BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Angka kematian bayi (AKB) di Indonesia, pada tahun 1997 tercatat sebanyak 41,4 per 1000 kelahiran hidup. Dalam upaya mewujudkan visi “Indonesia Sehat 2010”, maka salah satu tolak ukur adalah menurunnya angka mortalitas dan morbiditas neonatus, dengan proyeksi pada tahun 2025 AKB dapat turun menjadi 18 per 1000 kelahiran hidup. Salah satu penyebab mortalitas pada bayi baru lahir adalah atresia esophagus dan ensefalopati bilirubin (lebih dikenal sebagai kernikterus). Atresia esofagus merupakan kelainan kongenital yang ditandai dengan tidak menyambungnya esofagus bagian proksimal dengan esofagus bagian distal. Atresia esofagus dapat terjadi bersama fistula trakeoesofagus, yaitu kelainan kongenital dimana terjadi persambungan abnormal antara esofagus dengan trakea. Atresia esophagus merupakan kelainan kongenital yang cukup sering dengan insidensi rata-rata sekitar 1 setiap 2500 hingga 3000 kelahiran hidup. Insidensi atresia esophagus di Amerika Serikat 1 kasus setiap 3000 kelahiran hidup. Di dunia, insidensi bervariasi dari 0,4-3,6 per 10.000 kelahiran hidup. Insidensi tertinggi terdapat di Finlandia yaitu 1 kasus dalam 2500 kelahiran hidup. Masalah pada atresia esophagus adalah ketidakmampuan untuk menelan, makan secara normal, bahaya aspirasi termasuk karena saliva sendiri dan sekresi dari lambung. Ikterus neonatorum merupakan fenomena biologis yang timbul akibat tingginya produksi dan rendahnya ekskresi bilirubin selama masa transisi pada neonatus. Pada neonatus produksi bilirubin 2 sampai 3 kali lebih tinggi dibanding orang dewasa normal. Hal ini dapat terjadi karena jumlah eritosit pada neonatus lebih banyak dan usianya lebih pendek. Banyak bayi baru lahir, terutama bayi kecil (bayi dengan berat lahir < 2500 g atau usia gestasi <37 minggu) mengalami ikterus pada minggu pertama kehidupannya. Data epidemiologi yang ada menunjukkan bahwa lebih 50% bayi baru lahir menderita ikterus yang dapat dideteksi secara klinis dalam minggu pertama kehidupannya. Pada kebanyakan kasus ikterus neonatorum, kadar bilirubin tidak berbahaya dan tidak memerlukan pengobatan. Sebagian besar tidak memiliki penyebab dasar atau disebut ikterus fisiologis yang akan menghilang pada akhir minggu pertama kehidupan pada bayi cukup bulan. Sebagian kecil memiliki penyebab seperti hemolisis, septikemi, penyakit metabolik (ikterus non-fisiologis). Esofagus merupakan saluran yang menghubungkan dan menyalurkan dari ronggamulut ke lambung. Di dalam rongga dada, esofagus berada di mediastium posterior mulai dibelakang lengkung aorta dan bronkus cabang utama kiri. Fungsi utama esofagus adalahmenyalurkan makanan dan minuman dari mulut ke lambung. Di dalam esofagus makananturun oleh peristaltik primer dan gaya berat terutama untuk makanan padat dan setengahpadat, serta peristaltik ringan. Penting sekali pada pendidikan dokter untuk mengenali kelainan-kelainan esofagusdiantaranya adalah atresia esofagus. Pada kebanyakan kasus, kelainan ini disertai denganterbentuknya hubungan antara esofagus dengan

terdapat suatu keadaan dimna bagian proksimal dan distal esophagus tidak berhubungan. 4. 2.4. kardiofaskuler. Pengertian . kelainan jantung. 1. Rumusan Masalah Apa itu atresia esophagus? Apa saja tanda gejala atresia esophagus? Apa penyebab atresia esophagus? Bagaimana penatalaksanaan atresia esophagus? C. B. Untuk mengetahui apa saja tanda gejalaatresia esophagus Untuk mengetahui apa saja penyebab atresia esophagus Untuk mengetahui bagaimana penatalaksanaan atresia esophagus BAB II TINJAUAN PUSTAKA A.6 sekitar 50 % bayi dengan atresia esophagus juga mengalami beberapa anomali terkait. Angkakeselamatan pada bayi dengan atresia esofagus berhubungan langsung terutama dengan beratbadan lahir. 4. Pada penyakit ini.3. Malformasi . Bayi dengan atresia Esofagus tidak mampu untuk menelan saliva dan ditandai denganjumlah saliva yang sangat banyak dan membutuhkan suction berulangkali. 3.5. semua kelainan ini disebut sidrom vecterl. Atresiaesofagus termaksud kelompok kelainan congenital terdiri dari gangguan kontinuitas esophagus dengan atau tanpahubungan persistendengan trakea. 1.2. Bagian ini meluas sampi bagian atas diagfragma 1. dan faktor resiko yang menyertai. 3. Tujuan Untuk mengetahui pengertian dari atresia esophagus.Atresia Esofagus. Pada bagian esophagus mengalami dilatasi yang kemudian berakhir berakhir kantung dengan dinding maskuler yang mengalami hipertofi yang khas yang memanjang sampai pada tingkat vertebra torakal sagmen 2-4. malformasi rangka termaksud hemivertebra dan perkembanga abnormal radius serta malformasi ginjal dan urogenital sering terjadi.trakea yang disebut fistula trakeoesophageal(Tracheoesophageal Fistula/TEF). 2. Bagian distal esophagus merupakan bagian yang mengalami atresia dengan diameter yang kecil dan dinding maskuler dan tipis.

Untuk alas an yang tidak diketahui esophagus dan trakea gagal untuk berdeferensiasi dengan tepat selama gestasi pada minggu keempat dan kelima. Kelainan ini sudah diduga sebagai suatu malformasi dari traktus gastrointestinal.Atresia berarti buntu.26. Atresia esofagaus sering disertai kelainan bawaan lain. Namun dari suatu penelitian didapatkan bahwa insiden atresia esofagus paling tinggi ditemukan pada populasi kulit putih (1 kasus per 10. Rasio kemungkinan untuk mendapatkan kelainan atresia esofagus antara laki-laki dan perempuan adalah sebesar 1. dan mungkin disertai oleh anomaly lain seperti penyakit jantung congenital. Sebuah penelitian menemukan insiden atresia esofagus lebih tinggi pada ibu yang usianya . namun penanganan bedah terhadap anomali tersebut tidak berubah sampai tahun 1869. kelainan tulang (hemivertebrata). Atresia esofagus adalah malpormasi yang disebabkan oleh kegagalan esofagus untuk mengadakan pasase yang kontinu : esophagus mungkin saja atau mungkin juga tidak membentuk sambungan dengan trakea ( fistula trakeoesopagus) atau atresia esophagus adalah kegagalan esophagus untuk membentuk saluran kotinu dari faring ke lambung selama perkembangan embrionik adapun pengertian lain yaitubila sebua segmen esoofagus mengalami gangguan dalam pertumbuhan nya( congenital) dan tetap sebaga bagian tipis tanpa lubang saluran. pada esofagus (+). seperti kelainan jantung.2. Pada sebagian besar kasus atresia esofagus ujung esofagus buntu. Baru pada tahun 1939.000kelahiran). Pada jenis kelamin laki-laki memiliki resiko yang lebih tinggi dibandingkan pada perempuan untuk mendapatkan kelainan atresia esofagus.6 Kecenderungan peningkatan jumlah kasus atresia esofagus tidak berhubungan dengan ras tertentu. Leven dan Ladd telah berhasil menyelesaikan penanganan terhadap atresia esophagus.55 kasus per 10. Fistula trakeo esophagus adalah hubungan abnormal antara trakeo dan esofagus . B. Kelainan lumen esophagus ini biasanya disertai dengan fistula trakeoesofagus. Lalu di tahun 1941 seorang ahli bedah Cameron Haight dari Michigan telah berhasil melakukan operasi pada atresia esofagus dan sejak itu pulalah bahwa Atresia Esofagus sudah termasuk kelainan kongenital yang bisa diperbaiki. sedangkan pada ¼ -1/3 kasus lainnya esophagus bagian bawah berhubungan dengan trakea setinggi karina (disebut sebagai atresia esophagus dengan fistula). Meskipun sejarah penyakit atresia esofagus dan fistula trakeoesofagus telah dimulai pada abad ke 17. Beberapa penelitian menjelaskan hubungan antara resiko atresia esofagus dan umur ibu. Atresia esofagus dan fistula trakeoesofagus adalah kelainan kongenital pada neonatus yang dapat didiagnosis pada waktu-waktu awal kehidupan. kelainan gastroin testinal (atresia duodeni atresiasani). atresia esofagus adalah suatu keadaan tidak adanya lubang atau muara (buntu). Epidemiologi Atresia esofagus pertama kali dikemukakan oleh Hirschprung seorang ahli anak dari Copenhagen pada abad 17 tepatnya pada tahun 1862 dengan adanya lebih kurang 14 kasus atresia esophagus.000 kelahiran) dibanding dengan populasi non-kulit putih (0. Dua kondisi ini biasanya terjadi bersamaan.

.Ciri-ciri: kantung esofagus bagian atas menyambung secara abnormal ke trakea. . dimana beberapa penelitian lainnya juga mengemukakan peningkatan resiko atresia esofagus terhadap peningkatan umur ibu.org.Atresia esofagus dengan dua fistula trakeoesofagus sekaligus.Sambungan yang tidak normal ini disebut fistula.Ciri-cirinya: adanya ‘gap’ antara dua kantung esofagus.Atresia esofagus dengan fistula trakeoesofagus proksimal. namun. .Disebut juga atresia esofagus murni = atresia esofagus ‘long gap’ = atresia esofagus ‘isolated’ .Sambungan yang tidak normal ini disebut fistula. TIPE E .Atresia esofagus dengan fistula trakeoesofagus distal. TIPE C .Ciri-ciri: baik bagian atas maupun bagian bawah dari kantung esofagus membentuk sambungan abnormal ke trakea pada dua tempat yang terpisah dan berbeda. menurut www.Terkadang disebut juga sebagai atresia esofagus tipe H atau N . TIPE D . tanpa atresia esofagus. Tipe Atresia Esophagus Terdapat beberapa atresia esofagus.Ciri-ciri: kantung esofagus bagian bawah membuat sambungan yang abnormal dengan trakea.Hanya fistula trakeoesofagus saja. . antara lain: TIPE A .esophagealatresia. C.lebih muda dari 19 tahun dan usianya lebih tua dari 30 tahun. baik proksimal maupun distal. .ETIOLOGI . terdapat sambungan abnormal antara esofagus dan trakea. . TIPE B .Tipe yang sangat jarang ini tetap bisa berfungsi secara normal.

Perlu penanggulangan bedah. kateter akan terbentur pada ujung esophagus yang buntu: dan jika kateter didorong terus akan melingkar – lingkar di dalam esophagus yang buntu tersebut. Selain anomali kromosom. Kelainan bawaan ini biasanya terdapat pada bayi yang lahir dengan kehamilan hidramnion dan biasanya bayi dalam keadaan kurang bulan. Pada fistula trakea esophagus . Diagnosis pasti dapat ditegakkan dengan memasukkan pipa radio-opak atau larutan kontras liopodol ke dalam esophagus dan dibuat foto toraks biasa. pada akalasia bagian distal esophagus tidak dapat membuka dengan baik sehingga terjadi keadaan seperti stenosis atau atresia. Penyebab akalasia adalah adanya kartilago trakea yang tumbuh ektopik pada esofagus bagian bawah. Pada pemeriksaan mikroskopis ditemuka jaringa tulang rawan dalam lapisan otot esophagus. MANIFESTASI KLINIK Gambaran Atresia Di Tandai Dengan gangguan Proses Menelan waktu lahir dan terjadi gangguan pernapasan bila terjadi gangguan pernapasan bila bahan makanan teraspiasi kesana. trakeoesofageal. E. Akalasia Akalasia merupakan kebalikan dari kalasia.5 – 10 cm dari bibir. kardiovaskuler. pemberian minum sering menyebabkan bayi tersebut menjadi biru dan apnea tampa batuk –batuk. Disebut pula sebagai spasme kardio.Atresia esofagus merupakan kelainan kongenital. Jika terdapat fistula trekoesofagus perut bayi tampak membuncit karena terisi udara. Pada bayi kurang bulan ini. cairan lambung juga dapat masuk kedalam paru : oleh karena itu bayi sering sianosis. Menurut Hockenberry (2002) kengenital anomali ini karena sindrom VATER atau VACTERL yang merupakan kombinasi abnormalitas vertebral. etiologi lainnya adalah adanya pengaruh teratogen dan faktor imunologis. anorektal. yang artinya terjadi sebelum kelahiran. serta limb. 2. Pemberian minum dapat menyebabkan batuk atau seperti tercekik dan bayi sianosis. Manifestasi klini dapat juga berupa sebagai berikut: .esofagus. D. renal. Klasifikasi 1. Dan liur selalu meleleh dari mulut bayi dan berbui. Bila dimasukkan kateter melalui mulut sepanjang 7. Kalasia Kalasia adalah kelainan yang terjadi pada bagian bawah esophagus(pada persambungan dengan lambung) yang tidak dapat menutup rapat sehingga bayi sering regurgitasi bila dibaringkan. Pertolongannya adalah tindakan bedah sebelum dioperasi pemberian minum harus dengan sendok sedikit demi sedikit dengan bayi dalam posisi duduk.

sianosis atau batuk dalam pemberian makan bayi Bayi dengan atresia tanpa fistula mempunyai abdomen skafoid serta tanpa gas.Hipersekresi cairan dari mulut Gangguan menelan makanan (tersedak. gejala-gejala yang sering terjadi adalah aspirasi pneumonia berulang dan diagnosisnya dapat tertunda hingga beberapa hari atau bahkan berbulan-bulan.Terdapat riwayat polihidramnion ibu . Pada lebih dari 75% kasus-kasus yang ditemukan.Bayi tersebut mempunyai sekresi oral dan faring yang berlebihan . Atresia esophagus terjadi pada 1 : 3000-4500 kelahiran hidup.Terjadi aspirasi. Walaupun aspirasi sekresi faring merupakan temuan yang hampir selalu didapatkan pada penderita-penderita atresia esophagus.Kateter yang dipergunakan pada saat kelahiran untuk resusitasi tidak dapat dimasukkan ke dalam lambung. vertebrata. batuk) Atresia esophagus harus dicurigai jika : . Anomali-anomali congenital tambahan diantaranya dapat mengencam jiwa pendererita dan terjadi pada minimal 30% bayi denga atresia esophagus. Pada fistula tanpa atresia yang jarang ditemukan. namun aspirasi isi lambung melalui suatu fistula di bagian distal menyebabkan pneumonitis kimia yang jauh lebih hebat mengancam jiwa penderita tersebut. . Yang paling sering adalah anomaly kardiovaskuler tetapi dapat pula dijumpai cacat lain pada saluran cerna. kira-kira sepertiga dari bayi-bayi tersebut lahir secara premature. Tanda dan Gejala Tanda dan gejala Atresia Esofagus yang mungkin timbul: · Batuk ketika makan atau minum · Bayi menunjukkan kurangnya minat terhadap makanan atau ketidakmampuan untuk menerima nutrisi yang cukup (pemberian makan yang buruk) · · Gelembung berbusa putih di mulut bayi Memiliki kesulitan bernapas · Memiliki warna biru atau ungu pada kulit dan membran mukosa karena kekurangan oksigen (sianosis) · Meneteskan air liur . dan system saraf pusat F. suatu fistula di antara trakea dan esophagus bagian distal menyertai atresia tersebut. saluran kemih.

Etiologi 1. Bila kateter terhenti pada jarak ≤ 10 cm. · Pada fistula trakeosofagus. di curigai terdapat atresia esofagus. · Segera setelah di beri minum. tersedak. dan ada Beberapa etiologi yang dapat menimbulkan kelainan konginital Atresia Etsopgus diantaranya: a. maka di duga atresia esofagus. Faktor obat Salah satu obat yang dapat menimbulkan kelainan kongenital yaitu thali domine . · Bila pada bbl Timbul sesak yang disertai dengan air liur yang meleleh keluar. 2002) -Salivasi dan drooling berlebihan -Tiga tanda utama trakeoesofageal fistula: batuk. gagging. sebaiknya dari anamnesis didapatkan keterangan bahwa kehamilan ibu diertai hidramnion hendaknya dilakukan kateterisasi esofagus. oleh karena itu bayi sering sianosis Terdapat beberapa tanda dan gejala atau manifestasi klinik pada atresia esofagus (Hochenberry.· Muntah-muntah · Biasanya disertai hidramnion (60%) dan hal ini pula yang menyebabkan kenaikan frekuensi bayi lahir prematur. batuk dan sianosis karena aspirasi cairan kedalam jalan nafas. sianosis -Apnea -Meningkatnya distress pernafasan setelah feeding -Distensi abdomen -Kebiruan pada kulit (sianosis) ketika diberi makan -Batuk. cairan lambung juga dapat masuk kedalam paru. Secara umum : Salah satu nya adalah kegagalan pada fase embrio terutama pada bayi yang lahir prematur. b. bayi akan berbangkis. Faktor radiasi . tersedak ketika diberi makan -Sulit untuk diberi makan G.

Jarang hanya atresia sendiri. karena dapat mengancam nyawa. janutng. kebanyakan atresia dan pembentukan fistula. ventral. Atresia esofagus dengan fistula distal akibat dari invaginasi ventral yang berlebihan pada lipatan faringo-esofagus. muskuloskeletal. Atresia terkadang dihubungkan dengan arteri umbilikus tunggal. sambungan dipasangkan antara esofagus dan trakea. Trakea dan esofagus normalnya berkembang dan terpisah akibat lipatan cranial. segmen esofagus hanya berupa thin. dan dorsal yang muncul di dalam foregut. Perkembangan sel endoteal yang lengkap sehingga menyebabkan terjadinya atresia. . Faktor gizi 2. Perlengkapan dinding lateral usus depan yang tidak sempurna sehingga terjadi fistula trachea esophagus H. Patofisiologi Patogenesis dan etiologi atresia esofagus tidaklah jelas. noncanalized cord. genitourinary disease. Agenesis pada esofagus sangat jarang terjadi. tetapi apabila terjadi ketidaknormalan harus segera dikoreksi. dan other gastrointestinal malformations. neurologic disease. Atresia sering terdapat pada bifurksasi (dibagi menjadi dua cabang) trakea terdekat. yang menyebabkan kantung esofagus bagian atas mencegah lipatan cranial dari menuju ke bawah ke lipatan ventral. Anomali yang berhubungan meliputi congenital heart disease. Pada atresia. Untuk itu. Karena hal ini dapat menyebabkan regurgitasi ketika bayi diberi makan. Secara khusus : Secara epidemologi anomali ini terjadi pada umur kehamilan 3-6 minggu akibat : a. Deferensasi usus depan yang tidak sempurna dan memisahkan dari masing –masing menjadi esopagus dan trachea . tetapi biasanya sering dijumpai bersamaan dengan fistula yang menyambungkan kantung bawah atau atas dengan bronkus atau trakea. Sebagian besar anomali kongenital pada bayi baru lahir meliputi vertebra. Terdapat beberapa tipe atresia esofagus. Walaupun kelainan perkembangan pada esofagus merupakan hal yang tidak umum terjadi. sebanyak 80% bayi baru lahir dengan kelainan esofagus. dan sistem gastrointestinal. tetapi anomali yang umum adalah fistula antara esofagus distal dan trakea. dengan kantung proksimal yang tersambung ke faring dan kantung bagian bawah yang menuju ke lambung. Atresia esofagus dan tracheoesophageal fistula diduga sebagai akibat pemisahan yang tidak sempurna antara lempengan paru dari foregut selama masa awal perkembangan janin. ginjal.Radiasi pada permulaan kehamilan mungkin dapat menimbulkan kelainan kongenital pada janin yang dapat menimbulkan mutasi pada gen c.

JIka dipergunakan bahan kontras.Dalam foto abdomen perlu dibedakan apakah lambung terisi udara atau kosong dapat digunakan untuk menunjang diagnosa fistula tracheo esophagus J. . Kemudian segera siapkan operasi. Bila perlu bayi diberikan dot agar tidak gelisah atau menangis berkepanjangan Penatalaksanaan oleh bidan . Kadang kadang. Penegakan Diagnosa Diagnosa harus ditegakkan secara dini. Lalu isap air liur secara teratur setiap 10 – 15 menit. .(FKUI. Pada Gross type II.1982). Pemberian minum baik oral/enteral merupakan kontra indikasi mutlak untuk bayi ini. maka bahan kontras tersebut haruslah bahan yang dapat larut air. memperlihatkan kateter yang menggulung terletak didalam esophagus bagian atas. dengan posisi kepala 30o lebih tinggi. Adanya udara di dalam abdomen menunjukan adanya suatu fistula di antara trakea dan esogfagus bagian distal. Kemudian bahan tersebut harus disingkirkan kembali untuk mencegahnya masuk ke dalam paru-paru dan mencegah pneumonia kimia.Fluoros copy dan Bronchos copy dapat memberi gambaran yang lebih jelas . lebih baik lagi jika berhasil dibuat ketika berada di kamar bersalin. 6 – 8 F yang cukup halus. Sekali diduga adanya atresia esophagus. Dilakukan pengisapan lendir secara berkala. Beberapa fistula tanpa atresia dinamakan tipe H. rontgenogram yang dilakukan memperlihatkan gambaran khas suatu esophagus yang mengembang karena udara yang di dalamnya.Pasang sonde lambung antara No 6-8 F yang cukup kalen dan radio opak sampai di esophagus yang buntu. maka kegagalan utnuk memasukkan suatu kateter ke dlaam lambung memastikan diagnosis. tidur terlentang kepala lebih tinggi. karena aspirasi paru merupakan penentu prognosis utama. Dan radioopak sampai di esophagus yang buntu. tidur terlentang kepala lebih rendah. Bila diberikan kurang dari 1 ml dengan pengawasan fluoroskopis maka sudah cukup untuk memperlihatkan gambaran dari kantung atas yang buntu. .I. Bayi dipuasakan dan diinfus. Penatalaksanaan Pasang sonde lambung no. Bayi sebaiknya ditidurkan dengan posisi “prone”/ telungkup. Pada Gross type I. Lalu isap air liur secara teratur setiap 10-15 menit.Diagnosa pasti dengan thorax foto : menunjukkan gambaran kateter terhenti pada tempat atresia. Biasanya kateter tersebut akan terhenti secara tiba-tiba pada jarak 10-11 cm dari garis batas atas gusi dan rontgenogram yang dilakukan. sebaiknya dipasang sonde nasogastrik untuk mengosongkan the blind-end pouch.

makanan lewat mulut biasanya dapat diterima. Pengobatan Penderita atresia esophagus seharusnya ditengkurapkan untuk mengurangi kemungkinan isi lambung masuk ke dalam paru-paru. Kantong esophagus harus secara teratur dikosongkan dengan pompa untuk mencegah aspirasi sekret. Esofagografi pada hari ke 10 akan menolong menilai keberhasilan anastomosis.. kondisi penderita mengharuskan operasi tersebut dilakukan secara bertahap: Tahap pertama biasanya adalah pengikatan fistula dan pemasukan pipa gastrotomi untuk memasukkan makanan.Bayi di puasakan dan di infuse . b. Perkembangan trakheanya normal jika ada fistula. bayi diletakkan setengah duduk untuk mencegah terjadinya regurgitasi cairan lambung ke dalam paru.Pada groos II bayi tidur terlentang dengan kepala lebih tinggi. pneumonia aspirasi berulang. Tahap kedua adalah anastomosis primer. .Rujuk ke rumah sakit K. Pengobatan pada atresia etsophagus setelah dirujuk. dan penyakit saluran nafas reaktif sering ditemukan. Trakeomalasia.Konsultasi dengan yang lebih kompeten . fungsi respirasi dan pengelolaan anomaly penyerta kadang-kadang. Keperawatan Sebelum dilakukan operasi. Pada penderita atresia anus ini dapat diberikan pengobatan sebagai berikut : . Medik Pengobatan dilakukan dengan operasi.Pada groos I bayi tidur terlentang dengan kepala lebih rendah. yaitu antara lain: a. cairan lambung harus sering diisap untuk mencegah aspirasi. Malformasi struktur trakhea sering ditemukan pada penderita atresia dan fistula esophagus. stenosis esophagus dan refluks gastroesofagus berat lebih sering pada penderita ini. Perhatian yang cermat harus diberikan terhadap pengendalian suhu. .

6. Kesulitan bernafas dan tersedak. Dismotilitas esophagus. . Trakeo esogfagus fistula berulang.. 5. Kira-kira 50 % bayi yg menjalani operasi ini kana mengalami gastroesofagus refluk pd s’t kanak2 / dewasa. 2. Komplikasi Komplikasi – komplikasi yang bisa timbul setelah operasi perbaikan pada atresia esophagus dan fistula atresia esophagus adalah sebagai berikut : 1. Komplikasi ini berhubungan dengan proses menelan makanan. 7. tertahannya makanan & aspirasi makanan ke dalam trakea. Meningkatnya infeksi saluran pernafasan. Dismotilitas terjadi karena kelemahan otot dingin esophagus. Pencegahan keadaan ini adalah dengan mencegah kontak dengan orang yang menderita flu & meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi vitamin & suplemen. 4. Disfagia atau kesulitan menelan. hal ini disebabkan kelemahan dari trakea. Batuk merupakan gejala yg umum setelah operasi perbaikan atresia esophagus. Pembedahan ulang adalah terapi untuk keadaan seperti ini.Fistula yaitu dengan melakukan kolostomia sementara dan setelah 3 bulan dilakukan koreksi sekaligus . Kondisi ini dapat diperbaiki dengan obat (medical) atau pembedahan. 3. Batuk kronis. dimana asam lambung naik / refluk ke esophagus.Eksisi membran anal L. Gastroesofagus refluk. Berbagai tingkat dismotilitas bisa terjadi setelah operasi ini. Komplikasi ini terlihat saat bayi sudah mulai makan dan minum. Keadaan ini dapat diatasi dengan menelan air untuk tertelannya makanan dan mencegah terjadinya ulkus. Disfagia adalah tertahannya makanan pada tempat esophagus yang diperbaiki.

sehingga apabila dijumpai tanda gejala hipoglikemi tersebut maka klien segera ke tempat pelayanan kesehatan. Saran · Kepada klien agar lebih mengetahui tentang atresia esophagus baik pengertian maupun gejalanya. atresia esofagus adalah suatu keadaan tidak adanya lubang atau muara (buntu). Kesimpulan Atresia berarti buntu.BAB III PENUTUP A. sehingga pembaca dapat menerapkan prinsip preventif sebelum kuratif. Pengobatan pada atresia esophagus bias dilakukan dengan cara keperawatan dan secara medic. Klasifikasi atresia esophagus antara lain kalasia dan akalasia. · Kepada tenaga kesehatan terutama bidan agar dapat memberi penanganan segara bila menemui kasus atresia esophagus. pada esofagus (+). sehingga tidak terjadi komplikasi yang berlanjut. sedangkan pada ¼ -1/3 kasus lainnya esophagus bagian bawah berhubungan dengan trakea setinggi karina (disebut sebagai atresia esophagus dengan fistula). Pada sebagian besar kasus atresia esofagus ujung esofagus buntu. B. · Kepada pembaca agar memahami apa itu atresia esophagus dan pencegahan yang dapat di lakukan. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful