Sabtu, 25 Agustus 2012

Home > kesehatan > respirasi > tht > Polip hidung: Penyebab, gejala, pengobatan dan proses terjadinya

Polip hidung: Penyebab, gejala, pengobatan dan proses terjadinya
POLIP HIDUNG
Apa itu polip hidung??? Polip hidung adalah massa patologis yang lunak, licin dan berwarna putih keabu-abuan, mengkilat, lunak karena banyak mengandung cairan (polip edematosa) yang ditemukan pada selaput lendir rongga hidung dan sinus paranasal. Umumnya terjadi akibat reaksi radang yang berkepanjangan tanpa disertai rasa nyeri. Polip adalah tumor jinak yang harus diwaspadai karena bisa berkembang menjadi ganas (kanker).  Polip yang nampak seperti daging tumbuh seperti tumor non kanker pada rongga hidung ini jika sudah lama dapat berubah menjadi kekuning – kuningan atau kemerah – merahan, suram dan lebih kenyal (polip fibrosa). Polip nasi bukan merupakan penyakit tersendiri tetapi merupakan manifestasi klinik dari berbagai macam penyakit dan sering dihubungkan dengan sinusitis, rhinitis alergi, fibrosis kistik dan asma.

Dilihat dari bentuknya, polip dibagi menjadi 3, yaitu bertangkai, tidak bertangkai dan campuran. Ukuran polip berkisar antara 1-2 cm. Polip dengan ukuran lebih dari 2 cm dianggap berbahaya karena dapat terjadi displasia, yaitu perubahan ke arah ganas secara histologis

Sinonim Polip nasi atau polip hidung

Sinonim dan kata yang berhubungan: Nasal polyps, nasal polyposis, nasal mucosa, paranasal sinuses, nasal lesion, chronic sinusitis, allergic rhinitis, cystic fibrosis, CF, allergic fungal sinusitis, AFS, antral-choanal polyp, encephaloceles, gliomas, hemangiomas, papillomas, juvenile nasopharyngeal angiofibromas, rhabdomyosarcoma, lymphoma, neuroblastoma, sarcoma, chordoma, nasopharyngeal carcinoma, inverting papilloma, multiple nasal polyposis, asthma, chronic rhinosinusitis, primary ciliary dyskinesia, Churg-Strauss syndrome, Young syndrome, nonallergic rhinitis with eosinophilia syndrome, NARES, nasal obstruction, anosmia, snoring, postnasal drainage, rhinorrhea, hyposmia, proptosis, hypertelorism, diplopia, nasolacrimal duct cyst

Apa penyebab dan faktor predisposisi polip hidung??  Penyebab  Polip hidung dengan gambaran klinis seperti daging yang tumbuh pada rongga hidung yang merupakan pertumbuhan dari selaput lendir yang bersifat jinak ini hingga kini, penyebab pastinya saat ini belum diketahui.  Walaupun penyebabnya tidak di ketahui, namun diperkirakan bahwa polip hidung terjadi sebagai akibat dari inflamasi atau peradangan kronik berulang sehingga menimbulkan pembengkakan pada lapisan selaput lendir rongga hidung dan sinus. Pembengkakan lapisan permukaan mukosa hidung atau sinus akibat inflamasi ini akan menyebabkan terbentuknya cairan dalam sel-sel selaput lendir rongga hidung dan sinus. Seiring dengan waku, akan menyebabkan pembengkakan lapisan permukaan mukosa hidung atau sinus, yang kemudian menonjol dan turun ke dalam rongga hidung oleh gaya berat. Polip banyak mengandung cairan interseluler dan sel radang (neutrofil dan eosinofil) dan tidak mempunyai ujung saraf atau pembuluh darah  Faktor- faktor predisposisi  Setiap kondisi yang memicu peradangan kronis di saluran hidung atau sinus, seperti infeksi atau alergi, dapat meningkatkan resiko terkena polip hidung.  Kondisi sering dikaitkan dengan faktor resiko terbentuknya polip hidung antara lain:  Asma  Asma merupakan penyakit yang menyebabkan peradangan saluran napas secara keseluruhan dan penyempitan

mulut berbau. gatal pada hidung. Gejala dan tanda pada hidung seperti hidung mengeluarkan air/ingus (rinore). mata bahkan sampai ke telinga dan tenggorokan. batuk. dimana sekitar 20-40% orang dengan polip hidung juga memiliki asma. cair dan tebal dari membran mukosa hidung dan sinus. berkurangnya indera penciuman. lengket.  Tanda dan gejala rinitis alergi sangat beragam mulai dari hidung.  Sekitar 25% orang dengan cystic fibrosis kemungkinan menderita polip hidung. gatal pada tenggorokan atau telinga dan bengkak pada telinga  Cystic fibrosis  Cystic fibrosis merupakan suatu kelainan genetik yang diturunkan secara autosomal resesif yang menyebabkan produksi dan sekresi dari mukus dan lendir yang abnormal. mata kemerahan. hidung tersumbat.  Gejala penyakit ini dapat berupa rasa sakit pada wajah terutama apabila di tekan. demam. Gejala dan tanda pada mata seperti gatal pada mata. rhinosinusitis dapat terjadi karena adanya peningkatan produksi bakteri pada permukaan rongga sinus.  Rhinosinusitis Kronis  Rhinosinusitis Kronis merupakan suatu proses peradangan yang melibatkan satu atau lebih sinus paranasal yang biasanya terjadi setelah reaksi alergi atau infeksi virus pernapasan atas.  Rhinitis alergi  Rhinitis alergi adalah pilek yang disebabkan oleh reaksi alergi dimana merupakan penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang sebelumnya telah tersensitasi dengan alergen yang sama. bengkak dan berwarna biru kegelapan pada kulit di bawah mata yang disebut dengan istilah allergic shiners.  Produksi mukus yang abnormal ini akan menyebabkan mudahnya terjadinya infeksi oleh bakteri sehingga dapat menimbulkan peradangan atau inflamasi. maka satu dari empat anak mereka kemungkinan dapat menderita cystic fibrosis. Dalam beberapa kasus.  . bersin-bersin. Gejala dan tanda pada telinga dan tenggorokan seperti nyeri tenggorokan.Asma yang dimulai pada saat usia dewasa . sehingga apabila kedua orang tua merupakan carier (pembawa) gen penyakit ini. suara serak. sakit kepala.  Penyakit ini bersifat resesif.

insiden pada anak-anak dengan Cystik Fibrosis adalah 648%.  Sindrom Young  Sindrom Young yang juga dikenal sebagai infeksi sinopulmonary Azoospermia. insidennya secara keseluruhan adalah 1-4%. Siapa saja yang rentan terkena polip??? Di Amerika Serikat: Insiden polip hidung keseluruhan pada anakanak adalah 0.2-28%.  .  Adanya respon alergi. Motrin.  Intoleranansi alkohol –ditemukan 50% pasien dengan polip hidung  Diskinesia cilia primer  Diskinesia cilia primer merupakan kelainan genetik langka yang diturunkan secara autosomal resesif. lainnya) dan naproxen (Aleve). dimana pada kelainan ini dijumpai ketidaknormalan fungsi silia sehingga timbul penumpukan lendir yang berlebih yang dapat mempermudah terjadinya infeksi oleh bakteri sehingga terjadi reaksi peradangan atau inflamasi. misalnya alergi terhadap obat aspirin atau penghilang nyeri seperti ibuprofen (Advil.  Churg-Strauss syndrome yaitu suatu kondisi langka yang menyebabkan peradangan pada pembuluh darah  Sumbatan hidung oleh kelainan anatomi seperti deviasi septum dan hipertrofi konka juga dicurigai sebagai salah satu faktor yang mempermudah terjadinya polip nasi atau polip hidung.sakit tenggorokan dan dapat komplikasi ke telinga sehingga dirasakan nyeri dan penuh pada telinga. Secara Internasional: insiden polip hidung di seluruh dunia adalah sama dengan insiden polip hidung di Amerika Serikat. dengan range 0.1%.  Rhinitis Nonallergic dengan sindrom eosinofilia (NARES) – polip nasal ditemukan 20% pada pasien dengan NARES  Riwayat polip pada keluarga juga mungkin memainkan peran. Ada beberapa bukti bahwa variasi genetik tertentu yang berkaitan dengan fungsi sistem kekebalan tubuh sehingga memungkinkan terjadinya polip yang diwariskan dala keluarga. Sindrom Sinusitis-infertilitas dan Sindrom Barry-Perkins-Young adalah suatu kondisi langka yang mencakup kombinasi dari sindrom seperti bronkiektasis . rinosinusitis dan mengurangi kesuburan atau infertilitas. Pada orang dewasa.

dan masuk ke ronga  . mendengkur. sedangkan perbandingan pada anak-anak belum ada laporannya. di bagian lateral konka media. Sedangkan pada anak-anak polip jarang terjadi.laki. Pada situasi tertentu. dan sekitar muara sinus maksila dan sinus etmoid. biasanya multipel dan dapat bilateral. dan drainase postnasal. Angka Morbiditas biasanya dihubungkan dengan perubahan kualitas hidup.  Ras: Polip hidung dapat terjadi pada semua ras dan kelas sosial. sinusitis kronis. Di tempat inilah mukosa hidung saling berdekatan kebanyakan berasal dari mukosa sinus etmoid. pada orang dewasa biasanya polip dijumpai pada usia lebih dari 20 tahun dan terbanyak pada usia 40 tahun. polip hidung dapat mempengaruhi susunan rangka craniofacial. dimana polip banyak mengandung cairan interseluler dan sel radang (neutrofil dan eosinofil) dan tidak mempunyai ujung saraf atau pembuluh darah. sakit kepala. Seorang anak dengan polip hidung juga harus diperiksa untuk cystic fibrosis.  Tumbuhnya polip terutama di bagian-bagian sempit di bagian atas hidung.perempuan dewasa adalah 2-4:1. Tinjauan ulang artikel melaporkan kejadian polip hidung pada anak-anak yang memerlukan pembedahan menunjukkan bahwa insidennya sama pada anak laki-laki dan anak perempuan. anosmia. Prevalensi yang sama juga dilaporkan pada pasien dengan asma. Ada kemungkinan polip hidung diwariskan pada keluarga yang memiliki riwayat polip nasi. karena polip hidung dapat meluas ke intracranial dan menuju daerah orbita.)  Mortality/Morbidity: Tidak ada angka Mortalitas yang signifikan yang berhubungan dengan polip hidung.  Jenis Kelamin: Rasio laki.  Dimana saja polip hidung itu?? Polip Nasi atau biasa disebut Polip Hidung adalah kelainan mukosa hidung dan sinus paranasal terutama pada kompleks osteomeatal (KOM) di meatus nasi medius. obstruksi hidung.Polip hidung menyerang orang dewasa dan anak-anak. Polip yang berasal dari sinus maksila (antrum) yang merupakan polip hidung yang paling sering dan polip dari sinus maksila ini sering tunggal dan tumbuh ke arah belakang keluar melalui ostium sinus maksilla. karena cystic fibrosis merupakan faktor risiko untuk terjadinya polip hidung pada anak (Sekitar 1 dari 2 orang dengan cystic fibrosis memiliki polip hidung. bila ada polip pada anak dibawah dua tahun maka harus disingkirkan kemungkinan meningokel atau meningoensefalokel.

sarcoma. neuroblastoma. polip dapat berupa polip antro-koanal. Sumbatan ini tidak hilang timbul dan makin lama semakin berat keluhannya.  Manifestasi polip nasi tergantung pada ukuran polip. sakit kepala dan dijumpai lendir yang menetes dari bagian belakang hidung ke tenggorokan. Polip yang kecil mungkin tidak menimbulkan gejala dan mungkin teridentifikasi sewaktu pemeriksaan rutin. sakit kepala dan nyeri pada muka biasanya pada daerah periorbita dan sinus maksila. hemangioma. karsinoma nasofaring dan papiloma inverted.  Sering juga ada keluhan pilek lama yang tidak sembuhsembuh. Apa saja gejala yang dapat dirasakan jika ada polip pada hidung?? Gejala utama yang ditimbulkan oleh polip hidung adalah rasa sumbatan di hidung. Kita harus mewaspadai setiap anak dengan polip jinak yang multipel yang dihubungkan dengan fibrosis kistik dan asma.  Pasien dengan polip soliter (hanya satu massa) seringkali hanya memperlihatkan gejala obstruktif hidung yang dapat berubah dengan perubahan posisi.  Pada sumbatan yang hebat dapat menyebabkan gejala hiposmia yaitu berkurangnya kemampuan untuk mencium bau atau anosmia yaitu tidak mampu sama sekali mencium bau. limfoma. rhinitis alergi. Polip ini disebut polip koana  Polip yang multipel dapat timbul pada anak-anak dengan sinusitis kronik. Penyumbatan ini menyebabkan tertimbunnya lendir di dalam sinus. Pasien polip dengan sumbatan total rongga hidung atau polip tunggal yang besar memperlihatkan gejala sleep apnea obstruktif dan pernafasan lewat mulut yang kronik. perubahan pengecapan.  . yang dikenal sebagai post-nasal drip  Bila penyebabnya adalah alergi. sengau.fibrosis kistik atau sinuisitis jamur alergi. polip jinak yang besar ataupun polip multipel yang dapat merupakan lesi jinak atau merupakan suatu keganasan seperti: glioma.papiloma.  Polip hidung juga bisa menyebabkan penyumbatan pada drainase lendir dari sinus ke hidung (menyumbat sinus paranasal). Lendir yang terlalu lama berada di dalam sinus bisa mengalami infeksi dan akhirnya terjadi sinusitis dengan keluhan rinore. Polip sangat bervariasi pada setiap individu.hidung dan membesar di koana dan nasopharing. maka gejala yang utama ialah bersin dan iritasi di hidung.

kelainan sistem saraf otonom. Teori-teori yang ada. Terjadinya polip dihubungkan dengan adanya inflamasi kronis. terutama pada cleft sempit pada regio ethmoid anterior yang menghasilkan turbulent airflow. sel endotelium vaskuler. Pada banyak kasus.  Beberapa teori telah didalilkan untuk menjelaskan patogenesis polip hidung . dan predisposisi genetik.  .  Berdasar tinjauan ulang literatur dan studi bioelectric pada polip. Dalam teori Bernstein. pasien mungkin memperlihatkan gejala akut. berdasarkan teori lain dan informasi Tos. polip berasal dari kontak area pada meatus media. dapat terbentuk polip dari mukosa karena adanya proses radang sel epitelium. Bernstein meyakinkan teori patogenesis polip hidung. pada umumnya beranggapan bahwa polip hidung merupakan hasil akhir inflamasi kronis. dan hanya 05% dari 3000 individu atopic yang mempunyai polip hidung. polip hidung lebih sering ditemukan pada penderita asma non-alergi (13%) dibandingkan dengan asma alergi (5%). terutama bila terjadi penyempitan akibat peradangan mukosa. Secara statistik. meskipun tidak semuanya sesuai dengan fakta yang telah diketahui. dan fibroblas yang dapat mempengaruhi integritas bioelectric sodium channel pada lumen sel epitel saluran pernapasan mukosa hidung. Beberapa peneliti percaya bahwa polip merupakan suatu exvaginasi dari mukosa normal sinus atau hidung yang terisi dengan stroma edematous. rekuren. sebagian mempercayai bahwa polip merupakan kesatuan terpisah yang berasal dari mukosa. kondisi-kondisi dengan inflamasi kronis dalam rongga hidung dapat memicu terjadinya polip hidung. Respon ini meningkatkan penyerapan sodium. Oleh karena itu.Walaupun satu atau lebih polip yang muncul. Selama proses ini berlangsung. Ulserasi atau prolaps submukosa dapat terjadi dengan disertai reepithelialisasi serta pembentukan kelenjar baru. menyebabkan retensi air dan terjadinya pembentukan polip . atau rinosinusitis bila polip menyumbat  Bagaimana patofisiologi atau proses terjadinya polip nasi?? Patogenesis polip hidung belum diketahui secara pasti.  Penelitian-penelitian pada umumnya menyatakan bahwa polip sangat berhubungan erat pada penyakit non-alergi dibandingkan penyakit alergi. dijelaskan bahwa perubahan inflamasi pertama-tama terjadi pada dinding sinus lateral atau mukosa sinus sebagai hasil interaksi host bakteri .virus yang menghasilkan turbulent airflow secara sekunder.

alergi. Ruptur ini dapat menyebabkan prolaps mukosa lamina propria.Teori lain menyatakan bahwa ada keterlibatan dari ketidakseimbangan vasomotor atau ruptur epithelial. Sebenarnya Tidak ada teori yang sepenuhnya menggambarkan penyebab radang.  Teori ruptur Epithel lain menyatakan bahwa ruptur epitelium mukosa nasal dapat disebabkan oleh adanya peningkatan turgor jaringan pada penyakit (misalnya. Defek tersebut mungkin diperbesar dengan efek gravitasi atau obstruksi aliran vena. infeksi). histamin). mukosa yang sembab semakin membesar dan kemudian turun ke dalam rongga hidung sambil membentuk tangkai. tetapi polip dapat juga timbul akibat iritasi kronis yang disebabkan oleh infeksi hidung dan sinus.  Pasien dengan Cystis Fibrotik mempunyai defek pada chloride conductance channel kecil. Hasil akhir produk-produk dalam stroma polip yang ditandai dengan edema (terutama pada pedicle polip) diperburuk dengan adanya obstruksi aliran vena. sehingga terjadilah polip.  Menurut Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Teori ini berdasarkan pada cell-poor stroma polip. polip hidung diawali dengan ditemukannya edema mukosa yang kebanyakan terjadi di daerah meatus medius. yang diregulasi oleh cyclic adenosine monophosphate (cAMP). sehingga dapat menyebabkan polip. Kemudian stroma akan terisi oleh cairan interseluler sehingga mukosa yang sembab menjadi polipoid. sehingga membentuk polip.  Bagaimana gambaran makroskopis dan mkroskopis histopatologi polip hidung?? . Teori ini mirip dengan teori Bernstein's tetapi memberikan penjelasan yang lebih sedikit tentang bagaiman terjadinya pembesaran polip dibandingkan dengan teori sodium flux yang didukung dengan data Bernstein. Teori ketidak-seimbangan vasomotor mendalilkan peningkatan pemeabilitas vaskuler dan regulasi vaskuler yang lemah dapat menyebabkan detoksifikasi produk sel mast (misalnya. Patogenesis polip hidung pada pasien dengan cystis fibrotik mungkin dapat dihubungkan dengan adanya defek ini. Bila proses terus berlanjut. yang mempunyai vascularisasi kurang baik dan inervasi vasokonstriktor yang kurang. yang dapat menyebabkan transport klorida yang abnormal ke membran sel apikal pada sel epitelium. Polip dapat timbul pada hidung yang tidak terinfeksi kemudian menyebabkan sumbatan yang mengakibatkan sinusitis.

lobular. Dari penelitian Stammberger didapati 80% polip nasi berasal dari celah antara prosesus unsinatus. berbentuk bulat atau lonjong. Bila terjadi iritasi kronis atau proses peradangan warna polip dapat berubah menjadi kemerah-merahan dan polip yang sudah menahun warnanya dapat menjadi kekuning-kuningan karena banyak mengandung jaringan ikat. Di tempat-tempat ini mukosa hidung saling berdekatan. di bagian lateral konka media dan sekitar muara sinus maksila dan sinus etmoid.  Warna polip yang pucat tersebut disebabkan oleh sedikitnya aliran darah ke polip. berwarna pucat keabu-abuan. Bila ada fasilitas pemeriksaan dengan endoskop. konka media dan infundibulum.  Tempat asal tumbuhnya polip terutama dari tempat yang sempit di bagian atas hidung.  Polip pada kedua rongga hidung Tempat tumbuhnya Polip NASAL POLYPS FROM TWO DIFFERENT PEOPLE NASAL POLYPS FROM TWO DIFFERENT PEOPLE . dapat tunggal atau multipel dan tidak sensitif (bila ditekan atau ditusuk tidak terasa sakit). mungkin tempat asal tangkai polip dapat dilihat.Gambaran makroskopis polip hidung Secara makroskopik polip merupakan massa dengan permukaan licin.

atau Young Sindrom. Eosinofil. menjadi epitel transisional. Faktor-faktor toksin ini bertanggung jawab atas terjadinya lisis epitel. kerusakan saraf. leukotriena. Terjadinya polip jenis ini berhubungan dengan Cystik Fibrotik. IL-3. eosinophilic peroxidases. membran tipis epitel dasar. neutrofil dan makrofag. Granula Protein spesifik. platelet-activating factor. kubik atau gepeng berlapis tanpa keratinisasi. other vasoactive substances dan chemotactic factors). terdiri dari granula dan produk toksin (misalnya. Pada kultur sel polip hidung. Delayed apoptosis juga dimediasi dengan peningkatan interleukin 5 (IL-5). yang membantu eosinophil bertahan dari kematian. dan beberapa ujung saraf.  Sel-selnya terdiri dari limfosit. dan granulocyte-macrophage colony-stimulating factor (GM-CSF) yang di sekresi oleh limfosit T. eosinofil dapat bertahan selama 12 hari. eosinofil. major basofilic protein. Polip ini tidak berespon terhadap kortikosteroid akibat kekurangan kortikosteroid corticosteroidsensitive eosinophils. Terjadinya degranulasi mungkin dimediasi oleh suatu non-imunoglobulin E (IgE) . primary ciliary dyskinesia syndrome. kecuali pada dasar polip.  Sel inflamasi neutrofil ditemukan 7% dari kasus polip hidung. dan platelet-activating factor mungkin bertanggung jawab atas terjadinya edema mukosa dan hyperresponsiveness  Eosinofil dalam darah perifer dan di dalam mukosa normal hidung biasanya bertahan 3 hari. dan ciliostasis. Stroma polip hidung bersifat edematosus. dibantu oleh enzim protease yang memulai proses kematian sel. Delayed apoptosis dari eosinofil dimediasi dengan blokade Fas receptors. sel plasma.Gambaran mikroskopis histopatologik polip hidung Secara mikroskopik epitel polip serupa dengan mukosa hidung normal yaitu epitel bertingkat semu bersilia dengan submukosa yang sembab. yang ditemukan dalam polip hidung pada pasien dengan asma bronkial dan alergi. Hiperplasia kelenjar dapat menyebabkan dilatasi kistik dan degenerasi kelenjar yang terdiri dari inspissated mucous. eosinofilic cationic protein. Ditemukan degranulasi sel mast. leukotriena A4.  Polip yang sudah lama dapat mengalami metaplasia sel epitel karena sering terkena aliran udara.  Sel Eosinofil merupakan sel yang paling sering ditemukan yaitu sekitar 80-90% pada inflamasi polip hidung. mukosa mengandung sel-sel goblet. Vascularisasinya dan persarafannya buruk.

serotonin.mediated. dari tidak terdeteksi sampai dengan terdeteksi secara teratur. dari sama seperti kontrol sampai dengan terdeteksi secara teratur. norepinephrine. berdasar studi. dan histamine. termasuk cytokines. polip hidung juga berisi vasoactive amines. dari terdeteksi secara regular seperti kontrol untuk meningkatkan level gamma interferon. Mediator kimia pada polip Stroma polip hidung mempunyai banyak mediator. Jumlah histamin dalam polip hidung adalah 100-1000 kali jumlah yang ditemukan dalam aliran darah.ada  . IL-5 merupakan faktor penting bagi proliferasi dan diferensiasi eosinofil. dan immunoglobulins. berdasar pada studi. esterases. prostaglandins. peningkatan kelenjar seromucous. heparin. tidak ada peningkatan RANTES. berdasar studi.  Platelet derived growth factor . Peningkatan jumlah sel plasma. leukotrienes.jumlah mRNA dan protein bervariasi. berdasarkan studi. growth factors.  IL-10 . bervariasi. IL-5 adalah kemotaktik eosinofil.Ditemukan secara teratur  IL-3 .Sama seperti kontrol (tidak ada peningkatan)  IL-8 . dapat menyebabkan perekrutan leukosit ke dalam polip hidung dan mengurangi proliferasi fibroblastik.  Sitokin pada polip :  Interleukin 1 ( IL-1) .  Tumor necrosis factor (TNF) alpha dan beta -Bervariasi. limfosit. dan myofibroblasts juga ditemukan. kemunculannya mulai dari bersifat intermiten pada tingkat rendah sampai dengan muncul secara teratur  IL-4 .Bervariasi. kinins.  IL-6 .ada  Vascular permeable factors (VPFs) . dari tidak pernah hingga secara intermiten. peningkatan eosinofil.tidak terdeteksi secara konsisten  IL-5 .Bervariasi. dan epitel polip hidung  Growth factor ditemukan dalam polip hidung. dan menghalangi kematian sel eosinofil. berdasar studi. adhesion molecules.Ditemukan secara teratur.Sama seperti kontrol.  GM-CSF . mempromosikan migrasi eosinofil dari sirkulasi sistemik ke polip hidung. dipercaya berasal dari eosinofil.

dibandingkan sama seperti pada turbinasi mukosa media dan mukosa inferior. nyeri  .ada  E dan P selectin . Gejala sekunder yang dapat timbul bila sudah disertai kelainan organ di dekatnya ialah sakit kepala. level yang sama pada pasien non-alergi seperti di pasien dengan alergi  Bagaimana cara diagnosa polip nasi??? Anamnesa: Manifestasi polip hidung tergantung dari ukurannya. sukar membuang ingus. level sama seperti pada turbinasi mukosa media dan mukosa inferior  IgA – Lebih pada polip hidung dibandingkan pada mukosa pertengahan dan mukosa turbinasi inferior. hiposmia atau anosmia.  Pada Polip hidung yang lebih besar. menyebabkan gejala klinik seperti hidung terasa tersumbat dari yang ringan sampai berat. terutama IgA1 (di) atas IgA2  IgM -Tidak ada peningkatan. sehingga sukar bernafas dari hidung. dapat juga menyebabkan gejala-gejala sinusitis kronik atau rekuren.ada  Stem cell factor . Polip kecil yang terletak pada area di mana polip biasanya muncul (misalnya meatus media) mungkin menunjukkan gejala-gejala disertai blokade saluran outflow sinus. rasa nyeri pada hidung disertai sakit kepala di daerah frontal.ada  Molekul adhesi  Vascular adhesion molecule 1 (VCAM-1) . Polip yang ukurannya kecil mungkin tidak menimbulkan gejala-gejala dan hanya bisa diidentifikasi selama pemeriksaan fisik.Vascular endothelial growth factors (VEGFs) -ada  Insulinlike growth factor I . Mungkin disertai bersin-bersin. sama seperti pada turbinasi mukosa media dan mukosa inferior  LgD -Tidak ada peningkatan. adanya post nasal drip.ada  Imunoglobulin (Ig)  IgG -Tidak ada peningkatan. Polip letaknya posterior sering tidak terlihat pada rhinoscopy anterior dengan menggunakan otoskop. kecuali jika ditemukan adanya gejala simtomatik. sama seperti pada turbinasi mukosa media dan mukosa inferior  IgE –meningkat.

maka biasanya tidak ditemukan adanya gejala neurologik. dan diplopia. Polip masif jarang memberi tekanan ekstrinsik yang cukup pada saraf optik sehingga berakibat kurangnya ketajaman penglihatan. Dalam suatu artikel. rhinorrhea. Pada anak kecil. Karena pertumbuhan polip masif pelan. halitosis. sedangkan pada orang dewasa dengan AFS adalah 10%.  Meatus media sering kali dapat dilihat dengan rhinoscopy pada anak yang kooperatif dan tanpa adanya ada edema mukosa atau secret pada rongga hidung anterior. polip antralchoanal yang mengobstruksi rongga hidung dan/atau nasofaring) dapat menyebabkan gejala obstruksi saat tidur dan pernafasan kronis mulut. (misalnya. Polip masif yang terlihat pada CF dan AFS jarang mempengaruhi struktur craniofacial dan menyebabkan proptosis. bernafas melalui mulut. telinga rasa penuh. dan area dalam rongga hidung septum bagian tengah. suara sengau. umumnya digunakan handheld otoskop dan speculum otologic.  Adanya hyposmia atau anosmia yang menyertai gejala sinusitis kronis dapat menjadi petunjuk adanya polip hidung.  Polip masif atau polip single yang besar. Epistaksis yang timbul bukan dari iritasi septum nasal anterior (area Kiesselbach) biasanya tidak disertai polip multipel benigna dan lesi pada kavitas nasal.  . Pemeriksaan fisik : Pada inspeksi hidung luar dapat ditemukan adanya hidung yang tampak mekar oleh karena pelebaran batang hidung yang disebabkan oleh adanya polip hidung yang masif. polip yang masif seringkali menciptakan kelainan pada hidung bagian luar. Pemeriksaan Rinoskopi anterior . mendengkur dan gangguan tidur yang dapat berakibat pada penurunan kualitas hidup.  Dilakukan Pemeriksaan Rhinoscopy Anterior. Pada pemeriksaan rinoskopi anterior dapat terlihat massa yang berwarna pucat yang berasal dari meatus medius dan mudah digerakkan.muka. sekalipun pada polip yang telah meluas ke rongga intracranial.  Rinoskopi anterior mudah melihat polip yang sudah masuk ke dalam rongga hidung. dilaporkan bahwa 40% dari anak-anak dengan AFS menunjukkan adanya kelainan craniofacial. Dengan pemeriksaan rhinoskopi anterior biasanya polip sudah dapat dilihat. Otoskop ditempatkan pada rongga hidung sehingga terlihat turbinasi inferior septum anterior. hypertelorism.

rigid endoscopy dapat digunakan untuk menilai meatus media dan sphenoethmoid recess. . Polip yang besar atau adanya lesi pada rongga hidung dapat memasuki oropharynx posterior lewat nasofaring. dapat diperkirakan adanya patologi dan memperkirakan perlunya scan CT sinus.  Rigid or flexible endoscopy merupakan metoda terbaik untuk pemeriksaan rongga hidung dan nasofaring untuk secara penuh dapat menilai anatomi hidung dan menentukan tingkat dan lokasi polip hidung. Pemeriksaan Endoskopi . Dengan melihat Meatus media. postnasal drip yang terjadi bersamaan dengan sinusitis kronis).Rhinoscopy anterior polip nasi  Rhinoscopy anterior polip nasi Pada polip hidung benigna paling sering dijumpai pada meatus media.  Pada anak-anak. Pemeriksaan seksama sistem innervasi saraf kranium dan struktur craniofacial dapat membantu menggambarkan perluasan lesi hidung yang potensial meluas pada struktur penting sekitarnya. mengevaluasi dinding posterior rongga mulut dapat mengindikasikan gejala-gejala polip hidung (misalnya. memberikan gambaran yang baik dari polip. dapat juga menjadi lesi di balik palatum dan uvula.  Pada anak-anak dan remaja yang lebih kooperatif. khususnya polip berukuran kecil di meatus media. Dilakukan Pemberian dekongestan dan anesthesia yang cukup pada rongga hidung sebelum melakukan prosedur endoscopic pada anak yang berusia lebih dari 6 bulan. Untuk anak kecil flexible nasopharyngoscope fiberoptic sering digunakan karena lebih sedikit traumatis karena anak-anak mungkin menggerakkan kepala mereka karena merasa cemas atau tidak nyaman. dapat menekan palatum inferior dan anterior. Pemeriksaan otoscopic polip hidung yang meluas dapat menyebabkan disfungsi tuba eustachian sehingga dapat menyebabkan cairan dan infeksi dalam ruang telinga bagian tengah. dibandingkan melakukan prosedur endoscopic yang mungkin membuat pasien merasa tertekan.  Endoskopi dilakukan untuk melihat polip yang masih kecil dan belum keluar dari kompleks osteomeatal.

jika ada komplikasi dari sinusitis dan pada perencanaan tindakan bedah terutama bedah endoskopi. rigid rhinoscopy pada cavum nasi anterior kiri. Ditemukannya neutrofil mengindikasikan adanya sinusitis kronis  CT SCAN  Pemeriksaan ini dapat dipakai untuk melihat keadaan hidung dan sinus paranasal secara jelas. kelainan anatomi. oleh karena itu. polip atau sumbatan pada kompleks osteomeatal. dapat dilakukan beberapa pemeriksaan penunjang seperti: Laboratorium:  Berdasarkan Studi Laboratorium langsung. Apakah ada proses radang.  Melakukan test klorida atau test genetik Cystik Fibrosis pada setiap anak dengan polip hidung multipel benigna. yaitu test serological radioalergosorben (RAST) atau test alergi kulit. Mabry dan Marple menunjukkan adanya penurunan kekambuhan polip hidung pada anak-anak yang telah mendapatkan imunoterapi antigen sesuai dengan penyebab alerginya. test alergi penting dalam AFS. proses patologis dipercaya bertanggung jawab pada terjadinya polip hidung . Pemeriksaan penunjang Untuk membantu menegakkan diagnosa adanya polip hidung pada seseorang.  Ditemukannya Eosinofil pada hapusan hidung dapat digunakan untuk membedakan penyakit sinus alergi dan non-alergi serta menandai apakah anak tersebut memberikan respon terhadap glukokortikoid. Pemeriksaan ini terutama diindikasikan untuk kasus polip yang gagal diobati dengan terapi medikamentosa.rigid rhinoscopy pada cavum nasi anterior kiri.  .  Anak-anak dengan polip hidung yang berhubungan dengan sinusitis alergi perlu mendapatkan evaluasi alergi.

Polyp terlihat menghalangi saluran outflow sinus tract yang merupakan penyebabpotensial infeksi berulang dan nyeri. sinus-sinus.  Suatu polip antral-choanal dapat menunjukkan opacified sinus maxillary disertai penonjolan lesi yang berasal dari antrum maxillary ke koana  . dan coronal plane.  Cystik Fibrosis mempunyai suatu karakteristik bulging yang simetris pada sebelah medial dinding lateral hidung. axis sinus. Pemeriksaan MRI  Diperlukan pemeriksaan MRI pada pasien apabila dicurigai telah terjadi perluasan intracranial atau perluasan polip hidung benigna. Pengukuran yang benar sehingga menghasilkan CT yang kompatibel sehingga dapat digunakan sebagai gambaran pemandu intraoperative. terutama polip hidung atau sinusitis. adalah dengan potongan tipis (1-3 mm) CT scan pada daerah maxillofacial. menggambarkan lesi dalam rongga hidung. dan membatasi diagnosis diferensial pada polip atau presentasi klinis yang tidak biasa. Gambar foto polos radiology tidak mempunyai nilai penting apabila polip telah terdiagnosa.Kriteria standar untuk mengevaluasi lesi di hidung.  Sinus dapat menunjukkan polyps (P) yang berada dalam sinus cavities.  CT dan MRI dapat membantu diagnosa polip hidung.

 Angiofibroma Nasofaring Juvenil  . Pemeriksaan Biopsi  Pemeriksaan ini diindikasikan jika ada massa unilateral pada pasien usia lanjut.  Kista Duktus Nasolakrimaris dapat menunjukkan adanya dilatasi pada Duktus Nasolakrimaris  Encephalocele dapat menunjukkan ekspansi pada region nasofrontal (foramen caecum) disertai herniasi otak atau dura. yang ciri – cirinya sebagai berikut :  Tidak bertangkai  Sukar digerakkan  Nyeri bila ditekan dengan pinset  Mudah berdarah  Dapat mengecil pada pemakaian vasokonstriktor (kapas adrenalin). adanya penyakit lain dapat mengacaukan hasil dari pemeriksaan ini. Allergic Mucin fungal ini terlihat hitam pada MRI. area ini terdiri dari polip hidung dan alergic mucin fungal. terutama dengan pemberian vasokonstriktor yang juga harus hati – hati pemberiannya pada pasien dengan penyakit kardiovaskuler karena bisa menyebabkan vasokonstriksi sistemik.  Pada pemeriksaan rinoskopi anterior cukup mudah untuk membedakan polip dan konka polipoid. meningkatkan tekanan darah yang berbahaya pada pasien dengan hipertensi dan dengan penyakit jantung lainnya.  Diagnosa banding polip nasi atau polip hidung??? Konka polipoid  Polip didiagnosa bandingkan dengan konka polipoid.  Glioma dapat menunjukkan lesi hidung terisolasi mungkin mempunyai tangkai berserat pada CNS. jika penampakan makroskopis menyerupai keganasan atau bila pada foto roentgen terdapat gambaran erosi tulang.Tumor seperti Rhabdomyosarcoma dapat menunjukkan adanya perluasan lesi disertai dengan invasi mukosa sekitarnya.  Pasien dengan AFS memperlihatkan adanya area heterogen pada sinus-sinus di CT scan dan MRI.

diplopia. proptosis. gangguan visus. berasal dari sel-sel permukaan dinding sinus tulang pipi. Paling sering terjadi pada laki-laki.  Pemeriksaan CT scan memperlihatkan adanya pendesakan dari massa tumor. jaringan asal tumor ini mempunyai tempat perlekatan spesifik di dinding posterolateral atap rongga hidung.  Dari anamnesis diperoleh adanyakeluhan sumbatan pada hidung dan epistaksis berulang yang masif. dan lain-lain. kromium. Terjadi obstruksi hidung sehingga timbul rhinorhea kronis yang diikuti gangguan penciuman. diliputi oleh selaput lendir keunguan.  . Angiofibroma Nasofaring Juvenil banyak terjadi pada anak atau remaja laki-laki  Keganasan pada hidung  Etiologi belum diketahui. Oklusi pada tuba Eustachius akan menimbulkan ketulian atau otalgia. Pemeriksaan PA didapatkan 85% tumor termasuk selsquamous berkeratin  Apa saja klasifikasi polip nasi??? Menurut Subhan Polip hidung terbagi menjadi 2 jenis yaitu:  Polip hidung tunggal adalah jumlah polipnya hanya satu. Pada pemeriksaan CT scan dengan zat kontras akan tampak perluasan tumor dan destruksi tulang sekitarnya.  Pada pemeriksaan fisik dengan rhinoskopi posterior terlihat adanya massa tumor yang konsistensinya kenyal.  Pada pemeriksaan penunjang radiologik konvensional akan terlihat gambaran klasik disebut sebagai tanda Holman Miller yaitu pendorongan prosesus Pterigoideus ke belakang.Etiologi dari tumor ini belum diketahui. diduga karena adanya zat-zat kimia seperti nikel. formaldehid. debu kayu. epistaksis. Pemeriksaan PA tidak dilakukan karena merupakan kontraindikasi karena bisa terjadi perdarahan. sakit kepala hebat dan dapat disertai likuorhea.  Gejala klinis berupa obstruksi hidung. Mukosa mengalami hipervaskularisasi dan tidak jarang ditemukan ulcerasi. penonjolan pada palatum. nyeri pada pipi.  Pemeriksaan arteriografi arteri karotis interna akan memperlihatkan vaskularisasi tumor. rhinorhea. warna bervariasi dari abuabu sampai merah muda. Jika ada keluhan sefalgia menandakan adanya perluasan tumor ke intrakranial. Menurut teori.

 Kortikosteroid merupakan obat terpilih. Pemberian steroid oral dan topikal pada hidung merupakan terapi primer untuk polip hidung. maka terapi ini diteruskan sampai polip dan gejalanya hilang. Pemberian kortikosteroid untuk menghilangkan polip nasi disebut juga polipektomi medikamentosa. Bila reaksinya baik.Polip hidung Multiple adalah jumlah polip lebih dari satu berasal dari permukaan dinding rongga tulang hidung bagian atas (etmoid). Selain itu juga diusahakan agar frekuensi infeksi berkurang. tidak selalu dapat menghilangkan polip hidung yang ada. Injeksi langsung pada polip tidak disetujui oleh  . Contohnya adalah dengan pemberian Prednison 30 mg per hari selama seminggu dilanjutkan dengan 15 mg per hari selama seminggu. Dapat juga berupa kortikosteroid intranasal yang diberikan selama 4-6 minggu. baik diberikan secara sistemik maupun topikal. Antihistamin. Apabila tidak ada reaksi yang adekuat dari terapi kortikosteroid intranasal maka terapi dapat ditambahkan dengan kortikosteroid sistemik. Imunoterapi dapat berguna pada rhinitis alergi tetapi bila digunakan sendirian. mencegah komplikasi dan mencegah rekurensi polip. Mackay dan Lund pada tahun 1997 membuat pembagian stadium polip sebagai berikut:  Stadium 0 : Tidak ada polip  Stadium 1 : Polip masih terbatas di meatus medius  Stadium 2 : Polip sudah keluar dari meatus medius.  Bagaimana pengobatan polip hidung?? Tujuan utama pengobatan pada kasus polip nasi ialah menghilangkan keluhan-keluhan yang dirasakan oleh pasien. dekongestan. tampak di rongga hidung tapi belum memenuhi rongga hidung  Stadium 3 : Polip yang massif. dan cromolyn sodium memberikan sedikit manfaat.  Untuk kepentingan penelitian agar hasil pemeriksaan dan pengobatan dapat dilaporkan dengan standar yang sama. sehingga pengobatan bersifat kombinasi. Antibiotik diberikan apabila ada superinfeksi bakteri. Medikamentosa Terapi medikamentosa ditujukan untuk polip yang masih kecil (belum memenuhi rongga hidung) yaitu dengan pemberian kortikosteroid sistemik yang diberikan dengan dosis tinggi dalam jangka waktu singkat. mengurangi atau menghilangkan keluhan pernapasan pada pasien yang disertai asma.

beclomethasone. diabetes melitus. Steroid hidung (misalnya. Maka pasien dengan polip hidung dan rhinitis alergi atau asma seharusnya berespon terhadap pengobatan ini. atau Young syndrome) mungkin tidak berespon terhadap pengguanaan steroid.controlled studies). budesonide) efektif untuk menghilangkan gejala-gejala subjektif dan meningkatkan aliran udara ke hidung ketika diukur secara obyektif (terutama pada double-blind plasebo. efek GI. tetapi dosis maksimum biasanya adalah 1 mg/kg/bb untuk 5-7 hari. Bobot molekular yang besar seperti Aristocort sifatnya lebih aman dan lebih sedikit ditransfer ke daerah intracranial. glaukoma.  Seperti halnya pengobatan jangka panjang yang lain. Keamanan penggunaannya tergantung dari ukuran partikel spesifik obat. baik sebagai pengobatan primer atau sekunder pada pemberian steroid Per Oral atau pembedahan. pasienpasien dengan Cystik Fibrosis. fluticasone. pendarahan hidung. perlu dilakukan monitoring penggunaan kortisteroid spray.  Penggunaan steroid topikal untuk polip hidung banyak dianjurkan. Beberapa penelitian menyatakan bahwa fluticasone mempunyai onset lebih cepat daripada beclomethasone. Hindari injeksi langsung dalam pembuluh darah.  Pemberian kortikosteroid topikal secara umum menyebabkan lebih sedikit efek tak diinginkan dibanding penggunaaan kortikosteroid sistemik karena pembentukan bioavailabilitas yang terbatas.Food and Drug Administration karena adanya laporan kehilangan penglihatan unilateral pada 3 pasien setelah mendapatkan suntikan steroid intranasal dengan Kenalog. Penggunaan kortikosteroid jangka panjang (lebih dari 5 tahun) dengan pemakaian beclomethasone . efek psikotropik. mempunyai resiko supresi axis hypothalamicpituitary-adrenal. kemudian dilakukan tappering off selama 1-3 minggu. Pada orang dewasa. terutama pada dosis tinggi atau pada kombinasi dengan kortikosteroid inhalasi. katarak. Respon terhadap kortikosteroid tergantung pada ada atau tidak adanya eosinofilia. dan perforasi septum nasal (jarang). hipertensi.  Pasien polip hidung tanpa dominasi eosinofilia (misalnya. Dosis bervariasi untuk anak-anak. Pada penggunaan jangka panjang. keterlambatan pertumbuhan. katarak. keterlambatan pertumbuhan. Penggunaan steroid oral jangka panjang tidak dianjurkan karena mempunyai banyak efek potensial yang tak diinginkan (misalnya.  Penggunaan steroid oral merupakan terapi medis paling efektive pada polip hidung. kebanyakan digunakan prednison (30-60 mg) selama 4-7 hari dan kemudian dilakukan tappering off selama 1-3 minggu. primary ciliary dyskinesia syndrome. osteoporosis. dan nekrosis aseptik pada kaput femoris).

Pembedahan: Untuk kasus polip yang tidak membaik dengan terapi medikamentosa atau polip yang massif dipertimbangkan untuk terapi bedah.  Polipektomi intranasal menggunakan jerat (snare) kawat dan/ polipektomi intranasal dengan cunam (forseps) yang dapat dilakukan di ruang tindakan unit rawat jalan dengan analgesi lokal. atau disertai unsinektomi atau lebih luas lagi disertai pengangkatan bula etmoid sampai Bedah Sinus Endoskopik Fungsional lengkap. etmoidektomi intranasal atau etmoidektomi ekstranasal untuk polip etmoid. Terapi bedah yang dipilih tergantung dari luasnya penyakit (besarnya polip. fluticasone. Perlu mengetahui luas daerah yang tepat saat pembedahan sehingga dapat dilakukan ekstirpasi secara lengkap  .  Antibiotika juga harus diberikan apabila didapatkan tanda-tanda infeksi. operasi Caldwell-Luc untuk sinus maksila. dan adanya sinusitis yang menyertai). perlu diperhatikan juga pengobatan alergi bila merupakan penyebab timbulnya polip. seperti beclomethasone.  Endoscopic Sinus Surgery (ESS) merupakan teknik yang lebih baik karena tidak hanya mengangkat polip tetapi juga membuka celah dalam meatus media. Pemberian antibiotik pada kasus polip dengan sinusitis sekurangkurangnya selama 10-14 hari. Yang terbaik ialah bila tersedia fasilitas endoskop maka dapat dilakukan tindakan endoskopi untuk polipektomi saja. Nasonex) memiliki bioavailibilitas lebih sedikit dibanding steroid hidung sebelumnya. Selain itu. polipectomy memiliki angka kekambuhan yang tinggi.  Intervensi pembedahan diperlukan pada anak-anak dengan polip hidung múltiple benigna atau rhinosinusitis kronis yang gagal dengan pemberian terapi medis maksimum. terutama untuk polip hidung terisolasi atau polip hidung yang kecil.  Alat mutakhir saat ini yang digunakan untuk membantu operasi polipektomi endoskopik ialah microdebrider (powered instrument) yaitu alat yang dapat menghancurkan dan mengisap jaringan polip sehingga operasi dapat berlangsung cepat dengan trauma yang minimal. sehingga dapat menurunkan tingkat kekambuhan.menunjukkan tidak adanya degradasi epitelium pada epitel normal pernapasan epitelium skuamosa pada rhinitis atrophic kronis. yaitu daerah yang paling sering membentuk polip. Generasi steroid sistemik yang lebih baru (misalnya. Polipectomy sederhana secara awal efektif membebaskan gejala-gejala hidung. Pada polip hidung multipel benigna.

polip tersebut harus di biopsi atau diangkat. Biasanya pasien dengan penyakit ini sudah sering kali berhubungan dengan permasalahan paru-paru.  Untuk lesi selain polip hidung benigna yang menjadi polip hidung. dan struktur intracranial pada pembedahan atau revisi polip hidung. Pasca bedah perlu kontrol yang baik dan teratur mengunakan endoskop. Prosedur ekstirpasi lebih efektive daripada aerasi sinus karena komplikasi yang timbul lebih rendah apabila dilakukan oleh ahli bedah. karena biasanya penyakit ini tidak berespon terhadap pemberian kortikosteroid.  Pembedahan langsung jaringan yang terlihat pada CT scan saat dilakukan pembedahan. Pasien pasien dengan penyakit seperti CF primary ciliary dyskinesia syndrome. penyediaan gunting jaringan yang tepat mengurangi hemostasis dengan visualisai yang lebih baik. Penggunaan image-guided system memandu untuk mengetahui lokasi yang tepat pada intranasal. Pembedahan dilakukan apabila anak-anak tersebut menunjukkan gejala simtomatik. Setelah jaringan yang sakit diangkat dari rongga hidung dan sinus.  Polip hidung terjadi 6-48% pada anak-anak dengan CF.(Nasalide prosedur) atau aerasi sederhana pada sinus. atau Young syndrome dapat langsung memulai pembedahan tanpa perlu perawatan medis ekstensive. sistem paru-paru biasanya akan membaik. Kekambuhan polip hidung pada CF hampir besifat universal. sehingga pasien perlu mendapat konseling preoperative tentang adanya kemungkinan ini. atau CF. tergantung dari proses perjalanan penyakit. sehingga sering diperlukan pembedahan ulang tiap beberapa tahun. Konsultasi: Pertama-tama memberitahu otolaryngologist. dan telah terbukti bahwa pemberian kortikosteroid intranasal dapat menurunkan kekambuhan. sebaiknya lebih dulu diberikan antibiotik dan kortikosteroid untuk meredakan inflamasi sehingga pembengkakan dan perdarahan berkurang.  . alergi. Penggunaan surgical microdebrider membuat prosedur ini lebih cepat dan lebih aman. sinus. dengan demikian lapang-pandang operasi lebih baik dan kemungkinan trauma dapat dihindari.  Untuk persiapan prabedah. orbital. terutama jika pengobatan medis sudah gagal atau jika asal diagnosa dasar penyakit polip hidung tidak diketahui.  Perlu diertimbangkan untuk berkonsultasi dengan spesialis paru-paru apabila polip hidung diakibatkan karena asma.

Sebagai tambahan. bronchodilators inhalasi.  Setelah pembedahan sinus. Sebagaian besar proses ini dapat dilaksanakan pada pasien rawat jalan. Pseudomonas aeruginosa. Pembatasan ini berbeda dari ahli bedah satu dan ahli bedah lainnya. anak-anak ini mempunyai toilet paru-paru untuk meningkatkan fungsi paru-paru mereka dalam periode perioperative. Aktivitas: Tidak ada pembatasan aktivitas yang penting bagi seorang anak dengan polip hidung. sehingga aktivitas olahraga dan kinerja aktivitas fisik menurun. Staphylococcus aureus). termasuk steroid IV. Tingkatan aktivitas anak mungkin dapat berkurang karena kesulitan bernafas lewat hidung. Kebanyakan ahli bedah membatasi tiupan dari hidung karena meningkatkan tekanan intranasal karena potensial untuk menyebabkan permasalahan pada area already thinned bony dividers pada pasien dengan polip hidung.  Untuk pasien dengan asma berat dan polip hidung yang memerlukan pembedahan. diberikan baik pada preoperatively maupun postoperative. terapi perkusi.  Penanganan pasca bedah: .  Perawatan pasien rawat jalan biasanya dilakukan karena anak-anak yang lebih tua mengalami ESS polip hidung tanpa kondisi-kondisi medis yang berat. Anak-anak ini sering mendapat perawatan dengan antibiotic IV berdasarkan kuman-kuman patogen yang paling banyak ditemukan dalam paru-paru dan sinus (misalnya.Diet: Perawatan polip hidung tanpa diet khusus. tergantung dari beratnya penyakit yang berhubungan. aktivitas perlu dibatasi. anak-anak yang didiagnosa dengan Cystic Fibrosis telah mempunyai penyakit digestive dan pulmoner dengan bentuk penyakit yang lebih parah. penanganan postoperasi dengan pengamatan pernapasan kompromis atau spasme ditentukan berdasar masing-masing individual.  FOLLOW UP POLIP HIDUNG Penanganan pasien lebih lanjut Secara historis.

 Setiap acumulasi fungus dapat mempercepat proces antigenic. Secara pasti. follow-up tertutup yang dilakukan otolaryngologist direkommendasikan sampai pasien dianggap bebas dari penyakit. pada CF dan pada AFS dapat mempengaruhi structure craniofacial. mingkin diperlukan beberapa tahun atau lebih. polip hidung massive. tiap pasien mendapat penatalaksanaan berdasarkan dasar individual. yang menyebabkan gejala-gejala dan penyakit rekuren.  Komplikasi Apa yang timbul dari polip hidung ?? Polip hidung Massive atau polip single yang besar (eg. Untuk penyakit menyebabkan polip hidung selain multiple polip hidung benigna.  Penyakit lain dilakukan medis atau dengan procedures bedah kecil. Jarang. frequency tergantung dari lokasi dan gejala masing-masing pasien. Terjadinya Rekurensi umum pada polip s. Hal ini dapat mengakibatkan proptosis. dan condisi medis yang berhubungan. meskipun polip hidung terlihat pada CT scan atau nasal endoscopy. gejala klinik dan situasi patient. antralchoanal polip) yang mengobstructsi Cavum nasi dan/atau nasopharynx dapat menyebabkan gejala obstructive tidur dan pernafasan mulut chronic. Newcomber  .  Karena polip hidung berhubungan dengan AFS. apapun penyebabnya.  Polip hidung yang kecil dikenali sejak awal pada follow-up routine patients dengan multiple polip hidung benigna. Postoperative follow-up perlu dilakukan 3-4 kali pada bulan pertama untuk memonitor penyembuhan sinus cavities. dan dapat tercontrol lebih effectif jika dikenali sejak awal. pengarang melaporkan 40% anak-anak (dibandingkan 10% pada dewasa) dengan AFS yang disertai abnormalittas craniofacial. karena kekambuhan mungkin terjadi pada yang diperlakukan dengan terapi medis maupun pembedahan. dan diplopia  Pada suatu article publikasi. perlu perawatan jalan atau rawat inap ditentukan berdasar penyakit. hypertelorism. polip osis Massive jarang menyebabkan kompresi extrinsic yang cukup pada nerve optic sehingga tajam penglihatan berkurang.  Pasien dengan Cystik Fibrosis dapat dimonitor secara symptomatic karena pembedahan tidak dapat dilakukan sebelum pasien menunjukkkan gejala-gejala yang symptomatic.Memonitor dekat anak-anak dengan multiple polip hidung benigna.

Itu berarti pasien harus mengkonsumsi obat yang dianjurkan dokter secara teratur dan menghindari kontak dengan alergen dan polutan baik di dalam maupun di luar rumah. hay fever atau infeksi kronis sinus. mengenali gejala secara dini dapat membantu mengurangi gejala sumbatan hidung dan gangguan pernapasan. sehingga menghasilkan diagnosis yang tertunda. sinusitis recurrent acute. Dengan demikian.  Kegagalan terapi Banyak proses pada cavum nasi yang menyebabkan gejala klinis yang sama dengan polip hidung. karena polip s bertumbuh pelan. meskipuntelah meluas ke intracranial cavity. bisanya tidak menimbulkan gejala neurological. Menghindari spray yang mengandung bahan aditif seperti benzalkonium. hypertrophy adenoid. polip single yang besar (eg. Edukasi:  Edukasi pasien tentang kronisnya penyakit penting untuk membuat mereka lebih waspada pada rekurensi. Seringnya infeksi pada upper respiratory tract. polip hidung atau tumor mungkin sebenarnya ada pada beberapa saat sebelum terdiagnosa.melaporkan bahwa 3 dari 82 pasien dengan AFS mempunyai perubahan penglihatan akibat compresi nerve optic pada sinus sphenoid setelah pengangkatan polip hidung. yang dapat menginflamasi mukosa hidung dan menyebabkan timbulnya eksaserbasi gejala.  . Bagaimanapun. Tetapi jika seseorang menderita asthma.  Bagaimana cara mencegah pilip hidung?? Pada banyak kasus. rhinitis nonallergic. Prognosis polip hidung: Rekurensi Polip hidung sering terjadi setelah terapi medis atau therapy bedah jika ada polip multipel benigna. rhinitis allergic.  Irigasi rongga sinus dengan air garam dapat mengurangi sumbatan hidung dan mengurangi adanya sekret. sering menimbulkan gejala klinik yang sama dengan gejala yang disebabkan polip hidung atau tumor. polip hidung tidak dapat dicegah. sinusitis chronic. dan adenoiditis chronic. antral-choanal polip) bersifat kurang rekuren.

Untuk membuat larutan saline. Tuangkan larutan ke dalam tangan lalu hirup dengan hidung. Dapat juga larutan disuntikkan menggunakan bulbus telinga atau dengan spuit. campurkan 1/4 sendok teh garam kedalam 8 ounces air hangat. Lalu bersihkan hidung secara lembut dengan menggunakan tisue. Gunakan larutan yang tersisa dalam 24 jam atau buang.  .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful