You are on page 1of 22

Laporan Kasus

RIWAYAT ILEUS OBSTRUKTIF E.C. TUMOR RECTI DENGAN SUSPEK FISTULA RECTOVESICA

Oleh Ledisty Apriani Maulida Hayati NIM. I1A007014 NIM. I1A007030

Pembimbing dr. Heru Prasetya, Sp.B Sp.U

BAGIAN/SMF BEDAH FAKULTAS KEDOKTERAN UNLAM - BLUD RSU ULIN BANJARMASIN Oktober, 2012

BAB I PENDAHULUAN

sedangkan ileus paralitik sering disebabkan oleh peritonitis. Obstruksi usus halus yang dibiarkan dapat menyebabkan gangguan vaskularisasi usus dan memicu iskemia. terbagi atas: 1. Ileus obstruktif adalah ileus yang disebabkan oleh sumbatan mekanik. Keduanya membutuhkan tindakan operatif. perforasi dan kematian. Ileus Paralitik adalah hilangnya peristaltik usus untuk sementara waktu. Di Indonesia ileus obstruksi paling sering disebabkan oleh hernia inkarserata. Obstruksi usus besar yaitu obstruksi rendah dimana obstruksinya mengenai usus besar. Keduanya memiliki cara penanganan yang agak berbeda dengan tujuan yang berbeda pula. Ileus lebih sering terjadi pada obstruksi usus halus daripada usus besar. Penanganan obstruksi . sehingga penanganan obstruksi usus halus lebih ditujukan pada dekompresi dan menghilangkan penyebab untuk mencegah kematian. striktur atau obstipasi. hernia inkarserata. nekrosis. Obstruksi usus halus yaitu obstruksi tinggi dimana obstruksinya mengenai usus halus. Obstruksi kolon sering disebabkan oleh neoplasma atau kelainan anatomik seperti volvulus. Ileus obstruktif berdasarkan letak sumbatannya. 2.BAB II TINJAUAN PUSTAKA Ileus Obstruksi Ileus adalah gangguan atau hilangnya pasase isi usus yang menandakan adanya obstruksi usus akut yang segera memerlukan pertolongan atau tindakan.

yang menurunkan pengaliran air dan natrium dari lumen ke darah. tetapi membutuhkan radiasi dan sitostatika lebih lanjut. Pada kasus keganasan kolon. dan akhirnya hilang. sedangkan pada obstruksi mekanik peristaltik mulamula diperkuat. Oleh karena sekitar 8 liter cairan diekskresikan ke dalam saluran cerna setiap hari. Pengaruh atas kehilangan ini adalah penciutan ruang cairan ekstrasel yang mengakibatkan syok hipotensi. penurunan perfusi jaringan dan asidosis metabolik. kemudian intermitten. tidak adanya absorpsi dapat mengakibatkan penimbunan intralumen dengan cepat. Perbedaan utama adalah obstruksi paralitik di mana peristaltik dihambat dari permulaan. penanganan pasien tidak hanya berhenti setelah operasi kolostomi. Peregangan usus yang terus menerus mengakibatkan lingkaran setan penurunan absorpsi cairan dan peningkatan sekresi . Terkadang cukup sulit untuk menentukan jenis operasi kolon karena diperlukan diagnosis yang tepat tentang penyebab dan letak anatominya.kolon lebih kompleks karena masalahnya tidak bisa hilang dengan sekali operasi saja. Lumen usus yang tersumbat secara progresif akan teregang oleh cairan dan gas (70% dari gas yang ditelan) akibat peningkatan tekanan intralumen. Hal ini yang menyebabkan manajemen obstruksi kolon begitu rumit dan kompleks daripada obstruksi usus halus. Peristiwa patofisiologik yang terjadi setelah obstruksi usus adalah sama. pengurangan curah jantung. tanpa memandang apakah obstruksi tersebut diakibatkan oleh penyebab mekanik atau fungsional. Muntah dan penyedotan usus setelah pengobatan dimulai merupakan sumber kehilangan utama cairan dan elektrolit.

cairan ke dalam usus. nekrosis. dan udara terkumpul dalam jumlah yang banyak jika obstruksinya komplit. disertai absorpsi toksin-toksin bakteri ke dalam rongga peritoneum dan sirkulasi sistemik untuk menyebabkan bakteriemia. intussusepsi. dan bagian distal kolaps. . Bagian usus proksimal distensi. volvulus. memacu usus menjadi gangren dan perforasi. dan kematian. Makanan dan cairan yang ditelan. Efek lokal peregangan usus adalah iskemia akibat distensi dan peningkatan permeabilitas akibat nekrosis. iskemia. dan oklusi vaskuler. Usus menjadi udema dan nekrosis. Strangulasi biasanya berawal dari obstruksi vena. Pada obstruksi simpel. Obstruksi sederhana hanya melibatkan lumen usus halus sedangkan obstruksi yang disertai proses strangulasi melibatkan gangguan peredaran darah dan dapat menyebabkan nekrosis dinding usus halus. hambatan pasase muncul tanpa disertai gangguan vaskuler dan neurologik. dengan sendirinya secara terus menerus dan progresif akan mengacaukan peristaltik dan fungsi sekresi mukosa dan meningkatkan resiko dehidrasi. kematian jaringan usus umumnya dihubungkan dengan hernia inkarserata. dan dinding usus menjadi udema dan kongesti. peritonitis. Pada obstruksi strangulata. perforasi. sekresi usus. Obstruksi usus halus terbagi atas obstruksi sederhana dan obstruksi yang disertai proses strangulasi. Distensi intestinal yang berat. menyebabkan iskemia yang cepat pada dinding usus. yang kemudian diikuti oleh oklusi arteri. Fungsi sekresi dan absorpsi membrane mukosa usus menurun.

Obstruksi usus halus dapat disebabkan oleh perlekatan usus. pireksia (demam). pada obstruksi usus halus berwarna kehijauan. Pemeriksaan fisik (obyektif) dan radiologis strangulasi ditandai oleh adanya peritonitis lokal. Pada obstruksi. konstipasi dimana defekasi dan flatus tidak ada. Benjolan pada regio inguinal. dan hematoma. Perut kembung (distensi). neoplasma. penyakit radang usus (inflammatory bowel disease). inguinal. fibrokistik. intususepsi. serta kram perut adalah gejala lainnya yang ada pada ileus obstruksi. perut distensi. striktur. Adanya benjolan di perut. Pada invaginasi dapat terlihat massa abdomen berbentuk sosis. Mual dan muntah pada stenosis pilorus encer dan asam. dan skrotum menunjukkan suatu hernia inkarserata. Invaginasi dapat didahului oleh riwayat buang air besar berupa lendir dan darah. Dimana pada obstruksi usus halus. Ileus obstruksi didiagnosis melalui anamnesis yang bersifat subyektif dengan gejala utama nyeri kolik. dan pada obstruksi kolon onset muntah lama. rebound tenderness. volvulus. local tenderness dan guarding. Onset keluhan yang berlangsung cepat dapat dicurigai sebagai ileus letak tinggi dan onset yang lambat dapat menjurus kepada ileus letak rendah. benda asing. femoral. batu empedu yang masuk ke dalam usus halus melalui fistula kolesisenterik. dapat ditemukan darm kontur dan darm steifung. hernia. . Riwayat operasi sebelumnya dapat menjurus pada adanya adhesi usus. kolik dirasakan di sekitar umbilicus dan pada obstruksi kolon kolik dirasakan disekitar suprapubik. dan femoral yang tidak dapat kembali menandakan adanya hernia inkarserata. nyeri lokal. dan hilangnya suara usus lokal. seperti takikardia.

Pada fase lanjut bising usus dan peristaltik melemah sampai hilang. waktunya bervariasi tergantung pada lokasi sumbatan. feses (-) pada obstruksi usus letak tinggi. . invaginasi. ada darah pada strangulasi. Foto polos abdomen pada 3 posisi menggambarkan pelebaran udara usus halus atau usus besar dengan gambaran anak tangga dan airfluid level. Obstruksi usus halus bagian tengah dan distal memiliki gejala kejang di daerah periumbilikal. hernia. Nyeri abdomen sulit dijelaskan lokasinya. Kadang teraba massa seperti pada tumor. nyeri tekan pada peritonitis lokal atau general. terutama pada obstruksi komplit. ampula rekti kolaps jika dicurigai obstruksi. Obstipasi selalu terjadi. dan endoskopi disarankan pada kecurigaan volvulus. Melalui pemeriksaan rectal toucher didapatkan isi rektum menyemprot pada hirschprung disease. Perkusi hipertimpani dan pada auskultasi hiperperistaltik.Adanya adhesi dapat dicurigai bila ada bekas luka operasi sebelumnya. Keluhan muntah akan timbul kemudian. neoplasma. Nyeri abdomen bervariasi dan sering dirasakan sebagai perasaan tidak enak pada perut bagian atas. feses mengeras pada skibala. Semakin distal lokasi sumbatan. Kejang tersebut hilang timbul dengan adanya fase bebas keluhan. bising usus bernada tinggi. muntah yang dihasilkan semakin fekulen. Obstruksi usus halus proksimal memiliki gejala banyak muntah namun jarang muntah fekal meskipun obstruksinya telah berlangsung lama. Penggunaan kontras dikontraindikasikan pada adanya perforasi peritonitis. Barium enema diindikasikan untuk invaginasi.

Awalnya nilai laboratorium normal kemudian dapat berubah menjadi hemokonsentrasi. Hal yang perlu diperhatikan adalah adanya skar bekas operasi dan hernia. Pada ileus obstruksi letak rendah. Perbedaannya adalah gejala obstruksi ini lebih jelas dan gejala nyeri lebih hebat. Distensi abdomen dapat minimal atau tidak ada pada obstruksi usus halus proksimal dan semakin jelas pada obstruksi usus halus distal.Awalnya tanda vital normal namun dapat berlanjut menjadi dehidrasi akibat kehilangan cairan dan elektrolit. jangan lupa melakukan pemeriksaan rektosigmoidoskopi dan pemeriksaan kolon untuk mengetahui penyebabnya. leukositosis dan gangguan elektrolit. tetapi sangat membantu memberikan penilaian berat ringannya dan . Tes laboratorium mempunyai keterbatasan nilai dalam menegakkan diagnosis. Pemberian kontras akan menunjukkan adanya obstruksi mekanis dan letaknya. terlentang. Gejala obstruksi usus halus yang disertai proses strangulasi mirip obstruksi usus halus sederhana. Periksa pula kemungkinan terjadinya hernia. dan lateral dekubitus menunjukkan gambaran anak tangga pada usus halus yang mengalami dilatasi dengan gambaran air fluid level. Suhu tubuh bisa normal dan demam. Pemeriksaan kolon bisa dilakukan dengan colok dubur dan pemeriksaan barium in loop. Pemeriksaan radiologis pada posisi tegak. Bila ditemukan gejala strangulasi maka diperlukan tindakan operasi segera untuk mencegah terjadinya nekrosis usus. Bising usus yang meningkat dan metallic sound dapat terdengar sesuai dengan timbulnya nyeri pada obstruksi usus halus distal. Peristaltik usus yang mengalami dilatasi dapat terlihat pada pasien kurus.

tanda syok. Analisa gas darah mungkin terganggu. Peningkatan serum amilase sering didapatkan. dan 6%-8% dari kasus terjadi sebelum umur 40 tahun. Selain itu dapat ditemukan adanya gangguan elektrolit. dengan alkalosis metabolik bila muntah berat. Selanjutnya ditemukan adanya hemokonsentrasi. Tumor Recti Karsinoma kolon dan rektum merupakan keganasan ketiga di dunia dan penyebab kematian kedua terbanyak di Amerika Serikat. dan metabolik asidosis bila ada tanda . Hematokrit yang meningkat dapat timbul pada dehidrasi. dan ketosis. Resiko terjadinya kanker kolon sedikit lebih banyak pada wanita dibanding pria dan kanker rektum lebih banyak pada pria. . ditemukan hasil laboratorium yang normal. Risiko timbulnya kanker kolon dan rektum selama hidup adalah 5%. Di Indonesia terdapat kenaikan jumlah kasus tetapi belum ada angka yang pasti insiden penyakit kanker kolon dan rektum ini. tetapi hanya terjadi pada 38%-50% obstruksi strangulasi dibandingkan 27%-44% pada obstruksi non strangulata. Leukositosis menunjukkan adanya iskemik atau strangulasi.membantu dalam resusitasi. Insiden meningkat setelah umur 50 tahun. leukositosis dan nilai elektrolit yang abnormal. Pada tahap awal. dehidrasi.

RMK : 1.1 IDENTITAS PASIEN Nama :B Jenis kelamin : Perempuan Umur Alamat : 55 tahun : Desa Kayu Rabah RT.BAB III LAPORAN KASUS III.05 MRS Tanggal : 07 September 2012 III. Keluhan Utama: nyeri perut . 07/02 Kecamatan Pandawan Kabupaten Hulu Sungai Tengah No.2 ANAMNESIS Autoanamnesis dengan pasien pada tanggal 07 September 2012.91.00.

Sklera ikterik (-) Leher: JVP tidak meningkat. Pasien juga mengeluh nyeri perut yang terus menerus.Riwayat Penyakit Sekarang Perut terasa kembung sejak 2 minggu SMRS. Status Generalis Keadaan Umum: Tampak sakit berat Kesadaran: Composmentis Tanda Vital: TD : 110/70 mmHg Nadi : 72 x/menit RR T : 20 x/menit : 36. wheezing (-/-) Jantung: I = ictus cordis tidak tampak . flatus (+). BAB (-). carotis (+) Toraks: bentuk dada normal Paru: I = Gerak nafas simetris.3 PEMERIKSAAN FISIK 1. tidak terdapat retraksi P = Fremitus raba simetris P = sonor/sonor A = suara nafas vesikuler.5 ºC Kulit: Sawo matang Kepala dan Leher Kepala: Anemis (-). Riwayat Penyakit Dahulu: Pasien memiliki riwayat operasi tumor perut. Muntah (-). rhonki (-/-). pulsasi a. paling sakit dirasakan di daerah perut sebelah kiri. III.

nyeri tekan (+) Perkusi : timpani (+) Rectal toucher: massa (-). spincter ani tidak menjepit kuat.600 /ul : 4.000 /ul . ampula recti tidak kolaps. pada handscoen tampak feses.P = Thrill tidak teraba P = Batas kiri: ICS IV LMK Sinistra Batas kanan: ICS IV LPS Dextra Batas atas: ICS II LPS Dextra A = S1 & S2 tunggal.3 g/dl : 11. nyeri tekan (-). Status Lokalis Inspeksi: tampak distensi abdomen (+) Auskultasi: Bising usus: sedikit meningkat. III. metalic sound (-) Palpasi : defans muskular (-).05 juta/ul : 411. parese (-) 2. murmur (-) Abdomen : I = cembung A = BU (+) ↑ P = timpani P = H/L/M ≠ teraba. nyeri tekan (+) Ekstremitas: Akral hangat. 4 PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium darah (07/09/2012) Hemoglobin Leukosit Eritrosit Trombosit : 10. edem (-).

9 mg/dl : 142.1 mmol/l III. Antrain 3x1 amp Follow UP 08 Sept 2012 (HP-1) S) Keadaan Umum: lemah O) N: 70 x/mnt RR: 16 x/mnt .1 g/dl : 39 mg/dl : 0.8 g/dl Albumin Ureum Creatinin Natrium Kalium Chlorida : 4.Hematokrit Hasil PT Hasil APTT GDS SGOT SGPT : 33. Ranitidin 2x1 amp Inj.7 detik : 149 mg/dl : 18 U/l : 14 U/l Protein Total : 6.4 mmol/l : 3.5 DIAGNOSIS Suspek ileus obstruktif III.6 PENATALAKSANAAN IVFD RL : D5 20 tpm Inj.3 vol% : 9.8 detik : 23.5 mmol/l : 107.

Lab.Inj.Inj. Gastridin 2x1amp . pasien meminta selang dilepas O) N: 88 x/mnt RR: 28 x/mnt Abd.Inj. Starxon 2x1 g (H-2) . albumin. elektrolit 09 Sept 2012 (HP-2) S) Keadaan Umum: lemah O) N: 76 x/mnt RR: 18 x/mnt A) Susp.A) Susp.Lab. CEA.: datar. ileus obstruktif P) .Drip cernivit 1 amp/hari .Pro colon in loop 10 Sept 2012 (HP-3) S) Keadaan Umum: lemah. Lengkap. ileus obstruktif P) .Inj. kentut (+).Pro rectoscopy . Starxon 2x1 g (H-1) . elektrolit . BAB (+).Inj. Gastridin 2x1amp .Inj. ileus obstruktif P) .Inj.Drip cernivit 1 amp/hari .Pro rectoscopy .IVFD RL : Tutofusin : Fimafusin .IVFD RL : Tutofusin : Fimafusin . BU (+) N A) Susp. protein total. lembut. albumin. Gastridin 2x1amp .Pro rectoscopy . Tichodazole 3x500mg (H-3) . CEA. Lengkap.IVFD RL : Tutofusin : Fimafusin . protein total. Starxon 2x1 g (H-3) . NT (-). Tichodazole 3x500mg (H-2) . Tichodazole 3x500mg (H-1) .Drip cernivit 1 amp/hari .Inj.Inj.

Tichodazole 3x500mg (H-4) .B K-BD: aff NGT.. albumin. CEA. protein total.IVFD RL : Tutofusin : Fimafusin . flat enema Keluaga dan pasien meminta lepas selang kemih . minum sedikit-sedikit 11 Sept 2012 (HP-4) S) Keadaan Umum: baik.Inj.IVFD RL : Tutofusin : Fimafusin .minum sedikit-sedikit Rektoskopi tidak bisa dilakukan karena banyak feses (Rt = tidak semua masuk) Lavement pagi dan sore. Starxon 2x1 g (H-4) .Pro colon in loop. lembut.minum sedikit-sedikit .Lab.Inj.Pro colon in loop Advis dr. ileus obstruktif P) .Drip cernivit 1 amp/hari .Inj. Starxon 2x1 g (H-5) . Sp.Pro colon in loop . NT (-). colon in loop 12 Sept 2012 (HP-5) S) Keadaan Umum: baik.Inj. BAB (+).Drip cernivit 1 amp/hari . elektrolit . Gastridin 2x1amp . kentut (+) O) N: 88 x/mnt RR: 24 x/mnt Abd. Agung A.: datar.W.Inj. Tichodazole 3x500mg (H-5) . lavement pagi dan sore. flat enema. BAB (+) O) N: 88 x/mnt RR: 24 x/mnt A) Susp.Inj.Pro rectoscopy . ileus obstruktif P) .. Lengkap. Gastridin 2x1amp . BU (+) N A) Susp.

Drip cernivit 1 amp/hari .IVFD RL : Tutofusin : Fimafusin : Clinimix : Ivelip . Tichodazole 3x500mg (H-6) .Lain-lain lapor dokter . Gastridin 2x1amp .Inj.13 Sept 2012 (HP-6) S) Keadaan Umum: baik O) N: 88 x/mnt RR: 24 x/mnt A) Susp.Diet cair-lunak TKTP .Pro colon in loop 14 Sept 2012 (HP-7) S) Keadaan Umum: baik O) N: 86 x/mnt RR: 22 x/mnt A) Susp. Gastridin 2x1amp . Starxon 2x1 g (H-6) . ileus obstruktif P) .Drip cernivit 1 amp/hari . Tichodazole 3x500mg (H-7) .Inj.Menunggu hasil colon in loop 15 Sept 2012 (HP-8) S) Keadaan Umum: baik O) N: 86 x/mnt RR: 20 x/mnt A) Susp. Starxon 2x1 g (H-7) .Inj.Inj. ileus obstruktif P) .Entramix 6 x 100 cc . ileus obstruktif P) .Lavement pagi dan sore .minum sedikit-sedikit .IVFD RL : Tutofusin : Fimafusin : Clinimix : Ivelip .Inj. Starxon 2x1 g (H-8) .Inj.IVFD RL : Tutofusin : Fimafusin : Clinimix : Ivelip .Inj.

Hasil colon in loop terlampir Jawaban konsul IPD: Kepada Yth.Drip cernivit 1 amp/hari .Diet cair-lunak TKTP ..Entramix 6 x 100 cc .Drip cernivit 1 amp/hari . Soefyani.Hasil colon in loop colitis ulserativa dan curiga fistel rectovesika 17 Sept 2012 (HP-10) S) Nyeri perut (+) BAB/BAK (+/+) . dr. ileus obstruktif P) .Lain-lain lapor dokter .Inj.Inj. Gastridin 2x1amp .A.PD K-GEH. Sp.Inj.Inj. H.Lavement pagi dan sore .Lain-lain lapor dokter . feses 200 cc Balans: +300 cc/24 jam A) Susp. recti pro kolonoskopi 16 Sept 2012 (HP-9) S) Keadaan Umum: baik O) N: 88 x/mnt RR: 20 x/mnt Balans cairan: Input: infus 1000 cc.Entramix 6 x 100 cc . Gastridin 2x1amp .IVFD RL : Tutofusin : Fimafusin : Clinimix : Ivelip . makan & minum 200 cc Output: urine 700 cc.Diet cair-lunak TKTP . mohon konsul pasien dengan obstruktif ileus dan Ca. Starxon 2x1 g (H-9) . Tichodazole 3x500mg (H-8) .Inj. Tichodazole 3x500mg (H-9) .Lavement pagi dan sore .

feses 100 cc Balans: +500 cc/24 jam A) Susp.: datar. Tichodazole 3x500mg (H-11) .Lavement pagi dan sore . Starxon 2x1 g (H-10) .Diet cair-lunak TKTP .Hasil colon in loop colitis ulserativa dan curiga fistel rectovesika . tumor recti dengan susp.IVFD RL : Tutofusin : Fimafusin : Clinimix : Ivelip . Starxon 2x1 g (H-11) . minum 200 cc Output: urine 700 cc. ileus obstruktif e.Inj. Tichodazole 3x500mg (H-10) .Inj.c.1ºC A) Susp.1ºC Abd. NT (+) epigastrium.c.Entramix 6 x 100 cc .Inj. makan 100 cc.Inj. fistula rectovesika P) .Drip cernivit 1 amp/hari .Drip cernivit 1 amp/hari .NGT (-) O) TD: 120/80 mmHg N: 90 x/mnt RR: 20 x/mnt T: 36.Lavement pagi dan sore 18 Sept 2012 (HP-11) S) Nyeri perut (+) BAB/BAK (+/+) O) TD: 120/80 mmHg N: 90 x/mnt RR: 20 x/mnt T: 36.Entramix 6 x 100 cc . Gastridin 2x1amp .Inj.Diet cair-lunak TKTP . Gastridin 2x1amp . BU (+) N Balans cairan: Input: infus 1000 cc.Uretrosistografi rencana Kamis . lembut. fistula rectovesika P) . ileus obstruktif e.IVFD RL : Tutofusin : Fimafusin : Clinimix : Ivelip .Inj. tumor recti dengan susp.Kolonoskopi terjadwal 19/9/2012 .

Entramix 6 x 100 cc . Direncanakan ulang Senin.Diet cair-lunak TKTP .Kolonoskopi hari ini . fistula rectovesika P) . Starxon 2x1 g (H-12) . persiapan tidak baik/tidak memenuhi syarat.4ºC A) Susp.Drip cernivit 1 amp/hari .19 Sept 2012 (HP-12) S) Nyeri perut (+) ma/mi (+/+) BAB/BAK (+/+) O) TD: 120/80 mmHg N: 90 x/mnt RR: 20 x/mnt T: 36. 24 September 2012 siang.Lavement pagi dan sore .Inj.Entramix 6 x 100 cc . fistula rectovesika P) .Inj. tumor recti dengan susp. Tichodazole 3x500mg (H-13) .c. Gastridin 2x1amp .Drip cernivit 1 amp/hari . Starxon 2x1 g (H-13) .Inj. 20 Sept 2012 (HP-13) S) Nyeri perut (+) ma/mi (+/+) O) TD: 120/80 mmHg N: 90 x/mnt RR: 20 x/mnt T: 36.IVFD RL : Tutofusin : Fimafusin : Clinimix : Ivelip .Inj.c.Hasil colon in loop colitis ulserativa dan curiga fistel rectovesika . Gastridin 2x1amp .Uretrosistografi Kamis Jawaban kolonoskopi: Saat ini tidak bisa dilakukan kolonoskopi.4ºC A) Susp. ileus obstruktif e. feses penuh.Inj. Tichodazole 3x500mg (H-12) . tumor recti dengan susp.IVFD RL : Tutofusin : Fimafusin : Clinimix : Ivelip . ileus obstruktif e.Inj.

. Tichodazole 3x500mg (H-15) .Diet cair-lunak TKTP .Uretrosistografi Kamis pagi 21 Sept 2012 (HP-14) S) Nyeri perut (+) ma/mi (+/+) O) TD: 120/80 mmHg N: 90 x/mnt RR: 20 x/mnt T: 36. tumor recti dengan susp.Diet cair-lunak TKTP .IVFD RL : Tutofusin : Fimafusin : Clinimix : Ivelip .4ºC A) Susp.Lavement pagi dan sore .Kolonoskopi Senin .c.Entramix 6 x 100 cc .IVFD RL : Tutofusin : Fimafusin : Clinimix : Ivelip . tumor recti dengan susp. Gastridin 2x1amp .Lavement pagi dan sore .Pro kolonoskopi Senin 22 Sept 2012 (HP-15) S) Nyeri perut (<) Nyeri kepala (+) O) TD: 120/80 mmHg N: 90 x/mnt RR: 20 x/mnt T: 36. fistula rectovesika P) . Starxon 2x1 g (H-15) .Drip cernivit 1 amp/hari .Inj. ileus obstruktif e. ileus obstruktif e.Diet cair-lunak TKTP .Inj.Entramix 6 x 100 cc .Drip cernivit 1 amp/hari .Inj. fistula rectovesika P) . Gastridin 2x1amp .Inj. Tichodazole 3x500mg (H-14) .c.Inj.4ºC A) Riwayat. Starxon 2x1 g (H-14) .Inj.

ileus obstruktif e.c.Lavement pagi dan sore .Inj.Flat enema 23 Sept 2012 (HP-16) S) Nyeri perut (<) Nyeri kepala (<) O) TD: 120/80 mmHg N: 90 x/mnt RR: 20 x/mnt T: 36.Pro sistografi 24 Sept 2012 (HP-17) S) Nyeri perut (<) kadang-kadang Nyeri kepala (-) O) TD: 120/80 mmHg N: 90 x/mnt RR: 20 x/mnt T: 36.4ºC A) Riwayat. fistula rectovesika P) . Gastridin 2x1amp .Pro kolonoskopi Senin . tumor recti dengan susp.Drip cernivit 1 amp/hari .Entramix 6 x 100 cc . tumor recti dengan susp. ileus obstruktif e.Inj.IVFD RL : Tutofusin : Fimafusin : Clinimix : Ivelip .Inj.Drip cernivit 1 amp/hari .4ºC A) Riwayat.Diet cair-lunak TKTP .Pro sistografi .Inj..Pro kolonoskopi Senin .Entramix 6 x 100 cc . fistula rectovesika P) .Inj.Lavement pagi dan sore . Starxon 2x1 g (H-16) .c.IVFD RL : Tutofusin : Fimafusin : Clinimix : Ivelip .Inj. Tichodazole 3x500mg (H-16) . Tichodazole 3x500mg (H-17) . Starxon 2x1 g (H-17) . Gastridin 2x1amp .

Inj.Diet cair TKTP Urologi: S) Keluhan (-) BAB/BAK (+/+) O) TD: 110/70 mmHg A) Susp. konsul ulang.Inj.c. Sembilan tablet Norit minumkan sekaligus nanti malam. Scope tidak bisa diteruskan karena tertutup feses.Norit test (-) N: 80 x/mnt RR: 20 x/mnt T: 36.IVFD RL : Tutofusin : Fimafusin : Clinimix : Ivelip .Drip cernivit 1 amp/hari .Mengikuti terapi digestif .Inj. Ada hasil.Diet cair-lunak TKTP .Entramix 6 x 100 cc . fistula rectovesika P) ..6ºC .Sistografi tunggu hasil Raber urologi Hasil kolonoskopi: Scope masuk ± 5 cm.4ºC A) Riwayat. 25 Sept 2012 (HP-18) Digestif: S) Keluhan (-) Nyeri perut kadang-kadang BAB/BAK (+/+) O) TD: 110/70 mmHg N: 80 x/mnt RR: 20 x/mnt T: 36. pada anus tampak massa tertutup feses? Atau fesesnya sendiri? Sulit diinterpretasikan. ileus obstruktif e.DC tetap dipertahankan .Pro kolonoskopi hari ini . Jawaban urologi: Norit test. Gastridin 2x1amp . Starxon 2x1 g (H-18) . Tichodazole 3x500mg (H-18) . fistula rectovesika P) . tumor recti dengan susp.