i

MANAJEMEN PEMELIHARAAN UDANG VANAME

Oleh : Abidin Nur DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA BALAI BESAR PENGEMBANGAN BUDIDAYA AIR PAYAU JEPARA

Diperbanyak Oleh: PUSAT PENYULUHAN KELAUTAN DAN PERIKANAN BADAN PENGEMBANGAN SDM KELAUTAN DAN PERIKANAN KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN 2011 i

ii
SAMBUTAN

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat-Nya sehingga Materi Pemantauan Kualitas Tanah dan Air ini dapat diselesaikan. Materi Manajemen Pemeliharaan Udang Vaname ini disusun agar dapat menjadi bahan acuan atau petunjuk untuk masyarakat perikanan khususnya pembudidaya udang vaname yang mempunyai masalah dalam menangani permasalah tentang pemeliharaan dan pembesaran udang yang dapat mempengaruhi produksi perikanan. Materi ini menguraikan Manajemen Pemeliharaan Udang Vaname. Kami berusaha untuk menampilkan yang terbaik dan berharap bahwa informasi dalam Materi ini dapat bermanfaat bagi pembudidaya ikan dan udang khususnya dan dunia perikanan pada umumnya. Penghargaan setinggi-tingginya kami sampaikan kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan Materi ini sehingga dapat diselesaikan. Kami menyadari bahwa Materi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan sumbangan kritik serta saran yang bersifat membangun dari semua pihak demi kemajuan dunia perikanan yang lebih baik.

Jakarta,

November 2011

Kepala Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan

. ii

iii

DAFTAR ISI
SAMBUTAN ………….…………………………..……………………………..………….. DAFTAR ISI ………………………………………………………………………………… DAFTAR GAMBAR ………………………………………………………………………… DAFTAR TABEL …………………….……………………………………………………… I. PENDAHULUAN 1.1. 1.2. 1.3. II. Pakan dalam Akuakultur ............................................................................. 2 Pakan dan Lingkungan ................................................................................. 4 Pendekatan Sistem Budidaya yang Berkelanjutan ...................................... 5 ii iii iv v

PENGELOLAAN PAKAN 2.1. 2.2. 2.3. 2.4. 2.5. Prosentase Pakan ........................................................................................ Frekuensi Pemberian Pakan ....................................................................... Rasio Konversi Pakan ................................................................................. Attraktabilitas dan Palatabilitas .................................................................... Penyimpanan Pakan .................................................................................... 9 11 11 11 12

III.

PENGELOLAAN PAKAN DAN LINGKUNGAN 3.1. 3.2. 3.3. 3.4. 3.5. 3.6. 3.7. Akumulasi Nutrien & Bahan Organik di Dasar Tambak ............................... 15 Budget Nutrien dan Padatan (solid) di Tambak ........................................... 17 Alternatif Solusi Pengelolaan Limbah ............................................................ 26 Perbaikan Formulasi dan Pengelolaan Pakan ............................................. 26 Perbaikan Proses- N di Tambak .................................................................. 29 Perbaikan Desain dan Manajemen Limbah di Tambak ................................. 31 Aplikasi Probiotik dan Feed Additive ............................................................ 31

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 33

iii

iv
DAFTAR GAMBAR 1. 2. 3. 4. 5. 6. Pengelolaan budidaya udang intensif dan interaksi kualitas air ............................... 14 Budget nutrien dan total padatan di tambak ............................................................ 18 Budget nitrogen (N) di tambak ................................................................................. 23 Model ekskresi –N .................................................................................................... 25 Budget posfor di tambak ............................................................................................ 26 Skema aktivasi suspensi di tambak ........................................................................... 30

iv

Jumlah nutrien yang terbuang sebagai hasil dari pergantian air tambak ....................... 6.............. Persentase pakan yang diberikan berdasarkan berat udang ................................. nitrogen dan posfor ......................................................... Kebutuhan protein dalam pakan pada berbagai jenis udang ........ Konsentrasi komponen kimia pada dasar tambak dan kolom air ............ 4...................... Estimasi karbon.............. 3............. Komposisi pakan .......... 2................................................ 10 16 17 21 22 24 v .......... 5..........................v DAFTAR TABEL 1......

Membangun sistem budidaya yang berkelanjutan tanpa merusak lingkungan c. teknologi pembuatan pakan. serta kemampuan dalam pengelolaan pakan untuk setiap tipe budidaya dari kultivan tertentu. maka produksi budidaya harus bertumbuh hingga lima kali lipat untuk mensuplai kebutuhan populasi.9% per tahun sejak tahun 1970. upaya perbaikan komposisi nutrisi dan perbaikan efisiensi penggunaan pakan perlu dilakukan guna meningkatan produksi hasil budidaya dan mengurangi biaya pengadaan pakan. diperlukan pemahanan tentang nutrisi dan kebutuhan nutrien dari kultivan. dalam lima dekade mendatang. serta meminimalkan produksi limbah pada media budidaya. Penggunaan pakan yang efisien dalam suatu usaha budidaya sangat penting oleh karena pakan merupakan faktor produksi yang paling mahal. Namun demikian. Oleh karena itu. Untuk mencapai sasaran tersebut. PENDAHULUAN Peningkatan produksi perikanan budidaya secara global rata-rata mecapai 8.8 % per tahun. Perkembangan ini harus mengatasi tiga hal pokok (Avnimelech 2009) sebagai berikut : a. Salah satu faktor penting dalam mendukung ketiga hal tersebut di atas adalah penyediaan nutrisi.1 I. Memproduksi banyak ikan tanpa meningkatkan penggunaan sumberdaya alam (tanah dan air) secara nyata b. Nutrisi dan pemberian pakan memegang peranan penting untuk kelangsungan usaha budidaya hewan akuatik.2 dan 2. Membangun sistem budidaya dengan rasio cost/benefit secara rasional guna mendukung kelangsungan budidaya secara ekonomis dan sosial. . Bila dibandingkan dengan sektor perikanan tangkap dan peternakan dalam kurun waktu yang sama masing-masing hanya mencapai 1.

lemak dan asam lemak. dan mineral. Sebaliknya penggunaan pakan yang tidak bermutu berdampak Oleh karena itu.2 1. berkualitas tinggi serta tingkat pengelolaan yang lebih baik telah terbukti memperbaiki efisiensi penggunaan pakan. mudah terserang penyakit. maka ketergantungan pada sediaan pakan alami semakin berkurang dan sebaliknya suplai energi semakin banyak ditentukan oleh pakan buatan yang diberikan. vitamin. pemeliharaan dan penggantian jaringan yang telah rusak. pengaturan beberapa fungsi tubuh. Salah satu prinsip yang perlu diketahui dalam penerapan pakan untuk kepentingan budidaya adalah program pemberian pakan secara efektif ( effective feeding program). Pakan yang diberikan harus mampu menyediakan nutrien yang dibutuhkan oleh kultivan seperti protein dan asam amino esensial. kebiasan dan tingkah laku makan. Dengan demikian. serta dapat menyebabkan kematian. Dalam hal ini diperlukan pakan dengan kadar nutrisi yang seimbang serta pemberian yang cukup untuk mendukung pertumbuhan yang optimal dan pada akhirnya untuk peningkatan pendapatan hasil usaha budidaya. hewan akuatik memerlukan nutrien esensial untuk proses pertumbuhan. penurunan biaya pengadaan pakan. Pakan dalam Akuakultur Seperti pada organisme lainnya. serta mengurangi dampak kerusakan lingkungan. serta kemampuan kultivan dalam mencerna dan menggunakan nutrien esensial yang diberikan. energi. perpaduan antara penggunaan pakan pada respon pertumbuhan yang rendah. serta untuk mempertahankan kondisi kesehatan. Hal ini penting oleh karena baik ikan maupun udang memerlukan pakan semata hanya untuk memenuhi . Hal ini memerlukan pengetahuan tentang kebutuhan nutrien dari kultivan yang akan dipelihara.1. kualitas pakan pada akhirnya ditentukan oleh tingkat nutrien yang tersedia bagi kultivan. Seiring dengan usaha intensifikasi budidaya.

serta perbaikan pengelolaan pakan di tingkat petani terus dilakukan. kapan. pengelolaan pakan harus dilakukan sebaik mungkin dengan memperhatikan apa. Penerapan feeding regime hendaknya disesuaikan dengan tingkah laku ikan. sehingga nilai energi dari suatu pakan turut menetukan tingkat efisiensnya. berapa kali. Selama pembuatan pakan perlu diperhatikan untuk tetap mempertahankan komposisi nutrien dan sekaligus mengeleminir zat anti-nutrisi. dan dimana ikan/udang diberi pakan. kerapu dan snapper. upaya perbaikan kualitas bahan baku dan pengurangan biaya pengadaan pakan. sementara ikan kakap dan udang windu membutuhkan asam lemak dari kelompok n-3 dan n-6. Sebagai contoh. Sebaliknya pada ikan tilapia membutuhkan asam lemak n-6. Di bidang pengembangan pakan. dalam memformulasikan suatu pakan hendaknya didasarkan pada kebutuhan dan tingkat nutrien esensial yang diperlukan dari kultivan tertentu. Bandeng membutuhkan asam lemak dari kelompok n-3. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pakan bagi kultivan yang dipelihara. Dengan demikian.3 kebutuhan energi. berapa banyak. Kebutuhan nutrien untuk spesies tertentu perlu diketahui. atau ikan herbivor seperti pada tilapia umumnya lebih rendah dibandingkan dengan ikan karnivor seperti pada kakap. serta siklus alat pencernakan guna memaksimalkan penggunaan pakan. upaya mengurangi limbah pakan tidak hanya berpengaruh terhadap biaya produksi tetapi juga berdampak pada terpeliharanya lingkungan budidaya. Disamping itu. Pengawasan terhadap kualitas pakan dimulai dari pemilihan bahan baku hingga proses produksi dan penyimpanan. dan terakhir pada pengguna di lapangan juga perlu dilakukan. kebutuhan protein dari ikan omnivor seperti bandeng. . Setiap ikan juga berbeda mengenai kebutuhan asam lemak esensial. Disamping itu.

Semakin tinggi padat tebar membawa konsekuensi pada peningkatan limbah metabolik yang dihasilkan. (b) bahan terlarut. karbondioksida. Pakan dan Lingkungan Usaha budidaya berkembang dengan pesat mulai dari sistem ekstensif hingga sistem intensif. Nutrien yang tersedia dalam pakan. bahan organik. serta koloni bakteri. fosfor dan hidrogen sulfida. hamparan sekitar media peliharaan. protein : energi rasio yang seimbang. dan sekaligus pada daerah perairan pantai (coastal zone). fosfor. sebagaian besar dapat menjadi polutan pada lingkungan budidaya. seperti amoniak. terutama berupa sisa pakan. urea.4 1. Perkembangan ini telah menimbulkan masalah terutama dalam hal usaha budidaya yang berkelanjutan. Pada kondisi ini diperlukan penyesuaian jumlah pakan untuk mencegah terjadinya penumpukan sisa pakan yang dapat meningkatkan polusi baik pada media budidaya. sehingga -N banyak yang terasimilasi dalam tubuh dan sedikit -N yang diekskresikan oleh ikan. seperti nitrogen. . dan hidrogen sulfida.2. Limbah hasil budidaya dapat berupa : (a) bahan padatan. Hal ini dapat ditempuh dengan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :  Pakan diformulasi dengan komposisi nutrien yang seimbang (wellbalanced diet) seperti ketersediaan asam amino yang cukup. Penerapan pakan yang ramah lingkungan merupakan suatu keharusan sebagai upaya untuk berbudidaya yang berkelanjutan. Limbah ini akan meningkat seiring dengan konversi pakan yang rendah. Di sisi lain limbah metabolik tersebut akan terakumulasi dalam media budidaya dan pada gilirannya menjadi zat racun yang menghambat pertumbuhan bahkan dapat mematikan organisme yang dipelihara. kotoran ikan (feces).

Oleh karena itu. Bahan baku yang memiliki ketersediaan fosfor yang tinggi lebih baik digunakan. 1. Diperlukan adanya upaya untuk mengurangi biaya pakan Pakan merupakan faktor produksi terbesar dari suatu usaha budidaya. kecuali ada metode tertentu untuk mendeteksi dan menghilangkan zat tersebut dalam pakan.5  Total fosfor dalam pakan hendaknya disesuaikan dengan organisme yang akan dipelihara. .     Gunakan bahan yang memiliki kecernaan tinggi guna mengurangi limbah organik dari pakan. maka dari sisi nutrisi dan teknologi pakan terdapat beberapa issu penting. formula pakan harus dibuat sedemikian rupa sehingga menjadi sesuatu yang murah. yaitu : a.3 Pendekatan Sistem Budidaya yang Berkelanjutan Dalam hal usaha budidaya yang berkelanjutan. Hindari penggunaan bahan baku asing (exotic feedstuff) yang kemungkinan mengandung zat yang dapat menghambat pertumbuhan. dan ketersedian pakan yang ekonomis (cost-effective feed) masih menjadi kendala utama. Penggunaan sumber protein alternatif selain tepung ikan perlu pengkajian lebih lanjut. Perbaikan stabilitas pakan melalui penggunaan binder yang efisien serta teknologi pembuatan pakan yang baik. seperti mengurangi ketergantungan bahan baku impor dengan memanfaatkan ketersediaan bahan baku lokal.

diperlukan adanya alternatif pengganti sumber protein tersebut. Untuk beberapa spesies akuakultur. Alternatif penggunaan bahan pengganti tepung ikan Dalam pembuatan pakan. kebutuhan produk perikanan cenderung meningkat seiring dengan peningkatan populasi penduduk yang pada gilirannya ketersediaan tepung ikan semakin menurun. Pakan tersebut diformulasikan tanpa mempertimbangkan padat tebar serta ketersediaan pakan alami di tambak. pengelolaan pakan dan kesadaran lingkungan . Produktivitas alami dari suatu media budidaya semakin penting. dan pemahaman lebih jauh di bidang ini dapat membantu terciptanya sistem pemberian pakan yang efisien. d. c. Penggunaan pakan supplemen Pakan komersial disamping lebih mahal. Di negara-negara Asia misalnya. Peningkatan produksi hasil budidaya yang diikuti dengan penurunan produksi tepung ikan. juga mengandung nutrien yang melebihi dari apa yang dibutuhkan oleh ikan. Integrasi antara pakan. Demikian pula halnya dengan bahan baku berupa biji-bijian dan kacangkacangan. Konsep penggunaan pakan tambahan berarti masih terdapat ketergantungan terhadap sediaan pakan yang tumbuh secara alami di tambak atau kolam untuk mensuplai sebagian nutrien yang diperlukan oleh kultivan. Harga tepung ikan semakin mahal dan ketersediaan semakin langka sebagai akibat dari kebutuhan tepung ikan meningkat serta kompetisi dengan produksi sektor pakan lain.6 b. penggunaan bahan nabati dan limbah hasil pengolahan (by-product) sebaiknya digunakan untuk menghasilkan pakan yang murah. Beberapa diantaranya menjadi sumber bahan baku potensial oleh karena kadar protein yang tinggi serta kandungan abu yang rendah seperti pada tepung daging. tepung ikan merupakan bahan yang paling banyak digunakan. Penerapan bioteknologi memungkinkan untuk memperoleh bahan baku dengan kadar nutrisi yang cukup baik.

7 Sisa pakan dan hasil metabolik lainnya merupakan sumber polutan utama pada suatu sistem produksi budidaya. keseimbangan nutrien. . tingkat kecernaan. Oleh karena itu. Komposisi nutrisi. dan kestabilan pakan merupakan faktor yang dapat berpengaruh terhadap kualitas air media budidaya. pakan yang dibuat hendaknya ramah lingkungan (environment-friendly).

Lakukan pngaturan pakan berdasarkan kualitas air dan nafsu makan udang. 5.8 II. 2. Beberapa hal penting perlu diperhatikan selama pemberian pakan pada hewan budidaya. Distribusikan pakan secara merata pada media budidaya (tambak. palatabilitas tinggi. Pakan merupakan faktor produksi terbesar dan mencapa 50% atau lebih dari total biaya operasional. Berikan pakan pada kultivan dengan jumlah dan frekuensi yang tepat sesuai dengan jumlah dan ukuran populasi. Pakan berkualitas merupakan hasil formulasi dengan menyediakan nutrien sesuai dengan kebutuhan kultivan yang akan dipelihara. antara lain : 1. Pertahankan kualitas pakan melalui penyimpanan dan penangan yang baik dan benar. sehingga perlu dikelola dengan baik agar dapat digunakan secara efisien bagi kultivan. PENGELOLAAN PAKAN Pakan merupakan salah satu aspek penting dalam setiap aktivitas budidaya akuatik. kolam dsb) sehingga semua udang mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pakan. 3. . Gunakan pakan yang attraktif. 6. diproduksi dengan kualitas baik dimana nutrien yang ada dapat tercerna secara maksimal. serta size/ukuran yang sesuai dengan hewan yang dipelihara. Program pemberian pakan yang baik sangat diperlukan untuk memperoleh hasil maksimal dalam kegiatan budidaya udang maupun ikan. 4.

Suhu di atas atau di bawah kisaran tersebut menyebabkan konsumsi pakan menurun. .9 2. Demikian pula sebaliknya. mempunyai efek nyata terhadap konsumsi pakan dan pertumbuhan. yaitu : jenis pakan. konsumsi pakan mencapai optimal pada suhu 27-31 C. sisa pakan dapat menyebabkan penurunan mutu air di tambak. pertumbuhan dan mortalitas udang. Suhu misalnya.1 Prosentase Pakan (Feeding rate) Pakan yang diberikan selama periode budidaya berlangsung sangat sulit untuk dikontrol secara tepat baik jumlah maupun waktu. Seberapa besar jumlah pakan yang dikonsumsi oleh udang dipengaruhi oleh beberapa faktor. suhu air. padat tebar. Selain sebagai limbah. kualitas air dan status kesehatan udang itu sendiri. Oleh karena itu pengaturan jumlah pakan senantiasa dilakukan sesuai dengan tingkat nafsu makan. cuaca. bahkan memicu kanibalisme terutama pada pemeliharaan dengan kepadatan tinggi. pemberian pakan berlebih dapat menimbulkan masalah. Faktor-faktor tersebut perlu diperhatikan guna memaksimalkan penggunaan pakan bagi kultivan. Pada udang vannamei. Akiyama dan Chwang (1989) merekomendasikan persentase pakan berdasarkan berat udang (Tabel 1) sebagai berikut. Jika pakan diberikan terlalu sedikit dapat berakibat pertumbuhan lambat. ukuran udang.

Hal ini dilakukan dengan melakukan sampling pertumbuhan tiap 10-14 hari sekali. Jumlah anco sekitar 4-6 buah yang dipasang pada sisi tambak. . Sebagai alat bantu untuk memonitor respon pakan dapat digunakan anco.5%-2% Sebagai Pakan Lengkap 15%-8% 8%-4% 4%-2% Untuk menghitung jumlah pakan harian yang diberikan pada kultivan adalah dengan mengalikan total biomas udang dengan persentase pakan sesuai dengan berat udang seperti tercantum pada Tabel di atas. Total biomas = jumlah populasi udang x berat individu rata-rata Penentuan berat individu diupayakan seakurat mungkin untuk menghindari kesalahan dalam penentuan jumlah pakan harian.5% 2. Jumlah sampel minimal 30 ekor. maka jumlah sampel ditingkatkan dua kali lipat. Jika pakan di anco habis dalam waktu lebih singkat. maka jumlah pakan berikutnya dapat ditingkatkan hingga 5%.5 jam (udang ukuran besar) dan 2 jam untuk udang berukuran kurang dari 4 gram. Persentase pakan yang diberikan berdasarkan berat udang. maka diputuskan untuk mengurangi jumlah pakan pada pemberian berikutnya. Tetapi jika variasi ukuran terlalu besar. jika dalam waktu 1-2 jam pakan belum habis.10 Tabel 1. Demikian pula sebaliknya. Ukuran udang (g) 0-3 3-15 15-40 Sebagai Pakan Tambahan 10%-4% 4%-2. Untuk hasil yang lebih baik seharusnya udang ditimbang satu per satu.5-2% dari jumlah pakan yang akan diberikan. Jumlah pakan yang dimasukkan ke dalam anco sebanyak 1. Sejumlah pakan tersebut harus habis dalam waktu 1-1.

Pada stadia benih. maka frekuensi pakan dapat dikurangi dan umumnya maksimum 6 kali selama 24 jam. 2. Seiring dengan pertumbuhan udang di tambak. Idealnya. Attraktabilitas dan palatabilitas (cita rasa) pakan menjadi penting untuk setiap pakan yang dihasilkan. seperti : over feeding. serta mengurangi jumlah nutrien yang hilang (leaching). udang stadia post larva diberi pakan setiap 2-3 jam sekali (12-8 kali sehari).11 2. FCR menggambarkan jumlah pakan yang diperlukan untuk menaikkan 1 kg berat udang. sehingga pakan harus mengandung attraktan yang baik sehingga . Faktor-faktor tersebut perlu terus dimonitor. defisiensi nutrien tertentu. Pada saat pakan diberikan.4 Attraktabilitas dan Palatabilitas Formulasi pakan dengan nutrisi seimbang akan sia-sia jika tidak dapat dikonsumsi oleh udang. FCR yang tinggi kemungkinan disebabkn oleh beberapa faktor. Umumnya nilai FCR kurng dari 2 masih dinyatakan baik. kualitas air yang buruk.3 Rasio Konversi Pakan (FCR) FCR merupakan salah satu indikator seberapa jauh pakan yang diberikan dapat dimanfaatkan oleh udang untuk mendukung pertumbuhan dan sintasan.2 Frekuensi Pemberian Pakan Frekuensi pakan ditentukan berdasarkan tingkat kestabilan pakan dalam air dan laju konsumsi pakan oleh udang. maka pakan digunakan semakin efisien. 2. Semakin rendah nilai FCR. sehingga program pemberian pakan lebih efisien. Udang makan atas dasar penciuman dan bukan penglihatan. Pemberian pakan lebih sering dapat memperbaiki rasio konversi pakan. frekuensi pakan lebih sering oleh karena laju metabolisme pada saat itu sangat tinggi. attraktan (asam amino) dari pakan lepas ke air dan dideteksi oleh kemoreceptor yang menyebar di seluruh tubuh udang.

2. Pakan harus terhindar dari sinar matahari langsung 4. Beberapa hal yang perlu diperhatikan selama penyimpanan pakan adalah sebagai berikut : 1. sehingga perlu disimpan dan ditangani dengan baik untuk menghindari terjadinya hilangnya nutrien tertentu. Pakan termasuk produk yang mudah rusak.5 Penyimpanan Pakan Salah aspek penting dalam pengolaan pakan adalah aspek penyimpanan. silase biomas artemia dan sebagainya. tepung udang. . Pakan disimpan di atas rak papan dan jangan simpan di atas lantai secara langsung 3. Pakan yang sudah rusak jangan digunakan. Pakan harus disimpan ditempat yang kering. Attraktan umumnya berasal dari bahan-bahan hewani (tepung ikan. dan tumbuhnya jamur. dingin dan berventilasi 2. terjadinya bau tengik. Pakan jangan disimpan lebih dari tiga bulan 5. nafsu makan udang sering dipacu dengan menambahkan attraktan dari luar seperti penggunaan silase ikan. palatabilitas (cita rasa) menjadi penting dan menentukan apakah pakan yang diberikan ditelan atau tidak. Pada saat udang mulai mengambil pakan. Namun dalam prakteknya.12 mudah dikenali oleh udang. tepung cumi dsb) dan sudah tersedia dalam pakan.

Oleh karenanya tidak mengherankan pada tahun 1990an. terjadinya penurunan mutu lingkungan yang pada akhirnya berdampak pada respon pertumbuhan kultivan yang rendah. plankton yang mati. Briggs et.13 III. Sedimen tambak selanjutnya dapat dipilah menjadi dua bagian besar yaitu dasar dan pematang tambak serta akumulasi sedimen (sludge yang terkumpul selama pemeliharaan). PENGELOLAAN PAKAN DAN LINGKUNGAN Budidaya udang merupakan salah satu industri besar (Rosenberry. Komponen tersebut perlu dikelola dengan baik sehingga tidak menimbulkan residu bahan organik yang berlebihan atau pada tingkat yang dapat merusak lingkungan budidaya.8 % antara tahun 1999-2000 dan mengalami penurunan sekitar 0. serta erosi. 1998).9% selama tahun 2002. 75 % produksi udang dunia menggunakan pakan buatan dan sejak itu pakan menjadi faktor produksi terbesar. tingginya kebutuhan oksigen di sedimen. 2001) dengan tingkat produksi sekitar 30 % dari total suplai udang dunia (Browdy. Sedimen ini bersumber dari sisa pakan. aliran air masuk. al. maka kebutuhan pakan pun juga pasti meningkat.. (2004). Terlebih lagi dengan kecenderungan peningkatan produksi udang hasil budidaya. Terkait dengan lingkungan pemeliharaan. (2004) laju pertumbuhan tahunan dari hasil budidaya udang mencapai 6.. Tingginya produksi tersebut adalah sebagai konsekuensi dari padat tebar tinggi yang didukung oleh pemberian pakan buatan dalam pemenuhan kebutuhan energi. air dan sedimen tambak keduanya saling berinteraksi secara terus menenus dan mempengaruhi lingkungan budidaya (Gambar 1). Avnimelech et al. akumulasi bahan organik yang berlebih menjadi pemicu kondisi lingkungan yang anaerob. . 1999 dalam Burford dan Williams. feses. Hal ini dipicu oleh penurunan mutu lingkungan budidaya dan terjadinya serangan penyakit.

serta sistem pergantian air yang lebih banyak (5-10% per hari hingga panen). sehingga perlu pengelolaan sebelum siklus berikutnya berlangsung. diketahui bahwa jika sedimen yang menumpuk tidak dipindahkan atau dihilangkan dari dasar tambak.0). Bahkan pergantian air sangat sering terutama pada separuh waktu pemeliharaan terakhir. Pengelolaan air dilakukan dengan cara kombinasi antara penggantian air baru dan pengelolaan fitoplankton melalui pengamatan warna air. Akan tetapi cara ini tidak berlangsung lama seiring dengan kenyataan bahwa daerah pantai dan estuarin telah . produksi tinggi (6-12 ton/ha/MT). Dari beberapa pengalaman.. 1998) Akumulasi sedimen mulai disadari semakin besar pengaruhnya terhadap aktivitas budidaya.8->2. FCR tinggi (1. akan berakibat fatal pada kualitas air terutama pada awal pemeliharaan. Gambar 1.Pengelolaan budidaya udang intensif dan interaksi kualitas air (Smith dan Briggs. sistem budidaya udang intensif pada mulanya dilakukan dengan padat tebar tinggi (50-100 ekor/m2).14 Di Thailand misalnya.

Dari data yang ada diketahui bahwa rerata nutrien yang dapat tertahan dalam tubuh ikan dan udang adalah 13 % carbon. 1997). dan (2) pakan merupakan input terbesar yang dapat mempengaruhi akumulasi bahan organik di sedimen dan kualitas air tambak (Boyd. sedangkan whitespot melalui perantaraan krustase yang masuk pada saat pergantian air dilakukan. Data ini menunjukkan rendahnya retensi nutrien dalam tubuh kultivan. Hal ini didasarkan pada beberapa hal seperti : (1) pakan merupakan faktor produksi yang cukup mahal pada sistem budidaya semi intensif dan intensif (Posadas.. Hal ini dilakukan dengan alasan bahwa sistem pergantian air secara langsung menjadi pemicu serangan penyakit. 1993) sehingga potensi sebagai sumber polutan jika tidak dikelolah dengan baik akibat kandungan N dan P yang tinggi (Jackson et al. penciptaan kondisi lingkungan prima dalam budidaya perlu dilakukan. Terbukti bahwa penyakit viral seperti yellowhead melalui perantaraan air. sehingga aktivitas budidaya dilakukan dengan sistem pergantian air yang terbatas atau sedikit. dan 16 % posfor. 1988 dalam Millamena dan Trino.15 mengalami kerusakan atau penurunan mutu air. . sehingga sisanya seperti nitrogen (75%) dan posfor (80%) terakumulasi di dasar tambak.1 Akumulasi Nutrien dan Bahan Organik di Dasar Tambak Ikan dan udang dapat mengakumulasi nutrien dari pakan yang diberikan berkisar 5-40% (Tabel 2). Salah satu diantaranya yang sangat penting adalah keberadaan pakan buatan dan implikasinya bagi media budidaya selama pemeliharaan. 29 % nitrogen. Terlepas dari keberadaan patogen atau carrier. Faktor-faktor terkait dengan masalah tersebut perlu diidentifikasi guna pengelolaan lingkungan budidaya yang lebih baik. 3. Rendahnya jumlah karbon sebagai konsekuensi dari banyaknya fraksi karbon pakan yang lepas akibat respirasi. 2003).

Secara umum. Dengan demikian. karakter dari akumulasi sedimen sangat ditentukan oleh intensitas budidaya yang diterapkan.16 Tabel 2. Detritus merupakan komponen sedimen yang bersumber dari plankton. nitrogen dan posfor dalam tubuh ikan dan udang yang dinyatakan dalam persentase total budget nutrien (nutrien yang ditambahkan dalam bentuk pakan dan pupuk)a. masalah yang dihadapi pada tanah dasar dan akumulasi sedimen tambak adalah akumulasi bahan organik yang berlebih dan pada akhirnya . Estimasi karbon. dan penerapan sistem pergantian air. kandungan organik tanah dasar. feses udang dan sisa pakan. 2003). dan P pada saat panen (FCR) c 17% pada padat tebar rendah (1 Pl/m 2) dan 34.6% untuk penebaran 30 Pl/m2 Komponen organik pada akumulasi sedimen merupakan campuran antara kandungan organik tanah dasar dan material berupa detritus. N. (Avnimelech dan Ritvo. a input organik karbon melalui produktivitas primer tidak diperhitungkan b Kalkulasi didasarkan pada jumlah C.

untuk siklus pemeliharaan berikutnya (terutama sistem semi intensif dan intensif). digunakan tiga jenis tambak yaitu : tambak umur satu tahun. maka sedimen ini akan melepaskan bahan organik yang cenderung menstimulasi perkembangan fitoplankton secara pesat terutama pada bulan pertama pemeliharaan.01-1 Kisaran konsentrasi Air tambak Dasar tambak 20-80 10. dua tahun dengan . Jika tidak. Bahkan pada kondisi bahan organik sangat tinggi dan tanah asam dapat berupa hidrogen sulfida. partikel bahan organik. Dengan demikian. Avnimelech dan Ritvo (2003) menyatakan bahwa jumlah nutrien untuk setiap 1 cm lapisan dasar tambak setara dengan 10 kali lipat atau lebih untuk kedalaman tambak 1 meter (Tabel 3). nitrogen dan posfor (Gambar 2). Dalam studinya.000 3.1-10 0. Konsentrasi komponen kimia pada dasar tambak dan kolom air (Avnimelech dan Ritvo. Tabel 3. 1998) pada tambak dengan tekstur liat. Budget ditentukan berdasarkan bahan padatan.000-200. pembersihan sedimen sangat diperlukan. 2003).000 1000-20.17 akan melepaskan amoniak dan senyawa sulfur organik. Komponen Berat Kering Bahan organik Total N Total N-amonia Total P % Mg/kg Mg/kg Ppm Ppm Unit 10-3-10-1 10-100 1-10 0.2 Budget Nutrien dan Padatan (solid) di Tambak Sebuah contoh kasus tentang budget nutrien dan padatan di tambak melalui studi yang telah dilakukan oleh Briggs dan Smith (1994 dalam Smith dan Briggs.000 1-1000 1000-20.

18 kepadatan tebar berkisar 50-60ekor/m2. Hal mendasar yang penting dipahami dari Gambar 2 di bawah ini adalah nilai prosentase yang ditampilkan bukan menjadi ukuran akan tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah proporsi jumlah dari setiap fungsi (aliran air masuk. Kondisi demikian dapat menjadi acuan dalam pengelolaan lingkungan budidaya udang. Pada Gambar 2 diketahui bahwa erosi tambak merupakan sumber terbesar baik bahan padatan (88-93%) maupun bahan organik (40-60%) di tambak. Demikian pula halnya dengan komponen pakan memberikan kontribusi bahan organik yang cukup signifikan (31-50%) meskipun kontribusi padatan relatif kecil (4-7%) terhadap . Gambar 2. Budget nutrien dan total padatan di tambak (Smith dan Briggs. kapur. 1998). serta tambak umur satu tahun dengan padat tebar tinggi (80-100 ekor/m2). pakan dsb). pupuk.

19 lingkungan budidaya. tetapi tetap lebih rendah bila dibandingkan dengan komponen pakan dan erosi tambak. Sebaliknya.1%. tanah sawah). Sebaliknya pada udang itu sendiri. gagal produksi dapat terjadi sebagai akibat dari kemunduran mutu dasar tambak. Seperti diketahui bahwa pakan merupakan sumber organik terbesar kedua setelah erosi dasar tambak. Sedangkan kontribusi bahan organik dari aliran air masuk cukup signifikan (7-13%). namun demikian pada sistem intensif kontribusinya hanya berkisar 2-3 %. Sekitar 58-70% dari sedimen tersebut akan mengendap sebagai bahan organik di dasar tambak. Data tersebut di atas menunjukkan bahwa faktor penting dalam budget nutrien dan padatan pada suatu tambak adalah karakter tanah tambak. Pergantian air secara rutin akan menghasilkan 4% bahan padatan yang terbuang dan 3 % pada saat panen. Bahan padatan yang terbuang tersebut mengandung bahan organik masing-masing 13 dan 9%. Ini penting oleh karena pakan juga menjadi indikator tentang kontribusi kotoran yang dihasilkan oleh udang. Pada tanah berpasir. Tambak merupakan media sedimentasi yang cukup efektif sehingga akumulasi sedimen di tambak dapat mencapai 91-94%. kondisi terberat adalah rembesan yang tinggi menyebabkan bahan organik akan masuk ke dalam matrix tanah dimana dekomposisi anaerob dapat terjadi. Setelah satu atau dua siklus musim tanam. aliran air masuk (influent water) merupakan sumber sedimen terbesar. seringkali dijumpai bahwa penumbuhan awal fitoplankton sangat sulit bahkan seringkali dijumpai adanya kematian massal.7% dan 6. Pada tambak sistem ekstensif. pada tanah berpasir Pada tanah mangrove. kontribusi padatan dan bahan organik sangat sedikit yaitu masing-masing sebesar 0. Pakan tersebut sangat potensial untuk menimbulkan . kandungan organik dapat mencapai 2-3 kali lipat dari tanah liat (contoh : kandungan organiknya sangat sedikit. Tanah yang demikian.

Namun demikian. kelebihan pakan. sebagian besar (78 %) hanya terbuang ke tambak atau sedikit yang terasimilasi dalam tubuh udang (Gambar 3) sehingga menjadi bahan pupuk yang sangat mahal untuk menstimulasi pertumbuhan plankton dan berbagai komunitas mikrobial. jumlah pakan yang diberikan untuk mendukung petumbuhan kultivan hanya sedikit yang terasimilasikan (Tabel 4).20 masalah jika tidak dikelolah dengan baik. Nitrogen tersedia dalam pakan dalam jumlah yang cukup tinggi. menguap ke udara atau tertahan di sedimen. terdapat sejumlah nitrogen dan carbon yang dapat menjadi limbah nutrien. hanya 18-27% nitrogen dan 6-11% carbon yang dapat diasimilasikan dalam tubuh udang. oleh karena kebutuhan protein bagi udang cukup tinggi yaitu sekitar 27-60% (Tabel 5). rendahnya retensi nitrogen dalam bentuk biomass udang dapat disebabkan oleh beberapa faktor. serta rendahnya stabilitas pakan di air. Dari sejumlah pakan yang diberikan. . Namun ironisnya. Artinya. Burford dan Williams (2001). Hal ini disebabkan oleh karena aktivitas budidaya banyak bergantung pada ketersediaan pakan tambahan. Sebagian dari padanya dapat dikonversi menjadi biomas plankton. antara lain : formulasi kurang optimal dan kualitas bahan baku.

8-31.8 3.5 24.0 84.8 21.4 90.8 2.08±0.8-31.5 19.59 1.0 87.3-90.16±1.5 86.2 11.1 7.0 1.19±0.21 Tabel 4.8-91.1±0.8 13.9±0.2-81.3±0.5 73.4 5.3±0.9 75.5-67.6 6.1±0.0-19.16 45.5 12. assimilasi nutrien dan jumlah yang hilang ke lingkungan (Smith dan Stewart.6 86.15 41.2±1. 1996 dalam Smith dan Briggs.2-89.3±1.5-8.4 23.3±1.9 13.4±2.18 1.0 46.2 19.9 (1 kg pakan kering pada FCR 1.6 85.20 43.1-83.50±0. Komposisi pakan.0±2.5 4.3-89.6±1.6-3.8±0.40 menghasilkan 113-165 g kering udang) .9 2.3-2. 1998).2-90.3 454 61 128 31 23 70.1 21. Nutrien Proksimat analisis (%BK) Pakan Protein Lemak Abu Serat Karbohidrat Berat kering Nitrogen Posfor Carbon a Komposisi (g/kg BK) Assimilasi pada FCR 1.65-2.3-86.4 43.34±0.65-2.7-90.2±2.40a (g/kg assimilasi) % nonAssimilasi 80.2 Udang 54.71 61.

cailorniensis P. Hal ini mengindikasikan adanya penggunaan protein sebagai sumber energi- . macleayi Kebutuhan protein (%) 40-60 45-55 35-50 29-51 34-50 40-43 28-32 30-35 22-27 >44 >40 >30 30 55 27 Lingkungan pemeliharaan (seperti salinitas) juga merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap efisiensi penggunaan pakan. Kebutuhan protein dalam pakan pada berbagai jenis udang (Lim and Akiyama. duorarum Metapeneus monoceros M. indicus P. setiferus P. 1995. Guillaume 1997 dalam Tacon 2002). stylirostris P. brasiliensis P. Species Penaeus japonicus P. aztecus P. kerathurus P. monodon P. vannamei P. merguensis P. penicillatus P.22 Tabel 5. Shiau (1998) melaporkan bahwa udang windu yang dipelihara pada salinitas yang lebih rendah menunjukan eksresi amoniak yang lebih besar dari pada yang dipelihara pada salinitas yang lebih tinggi.

1998). Gambar 3. unsur N tetap tersedia dan terakumulasi seiring dengan meningkatnya jumlah pakan yang diberikan. post larvae sejumlah sejumlah 2%. Hal ini akan berlangsung secara cepat seiring dengan meningkatnya jumlah buangan limbah ke lingkungan dan mengakibatkan terjadinya penurunan mutu air (Martin et al. . curah hujan. Jumlah N yang mengendap di dasar tambak (24%). pergantian air tidak menghasilkan buangan –N yang signifikan (17%) (Tabel 12). Sedangkan nitrogen yang dihasilkan dari erosi tambak (konstributor bahan padatan terbesar di tambak) hanya sekitar 16%. 1998). Selebihnya (30% N) diasumsikan lepas ke atmosfir sebagai N2 atau amonia. Artinya. dan air buangan (27%).. Keterlambatan dalam pergantian air akan menimbulkan masalah seperti blooming fitoplankton dan pada akhirnya mengakibatkan stres pada udang.23 bukan lemak pada media pemeliharaan berkadar garam rendah. Budget nitrogen (N) di tambak (Smith dan Briggs. Tingginya kandungan N hasil buangan akan berdampak pada badan air lainnya (receiving water). Pada budidaya dengan sistem terbuka (open system). udang yang dipanen (18%). Sumber -N lainnya adalah dari aliran air masuk (4%) dan pemupukan.

. dan leaching dari feses. Bentuk –N dari pakan berupa amina-amina primer terlarut (dissolved primary amines. 23%).24 Tabel 6. Adapun bentuk –N dari suatu proses budidaya dengan pemberian pakan buatan dapat dilihat pada Gambar 4. leaching dari pakan. sedang –N yang dihasilkan dari proses leaching pada feces terdapat dalam bentuk urea. Pada dasarnya ada tiga sumber –N terlarut sebagai hasil dari proses pemberian pakan. yaitu : ekskresi insang. DPA. 1998). Jumlah nutrien yang terbuang sebagai hasil dari pergantian air tambak (Smith dan Briggs.

dan asumsi sisa pakan 10%.Baik pakan maupun feses keduanya secara signifikan berpengaruh terhadap kualitas air tambak khususnya dalam mengakumulasi DON (Dissolved organik N) dan stimulasi pertumbuhan mikrobia. sebagai upaya untuk mengurangi buangan limbah dari tambak perlu dihindari adanya over feeding dan berupaya meningkatkan retensi nutrien dalam tubuh ikan dan udang. dan feses udang dalam kolom air tambak (assumsi biomass 500 g/m2. sedangkan organik –N terlarut yang dihasilkan dari proses leaching pakan kurang efektif dimanfaatkan oleh bakteria dan hanya terakumulasi di dasar tambak. pakan. sehingga sekali lagi sangat penting untuk mengolah limbah dasar tambak baik selama pemeliharaan maupun setelah pemeliharaan berlangsung. Dari gambar tersebut diketahui bahwa kebanyakan posfor terakumulasi di tambak. Burford dan Williams. . Model ekskresi –N (mmol m-2 d-1) dari insang. suhu air 28 C. 2001). pakan merupakan sumber posfor terbesar di tambak (Gambar 5). pemberian pakan 4 x sehari. Oleh karenanya. Selain kandungan –N.25 Gambar 4. Urea ini dapat digunakan oleh komunitas mikroba tambak secara cepat.

Pakan udang khususnya. 3.4 Perbaikan Formulasi dan Pengelolaan Pakan Formulasi pakan dibuat melalui penggunaan berbagai bahan baku guna menghasilkan nutrien dan energi yang sesuai bagi kultivan yang dipelihara. Budget posfor di tambak (Smith dan Briggs. Hal ini berarti bahwa kandungan N dalam pakan cukup tinggi seperti dijelaskan sebelumnya. 1998).3 Alternatif Solusi Pengelolaan Limbah pada Sedimen Tambak Burford et al. Perbaikan proses nitrogen di tambak 3. Perbaikan formulasi dan pengelolaan pakan 2. yaitu : 1. (2003) menjelaskan bahwa ada tiga faktor yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan pengelolaan limbah nitrogen di tambak. Jika tidak. Peningkatan kecernaan pakan dan retensi/asimilasi dalam tubuh udang perlu dilakukan. (2001) dalam Jackson et al. Jumlah dan jenis bahan yang digunakan disesuaikan dengan jumlah nutrien yang dikandungnya. memerlukan protein yang cukup tinggi dalam pakannya. Perbaikan sistem desain dan manajemen limbah di tambak Gambar 5.. sumber N tersebut akan lepas ke lingkungan dan pada . Namun demikian faktor berupa kecernaan bahan dan harga turut menentukan dalam pembuatan suatu ransum atau formula pakan..26 3.

Jumlah pakan harian yang diberikan meningkat seiring dengan bertambahnya lama pemeliharaan. bahan hewani memiliki tingkat kecernaan yang lebih tinggi dibandingkan dengan bahan nabati. Upaya ini tidak hanya dimaksudkan lingkungan. Sebagai contoh adalah penggunaan cumi-cumi. 1996). Aspek lain adalah pengelolaan pakan secara umum terutama yang terkait dengan jumlah dan frekuensi pemberian. faktor kandungan nutrien dan tingkat kecernaan bahan sangat diperlukan. faktor lain adalah bahan hewani memiliki profil asam amino yang lengkap serta mengandung zat attraktan (Tacon. bahkan sebagai sumber protein hewani. Ketergantungan terhadap penggunaan tepung ikan dalam suatu formulasi pakan cukup tinggi (Lim. 1993). Faktor terpenting untuk mengatasi kelangkaan sumberdaya. et al. dsb. 1994). Tidak mengherankan jika dalam pembuatan pakan udang penggunaan bahan hewani banyak digunakan seperti tepung ikan. 2003) menunjukkan bahwa penggunaan ketiga sumber GH tersebut dalam pakan udang menunjukkan respon pertumbuhan yang baik meskipun dalam jumlah relatif sedikit. Hal ini menyebabkan penggunaan tepung ikan menjadi issu penting saat ini oleh karena kelangkaan sumberdaya serta kompetisi penggunaan dengan sektor lain seperti peternakan. tetapi sekaligus menciptakan pakan dengan harga murah (sumber protein cukup mahal) serta ramah . Oleh karenanya. hidrolisis udang kecil (krill) dan beberapa jenis ikan. Pada kenyataannya. Disamping itu. Hasil percobaan (Cordova-Murueta. sebelum membuat suatu formulasi. Terkait dengan masalah tersebut. kajian formulasi untuk beberapa species diarahkan pada pencarian bahan baku pengganti tepung ikan. tepung cumi..27 akhirnya berpegaruh terhadap mutu air tambak. tepung kepala udang. kontribusi protein lebih dominan yaitu sekitar 60% (Goddard. Penggunaan growth enhancer (GE) dalam pakan banyak diaplikasikan dengan tujuan meningkatkan asimilasi nutrien dalam tubuh ikan maupun udang.

. selain dapat melepaskan nutrien tertentu (leaching).28 dalam hal ini adalah estimasi biomass harian dan laju pertumbuhan (SGR) seperti ditunjukkan pada formula berikut ini : Wt = W o x (1 + SGR/100)t JPt = W t x F dimana : Wt Wo JPt F t = Biomass pada hari ke-t (g) = Biomass awal (hari ke-0. Pakan memiliki kestabilan yang terbatas dalam air.. 4.... Frekuensi pemberian pakan dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan pakan bagi udang............ lama pakan dalam air untuk .. Suatu percobaan telah dilakukan oleh Smith et........ g) = Jumlah pakan pada hari ke-t (g) = Prosentase pemberian pakan (%) = Lama pemeliharaan (hari) .... (1) SGR = ln(W t/W o)/t x 100 ...................... al....6 g/ekor) di bak kapasitas 2500 liter...... Pakan yang terlalu lama di dasar tambak. Dari hasil percobaan dilaporkan bahwa frekuensi pemberian pakan lebih dari 3 kali sehari tidak menguntungkan selama pakan itu memiliki kandungan nutrisi yang cukup serta kestabilan dalam air yang tinggi... (2) .. yaitu : 3. juga mudah hancur sehingga sulit untuk ditangkap oleh udang.. dan 6 kali sehari..... 5. Setelah penentuan jumlah pakan harian..... (2002) dengan simulasi pemeliharaan udang (berat awal 5. Ada empat perlakuan frekuensi pemberian pakan.. masalah berikut adalah berapa kali pakan diaplikasikan.... (3) SGR = Laju pertumbuhan spesifik (%/h) Nilai SGR dapat diketahui melalui pertumbuhan udang secara normal yang diamati secara periodik.. sehingga dalam waktu relatif singkat diharapkan dikonsumsi oleh udang.... Dalam percobaan ini.

Liu dan Han (2004) telah melakukan kajian pengolahan limbah hasil pemeliharaan larva udang.5 Perbaikan Proses. 1998). Pada prinsipnya. 3. Dari hasil percobaan diketahui bahwa penambahan bakteri remedian (Bacillus subtilis) dan nutrin berupa glukosa dan atau posfat sangat signifikan terhadap penurunan kadar bahan organik terlarut (DOM) dan total amonia nitrogen (TAN). Selama proses pertumbuhan.N di Tambak Penggunaan bakteri remedian sudah umum digunakan guna mengurangi kadar amonia.29 semua perlakuan adalah sama yaitu 12 jam. molases. yang menjadi masalah adalah dalam bentuk apa amonia direduksi dan apakah berlangsung lama? (Smith dan Briggs. Prinsip yang sama digunakan pada budidaya udang intensif di Belize. dsb) umum digunakan dengan maksud untuk merubah komoditas bakteri di tambak sehingga meningkatkan aktivitas bakteri heterotropik yang berperan untuk mereduksi amoniak. berarti terjadi pembentukan sel-sel baru dalam bentuk protein seperti ditunjukkan dalam diagram berikut (Avnimelech. Hal ini telah berkembang pada budidaya ikan nila. Kajian ini perlu verifikasi di lapangan. mengingat aplikasi pakan di tambak seringkali diberikan dengan frekuensi lebih dari tiga kali sehari. Namun demikian. Disamping itu. Strategi lain yang dapat dilakukan guna mengurangi inorganik N di tambak adalah dengan cara manipulasi C/N rasio melalui penambahan materi yang mengandung carbon (carbonaceus material). 1999) : Aktivasi suspensi di tambak (Gambar 6) merupakan salah satu alternatif untuk menjadi biofilter. penambahan sumber karbon di sedimen adalah sebagai sumber makanan bakteri guna menghasilkan energi bagi pertumbuhannya. penambahan sumber karbon (gula. bahan organik dan selanjutnya memperbaiki akumulasi sedimen di tambak. Metode ini didasarkan pada kenyataan bahwa pada budidaya sistem intensif aerasi dan pencampuran air terjadi .

(2004) telah melakukan percobaan pembesaran udang (P. Proses pencampuran dan pengaerasian merupakan wujud sebagaian besar dari sistem produksi berbasis bioteknologi. Dengan aktivasi suspensi ini terjadi populasi bakteri yang sangat padat pada kondisi optimal. sebagai bagian integral dari operasional budidaya.1995). Gambar 6. monodon) skala laboratoris dan skala massal di . 1992). Organik C CO 2 energi assimilasi C dalam sel-sel mikrobial Untuk sistesa protoplasma mikrobial secara optimal memerlukan C/N rasio sebesar 10 : 1 (Worne.30 terus menerus. dan selanjutnya digunakan untuk mengolah limbah dan menjamin terciptanya kondisi budidaya yang aman bagi ikan.. Rasio ini terkait erat dengan komposisi karbon dan nitrogen masing-masing sebesar 50% dan 10 % berat kering dengan efisiensi assimilasi karbon sekitar 5-10% (Boyd. Hari et al. 2000). Skema aktivasi suspensi di tambak. Pemeliharan dan pengelolaan limbah berlangsung dalam wadah yang sama (Avnimelech. skaligus mendaur ulang pakan dalam sistem budidaya.

>3.5-8. Hal mendasar dalam hal ini adalah bagaimana meminimalkan penutupan dasar tambak oleh sludge.0. Kajian selanjutnya (Avnimelech. dan (2) adanya daerah untuk menangkap sediment di dasar tambak. Ada dua cara secara simultan untuk mengontrol sedimen di tambak. baik dengan pengeringan atau dengan mengangkat lapisan sedimen. 3. pembesaran . 2004) adalah sebagai berikut :  Dalam budidaya udang intensif ( kepadatan tebar ( 30 . yaitu : (1) aerator: yang mengarahkan limbah organik pada daerah atau zona tertentu di dasar tambak sehingga bagian tambak lainnya tetap bersih dari akumulasi sedimen. 2003) menjelaskan bahwa hal penting dan umum dilakukan unuk perbaikan kondisi dasar tambak adalah melalui perlakuan tanah dasar antar siklus pemeliharaan.7 Aplikasi Probiotik dan Feed Additive Alasan penggunaan probiotik (Poernomo. Terlepas dari cara tersebut. kadar air dan pH optimum untuk proses respirasi dasar tambak adalah masing-masing 12-20% dan 7.40 PL/m2 untuk udang windu atau 80-100 PL/m2 udang vanamei.6 Perbaikan Desain dan Manajemen Limbah di Tambak Baik teori. (faeces udang.5 . Hasil percobaan menunjukkan bahwa penambahan karbohidrat (tepung tapioka) secara signifikan menurunkan TAN dan meningkatkan populasi bakteri heterotropik baik di kolom air maupun di sedimen. Lebih lanjut Boyd dan Pippopinyo (1994).31 tambak tentang pengaruh penambahan sumber karbon. (Avnimelech dan Ritvo. 3. 1999) memformulasikan secara detail bahwa untuk mengimmobilisasi 1 kg TAN diperlukan 20 kg karbon.0 kg TS/kg udang) . penimbunan kotoran sisa pakan dan bangkai plankton) didasar cukup cepat selama udang ( 2. eksperimen secara laboratoris dan data lapangan menunjukkan bahwa kondisi dasar tambak sangat penting dalam mendukung keberhasilan produksi udang.

Dalam waktu pembesaran udang selama minimum 4 bulan terjadi proses pembusukan terutama dalam kondisi anaerob yang menghasilkan gas beracun ( H2S. Salah satu faktor kunci dalam memilih jenis probiotik yang digunakan adalah probiotik tersebut sudah mendapatkan legalitas melalui pengujian secara saintifik. Hal ini penting oleh karena sekarang ini jenis probiotik yang beredar di pasaran sangat banyak sehingga selektifitas sangat diperlukan untuk efisiensi faktor produksi. dll ) yang sangat bahaya bagi udang yang dipelihara. .    Air sumber banyak terkontaminasi dengan virus dan bakteri pathogen. Pengaruh negatif dari hasil pembusukan kotoran ( bahan organik ) tersebut dapat diantisipasi dengan penggunaan ProBiotik secara tepat ( jenis dan cara aplikasi ). Penggunaan ProBiotik dapat meningkatkan mutu dan kesehatan lingkungan dan bahan pangan. Hal yang sama juga berlaku pada aplikasi jenis dan jumlah feed additive. NH3. Dengan demikian karakteristik bahan additive harus diketahui. Udang bisa stress dan lebih peka terhadap penyakit dengan dampak akhir kegagalan budidaya. Sistem makan dengan menggigit makanan secara sedikit demi sedikit memungkinkan adanya pelepasan nutrien (termasuk feed additive yang ditambahkan) ke dalam media budidaya.32   Kotoran ini walaupun di bersihkan setiap hari masih banyak tertimbun didalam tambak. Perlu disadari bahwa udang memiliki pola makan yang berbeda dibandingkan dengan ikan. NO2.

G. Murrillo-Gurrea. R. Evaluating the active redox and organic fractions in pond bottom soils: EOM.. Briggs. and G. Pippopinto. and Catacutan. M. D. 2002. Avnimelech.. Aquaculture xx. Wyban. Introduction and movement of Penaeus vannamei and P. Factors affecting respiration in dry pond soils.283-293 Boyd.. C. and Coloso. Icthyol.E.. Aquaculture 164. J. J (ed). Browdy.. 1993.. 1993. I. 2004.. 1994.43-58. 371-384. The fate of nitrogenous waste from shrimp feeding.N.G-Carreno... April :23-24 Avnimelech... Requirements of Milkfish ( Chanos chanos Forsskal ) Juveniles for Essential Amino Acids.L. Shrimp and fish pond soiln: processes and management. S. Bangkok. F. Carbon/nitrogen ratio as a control element in aquaculture systems. Y. Regional officer for Asia and Pasific. M. I. Appl.33 DAFTAR PUSTAKA Avnimelech.. Coloso. Kocha. Boyd. K. C. 1995. Y. M. J. Nutrive value of squid and hyrolyzed protein supplement in shrimp feed. R. Funge-Smith. C... R. 1998.M. easily oxidized material.xxx-xxx Borlongan. Recent developments in penaeid broodstock and seed production technologies: improving the outlook for superior captive stocks.H.. 2000. E. RAP Publication 2004/10. . Cordova-Murueta.15(2)54-58. and M. Ritvo. Nutr. Aquaculture 198.G. 79-93.. Williams. 2001. S. Boyd. 2003. World Aquac. Y. J. 1999. and pond aquaculture. Avnimelech. Aquaculture 220. Proceeding of the special session on shrimp farming. Aquaculture 120. A. Chapman & Hall..549-567.. FAO. 227-235.G. M. Phillips. Shrimp pond bottom soil and sediment management. Y .. E. 2004. 1999. Borlongan. Global Aquaculture Advocate. Nitrogen control and protein recycling : Activated suspension ponds.3-21. Soc.R.C..M. stilyrostris in Asia and Pasific. Aquaculture 210. Sulphur Amino Acid Requirement of Juvenile Asian seabass Lates calcarifer. Bottom soils. Subasinghe. Aquaculture 176. sediment.123:125-132. Burford. Ritvo.

Tigbauan Iloilo Philippines. F. and Kanazawa. Kurup. Martin. Reuse strategy of wastewater in prawn nursery by microbial remediation. A. J. Lim. C. waste output and their relationships in rearing ponds.. 1996. SEAFDEC Aquaculture Department. Valine Requirements of Juvenile Marine Shrimp. Millamena.C. Protein requirement for maintanance and maximum weight gain for the Pacific white shrimp.M. Advances en Nutricion Acuicola VI.. N. Pham.. Verdegem. Aquaculture. 2004. Jackson. Simoes. W. Hari . C.N. Nile Tilapia. M. Tapia-Salazar. 281-296. 397-411.. 1994. 1998. 135-149. Future considerations in fish nutrition research... Aquaculture 235 : 513551. Guillaume. and M. Goddard. Penaeus monodon Fabricius). Schrama. O. 2004. Feed Development Section. Nitrogen budget and effluent nitrogen components at an intensive shrimp farm.. Aquaculture 164. M. C. M. Mexoco. Davis.). B. 2003. 1994.. Bautista-Teruel M. growth. Nutr (2)3:129-132. Litopenaeus vannamei. 2004. Aquac. Kureshy.. J. G.34 Cuzon. Feeds and Feeding of Milkfish. Philippines.L. Burford. . Gaxiola. Cancun... Current status of lipid nutrition of Pacific white shrimp Litopenaeus vannamei. Lawrence. SEAFDEC-aQD. T. B. D.. Gonzales-Felix.. M. Han... Y.. Veran. RicqueMarie. Varghese. In: Feed for smallscale aquaculture (Santiago et al. Asian Seabass. Liu. J. 2002. Chapman and Hall. G. Effects of carbohydrate addition on production in extensive shrimp culture systems. N and D. N (eds)..97 p.M. Rosas. Gaxiola-Cortes. S. A. Aquaculture 204 : 125-143. Nutrition of Litopenaeus vannamei reared in tanks or in ponds. W... and Tiger Shrimp.E. O. Feed management in intensive aquaculture. Quintana Roo.. eds. 241:179-194. Perez-Valazquez. New York. J.. L. 1996.A. and M. 3 al 6 de Septiembre del 2002. P. Memorias del VI Simposium Internacional de Nutricion Acuicola. Guelorget.G.J. In : Cruz-Suarez. M... and D. J. Aquaculture 218.. impact on sediment... Shrimp rearing : stocking density. Preston. 2002. Iloilo.. Thompson. Aquaculture 230.

S. National Research Council.35 Millamena.. S. Thakur. O. NACA. K. 1992.. Aquaculture 164. Tacon. Worne. Smith.. A. 1998. Aquaculture 207..and Lovell. under semi-intensive and intensive conditions in brackishwater pond. and L. 2002. M.1983. WWF and FAO Consortium Program on Shrimp Farming and the Environment.B. M.Y. Nutr 118:1540-1546. 2002. C. M. Smith. J. J. Lin.G.. C. J.102 p. Hazardous Materials Control Resources Institute. Briggs. Work in Progress for Public Discussion. 117-133. Aquaculture 154. Water quality and budget nutrient in closed shrimp (Penaeus monodon) culture systems. J. The effect of feeding frequency on water quality and growth of the black tiger shrimp (Penaeus monodon). H. Burford. Shiau. T. Engeneering. Aquaculture 164. 1998. D. Ward. Washington DC.. S. FO-UN. Nutrient requirement of penaeid shrimps. Thematic Review of Feed and Feed management Practices in Shrimp Aquaculture. Rome. R. A. A. Irvin. R. Amino Acid Requirements for Growth of Nile Tilapia. S. J. and M.1988. 77-93. 2003.. G. Aqua... 27:159-176... P. Santiago. D. Feed ingredient for warmwater fish : Fish meal and processed feedstuffs. Tabrett.. 1993. Nutrient Requirements of Warmwater Fishes and Shellfishes.. Tacon. 125-136. 1997.T. F. Introduction to microbial biotechnology including hazardous waste treatment. ..J. Nutrient budget in intensive shrimp ponds: implications for sustainability. Low-cost feed for Penaeus monodon reared in tanks. Report prepared under the World Bank.P. 69-78. Academy Press. A. USA. Trino. Publised by the Consortium.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.