terkontaminasi. terlebih dahulu dilakukan sterilisasi dengan menggunakan kloroks. Lima hari setelah penanaman eksplan. terlihat adanya kontaminan. Eksplan yang ketiga adalah batang anggrek. terdeteksi adanya kontaminan. daun semakin mengering dengan warna yang menghitam. Pada eksplan wortel ini tidak sempat dilakukan subkultur yaitu pemindahan eksplan yang bebas kontaminan ke medium baru. Namun. Dalam melakukan kulturisasi daun anggrek ini. Akan tetapi. Tahap awal yang harus dilakukan adalah proses sterilisasi yang dilakukan dengan merendam pada klorok. Beberapa hari kemudian. Kemudian eksplan yang tidak terkontaminasi tersebut ditumbuhkan dalam medium yang baru. Bagian ini digunakan dalam kulturisasi ini karena memiliki mata tunas.dilakukan pemotongan pada eksplan untuk memisahkan bagian yang terkontaminasi dengan yang tidak. Kemudian dilakukan pengupasan pelepah daun. Adanya kontaminasi dimungkinkan karena 32 .4 D yang menstimulasi pembentukan kallus. Medium baru ini merupakan medium C yang mengandung NAA dan sitokinin. setelah eksplan ditumbuhkan dalam medium yang baru eksplan menjadi berwarna pucat. Dalam penanaman batang anggrek ini. Hal ini terlihat dari lendir yang terdapat pada bagian permukaan batang. sehingga sangat sensitif terhadap adanya kontaminan. Hal ini disebabkan oleh daun anggrek yang tidak terlindungi oleh adanya pelepah seperti batang. Degradasi klorofil ini dapat terjadi karena adanya aktifitas enzim klorofilase yang diaktifkan oleh hormon etilen dalam daun. Beberapa hari setelah penanaman.untuk mendapatkan eksplan yang steril. Eksplan kedua yang dikultur adalah daun anggrek. Daun anggrek dikultur dalam medium B yaitu medium yang mengandung hormon 2. sehingga bisa tumbuh. Sterilisasinya berbeda dengan eksplan yang lain yang menggunakan alcohol.

Proses subkultur merupakan proses yang rentan terhadap pertumbuhan eksplan. setelah diinkubasi lagi terjadi kontaminasi yaitu dengan menghitamnya permukaan tunas dan akhirnya mati. Setelah dilakukan kultivasi. Sehingga jika waktu sterilisasi kurang tepat. Terkontaminasinya tunas dan sampai akhirnya mati disebabkan oleh kurang sesuainya suhu ruang terhadap tunas. Metabolisme akan meningkat karena sumber gula tinggi. Sehingga tunas tersebut tidak tahan akan adanya stress panas. dan akhirnya tidak mengalami pertumbuhan. Perbedaan kondisi media yang jauh akan membuat kondisi pertumbuhan tanaman subkultur terhambat. Hal ini dilakukan agar penyerapan nutrisi dalam medium oleh biji tidak dihambat oleh lendir. muncul adanya tunas dengan panjang kira-kira 2 cm. eksplan yang telah tumbuh kalus disub kultur. sebelumnya dilakukan pembersihan lendir yang melekat pada biji. Dalam kulturisasi biji tomat ini. Biji bunga merak ini terbungkus oleh semacam kulit biji yang kaku dan keras berbentuk polong yang bersekat. Setelah dilakukan inkubasi selama beberapa hari. Polong tersebut harus disterilkan dulu lalu dipecah dan diambil bijinya secara aseptis. namun perubahan 33 . Sehingga bakteri atau jamur tersebut menjadi penghambat dalam pertumbuhan kalus pada batang anggrek ini. Hal ini mengakibatkan bakteri maupun jamur yang terdapat pada jaringan tanaman tersebut masih ada. Namun. Saat pemindahan kultur pada media yang baru. terjadi beberapa proses jika tidak sesuai akan mengalami pengeringan secara perlahan akibat perubahan media dengan tingginya konsentrasi garam dan gula dalam media. Eksplan keempat yang digunakan adalah biji tomat. dan dalam kulit tersebut terdapat banyak biji. Namun pada hari berikutnya tunas tertutup oleh semacam kontaminasi karena miselium. Sel tanaman mengandung dinding sel yang sulit sekali ditembus oleh cairan. Dapat dipastikan bahwa biji yang diambil tersebut steril karena tertutup oleh kulitnya. Kultur biji bunga merak mulai muncul tunas pada hari ke 6. Eksplan yang kelima adalah biji bunga merak. maka dapat berakibat munculnya kontaminan karena desinfektan tidak dapat masuk ke dalam sel dan membunuh bakteri maupun jamur didalamnya. Adanya kontaminasi dimungkinkan proses sterilisi biji yang kurang sesuai.proses sterilisasi yang kurang tepat pada batang anggrek yang dikulturkan. Pembersihan lendir ini dilakukan dengan menggunakan kertas serap.

yaitu: Pembuatan media.keadaan dari kondisi dengan tekanan osmotic berbeda justru akan menghambat proses penyerapan nutrisi dari media. Perbedaan ini bahkan dimulai dari tahap sterilisasi. Tahapan dalam kultur jaringan ini ada 5. suhu. kelembapan. Terkait cahaya. inisiasi. Teknik secara khusus yang dilakukan pada setiap eksplan berbeda-beda. sterilisasi. Diantara faktor tersebut antara lain: suhu. V. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun. Setelah proses subkultur. Pada eksplan-eksplan yang lebih rentan pada kontaminasi seperti pada daun anggrek karena tidak memiliki pelepah. dan tahapan yang terakhir adalah aklimatisasi. cahaya serta udara. Proses ini dilakukan dengan pemindahan kultur pada lingkungan luar merupakan masa yang sangat rentan terhadap kegagalan proses kultur jaringan. dilakukan aklimatisasi. serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh. dan nutrisi. Pada keadaan ini tanaman diharuskan dapat beradaptasi pada medium yang jauh berbeda dengan medium semula. Maka dari itu kesalaha dala proses aklimatisasi sangat berpengaruh terhadap kehidupan eksplan. KESIMPULAN Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif. mata tunas. 34 . maka teknik sterilisasinyapun harus lebih baik dibandingkan pada eksplan yang lain. multiplikasi. pengakaran. terdapat faktor-faktor lain yang berperann dalam keberhasilan kultur jaringan. Selain dari adanya kontaminasi dari berbagai mikroorganisme.

Pada eksplan umbi bawang putih (Allium sativum) tidak terjadi kontaminasi. Kalus iterbentuk pada saat eksplan berumur 5 MST. tidak terlihat tanda-tanda pertumbuhan dan tidak pula terdapat kontaminasi. f. e. g. Penanaman eksplan dilakukan di LAF (Laminar Air Flow). 35 . c. Penggunaan alat sebelumnya sudah dalam keadaan steril. Pada setiap botol kultur. BAP merangsang pembelahan sel sehingga terbentuk kalus yang berupa massa sel yang belum terdiferensiasi. Kontaminasi yang terjadi karena sterilisasi dari bahan maupun media kurang sempurna sehingga mikrobia-mikrobia masih hidup dan berkembang di dalam botol kultur. Penanaman dilakukan dengan cara mencelupkan scalpel dan pinset ke dalam alcohol 96% lalu dibakar pada nyala api Bunsen. pada eksplan umbi wortel (Daucus carota) terjadi kontaminasi oleh bakteri yang diduga merupakan golongan protista genus Dictyostelium. Prosentase keberhasilan dari kultur jaringan nanas adalah 30% dan pada kultur wortel adalah 30% Berdasarkan hasil pengamatan. Terbukti terdapatnya lendir yang cukup tebal dan berwarna kuning pada media dan sekitar eksplan.V. KESIMPULAN a. artinya eksplan mengalami stagnasi. 2. Pengaruh BAP lebih tinggi jika dibandingkan dengan IBA karena konsentrasi BAP yang lebih tinggi. dapat ditarik kesimpulan bahwa: 1. diisi 3 potong eksplan. Kegagalan dari kultur jaringan dari tanaman mawar ini dikarenakan terjadinya bowning. Pada pengamatan terakhir. Setelah itu alat baru bisa digunakan untuk menanam. d. Bahan tanam dari wortel dan nanas cukup mudah untuk menyerap nutrisi di dalam media sehingga lebih cepat terbentuk kalus. kontaminasi media tanam b.

Wortel dan Lobak.F. 2003. Diakses pada tanggal 22 Desember 2008.. http://lelos66. Diakses pada tanggal 16 desember 2008. · Bahan tanam dari wortel dan nanas cukup mudah untuk menyerap nutrisi di dalam media sehingga lebih cepat terbentuk kalus. · Kalus iterbentuk pada saat eksplan berumur 5 MST. Kontaminasi yang terjadi pada eksplan umbi wortel (Daucus carota) disebabkan oleh bakteri yang diduga merupakan genus Dictyostelium. 1988. · Prosentase keberhasilan dari kultur jaringan nanas adalah 30% dan pada kultur wortel adalah 30% DAFTAR PUSTAKA Anonim. Estu R. P.yahoo. Teknik Kultur Jaringan http://www. Rahardja. 2008. Kultur Jaringan. Propagasi Tanaman Secara In Vitro. BAP merangsang pembelahan sel sehingga terbentuk kalus yang berupa massa sel yang belum terdiferensiasi.proseanet.bbpp-lembang.com.blog..htm. Kegagalan dari kultur jaringan dari tanaman mawar ini dikarenakan terjadinya bowning. Hendra. Diakses pada tanggal 16 Desember 2008. Bogor. D. kontaminasi media tanam · Kontaminasi yang terjadi karena sterilisasi dari bahan maupun media kurang sempurna sehingga mikrobia-mikrobia masih hidup dan berkembang di dalam botol kultur. · Pengaruh BAP lebih tinggi jika dibandingkan dengan IBA karena konsentrasi BAP yang lebih tinggi. http://id. Panebar Swadaya. New Jersey. Kontaminasi terjadi karena bakteri yang ada belum musnah oleh perlakuan sterilisasi eksplan. Anonim. 2003.htm. 36 . NBV. T. Hendro S. Panebar Swadaya. http://www.info. 2008.3. 2008. Anonim.htm. Ali. Kultur Jaringan Teknik Perbanyakan Tanaman Secara Modern. 2007. Ananas comosus.answers.org .friendster.com. Proses Atau Skematis Kultur Jaringan. Diakses pada tanggal 16 Desember 2008. Jakarta Wetherel. Avery Publishing Group Inc.E.

Husen. Rahardja PE. Pengantar Fisiologi Tumbuhan.com Diakses pada tanggal 22 Desember 2008. 2001. 4th Edition. 1988. In vitro culture of higher plants. Jakarta: UI Press. Diakses pada tanggal 22 Desember 2008. Induksi Kalus dan Optimasi Regenerasi Empat Varietas Padi melalui Kultur In Vitro. Pengaruh Hormon IBA (Indole Butyric Acid) Terhadap Persen Jadi Stek Pucuk Meranti Putih (Shorea montigena). Wortel dan Lobak. 1999. 2008.. USA: Kluwer Academic Publishers. 2003. 2006. Fisiologi Tanaman Budidaya. http://www. M. Jakarta: Penebar Swadaya. F.com Diakses pada tanggal 22 Desember 2008. R. Diakses pada tanggal 18 Desember 2008. 2008. Estu R. Induksi Kalus dan Optimasi Regenerasi Empat Varietas Padi melalui Kultur In Vitro. Jakarta: PT Gramedia. 1986. Ali. R. Kontaminasi Dalam Kultur Jaringan. NBV.Husen.irwantoshut.irwantoshut. Diakses pada tanggal 18 Desember 2008. http://www. Kultur Jaringan Teknik Perbanyakan Tanaman Secara Modern. 2008. Pierik RLM. Purnamaningsih.proseanet. Dwidjoseputro D. Panebar Swadaya. Jurnal AgroBiogen 2(2):74-80. Irwanto.org . Bogor. Kontaminasi Dalam Kultur Jaringan. 1991. D. Anonim. 2006. New Jersey: Avery Publishing Group Inc LAMPIRAN HASIL PENGAMATAN Dari hasil pengamatan kultur jaringan hari ini semuanya terkontaminasi jadi tidak ada yang jadi. Jurnal AgroBiogen 2(2):74-80. 2001. http://www. Propagasi Tanaman Secara In Vitro. Hendro S. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman 37 .com. http://eshaflora.. Wetherel. Propagasi Tanaman Secara In Vitro. PEMBAHASAN Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif. http://eshaflora. Ananas comosus. Purnamaningsih. 2008. Irwanto. 2003. Pengaruh Hormon IBA (Indole Butyric Acid) Terhadap Persen Jadi Stek Pucuk Meranti Putih (Shorea montigena). Avery Publishing Group Inc. Gardner dan Franklin P.F.com. Wetherel DF. M. New Jersey.

Ekspaln kemudian di rendam dalam alkohol 5ml selama 5 menit. kemudian di pindahkan lagi ke betadin sebanyak 5ml diamkan sampai 10 menit. dan hormon. serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap. G. kemudian inkubasi selama 3 hari. mungkin dalam penanaman eksplan kurang hati-hati dan kurang steril maka praktikum kali ini tidak membuahkan hasil. Pertama-tama wortel di di ambil emplurnya ini disebut dengan Inisiasi . hal ini dilakukan untuk mesterilkan eksplan. 38 . khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral. mata tunas. Dalam kultur jaringan adanya media yang mendukung yang digunakan media kali ini yaitu NA. mata tunas. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan dikulturkan. Hal ini dilakukan agar mendapatkan keturunan yang bagus pula. Dari hasil pengamatan selama 3 hari ternyata tidak ada tanda-tanda tunas baru. Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman. kemudian masukan ke dalam bayclin selama 20 menit hal ini dilakukan untuk eksplan lebih steril. KESIMPULAN  Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kemudian tanam dalam laminar flow hal ini agar eksplan tetap steril. Hal ini dikarenakan terkontaminasi. dan bahan mudah di dapat. Namun karena gagal jadi tidak dapat di tanam. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun. Seharusnya ekplan berubah menjadi plantelet atau tanaman baru yang kemudian dapat di tanam dalam media tanam seperti yang sudah dilihat dalam gambar. media ini berasal dari agar yang di harapkan bisa membantu dalam memenuhi kebutuhan mineral dalam pertumbuhan wortel baru. dan tidak terkontaminasi. betadin ini digunakan sebagai anti septik gunanya mematikan organisme yang ada di eksplan agar eksplan bagus. menunjukkan gejala seperti berwarna putih atau biru (disebabkan jamur) atau busuk ( disebabkan bakteri ). Dalam praktikum kultur jaringan ini menggunakan emplur wortel hal ini di karenakan dalam penanamannya mudah.seperti daun. vitamin.

dan bahan mudah di dapat. Dari hasil pengamatan selama 3 hari ternyata tidak ada tanda-tanda tunas baru. diantaranya (Raharja. Pembuatan larutan stok pada dasarnya ditujukan untuk menyediakan bahan-bahan yang diperlukan pada pembuatan media dengan konsentrasi yang tepat. Dalam praktikum kultur jaringan ini menggunakan emplur wortel hal ini di karenakan dalam penanamannya mudah. unsure mikro 100 kali. Selanjutnya ditambahkan pemadat berupa agar “swallow” untuk memadatkan media. Karena bahan yang digunakan untuk membuatan laruten stok Fe sukar larut. Karena media-media yang digunakan pada kultur jaringan diperlukan unsure-unsur dengan konsentrasi yang sangat kecil. dan hormon. Media yang digunakan merupakan media Ms (Murashige dan Skoog). ZPT 100 kali. 1995): 39 . unsure makro diencerkan sebanyak 5 kali. terdapat pula beberapa jenis media lain. mungkin dalam penanaman eksplan kurang hati-hati dan kurang steril maka praktikum kali ini tidak membuahkan hasil. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. vitamin. Karena akan mempengaruhi keberhasilan tumbuh eksplan. Laritan stok Fe dibuat dengan dilarutkan menggunakan alcohol absolute atau alcohol 90-96 %. maka dibuat lah larutan stok dengan menggunakan konsep kalibrasi. MEDIA Pembuatan media harus berdasarkan perhitungan konsentrasi yang tepat. Selain media MS yang digunakan. Pada proses pembuatannya.    Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman. Hal ini dikarenakan terkontaminasi. sehingga pada pembuatan media. 2002). Karena tidak dimungkinkan menimbang unsure dengan konsentrasi yang sangat kecil. unsure-unsur tersebut dapat digunakan seusia dengan konsentrasi yang diinginkan (Sriyanti. khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif. Atau untuk memudahkan dapat pula dibakar atau dipanaskan. vitamin 10 kali. Ditambakan pula sukrosa yang bertujuan untuk memberikan bahan baku metabolisme eksplan karena eksplan beum mampu menghasilkan asimilat seperti tumbuhan pada umumnya. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral. stok Fe 200 kali.

Sterilisasi Media Menggunakan Autoklaf Portable. dapat dilakukan dengan prosedur sebaga berikut: (Pemanasan menggunakan api) 40 . vitamin. diperkaya dengan fosfat dan diperkuat dengan senyawa organic seumber N serta asam amino. Menurut Anonim (2009) ada beberapa cara sterilisasi media diantaranya adalah: A. pH disesuaikan sehingga nilainya berkisar sekitar 5. 1995). Media nomor 1 sampai dengan nomor 5 adalah media dasar yang hanya berisi unsure makro dan unsure mikro. gula dan hormone tumbuhan. Bahan-bahan lain yang dapat ditambahkan sebagai pelengkap misalnya ekstrak tauge. ekstrak ujunga kecambah jagung dan air kelapa muda (Raharja. Riker dan Duggar Gautheret Knudson VAcin dan Went Miller Linsmaier & Skoog Gamborg Murashige & Skoog White. Untuk keperluan kultur jarigan. Seperti halnya peralatan kultur.6.Heler White Nitsch & Nitsch Hildebrandt. media yang digunakan juga perlu dilakukan sterilisasi untuk menciptakan kondisi lingkungan yang aseptic bagi eksplan. media tersebut masih perlu ditambahkan bahan pelengkap berupa asam amino.

kalau dapat dengan aquadest untuk menghindarkan pengendapan Ca yang biasa terdapat pada air ledeng. Atur posisi panci dengan memperhatikan alur tempat saluran uap yang terdapat pada tutup dan lingkaran permukaan panci-luar 4. untuk mengeluarkan udara mengeluarkan udara yang terperangkap dalam autoclave. api kompor dikecilkan. buka pengunci dan keluarkan panci yang berisi media. 12. matikan api kompor. karena tekanan dapat meningkat sampai melewati batas. Setelah waktu sterilisasi tercapai. Keadaan ini menyebabkan media atau air bubble up. 13. dimasukkan ke dalam panel-dalam. Setelah tekanan turun sampai 0. 7. 8. Selama sterilisasi. Tutup dengan erat. Panaskan sampai air dalam autoklaf mendidih dan uap mulai keluar dari katup pengeluaran uap. Keadaan ini berbahaya dan dapat menyebabkan kerusakan alat. 10. 11. sebanyak 1 liter untuk autoklaf kecil. Setelah tekanan mencapai 15 psi. Uap dikeluarkan sedikit-sedikit dengan mengatur katup pengeluaran uap (buka sedikit-sedikit). Jangan sekali-kali membuka katup dan membiarkan uap keluar sekaligus. 14. 9. Susun botol-botol tersebut hingga mencapai permukaan panel. B. jangan meninggalkan autoklaf dan mengerjakan hal lain diruang lain. dan 1. Tutup katup pengeluaran uap. Biarkan uap keluar selama 5 menit (minimum). Jaga keadaan tekanan 15 psi ini dengan mengatur besar kecilnya api kompor secara manual. 6. (kencangkan pengunci tanpa menggunakan alat) 5. Letakkan autoklaf di atas kompor gas atau pembakar Bunsen. Biarkan katup pengeluaran uap dalam keadaan terbuka. Isi panci luar dengan air. 3. Botol-botol media yang akan disterilkan. Amati kenaikan temperature dan tekanan.1. Sterilisasi Aquadest dan Media Menggunakan Autoklaf Listrik (Digital Atau Non Digital) 41 .5 liter untuk autoklaf besar 2. 15.

Untuk 20 botol volume 1 liter membutuhkan waktu yang lebih lama yaitu 34 menit. 5 botol 4 liter waktu yang digunakan 52 menit. sterilisasi dilakukan dengan autoklaf pada temperature 121Oc. 2009). stok Fe 200 kali. unsure makro diencerkan sebanyak 5 kali. agar sterilisasi lebih efektif. Dengan waktu yang lebih lama. serta kencangkan dengan karet gelang. Untuk media kultur yang tidak mengandung bahan-bahan yang Heat-labile. Waktu sterilisasi sama dengan waktu untuk sterilisasi alat-alat waktu 30 menit pada tekanan 15 psi. atau 1 atm. Isi wadah tersebut sampai 80% volume. 10 botol volume 2 liter memerlukan waktu 37 menit.20-0. Untuk 15-50 ml media dalam tabung reaksi atau botol kecil berukuran 50-100 ml. Dalam sterilisasi aquadest dan media. V. setelah waktu sterilisasi yang diinginkan sudah tercapai. lebih efektif bila digunakan wadah yang mempunyai volume antara 300 – 500 ml. autoklaf tidak boleh diturunkan tekanannya secara mendadak. vitamin 10 kali. sterilisasi dilakukan pada tekanan 15 psi dengan waktu 20 menit.Dalam sterilisasi aquadest. Untuk aquadest sebaiknya dimasukkan dalam wadah kecil misalnya erlemeyer 250 ml dengan isi maksimum 100 ml. maka dapat ditarik kesimpulan bahwa: Pembuatan larutan stok dilakukan dengan mengencerkan menggunakan aquades. 42 . cairan didalamnya mendidih dan meluap (bubbled up). KESIMPULAN Berdasarkan hasil pengamatan. tekanan antara 15 psi atau 1 atm dengan waktu antara 2025 menit tergantung dari volume wadah dan volume media. Diameter filter yang bermacam-macam tergantung dari volume larutan yang ingin disterilkan. dipergunakan filter yang dipasang di ujung jarum suntik. sterilisasi dilakukan dengan menyaring larutan melalui filter yang mempunyai ukuran pori 0. Ca-panthothenate. Media disterilkan dalam autoklaf. Bahan yang heat labile antara lain : GA3. ZPT berupa IAA dan Kinetin 100 kali. Bila tekanan diturunkan mendadak. unsure mikro 100 kali. dan tutup dengan kertas.22 um. Antibiotik: carbenocilin (Anonimous. Untuk bahan-bahan yang heat-labile dalam bentuk larutan. Thiamin-HCL. Untuk volume larutan 10 ml.

stok vitamin diambil 50 ml. stok ZPT untuk auksin dan sitokinin masing-masing 1 ml.Pembuatan medium MS dilakukan dengan mencampurkan stok yang telah dibuat. Untuk pembuatan 1L medium. stok unsure mikro diambil 5 ml. maka stok unsure makro diambil sebanyak 100 ml. 43 .5 psi selama 20 menit. stok Fe diambil 5 ml. Sterilisasi medium dilakukan dengan menggunakan autoklaf pada suhu 1210C pada tekanan 1517.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.