Kecemasan dan depresi Kecemasan dan ketakutan merupakan ciri normal pada masa kanak-kanak, seperti halnya

pada kehidupan orang dewasa. Kecemasan dianggap tidak normal bila berlebihan dan menghambat fungsi akademik dan sosial atau menjadi menyusahkan atau persisten. Berbagai jenis gangguan kecemasan yang dapat didiagnosis, termasuk fobia spesifik, fobia sosial, gangguan kecemasan menyeluruh dan gangguan mood. Anak-anak dapat pula menunjukkan pola penolakan terhadap interaksi sosial yang lebih umum yang merupakan ciri gangguan kepribadian menghindar. Walaupun anak-anak yang secara sosial menolak atau memiliki gangguan kecemasan sosial dapat memiliki hubungan yang hangat dengan anggota keluarga maka cenderung pemalu dan menarik diri. Dari orang-orang lain. Penolakan mereka terhadap terhadap orang-orang diluar anggota keluarga mempengaruhi perkembangan hubungan sosial mereka dengan teman sebaya. Masalah tersebut cenderung berkembang setelah ketakutan yang normalterhadap orang asing menghilang pada usia 2,5tahun atau lebih. Rasa tertekan yang mereka alami saat berkumpul dengan anak-anak lain disekolah dapat pula mempengaruhi kemajuan akademik mereka.

Gangguan Kecemasan dan Perpisahan Merupakan hal yang normal bila anak-anak menunjukkan kecemasan bila mereka dipisahkan dari pengasuh mereka. Mary Ainsworrth (1989) yang meneliti tentang perkembangan perilaku kelekatan, mencatat bahwa kecemasan akan perpisahan adalah ciri normal dari hubungan anak-pengasuh dan dimulai sejak tahun pertama. Gangguan kecemasan akan perpisahan (operation anxiety disorder) didiagnosis jika kecemasan akan perpisahan itu persisten dan berlebihan atau tidak sesuai dengan dengan tingkat perkembangan anak. Jadi anak usia 3 tahun seharusnya dapat mengikuti kegiatan prasekolah tanpa merasa mual dan muntah , cemas. Anak usia 6 tahun seharusnya dapat mengikuti sekolah dasar tanpa rasa ketakutan yang terus menerus bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi kepadanya atau orang tuanya. Anak-anak dengan gangguan ini cenderung terikat pada orang tua dan mengikuti kemanapun mereka berada di lingkungan rumahnya. Ciri lain dari gangguan ini mencakup mimpi buruk, sakit perut, mual dan muntah ketika mengantisipasi perpisahan (seperti pada harii-hari sekolah),memohon agar orang tua tidak pergi atau temper tantrum bila orang tua akan pergi. Gangguan ini dapat berlangsung sampai dewasa, menyebabkan perhatian yang berlebihan pada keselamatan anak-anak dan pasangan serta kesulitan mentoleransi perpisahan apapun.

Perpektif tentang Gangguan Kecemasan di Masa Kanak-kanak Teoritikus psikoanalisa berpendapat bahwa kecemasan-kecemasan dan ketakutan pada masa kecil, seperti yang terjadi pada orang dewasa melambangkan konflik-konflik yang tidak disadari Teoritikus belajar menyatakan bahwa munculnya kecemasan menyeluruh dapat menyentuh tema-tema yang luas, seperti ketakutan akan penolakan atau kegagalan yang dibawa pada berbagai situasi. Faktor genetis dapat pula memegang peranan dalam kecemasan akan perpisahan dan gangguan kecemasan lain (Coyle, 2001). Apapun penyebabnya anak-anak yang merasakan cemas berlebihan dapat terbantu melalui teknik-teknik penanganan kecemasan. Teknik-teknik kognitif seperti menggantikan self talk menimbulkan kecemasan dengan self talk yang bersifat coping masalah juga membantu. Pendekatan kognitif behavioral telah memberikan hasil-hasil yang mengagumkan dalam menangani kecemasan di masa kanakkanak.

Enuresis saat tidur malam adalah tipe yang paling umum dan enuresis yang muncul saat tidur disebut mengompol. faktorfaktor kognitif. masih belum diketahui apakah anak-anak depresi karena pola berpikir depresi atau depresi yang menyebabkan perubahan pada pola berpikir. Mereka merasa kesulitan untuk berkonsentrasi disekolah dan mengalami rendahnya memori sehingga sulit untuk meningkatkan nilai mereka. atau perasaan tidak sabar. seperti menolak sekolah. dan sosial. lebih sering terjadi pada anak laki-laki. Dengan semakin matangnya anak-anak dan meningkatnya kemampuan kognitif mereka. Enuresis dapat terjadi selama tidur malam saja. Enuresis dan Enkopresis merupakan gangguan yang melibatkan masalah BAK dan BAB tanpa penyebab organic. Bila tidur malam hari anak-anak harus belajar untuk bangun bila mereka merasa ada tekanan dari kemih yang penuh dan kemudian pergi ke kamar mandi untuk BAK. Anak-anak yang depresi mungkin gagal untuk melabel perasaan mereka sebagai depresi.cemberut. takut akan kematian orang tua dan terikat pada orang tua.selama anak terjaga saja atau keduanya. Enuresis Enuresis berasal dari bahasa yunani “en” yang berarti “di dalam” dan “ouron” berarti “urine”. Gangguan ini biasanya hilang dengan sendirinya pada usia remaja atau sebelumnya. tampaknya memainkan peran yang lebih besar dalam perkembangan depresi. Enuresis diperkirakan mempengaruhi 7 % anak laki-laki dan 3 % anak perempuan usia 5 tahun.seperti halnya gangguan perkembangan lain. atletik. 1. walaupun tidak beralasan. Namum banyak yang masih terus mengompol setahun kemudian atau lebih.walaupun pada 1 % kasus masalah ini berlanjut sampai dewasa. Mengompol ditempat tidur biasanya muncul selama tahapan tidur yang paling dalam dan dapat . Anak-anak biasanya tidak mampu mengenali perasaan internal sampai usia 7 tahun. Mereka mungkin tidak melaporkan perasaan sedih mereka walaupun mereka tampak sedih bagi orang lain. Enuresis adalah kegagalan untuk mengontrol BAK setelah seorang mencapai usia normal untuk mampu melakukan kontrol. Korelasi Penanganan Depresi Pada Masa Kanak-kanak Depresi dan perilaku bunuh diri pada anak-anak biasanya terjadi karena konflik keluarga. Anak-anak yang depresi juga kurang memiliki berbagai ketrampilan akademik. Mereka sering menyimpan perasaan mereka dan menyebabkan orang tua tidak menyadari masalah yang terjadi.Depresi Masa Kanak-Kanak Anak-anak dapat menderita gangguan mood. Perubahan kognisi pada anak-anak yang depresi meliputi : Mengharapkan yang terburuk (pesimis) Membesar-besarkan konsekuensi dari kejadian-kejadian negative Mengasumsikan tanggung jawab pribadi untuk hasil yang negatif. Perasaan negatif juga diekspresikan dalam bentuk kemarahan. termasuk gangguan bipolar dan depresi mayor. sehingga mengakibatkan konflik di masa depan. Secara selektif hanya memperhatikan aspek-aspek negatif dari berbagai kejadian Walaupun terdapat hubungan antara faktor kognitif dan depresi. seperti cara atribusi. Enuresis . Depresi pada anak-anak juga memiliki ciri yang berbeda. Gangguan Eliminasi Mengompol masih sering terjadi sampai usia 24 bulan saat ini kebanyakan anak di amerika bisa mengontrol BAK pada 2 dan 3 tahun.

Setelah beberapa kali pengulangan sebagisan besar anak belajar untuk bangun sebagai respon dari tekanan kandung kemih sebelum mereka mengompol. Metode behavioral sudah terbukti mampu membantu bila enuresis beratahan atau menyebabkan stress tinggi pada orang tua atau anak. Jadi akan amat memalukan bagi anak. Gangguan ini lebih umum terjadi pada anak laki-laki. Metode tersebut mengkondisikan anak-anak untuk bangun bila kandung kemih mereka penuh.bentuk yang paling umum yang ditandai oleh mengompol yang terus menerus dan tidak pernah mampu mengontrol BAK yang diturunkan secara genetis. Hal ini dapat merepresentasikan respon regresi terhadap kelahiran saudara kandung atau beberapa sumber stress lain atau perubahan dalam kehidupan seperti mulai bersekolah atau mengalami kematian orang tua maupun anggota keluarga lain. Bila bantalan basah sirkuit listrik menutup. Disini diberikan reward (dengan pujian atau cara-cara lain) untuk keberhasilan usaha self control dan hukuman . Teman sekelas sering menghindari atau mempermalukan anak dengan enkopresis. Masalah dalam mengompol adalah anak-anak enuresis tetap tidur walaupun ada tekanan dari kandung kemih yang biasanya membangunkan anak-anak lain.secara refleks mereka mengompol ditempat tidur. 2. Akibatnya .factor-faktor lingkungan dan perilaku juga memainkan peran dalam menentukan perkembangan dan jangka waktu gangguan. Penanganan Enuresis biasanya hilang dengan sendirinya setelah anak-anak menjadi dewasa. Sekitar 1 % dari anak-anak usia 5 tahun mengalami Enkopresis. Teoritikus menekankan bahwa enuresis muncul paling sering pada anak-anak dengan orang tua yang mencoba melatih mereka sejak usia dini. Hobart Mowrer memprakarsai metode bel dan bantalan dimana bantalan khusus ditempatkan dibawah anak yang sedang tidur. Perspektif teoretis Psikodinamika mengemukakan bahwa enuresis dapat merepresentasikan ekpresi kemarahan pada orang tua karena pelatihan BAK dan BAB yang keras.lebih sering terjadi siang hari daripada malam hari. Soiling (mengotori) tidak seperti enuresis. Danish (1995) menunjukan bahwa enuresis primer. Enkopresis Enkopresis berasal dari bahasa yunani en.menyebabkan bel berbunyi dan membangunkan anak yang masih tidur.mencerminkan ketidakmatangan dari system saraf. Factor-faktor genetis dapat terkait dengan penyebaran dari enuresis primer. Metode operan conditioning dapat membantu dalam mengatasi soiling. Factor-faktor predisposisi yang mungkin adalah toilet training yang tidak konsisten atau tidak lengkap dan sumber stress psikologis seperti kelahiran saudara sekandung atau mulai bersekolah. Kegagalan pada masa awal dapat menghubungkan kecemasan dengan usaha untuk mengontrol BAK. Enkopresis adalah kurangnya control terhadap keinginan BAB yang bukan disebabkan oleh masalah organik.yang artinya “feses”. Enuresis sekunder tampak pada anak-anak yang memiliki masalah setelah mampu mengontrol BAK dan diasosiasikan dengan mengompol secara berkala.dan kopros. Diagnosis enuresis diterapkan pada kasuskasus mengompol ditempat tidur atau BAK dipakaian pada siang hari yang dilakukan berulang kali pada anak-anak yang berusia minimal 5 tahun. Enkopresis jarang terjadi pada remaja usia pertengahan kecuali mereka yang mengalami retardasi mental yang parah atau intens.

Bila Enkopresis bertahan direkomendasikan evaluasi medis dan psikologis untuk menentukan kemungkinan penanganan yang tepat.untuk ketidaksengajaan ( misalnya dengan memberi peringatan agar lebih memperhatikan rasa ingin BAB dan meminta anak untuk membersihkan pakaian dalamnya). .