Pengertian Ibadah dalam Berbagai Perspektif

Secara etimologis, kata ibadah merupakan bentuk mashdar dari kata kata abada yang tersusun dari huruf „ain, ba, dan dal. Arti dari kata tersebut mempunyai dua makna pokok yang kelihatan bertentangan atau bertolak belakang. Pertama, mengandung pengertian lin wa zull yakni ; kelemahan dan kerendahan. Kedua mengandung pengertian syiddat wa qilazh yakni; kekerasan dan kekasaran. H. Abd. Muin Salim menjelaskan bahwa, dari makna pertama diperoleh kata „abd yang bermakna mamluk (yang dimiliki) dan mempunyai bentuk jamak „abid dan „ibad. Bentuk pertama menunjukkan makna budak-budak dan yang kedua untuk makna “hamba-hamba Tuhan”. Dari makna terakhir inilah bersumber kata abada, ya‟budu,‟ibadatan yang secara leksikal bermakna “tunduk merendahkan, dan menghinakan diri kepada dan di hadapan Allah. Dalam bukunya Jalan Lurus Menuju Hati Sejahtera dijelaskan, bahwa kata ibadah mengandung ke-mujmal-an dan kemudahan. Ayat-ayat al-Quran yang menggunakan kata „abd (‫ )دبع‬dan yang serupa dan dekat maknanya adalah seperti khada‟ (tunduk merendahkan diri); khasya‟a (khusyuk); atha‟a (mentaati), dan zal (menghinakan diri). Sejalan dengan pengertian tersebut, T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy juga menjelaskan bahwa ibadah dari segi bahasa adalah “taat, menurut, mengikut, tunduk, dan doa”. Menurut istilah, tidak disepakati tentang pengertian ibadah. Dengan demikian, ibadah secara terminologis ditemukan dalam ungkapan yang berbeda-beda. TM. Hasbi Ash-Shiddieqy dalam mengutip beberapa pendapat, ditemukan pengertian ibadah yang beragam, misalnya ; perspektif ulama tauhid mengartikan ibadah dengan : ّ ‫ى يغ ان رزن م ٔان خ ضٕع ن‬ٛ ‫ ح ان ر ؼظ‬ٚ‫ًّ غا‬ٛ ‫ذ هللا ٔذ ؼظ‬ٛ ‫ذ ٕح‬ Meng-Esakan Allah, menta‟zhimkan-Nya dengan sepenuh-sepenuhnya ta‟zhim, serta menghinakan diri kita dan menundukkan jiwa kepada-Nya (menyembah Allah sendiri-Nya. Perspektif ulama akhlak mengartikan ibadah dengan : ‫او ت ان ششائ غ‬ٛ ‫ح ٔان ق‬ٛ َ‫ان ؼًم ت ان طاػح ان ثذ‬ Mengerjakan segala tha‟at badaniyah dan menyelenggaran segala syariat (hukum). Perspektif ulama tasawuf mengartikan ibadah dengan : ّ ‫ًا ن شت‬ٛ ‫ف ؼم ان ً ك هف ػ هٗ خ الف ْٕٖ َ ف غّ ذ ؼظ‬ Seorang mukallaf mengerjakan sesuatu yang berlawanan dengan ke-inginan nafsunya untuk membesarkan Tuhannya. Perspektif ulama fikih mengartikan ibadah dengan : ‫خ شج‬ٜ‫ د ات ر غاء ن ٕجّ هللا ٔط ه ثا ن ثٕت ّ ف ٗ ا‬ٚ‫يا أد‬ Segala taat yang dikerjakan untuk mencapai keridhaan Allah dan meng-harap pahala-Nya di akhirat. M. Quraish Shihab, menyatakan, ibadah adalah suatu bentuk ketundukan dan ketaatan yang mencapai puncaknya sebagai dampak dari rasa pengagungan yang bersemai dalam lubuk hati seseorang terhadap siapa yang kepadanya ia tunduk. Rasa itu lahir akibat adanya keyakinan dalam diri yang beribadah bahwa obyek yang kepadanya ditujukan ibadah itu memiliki kekuasaan yang tidak dapat terjangkau hakikatnya. Pengertian-pengertian ibadah dalam ungkapan yang berbeda-beda sebagaimana yang telah dikutip, pada dasarnya memiliki kesamaan esensial, yakni masing-masing bermuara pada pengabdian seorang hamba kepada Allah swt, dengan cara mengagungkan-Nya, taat kepada-Nya, tunduk kepada-Nya, dan cinta yang sempurna kepada-Nya. Referensi Makalah® Kepustakaan: Abu Husain Ahmad Ibn Faris Ibn Zakariyah, Mu‟jam Maqayis al-Lugah, juz IV (Beirut: Dar al-Fikr, t.th). H. Abd. Muin Salim, Fiqh Siyasah; Konsepsi Kekuasaan Politik dalam Al-Quran (Cet. I; Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1994). H. Abd. Muin Salim, Jalan Lurus Menuju Hati Sejahtera; Tafsir Surah al-Fatihah (Cet. I; Jakarta: Yayasan Kalimah, 1999). T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Kuliah Ibadah; Ibadah Ditinjau dari Segi Hukum dan Hikmah (Cet. VII; Jakarta: Bulan Bintang, 1991). M. Quraish Shihab, Fatwa-fatwa Seputar Ibadah Mahdah (Cet. I; Bandung: Mizan, 1999). Muhammad Fu‟ad „Abd. al-Baqy, al-Mu‟jam al-Mufahras li Alfazh al-Quran al-Karim (Bairut: Dar al-Fikr, 1992). Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir al-Quran al-Hakim al-Musamma Tafsir al-Manar, juz I(Mesir: Maktabah al-Qahirat, 1988). Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Terjemahnya (Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci al-Qur‟an, 1992). Iklan Tafsir dan Penafsiran

Ruang Lingkup Ilmu Nasikh-Mansukh

Pendiri Tarekat Qadiriyah › Home Referensi Populer  Contoh Latar Belakang atau Rumusan Masalah Sederhana Contoh Latar Belakang.. sebagai sumbernya. diperbolehkan untuk dicopy paste atau disebar-luaskan. baca : cara membuat rumusan dan latar belakang masalah . Perang Salib ini merupakan konflik .. Ditulis Oleh : Mushlihin Al-Hafizh Kategori: Tafsir dan Penafsiran 0 komentar: Post a Comment ‹ Pengertian Haji Menurut Fikih Biografi Abdul Qadir Jaelani... Pelanggaran atas ketentuan tersebut adalah bentuk plagiasi.. Judul: Efektivitas Pembelajaran Kontekstual Model Pengaj.referensimakalah. Tentang tahun k. keduanya berasal dari akar kata radd yang berarti “berbalik kembali. akal budi atau adat-istiadat.. dan di luar tanggungjawab penulis.  Biografi Imam Malik Nama lengkapnya adalah Malik bin Anas bin Abi Amir bin Haris bin Ghaiman bin Huzail alAshabi bin „Adi bin Malik bin Yazid.        Sejarah Perkembangan Teori Nasikh-Mansukh Perbedaan Pendapat mengenai Tafsir Sufi Ragam Tafsir Sufi Takwil sebagai Sisi Lain dari Majaz Hermeneutika dalam Konteks Penafsiran Kekurangan dan Kelebihan Takwil Konsekuensi Takwil menurut Ulama Analisis Sosio Historis dalam Takwil Modern Referensi tentang Pengertian Ibadah dalam Berbagai Perspektif. Secara tata bahasa.  Pengertian Riddah Secara etimologi riddah memiliki akar kata yang sama dengan irtidad. pengertian kebu.html.com/2012/08/pengertian-ibadah-menurut-ulama-dalam-berbagaiperspektif. .. dengan ketentuan meletakkan link (URL) http://www.  Pengertian Budaya dan Kebudayaan Kata budaya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai pikiran..  Latar Belakang dan Faktor-faktor Terjadinya Perang Salib Perang Salib adalah serangkaian peperangan yang terjadi antara umat Kristen Eropa dengan Kaum Muslimin...

dan Tujuan Laporan Hasil Penelitian Sebelum menjelaskan tentang penyusunan laporan hasil penelitian..  Pengertian dan Tujuan Perencanaan Pembelajaran Proses pembelajaran bisa disebut interaksi edukatif yang sadar akan tujuan..  Pengertian. Fungsi. Pengertian Shalat Jamaah Shalat jamaah adalah gabungan dari kata shalat dan jamaah." +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ ... artinya interaksi yang telah dicangkan untuk suatu tujuan terte. terlebih dahulu penulis mengungkapkan maksud dari ungkapan tersebut. Penyu... al-jamaah secara bahasa berasal dari kata al-Jam‟u. masdar dari jama‟a yang be. Prinsip-prinsip Ibadah dalam Islam +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ +++++++ "Allah Swt telah menentukan dan menetapkan bahwa manusia wajib mematuhi semua ketentuan yang telah ditetapkan-Nya agar menusia itu beruntung. Jenis.

dan do`a.S Yasin ayat 60 yang artinya : "Bukankah aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah setan ? Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu" (Q. Ibadah dalam arti taat diungkapkan dalam Q. ketundukan. pemujaan. Didalam Al Qur`an. Dalam pengertian yang sangat luas. ya`budu.+++++++ Pengertian Ibadah Kata Ibadah berasal dari bahasa Arab : 'abada. menurut. ibadah yang artinya penyembahan.S Yasin (36): 60). pengabdian. tunduk (al-khudu`). kepatuhan. dan ketaan makhluk kepada Khaliknya. Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa hakikat ibadah adalah mengikuti (mutaba`ah) apa yang telah dicontohkan Nabi Muhammad Saw serta patuh dan taat kepada semua perintah dan larangan Allah. mengkut. baik berupa perkataan maunpun perbuatan. . kata ibadah berarti : patuh (at-tha`ah). ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi Allah.

2. ibadah adalah semua bentuk pekerjaan yang bertujuan memperoleh ridho Allah dan mendambakan pahala dari-Nya di akhirat. . Ibadah Jasmaniah Rohaniah. Ibadah Rohaniah dan maliah.Menurut ulama Tauhid. ibadah ialah mengesakan Allah dengan sungguh-sungguh dan merendahkan diri serta menundukkan jiwa setunduk-tunduknya kepada Allah. dan Maliah yakni ibadah yang menyatukan ketiganya contohnya seperti ibadah Haji. 3. Adapun menurut ulama fiqih. yaitu perpaduan ibadah rohaniah dan harta seperti zakat.S an-Nisa` (4): 36). Ibadah Jasmani. yakni sebagai berikut: 1.S an-Nisa` ayat 36 yang artinya : "Sembahlah Allah dan jangalah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun" (Q. Dasarnya adalah firman Allah dalam Q. Rohaniah. yaitu perpaduan ibadah antara jasmani dan rohani misalnya shalat dan puasa. Ibadah dari segi pelaksanaannya dapat dibagi dalam 3 bentuk.

seperti puasa. syariat Islam juga mengatur hubungan antara manusia dan dirinya sendiri untuk mewujudkan sosok individu yang saleh dan mencerminkan sosok pribadi yang baik dan membawa kabaikan. Oleh karena itu. Ibadah mahdah adalah ibadah yang khusus berbentuk praktik atau pebuatan yang menghubungkan antara hamba dan Allah melalui cara yang telah ditentukan dan diatur atau dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Ditinjau dari segi bentuknya. baik aspek hubungan manusia dengan Allah. dan membaca Al Qur`an. i`tikaf. ibadah ada 5 macam yaitu sebagai berikut : 1. puasa. Kata ini kemudian dikonotasikan sebagai jalan lurus yang harus diikuti. Selain itu. Ibadah yang berbentuk menggugurkan hak. 2. 5. dan mengurus jenazah. 4. Ibadah dalam bentuk pekerjaan yang telah ditentukan bentuknya. pelaksanaan dan bentuk ibadah ini sangat ketat. Menurut istilah. seperti zikir. selama tidak bertentangan dengan syariat dan diniatkan hanya karena Allah semata. yaitu harus sesuai dengan contoh dari Rasulullah seperti. Berdasarkan pengertian diatas. Kemudian syariat Islam juga mengatur hubungan manusia dengan alam semesta dalam mewujudkan hubungan yang harmonis dan mendorong mewujudkan lingkungan alam yang makmur dan lestari. . Secara garis besar. dan manusia dengan alam semseta. dan oatuh kepada Allah. Ibadah yang tata cara pelaksanaannya berbentuk menahan diri. dapat dipahami bahwa syariat meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. manusia dengan manusia.Macam-macam Ibadah Ditinjau dari segi kepentingannya. zakat dan haji. Syariat juga mengatur hidup manusia sebagai individu. Ketaatan dan ketundukan tersebut ditunjukkan dengan cara melaksanakan ibadah yang tata caranya telah diatur sedemikian rupa dalam aturan yang disebut syariat. 3. Ibadah ini bisa berbentuk perbuatan atau perkataan. jihad. Pengertian Syariat Syariat menurut bahasa berarti jalan menuju tempat keluarnya air untuk minum. Ibdaha dalam bentuk perbuatan yang tidak ditentukan bentuknya. yaitu hamba yang harus taat. tunduk. seperti memaafkan orang yang telah melakukan kesalahan terhadap dirinya dan membebaskan sesorang yang berutang kepadanya. puasa. tahmid. zakat. dan ihram. dan haji. Syariat Islam juga mengatur hubungan manusia dan manusia dalam bentuk muamalah sehingga terwujud kesalehan sosial. shalat. Adapun ibadah gairu mahdah adalah ibadah umum berbentuk hubungan sesama manusia dan manusia dengan alam yang memiliki nilai ibadah. ibadah dibagi menjadi 2 yaitu kepentingan fardi (perorangan) seperti shalat dan kepentingan ijtima`i (masyarakat) seperti zakat dan haji. doa. Ibadah ini tidak ditentukan dan diatur secara ketat sebagaimana ibadah mahdah. seperti membantu atau menolong orang lain. ibadah dibagi menjadi 2 yakni : ibadah khassah (khusus) atau mahdah dab ibadah `ammah (umum) atau gairu mahdah. seperti shalat. Ibadah dalam bentuk pekataan atau lisan. syariat adalah hukum-hukum dan tata aturan Allah yang ditetapkan bagi hamba-Nya untuk diikuti.

6. tidak ada maksud dan tujuan lain selain hanya kepada Allah. Ibadah harus dilakukan oleh seorang hamba Allah tanpa melalui perantara. Riwayat Imam Empat.S al-Baqarah (2): 185). Tidak mempersulit (`Adamul Haraj) Prinsip ini didasarkan kepada firman Allah yang artinya : "Allah menghendaki kemudahan bagimu. hingga ada ketentuan yang memerintahkannya" 2. binatang. tumbuh-tumbuhan. 4. dan tidak menghendaki kesukaran bagimu" (Q. Ibadah dilakukan secara ikhlas Ikhlas artinya murni. Ibadah tanpa perantara Prinsip ini merupakan konsekuensi pengakuan atas kemahaesaan Allah Swt. maupun manusia.Prinsip-prinsip Ibadah 1. Adanya perantara dalam beribadah bertentangan dengan prinsip tauhid dan beribadah hanya kepada Allah semata. dalam sebuah kaidah diungkapkan: "Asal mula ibadah itu terlarang. yang dimanifestasikan sesorang muslim dengan kata-kata (kalimat tauhid) La ilaha Illallah. 3. Ada perintah Ada beberapa prinsip dalam ibadah yaitu sebagai berikut : Adanya perintah merupakan syarat sahnya suatu ibadah. (Hadis shahih menurut Tirmidzi) ++++++++++++++++++++++++++++++++++ . +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ +++++++ Dari Nu`man Basyir r.S alBaqarah (2): 286). ibadah merupakan sesuatu yang terlarang. akan tetapi keseimbangan antara keduanyalah yang harus dikerjakan. Tanpa perintah. 7. baik berupa benda. Menyedikitkan beban (Qilatuttaklif) Prinsip ini didasarkan kepada firman Allah yang artinya : "Allah tidak membebani seseorang melainkan atas dasar kemampuannya" (Q. bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda : "Sesungguhnya doa adalah ibadah". Ibadah hanya ditujukan kepada Allah Swt 5. maka ibadah mempunyai prinsip adanya keseimbangan diantara keduanya. tulus.a. Tidak hanya mengejar satu hal lalu meninggalkan yang lainnya. Ikhlas dalam beribadah berarti beribadah tanpa merasa terpaksa. Keseimbangan Jasmani dan Rohani Sesuai dengan kodratnya bahwa manusia itu makhluk Allah yang terdiri atas jasmani dan rohani. Hal ini dimaksudkan agar ibadah seseorang hamba benar-benar murni dan jauh dari perbuatan syirik. melainkan benar-benar murni untuk menunaikan perintah Allah Swt. atau sebaliknya.

menepati janji. ketundukan dan ketakutan yang sempurna (kepada Allah). kerendahan diri dan ketaatan[1]. jihad melawan orang kafir dan orang munafiq. sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selainnya. Al-A‟raaf : 59) Menurut imam Ibnu Katsir ibadah secara bahasa adalah (‫ )جلرلا‬kehinaan.[3] 3. dzikir. amar ma‟ruf nahi mungkar. Khosyah. apabila kita kembali pada Al Qur an dan struktur serta pemakaian bahasa Arab. zakat. kata ‫ انؼثاد‬yang diambil dari kata ‫ انؼثادج‬yang kebanyakan ditujukan kepada Allah. beribadah. ikhlas.‫ جًغ ك ًال ان ًح ثح ٔان خ ضٕع ٔان خٕف‬ٚ ‫ػ ثاسج ػًا‬ Himpunan dari semua rasa kecintaan. dan musafir. Allah Ta‟ala berfirman : 65 : ‫ اخ‬ٚ‫ ان زاس‬. Budak disebut ‫ ػثذ‬karena dia harus tunduk dan patuh serta merendahkan diri terhadap majikannya. Dan itulah sebab mengapa Allah menciptakan manusia. patuh merendahkan diri di hadapan yang disembah disebut abid (orang yang beribadah). 3. anak yatim. berbakti kepada orang tua. Asal dari ibadah adalah ketundukan. menunaikan amanah. haji.[2] Menurut Yusuf Qordhowi. Seseorang yang tunduk. berkata jujur. “Sembahlah Allah . ridho kepada takdir-Nya.PRINSIP AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH DALAM IBADAH 4 12 02 2011 III. Sedangkan kata ‫ذ‬ٛ‫ انؼث‬yang kebanyakan ditujukan kepada selain Allah. Kesemua pengertian itu mempunyai makna yang berdekatan. bersyukur atas nikmat-Nya. Sedangkan menurut istilah syar‟i adalah : . orang miskin. amal–amal batin dan lahir.” (QS. puasa. Sholat.1 Ibadah secara etimologi PENGERTIAN IBADAH Ibadah berasal dari kata ‫ح –ػثذ‬ٚ‫ؼثذ ػثادج ػثٕد‬ٚartinya menyembah. berbuat baik kepada tetangga. Allah berfirman : ِ‫ش‬ٛ‫اػثذٔا هللا يا نكى يٍ إنّ غ‬. Sebagaimana Allah mengutus Nuh „Alaihis Salam. mencintai Allah dan Rosul-Nya. tawakkal.2 Ibadah menurut Ibnu Taimiyah Rohimahulloh[4] Ibnu Taimiyah dalam kitabnya al Ubudiyah mengatakan bahwa Ibadah adalah suatu kata yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi Allah dari ucapan – ucapan.[5] 3. sabar terhadap ketentuan-Nya. harap dan takut dengan siksa-Nya serta yang semisal dengan itu semua yang berupa ibadah kepada Allah. Karena ibadah adalah tujuan yang dicintai dan diridhoi Allah. Di antara pengertian-pengertian tersebut yaitu[6] : . silaturrohim. berdoa. karena kata tersebut diambil dari ‫ح‬ٚ‫ انؼثٕد‬yang berarti budak.ٌٔ‫ ؼ ثذ‬ٛ ‫ٔيا خ ه قد ان جٍ ٔاإلَ ظ إال ن‬ Ibadah hanya kepada Allah adalah tujuan Allah mengutus para Rosul.3 Ibadah menurut para ahli : Selanjutnya para ahli dari berbagai disiplin ilmu mengemukakan pengertian ibadah dari segi terminologi dengan rumusan yang bervariasi sesuai dengan bidangnya. inabah.

2.[8] Kecintaan yang sempurna adalah cinta yang ditujukan kepada Allah. Mengerjakan segala bentuk ketaatan badaniyyah dan menunaikan semua syari‟at 3. Demikian pula sesorang yang cinta kepada sesuatu namun dia tidak tunduk kepada orang yang dia cintai tersebut. dia tidak bisa disebut sebagai seorang „abid. Ibadah menurut ulama tauhid dan hadist adalah : ‫ى يغ انرزن‬ٛ‫ح انرؼظ‬ٚ‫ًّ غا‬ٛ‫ذ هللا ٔذؼظ‬ٛ‫م ٔانخضٕعذٕح‬ Mengesakan dan mengagungkan Allah sepenuhnya serta menghinakan diri dan tunduk kepada-Nya. baik berupa perkataan atau perbuatan secara terang-terangan ataupun tersembunyi yang bertujuan untuk mengagungkan Allah dan mengharapkan pahalanya. Dari pengertian-pengertian di atas dapat kita tarik pengertian umum dari ibadah adalah : ‫ا‬ٛ‫جه‬. . Segala bentuk ketaatan yang engkau laksanakan yang bertujuan untuk meraih ridho Allah dan mengharap pahala-Nya di akhirat.‫ش اِ ٕال كاٌ أٔ فؼال‬ٚ ٔ ‫حثّ هللا‬ٚ ‫ اعى جايغ نًا‬ْٙ ‫ًا نّ ٔطهثا نثٕاتّ انؼثادج‬ٛ‫ ذؼظ‬ٙ‫أٔ خف‬. Menurut ahli fiqh ibadah adalah : ‫خشج‬ٜ‫ ا‬ٙ‫د اترغاء نٕجّ هللا ٔطهثا نثٕاتّ ف‬ٚ‫يا أد‬. IV. Di samping itu ibadah juga mengandung unsur kehinaan. yaitu ketundukan dan kecintaan yang paling dalam kepada Allah Subhanahu wa Ta‟ala. Para ahli bidang akhlak mendefinisikan ibadah sebagai berikut : ‫او تانششائغ‬ٛ‫ح ٔانق‬َٛ‫انؼًم تانطاػاخ انثذ‬. maka dia tidak bisa dinamakan sebagai abid. HAKEKAT IBADAH Dalam syari‟at Islam ibadah mempunyai dua unsur. Allah berfirman : ‫شذكى ٔأيٕال ا رشفرًْٕا ٔذجاسج ذخشٌٕ كغادْا ٔيغاكٍ ذش َٕٓا أحة م إٌ كاٌ تا كى ٔأتُا كى ٔإخٕاَكى ٔأ‬ٛ‫كى يٍ صٔاجكى ٔػش‬ٛ‫إن‬ ِ‫ هللا ت يش‬ٙ‫ ذ‬ٚ ٗ‫هّ فرشت ٕا حر‬ٛ‫ عث‬ٙ‫هللا ٔسعٕنّ ٔجٓاد ف‬. Ibadah itu suatu nama yang mencakup segala perbuatan yang disukai dan diridhoi oleh Allah .[7] Seseorang yang mengaku dirinya tunduk kepada orang lain sedang di dalam jiwanya tersembunyi rasa benci kepada orang itu.1. yaitu kehinaan yang paling rendah di hadapan Allah Subhanahu wa Ta‟ala.

qurban dan aqiqah. sumpah dan kafarat. puasa. seperti berbakti pada orang tua. orang tuanya dan seluruh manusia. adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rosul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya. nazar. Ibadah umum ruang lingkupnya sangat luas. anak-anakmu. 4. istri-istrimu. zakat dan haji. berbuat baik kepada fakir miskin. haji dan umroh. maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.“Katakanlah:”Jika bapak-bapakmu. Bila diklasifikasikan dapat menjadi beberapa kelompok. RUANG LINGKUP IBADAH[11] Untuk mengetahui ruang lingkup ibadah terlepasa dari pemahaman terhadap pengertian itu sendiri. Akhlak robbaniyyah(ketuhanan). Bahkan semua ajaran agama termasuk dalam ibadah. Yang berhubungan dengan kewajiban-kewajiban di atas dalam bentuk ibadah-ibadah sunat. sepeerti mencintai Allah dan Rosul-Nya. untuk dilihat apa saja ruang lingkup ibadah itu. sholat. takut dan ikhlas kepada-Nya.saudara-saudaramu. yaitu mencakup segala amal kebajikan yang dilakukan dengan niat ikhlas dan sulit untuk mengemukakan sistematikanya.”[9] Dengan melihat hakekat dan pengertian ibadah Yusuf Qordhowi mengemukakan bahwa ibadah merupakan kewajiban dari Allah dan disampaikan kepada para Rosul-Nya dalam bentuk perintah dan larangan. harta kekayaan yang kamu usahakan. 5. SYARAT DITERIMANYA IBADAH . Akhlak insaniyyah (kemanusiaan).[10] V. perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya. membaca Al Qur an.puasa. Lebih khusus lagi ibadah dapat diklasifikasikan menjadi ibadah umum dan khusus. 2. seperti dzikir. 3. Tetapi ibadah khusus ditentukan oleh nash atau syari‟at mengenai bentuk dan caranya yang secara garis besar sistematikanya sebagai berikut :thoharoh. Dalam hal ini penulis mengambil pengertian ibadah yang dikemukakan oleh Ibnu Taimiyah. keluargamu. doa dan istighfar. VI. Ruang lingkup ibadah yang dikemukakan Ibnu Taimiyah cabangnya sangat luas. Kewajiban-kewajiban atau rukun-rukun syari‟at seperti sholat. I‟tikaf. seperti benar dalam berbicara dan menepati janji.” (at Taubah : 24) Rosululloh bersabda: ٍٛ‫ّ يٍ ٔانذِ ٔٔنذِ ٔانُاط أجًؼ‬ٛ‫ يٍ أحذكى حرٗ أكٌٕ أحة إن‬ٚ ‫ال‬ “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintai daripada anak. silaturahmi. zakat. penyelenggaraan jenazah. dan rumahrumah tempat tinggal yang kamu sukai. Semua bentuk hubungan sosial yang baik serta pemenuhan hak-hak manusia. yaitu : 1.

”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan ) agama dengan lurus. Amal itu harus murni ditujukan kepada Allah dan benar sesuai syari‟at Rosululloh Shollallahu „Alaihi wa Sallam. Al-Bayyinah : 5) Allah Subhanahu wa Ta‟ala berfirman: ‫ؼًم ػًال‬ٛ‫شجٕ نقاء ستّ فه‬ٚ ٌ‫شش تؼثادج ستّ أحذا فًٍ كا‬ٚ ‫ انحا ٔال‬. “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Robbnya.‫ض انغفٕس‬ٚ‫كى أحغٍ ػًال ْٕٔ انؼض‬ٚ‫ثهٕكى أ‬ٛ‫اج ن‬ٛ‫انز٘ خه انًٕخ ٔانح‬2 “Yang menciptakan mati dan hidup.Syarat diterimanya ibadah ada 2. yaitu: 1. Allah Subhanahu wa Ta‟ala berfirman : ٔ ‫ ذٕا انضكاج‬ٚٔ ‫ًٕا ان الج‬ٛ‫ق‬ٚٔ ‫ٍ حُفاء‬ٚ‫ٍ نّ انذ‬ٛ ‫ؼثذٔا هللا يخه‬ٛ‫ًحٔيا أيشٔا إال ن‬ٛ‫ٍ انق‬ٚ‫رن د‬. dan yang demikian itulah agama yang lurus.”[12] 2.” (QS. Ikhlas.” (QS.Ikhlas merupakan ruh dan inti agama. Mengikuti Sunnah Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa sallam : ‫انًه‬. untuk menguji kamu siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Al Mulk:2) .” (QS. dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat.maka hendaklah ia mengerjakan amal sholih dan janganlah ia mempersektukan Robbnya dengan sesuatu pun. Al Kahfi : 110) Ibnu Katsir berkata:”Inilah dua rukun diterimanya amal.

Berkata Fudhail bin „Iyadh:”Yang paling ikhlas dan paling benar. hal.”Hadist ini secara tersurat (manthuq) menunjukkan bahwa setiap amalan yang bukan merupakan tuntunan dari syari‟at.[15] Beliau Rohimaholloh melanjutkan perkataannya. maka tidak akan diterima. apa yang dimaksud dengan yang paling ikhlas dan paling benar itu ?”Beliau menjawab:”Sesungguhnya amal apabila dilakukan dengan ikhlas namun tidak benar. dan hadist ini merupakan tolak ukur dari amalan-amalan lahiriyah sebagaimana hadist. (‫لاوعألا اوٌإ‬ nalama irad ruku kalot idajnem(‫اخ‬ٛ ُ ‫ت ان‬-amalan batin. Fiqh Ibadah. Maktabah Syamilah. hal.Fiqh Ibadah. hal. maka tidak akan diterima hingga ia dilakukan dengan ikhlas dan benar. Jadi ketetapan hukum-hukum syari‟at merupakan hakim (penentu) amalan.[16] Dalam sabda beliau. Maktabah Syamilah [6] Rahman Ritonga dan Zainuddin.[18] [1] Ibnu Mandzur.”[13] Rosululloh Shallallahu „Alaihi wa Sallam juga bersabda. hal. hal 134. 273. maka amalan tersebut tertolak. Dan apabila dilakukan dengan benar namun tidak ikhlas. hendaknya berada di bawah ketetapan hukum-hukum syari‟at.”[14] Ibnu Rojab berkata:”Hadist ini adalah hadist yang sangat agung mengenai pokok-pokok Islam. 2-4 [7] Rahman Ritonga dan Zainuddin. 5 [osul [11] Ibid. Sedangkan secara tersirat (mafhum). hal 23.” [17] nakukalid gnay lama aumes awhab taraysi haubes halada‫ّ أيشَ ا‬ٛ ‫ظ ػ ه‬ٛ ‫ن‬ seseorang. 6-7 . sedangkan yang benar ialah sesuai dengan sunnah.” Orang-orang bertanya:”Wahai Abu „Ali. ٛ‫ظ ػه‬ٛ‫ّ أيشَا فٕٓ سديٍ ػًم ػًال ن‬ “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami. 1 [3] Ibid [4] Ibnu Taimiyah. Yang dilakukan dengan ikhlas ialah hanya ditujukan untuk Allah Ta‟ala. al Ubudiyah. setiap amalan yang termasuk dari tuntunan syariat. Fiqh Ibadah. Lisanul Arab. juz 1. Demikian pula semua amalan yang bukan termasuk dari perintah Allah dan Rosul-Nya. hal. 13. juz 3. Maktabah Syamilah [10] Rahman Ritonga dan Zainuddin. juz 1. amalan itu akan tertolak. Bukhori. Jika suatu amalan tidak diniatkan untuk mencari wajah Allah Ta‟ala. hal. pasti amal yang ia lakukan akan tertolak. Dan setiap perkara yang diada-adakan dalam agama yang tidak ada izin Allah dan Rosul-Nya. Fiqh Ibadah. 4 [8] Ibid [9] HR. [2] Rahman Ritonga dan Zainuddin. hal. Bab Hubb ar Rosul Shollallahu „Alaihi wa Sallam min al Iman. Maktabah Syamilah [5] Ibnu Katsir. apakah amal itu diperintahkan atau tidak. maka pelakunya tidak akan memperoleh pahala. 44. no. amalan tersebut tidak tertolak. Tafsir Al Qur an al Adzim. maka perkara itu bukanlah menjadi bagian dari agama ini.

juz 5. 3243. hal. 5. Maktabah Syamilah [13] Ibnu Taimiyah. Muslim. 124. Maktabah Syamilah [15] Ibnu Rojab. Tafsir Al Qur an al „Adzim. al Majmu‟ Fatawa. Maktabah Syamilah [16] Ibid [17] Yang bukan ajaran kami [18] Ibnu Rojab. Bab Naqd al-Ahkam al-Bathilah wa Rodd al-Muhdatsah al-Umuur. 119. hal.hal. Jami‟ al „Ulum wal Hikam. hal. 50 « PRINSIP AHLUSSUNNAH WAL JAMA‟AH DALAM IBADAH 3 PRINSIP AHLUSSUNNAH WAL JAMA‟AH DALAM IBADAH 5 » . hal. no.[12] Ibnu Katsir. 59. juz 9. juz III. Maktabah Syamilah [14] HR.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful