ASKEP TIPHUS ABDOMINALIS

Ditulis pada Maret 27, 2008 oleh Maria melisa valentino
Pengertian Typhus Abdominalis adalah : a.Penyakit infeksi akut usus halus (Juwono Rachmat, 1996).

b.Penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada saluran cerna dengan gejala demam lebih dari satu minggu dan terdapat gangguan kesadaran. (Suriadi, Yuliani Rita, 2001).

c.Penyakit infeksi yang disebabkan oleh salmonella typhi atau salmonella paratyphi A, B, atau C. Penyakit ini mempunyai tanda-tanda khas berupa perjalanan yang cepat yang berlangsung lebih kurang 3 minggu disertai dengan demam, toksemia, gejala-gejala perut, pembesaran limpa dan erupsi kulit (Soedarto, 1996). 2.Etiologi Salmonella typhosa, basil gram negatif yang bergerak dengan rambut getar dan tidak berspora (Suriadi, Yuliani Rita, 2001).

lidah membentuk bagian terbesar dari dasar mulut. mandibular dan sublingual). Terdapat tiga pasang glandula salivarius (parotid.Anatomi Saluran gastrointestinal adalah jalur (panjang totalnya 23 sampai 26 kaki) yang berjalan dari mulut melalui esofagus. lambung dan usus sampai anus.Anatomi fisiologi saluran cerna a. Glandula salivarius mensekresikan saliva via duktus ke dalam mulut. Glandulla diinervasi baik oleh saraf parasimpatis dan simpatis (Rosa M. salivasi. atapnya adalah palatum yang memisahkannya dari hidung dan bagian atas dari faring. Dinding dari cavum oris mempunyai struktur yang melayani fungsi mastikasi. Set kedua atau set permanen menggantikan gigi primer dan ini mulai tumbuh . kecap dan bercakap. Dalam rongga mulut terdapat : a)Lidah Lidah menempati kavum oris dan melekat secara langsung pada epiglotis dalam laring. 1)Mulut Mulut merupakan bagian pertama dari saluran pencernaan. Mulut dibatasi pada kedua sisi pipi yang dibentuk oleh muskulis businatorius. menelan. 1993). Sacharin. b)Gigi Manusia dilengkapi dengan dua set gigi yang tampak pada masa kehidupan yang berbeda-beda.3. Set pertama adalah gigi primer atau susu yang bersifat sementara dan tumbuh melalui gusi selama satu tahun pertama dan kedua.

Selang yang dapat mengempis ini. 2001). 3)Lambung Lambung ditempatkan di bagian atas abdomen sebelah kiri dari garis tengah tubuh. 1993). sementara kapasitas lambung rata-rata orang dewasa adalah 1000 ml (Rosa M. tepat di bawah diafragma kiri. menjadi distensi bila makanan melewatinya (Smeltzer Suzanne C. Sacharin. 1993). Otot halus sirkuler di dinding pilorus membentuk sfingter piloris dan mengontrol lubang diantara lambung dan usus halus (Smeltzer Suzanne C. Sacharin. 2)Esofagus Terletak di mediastinum rongga torakal. 2001). Pada akhir bulan pertama ini sekitar 10 ml. yang jumlah panjangnya kira-kira dua pertiga dari panjang total saluran.pada sekitar umur 6 tahun. Kapasitas lambung adalah antara 30 dan 35 ml saat lahir dan meningkat sampai sekitar 75 ml pada kehidupan minggu kedua. 4)Usus halus Adalah segmen paling panjang dari saluran gastrointestinal. Lambung dapat dibagi dalam empat bagian anatomis : kardia (jalan masuk). anterior terhadap tulang punggung dan posterior terhadap trakea dan jantung. panjangnya kira-kira 25 cm (10 inci). Bagian ini . korpus dan pilorus (outler). fundus. Terdapat 20 gigi susu dan 32 gigi permanen (Rosa M.

Pertemuan antara usus halus dan usus besar terletak di bagian bawah kanan duodenum ini disebut sekum Pada pertemuan ini yaitu katup ileosekal. Saat makanan ditelan. Jalan keluar anal di atur oleh jaringan otot lurik yang membentuk baik sfingter internal dan eksternal. Rektum berlanjut pada anus. Usus halus dibagi 3 bagian anatomik : bagian atas disebut duodenum.Fisiologi Proses pencernaan mulai dengan aktivitas mengunyah. Saliva adalah sekresi pertama yang kontak dengan makanan. bagian tengah disebut yeyunum dan bagian bawah disebut ileum. mengakibatkan bolus makanan berjalan ke dalam esofagus atas. Menelan. otot halus di dinding esofagus berkontraksi dalam urutan irama dari esofagus ke arah . segmen transversum yang memanjang dari abdomen atas kanan ke kiri. Pada tempat ini terdapat apendiks veriformis. Bagian ujung dari usus besar terdiri dari dua bagian kolon sigmoid dan rektum. Terdiri dari segmen asenden pada sisi kanan abdomen. b. epiglotis bergerak menutup lubang trakea dan karenanya mencegah aspirasi makanan ke dalam paru-paru. yang berfungsi untuk mengontrol pasase isi usus ke dalam usus besar dan mencegah refluks bakteri ke dalam usus halus.membalik dan melipat diri yang memungkinkan kira-kira 7000 cm area permukaan untuk sekresi dan absorbsi. Menelan mulai sebagai aktifitas volunter yang di atur oleh pusat menelan di medulla oblongata dari sistem saraf pusat. yang berakhir sebagai aktivitas refleks. dimana makanan dipecah ke dalam partikel kecil yang dapat ditelan dan dicampur dengan enzim pencernaan. dan segmen desenden pada sisi kiri abdomen.

Akhirnya. Peristaltik di dalam lambung dan kontraksi sfingter pilorus memungkinkan makanan dicerna sebagian untuk masuk ke usus halus (Smeltzer Suzanne C. Karena partikel makanan besar tidak dapat melewati sfingter pilorus. Lambung mensekresi cairan yang sangat asam dalam berespon atau sebagai antisipasi terhadap pencernaan makanan.lambung untuk mendorong bolus makanan sepanjang saluran. partikel ini diaduk kembali ke korpus lambung. memperoleh keasamannya dari asam hidroklorida yang disekresikan oleh kelenjar lambung. hepar dan kelenjar di dinding usus itu sendiri. sfingter esofagus menutup dengan rapat untuk mencegah refluks isi lambung ke dalam esofagus. Karakteristik utama dari sekresi ini adalah kandungan enzim pencernaan yang tinggi. Lambung dapat menghasilkan sekresi kira-kira 2. 2)Untuk membantu destruksi kebanyakan bakteri pencernaan. sfingter esofagus bawah rileks dan memungkinkan bolus makanan masuk lambung. Kontraksi peristaltik di dalam lambung mendorong isi lambungnya ke arah pilorus. komposisi makanan dan faktor lain. 2001). Makanan tetap berada di lambung selama waktu yang bervariasi. Fungsi sekresi asam ini dua kali lipat : 1)Untuk memecah makanan menjadi komponen yang lebih dapat diabsorbsi. Cairan ini yang dapat mempunyai pH serendah 1. dari setengah jam sampai beberapa jam tergantung pada ukuran partikel makanan. Sekresi lambung juga mengandung enzim pepsin yang penting untuk memulai pencernaan protein. Selama proses peristaltik esofagus ini. Sekresi pankreas mempunyai pH alkalin karena . 4 L/hari. Faktor instrinsik juga disekresi oleh mukosa gaster. Proses pencernaan berlanjut ke duodenum. sekresi di dalam duodenum datang dari pankreas.

Ini menetralisir asam yang memasuki duodenum dari lambung. Ada 2 tipe kontraksi yang terjadi secara teratur di usus halus : 1)Kontraksi segmental yang menghasilkan campuran gelombang yang menggerakkan isi usus ke belakang dan ke depan dalam gerakan mengaduk. neuroregulator dan regulator lokal ditemukan di dalam sekresi usus. Protein dipecahkan menjadi asam amino dan peptida. yang membantu dalam pencernaan protein. Populasi bakteri adalah komponen utama dari isi usus besar. hormon. Empedu (disekresi oleh hepar dan disimpan di dalam kandung empedu) membantu mengemulsi lemak yang dicerna. materi sisa residu melewati ileum terminalis dan dengan perlahan melewati bagian proksimal kolon melalui katup ileusekal. Transport lambat ini memungkinkan reabsorbsi efisien . Aktivitas peristaltik yang lemah menggerakkan isi kolonik dengan perlahan sepanjang saluran. yang menyelimuti sel-sel dan melindungi mukosa dari serangan oleh asam hidroklorida. Pankreas juga mensekresi enzim pencernaan. empedu 0. Sekresi kelenjar usus terdiri daru mukus. amilase yang membantu dalam pencernaan zat pati dan lipase yang membantu dalam pencernaan lemak. berfungsi mengontrol laju sekresi usus dan mempengaruhi motilitas gastrointestinal. Sekresi usus total kira-kira getah pankreas 1 L/hari. Hormon. Dalam 4 jam setelah makan. 2)Peristaltik usus mendorong isi usus halus tersebut ke arah kolon. Karbohidrat dipecahkan menjadi disakarida dan monosakarida. Bakteri membantu menyelesaikan pemecahan materi sisa dan garam empedu.konsentrasi bikarbonatnya yang tinggi.5 L/hari dan kelenjar usus halus 3 L/hari. elektrolit dan enzim. Lemak dicerna diemulsifikasi menjadi monogliserida dan asam lemak. termasuk tripsin.

hati. usus dan kandung empedu.terhadap air dan elektrolit. b. tetapi frekuensi bervariasi diantara individu. faeces terdiri dari bahan makanan yang tidak tercerna.Kuman masuk melalui mulut. materi anorganik. 2001). dan mencapai sel-sel retikula endotelial. 4. limpa dan organ-organ lainnnya. Distensi rektum secara relatif menimbulkan kontraksi otot-ototnya dan merilekskan sfinger anal internal yang biasanya tertutup. . sfringter eksternal di bawah kontrol sadar dari kortektes serebral. sebagian kuman akan dimusnahkan dalam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus (terutama di ileum bagian distal). biasanya dalam kira-kira 12 jam sebanyak seperempat dari materi sisa makanan mungkin tetap berada direktum 3 hari setelah makanan dicerna.Proses ini terjadi dalam masa tunas dan akan berakhir saat sel-sel retikula endotelial melepaskan kuman ke dalam peredaran darah dan menimbulkan bakterimia untuk kedua kalinya. Selanjutnya kuman masuk ke beberapa jaringan organ tubuh. ke jaringan limfoid dan berkembang biak menyerang vili usus halus kemudian kuman masuk ke peredarahan darah (bakterimia primer). Bahan kekal kira-kira 75 % materi cair dan 25 materi padat (Smeltzer Suzanne C. terutama limpa. Rata-rata frekuensi defekasi pada manusia adalah sekali sehari. air dan bakteri. Sfingter internal dikontrol oleh sistem saraf otonom. Materi sisa dari makanan akhirnya mencapai dan mengembangkan anus.Patofisiologi a.

yang tersingkat 4 hari jika infeksi terjadi melalui makanan. Pada minggu keempat terjadi penyembuhan ulkus yang dapat menimbulkan sikatrik. Minggu kedua terjadi nekrosis dan pada minggu ketiga terjadi ulserasi plaks peyer. yaitu perasaan tidak enak badan. Menyusul gambaran klinik yang biasa ditemukan ialah : a. Ini terjadi pada kelenjar limfoid usus halus. Masa tunas : 10 – 20 hari. biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat lagi pada sore dan malam hari. Selama masa inkubasi mungkin ditemukan gejala prodromal. Bagan/skema patofisiologi 5.Gejala demam disebabkan oleh endotoksin sedangkan gejala pada saluran pencernaan disebabkan oleh kelainan pada usus halus (Suriadi. kelenjar-kelenjar mesentrial dan limpa membesar. suhu tubuh berangsurangsur naik setiap hari. Yuliani Rita. bahkan sampai perforasi usus. bersifat febris remitten dan suhu tidak tinggi sekali. pusing dan tidak bersemangat. 2001). Selain itu hepar. Selama minggu pertama. nyeri kepala. Dalam minggu kedua pasien terus berada dalam . sedangkan jika melalui minuman yang terlama 30 hari.Demam Pada kasus yang khas demam berlangsung 3 minggu. d. terjadi hyperplasia plaks player. Ulkus dapat menyebabkan perdarahan.Gambaran klinik Gambaran klinik demam tifoid pada anak biasanya lebih ringan daripada orang dewasa.c.Pada minggu pertama sakit. lesu. nafsu makan kurang.

Lidah tertutup selaput putih kotor (coated tongue).Gangguan pada saluran pencernaan Pada mulut terdapat nafas berbau tidak sedap. ujung dan tepinya kemerahan.1997). yang daapt ditemukan pada minggu pertama demam. akan tetapi berlangsung ringan dan lebih singkat. Menurut teori relaps terjadi karena terdapatnya basil dalam organ-organ yang tidak dapat dimusnahkan baik oleh obat maupun oleh . yaitu apatis sampai somnolen.Gangguan kesadaran Umumnya kesadaran pasien menurun walaupun tidak berapa dalam. pada minggu ketiga suhu berangsur turun dan normal kembali pada akhir minggu ketiga. Terjadi pada minggu kedua setelah suhu badan normal kembali. yaitu bintik kemerahan karena emboli basil dalam kapiler kulit. Biasanya sering terjadi konstipasi tetapi juga dapat diare atau normal. c. Hati dan limpa membesar disertai nyeri pada perabaan. b. Di samping itu gejala tersebut mungkin terdapat gejala lain yaitu pada punggung dan anggota gerak dapat ditemukan roseola. Pada abdomen dapat ditemukan keadaan perut kembung (meteorismus). jarang disertai tremor.keadaan demam.Relaps Relaps ialah berulangnya gejala penyakit tifus abdominalis. 6. Kadang ditemukan bradikardia dan epistaksis pada anak besar (Ngastiyah . bibir kering dan pecah-pecah (ragaden).

timbul biasanya pada minggu ketiga atau setelahnya dan terjadi pada bagian distal ileum.Pemeriksaan Diagnostik a.zat anti. d. anemia. ditemukan gejala abdomen akut yaitu nyeri perut yang hebat dinding abdomen tegang dan nyeri tekan (Ngastiyah . c. b. Peritonitis. trombositopenia. aneosinofilia. Mungkin terjadi pada waktu penyembuhan tukak. maka pasien dinyatakan betul-betul sembuh. terjadi invasi basil bersamaan dengan pembentukan jaringan fibrosis (Ngastiyah . Biakan empedu : terdapat basil salmonella typhopsa pada urine dan tinja.Komplikasi Pada usus halus : a. 8. bila sedikit. c.1997). Perforasi usus. Pemeriksaan sumsum tulang : menunjukkan gambaran hiperaktif sumsum tulang. Pemeriksaan daerah tepi : leukopenia. Jika pada pemeriksaan selama dua kali berturut-turut tidak didapatkan basil salmonella typhosa pada urine dan tinja.1997). 7. Perdarahan usus. Pemeriksaan widal : didapatkan titer terhadap antigen 0 adalah 1/200 atau lebih sedangkan titer terhadap antigen H walaupun tinggi akan tetapi tidak bermakna untuk menengakkan diagnosis karena titer H dapat tetap tinggi . b. hanya ditemukan jika dilakukan pemeriksaan tinja dengan benzidin. jika perdarahan banyak terjadi metena.

keadaan umum. b.setelah dilakukan imunisasi atau bila penderita telah lama sembuh. (Suriadi.Obat pilihan adalah kloramfenikal dosis tinggi yaitu 100 mg / kg BB/hari (maksimum 2 gram perhari) diberikan 4x sehari peroral atau intravena. serta cepat dan tepatnya pengobatan. kemudian boleh duduk.4 % rata-rata 5. (Ngastiyah. jumlah dan virulensi salmonella.Isolasi pasien. f.Bila terdapat komplikasi. d. tidak merangsang dan tidak menimbulkan gas. lemah. anoreksia dan lain-lain.6 % dan pada orang dewasa 7. Yuliani Rita. . 1996). derajat kekebalan tubuh. desinfeksi pakaian dan ekskreta.Istirahat selama demam sampai 2 minggu setelah suhu normal kembali (istirahat total).7 % (Juwono Rachmat. terapi disesuaikan dengan penyakitnya. Jika tidak panas lagi boleh berdiri kemudian berjalan di ruangan.Prognosis Prognosis demam tifoid tergantung dari umur. 1997). kalori dan tinggi protein.Penatalaksanaan a.Perawatan yang baik untuk menghindari komplikasi.Diet makanan yang mengandung cukup cairan. Bila terjadi demam hidrasi dan asidosis diberikan cairan secara intravena dan sebagainya. c. 9. 10. mengingat sakit yang lama. Angka kematian pada anak-anak 2. e. Bahan makanan tidak boleh mengandung banyak serat. 2001).

membuat perencanaan untuk mengatasi. pelaksanaan dan evaluasi. pengkajian fisik dan tes diagnostik untuk mengidentifikasi dan mengatasi diagnosa keperawatan dan medis klien. Tujuan tindakan ini untuk mengumpulkan riwayat. epistaksis.Riwayat keperawatan b. 2001). dkk 2001). perencanaan. lidah kotor. nyeri kepala. tidak nafsu makan. (Monica Ester.Kaji adanya gejala dan tanda meningkatnya suhu tubuh terutama pada malam hari.Pengkajian Pengkajian sistem gastrointestinal meliputi riwayat kesehatan serta pemeriksaan fisik komprehensif dimulai dari rongga mulut. mual dan kembung.Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Menurut Yura (1983) proses keperawatan adalah tindakan yang berurutan dilakukan secara sistematis untuk menentukan masalah pasien. Pada pengkajian penderita dengan kasus typhus abdominalis yang perlu dikaji : a.Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak ada nafsu makan. Proses keperawatan terdiri dari tahap pengkajian. . abdomen. melaksanakan dan mengevaluasi keberhasilan efektif akan masalah yang akan diatasinya. Diagnosa Keperawatan a. 1. rektum dan anus pasien. penurunan kesadaran (Suriadi.

Meningkatkan kebutuhan nutrisi dan cairan. 7)Berikan makanan yang disertai dengan suplemen nutrisi untuk meningkatkan kualitas intake nutrisi.Perencanaan Keperawatan Setelah merumuskan diagnosis keperawatan. a.Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan istirahat total.Hipertemi berhubungan dengan proses infeksi (Suriadi.Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan penurunan kesadaran. 2. rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera makan anak meningkat. e. menghilangkan. 8)Anjurkan kepada orang tua untuk memberikan makanan dengan teknik porsi kecil tetapi sering. Intervensi : 5)Nilai status nutrisi anak.Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan kurangnya intake cairan dan peningkatan suhu tubuh. 9)Timbang berat badan setiap hari pada waktu yang sama dan dengan skala yang sama. Tujuan : . 10)Pertahankan kebersihan mulut anak.Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak ada nafsu makan. maka intervensi dan aktivitas keperawatan perlu ditetapkan untuk mengurangi. mual dan kembung. 6)Izinkan anak untuk makanan yang dapat ditoleransi anak. d. dkk.b. dan mencegah masalah keperawatan klien. 11)Jelaskan pentingnya intake nutrisi yang adekuat untuk penyembuhan . 2001). c.

Mencegah kurangnya volume cairan. 6)Kurangi kehilangan cairan yang tidak terlihat (insensible water loss/IWL) dengan memberikan kompres dingin atau dengan tepid sponge. 4)Monitor dan catat berat badan pada waktu yang sama dan dengan skala yang sama. membran mukosa kering. 3)Observasi dan catat intake dan output dan mempertahankan intake dan output yang adekuat. . Intervensi : 1)Observasi tanda-tanda vital (suhu tubuh ) paling sedikit setiap empat jam. Tujuan : .Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan kurangnya intake cairan dan peningkatan suhu tubuh. Jika pemberian makann melalui oral tidak memenuhi kebutuhan gizi anak b. ubun-ubun cekung. c. Tujuan : . Intervensi : 1)Kaji status neurologis 2)Istirahkan anak hingga suhu dan tanda-tanda vital stabil. 12)Kolaborasi untuk pemberian makanan melalui parenteral.Mempertahankan fungsi persepsi sensori. 7)Berikan antibiotik sesuai program. bibir pecah-pecah. 2)Monitor tanda-tanda meningkatnya kekurangan cairan : turgor tidak elastis.Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan penurunan kesadaran. 3)Hindari aktivitas yang berlebihan. produksi urine menurun.penyakit. 4)Pantau tanda-tanda vital. 5)Monitor pemberian cairan intravena melalui intravena setiap jam.

tekanan darah. 4)Libatkan peran keluarga dalam memenuhi kebutuhan dasar anak. .Mempertahankan suhu dalam batas normal. Tujuan : .Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan istirahat total.d. c. Intervensi : 1)Kaji aktivitas yang dapat dilakukan anak sesuai dengan tugas perkembangan anak.Intervensi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi. (Suriadi dkk. 2001). pernafasan.Hipertemi berhubungan dengan proses infeksi. teknikal dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat.Keamanan fisik dan psikologis dilindungi. 3. 2)Jelaskan kepada anak dan keluarga aktivitas yang dapat dan tidak dapat dilakukan hingga demam berangsur-angsur turun .Keterampilan interpersonal. Beberapa petunjuk pada implementasi adalah sebagai berikut : a. 3)Bantu memenuhi kebutuhan dasar anak. Intervensi : 1)Kaji pengetahuan klien dan keluarga tentang hipertermia. 2)Observasi suhu. intelektual.Kebutuhan perawatan diri terpenuhi. b. nadi. Pelaksanaan / Implementasi Implementasi adalah pelaksanaan perencanaan keperawatan oleh perawat dan klien. Tujuan : . e.

(Suriadi. intervensi ) harus dievaluasi. tujuan.Anak menunjukkan tanda – tanda terpenuhinya kebutuhan cairan.Anak dapat melakukan aktifitas sesuai dengan kondisi fisik dan tingkat perkembangan anak.Anak menunjukkan tanda – tanda kebutuhan nutrisi terpenuhi.Dokumentasi intervensi dan respons klien. 4. dkk 1999).d. (Keliat. c.Evaluasi Keperawatan. Semua tahap proses keperawatan (diagnosa. Evaluasi adalah bagian terakhir dari proses keperawatan. b. . Anna Budi.Anak akan menunjukkan tanda – tanda vital dalam batas normal.Anak tidak menunjukkan tanda – tanda penurunan kesadaran yang lebih lanjut. Hasil yang diharapkan pada tahap evaluasi adalah : a. e. 1999). d.

Prinsip Keperawatan Pediatrik. Keperawatan Medikal Bedah . Edisi I. CV.Tambunan. 5.Rosa. 1996. Pengkajian Pediatrik. 9. 8. 7. Patologi Gastroenterologi. Jakarta. Edisi 2. Penyakit – Penyakit Infeksi di Indonesia. Perawatan Anak Sakit. D. EGC.Soedarto. Patofisiologi Untuk Keperawatan. Asuhan Keperawatan Pada Anak. 11. EGC. Jakarta. Widya Medika. Jakarta. Joyce. 2001.Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. Jan. Jakarta. 2.Prabu. EGC.Suriadi. Sacharin. 2000. Jakarta. 1993. 10. Jakarta. Penyakit – Penyakit Infeksi Umum. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Monica. Sagung. 1999. 1997. Widya Medika. B. 1985.Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia. Gani W. dkk.Engel. 6. Jakarta. EGC. 3. Jakarta.Ester. 1994. M. Jilid I. Jakarta.Sumber: 1. Edisi 2 EGC. Infomedika. Pendekatan Sistem Gastrointestinal. EGC. Ilmu Kesehatan Anak. 4.Ngastiyah. 2002. . R.Tambayong. 1996. Jakarta. Jilid I. 1996.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful