Analisis Cerpen Robohnya Surau Kami

Desember 20, 2008 — awan sundiawan
Latar Belakang Masalah Cerita pendek (cerpen) sebagai salah satu jenis karya sastra ternyata dapat memberikan manfaat kepada pembacanya. Di antaranya dapat memberikan pengalaman pengganti, kenikmatan, mengembangkan imajinasi, mengembangkan pengertian tentang perilaku manusia, dan dapat menyuguhkan pengalaman yang universal. Pengalaman yang universal itu tentunya sangat berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia serta kemanusiaan. Ia bisa berupa masalah perkawinan, percintaan, tradisi, agama, persahabatan, sosial, politik, pendidikan, dan sebagainya. Jadi tidaklah mengherankan jika seseorang pembaca cerpen, maka sepertinya orang yang membacanya itu sedang melihat miniatur kehidupan manusia dan merasa sangat dekat dengan permasalahan yang ada di dalamnya. Akibatnya, si pembacanya itu ikut larut dalam alur dan permasalahan cerita. Bahkan sering pula perasaan dan pikirannya dipermainkan oleh permasalahan cerita yang dibacanya itu. Ketika itulah si pembacanya itu akan tertawa, sedih, bahagia, kecewa, marah , dan mungkin saja akan memuja sang tokoh atau membencinya. Jika kenyataannya seperti itu, maka jelaslah bahwa sastra (cerpen) telah berperan sebagai pemekat, sebagai karikatur dari kenyataan, dan sebagai pengalaman kehidupan, seperti yang diungkapakan Saini K.M. (1989:49). Oleh karena itu, jika cerpen dijadikan bahan ajar di kelas tentunya akan membuat pembelajarannya lebih hidup dan menarik. Tidak hanya itu, kiranya cerpen dengan segala permasalahannya yang universal itu ternyata menarik juga untuk dikaji. Bahkan tidak pernah berhenti orang yang akan mengkajinya. Apalagi jika cerpen itu dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran di kelas. Seperti halnya kami mencoba mengkaji cerpen yang dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran di kelas. Cerpen yang kami kaji itu adalah sebuah cerpen yang berjudul Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis. Dipilihnya cerpen karya A.A. Navis tersebut bukan tanpa pertimbangan atau alasan sebab cerpen ini memiliki keistimewaan (bagi kami) dibandingkan dengan cerpen A.A.Navis yang lain atau cerpen yang ditulis pengarang-pengarang yang lain. Keistimewaannya yaitu terletak pada teknik penceritaan A.A.Navis yang tidak biasa pada saat itu. Tidak biasanya karena Navis menceritakan suatu peristiwa yang terjadi di alam lain. Bahkan di sana terjadi dialog antara tokoh manusia dengan Sang Maha Pencipta. Menurut hemat saya hal seperti ini hanya ada dalam cerpen Langit Makin Mendung karya Kipanjikusmin dan cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis. Akan tetapi, kedua cerpen ini tetap berbeda. Cerpennya Kipanjikusmin muncul dengan membawa kehebohan yang luar biasa di kalangan umat Islam sehingga harus berhadapan dengan hukum. Sedangkan cerpennya A.A. Navis muncul dengan membawa kejutan karena ceritanya menyindir pelaksanaan kehidupan beragama secara luar biasa tajamnya. Di dalam cerpen Langit Makin Mendung Tuhan dan malaikat diimajinasikan dengan kuat sekali (meminjam istilah Bahrum Rangkuti dalam Polemik H.B.Jassin, 1972:177). Sedangkan dalam cerpen Robohnya Surau Kami tidak seperti itu. Itulah sebabnya cerpen A.A. Navis tidak pernah berhadapan dengan hukum. Selain itu cerpen A.A.Navis ini lebih banyak mengingatkan kita untuk selalu bekerja keras sebab kerja keras adalah bagian penting dari ibadah kita (Sapardi Djoko Damono dalam kata pengantar Novel Kemarau karya A.A.Navis, 1992:vi). Sementara itu, tujuan umum pengajaran sastra seperti yang tercantum dalam kurikulum 1994 yaitu agar siswa mampu menikmati, memahami, dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. Lalu, di dalam rambu-rambunya pada butir 10 ditegaskan pula bahwa pembelajaran sastra dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk mengapresiasikan karya sastra. Kegiatan mengapresiasi nalaran, dan daya khayal, serta kepekaan terhadap masyarakat, budaya, dan lingkungan hidup. Dengan demikian peran pelajaran sastra menjadi sangat penting. Mengingat perannya yang sedemikian itu, maka terselenggaranya pembe-lajaran sastra yang menarik dan menyenangkan akan menjadi sebuah tuntutan yang harus dipenuhi. Hal ini dimungkinkan karena pelajaran seperti ini akan dapat mendidik siswa untuk dapat mengenal dan menghargai nilai-nilai yang dijunjung oleh bangsanya, juga untuk dapat menghargai hidup, menikmati pengalaman orang lain, serta dapat menemukan makna hidup dan kehidupan. Bukankah karya sastra (cerpen) itu merupakan miniatur kehidupan manusia di sekitar pembaca?. Jadi, dengan mempelajari cerpen (sastra) berarti siswa diajak untuk mempelajari manusia dan lingkungannya. Biasanya siswa akan sangat antusias jika diajak untuk membicarakan atau mendiskusikannya juga akan mengeluarkan segala pengalaman dan pengetahuannya. Sayangnya, kendala pembelajaran itu sering terletak pada guru. Sebab, masih saja guru yang terlalu mengandalkan LKS (Latihan Kerja Siswa), tidak menyukai sastra, dan tidak bisa memilih bahan ajar yang tepat dan menarik untuk seusia siswa

yang dididiknya. Kenyataan inilah yang sering dianggap orang sebagai kegagalan. Gagal karena siswa tidak memiliki daya apresiasi dan kepekaan rasa serta tidak menyukai sastra. Berangkat dari permasalahan yang sudah diuraikan di atas, saya mencoba mengkaji keterkaitan cerpen dalam kegiatan pembelajaran dan berusaha menemukan kemungkinan-kemungkinannya cerpen dijadikan bahan ajar di kelas. Dengan harapan, hasil pengkajian ini dapat memberikan solusi dalam upaya memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran apresiasi sastra (cerpen). Identifikasi Berdasarkan latar belakang di atas, saya mencoba mengidentifikasi masalah sayaan ini. Identifikasi masalahnya sebagai berikut: 1. Bagaimana unsur intrinsik cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis? 2. Apakah cerpen tersebut mengandung nilai-nilai pendidikan? 3. Nilai-nilai pendidikan yang bagaimana yang terdapat dalam cerpen tersebut? 4. Setiap karya sastra prosa, khususnya cerpen dapat dijadikan bahan ajar dikelas. Lalu upaya-upaya apa saja yang memungkinkan pemilihan bahan ajar itu efektif? Sinopsis Cerpen Robohnya Surau Kami Karya A.A. Navis Cerpen karya A.A. Novis yang mengisahkan seorang kakek Garin, yang meninggal secara mengenaskan yaitu membunuh diri akibat dari mendengar cerita bualan seseorang yang sudah dikenalnya, ternyata cukup memikat siapapun yang membacanya. Karena daya pikat itu, peneliti mencoba mengkajinya dan agar kajian ini, khususnya bab IV ini mudah dipahami agaknya perlu juga memaparkan sinopsis cerpen Robohnya Surau Kami tesebut. Sinopsisnya itu seperti yang dipaparkan di bawah ini. Di suatu tempat ada sebuah surau tua yang nyaris ambruk. Hanya karena seseorang yang datang ke sana dengan keikhlasan hatinya dan izin dari masyarakat setempat, surau itu hingga kini masih tegak berdiri. Orang itulah yang merawat dan menjaganya. Kelak orang ini disebut sebagai Garin. Meskipun orang ini dapat hidup karena sedekah orang lain, tetapi ada yang paling pokok yang membuatnya bisa bertahan, yaitu dia masih mau bekerja sebagai pengasah pisau. Dari pekerjaannya inilah dia dapat mengais rejeki, apakah itu berupa uang, makanan, kue-kue atau rokok. Kehidupan orang ini agaknya monoton. Dia hanya mengasah pisau, menerima imbalan, membersihkan dan merawat surau, beribadah di surau dan bekerja hanya untuk keperluannya sendiri. Dia tidak ngotot bekerja karena dia hidup sendiri. Hasil kerjanya tidak untuk orang lain, apalagi untuk anak dan istrinya yang tidak pernah terpikirkan. Suatu ketika datanglah Ajo Sidi untuk berbincang-bincang dengan penjaga surau itu. Lalu, keduanya terlibat perbincangan yang mengasyikan. Akan tetapi, sepulangnya Ajo Sidi, penjaga surau itu murung, sedih, dan kesal. Karena dia merasakan, apa yang diceritakan Ajo Sidi itu sebuah ejekan dan sindiran untuk dirinya. Dia memang tak pernah mengingat anak dan istrinya tetapi dia pun tak memikirkan hidupnya sendiri sebab dia memang tak ingin kaya atau bikin rumah. Segala kehidupannya lahir batin diserahkannya kepada Tuhannya. Dia tak berusaha mengusahakan orang lain atau membunuh seekor lalat pun. Dia senantiasa bersujud, bersyukur, memuji, dan berdoa kepada Tuhannya. Apakah semua ini yang dikerjakannya semuanya salah dan dibenci Tuhan ? Atau dia ini sama seperti Haji Saleh yang di mata manusia tampak taat tetapi dimata Tuhan dia itu lalai. Akhirnya, kelak ia dimasukkan ke dalam neraka. Penjaga surau itu begitu memikirkan hal ini dengan segala perasaannya. Akhirnya, dia tak kuat memikirkan hal itu. Kemudian dia memilih jalan pintas untuk menjemput kematiannya dengan cara menggorok lehernya dengan pisau cukur. Kematiannya sungguh mengejutkan masyarakat di sana. Semua orang berusaha mengurus mayatnya dan menguburnya. Kecuali satu orang saja yang tidak begitu peduli atas kematiannya. Dialah Ajo Sidi, yang pada saat semua orang mengantar jenazah penjaga surau dia tetap pergi bekerja. Tinjauan atas Unsur Intrinsik

Amanat Di dalam sebuah cerita. (b) Jangan cepat bangga akan perbuatan baik yang kita lakukan karena hal ini bisa saja baik di hadapan manusia tetapi tetap kurang baik di hadapan Tuhan itu. lahir batin. ibadahku rusak karenanya. Aku bangun pagi-pagi. Amanat-amanat yang dimaksud itu di antaranya: (a) Jangan cepat marah kalau ada orang yang mengejek atau menasehati kita karena ada perbuatan kita yang kurang layak di hadapan orang lain. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. Amanat pokok/utama ini kemudian diperjelas atau diuraikan dalam ceritanya. penokohan. Amanat ini dimunculkan melalui ucapan kakek Garin pada halaman 9. supaya bersujud kepadaNya. latar. Navis ini diteima oleh setiap orang. kalau aku masih muda. Lal at seekor enggan aku membunuhnya. Orang tua menahan ragam. kesalahan engkau. “Alahamdulillah” kataku bila aku menerima karuniaNya. padahal engkau di dunia berkaum. Inilah kesalahan mu yang terbesar. beribadah bertawakkal kepada Tuhan . Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Gagasan yang mendasari cerita yang dibuatnya itulah yang disebut tema dan gagasan seperti ini selalu berupa pokok bahasan. amanat. Gagasan yang mendasari seluruh cerita ini dipertegas oleh pengarangnya melalui solusi bagi pokok persoalan itu. wajarlah kalau cerpen karya A. tapi engkau tak memperdulikan mereka sedikitpun. jika kita buat kesimpulan atas fakta-fakta di atas maka tema cerpen ini adalah seorang kepala keluarga lalai itu sehingga masalah kelalaiannya itu akhirnya mampu membunuh dirinya. Coba saja tengok pengalaman tokoh yang bernama Haji Saleh ketika dia disidang di akhirat sana: . Hal inilah yang dimaksudkan dengan amanat. dan gaya. titik pengisahan. Aku bersembahyang setiap waktu. jaga. yang didalamnya akan terlibat pandangan hidup dan cita-cita pengarang. punya keluarga seperti orang-orang lain. Aku bersuci. gagasan atau pokok persoalan dituangkan sedemikian rupa oleh pengarangnya sehingga gagasan itu mendasari seluuh cerita. bersaudara semuanya.‖ Hal ini terdapat pada paragraf kelima halaman delapan kalimat yang terakhir. Sudah lama aku tak marah marah lagi. Dengan kata lain solusi yang dimunculkan pengaranngnya itu dimaksudkan untuk memecahkan pokok persoalan. “Marah ? Ya. punya anak. tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri.…” dari ucapan kakek Garin itu jelas tegambar pandangan hidup/cita-cita pengarangnya mengenai karangan untuk cepat marah. Tema atau pokok persoalan cerpen Robohnya Surau Kami sesungguhnya terletak pada persoalan batin kakek Garin setelah mendengar bualan Ajo Sidi. Tapi engkau melupakan kaum mu sendiri.Unsur intrinsik adalah unsur dalam yang membentuk penciptaan karya sastra.” Dengan demikian. terlalu egoistis. Tak ku pikirkan hari esokku. alur. yaitu : “Tidak. Aku tak ingin cari kaya. karena itu kau taat bersembahyang. Aku puji-puji dia.” Kemudian pada halaman 16 gambaran itu ditegaskan kembali. “Astaghfirullah” kataku bila aku terkejut. Dengan demikian. Aku pukul bedug membangunkan manusia dari tidurnya. Gambaran ini terletak pada halaman 10 berikut ini. Tanpa gagasan pasti dia tidak bisa menulis cerita. Segala kehidupanku. karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih penyayang kepada umatNya yang tawakkal. Navis adalah: ―Pelihara. dan jangan bermasabodoh terhadap apa yang kau miliki. Dan simpulan temanya itu ternyata bersifat universal. melupakan kehidupan anak istimu sendiri. Jadi amanat pokok yang terdapat dalam cerpen Robohnya Surau Kami karya A. Unsur ini berupa tema. Sudah begitu lama aku berbuat baik. Kau takut masuk neraka. tetapi aku sudah tua.A. bikin rumah.A. Ketujuh unsur yang terdapat dalam cerpen Robohnya Surau Kami itu sebagai berikut: Tema Pengarang yang sedang menulis cerita pasti akan menuangkan gagasannya. Akibatnya muncullah amanat-amanat lain yang mempertegas amanat utama itu. karena engkau terlalu mementingkan diri mu sendiri. Oleh karena itu. amanat merupakan keinginan pengarang untuk menyampaikan pesan atau nasihat kepada pembacanya. Umpan neraka….” Apakah salahnya pekerjaanku itu? Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. ” Masa Allah bila aku kagum. sehingga mereka itu kucar kacir selamanya. bukan? Tak ku ingat punya istri. Aku baca KitabNya. Takut aku kalau imanku rusak karenanya. “Sedari mudaku aku disini. ku serahkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

misalnya: Jika tuan datang sekarang. dan suasana terjadinya suatu peristiwa. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tan di jalan kampungku. karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. yaitu: (c) Kita jangan terpesona oleh gelar dan nama besar sebab hal itu akan mencelakakan diri pemakainya. seperti yang sudah dituliskan pada bagian awal tentang amanat di atas. bersaudara semuanya. kapal. Melangkahlah menyusuri jalan raya arah ke barat. tapi kau malas.” Dan akhirnya amanat (d) dan (e) menjadi kunci amanat yang diinginkan pengarang untuk pembacanya. Latar Dalam suatu cerita latar dibentuk melalui segala keterangan. seperti kota. karena di Neraka itu banyak teman-temannya didunia terpanggang hangus. di surau. latar waktu. 8) “Sedari mudaku aku di sini. tapi engkau tak memperdulikan mereka sedikitpun.” (hlm. seperti yang sudah dipaparkan di atas pada latar tempat atau contoh yang lainnya seperti berikut : “Pada suatu waktu.…” (hlm . tidak membanting tulang.di Akhirat Tuhan Allah memeriksa orang -orang yang sudah berpulang …. ruang. kenapa engkau biarkan dirimu melarat. 15). dan sejenisnya. Di depannya ada kolan ikan. Latar ini dapat berupa daerah. dan latar sosial. ”…. Kesalahan engkau. yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi. Tuan akan berhenti di dekat pasar. Kedua amanat itu kemudian dirumuskan. 10) Meskipun begitu. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri. Latar tempat yang ada dalam cerpen ini jelas disebutkan oleh pengarangnya. membeloklah ke jalan sempit itu.” kata Ajo Sidi memulai. karena semua orang-orang yang dilihatnya di Neraka itu tak kurang ibadahnya dari dia sendiri. Tidak hanya itu saja. terlalu egoistis. ada juga yang juga yang jelas-jelas menyebutkan soal waktu. Dan di ujung jalan itu nanti akan tuan temui sebuah surau tua.“Alangkah tercengangnya Haji Saleh. Sedang Aku menyuruh engkau semuanya beramal disamping beribadat. karena itu kau taat bersembahyang.10) . Bagaimana engkau bisa beramal kalau engkau miskin . seperti yang disabdakan Tuhan dalam cerpen ini halaman 16. kau lebih suka beribadat saja. (e) Jangan mementingkan diri sendiri. untuk itu cermati sabda Tuhan dalam cerpen ini: “…. Kau takut masuk neraka. karena beribadat tidak mengeluarkan peluh. tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri.” (hlm. Aku beri kau negeri yang kaya raya. sedang harta bendamu kau biarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kebencian yang bakal roboh ……… Sekali hari aku datang pula mengupah kepada kakek (hlm.. Dari gambaran ini terpapar pula amanat lain. pengacuan yang berkaitan dengan waktu. yang terdapat dalam cerpen ini ada yang bersamaan dengan latar tempat. bangunan. hingga anak cucumu teraniaya semua. Latar ini ada tiga macam. saling memeras. dan sebagainya : Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis. Latar Tempat Latar jenis ini biasa disebut latar fisik. sekolah. Bahkan ada salah seorang yang telah sampai 14 kali ke Mekkah dan bergelar Syekh pula ( Hlm. bukan ?…. merintih kesakitan. Pada simpang kecil kekanan. Inilah kesalahanmu yang terbesar. Dan tambah tak mengerti lagi dengan keadaan dirinya. saling menipu. “. yaitu: latar tempat. hutan. padahal engkau didunia berkaum. petunjuk. kampus. 1 ) Latar Waktu Latar jenis ini. dekat pasar. (hlm. 12 – 13 ). sehingga mereka itu kucar kacir selamanya. melupakan kehidupan anak istrimu sendiri. simpang yang kelima. (d) Jangan menyia-nyiakan apa yang kamu miliki.

penjaga surau itu.13). dan berani. ―Kita protes. Namun demikian. yang paling taat menyembah-Mu.Latar Sosial Di dalam latar ini umumnya menggambarkan keadaan masyarakat. eksposisi cerita dalam cerpen ini berupa penjelasan tentang keberadaan seorang kakek yang menjadi garim di sebuah surau tua beberapa tahun yang lalu. ………………………………………………………………………… ―cocok sekali. Orang-orang memanggilnya kakek (hlm. Latar sosial ini menunjukkan bahwa salah satu tokoh dalam cerita ini termasuk kedalam kelompok sosial pekerja.” tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikitpun bertanggung jawab. dan beraninya Dia sering menganggap enteng orang lain dan akhirnya terjebak dalam kesombongan. Dalam hal ini. 13) Kebiasaan ini tentunya mengisyaratkan kepada kita bahwa tokoh-tokoh yang terlibat dalam dialog ini (hlm. “dan sekarang ke mana dia ?” “Kerja” “Kerja?”tanyaku mengulangi hampa. Di dalam cerpen ini latar sosial digambarkan sebagai berikut : Dan di pelataran surau kiri itu akan tuan temui seorang tua yang biasanya duduk disana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. yang menjelaskan/ memberitahukan informasi yang diperlukan dalam memahami cerita. dan lain-lainnya…” Akhirnya ada latar sosial lain yang digambarkan dalam cerpen ini meskipun hanya sepintas saja gambaranya itu. Datanya seperti ini. Tuhan kami yang Mahabesar. pekerjaan. mempropagandakan keadilan-Mu. kelompok-kelompok sosial dan sikapnya. Sayuti (2000:31) diartikan sebagai peristiwa-peristiwa yang diceritakan dengan panjang lebar dalam suatu rangkaian tertentu dan berdasarkan hubungan-hubungan konsolitas itu memiliki struktur. ―Setuju. 7) Dari contoh ini tampak latar sosial berdasarkan usia. Haji soleh yang jadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. cara hidup.‖ sebuah suara menyela. yaitu bagian awal. struktur plot itu dapat diuraikan seperti berikut. Tokoh-tokoh ini menjadi sombong di hadapan Tuhannya padahal apa yang dilakukannya belum ada apa-apanya. memuji-muji kebesaran-Mu. Ia memulai pidatonya: “O. di dunia dulu dengan demonstrasi saja. Strukturnya itu terdiri dari tiga bagian. banyak yang kita peroleh. dan bahasa. Setuju. kebiasaannya. Kita resolusikan. Bagian Awal Pada bagian awal cerita ini yang terdapat dalam cerpen ini terbagi atas dua bagian. dan kebisaan atau cara hidupnya. vokal. Perhatikan pada berikut ini. dan bagian akhir. “Dan sekarang. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu.‖ Mereka bersorak beramai-ramai (hlm.‖ kata Haji Soleh. yaitu bagian eksposisi. seperti yang diungkapkan pada data berikut : . Didalam cerpen ini. kami yang menghadap -Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat beribadat. termasuk kelompok orang yang sangat kritis.Dia pergi kerja. Dan dengan suara yang menggeletar dan berirama indah. Setuju. bagian tengah. Karena kritik. vokalnya. “ya. Sudah bertahun-tahun Ia sebagai Garim.‖ Alur (plot) Alur menurut Suminto A. contoh latar sosial yang menggambarkan kebiasaan yang lainnya yaitu : ―Kalau Tuhan akan mau mengakui kehilapan – Nya bagaimana ?‖ suatu suara melengking di dalam kelompok orang banyak itu.

Tapi yang paling sering diterimanya ialah ucapan terima kasih dan sedikit senyum (hlm. makanya dia mau saja melepaskan kekesalannya dengan menceritakan apa yang dilakukan Ajo Sidi terhadapnya di hadapan tokoh aku. dia begitu geramnya bahkan mengancam. Dia nekat membunuh dirinya sendiri dengan cara menggorok lehernya. Penyebab munculnya konplikasi ini bukan karena pisau itu melainkan pemilih pisau itu. Orang laki-laki yang minta tolong. 8) Rupanya si Kakek sedang dicekam konplik Konplik ini berkembang menjadi konplikasi manakala tokoh aku menanyakan sesuatu yang berupa pisau kepada si Kakek. Dan kerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya …. Namun. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali sejum’at. Bagian Tengah Meskipun ketidakstabilan dalam cerita memunculkan suatu pengembangan cerita tetapi bagian tengah tidak dimulai dari ketidakstabilan itu. 9) Kemarahannya ini demikian hebat. (hlm . kakek tidak mendapat apa-apa. seolah-olah ada sesuatu yang mengamuk pikirannya. Hal ini terbukti ketika si Kakek menyebutkan nama pemilik pisau itu. mengapa si Kakek wafat dan bagaimana hal itu bisa terjadi ? sehingga ketidakstabilan ini memunculkan suatu pengembangan suatu cerita. … Kakek begitu muram. Jawaban itu sedikitnya menggambarkan suatu konplik. Dia bercerita karena desakan dari dalam batinnya. Akibatnya. (hlm. Karena Ia begitu mahir dengan pekerjaannya itu. yang kuasah tajam-tajam ini. 8) Data konflik ini kemudian diperkuat dengan pemunculan tokoh alur yang berniat hendak mengupah si Kakek. yaitu bagian yang didalamnya terdapat keterbukaan.” Kakek menjawab. klimaks kekecewaan si Kakek berakhir dengan cara yang tragis. Akan tetapi begitu tokoh atau bertemu dengan si Kakek suasananya sangat tidak diharapkan.” (hlm. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garim. Dia sendiri tak mampu menahannya untuk menyembunyikan apa yang diceritakan Ajo Sidi. memberinya imbalan rokok. Orang-orang memanggilnya kakek. dan pisau cukur tua berserakan di sekitar kaki Kakek. memberinya sambal sebagai imbalan. Yang dimaksud di sini adalah cerita mulai bergerak dan terbuka dengan segala permasalahannya. kadang-kadang uang. seperti yang disebutkan dalam bagian awal. . “ Kenapa ? “ “ Mudah-mudahan pisau cukur ini. Justru. bahwa si Kakek wafat karena dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. Bahkan mungkin semakin berat dan menekan dada dan batinnya. Dan yang kedua adalah sebagai instabilitas (ketidakstabilan). Perhatikan data berikut : Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. 7). Sekali enam bulan Ia mendapat seperempat dari hasil pemunggahan ikan mas dari kolam itu. “Kurang ajar dia. Sebagai penjaga surau. Orang-orang perempuan yang minta tolong mengasahkan pisau atau gunting. (hlm. sedang ia tidak pernah meminta imbalan apa-apa. Orang-orang suka minta tolong kepadanya. penjaga surau itu. Sebuah blek susu yang berisi minyak kelapa sebuah asahan halus. Ia sudah meninggal. kulit sol panjang. Begitu kuat dan hebat. bagian tengah dimulai dengan jawaban atas pertanyaan yang muncul. Dan tinggallah surau itu tanpa penjaganya …. akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di surau dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. menggorok tenggorokannya. Dan sekali setahun orang-orang mengantarkan fitrah Id. Pandangannya sayu kedepan. tapi sebagai Garim ia tak begitu dikenal. segala apa yang diungkapkannya di depan tokoh Aku ini tidak membuatnya merasa ringan. Data untuk ini seperti berikut: Dan biang keladi dari kecerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. Jika Tuan datang sekarang hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh.Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku …. Ia lebih dikenal sebagai pengasah pisau. Di sudut benar dia duduk dengan lututnya menegak menopang tangan dan dagunya. 8) Berdasarkan data ini tampak jelas bahwa yang dimaksud cerita mulai bergerak dan tebuka adalah karena informasi ini belum tuntas bahkan menimbulkan pertanyaan.

Kejutannya itu terletak pemecahan masalahnya. Datanya seperti berikut. a. Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis. . “Ia sudah pergi. Apakah Ajo Sidi tidak membuat bualan tentang kakek ? Dan bualan itukah yang mendurjakan kakek ? Aku ingin tahu. Dia pergi kerja. kek ?”. A. Ia sudah meninggal…. Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang Tua….Bagian Akhir Bagian terakhir cerita ini ternyata menarik. Beginilah kisahnya (hlm. Lalu aku tanya dia.” “Kerja ?” Tanyaku mengulang hampa “Ya.” jawab istri Ajo Sidi. Penyelesaian yang penuh kejutan ini agaknya menyisakan pertanyaan.16). Penokohan Yang dimaksud dengan penokohan yakni bagaimana pengarang menampilkan perilaku tokoh-tokohnya berikut wataknya.” dan sekarang ke mana Dia ?” “Kerja. Data berikut menggambarkan hal ini. Dikatakan demikian karena benar-benar bertumpu pada kisah sebelumnya.” “Dan sekarang. Orang-orang memanggilnya kakek… Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya. Dan ia meniggalkan pesan agar dibelikan kain kafan buat Kakek tujuh lapis. Navis menampilkan tokoh-tokohnya sebagai berikut. “Kakek.7-8). Tokoh Aku Tokoh ini begitu berperan dalam cerpen ini. “Siapa yang meninggal?” Tanyaku kaget. justru Ajo Sidi menganggap hal itu biasa saja bahkan dia berusaha untuk membelikan kain kafan meskipun hal ini dia pesankan melalui istrinya. benarkah Ajo Sidi orang yang tidak bertanggung jawab? Bukankah perilaku Ajo Sidi yang berusaha menyuruh istrrinya untuk membeli kain kafan itu merupakan suatu bentuk tanggung jawab? Lalu di mana salahnya? Jika struktur alurnya seperti di atas maka alur cerpen ini dikelompokkan ke dalam alur regresif atau alur flash back (sorot balik). Menarik karena adanya kejutan (surprise). ketika Aku mau turun rumah pagi-pagi istriku berkata apa aku tak pergi menjenguk.A. yang oleh tokoh Aku kisah itu diceritakan. Aku tanya lagi kakek : “Bagaimana katanya. “Tidak ia tahu Kakek meninggal ?” “Sudah. Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatangan Ajo Sidi kepadanya.… Dan di ujung jalan itu nanti akan Tuan temui sebuah surau tua….9).‖ (hlm. Tapi aku berjumpa sama istrinya saja. Dan besoknya. Lalu aku tanya pada kakek lagi: “Apa ceritanya. 16-17). yaitu ketika orang-orang terkejut mendapatkan si Kakek garin itu meninggal dengan cara mengenaskan. Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. kek ?” Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. Pengarang menggambarkan tokoh ini sebagai orang yang ingin tahu perkara orang lain. Dari mulutnya kita bisa mendengar kisah si Kakek yang membunuh dirinya dengan cara menggorok lehernya dengan pisau.” tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikitpun bertanggung jawab.(hlm.” “Kakek?” (hlm.

dan cerita ini diperolehnya dari Ajo Sidi.(hlm. Akan tetapi. Lalu aku tanya dia. Ajo Sidi Tokoh ini sangat istimewa. Artinya. Tapi aku berjumpa sama istrinya saja. Selain itu bualannya selalu mengena. …. Dan aku ingin ketemu dia lagi. Seandainya si kakek panjang akal dan pikirannya serta kuat imannya tidak mungkin ia mudah termakan cerita Ajo Sidi. Dari data ini pula ternyata disebutkan pula bahwa Ajo Sidi orang yang cinta kerja. Ajo Sidi bisa mengikat orang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari. Dia menjadi pusat cerita. pendek akal dan pikirannya. Sebutan ini muncul melalui mulut tokoh Aku. punya keluarga seperti orang -orang lain. pengarang tetap melibatkan diri dalam . ketika si kakek bercerita tentang Haji Soleh di depan tokoh Aku. Ada-ada saja orang di sekitar kampungku yang cocok dengan watak pelaku-pelaku ceritanya…. Secara jelas tokoh ini disebut sebagai si tukang bual. pengarang ikut terlibat langsung dalam cerita iu atau hanya sebagai pengamat yang berdiri di luar cerita.(hlm. Dia bisa segera bertobat dan bersyukur kepada Tuhan sehingga dia bisa membenahi hidup dan kehidupannya sesuai dengan perintah tuhannya.Maka aku ingat Ajo Sidi. d.7). Pemunculannya sengaja untuk mengejek atau menyindir orang lain. tahu? Tak terpikirkan hidupku sendiri…(hlm. 6. Aku senang mendengar bualannya. Data untuk ini seperti berikut. Sekali hari Aku datang pula mengupah pada kakek. si pembual itu. dia segera mengambil jalan pintas malah masuk ke pintu dosa yang lebih besar. seperti data berikut: “ Sedari mudaku aku di sini. Si Kakek Tokoh ini agaknya menjadi tokoh sentral.(hlm. Dengan begitu wataknya sudah dipersiapkan oleh penciptanya dan karena kemahirannya Ajo Sidi tokoh ini demikian hidup. Ajo Sidi disebutkan sebagai si tukang bual yang hebat karena siapa pun yang mendengarnya pasti terpikat.8-9) . Sudah lama aku tak ketemu dia. Tetapi sayang. Sedangkan gambaran untuk tokoh si Kakek yang terlalu mementingkan diri sendiri digambarkan melalui ucapanya sendiri. Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke Kota kelahiranku dengan menumpang bis.“Astaga.” kataku seraya ceepat-ceepat meninggalkan istriku yang tercengangcengang. Ajo Sidi punya gara-gara. Di dalam cerpen Robonya Surau Kamii agaknya A. Maksudnya apakah. Biasanya kakek gembira menerimaku. Titik Pengisahan Yang dimaksud dengan titik pengisahan yaitu kedudukan/posisi pengarang dalam cerita tersebut.10). Tidak banyak dimunculkan tetapi sangat menentukan keberlangsungan cerita ini .16). Menurut si tokoh Aku. Secara jelas dan gamblang watak tokoh ini digambarkan sebagai orang terlalu mementingkan diri sendiri. maka pengarang sudah memposisikan dirinya sebagai tokoh bawahan.(hlm.8). Penggambaran watak seperti ini karena tokoh kakek mudah termakan cecrita Ajo Sidi. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Aku cari AjoSidi ke rumahnya. c. Padahal yang namanya cerita tidak perlu ditanggapi serius tetapi bagi si kakek hal itu seperti menelanjangi kehidupannya. punya anak. sukses terbesar baginya ialah karena semua pelaku-pelaku yang diceritakannya menjadi pemeo akhirnya. serta terlalu mementingkan diri sendiri dan lemah imannya. bukan ? tak kuingat punya istri. karena aku suka memberinya uang…. b.A. Navis memposisikan dirinya dalam cerita ini sebagi tokoh utama atau akuan sertaan sebab secara langsung pengarang terlibat di dalam cerita dan ini terasa pada bagian awal cerita. Tuan akan berhenti di dekat pasar…. Oleh si pengarang tokoh ini digambarkan sebagai orang yang mudah dipengaruhi dan gampang mempercayai omongan orang. Sebagai pembual. Haji Saleh Tokoh ini adalah ciptaan Ajo Sidi.

b. juga Sedekah.cerita akan tetapi yang sebenarnya ia sedang mengangkat tokoh utama atau berusaha ingin menceritakan tokoh utamanya. siapa pun (baik yang beragama Islam. Tidak hanya ini. Mereka ini tidak hanya tenggelam dalam KKN dan egoisme tetapi juga tenggelam dalam kemunafikan dan maksiat serta dibakar emosi dan dendam demi keakuan dirinya dan kelompoknya. cukup banyak tokoh-tokoh kita dari berbagai kalangan tidak lagi suci hatinya. Tapi karena aku sudah ke Mekah. Kolusi. berdoa. Navis sebagai Bahan Pembelajaran Sastra di Kelas. yaitu bahasa Indonesia. cerpen ini jelas menggunakan bahasa yang bisa dipahami pembaca orang Indonesia. Hindu. dan Nepotisme (KKN) dan keegoismeannya. Masya-Allah. yakni tokoh Haji Saleh dan kehidupan di akhirat. Tawakal. dan Surau serta fitrah Id. Haji Saleh namaku. jabatan. yang tak hendak memelihara apa yang tidak dijaga lagi” (hlm. Manfaatnya selain memberikan kenikmatan dan hiburan. Malaikat. Inilah sebuah kritik untuk masyarakat kita sekarang ini. Sedangkan majas yang digunakan dalam cerpen ini di antaranya majas alegori karena di dalam cerita ini cara berceritanya menggunakan lambang. Simbol yang terdapat dalam cerpen ini tampak jelas pula judulnya. Oleh karena itu dapat memberikan manfaat. Pemilihan dan penetapan cerpen sebagai bahan/materi pembelajaran tentunya harus mengikuti kriteria yang sudah ditetapkan secara umum yaitu: a.8). Latar belakang budaya yang ditampilkan pun masih terasa umum. mengembangkan pengertian perilaku manusia dan dapat menyuguhkan pengalaman yang universal. Jadi. dan pangkat. Di dalam cerpen ini ternyata pengarang menggunakan kata-kata yang biasa digunakan dalam bidang keagamaan (Islam). pengarang pun menggunakan pula simbol dan majas. Akhirat. Astagfirullah. beribadat menyembah-Mu. gaya bahasanya pun menarik dan pilihan katanya pun dapat memperkaya kosa kata siswa dalam hal bidang keagamaan. Buktinya. Syekh. Mereka tenggelam dalam Korupsi.maupun Budha) bisa dengan mudah memahaminya dan tidak menimbulkan pertentangan yang mendasar. gaya merupakan kemahiran seorang pengarang dalam memilih dan menggunakan kata. Meskipun di dalamnya terdapat kosa kata islami. dosa dan pahala. Majas ini sangat dominan dalam cerpen ini Selain majas alegori atau parabol. ketika cerpen ini diterbitkan tidak lama kemudian cerpen ini mendapat tempat di hati pembacanya dan masih terus dibicarakan hingga kini. kitab-Mu. Alhamdulillah. Walaupun begitu kata ―Aku‖ ini merupakan kata ganti orang pertama pasif. Gaya Gaya merupakan sarana bercerita. kelompok kata. Cerpen sebagai salah satu karya sastra jelas dapat memberikan manfaat seperti layaknya karya sastra yang lain. atau kalimat dan ungkapan. atau lebih tepatnya menggunakan majas parabel (majas ini merupakan bagian dari majas alegori) karena majas ini berisi ajaran agama. Surga. Jadi. “Engkau ?” “Aku Saleh. moral atau suatu kebenaran umum dengan mengunakan ibarat. Dengan demikian gaya biasa disebut sebagai cara pengungkapan seorang yang khas bagi seorang pengarang atau sebagai cara pemakaian bahasa spesifik oleh seorang pengarang. Suaru di sini merupakan simbol kesucian. menginsyafkan umat-Mu. Dengan demikian penggunaan majas-majas itu untuk mengingatkan atau menasehati sekaligus mengejek pembaca atau masyarakat. pengarang pun menggunakan majas Sinisme seperti yang diucapkan tokoh aku: ”…Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang. hamba-Mu. yakni Robohnya Surau Kami. .. maka sewajarnya sebuah cerpen dapat dijadikan bahan/materi pembelajaran sastra di kelas. keyakinan. Dilihat dari segi bahasanya. Bahkan ada pula yang keyakinannya terhadap Tuhan dan agamanya terlibat luntur-pudar. kristen. dia juga dapat mengembangkan imajinasi. haji.pengarang kembali ke posisi sebagai tokoh Aku seperti pada bagian awal cerita.A. Cerpen Robohnya Surau Kami karya A. Jadi. Mereka sudah menggadaikannya dengan kedudukan. hal ini tidaklah menggangu bahkan akan menarik jika siswa membandingkan dengan kosa kata non-Islam yang sejenis. Sebab. Di sini pengarang tetap mengunakan kata ―Aku‖. Nasehat dan ejekannya itu ternyata berhasil. neraka. Allah Subhanau Wataala.” ……………………………………………………………………… lalu. Tuhan. memberikan pengalaman pengganti. seperti garin. melalui simbol ini sebenarnya pengarang ingin mengingatkan kepada pembaca bahwa kesucian hati atau keyakinan kita terhadap Tuhan dan agamanya sudah roboh. Selain ini. setelah si Kakek menceritakan tentang Haji Saleh –tokoh dongengan Ajo Sidi.

mudah dipengaruhi dan mempercayai orang lain. apalagi di kelas III SMU. Latar Latar yang ada dalam cerpen ini adalah latar tempat. 4) Haji Soleh yaitu orang yang telah mementingkan diri sendiri. 1) Tokoh Aku berwatak selalu ingin tahu urusan orang lain. 2) Ajo Sidi adalah orang yang suka membual 3) Kakek adalah orang yang egois dan lalai.A. Titik Pengisahan Titik pengisahan cerpen ini yaitu pengarang berperan sebagai tokoh utama (akuan sertaan) sebab secara langsung pengarang terlibat di dalam cerita. e. 3) jangan terpesona oleh gelar dan nama besar. Amanat Amanat cerpen ini adalah : 1) jangan cepat marah kalau diejek orang. 4) jangan menyia-nyiakan yang kamu miliki. Selain itu pengarang pun berperan sebagai tokoh bawahan ketika si kakek bercerita tentang Haji Soleh di depan tokoh aku. Tema Tema cerpen ini adalah seorang kepala keluarga yang lalai menghidupi keluarganya. 1. dan akhir. agar pembelajaran sastra dengan bahan cerpen itu menarik dan lancar. Unsur-unsur Intrinsik a. b. Selain itu. Namun demikian. dan 5) jangan egois. guru dan siswanya pun haruslah sama-sama membaca cerpen itu lebih dari satu kali dan jangan coba-coba membaca ringkasannya. dan Haji Soleh. g. latar waktu. f. c. Nvis ini memang sebuah sastra (cerpen) yang menarik dan baik.Berdasarkan kriteria-kritera inilah kiranya cerpen ini sangat sesuai dan tepat bila dijadikan bahan ajar untuk pembelajaran sastra di kelas I dan II. dan majas alegori. Adapun alur mundurnya mulai muncul di akhir bagian awal dan berakhir di awal bagian akhir. Ajo Sidi. Gaya Di dalam cerpen ini pengarang benar-benar memanfaatkan kata-kata. Kesimpulan Cerpen Robohnya Surau Kami karya A. dan latar sosial. akan lebih menarik lagi jika gurunya pun aktif-kreatif ketika membelajarkan siswanya dalam menelaah cerpen tersebut. Sedangkan strukturnya berupa bagian awal. Penokohan Tokoh dalam cerpen ini ada empat orang. Hal ini dapat dilihat dari unsur-unsur intrinsik dan kesesuaiannya sebagai bahan pembelajaran. Kakek. . Adapun hasil analisisnya sebagai berikut. d. tengah. 2) jangan cepat bangga kalau berbuat baik. yaitu tokoh Aku. dan sinisme. Alur Alur cerpen ini adalah alur mundur karena ceritanya mengisahkan peristiwa yang telah berlalu yaitu sebab-sebab kematian kakek Garin.

Jakarta: Balai Pustaka. Misalnya. Hoerip. Haryati.1994. Bandung : Angkasa. Metode Penelitian Seni Budaya Jakarta: Dinas Kebudayaan DKI Jakarta. Saran untuk guru . dan Winarto Adiwardoyo. Departemen Pendidikan Nasional.1993. Berdasarkan uraian di atas.Sebaiknya siswa harus membaca cerpennya secara utuh berkali-kali agar memahami isinya. Mochtar. J. Teori dan Pembimbingan Apresiasi Sastra Indonesia untuk SMU. Made.2.Selain itu. karena bahasa yang digunakannya bisa dipahami oleh siswa SMU. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. bagaimana kesesuaian psikologisnya. Malang: Yayasan A3 Malang. yaitu bagaimana bahasanya. Pembinaan Kritik Sastra Indonesia: Masalah Sistematika Analisis Struktur Fiksi.1987.S. Jogjakarta: Gama Media. Suharsimi. Jakarta : Kurnia Esa. guru harus kreatif ketika sedang membelajarkan siswanya.Pemilihan bahan/materi pembelajaran sastra yang berbentuk cerpen sebaiknya mengikuti kriteria yang ada. Suminto A. guru harus mampu membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap cerita tersebut kemudian mengarahkannya ke dalam pengalaman siswa sehingga ketika siswa membahas cerita itu. jangan sekali-kali membaca ringkasan cerpen tersebut tanpa pernah membaca cerita itu seluruhnya. masih sesuai dengan perkembangan psikologis dan pemikiran siswa SMU. Juga. Satyagraha. bahasannya benar-benar berdasarkan pengalaman siswa. penulis meyarankan sebagai berikut. Sayuti. A. DAFTAR PUSTAKA Arikunto. Henri Guntur. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Esten. . Mursal. Metode-metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Prima. Latihan Apresiasi dan Sastra. Cerita Pendek Indonesia 1. guru harus mampu membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa akan isi cerpen tersebut. . edisi ketiga.Di dalam kegiatan pembelajaran. baca pula buku-buku yang mengulas isi cerpen itu jika ada. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.Berdiskusilah dengan penuh minat dan perhatian agar manfaat sastra bisa dirasakan . maka cerpen Robohnya Surau Kami sangat cocok /layak jika dijadikan bahan ajar dalam pembelajaran sastra di SMU. 1980. guru pun harus membaca terlebih dahulu sebelum pembelajaran dimulai begitu pula dengan siswanya. Dinas Kebudayaan DKI Jakarta.2000. . Tarigan. Jakarta: Rineka Cipta. Jakarta : Erlangga. Bandung: Angkasa. Badudu. Hindu. Koentjaraningrat. 1979.1990. Suroto.Jika mungkin dan sempat. Saran Berdasarkan hasil penelitian di atas. 2. baik untuk tokoh cerita maupun pembacanya yang duduk di tingkat SMU. Kristen. Namun. Sukada. selain itu konflik-konflik psikologis yang dimunculkan. Bandung: Pustaka Prima. Selain kriteria ini. Bandung: Angkasa.1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1. Kesusastraan: Pengantar teori dan sejarah. konflik psikologis tokoh-tokohnya pun tidak terlalu sulit untuk dipelajari. Teknik Mengarang. dan bagaimana latar budaya yang dimunculkan dalam cerita itu ? Tentu saja hal ini dilakukan guru sebelum pembelajaran dimulai. ikutilah setiap seminar atau diskusi sastra di manapun. Lubis. Saran untuk siswa . . 1997. 1984. . dan Budha pun dapat menerimanya. 2001.Guru yang sudah berani menetapkan cerpen sebagai bahan pembelajaran sastra harus pula membacanya berkali-kali agar memahami isinya.1984. dan latar budaya yang ditampilkannya pun masih tampak umum sehinga siswa yang berlatar belakang budaya Islam.1999. Sari Kesusasteraan Indonesia Jilid 2.

Kepercayaan. kesedihan ini. maaf jika ternyata malah menyimpang jauh. Cerita Rekaan.Rate this: 16 Votes Share this:       Facebook59 Twitter2 Cetak Surat elektronik Like this: Suka Be the first to like this. 2008 pada 11:58 pm kalau berbicara sastra. terus teranga saya kurang memahami. Sastra Indonesia. chumaidi Says: Desember 20. Unsur Instrinsik Ceren. hanya itu pak yang bisa saya komentari. makasih….A. salah satu pertintahnya adalah kita harus bersosialisasi dengan orang-orang sekitar milsanya dengan saling memmbantu. Cerpen. karena cerpen itu sedikit yang saya usahakan fahami sedang menceritan suatu kondisi. . 2008 pada 6:18 am @chumadi: terima kasih ata apresiasinya. Robohnya Surau Kami. saya merasa sedih. dimana di era globalisasi sekarang ini para manusia semakin lupa dengan status fitrahnya yakni sebagai seorang hampa yang akan sangat menjijikkan jika tak mau menyembahnya atau setidaknya mengingatnya. Kehidupan Bermasyarakat. Navis. dsb. Kaitkata: A.. Agama. tapi ketika melihat judulnya. Pendidikan. memberi. awan sundiawan Says: Desember 21. Cerpen. Ditulis dalam Artikel. 2. 58 Komentar » 58 Tanggapan ke “Analisis Cerpen Robohnya Surau Kami” 1. kalau kita sering menyembahnya berarti kita harus melaksanakan pertintahnya. Dunia Pendidikan.

2010 pada 9:24 pm pendekatan ap yg anda pakaI UNTUK ANALISIS INI 8.thx 7.3. 2009 pada 7:34 pm ceritanya sangat menarik 4. Znie Says: Mei 20. 2010 pada 2:22 am thankz…bwt referensi saya… ^^ . 2010 pada 7:05 pm ceritanya menarik.bisa buat tugas resensi. aninda Says: Februari 26.sangat membantu untuk pembuatan karya tulis. Znie Says: Mei 20. lajutkan berkarya 9. 2010 pada 2:22 am thakz…bwt referensi saya… ^^ 10.. bisa bwt tgs sastra saya ^^ 6. 2010 pada 6:55 pm makacie…. erik & my honey Says: Oktober 18. mufti sheva ramdlani Says: Mei 19. 2010 pada 7:12 pm analisis yang detil & tajam. vita Says: April 1. wahyu Says: April 16. good luck. noname Says: November 18.terima kasih posting-annya ^^ 5. 2009 pada 7:30 pm wah bagus banget ini.

. Awan Says: Agustus 7... 12. 2010 pada 1:16 pm thanks.ijin nge-link utk tulisan tsb ya pak.. 15. >. 2010 pada 1:26 pm Thx…analisis yang sangat bagus.. .. Kaka Says: Mei 29.... amari hudani Says: Agustus 24. ayu Says: Oktober 16..11.. 2010 pada 9:01 pm sukron kasir. 2010 pada 2:48 pm sangat bermanfaat untuk bahan ajar 16....< 17... bisa buat tgas sastra nih!!!!!!!!!!!!!!! 14.. makasih bantu bgt dah . 2010 pada 1:27 pm keren bgt …. aisyah Says: September 17. anita sahara Says: Oktober 24.…. 13. ne pke metod struktural kn???? hm….. 18. 2010 pada 11:53 am makasiii ya…. reni pratiwi Says: Juli 30. 2010 pada 2:10 pm @all: terima kasih atas kunjungan dan apresiasinya. 2010 pada 3:25 pm wah wah…bantu bgt nih…mksh…. saya jadi mudah untuk mencari tugas sastra.. pery Says: Agustus 7....

. 2011 pada 4:58 am makasih banget . izzuddin al faruq Says: Januari 26. wafig Says: Februari 2. 22. buat tugas sekolah lumayan . 2011 pada 1:00 pm heeeeeeeeeeeeeemmmmmmmmmm 26. Makasih banget ya pak…. 25. 2010 pada 9:45 am waw keren bgt 23.19. good wawa Says: Juni 4. widia cls f Says: November 30. 2010 pada 2:58 pm keren……bisa dijadikan referensi nih pak. 2011 pada 5:47 pm . elvira junisa Says: Desember 16. nice share 24. yalinda Says: November 24. ini menjadi referensi sebab saya sedang menggarap naskah robohnya surau kami adaptasi dari hermana. alice ajjadweh Says: April 28. 2010 pada 12:23 pm terimakasih atas penjelasan tentang cara menganalisis cerpen yang sangat menarik ini. 2010 pada 4:41 pm bisa jadi pelajaran tuh bagi orang yang selalu mementingkan dirinya sendiri ……. (^_^) 20. neng Says: November 8. 21. 2011 pada 7:38 pm cerpen yang unik.

idrisji. 2011 pada 7:48 pm terima kasih atas informasinya 30...27. gg bisa di copas !! 34.. bisa untuk tugas saya 32..es Says: Agustus 12. 2011 pada 1:21 pm makasih.. 2011 pada 1:34 pm sangat menyentuh hati. semoga bermanfaat 29. veea Says: September 24. 2011 pada 2:21 pm sialan. rara Says: Agustus 25. Resty Souisa (@Restysouisa) Says: September 26... 2011 pada 4:32 pm .analisisnya bagus nih 28. 2011 pada 8:01 pm @all: terima atas kunjungan dan apresiasinya. 2011 pada 3:25 pm izin download yaaa……trimakasih bgt… sangat membantu 35. 2011 pada 11:27 am ) klo judul lain bisa g`……?? 33. 4d1t Says: Agustus 4. awan sundiawan Says: Agustus 1. firmanpratama Says: Juli 28.. iqcha Says: September 10. aaaa Says: September 1. 31... 2011 pada 5:44 pm good banget.

2011 pada 8:05 am Izin Copy paste ya pak 38. 2011 pada 8:24 am cerpen yang sangat menarik…………………!!!!!!!!!!!!!! sekaligus membantu saya mengerjakan tugas… makasih ea. awan sundiawan Says: November 25.. immabeta Says: November 3. 41. please……… 37. 2011 pada 7:18 am assalamualaikum cerpennya bagus dan memikat oh ya tapi kenapa tidak bisa dicopy paste 40. 2011 pada 7:33 pm wow panjang amat cieh cara menganalisis_x…………. 2011 pada 4:56 am @all: terima kasih atas apresiasinya. bella Says: November 10. 42. 39.. Ikiwwwwww Says: September 28. 2011 pada 10:06 am pengarang nya mna? buat tugas nih….? . mohon maaf ada beberapa pertanyaan yang belum saya jawab. Riza Says: Oktober 10. ulfa rakhma wathii Says: November 24. Gimana tu. samba Says: Desember 3. 2011 pada 3:55 pm kok istri Ajo Sidi g masu analisi.MAU MINTA IDENTITAS PENGARANGNYA BUAT TUGAS SEKOLAH 36..

2012 pada 4:50 pm @Sarah Nurlita: sama2. aqu copy yah mo di plajari………. Mawardi Says: Maret 27. Rifky Says: Mei 8. immabeta Says: Desember 4. bahan untuk tugas sekolah 47. 2011 pada 5:13 pm mungkin istri si Ajo Sidi tidak terlalu mempengaruhi alur dan isi cerita tersebut…………………………. 2011 pada 7:39 pm @all: trims atas apresiasinya. 2012 pada 11:15 am trima kasih. 2011 pada 1:42 pm mkasihhhhhhhhhhhh… yah kwan…………. awan sundiawan Says: Desember 24. Sarah Nurlita Says: Januari 17. semoga bermanfaat 48.makasih 45. 44.43. 49.. 2012 pada 2:13 pm Mas jujur cerpennya bagus dan maaf nih sebelumnya jangan kebanyakann paragraf karena itu sangat mengganggu!! tapi cukup informatif... 46. awan sundiawan Says: Januari 17. 2012 pada 6:40 am Mulai tahun berapa di publikasikan?. vito Says: Mei 7. semoga bermanfaat ya 50. 2012 pada 11:32 am . muhammad as'ad Says: Desember 19.

2012 pada 9:49 am kreatifff ni.. semoga bermanfaat 53. 2012 pada 9:53 am . awan sundiawan Says: Mei 17. say minta copas latar. Cerpen ini sangat bermanfaat untuk menambah khasanah pengetahuan sastra bagi pelajar maupun masyarakat umum.. 2012 pada 9:52 am eh enggak jd deh 58. 2012 pada 11:16 am aku suka banget dengan erita ini…. Lien Herlina Says: Agustus 11. 2012 pada 11:34 am Makasih ya mas karena ini membantu pelajaran sekolah 52.... ainnaya Says: . ainnaya Says: September 1. dan trims atas kunjungannya @Rifky.Mas terima kasih ya karena ini sangat membantu 51.perfeck untuk di analisis 55. izin download buat tugas sekolah ya ainnaya Says: September 1. Terima kasih ya… 56. 2012 pada 11:14 am cceritanya bagus dan sagat bermanfaat 54.. sm penokohan nya aja ya DD boleh ? September 1. Aldi Says: Mei 8. @Aldi : sama2.. 57.. 2012 pada 7:25 am :p @Mawardi : novel terserbut sudah lama dipublikasikan @vito: terima kasih atas sarannya... luchy Says: Juni 7. 2012 pada 4:41 am Cerpen yang sangat bagus untuk dikaji sebagai salah satu bahan pengajaran sastra di sekolah. ))). dewa Says: Juni 7.

sm penokohan aja yaaaa )) D .engga jd deh saya minta copas latar.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful