PRESENTASI KASUS

ANESTESI SPINAL PADA OPERASI SEKTIO CAESAREA

Pembimbing: Dr. Satriyo Y. Sasono, Sp. An Dr. Muhammad Gusno Rekozar, Sp. An Dr. Diah Annisa, Sp. An

Penyusun : Azman Hakim Hassanuddin 030.08.270

KEPANITERAAN KLINIK ILMU ANESTESI RUMAH SAKIT OTORITA BATAM PERIODE 17 DESEMBER 2012 – 19 JANUARI 2013 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

LEMBAR PENGESAHAN

Nama NIM Judul Case

: Azman Hakim Hassanuddin : 030.08.270 : ANESTESI SPINAL PADA OPERASI SEKTIO CAESAREA

Telah diterima dan disetujui oleh pembimbing Dr. Satriyo Y. Sasono, SpAn pada : Hari Tanggal : :

Sebagai salah satu syarat dalam mengikuti dan menyelesaikan Kepaniteraan Klinik Anestesi Di Rumah Sakit Otorita Batam

Batam ,

Dr. Satriyo Y.Sasono, SpAn.

KATA PENGANTAR

Puji syukur dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkat rahmat dan anugrahNya, pembahasan case dengan judul Anestesi Spinal pada Operasi Sektio Caesarea. Pembahasan case ini disusun sebagai salah satu tugas dalam pelaksanaan kepaniteraan klinik bagian anastesi RS otorita batam periode 8 Oktober- 10 November 2012. Penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dr. Satriyo Y.Sasono, Sp.An selaku pembimbing dalam penyusunan tugas ini serta seluruh pihak yang telah membantu, sehingga case ini dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Penulis menyadari bahwa tulisan ini jauh dari sempurna, karena itu sangat diharapkan kritik dan saran untuk perbaikan pembuatan case ini

Batam,

1 Oktober 2012

Penulis

500 yang menjalani bedah caesar. dibandingkan dengan 1 dari 10. Dewasa ini cara ini jauh lebih aman daripada dahulu berhubung dengan adanya antibiotika. Dalam kondisi ibu dan fetus normal. obstetrik. dan tiap kali kehamilan serta persalinan berikut memerlukan pengawasan yang cermat berhubung dengan bahaya ruptura uteri. serta persiapan operasinya. Anestesi spinal merupakan teknik anestesi regional yang baik untuk tindakantindakan bedah. maka RA untuk bedah Cesar lebih disukai. yang tidak mungkin menunggu kemajuan persalinan per-vaginam secara fisiologis. Untuk operasi yang direncanakan secara elektif tersedia waktu berhari-hari untuk pemeriksaan klinik dan laboratorium. ataupun riwayat sectio caesarea sebelumnya. Dokter anestesi dihadapkan kepada . Namun demikian. Pada bedah gawat darurat. persalinan tidak maju. Karena itu kini ada kecenderungan untuk melakukan seksio sesarea tanpa dasar yang cukup kuat. WHO (World Health Organization) memperkirakan bahwa angka persalinan dengan seksio sesarea sekitar 10-15% dari semua proses persalinan di negara-negara berkembang dibandingkan dengan 20% di Britania Raya dan 23% di Amerika Serikat. Data statistik dari 1990-an menyebutkan bahwa kurang dari 1 kematian dari 2. memungkinkan ibu dan pasangannya mengikuti proses kelahiran bayi mereka. Kanada pada 2003 memiliki angka 21%.BAB 1 PENDAHULUAN Seksio sesarea ialah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus. karena risiko untuk ibu dan kaitannya dengan Apgar skor yang lebih rendah dengan GA. GA dan RA yang dilakukan dengan terampil hampir sama pengaruhnya terhadap bayi baru lahir.000 untuk persalinan normal. RA akan memberikan hasil neonatal terpapar lebih sedikit obat anestesi (terutama saat digunakan teknik spinal). dan atau keadaan gawat darurat yang memerlukan pengakhiran kehamilan / persalinan segera. teknik operasi yang lebih sempurna dan anestesi yang lebih baik. operasi operasi bagian bawah abdomen dan ekstremitas bawah. faktor waktu yang sangat berharga ini tidak ada lagi. Prinsip dilakukan tindakan seksio sesarea diantaranya keadaan yang tidak memungkinkan janin dilahirkan per vaginam. transfusi darah. Dalam hubungan ini perlu diingat bahwa seorang ibu yang telah mengalami pembedahan itu merupakan seorang yang mempunyai parut uterus. dan memberikan pengobatan rasa sakit pascaoperasi yang lebih baik.

mungkin 1 jam atau kurang.tugas dengan waktu persiapan yang sangat singkat. Sehingga harus dicapai kompromi antara pendekatan ideal dan kondisi anestesi optimal yang dapat diberikan untuk menunjang intervensi bedah gawat darurat ini. .

ANAMNESA Telah dilakukan Autoanamnesa pada 13 Januari 2012 pada pukul 12. Riwayat Penyakit Sekarang     Dirasakan mules / kenceng-kenceng Keluar darah dan lendir pervaginam Ketuban merembes sejak 1 minggu yang lalu Dirasakan adanya gerakan janin 3. 2.00. hati. ketuban merembes sejak 1minggu yang lalu. keluar darah vagina sedikit. Keluhan Utama : Ny W : Perempuan : 18 Tahun : Islam : Bida Asri : Menikah : Tidak bekerja : 13/01/2013 Pasien dikirim oleh bidan ke VK Rumah Sakit Otorita Batam pada hari Sabtu 12 Januari 2013 jam 21.30 WIB 1. pasien merasa kenceng-kenceng mulai jam 14.BAB II LAPORAN KASUS I. tinggi badan 140cm. Riwayat Penyakit Dahulu  Tidak ada riwayat kelaianan jantung.15 WIB dengan keluhan amenorhoe 10 bulan. hipertensi dan kelainan lain yang dapat berpengaruh pada kehamilan . ginjal. paru. DM. IDENTITAS PASIEN Nama Jenis kelamin Umur Agama Alamat Status Pernikahan Pekerjaan Tanggal masuk rumah sakit II.

PEMERIKSAAN FISIK 1. Status generalis Keadaan Umum : Sedang Kesadaran : Compos Mentis Tanda-Tanda Vital     Tekanan darah = 132/70 mmHg Respirasi = 24 kali/menit Nadi = 93x/menit. Riwayat Sosial    Tidak merokok dan minuman alkohol Minum jamu Minum obat-obatan dari bidan 5. Haid       Haid terakhir tanggal 12 April 2012 Perkiraan persalinan tanggal 19 Januari 2013 Menarche umur 12 th Siklus teratur Lama : Sedang Dysmenorrhea : Tidak 6. Kepala : Mesochepal. Pupil isokor.4. isi dan tekanan penuh Suhu = 36. (+/+) 3 mm . simestris. SI (-/-). Mata : CA -/-. Riwayat Obstetrik   G1P0A0 Nikah satu kali III. Reflek cahaya +/+. tumor (-) 3.5 °C 2.

Hidung : Discharge (-) epistaksis (-). . DJJ (+) : Tinggi fundus Uterus (TFU) 34 cm. Telinga : Discharge (-) tidak ada kelainan bentuk 8. striae gravidarum (-) : Bising usus (+) normal. Mulut : Lidah Kotor (-) bibir kering (-). (-) IV. bising (-) 10.vesikuler (+/+) normal. Extremitas : Superior : edema (-/-). Thorax : Pulmo : Simetris kanan – kiri. pembesaran tonsil 6. deviasi septum (-) 5. tidak ada retraksi . trakea ditengah. Gigi : Gigi palsu (-) 7. hiperemis (-). Leher : Simetris. bulat . lunak : Teraba tahanan memanjang di kanan. Teraba bagian . bulat.4. sianosis (-/-) Turgor kulit : Cukup Akral : Hangat Vertebrae : Tidak ada kelainan2. STATUS LOKALIS Regio Abdomen : Inpeksi Auskultasi Palpasi Leopold I Leopold II kecil di kiri Leopold III Leopold IV : Teraba bagian besar. pembesaran tiroid dan KGB (-) 9. Ronkhi (-/-). Wheezing (-/-) Cor : BJ I-II reguler. sianosis (-/-) Inferior: Edema (-/-). keras : Konvergen : Kesan hamil. S1>S2. His (+) : Teraba bagian besar.

Pemeriksaan Dalam: Vulva-vagina : Tak ada kelainan Pembukaan Effacement POD KK Presentasi : 2cm : 25% : UUK kanan : (+) : Kepala Penurunan : 4/5 Bagian menumbung : tidak ada Spina ischiadica Lendir/darah : tidak teraba : -/- V.000/μ l (150000 – 400000/ μl) CT : 4’ 12” (2’-6’) BT: 2.8% (W 37 – 43 %) Trombosit : 185.5 g/dl (12 – 16 g/dl) Leukosit : 10. PEMERIKSAAN LABORATORIUM 1. Pemeriksaan Darah Tanggal 13 Januari 2013 Hb : 11. 30” (1’-3’) Glukosa sewaktu : 70 mg/dl (<200mg/dl) l) .500μl (5000 – 10000μ Ht : 36.

Janin Tunggal Hidup Intra Uterin. Stop makan dan minum selama minimal 6 jam pre-operatif. TINDAKAN Sektio Caesarean dilakukan pada tanggal 13 Januari 2013 IX. Jenis anestesi : Regional Anestesi (RA) b.i kegagalan induksi persalinan. Post sectio caesarea transperitoneal profunda a. KESIMPULAN DARI PEMERIKSAAN FISIK Status ASA II Pasien dengan gagal induksi persalinan pada kehamilan VIII. Informed consent b.HBsAg : negatif Golongan darah : O + VI. Hamil 38 minggu. punggung kiri. LAPORAN ANESTESI 1. Usia 18 tahun. Persiapan Anestesi a. Diagnosis pasca bedah: PIA0. Premedikasi : Ondansetron 1 ampul (4mg) . DIAGNOSIS KLINIS Diagnosis prabedah: GIP0A0. penurunan 4/5 dengan kegagalan induksi. presentasi kepala. Penatalaksanaan Anestesi a. Jenis pembedahan: Besar + resiko anestesi besar VII. Usia 18 tahun. 2.

Mulai anestesi : 13. Mulai operasi : 14. Approach median v. Posisi : Supine g.20 b. Pasien dalam posisi duduk dan kepala menunduk. Jumlah cairan yang masuk : Kristaloid = 2000 cc(RAs 1 + RAs 2 + RAs 3+ Ras h. LCS keluar (+) jernih.c. iv. Teknik anestesi : i. Gelatofusal : 500 cc 5.35 d.50 4. 27 pada regio vertebra lumbal3-4. iii. Selesai operasi : 14.30c. RAs : 1500 cc b. Cairan yang masuk semasa operasi: a. Medikasi : Decain spinal 20 mg Fentanyl 20 mcg Midazolam 5mg Ephedrine 2cc Oxytocin 1 ampul Methergin 0.2 ampul Pethidine 3 cc Ketorolac 1 ampul d. Dilakukan Sub Arachnoid Block dengan jarum spinal no. Respirasi : Spontan f. Pemantauan selama anestesi : a. Tekanan darah dan frekuensi nadi Pukul (WIB) 1325 1330 1340 1350 Tekanan Darah (mmHg) 150/85 105/75 120/64 110/65 Nadi (x/menit) 90 70 112 110 . darah (-) e. ii. Bayi lahir : 14. Dilakukan desinfeksi di sekitar daerah tusukan yaitu di regio vertebra lumbal 3-4. Perdarahan selama operasi : ± 800 cc 3.

X. PROGNOSIS Ad Sanationam : Dubia ad bonam Ad Fungtionam : Dubia ad bonam Ad Vitam : Bonam .

sebelumnya pasien dan keluarga pasien diberikan penjelasan mengenai risiko yang mungkin terjadi selama operasi dan post operasi. walaupun tidak efektif dan menguntungkan. penilaian klinis penanggulangan keadaan darurat 2. Penilaian dan persiapan penderita diantaranya meliputi 1. asma. hipertensi. riwayat keluarga (penyakit dan komplikasi anestesia) d. anamnesis/heteroanamnesis kejadian penyakit b. dan persiapan obat anestesi yang diperlukan. riwayat alergi. Pada pasien ini diberikan premedikasi yaitu Ceteron (ondansentron) sebanyak 4 mg secara intravena. Persiapan yang dilakukan meliputi persiapan alat. Setelah dilakukan pemeriksaan pada pasien. maka pasien termasuk dalam klasifikasi ASA II. operasi sebelumnya. komplikasi transfusi darah (apabila pernah mendapatkan transfusi) c. atau karena keterbatasan waktu. informasi penyakit a. penilaian dan persiapan pasien. Pemberian obat anti mual dan muntah ini sangat diperlukan dalam operasi seksiosesarea cito dimana merupakan usaha untuk mencegah adanya aspirasi dari asam lambung. DURANTE OPERATIF Premedikasi jarang diberikan terutama pada penderita dengan keadaan umum yang buruk.BAB III PEMBAHASAN A. PRE OPERATIF Terbatasnya waktu pada persiapan bedah emergensi. makan minum terakhir (mencegah aspirasi isi lambung karena regurgitasi atau muntah pada saat anestesi) 3. suatu persetujuan medis untuk mendapatkan ijin dari pasien sendiri dan keluarga pasien untuk melakukan tindakan anestesi dan operasi. persiapan anestesi dan pembedahan harus selengkap mungkin karena penderita yang dihadapi penuh dengan risiko. Persiapan operasi yang tidak kalah penting yaitu informed consent. B. antagonis reseptor H2 atau metoclopramide. Namun pada beberapa kasus dapat diberikan premedikasi secara intravena atau intramuskular dengan antikolinergik disertai pemberian antasida. diabetes mellitus. .

Dicari perpotongan garis yang menghubungkan kedua crista illiaca dengan tulang punggung yaitu antara vertebra lumbal 3-4.Tindakan pemilihan jenis anestesi pada pasien obstetri diperlukan beberapa pertimbangan. aman. toksisitas rendah. Hipotensi terjadi bila terjadi penurunan tekanan darah sebesar 20-30% atau sistole kurang dari 100 mmHg. sifat analgesi cukup kuat. bolus ephedrin 5-15mg secara intravena. relaksasi otot tercapai tanpa relaksasi rahim dan memungkinkan ahli obstetri bekerja optimal. Mula kerja lambat dibandmg lidokain. posisi pasien duduk tegak dengan kepala menunduk hingga prossesus spinosus mudah teraba. jenis dan lamanya pembedahan dan bidang kedaruratan. lalu ditentukan tempat tusukan pada garis tengah. Monitor tekanan darah setiap 5 menit sekali untuk mengetahui penurunan tekanan darah yang bermakna. tidak menyebabkan trauma psikis terhadap ibu dan bayi. Pada pasien ini digunakan teknik Regional Anestesi (RA) dengan Sub Arakhnoid Block (SAB). tetapi lama kerja 8 jain. Cara kerjanya yaitu memblok proses konduksi syaraf perifer jaringan tubuh. sehingga pemberian cairan dicepatkan. Jarum spinal nomor 27-gauge ditusukkan dengan arah median. Obat anestesi regional bekerja dengan menghilangkan rasa asakit atau sensasi pada daerah tertentu dari tubuh. nyaman. Hipotensi merupakan salah satu efek dari pemberian obat anestesi spinal. yaitu pemberian obat anestesi lokal ke ruang subarakhnoid. Pada pasien ini terjadi hipotensi. . diberikan bolus ephedrin sebanyak 10mg secara intravena dan oksigen. Teknik ini sederhana. cukup efektif. dan pemberian oksigen. karena penurunan kerja syaraf simpatis. barbutase positif dengan keluarnya LCS (jernih) kemudian dipasang spuit yang berisi obat anestesi dan dimasukkan secara perlahan-lahan. Teknik anestesi disesuaikan dengan keadaan umum pasien. Pemberian oksitosin bertujuan untuk mencegah perdarahan dengan merangsang kontraksi uterus secara ritmik atau untuk mempertahankan tonus uterus post partum. Metode anestesi sebaiknya seminimal mungkin mendepresi janin. dengan waktu partus 3-5 menit. Anestesi spinal mulai dilakukan. Setelah itu posisi pasien dalam keadaan terlentang (supine). Bila keadaan ini terjadi maka cairan intravena dicepatkan. sehingga pada pasien dipastikan tidak terdapat tanda-tanda hipovolemia. bersifat reversibel. Sesaat setelah bayi lahir dan plasenta diklem diberikan syntocinon 10 IU diberikan per-drip. Kemudian disterilkan tempat tusukan dengan alkohol dan betadin. Induksi menggunakan Bupivacaine HCL (Decain Spinal) yang merupakan anestesi lokal golongan amida.

Observasi post . Pasien berbaring dengan posisi kepala lebih tinggi untuk mencegah spinal headache. dengan durasi kerja 6-8 jam. Pada pasien ini berikan cairan infus RA (ringer asetat) sebagai cairan fisiologis untuk mengganti cairan dan elektrolit yang hilang. Ketorolac diberikan untuk mengatasi nyeri akut jangka pendek post operasi. POST OPERATIF Setelah operasi selesai. Pasien sudah tidak makan dan minum ± 6 jam. maka kebutuhan cairan pada pasien ini : BB= 55 kg Maintenance = 2 cc/kgBB/jam = 2 x 55 kg = 110 cc/jam Pengganti puasa = 6 x maintenance = 6 x 110 cc = 660 cc/jam Stress operasi = 8 cc/kgBB/jam = 8 x 55= 440 cc/jam EBV = 70 cc/kgBB/jan = 70 x 55 = 4200/jam ABL = EBV X 20% = 4200 X 20 % = 840 cc Pemberian Cairan : 1 jam pertama = (50 % X pengganti puasa ) + maintenance + stress operasi + jumlah perdarahan = (50 % X 660) +110 + 440 +500 = 330 + 110 + 440 + 500 = 1380 cc 1 jam kedua = (25 % X pengganti puasa ) + maintenance = ( 25 % X 660 ) + 110 = 275 cc C. Ketorolac adalah golongan NSAID (Non steroidal anti-inflammatory drug) yang bekerja menghambat sintesis prostaglandin. pasien bawa ke VK IGD. karena efek obat anestesi masih ada.Ketorolac 30 mg secara intravena diberikan sesaat sebelum operasi selesai.

Oksigen tetap diberikan 2-3 liter/menit.seksio sesarea dilakukan selama 2 jam. dan memperhatikan banyaknya darah yang keluar dari jalan lahir. . nadi. dan dilakukan pemantauan secara ketat meliputi vital sign (tekanan darah. Setelah keadaan umum stabil. maka pasien dibawa ke ruangan. suhu dan respiratory rate).

dan tidak disebut sebagai sectio cesarea. Definisi ini tidak termasuk apabila mengeluarkan bayi dari rongga perut pada kasus-kasus ruptur uteri maupun pada kehamilan abdominal. plasenta previa. 2. dan permintaan pasien. DEFINISI Seksio sesarea adalah lahirnya janin. 1. TEKNIK SEKSIO SESAREA Dikenal beberapa teknik dalam melakukan seksio sesarea dan terdapat kecenderungan untuk menyederhanakan teknik seksio sesarea untuk lebih mengurangi kehilangan darah selama operasi serta lama waktu operasi. gawat janin. tumor-tumor jalan lahir yang menimbulkan obstruksi. 1. dan/atau 2) keadaan gawat darurat yang memerlukan pengakhiran kehamilan / persalinan segera. yang tidak mungkin menunggu kemajuan persalinan per vaginam secara fisiologis. Berat janin di atas 500 gram. Indikasi janin : kelainan letak(malpresentasi dan malposisi). ibu syok / anemia berat yang belum teratasi. riwayat seksio sesarea sebelumnya. disproporsi sefalopelvik. Syarat Seksio sesarea : 1. atau pada janin dengan kelainan kongenital mayor yang berat. Indikasi ibu : panggul sempit absolut. 2.BAB IV TINJAUAN PUSTAKA A. Seksio sesarea terjadi pada sekitar 5-25% dari seluruh persalinan. Sectio Cesarea transperitonealis profunda : .13 B. Umumnya sectio cesarea tidak dilakukan pada keadaan janin mati. uterus akan diinsisi). riwayat obstetri jelek.4. Uterus dalam keadaan utuh (karena pada sectio cesarea. stenosis serviks / vagina. ruptura uteri membakat. prolaps talipusat. maka operasi yang dilakukan adalah laparotomi. Indikasi Seksio sesarea : Prinsip : 1) keadaan yang tidak memungkinkan janin dilahirkan per vaginam. Jika terjadi ruptura uteri. plasenta dan selaput ketuban melalui irisan yang dibuat pada dinding perut dan rahim. meskipun pengeluaran janin juga dilakukan per abdominam.

muskulus rektus dipisahkan secara tumpul dan peritoneum parietale diiris pada linea mediana. dikenal juga irisan transversal. Irisan lain yaitu irisan klasik.13 Irisan transversal (Pfannenstiel) lebih dianjurkan pada seksio sesarea karena memberikan penutupan yang lebih baik.2 Irisan pada linea mediana biasanya berhubungan dengan skor nyeri yang lebih tinggi dan membutuhkan analgetik lebih banyak dibandingkan dengan irisan transversal. bukan pisau. Irisan ini dapat dipilih pada kasus-kasus prelengketan akibat irisan Pfannenstiel pada operasisebelumnya.3. kemudian dibuat insisi pada segmen bawah uterus di bawah irisan plica yang kemudian dilebarkan secara tumpul dengan arah horisontal Irisan Joel-Cohen berhubungan dengan waktu operasi yang lebih singkat serta berkurangnya febris postoperatif. bila perlu digunakan gunting.Irisan vertikal linea mediana dibawah pusat merupakan irisan yang dapat dibuat dengan cepat. Irisan Joel-Cohen meliputi irisan transve sal yang lurus setinggi 3 cm diatas tulang simfisis dan diperdalam lapis demi lapis secara tumpul. Metode Pfannenstiel. Irisan Maylard hampir sama dengan metode Pfannenstiel namun muskulus rektus dipotong secara transversal menggunakan pisau bedah. Segmen bawah uterus relatif kurang vaskular dibandingkan korpus uteri. namun panjang irisan hendaknya disesuaikan dengan perkiraan ukuran bayi.insisi abdomen vertikal di garis median (atau dapat juga horisontal mengikuti garis kontur kulit di daerah suprapubik). Irisan pada segmen bawah rahim mempunyai keuntungan yaitu hanya membutuhkan sedikit pembebasan kandung kemih dari myometrium. Pada umumnya irisan pada uterus dibuat pada segmen bawah rahim secara transversal (irisan Kerr) maupun secara vertikal (irisan Krönig).11. merupakan irisan vertikal pada korpus uteri hingga ke fundus dan irisan ini jarang digunakan. Irisan dibuat cukup panjang sehingga bayi dapat dikeluarkan tanpa kesulitan yang berarti. Apabila irisan meluas ke lateral maka perlukaan dapat mengenai satu atau kedua pembuluh darah uterus oleh karena itu penting untuk membuat irisan pada uterus cukup luas untuk mengeluarkan bayi tanpa membuat . Maylard dan Joel-Cohen merupakan metode seksio sesarea yang menggunakan irisan transversal pada dinding abdomen. Irisan Pfannenstiel meliputi irisan transversal semi lengkung (curved) setinggi 2 jari diatas tulang simfisis pubis. sehingga diharapkan perdarahan yang terjadi tidak seberat dibandingkan pada sectio cesarea cara klasik. Selain irisan pada linea mediana.kemudian plica vesicouterina digunting dan disisihkan. nyeri postoperasi lebih sedikit dan memberikan hasil akhir yang secara kosmetik lebih bagus dibandingkan irisan linea mediana.

atau ada tumor di segmen bawah uterus. Irisan klasik biasanya dikerjakan pada keadaan-keadaan dimana segmen bawah rahim tidak dapat terpapar dengan jelas karena ada perlengketan dengan kandung kemih akibat operasi sebelumnya. kemudian insisi uterus juga vertikal di garis median. Apabila irisan vertikal meluas ke bawah dapat terjadi perlukaan menembus serviks hingga ke vagina atau kandung kemih. 2. penutupan dinding uterus dengan 2 lapis lebih banyak dikerjakan (96% kasus). Dinding uterus dapat dijahit 1 lapis (single layer) maupun 2 lapis (double layer). Pembebasan kandung kemih yang lebih luas sering diperlukan untuk menjaga agar irisan tersebut tetap berada pada segmen bawah rahim. Perluasan secara tumpul juga mengurangi risiko laserasi pada bayi. atau janin besar dalam letak lintang. Di Inggris. pada beberapa kasus plasenta previa anterior. Irisan vertikal rendah dapat diperluas hingga ke fundus pada kasus-kasus dimana diperlukan ruang yang lebih luas. Beberapa indikasi lain yaitu letak lintang dengan janin yang besar. pada beberapa kasus dengan bayi yang sangat kecil terutama pada presentasi bokong dimana segmen bawah rahim masih tebal. insidensiperdarahan postpartum dan kebutuhan transfusi selama seksio sesarea.Dilakukan pada keadaan yang tidak memungkinkan insisi di segmen bawah uterus misalnya akibat perlekatan pasca operasi sebelumnya atau pasca infeksi. Sectio Cesaria klasik : Insisi abdomen vertikal di garis median. Penutupan dinding uterus 1 lapis dengan jelujur terkunci membutuhkan waktu operasi yang . Apabila diperlukan perluasan irisan lebih dianjurkan secara tumpul untuk mengurangi jumlah kehilangan darah. Irisan transversal pada segmen bawah rahim lebih dianjurkan karena lebih mudah untuk ditutup. Kerugiannya adalah dapat terjadi perdarahan yang cukup parah karena jaringan segmen atas korpus uteri sangat vaskular. Irisan klasik (vertikal) dapat menghindari perluasan ke lateral yang berbahaya dan memberikan ruang yang cukup lebar untuk mengeluarkan janin.robekan lebih lanjut. . atau plasenta previa dengan insersi di dinding depan segmen bawah uterus. atau terdapat mioma pada daerah segmen bawah rahim maupun karsinoma serviks yang invasif. terletak pada lokasi yang paling jarang untuk terjadi ruptur pada kehamilan berikutnya dan tidak menyebabkan perlengketan dengan usus maupun omentum. kemungkinan terjadi perluasan ke kandung kemih dan vagina serta berisiko untuk terjadinya ruptur uterus pada kehamilan berikutnya. dan pada beberapa kasus obesitas maternal dimana uterus bagian atas lebih mudah untuk ditampilkan.

6.8 Nonclosure peritoneum pada seksio sesarea mempersingkat lama operasi. mengurangi kebutuhan analgetik pasca operasi. Teknik nonclosure peritoneum ini biasanya digunakan pada metode operasi Misgav Ladach.7 Apabila masih terdapat perdarahan dapat dipertimbangkan untuk jahitan hemostatik tambahan dengan jahitan angka8 untuk mengontrol perdarahan yang persisten. Pada operasi kasus persalinan macet dengan kedudukan kepala janin pada akhir jalan lahir misalnya. Walau pun jarang tetapi fatal adalah komplikasi emboli air ketuban yang dapat terjadi selama tindakan operasi. 3. mengurangi komplikasi pasca operasi serta pulihnya fungsi usus lebih cepat dibandingkan dengan peritoneum yang dijahit (closure peritoneum). Dapat juga pada kasus bekas operasi sebelumnya-dimana dapat ditemukan perlekatan organ dalam panggul-sering menyulitkan saat mengeluarkan bayi dan dapat pula menyebabkan cedera pada kandung kemih dan usus. Sectio cesarea yang dilanjutkan dengan histerektomi (cesarean hysterectomy). timbul gangguan pada jantung dan paru-paru dimana dapat terjadi henti jantung dan henti nafas . C.lebih singkat dan lebih sedikit jahitan hemostatik yang diperlukan. Konsekuensi tidak diaspirasinya cairan amnion keluar dari kavum abdomen dapat memperlambat timbulnya peristaltik pasca operasi. Cedera ini tak jarang cukup berat. Jika embolus mencapai pembuluh darah pada jantung. dengan demikian masa pulih pasien akan lebih cepat. Sectio cesarea transvaginal. yaitu masuknya cairan ketuban ke dalam pembuluh darah terbuka yang disebut sebagai embolus. penelitian baru-baru ini melaporkan bahwa 66% dokter bedah tidak menutup peritoneum parietale.2. 4. sering terjadi cedera pada rahim bagian bawah atau cedera pada kandung kemih (robek). Pada metode ini jendalan darah dibersihkan dari kavum abdomen tetapicairan amnion tidak diaspirasi karena cairan amnion mempunyai efek bakteriostatik. dehisensi luka maupun lama pulih luka. Peritoneum yang dibiarkan terbuka tidak meningkatkan risiko terjadinya perlengketan.\ Penutupan peritoneum (viserale dan parietale) merupakan bagian dari prosedur standar pembedahan dan bertujuan untuk mengembalikan bentuk anatomi. mendekatkan jaringan dan mengurangi infeksi dengan membentuk sawar anatomik.7 Lapisan peritoneum yang baru akan terbentuk dalam beberapa hari setelah irisan ditutup. KOMPLIKASI SEKSIO SESAREA Setiap tindakan operasi caesar punya tingkat kesulitan berbeda-beda. Di Inggris.

Tanda-tanda infeksi antara lain demam tinggi. sudah menderita infeksi saat persalinan. Pada tahun 1979 di Amerika Serikat analgesia subaraknoid dan epidural adalah teknik yang sering dilakukan (62%) pada tindakan seksio cesaria dan analgesia subaraknoid menjadi . Hal-hal yang memudahkan terjadinya (faktor predisposisi) komplikasi antara lain persalinan dengan ketuban pecah lama. GA dan RA yang dilakukan dengan terampil hampir sama pengaruhnya terhadap bayi baru lahir. dan dapat juga disebabkan oleh penyakit lain pada ibu seperti ibu penderita diabetes mellitus (sakit gula). luka operasi bernanah. kadang-kadang disertai lokia berbau.nyeri bila buang air kecil. alat-alat berkemih. Kemudian Bier pertama mencoba untuk pembedahan pada tahun1899 dan Kreis melakukan tehnik ini untuk menghilangkan nyeri persalinan pada tahun 1900. risiko kematian ibu akan tinggi sekali. memungkinkan ibu dan pasangannya mengikuti proses kelahiran bayi mereka. Bila mencapai keadaan sepsis. sangat gemuk.2 TEKNIK ANESTESI Dalam kondisi ibu dan fetus normal. usus. A. Namun demikian. Komplikasi lain yang dapat terjadi sesaat setelah operasi caesar adalah infeksi yang banyak disebut sebagai morbiditas pascaoperasi. Antibiotik profilaksis dapat menurunkan terjadinya risiko infeksi pada operasi. karena risiko untuk ibu dan kaitannya dengan Apgar skor yang lebih rendah dengan GA. RA akan memberikan hasil neonatal terpapar lebih sedikit obat anestesi (terutama saat digunakan teknik spinal). gizi buruk. hipertensi. perut nyeri. dan untuk persalinan vaginal wanita normal dengan paritas kecil. Pertama kali iadikemukakan oleh J Leonard Corning yang menyuntikkan kokain ke dalam ruangan subaraknoid pada tahun 1885. BLOK SPINAL (SUBARAKHNOID) Pemasukan suatu anestetika lokal ke dalam ruang subarkhnoid untuk menghasilkan blok spinal telah lama digunakan untuk seksioa sesarea. maka RA untuk bedah Cesar lebih disukai. luka operasi terbuka dan sepsis (infeksi yang sangat berat). ibu menderita anemia. dan memberikan pengobatan rasa sakit pascaoperasi yang lebih baik. Kurang lebih 90% dari morbiditas pascaoperasi disebabkan oleh infeksi (infeksi pada rahim/endometritis. Akibat-nya adalah kematian mendadak pada ibu. dan luka operasi).secara tiba-tiba.

akan timbul hipotensi yang ringan. resiko keracunan sistemik yang lebih kecil. diastolik 6.8 mmHg. sehingga darah tertumpuk di pembuluh darah tepi karena terjadi dilatasi arterial. Bila terjadi hanya penurunan tahanan tepi saja. Sedangkan denyut jantung mengalami kenaikan rata-rata 17% (90 menjadi 109 kali/menit). Perubahan kardiovaskuler pada ibu Yang pertama kali diblok pada analgesi subaraknoid yaituserabut saraf preganglionik otonom. sehubungan dengan gangguan metabolisme dan ekskresi dari obat-obatan. dan tangisan bayi yang baru dilahirkan merupakan kenikmatan yang ditunggu oleh seorang ibu. Teknik ini baik sekali bagi penderita-penderita yang mempunyai kelainan paru-paru.2 ml). arteriol dan post-arteriol. pasien sadar sehingga dapat mengurangi kemungkinan terjadinya aspirasi. Besarnya perubahan kardiovaskular tergantung pada banyaknya serat simpatis yang mengalami denervasi. perubahan fisiologi. Perubahan hemodinamik pada pasien yang menjalani seksio cesaria dengan blok subaraknoid telah diselidiki oleh Ueland.75 cm H2 O. Akibat denervasi simpatis ini akan terjadi penurunan tahanan pembuluh tepi. penurunan rata-rata curah jantung 34% (dari 5400 menjadi 3560 ml/menit) dan isi sekuncup 44% (62 menjadi 35 ml). pencegahan dan penanggulangan penyulitnya telah diketahui dengan baik. penyakit hati yang difus dan kegagalan fungsi ginjal. Pada posisi terlentang terjadi penurunan rata-rata tekanan darah dari 124/72 mmHg menjadi 67/38 mmHg. kenaikan tekanan vena sentral dari 4. sterilitas dijamin pengaruh terhadap bayi sangat minimal. onset yang cepat. Keadaan ini disebabkan karena masuknya darah dari sirkulasi uterus ke dalam sirkulasi utama akibat kontraksi uterus. disertai jalinan psikologik berupa kontak mata antara ibu dengan anak dan penyembuhan rasa sakit pasca operasi yang ditawarkan oleh morfin neuraxial. diabetes mellitus. potensi untuk hipotensi dengan teknik ini merupakan risiko terbesar bagi ibu. 1. Pada umumnya serabut preganglionik diblok dua sampai empat segmen dikranial dermatom sensoris yang diblok. Pengaruh pengeluaran bayi terhadap hemodinamik menunjukkan kenaikan rata-rata curah jantung 52% (2880 ml/menit) dan isi sekuncup 67% (42. yang merupakan serat saraf halus (serat saraf tipe B).pilihan nasional. . analgesia dapat diandalkan. disertai kenaikan rata-rata tekanan sistolik 21.9 menjadi 6.3 mmHg. Tetapi bila disertai dengan penurunan curah jantung akan timbul hipotensi berat. Spinal anesthesia punya banyak keuntungan seperti kesederhanaan teknik. blok anestheti yang baik. sedangkan denyut jantung menurun 11 kali/menit.

Banyak penulis melaporkan efek hipotensi terhadap bayi berupa perubahan denyut jantung. konsentrasi morfin di dalam bayi sangat kecil bilamana diberikan secara intratekal sebanyak 1 mg morfin untuk mengurangi rasa nyeri karena persalinan. Bonnardot melaporkan. keadaan gas darah. akan disertai dengan penurunan arus darah uterus sebanyak 65%. Beberapa penyelidik mengemukakan bahwa bayi yang baru dilahirkan sedikit lebih asidotik pada pasien yang . Gambaran deselerasi lambat denyut jantung bayi terjadi bila tekanan sistolik mencapai 100 mmHg lebih dari 4 menit bradikardia selama 10 menit.Menurut laporan Wollmann setelah induksi pada pasien yang berbaring lateral tanpa akut hidrasi sebelumnya. Pengaruh terhadap bayi Pengaruh langsung zat analgetik lokal yang melewati sawar uri terhadap bayi dapat diabaikan.2 ± 3.9 cm H2 O. Besarnya efek tersebut terhadap bayi tergantung pada berat dan lamanya hipotensi.9 menjadi 2.0 ± 3. Protein plasma dan eritrosit akan mengikat 70% lidokain di dalam darah. Bila tekanan darah rata-rata turun melebihi 31%. Pasien tersebut diblok setinggi T2 — T6. Setelah bayi lahir tekanan arteri rata-rata menjadi 86.0 ± 0. Menurut Moya skor Apgar yang rendah ditemukan pada ibu yang mengalami penurunan tekanan sistolik.6 mm-Hg.3 menjadi 64.0 ± 0. atau tekanan sistolik mencapai 80 mmHg lebih dari 4 menit. Penyebab utama gangguan terhadap bayi pasca seksio cesaria dengan analgesia subaraknoid yaitu hipotensi yang menimbulkan berkurangnya arus darah uterus dan hipoksia maternal.6 ± 2. Penurunan arus darah uterus akan sesuai dengan penurunan tekanan darah rata-rata. Menurut Giasi pemberian 75 mg lidokain secara intratekal akan menyebabkan kadar obat 0. sering dijumpai bayi dengan skor Apgar yang rendah serta interval mulai menangis yang panjang.32 mikrogram/ml di dalam darah pasien. Selain itu efek uterine vaskular shunt akan menyebabkan lebih sedikit lagi konsentrasi lidokain di dalam bayi.0 ± 13 mmHg dan tekanan vena sentral menjadi 12. 2. Sedangkan penurunan tekanan darah rata-rata sampai 50%. arus darah uterus turun sampai 17%.100 mgHg selama 15 menit. Beberapa penulis melaporkan bahwa pada pasien yang mengalami hipotensi karena analgesia subaraknoid pada tindakan seksio cesaria. skor Apgar dan sikap neurologi bayi. tekanan vena sentral rata-rata turun dari 6. tekanan arteri rata-rata turun dari 89. yang mencapai 90 .0 cm H2 O (hipotensi yang telah diatasi dengan akut hidrasi memakai 1000 ml cairan dekstrosa 5% di dalam laktat atau Ringer).

Mueller dkk menyimpulkan bahwa fetal asidosis meningkat secara signifikan setelah anestesia spinal. pH arteri umbilical rendah mencerminkan asidosis respiratorik maupun metabolik. Hanya kelebihan basa yang berkaitan dengan neonatal outcome. nilai kurang dari –12mmol. Maka titik pertemuan dengan segmen lumbal merupakan processus spinosus L4 atau L4—5 interspace. terutama pada pasien yang menderita diabetes.806 kelahiran Cesar. Dalam studi epidemiologis pada 5. Prevalensi asidosis fetus dengan RA untuk bedah Cesar diyakinkan dalam studi yang lain.mengalami hipotensi. pencegahan hipotensi bermanfaat untuk meminimalkan pengaruh terhadap status asam-basa neonatal. Namun. ANATOMI PUNGGUNG UNTUK SPINAL ANASTESI Secara anatomis dipilih segemen L2 ke bawah pada penusukan oleh karena ujung bawah daripada medula spinalis setinggi L2 dan ruang interegmental lumbal ini relatif lebih lebar dan lebih datar dibandingkan dengan segmen-segmen lainnya. asidosis tidak berkaitan dengan skor Apgar dan merupakan indikator hasil yang buruk. .L-1 memiliki hubungan dengan encephalopati sedang sampai berat dari bayi yang baru lahir. Faktor lamanya hipotensi lebih besar pengaruhnya daripada besarnya hipotensi. sedangkan kelebihan basa mencerminkan komponen metabolis saja. Namun. Lokasi interspace ini dicari dengan menghubungkan crista iliaca kiri dan kanan. B. dan hipotensi arterial maternal sejauh ini merupakan masalah yang paling umum dijumpai.

II. Penyakit jantung 7. Pasien menolak 2. PERSIAPAN ANALGESIA SPINAL Pada dasarnya persiapan untuk analgesia spinal seperti persiapan pada anestesi umum. bakteremi) 2. daerah sekitar suntikan diteliti apakah akan menimbulkan kesulitan. misalnya ada kelainan anatomis tulang punggung atau pasien gemuk sekali sehingga tidak teraba tonjolanprocesus spinosus. syok 4. Hipovolemia berat. Tekanan intrakranial meninggi 6. selain itu diperhatikan hal-hal dibawah ini : 1. D. Kelainan psikis 5. Bedah lama 6.C. Fasilitas resusitasi minim 7. Hipovolemia ringan 8. Kelainan neurologis 4. Infeksi sekitar suntikan 3. Informed consent (izin dari pasien) . INDIKASI KONTRA ABSOLUT 1. Infeksi pada tempat suntikan 3. INDIKASI KONTRA RELATIF 1. Kurang pengalaman/ tanpa didampingi konsultan anesthesia. Nyeri punggung kronis. Koagulapati atau mendapat terapi antikagulan 5. Infeksi sisitemik (sepsis.

Pemeriksaan laboratorium anjuran Hemoglobin. selanjutnya tiap 15 menit. E. tanpa posisi Trendelenburg.1. — Posisi lateral merupakan posisi yang paling enak bagi penderita. juga tanpa ntroducer dengan bevel menghadap ke atas.23 dapat disuntikkan langsung tanpa lokal infiltrasi dahulu. kedua tangan memegang kaki yang ditekuk sedemikian rupa sehingga lutut dekat ke perut penderita. 3. PT (prothrombin time) dan PTT (partial thromboplastin time). Pemeriksaan fisik Tidak dijumpai kelainan spesifik seperti kelainan tulang.Kita tidak boleh memaksa pasien untuk menyetujui anestesia spinal 2.25 . — Penderita diletakan terlentang.Beri anestetik lokal pada tempat tusukan. — Kepala memakai bantal dengan dagu menempel ke dada. . punggung. disuntikan xylocain 5% sebanyak 1. — L3 . hemotokrit.5 cc. — Untuk skin preparation. dan lain lainnya.1500 ml. — Sebelum penusukan betadin yang ada dibersihkan dahulu. — Tensi penderita diukur tiap 2 3 menit selama 15 menit pertama. dengan bokong kanan diberi bantal sehingga perut penderita agak miring ke kiri. — Skin preparation dengan betadin seluas mungkin. -. — Kalau liquor sudah ke luar lancar dan jernih. — Oksigen diberikan dengan masker 6 .4 interspace ditandai.8 L/mt. TEKNIK SPINAL ANESTESI — Infus Dextrosa/NaCl/Ringer laktat sebanyak 500 . apabila penderita sudah operasi boleh mulai. biasanya agak susah oleh karena adanya edema jaringan. misalnya dengan lidokain 1-2 % 2-3 ml — Jarum 22 .

E. kalau mungkin pakai jarum 23 atau 25. sebab di bagian anterior maupun posterior medulla spinalis terdapat sistim arteri dan vena. atau penurunannya lebih dari 30 mmHg dari pada sebelum induksi) dapat mencapai 80%. 90% pasien yang mengalami kompresi parsial tidak menunjukkan gejala hipotensi. sebaiknya anestesi spinal ini ditunda dan dilakukan analisa dari liquor. Adapun jarum yang dipakai paling besar ukuran 22. menimbulkan nausea. dan berkurangnya perfusi uteroplacental. Pada penusukan mungkin yang keluar bukan liquor tapi darah. Keadaan ini disebabkanoleh mekanisme kompensasi dengan kenaikan venokonstriktor neurogenik. Hipotensi Hipotensi disebabkan sympathectomy temporer. maka gejala pada ibu dapat dihindari dan uteroplacental perfusion tetap baik. makin kecil kemungkinan terjadinya sakit kepala sesudah anestesi (post spinal headache). Berkurangnya venous return (peningkatan kapasitas vena dan pengumpulan volume darah dari kaki) dan penurunan afterload (penurunan resistensi pembuluh darah sistemik) menurunkan maternal mean arterial pressure (MAP). Keadaan ini antara lain disebabkan oleh karena Pada posisi pasien terlentang terjadi kompresi parsial atau total vena kava inferior dan aorta oleh masa uterus (beratnya kurang lebih 6 kg). Sedangkan 10% . komponen blokade midthoracic yang tidak dapat dihindari dan tidak diinginkan. yang mempunyai efek kuat dan kerjanya lebih lama. Obat spinal anestesi yang paling menonjol adalah tetrakain dan dibukain. Bila liquor tidak jernih. kepala terasa melayang dan dysphoria. sehingga tidak perlu diberikan metergin IV oleh karena sering menimbulkan mual dan muntah-muntah yang mengganggu operator. efedrin diberikan 10 . KOMPLIKASI PADA ANALGESIA SPINAL 1. Makin kecil jarum yang kita pakai. Insidensi hipotensi (tekanan sistolik turun di bawah 100 mmHg. Apabila setelah 1 menit liquor yang keluar masih belum jernih sebaiknya jarum dipindahkan ke segmen yang lain.V. — Setelah bayi lahir biasanya kontraksi uterus sangat baik. Syntocinon dapat diberikan per drip. dapat diberikan sedatif atau hipnotika.15 mgl. —Setelah penderita melihat bayinya yang akan dibawa ke ruangan.— Apabila tensi turun dibawah 100 mmHg atau turun lebih dari 20 mmHg dibanding semula. Jika MAP ibu dipelihara.

derajat penghilang rasa nyeri dari analgesia spinal tidak adekuat. 2. langkah penghilang rasa nyeri yang dapat diberikan sebelum persalinan dengan memberikan 50 sampai 70 persen nitrogen oksida dengan oksigen. peninggian tungkai akan meningkatkan aliran balik vena dan membantu memulihkan hipotensi harus disediakan persiapan untuk resusitasi jantung kalau terjadi henti jantung 3.sehingga ibu tersebut tidak menginterpretasikan ucapan ucapan atau tindakan tindakan tersebut sebagai indikaasi bahwa ia dan janinnya dalam bahaya. Sakit kepala spinal (Pasca pungsi) Kebocoran cairan serebrospinal dari tempat pungsi meninges dianggap merupakan faktor utama timbulnya sakit kepala.untuk melindungi aspirasi. sehingga curah jantung berkurang sampai 50%. ia merasa tidak enak terhadap manipulasi -manipulasi diatas blkokade spinal total sering kali. segera setelah pengkleman tali pusat berbagai macam teknik dapat dilakukan untuk memberikan analgesia yang efektif. kemungkinan komplikasi yang tidak . 4. kalau wanita tersebut duduk atau berdiri volume cairan serebrospinal yang berkurang tersebu menimbulkan tarikan pada struktur-struktur sistem saraf pusat yang sensitif rasa nyeri. wanita tersebut biasanya menyadari setiap manipulasi bedah yang dilakukan dan menerima setiap perast sebagai perasaan yang tertekan. Kecemasan dan Rasa sakit Setiap orang yang ada diruang operasi harus selalu ingat bahwa wanita yang berada dibawah analgesia regional tetap sadar.. cairan intravena diberikan dan efedrin mungkin membantu untuk meninggikan curah jantung. paling sering. hipotensi dan apnoe cepat timbul dan harus segera diatasi untuk mencegah henti jantung. ventilaasi yang efektif diberikan melaului tuba trackhea kalau mungkin. dan hampir 75% mengalami gangguan darah balik. meperidin. morfin. pada wanita tidak melehirkan uterus dipindahkan ke lateral untuk mengurangi kompresi aortakaval. Blokade spinal Total Blokade spinal total dengan paralisis respirasi dapat mempersulit analgesia spinal. atau fentanil yang diberikan secara intravena paada waktu ini sering memberikan analgesia dan euforia yang bagus sekali saat operasi selesai. kalau wanita tersebut hipotensif. kiranya. dalam keadaan ini.harus hati-hati sekali berbicara dan melakukan aktivitas yang berkaitan dengan perawtan ibu dan janinnya. atau kesejahteraan kurang diperhatikan. blokade spinal total merupakan akibat pemberian dosis agen analgesia jauh melebihi toleransi oleh wanita hamil.sisanya dapat menderita hipotensi berat (tekanan sistolik bisa sampai 70 mmHg).

tertapi tidak ada bukti penggunaan yang mendukung. distensi kandung kencing sering merupakan komplikasi masa nifas. Oksitosin dan hipertensi Secara berlawanan. Dan nyeri kepala tersebut membaik jelas pada hari ketiga dan menghilang pada hari kelima. sangat sering terjadi pada wanita yang telah menerima blok spinal atau epidural. pemakaian blood patch cukup efektif. (3) efek antidiuretik oksitosin yang diinfuskan setelah lahir dan kemudian dihentikan. (5) kegagalan menemukan distensi ksndung kencing pada wanita tersebut secepatnya. formalin. . kombinasi dari (1) infus seliter atau lebih lebih cairan. sebagai gantinya. tetap berbaring selama 24 jam pascaoperasi. telah dianjurkan untuk mencegah nyeri kepala pascaspinal. beberapa mL darah wanita tersebut tanpa antikoagulan disuntikan secara epidural ditempat pungsi dural tersebut. salin yang disuntikan serupa dalam volume yang lebih besar juga telah diklaim menghilangkan sakit kepala penyokong abdomen dapat dikurang dengan cara menggunakan jarum spinal ukuran kecil.menyenangkan ini dapat dikurangi dengan menggunakan jarum spinal ukuran kecil dan menghindari banyak tusukan pada meninges. Disfungsi kandung kencing Dengan analgesia spinal. pengawet atau pelarut lain yang sangat toksik. Arakhnoiditis dan meningitis Tidak ada lagi ampul anestesika lokal yang disimpan dalam alkohol. (4) rasa sakit akibat episiotomi yang besar. sangat mungkin mengakibatkan disfungsi kandung kencing yang cukup menyulitkan dan infeksi kandung kencing. hipertensi yang ditimbulkan oleh ergonovin (Ergotrate) atau metilergonovin (Methergin) yang disuntikan setelah persalinan. akibatnya. tetapi tidak ada bukti yang baik bahwa prosedur ini sangat efektif. membaringkan wanita tersebut datar pada punggungnya selama beberapa jam. 7. dan (6) kegagalan menghilangkan distensi kandung kencing dengan cepat dengan kateterisasi. 6. hidarasi yang banyak telah dikalim bermanfaat. jarum dan kateter sekarang jarang dibersihkan secara kimiwai sehingga dapat digunakan kembali. (2) blokade saraf dari analgesia epidural atau spinal. 5. digunkan perlengkapan sekali pakai. sensasi kandung kencing mungkin dilumpuhkan dan pengosongan kandung kencing terganggu selama beberapa jam setelah persalinan. korset atau ikat perut tampaknya menghasilkan mengurangi sakit kepala. terutama kalau telah dan masih diberikan volume cairan intravena yang banyak.

Mendorong Uterus ke kiri Usaha yang digunakan untuk mempertahankan perfusi uteroplacenta mencakup posisi miring lateral kiri. Ini disebabkan karena pankreas bayi yang cukup umur akan menaikkan produksi insulin sebagai reaksi atas glukosa yang melewati sawar an .Menurut Wollman pemberian cairan kristaloid sebanyak 1000 ml hanya menaikkan tekanan vena sentral sebanyak 2 cm air dan nilainya masih dalam batas normal. 2. sehingga dapat dicegah sindroma hipotensi terlentang.PENATALAKSANAAN Sebelum melakukan tindakan analgesia subaraknoid seharusnya dilakukan evaluasi Minis volume darah pasien. Akhir-akhir ini beberapa penulis menganjurkan cairan kristaloid yang tidak mengandung dektrosa. (2) pengangkatan dan penggeseran uterus ke sebelah kiri abdomen. Hidrasi akut dengan memberikan cairan kristaloid sebanyak 1000 . atau keadaan yang menjurus hipovolemia selama persalinan (misalnya plasenta previa). (3) pada tanda pertama menurunnya tekanan darah setelah hidrasi segera diberikan vasopresor intra vena. Kenepp melaporkan bahwa terjadi asidemia laktat pada bayi yang dilahirkan yang mendapat hidrasi akut dengan cairan dektrosa 5%. Pencegahan dapat dilakukan dengan (1) hidrasi akut dengan larutan garam seimbang . atau pasien yang mengalami sindroma hipotensi terlentang yang manifes pada waktu persalinan. F.1500 ml tidak menimbulkanbahaya overhidrasi. Hidrasi akut Sebelum induksi harus dipasang infus intravena dengan kanula atau jarum yang besar. dan (4) pemberian oksigen. Menurut Ueland mengubah posisi pasien dari terlentang menjadi lateral dapat menaikkan isi . Dengan mendorong uterus ke kiri paling sedikit 10° dapat dihindari bahaya kompresi vena kava inferior dan aorta.dan praktek sekarang ini. infus dekstrosa 20 g/jam atau lebih sebelum melahirkan menimbulkan hipoglikemia pada bayi 4 jam setelah dilahirkan. Keadaan ini disebabkan oleh hipotensi. Sebaiknya tidak melakukan teknik ini kalau pasien dalam keadaan hipovolemia. tekanan darah. insufisiensi plasenta. dan atau terjadi glikolisis dalam keadaan hipoksia. 1. jarang sekali terjadi meningitis dan arakhnoiditis. ditambah dengan teknik aseptik yang ketat. Karena menurut Mendiola. denyut jantung dan nadi dalam batas-batas normal . sehingga dapat memberikan cairan dengan cepat.

Pemberian vasopresor. Demikian pula. Interaksi/Toksisitas: peningkatan resiko aritmia dengan obat anetesik volatil. obat ini resisten terhadap metabolisme MAO dan metiltransferase katekol (COMT). efedrin meningkatkan curah jantung. Pemberian Vasopresor : Efedrin Pencegahan dengan akut hidrasi dan mendorong uterus ke kiri dapat mengurangi insidensi hipotensi sampai 50-60%. yang lebih cocok untuk mengatasi hipotensi selama anestesi spinal pada Sectio Caesaria. efedrin dapat melewati plasenta dan menstimulasi otak bayi sehingga menghasilkan skor Apgar yang lebih tinggi. memulihkan aliran darah uterus jika digunakan untuk mengobati hipotensi epidural atau spinal pada pasien hamil. meningkatkan aliran darah koroner dan skelet dan menimbulkan bronkhodilatasi melalui stimulasi reseptor beta 2. dan ginjal. namun. dan naadi melalui stimulasi adrenergik alfa dan beta. penggunaan ephedrine dikaitkan dengan nilai pH arterial umbilical yang lebih rendah saat dibandingkan dengan phenylephrine dalam suatu kajian sistematis. ephedrine atau phenylephrine. Lama aksi : 10-60 menit. dipotensiasi oleh anti depresi trisiklik. Penggunaan profilaksis ephedrine dalam suatu studi dan penggunaan terapi dalam studi yang lain kemungkinan ikut mengakibatkan fetal asidosis. 3. tekanan darah.1%.sekuncup 44. curah jantung. dieliminasi dihati.5%. Menurut penyelidikan Wreight. seperti efedrin. menurunkan denyut jantung sebanyak 4. efedrin mempunyai efek minimal terhadap aliran darah uterus. meningkatkan MAC anestetik volatil.50 mg IM sebelum dilakukan induksi. Dan kalau pada observasi fungsi vital terjadi manifestasi sindroma hipotensi terlentang yang tidak dapat dikoreksi dengan mendorong uterus ke kiri. dan menaikkan curah jantung 33.8 Keuntungan pemakaian efedrin ialah menaikan kontraksi miokar. Literatur tersebut memperdebatkan vasopressor misalnya. Maka pasien yang akan dioperasi harus dibawa pada posisi miring. tetapi sedikit sekali menurunkan vasokonstriksi pembulu darah uterus. Tetapi cara ini sering menimbulkan hipertensi postpartum karena efedrin bekerja sinergistik dengan obat oksitosik. tekanan darah dampai 50%. hal ini merupakan indikasi kontra tindakan analgesia regional. Guthe menganjurkan pemberian efedrin 25 .4 Obat ini merupakan suatu simpatomimetik non katekolamin dengan campuran aksi langsung dan tidak langsung. Kontroversi terjadi pada etiologi fetal asidosis apakah .5%. menimbulkan aksi yang berlangsung lama. Efek puncak : 2-5 menit. Ini dapat mengurangi insidensi hipotensi sampai 24%. sering sekali dipakai untukpencegahan maupun terapi hipotensi pada pasien kebidanan.

Oleh karena itu apabila terjadi hipoventilasi baik oleh obat-obat narkotika. Pada persalinan hiperventilasi terjadi lebih hebat lagi. . maka akan mudah terjadi hipoksemia yang berat. — naiknya konsumsi oksigen — airway closure — turunnya cardiac output pada posisi supine. dan sikap neurologi bayi setelah 4 . Faktor-faktor yang menyebabkan hal ini. Hal ini mengakibatkan turunnya sampai 70%. disebabkan rasa sakit dan konsumsi oksigen dapat naik sampai 100%. dan selama operasi. Penulis lain menganjurkan pemberian efedrin cara intravena kalau terjadi hipotensi atau sudah terjadi penurunan tekanan darah 10 mmHg. Pemberian Oksigen Pada akhir kehamilan akan terjadi kenaikan alveolar ventilationoksigen sekitar 20% atau lebih.hal tersebut karena pengaruh metabolis stimulasi-ß dalam fetus atau perfusi uteroplacenta yang kurang baik karena kegagalan darah yang tersita pada bagian splanchnic untuk meningkatkan preload Pemilihan obat vasopressor mungkin kurang penting dibanding menghindari hipotensi. dosisnya 10 mg yang diulang sampai tekanan darah kembali ke awa1. Maka mutlak pemberian oksigen sebelum induksi. Bayi yang dilahirkan dengan cara ini mempunyai skor Apgar sangat baik. memperbaiki sebagai preoksigenasi kalau anestesia umum diperlukan.24 jam dilahirkan sangat baik. untuk mengimbangi kenaikan konsumsi pCO2 sampai 30 . anestesi umum maupun lokal.32 mmHg. pemeriksaan pH dan base-excessnya dalam batas normal. Pemberian oksigen terhadap pasien sangat bermanfaat karena : (a) (b) (c) memperbaiki dapat keadaan pasien asam-basa dan bayi bayi pada saat yang episode dilahirkan. 4. hipotensi. yaitu : — turunnya FRC sehingga kemampuan paru-paru untuk menyimpan oksigen menurun.

Bedah caesar.nda. Anonim.uk/wfsa/html/u03/u03_003. Latief A Latief . 7.ac. Jakarta : Bagian anestesiologi dan terapi intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.ox. Inc.com/html. Diakses tanggal 12 Mei 2007. . Available from : http://www.com/html. 3.wikipedia. 2. Ilmu Kebidanan. 2002. Winkjosastro. Diakses tanggal 12 Mei 2007. Available from : http://www. Perdarahan antepartum. Available from : http://id. Bandung : Yayasan Pustaka Wina. Clinical anaethesiology second edition. Spinal anaesthesia-a practical guide. Neni Moerniaeni dan John Rambulangi. Chris Ankcorn dan William F Casey. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Mikhail. Available from : http://www. Diakses tanggal 12 Mei 2007. 1996. 8. 2002 6. 4. Diakses tanggal 12 Mei 2007. USA : Prentice-Hall International.geocities. Edward Morgan dan Maged S.BAB V DAFTAR PUSTAKA 1. Himendra.org/wiki/Bedah_caesar. Anonim. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Teori anestesiologi. April 2007. 1994.htm. 5. Kartini A Suryadi dan M Ruswan Dachlan. Persalinan perabdominam (Sectio cesarea).geocities.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful