MAKALAH PERPAJAKAN “PAJAK DAERAH DAN PAJAK LAINNYA (MATERAI, PBB DAN BPHTB)”

Disusun Oleh Kelompok 3:

1. M. Adhiatmaja Fredyra Pangastika 2. Precilia Prima Queena

12030112220061 12030112220044

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI UNIVERSITAS DIPONEGORO 2013

BAB I PENDAHULUAN

Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan, Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi terdiri atas daerah-daerah kabupaten dan kota. Tiap-tiap daerah tersebut mempunyai hak dan kewajiban mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat. Untuk menyelenggarakan pemerintahan tersebut, Daerah berhak mengenakan pungutan kepada masyarakat. Pajak daerah merupakan pungutan wajib yang dikenakan oleh pemerintah daerah kepada penduduk yang mendiami wilayah yurisdiksinya, tanpa langsung memperoleh kontraprestasi yang diberikan oleh pemerintah daerah yang memungut pungutan wajib yang dibayarkan tersebut. Pajak daerah ini diatur dalam peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah yang disetujui oleh lembaga perwakilan rakyat daerah serta dipungut oleh lembaga yang berada di dalam struktur pemerintah daerah yang bersangkutan. Selain itu pemungutan pajak ini juga berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menempatkan perpajakan sebagai salah satu perwujudan kenegaraan, ditegaskan bahwa penempatan beban kepada rakyat, seperti pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa diatur dengan Undang-Undang. Pajak dan retribusi daerah sebagai sumber penerimaan daerah telah dipungut di Indonesia sejak awal kemerdekaan Indonesia. Sumber penerimaan ini terus dipertahankan sampai dengan era otonomi daerah dewasa ini. Penetapan pajak dan retribusi daerah sebagai sumber

penerimaan daerah ditetapkan dengan dasar hukum yang kuat, yaitu dengan undang-undang, khususnya undang-undang tentang pemerintahan daerah maupun tentang perimbangan keuangan antara pusat dan daerah. Penetapan pajak dan retribusi daerah sebagai sumber penerimaan daerah sesuai dengan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan daerah dan Undang-undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan daerah menetapkan bahwa penerimaan daerah dalam pelaksanaan desentralisasi terdiri atas pendapatan

daerah dan pembiayaan. Pendapatan daerah bersumber dari tiga kelompok sebagaimana di bawah ini: 1. Pendapatan Asli Daerah (PAD), yaitu pendapatan yang diperoleh daerah dan dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan meliputi: a. pajak daerah; b. Retribusi daerah, termasuk hasil dari pelayanan badan layanan umum (BLU) daerah; c. Hasil pengelolaan kekayaan pisahkan , antara lain bagian laba dari BUMD, hasil kerjasama dengan pihak ketiga dan d. Lain-lain PAD yang sah. 2. Dana perimbangan yaitu dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. 3. lain-lain pendapatan daerah yang sah. Sumber pendapatan daerah yang kedua yaitu pembiayaan yang bersumber dari : 1. sisa lebih perhitungan anggaran daerah; 2. penerimaan pinjaman daerah; 3. dana cadangan daerah dan 4. hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan

dan subjek pajak. peraturan daerah tentang suatu pajak daerah dapat mengatur ketentuan mengenai beberapa hal lainnya. e. Penetapan pajak. f. h. Masa pajak. Peraturan daerah tentang suatu pajak daerah tidak dapat berlaku surut dan tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum dan atau ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. d. 1. Undang-undang Nomor 34 tahun 2000 mengatur dengan jelas bahwa untuk dapat dipungut pada suatu daerah. Kedaluwarsa penagihan pajak.BAB II PEMBAHASAN PENERAPAN PAJAK DAERAH DAN PERATURAN DAERAH TENTANG PAJAK DAERAH Peraturan Daerah tentang Pajak Daerah. Nama. kabupaten. atau kota harus terlebih dahulu ditetapkan peraturan daerah tentang pajak daerah tersebut. c. Tata cara pembayaran dan penagihan pajak. objek. Wilayah pemungutan. setiap jenis pajak daerah harus ditetapkan dengan peraturan daerah. Sanksi administrasi. g. Tanggal mulai berlakunya pajak. yaitu: . b. Peraturan daerah tentang suatu pajak daerah diundangkan dalam lembaran daerah yang bersangkutan. Dasar pengenaan. i. Hal ini berarti untuk dapat ditetapkan dan dipungut pada suatu daerah provinsi. tarif dan cara penghitungan pajak. Isi Peraturan Daerah tentang Pajak Daerah Peraturan daerah tersebut sekurang-kurangnya mengatur ketentuan mengenai: a. Selain ketentuan pokok tersebut.

Penetapan jangka waktu satu bulan dilakukan dengan pertimbangan untuk mengurangi dampak negatif dari pembatalan peraturan daerah tersebut. keringanan dan pembebasan dalam hal-hal tertentu atas pokok pajak dan atau sanksinya. Untuk menetapkan jenis pajak daerah. pemberian pengurangan. Jika peraturan daerah bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi. Pembatalan peraturan daerah dilakukan paling lama satu bulan sejak diterimanya peraturan daerah yang dimaksud. tata cara penghapusan piutang pajak yang kedaluwarsa dan c. b.Penetapan ini telah mempertimbangkan administrasi pengiriman peraturan daerah dari daerah yang tergolong jauh. keringanan dan pembebasan pajak daerah dapat diberikan kepada korps diplomatik. pemerintah daerah mengkaji secara cermat dasar pengenaan pajak. Dalam hal ini peraturan daerah tersebut disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan. 2.a. peraturan daerah yang menetapkan pajak daerah disampaikan kepada pemerintah pusat paling lama lima belas hari setelah ditetapkan. Sesuai dengan kelaziman internasional. Pejabat pemerintah pusat yang diberi kewenangan untuk membatalkan peraturan daerah adalah Menteri Dalam Negeri setelah mendapat pertimbangan dari Menteri Keuangan. asas timbal balik. Kontrol sosial dari masyarakat tentunya akan turut menentukan penetapan pajak daerah yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. yang dapat diberikan dengan mempertimbangkan antara lain kemampuan membayar wajib pajak. Sistem pemungutan pajak Daerah Pemungutan pajak daerah saat ini menggunakan tiga sistem pemungutan pajak yaitu: a. Sistem ini merupakan perwujudan dari sistem self assessment yaitu sistem pengenaan pajak yang memberi kepercayaan kepada wajib pajak . dibayar sendiri oleh wajib pajak. pengurangan. Pengawasan Peraturan Daerah tentang Pajak Daerah Dalam rangka pengawasan. PEMUNGUTAN PAJAK 1. pemerintah pusat dapat membatalkan peraturan daerah yang dimaksud.

Apabila wajib pajak yang diberi kepercayaan menghitung. Dipungut oleh pemungut pajak. pemungutan pajak daerah tidak dapat diborongkan artinya seluruh proses kegiatan pemungutan pajak tidak dapat diserahkan kepada pihak ketiga. antara lain PLN yang telah ditetapkan berdasar PP Nomor 65 Tahun 2001 tentang pajak Daerah sebagai pemungut Pajak Penerangan jalan atas penggunaan tenaga listrik yang disediakan PLN. b. wajib pajak memenuhi kewajiban pajak yang dibayar sendiri dengan menggunakan Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTPD). Dokumen lain yang dipersamakan antara lain berupa karcis dan nota perhitungan. a. membayar dan melaporkan sendiri pajak yang terutang tidak memenuhi kewajibannya kepadanya dapat diterbitkan SKPDKB dan atau SKPDKBT yang menjadi sarana penagihan pajak. b. 2. diwajibkan melaporkan pajak yang terutang dengan menggunakan SPTPD. Secara umum. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar (SKPDKB) dan atau Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan (SKPDKBT). sistem yang digunakan dalam pemunguan pajak daerah adalah sistem self assessment dan official assessment. memperhitungkan. c. Pada cara pertama pajak dibayar oleh wajib pajak setelah terlebih dahulu ditetapkan oleh kepala daerah melalui Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD) atau dokumen lain yang dipersamakan. membayar dan melaporkan sendiri pajak yang terutang dengan menggunakan Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTPD). Pada cara kedua yaitu pajak dibayar sendiri oleh wajib pajak.untuk menghitung. Sistem ini merupakan perwujudan dari sistem with holding yaitu sistem pengenaan pajak yang dipungut oleh pemungut pajak pada sumbernya. Pemungutan Pajak Daerah Dalam pelaksanaannya. Wajib pajak yang memenuhi kewajibannya dengan cara membayar sendiri. . Sistem ini merupakan perwujudan dari sistem official assessment yaitu sistem pengenaan pajak yang dibayar oleh wajib pajak setelah terlebih dahulu ditetapkan oleh kepala daerah atau pejabat yang ditunjuk melalui Surat Ketetapan Pajak Daerah atau dokumen lain yang dipersamakan. memperhitungkan. Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD). Ditetapkan oleh kepala daerah.

Undang-Undang Dasar 1945 telah menetapkan pada pasal 23 A yang . Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah e. antara lain pencetakan formulir perpajakan. Wajib Pajak daerah adalah orang pribadi atau badan yang menurut peraturan perundang-undangan perpajakan daerah diwajibkan untuk melakukan pembayaran pajak yang terutang. Kegiatan yang tidak dapat dikerjasamakan dengan pihak ketiga adalah kegiatan penghitungan besarnya pajak yang terutang. Dalam hal pemungutan retribusi daerah. Undang-Undang Darurat Nomor 11 Tahun 1957 tentang Peraturan Umum Pajak Daerah b. PAJAK DAN RETRIBUSI DAERAH Pajak Daerah Pajak Daerah adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada Daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang. PP No. Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah d.Walaupun dimungkinkan adanya kerjasama dengan pihak ketiga dalam proses pemungutan pajak. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah c. yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah Retribusi Daerah Retribusi Daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan. Subjek Pajak Daerah adalah orang pribadi atau badan yang dapat dikenakan pajak daerah. pengiriman surat-surat kepada wajib pajak atau penghimpunan data objek dan subjek pajak. yang digunakan untuk membiayai menyelenggarakan pemerintahan daerah dan pembangunan daerah. Peraturan perundang-undangan yang mendasari pemungutan Pajak Daerah adalah sebagai berikut : a. pengawasan penyetoran pajak dan penagihan pajak. termasuk pemungut atau pemotong pajak tertentu.menyebutkan bahwa :”Pajak & pungutan lain yang bersifat memaksa .

untuk keperluan negara diatur dengan undang-undang”. Selain itu, dalam pemungutan Retribusi Daerah juga diatur dalam peraturan perundang-undangan sebagai berikut : a. Undang-Undang Darurat Nomor 11 Tahun 1957 tentang Peraturan Umum Pajak Daerah b. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah c. Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah d. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah e. PP No. 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah Menurut UU Nomor 28 tahun 2009 pasal 108 tentang Objek dan Golongan Retribusi, dikelompokan menjadi 3 golongan, yaitu :

1.

Jasa Umum Objek Retribusi Jasa Umum adalah pelayanan yang disediakan atau diberikan Pemerintah

Daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau Badan. Menurut UU Nomor 28 tahun 2009 pasal 110 ayat 1 tentang Jenis Retribusi Jasa Umum adalah: a) Retribusi Pelayanan Kesehatan b) Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan c) Retribusi Penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda Penduduk dan Akta Catatan Sipil d) Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat e) Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum f) Retribusi Pelayanan Pasar g) Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor h) Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran i) Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta j) Retribusi Penyediaan dan/atau Penyedotan Kakus k) Retribusi Pengolahan Limbah Cair l) Retribusi Pelayanan Tera/Tera Ulang m) Retribusi Pelayanan Pendidikan n) Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi

2.

Jasa Usaha Objek Retribusi Jasa Usaha adalah pelayanan yang disediakan oleh Pemerintah Daerah

dengan menganut prinsip komersial yang meliputi:  pelayanan dengan menggunakan/memanfaatkan kekayaan Daerah yang belum dimanfaatkan secara optimal; dan/atau  pelayanan oleh Pemerintah Daerah sepanjang belum disediakan secara memadai oleh pihak swasta. Menurut UU Nomor 28 tahun 2009 pasal 127 tentang Jenis Retribusi Jasa Usaha adalah: a) Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah b) Retribusi Pasar Grosir dan/atau Pertokoan c) Retribusi Tempat Pelelangan d) Retribusi Terminal e) Retribusi Tempat Khusus Parkir f) Retribusi Tempat Penginapan/Pesanggrahan/Villa g) Retribusi Rumah Potong Hewan h) Retribusi Pelayanan Kepelabuhanan i) Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga j) Retribusi Penyeberangan di Air; dan k) Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah

3.

Perizinan Tertentu Objek Retribusi Perizinan Tertentu adalah pelayanan perizinan tertentu oleh Pemerintah

Daerah kepada orang pribadi atau Badan yang dimaksudkan untuk pengaturan dan pengawasan atas kegiatan pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam, barang, prasarana, sarana, atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan. Menurut UU Nomor 28 tahun 2009 pasal 141 tentang Jenis Retribusi Perizinan Tertentu adalah: a) Retribusi Izin Mendirikan Bangunan b) Retribusi Izin Tempat Penjualan Minuman Beralkohol c) Retribusi Izin Gangguan d) Retribusi Izin Trayek

PERANAN PAJAK DAERAH DALAM PEMBANGUNAN

Contoh Pajak Daerah Menurut Undang - Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sebagai pengganti dari Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 dan Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000, menjelaskan bahwa pajak daerah dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu : a. Pajak Daerah Tingkat I (Propinsi) 1) Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air 2) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air 3) Pajak Bahan Bakar Kendaraan 4) Pajak Air Permukaan (Pengambilan dan pemanfaatan air di bawah tanah dan air di permukaan) 5) Pajak Rokok. b. Pajak Daerah Tingkat II (Kota/Kotamadya/Kabupaten) 1) Pajak Hotel 2) Pajak Restoran 3) Pajak Hiburan 4) Pajak Reklame 5) Pajak Penerangan Jalan 6) Pajak Bahan Penggalian Golongan C 7) Pajak Parkir 8) PBB Perdesaan dan Perkotaan 9) BPHTB (Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan) 10) Pajak Sarang Burung Walet 11) Pajak Air Tanah (Pengambilan dan pemanfaatan air di bawah tanah dan air di permukaan)

Pajak Daerah Tingkat I (Propinsi) 1) Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air Menurut UU No. 28 Tahun 2009 Pasal 1 ayat 12 Pajak Kendaraan Bermotor adalah “pajak atas kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan bermotor”. Dan dalam pasal 1 ayat 13

. yaitu :  nilai jual kendaraan bermotor dan  bobot yang mencerminkan secara relatif tingkat kerusakan jalan dan/atau pencemaran lingkungan akibat penggunaan Kendaraan Bermotor. Untuk Pasal 4 ayat 1 menjelaskan tentang siapa subjek pajak kendaraan bermotor adalah orang pribadi atau Badan yang memiliki dan/atau menguasai Kendaraan Bermotor.Kendaraan Bermotor adalah “semua kendaraan beroda beserta gandengannya yang digunakan di semua jenis jalan darat. termasuk alat-alat berat dan alat-alat besar serta kendaraan di air. termasuk alat-alat berat dan alat-alat besar yang dalam operasinya menggunakan roda dan motor dan tidak melekat secara permanen serta kendaraan bermotor yang dioperasikan di air”. dan digerakkan oleh peralatan teknik berupa motor atau peralatan lainnya yang berfungsi untuk mengubah suatu sumber daya energi tertentu menjadi tenaga gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan. konsulat. perwakilan negara asing dengan asas timbal balik dan lembaga-lembaga internasional yang memperoleh fasilitas pembebasan pajak dari Pemerintah  objek Pajak lainnya yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah. Untuk menentukan Nilai jual ini ditentukan berdasarkan Harga Pasaran Umum pada minggu pertama bulan Desember tahun pajak sebelumnya atas suatu kendaraan bermotor. Dan di ayat 2 dispesifikan kembali tentang Wajib Pajak Kendaraan Bermotor adalah orang pribadi atau Badan yang memiliki Kendaraan Bermotor. Dan khusus untuk Kendaraan Bermotor yang digunakan di luar jalan umum. Objek Pajak Kendaraan Bermotor sendiri diatur dalam pasal 3 ayat 1 yang menyatakan bahwa. Dalam dasar pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor adalah hasil perkalian dari 2 (dua) unsur pokok.2 menjelaskan tentang Subjek Pajak Kendaraan Bermotor. Objek pajak ini ada pengecualiannya (pasal 3 ayat 3). seperti :  kereta api  kendaraan bermotor yang semata-mata digunakan untuk keperluan pertahanan dan keamanan negara  kendaraan bermotor yang dimiliki dan/atau dikuasai kedutaan. dalam pasal 4 ayat 1 . dasar pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor adalah Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Selanjutnya. objek pajak kendaraan bermotor adalah kepemilikan dan/atau penguasaan Kendaraan Bermotor.

keagamaan. untuk kepemilikan Kendaraan Bermotor pertama paling rendah sebesar 1% (satu persen) dan paling tinggi sebesar 2% (dua persen). Pemerintah/ ” UU No. 28 Tahun 2009 pasal 6 ayat 1”  Kepemilikan Kendaraan Bermotor didasarkan atas nama dan/atau alamat yang sama (UU No. keagamaan. lembaga sosial dan persen). yaitu : No 1 Jenis Kendaraan Bermotor Pribadi Tarif a. tukar menukar. .2% (nol koma dua persen). 28 Tahun 2009 pasal 6 ayat 3” Pemda.Tarif Pajak Kendaraan Bermotor digolongkan menjadi 3. b. atau pemasukan ke dalam badan usaha”. 28 Tahun 2009 pasal 6 ayat 2) 2 angkutan pemadam umum. untuk kepemilikan Kendaraan Bermotor kedua dan seterusnya tarif dapat ditetapkan secara progresif paling rendah sebesar 2% (dua persen) dan paling tinggi sebesar 10% (sepuluh persen). warisan. ambulans. 28 Tahun 2009 pasal 6 ayat 4” 2) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air Dalam UU No.5% (nol koma sosial lima persen) dan paling tinggi sebesar 1% (satu kebakaran. 28 Tahun 2009 pasal 1 ayat 14 Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor adalah “pajak atas penyerahan hak milik kendaraan bermotor sebagai akibat perjanjian dua pihak atau perbuatan sepihak atau keadaan yang terjadi karena jual beli. dan Kendaraan lain yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah 3 alat-alat berat dan alat-alat besar ditetapkan paling rendah sebesar 0. hibah. ditetapkan paling rendah sebesar 0. ”UU No. ” UU No. TNI/POLRI.1% (nol koma satu persen) dan paling tinggi sebesar 0.

075% (nol koma nol tujuh puluh lima persen). yang menyatakan subjek pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor adalah orang pribadi atau Badan yang dapat menerima penyerahan Kendaraan Bermotor.75% (nol koma tujuh puluh lima persen)  penyerahan kedua dan seterusnya sebesar 0. (UU No. konsulat. Selain itu Bea balik nama . yaitu : a) Tarif Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor ditetapkan paling tinggi masing-masing sebagai berikut :  penyerahan pertama sebesar 20% (dua puluh persen)  penyerahan kedua dan seterusnya sebesar 1% (satu persen) (UU No. Dalam menentukan subjek pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor diatur dalam pasal 10 ayat 1. Dan di ayat 2 disebutkan bahwa Wajib Pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor adalah orang pribadi atau Badan yang menerima penyerahan Kendaraan Bermotor.Objek Pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor diatur dalam pasal 9 ayat 1 yang menyatakan bahwa objek pajak bea balik nama kendaraan bermotor adalah penyerahan kepemilikan Kendaraan Bermotor dengan pengecualian (pasal 9 ayat 3) sebagai berikut :  kereta api  Kendaraan Bermotor yang semata-mata digunakan untuk keperluan pertahanan dan keamanan Negara  Kendaraan Bermotor yang dimiliki dan/atau dikuasai kedutaan. 28 Tahun 2009 pasal 12 ayat 2) Dan tarif ini ditentukan oleh Peraturan Daerah oleh karena itu. 28 Tahun 2009 pasal 12 ayat 1) b) Khusus untuk Kendaraan Bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar yang tidak menggunakan jalan umum tarif pajak ditetapkan paling tinggi masing-masing sebagai berikut:  penyerahan pertama sebesar 0.tiap daerah. Pengenaan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor ini didasarkan dari nilai jual kendaraan bermotor. perwakilan negara asing dengan asas timbal balik dan lembaga-lembaga internasional yang memperoleh fasilitas pembebasan pajak dari Pemerintah  objek pajak lainnya yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah. Dan tarifnya dibedakan menjadi 2 macam. tarif ini akan berbeda disetiap daerahnya sesuai peraturan yang berlaku di tiap .

dan tahun penyerahan  nomor polisi kendaraan bermotor  lampiran fotokopi Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor  khusus untuk kendaraan di air ditambahkan pas dan nomor pas kapal 3) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor adalah pajak atas penggunaan bahan bakar kendaraan bermotor (UU No. Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Umum (SPBU). Premium Solar Packed Dealer (PSPD). 28 Tahun 2009 Pasal 17 ayat 1). termasuk bahan bakar yang digunakan untuk kendaraan di air. Agen Premium dan Minyak Solar (APMS). Sedangkan untuk Wajib Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor adalah orang pribadi atau Badan yang menggunakan Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (UU No. Subjek Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor adalah konsumen Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (UU No. antara lain. bulan. Seorang wajib pajak bea balik nama kendaraan bermotor wajib mendaftarkan penyerahan Kendaraan Bermotor dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja sejak saat penyerahan (UU No. Stasiun Pengisian Bahan Bakar Bunker . Dan dalam pemungutan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor dilakukan oleh produsen dan/atau importir atau nama lain sejenis atas bahan bakar yang disalurkan atau dijual kepada:  Lembaga penyalur. 28 Tahun 2009 pasal 14). penyerahan (UU No. (UU No. Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk TNI/POLRI. Sedangkan. Objek Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor adalah Bahan Bakar Kendaraan Bermotor yang disediakan atau dianggap digunakan untuk kendaraan bermotor. 28 Tahun 2009 Pasal 1 ayat 15). 28 Tahun 2009 pasal 15) Laporan tertulis itu paling tidak berisi tentang :  nama dan alamat orang pribadi atau Badan yang menerima penyerahan  tanggal. Orang pribadi atau Badan yang menyerahkan Kendaraan Bermotor melaporkan secara tertulis penyerahan tersebut kepada gubernur atau pejabat yang ditunjuk dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kerja sejak saat penyerahan. yang dimaksud dengan Bahan Bakar Kendaraan Bermotor adalah semua jenis bahan bakar cair atau gas yang digunakan untuk kendaraan bermotor (UU No. 28 Tahun 2009 Pasal 16 ). 28 Tahun 2009 Pasal 17 ayat 2). 28 Tahun 2009 Pasal 1 ayat 16 ).kendaraan bermotor yang terutang ini akan dipungut di wilayah daerah kendaraan bermotor terdaftar dan dibayarkan saat pendaftaran.

yaitu pengguna bahan bakar kendaraan bermotor. Dalam hal pembelian Bahan Bakar Kendaraan Bermotor dilakukan antarpenyedia Bahan Bakar Kendaraan Bermotor. 4) Pajak Air Permukaan (Pengambilan dan pemanfaatan air di bawah tanah dan air di permukaan) Pajak Air Permukaan adalah pajak atas pengambilan dan/atau pemanfaatan air permukaan (UU No. Untuk dasar pengenaan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor adalah Nilai Jual Bahan Bakar Kendaraan Bermotor sebelum dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (UU No. baik untuk dijual kembali kepada lembaga penyalur dan/atau konsumen langsung. Produsen dan/atau importir atau nama lain sejenis tidak mengenakan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor atas penjualan bahan bakar minyak untuk usaha industri. 28 Tahun 2009 Pasal 1 ayat 17). dapat dihitung dengan cara (5% x 100/105 x harga jual per liter-nya ) Sedangkan untuk tarifnya Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor ditetapkan paling tinggi sebesar 10% dan tarif Khusus Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor untuk bahan bakar kendaraan umum dapat ditetapkan paling sedikit 50% (lima puluh persen) lebih rendah dari tarif Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor untuk kendaraan pribadi (UU No. maka dari itu besaran tarif disetiap daerah akan berbeda sesuai peraturan daerah yang berlaku. 28 Tahun 2009 Pasal 18).(SPBB). 28 Tahun 2009 Pasal 19). Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG). tidak termasuk air laut. Dalam hal bahan bakar tersebut digunakan sendiri maka produsen dan/atau importir atau nama lain sejenis wajib menanggung Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor yang digunakan sendiri untuk kendaraan bermotornya.  Konsumen langsung. Dan perlu diketahui Tarif Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Dalam hal menentukan berapa besarnya harga jual bahan bakar kendaraan bermotor sebelum PPN namun sudah termasuk PBB-KB maka. yang akan menjual BBM kepada konsumen akhir (konsumen langsung). baik yang berada di laut . maka yang wajib mengenakan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor adalah penyedia yang menyalurkan Bahan Bakar Kendaraan Bermotor kepada lembaga penyalur dan/atau konsumen langsung. sedangkan untuk air permukaan adalah semua air yang terdapat pada permukaan tanah.

untuk wajib Pajak Air Permukaan adalah orang pribadi atau Badan yang melakukan pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Permukaan (UU No. 28 Tahun 2009 Pasal 25). 28 Tahun 2009 Pasal 22). seperti :  jenis sumber air  lokasi sumber air  tujuan pengambilan dan/atau pemanfaatan air  volume air yang diambil dan/atau dimanfaatkan  kualitas air  luas areal tempat pengambilan dan/atau pemanfaatan air  tingkat kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh pengambilan dan/atau pemanfaatan air Besaran tarif yang dipungut maksimal sebesar 10 % dari dasar pengenaan pajak air permukaan dan tarif ini ditetapkan dengan peraturan daerah (UU No. Sedangkan. 28 Tahun 2009 Pasal 23). Objek Pajak Rokok sendiri diatur dalam pasal 26 yang . Pajak Air Permukaan yang terutang dipungut di wilayah daerah tempat air berada (UU No. 28 Tahun 2009 Pasal 1 ayat 19). pengairan pertanian dan perikanan rakyat. dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan peraturan perundang-undangan  pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Permukaan lainnya yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah. Dan nilai perolehan air ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Untuk subjek Pajak Air Permukaan adalah orang pribadi atau Badan yang dapat melakukan pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Permukaan. 5) Pajak Rokok Pajak Rokok adalah pungutan atas cukai rokok yang dipungut oleh Pemerintah (UU No. Untuk pengenaan objek pajaknya sendiri (UU No. kecuali :  pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Permukaan untuk keperluan dasar rumah tangga. 28 Tahun 2009 Pasal 1 ayat 18).maupun di darat (UU No. 28 Tahun 2009 Pasal 21) berupa pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Permukaan. Dalam dasar pengenaan pajak air permukaan ditentukan oleh nilai perolehan air permukaan (UU No. 28 Tahun 2009 Pasal 24).

Di pihak lain. Untuk penerimaan Pajak Rokok. untuk besaran pokok Pajak Rokok yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif pajak dengan dasar pengenaan pajak (UU No. Hasil ini diperuntukan dalam mendanai pelayanan kesehatan (pembangunan/pengadaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana unit pelayanan kesehatan. dialokasikan paling sedikit 50%. Subjek pajak rokok adalah konsumen rokok. pengenaan pajak ini tidak terlalu berdampak pada industri rokok karena beban Pajak Rokok akan disesuaikan dengan kebijakan strategis di bidang cukai nasional dan besarannya disesuaikan dengan daya pikul industri rokok mengikuti natural growth (pertumbuhan alamiah) dari industri tersebut.menyatakan bahwa objek pajak rokok adalah konsumsi rokok. Sedangkan untuk Wajib Pajak Rokoknya adalah pengusaha pabrik rokok/produsen dan importir rokok yang memiliki izin berupa Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai. (UU No. . Walaupun pajak ini merupakan jenis pajak baru. cerutu. penyediaan sarana umum yang memadai bagi perokok (smoking area). dan iklan layanan masyarakat mengenai bahaya merokok) serta penegakan hukum (pemberantasan peredaran rokok ilegal dan penegakan aturan mengenai larangan merokok). 28 Tahun 2009 Pasal 29). 28 Tahun 2009 Pasal 28. Sedangkan. Pajak Rokok ini dipungut oleh instansi Pemerintah yang berwenang untuk memungut cukai (Direktur Jenderal Bea dan Cukai) selanjutnya disetorkan ke rekening kas umum daerah provinsi secara proporsional berdasarkan jumlah penduduk. Rokok yang dimaksud meliputi sigaret. dan rokok daun. 28 Tahun 2009 Pasal 30). kegiatan memasyarakatkan tentang bahaya merokok. Dan untuk pengenaan tarif Pajak Rokoknya sendiri telah ditetapkan sebesar 10% dari cukai rokok (UU No. hal ini sesuai dengan UU No. baik bagian provinsi maupun bagian kabupaten/kota. 28 Tahun 2009 Pasal 27) Untuk dasar pengenaan Pajak Rokok adalah cukai yang ditetapkan oleh Pemerintah terhadap rokok. namun diperkirakan pengenaan Pajak Rokok tidak terlalu membebani masyarakat karena rokok bukan merupakan barang kebutuhan pokok dan bahkan pada tingkat tertentu konsumsinya perlu dikendalikan.

dan sejenisnya c) jasa tempat tinggal di pusat pendidikan atau kegiatan keagamaan d) jasa tempat tinggal di rumah sakit. pesanggrahan. Hotel adalah (UU No. rumah penginapan dan sejenisnya. panti jompo.Pajak daerah Tingkat II (Kota/Kotamadya/Kabupaten) 6) Pajak Hotel Pajak Hotel adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh hotel (UU No. asrama perawat. foto copy. losmen. seperti : a) jasa tempat tinggal asrama yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah b) jasa sewa apartemen. teleks. faksimilie. Wajib Pajak Hotel adalah orang pribadi atau Badan yang mengusahakan Hotel “Pengusaha hotel” (UU No. Namun. wisma pariwisata. Objek pajak hotel ini meliputi : a) fasilitas penyedia jasa penginapan/peristirahatan termasuk jasa terkait lainnya dengan dipungut bayaran. layanan cuci. serta rumah kos dengan jumlah kamar lebih dari 10. yang mencakup juga motel. c) hiburan dan persewaan ruangan di hotel yang disewakan oleh pihak hotel. kondominium. panti asuhan. termasuk jasa penunjang sebagai kelengkapan hotel yang sifatnya memberikan kemudahan dan kenyamanan. gubuk pariwisata. termasuk fasilitas olahraga dan hiburan (UU No. Dasar pengenaan adalah jumlah pembayaran atau yang seharusnya dibayar kepada hotel dengan tarif pajak ditetapkan paling tinggi sebesar 10% dengan masa pajak I (satu) bulan takwim. Subjek Pajak Hotel adalah orang pribadi atau Badan yang melakukan pembayaran kepada orang pribadi atau Badan yang mengusahakan Hotel. 28 Tahun 2009 Pasal 32). 28 Tahun 2009 Pasal 1 ayat 21). b) pelayanan penunjang antara lain : telepon. Objek Pajak Hotel adalah pelayanan yang disediakan oleh hotel dengan pembayaran. jangka waktu lamanya pajak terutang dalam masa pajak terjadi saat pelayanan di hotel. 28 Tahun 2009 Pasal 33). objek pajak hotel ini ada pengecualiannya. fasilitas olahraga dan hiburan. Besaran pokok Pajak Hotel yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif dengan dasar . taksi dan pengangkut lainnya disediakan atau dikelolah hotel. dan panti sosial lainnya yang sejenis d) jasa biro perjalanan atau perjalanan wisata yang diselenggarakan oleh Hotel yang dapat dimanfaatkan oleh umum. seterika. 28 Tahun 2009 Pasal 1 ayat 20).

pameran 5. 7) Pajak Restoran Pajak Restoran adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh restoran (UU No. Pelayanan yang disediakan ini meliputi pelayanan penjualan makanan dan/atau minuman yang dikonsumsi oleh pembeli. bar. Sedangkan. Objek Pajak Hiburan adalah jasa penyelenggaraan hiburan dengan dipungut bayaran (UU No. seperti : 1. klab malam. 28 Tahun 2009 Pasal 38). binaraga. pertunjukan. dan sejenisnya termasuk jasa boga/katering. Objek Pajak Restoran adalah pelayanan yang disediakan oleh Restoran (UU No. kontes kecantikan. permainan. untuk Pajak Restoran yang terutang dipungut di wilayah daerah tempat Restoran berlokasi. musik. 28 Tahun 2009 Pasal 37).pengenaan pajak dan pajak hotel yang terutang dipungut di wilayah daerah tempat hotel berlokasi. tari. diskotik. baik dikonsumsi di tempat pelayanan maupun ditempat lain. dan sejenisnya . Dan unutk Wajib Pajak Restoran adalah orang pribadi atau Badan yang mengusahakan Restoran (UU No. pagelaran kesenian. 28 Tahun 2009 Pasal 1 ayat 24). kafetaria. Sedangkan. 8) Pajak Hiburan Pajak Hiburan adalah pajak atas penyelenggaraan hiburan (UU No. Subjek Pajak Restoran adalah orang pribadi atau Badan yang membeli makanan dan/atau minuman dari Restoran. karaoke. Besaran pokok Pajak Restoran yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif yang telah ditentukan dengan dasar pengenaan pajaknya. 28 Tahun 2009 Pasal 1 ayat 22). 28 Tahun 2009 Pasal 42). dan sejenisnya 4. tontonan film 2. yang mencakup juga rumah makan. warung. dan/atau busana 3. kantin. dan/atau keramaian yang dinikmati dengan dipungut bayaran. Dasar pengenaan Pajak Restoran adalah jumlah pembayaran yang diterima atau yang seharusnya diterima Restoran dengan tarif yang telah ditetapkan maksimal sebesar 10 %. Yang dimaksud dengan hiburan adalah semua jenis tontonan. restoran sendiri mempunyai arti sebagai fasilitas penyedia makanan dan/atau minuman dengan dipungut bayaran.

diskotik. golf. Dalam dasar pengenaan Pajak Hiburan adalah jumlah uang yang diterima (termasuk potongan harga dan tiket cuma-cuma yang diberikan kepada penerima jasa Hiburan) atau yang seharusnya diterima oleh penyelenggara hiburan. bowling dan Seluncur Es (ice skating) 8) permainan golf (green fee) 9) driving range Tarif Pajak 10% 10% 10% 10% 20% 10% 10% 15% 10% . mandi uap/spa. kontes kecantikan. musik dengan Disc Jockey (DJ) dan sejenisnya 6) sirkus. untuk Hiburan kesenian rakyat/tradisional dikenakan tarif Pajak Hiburan ditetapkan paling tinggi sebesar 10% (sepuluh persen). karaoke. akrobat. dan khusus untuk Hiburan berupa pagelaran busana. bar. klab malam.13 Tahun 2010 Pasal 7) Objek Pajak Hiburan 1) pertunjukan film di bioskop 2) pagelaran kesenian. pacuan kuda. klab malam. dan permainan ketangkasan 9. dan boling 8. pub. tarif Pajak Hiburan dapat ditetapkan paling tinggi sebesar 75% sedangkan. tari dan/atau busana 3) kontes kecantikan 4) pameran 5) diskotik. Tarif Pajak Hiburan ditetapkan paling tinggi sebesar 35% (UU No. panti pijat. refleksi. musik. dan pusat kebugaran (fitness center) 10. permainan ketangkasan. pertandingan olahraga. karaoke. panti pijat. Untuk Subjek Pajak Hiburan adalah orang pribadi atau Badan yang menikmati Hiburan sedangkan. akrobat. Tarif pajak ini setiap daerah berbeda sesuai dengan peraturan daerah masing – masing. 28 Tahun 2009 Pasal 45). sirkus.6. musik hidup (live music). dan mandi uap/spa. dan sulap 7. kendaraan bermotor. untuk Wajib Pajak Hiburan adalah orang pribadi atau Badan yang menyelenggarakan Hiburan. permainan bilyar. Contoh : Tabel Tarif Pajak Hiburan untuk DKI Jakarta (Perda DKI Jakarta No. dan sulap 7) permainan bilyar.

atau badan. kendaraan bermotor. jasa. dibaca. alat. termasuk pada kendaraan f) Reklame udara g) Reklame apung h) Reklame suara i) Reklame film/slide j) Reklame peragaan Namun. dan permainan ketangkasan 11) panti pijat. seperti : a) Reklame papan/billboard/videotron/megatron dan sejenisnya b) Reklame kain c) Reklame melekat. menganjurkan. pajak terutang pada saat terjadi pembayaran. didengar. seperti : .10) pacuan kuda. perbuatan. taman rekreasi/rekreasi keluarga. stiker d) Reklame selebaran e) Reklame berjalan. orang. Pajak Hiburan yang terutang ini dipungut di wilayah daerah tempat hiburan diselenggarakan. kereta pesiar dan sejenisnya 20% 10% 5% 10% 10% Untuk menentukan besaran pokok Pajak Hiburan yang terutang maka. Dalam hal pembayaran diterima sebelum hiburan diselenggarakan. komidi putar. 28 Tahun 2009 Pasal 47). mandi uap dan spa 12) refleksi dan pusat Kebugaran/Fitness Center 13) pertandingan olah raga 14) hiburan di tempat keramaian tempat wisata. mempromosikan. harus dihitung dengan cara mengalikan tarif dengan dasar pengenaan pajaknya. pasar malam. atau untuk menarik perhatian umum terhadap barang. atau media yang bentuk dan corak ragamnya dirancang untuk tujuan komersial memperkenalkan. Objek Pajak Reklame adalah semua penyelenggaraan Reklame (UU No. dirasakan. yang dapat dilihat. 9) Pajak Reklame Pajak Reklame adalah pajak atas penyelenggaraan reklame (UU No. kolam pemancingan. Reklame yang dimaksud adalah benda. dan/atau dinikmati oleh umum. 28 Tahun 2009 Pasal 1 ayat 26). objek pajak reklame ini ada pengecualiannya.

dan ukuran media Reklame. televisi. Objek Pajak Penerangan Jalan adalah penggunaan tenaga listrik. lokasi penempatan. 28 Tahun 2009 Pasal 48). Sedangkan. jangka waktu penyelenggaraan. radio. Besaran pokok Pajak Reklame yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif dengan dasar pengenaan pajaknya. Sedangkan. warta bulanan. jumlah. 10) Pajak Penerangan Jalan Pajak Penerangan Jalan adalah pajak atas penggunaan tenaga listrik. baik yang diselenggarakan sendiri secara langsung oleh orang pribadi /Badan.a) penyelenggaraan Reklame melalui internet. Pajak Reklame yang terutang akan dipungut di wilayah daerah tempat Reklame tersebut diselenggarakan. Didalam objek pajak ini ada pengecualikannya. 28 Tahun 2009 Pasal 50). warta harian. baik yang dihasilkan sendiri maupun diperoleh dari sumber lain (UU No. untuk wajib pajaknya adalah orang pribadi atau Badan yang menyelenggarakan reklame. Pajak Reklame akan berpatokan dengan Nilai Sewa Reklame yang telah ditetapkan berdasarkan nilai kontrak Reklame untuk wajib pajak pihak ketiga. yang berfungsi untuk membedakan dari produk sejenis lainnya c) nama pengenal usaha atau profesi yang dipasang melekat pada bangunan tempat usaha atau profesi diselenggarakan sesuai dengan ketentuan yang mengatur nama pengenal usaha atau profesi tersebut d) Reklame yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah Dan untuk subjek pajak Reklame adalah orang pribadi atau Badan yang menggunakan reklame. 28 Tahun 2009 Pasal 52). bahan yang digunakan. atau oleh pihak ketiga (UU No. 28 Tahun 2009 Pasal 49). Besaran tarif Pajak Reklame yang akan dipungut telah ditetapkan paling tinggi sebesar 25% (UU No. 28 Tahun 2009 Pasal 1 ayat 28). untuk wajib pajak pihak pertama (diselenggarakan sendiri) dalam menentukan dasar pengenaan besaran pajak reklame terlebih dahulu harus memperhatikan faktor jenis. yang meliputi seluruh pembangkit listrik (UU No. seperti : a) penggunaan tenaga listrik oleh instansi Pemerintah dan Pemerintah Daerah . Setelah itu bisa menentukan Nilai Sewa Reklamenya (UU No. Dalam dasar pengenaannya. dan sejenisnya b) label/merek produk yang melekat pada barang yang diperdagangkan. warta mingguan. waktu. baik yang dihasilkan sendiri maupun yang diperoleh dari sumber lain.

Wajib Pajaknya adalah penyedia tenaga listrik tersebut (UU No.5% (UU No. dan perwakilan asing dengan asas timbal balik c) penggunaan tenaga listrik yang dihasilkan sendiri dengan kapasitas di bawah 200 KVA (dua ratus Kilo Volt Amper) yang tidak memerlukan izin dari instansi teknis terkait. untuk menentukan dasar pengenaan pajaknya berasal dari perhitungan Nilai Jual Tenaga Listrik yang ditentukan berdasarkan kapasitas tersedia. Hasil penerimaan Pajak Penerangan Jalan ini sebagian akan dialokasikan untuk penyediaan penerangan jalan. Dan untuk penggunaan tenaga listrik yang dihasilkan sendiri. untuk besaran pokok Pajak Penerangan Jalan yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif dengan dasar pengenaan pajak. Untuk menentukan Nilai Jual Tenaga Listrik perlu memperhatikan beberapa hal. 28 Tahun 2009 Pasal 54). 28 Tahun 2009 Pasal 53). dalam hal tenaga listrik yang disediakan oleh sumber lain maka. untuk penggunaan tenaga listrik dari sumber lain oleh industri. dikenakan tarif Pajak Penerangan Jalan paling tinggi sebesar 3%. tarif Pajak Penerangan Jalan ditetapkan paling tinggi sebesar 1. Sedangkan. konsulat. seperti : a) tenaga listrik yang berasal dari sumber lain. pertambangan minyak bumi dan gas alam. untuk menentukan dasar pengenaan pajaknya berasal dari perhitungan Nilai Jual Tenaga Listrik yang ditentukan berdasarkan jumlah tagihan biaya beban/tetap ditambah dengan biaya pemakaian kWh/variabel yang ditagihkan dalam rekening listrik b) tenaga listrik dihasilkan sendiri.b) penggunaan tenaga listrik pada tempat-tempat yang digunakan oleh kedutaan. Dan untuk Subjek Pajak Penerangan Jalan adalah orang pribadi atau Badan yang dapat menggunakan tenaga listrik sedangkan. . jangka waktu pemakaian listrik dan harga satuan listrik yang berlaku di wilayah daerah yang bersangkutan Besaran tarif pajak penerangan jalan yang akan dipungut telah ditetapkan maksimal sebesar 10%. 28 Tahun 2009 Pasal 55). Dalam menentukan dasar pengenaan Pajak Penerangan Jalan adalah Nilai Jual Tenaga Listrik (UU No. Pajak Penerangan Jalan yang terutang dipungut di wilayah daerah tempat penggunaan tenaga listrik. untuk Wajib Pajak Penerangan Jalan adalah orang pribadi atau Badan yang menggunakan tenaga listrik. Tetapi. tingkat penggunaan listrik. Tetapi.

sebagai berikut:                         Asbes batu tulis batu setengah permata batu kapur batu apung batu permata bentonit dolomit feldspar garam batu (halite) grafit granit/andesit gips kalsit kaolin leusit magnesit mika marmer nitrat opsidien oker pasir dan kerikil pasir kuarsa . 28 Tahun 2009 Pasal 1 ayat 29). 28 Tahun 2009 Pasal 57) yang meliputi. Untuk Objek Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan yaitu merupakan kegiatan pengambilan Mineral Bukan Logam dan Batuan(UU No.11) Pajak Bahan Penggalian Golongan C (Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan) Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan adalah pajak atas kegiatan pengambilan mineral bukan logam dan batuan. baik dari sumber alam di dalam dan/atau permukaan bumi untuk dimanfaatkan secara komersial (UU No.

seperti halnya : kegiatan pengambilan tanah untuk keperluan rumah tangga. Sedangkan.            perlit phospat talk tanah serap (fullers earth) tanah diatome tanah liat tawas (alum) tras yarosif zeolit basal trakkit Yang tidak termasuk dalam objek Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan. untuk Wajib Pajak-nya adalah orang pribadi atau Badan yang mengambil Mineral Bukan Logam dan Batuan yang dimanfaatkan secara komersial. Dalam menentukan dasar pengenaan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan berasal dari Nilai Jual Hasil Pengambilan Mineral Bukan Logam dan Batuan (UU No. . penanaman pipa air/gas  kegiatan pengambilan Mineral Bukan Logam dan Batuan yang merupakan ikutan dari kegiatan pertambangan lainnya. Nilai pasar yang digunakan merupakan harga rata-rata yang berlaku di lokasi setempat di wilayah daerah yang bersangkutan. Nilai jual ini dihitung dengan mengalikan volume/tonase hasil pengambilan dengan nilai pasar atau harga standar masing-masing jenis Mineral Bukan Logam dan Batuan. 28 Tahun 2009 Pasal 58). 28 Tahun 2009 Pasal 59). penanaman kabel listrik/telepon. Subjek Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan adalah orang pribadi atau Badan yang dapat mengambil Mineral Bukan Logam dan Batuan yang dimanfaatkan secara komersial (UU No. pemancangan tiang listrik/telepon. jika :  kegiatan pengambilan Mineral Bukan Logam dan Batuan yang nyata-nyata tidak dimanfaatkan secara komersial/ekonomis. yang tidak dimanfaatkan secara komersial oleh penambang / pihak lain.

dan perwakilan negara asing dengan asas timbal balik (Asas Timbal Balik (Reciprocitas) adalah perlakuan perpajakan yang sama oleh suatu negara terhadap Perwakilan Negara Republik Indonesia berdasarkan persetujuan atau ratifikasi Konvensi Wina Tahun 1961) Subjek Pajak Parkir adalah orang pribadi atau Badan yang melakukan parkir kendaraan bermotor. Dan yang tidak termasuk objek pajak parkir. 28 Tahun 2009 Pasal 62). konsulat.Maka dari itu. Besaran tarif pajak-nya telah ditetapkan maksimal sebesar 25% (UU No. 28 Tahun 2009 Pasal 64). Dalam menentukan dasar pengenaan Pajak Parkir dihitung berdasarkan jumlah pembayaran atau yang seharusnya dibayar kepada penyelenggara tempat Parkir (UU No. Objek Pajak-nya berupa penyelenggaraan tempat Parkir di luar badan jalan. Sedangkan. 28 Tahun 2009 Pasal 63). termasuk penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor (UU No. termasuk penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor (UU No. Wajib Pajak Parkir adalah orang pribadi atau Badan yang menyelenggarakan tempat Parkir (UU No. nilai pasar dari hasil produksi Mineral Bukan Logam dan Batuan sulit untuk digunakan sebagai acuan harga standar yang ditetapkan oleh instansi yang berwenang dalam bidang pertambangan Mineral Bukan Logam dan Batuan karena setiap daerah memiliki harga pasarnya sendiri – sendiri. jika : a) penyelenggaraan tempat Parkir oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah b) penyelenggaraan tempat Parkir oleh perkantoran yang hanya digunakan untuk karyawannya sendiri c) penyelenggaraan tempat Parkir oleh kedutaan. baik yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha maupun yang disediakan sebagai suatu usaha. 28 Tahun 2009 Pasal 60). Dan perlu diketahui bahwa jumlah yang seharusnya dibayarkan itu sudah . 12) Pajak Parkir Pajak parkir adalah pajak atas penyelenggaraan tempat parkir di luar badan jalan. Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan yang terutang akan dipungut/disetorkan di wilayah daerah tempat pengambilan Mineral Bukan Logam dan Batuan. 28 Tahun 2009 Pasal 1 ayat 31). baik yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha maupun yang disediakan sebagai suatu usaha. Dan dalam menentukan besaran pokok pajak-nya yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif pajak dengan dasar pengenaan pajak-nya.

yang merupakan suatu kesatuan dengan kompleks Bangunan tersebut b) jalan tol c) kolam renang d) pagar mewah e) tempat olahraga . Maka. khusus PBB sektor perdesaan dan perkotaan dialihkan menjadi pajak daerah. dan/atau dimanfaatkan oleh orang pribadi atau Badan. Dengan dijadikannya PBB Perdesaan dan Perkotaan menjadi pajak daerah. perhutanan. dan/atau dimanfaatkan oleh orang pribadi atau Badan. Yang dimaksud dengan pengertian Bangunan adalah. 28 Tahun 2009 Pasal 1 ayat 38). dan pertambangan (UU No.termasuk potongan harga Parkir dan Parkir cuma-cuma yang diberikan kepada penerima jasa Parkir. Sedangkan PBB sektor perkebunan. dan pertambangan masih merupakan pajak pusat. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan adalah pajak atas bumi dan/atau bangunan yang dimiliki. perhutanan. Bumi adalah permukaan bumi yang meliputi tanah dan perairan pedalaman serta laut wilayah kabupaten/kota (UU No. dikuasai. 13) PBB Perdesaan dan Perkotaan Selama ini PBB merupakan pajak pusat. kecuali kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan. namun hampir seluruh penerimaannya diserahkan kepada daerah. seperti : a) jalan lingkungan yang terletak dalam satu kompleks bangunan seperti hotel. dan pertambangan (UU No. Untuk besaran tarif pajak-nya telah ditetapkan maksimal sebesar 30% (UU No. kecuali kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan. perhutanan. dikuasai. Objek Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan adalah Bumi dan/atau Bangunan yang dimiliki. 28 Tahun 2009 Pasal 65). Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan pedalaam dan/atau laut (UU No. pabrik. 28 Tahun 2009 Pasal 1 ayat 39). dan emplasemennya. maka penerimaan jenis pajak ini akan diperhitungkan sebagai pendapatan asli daerah (PAD). 28 Tahun 2009 Pasal 1 ayat 37). 28 Tahun 2009 Pasal 77). besaran pokok Pajak Parkir yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif dengan dasar pengenaan pajak Dan pajak yang terutang ini akan dipungut/disetorkan di wilayah daerah tempat Parkir berlokasi. Untuk meningkatkan akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah.

f) galangan kapal. dan/atau memperoleh manfaat atas Bangunan (UU No. sosial. NJOP ditentukan melalui perbandingan harga dengan objek lain yang sejenis. taman nasional. dan/atau memiliki. dan/atau memiliki. yang tidak dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan c) digunakan untuk kuburan. Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) adalah harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar. Dan Wajib Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan adalah orang pribadi atau Badan yang secara nyata mempunyai suatu hak atas Bumi dan/atau memperoleh manfaat atas Bumi. . hutan suaka alam. Untuk menentukan dasar pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan berdasarkan dengan NJOP (UU No. hutan wisata. menguasai. atau yang sejenis dengan itu d) merupakan hutan lindung. dermaga g) taman mewah h) tempat penampungan/kilang minyak. dan tanah negara yang belum dibebani suatu hak e) digunakan oleh perwakilan diplomatik dan konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik f) digunakan oleh badan atau perwakilan lembaga internasional yang ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan Subjek Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan adalah orang pribadi atau Badan yang secara nyata mempunyai suatu hak atas Bumi dan/atau memperoleh manfaat atas Bumi. air dan gas. kesehatan. tanah penggembalaan yang dikuasai oleh desa. atau nilai perolehan baru. menguasai. pipa minyak i) menara Objek Pajak yang tidak dikenakan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan Pasal adalah objek pajak yang : a) digunakan oleh Pemerintah dan Daerah untuk penyelenggaraan pemerintahan b) digunakan semata-mata untuk melayani kepentingan umum di bidang ibadah. atau NJOP pengganti. pendidikan dan kebudayaan nasional. peninggalan purbakala.dan/atau memperoleh manfaat atas Bangunan. 28 Tahun 2009 Pasal 79). dan bilamana tidak terdapat transaksi jual beli. 28 Tahun 2009 Pasal 78).

Penetapan besarnya NJOP ditetapkan oleh Kepala Daerah. 28 Tahun 2009 Pasal 1 ayat 42). kecuali untuk objek pajak tertentu dapat ditetapkan setiap tahun sesuai dengan perkembangan wilayahnya.000. Sedangkan.000. Dengan pengenaan tarif yang telah ditetapkan maksimal sebesar 0. Besarnya NJOP ini ditetapkan setiap 3 (tiga) tahun sekali. untuk Hak atas Tanah dan/atau Bangunan-nya adalah hak atas tanah. Sedangkan. yaitu: a) pemindahan hak karena :  jual beli  tukar menukar  hibah  hibah wasiat  Waris  pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lain  pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan  penunjukan pembeli dalam lelang  pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap  penggabungan usaha  peleburan usaha . sebagaimana dimaksud dalam undang-undang di bidang pertanahan dan bangunan (UU No. Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan yang dimaksud adalah perbuatan atau peristiwa hukum yang mengakibatkan diperolehnya hak atas tanah dan/atau bangunan oleh orang pribadi atau Badan (UU No. 14) BPHTB (Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan) Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah pajak atas perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan (UU No. termasuk hak pengelolaan.00 (sepuluh juta rupiah) untuk setiap Wajib Pajak. untuk menentukan besaran pokok Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif-nya dengan dasar pengenaan pajak setelah dikurangi Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOP TKP). beserta bangunan diatasnya. Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan yang diperoleh dengan 2 cara. 28 Tahun 2009 Pasal 1 ayat 41). Dalam menentukan Objek Pajak-nya adalah Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan.Dan besarnya NJOP TKP ditetapkan minimal sebesar Rp10.3% (nol koma tiga persen). 28 Tahun 2009 Pasal 1 ayat 43).

28 Tahun 2009 Pasal 86). b) pemberian hak baru karena :  kelanjutan pelepasan hak  di luar pelepasan hak Hak atas tanah yang dimaksud adalah :  hak milik  hak guna usaha  hak guna bangunan  hak pakai  hak milik atas satuan rumah susun  hak pengelolaan Dan untuk Objek pajak yang tidak dikenakan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah objek pajak yang diperoleh: a) perwakilan diplomatik dan konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik b) negara untuk penyelenggaraan pemerintahan dan/atau untuk pelaksanaan pembangunan guna kepentingan umum c) badan atau perwakilan lembaga internasional yang ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan dengan syarat tidak menjalankan usaha atau melakukan kegiatan lain di luar fungsi dan tugas badan atau perwakilan organisasi tersebut d) orang pribadi atau Badan karena konversi hak atau karena perbuatan hukum lain dengan tidak adanya perubahan nama e) orang pribadi atau Badan karena wakaf f) orang pribadi atau Badan yang digunakan untuk kepentingan ibadah Subjek Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah orang pribadi atau Badan yang memperoleh Hak atas Tanah dan/atau Bangunan. Nilai Perolehan Objek Pajak yang dimaksud merupakan nilai perolehan dalam hal : a) jual beli adalah harga transaksi . pemekaran usaha  hadiah. Untuk menentukan dasar pengenaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan ditentukan dengan Nilai Perolehan Objek Pajak. untuk Wajib Pajaknya adalah orang pribadi atau Badan yang memperoleh Hak atas Tanah dan/atau Bangunan (UU No. Sedangkan.

Sedangkan.000.00 (tiga ratus juta rupiah).00 (enam puluh juta rupiah) untuk setiap Wajib Pajak). Dan untuk menentukan besaran pokok Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif dengan dasar pengenaan pajak setelah dikurangi Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak-nya .000. dalam hal perolehan hak karena waris atau hibah wasiat yang diterima orang pribadi yang masih dalam hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke atas atau satu derajat ke bawah dengan pemberi hibah wasiat. .b) tukar menukar adalah nilai pasar c) hibah adalah nilai pasar d) hibah wasiat adalah nilai pasar e) waris adalah nilai pasar f) pemasukan dalam peseroan atau badan hukum lainnya adalah nilai pasar g) pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalah nilai pasar h) peralihan hak karena pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap adalah nilai pasar i) pemberian hak baru atas tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak adalah nilai pasar j) pemberian hak baru atas tanah di luar pelepasan hak adalah nilai pasar k) penggabungan usaha adalah nilai pasar l) peleburan usaha adalah nilai pasar m) pemekaran usaha adalah nilai pasar n) hadiah adalah nilai pasar o) penunjukan pembeli dalam lelang adalah harga transaksi yang tercantum dalam risalah lelang Jika dalam Nilai Perolehan Objek Pajak tidak diketahui atau lebih rendah daripada NJOP yang digunakan dalam pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan pada tahun terjadinya perolehan maka. Tarif Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan ditetapkan maksimal sebesar 5% (lima persen). termasuk suami/istri maka.000. Untuk Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang terutang akan dipungut di wilayah daerah tempat Tanah dan/atau Bangunan berada. untuk dasar pengenaan yang dipakai merupakan NJOP Pajak Bumi dan Bangunan (minimal sebesar Rp60.000. Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak ditetapkan paling rendah sebesar Rp 300.

pengambilan Sarang Burung Walet yang telah dikenakan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dan kegiatan pengambilan dan/atau pengusahaan Sarang Burung Walet lainnya yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah (UU No. untuk besaran pokok Pajak Sarang Burung Walet yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif dengan dasar pengenaan pajak. Dan Pajak Sarang Burung Walet yang terutang ini akan dipungut di wilayah daerah tempat pengambilan dan/atau pengusahaan Sarang Burung Walet itu sendiri. Air Tanah yang dimaksud merupakan air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan dibawah permukaan tanah (UU No. dan collocalia linchi (UU No. kecuali : . yaitu collocalia fuchliap haga. Sebagai acuan dasar pengenaan Pajak Sarang Burung Walet adalah Nilai Jual Sarang Burung Walet. untuk Wajib Pajak-nya adalah orang pribadi atau Badan yang melakukan pengambilan dan/atau mengusahakan Sarang Burung Walet (UU No.15) Pajak Sarang Burung Walet Pajak Sarang Burung Walet adalah pajak atas kegiatan pengambilan dan/atau pengusahaan sarang burung walet (UU No. 16) Pajak Air Tanah (Pengambilan dan pemanfaatan air di bawah tanah dan air di permukaan) Pajak Air Tanah adalah pajak atas pengambilan dan/atau pemanfaatan air tanah (UU No. 28 Tahun 2009 Pasal 1 ayat 35). Sedangkan. Yang menjadi Subjek Pajak Sarang Burung Walet adalah orang pribadi atau Badan yang melakukan pengambilan dan/atau mengusahakan Sarang Burung Walet. 28 Tahun 2009 Pasal 1 ayat 33). collocalia maxina. Objek Pajak Sarang Burung Walet adalah pengambilan dan/atau pengusahaan Sarang Burung Walet kecuali. Sedangkan. Objek Pajak-nya adalah pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Tanah. 28 Tahun 2009 Pasal 73). Untuk besaran tarif Pajak-nya telah ditetapkan maksimal sebesar 10% (sepuluh persen). 28 Tahun 2009 Pasal 1 ayat 34). 28 Tahun 2009 Pasal 72). Sedangkan. yang dimaksud dengan Burung Walet adalah satwa yang termasuk marga collocalia. Dan Nilai Jual Sarang Burung Walet dapat dihitung berdasarkan perkalian antara harga pasaran umum Sarang Burung Walet yang berlaku di daerah yang bersangkutan dengan volume Sarang Burung Walet. 28 Tahun 2009 Pasal 1 ayat 36). collocalia esculanta.

Nilai Perolehan Air Tanah yang dihitung dengan mempertimbangkan sebagian atau seluruh faktor-faktor sebagai berikut:  jenis sumber air  lokasi sumber air  tujuan pengambilan dan/atau pemanfaatan air  volume air yang diambil dan/atau dimanfaatkan  kualitas air  tingkat kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh pengambilan dan/atau pemanfaatan air. Dengan dasar tarif itulah nantinya akan diperoleh besaran pokok Pajak Air Tanah yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif dengan dasar pengenaan pajak. Wajib pajak diberikan kebebasan untuk memilih salah satu dari kedua sistem diatas. Untuk Subjek Pajak-nya adalah orang pribadi atau Badan yang melakukan pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Tanah sedangkan. dan b) pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Tanah lainnya yang diatur dengan Peraturan Daerah. serta peribadatan. sedangkan Official Assesment adalah perhitungan dan penetapan pajak dilakukan oleh pejabat Dinas Pendapatan.a) pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Tanah untuk keperluan dasar rumah tangga. Dasar pengenaan Pajak Air Tanah adalah Nilai Perolehan Air Tanah. Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah berdasarkan laporan dari wajib Pajak. Self assesment merupakan sistem dimana wajib pajak menghitung dan menetapkan sendiri besarnya pajak terutang melalui media Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTPD). Besarnya Tarif Pajak-nya yang akan dipungut maksimal sebesar 20% (dua puluh persen). pengairan pertanian dan perikanan rakyat. Wajib Pajak-nya adalah orang pribadi atau Badan yang melakukan pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Tanah. . Dan Pajak Air Tanah yang terutang akan dipungut di wilayah daerah tempat air diambil MEKANISME PEMBAYARAN DAN PELAPORAN PAJAK DAERAH Sistem pemungutan pajak daerah Pemungutan Pajak Daerah menerapkan 2 (dua) sistem yaitu Self Assesment dan Official Assesment.

Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah menyampaikan formulir pendaftaran kepada calon Wajib Pajak untuk diisi secara jelas. dikirim atau disampaikan kepada petugas Dinas Pendapatan. Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah atas dasar laporan data omzet/volume produksi/data teknis yang disampaikan oleh wajib pajak dituangkan . 2. petugas Dinas Pendapatan. Untuk Wajib Pajak sistem Self Assesment. benar dan lengkap serta ditandatangani oleh Wajib Pajak atau kuasanya. Pajak hiburan. Pendaftaran wajib pajak dilakukan terhadap calon wajib pajak yang berdomisili didalam maupun diluar wilayah Kota Bogor. 2. Paling Lambat 10 (Sepuluh) hari setelah berkahirnya masa pajak. Untuk Pajak Hotel. Dokumen tersebut diisi secara jelas. perhitungan dan penetapan dilakukan oleh pejabat Dinas Pendapatan. masa pajaknya adalah I (Satu) Bulan. 2. Setelah formulir pendaftaran diisi oleh calon wajib pajak. Pajak Restoran. Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah. Pajak Penerangan Jalan dan Pajak Parkir. yang digunakan sebagai Nomor Pokok Wajib Pajak Daerah (NPWPD). perhitungan dan penetapan pajak dilakukan sendiri. wajib pajak harus menyampaikan SPTPD atau laporan Data Omzet/Volume Produksi/data teknis kepada petugas Dinas Pendapatan. benar dan lengkap. masa pajaknya sama dengan masa ijin reklame. Pendataan wajib pajak 1. yang obyek pajaknya berada di wilayah Kota Bogor. Pendaftaran wajib pajak 1. 3. Perhitungan dan penetapan 1. Untuk Pajak Reklame. 2. Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah untuk kemudian dicatat dalam Daftar Induk Wajib Pajak berdasarkan nomor urut. Untuk wajib pajak sistem Official Assesment.Masa pajak 1. Untuk melakukan pendaftaran.

pembayaran dilakukan melalui loket pembayaran di Kantor Dinas Pendapatan. Untuk wajib pajak Self Assesment. atau Bank Jateng) atau kepada Bendaharawan Khusus Penerima (BKP) Dinas PPKA Kota setempat. maka pejabat Dinas Pendapatan. Permohonan pengurangan. 3.dalam Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD) yang ditandatangani oleh Pejabat Dinas Pendapatan. (SKPDKB). Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah akan menerbitkan Surat Ketetapan Daerah Kurang Bayar. Bagi wajib Pajak yang membayar melalui kas daerah (Bank Jabar Cabang Bogor) dapat melakukan pembayaran langsung ke BANK JABAR atau BANK JATENG atau melalui transfer/pemindahbukuan ke REKENING KAS DAERAH KOTA setempat. 3. 2. Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah dapat memberikan pengurangan. Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kota setempat. Bagi Wajib Pajak yang membayar melalui BKP Dinas PPKA Kota setempat. Dengan mencantumkan secara jelas dan benar mengenai Nama Jenis Pajak. Walikota atau Kepala Dinas Pendapatan. Berdasarkan permohonan wajib pajak. keringanan dan pembebasan pajak 1. . Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah. wajib pajak harus membayar pajak terhutang ke kas daerah (Bank Jabar. Masa Pajak dan Jumlah Pembayaran. Selanjutnya BKP Dinas PPKA Kota setempat menerbitkan SSPD sebagai bukti pembayaran serta dalam jangka waktu 1 x 24 Jam BKP harus menyetorkan penerimaannya ke Kas Daerah Bank Jabar atau Bank Jateng. ternyata jumlah pajak terhutang dalam SPTPD kurang dari jumlah yang sebenarnya. Pembayaran pajak 1. keringanan dan pembebasan pajak. paling lambat akhir bulan setelah berakhirnya masa pajak. Berdasarkan SPTPD. Setoran tersebut oleh Bank Jabar dilaporkan kepada Dinas PPKA Kota Bogor dan atas dokumen penerimaan pembayaran tersebut Dinas PPKA Kota setempat menerbitkan Surat Setoran Pajak Daerah (SSPD). yang berdasarkan pemeriksaan atau keterangan informasi lainnya. SKPD atau SKPDKB.

jelas dan lengkap disertai alasanalasannya. 2. wajib pajak dapat mengajukan banding kepada Pengadilan Pajak dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan setelah diterimanya keputusan keberatan. Permohonan keberatan dan banding 1. 3. 5. Keberatan diajukan kepada Walikota atau Kepala Dinas PPKA Kota setempat secara tertulis dalam bahasa Indonesia paling lama 3 (Tiga) bulan sejak tanggal diterimanya Ketetapan Pajak. Sanksi administrasi 1. Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan atas ketetapan pajak daerah. Walikota atau Kepala Dinas PPKA Kota setempat memberi keputusan setelah dilakukan pemeriksaan dan atau penelitian. 2. Jika dalam jangka waktu tersebut Walikota atau Kepala Dinas PPKA Kota setempat tidak memberi Keputusan maka permohonan keberatan dianggap dikabulkan. dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2 % sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar . Dalam jangka waktu paling lama 12 (Dua Belas) bulan sejak diterimanya permohonan. 4. 3. Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain pajak yang terutang tidak atau kurang di bayar dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2 (Dua) % sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) Bulan dihitung sejak sampai terutangnya pajak. 6. Permohonan tersebut dikabulkan apabila berdasarkan hasil pemeriksaan dan keterangan lain menunjukan bahwa permohonan tersebut layak dipenuhi. Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah secara tertulis. Pengajuan keberatan tidak menunda kewajiban wajib pajak untuk membayar kewajibannya.2. 7. Apabila wajib pajak tidak menerima Keputusan Walikota atau Kepala Dinas PPKA Kota setempat. Pengajuan banding tidak menunda kewajiban wajib pajak untuk membayar pajak. Permohonan diajukan oleh Wajib Pajak kepada Walikota atau Kepala Dinas Pendapatan. Apabila SPTPD (Surat Pemberitahun Pajak Daerah) tidak disampaikan dalam jangka waktu yang ditentukan dan telah ditegur secara tertulis.

5. Wajib pajak yang karena kealpaannya mengisi SPTPD secara tidak benar dan atau tidak lengkap dan atau melampirkan keterangan yang tidak benar dapat dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak 2 (dua) kali jumlah pajak terhutang. Sanksi pidana 1. Wajib Pajak yang dengan sengaja megisi SPTPD secara tidak benar dan atau tidak lengkap dan atau melampirkan keterangan yang tidak benar dapat dipidana dengan pidanan kurungan paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak terhutang. . SKPDKBT (Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan) diterbitkan apabila ditemukan data baru atau data yang semula belum terungkap yang menyebabkan penambahan jumlah pajak yang terutang akan dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% dari jumlah kekurangan pajak tersebut. SKPDN (Surat Ketetapan Pajak daerah Nihil) diterbitkan apabila jumlah pajak yang terutang sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak. 6. 4. Apabila kewajiban membayar pajak terutang dalam SKPDKB dan SKPDKBT tidak atau tidak sepenuhnya dibayar dalam jangka waktu yang telah di tentukan. ditagih dengan menerbitkan STPD ditambah dengan sanksi administrasi berupa bunga 2% sebulan. Apabila kewajiban mengisi SPTPD tidak dipenuhi. 2. 3. pajak yang terutang dihitung secara jabatan dan dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 25 % dari pokok pajak ditambah sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dihitung sejak saat terutangnya pajak.untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dihitung sejak saat terutangnya pajak.

tujuan lain dalam rangka melaksanakan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah. kepala daerah atau pejabat yang ditunjuk harus melakukan pemeriksaan terhadap wajib pajak. Hal ini diatur untuk memberikan kepastian kepada fiskus untuk melaksanakan tugasnya dan menghindarkan wajib pajak dari keinginan menghalangi jalannya pemeriksaan. Pemeriksaan pajak daerah adalah suatu proses yang diperlukan dalam pemungutan pajak untuk membuktikan kebenaran pelaksanaan kewajiban perpajakan yang diatur oleh undang-undang. Pemeriksaan pajak dapat dilakukan di kantor atau di tempat wajib pajak yang lingkup pemeriksaannya dapat meliputi tahun-tahun yang lalu maupun tahun berjalan. Pemeriksaan Pajak Daerah. meliputi seluruh jenis pajak untuk tahun pajak berjalan dan atau tahun-tahun pajak sebelumnya . Pemeriksaan pajak daerah menghendaki kerjasama yang baik dari wajib pajak yang diperiksa. Memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruangan yang dianggap perlu dan memberi bantuan guna kelancaran pemeriksaan. Apabila wajib pajak tidak dapat memenuhi kewajibannya yang berkaitan dengan pemeriksaan pajak. 3. Oleh karena itu. Memberikan keterangan yang diperlukan. Pemeriksaan lengkap dilakukan di tempat domisili atau di lokasi usaha wajib pajak. Pemeriksaan lengkap merupakan pemeriksaan lapangan terhadap seluruh kegiatan wajib pajak yang bersifat komprehensif. Bentuk Pemeriksaan Pajak Daerah Pemeriksaan dilakukan dalam bentuk pemeriksaan lengkap atau pemeriksaan sederhana. menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan daerah dan b. Salah satu tahapan yang penting dalam keberhasilan pemungutan pajak daerah adalah adanya kepastian bahwa wajib pajak telah melaksanakan kewajibannya secara benar. termasuk memberikan kesempatan kepada petugas untuk melakukan pemeriksaan kas dan c. Untuk mengetahui hal ini.PEMERIKSAAN PAJAK DAERAH 1. wajib pajak yang diperiksa wajib: a. memperlihatkan dan atau meminjamkan buku atau catatan dokumen yang menjadi dasarnya dan dokumen lain yang berhubungan dengan objek pajak yang terutang. dikenakan penetapan secara jabatan. b. Tujuan dan tata cara Pemeriksaan Pajak Daerah Kepala Daerah dalam rangka pengawasan berwenang melakukan pemeriksaan dengan tujuan untuk: a. 2.

dilakukan pembahasan akhir hasil pemeriksaan. d. Pemeriksa dalam melaksanakan pemeriksaan lapangan berpedoman pada norma pemeriksaan sebagai berikut: . diterbitkan surat ketetapan pajak daerah dan STPD sepanjang tidak dilanjutkan dengan tindakan penyidikan. atau di tempat usaha atau di tempat tinggal atau di tempat lain yang diduga ada kaitannya dengan kegiatan usaha atau pekerjaan wajib pajak atau di tempat lain yang ditentukan oleh kepala daerah atau pejabat. di lapangan.yang dilakukan dengan menerapkan teknis pemeriksaan pada umumnya lazim digunakan dalam pemeriksaan. di kantor wajib pajak. Berdasarkan laporan pemeriksaan. c. g. pemeriksaan dapat dilakukan oleh seorang atau lebih pemeriksa. f. Pemeriksaan dilaksanakan pada jam kerja dan dapat dilanjutkan di luar jam kerja. Pemeriksa adalah pegawai negeri sipil di lingkungan pemerintah daerah atau tenaga ahli yang ditunjuk oleh kepala daerah yang diberi tugas. Hasil pemeriksaan dituangkan dalam laporan pemeriksaan. meliputi jenis pajak tertentu untuk tahun pajak berjalan yang dilakukan dengan menerapkan teknik pemeriksaan dengan bobot dan kedalaman yang sederhana. di kantor. pemeriksaan dan wajib pajak. Pemeriksaan sederhana dapat dilakukan: a. jika dipandang perlu. wewenang dan tanggung jawab untuk melaksanakan pemeriksaan di bidang pajak daerah. Terhadap temuan dalam pemeriksaan yang tidak atau tidak seluruhnya disetujui oleh wajib pajak. b. Pemeriksaan dilaksanakan di kantor pemeriksa. e. Norma Pemeriksaan Pajak Daerah Pemeriksaan dilakukan dengan berpedoman pada norma pemeriksaan yang memuat batasan terhadap pemeriksa. dibuatkan surat pernyataan tentang persetujuannya dan ditandatangani oleh wajib pajak yang bersangkutan. 4. Hasil pemeriksaan yang seluruhnya disetujui oleh wajib pajak. meliputi seluruh jenis pajak untuk tahun pajak berjalan atau tahun-tahun pajak sebelumnya yang dilakukan dengan menerapkan teknik pemeriksaan dengan bobot dan kedalaman yang sederhana atau b. Pemeriksaan sederhana atau verifikasi merupakan pemeriksaan singkat yang dapat berupa pemeriksaan sederhana di kantor maupun pemeriksaan sederhana di lapangan. Pelaksanaan pemeriksaan berpedoman pada norma pemeriksaan sebagai berikut: a.

Pemeriksa wajib membuat laporan pemeriksaan. Pemeriksa wajib memberitahukan secara tertulis tentang akan dilakukan pemeriksaan kepada wajib pajak. Pemeriksa wajib memberitahukan secara tertulis kepada wajib pajak tentang hasil pemeriksaan berupa hal-hal yang berbeda antara SPTPD dengan hasil pemeriksaan. e. dengan tujuan agar penyelenggaraan pembukuan atau pencatatan dan pemenuhan kewajiban perpajakan untuk tahun-tahun selanjutnya dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pemeriksa wajib mengembalikan buku-buku. e. b. d.a. c. pemeriksa menyampaikan surat panggilan yang ditandatangani oleh kepala daerah atau pejabat untuk memanggil wajib pajak agar datang ke kantor Dinas Pendapatan Daerah dalam rangka pemeriksaan. f. Pemeriksa dilarang memberitahukan kepada pihak lain yang tidak berhak tentang segala sesuatu yang diketahui atau diberitahukan oleh wajib pajak dalam rangka pemeriksaan. i. pemeriksa harus memiliki tanda pengenal pemeriksa dan dilengkapi dengan Surat Perintah Pemeriksaan. Pemeriksa wajib memberitahukan secara tertulis kepada wajib pajak tentang hasil pemeriksaan berupa hal-hal yang berbeda antara SPTPD dengan hasil pemeriksaan. d. Pemeriksa dalam melaksanakan pemeriksaan kantor berpedoman pada norma pemeriksaan: a. Pemeriksa wajib mengembalikan buku-buku. c. g. Pemeriksa wajib menjelaskan maksud dan tujuan pemeriksaan kepada wajib pajak yang akan diperiksa. Pemeriksa wajib memperlihatkan tanda pengenal pemeriksa dan surat perintah pemeriksaan kepada wajib pajak. Pemeriksa wajib membuat laporan pemeriksaan. f. catatan dan dokumen pendukung lainnya yang dipinjam dari wajib pajak paling lama empat belas hari sejak selesainya pemeriksaan. h. . b. Pemeriksa wajib menjelaskan maksud dan tujuan pemeriksaan kepada wajib pajak yang akan diperiksa. Pemeriksa wajib memberi petunjuk kepada wajib pajak mengenai penyelenggaraan pembukuan atau pencatatan dan petunjuk lainnya mengenai pemenuhan kewajiban perpajakan sehubungan dengan pemeriksaan yang dilakukan. catatan dan dokumen pendukung lainnya yang dipinjam dari wajib pajak paling lama tujuh hari sejak selesainya pemeriksaan. Pemeriksa dilarang memberitahu pihak lain yang tidak berhak tentang segala sesuatu yang diketahui atau diberitahukan oleh wajib pajak kepadanya dalam rangka pemeriksaan.

Wajib pajak wajib memenuhi permintaan peminjaman buku-buku. Pelaksanaan pemeriksaan terhadap wajib pajak didasarkan pada pedoman pemeriksaan yang meliputi pedoman umum pemeriksaan. wajib pajak wajib memenuhi pelaksanaan pemeriksaan baik di lapangan maupun di kantor sesuai dengan waktu yang ditentukan. bertanggungjawab. Wajib pajak berhak meminta kepada pemeriksa untuk memperlihatkan Surat Perintah Pemeriksaan dan tanda pengenal pemeriksa. h. i. Wajib pajak wajib menandatangani berita acara hasil pemeriksaan apabila hasil pemeriksaan tersebut tidak atau tidak seluruhnya disetujui. bersifat terbuka. Pemeriksa wajib memberi petunjuk kepada wajib pajak mengenai penyelenggaraan pembukuan atau pencatatan dan petunjuk lainnya mengenai pemenuhan kewajiban perpajakan sehubungan dengan pemeriksaan yang dilakukan. b. b. pemeriksaan dilaksanakan oleh pemeriksa yang telah mendapat pendidikan teknis pemeriksa pajak daerah dan memiliki keterampilan sebagai pemeriksa. Pedoman umum pemeriksaan adalah sebagai berikut: a. penuh pengabdian. 5. pedoman pelaksanaan pemeriksaan dan pedoman laporan pemeriksaan. . Bagi wajib pajak pada saat diperiksa berpedoman pada norma pemeriksaan sebagai berikut: a. c. Wajib pajak wajib memberikan keterangan yang diperlukan. Wajib pajak berhak meminta kepada pemeriksa untuk memberikan penjelasan tentang maksud dan tujuan pemeriksaan. Pemeriksa harus bekerja dengan jujur. g. serta wajib menghindarkan diri dari perbuatan tercela. Wajib pajak wajib menandatangani surat pernyataan persetujuan apabila seluruh hasil pemeriksaan disetujui. Wajib pajak wajib memberikan izin untuk memasuki tempat atau ruangan yang dianggap perlu dan memberi bantuan guna kelancaran pemeriksaan. Pedoman Pemeriksaan Pajak Daerah. e. f. dengan tujuan agar penyelenggaraan pembukuan atau pencatatan dan pemenuhan kewajiban perpajakan untuk tahun-tahun selanjutnya dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku. d. sopan dan objektif. Wajib pajak berhak meminta kepada pemeriksa rincian yang berkenaan dengan hal-hal yang berbeda antara hasil pemeriksaan dengan SPTPD. catatan dan dokumen yang diperlukan untuk kelancaran pemeriksaan.g.

Laporan pemeriksaan yang berkaitan dengan pengungkapan penyimpangan SPTPD harus memperhatikan: 1). Sifat. catatan dan dokumen pendukung lainnya termasuk keluaran media komputer serta perangkat elektronik pengolah data lainnya dengan memberikan tanda terima. dan memuat pula pengungkapan informasi lain yang diperlukan. dilakukan dengan cara berikut ini: a. b. b. ringkas dan jelas sesuai ruang lingkup dan tujuan pemeriksaan. dan tindakan lain berkenaan dengan pemeriksaan. Hubungan dengan permasalahan lainnya. c. Pendapat dan kesimpulan pemeriksa harus didasarkan pada bukti yang kuat dan berlandaskan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah. Cara Pelaksanaan Pemeriksaan Pajak Daerah Pemeriksaan lapangan. pemeriksa memeriksa tanda pelunasan pajak dan keterangan lainnya sebagai bukti pelunasan kewajiban perpajakan daerah. yang harus dikembangkan dengan bukti yang kuat melalui pencocokan data. c. bukti dan petunjuk adanya penyimpangan. . 6. catatan dan dokumen pendukung lainnya termasuk keluaran dan media komputer dan perangkat elektronik pengolah data lainnya. Temuan hasil pemeriksaan dituangkan dalam kertas kerja pemeriksaan sebagai bahan untuk menyusun laporan pemeriksaan. Nilai absolut dari penyimpangan. Pemeriksa memeriksa buku-buku.c. Luas pemeriksaan ditentukan berdasarkan petunjuk yang diperoleh. Pedoman pelaksanaan pemeriksaan adalah sebagai berikut: a. Pemeriksaan harus dilakukan oleh pemeriksa dengan menggunakan keahliannya secara cermat dan seksama serta memberikan gambaran yang sesuai dengan keadaan sebenarnya tentang wajib pajak. d. laporan pemeriksaan disusun secara rinci. Pedoman laporan pemeriksaan adalah sebagai berikut: a. Pemeriksa meminjam buku-buku. memuat kesimpulan pemeriksaan yang didukung bukti yang kuat tentang ada atau tidak adanya penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan perpajakan daerah. 3). 2). pengamatan. sesuai dengan tujuan pemeriksaan dan dengan pengawasan yang seksama. tanya jawab. Faktor pembanding. pelaksanaan pemeriksaan harus didahului dengan program pemeriksaan. Pengaruh penyimpangan dan 5). 4). b.

d. Pemeriksa memeriksa buku-buku. catatan dan dokumen pendukung lainnya termasuk keluaran dari media komputer dan perangkat elektronik pengolah data lainnya dengan memberikan tanda terima. barang. sebelum pemeriksaan lapangan ditunda. e. g. Pemeriksa meminjam buku-buku. catatan dan dokumen pendukung lainnya termasuk keluaran dari media komputer dan perangkat elektronik pengolah data lainnya. Pemeriksa memberitahukan agar wajib pajak membawa tanda pelunasan pajak. wajib pajak atau wakil atau kuasanya tidak ada di tempat. Ketika wajib pajak atau wakil atau kuasanya tidak memberikan izin untuk memasuki tempat atau ruangan yang dianggap perlu dan tidak memberi bantuan guna kelancaran pemeriksaa serta memberikan . Jika pada saat dilakukan pemeriksaan lapangan. e. Pemeriksa melakukan penyegelan tempat atau ruangan tersebut apabila wajib pajak atau wakil atau kuasanya tidak memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruangan dimaksud atau tidak ada di tempat pada saat pemeriksaan. Tata cara penyegelan terhadap tempat atau ruangan yang dilakukan oleh pemeriksa ditetapkan oleh kepala daerah. buku-buku. Apabila pegawai wajib pajak yang diminta mewakili wajib pajak menolak untuk membantu kelancaran pemeriksaan. uang. catatan dan dokumen pendukung lainnya termasuk keluaran dan media komputer dan perangkat elektronik pengolah data lainnya. Pemeriksa meminta keterangan lisan dan atau tertulis dari wajib pajak yang diperiksa. Pemeriksa memasuki tempat atau ruangan yang diduga merupakan tempat menyimpan dokumen. f. wajib pajak atau wakil atau kuasanya tidak juga ada di tempat. Pemeriksa meminta keterangan dan atau bukti yang diperlukan dari pihak ketiga yang mempunyai hubungan dengan wajib pajak yang diperiksa. Pemeriksaan kantor dilakukan dengan cara berikut ini: a. Untuk keperluan pengamanan pemeriksaan. pemeriksa dapat melakukan penyegelan tempat atau ruangan yang diperlukan. b. pemeriksaan tetap dilaksanakan sepanjang ada pihak yang mempunyai kewenangan untuk bertindak mewakili wajib pajak sesuai batas kewenangannya dan selanjutnya pemeriksaan ditunda untuk dilanjutkan pada kesempatan berikutnya. Pada saat pemeriksaan lapangan dilanjutkan . Pemeriksa meminta keterangan lisan dan atau tertulis dari wajib pajak yang diperiksa. Pemeriksa meminta keterangan dan atau bukti yang diperlukan dari pihak ketiga yang mempunyai hubungan dengan wajib pajak yang diperiksa. yang dapat memberi petunjuk tentang keadaan usaha wajib pajak dan atau tempattempat lain yang dianggap penting serta melakukan pemeriksaan di tempat-tempat tersebut. pemeriksaan tetap dilaksanakan dengan terlebih dahulu meminta pegawai wajib pajak yang bersangkutan untuk mewakili wajib pajak guna membantu kelancaran pemeriksaan.d. c. yang bersangkutan harus menandatangani Surat Pernyataan Penolakan Membantu Kelancaran Pemeriksaan.

Pemberian tanggapan atas hasil pemeriksaan lapangan dilakukan dalam waktu paling lama tujuh hari setelah pemeriksaan lapangan selesai dilakukan. Norma pemeriksaan. perbedaan besarnya pajak diberitahukan kepada wajib pajak yang bersangkutan. Pemberitahuan hasil pemeriksaan kepada wajib pajak tidak dilakukan apabila pemeriksaan dilanjutkan dengan penyidikan. baik yang disetujui maupun yang tidak disetujui. surat ketetapan pajak daerah dan atau STPD diterbitkan secara jabatan. SKPDKBT dan STPD berbeda dengan SPTPD. Pemberian tanggapan atas hasil pemeriksaan dan pembahasan akhir pemeriksaan dan pembahasan akhir pemeriksaan lengkap diselesaikan dalam waktu paling lama 21 hari setelah pemeriksaan selesai dilakukan. dilakukan pembahasan akhir hasil pemeriksaan dan dibuatkan dalam bentuk berita acara yang ditandatangani oleh petugas pemeriksa dan wajib pajak yang bersangkutan. Pembahasan akhir hasil pemeriksaan merupakan pembahasan yang dilakukan antara pemeriksa dengan wajib pajak dalam upaya memperoleh pendapat yang sama atas temuan selama pemeriksaan. Surat Pernyataan Penolakan Membantu Kelancaran Pemeriksaan dan Berita Acara Penolakan Pemeriksaan dapat dijadikan dasar untuk penetapan besarnya pajak terutang secara jabatan atau dilakukan penyidikan. pemeriksaan tetap dilanjutkan dan pemeriksa membuat laporan pemeriksaan. Hasil temuan tersebut. Jika wajib pajak tidak memberikan tanggapan atau tidak menghadiri pembahasan akhir hasil pemeriksaan. Apabila dalam pemeriksaan ditemukan bukti permulaan tentang adanya tindak pidana di bidang perpajakan daerah. Hasil pemeriksaan kantor disampaikan kepada wajib pajak segera setelah pemeriksaan selesai dilakukan dan tidak menunggu tanggapan wajib pajak. pedoman dasar penerbitan surat . Jika penghitungan besarnya pajak yang terutang dalam SKPDKB. Surat Pernyataan Penolakan Pemeriksaan. Pelaksanaan pemeriksaan lebih lanjut ditetapkan oleh kepala daerah. berdasarkan hasil pemeriksaan yang disampaikan kepada wajib pajak. ringkas dan jelas serta sesuai dengan ruang lingkup dan maksud pemeriksaan. Apabila terjadi penolakan untuk menandatangani Surat Pernyataan Penolakan Pemeriksaan atau Surat Pernyataan Penolakan Membantu Kelancaran Pemeriksaan. Terhadap temuan dalam pemeriksaan yang tidak atau tidak seluruhnya disetujui oleh wajib pajak atau penanggung pajak. SKPDKBT atau STPD atau tujuan lain untuk pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah.yang diperlukan. Hasil pemeriksaan dituangkan dalam laporan pemeriksaan yaitu laporan tentang hasil pemeriksaan yang disusun oleh pemeriksa secara rinci. yang selanjutnya dijadikan ketetapan pajak daerah atau STPD. Laporan pemeriksaan yang dibuat oleh pemeriksa digunakan sebagai dasar penerbitan SKPDKB. wajib pajak atau wakil atau kuasanya harus menandatangani Surat Pernyataan Penolakan Pemeriksaan. pemeriksa membuat Berita Acara Penolakan Pemeriksaan yang ditandatangani oleh pemeriksa. dituangkan dalam berita acara hasil pemeriksaan yang ditandatangani oleh pemeriksa dan wajib pajak.

laporan pemeriksaan dan tata cara pemeriksaan untuk setiap jenis pajak daerah ditetapkan oleh kepala daerah. Untuk itu. Apabila batas waktu penyampaian SPTPD jatuh pada hari libur. Setelah itu. SPTPD harus diisi dengan jelas. Oleh karena itu. SPTPD dianggap tidak disampaikan. Pada beberapa jenis pajak daerah dimungkinkan pembayaran pajak oleh wajib pajak setelah ditetapkan oleh kepala daerah. SPTPD merupakan surat yang digunakan oleh wajib pajak untuk melaporkan penghitungan dan atau pembayaran pajak. lengkap dan ditandatangani oleh wajib pajak atau kuasanya. memperhitungkan. jika tidak ditandatangani oleh wajib pajak atau penanggung pajak dan tidak dilampiri keterangan atau dokumen yang ditentukan. Penyampaian SPTPD dilampiri dengan keterangan atau dokumen yang ditetapkan oleh kepala daerah. objek pajak dan atau bukan objek pajak. Untuk menetapkan pajak yang terutang maka kepala daerah harus memiliki data tentang objek dan subjek pajak. SURAT PEMBERITAHUAN PAJAK DAEARAH (SPTPD) 1. mengingat sebelum ditetapkan oleh kepala daerah wajib pajak belum memiliki kewajiban untuk membayar pajak terutang. pada beberapa peraturan daerah tentang pajak daerah. Perpanjangan Jangka Waktu Penyampaian SPTPD . wajib pajak melaporkan kepada kepala daerah tentang perhitungan dan pembayaran pajak dalam jangka waktu tertentu yang ditetapkan dalam peaturan daerah tentang pajak daerah dimaksud. kepada wajib pajak yang penetapan pajaknya dilakukan oleh kepala daerah tetap dikenakan kewajiban melaporkan data objek dan subjek pajak dengan menggunakan SPTPD. SPTPD disampaikan kepada kepala daerah melalui Dinas Pendapatan Daerah. Hanya saja pelaporan pada SPTPD ini tidak mencantumkan perhitungan pajak dan pembayaran pajak yang telah dilakukan oleh wajib pajak. 1. batas waktu penyampaian SPTPD jatuh pada hari kerja berikutnya. Kepala Daerah menetapkan jenis pajak tertentu yang tidak diwajibkan menyampaikan SPTPD. Wajib pajak atau penanggung pajak harus mengambil sendiri SPTPD di Kantor Dinas Pendapatan Daerah atau tempat lain yang ditunjuk oleh kepala daerah. benar. membayar dan melaporkan sendiri pajak yang terutang dengan menggunakan SPTPD. dalam jangka waktu yang ditentukan dalam peraturan daerah. Penyampaian SPTPD Wajib pajak yang memenuhi kewajiban pembayaran pajak dengan cara dibayar sendiri wajib menghitung. dan atau harta dan kewajiban menurut peraturan perundang-undangan perpajakan daerah.

Ketentuan ini dimaksudkan agar wajib pajak tidak memandang remeh kewajibannya untuk mengisi dan menyampaikan SPTPD tepat waktu sehingga proses pengenaan dan pemungutan pajak daerah dapat dilakukan sebagaimana mestinya. SURAT KETETAPAN PAJAK (SKP) Berdasarkan SPTPD yang disampaikan oleh wajib pajak. Segala kejadian yang menimpa wajib pajak yang berada di luar kekuasaannya. Adanya sengketa dengan pihak lain yang belum mendapat keputusan pengadilan. Apabila SPTPD tidak dilaporkan atau dilaporkan tidak sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan . dapat memperpanjang jangka waktu penyampaian SPTPD untuk jangka waktu tertentu. Bunga dihitung sejak saat berakhirnya penyampaian SPTPD sampai dengan tanggal pembayaran karena pembetulan SPTPD. Pembetulan SPTPD Wajib pajak atau penanggung pajak dengan kemauan sendiri dapat membetulkan SPTPD yang telah disampaikan. yang mengakibatkan utang pajak menjadi lebih besar. 2. d. kepala daerah akan melakukan pemeriksaan dan mengeluarkan penetapan pajak untuk menentukan apakah kewajiban pajak yang . Dalam hal pembetulan SPTPD. Wajib pajak berada di luar negeri dan dapat dibuktikan oleh wajib pajak tersebut. 3. yang besarnya ditentukan dalam peraturan daerah. Sanksi bila tidak menyampaikan SPTPD SPTPD dianggap tidak dimasukkan jika wajib pajak tidak melaksanakan atau tidak sepenuhnya melaksanakan ketentuan yang ada. dengan alasan yang sah dan dapat diterima. wajib pajak akan dikenakan sanksi administrasi berupa denda. Perpanjangan jangka waktu penyampaian SPTPD dilakukan ketika wajib pajak ternyata tidak dapat menyampaikan SPTPD sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan karena benar-benar mengalami kesulitan pemberian jangka waktu perpanjangan penyampaian SPTPD dihitung sejak jangka waktu penyampaian SPTPD berakhir.Kepala daerah atau pejabat yang ditunjuk atas permohonan wajib pajak atau penanggung pajak. Alasan wajib pajak yang sah dan dapat diterima untuk pengajuan perpanjangan jangka waktu memasukkan SPTPD adalah sebagai berikut: a. b. c. wajib pajak atau penanggung pajak dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% sebulan atas jumlah pajak yang kurang bayar. Wajib pajak tersebut meninggal dunia sebelum dilakukan pengalihan sebagai penanggung renteng atas pajak yang terutang.

Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar (SKPDKB). Ketentuan ini ditujukan kepada wajib pajak baik yang membayar sendiri pajak terutang berdasar sistem self assessment maupun yang ditetapkan oleh kepala daerah. . besarnya sanksi administrasi dan jumlah yang masih harus dibayar. 2. Khusus untuk SKPDKB dan SKPDKBT diterbitkan hanya terhadap wajib pajak tertentu yang nyata-nyata atau berdasarkan hasil pemeriksaan tidak memenuhi kewajiban formal dan atau kewajiban material. Penerbitan surat ketetapan pajak ditujukan kepada wajib pajak tertentu yang disebabakan oleh ketidakbenaran dalam pengisian SPTPD atau karena ditemukannya data fiskal yang tidak dilaporkan oleh wajib pajak. Dalam jangka waktu lima tahun sesudah saat terutangnya pajak. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan (SKPDKBT) dan 3. SKPDKB diterbitkan dalam hal terjadi keadaan sebagaimana di bawah ini: a. Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil (SKPDN). kepala daerah dapat menerbitkan SKPDKB ditambah dengan sanksi administrasi. Ketentuan penerbitan surat ketetapan pajak memberikan kewenangan kepada kepala daerah untuk dapat menerbitkan SKPDKB. kepala daerah dapat menerbitkan : 1. SKPDKBT atau SKPDN hanya terhadap kasus-kasus tertentu. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar (SKPDKB) SKPDKB adalah surat ketetapan pajak yang menentukan besarnya jumlah pajak. Contoh seorang wajib pajak menyampaikan SPTPD pada tahun pajak 1998. SKPDKBT atau SKPDN hanya terhadap kasus-kasus tertentu. SKPDN diterbitkan apabila jumlah pajak terutang sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak. berdasarkan hasil pemeriksaan diketahui bahwa SPTD yang disampaikan tidak benar. pajak daerah yang terutang tidak atau kurang dibayar.terutang telah dilakukan sebagaimana mestinya. Dengan demikian. jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak. Dalam jangka waktu paling lama lima tahun. apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain. 1. Ketentuan penerbitan surat ketetapan pajak memberikan kewenangan kepada kepala daerah untuk dapat menerbitkan SKPDKB. Atas pajak terutang yang kurang bayar tersebut. penerbitan surat ketetapan pajak hanya dilakukan terhadap wajib pajak tertentu yang nyata-nyata atau berdasarkan hasil pemeriksaan tidak memenuhi kewajiban formal dan atau kewajiban material. Khusus untuk SKPDKB dan SKPDKBT diterbitkan apabila ditemukan data baru dan atau data yang semula belum terungkap yang menyebabkan penambahan jumlah pajak yang terutang. jumlah kredit pajak.

dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau tidak atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 bulan dihitung sejak saat terutang pajak. pajak yang terutang dihitung secara jabatan. Setelah ditegur dalam jangka waktu tertentu wajib pajak belum juga menyampaikan SPTPD. Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam SKPDKB yang dikeluarkan karena wajib pajak tidak menyampaikan SPTPD kepada kepala daerah tepat waktu atau berdasarkan hasil pemeriksaan didapati bahwa pajak yang terutang tidak atau kurang dibayar. Yang dimaksud “kewajiban mengisi SPTPD tidak dipenuhi” dapat terjadi karena dua kemungkinan yaitu SPTPD sama sekali tidak disampaikan atau SPTPD disampaikan. tetapi tidak diisi dengan benar.000.000. Kepala Dinas Pendapatan Daerah melakukan penetapan pajak yang terutang secara jabatan pada bulan April 2002. Berdasarkan hal ini.dan diketahui bahwa pembayaran pajak tahun 2000 yang telah dilakukan oleh wajib pajak adalah Rp 100.000. Contohnya seorang wajib pajak tidak menyampaikan SPTPD untuk masa pajak Januari tahun 2000. Sanksi administrasi berupa bunga dihitung sejak saat terutangnya pajak sampai dengan diterbitkannya SKPDKB. Jumlah pajak yang terutang dalam SKPDKB yang dikeluarkan karena wajib pajak tidak memenuhi kewajiban mengisi SPTPD yang seharusnya dilakukannya sehingga pajak yang terutang dihitung secara jabatan.000. perhitungan SKPDKB adalah sebagai berikut: o Pajak daerah berdasarkan penetapan secara jabatan Rp 160. Pengertian penetapan pajak secara jabatan adalah penetapan besarnya pajak terutang dilakukan oleh kepala daerah atau pejabat yang ditunjuk berdasarkan data yang ada atau keterangan lain yang dimiliki oleh kepala daerah atau pejabat yang ditunjuk. Setelah ditegur secara tertulis wajib pajak tersebut tidak juga memenuhi kewajiban perpajakannya. dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan sebsar 25 % dari pokok pajak ditambah sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2 % sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 bulan dihitung sejak saat terutangnya pajak..- . Berdasarkan penetapan pajak secara jabatan dihitung bahwa pajak yang terutang adalah Rp 160.000.000.-.b. c. Contoh : seorang wajib pajak tidak menyampaikan SPTPD pada tahun 1998. dalam jangka waktu paling lama lima tahun kepala daerah dapat menerbitkan SKPDKB atas pajak yang terutang. Apabila kewajiban mengisi SPTPD tidak dipenuhi. Selain sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 25 % dari pokok pajak yang terutang juga dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 bulan. Sanksi administrasi berupa bunga dihitung sejak saat terutangnya pajak sampai dengan diterbitkannya SKPDKB. Dalam kasus ini kepala daerah menetapkan pajak yang terutang secara jabatan melalui penerbitan SKBKB. apabila SPTPD tidak disampaikan kepada kepala daerah dalam jangka waktu tertentu dan telah ditegur secara tertulis.

Sanksi kenaikan pajak tidak dikenakan apabila wajib pajak melaporkan sendiri sebelum dilakukan tindakan pemeriksaan pajak oleh fiskus. Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam SKPDKBT dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100 % dari jumlah kekurangan pajak tersebut. 3. Penerbitan SKPDN dimaksudkan untuk memberikan kepastian hukum bahwa pajak terutang yang dibayar dan dilaporkan . Jika wajib pajak tidak memenuhi kewajiban perpajakannya dengan benar. SKPDN diterbitkan apabila jumlah pajak yang terutang sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak.+ Pajak yang harus dibayar Rp 132.000.Rp 32.000.000.000.000.000.000.o o o o o o Pembayaran pajak daerah tahun 2000 Rp 100.000.000.000. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan (SKPDKBT) SKPDKBT adalah surat ketetapan pajak yang menentukan tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan.---------------------+ Pajak kurang dibayar Sanksi berupa bunga 2% x 16 x Rp 100.--------------------. kepala daerah dapat menerbitkan SKPDKBT.000.- Rp 60.000.000.--------------------.- Pajak kurang dibayar Sanksi berupa kenaikan 25% x Rp 160.000. SKPDKBT diterbitkan jika ditemukan data baru dan atau data yang semula belum terungkap sehingga menyebabkan penambahan jumlah pajak yang terutang.Rp 40. Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil (SKPDN) SKPDN adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah pajak yang terutang sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak. yaitu dengan ditemukannya data baru dan atau data yang semula belum terungkap yang berasal dari hasil pemeriksaan sehingga pajak yang terutang bertambah. kepala daerah dapat menerbitkan SKPDN.- Rp 100. Contoh terhadap wajib pajak yang berdasarkan hasil pemeriksaan kepala daerah ternyata jumlah pajak yang terutang sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak.- 2.000. Contoh wajib pajak yang kepadanya telah diterbitkan SKPDKB dan dalam jangka waktu paling lama lima tahun sesudah pajak yang terutang ditemukan data baru dan atau data yang semula belum terungkap sehingga menyebabkan penambahan jumlah pajak yang terutang. wajib pajak dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan 100% dari jumlah kekurangan pajak.000.

Sanksi administrasi berupa bunga dikenakan kepada wajib pajak yang tidak atau kurang membayar pajak yang terutang. Wajib pajak dikenakan sanksi administrasi berupa bunga dan atau denda. 2. empang dan perairan pedalaman (Pasal 1 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 JO Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 ). pajak dalam tahun berjalan tidak atau kurang bayar. Bumi adalah permukaan bumi atau tanah dan isi yang ada di bawahnya. SKPDN dikhususkan bagi wajib pajak yang membayar pajak dengan sistem self asssessment. b. DAN BEA MATERAI Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) A. OBYEK. sawah. Surat Tagihan Pajak Daerah (STPD) STPD diterbitkan apabila : a. Yang menjadi obyek PBB adalah bumi dan bangunan. STPD diterbitkan baik terhadap wajib pajak yang melakukan kewajiban pajak yang dibayar sendiri maupun terhadap wajib pajak yang melaksanakan kewajiban pajak berdasarkan penetapan oleh kepala daerah. termasuk tanah pekarangan. SKPD yang tidak atau kurang dibayar setelah jatuh tempo pembayaran sebesar 2% sebulan dan ditagih melalui STPD. SUBYEK. tempat usaha maupun tempat yang diusahakan (Pasal 1 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 JO Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994). Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam STPD karena poin a dan b di atas ditambah dengan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% setiap bulan untuk paling lama lima belas bulan sejak saat terutang pajak. . DAN PERHITUNGAN PBB. 3. Dari hasil penelitian SPTPD terdapat kekurangan pembayaran sebagai akibat salah tulis dan atau salah hitung atau c. BPHTB. Sementara itu.oleh wajib pajak telah sesuai ketentuan peraturan daerah tentang pajak daerah dimaksud. Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada bumi. misalnya tidak atau terlambat menyampaikan SPTPD. 4. sanksi administrasi berupa denda dikenakan karena tidak dipenuhinya ketentuan formal. Objek Pajak PBB 1. tanah atau perairan untuk tempat tinggal.

4. Fasilitas lain yang memberikan manfaat (Penjelasan Pasal 1 angka 2 UndangUndang Nomor 12 Tahun 1985 JO Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 ). air dan gas. Tanah yang merupakan hutan lindung. 5. hutan suaka alam. pabrik dan emplasemennya. tanah wakaf. yang merupakan satu kesatuan dengan komplek bangunan tersebut. 2. b. Dikecualikan dari pengenaan PBB (Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 JO Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 ) 1. f. c. yang dimaksudkan untuk tidak memperoleh keuntungan. peninggalan purbakala. Contoh objek yang dikecualikan atau tidak dikenai PBB itu seperti : pesantren atau sejenisnya. rumah sakit pemerintah dan lain-lain . Bangunan yang digunakan oleh perwakilan organisasi internasional yang ditentukan oleh Menteri Keuangan C. g. 3. taman nasional. Jalan tol. Pagar mewah. Galangan kapal. sosial. Subyek Pajak Bumi dan Bangunan .Termasuk dalam pengertian bangunan : a. pipa minyak. Tempat penampungan/kilang minyak. Tanah atau bangunan yang digunakan semata-mata untuk melayani kepentingan umum di bidang ibadah. tanah pengembalaan yang dikuasai oleh desa dan tanah negara yang belum dibebani sesuatu hak. Jalan lingkungan yang terletak dalam suatu kompleks bangunan. h. atau sejenis dengan itu seperti museum. B. sekolahan/madrasah. Tanah atau bangunan yang digunakan untuk kuburan umum. Tanah atau bangunan yang digunakan oleh perwakilan diplomatik atau konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik. e. Tempat olah raga. kesehatan. pendidikan dan nasional. Kolam renang. d. dermaga. seperti hotel.

4.Tarif pajak adalah sebesar 0. Mempunyai hak atas bumi/tanah. Nilai Jual Kena Pajak (NJKP) 4. Memperoleh manfaat atas bumi/tanah dan/atau. Apabila suatu bidang dan bangunan tidak diketahui secara jelas siapa yang akan menanggung pajaknya maka yang menetapkan adalah Direktorat Jenderal Pajak. Penanggung PBB adalah orang atau badan yang : a. dan/atau. d.NJKP atau Nilai Jual Kena Pajak yang besarnya ditetapkan sebesar 20 % dan 40 % (khusus untuk perumahan dengan NJOP Rp 1 miliar) dari NJOP. NJOPTKP 3.Nilai Jual Obyek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP) adalah NJOP yang tidak dikenakan PBB yaitu Rp. D. Tarif Pajak Uraian masing-masing faktor adalah sebagai berikut : 1.000. NJOP adalah harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar. Apakah ada perjanjian antara pemilik dan penyewa yang mengatur. menguasai atas bangunan. Memiliki. NJOP ditentukan melalui .3. b.5 %.1. Memperoleh manfaat atas bangunan 2.5% X (20% atau 40% X ( NJOP-NJOPTKP)) Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) 1. dan/atau.Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) berdasarkan tabel yang dikeluarkan oleh Dirjen Pajak 2. c.5 % x NJKP. 12. 5. Penetapan ini ditentukan berdasarkan bukti-bukti. Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP ) 2.Rumus untuk mengitung PBB adalah sebagai berikut : PBB = 0.000. Atau = 0. Apabila tidak terdapat transaksi secara wajar. Penghitungan PBB Faktor-faktor yang berhubungan dengan penghitungan PBB terhutang : 1. siapa yang menanggung kewajiban pajaknya dan siapa yang secara nyata mendapat manfaat atas bidang tanah dan bangunan tersebut.

perbandingan harga dengan objek lain yang sejenis. Nilai Jual Obyek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP) 1. NJOPTKP ditetapkan setinggi-tingginya Rp 12.04/1998). yaitu kelompok A dan kelompok B (523/KMK. Nilai jual sebagai DPP PBB dikelompokkan menjadi dua. ditetapkan oleh Kepala Kanwil Ditjen Pajak atas nama Menteri Keuangan berdasarkan pendapat Pemda setempat 4. 2. Obyek pajak perkebunan. 3. maka yang diberikan NJOPTKP hanya salah satu objek pajak yang mempunyai nilai jual paling besar.000. Besarnya NJKP ditetapkan sebesar : a.000.00 (satu milyar rupiah ) atau lebih. NJKP adalah nilai jual yang digunakan sebagai dasar penghitungan pajak.(dua belas juta rupiah) untuk setiap wajib pajak. Objek pajak lainnya :  Sebesar 40 % ( empat puluh persen ) dari Nilai Jual Objek Pajak apabila Nilai Jual Objek Pajaknya Rp 1.000. Besarnya NJOPTKP untuk setiap daerah kabupaten/kota.000. NJOP ditetapkan setiap tiga tahun oleh Menteri Keuangan. 2. . kecuali untuk daerah tertentu ditetapkan setiap tahun sesuai perkembangan daerahnya.000. Sedangkan objek pajak lainnya tetap dikenakan secara penuh tanpa dikurangi dengan NJOPTKP. NJKP atau Nilai Jual Kena Pajak 1. b. atau NJOP Pengganti.. atau nilai perolehan baru. yaitu suatu persentase tertentu dari nilai jual sebenarnya. kehutanan dan pertambangan sebesar 40 % (empat puluh persen ) dari Nilai jual Objek Pajak. Apabila seorang wajib pajak memiliki beberapa objek pajak. NJOPTKP adalah batas minimal NJOP yang menurut ketentuan UU tidak dikenakan pajak 2. 3.

Rumah.000 X 500 = Rp.  Untuk rumah. Menentukan NJOPTKP yaitu apabila seorang mempunyai lebih dari satu obyek maka NJOPTKP hanya terhadap satu obyek saja yang terbesar (sawah) berupa pengurangan NJOP yang tidak dikenakan pajak sebesar 12.-.b.000 M2 = 50.000 = Rp. 500.000.000.00 (satu milyar rupiah).NJOP rumah (tanah &bangunan) = 250. Sebesar 20 % (dua puluh persen ) dari Nilai Jual Objek Pajak apabila Nilai Jual Pajak Objeknya kurang dari Rp 1.000.  NJOP tanah rumah sebesar 100.000 per m2.000 per m2.000 per m2 dan bangunan sebesar 1. a. luas = 5 ha X 10.000. Contoh Penghitungan PBB : Pak Kasno terkenal sebagai tuan tanah.000.000 2.000 m2).NJOP sebagai dasar penghitungan sawah = 487.000. 1. luas tanah adalah 500 m2 dan bangunan 200 m2.000.000.000.000 Total NJOP sawah dan rumah = 750.000.000 . 50. data sawah dan rumah Kasno sbb :  Luas sawah 5 Hektar ( 1 hektar = 10.000.000.000.NJOPTKP = 13. Pertanyaan : Hitunglah total PBB Pak Kasno? Jawaban.000. sehingga NJOP sebagai dasar penghitungan sbb : NJOP Sawah = 500.000 X 200 = Rp.000.000 x 50.000.000.000. 200. NJOP tanah = 100. selain memiliki sawah yang luas juga memiliki Rumah mewah di Wilayah Madiun. Sawah.000.000 M2 NJOP sawah = Harga X luas = 10.NJOP bangunan = 1. Menentukan NJOP untuk seluruh tanah dan bangunan.  NJOP Sawah sebesar 10.000.

5% X 50.  hibah wasiat. PBB terutang di wilayah Kabupaten Dati II atau Kotamadya Dati II.000 = 487. 2.  tukar-menukar.  pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan. 2.  waris.000 3. yang meliputi letak objek pajak Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan/Atau Bangunan (BPHTB) A. Menentukan NJKP (nilai jual kena pajak) yaitu 20% dari NJOP NJKP Sawah = 20% X 487.000. Yang menjadi objek pajak adalah perolehan hak atas tanah dan atau bangunan.4.000 = 97.  pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya. Objek BPHTB ( pasal 2 undang-undang nomor 20 tahun 2000 ) 1.NJOP sbg dasar penghitungan rumah (tetap) = 250.000. .000 PBB Rumah = 0.000. Pemindahan hak karena :  jual beli.000 = 50.5% X 97.  Untuk daerah lainnya.000. Menentukan PBB (tarif X NJKP) PBB sawah = 0.NJKP Rumah = 20% X 250.400. Saat PBB Terutang Saat yang menentukan pajak bumi dan bangunan terutang adalah menurut keadaan objek pajak pada tanggal 1 Januari.000 = 250.000.000.400. Perolehan hak atas tanah dan atau bangunan sebagaimana dimaksud dalam butir a meliputi : a.000.  hibah. Tempat PBB Terutang  Untuk daerah Jakarta.000. PBB terutang di wilayah DKI Jakarta.- Saat dan Tempat PBB Terutang 1.000 Jadi Total PBB pak Kasno = 737.

c. b.  hak guna usaha. Pemberian hak baru karena :  kelanjutan pelepasan hak. .  hak pakai.  badan atau perwakilan organisasi Internasional yang ditetapkan oleh Menteri .  hak milik atas satuan rumah susun. Objek pajak yang tidak dikenakan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah objek pajak yang diperoleh :  perwakilan diplomatik.  diluar pelepasan hak.  pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap. konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik .  penggabungan usaha.  pemekaran usaha.  orang pribadi atau badan karena konversi hak dan perbuatan hukum lain dengan tidak adanya perubahan nama :  karena wakaf :  karena warisan :  untuk digunakan kepentingan ibadah.  peleburan usaha.  hak guna bangunan. penunjukkan pembeli dalam lelang. B.  negara untuk penyelenggaraan pemerintahan dan atau untuk pelaksanaan pembangunan guna kepentingan umum . Objek BPHTB yang dikecualikan 1.  hak pengelolaan.  hadiah. Hak atas sebagaimana dimaksud dalam butir a adalah :  hak milik.

Subjek pajak sebagaimana dimaksud pada butir a yang dikenakan kewajiban membayar pajak menjadi Wajib Pajak menurut Undang-undang ini. 2. Subjek BPHTB 1. Pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya adalah nilai pasar objek pajak tersebut. Dasar Pengenaan : 1. Penunjukkan pembeli dalam lelang adalah harga transaksi yang tercantum dalam risalah lelang. Jual beli adalah harga transaksi. Dasar pengenaan pajak adalah Nilai Perolehan Objek Pajak. i. f. D. e. d. Hibah adalah nilai pasar objek pajak tersebut. Pemberian hak baru atas tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak adalah nilai pasar objek pajak tersebut.menukar adalah nilai pasar objek pajak tersebut. b. g. Nilai Perolehan Objek Pajak di atas dalam hal : a. Objek pajak yang diperoleh karena hibah wasiat dan hak pengelolaan pengenaan pajaknya diatur dengan Peraturan Pemerintah yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 111 Tahun 2000 dan Peraturan Pemerintah Nomor 112 Tahun 2000.2. 2. C. Pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan hak adalah nilai pasar objek pajak tersebut. Yang menjadi subjek pajak adalah orang pribadi atau badan yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan. Pemberian hak baru atas tanah diluar pelepasan hak adalah nilai pasar objek pajak tersebut. c. Tarif dan dasar pengenaan BPHTB Tarif BPHTB ditetapkan sebesar 5% (lima persen). h. . Peralihan hak karena pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hokum tetap adalah nilai pasar objek pajak tersebut. Tukar.

000.000. Karena Nilai Perolehan Objek Pajak berada dlbawah Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak. Menteri keuangan dapat menetapkan besarnya Nilai Jual Objek Pajak Bumi dan Bangunan.-.-. Maka.-.maka dipakai sebagai dasar pengenaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah Rp. Wajib Pajak "A" membeli tanah dengan Nilai Perolehan Objek Pajak Rp 24.000.000. BPHTB = 5% x NPOPKP Contoh : a.000. c.dan bukan Rp. 8.-.-..000. 5..000. Wajib Pajak "A" membeli tanah dengan Nilai Perolehan Objek Pajak Rp 52. maka perolehan hak atas tanah tersebut tidak dikenakan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.000. Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak ditetapkan secara regional setinggitingginya Rp 60. Pada tanggal 1 Februari 1998.(enam puluh juta rupiah).000. 35. Apabila Nilai Jual Objek Pajak sebagaimana dimaksud diatas tidak diketahui atau lebih rendah daripada Nilai Jual Objek Pajak yang digunakan dalam pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan pada tahun terjadinya perolehan.3.000. 6..000. Pada tanggal 2 Januari 1998.000. Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak Rp 30. Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak adalah Nilai Perolehan Pajak dikurangi dengan Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak. 29.000. dasar pengenaan pajak yang dipakai adalah Nilai Jual Objek Pajak Bumi dan Bangunan.000. b.000. Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak . 7. Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak Rp 30.000.000. Apabila Nilai Jual Objek Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana dimaksud diatas belum ditetapkan. 4.-.000.29. Besarnya pajak yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif pajak dengan Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak. 35. Nilai Jual Objek Pajak Bumi dan Bangunan tersebut yang digunakan dalam pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan adalah sebesar Rp. Wajib Pajak "A" membeli tanah dan bangunan dengan Nilai Perolehen Objek Pajak (harga transaksi) Rp.

.000. Hibah Wasiat. 2.000. Jual beli. Putusan hakim sejak tanggal putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum. hadiah.000 = 1. E. Pemberian hak baru atas tanah sebagi kelanjutan pelepasan hak dan pemberian hak baru diluar pelepasan hak adalah sejak tanggal diterbitkannya surat keputusan pemberian hak. Pengenaan objek pajak yang diatur khusus dengan Peraturan Pemerintah. dan pemekaran usaha adalah sejak tanggal dibuat dan penandatanganan akta. PEMDA Tk I & II.000..000. lembaga pemerintahan non departemen.9. PERUM PERUMNAS terhutang 0% (nol persen). b. a. BPHTB yang terutang atas perolehan hak karena waris dan hibah wasiat adalah 50% (lima puluh persen) dari BPHTB yang seharusnya terutang (PP No.000. peleburan usaha. 5. Hak pengelolaan :  Departemen.00) Rp 22. maka BPHTB terutangnya 50% dari BPHTB.000. 4.sehingga BPHTB = 5% X 22. Waris adalah sejak tanggal yang bersangkutan mendaftarkan peralihan haknya ke Kantor Pertanahan (Peraturan Pemerintah Nomor 111 Tahun 2000). lembaga pemerintahan lainnya.Rp 30. pemisahan hak yang menyebabkan peralihan hak.000. 3. karena : 1.000. pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya. Lelang adalah sejak tanggal penunjukan pemenang lelang.  Apabila penerima Hak Pengelolaan selain dimaksud pada huruf a. hibah. tukar-menukar.adalah (Rp 52. Keterangan : Kewajiban membayar BPHTB sebesar 0% harus dinyatakan dengan Surat Keterangan Bebas ( SKB ) BPHTB yang diterbitkan oleh KPPBB.100. Saat pajak terhutang Saat pajak terhutang dibedakan atas perolehan hak atas tanah dan bangunan.00 . 111 Tahun 2000).

 Keputusan Menteri Keuangan Nomor 571/KMK. tentang perubahan atas Keputusan Menteri Keuangan Nomor 133/KMK. tentang pemusnahan benda materai Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-122a/PJ/2000 tentang tata cara pelunasan bea materai dengan menggunakan benda materai.04/2000 tentang bentuk. atau Kotamadya Daerah Tingkat II.  Keputusan Menteri Keuangan Nomor 560/KMK.04/2000. dan warna benda materai desain tahun 2000.04/2000 . pengelolaan dan penjualan benda materai  Keputusan Menteri Keuangan Nomor 133b/KMK. tentang bentuk.ukuran.F.04/2000 . ukuran. . atau Propinsi Daerah Tingkat I untuk Kotamadya Admlnlstratif yang meliputil letak tanah dan atau bangunan .04/2000 . Peraturan ini sekaligus mencabut peraturan sebelumnya yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1995 . ukuran.  Keputusan Menteri Keuangan Nomor 133/KMK. Saat pelunasan pajak terhutang Pajak yang terhutang harus dilunasi pada saat terjadinya perolehan Pajak Bea Materai Bea Materai adalah Pajak atas dokumen yang dipakai oleh masyarakat dalam lalu lintas hukum. dan warna benda materai desain tahun 2000.04/2000 .  Keputusan Menteri Keuangan Nomor 133a/KMK. G. Tempat pajak terhutang.04/2000.04/2000 tentang bentuk. Tempat pajak yang terhutang adalah di wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II. tentang pelunasan bea materai dengan menggunakan cara lain  Keputusan Menteri Keuangan Nomor 133c/KMK. Adapun dasar hukum dari diterapkannya pajak atas bea materai adalah sebagai berikut :  Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea materai  Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2000 tentang perubahan tarif bea materai dan besarnya pengenaan harga nominal yang dikenakan bea materai. tentang perubahan atas Keputusan Menteri Keuangan Nomor 133/KMK. tentang pengadaan. dan warna benda materai desain tahun 2000.

000.000. 2.00 (enam ribu rupiah).000. A.000.  Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-122d/PJ/2000 tentang tata cara pelunasan bea materai dengan membubuhkan tanda bea materai lunas dengan sistem komputerisasi Objek dan tarif bea materai Pada hakekatnya objek untuk bea materai adalah dokumen. Surat perjanjian dan surat-surat lainnya (antara lain: surat kuasa.000. Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-122b/PJ/2000 tentang tata cara pelunasan bea materai dengan membubuhkan tanda bea materai lunas dengan mesin teraan materai  Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-122c/PJ/2000 tentang tata cara pelunasan bea materai dengan membubuhkan tanda bea materai lunas dengan teknologi percetakan.00 atau harga nominal yang dinyatakan dalam mata uang asing :  Yang menyebutkan penerimaan uang  Yang menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang dalam rekening di bank  Yang berisi pemberitahuan saldo rekening di bank  Yang berisi pengakuan bahwa utang uang seluruhnya atau sebagian telah dilunasi atau diperhitungkan B. 3.00 (enam ribu rupiah).00 ( tiga ribu rupiah ) . surat hibah. surat pernyataan) yang dibuat dengan tujuan untuk digunakan sebagai alat pembuktian mengenai perbuatan. Surat yang memuat jumlah uang lebih dari Rp 1.000.000.00 maka tarif bea materainya Rp 3. Akta yang dibuat PPAT termasuk rangkap-rangkapnya.00 (enam ribu rupiah) 4. kenyataan atau keadaan yang bersifat perdata.00 tetapi tidak lebih dari Rp 1. Tarif bea materai untuk dokumen jenis ini adalah Rp 6. Dalam hal ini bentuk dokumen yang menjadi objek dari bea materai adalah sebagai berikut: 1. Tarif bea materai untuk dokumen jenis ini adalah Rp 6. Akta-akta notaris termasuk salinannya.000. Tarif bea materai untuk dokumen jenis ini adalah Rp 6.000. Apabila harga nominalnya lebih dari Rp 250.

keterangan pemindahan yang dituliskan pada ketiga surat tersebut.00 ( enam ribu rupiah ).00 (tiga ribu rupiah) tanpa batas pengenaan besarnya harga nominal.000.00 tetapi tidak lebih dari Rp 1. yang akan digunakan sebagai alat pembuktian di muka pengadilan.00 tarif bea materainya Rp 3. Segala bentuk ijazah. lain dari maksud semula . Apabila harga nominalnya tidak lebih dari Rp 250. Tarif ini berlaku efektif per 1 Mei 2000 Yang dikecualikan sebagai objek bea materai Dokumen-dokumen yang bukan termasuk objek bea materai adalah sebagai berikut : 1. surat angkutan penumpang dan barang.00.000.00 tidak terutang bea materai.000. Surat berharga seperti wesel .00 maka tidak terutang bea materai.000.00 maka tarif bea materainya adalah Rp 6. Tarif bea materai yang dikenakan sebesar Rp 6. 6.000.00 ( enam ribu rupiah ). 2. Berdasarkan bunyi pasal 3 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2000 . Dokumen yang berupa surat penyimpanan barang . Apabila harga nominalnya tidak lebih dari Rp 250. Efek dengan nama dan dalam bentuk apapun.000. sepanjang harga nominalnya lebih dari Rp 1.000.000.C. maka tarif bea materai untuk cek dan bilyet giro ditetapkan sebesar Rp 3.000. surat pengiriman barang untuk dijual atas tanggungan pengirim dan surat-surat sejenis lainnya. promes dan aksep yang harga nominalnya lebih dari Rp 1.00 ( tiga ribu rupiah ). 7. jika digunakan untuk tujuan lain atau digunakan oleh orang lain. 8.000. Namun apabila harga nominalnya lebih dari Rp 250.000.00 maka tarif bea materainya Rp 3000. 5.00 ( tiga ribu rupiah). Tarif bea materai untuk dokumen ini Rp 6. bukti untuk pengiriman dan penerimaan barang. konosemen.000.000.000.000.000. . Namun apabila harga nominalnya lebih dari Rp 250. Surat-surat biasa dan surat-surat kerumahtanggaan serta surat-surat yang semula tidak dikenakan bea materai berdasarkan tujuannya.00 maka tidak terutang bea materai.000.00 ( enam ribu rupiah ).00 tetapi tidak lebih dari Rp 1. Apabila harga nominalnya tidak lebih dari Rp 250.000.

dengan nama dan dalam bentuk apapun. Dokumen yang menyebutkan tabungan pembayaran uang. Dokumen yang dibuat oleh lebih dari satu pihak. Tanda pembagian keuntungan atau bunga dari efek. 6. Tanda penerimaan uang yang dibuat untuk keperluan intern oganisasi 7. yang ditutup dengan tandatangan dari pihak-pihak yang bersangkutan. pesiun. kecuali pihak-pihak yang bersangkutan menentukan lain. 9. Dokumen yang dibuat di luar negeri. 3. Saat dan pihak yang terutang bea materai A. uang tunjangan dan pembayaran lainnya yang kaitannya dengan hubungan kerja serta surat-surat yang diserahkan untuk mendapatkan pembayaran itu. Surat gadai yang diberikan oleh perusahaan umum pegadaian. Dengan menggunakan benda materai yaitu materai tempel dan kertas materai. uang tabungan kepada penabung oleh bank. 5. Yaitu . Saat terutangnya bea materai adalah pada saat dokumen tersebut digunakan di Indonesia. B. Kuitansi untuk semua jenis pajak dan untuk penerimaan lainnya yang dapat disamakan dengan itu dari kas negara. Dokumen yang dibuat oleh satu pihak.3. Bea materai terutang oleh pihak yang menerima atau pihak yang mendapat manfaat dari dokumen. misalnya cek. 2. uang tunggu. Cara pelunasan bea materai 1. Pihak yang terutang bea materai. kas pemerintah. Saat terutangnya bea materai atas dokumen yang dibuat oleh satu pihak adalah pada saat dokumen diserahkan kepada pihak untuk siapa dokumen itu dibuat. Tanda terima gaji. koperasi dan badan-badan lainnya yang bergerak di bidang tersebut. 4. 8. Saat terutang bea materai adalah sebagai berikut : 1. Tanda bukti penerimaan uang negara dari kas negara dan kas pemerintah daerah. Saat terutangnya bea materai adalah pada saat dokumen tersebut selesai dibuat.

Materai tempel harus direkatkan seluruhnya dengan utuh dan tidak rusak di atas dokumen yang dikenakan bea materai. tanda tangan harus dibubuhkan sebagian di atas semua materai tempel dan sebagian di atas kertas. .a. 133b/KMK. sehingga sebagian tanda tangan ada di atas kertas dan sebagian lagi di atas materai temple d. b. dan tahun dilakukan dengan tinta atau yang sejenis dengan itu. Membubuhkan tanda Bea Materai Lunas dengan alat lain dan teknologi tertentu (Lihat KMK No. bulan. Membubuhkan tanda Bea Materai Lunas dengan teknologi percetakan c. yaitu: a. Materai tempel direkatkan di tempat dimana tanda tangan akan dibubuhkan c. Membubuhkan tanda Bea Materai Lunas dengan sistem komputerisasi d. 2.04/2000). Pembubuhan tanda tangan disertai dengan pencantuman tanggal. Cara pelunasan bea materai dengan cara lain yang ditetapkan menteri keuangan. Jika digunakan lebih dari satu materai tempel. Membubuhkan tanda Bea Materai Lunas dengan menggunakan mesin teraan materai b.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful