KOMERSIALISASI KONTEN MEDIA MASSA

LATAR BELAKANG Media massa belakangan ini erat kaitannya dan memiliki banyak pengaruh dalam system politik di Indonesia. Media massa di Indonesia pernah mengalami jaman otoriter media yaitu pada jaman orde baru. Dimana media di Indonesia dikuasai oleh pemerintahan sehingga pesan dan konten media tidak jauh dari pencitraan pemerintahan. Hal itu disebabkan adanya system pemerintahan yang otoriter sehingga media massa pada saat itu juga menjadi media yang otoriter. Segala bentuk isi pesan media sangat dipengaruhi oleh kepentingan media. Hal ini tentu sangat membatasi dan mengekang kebebasan media di Indonesia. Setelah adanya reformasi, system media pun turut berubah dalam system media yang demokratis sampai saat ini. Dalam sisi baiknya adalah media tidak lagi di monopoli oleh pemerintah sehingga pesan dari media cukup berimbang dalam artian tidak untuk kepentingan pemerintah dan kebebasan berpendapat dalam system demokrasi dapat berjalan. Dibalik sebuah sisi baik tentu selalu aka ada sisi buruk. Sistem media yang beralih ke sistem media yang demokrasi membuat siapa saja dapat memiliki media tersebut, akan tetapi itu bukan hal mudah sehingga hanya segelintir orang saja yang mampu memiliki media. Dikarenakan kepemilikan media dapat dimiliki oleh siapa saja, tentu konten atau isi pesan media tersebut juga dapat berbeda kepentingan antara satu media dengan media lain tergantung siapa pemiliknya. Masuknya kapitalisme di Indonesia dengan paham yang berlandaskan kebebasan individu untuk memanfaatkan asetnya telah banyak merubah tatanan media yang seharusnya. Hal tersebut memicu para pemilik media untuk memanfaatkan asset-aset mereka. Sehingga pada akhirnya mereka cenderung memandang media adalah sebuah bisnis dan mengabaikan kaidah-kaidah media yang seharusnya. Media berubah menjadi komersil, segala konten yang ada di dalam media semata-mata hanya untuk kepentingan bisnis dan dikomersilkan. Komersialisasi media massa menjadikan media itu hanyalah untuk merauk keuntungan, tanpa memikirkan dampak dari komersialisasi itu sendiri. Banyaknya pengusaha yang menguasai media, membuat media menjadi apa yang di inginkan oleh pemilik media tersebut, dan independensi mereka patut di pertanyakan. Oleh karena itu, konten media sangatlah dipengaruhi oleh pendapatan media itu

sendiri sebagai unsur politik atau kekuasaan dari pemilik media tersebut yang mengkomersialisasi konten-konten dari media. RUMUSAN MASALAH • • • Bagaimana komersialisasi konten media massa di Indonesia ? Apakah dampak negatif dari komersialisasi konten media massa? Bagaimana solusi alternative dalam menanggulangi komersialisasi konten media massa? TUJUAN Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagi berikut : • • • Untuk mengetahui bagaimana komersialisasi konten media yang ada di Indonesia Untuk mengetahui dampak negatif dari komersialisasi konten media massa Untuk mengetahui solusi alternatif dalam menanggulangi komersialisasi konten media massa PEMBAHASAN • Komersialisasi Konten Media Massa di Indonesia Di Indonesia sendiri tidak dipungkiri bahwa komersialisasi pesan dalam media sangat begitu tampak terutama dalam tayangan televisi. Karena pada dasarnya biaya operasional dan produksi media cukup besar. Tayangan telivisi tidak lagi tampak berbobot dan memiliki kulitas serta makna-makna yang positif yang dapat diambil pemirsanya melainkan hanya sekedar tayangan-tayangan yang sekiranya dapat menarik banyak iklan dan sebatas kepentingan komersil belaka. media . Dibawah pengaruh kapitalisme. sehingga kondisi ini dimanfaatkan oleh kaum kapitalis yang kemudian menjadikan media sebagai anak emasnya dalam menciptakan pasar mereka.

tentang bagaimana kualitas isi siaran. dll. Hal tersebut sangatlah menunjukan bahwa RCTI sebagai stasiun tv yang menyiarkan sinetron tersebut hanya mementingkan kepentingan komersil dari sinetron tersebut saja. akan tetapi kaidah ini telah berubah dan media dalam menyampaikan informasinya berbasis pada keinginan khlayak. kualitas siaran tidak lagi ditentukan oleh media. Hal tersebut semata-mata hanya untuk mengejar rating belaka. bagaimana penanaman moral yang baik. Dengan kata lain media hanya membuat bagaimana masyarakatnya ketagihan dan mengabaikan kaidah-kaidah media yang sbenarnya. isi media merupakan komoditas untuk dijual di pasaran. namun gaya penyampaiannya tetap seperti infotainment. dan sebagainya. Menurut Marxime klasik. Jadi. Menurut Nurani Soyomukti (2010:22) kapitalisme menghadirkan kegiatan-kegiatan baru dalam kaitanya dengan upaya mengumpulkan massa dan menciptakan relasi sosial yang mempercepat terciptanya perubahan kesadaran menuju budaya konsumen. media seharusnya menyampaikan informasi kepada khalayak agar khalayak menjadi paham tentang realitas yang obyektif. Infotainment adalah arus besar (mainstream) jurnalisme itu sendiri. Michael Janeway (guru besar Columbia University) mengatakan kalau jurnalisme masa kini makin bergeser kearah infotainment akibat motif bisnis yang mengemuka dalam industry media. dan informasi yang disebarkan diatur oleh apa yang akan diambil oleh pasar. yang awalanya media sebagai keinginan telah berubah menjadi kebutuhan. akan tetapi menampilkan tayangan yang disenangi. Sebaliknya media hanya menampilkan tayangan yang kurang berkualitas dan bukan bagaimana menampilkan tayangan yang baik. Maksud Michael adalah walaupun media berbicara tentang politik. ekonomi. melainkan medialah yang mengikuti pasar. Ketika didalam masyarakat suatu berita atau fenomena masih diperbincangkan. Sebagai contoh adalah siaran sinetron-sinetron yang ada di Indonesia misalnya Sinetron Tukang Bubur Naik Haji. Dikarenakan sinetron tersebut .menggiring khalayaknya untuk berpersepsi tentang kebutuhan semu. Hal ini telah berubah jauh dari media yang seharusnya. media akan terus memberitakannya. Fenomena ini tidak jauh kaitannya dengan paham kapitalisme. Apabila ditelaah lebih lanjut sinetron tersebut tidak memiliki nilai moral yang baik dan manfaat yang banyak bagi khalayaknya karena hanya menampilkan keburukan dari pemeran antagonisnya dan berulang terus tiap episodenya. Yang dimana rating akan menentukan para investor untuk memasang iklan dan kembali lagi ini mengarah ke rana komersil.

. karena itu pula iklan tetap hidup dan berkembang bersama dengan kapitalis (Burhan Bungin 2008:66). yaitu untuk mengejar rating agar kepentingan bisnisnya tetap berjalan. Sikap konsumerisme masyarakat Indonesia yang cukup kuat berimbas pada para investor yang ingin menyangkan iklan produknya. . Karenanya iklan selalu dilihat sebagai bagian dari media kapitalis. Demikian pula kehadiran iklan semata-mata untuk menyampaikan pesan kapitalis. Karena pada dasarnya iklan menempatkan diri sebagai bagian penting dalam mata rantai ekonomi kapitalis. Dengan demikian kapitalisme telah mempengaruhi paham dari para pemilik media tersebut. Hal tersebutlah yang mendasari tentang bagaimana komersialisme media di Indonesia. melainkan sudah mengarah pada kehidupan pribadinya seperti bagaimana dia dikediamannya dan sebagainya. Sehingga dapat dipastikan iklan komersial hanya lahir dari konsep-konsep kapitalis. sinetron terus dibuat-buat agar durasi episode nya makin panjang dan dapat meraih keuntungan bisnis yang lebih besar. Itulah mengapa media sekarang justru condong kearah komersialisme dalam produknya dan sudah tidak lagi pada kaidah-kaidah media. Hal tersebut yang membuat para pemilik media harus meningkatkan rating agar iklan masuk dan bisnis mereka tetap berjalan karena iklan merupakan pemasukan yang paling utama. dalam arti iklan adalah bagian tak terpisahkan dari rangkaian kegiatan perusahaan yang tidak lain adalah milik kapitalis. pemberitaan tentang dirinya sudah tidak mengarah lagi kearah kasus yang menyangkut dirinya. siapa saja berhak memilki media. Jadi pada intinya di Indonesia dengan sistem media yang demokrasi.diminati di masyarakat. Selain itu juga banyak pemberitaan di televise yang sudah tidak actual lagi dan terkesan memperpanjang durasi pemberitaan untuk mempertahankan rating agar menarik investor iklan. dari sinilah mereka melihat mana tayangan yang ratingnya tinggi. seperti pemberitaan mengenai pelaku korupsi hambalang Andi Malarangeng. Hal ini seperti yang dikatakan Michael Jeneway bahwa jurnalisme sudah mengarah ke rana infotaiment yang semata-mata kembali kepada kepentingan pemiliknya. sehingga konten atau isi media tersebut sudah tidak sesuai dengan kaidah lagi melainkan berdasar pada kepentingan pemiliknya agar bisnisnya tetap jalan dengan mengejar rating dan mendapat iklan.

pesan-pesan media yang buruk tidak dapat tersaring seperti penanaman nilai moral yang kurang baik dimasyarakat misalnya dengan tayangan-tayangan sinetron yang kurang mendidik dan akan berdampak pada penanaman nilanilai yang buruk pada khalayaknya. bila reality show sedang naik daun. Salah satunya adalah seragamnya jenis tayangan dan pola siaran. Ini akan berakibat baik ketika konten media tersebut berisi hal baik. khalayak media kebanyakan bersifat pasif.• Dampak Negatif Komersialisasi Media Massa Dampak negative dari media yang komersil sendiri tentu dapat terlihat baik secara langsung maupun tidak langsung dan dalam jangka pendek maupun jangka panjang. mereka terus menyiarkannya. sekedar pembenaran apa yang ditayangkan sebelumnya. Sangat sulit menentukan apakah kelompok tayangan tersebut meningkatkan iman . ini akan menjadikan sebuah pola yang baru di masyarakaat atau suatu trend. Dalam tayangan misteri dan hantu misalnya. Dampak yang secara langsung dan dalam jangka pendek yang diterima khalayak kebanyakan adalah mengedai dampak makna pesan media. jadi asalkan masayarakat senang. tampilan ulama seringkali hanya dimaksudkan sebagai tempelan. Dengan demikian. Jadi. Dampak yang selanjutnya adalah kurang diutamakannya unsur edukatif bagi perkembangan anak dan remaja. Kerapkali tayangan yang dianggap mendidik justru sebaliknya. Ada beberapa dampak negatif lainnya dari diberlakukannya rating sebagai “berhala” oleh insan dalam industri media. dengan demikian pola yang dihasilkan dalam masyarakat akan turut menjadi buruk. mereka hanya mementingkan rating. akan tetapi biasanya media yang mengejar rating kontennya terkesan asal-asalan saja. semua stasiun televisi akan berlomba program sejenis. mereka hanya menikmati isi media dan selalu termakan oleh realitas simbolis yang dibuat oleh media. Hal ini dapat memberi dampak negative karena media yang komersil biasanya tidak mementingkan kepentingan isi pesannya.

perlu diadakannya regulasi untuk membatasi kerugian yang dialami khalayak luas. Inilah yang akan berakibat pada budaya konsumerisme di Indonesia. Dengan demikian media akan terus dicecar yang namanya iklan. Kita tentu menyadari bahwa dalam pasar pendapatan dan kekayaan sangat menentukan kekuatan dan kekuasaan orang. Dampak yang terakhir adalah dengan media melakukan penyiaran berbasis pada komersialisme. setelah mereka termakan media yang terkandung iklan tentu mereka akan penasaran dengan produk iklan tersebut lalu kemudian membelinya. Dalam sinetron dan telenovela yang bermotif balas dendam dan atau perselingkuhan. sumpah serapah dan kalimat lain yang tidak mendidik. Ini akan membuat semacam ketagihan pada masyarakat pada media. Apalagi pada era demokrasi media ini penyampaian pesan yang begitu bebas telah mengarah pada rana komersialisasi produk media. Dampak keempat adalah tidak terlindunginya khususnya bagi anak dan remaja dari tayangan yang memuat kekerasan verbal dan visual.2008: 13-14). Pertama adalah karena masyarakat yang tadinya memerlukan media sebagai keinginan berubah menjadi sebuah kebutuhan karena media terus menerus mengejar keinginan khlayak demi kepentingan rating. (Heru Effendy. Mengingat perkembangan media yang begitu pesat dapat membahayakan kepentingan khalayak. hal tersebut akan menciptakan budaya konsumerisme di masyarakat. Kekerasan verbal yang dimaksud adalah segala macam makian. . Kita dapat mendengar banyak kata.dan takwa kepada sang Khalik atau sebaliknya menaikan pamor kaum paranormal sebagai dewa penyelamat kita terhadap gangguan makhluk ghaib. frasa dan kalimat yang sesungguhnya tidak sesuai dikonsumsi oleh anak dan remaja. Ini erat kaitannya dengan para kapitalis media yang lebih suka mengelompokan diri dan menjadikan kekuatan ekonomi berpusat dan bersifat monopolistik Selanjutnya jika seluruh media kemudian membentuk pasar monopoli maka sesungguhnya hal ini bisa berefek pada sistem demokrasi. iklan yang terus menerus tersebut tentu akan termakan oleh khalayak yang menyimak media karena mereka sudah ketagihan dengan media. • Alternatif Mengatasi Dampak Komersialisasi Media Untuk membatasi komersialisasi yang dilakukan oleh media massa.

dengan menjamin kebebasan aliran ide dan posisi dari kelompok minoritas. Akan tetapi dalam mengejar rating tinggi ini media terkadang lupa akan kaidah mereka sebagai media. Kedua.Setidaknya ada tiga hal mengapa regulasi penyiaran dipandang urgent. Ketiga. Mufid. bahkan monopoli media. 2005: 67-68) PENUTUP Jadi kesimpulan secara garis besarnya adalah media pada jaman demokrasi telah mengalami suatau komersialisasi pada produk media yang merupakan imbas dari paham kapitalisme. Hal ini perlu dibatasi karena apabila kebebasan ini terlalu kebablasan maka unsure kesewenganan dan kepentingan pemilik media akan begitu kuat sehingga dapat mempengaruhi pesan yang akan diterima oleh khalayak. bahkan dari pemerintah. Sumber pendapatan mereka tidak lain adalah iklan. dalam iklim demokrasi. terdapat alasan ekonomi mengapa regulasi media diperlukan. mereka hanya mengacu pada kepentingan bisnis. media harus menciptakan sebuah produk yang selalu diminati khalayak atau dalam kata lain memiliki rating tinggi. Hal ini adalah adanya hak privasi seseorang untuk tidak menerima informasi tertentu serta untuk mencegah adanya monopoli dari kaum mayoritas karena pada paham kapitalis yang memiliki kekuasaan tentu akan lebih dominan dan hal ini perlu untuk dicegah. Untuk mengejar kepentingan bisnis tersebut tentu media harus mendapatkan keuntungan dari sumber pendapatan mereka. salah satu urgensi yang mendasari penyusunan regulasi penyiaran adalah hak asasi manusia tentang kebebasan berbicara. Sehingga konten atau pesan media berubah menjadi kepentingan komersil yang membahayakan khalayak karena dapat member dampak negatif seperti penanaman moral yang tidak baik serta sifat konsumerisme. sinkronisasi diperlukan bagi penyusunan regulasi media agar tidak berbenturan dengan berbagai kesepakatan internasional. Selain itu juga dapat mengarah pada monopolistic . demokrasi menghendaki adanya sesuatu yang menjamin keberagaman politik dan kebudayaan. Hal tersebut terkait dengan bebasnya individu untuk mendirikan media. yang menjamin kebebasan sesorang untuk memperoleh dan menyebarkan pendapatnya tanpa adanya intervensi. (M. Pertama. dan untuk mendapat investor iklan yang dapat member keuntungan. sehingga mereka berlomba mendirikan media demi kepentingan bisnis. Tanpa regulasi akan terjadi konsentrasi.

Iklan Televisi.html • http://www.karena kekuasaan media sangat menentukan arah pesan media yang dapat memonopoli pesan sesuai kepentingan pemilik. dan Keputusan Konsumen serta Kritik Terhadap Peter L. Soekarno: Visi Kebudayaan & Revolusi Indonesia. Pada dasarnya yang melandasinya adlah pengaruh dari paham kapitalisme yang memberikan dampak pada kekuasaan media yang mengarah pada komersialisme dan kesewenangan pesan. Heru Effendy.html • • • http://hsutadi. Kontruksi Sosial Media Massa: Kekuatan Pengaruh Media Massa. 2010.com/2009/04/media-massa-dalam-sistem-kapitalis.com/2011/12/komersialisasi-media-massa-olehangghi.com/2011/03/07/komersialisasi-televisi-di-era-industri-citra/ http://ruang-imajenasi. Jakarta.net/system/files/Indepth%20Report_Lumpur%20Lapindo%20dan %20Persaingan%20Politik%202014_SatuDunia. Jogjakarta: Ar ruzz Media. Bungin.blogspot. Jakarta: Kencana. Nurani.pdf • http://politik.kompasiana. Industri Pertelevisian Indonesia.com/2012/03/17/realitas-media-antara-kepentingan-politikekonomi-dan-kepentingan-publik-442988. Burhan. 2008 http://rosit. Daftar Pustaka • • Soyomukti.blogspot. Erlangga.satudunia. 2008.wordpress. Berger & Thomas Luckmann. Sehingga perlu diadakannya regulasi untuk mencegah hal tersebut.html JURNAL KOMODITI SOSIAL DALAM INDUSTRI MEDIA MASSA / Maya Sekar Wangi/ Fakultas ISIP Universitas Slamet Riyadi SurakartaJURNAL JURNAL ABSENNYA PENDEKATAN EKONOMI POLITIK UNTUK STUDI MEDIA/ Agus Sudibyo • • • .

TUGAS SOSIOLOGI KOMUNIKASI MAKALAH KOMERSIALISASI KONTEN MEDIA MASSA RIAN RISANDA D0211085 KOMUNIKASI A 2011 .

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET 2012 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful