Memahami dan menjelaskan MKDKI dan MKEK Di dalam praktek kedokteran terdapat aspek etik dan aspek hukum

yang sangat luas, yang sering tumpang-tindih pada suatu issue tertentu, seperti pada informed consent, wajib simpan rahasia kedokteran, profesionalisme, dll. Bahkan di dalam praktek kedokteran, aspek etik seringkali tidak dapat dipisahkan dari aspek hukumnya, oleh karena banyaknya norma etik yang telah diangkat menjadi norma hukum, atau sebaliknya norma hukum yang mengandung nilai-nilai etika. Aspek etik kedokteran yang mencantumkan juga kewajiban memenuhi standar profesi mengakibatkan penilaian perilaku etik seseorang dokter yang diadukan tidak dapat dipisahkan dengan penilaian perilaku profesinya. Etik yang memiliki sanksi moral dipaksa berbaur dengan keprofesian yang memiliki sanksi disiplin profesi yang bersifat administratif. Keadaan menjadi semakin sulit sejak para ahli hukum menganggap bahwa standar prosedur dan standar pelayanan medis dianggap sebagai domain hukum, padahal selama ini profesi menganggap bahwa memenuhi standar profesi adalah bagian dari sikap etis dan sikap profesional. Dengan demikian pelanggaran standar profesi dapat dinilai sebagai pelanggaran etik dan juga sekaligus pelanggaran hukum. Kemungkinan terjadinya peningkatan ketidakpuasan pasien terhadap layanan dokter atau rumah sakit atau tenaga kesehatan lainnya dapat terjadi sebagai akibat dari (a) semakin tinggi pendidikan rata-rata masyarakat sehingga membuat mereka lebih tahu tentang haknya dan lebih asertif, (b) semakin tingginya harapan masyarakat kepada layanan kedokteran sebagai hasil dari luasnya arus informasi, (c) komersialisasi dan tingginya biaya layanan kedokteran dan kesehatan sehingga masyarakat semakin tidak toleran terhadap layanan yang tidak sempurna, dan (d) provokasi oleh ahli hukum dan oleh tenaga kesehatan sendiri. Etik Profesi Kedokteran Etik profesi kedokteran mulai dikenal sejak 1800 tahun sebelum Masehi dalam bentuk Code of Hammurabi dan Code of Hittites, yang penegakannya dilaksanakan oleh penguasa pada waktu itu. Selanjutnya etik kedokteran muncul dalam bentuk lain, yaitu dalam bentuk sumpah dokter yang bunyinya bermacam-macam, tetapi yang paling banyak dikenal adalah sumpah Hippocrates yang hidup sekitar 460-370 tahun SM. Sumpah tersebut berisikan kewajiban-kewajiban dokter dalam berperilaku dan bersikap, atau semacam code of conduct bagi dokter. World Medical Association dalam Deklarasi Geneva pada tahun 1968 menelorkan sumpah dokter (dunia) dan Kode Etik Kedokteran Internasional. Kode Etik Kedokteran Internasional berisikan tentang kewajiban umum, kewajiban terhadap pasien, kewajiban terhadap sesama dan kewajiban terhadap diri sendiri. Selanjutnya, Kode Etik Kedokteran Indonesia dibuat dengan mengacu kepada Kode Etik Kedokteran Internasional.[1] Selain Kode Etik Profesi di atas, praktek kedokteran juga berpegang kepada prinsip-prinsip moral kedokteran, prinsip-prinsip moral yang dijadikan arahan dalam membuat keputusan dan bertindak, arahan dalam menilai baik-buruknya atau benar-salahnya suatu keputusan atau tindakan medis dilihat dari segi moral. Pengetahuan etika ini dalam perkembangannya kemudian disebut sebagai etika biomedis. Etika biomedis memberi pedoman bagi para tenaga medis dalam membuat keputusan klinis yang etis (clinical ethics) dan pedoman dalam melakukan penelitian di bidang medis. Nilai-nilai materialisme yang dianut masyarakat harus dapat dibendung dengan memberikan latihan dan teladan yang menunjukkan sikap etis dan profesional dokter, seperti autonomy (menghormati hak pasien, terutama hak dalam memperoleh informasi dan hak membuat keputusan tentang apa yang akan dilakukan terhadap dirinya ), beneficence (melakukan tindakan untuk kebaikan pasien), non maleficence (tidak melakukan perbuatan yang memperburuk pasien) dan justice (bersikap adil dan jujur), serta sikap altruisme (pengabdian profesi).

serta lembaga MKEK (Majelis Kehormatan Etik Kedokteran) di tingkat pusat. yaitu Majelis (ketua dan anggota) bersikap aktif melakukan pemeriksaan. di tingkat sarana kesehatan (rumah sakit) didirikan Komite Medis dengan Panitia Etik di dalamnya. yang akan mengawasi pelaksanaan etik dan standar profesi di rumah sakit. Seseorang yang telah diputus melanggar etik oleh MKEK belum tentu dinyatakan bersalah oleh pengadilan. yaitu permasalahan yang timbul sebagai akibat dari pelanggaran seorang profesional atas peraturan internal profesinya. wilayah dan cabang. dalam bentuk peringatan hingga ke bentuk yang lebih berat seperti kewajiban menjalani pendidikan / pelatihan tertentu (bila akibat kurang kompeten) dan pencabutan haknya berpraktik profesi. Persidangan MKEK secara formiel tidak menggunakan sistem pembuktian sebagaimana lazimnya di . suatu norma etik adalah norma yang apabila dilanggar “hanya” akan membawa akibat sanksi moral bagi pelanggarnya. yang mengajarkan tentang etik profesi dan prinsip moral kedokteran. memberikan banyak latihan. profesionalisme dan keluhuran profesi. Di kemudian hari Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI). Persidangan MKEK bersifat inkuisitorial khas profesi. maka MKDKI akan meneruskan kasus tersebut kepada MKEK.Pendidikan etik kedokteran. akan menjadi majelis yang menyidangkan dugaan pelanggaran disiplin profesi kedokteran. MKDKI bertujuan menegakkan disiplin dokter / dokter gigi dalam penyelenggaraan praktik kedokteran. demikian pula sebaliknya. tanpa adanya badan atau perorangan sebagai penuntut. Pada dasarnya. Sanksi tersebut diberikan oleh MKEK setelah dalam rapat/sidangnya dibuktikan bahwa dokter tersebut melanggar etik (profesi) kedokteran. dapat pula diperiksa di pengadilan – tanpa adanya keharusan saling berhubungan di antara keduanya. yang menyimpangi apa yang diharapkan akan dilakukan oleh orang (profesional) dengan pengetahuan dan ketrampilan yang rata-rata. Saat ini MKEK menjadi satu-satunya majelis profesi yang menyidangkan kasus dugaan pelanggaran etik dan/atau disiplin profesi di kalangan kedokteran. wilayah dan cabang. maka ia akan dipanggil dan disidang oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) IDI untuk dimintai pertanggung-jawaban (etik dan disiplin profesi)nya. Persidangan MKEK bertujuan untuk mempertahankan akuntabilitas. sehingga cara berpikir etis tersebut diharapkan menjadi bagian pertimbangan dari pembuatan keputusan medis sehari-hari. Domain atau yurisdiksi MKDKI adalah “disiplin profesi”. terutama apabila teladan yang diberikan para seniornya bertolak belakang dengan situasi ideal dalam pendidikan. Dokter tersangka pelaku pelanggaran standar profesi (kasus kelalaian medik) dapat diperiksa oleh MKEK. Dalam hal MKDKI dalam sidangnya menemukan adanya pelanggaran etika. Tentu saja kita pahami bahwa pendidikan etik belum tentu dapat mengubah perilaku etis seseorang. sedangkan gugatan perdata dan tuntutan pidana dilaksanakan di lembaga pengadilan di lingkungan peradilan umum. yaitu melalui lembaga kepengurusan pusat. Persidangan etik dan disiplin profesi dilakukan oleh MKEK IDI. IDI (Ikatan Dokter Indonesia) memiliki sistem pengawasan dan penilaian pelaksanaan etik profesi. lembaga yang dimandatkan untuk didirikan oleh UU No 29 / 2004. Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Dalam hal seorang dokter diduga melakukan pelanggaran etika kedokteran (tanpa melanggar norma hukum). Namun suatu pelanggaran etik profesi dapat dikenai sanksi disiplin profesi. dan lebih banyak dipaparkan dalam berbagai situasi-kondisi etik-klinik tertentu ( clinical ethics). dianjurkan dimulai dini sejak tahun pertama pendidikan kedokteran. Proses persidangan etik dan disiplin profesi dilakukan terpisah dari proses persidangan gugatan perdata atau tuntutan pidana oleh karena domain dan jurisdiksinya berbeda. dengan memberikan lebih ke arah tools dalam membuat keputusan etik. Bahkan di tingkat perhimpunan rumah sakit didirikan pula Majelis Kehormatan Etik Rumah Sakit (Makersi). Selain itu.

Pada beyond reasonable doubt tingkat kepastiannya dianggap melebihi 90%. Bar’s Disciplinary Tribunal Regulation . Semakin serius dugaan pelanggaran yang dilakukan semakin tinggi tingkat kepastian yang dibutuhkan. putusan diambil berdasarkan bukti-bukti yang dianggap cukup kuat. membolehkan adanya bukti yang bersifat hearsay dan bukti tentang perilaku teradu di masa lampau. Majelis etik ataupun disiplin umumnya tidak memiliki syarat-syarat bukti seketat pada hukum pidana ataupun perdata. unprofessional conduct. Eksekusi Putusan MKEK Wilayah dilaksanakan oleh Pengurus IDI Wilayah dan/atau Pengurus Cabang Perhimpunan Profesi yang bersangkutan. Dalam persidangan majelis etik dan disiplin. langsung dari pihak-pihak terkait (pengadu.[2] Sedangkan bukti berupa dokumen umumnya di”sah”kan dengan tandatangan dan/atau stempel institusi terkait. tetapi ada pula yang tidak mengharuskannya. hospital bylaws. Di Australia digunakan berbagai istilah seperti unacceptable conduct. yaitu setinggi beyond reasonable doubt. teradu. kecuali atas perintah pengadilan dalam bentuk permintaan keterangan ahli. professional misconduct dan infamous conduct in professional respect . SOP dan SPM setempat. Namun demikian tidak ada penjelasan yang mantap tentang istilah-istilah tersebut. dan pada bukti keterangan diakhiri dengan pernyataan kebenaran keterangan dan tandatangan (affidavit). 2. Di Australia. Memang bukti-bukti tersebut tidak harus memiliki standard of proof seperti pada hukum acara pidana. tetapi harus disumpah pada formal hearing (jenis persidangan yang lebih tinggi daripada yang informal). meskipun umumnya memasukkan dua istilah terakhir sebagai pelanggaran yang serius hingga dapat dikenai sanksi skorsing ataupun pencabutan ijin praktik. bukti keanggotaan profesi. kejaksaan ataupun di persidangan. bukti hubungan dokter dengan rumah sakit. Perijinan rumah sakit tempat kejadian. Pengalaman MKEK IDI Wilayah DKI Jakarta 1997-2004 (8 tahun) . yang disusun dalam beberapa tingkat berdasarkan derajat pelanggarannya. 5 Perkara yang dapat diputuskan di majelis ini sangat bervariasi jenisnya. Apabila eksekusi telah dijalankan maka dokter teradu menerima keterangan telah menjalankan putusan. seperti bukti kompetensi dalam bentuk berbagai ijasah/ brevet dan pengalaman. yaitu preponderance of evidence. saksi tidak perlu disumpah pada informal hearing. [3] Putusan MKEK tidak ditujukan untuk kepentingan peradilan. dan surat-surat lain yang berkaitan dengan kasusnya. namun juga tidak serendah pada hukum acara perdata.dalam hukum acara pidana ataupun perdata. Majelis berwenang memperoleh : 1. Dalam melakukan pemeriksaannya. oleh karenanya tidak dapat dipergunakan sebagai bukti di pengadilan. Keterangan. Khusus untuk SIP. rekam medis. Cara pemberian keterangan juga ada yang mengharuskan didahului dengan pengangkatan sumpah. eksekusinya diserahkan kepada Dinas Kesehatan setempat. menjelaskan tentang jalannya persidangan dan putusan MKEK. baik lisan maupun tertulis (affidavit). bukti kewenangan berupa Surat Ijin Praktek Tenaga Medis. Di MKEK IDI Wilayah DKI Jakarta diputus perkara-perkara pelanggaran etik dan pelanggaran disiplin profesi. sedangkan pada preponderance of evidence dianggap cukup bila telah 51% ke atas. hakim pengadilan tidak terikat untuk sepaham dengan putusan MKEK. Salah seorang anggota MKEK dapat memberikan kesaksian ahli di pemeriksaan penyidik. unsatisfactory professional conduct . Sekali lagi. misalnya. pihak lain yang terkait) dan peer-group / para ahli di bidangnya yang dibutuhkan Dokumen yang terkait. Banyak ahli menyatakan bahwa tingkat kepastian pada perkara etik dan disiplin bergantung kepada sifat masalah yang diajukan. namun demikian tetap berupaya melakukan pembuktian mendekati ketentuan-ketentuan pembuktian yang lazim.

Dari 74 kasus yang eligible tersebut ternyata sidang MKEK menyimpulkan bahwa pada 24 kasus diantaranya (32. bukan wilayah DKI Jakarta. SpJP (2). dan pasal 12 yang berbunyi “Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang pasien. Dari 24 kasus yang dinyatakan melanggar etik kedokteran. dan mungkin masih banyak pula kasus pelanggaran etik dan profesi yang tidak diadukan pasien (fenomena gunung es). sebagian besar diputus telah melanggar pasal 2 yang berbunyi “Seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan standar profesi yang tertinggi”. Pasal lain dari Kodeki yang dilanggar adalah pasal 4 yang berbunyi “Setiap dokter harus menghindarkan diri dari perbuatan yang bersifat memuji diri”. Namun perlu diingat bahwa pada kasus-kasus yang dicabut atau ditolak oleh MKEK terdapat pula kasus-kasus pelanggaran etik. seperti : pengadu tidak jelas (surat kaleng). sudah menjadi sengketa hukum sehingga sidang MKEK dihentikan. SpP (2). dll). SpAn (7). SpR (2) kemudian masing-masing satu kasus adalah SpBO.Dari 99 kasus yang diajukan ke MKEK. SpKJ (3). bahkan juga setelah pasien itu meninggal”. SpBP. bukan yurisdiksi MKEK (bukan etik-disiplin. Dengan demikian hanya 74 kasus (75 %) yang eligible sebagai kasus MKEK IDI Wilayah DKI Jakarta. SpRM. . etik RS. Tahun Jumlah Pengaduan 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 10 11 18 14 10 13 14 9* Dicabut Ditolak Tidak terdapatTerjadi pelanggaran pelanggaran etik /etik / profesi profesi 4 3 7 8 5 6 10 1 1 3 4 3 1 5 3 4 24 3 2 2 2 3 1 - 2 3 5 1 1 1 1 Jumlah 99 * 13 14 44 * sisanya (4 kasus) belum selesai diproses Apabila dilihat dari cabang keahlian apa yang paling sering diadukan oleh pasiennya adalah : SpOG (24). Selain itu MKEK juga menolak 14 kasus (14 %).4 % dari kasus yang eligible atau 24 % dari seluruh kasus pengaduan) memang telah terjadi pelanggaran etik dan atau pelanggaran disiplin profesi. SpTHT (4). SpM (2). SpPD (10). SpF. SpB (17). SpA (4). SpKK. 13 kasus (13 %) tidak jadi dilanjutkan karena berbagai hal – sebagian karena telah tercapai kesepakatan antara pengadu dengan teradu untuk menyelesaikan masalahnya di luar institusi. pasal 7 yang berbunyi “Seorang dokter hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang telah diperiksa sendiri kebenarannya”. juga karena beberapa hal. DU (14). SpBS.

tetapi terdapat pula kasus-kasus yang diajukan oleh rumah sakit tempat dokter bekerja dan oleh masyarakat (termasuk media masa). Dari sekian banyak yang ditolak oleh MKEK terdapat kasus-kasus sengketa antar dokter. sehingga diperlukan crash-program berupa pendidikan kedokteran berkelanjutan yang agresif di bidang etik dan hukum kedokteran. dapat dikemukakan bahwa menduduki tempat teratas adalah komunikasi yang tidak memadai antara dokter dengan pasien dan keluarganya. dan surat kaleng. . Mereka pada umumnya bekerja di rumah sakit atau klinik ( 90 % ). komunikasi antara staf rumah sakit dengan pasien. sengketa dokter dengan rumah sakit. Ditinjau dari sisi sanksi yang diberikan dapat dikemukakan bahwa pada umumnya diberikan sanksi berupa teguran lisan atau teguran tertulis. Sisi negatifnya adalah adanya kecenderungan meningkatnya kasus tenaga kesehatan ataupun rumah sakit di somasi. Kesimpulan Pelajaran yang dapat dipetik adalah bahwa masalah yang paling sering menjadi pokok sengketa adalah kelemahan komunikasi antara dokter dengan pasien atau antara rumah sakit dengan pasien. Terdapat dua kasus diberi sanksi reschooling. atau setidaknya terungkap di dalam persidangan. serta pemberian bekal buku Kodeki bagi setiap dokter lulusan Indonesia (termasuk adaptasi). termasuk kode etik profesi yang harus dijadikan pedoman berperilaku profesi ( professional code of conduct). baik dalam bentuk komunikasi sehari-hari yang diharapkan mempererat hubungan antar manusia maupun dalam bentuk pemberian informasi sebelum dilakukannya tindakan dan sesudah terjadinya risiko atau komplikasi. Memahami dan menjelaskan malpraktik Meningkatnya kesadaran masyarakat akan hak-haknya merupakan salah satu indicator positif meningkatnya kesadaran hukum dalam masyarakat. yang pada gilirannya dengan mudah menimpakan beban kepada pasien bahwa telah terjadi malpraktek. Masalahnya tidak setiap upaya pelayanan kesehatan hasilnya selalu memuaskan semua pihak terutama pasien. maka terlihat bahwa pada umumnya pengadu adalah pasien atau keluarganya.SpS dan SpU. kepada para dokter yang bekerja di Indonesia belumlah cukup memadai. sedangkan mereka yang mencabut kasusnya umumnya tidak diketahui alasannya. hanya sebagian yang menyatakan sebagai akibat dari upaya damai. bukan di tempat praktek pribadi. Secara psikologis hal ini patut dipahami mengingat berabad-abad tenaga kesehatan telah menikmati kebebasan otonomi paternalistik yang asimitris kedudukannya dan secara tiba-tiba didudukkan dalam kesejajaran. Kelemahan komunikasi tersebut muncul dalam bentuk : kurangnya penjelasan dokter kepada pasien – baik pada waktu sebelum peristiwa maupun sesudah peristiwa. Dari sisi issue yang dijadikan pokok pengaduan. pemberian mata ajaran etik dan hukum kedokteran bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran sejak dini dan bersifat student-active. kurangnya waktu yang disediakan dokter untuk dipakai berkomunikasi dengan pasien. Pelajaran lain adalah bahwa sosialisasi nilai-nilai etika kedokteran. diadukan atau bahkan dituntut pasien yang akibatnya seringkali membekas bahkan mencekam para tenaga kesehatan yang pada gilirannya akan mempengaruhi proses pelayanan kesehatan tenaga kesehatan dibelakang hari. Tidak ada yang memperoleh sanksi skorsing ataupun pencabutan ijin praktek. Dan apabila dilihat dari sisi pengadunya.

Dalam hal tenaga kesehatan didakwa telah melakukan ciminal malpractice. Andaikata akibat yang tidak diinginkan tersebut terjadi apakah bukan merupakan resiko yang melekat terhadap suatu tindakan medis tersebut (risk of treatment) karena perikatan dalam transaksi teraputik antara tenagakesehatan dengan pasien adalah perikatan/perjanjian jenis daya upaya (inspaning verbintenis) dan bukan perjanjian/perjanjian akan hasil (resultaa verbintenis). ceroboh atau adanya kealpaan). hal ini bukanlah merupakan hal yang mudah bagi siapa saja yang tidak memahami profesi kesehatan dalam membuktikan ada dan tidaknya kesalahan. Cara langsung Oleh Taylor membuktikan adanya kelalaian memakai tolok ukur adanya 4 D yakni : 1.Dari definisi malpraktek “adalah kelalaian dari seseorang dokter atau perawat untuk mempergunakan tingkat kepandaian dan ilmu pengetahuan dalam mengobati dan merawat pasien. 1. Direct Causation (penyebab langsung) 2. 1956). Apabila tenaga tenaga kesehatan didakwa telah melakukan kesalahan profesi. Apakah perbuatan (positif act atau negatif act) merupakan perbuatan yang tercela b. Dereliction of Duty (penyimpangan dari kewajiban) Jika seorang tenaga perawatan melakukan asuhan keperawatan menyimpang dari apa yang seharusnya atau tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan menurut standard profesinya. Damage (kerugian) . tenaga perawatan haruslah bertindak berdasarkan (1) (2) (3) (4) Adanya indikasi medis Bertindak secara hati-hati dan teliti Bekerja sesuai standar profesi Sudah ada informed consent. maka yang harus dibuktikan adalah adanya unsur perbuatan tercela (salah) yang dilakukan dengan sikap batin berupa alpa atau kurang hati-hati ataupun kurang praduga. maka tenaga perawatan tersebut dapat dipersalahkan. Dalam kasus atau gugatan adanya civil malpractice pembuktianya dapat dilakukan dengan dua cara yakni : 1. harus dibuktikan apakah perbuatan tenaga kesehatan tersebut telah memenuhi unsur tidak pidanya yakni : a. Dari definisi tersebut malpraktek harus dibuktikan bahwa apakah benar telah terjadi kelalaian tenaga kesehatan dalam menerapkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang ukurannya adalah lazim dipergunakan diwilayah tersebut. California. menderita luka. Duty (kewajiban) Dalam hubungan perjanjian tenaga perawatan dengan pasien. 1. (Valentin v. yang lazim dipergunakan terhadap pasien atau orang yang terluka menurut ukuran dilingkungan yang sama”. Apakah perbuatan tersebut dilakukan dengan sikap batin (mens rea) yang salah (sengaja. La Society de Bienfaisance Mutuelle de Los Angelos. Selanjutnya apabila tenaga perawatan dituduh telah melakukan kealpaan sehingga mengakibatkan pasien meninggal dunia.

misalnya perawat mengajukan bukti bahwa yang terjadi bukan disengaja. Cara tidak langsung Cara tidak langsung merupakan cara pembuktian yang mudah bagi pasien. Upaya pencegahan malpraktek dalam pelayanan kesehatan Dengan adanya kecenderungan masyarakat untuk menggugat tenaga medis karena adanya malpraktek diharapkan tenaga dalam menjalankan tugasnya selalu bertindak hati-hati. ada baiknya perawat menggunakan jasa penasehat hukum. karena perjanjian berbentuk daya upaya (inspaning verbintenis) bukan perjanjian akan berhasil (resultaat verbintenis). e. d. Apabila terjadi keragu-raguan. Formal/legal defence. Fakta tidak mungkin ada/terjadi apabila tenaga perawatan tidak lalai b. Doktrin res ipsa loquitur dapat diterapkan apabila fakta-fakta yang ada memenuhi kriteria: a. yakni dengan menyangkal tuntutan dengan cara menolak unsur-unsur pertanggung jawaban atau melakukan pembelaan untuk membebaskan diri dari pertanggung jawaban. Menjalin komunikasi yang baik dengan pasien. maka tenaga kesehatan dapat melakukan : a. yakni: a. b. atau mengajukan alasan bahwa dirinya tidak mempunyai sikap batin (men rea) sebagaimana disyaratkan dalam perumusan delik yang dituduhkan. Tidak menjanjikan atau memberi garansi akan keberhasilan upayanya. Apabila tuduhan kepada kesehatan merupakan criminal malpractice. dengan mengajukan bukti untuk menangkis/ menyangkal bahwa tuduhan yang diajukan tidak berdasar atau tidak menunjuk pada doktrin-doktrin yang ada. Hasil (outcome) negatif tidak dapat sebagai dasar menyalahkan tenaga perawatan. 2. Upaya pencegahan malpraktek : 1. 2. maka tenaga kesehatan seharusnyalah bersifat pasif dan pasien atau keluarganyalah yang aktif membuktikan kelalaian tenaga kesehatan. gugatan pasien . konsultasikan kepada senior atau dokter. keluarga dan masyarakat sekitarnya. Sebelum melakukan intervensi agar selalu dilakukan informed consent. Informal defence. Fakta itu terjadi memang berada dalam tanggung jawab tenaga perawatan c. c. Berbicara mengenai pembelaan. yakni melakukan pembelaan dengan mengajukan atau menunjuk pada doktrin-doktrin hukum. sehingga . Sebagai adagium dalam ilmu pengetahuan hukum. b. dengan mengajukan bukti bahwa yang dilakukan adalah pengaruh daya paksa.Tenaga perawatan untuk dapat dipersalahkan haruslah ada hubungan kausal (langsung) antara penyebab (causal) dan kerugian (damage) yang diderita oleh karenanya dan tidak ada peristiwa atau tindakan sela diantaranya. f. Fakta itu terjadi tanpa ada kontribusi dari pasien dengan perkataan lain tidak ada contributory negligence. Upaya menghadapi tuntutan hukum Apabila upaya kesehatan yang dilakukan kepada pasien tidak memuaskan sehingga perawat menghadapi tuntutan hukum. yakni dengan mengajukan fakta-fakta yang diderita olehnya sebagai hasil layanan perawatan (doktrin res ipsa loquitur). dan hal ini haruslah dibuktikan dengan jelas. maka pembuktiannya adanya kesalahan dibebankan/harus diberikan oleh si penggugat (pasien). Memperlakukan pasien secara manusiawi dengan memperhatikan segala kebutuhannya. akan tetapi merupakan risiko medik ( risk of treatment).. Mencatat semua tindakan yang dilakukan dalam rekam medis.

karena dalam peradilan perdata. Bahasa isyarat asala dapat diterima oleh pihak lawan . Untuk membuktikan adanya civil malpractice tidaklah mudah. Pada abad XVIII. dengan perkataan lain pasien atau pengacaranya harus membuktikan dalil sebagai dasar gugatan bahwa tergugat (perawat) bertanggung jawab atas derita (damage) yang dialami penggugat. Pada perkara perdata dalam tuduhan civil malpractice dimana perawat digugat membayar ganti rugi sejumlah uang. dan seorang ahli bedah yang melakukan suatu operasi tanpa izin pasiennya. di Inggris terjadi peristiwa penuntutan terhadap pembedahan atau operasi yang dilakukan tanpa persetujuan atau hak lain yang oleh pengadilan Inggris diputuskan ahli bedah bertanggung jawab atas battery. pihak yang mendalilkan harus membuktikan di pengadilan. dokter harus mendapatkan persetujuan dari pasien. antara lain dengan : 1. dikenal hak perorangan untuk bebas dari bahaya atau serangan yang menyentuhnya. and a surgeon who performs an operation without his patient`s consent commits an assault. Bahasa yang tidak sempurna asal dapat diterima oleh pihak lawan 4. dapat dianggap telah melanggar hukum. yang dilakukan adalah mementahkan dalil-dalil penggugat. utamanya tidak diketemukannya fakta yang dapat berbicara sendiri (res ipsa loquitur). Informed consent dari pasien dapat dilakukan. sedangkan yang harus membuktikan adalah orang-orang awam dibidang kesehatan dan hal inilah yang menguntungkan tenaga perawatan. setelah pasien mendapatkan informasi dari dokter mengenai upaya medis yang dapat dilakukan untuk menolong dirinya. Bahasa yang sempurna dan tertulis 2.1989) : Suatu kesepakatan / persetujuan pasien atas usaha medis yang akan dilakukan oleh dokter terhadap dirinya. Sejak munculnya kasus tersebut. Definisi informed consent (Komalawati. dimana ia bertanggung jawab atas segala kerusakan yang timbul). yaitu kejahatan atau perbuatan melawan hukum dengan menggunakan kekerasan atau paksaan terhadap orang lain. Definisi informed consent (Hanafiah. apalagi untuk membuktikan adanya tindakan menterlantarkan kewajiban (dereliction of duty) dan adanya hubungan langsung antara menterlantarkan kewajiban dengan adanya rusaknya kesehatan (damage). for which he is liable in damages (setiap manusia dewasa yang berpikiran sehat berhak untuk menentukan apa yang hendak dilakukan terhadap tubuhnya sendiri.yang sifatnya teknis pembelaan diserahkan kepadanya. Bahasa yang sempurna dengan lisan 3. Memahami dan menjelaskan informed consent Dalam hukum Inggris (common law). Dogma informed consent menurut Cardozo : Every human being of adult years and sound mind has aright to determine what shall be done with his own body. disertai informasi mngenai segala resiko yang mungkin terjadi.1999) : Persetujuan yang diberikan pasien kepada dokter setelah pasien menerima penjelasan. Bahaya yang disengaja yang timbul dari sengan lain yang menyentuhnya tanpa hak disebut BATTERY. maka ditetapkanlah suatu atutan bahwa didalam pelayanan medis.

Ayah / ibu 5. Kakak / adik yang sudah dewasa Menurut Catherine Tay Swee Kian (Fuady. Bentuk Informed consent dapat dibedakan menjadi 2 yaitu : 1. Sifat dan hakikat pengobatan yang dilakukan 3. Kemungkinan yang dapat timbul bila tindakan tidak dilakukan 6. Prognosis (ramalan) perjalanan penyakit yang diserita. Tersirat atau diangap telah diberikan ( implied or tacit consent).2005) . Nama operasi 2. menganjurkan informasi dengan mengacu kepada kasus operasi hendaknya dilengkapi dengan: 1. Perhitungan biaya pengobatan . Pihak yang telah diberikan surat kuasa 4. mengemukakan unsur-unsur yang harus diinformasikan oleh dokter kepada pasien meliputi : 1. Dengan pernyataan (expression). yaitu dalam keadaan normal dan dalam keadaan gawat darurat. Pihak wali atau kuratornya 2. Lamanya pengobatan 5. Prosedur yang akan dilakukan terhadap pasien 2.5. Resiko yang mungkin terjadi 3. yaitu dapat secara lisan (oral) dan dapat secra tertulis (written) 2. 7. Manfaat dari tindakan yang akan dilakukan 4. Diam atau membisu tetapi asal dipahami atau diterima oleh pihak lawan. Perkiraan biaya pengobatan Apabila pasien tidak kompeten maka informed consent dapat dimintakan kepada pihak yang berwenang yaitu : 1. Alternatif tindakan yang dapat dilakukan 5. Pihak suami atau istrinya 3. Anaknya yang sudah dewasa 6. Apa saja (organ atau jaringan tubuh bagian mana) yang akan dioperasi 4. Menurut Haryani (2005).

Suatu informed consent baru sah diberikan oleh pasien jika memenuhi minimal 3 (tiga) unsure sebagai berikut : Keterbukaan informasi yang cukup diberikan oleh dokter Kompetensi pasien dalam memberikan persetujuan Kesukarelaan (tanpa paksaan atau tekanan) dalam memberikan persetujuan. Persetujuan dengan isyarat. biasanya diperlukan untuk tindakan medis yang bersifat non-invasif dan tidak mengandung resiko tinggi. “informed consent” dirumuskan sebagai “suatu kesepakatan/persetujuan pasien atas upaya medis yang akan dilakukan dokter terhadap dirinya setelah memperoleh informasi dari dokter mengenai upaya medis yang dapat dilakukan untuk menolong dirinya disertai informasi mengenai segala resiko yang mungkin terjadi. yang diberikan oleh pihak pasien. langsung menyodorkan lengannya sebagai tanda menyetujui tindakan yang akan dilakukan terhadap dirinya. SH . Alternatif lain dari pengobatan yang bisa dilakukan 7. Persetujuan Lisan. Tingkat esuksesan operasi berdasar pengalaman dokter tersebut. sebagaimana ditegaskan dalam PerMenKes No. Resiko yang terjadi seandainya tindakan dilakukan dan resiko bila tindakan tidak dilakukan. Peringatan khusus terhadap hal-hal yang terjadi setelah operasi 11. 3. 319/PB/A. . Di Indonesia perkembangan “informed consent” secara yuridis formal.Kes/Per/IX/1989 Pasal 3 ayat (1) dan SK PB-IDI No. 585/Men.6. Keuntungan dari model pengobatan yang diberikan 12. yaitu : 1. Keterbatasan model pengobatan yang bersangkutan 13. 10. Apa saja yang mungkin akan dirasakan pasien pasca operasi. 319/PB/A. mengharuskan adanya persetujuan tertulis. Kemungkinan timbulnya rasa sakit 9. 2. 585 tahun 1989 tentang “Persetujuan Tindakan Medik atau Informed Consent”. Kemudian dipertegas lagi dengan PerMenKes No.4/88 pada tahun 1988. dokter selalu meminta persetujuan tertulis dari pihak pasien atau keluarganya sebelum tindakan operasi itu dilakukan.4/88 butir 3. yaitu intinya setiap tindakan medis yang mengandung resiko cukup besar. 14. Kemungkinan komplikasi (penyulit) yang bisa terjadi 8. Secara umum bentuk persetujuan yang diberikan pengguna jasa tindakan medis (pasien) kepada pihak pelaksana jasa tindakan medis (dokter) untuk melakukan tindakan medis dapat dibedakan menjadi tiga bentuk. dilakukan pasien melalui isyarat. Hal ini tidak berarti para dokter dan tenaga kesehatan di Indonesia tidak mengenal dan melaksanakan “informed consent” karena jauh sebelum itu telah ada kebiasaan pada pelaksanaan operatif. ditandai dengan munculnya pernyataan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tentang “informed consent” melalui SK PB-IDI No. Menurut D. biasanya diperlukan untuk tindakan medis yang mengandung resiko besar. misalnya pasien yang akan disuntik atau diperiksa tekanan darahnya. setelah sebelumnya pihak pasien memperoleh informasi yang adekuat tentang perlunya tindakan medis serta resiko yang berkaitan dengannya (telah terjadi informed consent). Persetujuan Tertulis. Veronika Komalawati.

Memberikan perlindungan hukum terhadap pelaksana tindakan medis dari tuntutan-tuntutan pihak pasien yang tidak wajar. tolok ukur yang digunakan . pelaksana dan pengguna jasa tindakan medis (dokter. sedangkan “jasa tindakan medis” sebagai “obyek hukum” yakni sesuatu yang bernilai dan bermanfaat bagi orang sebagai subyek hukum. Pada pelaksanaan tindakan medis. Sepanjang hal itu terjadi dalam batas-batas tertentu. Dalam masalah “informed consent” dokter sebagai pelaksana jasa tindakan medis. maka tidak dapat dipersalahkan. urgensi dari penerapan prinsip informed consent sangat terasa dalam kasus-kasus sebagai berikut : 1. kecuali jika melakukan kesalahan besar karena kelalaian (negligence) atau karena ketidaktahuan (ignorancy) yang sebenarnya tidak akan dilakukan demikian oleh teman sejawat lainnya.TUJUAN PELAKSANAAN INFORMED CONSENT Dalam hubungan antara pelaksana (dokter) dengan pengguna jasa tindakan medis (pasien). sebagai suatu proses edukasi masyarakat dalam bidang kedokteran dan kesehatan. Pada prinsipnya iformed consent deberikan di setiap pengobatan oleh dokter. dalam kasus-kasus di mana di samping mengobati. baik yang dilakukan satu pihak saja maupun oleh dua pihak. 4. bertujuan : Melindungi pengguna jasa tindakan medis (pasien) secara hukum dari segala tindakan medis yang dilakukan tanpa sepengetahuannya. ASPEK HUKUM INFORMED CONSENT Dalam hubungan hukum. dalam kasus-kasus penolakan pengobatan oleh klien 5. disamping terikat oleh KODEKI (Kode Etik Kedokteran Indonesia) bagi dokter. seperti terapi dengan sinar laser. masalah etik dan hukum perdata. maupun tindakan pelaksana jasa tindakan medis yang sewenangwenang. sepanjang hal itu dapat diterapkan. Penghormatan terhadap harkat dan martabat pasien selaku manusia 2. dan akan terjadi perbuatan hukum yaitu perbuatan yang akibatnya diatur oleh hukum. maka pelaksanaan “informed consent”. dokter juga melakukan riset dan eksperimen dengan berobjekan pasien. hukum pidana maupun hukum administrasi. dalam kasus-kasus yang menyangkut dengan pengobatan yang memakai teknologi baru yang sepenuhnya belum dpahami efek sampingnya. misalnya terhadap “risk of treatment” yang tak mungkin dihindarkan walaupun dokter telah bertindak hati-hati dan teliti serta sesuai dengan standar profesi medik. Akan tetapi. dan pasien) bertindak sebagai “subyek hukum ” yakni orang yang mempunyai hak dan kewajiban. serta akibat tindakan medis yang tak terduga dan bersifat negatif. promosi terhadap hak untuk menentukan nasibnya sendiri 3. dll. juga tetap tidak dapat melepaskan diri dari ketentuan-ketentuan hukun perdata. dalam kasus-kasus yang memakai terapi atau obat yang kemungkinan banyak efek samping. tindakan malpraktek yang bertentangan dengan hak asasi pasien dan standar profesi medis. dalam kasus-kasus yang menyangkut dengan pembedahan/operasi 2. serta penyalahgunaan alat canggih yang memerlukan biaya tinggi atau “over utilization” yang sebenarnya tidak perlu dan tidak ada alasan medisnya. 3. menghindari penipuan dan misleading oleh dokter 5. mendorong keterlibatan publik dalam masalah kedokteran dan kesehatan 7. Perlunya dimintakan informed consent dari pasien karena informed consent mempunyai beberapa fungsi sebagai berikut : 1. untuk mendorong dokter melakukan kehati-hatian dalam mengobati pasien 4. mendorong diambil keputusan yang lebih rasional 6.

Sejarah awal istilah yang digunakan untuk menyebut catatan data–data pasien yang berkaitan dengan perawatan tesehatan adalah istilah patient record. Aspek Hukum Pidana. Rekam medis perdefinisi adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien. Hal ini karena pasien mempunyai hak atas tubuhnya. Masih banyak seluk beluk dari informed consent ini sifatnya relative. Sebagai salah satu pelaksana jasa tindakan medis dokter harus menyadari bahwa “informed consent” benar-benar dapat menjamin terlaksananya hubungan hukum antara pihak pasien dengan dokter. Oleh karena itu adanya kesalahan kecil (ringan) pada pelaksanaan tindakan medis belum dapat dipakai sebagai tolok ukur untuk menjatuhkan sanksi pidana. Sedangkan pada masalah hukum pidana. sehingga dokter dan harus menghormatinya. suatu tindakan medis yang dilakukan oleh pelaksana jasa tindakan medis (dokter) tanpa adanya persetujuan dari pihak pengguna jasa tindakan medis (pasien). Hal ini disebabkan pada hukum perdata secara umum berlaku adagium “barang siapa merugikan orang lain harus memberikan ganti rugi”. pemeriksaan Dalam pelayanan kedokteran di tempat praktek maupun di Rumah Sakit yang standar. Memahami dan menjelaskan rekam medis Definisi Rekam Medis Latar Belakang Informasi kesehatan telah banyak mengalami perkembangan dalam beberapa tahun terakhir ini. sehingga jika terjadi kesalahan kecil dalam tindakan medis yang merugikan pasien. Berkaitan dengan itu.adalah “kesalahan kecil” (culpa levis). kemudian lebih umum digunakan istilah medical record dan kemudian dibuat klasifikasi untuk berbagai jenis catatan atau rekaman data kesehatan seseorang. Hampir keseluruhan konsep tentang apa informasi kesehatan telah kembali di definisikan. atas dasar saling memenuhi hak dan kewajiban masing-masing pihak yang seimbang dan dapat dipertanggungjawabkan. maka dokter sebagai pelaksana tindakan medis dapat dipersalahkan dan digugat telah melakukan suatu perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad) berdasarkan Pasal 1365 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPer). Suatu tindakan invasive (misalnya pembedahan. Aspek Hukum Perdata. “informed consent” mutlak harus dipenuhi dengan adanya pasal 351 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang penganiayaan. maka pelaksana jasa tindakan medis dapat dituntut telah melakukan tindak pidana penganiayaan yaitu telah melakukan pelanggaran terhadap Pasal 351 KUHP. sedangkan pasien dalam keadaan sadar penuh dan mampu memberikan persetujuan. peran seorang manajer informasi kesehatan harus terus pula dikembangkan untuk mendukung tugas dan tuntutan baru ini. Hal tersebut sulit untuk ditetapkan secara pasti dan dasar teoritis-yuridisnya juga belum mantap. Berkas ini merupakan suatu . sehingga diperlukan pengkajian yang lebih mendalam lagi terhadap masalah hukum yang berkenaan dengan informed consent ini. tindakan radiology invasive) yang dilakukan pelaksana jasa tindakan medis tanpa adanya izin dari pihak pasien. maka sudah dapat dimintakan pertanggungjawabannya secara hukum. Rekam Kesehatan atau Medical Record. Kemampuan mengelola rekam medis multimedia merupakan perkembangan alamiah dari profesi informasi kesehatan. misalnya tidak mudah untuk menentukan apakah suatu inforamsi sudah atau belum cukup diberikan oleh dokter. dokter membuat catatan mengenai berbagai informasi mengenai pasien tersebut dalam suatu berkas yang dikenal sebagai Status. tolok ukur yang dipergunakan adalah “kesalahan berat” (culpa lata). Rekam Medis.

Rekam Medis adalah Keterangan baik yang tertulis maupun yang terekam tentang identitas.Bukti pelayanan 3.pemeriksaan.Rekam medis adalah berkas yang berisi catatan mengenai identitas pasien.IDI Sebagai rekamam dalam bentuk tulisan dan aktivitas pelayanan yang di berikan oleh pelayanan medik. dengan teknolog komputerisasi.termasuk keadaan sakit.Menurut Permenkes No. RRA (1994) Rekam medis adalah rekamam atau catatan mengenai siapa. data medis terkumpul menjadi satu database. dokter.Mendokumentasikan faktor resiko pasien C. 749a/Permenkes/XII/1989.Menganalisis kegawatan penyakit . Bagi pihak pemberi pelayanan kesehatan 1. 5. antara lain: 1.dan pelayanan lainnya.berkas yang memiliki arti penting bagi pasien. Seiring perkembangan teknologi informasi rekam medis berkembang menjadi rekam kesehatan yang sebelumnya data medis terpisah – pisah pada masing – masing pasien.Sarana pengikat klinisi 3.Menghasilkan rencana pelayanan 6. pemeriksaan fisik.Edna K.tindakan yang telag di berikan kepada pasien. 2. 3. Rekam medis bukanlan suatu kata kerja. Banyak sekali pakar yang mendefinisikan rekam medis.pengobatan.Mencatat jenis pelayanan yang di terima 2.Membantu kelanjutan pelayanan 2. 4. dan bagaimana pelayanan yang di berikan kepada pasien selama masa perawatan yang memuat pengetahuan mengenai pasien dan pelayanan yang di peroleh serta memuat informasi yang cukup untuk mengidentifikasi pasien membenarkan diagnosis dan pengobatan serta merekam hasilnya. Kuffman.bilamana. tenaga kesebatan serta Rumah Sakit.Waters dan Murphy Kompendiun yang berisi informasi tentang keadaan pasien selama perawatan atau selama pemeliharaan pasien.pengobatan. B.Menunjang pelayanan pasien 4. mengapa.Depkes RI (2008) Rekam medis adalah berkas yang berisi catatan dan dokumen identitas pasien. rawat jalan maupun yang mendapatkan pelayanan gawat darurat. Bagi pasien 1. 6.Menurut Gemala Hatta Rekam medis merupakan kumpulan fakta tentang kehidupan seseorang dan riwayat penyakitnya. Bagi manajemen pelayanan pasien 1.Mengetahui biaya pelayanan. Tujuan Rekam Medis’ “Menunjang tercapainya tertib administrasi dalam rangka upaya peningkatan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit” Tujuan primer rekam medis: A.tindakan. atau lebih mengarah ke kata benda. apa. diagnosa serta segala pelayanan dan tindakan medis yang diberikan kepada pasien.hasil pemeriksaan.Mendokumentasikan pelayanan pasien 5. laboratorium. anamnesa. dan pengobatan baik yang dirawat inap. pengobatan saat ini dan pengobatan masa lampau.

Mengembangkan 2.Melaksanakan Riset dan pengembangan 2.Merumuskan pedoman praktik penanganan resiko 3. perawat.Merencanakan strategi pemasaran Penggunaan Rekam Medis 1. 1.Melaksanakan kegiatan menjaga mutu 4.Studi 5.Menetapkan biaya yang harus di bayar Tujuan Sekunder rekam medis : A.2.Bahan pengajaran 2.Mengajukan klaim asuransi 2.Bukti pengajuan perkara 2.Menilai kepatuhan sesuai 4.Menangani Pengeluaran 3.Membandingkan Organisasi C. Pihak pengganti biaya pelayanan: Intansi.Menilai beban kerja 3.Alokasi sumber 2.Memberikan corak dalam menggunakan sarana pelayanan D. bagi penunjang pelayanan pasien 1.Mengkomunikasikan informasi berbagai unit kerja E.Mengalokasikan 2.Melaporkan pengeluaran 4.Membantu pemasaran 3.Menilai 4. 1.Mengidentifikasi D. Provider: Penyedia pelayanan kesehatan. Manajemen pelayanan: Ketua Rumah Sakit 4.Menyiapkan sesi pertemuan dan presentasi 3.Melaksanakan 3. Edukasi 1. Peraturan 1. Bagi pembayaran dan penggantian biaya 1. Riset produk riset Teknologi keluaran populasi Pengambilan sumber rencana kesehatan Industri pasien yang kebijakan – sumber strategis masyarakat beresiko baru klinis pengadilan pengawasan standar pelayanan pelayanan kesehatan ke 1. Konsumen: Pasien dan Keluarga pasien 3. dll 2.Mendokumentasikan pengalaman profesional di bidang kesehatan B. seperti dokter. keluarga pasien .Memonitor E.Melaksanakan 3.

diagnose dan tindakan yang diberikan oleh pasien dari pelayana medik. 5. 3. Pengacara. tetapi menurut sebagian lainnya merupakan data yang juga bersifat rahasia (confidensial). Secara umum isi Rekam Medis dapat dibagi dalam dua kelompok data yaitu: 1. hasil pemeriksaan laboratorium. yaitu : . 2. Akreditor 6. termasuk data tentang identitas dan data medis seorang pasien. Aspek Hukum. Aspek Pendidikan. 2. 7. menyangkut sumber ingatan yang harus didokumentasikan dan dipakai sebagai bahan pertanggungjawaban dan laporan Rumah Sakit. hasil pemeriksaan fisik. pengobatan serta hasilnya. Tujuan Rekam Medis “Menunjang tercapainya tertib administrasi dalam rangka upaya peningkatan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit” Fungsi Rekam Medis. Peneliti. Pihak pengganti biaya pelayanan: Intansi. perawat. yaitu : 1. menyangkut data dan informasi yang dapat digunakan sebagai aspek pendukung penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dibidang kesehatan.5. perawat. Provider: Penyedia pelayanan kesehatan. Akreditor Fungsi Rekam Medis. Pengacara. data sosial ekonomi. Aspek Administrasi. dll 2. Data sosiologis atau data non-medis Yang termasuk data ini adalah segala data lain yang tidak berkaitan langsung dengan data medis. sebagai dasar untuk merencanakan pengobatan/ perawatan yang diberikan kepada pasien. ronsen dsb. Lain-lain: Polisi. KESIMPULAN Rekam Medis adalah Suatu berkas yang berisi tentang identitas pasien dari hasil pengobatan. Pengadilan. menyangkut masalah adanya jaminan kepastian hukum atas dasar keadilan. Tujuan Rekam Medis 7. Pengadilan. mengandung data/informasi yang dapat digunakan dalam aspek keuangan. Data-data ini merupakan data yang bersifat rahasia (confidential) sebingga tidak dapat dibuka kepada pibak ketiga tanpa izin dari pasien yang bersangkutan kecuali jika ada alasan lain berdasarkan peraturan atau perundang-undangan yang memaksa dibukanya informasi tersebut. seperti dokter. Aspek Keuangan. Lain-lain: Polisi. Isi Rekam Medis Isi Rekam Medis merupakan catatan keadaan tubuh dan kesehatan. seperti data identitas. alamat dsb. Data medis atau data klinis Yang termasuk data medis adalah segala data tentang riwayat penyakit. Penggunaan Rekam Medis 1. Aspek Penelitian. Manajemen pelayanan: Ketua Rumah Sakit 4. laporan dokter. Aspek Dokumentasi. Peneliti. Aspek Medis. Data ini oleh sebagian orang dianggap bukan rahasia. keluarga pasien 5. menyangkut data / informasi tentang perkembangan kronologis dan kegiatan pelayanan medis. 6. Konsumen: Pasien dan Keluarga pasien 3. menyangkut tindakan berdasarkan wewenang dan tanggung jawab sebagai tenaga medis dan paramedis dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan. diagnosis. 4.

menyangkut sumber ingatan yang harus didokumentasikan dan dipakai sebagai bahan pertanggungjawaban dan laporan Rumah Sakit. menyangkut masalah adanya jaminan kepastian hukum atas dasar keadilan.1. 2. Aspek Hukum. Aspek Keuangan. menyangkut data / informasi tentang perkembangan kronologis dan kegiatan pelayanan medis. Aspek Dokumentasi. Aspek Pendidikan. . 3. 4. mengandung data/informasi yang dapat digunakan dalam aspek keuangan. sebagai dasar untuk merencanakan pengobatan/ perawatan yang diberikan kepada pasien. Aspek Medis. 7. 6. menyangkut data dan informasi yang dapat digunakan sebagai aspek pendukung penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dibidang kesehatan. Aspek Administrasi. 5. menyangkut tindakan berdasarkan wewenang dan tanggung jawab sebagai tenaga medis dan paramedis dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan. Aspek Penelitian.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful