ASKEP IKTERUS NEONATORUM

Definisi : Ikterus Neonatorum adalah iketrus yang mempunyai dasar patologis / kadar bilirubin yang mencapai nilai yang disebut Hyperbilirubinemia (Purnawan Junaedi ;1995) Hiperbilirubinemia / Ikterus neonatorum) adalah keadaan ikterus yang terjadi pada bayi baru lahir yaitu meningginya kadar bilirubin di dalam jaringan ekstravaskuler sehingga kulit, konjungtiva, mukosa dan alat tubuh lainnya berwarna kuning ( Ngastiyah, 1997). Ikterus neonatorum adalah suatu keadaan pada bayi baru lahir dimana kadar bilirubin serum total lebih dari 10 mg% pada minggu pertama dengan ditandai adanya ikterus yang bersifat patologis (Alimun,H,A : 2005). Etiologi : 1. 2. 3. 4. 5. Produksi bilirubin berlebih Gangguan pengambilan dan pengangkutan bilirubin dalam hepatosit Gagalnya proses konjugasi dalam mikrosom hepar Gangguan dalam ekskresi Peningkatan reabsorpsi dari saluran cerna (siklus enterohepatik)

Patofisiologi
Peningkatan kadar bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan. Keadaan yang sering ditemukan adalah apabila tedapat penambahan beban bilirubin pada sel hepar yang berlebihan. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran eritrosit, polisitemia. Gangguan pemecahan bilirubin plasma juga dapat menimbulkan peningkatan kadar bilirubin tubuh. Hal ini dapat terjadi bila kadar protein Y dan Z berkurang, atau pada bayi hipoksia, asidosis. Keadaan lain yang menimbulkan peningkatan kadar bilirubin adalah apabila ditemukan gangguan konjugasi hepar atau neonates yang mengalami gangguan ekskresi misalnya sumbatan saluran empedu. Pada derajat tertentu, bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusak jaringan tubuh. Toksisitas terutama ditemukan ada bilirubin idirek yang bersifat sukar larut dalam air tetapi mudah larut dalam lemak. Sifat ini memungkinkan terjadinya efek patologis pada sel otak, yang diebut kernikterus. Pada umumnya dianggap bahwa kelainan pada syaraf pusat tersebut mungkin akan timbul apabila kadar bilirubin indirek lebih dari 20 mg/dl. Mudah tidaknya kadar bilirubin melewati darah otak ternyata tidak hanya tergantung pada keadaan neonates. Bilirubin indirek akan mudah melewati darah otak apabila bayi terdapat keadaan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), hipoksia, dan hipolikemia.

Hepatosplenomegali (pembesaran hati dan limpa) . Sering dikaitkan dengan infeksi congenital. Gejala akut : gejala yang dianggap sebagai fase pertama kernikterus pada neonatus adalah letargi. Letargik dan gejala sepsis lainnya. Petekiae (bintik merah di kulit). Sedangkan menurut Handoko (2003) gejalanya adalah warna kuning (ikterik) pada kulit.Asupan kalori tidak adekuat (misalnya: kurang minum. Pletorik (penumpukan darah). penyakit hati 8. (http://one. sepsis atau eritroblastosis. paralysis sebagian otot mata dan displasia dentalis). perdarahan tertutup lainnya. Mikrosefali (ukuran kepala lebih kecil dari normal) Sering berkaitan dengan anemia hemolitik. Pucat. rhesus. sefalhematom (peradarahan kepala). 4.indoskripsi. konjungtiva dan mukosa. Dehidrasi. TANDA DAN GEJALA Menurut Surasmi (2003) gejala hiperbilirubinemia dikelompokkan menjadi : a. yang dapat disebabkan oleh keterlambatan memotong tali pusat. 3.. 6. tidak mau minum dan hipotoni. Polisitemia. gengguan pendengaran. Disamping itu dapat pula disertai dengan gejala-gejala: 1. Ketidakcocokan golongan darah ABO. Sering berkaitan dengan anemia hemolitik (mis. b. membrane mukosa dan bagian putih (sclera) mata terlihat saat kadar bilirubin darah mencapai sekitar 40 µmol/l. Trauma lahir. 5. infeksi kongenital. Gejala kronik : tangisan yang melengking (high pitch cry) meliputi hipertonus dan opistonus (bayi yang selamat biasanya menderita gejala sisa berupa paralysis serebral dengan atetosis. Bruising.com/node/6347/09/03/2009) Gejala utamanya adalah kuning di kulit. defisiensi G6PD) atau kehilangan darah ekstravaskular. 7. muntah-muntah) 2.

Hipokampus. • Golongan darah ibu dan bayi untuk mengidentifikasi inkompeten ABO. lemas tidak mau menghisap. (http://www.Tonus otot meninggi. yang tampak mata berputar-putar . Hipotiroidisme (defisiensi aktivitas tiroid) 11. anti A. • Darah tepi lengkap (blood smear perifer ) untuk menunjukkan sel darah merah abnormal atau imatur.com/illness/detail/212/09/03/2009 Komplikasi Komplikasi dari hiperbilirubin dapat terjadi Kern Ikterus yaitu suatu kerusakan otak akibat perlengketan Bilirubin Indirek pada otak terutama pada Korpus Striatum. leher kaku dan akhirnya epistotonus . Penyebab Ikterus terjadi pada 24 jam pertama menurut besarnya kemungkinan dapat disusun sbb: • Inkomptabilitas darah Rh.Letargi. . Feses dempul disertai urin warna coklat. Siphilis dan kadang-kadang Bakteri) • Kadang-kadang oleh Defisiensi Enzim G6PD. pada umur lebih lanjut dapat terjadi spasme otot. yaitu : a. Omfalitis (peradangan umbilikus) 10. anti B dari neonatus ) • Pemeriksaan skrining defisiensi G6PD. Pemeriksaan yang perlu dilakukan: • Kadar Bilirubin Serum berkala. Hal ini diduga . kejang. epistotonus. gangguan bicara dan retardasi mental. Massa abdominal kanan (sering berkaitan dengan duktus koledokus) 12.9. biakan darah atau biopsi Hepar bila perlu.Pada permulaan tidak jelas . . Ikterus yang timbul pada 24 jam pertama. • Masih ada kemungkinan inkompatibilitas darah ABO atau Rh. stenosis yang disertai ketegangan otot. Ikterus yang timbul 24 . selanjutnya konsultasikan ke bagian hepatologi.Dapat terjadi tuli. • Biasanya Ikterus fisiologis. Toksoplasma.Gambaran klinik dari kern ikterus adalah : . ABO atau golongan lain.klikdokter. Pikirkan ke arah ikterus obstruktif. dan Nukleus pada dasar Ventrikulus IV. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan sesuai dengan waktu timbulnya ikterus. atau golongan lain.72 jam sesudah lahir. Nukleus merah . Hasil positif dari test Coomb direk menandakan adanya sensitisasi ( Rh+. b. • Test Coombs pada tali pusat bayi baru lahir Hasil positif test Coomb indirek membuktikan antibody Rh + anti A dan anti B dalam darah ibu. eritoblastosisi pada penyakit Rh atau sferosis pada inkompatibilitas ABO. Talamus. • Infeksi Intra Uterin (Virus. Nukleus Subtalamus.Bila bayi hidup.

• Skrining Enzim G6PD. • Galaktosemia. Pemeriksaan laboratorium yang perlu dilakukan: • Pemeriksaan Bilirubin berkala. sub kapsula dll). • Hipotiroidisme • Breast milk Jaundice. • Pemeriksaan lain bila perlu. c. Ikterus yang timbul pada akhir minggu pertama dan selanjutnya: • Karena ikterus obstruktif. • Pemeriksaan darah Bilirubin berkala. Ikterus yang timbul sesudah 72 jam pertama sampai akhir minggu pertama. • Pemeriksaan darah tepi. pendarahan Hepar. • Pengaruh obat-obat. • Polisetimia. d. biopsi Hepar bila ada indikasi. Sindroma Gilbert. • Biakan darah. • Pemeriksaan skrining Enzim G6PD. • Dehidrasi dan Asidosis. • Hepatitis Neonatal.kalau kenaikan kadar Bilirubin cepat misalnya melebihi 5mg% per 24 jam. Pathways . • Defisiensi Enzim G6PD. • Sepsis. • Defisiensi Enzim G6PD atau Enzim Eritrosit lain juga masih mungkin. • Infeksi. • Sindroma Criggler-Najjar. Bila keadaan bayi baik dan peningkatannya cepat maka pemeriksaan yang perlu dilakukan: • Pemeriksaan darah tepi. • Hemolisis perdarahan tertutup ( pendarahan subaponeurosis.

00. kadar bilirubin serum akan turun. kecuali pemberian minum sedini mungkin dengan jumlah cairan dan kalori yang cukup. Dengan demikian. Meletakkan bayi di bawah sinar matahari selama 15-20 menit. Bakteri dapat merubah bilirubin direct menjadi urobilin yang dapat di absorpsi kembali.30 – 8. perawat harus memperhatikan pemberian minum dengan jumlah cairan dan kalori yang cukup dan pemantauan . Pemberian minum sedini mungkin akan meningkatkan molitas khusus dan juga menyebabkan bakteri di introduksi ke usus.PENATALAKSANAAN 1. Selama ikterus masih terlihat.MEDIS Ikterus fisiologis tidak memerlukan penanganan yang khusus. ini di lakukan setiap hari antara pukul 6.

Albumin biasanya di berikan sebelum transfusi tukar dikerjakan oleh karena albumin akan mempercepat keluarnya bilirubin dari ekstra vaskuler ke vaskuler. Melakukan dekomposisi bilirubin dengan fototerapi. sehingga di duga akan terjadi kern ikterus. misalnya pemberian albumin untuk memikat bilirubin bebas. b. Bila kadar bilirubin serum bayi tinggi. Tindakan umum a. seperti gangguan metabolik dan pernafasan. Iluminasi yang cukup baik di tempat bayi di rawat. Pengobatan terhadap faktor penyebab bila di ketahui. Efek pemberian fenobarbital ini tampak jelas bila di berikan kepada ibu hamil beberapa minggu sebelum persalinan. Pemberian fenobarbital. Memberi substrat yang kurang untuk transportasi atau konjugasi. Pemberian fenobarbital profilaksis tidak di anjurkan karena efek samping obat tersebut. segera sesudah bayi lahir atau kedua keadaan tersebut. sehingga bilirubin yang di ikatnya lebih mudah di keluarkan dengan tranfusi tukar. c. Memeriksa golongan darah ibu (Rh. infeksi dan dehidrasi c. agar proses konjugasi bisa di percepat serta mempermudah ekskresi. e. ABO) dan lain lain pada waktu hamil b. Tindakan khusus Setiap bayi yang kuning harus di tangani menurut keadannya masing masing.perkembangan ikterus. Mencegah trauma lahir. baik pada ibu maupun pada bayi. harus segera di catat dan di laporkan karena mungkin di perlukan penanganan yang khusus. pemberian obat pada ibu hamil atau bayi baru lahir yang dapat menimbulkan ikterus. hiperbilirubenia tersebut harus di obati dengan tindakan berikut: a. Pemberian makanan dini dengan jumlah cairan dan kalori yang sesuai dengan kebutuhan bayi baru lahir d. . Apabila ikterus makin meningkat intensitasnya. Pengobatan ini tidak begitu efektif karena kadar bilirubin bayi dengan hiperbilirubinemia baru menurun setelah 4-5 hari.

Fotobilirubin bergerak dari jaringan ke pembuluh darah melalui mekanisme difusi. Noenatus yang sakit dengan berat badan kurang dari 1000 gram harus difototerapi dengan konsentrasi bilirubin 5 mg/dl. bila perlu konsumsi cairan ditingkatkan. Hal ini terjadi jika cahaya yang diabsorpsi jaringan merubah bilirubin tak terkonjugasi menjadi dua isomer yang disebut fotobilirubin. Fototerapi menurunkan kadar bilirubin dengan cara memfasilitasi ekskresi bilirubin tak terkonjugasi. feses. untuk mendapatkan energi yang optimal.Fototerapi dapat digunakan sendiri atau dikombinasi dengan transfusi pengganti untuk menurunkan bilirubin. Pakaian bayi dibuka agar bagian tubuh dapat seluas mungkin terkena sinar. Fotobilirubin kemudian bergerak ke empedu dan di ekskresikan kedalam duodenum untuk di buang bersama feses tanpa proses konjugasi oleh hati. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan terapi sinar ialah: lampu yang dipakai sebaiknya tidak digunakan lebih dari 500 jam. Pada lampu diatur dengan jarak 20-30cm di atas tubuh bayi. untuk menghindari turunnya energy yang dihasilkan oleh lampu yang digunakan. Kedua mata ditutup dengan penutup yang dapat memantulkan cahaya untuk mencegah kerusakan retina. agar tubuh mendapat penyinaran seluas mungkin. Penutup mata dilepas saat pemberian minum dan kunjungan orang tua untuk memberikan rangsang visual pada neonates. dan muntah diukur. . tetapi tidak dapat mengubah penyebab kekuningan dan hemolisis dapat menyebabkan anemia. Memaparkan neonatus pada cahaya dengan intensitas yang tinggi akan menurunkan bilirubin dalam kulit. Daerah kemaluan ditutup. dicatat dan dilakukan pemantauan tanda dehidrasi Hidrasi bayi diperhatikan. Pemantauan iritasi mata dilakukan tiap 6 jam dengan membuka penutup mata. Fototerapi mempunyai peranan dalam pencegahan peningkatan kadar bilirubin. Secara umum fototerapi harus diberikan pada kadar bilirubin indirek 4-5 mg/dl. Di dalam darah fotobilirubin berikatan dengan albumin dan di kirim ke hati. Pemasukan cairan dan minuman dan pengeluaran urine. Beberapa ilmuwan mengarahkan untuk memberikan fototerapi profilaksasi pada 24 jam pertama pada bayi resiko tinggi dan berat badan lahir rendah. Posisi bayi diubah tiap 8 jam . dengan penutup yang dapat memantulkan cahaya untuk melindungi daerah kemaluan dari cahaya fototeraphy. Hasil fotodegradasi terbentuk ketika sinar mengoksidasi bilirubin dapat dikeluarkan melalui urine. Suhu tubuh diukur 4-6 jam sekali atau sewaktu-waktu bila perlu.

Apabila dalam evaluasi kadar bilirubin serum barada dalam batas normal. hal ini terjadi karena tubuh tidak mampu mengeluarkan dengan segera hasil terapi sinar. Pemberian terapi sinar dapat menimbulkan efek samping. ini disebabkan karena suhu lingkungan yang meningkat atau gangguan pengaturan suhu tubuh bayi. menunjukkan kenaikan suhu tubuh. Perubahan warna kulit ini bersifat sementara dan tidak mempengaruhi proses tumbuh kembang bayi. Ini bersifat sementara dan hilang sendirinya. Meningkatnya bilirubin indirect pada usus akan meningkatkan pembentukan enzim lactase yang dapat meningkatkan peristaltic usus. dan akan segera hilang setelah terapi berhenti. letargi. Keadaan ini dapat di antisipasi dengan pemberian cairan tambahan. Frekuensi defekasi meningkat. perlu dipikirkan adanya beberapa kemungkinan. seperti gangguan minum. Pemberian susu dengan kadar laktosa rendah akan mengurangi timbulnya diare. Timbul kelainan kulit di daerah muka badan dan ekstremitas. efek samping tersebut bersifat sementara. terapi sinar dihentikan. infeksi. Di laporkan pada beberapa bayi terjadi “bronze baby syndrome”. Transfusi Pengganti Transfuse pengganti atau imediat didindikasikan adanya faktor-faktor : 1. Kadang di temukan kelainan. dan iritabilitas. Titer anti Rh lebih dari 1 : 16 pada ibu 2. Energi cahaya fototerapi dapat meningkatkan suhu lingkungan dan menyebabkan peningkatan penguapan melalui kulit. Penyakit hemolisis pada bayi saat lahir perdarahan atau 24 jam pertama . Beberapa neonates yang mendapat terapi sinar. Peningkatan suhu.Lamanya terapi sinar dicatat. dan gangguan metabolisme. Jika kadar bilirubin masih tetap atau tidak banyak berubah. yang dapat di cegah atau dapat ditanggulangi dengan memperhatikan tata cara penggunaan terapi sinar dan diikuti dengan pemantauan keadaan bayi secara berkelanjutan. Terutama bayi premature atau berat lahir sangat rendah. antara lain lampu yang tidak efektif atau bayi menderita dehidrasi. d. Penyakit hemolisis berat pada bayi baru lahir 3. Kelainan yang mungkin timbul pada neonates yang mendapati terapi sinar adalah : Peningkatan kehilangan cairan yang tidak terukur. Namun. hipoksia.

Setiap 4 -8 jam kadar bilirubin harus di cek. Menghilangkan serum bilirubin 4. Mengatasi anemia sel darah merah yang tidak susceptible (rentan) terhadap sel darah merah terhadap antibody maternal 2. Serum bilirubin indirek lebih dari 20 mg/dl pada 48 jam pertama 6. Kadar bilirubin direk labih besar 3. Meningkatkan albumin bebas bilirubin dan meningkatkan keterikatan dangan bilirubin Pada Rh Inkomptabilitas diperlukan transfuse darah golongan O segera (kurang dari 2 hari).5 mg/dl di minggu pertama 5.4. (Surasmi.hlm.2003. Darah yang dipilih tidak mengandung antigen A dan antigen B. Menghilangkan sel darah merah untuk yang tersensitisasi (kepekaan) 3.61) . Rh negative whole blood. Hemoglobin harus diperiksa setiap hari sampai stabil. Bayi pada resiko terjadi kern Ikterus Transfusi pengganti digunakan untuk: 1. Asrining. Hemoglobin kurang dari 12 gr/dl 7.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful