You are on page 1of 28

I

I I

I

STAI\IDAFI
af Qg$A'rAA\ UMUM LISTRIK NEGARA

SIPLN

5e-1i19El4

PLN D i reksi S urat K eputusan Lampi ran N o.: 090/D l R /84 tanggal9 Jul i 19 84

I

l l

t

PGILA
EIAGIAN SATu:

, f ' f
'tr -.*

I I l
I
I

PENGIAMANAN
TF|ANSiMISI

SiTSTEM
15O kV

I I

El. SISiTEM

DEPAITETIET

PERTAMBATGAT DAT

ETERGI

PERUSAHAAN UMUM LISTRIK NEGARA
JATAH TRUTTo.rcYOBLOK M I/135 KEBAYORAN BARU JAKARTA

SPLN tz--l: 1984

POLA PENGAMANAN STSTEM

Bagian Satu: B. Sistem Transmisi I50 kV

Disusun Oleh: I" KELOIVIPOK PEMBAKUAN BIDANG TRANSMISI deng,an Surat Keputusan flireksi Perosahaan Umum Listrik Neg,ara No. 02EIDIR/83 tanggal 5 April 1983 2. KELOMPOK KERJA POLA PEI.fGAMANANAI{ SISTEM dengan Surat Keputusan Direktur Pusat Penyelidikan Masalah Kelistrikan No. OIZ|LMK|SS tanggat l0 pebruari 1983.

Diterbitkan Oleh: DEPARTEMEN PERTAMBAT{GAN DAN ENERGI Perusahaan Umum Listrik Negara Jl. Trunojoyo Blok M | | 135 Kebayoran Baru Jakarta I 98+

Ir.Ir. 9 . *) SUSIJNAN AlreC'OTA KEI.Ir. Nabri-s Katib : Sebagai Anggota Tetap. P. 5 .SPLN 52-1: 1984 SUST]NAN AI\IGGOTA KEIOII{POK Berdasarkan Surat Keputusan Direksi PEI{BAKUAN BIDANG TRANSUISI Negara Perusahaan tlmum Listrik No-: I I t O2B/DIF.Ir.Ir. Ir. Pusat Penyelidikan Masalah Kelistrikan : K etua merangkap Anggota Tetap (Ditetapkan kemudian) : Sebagai Ketua Harian merangkap Anggota Tetap Ir. 10111213. 567. tlahmud Junus - .R. Kepala Dinas ( e x -o ffi c i o ) 23. r ) Ir.Ir. Hosen : Sebagai Anggota Tetap Ir. Rosid : Sebagai Anggota Tetap Ir. Yuzwar Lutan : Sebagai Anggota Tetap Ir.oI'IPOK KERJA POLA PEITGAMANAN SISTEITi Surat Keputusan Direktur Pusat Penyelidikan t{asalah Kelistrikan No ./83 tanggal 5 April 1983 i 1. 6 . 1 2 . 't4 1516. Pembakuan. Ir1 0 . Sambodho Sumani : Sebagai Anggota Tetap Ir. 4 .SiringorJ-nEo 3 . 7 . IrDjiteng Marsudi Ketua merangkap Sekretaris merangkap Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggdta Anggota Eden Napitupulu Konnri Mahmud Junus J. Moh.Soekarto Itloel j adi Oetj i Sambodho Sunani Soemarto Soedirrnan Roswiem Roeslan Nabris Katib Demdeur r Rochadar J-S. Soekarto : Sebagai Anggota Tetap Ir. 8 .Ir. Soewadji : Sebagai iMggota Tetap Ir . B. Soenarjo Sastrosewojo: Sebagai Sekretaris merangkap Anggota Tetap (Ditetapkan kemudian) : Sebagai Wakil Sekretaris nerangkap Anggota Tetap Ir.Sihombing : Sebagai Anggota Tetap frDjiteng Marsudi : Sebagai Anggota Tetap I r. 4. J. 2. ltoeljadi Oetji : Sebagai Anggota Tetap Ir. Wo e rj a rd j o : Sebagai Anggota Tetap I r.: OOz/LrqK/83 tanggal 10 pebruari 1993 Ir. Ir. Komari : Sebagai Anggota Tetap Ir. 1-7 . 9. 1 1 .Gumirang : Sebagai Anggota Tetap Ir.

. . . T a b e l l B . t4 L7 l9 2T 23 n i s t e mT r a n s m i s i1 5 0 k V .P o l a P e n g a m a n aS Saluran Udara n i s t e mT r a n s m i s i1 5 0 k V . . . . . ..Pola Pengamanan o. . . . c. . PasalEmpat . o. .SPLN 52-l : l9t4 Daftar Isi Halaman I Pasal Satu . ..D e f i n i s i . . . . . . 3 PasalTiga-PolaUmumPengamananSiste Penerapannya di Lingkungan PLN 4 Sistem Transmisi150 kV. P e n g a m a n a nR e l .. . . o. 2 Pasa dm an. .. . . .PETUNJUK PEMILIHAN RELAI IMPEDANS . . ' LAMPIRAN A . . . . I I 3 Dl u a ..P o l a P e n g a m a n aS Saluran l(abel Tanah Tabel II-. . . . . . T a b e l t A . . . . ooo .. . o . o . . .l - . o. o. . . o.. . .. .. .. . . .. o . . O SISTEM 150 KV il = : .Ruang Lingkup.. .. . o.. . . .. . . o o . . . . . . .

Bagian Satu: A. Pasal Dua Definisi *) K e a n d a l a n( R e l i a b i l i t y ) Kem ungkinan sebuah gawai akan beker ja tanpa kegagalan dalam suatu per r o d e w a k t u a t a u s e j u m l a h p e n g g u n a a ny a n g d i t e n t u k a n . . S t a n d a r p o l a p e n g a m a n a ns i s t e m i n i t e r d i r i d a r i 3 b a g i a n y a i t u : .:r. Ketepercayaan (Dependability) i e : : k e a n d a l a n y a n g b e r h u b u n g a nd e n g a n d e r a j a t k e p a s t i a n b a h w a s u a t u r e l a i . transmisi 66 kV.Bagian Dua: Generator. 1 5 0 1 2 0k V d a n 6 6 1 2 0 k v . I50 kV serta sistem distribusi 6 kV dan 20 kV.Bagian Tiga: Sistem Distribusi 5 kV dan 20 kV. Bagian Satu: B. Lihat juga SPLN 52-l: 1983 Bagian A . 1 0 0 -1 9 7 7 . { N S I / I E E E S t d .sistem relai akan bekerja dengan tepat.: I c a r r . t r a n s m i s i 6 6 k V d a n 1 5 0 k V serta sistem distribusi 5 kV dan 20 kV. T uj u a n Tujuannya ialah untuk memberikan pegangan yang terarah dan seragam bagi P e r e n c a n a a np e n g a m a n a n s i s t e m p e m b a n g k i t a n . . 1 . T r a n s f o r m a t o r 1 5 0 1 6 6k V . Publikasi ini meliput Bagian Satu: B.l . Sistem Transmisi 56 kV B.SPLN 52-l: l9t4 Pola Pengamanan Sistem. Sistem Transmisi 150 kV. Sistem Transmisi 150 kV C . Sistem Transmisi 150 kV Pasal Satu Ruang Lingkup dan Tujuan Ruang Lingkup Standar ini dimaksudkan untuk menetapkan pola pengamanan bagi sistem pembangkitan.

: 1a t a u s i s t e m r e l a i t i d a k a k a n b e k e r j a d e n g a n t i d a k t e p a t . . P e n g a m a n a nP i l o t ( P i l o t P r o t e c t i o n ) Suatu cara pengamanan saluran yang memakai saluran komunikasi sebagai sarana untuk memperbandingkan kondisi elektris pada kedua terrninal dari saluranitu. Lihat masing-masing Ayat 7 dan 8.. Re l a i B l o k i n g ( B l o c k i n g R e l a y ) Sebuah relai bantu yang fungsinya membuat relai atau gawai tidak bekerja pada kondisi yang ditentukan.-* --T-----7 I -+ i5- + I ir Tidak ada sinyal I I A Sinyal .!!t. ' -i ' . sinyal akan dikirimkan dari pengirim (transmiter) 2 ke penerima I dan dari pengirim 5 ke penerima 6. . PMB I dan 6 dic e g a h b e k e r j a ( l a t u f r ) w a l a u p u n a r a h n y a s e s u a i d e n g a r rp e n j a t u h a n I dan 6 dan gangguan terjadi dalam jarak yang diamankan oleh ^a\\asan 2 darr relai PMB 5. Jatuh Pindah (Transfer Trip) Suatu cara penjatuhan dari jauh dimana saluran komunikasi dipakai untuk mengirimkan sinyal penjatuhan dari lokasi relai ke suatu lokasi yang jauh.. 3 ... dimana sinyal bekerja p a d a s a l u r a n y a n g t i d a k t e r g a n g g u d a nl e n g a n p e n g i r i m a n s i n y a l dari terminal yang dekat ke terminal yang jauh. a <_ . -. . relai pada terminal yang jauh dicegah bekerja.r:r'ena gangguanterjadi antara 3 dan 4. Sinyal-sinyal antara 3 dan 4 dicegah. k e a n d a i a n y a n g b e r h u b u n g a nd e n g a n d e r a j a t k e p a s t i a n b a h w a s e b u a h r e . C a t a t a n : D a l a m p r a k t e k t e r d a p a t d u a m a c a m p o l a p e n g a m a n a np i l o t . f a - +. Catatan: Relai bloking ini dipakai pada pola bloking.. Dengan gangguan yang terjadi pada seksi saluran antara PMB 3 dan 4.}r t?-l: l9t4 .. y a k n i : (a) pola jatuh-pindah dan (b) pola bloking..r inan (Security) Jam ' .

terutama karena peranannya yang lebih penting sebagai urat nadi sistem tenaga listrik di lingkungan PLN yang menuntut tingkat-jaminan yang lebih tinggi daripada sistem 66 kV.3 - . pada sistem transmisi 150 kV ini terdapat hanya satu macam pentanahan netral sistem yaitu pentanahanqfektif. Perbedaannya ialah pada sistem 150 kV memerlukan kriteria tambahan yang lebih spesifik. Berbeda dengan sistem transmisi 66 kV dimana terdapat dua macam pentanahan netral sistem. melainkan karena faktor-faktor yang lain. 1 0 . i a l a h r e l a i y a n g b e k e r j a c e p a t untuk mengamankan peralatan dan mempertahankan kemantapdh. . gejala yang sering mengancam ialah terjadinya bantingan (swing) pada pembangkit. relai yang bekerja hanya pada seksi yang terganggu (melokalisasikan gangguan) yang juga membantu mempertahankan kemantapan serta pemakaian penutup-balik untuk memulihkan sistem dan menghindari asinkron (keletahan). terjadi. pertahankan kemantapan tersebut. P e r s a m a a n k r i t e r i a d a r i p o l a p e n g a m a n a np a d a s i s t e m 1 5 0 k V d e n g a n 5 5 k V . untuk mempertahankan kemantapan seluruh sistem sebagai srratu kesatuan harus ada bagian tnterkoneksi yang dipertahankan. sedang pengamanan rel diperlukan yang dipasang pada t i a p s e k s i a g a r t i d a k m e n g h e n t i k a n s a m a s e l < a l ip e n y a l u r a n t e n a g a l i s t r i k k e pada konsumen. tetapi juga harus ada bagian interkoneksi yang lain yang S e h u b u n g a nd e n g a n u p a y a m e m - dikorbankan atau dilepaskan dari sistem. A r u s B a n g g u a ny a n g s a n g a t b e s a r m e m e r l u k a n w a k t u m e m b e b a s k a n g a n g g u a n yang sangat singkat. Dengan demikian pelbagai alternatif dari pola pengamanan sistem yang dibahas dan dua alternatif yang dipilih sebagai pengamanan utama dalam standar ini tidak lagi didasarkan atas perbedaan nilai arus gangguan ke-tanah yang. .SPLN 52-l: 1984 Pasal Tiga Pola l-tnrn Penga:'anan Sistsn dan Penerapannya di Lingkungan PLN 9. Akhirnya. s e b a g a i m a n ad i u r a i k a n d a l a m B a g i a n S a t u : A .

Pemilih an antara kedua pola pengamanan itu tergantung kepada faktor keandalan.. ekonomi serta pengoperasian dan pemeliharaannya.. Guna memperoleh penjatuhan yang sangat cepat maka pemakaian relai jarak (seperti pada sistem 56 kV) pada sistem 150 kV ini harus dilengkapi dengan relai pilot. .. Ketepercayaan me. Tetapi se- baliknya bilamana diperlukan pengamanan dengan pilot tidak harus dipakai penutup cepat karena hanya menghendaki terpeliharanya kemantapan sistem sedang kelangsungan penyaluran sedikit ditunda. satu dan lain untuk mempertahankan kemantapan sistem.an (dependability) dan keterjaminan (security).-:. Keandalan kedua pola rengamanan tersebut masing-masing mempunyai dua sifat yaitu keteper^3\ 3. kemantapan sistem dan kelangsungan penyaluran yang baik dengan memakai penutup cepat. Tepercaya berarti semua unsur dan faktor yang dirancang positif a.-:--3. mutlak diperlukan pengamanan dengan pilot. kin Makin pendek waktu membebaskan gangguan kemantapan sistem maOleh karena itu bilamana dikehendaki terpeliharanya terjamin. .-takan derajat kepastian pola pengamanan itu akan bekerja tidak sek. Dengan demikian perlu ditetapkan waktu dasar untuk membebaskan ganBguan. sedang terjamin berarti semua unsur dan/atau f ak: .SPLN 52-l: 1984 Untuk ini diperlukan pengamanan tambahan yaitu relai antibantingan yang merupakan subkomponen dari relai jarak atau komponen tersen<liri yang bekerja sedemikian hingga bantingan tidak terlihat sebagai gangguan. .4 .: ^ i c r D e r k i r a k a n( b e r p e n g a r u h ) negatif dapat dicegah atau diatasi. Pada dasarnya pemilihan pola pengamanandengan piiot il dimaksudkan untuk meningkatkan keandalan sistem yaitu bilamana elemen kawasan I pada relai jarak gagal bekerja maka sistem pilot dapat segera mengatasinya.le^erla dengan baik. T2 Dua buah pola pengamanan dengan pilot yang terkenal ialah (blocking scheme) dan pola jatuh-pindah (transfer-trip pola bloking scheme).

hal mana berarti pula kecil kemungkinannya terjadi kegagalan operasi pada komponen PLC. maka akibat-akibatnya yang tidak dikehendaki tidak teriamin dapat dicegah atau diatasi. bila pola bloking gagal bekerja. Artinya.SPLN 52-l: l9E4 Jadi bilamana merancang suatu pola pengamanan yang lebih tepercayar hal ini akan berakibat lebih tidak terjaminnya pola pengamanan itu. berarti komponen PLC dan relai-relai bekerja menjatuhkan pemutus-beban dan pada seksi yang sedang terganggu. Sebagaimana diuraikan di atas kedua pola pengamanan itu masing-masing mempunyai sifat ketepercayaan dan keterjaminan. Pola bloking. hal mana berarti pula adanya sumber gangguan bagi kemungkinan kegagalan operasi pada komponen PLC. dikehendaki. Sifat ini disebut tepercaya dan karenanya dapat diadakan percobaan di laboratorium dengan seksama Buna memperoleh Penampilan yang tepercaya itu. sedang pola jatuh-pindah lebih terjamin. terutama dari data yang dihimpun dari pengalaman. berarti komponen PLC dan relai-relai (yang mencegah penjatuhan) beker ja pada seksi yang tidak terganggu. . Sebaliknya pola jatuh-pindah. Sifat ini. Tetapi dengan uraian di atas dapat ditegaskan bahwa pola bloking lebih tepercaya. Dengan demikian komponen PLC dapat dioperasikan sesuai sepenuhnya dengan desain atau kehendak perancang. yang mengutamakan penjatuhan cepat dan serentak (atau hampir serentak) daiam seksi yang dilindungi (sedang mengalami gangguan). Dengan demikian komponen PLC mungkin bekerja yang tidak Walau demikian perancang pengamanan selalu menyempurna- kan desainnya agar pola pengamanan itu tidak sampai bekerja yang tidak dikehendaki seperti tersebut di atas.5 - . yang mengutamakan pencegahan terjadinya penjatuhan aiiuai seksi yang dilindungi (ialah seksi yang sedang mengalami gangguan). Sebagai contoh dapat dikemukakan bahwa pola bloking yang memang diciptakan untuk memperoleh pola pengamanan yang lebih tepercaya dari pola jatuh-pindah menjadi lebih tidak terjamin dari pola jatuh-pindah. bila berhasil disebut terjamin (secure).

O l e h k a r e n a i t u . maka komponen PLC itu disebut tepercaya tapi kurang terjamin.Banyak dipakai di Eropa dan Indonesia karena telah menunjukl<an penampilannyayang lebih terjamin daripada pola bloking. incorrect operation) pada pemutus-beban yang lain sehingga tidak selektif lagi dan pada gilirannya akan mengakibatkan penjatuhan pemutus (2) beban yang lain secara serentak. baik karena peralatannya yang lebih sederhanamaupun p e m a s a n g a n n y ay a n g t i d a k p e r l u d i p a s a n g p a d a s e t i a p g a r d u i n d u kl p u s3t listrik seperti pada pola bloking. :-'--':-'l.n operasi d a r i P L C t i d a k m e n g a k i b a t k a np e n j a t u h a n p e m u : -<-:':'l3r lain sepe ti mungkin terjadi pada pola bloking. q a nk u r a n g t e r jaminnya komponen PLC maka sifat tepercaya pada pola bloking r. .SPLN 52-l: l9E4 Dengan dem ikian dapat ditarik kesimpulan bah'uvapada pola bloking PLC bukan saja dianggap kom ponen yang tepercaya melainkan juga ter jam in. Relai-relai dan kompo^::-xomponennya tidak perlu dibuat dari satu fabrik. yang sulit diperhitungkan akibatnya. karena kurangnya perneliharaan (yang tidak diperhitungkan sebelurnnya) merupakan sebob ke6aga!ai". Bilamana kegagalan PLC karena kurangnya pemeliharaan. Sebaliknya siiat tidak terjaminnya menjadi menonjol karena akibat-akibat yang tidak dikehendaki dari kegagalan operasi itu tidak dapat dicegah atau diatasi yaitu terjadinya salah langkah (malfunction. t 3 Pelbagai faktor yang dijadikan dasar pertimbangan bagi pemilihan pola Pengamanan seperti diuraikan di atas menghasilkan keputusan kedua untuk menerima kedua pola tersebut sebagai standar pola pengamanan sistem dan menetapkan pola jatuh-pindah -dalam hal ini dipilih pola jatuh-pindah tak-sampai yang permisif (permissive underreach transfer-trip scheme). Lebih murah.sebagai pilihan pertama dan pola bloking sebagai pilihan kedua dengan pertrmbangan sebagai berikut: a. d e n . Pola jatuh-pindah tak-sampai yang permisif: .^reniadi pudar.

D r a f t .Kegagalan operasi pada PLC mengakibatkan pola ini tidak selektif lagi dan mungkin mengakibatkan penjatuhan pemutus (2) beban yang lain.7 . dan bahrva pola bloking merupakan penyempurnaan daripada pola jatuh_pindah. va n d R i d e r C o n s u l t i n g e n g r n e e r . 1979. sedarrg pLC pada pora jatuh-pindah (menurut sistem Eropa) dipakai baik untuk pengamanan maupun hubungan jarakjauh dan jauh . T u s s e & England .Pola ini lebih tepercaya daripada pola jatuh-pindah. .PLC pada pola bloking (menurut sistem Amerika) hanya dipakai untuk pengamanan saja. Initial . pengukuran jarak ^'Applied r ra-fa-7---T- USA.Relai-relai dan komponen-komponennya yang dipasang pada suatu seksi ( d u a t e r m i n a l y a n g b e r h a d a p a n )h a r u s dibuat dari satu pabrik. . Florida. Kepustakaan Amerika l) memlsahkan pola bloking dan pola jatuh-pindah sedang kepustakaan Ingqris ada yang memisahkan pola jatuh-pindah dan pola bloking 2) ctarilOa p u l a y a n g memisahkan pola tak-sampai dan pola melampaui 3). e J n t r n g . . karena disamping peraiatannya yang tidak sederhana (subkomponen-subkomponen dibuat/dipasang terpisah) juga karena harus dipasangpada setiap gardu induk/pusat listrik.Lebih mahal. r . s e d a n g p a d a p o l a b l o k i n g p e n g i r i m a n s i n y a l berlangsung pada sel<si yang tidak terganggu.F . Rel-ayr li 3' ) West Application GuideT . catatan: Pola dasar can pengertian pola pengamanan yang berlaku di Amerika maupun di Inggris sama yaitu-bahwa pada pola jatuh-pindah pengiriman sinyal berlangsung pada sel<sisaluran yang terganggu. The General Eiectric Company Java 150 kV and Z0 kV Power System Protectton Design Manual. P r i e c e C a r d e r . Pola bloking .r e 7 5 .SPLN 52-l: 1984 : b. tetapi menjadi kuran8 terjamin karena terjadinya kegagalan PLC yang disebabkan oleh kurangnya pemeliharaan.Second@ ?' lP r o t e c t i v e - Protective Relqying. \x/estinghouse Electric Corporation. .

. -rT- ^' '\pplled P r o t e c t i v e R e t a y i n g .SPLN 52-l: 1984 Perbandingan dan persamaan kedua acuan (refe. L i v e r p o o l . (b) permisif P e r s a ma a n dengan (A) (i) Bloking (ii) Unbloking (iii) Melampaui ( s e l a l up e r m i s r f ) ( i v ) T a k .8 - .r yang tidak dikehendaki walaupun pola ini bekerja pada saluran yang terganggu. 1 9 7 j. t / - ^ l : . The General Electric ComDany . s i f a t k e t e r j a m i n a n n y ay a n g t i n g g i y a i t u k e m a m p u a n n v a memberikan kepastian untuk tidak bekerj.:.. 150 kV and T0 kV power . Pola bloking disebut lebih tepercaya dari pola jatuh-pindah karena yang pertama dirancang dan beroperasi pada koncjisi yang positif (PLC baik dan saluran tidat_:g$g!ggg).rensi) tersebut sebagat beril<ut: Amerika(A) Inggris(B) (*) Tak-sanrpai (a) per. D e n g a n d e mi k i a n b i l a P L C .ffi :---: 9 ' .W e s t i n g h o u s e E l e c t r r c C o r p o r a t i o n . P o l a p e n g a m a n a ni n r a k a n t a m p i l t e p e r c a y a b i l a k o m p o n e n .. l . 'da 1979 i:r:ectiu"_89le5_ 3pp -g!&n quide.F i r s t p r i n t i n g . s i f a t k e t e p e r c a y a a n n y ar n e n j a d i p u d a r .-.: e d .k o m p o n e n n y a . r . J sex..misif (b) perpanjai-.p r n d a h u n t u k m e n i n g k a t k a n k e t e p e r c a y a a n i t u g a g a l r n e m e n u h rf u n g sinva. s e h i n g g ap o l a b l o k i n g s e b a g a i p o l a p e n y e m p u r n a a nd a r r p o l a l a t u h .t e r m a s u k P L C . E n g i n d . . acceieratron ) ("") ft{elampaui (a) utoking . Sebaliknya pola bloking tidak ditetapkan sebagai pilihan pertama karena gagal dalam nrenampilkan sifat ketepercayaannya i t u . s e c o n d E d i t i o n . .. : .s a mp ai (a) permisif (n) tat<-permisrf (iv) (a) (i) ( i ii ) Pola jatuh-pindah ditetapkan sebagai pilihan pertama karena a .F l o .n t t i e n d i r i p a d a p o l a b l o k i n g t i d a k b a i k .f. . 1 .gan j e nj a n g (step e:<tension. b e k e r j a t e p e r c a y a . sedang yang kedua disebut lebih terjamin dari yang pertama karenl IanB kedua dirancang dan beroperasi pada kondisi yang negatif (PLC baik dan saluran terganggu).:l.

D e n g a n s e n d i r i n y a r e k o m e n d a s id e m i k i a n h a n y a b e r l a k u p a da pola jatuh-pindah. 15 Pada sistem 66 kV dipasang pengaman cadangan yang terdiri dari penga m a n a n c a d a n g a n d a r i j a u h d a n p e n g a m a n a n c a d a n g .SPLN 52-l: 1984 1 4 W a k t u m e m b e b a s k a ng a n g g u a n p a d a s i s t e m i 5 0 k V i n i h a r u s l e b i h s i n g k a t daripada sistem 66 kV. k a r e n a p o l a i n i b e k e rj a p a d a s a l u r a n y a n g t i d a k t e r g a n g g u yaitu m e n c e g a h p e nj a t u h a n p a d a s a l u r a n y a n g t i d a k terganggu. seperti misalnya di Jawa Timur) maka seyogyanya ditetapkan waktu membebaskangangguan yang berlaku bagi keduanya.70 milisekon dan waktu pembukaan PMB 60 milisekon. a nl o k a l . Walau demikian berhubung di lingkungan PLN terdapat pula bloking yang m e m a k a i r e l a i j a r a k d e n g a n r e l a i k a ' u v a s a nI (seperti misalnya di Jarva Barat) dan tidak memakai relai kawasan I (jatuh karena relai pembawa. waktu penjatuhan relai antara 40 . P e n g a m a n a nc a d a n g a n l o k a l d i s i n i t i d a k b e r a r t i b a h w a pengamanan tersebut segera bekerja bilarnana pengaturan utama gagal bekerja. yang memang bekerja pada saluran yang terganggu.b e k e r j a l e b i h d u l u d a r i p e n g a m a n a nc a d a n g a n l o k a l . Waktu sinyal pembawa diperkirakan 20 milisekon. u n t u k g a n g g u a ny a n g t e r j a d i d a l a m kawasan 2 pada seksi itu. m a k a p a d a s i s t e m 1 5 0 k V i n i d i r e k o m e n d a s i k a n1 2 0 m i l r s e k o n u n t u k B a n g g u a ny a n g t e r j a d i d a l a m k a w a s a n l . Pengamanan c a d a n g a n d a r i j a u h d i l a k s a n a k a nd e n g a n p e m i l i h a n r e l a i . Koordinasi waktu d i b u a t s e d e m i k i a n h i n g g a p e n g a m a n a nc a d a n q a r d a r r j a u h .z o n e ) . Pengamanan cadangan lokal disini drusahakan koordinasi vraktr-rnya dengan pengamanan utama di tempat berikutnva )'ang akan berfungrsi sebagai pengamanan cadangan dari jauh (pada kau asan 3). Bilamana pada sistem 66 kV waktu dasarnya 150 m i l i s e k o n . Dengan demikian waktu membebaskan gangBuan pada setlap tempat sepanjang seksi yang diamankan itu ialah waktu yang diperlukan untuk membloking seksi yang tidak terganggu dan terdiri dari rvaktu sinyal pembawa. . a r a k k a w a s a n b e r j e n j a n g ( s t e p . t e n t u n y a p e n j a t u h a n i n i t i d a k m e n u n g g u p e n g i r i m a n s i n y a l . Pada pola bloking waktu membebaskan gangguan tebih lama dari pola j a t u h . direkomendasikan I50 milisekon seteiah pen g i r i m a n s i n y a l . waktu penjatuhan relai dan waktu pembukaan PfulB. sehingga seluruhnya maksimum 150 milisekon. ladi s e b e n a r n y a r v a k t u y a n g l e b i h l a m a r t u b u k a n w a k t u m e m b e b a s k a ng a n g g u a n melainkan waktu membloking seksi yang tidak terganggu. K e m u d i a n .p i n d a h .

..Pengamanan rel jenis Penggandeng Linear hanya dipasang pada Rel PMB satu-setengah seba. .1 0 - .ang sangat terjamin. { T( w a k t u m i n i m u m t e r t e n t u t e r b a l i k = W N 4 T T ) sebagai cadangan lokal. 16 Untuk memperoleh tingkat keandalan yang tinggi pada sistem 150 kV ini hanya dipakai dua macam rel. pengamanannyamenjadi l e b i h h a n d a l k a r e n a p e n g a m a n a nd e n g a n p i l o t d a p a t s a l i n g n r c n u n j o n g C e n g a n relai jaraknya sendiri (yang satu menjadi cadangan bagi yang lain secara timbal balik) sehingga pengamanan cadangan lokal benar-benar hanYa merupakan pengamanan t. kemudian diikuti jenis impedansi tinggi dan terakhir jenis banyak-hambatan (multi-restraint). Oleh karena itu pemilihan kombinasi rnacam rel dengan jenis pengaman rel ditetapkan dengan pengarahan sebagai berikut: . h a l m a n a m e m p e n g a r u h i p e mi l i h a n p e n g a m a n a n c a d a n g a n lokal maka pada sistem 150 kV yang ditanahkan langsung ditetapka.SPLN 52-L : l9t4 Hal ini berarti bahwa kemungkinan sekali pengamanan cadangan dari jauh akan bekerja lebih efektif mikian berarti dari pengamanan cadangan lokal. relei a r u s l e b i h b e r k a r a k t e r i s t i k I D N . artinya. misalnya jenis penggandeng linear mempunyai tingkat keandalan yang tertinggi. yaitu rel PMB satu-setengah dan rel PMB tunggal rel ganda. .anan jenis Banyak-hambatan hanya dipasang pada Rel PMB tunggal : ' e l g 3 ^ c 3 s e b a g a i p e n g a m a n a ny a n g c u k u p t e r j a m i n . Oleh karena itu perlu diketahui tingkat kean- dalan dari pelbagai jenis pengamanan rel. Pada sistem 150 kV ini. Yang pertama mempunyai keandalan yang lebih tinggi dari yang kedua dengan pengertian bilamana dipasang jenis pengamanan yang sesuai tingkat keandalannya.Tingkat keandalan dimulai dari tingkat ketepercayaan. Berbeda dengan sistem 66 kV yang ditanahkan melalur tahanan rendah dan t a h a n a n t i n g g i . pengamanan yang tepercaya lebih tinggi tingkat keandalannya dari pengamanan yang terjamin. Pe: i s::."ai pengamanan yang sangat tepercaya sedang jenis Impedansi Tinggr d asang baik pada Rel PMB satu-setengah sebagai rengamanan yang cuk p tepercaya maupun pada Rel PMB tunggal rel gan:3 sebagai pengamanan ).rmbahan(redundant). Dengan de- bahwa waktu penundaan bagi pengamanan cadangan lokal cukup lama sehingga mungkin sekali mengorbankan kemantapan sistem demi keselamatan peralatan.

pada sistem 150 kV ini kecuali dipakai penutup-lambat dipakai pula penutup-cepat yang disamping untuk memelihara kontinuitas penyaluran dimaksudkan pula untuk memperbaiki kemantapan sistem. pasal Lima.saluran dengan dua sumber p a d a k e d u a u j u n g n y . Relai ini merupakan relai fakultatif yang terpasang (built-in) dalam relai impedans. l8' Pada sistem 150 kv pemakaian penutup balik merupakan keharusan untuk mempertahankan kemantapan sistem. mrsalnya contoh yang berikut: .tudesain khusus dari gardu induk yang merupakan suatu sistem sehinggamacam rel dan pengarnanannya nrerupakan bagian yang terpadu dari sistem itu dan desain i n i d i s e b u t g a i . 5 0k V . Dengan demikian untuk pemakaian penutup-lambat ketentuan untuk sistem 66 kV seperti tercantum dalam Bagian Satu: A. Berbeda dengan sistem 66 kV. tetap diberlakukan pada sistem li0 kv. Ayat 4.ll .d ui n d u k b e r (Gas isdasi gas Jnsu)ated substation) d/mgkat G/BG). dimana hanya dipakai penutup-lambat 3-fasa untuk memelihara kontinuitas penyaluran.SPLN 52-l:1984 Kecuali macam rel dan pengamanan rel tersebut di atas telah pula cJikenal dan dipasang di lingkungan PLN sua. . Sistem Transmisr 66 kV. sebaiknya semua relai impedans untuk sistem transmisi 150 kV dilengkapi dengan relai anti-bantingan. pacla sistem dengan saluran radial sebenarnya relai anti-bantingan ini tidak diperlukan (kecuali mungkin terjadi bila mensuplai inclustri yang mempunyai motor-motor besar). 17 Pada sistem 150 kV dianggap perlu memakai relai anti-bantingan. ad a n k e m a m p u a n p e n y a l u r a n d a r i s a l u r a n i n i t i d a k m e l e b i hi I T y o beban sistem terendah dari sistem dimana saluran itu berada. nam un untuk menyederhanakan pengadaan dan demi keluwesan pengadaan terhadap kemungkinan dikemudian hari saluran radial menjadi saluran interkoneksi antara dua sumber daya. Mengingat peranan operasional dari sistem 150 kv maka sebaiknya relai impedans yang dipakai selalu dilengkapi dengan relai anti-bantingan. apalagi harga rehi ini cukup murah dibandingkan dengan peranan o p e r a s i o n a l s i s t e m t r a n s m i s i l .Saluran radial. Selanjutnya. terhadap pemakaian penutup-lambat dan penutup-cepat diberikan pengarahansebagai berikut: l8-1 Penutup-lambat tiga-fasa dipakai pada: .

l8'3 Penutup-cepat tiga-fasa dipakai seperti halnya penutup-cepat satu fasa yaitu dimaksudkan untuk memperbaiki kemantapan sistem.c e p a t t i g a . (Bilamana terjadi 8an88uan antara PQ.1 2 - . 18'2 Penutup-cepat satu-fasa dipakai pada saluran dengan dua sumber pada kedua ujungnya dan kemampuan penyaluran dari saluran ini melebihi 10"/" beban sistem terendah dari sistem dimana saluran itu berada. perbedaannya ialah pada i'enutup-cepat tiga-fasa terdapat resiko kelelahan pada poros penggerak nula (pembangkit) sebagai efek asinkron. Dengan kemampuan yang relatif tinggi untuk merrgatasi resiko hilangnya kemantapan sistem pada waktu terjadi gangguan diperlul<anpeDalam hal ini diperlukan sarana atau kelengkapan yang mencegah penutup-balik bilamana terjadi gangguan tiga-fasa yang biasanya bersifat permanen. maka saluran masuk ke Q mengalami bebanlebih).f asa diperlukan pers \ .a. Dengan kemampuan saluran yang rendah resiko kehilangan kemanrapan sistem pada waktu terjadi gangguan sangat kecil. sehrngga penutup-balik yang diperlukan cukup dengan penutup-lambat sa.SPLN 52-l: 1984 B z = 4 4 0M W Beban terendah Bt = 560 MW' Beban terendah Br= 449 MW Kemampuansaluran Pe< 100 MW 'l I ) Beban Sistem Terendah= B t * B Z = 1 0 0 0M W . Waktu-mati sebaiknya tidak melebihi 5 detik agar tidak didahului oleh relai aruslebih dari saruran yang mengalami beban lebih. Dengan c e mi k i a n u n t u k p r m a k a i a n p e n u t u p . . a r a t a ns e b a g a i b e l i k u t : nutup-cepat satu-fasa. PMB di P dan Q jatuh.

penutupan sampai dua kali. -13- . b. Adapun mengenai jumlah penutupan seyogyanya dibedakan penutup-cepat sa tu-fasa dengan tiga-fasa. Pada saluran dengan dua sumber daya pada kedua r:jungnya.SPLN52-I: I984 a. c. Hal ini dijamin oleh suatu interlok. Pasal Empat Ayat 15 dan 15. Pada saluran radial pemakaian penutup-cepat ini tidak bertentangan dengan syarat-syarat teknis konsumen. Catatan: Interlok ini menutup kontak apabila PMB sirkit sebelah masih masuk dan kontak ini dihubungkan seri dengan kontak yang akan menutup apabila pada sirkit sebelah ielas masih mengalir daya yang dideteksi oleh sebuah relai daya. seperti diuraikan dalam Bagian Satu: A. Dengan penutup-cepat satu-fasa dapat dilakukan sedang dengan penutup-cepat tiga-f asa hanya dapat dilakukan satu kali penutupan. maka kemampuan penyaluran dari saluran ini tidak melebihi 5% beban terendah dari sistem dimana saluran itu berada. Pada saluran dengan dua sumber daya pada kedua ujrrngnya ditambahkan ketentuan-ketentuan sebagai berikut: Sedikitnya ada dua saluran sirkit-ganda yang menghubungkan kedua sumber. Penutupan-balik pada satu-sirkit hanya boleh terjadi apabila sirkit sebelahnya pada satu tiang jelas masih tertutup (bekerja). 19 Pengamanan saluran kabel tanah pada prinsipnyasama dengansistem transmisi 66 kV. Sistem Transmisi 66 kV. setiap saluran sirkit-ganCa berada pada satu tiang.

dengan pembawa saluran tenaga (pSt=ptC) yang bekerja pada saluran )'ang terganggu. 20. 20.2 Pola bloking dengan pembawa saluran tenaga (PST). !'ang bekerja pada saluran yang tidak terganggu. t4- . yanB pada urnurnnva terdrri dari salrrran udara dan mempunyai pentanahan netral efektif ditetapkan dua macam pola penggamanan utama sebagai berikut: 20.2 Waktu membebaskan gangguan pada waktu gangguan terjadi dalam kawasan 2 pada saluran itu ditetapkan maksimurn I5C milisekon.1 Waktu membe.SPLN 52-L: 1984 Pasal Empat Pola Pengamanan Sistem Transmisi I50 kV 20 Untuk sistem Transmisi 150 kV.'.L Pola jatuh-pinCah tak-sampai yanB permisif. 21 Waktu membebaskan gangguan dari pola jatuh-pindah di tetapkan sebagai berikut: 2l. waktu penjatuhan relai 40 .askangangguan tersebut terdiri dari waktu sinyal pembawa 20 milise rn. dimana penjatuhan ter jadi tanpa menunggu pengiriman sinyal. 21.l W a k t u d a s a r d i t e t a p k a n m a k s i m u m 1 2 0 m i l i s e k o n u n t u k g a n g g u a ny a n g terjadi dalam kawasan I.3 Pengamanan dengan pola jatuh-pindah ditetapkan sebagai oilihan pertama sedang pengamanan dengan pola bloking sebagai piiihan kedua.70 milisekon dan waktu pembukaan PMB 1r0milisekon. dimana penjatuhan terjadi setelah pengiriman sinyal. 22 Waktu membebaskan gangguan dari pola bloking ditetapkan sebagai berikut: Waktu membebaskan gangguan pada setiap tempat sepanjang seksi yang diamankan ditetapkan maksimum 150 milisekon dengan penjelasan sebagai berikut: 22.

f a sa maupun gangguan-tanah.1 Pada terminal dengan dua sirkit.2 Pada terminal dengan lebih dari dua sirkit. yaitu saluran sirkit-ganda yang beroperasi paralel antara dua sumber dipakai penutup lambat dengan interlok.SPLN 52-l: l9E4 2 2 . .1 di atas berlaku pada terminal dengan tiga sirkit. b a i k s e b a g a i p e n g a m a n a ng a n g g u a n . yaitu tebih dari satu saluran sirkit-ganda yang beroperasi paralel antara dua sumber atau lebih dipakai penutup lambat dengan CS dan PS.l r i y ' ad i Jawa Timur). B i l a m a n a k e b i a s a a np e m e l i h a r a a n s a l u r a n u d a r a d i l a k s a n a k a nd e ngan mentanahkan kedua sirkit pada saluran sirkit-ganda. 2 K e t e n t u a n w a k t u m e m b e b a s k a n B a n B g u a nt e r s e b u t d i a t a s b e r l a k u b a g i s e m u a p o l a b l o k i n g d i l i n g k u n g a n P L N . . 24 Pola pengamanan sistem transmisi 1r0 kV ini dilengkapi dengan penutup-lambat tiga-fasa. karena pengiriman sinyal semata-mata diperlukan untuk membloking seksi yang tidak terganggu. berikut alat-alat pelengkap cek sinkronisasi (CS) dan pemeriksaan saluranmati (PS) bilamana kemampuan saluran tidak melebihi 10"/" beban sistem terendah dimana saluran ini berada dengan penjelasan sebagai berikut: 24.2 berlaku pada terminal lebih dari tiga sirkit. Catatan: Yang dimaksud waktu rnembebaskan gangguan pada suatu seksi yang terganggu pada pola bloking ialah waktu yang diperlukan untuk membloking seksi lain yang tidak terganggu. 24.15- . C a t a t a n : l . Bilamana dapat diusahakan sarana yang dapat mencegah bekerjanya penutup balik pada gangguan tiga-fasa. dipakai penutup lambat dengan CS dan PS. 2 3 P e n g a m a n a nc a d a n g a n t e r d i r i d a r i p e n g a m a n a n c a d a n g a n d a r i j a u h y a n g d i l a k s a n a k a n d e n g a n r e l a i j a r a k k a w a s a n b e r j e n j a n g d a n p e n g a m a n a nc a d a n g a n lokal yang dilaksanakan dengan relai aruslebih berkarakteristik IDMT (waktu m i n i m u m t e r t e n t u t e r b a l i k = W M T T ) . b a i k b a g i p o l a p e n g a r n a n a ny a n g memakai relai jarak dengan relai kawasan I (seperti misalnya di Jawa B a r a t ) m a u p u n y a n g t i d a k m e m a k a i r e l a i k a w a s a n I ( s e p e r t i r n i : . sedang pada Sub ayat 24. maka ketentuan tercantum pada Sub ayat 24.

bilamana kemampuan saluran tidak melebihi 5% beban sistem terendah dari sistem dimana saluran ini berada.SPLN 52-l: 1984 2. L6- . Pada terminal dengan satu atau dua sirkit. Selanjutnya berlaku ketentuan pada Ayat 24 di atas. tentuan pada Ayat 24 di atas. yang terdiri dari saluran kabel tanah ditetapkan pola pengamanan dengan relai dif erensial longitudinal sebagai Pengamanan sistem. 26 Pola pengamanan sistem transmisi 150 kV ini. bilamana kemampuan saluran melebihi 10% beban sistem terendah dari sistem dimana saluran ini berada. Pengamanan utama tersebut di atas dibantu oleh pengamanan cadangan lokal dengan relai aruslebih waktu-terbalik. Selanjutnya berlaku ke- 2 7 Untuk jaringan transmisi 150 kV. dilengkapi dengan penutup-cepat tiga-fasa. yaitu saluran sirkit-tunggal atau sirkit-ganda yang beroperasi radial (satu sumber) dapat dipakai penutup lambat tiga-fasa (dengan alat-pelengkap yang dikehendaki) untuk beban yang penting. 2 5 Pola pengamanan sistem transmisi 150 kV ini dilengkapi dengan penutup-cepat satu-fasa. baik sebagai pengamanan gangguan fasa maupun sekaligus sebagai pengamanan gangguan tanah.

r ' nd lr lr o 0 J E rd >- g . t E Q TJ gJ f i f i d I . : s. c E A t F F .{ H ' .E ! . : d f s u i " >r4 ! .x q I x !J i! \ r .u +: Ll a ::J )r'4 q 4 = 9 H A \r_t g fl {J ri cl a NH TT E$ u) Jl cg E. x' . A Gc H ]. J + J O EEE a - = q E h l P * W x ! . J {J llt H 5 'q < € G' o E:EET -l g E F . { I - x' 3 . d s i d s € r E l u ^ hd 'UJ h !.n * _".Fl * ^ ! x'x *.. i x 8* . H l J c * F : . t { c ' ' J $ H fr ^E . l ' J c A N H x"tt a $f{$6EfisFfiige 6 d 6 d{ . e ss tru +f i : 5 H TF . n t $r s=lF l 4 I l ! ^ c .H H 9 c t F. g s $x fu rd {J ! i Hr u .tl n FI th I' F r{ fle I art 't g . ! u {rs J $t . : E E H c(l L ct L.1 \{ QI t4 A n f r F U ! 'r F { - r r g * { lF * .]Jtr* i { \ t : h . v '.i ( Hl fl s=iE X ! ! r ^ E b r E('!g ''l i .Fl u 'Fl I F bo c) Gl n x. ^ rtr d d * * 0l* N Q.Fr . A .i. F it H F E $e FI H t pfl{e' E iE n. { T $r E + ) l ) ^ L * I \ .g )4 f .l : ! r y F .-{ iEfi* $ fr^ * * t f . 5 ! E A . F . +) x x H c r i Y . : t " ' Y ' Y ' 7 o ctt 't a { -fu \ 'Ft d r+{ o) 3 3. .sIH:E'^ # x C -l F t 7 g srafi. f.x )4 E C ... :: Y.{ 8 c: i' E!. s : '. . i 1 € r f$ r r! il E prx F x 3 € A E fIr + E* s a E ' i * E ] .il i .'l ..{ i1 '6 .^ v t q f i - sr { a ? l ' n \ a F H + d +J .y n u A F r i l . .. J a\tn ^ ^ - v y . r ' H 6r . t U E E:E Eg 3b.sg$gn '-1 q m s $ t! o ra ct) F U' Gl L flr E E .{ 'F{ . . .^l * 1 f i .: . e { f in ! .$ s. I . iai A eeErgEE#$ frfl89$ d d d _ F t { i€fi* s fr:6i:.s E ..t x x e F Ut H { Ft F F o AA CA GI GI lil $s ^d s . e H * - frEr t o s -.9.F.

SPLN 52-l: l9t4 18(kosong) .

u H q +l '-l .l s 6 d. : E i .-. cl E H't A 6 q L O F { g.$ E I q'r€ . Itl d GI [$B.v {i ix J d s li o E F ? h X F l f ie. F . il. 'E E :g F H t E .T H' 5 g. o e n$ i (4 s-'r . I :l $t . '-.i sl : EE $ [{ r H ill E 6ps H 3$ F E g E lr (u GI v c\t x FI F It T' n Ht r F{ E u. H+ E $ ir g Z ^ x C J a t L C € ? I n$ €' F.d g E q to ttt L $e $r F n q i ' - ' . H tr (l) O. ? h & : : * Ef l # er s* '! :Qg .6f .F l t I i HE : ! $ & : 8 f i Hu s I EH -E!' .n '-i ts Pt +r F 'tl \ H dl Gt fi.E d.F{ I.I {E$T $_ { ! f r i : E c P. c S ^r.( 5 E E c ( l c ' { E ('\ I I (A tr GI Gl cd a0 I q q .€ { d E . . j niJ de 8"4 E +. x rA T 1 a 6 .{ X EF. #{ x )( { al ts c fi 'Ft t C d .f.L E E I' og f [r a .. { cl E 6 6 la trt o ta tr u) cl F E gl I t\ E E (l ^ x 3E E 6 ' d H e t .aJ I ' + .!{e. ! U 8 . Ji F( a. E EI $I q ^i€ il fU 'Jl1 tljd:.l qfifl8 -+Jl 15-cr fil r'lr .it TI 2l raa tx r fir E{ .H I 3 3 E_ E "C c ^ q H : { + Hx . 8 li l" " &8. r E : $ B "E S E 'd R-l Hfl x r E x u t rt{ .F $f r s.: n - )4'il q* H a - - { ! i a4 t H d d i H 4 l d l c J * G ii o 'd il e S {H o '3 B 8.J( x F I }t X.E fi 9i c a i).gF tr'E .?l N .: .€ f - $ . .

SPLN 52-l: l9t4 -20(kosong) .

r .dan p e n g a m a n a n n g a m e ru p a kan bagi an s:s tern U ang te rpadu dari rtu. B . -21- .PIvIB t unggal r el ga n d a * Im p e d a n s tinggi Pusat Listrik S angat berkapas itas terjamin 200 1000 MvI Gardu i nduk berkapasitas > 50 O MV A *Banyakh a mb a ta n Gardu i nduk berkapasitas 200 500 lvlvA Gardu induk gas berisolasi ( G .I . s t e r n s e h i n g g a m a ' cam rel. c . G . 8 . a d a l a h d e s a i n k h u s u s A a n g m e r u p a k a n s u a t u s : .SPLN 52-l: l9t4 Tabel II: Pengaman4n Rel No ur ut I"lacam rel Pe n g a ma n a n r el D i pasang pada Pusat listrik/ Gardu i nduk Pusat Listrik berkapasitas )zi ooo MW Pusat Listrik berkapasitas 1 000 MW 20a Gardu i nduk berkapasitas Tingkat keandal-an -<-* Rel P MB s a tu s et enga h * Pe n g g a n d e ng linear * Im p e d a n s tinggi Sangat tepercaya Cukup tepercaya >2OOMVA Rel.) * ) S angat terjamin Cukup terjamin ReI *) Pengaman * ) ( S angat ) ( cukup ) terjamin G .

SPLN 52-l: 1984 -22(kosong) .

sesuaiuraian dalam Lampiran C Ayat I SPLN 52-l:1983 Pola PengamanamSistem Bagian Sattr: A.L Untuk mengatasimasalahterjadinya gangguantiga f asa dapat dipakai ketentuan yang berlaku bagi sistem 66 kV seperti tersebut dalam Lampiran C tersebut.SPLN 52-lz l9t4 LAMPIRAN A PETUNJUK PEMILIHAN RELAI IMPEDANS SISTEM I'O KY Sistem pentanahan SesuaiSPLN 2: 1978 sistem 150 kV adalah sistem yang ditanahkan langsung. 3. Tinjauan dari segi operasi Mengingat peranan sistem 150 kV secara operasionaladatah lebih besar/penting daripada sistem 66 kV maka pertimbangan ini harus ditambahkan pada pertimbangan-pertimbanganyang telah disebutkan dalam Lampiran C tersebut di atas.2 Pemilihan perangkatrelai pengamanutama d. Untuk gangguanantarfasa Dapat dipakai relai mho terkutub mandiri (self polarized mho) maupunrelai MTS. dalam arti bahwa harus dipilih relai yang unjukkerjanyalebih baik daripada yang untuk sistem 56 kV. Untuk gangguanfasa ke tanah Sebaiknyadipakai relai MTS dengan tujuan agar gangguanfasa ke tanah yang mempunyai tahanan besar sedapat mungkin dapat diatasi oleh relai ini. 3. j.3 Untuk SUTT I 50 kV yang jaraknya kurang dari I 5 km dapat dipakai relai MTS maupunrelai reaktans. Sistem Transmisi 66 kV. Sehubungan dengan hal ini maka penggunaan relai mho terkutub siiang (MTS = relai polarisasi silang) dapat lebih mengenai sasarannyauntuk gangguan hubung-tanah. -23- . b.1 Ruang lingkup Petunjuk ini dibatasi untuk SUTT 150 kV dan yang menggunakankomponen-komponen elektromekanis pada relai pengamannya. Pemilihan karakteristik relai jarak elektromekanis 3.

jangan sampai terimbas oleh arus listrik yang ada pada pengawatan yang ada di sekitarnya untuk menghindarkan salah operasi ( m aI o p e r a t i o n ) d a r i r e l a i t e r s e b u t .m a s a l a ht e r m a l .2 Di lain pihak adalah me n jadi kenyataan bahwa pemakaian relai iarak s e m i k o n d u k t o r s u d a h d i t e r i m a o l e h k e b a n y a k a n p e r u s a h a a nl i s t r i k d i d u nia. 4. Selain masalah kelembaban udara juga perlu diperhatikan instalasi penempatan relai jarak semikonduktor. -24 - .SPLN 52-l: l9E4 Pemilihan relai jarak semi konduktor 4. ASEA dan GEC setuju dengan pendapat bahwa dalam waktu yang akan datang produksi mereka akan beralih dari relai elektromekanis ke relai jarak semikonduktor.4 Sehubungan dengan uraian dalam Ayat 4. Begitu pula harus tersedia peralatan beserta suku cadang yang memadai untuk pemeliharaan dan perbaikanrelai jarak semikondul<tor.3 maka PLN seyogyanya mempersiapkan dirr terhadap perkembangan teknologi ini antara lain dengan mempersiapkan tenaga-tenaga ahli dalam bidang relai jarak semikonduktor sehingga tersedia tenaga-tenaga ahli yang dapat memelihara dan memperbaiki relai-relai ini. 4.3 Dalam seminar CEPSI 1982 di Bangkok wakil-wakil dari pabrik relai BBC. 4.1 Relai jarak semikonduktor mempunyai karakteristik tidak bundar sehingga masalah tahanan gangguan atau tahanan busur api dapat lebih mudah diatasi disamping juga kerjanya yang lebih cepat daripada relai elektromekanis sehingga membantu kestabilan sistem dan mengurangi m a s a l a h . Bahkan di beberapa negara akan segera dimulai penggunaan pemroses mikro (micro processor) untuk keperluan pengamanan h a l m a n a m e r u p a k a n l a n g k a h l e b i h l a n j u t d a r i p e n g g u n a a nr e l a i j a r a k semikonduktor. Hal ini terutama disebabkankarena relai jarak semikonduktor lebih kompak dan lebih murah ongkos pembuatannya dari pada relai elektromekanis. Tetapi karena pengalamanPLN dengan relai jarak semikonduktor belum banyak serta mengingat pula bahwa Indonesia adalah negara tropis d e n g a n k e l e m b a b a n r e l a t i f y a n g t i n g g i m a k a s e b a i k n y a d a l a m m e mi l i h relai jarak semikonduktor dipilih relai yang telah terbukti/beroperasi dengan baik di salah satu negara tropis. sehingga PLN pun harus berani menyesuaikan diri dengan perkembangan ini.