PEDOMAN TEKNIS BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG AMAN DALAM SITUASI DARURAT DAN BENCANA

DIREKTORAT BINA PELAYANAN PENUNJANG MEDIK DAN SARANA KESEHATAN DIREKTORAT BINA UPAYA KESEHATAN

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
TAHUN 2012

KATA PENGANTAR
Indonesia, letak geografi berada pada lempeng samudra hindia australia. Sehingga dampak negatif yang bisa terjadi adalah patahnya lempengan tersebut akibat pergeseran lapisan bumi yang disebut dengan istilah “sesar”. Akibat terjadinya patahan ini terjadila h bencana gempa, atau yang lebih dahsyat lagi disebut dengan tsunami. Indonesia, terdiri dari banyak gunung-gunung yang masih aktif, dimana sewaktu waktu dapat meletus dan akibat bencana ini mengancam jiwa terhadap manusia dan kerugian harta benda. Indonesia, terutama di kota-kota besarnya mempunyai sistem drainase yang kurang memadai, sehingga dengan terjadinya hujan lebat berdampak pada bencana banjir. Kecerobohan manusia disertai bangunan dan prasarana yang kurang atau tidak memadai ketentuan yang berlaku juga dapat mengakibatkan terjadinya bencana kebakaran. sesuai

Empat kondisi tersebut di atas merupakan bentuk kondisi bencana dan situasi darurat yang harus dihadapi rumah sakit. “Rumah Sakit” harus tetap kokoh berdiri dengan aman terhadap bentuk ben cana apapun yang terjadi, dan rumah sakit harus tetap mampu melayani masyarakat dalam bidang kesehatan. Untuk memberikan arahan terhadap pembangunan rumah sakit yang aman terhadap bencana dan kondisi darurat, Kementerian Kesehatan menyusun buku “Pedoman T eknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana”, dengan harapan dapat menjadi pedoman untuk pembangunan rumah sakit yang berada di daerah rawan bencana. Buku Pedoman teknis ini juga merupakan salah satu petunjuk pelaksanaan dari sub bagian dari pasal 11 ayat (g) tentang “petunjuk, standar dan sarana evakuasi saat terjadi keadaan darurat” pada “Persyaratan Teknis Prasarana Rumah Sakit”, yang merupakan turunan dari Undang -Undang No. 44 Tahun 2009 tentang “Rumah Sakit”. Buku pedoman teknis ini merupakan bentuk “adopsi modifikasi” dari buku “Safe Hospitals in Emergencies and Disasters, Structural, Non Structural and Function Indicators , yang diterbitkan oleh World Health Organization Regional Office for the Western Pacific 2009 , bersama Europian Commision. Dengan diterbitkannya buku ini semoga bermanfaat bagi pembacanya.

Jakarta, September 2012

DAFTAR ISI
Halaman BAB I : 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 1.6 BAB II : KETENTUAN UMUM ..................................................................................... Latar Belakang .............................................................................................. Penilaian Kelemahan Bangunan Rumah Sakit ............................................... Sasaran Pengguna ......................................................................................... Tujuan .......................................................................................................... 1 Bangunan Menggunakan Pedoman Teknis Ini ............................................... Ruang Lingkup .............................................................................................. 1 1 1 1 2 2

PETUNJUK BANGUNAN DAN PRASARANA RUMAH SAKIT YANG AMAN............................................................................................................ 2.1 Pendahuluan ................................................................................................. 2.2 Petunjuk Struktur Yang Aman Untuk Bangunan Rumah Sakit ........................ 2.3 Petunjuk Non Struktur Untuk Keamanan Bangunan Rumah Sakit ...................... 2.4 Petunjuk Fungsional Untuk Keselamatan Di Rumah Sakit ..............................

3 3 3 5 16 27 29 A1

BAB III: RINGKASAN DAN KESIMPULAN ...................................................................... KEPUSTAKAAN ..................................................................................................................... APENDIKS ........................................................................................................................

Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana

BAB - I KETENTUAN UMUM

1.1

Latar belakang
WHO menganggap perlu untuk membangun rumah sakit yang aman, terutama pada situasi bencana dan keadaan darurat, yang mana rumah sakit tersebut harus mampu untuk menyelamatkan jiwa dan dapat terus menyediakan pelayanan kesehatan esensial bagi masyarakat. Karenanya dibutuhkan kampanye untuk mengurangi kerugian pada bangunan rumah sakit yang diakibatkan situasi darurat dan bencana. Kampanye mengurangi kerugian diakibatkan bencana dimaksudkan untuk : (1) (2) (3) melindungi jiwa pasien dan petugas kesehatan dengan memastikan ketahanan struktural dari fasilitas kesehatan; memastikan bahwa akibat bencana dan kondisi darurat fasilitas kesehatan dan layanan kesehatan mampu tetap berfungsi; dan meningkatkan kemampuan manajemen darurat dari petugas kesehatan dan instansi terkait.

1.2

Penilaian Kelemahan Bangunan Rumah Sakit
Bangunan rumah sakit dan fasilitas kesehatan mempunyai peranan penting pada situasi terjadinya bencana dan keadaan darurat. Struktur bangunan rumah sakit harus tetap kokoh dan tetap dapat beroperasi pada kondisi tersebut. Untuk memastikan bahwa bangunan rumah sakit dan fasilitas kesehatan dapat bertahan pada kondisi darurat dan bencana, penilaian terhadap kelemahannya sangat perlu. Kelemahan tersebut mungkin dari sisi struktural (sistem beban bearing), nonstruktural (elemen arsitektur, instalasi dan peralatan) dan sistem operasinya.

1.3

Sasaran Pengguna,
Keselamatan bangunan rumah sakit dalam situasi darurat dan bencana ditujukan terutama untuk petugas yang memahami peran penting rumah sakit dan fasiltas perawatan kesehatan selama situasi darurat dan bencana. Petugas dimaksud termasuk petugas administrasi dan manager sebagai pengguna utama dari pedoman teknis ini, pengunjung dan pasien sebagai klien yang harus diprioritaskan keselamatannya.

1.4

Tujuan.
Pedoman Teknis ini bertujuan dapat menjadi panduan dan acuan untuk : (1) menilai kelemahan struktural, nonstruktural dan fungsional bangunan rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang ada;

1

Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan Kementerian Kesehatan RI

5. Penjelasan-penjelasan disampaikan sebelum daftar petunjuk penggunaan pedoman teknis ini. dan pedoman teknis lainnya yang terkait dengan struktur. 1. 1.2 Untuk memastikan rumah sakit dapat menerapkan pedoman ini sesuai dengan kebutuhannya.6 (1) (2) (3) Ruang lingkup. Perbaikan dapat dilakukan lebih lanjut terhadap pedoman teknis ini bila diperlukan. 1. Sebaliknya. arsitek. 1. daftar acuan disediakan diakhir pedoman ini untuk memberikan tambahan informasi untuk pembaca. petugas keamanan dan petugas administrasi. protokol dan ketentuan darurat harus didasarkan pada jenis/kelas rumah sakit dan mengikuti peraturan pemerintah yang berlaku. persyaratan teknis struktur.5.5 Bagaimana menggunakan pedoman teknis ini.1 Rumah sakit yang ingin menggunakan pedoman teknis ini harus memahami bangunan. pedoman ini digunakan sebagai penilaian internal untuk memperbaiki struktur dan fungsi bangunan rumah sakit dan fasilitas kesehatan untuk kesiapan tanggap darurat.5.8 Pedoman ini tidak dimaksudkan untuk menjadi panduan mengajukan klaim dan hanya untuk memastikan keselamatan bangunan rumah sakit dan fasilitas kesehatan apabila terjadi keadaan darurat dan bencana. 1. 1. 2 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Ruang lingkup pedoman teknis ini meliputi : . persyaratan teknis sistem proteksi kebakaran. Ketentuan umum. Diharapkan penjelasan yang disampaikan dibaca dengan hati-hati untuk memastikan bahwa petunjuk dipahami secara jelas. 1. persyaratan teknis kelistrikan.5. pedoman tentang peralatan.7 Petunjuk yang tercantum dalam pedoman ini perlu ditinjau dan diuji lebih lanjut untuk penerapannya di rumah sakit.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana (2) memberikan saran dalam membangun rumah sakit dan fasilitas kesehatan baru yang mampu bertahan dalam kondisi darurat dan bencana. fungsi rumah sakit dan fasilitas kesehatan. Petunjuk bangunan dan prasarana rumah sakit yang aman.5. keselamatan dan keberlangsungan operasi selama keadaan darurat dan bencana.3 Rumah sakit juga diharapkan membentuk kelompok kerja teknis yang dapat meninjau ulang petunjuk-petunjuk yang ada dalam daftar apakah masih berlaku atau perlu diperbaiki sesuai ketentuan bangunan rumah sakit itu sendiri.5.6 Beberapa petunjuk mungkin perlu disesuaikan dengan peraturan lokal. Ringkasan dan kesimpulan. Untuk contoh. dan (3) memeriksa rencana renovasi dan retrofit dari bangunan rumah sakit dan fasilitas kesehatan untuk memastikan ketahanan. 1.5. 1. insinyur.5. Kelompok ini dapat terdiri dari koordinator kesehatan darurat rumah sakit. 1.5 Pedoman teknis ini tidak dimaksudkan untuk dibandingkan dengan peraturanperaturan lokal. pengobatan/tindakan.4 Pedoman teknis ini menjelaskan berbagai petunjuk dan penjelasannya.

sehingga kapasitas respon rumah sakit menjadi terbatas. seperti perencanaan pengoperasian rumah sakit. Keadaan ini menjadi tantangan ketika petugas medis dan petugas pendukung juga terpengaruh.1. 3 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan Kementerian Kesehatan RI . 2.2.1 Petunjuk struktur yang aman untuk bangunan rumah sakit. Umum.1.1 Pendahuluan.5 Dengan munculnya keadaan darurat atau bencana.3 Letak dimana bangunan rumah sakit atau fasilitas kesehatan mengindikasikan adanya ancaman seperti banjir di lembah atau tanah longsor di sepanjang lereng harus dihindari. spesifikasi desain dan bahan yang digunakan serta memberikan kontribusi pada kemampuan bangunan rumah sakit dalam menahan untuk tidak runtuh apabila terjadi peristiwa alam yang merugikan. seperti lokasi gedung. pelayanan publik. 2.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana BAB – II PETUNJUK BANGUNAN DAN PRASARANA RUMAH SAKIT YANG AMAN 2. laboratorium dan layanan kesehatan lainnya serta merespon persyaratanpersyaratan yang berhubungan dengan keadaan darurat.4 Membangun rumah sakit yang aman melibatkan banyak faktor pengetahuan yang berkontribusi terhadap kelemahan bangunan selama keadaan darurat atau bencana.2.1. keselamatan dan langkah-langkah pengurangan risiko. 2. kerusakan elemen nonstruktural dapat memaksa rumah sakit menghentikan operasinya. perawatan.2 Rumah sakit harus terus menyediakan layanan penting seperti layanan medik.3 Bangunan rumah sakit yang aman harus tetap terorganisir dengan rencana kontigensi di tempat dan tenaga kesehatan terlatih untuk menjaga jaringan operasional.7 Desain dalam pembangunan rumah sakit dan fasilitas kesehatan harus mengikuti persyaratan teknis proteksi kebakaran. arsitektur dan rekayasa dalam menentukan kelemahan bangunan rumah sakit dan menangani perbaikannya. mudah didatangi dan berfungsi pada kapasitas maksimum dalam usaha membantu keselamatan jiwa. Kelemahan fasilitas nonstruktural dan fungsional yang ada harus dikurangi.1 Elemen-elemen struktur bangunan rumah sakit dan fasilitas kesehatan seperti lokasi bangunan dan pertimbangan desain struktur penting untuk bangunan dalam menghadapi peristiwa yang merugikan. terutama selama keadaan darurat dan bencana.2.1 Selama keadaan darurat dan bencana.1. 2. 2.1. 2. rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya harus tetap aman. Untuk itu perlu melibatkan berbagai sektor.2 2. 2. 2.2 Elemen-elemen struktur harus sesuai dengan lokasi bangunan dan bahaya alam yang umum di lokasi itu.1.6 Rumah sakit yang aman memerlukan visi dan komitmen untuk memastikan bahwa rumah sakit berfungsi penuh.1. 2. 2. 2.1.2. Keadaan ini memungkinkan timbulnya peningkatan kasus-kasus darurat yang membutuhkan rumah sakit.1. keuangan.1.

2. 2.2.1.2.12 Administrator rumah sakit perlu memahami persyaratan teknis bangunan.1. 2.8 Standar struktur lainnya seperti akses untuk penyandang cacat harus selalu ada.4 Identifikasi lokasi dan setiap potensi bahaya harus ditangani dengan langkahlangkah yang tepat untuk meminimalkan kerusakan struktur. sungai atau badan air yang dapat mengikis pondasi.2.9 Ram harus berada dilokasi yang tepat untuk membawa pasien yang berbaring di tempat tidur atau duduk dikursi roda.2 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Lokasi.2. persyaratan teknis proteksi kebakaran dan persyaratan teknis struktur bangunan lainnya. tidak dekat kaki gunung. tidak di atas atau dekat dengan jalur patahan aktif (kurang dari 10 meter) tidak di daerah rawan tsunami.1.5 Harus ada ketentuan untuk drainase air hujan yang tepat di daerah rawan banjir. 2.1. seperti penggunaan standar bahan atau pemilihan lokasi yang tidak sesuai untuk bangunan rumah sakit atau fasilitas kesehatan dapat membatasi operasi rumah sakit selama keadaan darurat dan bahkan dapat menyebabkan sebuah tragedi. Pertimbangan-pertimbangan elemen struktur yang berbeda.1.1. tidak di daerah rawan banjir tidak dalam zona topan tidak di daerah rawan badai 4 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan Kementerian Kesehatan RI 2. Kurangnya kepatuhan. untuk memastikan bahwa rumah sakit melaksanakan pembangunan mengikuti persyaratan-persyaratan teknis tersebut.2. rawan terhadap tanah longsor.7 Menggunakan bahan yang kokoh untuk lokasi rawan topan. .1.13 Perubahan struktur bangunan atau renovasi dalam upaya untuk menciptakan ruang baru atau membangun struktur atau instalasi baru.2. juga dapat mengakibatkan struktur melemah jika desain asli tidak diperhitungkan. 2.1.6 Menggunakan bahan atap yang lebih ringan dan aman untuk zona gempa.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana 2.2.1.2. 2. 2. 2.2.1.2.2. 2.10 Kegagalan dalam melakukan hal-hal terebut di atas. 2. tidak dekat anak sungai.11.1. umumnya disebabkan adanya persyaratan atau peraturan yang diberlakukan pada pembangunan rumah sakit di kota/kabupaten.1 Bangunan tidak berada di lokasi area berbahaya. dapat membahayakan keselamatan penghuni rumah sakit.2. 2. tidak ditepi lereng. 2.14 Peraturan tentang izin bangunan dan izin struktur yang baru atau yang sudah ada penting untuk memastikan keamanan bangunan rumah sakit dan fasilitas kesehatan.2.

2. 5 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan Kementerian Kesehatan RI . gulungan) dan elemen nonstruktural diperhitungan sesuai dengan persyaratan untuk angin kencang (faktor penting angin 1. rak.3 Desain. 2.2.4.3 Dinding kaca.3 Struktur dibangun dengan kompetensi teknis yang memadai.2 Lengkapi Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang diperlukan dan Izin Penggunaan Bangunan (IPB) atau Sertifikat Laik Fungsi (SLF).4 Struktur. lantai lembaran.4 Jumlah lantai bangunan (lantai) untuk rumah sakit dan fasilitas kesehatan kurang dari lima. Inspeksi dan kontrol mutu bangunan dilaksanakan dengan tepat.2.1 Bangunan rumah sakit memiliki bentuk yang sederhana dan simitris di kedua sumbu lateral dan longitudinal (misalnya persegi atau persegi panjang). diangkur dengan benar 2.2 Struktur dibangun dengan bahan tahan api dan tidak beracun.3.2.5.2 Bangunan memiliki infra struktur yang memadai untuk mengatasi bahaya terkait lokasi seperti drainase air hujan dan tanggul.4 Perubahan bangunan dilakukan dengan meninjau/ memperhatikan rencana asli bangunan dan dilakukan bersama tenaga ahli yang kompetent.4.3.2.3.2. 2.2.4.2.2. 2. balok. peralatan. bahan konstruksi secara menyeluruh diperiksa dan dikontrol mutunya oleh tenaga ahli yang kompeten. 2.5 Perizinan.3 Selama konstruksi.2.5 Sudut atap 300 ~ 400 (optimal untuk menahan kekuatan angin) untuk bangunan di daerah rawan topan.2.5 Ram berada pada area yang tepat untuk pergerakan tempat tidur pasien dan untuk digunakan penyandang cacat. 2.2.2.2.1 Tidak ada keretakan pada struktur utama. 2.4.5. 2.2. 2.5. kolom.2.3. terutama di daerah yang rawan terhadap gempa.2.25) 2.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana 2. Keretakan kecil atau retak rambut harus diselidiki oleh tenaga ahli struktur yang kompeten dan diperbaiki di lokasi.2. 2.15) dan gempa bumi (faktor penting seismik 1. 2. sehingga tahan ketika mengalami gaya seperti yang ditimbulkan oleh gempa bumi. 2.5.2 Elemen struktur bangunan (pondasi. 2.4 Lemari. 2.1 Lengkapi set gambar konstruksi sesuai yang dibangun dan selalu tersedia bila diperlukan. 2.3.4. pintu dan jendela mampu menahan kecepatan angin antara 200 ~ 250 km/jam. 2. peranti.2.

1. karena dapat mengakibatkan runtuhnya struktur. potongan.4 Pertimbangan yang berkaitan dengan peralatan dan keselamatan jiwa difokuskan pada lokasi dan apakah peralatan tersebut telah diangkur/dipasang dengan benar.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana 2. Penanganan dan penyimpanan bahan kimia dan zat berbahaya yang tidak tepat dapat menyebabkan cedera disebabkan toksisitas yang melekat atau menyebabkan reaksi kimia yang dapat menyebabkan kebakaran atau ledakan.3. Peralatan dan mesin yang berat juga harus diangkur ke elemen struktur bangunan atau pada pondasinya. gambar terpasang (as built drawing) bangunan yang menunjukkan seluruh denah.3 Rumah sakit setiap saat harus memiliki dan selalu tersedia : (1) gambar perencanaan (design drawing) pembangunan yang disetujui dan menunjukkan bahwa bangunan telah dirancang oleh arsitek profesional dan tenaga ahli teknik yang akan bertanggung jawab atas integritas bangunan disemua aspek arsitektur dan teknik. seperti misalnya dengan sedikit gerakan yang disebabkan oleh gempa bumi atau keausan normal bangunan selama bertahun-tahun. (2) (3) (4) 2. keselamatan dan masalah keamanan.3. dan izin bangunan yang mengesahkan kepatuhan bangunan dengan persyaratan teknis bangunan dan hukum yang berlaku dan menunjukkan bahwa di dalam kondisi yang sesuai untuk hunian.5 Masalah keselamatan terkait dengan penanganan dan penyimpanan unsur bahan kimia dan berpotensi berbahaya. peralatan laboratorium. 2. 2. Adanya peralatan berat atau mesin dapat merubah integritas struktur bangunan. jendela dan pintu).1. 2.3 2. Jika rusak. seperti meluncur atau jatuh yang bisa menyebabkan kerusakan struktural atau cedera fisik pada pasien dan petugas. 6 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan Kementerian Kesehatan RI .1 Petunjuk Non Struktur untuk Keamanan Bangunan Rumah Sakit Umum.3.1. pembaharuan gambar terpasang atau catatan renovasi dan referensi dokumen untuk perubahan hasil desain dan renovasi.1 Elemen non struktural termasuk elemen-elemen arsitektur (seperti langit-langit. banjir.2 Pertimbangan dasar mengenai elemen arsitektur. peralatan medik.1. maka rumah sakit menjadi tidak berfungsi dan dapat menyebabkan kecelakaan fisik pada pasien dan petugas. listrik dan instalasi pipa).3.3. jalur penyelamatan jiwa (mekanikal. 2. instalasi yang telah terpasang. Elemen ini penting untuk beroperasinya rumah sakit dan fasilitas kesehatan.3. Peralatan seperti ini jangan ditempatkan di lantai atas atau di lantai yang strukturnya lemah. serta petunjuk (manual) untuk pengoperasian dan pemeliharaan. tanah longsor dan gempa bumi. yaitu struktur bangunan harus dapat menahan setiap tegangan fisik yang disebabkan oleh bahaya alam seperti topan. Hal ini dimaksud untuk mencegah bergeraknya peralatan. mirip dengan petunjuk struktur.1.

penurunan langit-langit yang dibuat dari bahan selain beton. meskipun peraturan yang berbeda mengenai penggunaannya.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana Harus ada pelatihan yang tepat bagi petugas dalam menangani bahan kimia dan zat berbahaya.2.2.3 (1) (2) (3) (4) Elemen arsitektur. diinsulasi dan kedap suara. 2. balkon atau emperan.3. Petunjuk keselamatan untuk penangan dan penyimpanan harus disebar luaskan dan diimplementasikan. 2.3.3.1 Persetujuan rencana pembangunan.2 Dokumen bangunan/gambar/perencanaan.4 Izin Penggunaan Bangunan (IPB) atau Sertifikat Laik Fungsi (SLF).2 Keselamatan pada langit-langit. langit-langit lurus atau armatur lampu dipasang dengan benar dan ditunjang (support) Lengkungan kebawah. 2. dilas. spesifikasi teknis.3. 7 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan Kementerian Kesehatan RI . dikeling atau disemen.3. seluruh bahan atap terpasang dengan aman. dipasang dengan aman.3.3 Gambar terpasang yang terbaru. ditanda tangani dan disegel oleh ahli profesional yang tepat dan diserahkan dan disetujui oleh petugas resmi pemerintah daerah. (1) (2) (3) (4) (5) langit-langit dari beton harus tidak retak dan tidak bocor.2. bahan langit-langit seperti papan fibre semen. atap kedap bocor.2.3. Penggunaan lembar data keselamatan juga harus didorong. responden darurat dan publik. perhitungan struktural. fibreglass.1. papan gipsum akustik.3. bebas dari keretakan struktur dan plester semen yang jatuh. 2.2 Gambar terpasang ditugaskan oleh pemilik ke kontraktor dan disiapkan oleh arsitek dan ahli teknik profesional.3.3. atap dirancang tahan terhadap kecepatan angin 175 ~ 250 kph dalam area rawan topan. 2. Label yang tepat dengan peringatan dari produsen dan menyediakan instruksi sesuai apa yang harus dilakukan jika terjadi kontak disengaja dengan zat ini merupakan aspek penting dari pedoman keselamatan. Dokumen-dokumen resmi tentang informasi keselamatan terhadap kimia yang digunakan harus disebar luaskan kepada para petugas. Misalnya pengaturan yang tepat dan pengelompokan bahan kimia harus diikuti secara ketat untuk mencegah bahan kimia disengaja bereaksi. bahan kayu. 2. 2. sistem drainase atap mempunyai kapasitas yang cukup dan dirawat dengan benar.1 Keselamatan pada atap.6 Keamanan bangunan dan keselamatan umum dari semua pasien dan petugas dalam rumah sakit dan fasilitas kesehatan juga harus ditangani. 2.3. dilapis atau diolah dengan cat tahan api. 2.

seperti pintu tangga atau eksit horizontal.3.3. tangga eksit vertikal bagian dalam bangunan mempunyai eksit kebakaran bertekanan atau eksit kebakaran kedap asap yang sesuai disekat terhadap asap. ruangan seperti ruang operasi. PINTU DIJAGA TERTUTUP. pembagi dan partisi (1) (2) Dinding luar memenuhi tingkat ketahanan api 2 (dua) jam. pintu-pintu di ruang yang jumlah orangnya lebih dari 50 orang (ruang konfrensi.3. unit perawatan intensif. ruang isolasi. pintu-pintu terpasang erat ke tiang pintu. pintu kamar mandi membuka keluar pintu eksit kebakaran tahan api. ruang fungsional) harus mempunyai lebar pintu sekurang-kurangnya 122 cm. jendela memiliki fitur untuk mengamankan keselamatan pasien (misalnya kisi-kisi.3.5 Keselamatan dinding . pintu utama menggunakan pintu ganda. dilengkapi dengan mekanisme menutup sendiri yang handal. (1) (2) jendela mempunyai alat proteksi angin dan matahari. pintu partisi asap diletakkan sepanjang lorong dan koridor.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana 2. (3) (4) 2. pagar) yang juga disediakan dengan eksit kebakaran dan sistem proteksi kebakaran.3. (12) pintu yang dirancang untuk selalu tertutup sebagai jalan keluar. pintu-pintu di ruang yang jumlah orangnya kurang dari 50 harus mempunyai lebar pintu sekurang-kurangnya 112 cm.4 Keselamatan jendela dan tirai luar jendela (shutter). 8 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan Kementerian Kesehatan RI . dengan perangkat menutup sendiri dan dilengkapi batang panik. dan area steril mempunyai pintu yang menutup secara manual. (13) sebuah pintu yang dirancang untuk selalu tertutup harus diberi tanda seperti : EKSIT KEBAKARAN. pintu yang letaknya jauh satu sama lain harus membuka keluar. pintu otomatik dapat dijalankan secara manual. (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) bangunan tinggi. harus dua pintu ayun pada setiap kelompok ruangan atau bagian untuk kompartemenisasi.3. panas dan api. pintu yang digerakkan dengan daya listrik dapat dioperasikan secara manual ke ruangan yang dibolehkan pada peristiwa kegagalan daya listrik. jendela kedap kebocoran Bukaan jendela harus aman dari kemungkinan orang meloncat keluar. Partisi ruangan dibuat dari material konstruksi tahan api. (11) kunci yang dipasang di ruang tidur dapat dikunci hanya dari koridor untuk memungkinkan eksit dari ruangan dengan mengoperasikan secara sederhana tanpa sebuah kunci. ruang pemulihan. (1) (2) (3) bahan pintu tahan terhadap angin dan api.3 Keselamatan pada pintu masuk dan pintu-pintu. 2. ruangan sebelum melahirkan. terbuka keluar. ruang melahirkan.

4 (1) Fasilitas jalur keselamatan jiwa.3. ketinggian lantainya lebih tinggi dari tanah. perawatan intensif dan lorong).1 Sistem kelistrikan. atau sakelar tanpa pengaman lebur yang terpasang dalam panel control harus terproteksi. ornament. Finis interior dinding dan langit-langit pada setiap ruangan atau eksit harus “Kelas A” sesuai dengan “Cara pengujian karakteristik terbakarnya permukaan dari material bangunan”. termasuk untuk ruang operasi. generator dilengkapi dengan sakelar pemindah otomatis. (5) 2. Ruangan dapat dibagi lagi asalkan susunannya memungkinkan untuk langsung dan secara visual konstan disupervisi oleh petugas perawatan 2. mempunyai generator yang tidak berisik dan tidak bergetar.3. kawat mempunyai sertifikat standar. 2. Pemutus beban. Finis interior dengan sistem tahan terhadap api. Slab lantai beton diperkuat. 4 kawat dipertimbangkan terhadap biaya awal rendah dan nilai tambah yang lebih besar untuk effisiensi jangka panjang. (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) .3. Voltase distribusi yang lebih tinggi. perumahan atau fasilitas penyandang cacat. seperti sistem 380/220V-3 phase. Rumah generator atau rumah sumber daya (Power House) di proteksi dari bencana alam dan bencana yang dibuat manusia.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana (3) (4) Kompartemen antara plat lantai ke plat lantai tertutup (lantai ke lantai) dan dinding ke dinding tahan api. pengaman lebur. kontaktor magnetic.3. Kawat listrik dan kabel dipasang dengan benar dan dikencangkan. Generator darurat mempunyai kapasitas memenuhi kebutuhan prioritas rumah sakit (ketentuan untuk sistem cadangan kelistrikan.3. sistem buangan harus dibuat dalam bentuk silencer jenis kritis. façade. Penggantung armatur lampu diangkur dengan benar. (1) (2) (3) (4) Material lantai anti slip tanpa celah-celah dalam seluruh area layanan dan klinik dan bahan lantai mudah dibersihkan dalam semua area non klinik lainnya. Material finis lantai “Kelas A” atau “Kelas B” seluruh rumah sakit. panti jompo.6 Keselamatan elemen eksterior (cornices. lebih disukai dengan insulasi thermoplastik nilon tahan panas tinggi dan kabel dipasang erat dan dikencangkan pada pemutus arus (CB) atau sakelar atau pengaman kawat. atau kualitas rumah sakit dan unit dilengkapi dengan isolator getaran jika generator berada di dalam bangunan.3. plester). (1) (2) (3) Elemen eksterior dipasang kuat ke dinding. Generator dan peralatan lainnya yang bergetar harus dipasang dengan pengikat (bracket) khusus yang memungkinkan gerakan tetapi mencegahnya dari terjungkir. 9 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan Kementerian Kesehatan RI 2. menggunakan sistem pendingin transformer yang tidak mudah terbakar (yaitu jenis kering.4.7 Keselamatan penutup lantai. dibuat dari beton yang diperkuat. resin epoxy atau minyak silikon atau minyak temperatur tinggi) menggunakan sistem proteksi bio (BPS).

(15) sistem ducting . intekom.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana (10) Dalam kamar mandi dan dalam area basah atau lembab. kotak. kotak kontak harus dilengkapi dengan pemutus kegagalan sirkit pembumian (GPAS = Gawai Proteksi Arus Sisa). konduit baja kaku atau konduit metal menengah untuk sistem deteksi dan alarm. (14) semua sistem elektrikal dan ruangan-ruangan diproteksi dengan unit pemadam api kimia ringan. sambungan) bebas dari kebocoran dan zat berbahaya. dilengkapi dengan proteksi petir. kabel TV. air dari PDAM. mobil tangki penyimpan air atau truk kebakaran). 10 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan Kementerian Kesehatan RI . radio mempunyai sumber arus listrik cadangan (batere). sakelar pemutus arus dan kabel mengikuti standar SNI 0225-2000. (20) luminus (armatur) lampu eksit dengan batere cadangan. duct dan tray. termasuk penutup elektrikal. (19) listrik fungsional dan lampu darurat dengan batere cadangan dalam seluruh area ktiris. terminal proteksi petir dengan fitur proaktif operasional lebih disukai. (12) bagian-bagian metalik dari sistem elektrikal yang bukan konduit arus. (1) (2) (3) (4) (5) untuk kebutuhan rumah sakit. tangki penyimpan air mempunyai cadangan yang cukup minimal (tiga) hari setiap waktu. menggunakan pipa yang las untuk mencegah patah dan bocor. termasuk halaman. sistem alarm yang secara otomatis mengirimkan alarm ke pos kebakaran terdekat atau seperti bantuan dari luar lain tersedia.polyvinyl chloride (PVC) untuk daya dan pencahayaan.4.2 Sistem komunikasi. (18) sistem listrik ekterior dipasang dibawah tanah. (11) kotak kontak (stop kontak. sistem distribusi air (katup.4. 2. tersedia sistem komunikasi cadangan. (16) menggunakan pencahayaan fluorecent kompak hemat energi dan tabung merkuri tanpa merkuri. CCTV. sumber air pengganti tersedia (contoh air sumur dalam. peralatan komunikasi dan kabel dipasang dengan angkur dan penjepit. (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) antena dan batang terminal proteksi petir dijepit dan ditumpu untuk keselamatan. (13) panel kontrol diproteksi. outlet) dilengkapi dengan kutup pembumian. pipa. (17) pencahayaan yang cukup dalam seluruh area rumah sakit. PVC untuk telepon. selokan.3 Sistem pasokan air. Persyaratan Umum Instalasi Listrik dan diproteksi dengan electrical surge suppressor.3.3. Sistem komunikasi di luar bangunan dipasang dibawah tanah 2. dibumikan dengan benar. tangki penyimpanan air lokasi dan pemasangannya aman. jaringan data komputer.

4. (17) semua konstruksi yang secara aktif terlibat pengoperasian yang berbahaya harus mempunyai tingkat ketahanan api 1 (satu) jam dan bukaan antara setiap bangunan dan ruangan-ruangan atau ruang tertutup untuk pengoperasian yang berbahaya harus diproteksi dengan pintu kebakaran yang menutup sendiri atau otomatik. 2. (12) melakukan prosedur pengujian secara regular. katup zona dapat menutup). untuk rumah sakit yang menggunakan silinder individual. (14) tangki cadangan oksigen tersedia dalam kasus evakuasi pasien darurat. dan peralatan terkait. dan fasilitas penyandang cacat.4. silinder. (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) gas medik disimpan dengan benar dan dipasang dalam area berventilasi cukup area penyimpanan dengan kompartemen. untuk penggunaan di rumah sakit gas medik harus dalam pipa. (16) apabila aktifitas atau mungkin penyimpanan melibatkan bahaya ledakan.5 Sistem Pemadam Kebakaran (1) sistem alarm. ventilasi ledakan ke luar bangunan harus dilengkapi dengan kaca tipis atau ventilasi lain yang disetujui. angkur dilengkapi untuk tangki. sistem alarm kebakaran dapat dioperasikan secara manual dan otomatis. (15) gas industri diletakkan di luar bangunan dan dilengkapi dengan pengaman penutup otomatis (contoh LPG). sistem deteksi panas dan/atau sistem pemadam kebakaran otomatik. panti jompo. alat ukur fungsional dan fiting.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana (6) pipa tegak basah harus mengalirkan tidak kurang 132 liter air per menit dengan tekanan sisa tidak kurang dari 1. pipa dan sambungan) terjamin.8 kg per cm2 pada setiap dua (2) kran (outlet) yang mengalir serempak dalam waktu 30 menit. 2. pipa gas medik yang dipasang di dinding dilengkapi dengan penyangga pipa.3. kedap air) (11) sambungan pipa tidak boleh dipertukarkan. tangki mempunyai segel (seal) utuh dan aman dari pemasok. (10) menggunakan pipa standar (kedap api. lokasi yang benar dan aman untuk penyimpanan gas medik. sistem alarm kebakaran di monitor oleh pos pemadam kebakaran atau agen monitor yang terakreditasi. (13) dengan katup penutup zona dalam kasus kebocoran (contoh di dalam kasus kebakaran pada kompleks ruang operasi. minimum penyimpanan selama minimum 7 (tujuh) hari.3. keselamatan sistem distribusi gas medik (katup. deteksi panas dan asap dipasang di koridor rumah sakit. (2) (3) (4) 11 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan Kementerian Kesehatan RI . deteksi dan pemadaman harus dihubungkan dengan sistem alarm kebakaran otomatis.4 Sistem Gas Medik. penyimpanan minimum untuk 3 (tiga) hari.

bordes tangga dan pintu eksit dengan lampu yang mempunyai lumen minimal 0.3. setiap ruangan dilengkapi dengan alat pemadam api ringan. pelatihan pada saat terjadinya gempa bumi. pelatihan pemadaman api. melakukan pelatihan pemadaman api dan evakuasi pada situasi kebakaran.6 Sistem Eksit Darurat (1) lantai balok dari jalan keluar diterangi pada semua titik termasuk sudut dan persimpangan dari koridor dan lorong. 2.3. menggunakan zat pemadaman yang ramah lingkungan. (1) (2) (3) (4) pengikat cukup memadai untuk duct dan tinjau ulang fleksibilitas duct dan pemipaan yang menyilang pada sambungan ekspansi. fasilitas pencahayaan darurat dijaga dengan tingkat iluminasi tertentu pada kejadian kegagalan pencahayaan normal untuk jangka waktu sekurang-kurangnya 1 jam. latihan pencegahan dan (b) (c) (d) (e) (f) tersedia peralatan pemadam kebakaran. tersedia gambar eksit kebakaran dan gambar ketentuan evakuasi melalui eksit kebakaran di tempat yang menyolok pada setiap tingkat lantai. dengan sumber yang andal. seperti layanan listrik PLN. dengan pipa tegak basah lengkap dengan perlengkapannya.001 lumen per cm2. peralatan sentral pengkondisian udara diangkur.4. kebakaran.7 Sistem Pemanas. 0. dengan warna khusus. tanda arah “EKSIT” diterangi. tinggi huruf dari tanda arah 15 cm dengan huruf yang menonjol dengan lebar tidak kurang dari 19 mm. sambungan dan katup kedap bocor peralatan sentral pemanasan dan/atau pemanas air diangkur. effektif dan kerusakan yang diakibatkannya kecil. pemeliharaan pencegahan dari peralatan pemadam kebakaran. direkomendasikan alat pemadam api ringan. (6) (7) (8) (9) (10) mempunyai program keselamatan terhadap kebakaran dengan mengutamakan sebagai berikut : (a) di organisasi oleh dinas kebakaran yang melakukan seminar. sumber pencahayaan mudah diakses dan andal. (2) (3) (4) (5) (6) 2. lengkapi luminous (armature) penunjuk arah eksit pada dinding dan diletakkan 30 cm atau lebih lebih rendah dari permukaan lantai. pelatihan evakuasi dalam situasi kebakaran.005 lumen per cm2. Ventilasi dan Pengkondisian Udara dalam Area Kritis. untuk layanan umum menggunakan alat pemadam api ringan jenis ABC. 12 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan Kementerian Kesehatan RI . pemipaan.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana (5) detektor asap harus tidak dipasang terlalu jauh dari 9 (sembilan) meter dari titik pusatnya dan lebih dari 4 (empat) dan 6 (enam) sampai 10 meter dari setiap dinding.4. melakukan penanggulangan pemadaman kebakaran. untuk peralatan elektrikal dan elektronik menggunakan carbon dioksida.

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) persediaan dan isi laboratorium disimpan dalam lemari dan rak-rak (contoh lemari dipasang ke dinding dan pengikat rak). buangan air bekas ke instalasi pengolahan air limbah.2 Peralatan Radiologi dan peralatan penunjang lainnya. baik. pemasangan instalasi listrik dan kotak kontak aman. monitor. 2. air conditioning dan humiditi terkontrol dengan baik. peralatan dalam ruang operasi dipasang dengan roda atau troli beroda harus stabil. 13 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan Kementerian Kesehatan RI . atau ke dinding (tabung X-Ray). drainase dan sistem plambing. peralatan pada troli beroda harus mempunyai sistem angkur yang tepat menggunakan kait dan rantai dan dapat dipasang pada tempat tidur atau dinding (ECG. ventilator.1 Peralatan di ruang operasi dan ruang pemulihan. medan magnit). sistem pengkondisian udara. pasokan air. ventilasi dan pengkondisian udara.3 Peralatan laboratorium dan penunjang lainnya. (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) peralatan yang berat dan bergerak diangkur atau dibaut pada lantai (contoh mesin X-Ray). pasokan air. peralatan untuk anestesi dan meja bedah terpasang dengan aman dan roda meja dikunci. bebas dari banjir. kotak kontak listrik yang dipasang pada dinding dan sistem pembumiannya aman. pemberian kode warna untuk pemisahan keranjang buangan yang benar. frekuensi radio.3. ruangan cukup terlindung (proteksi terhadap radiasi. tersedia area dekontaminasi standar (tetap/bergerak). ubin di grout (mortar atau pasta untuk mengisi celah) dan lapisan dijaga secara regular. ventilasi.3. lantai-lantai tanpa celah. ruangan ber AC dilengkapi dengan kontrol humidity.3. Blood pressure monitor. suction unit.5. peralatan dapat dioperasikan setiap saat (boiler. peralatan resusitasi).3. (2) (3) 2.5. 2. tersedia rangka baja untuk pemasangan peralatan (contoh unit X-ray. baik.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana (5) (6) keselamatan yang memadai diberikan untuk ruang tertutup yang dilengkapi dengan alat pemanasan. CT Scanner. incubator. penyimpanan reagent dan kultur organisme/media aman. MRI Scanner). di angkur dan dikencangkan dekat meja operasi selama prosedur pembedahan dan dapat dipindahkan setelah itu. pemisahan dan penyimpanan material berbahaya dan kimia benar/tepat. lampu-lampu. fan pembuangan) 2. sistem plambing dan drainase.5.5 (1) Peralatan medik dan laboratorium.

bebas dari kotoran. 14 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan Kementerian Kesehatan RI .7 Peralatan dan alat penunjang lain dalam bagian pengobatan nuklir dan unit therapi radiasi.3. menggunakan iluminasi dengan sistem cadangan pencahayaan dalam kasus kegagalan daya listrik normal. aman dari banjir. kotak kontak listrik terpasang pada dinding dan aman. sistem dibumikan. (1) (2) (3) (4) persediaan dan isi lemari farmasi disimpan dalam rak susun dan rak-rak yang diangkur ke dinding. peralatan dan kelengkapannya yang dibutuhkan untuk pengobatan /tindakan dan ditempatkan dekat dengan tempat tidur disangga.4 Peralatan medik dalam ruang UGD/Unit Perawatan Intensif/Rawat Inap.6 Peralatan medik dalam unit sterilisasi. (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) perlindungan yang memadai terhadap bahaya radiasi.5. pengkawatan listrik dan kotak kontak terpasang dengan aman. tersedia area dekontaminasi standar (tetap/bergerak).3.5. bersih dan teratur. Monitor. dan material infeksius. Suction Unit. kotak kontak listrik aman dan terlindung.5 Peralatan Medik di Bagian Farmasi. diangkur dan dipasang dengan rangka baja yang tersedia untuk peralatan yang tertutup rapat/terlindung. peralatan di atas troli beroda mempunyai sistem angkur yang tepat menggunakan pengait dan rantai dan dapat dipasang ke tempat tidur atau dinding (ECG. incubator.3. air conditioning dan humiditi kontrol yang baik. ventilasi. 2. tempat tidur harus terlindung di tempat dan dapat juga digerakkan jika dibutuhkan. Ventilator. baut angkur disediakan pada dinding dalam lokasi yang tepat sehingga peralatan dapat dipindahkan dan dipasang di tempat yang aman jika tidak digunakan.3. (1) (2) tempat tidur harus dilindungi di tempat tetapi juga dapat digerakkan jika dibutuhkan. persediaan dan isi lemari medik terlindung dalam rak/rak susun yang diangkur/diikat ke dinding. BP monitor. penyimpanan yang benar untuk material berbahaya bebas dari kebocoran. pasokan daya listrik yang cukup (kira-kira 24 kW/unit) dengan pemutus arus tersendiri.5. (1) (2) (3) (4) persediaan dan isi untuk sterilisasi dilindungi pada rak susun dan rak yang diangkur ke dinding.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana (10) dilengkapi tudung asap (tergantung level laboratorium) 2.5. (3) (4) (5) (6) 2. peralatan yang berat dan bergerak diangkur dan dibaut ke lantai atau ke dinding (contoh otoklaf). ruangan berventilasi dan ber air conditioning cukup. 2. peralatan resusitasi).

pintu masuk dan titik eksit terlindung. peralatan dan persediaan. rekaman/catatan.3. diangkur atau dipasang.1 Keselamatan petugas.2 Keselamatan perlengkapan. penangan dan pembuangan kimia. peralatan sterilisasi dan persediaan informasi komunikasi material yang mendidik dan papan informasi untuk pasien dan petugas tentang apa yang harus dilakukan selama kondisi darurat dan bencana 2. 2.6. (1) peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk pengobatan/tindakan dan diletakkan dekat tempat tidur ditunjang. 2. 15 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan Kementerian Kesehatan RI (2) (3) (4) (5) . kotak kontak aman dan terlindung dengan baik. persediaan dalam laboratorium. tidak ada perlengkapan yang menggantung atau ornamen dekoratif. meter radiasi permukaan dengan peringatan suara. peralatan dan persediaan. radioaktif. (10) penyimpanan dan pemisahan yang tepat. dipasang tetap dan diangkur. penyimpanan umum dalam unit CSSD dan ruang operasi cukup aman dalam lemari dan di dalam rak. peralatan untuk inspeksi seperti metal detektor. label. peralatan proteksi petugas untuk tindakan pencegahan umum. tersedia rangka baja untuk mengamankan peralatan. farmasi.6 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Keselamatan dan keamanan petugas. tanda arah. perkakas untuk penangan jarak jauh. baut angkur di dalam dinding pada lokasi yang tepat sehingga peralatan dapat dipindahkan dan dipasang dalam tempat yang aman jika tidak digunakan. (12) air bekas dibuang ke instalasi pengolahan air limbah. radio pharmasi. monitor area lengkap dengan alarm. tersedia pelindung keliling camera CCTV dengan perekam. tidak ada perlengkapan menggantung diatas tempat tidur pasien. peralatan proteksi petugas. kit darurat. kontainer untuk material radioaktif.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana (8) (9) peralatan dan kelengkapan yang dibutuhkan untuk pengobatan/tindakan diletakkan dekat penunjang tempat tidur. (13) adanya peralatan keselamatan sebagai berikut : (a) (b) (c) (d) (e) (f) (g) pelindung.3. monitor nilai dose dengan alarm.6.3. (11) fasilitas terpisah terpisah untuk pemrosesan reagent dan unsur kimia. dan material berbahaya lainnya. dan diagnosa kit.

1. 2.2 Lokasi dan aksesibilitas rumah sakit dan fasilitas kesehatan merupakan aspek penting dalam menentukan kelemahan fungsional. reactivity. Kelompok petunjuk fungsional meliputi : (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Lokasi dan aksesibilitas. bahaya kesehatan. Sebagai contoh.4. proteksi petugas. Peralatan dan perlengkapan.4 2. 2. prosedur tumpahan dan pembuangan. (1) (2) (3) Rumah sakit dan fasilitas kesehatan harus berada di dekat jalan yang baik dengan sarana transportasi yang memadai. 16 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan Kementerian Kesehatan RI . Rumah sakit dan fasilitas kesehatan juga harus dekat dengan fasilitas kelembagaan yang lain. agama dan komersial. Pedoman dan standar prosedur operasi darurat . Sumber daya manusia. Sistem logistik dan utilitas.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana (6) (7) (8) tersedia petunjuk (manual) instruksi untuk pengguna dan mudah diakses untuk semua jenis peralatan. keselamatan struktural akan terancam. perawatan darurat dan bantuan pertama.1 Fungsi rumah sakit dan fasilitas kesehatan selama keadaan darurat atau bencana sangat penting. pemisahan dan penyimpanan yang benar dari material dan kimia berbahaya. Harus tidak ada bahaya lingkungan disekitarnya. 2. jika fasilitas berada dekat sungai atau sungai yang rawan banjir atau dekat garis patahan aktif. Keamanan dan alarm. dan Pemantauan dan evaluasi. mengakibatkan tidak dapat diakses oleh orang-orang yang mencari bantuan. penyimpanan dan penanganan.1. Sistem transportasi dan komunikasi. data registrasi dan lingkungan. seperti pusat pendidikan.4. Sirkulasi internal dan interoperabilitas. tersedia lembar data keselamatan material yang berisi informasi sebagai berikut : (a) (b) (c) (d) (e) (f) (g) (h) sifat kimia dan fisik.1 Petunjuk Fungsional untuk Keselamatan di Rumah Sakit Umum.4. Perlu dipastikan bahwa layanan kesehatan harus tersedia karena sangat dibutuhkan.

Sumber daya listrik siaga ini harus mampu sedikitnya memasok 50% ~ 60% dari beban listrik normal.4 Ada juga peralatan dan persediaan vital untuk keberlangsungan operasi dari fasilitas.1. dalam beberapa kasus harus mempunyai jalur alternatif sebagai jalan akses yang mudah untuk evakuasi dalam keadaan darurat. 2.8 Selain itu diperlukan juga sumber daya listrik alternatif yang handal untuk digunakan pada kondisi darurat. 2.4. Area ini perlu memiliki utilitas dasar seperti listrik.7 Ketersediaan utilitas seperti penyediaan air. dan air untuk pemadam kebakaran. termasuk pedoman fasilitas dan prosedur untuk mengatasi banyaknya pasien yang masuk dan terbatasnya sumber daya.1. mempertahankan persediaan.1. Jika bank darah tidak layak. pemanas air. 17 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan Kementerian Kesehatan RI . 2. Hal ini juga penting bahwa peralatan secara berkala diperiksa untuk memastikan peralatan tersebut siap digunakan selama keadaan darurat. seperti untuk pencahayaan dan pengoperasian peralatan penting pada saat terjadinya kegagalan daya listrik normal. sistem air di pedesaan. 2. Hal ini karena konsumsi air harian dibutuhkan dalam fasilitas kesehatan. Sumber ini diletakkan ditempat tidak berdekatan dengan daerah operasi dan lingkungan. kebutuhannya diperkirakan 5 liter setiap pasien rawat jalan dan 60 ~ 100 liter setiap pasien rawat inap.1. Beberapa area mungkin juga diperlukan untuk diubah menjadi ruang pasien jika terjadi peningkatan jumlah pasien atau jika ada ruangan di rumah sakit yang perlu dikosongkan. sumber-sumber yang memungkinkan untuk produk darah perlu diidentifikasi dan sistem diatur untuk pengadaan cepat pada keadaan darurat.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana Standar harus menetapkan bahwa fasilitas kesehatan yang berada dekat jalan utama yang menghubungkan daerah-daerah berkembang atau kota. menyimpan. beberapa titik masuk dapat tertutup untuk membatasi dan mengontrol jumlah orang yang memasuki fasilitas.6 Sistem juga harus dapat memperkirakan.4. Zonasi yang tepat dari berbagai area rumah sakit dan fasilitas kesehatan. Hal ini untuk menghindari berdesak desakan yang tidak perlu.4. 2. 2. membantu menjaga tingkat optimal operasi selama kondisi normal dan selama keadaan darurat atau bencana.4.4. Setiap fasilitas kesehatan di tingkat rujukan pertama harus menjaga persedian bank darah yang cukup memadai dengan perhatian khusus diberikan untuk memperbaiki penyimpanan dan penangan darah serta produk darah.1. Penggunaan lorong dan koridor tidak dianjurkan karena dapat menghambat aliran pasien. listrik dan gas medis penting untuk operasi sehari-hari rumah sakit dan fasilitas kesehatan.5 Standar prosedur operasi dan pedoman harus mencakup kondisi yang berkaitan untuk keadaan darurat dan bencana.4. Tambahan air diperlukan juga untuk kebutuhan laundri.3 Aspek fungsional lain rumah sakit dan fasilitas kesehatan adalah sirkulasi internal dan interoperabilitas. Dalam kondisi buruk.1. petugas dan layanan. mencegah lalu lalang masuk keluar dan melindungi petugas dari kekuatan eksternal yang bermusuhan. penggelontoran toilet dan utilitas lainnya. ventilasi atau unit pendingin udara dan sistem komunikasi. Suatu sistem harus diatur untuk persediaan reguler dari item ini untuk memastikan bahwa manajemen pasien tidak tertunda karena tidak adanya peralatan diagnostik dan theraputik. mengingat keterkaitan diantaranya. Pasokan air harus aman dan dapat diminum dan harus ada sumber air alternatif yang dapat diandalkan seperti tangki penyimpanan air. menyalurkan dan mengendalikan kebutuhan obat.

4. Perencanaan fasilitas kesehatan pada kondisi bencana harus menyediakan fasilitas lanjutan dari pusat informasi publik selama situasi bencana. 2.1. ruang gawat darurat. Selama keadaan darurat. Pusat informasi ini harus dikoordinasikan bersama pekerja sosial dan didampingi petugas fasilitas kesehatan atau sukarelawan. Apabila dianggap perlu. Petugas harus cukup siap untuk situasi darurat dan bencana. tergantung pada ketersediaan fisik dan sumber daya manusia.13 Pemantauan dan evaluasi juga diperlukan. Dalam kasus pipa gas. Pelatihan penting lainnya termasuk sarana keselamatan jiwa dasar.9 Pasokan gas medik sangat penting untuk keselamatan jiwa beberapa pasien pada fasilitas kesehatan tetapi juga merupakan sumber bahaya jika tidak dipelihara dengan baik. Masyarakat harus diberitahu tentang jenis-jenis bencana yang mungkin terjadi dan menyampaikan bagaimana mereka harus bereaksi selama keadaan darurat.10 Masalah keamanan. Persyaratan dasar untuk petugas di tim ini adalah bahwa mereka benar-benar terlatih untuk melakukan pertolongan pertama dan memiliki sarana untuk segera bergerak ke lokasi bencana.4.12 Sumber daya manusia tetap yang paling penting diantara sumber daya yang tersedia dalam rumah sakit atau fasilitas kesehatan. harus dipasang katup pengaman untuk mencegah bila terjadinya kebocoran gas. termasuk evaluasi pasca bencana atau bencana yang telah direspon untuk latihan simulasi pemadaman kebakaran untuk memastikan rumah sakit dan fasilitas kesehatan aman pada keadaan darurat kesehatan.4. Komite perencanaan darurat harus jelas mendefinisikan situasi yang menjamin kegiatan perencanaan bencana. Lokasi pusat informasi harus ditetapkan dimana publik dapat memperoleh informasi tentang anggota keluarganya. Cara ini akan membantu pemerintah untuk mengurangi dampak dari bencana. 2. area penyimpanan zat dan bahan kimia yang mudah menguap dan area peralatan medis yang mempunyai nilai tinggi. Hal ini untuk mencegah kepanikan selama keadaan darurat yang dapat menyebabkan penghuni berdesak-desakan atau terjebak dalam ruang tertutup. 18 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan Kementerian Kesehatan RI . 2. Detektor asap dan sistem alarm kebakaran juga penting untuk merespon langsung terhadap terjadinya kebakaran. lorong.4. cara menyelamatkan jiwa penderita penyakit jantung lanjutan dengan sistem komando bencana.1. Sumber daya darurat ini tidak digunakan sebagai pengganti untuk generator siaga.1. penempatan yang tepat dari detektor api dan peralatan pemadam kebakaran dapat dilihat pada pedoman teknis yang berlaku atau dikoordinasikan dengan dinas pemadam kebakaran setempat. 2. seperti untuk pencahayaan yang penting di fasilitas kesehatan. pos perawat dan area kasir. tangga eksit. Fasilitas kesehatan dapat membentuk tim tanggap bencana.11 Komunikasi sangat penting untuk keberhasilan upaya koordinasi semua pihak.4. ruang operasi. Tangki-tangki. termasuk adanya tanda arah dalam fasilitas kesehatan yang menunjukkan jalur untuk menyelamatkan diri dan lokasi peralatan pemadam kebakaran. latihan pemadaman kebakaran dan latihan simulasi dilakukan sekali atau dua kali per tahun. Pendidikan publik sebaiknya diintegrasikan ke dalam rencana penanggulangan bencana pada fasilitas kesehatan. kemanan harus diperketat di beberapa area yang berisiko tinggi seperti pintu masuk utama dan fasilitas eksit.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana Lampu/pencahayaan darurat harus tersedia untuk digunakan antara waktu gangguan pasokan listrik normal dan pasokan listrik dari generator cadangan.1.1. silinder dan pipa-pipa gas medik harus diperiksa secara teratur untuk memastikan bahwa peralatan tersebut masih dalam kondisi baik. 2. Ada juga yang harus mengorganisir kelompok-kelompok orang atau komite yang bertanggung jawab untuk perencanaan dan merespon jika ada keadaan darurat atau bencana.

2 (1) (2) Lokasi dan aksesibilitas rumah sakit / fasilitas kesehatan dilokasi sepanjang atau dekat jalan raya yang baik dan sarana transportasinya memadai mudah diakses oleh masyarakat. Ruang rawat dan sanitasi toilet. bandara.2.2. Jalur tangga yang aman dan dipasang dengan rel pegangan tangga dengan lebar tangga sekurang-kurangnya 112 ~ 120 m.4. perawatan kesehatan primer). bau busuk.4. (b) (c) (4) Pintu masuk yang aman dan terkontrol dilengkapi dengan peta area.4. Departemen yang menerima beban kerja dari instalasi rawat inap atau “zona bagian dalam” harus diletakkan dekat dengan bagian ini (radiologi. 2. setiap anak tangga harus mempunyai ketinggian kurang dari 17 cm dan dibuat dari beton.4.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana 2. laboratorium) Departemen rawat inap harus berada di “zona bagian dalam”. mematuhi semua peraturan zonasi lokal. Menggunakan ram sebagai akses ke lantai dua dan yang lebih tinggi. pabrik pengolahan sampah.3 (1) (2) (3) Sirkulasi internal dan interoperabilitas. Memiliki akses ke lebih dari satu jalan (jalur alternatif) dan memiliki pintu masuk lokasi dan pintu keluar lokasi terpisah Memiliki jalan akses yang diaspal (semen atau aspal) yang diidentifikasi dan diberi label dengan benar. (3) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 2. Instalasi Gawat Darurat. Koridor. angkutan umum.1 Sirkulasi Internal. Perawat di ruang pos perawat dapat melihat keluar rawat inap dan mempunyai akses ke pasien. ram. Tersedia tanda arah. Tidak ada penghalang di jalan menuju rumah sakit.3. 2. Administrasi. saf ventilasi atau parasut di jalur tangga tertutup harus menutup sendiri dan dalam keadaan normal dijaga selalu tertutup. cukup bebas dari kebisingan yang tidak semestinya. (11) Tersedia parkir yang aman dan pencahayaannya baik.2 Aksesibilitas (8) (9) (10) Tangga keluar bangunan harus tertutup dan bukaan terproteksi. banjir dan tidak terletak berdekatan dengan jalur kereta api. pencahayaan. taman bermain anak-anak. asap. saf lif. Setiap bukaan pada dinding diproteksi dengan pintu tahan api atau jendela tetap dengan kaca kawat.1 Lokasi. lorong dan gang harus mempunyai lebar 2. dipasang dengan benar dan mudah dibaca dalam keadaan gelap. 19 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan Kementerian Kesehatan RI .5 meter.4. Setiap pintu ke tangga. 2. Zona area layanan yang tepat : (a) Departemen yang paling erat hubungannya dengan masyarakat diletakkan dekat pintu masuk Rumah Sakit (Instalasi Rawat Jalan.4 ~ 2. pabrik industri.

2. Area diagnostik dengan menggunakan peralatan yang berat sebaiknya diletakkan di lantai dasar.5. 20 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan Kementerian Kesehatan RI . ruang pemulihan. Instrumen untuk prosedur darurat. Prosedur administrasi khusus untuk tanggap darurat dan bencana. prosedur dekontaminasi. Peralatan proteksi petugas sekali pakai untuk epidemik.4.4. (2) (3) (4) (5) (6) (7) 2.3.4.1 Prosedur Operasional Standar (SOP) dan Protokol.4. sebaiknya dilengkapi dengan pagar atau pintu gerbang. akan tetapi aman terhadap banjir.4.4. termasuk penggiliran tugas selama bencana dan darurat 2. Label triase dan persediaan lain untuk mengelola korban masal.5. ruang rawat intensif. Obat-obat untuk situasi darurat harus tersedia di dalam instalasi gawat darurat dan di dalam area layanan kritis (ruang operasi. SOP untuk pengumpulan dan analisa informasi. boiler. 2. Di identifikasi area evakuasi dan tempat berkumpul.1 Peralatan dasar dan persediaan. logistik. (1) (2) Area penunjang. seperti pembangkit listrik.2 Prosedur. SOP untuk pasien internal dan pasien rujukan dari luar.2 Interoperabilitas. Diagnostik dasar dan peralatan theraputik adalah fungsional dan dilabel dengan benar. Fasilitas Laboratorium. 2.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana 2. Gas medik Ventilator. ruang rawat intensif bayi).4.4. SOP untuk pendaftaran instalasi gawat darurat.5 (1) (2) (3) (4) (1) (2) Kebijakan manajemen darurat.4. Kereta (stretcher) untuk pasien dengan jantung kritis. Penyimpanan obat-obatan sekurang-kurangnya untuk persediaan 1 (satu) minggu. (3) (4) (5) (6) 2. Kamar mayat diletakkan terpisah dari area layanan. area laundri dan rumah pompa diletakkan pada bangunan terpisah. fasilitas penyimpanan air.4 (1) (2) (3) (1) Peralatan dan persediaan. Peralatan dasar harus tersedia di setiap instalasi rawat inap atau area pengobatan/tindakan. persediaan air dan kloset atau kamar mandi. peralatan penyelamatan jiwa. radiologi dan radiotherapi adalah area terbatas. prosedur dan pedoman.2 Peralatan dan Persediaan untuk situasi darurat. Area yang akan diubah menjadi ruang pasien selama situasi bencana benar-benar teridentifikasi dengan pencahayaan yang memadai. SOP untuk kontrol infeksius. sumber daya manusia). kotak kontak. Prosedur untuk mobilisasi sumber daya (dana.

Sistem untuk merotasi barang-barang meletakkannya ditempat sementara. Prosedur pengawasan epidemiologic rumah sakit. Penyimpanan persediaan yang berhubungan dengan medik untuk situasi darurat.6. Kit (perangkat) darurat. dan 60 ~ 100 liter per hari untuk pasien rawat inap dan ditambah liter untuk laundri. Prosedur proteksi rekam medik pasien. Proses untuk mengalokasi sumber daya dan rekaman penggunaannya. penyimpanan. Pedoman tentang senjata api untuk polisi yang datang dan pergi mengunjungi rumah sakit. Prosedur merespon selama malam hari. Pedoman untuk makanan dan persediaan untuk petugas rumah sakit selama situasi darurat. Pedoman untuk kesehatan jiwa dan dukungan psychosocial.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Prosedur memperluas layanan.2 Sistem Pasokan Air (1) 21 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan Kementerian Kesehatan RI . Fasilitas bank darah yang memadai dengan SOP dan pedoman untuk penyimpanan yang benar dan penanganan darah dan penghasil darah dan pengadaan yang cepat dalam situasi darurat Kebutuhan air minum dalam situasi darurat 5 (lima) liter per hari untuk pasien rawat jalan.6. 2. 2.4. dan utilitas lain. atau menjaga pasien terhukum. menjaga persediaan. Pedoman tindakan/pengobatan atau protokol. Pengaturan khusus dengan penjual dan pemasok untuk pembelian dalam situasi darurat . hari libur dan giliran libur.1 Sitem Logistik. Pedoman untuk menangani sukarelawan. Membagikan dana kontigensi untuk kebutuhan darurat. yang pertama kadaluarsa. ruangan dan tempat tidur dalam kejadian lonjakan jumlah pasien. Prosedur untuk pemeriksaan keselamatan regular peralatan oleh otoritas yang sesuai dan pemeliharaan pencegahan. Prosedur untuk menyiapkan pemeriksaan forensik. Pedoman dan tindakan untuk memastikan mobilisasi penambahan petugas selama situasi darurat secara baik.4.5. penyaluran. pengelontoran toilet. Sistem untuk memperkirakan kebutuhan obat. Pedoman seperti memorandum atau perintah rumah sakit untuk semua petugas rumah sakit untuk berpartisipasi dalam latihan dan pelaksanaan simulasi.6 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Sistem logistik dan utilitas.4. khususnya selama situasi darurat dan bencana.3 Pedoman 2. lokasi untuk penempatan sementara untuk Prosedur untuk pengangkutan dan persediaan logistik. mengeluarkan dan mengontrol penggunaan obat.4. dan 2.

sistem pompa tambahan jika sistem gagal atau layanan terhenti atau untuk pasokan air pengganti. Sistem tentang bagaimana daya listrik dipasok ke rumah sakit.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana (2) (3) Sumber air pengganti jika pasokan utama rusak. laboratorium. Pendinginan dan sistem ventilasi: 22 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan Kementerian Kesehatan RI . termasuk alarm kebakaran.4. voltase tinggi distribusi seperti 380V/220V. dan sistem pompa angkat. dalam istilah amper. ruang komputer. dan farmasi. pemulihan. termasuk tanda arah eksit. unit perawatan intensif. satu atau dua elevator. Identifikasi agen yang bertanggung jawab untuk perbaikan setiap saat layanan air. sistem alarm. Lokasi panel kontrol dan jalur distribusi daya harus ditunjukkan pada perencanaan lantai. ruang pemulihan. Transformer menggunakan sistem pendinginan yang tidak mudah terbakar. Direkomendasikan sirkit untuk daya darurat harus disediakan untuk: (a) Pencahayaan : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) (b) 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) (c) semua eksit. dan ruang gawat darurat. ruang operator telepon. Generator set harus diletakkan pada ditempat yang tidak berdekatan dengan ruang operasi atau area rawat inap. yaitu jenis kering. jika dibutuhkan untuk situasi darurat. satu unit sterilisasi yang menggunakan listrik.6. pompa kebakaran. kebidanan. cycle atau kiloWatt. Adanya generator sebagai daya darurat atau daya pengganti untuk pencahayaan darurat dan operasi peralatan penting. Pasokan listrik rumah sakit. (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Peralatan : Pemanasan. kamar bedah. refrigerator untuk bank darah. ruang bayi. perawatan intensif.3 Sistem Kelistrikan. menggunakan sistem 3 phase 4 kawat untuk biaya rendah dan effisiensi lebih besar. pos perawat. atau minyak silikon atau minyak R-Temp bertemperatur tinggi. lokasi generator set. dan ruang melahirkan. peralatan untuk operasi. jika dipasang. lokasi panel utama listrik dan ruang boiler. sistem pengolahan air limbah. ruang sebelum melahirkan. sistem panggil perawat. 2. epoksi resin. peralatan penting untuk memelihara layanan telepon dan sistem dasar radio dua arah. tangga dan koriddor.

ruang melahirkan. 23 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan Kementerian Kesehatan RI (3) .6. unit perawatan intensif. (11) Sistem mengaktifkan dan menonaktifkan isyarat waspada. Tangki gas dan pipa gas medik secara regular diperiksa. isinya yang sudah kadaluarsa dan harus diganti secara regular. Tempat penyimpanan senjata api saat memasuki rumah sakit (tidak diperbolehkan ada senjata api di dalam rumah sakit). SOP yang ketat pada area berisiko tinggi tertentu seperti pintu masuk utama dan pintu keluar. pada jalur eksit. area yang menyimpan zat dan kimia mudah menguap dan area yang berisi peralatan medik yang bernilai tinggi. Tanda arah di dalam rumah sakit yang menunjukkan lokasi jalur penyelamatan dan letak peralatan pemadam kebakaran. Latihan petugas untuk penggunaan alat pemadam api ringan.1 Sistem Keselamatan dan Keamanan (6) (7) (8) (9) (10) Sistem panggilan petugas dan posisinya untuk kemungkinan memanggilnya dalam situasi darurat. 2. Peralatan terlihat dan mudah dijangkau untuk mengendalikan api setempat. termasuk slang kebakaran dan alat pemadam api ringan yang harus ditempatkan pada tempat yang strategis di koridor.7. dan pada pintu masuk untuk ruangan berisiko tinggi seperti laboratorium. pemeriksaan regular dari detektor asap untuk memastikan fungsinya dan mempunyai pasokan daya listrik yang cukup.7 (1) (2) (3) (4) (5) Sistem Keselamatan dan sistem keamanan. ruang pemulihan.4.4. ruang sebelum melahirkan. menunjukkan lokasi evakuasi untuk setiap rawat inap rumah sakit. Jalur gas medik dijaga dengan benar. pos perawat dan area kasir. unit perawatan intensif bayi baru lahir. dan ruang pasien. (1) (2) (3) (4) 2. diagram tata letak bangunan disediakan untuk memudahkan identifikasi. unit perawatan intensif bayi baru lahir. ruang gawat darurat. Katup pengaman dipasang untuk mencegah kebocoran dalam pipa gas. lorong.4. ruang bayi. (1) (2) Tersedia unit pengaman (swasta atau organik). ruang pemulihan. ruang operasi. unit perawatan intensif. Detektor asap pada jarak cakupan yang tepat pada seluruh bangunan. (8) Lampu darurat tersedia dengan batere cadangan untuk digunakan selama periode antara terputusnya pasokan daya dan sambungan ke generator set untuk di area penting di dalam rumah sakit seperti tangga. 2.7. Memenuhi pedoman untuk penempatan detektor api yang benar dan peralatan pemadam kebakaran.4 Sistem Distribusi Gas Medik. 2.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana ruang operasi. Sistem alarm kebocoran tersedia dan dengan alat pengukur.4. Kewaspadaan rumah sakit untuk selalu siap dan memobilisasi sumber daya dalam merespon tanda peringatan awal atau sinyal.2 Sistem Keamanan. Pemeliharaan regular dari alat pemadam api ringan.

9. Prosedur berkomunikasi dengan publik dan media. Sistem untuk mengaktifkan dan menonaktifkan Kelompok komando insiden.4.8 (1) (2) Komunikasi. Dengan identifikasi.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana (4) (5) Ketentuan untuk mengingatkan dan memanggil penjaga untuk bertugas selama situasi darurat dan bencana.4.4.2 Sistem informasi publik (1) (2) (3) (4) (5) (1) (2) (3) (4) 2. 2. Cara berbagi informasi dengan pihak yang berwenang. 2. Kepala Rumah Sakit sebagai pemegang komando insiden darurat dan staf lain mengisi kelompok komando insiden.8.4. dan petugas terlatih untuk ambulans. radio jinjing. Fasilitas komunikasi cadangan (telepon seluler. fasilitas komunikasi satelit). obat-obatan untuk kondisi darurat. Pusat informasi publik yang dikoordiner oleh pekerja sosial dan dikelola oleh petugas atau relawan.1. dan yang dirujuk ke rumah sakit yang lain. transportasi dan sistem informasi.3 Sistem Manajemen Informasi 2.2 Rencana dalam situasi Darurat.4. Koordinasi dengan pejabat setempat untuk membantu rumah sakit selama situasi darurat dan bencana. (Contingency Plan) 24 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan Kementerian Kesehatan RI .9. Daftar ambulans yang tersedia dan dapat digunakan dalam situasi darurat dan bencana.8. Kesadaran publik dan kampanye mendidik publik dengan pesan-pesan peringatan dan risiko komunikasi.4. untuk memindahkan pasien untuk dirujuk ke rumah sakit lain atau memindahkan pasien ke rumah sakit lain karena rumah sakit sudah penuh dan untuk evakuasi dan relokasi pasien. Rekaman dan laporan yang benar menggunakan formulir standar. Sistem manajemen informasi selama pemantauan kejadian dalam situasi darurat dan bencana. (3) (4) 2. Daftar peralatan. Pelatihan untuk petugas informasi tentang risiko komunikasi. persediaan medik.9 (1) (2) (3) (4) Perencanaan untuk situasi darurat dan bencana. dan lembar deskripsi pekerjaan yang seragam Tersedia pusat operasi dan pusat operasi pengganti. 2.8.4.1 Sistem komando insiden darurat di rumah sakit 2. Dilengkapi ambulans untuk transportasi korban dari lokasi ke rumah sakit. Pusat informasi publik dimana orang bisa memperoleh informasi tentang anggota keluarganya. Persiapan sensus pasien yang dirawat. Sistem Komunikasi dan transportasi.

(2) (3) (4) (5) (6) 2. Tim respon darurat yang terdiri dari dokter. Cadangan bahan bakar. Memiliki kantor atau unit dengan petugas yang dilengkapi fasilitas komunikasi. 2. Instalasi pengolahan limbah padat. pengiriman tim yang merespon. respon dan pemulihan serta rencana respon rumah sakit lainnya. Instalasi pengolahan air limbah. Pusat Operasional Rumah Sakit yang dipimpin oleh koordinator manajemen darurat rumah sakit yang bertanggung jawab memantau situasi darurat atau bencana. rencana merespon dan memulihkan termasuk pencegahan bahaya dan rencana penanggulangan. (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Pasokan listrik dan generator cadangan.3 Manual untuk pengoperasian. rencana mengurangi kelemahan dan rencana pengembangan kapasitas. directori dan sistem komunikasi pengganti jika sistem gagal. dan perbaikan layanan kritis. Rencana ini termasuk sistem.4. dan resusitasi cardio pulmonary. Termasuk rencana evakuasi dalam situasi darurat. perawat. 7 (tujuh) hari per minggu.10. diperbaharui dan disebar luaskan kesiapan rumah sakit menghadapi situasi darurat. Kelompok perencana kesehatan darurat yang bertanggung jawab merumuskan rencana kesiapan. Gas medik Standar dan cadangan sistem komunikasi. Prosedur untuk mengaktifkan dan menonaktifkan bencana.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana (1) Mudah diakses. Komite keselamatan yang dikepalai oleh pimpinan yang mempromosikan keselamatan dalam rumah sakit terhadap semua bahaya.1 Organisasi Komite Bencana Rumah Sakit dan Pusat Operasi Darurat. paramedik dan pengemudi ambulans yang terlatih. Pemadam kebakaran. sistem komputer.10. petugas teknisi manajemen darurat yang terlatih. Rencana darurat untuk tindakan medik yang dibutuhkan selama bencana yang berbeda. Semua petugas kesehatan dilatih dasar-dasar penyelamatan jiwa. Rencana untuk perluasan layanan di saat tiba-tiba terjadi lonjakan pasien. bidan. memobilisasi sumber daya lain untuk situasi darurat. pedoman. standar pertolongan pertama.9.2 Kemampun Petugas Bangunan (1) Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan Kementerian Kesehatan RI .4. 25 (3) (4) (5) 2.4. termasuk bencana dengan potensi epidemik. 2.10 Sumber Daya Manusia. manajemen bencana dan darurat. Pengaturan yang kooperatif dengan rencana darurat lokal. (1) (2) Komite Manajemen Krisis dengan tenaga ahli teknis yang dapat memberi nasehat komite eksekutif berkaitan dengan krisis.4. Pasokan air minum dan sumber pengganti air minum. diuji. SOP dan protokol untuk manajemen darurat. pemeliharaan pencegahan. operasional 24 jam sehari.

10. yaitu Sistem Komando Insiden dan untuk Insiden kecelakaan masa. Evaluasi latihan simulasi darurat atau pemadaman sekurang-kurang sekali dalam setahun.4. Responden rumah sakit yang dilatih mengikuti kursus teknis medik dalam situasi darurat. (1) (2) (3) Evaluasi Setelah kejadian darurat dan bencana yang telah di respon. (3) (4) (1) (2) 2.3 Latihan pemadaman Kebakaran. Mengadakan latihan pemadaman api sekurang-kurangnya 2 kali dalam setahun. Mengadakan simulasi pemadaman atau latihan sekurang-kurangnya sekali dalam setahun.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana (2) Petugas medik di ruang gawat darurat dilatih dalam hal membantu penyelamatan jiwa penyakit jantung lanjutan dan penyelamatan jiwa penyakit jantung anak-anak lanjutan.4. 2. Evaluasi latihan pemadaman pada sekurang-kurangnya 2 kali dalam setahun. Manajer rumah sakit harus dilatih dalam hal sistem komando insiden darurat.11 Pemantauan dan evaluasi. 26 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan Kementerian Kesehatan RI .

Peralatan dan pasokan. elektrikal dan plambing). Sumber daya manusia.5 Petunjuk fungsional penting untuk kelangsungan operasi rumah sakit dan fasilitas kesehatan. non struktur dan kelemahan fungsional adalah langkah pertama yang perlu dilakukan dalam rangka pengurangan risiko di rumah sakit dan fasilitas kesehatan dan memastikan akan tangguh.2 Dokumen ini tersedia dalam bentuk daftar petunjuk yang perlu dipertimbangkan dalam menilai kelemahan rumah sakit dan fasilitas kesehatan.3 Petunjuk struktur yang kritis untuk bangunan dalam menahan peristiwa alam yang merugikan. 3. merelokasi layanan kritis untuk mengurangi bagian-bagian yang lemah dari bangunan dan penggunaan penghalang untuk proteksi.4 Petunjuk nonstruktural penting untuk operasi harian rumah sakit dan fasilitas kesehatan. Jika nonstruktural ini rusak. dan Masalah keselamatan dan keamanan.6 Setelah identifikasi kelemahan-kelamahan. adalah 3. termasuk meningkatkan perencanaan berdasarkan persyaratan teknis yang berlaku. termasuk : (1) (2) (3) lokasi bangunan. retrofit. (1) Pada kelemahan struktural. maka rumah sakit tidak akan mampu untuk berfungsi dan kejadian ini dapat menyebabkan kecelakaan pada pasien. dan Pemantauan dan evaluasi. jendela dan pintu. 27 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan Kementerian Kesehatan RI . Penyelamatan jiwa (instalasi mekanikal. Prosedur operasi standar dan pedoman-pedoman. 3. 3. Keamanan dan Alarm (tanda bahaya). Nonstruktural ini termasuk : (1) (2) (3) (4) Elemen arsitektural seperti langit-langit. Peralatan medik dan laboratorium.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana BAB – III RINGKASAN DAN KESIMPULAN 3. Sistem logistik dan utilitas.1 Identifikasi struktur. langkah selanjutnya merencana kan aksi yang dapat dilakukan untuk mengurangi kelemahan. Fungsional ini termasuk : (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Lokasi dan aksesibilitas. speifikasi rancangan. Sirkulasi internal dan interoperabilitas. 3. aman dan akan tetap beroperasi pada saat kejadian darurat dan bencana. dan material-material yang digunakan di rumah sakit dan fasilitas kesehatan.

termasuk merelokasi aktifitas.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana (2) Pada kelemahan nonstruktural. menjaga peralatan dan penggunaan prosedur khusus dan protocol selama keadaan darurat. (3) Dalam mengurangi kelemahan fungsional. supervisi petugas selama darurat. sistem peringatan awal untuk identifikasi risiko dan manajemen. perbaikan darurat dan prosedur rehabilitasi dan perencanaan segala kemungkinan. menjaga peningkatan kualitas dan jaminan kualitas. mengamankan penyaluran yang berhubungan dengan keselamatan jiwa. Dukungan terhadap rumah sakit dan fasilitas kesehatan untuk membuatnya aman dalam kondisi darurat menjadi kewajiban setiap orang. 3. beberapa kemungkinan tindakan termasuk optimalisasi penggunaan beragam area dan layanan distribusi kritis.7 Rumah sakit yang aman harus tetap menyuarakan struktural. fokusnya adalah memastikan keselamatan penghuni dan peralatan. 28 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan Kementerian Kesehatan RI . kelangsungan penyaluran layanan dan tindakan rehabilitasi darurat. perkuatan. Mengurangi kelemahan yang mungkin. mengamankan peralatan. organisir dengan baik dan dapat beroperasi penuh dalam keadaan darurat dan bencana. membatasi mobilitas peralatan.

Health facility seismic vulnerability evaluation. Copenhagen.D.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana KEPUSTAKAAN (1) WHO/EURO (2006). Denmark. (2) WHO/PAHO (2003). a handbook. guidelines for the promotion of disaster mitigation. Protecting new health facilities from natiral disasters.C 2 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan 9 RI Kementerian Kesehatan . Washington.

4 Jumlah lantai yang digunakan untuk pelayanan kesehatan pada bangunan rumah sakit harus kurang dari 5 (lima) lantai. atau X bila tidak sesuai. balok.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana APENDIKS Tabel 2. rangka batang) dan elemen nonstruktural diperhitungan sesuai dengan persyaratan untuk angin kencang (faktor keutamaan angin 1. tidak di daerah rawan tsunami. sehingga tahan ketika mengalami gaya seperti yang ditimbulkan oleh gempa bumi. 2 Elemen struktur bangunan (pondasi. tidak di daerah rawan banjir tidak dalam zona topan tidak di daerah rawan badai 2 Bangunan memiliki ketentuan yang memadai untuk mengatasi bahaya terkait lokasi seperti drainase air hujan dan tanggul B DESAIN 1 Bangunan rumah sakit memiliki bentuk yang sederhana dan simitris di kedua sumbu lateral dan longitudinal (misalnya persegi atau persegi panjang). a b c tidak di tepi lereng. pintu dan jendela mampu menahan kecepatan angin antara 200 ~ 250 km/jam. tidak dekat kaki gunung yang rawan terhadap tanah longsor.14 .15) dan gempa bumi (faktor keutamaan seismik 1. bila sesuai. d e f g h tidak di atas atau dekat dengan jalur patahan aktif. Masukkan TB (tidak berlaku) dalam kolom terakhir jika kondisi tidak ada dalam peraturan pemerintah pusat atau lokal. 3 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan 0 RI Kementerian Kesehatan . A LOKASI Y atau X Catatan 1 Bangunan tidak berada di lokasi area berbahaya. kolom. isi dengan Y. sungai atau badan air yang dapat mengikis pondasi. plat lantai.PETUNJUK STRUKTUR UNTUK KESELAMATAN RUMAH SAKIT Petunjuk : Dalam kolom kedua. terutama di daerah yang rawan gempa.4) 3 Dinding kaca. tidak dekat anak sungai.2. Gunakan kolom terakhir untuk komentar.

peranti. keretakan kecil atau retak rambut harus diselidiki oleh tenaga ahli struktur yang kompeten dan diperbaiki di lokasi. 4 Perubahan bangunan dilakukan dengan konsultasi yang tepat dengan tenaga ahli dan penelaahan atas rencana awal bangunan 3 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan 1 RI Kementerian Kesehatan . Struktur dibangun dengan kompetensi teknis yang memadai.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana C STRUKTUR 1 Tidak ada keretakan pada struktur utama. Dilaksanakan inspeksi dan pengawasan bangunan secara tepat. 3 Material konstruksi diperiksa dengan teliti oleh tenaga ahli material/jaminan kualitas/kontrol kualitas selama konstruksi sesuai spesifikasi yang dipersyaratkan. diangker dengan benar Ramp berada pada area yang tepat untuk memindahkan tempat tidur pasien dan untuk digunakan oleh penyandang cacat. D PERIZINAN 1 Harus dilengkapi set gambar terpasang (as built drawing) sesuai yang dibangun dan selalu tersedia bila diperlukan. 2 3 Struktur dibangun dengan bahan tahan api dan tidak beracun. 4 5 Lemari. 2 Harus dilengkapi Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang diperlukan dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF). rak. peralatan.

Gunakan kolom terakhir untuk komentar. penurunan langit-langit (drop ceiling) yang dibuat dari bahan selain beton. fibreglass. spesifikasi teknis. dipasang dengan aman. perhitungan struktural. isi dengan Y. B ELEMEN ARSITEKTUR. 1 Keselamatan pada atap a atap dirancang tahan terhadap kecepatan angin 175 ~ 250 km/jam dalam area rawan topan. 4 Sertifikat Laik Fungsi (SLF). Masukkan TB (tidak berlaku) dalam kolom terakhir jika kondisi tidak ada dalam peraturan pemerintah pusat atau lokal.PETUNJUK NON STRUKTUR UNTUK KESELAMATAN RUMAH SAKIT Petunjuk : Dalam kolom kedua. 2 Keselamatan pada langit-langit. diinsulasi dan kedap suara. A DOKUMEN BANGUNAN/GAMBAR/PERENCANAAN Y atau X Catatan 1 Persetujuan rencana pembangunan. c bahan langit-langit seperti papan fibre semen. atau X bila tidak sesuai. papan gipsum akustik. ditandatangani dan disahkan oleh ahli profesional yang tepat dan diserahkan dan disetujui oleh petugas resmi pemerintah daerah.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana Tabel 2. a b langit-langit dari beton harus tidak retak dan tidak bocor. b c seluruh bahan atap terpasang dengan aman. 3 Gambar terpasang yang terakhir (up dated as built drawing). dilapis atau diolah dengan cat tahan api. bila sesuai. d atap kedap bocor. 2 Gambar terpasang (as built drawing) dipersiapkan oleh tenaga ahli dari kontraktor. apabila ada perubahan pada bangunan. d Pencahayaan pada langit-langit atau armatur lampu dipasang dengan benar dan ditunjang (support) 3 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan 2 RI Kementerian Kesehatan .3 . bahan kayu. sistem drainase atap mempunyai kapasitas yang cukup dan dirawat dan dipelihara dengan benar.

tahan panas dan api. pintu-pintu di ruang yang jumlah orangnya kurang dari 50 harus mempunyai lebar pintu sekurang-kurangnya 112 cm. tangga eksit vertikal bagian dalam bangunan mempunyai eksit kebakaran bertekanan positif. a b c bahan pintu tahan terhadap angin dan api.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana e Bagian bawah lengkungan. PINTU DIJAGA TERTUTUP. d pintu utama menggunakan pintu ganda. g pintu yang digerakkan dengan daya listrik dapat dioperasikan secara manual ke ruangan yang dibolehkan pada peristiwa kegagalan daya listrik. seperti pintu tangga atau eksit horizontal. f pintu partisi asap diletakkan sepanjang lorong dan koridor harus dua pintu ayun pada setiap kelompok ruangan atau bagian untuk kompartemenisasi. ruangan seperti ruang operasi. l pintu yang dirancang untuk selalu tertutup sebagai jalan keluar. m pintu yang dirancang untuk selalu tertutup harus diberi tanda. k kunci yang dipasang di ruang perawatan pasien dapat dikunci hanya dari koridor untuk memungkinkan eksit dari ruangan dengan mengoperasikan secara sederhana tanpa sebuah kunci. terbuka keluar. ruang isolasi. antara lain seperti: EKSIT KEBAKARAN. dengan perangkat menutup sendiri dan batang panik. dan tritisan bebas dari keretakan struktur dan plesteran yang jatuh. j Pada bangunan tinggi (5 lantai ke atas). dan area steril mempunyai pintu yang menutup secara manual. pintu-pintu di ruang yang jumlah orangnya lebih dari 50 orang (ruang konfrensi. pintu yang letaknya jauh satu sama lain harus membuka keluar. dilengkapi dengan mekanisme menutup sendiri yang handal. pintu-pintu terpasang erat ke kusen pintu. ruangan sebelum melahirkan. ruang pemulihan. 3 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan 3 RI Kementerian Kesehatan . h i pintu otomatik dapat dijalankan secara manual. kedap asap. pintu kamar mandi membuka keluar e pintu eksit kebakaran tahan api. unit perawatan intensif. ruang fungsional) harus mempunyai lebar pintu sekurangkurangnya 122 cm. balkon. ruang melahirkan. 3 Keselamatan pada pintu masuk dan pintu-pintu.

Kawat listrik dan kabel dipasang dengan benar dan dikencangkan. a Material lantai anti slip tanpa celah-celah dalam seluruh area layanan dan klinik dan bahan lantai mudah dibersihkan dalam semua area non klinik lainnya. Partisi ruangan dibuat dari material konstruksi tahan api. 7 Keselamatan penutup lantai. 5 Keselamatan dinding dan partisi. Kompartemenisasi antara pelat lantai ke pelat lantai dan dinding ke dinding harus dibuat tahan api. 3 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan 4 RI Kementerian Kesehatan . perumahan atau fasilitas penyandang cacat. Penggantung armatur lampu diangker dengan benar. e Material finis lantai “Kelas A” atau “Kelas B” seluruh rumah sakit. Finis interior dengan sistem tahan terhadap api. plester). a b c Elemen eksterior dipasang kuat ke dinding. a b c Dinding luar memenuhi tingkat ketahanan api 2 (dua) jam. Bukaan jendela harus aman dari kemungkinan orang meloncat keluar. Jendela memiliki fitur untuk mengamankan keselamatan pasien (misalnya kisi-kisi. 6 Keselamatan elemen eksterior (cornices. teralis) yang juga disediakan dengan eksit kebakaran dan sistem proteksi kebakaran. a b Jendela harus terlindung dari sinar matahari langsung dan angin. ornament. c d Jendela kedap kebocoran. Finis interior dinding dan langit-langit pada setiap ruangan atau eksit harus “Kelas A” sesuai dengan “Cara pengujian karakteristik terbakarnya permukaan dari material bangunan”. panti jompo. façade.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana 4 Keselamatan jendela dan Penutup Luar Jendela (Shutter). C FASILITAS JALUR KESELAMATAN JIWA 1 Sistem Kelistrikan. b c d Slab lantai beton diperkuat. d Ruangan perawatan dapat dibagi lagi asalkan susunannya memungkinkan untuk langsung dan secara visual konstan disupervisi oleh petugas perawatan.

4 kawat dipertimbangkan terhadap biaya awal rendah dan nilai tambah yang lebih besar untuk effisiensi jangka panjang. boxes. kotak kontak harus dilengkapi dengan pemutus kegagalan sirkit pembumian (GPAS = Gawai Proteksi Arus Sisa). f g generator dilengkapi dengan sakelar pemindah otomatis (ATS). dibuat dari beton bertulang. kontaktor magnetic. sakelar pemutus arus dan kabel diproteksi dengan mengikuti SNI 0225 Persyaratan umum instalasi listrik edisi 3 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan 5 RI Kementerian Kesehatan .Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana a. Generator darurat mempunyai kapasitas memenuhi kebutuhan prioritas rumah sakit (ketentuan untuk sistem cadangan kelistrikan. c Rumah generator atau rumah sumber daya (Power House) di proteksi dari bencana alam dan kerusakan yang disebabkan oleh manusia. l bagian-bagian yang bersifat metal dari sistem elektrikal yang tidak mengalirkan arus harus dibumikan dengan benar. saluran kabel di bawah lantai / cable gutter. b Voltase distribusi yang lebih tinggi. k kotak kontak (stop kontak. atau sakelar tanpa pengaman lebur yang terpasang dalam panel control harus terproteksi. m panel kontrol. d Generator dan peralatan lainnya yang bergetar harus dipasang dengan pengikat (braket) khusus yang memungkinkan gerakan tetapi mencegahnya dari terjungkir. menggunakan sistem pendingin transformer yang tidak mudah terbakar (yaitu jenis kering. perawatan intensif dan lorong. pengaman lebur. termasuk panel listrik. saluran kabel tertutup / cable duct dan rak kabel / cable tray. termasuk untuk ruang operasi. resin epoxy atau minyak silikon atau minyak temperatur tinggi) h menggunakan kawat/kabel dengan sertifikat standar sistem bioproteksi (BPS = Bio Protection System) lebih disukai dengan insulasi thermoplastik nilon tahan panas tinggi dan kabel dipasang erat dan dikencangkan pada pemutus arus (CB) atau sakelar atau pengaman kawat. sistem buangan harus dibuat dalam bentuk peredam jenis kritis. ketinggian lantainya aman terhadap banjir. outlet) dilengkapi dengan kutub pembumian. atau kualitas rumah sakit dan unit dilengkapi dengan isolator getaran jika generator berada dalam bangunan. j Dalam kamar mandi dan dalam area basah atau lembab. seperti sistem 380/220V-3 phase. i Pemutus beban. e mempunyai generator yang tidak berisik dan tidak bergetar .

dan/atau ketentuan teknis lain yang berlaku. air dari PDAM. c d e f dilengkapi dengan proteksi petir. h Sistem komunikasi di luar bangunan dipasang di dalam tanah. sistem konduit baja untuk sistem deteksi dan alarm. pencahayaan yang cukup dalam seluruh area rumah sakit.l handy talky). tersedia sistem komunikasi cadangan (a. CCTV. 2 Sistem Komunikasi a antena dan batang terminal proteksi petir dijepit dan ditumpu untuk keselamatan.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana terakhir. peralatan utama komunikasi dan kabel dipasang dengan angker dan penjepit. g sistem alarm kebakaran mengirimkan alarm secara otomatis ke pos pemadam kebakaran terdekat atau bantuan dari luar lainnya. b terminal proteksi petir dengan fitur proaktif operasional lebih disukai. t lampu “eksit” dan “bukan eksit” dilengkapi batere cadangan. b c tangki penyimpanan air lokasi dan pemasangannya harus aman. serta diproteksi dengan Gawai Pengaman Petir (electrical surge suppressor). kabel TV. r s sistem listrik jaringan luar gedung dipasang di dalam tanah. d menggunakan pipa baja atau tembaga yang di las untuk mencegah patah dan bocor. mengikuti SNI proteksi petir. dan jaringan data komputer. 3 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan 6 RI Kementerian Kesehatan . sistem konduit PVC untuk telepon. n Ruang panel listrik diproteksi dengan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). mobil tangki penampungan air atau truk kebakaran). radio mempunyai sumber arus listrik cadangan (batere). 3 Sistem pasokan air. o sistem konduit PVC untuk daya dan pencahayaan. termasuk halaman. p q menggunakan pencahayaan fluorecent kompak hemat energi. tangki penampungan air bawah (ground water tank) mempunyai cadangan yang cukup minimal (tiga) hari setiap waktu. a untuk kebutuhan rumah sakit. listrik yang fungsional dan lampu darurat dilengkapi batere cadangan dipasang pada seluruh area kritis. sumber air pengganti tersedia (contoh air sumur dalam. intekom.

k l m sambungan pipa tidak boleh dipertukarkan. a gas medik disimpan dengan benar dan dipasang dalam area berventilasi cukup dan berkompartemen ( dinding tahan api ). b c Lokasi harus benar dan aman untuk penyimpanan gas medik. i j alat ukur dan fiting berfungsi. silinder. penyimpanan minimum untuk kebutuhan selama 3 (tiga) hari. n tangki cadangan oksigen tersedia dalam kasus evakuasi pasien darurat. 2 4 Sistem Gas Medik. e tangki yang dipasok oleh produsen harus dalam kondisi disegel (sealed) utuh. q semua konstruksi yang secara aktif terlibat pengoperasian yang berbahaya harus mempunyai tingkat ketahanan api 2 (dua) jam 3 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan 7 RI Kementerian Kesehatan . g h tangki. kedap api dan kedap air.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana e sistem distribusi air (katup. melakukan prosedur pengujian secara regular.8 kg per cm pada setiap dua (2) kran (outlet) yang mengalir serempak dalam waktu 30 menit. katup zona dapat di tutup). pipa. f pipa gas medik yang dipasang di dinding dilengkapi dengan penyangga pipa. keselamatan sistem distribusi gas medik (katup. f pipa tegak basah harus mengalirkan tidak kurang 132 liter air per menit dengan tekanan sisa tidak kurang dari 1. o gas industri diletakkan di luar bangunan untuk fungsi pelayanan dan dilengkapi dengan pengaman penutup otomatis (contoh LPG). p apabila aktifitas atau mungkin penyimpanan melibatkan bahaya ledakan. dilengkapi dengan angkur. ventilasi ledakan ke luar bangunan harus dilengkapi dengan kaca tipis atau ventilasi lain yang disetujui. pipa dan sambungan) harus terjamin. menggunakan pipa standar khusus untuk gas medis. sambungan) bebas dari kebocoran dan zat berbahaya. dan peralatan terkait. d untuk yang menggunakan silinder individual. Penyimpanan gas medik dalam pipa minimum untuk kebutuhan selama 7 (tujuh) hari. dengan katup penutup zona dalam kasus kebocoran (contoh di dalam kasus kebakaran pada kompleks ruang operasi.

melakukan pelatihan pemadaman api dan evakuasi pada situasi kebakaran. untuk layanan umum menggunakan alat pemadam api ringan jenis ABC. a lantai jalan keluar diiluminasi pada semua titik termasuk sudut dan 3 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan 8 RI Kementerian Kesehatan . d deteksi panas dan asap dipasang di koridor rumah sakit bertingkat.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana dan bukaan antara setiap bangunan dan ruangan-ruangan atau ruang tertutup untuk pengoperasian yang berbahaya harus diproteksi dengan pintu kebakaran yang menutup sendiri atau otomatik. pelatihan evakuasi dalam situasi kebakaran. b sistem alarm kebakaran dapat dioperasikan secara manual dan atau otomatis. deteksi dan pemadaman harus dihubungkan dengan sistem alarm kebakaran otomatis. c sistem alarm kebakaran di monitor oleh pos pemadam kebakaran atau agen monitor yang terakreditasi. e detektor asap harus tidak dipasang lebih dari 9 (sembilan) meter dari titik pusatnya dan jarak ke setiap dinding 4 (empat) sampai 10 (sepuluh) meter. pelatihan pada saat terjadinya gempa bumi. effektif dan kerusakan yang diakibatkannya kecil. direkomendasikan alat pemadam api ringan. melakukan penanggulangan kebakaran. untuk peralatan elektrikal dan elektronik menggunakan carbon dioksida. pelatihan pemadaman api. f menggunakan zat pemadaman yang ramah lingkungan. 4 Sistem Pemadam Kebakaran.      6 Sistem Eksit Darurat. mempunyai program keselamatan terhadap kebakaran dengan mengutamakan sebagai berikut :  diselenggarakan oleh dinas kebakaran yang melakukan seminar. g h setiap ruangan dilengkapi dengan alat pemadam api ringan. a sistem alarm. tersedia peralatan pemadam kebakaran. i j dengan pipa tegak basah lengkap dengan perlengkapannya. sistem deteksi panas dan/atau sistem pemadam kebakaran otomatik. pemeliharaan pencegahan dari peralatan pemadam kebakaran. latihan pencegahan dan pemadaman kebakaran. tersedia gambar eksit kebakaran dan gambar ketentuan evakuasi melalui eksit kebakaran di tempat yang menyolok pada setiap tingkat lantai.

3 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan 9 RI Kementerian Kesehatan . suction unit. f Peralatan dapat dioperasikan setiap saat (boiler. bordes tangga dan pintu eksit dengan lampu yang mempunyai lumen minimal 0. f lengkapi luminous (armature) penunjuk arah eksit pada dinding dan diletakkan 30 cm atau lebih lebih rendah dari permukaan lantai. incubator. peralatan sentral pengkondisian udara diangkur. ventilator. ventilasi dan pengkondisian udara. dengan warna khusus. a bracket untuk duct dan fleksibilitas duct dan pemipaan yang menyilang pada sambungan ekspansi harus diperiksa. a peralatan dalam ruang operasi dipasang dengan roda atau troli beroda harus stabil. sambungan dan katup tidak bocor peralatan sentral pemanas dan/atau pemanas air diangkur. sistem pengkondisian udara. dengan sumber yang andal. monitor. b sumber pencahayaan mudah diakses dan andal.005 lumen per cm . Ventilasi dan Pengkondisian Udara dalam Area Kritis. b peralatan di atas meja troli yang beroda harus mempunyai bracket yang tepat dan dapat dipasang pada sisi tempat tidur atau dinding (ECG. b c d e pemipaan. peralatan resusitasi). d tanda arah “EKSIT” diterangi. seperti layanan listrik PLN. 1 Peralatan di ruang operasi dan ruang pemulihan. 2 2 7 Sistem Pemanasan. e tinggi huruf dari tanda arah 15 cm dengan huruf yang menonjol dengan lebar tidak kurang dari 19 mm. 0.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana persimpangan dari koridor dan lorong. di angkur atau dikencangkan (rem) dekat meja operasi selama prosedur pembedahan dan dapat dipindahkan setelah itu. keselamatan yang memadai diperlukan untuk ruang tertutup yang dilengkapi dengan alat pemanas. Fan pembuangan) E PERALATAN MEDIK DAN LABORATORIUM.001 lumen per cm . Blood pressure monitor. c fasilitas pencahayaan darurat dijaga dengan tingkat iluminasi tertentu pada kejadian kegagalan pencahayaan normal untuk jangka waktu sekurang-kurangnya 1 jam.

MRI Scanner). pengkabelan listrik dan kotak kontak dipasang dengan baik dan aman. b lantai-lantai tanpa celah. g penyimpanan reagen dan kultur organisme/media diletakkan dengan aman. peralatan untuk anestesi dan meja bedah terpasang dengan aman dan roda meja bedah dikunci (rem). sistem plambing dan sistem drainase harus baik. ubin di grout (mortar atau pasta untuk mengisi celah) dan lapisan dijaga secara regular. dilengkapi tudung asap (tergantung level laboratorium) 4 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan 0 RI Kementerian Kesehatan . CT Scanner. c ruangan cukup terlindung (proteksi terhadap radiasi. c ventilasi.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana c lampu-lampu. d pemberian kode warna untuk pewadahan limbah infeksius dan non infeksius dipisahkan dengan benar. h pasokan air. b Untuk pemasangan peralatan yang melekat pada langit tersedia rangka baja untuk pemasangan peralatan (contoh radiografi fluoroskopi). air buangan dialirkan ke instalasi pengolahan air limbah. medan magnit). bebas dari banjir. a peralatan yang berat dan bergerak diangkur atau dibaut pada lantai (contoh unit X-Ray. h i j tersedia area dekontaminasi standar (tetap/bergerak). a persediaan dan bahan-bahan yang digunakan di laboratorium disimpan dalam lemari dan rak-rak (contoh lemari dipasang ke dinding dan pengikat rak). drainase dan sistem plambing. frekuensi radio. kotak kontak listrik yang terpasang dengan baik dan sistem pembumiannya harus aman. 2 Peralatan Radiologi dan peralatan penunjang lainnya. g penyimpanan material berbahaya dan bahan kimia dipisahkan dengan benar. 3 Peralatan Laboratorium dan Penunjang lainnya. e f pasokan air. baik. atau ke dinding (tabung X-Ray). alat pengkodisian udara dan humiditi terkontrol dengan baik. d e f ruangan ber AC dilengkapi dengan kontrol humidity.

BP monitor. c baut angkur disediakan pada dinding dalam lokasi yang tepat sehingga peralatan dapat dipindahkan dan dipasang di tempat yang aman jika tidak digunakan. b peralatan yang berat dan bergerak diangkur dan dibaut ke lantai atau ke dinding (contoh otoklaf). kotak kontak listrik terpasang pada dinding dan aman. 7 Peralatan dan alat penunjang lain dalam bagian pengobatan nuklir dan unit therapi radiasi. persediaan dan isi dari lemari medik terlindung dalam rak/rak susun yang diangkur/diikat ke dinding. a persediaan dan isi lemari farmasi disimpan dalam rak susun dan rak-rak yang diangker ke dinding. f peralatan di atas troli beroda diangkur dengan sistem yang tepat dengan menggunakan pengait dan rantai dan dapat dipasang ke tempat tidur atau dinding (ECG. Suction Unit. diangkur atau dikencangkan. c d kotak kontak listrik aman dan terlindung. Ventilator. d e pengkabelan listrik dan kotak kontak terpasang dengan aman.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana 4 Peralatan medik dalam ruang UGD/Unit Perawatan Intensif/Rawat Inap. a b perlindungan yang memadai terhadap bahaya radiasi. bersih dan teratur. 4 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan 1 RI Kementerian Kesehatan . Monitor. a tempat tidur harus dilindungi di tempat tetapi juga dapat digerakkan jika dibutuhkan. peralatan resusitasi). a persediaan dan isi untuk sterilisasi dilindungi pada rak susun dan rak yang diangkur ke dinding. b peralatan dan kelengkapannya yang dibutuhkan untuk pengobatan /tindakan dan ditempatkan dekat dengan tempat tidur yang ditopang. incubator. penyimpanan yang benar untuk material berbahaya bebas dari kebocoran. Disediakan rak baja untuk penempatan peralatan agar aman. 6 Peralatan medik dalam unit sterilisasi. bebas dari kotoran dan material infeksius. menggunakan iluminasi dengan sistem cadangan pencahayaan dalam kasusu kegagalan daya listrik normal. 5 Peralatan Medik di Bagian Farmasi. b c d ruangan berventilasi atau ber AC cukup.

h peralatan dan kelengkapan yang dibutuhkan untuk pengobatan /tindakan diletakkan dekat penunjang tempat tidur. Tersedia railing pengaman. peralatan dan persediaan 4 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan 2 RI Kementerian Kesehatan . 1 Keselamatan petugas dan pasien. i Area monitor dilengkapi dengan alarm. ventilasi. tersedia area dekontaminasi standar (tetap/bergerak). sarung tangan. sistem dibumikan. dan material berbahaya lainnya. l m air bekas dibuang ke instalasi pengolahan air limbah. g tempat tidur harus terlindung di tempat dan dapat juga digerakkan jika dibutuhkan. perkakas untuk penangan jarak jauh. air conditioning dan humiditi kontrol yang baik. rekaman/catatan. 2 Alat keselamatan. f g peralatan sterilisasi dan persediaan Bahan informasi pendidikan komunikasi dan papan informasi untuk pasien dan petugas tentang apa yang harus dilakukan selama kondisi darurat dan bencana.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana c d e f aman dari banjir. adanya peralatan keselamatan sebagai berikut :        E pelindung. penangan dan pembuangan kimia. dan diagnosa kit. peralatan proteksi petugas. radio pharmasi. tanda arah. PERALATAN DAN PERSEDIAAN. a b c d e pintu masuk dan pintu keluar/eksit harus aman. radioaktif. baju pelindung. k fasilitas terpisah terpisah untuk pemrosesan reagent dan unsur kimia. meter survey radiasi dengan peringatan suara. kontainer untuk material radioaktif. j penyimpanan dan pemisahan yang tepat. pasokan daya listrik yang cukup (kira-kira 24 kW/unit) dengan pemutus arus tersendiri. KESELAMATAN DAN KEAMANAN PENGGUNA. peralatan untuk inspeksi seperti detector metal. label. monitor nilai dose dengan alarm. kit darurat. Petugas dilengkapi alat pelindung diri (masker. kamera CCTV dilengkapi dengan perekam. dipasang tetap dan diangkur.

bahaya kesehatan. d e kotak kontak aman dan terlindung dengan baik. penyimpanan dan penanganan. g pemisahan dan penyimpanan yang benar dari material dan kimia berbahaya. tidak ada perlengkapan yang menggantung atau ornamen dekoratif. tersedia rangka baja untuk mengamankan peralatan. proteksi petugas. diangkur atau dipasang. c persediaan dalam laboratorium. f tersedia manual instruksi untuk pengguna tersedia dan mudah diakses untuk semua jenis peralatan. reactivity. farmasi. perawatan darurat dan bantuan pertama. prosedur tumpahan dan pembuangan. 4 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan 3 RI Kementerian Kesehatan . h tersedia lembar data keselamatan material yang berisi informasi sebagai berikut :         sifat kimia dan fisik. data registrasi dan lingkungan. penyimpanan umum dalam unit CSSD dan ruang operasi cukup aman dalam lemari dan di dalam rak. tidak ada perlengkapan menggantung diatas tempat tidur pasien.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana a peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk pengobatan /tindakan dan diletakkan dekat tempat tidur ditunjang. b baut angker di dalam dinding pada lokasi yang tepat sehingga peralatan dapat dipindahkan dan dipasang dalam tempat yang aman jika tidak digunakan.

Masukkan TB (tidak berlaku) dalam kolom terakhir jika kondisi tidak ada dalam peraturan pemerintah pusat atau lokal. dipasang dengan benar dan mudah dibaca dalam keadaan gelap. pabrik industri. e f Koridor.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana Tabel 2. 2 Aksesibilitas a b Tidak ada penghalang di jalan menuju rumah sakit. Gunakan kolom terakhir untuk komentar. Menggunakan ram sebagai akses ke lantai dua dan yang lebih tinggi. setiap anak tangga harus mempunyai ketinggian kurang dari 17 cm dan dibuat dari beton. taman bermain anak-anak. b Cukup bebas dari kebisingan yang tidak semestinya.PETUNJUK STRUKTUR UNTUK KESELAMATAN RUMAH SAKIT Petunjuk : Dalam kolom kedua.14 . isi dengan Y. Y atau X Catatan A LOKASI DAN AKSESIBILITAS RUMAH SAKIT/FASILITAS KESEHATAN 1 Lokasi. h Setiap bukaan pada dinding diproteksi dengan pintu tahan api atau jendela tetap dengan kaca kawat. g Jalur tangga yang aman dan dipasang dengan rel pegangan tangan dengan lebar tangga sekurang-kurangnya 112 ~ 120 m. a dilokasi sepanjang atau dekat jalan raya yang baik dan sarana transportasinya memadai mudak diakses oleh masyarakat. lorong dan gang harus mempunyai lebar 2. asap. angkutan umum. i Setiap pintu ke tangga . d Tersedia tanda arah. c Mematuhi semua peraturan zonasi lokal. bau busuk. saf ventilasi atau parasut di jalur tangga tertutup harus menutup sendiri dan 4 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan 4 RI Kementerian Kesehatan . bandara. banjir dan tidak terletak berdekatan dengan jalur kereta api. ram. bila sesuai. pabrik pengolahan sampah. Memiliki akses ke lebih dari satu jalan (jalur alternatif) dan memiliki pintu masuk lokasi dan pintu keluar lokasi terpisah c Memiliki jalan akses yang diaspal (semen atau aspal) yang diidentifikasi dan diberi label dengan benar. pencahayaan.2.4 ~ 2. atau X bila tidak sesuai.5 meter. saf lif.

boiler. a Perawat di ruang pos perawat dapat melihat keluar rawat inap dan mempunyai akses ke pasien. fasilitas penyimpanan air. b Area yang akan diubah menjadi ruang pasien selama situasi bencana benar-benar teridentifikasi dengan pencahayaan yang memadai. C PERALATAN DAN PERSEDIAAN 4 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan 5 RI Kementerian Kesehatan . 1 Sirkulasi Internal. j Tangga keluar bangunan harus tertutup dan bukaan yang terproteksi. Fasilitas Laboratorium.  Departemen yang menerima beban kerja dari instalasi rawat inap atau zona bagian dalam harus diletakkan dekat dengan bagian ini (radiologi. c Kamar mayat diletakkan terpisah dari area layanan. persediaan air dan closet atau kamar mandi. sebaiknya dilengkapi dengan pagar atau pintu gerbang.  d 2 Interoperabilitas. radiologi dan radiotherapi adalah area terbatas. kotak kontak.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana dalam keadaan normal dijaga selalu tertutup. area laundri dan rumah pompa diletakkan pada bangunan terpisah. perawatan kesehatan primer). e f Di identifikasi area evakuasi dan tempat berkumpul. b c Ruang rawat dan sanitasi toilet. akan tetapi aman terhadap banjir. Pintu masuk yang aman dan terkontrol dilengkapi dengan peta area. seperti pembangkit listrik. d Area diagnostik dengan menggunakan peralatan yang berat sebaiknya diletakkan di lantai dasar. a Area penunjang. Zona area layanan yang tepat : Departemen yang paling erat hubungannya dengan masyarakat diletakkan dekat pintu masuk Rumah Sakit (Instalasi Rawat Jalan. Instalasi Gawat Darurat. laboratorium)  Departemen rawat inap harus berada di zona bagian dalam. Administrasi. B SIRKULASI INTERNAL DAN INTEROPERASBILTAS. k Tersedia parkir yang aman dan pencahayaannya baik.

D KEBIJAKAN MANAJEMEN DARURAT. termasuk penggiliran tugas selama bencana dan darurat c Prosedur memperluas layanan. ruangan dan tempat tidur dalam kejadian lonjakan jumlah pasien. ruang rawat intensif bayi). Peralatan proteksi petugas sekali pakai untuk epidemik. a Obat-obat untuk situasi darurat harus tersedia di dalam instalasi gawat darurat dan di dalam area layanan kritis (ruang operasi. Prosedur untuk menyiapkan lokasi untuk penempatan sementara 4 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan 6 RI Kementerian Kesehatan . d e Prosedur proteksi rekam medik pasien. b c d e f g Instrumen untuk prosedur darurat. SOP untuk pengumpulan dan analisa informasi. f g Prosedur pengawasan epidemiologic rumah sakit. 2 Prosedur. Prosedur untuk mobilisasi sumbr daya (dana. c Penyimpanan obat-obatan sekurang-kurangnya untuk persediaan 1 (satu) minggu. logistik. a b Prosedur administrasi khusus untuk tanggap darurat dan bencana. ruang rawat intensif. b Diagnostik dasar dan peralatan theraputik adalah fungsional dan dilabel dengan benar. Kereta untuk pasien dengan jantung kritis. peralatan penyelamatan jiwa. Gas medik Ventilator. SOP untuk pendaftaran untuk instalasi gawat darurat. PROSEDUR DAN PEDOMAN. a b c d SOP untuk kontrol infeksius. ruang pemulihan. Prosedur untuk pemeriksaan keselamatan regular peralatan oleh otoritas yang sesuai dan pemeliharaan pencegahan. prosedur dekontaminasi. 2 Peralatan dan Persediaan untuk situasi darurat. sumber daya manusia). a Peralatan dasar harus tersedia di setiap instalasi rawat inap atau area pengobatan/tindakan.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana 1 Peralatan dasar dan persediaan. 1 Prosedur Operasional Standar (SOP) dan Protokol. Label triase dan persediaan lain untuk mengelola korban masal. SOP untuk pasien internal dan pasien rujukan dari luar.

khususnya selama situasi darurat dan bencana. mengeluarkan mengontrol penggunaan obat.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana untuk pemeriksaan forensik. 3 Pedoman a Pedoman untuk makanan dan perediaan untuk petugas rumah sakit selama situasi darurat. f Pedoman untuk menangani sukarelawan. Fasilitas bank darah yang memadai dengan SOP dan pedoman untuk penyimpanan yang benar dan penanganan darah dan penghasil darah dan pengadaan yang cepat dalam situasi darurat. menjaga dan persediaan. atau menjaga pasien terhukum. g Pedoman tentang senjata api untuk polisi yang datang dan pergi mengunjungi rumah sakit. Prosedur merespon selama malam hari. b Penyimpanan persediaan yang berhubungan dengan medik untuk situasi darurat. c d e Pedoman untuk kesehatan jiwa dan dukungan psychosocial. penyaluran. 1 Sistem Logistik. hari libur dan giliran libur. g h Kit (perangkat) darurat. f Proses untuk mengalokasi sumber daya dan rekaman penggunaannya. c Pengaturan khusus dengan penjual dan pemasok untuk pembelian dalam situasi darurat . E SISTEM LOGISTIK DAN UTILITAS. penyimpanan. d e Membagikan dana kontigensi untuk kebutuhan darurat. a Sistem untuk memperkirakan kebutuhan obat. 4 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan 7 RI Kementerian Kesehatan . Pedoman tindakan/pengobatan atau protokol. dan meletakkannya ditempat sementara. Pedoman seperti memorandum atau perintah rumah sakit untuk semua petugas rumah sakit untuk berpartisipasi dalam latihan dan pelaksanaan simulasi. h i Prosedur untuk pengangkutan dan persediaan logistik. Sistem untuk merotasi barang-barang yang pertama kadaluarsa. b Pedoman dan tindakan untuk memastikan mobilisasi penambahan petugas selama situasi darurat secara baik.

sistem pompa tambahan jika sistem gagal atau layanan terhenti atau untuk pasokan air pengganti. 3 Sistem Kelistrikan. atau minyak silikon atau minyak R-Temp bertemperatur tinggi. dalam istilah amper. a Sistem tentang bagaimana daya listrik dipasok ke rumah sakit. pompa kebakaran. termasuk alarm kebakaran. dan farmasi. f Generator set harus diletakkan pada ditempat yang tidak berdekatan dengan ruang operasi atau area rawat inap. jika dibutuhkan untuk situasi darurat. epoksi resin. pengelontoran toilet. g Direkomendasikan sirkit untuk daya darurat harus disediakan untuk: Pencahayaan : semua eksit. b Pasokan listrik rumah sakit. kebidanan. refrigerator untuk bank darah. c Transformer menggunakan sitem pendinginaan yang tidak mudah terbakar. voltase inggi ditribusi seperti 380V/220V. menggunakan sistem 3 phase 4 kawat untuk biaya rendah dan effisiensi lebih besar. e Adanya generator sebagai daya darurat atau daya pengganti untuk pencahayaan darurat dan operasi peralatan penting. unit perawatan intensif.  lokasi generator set. d Lokasi panel kontrol dan jalur distribusi daya harus ditunjukkan pada perencanaan lantai.  satu atau dua elevator.  ruang bayi. cycle atau kiloWatt. dan 60 ~ 100 liter per hari untuk pasien rwat inap dan ditambah liter untuk laundri. dan ruang gawat darurat.  ruang operator telepon. tangga dan koriddor.  ruang komputer.  4 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan 8 RI Kementerian Kesehatan . pos perawat. Peralatan :     Sistem panggil perawat.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana 2 Sistem Pasokan Air a Kebutuhan air minum dalam situasi darurat 5 (lima) liter per hari untuk pasien rawat jalan. b c Sumber air pengganti jika pasokan utama rusak. yaitu jenis kering. sistem alarm. ruang sebelum melahirkan.  kamar bedah. ruang pemulihan. Identifikasi agen yang bertanggung jawab untuk perbaikan setiap saat layanan air. laboratorium. lokasi panel utama listreik dan ruang boiler. termasuk tanda arah eksit. dan utilitas lain.

 h Lampu darurat tersedia dengan batere cadangan untuk digunakan selama periode antara terputusnya pasokan daya dan sambungan ke generator set untuk di area penting di dalam rumah sakit seperti tangga. dan sistem pompa angkat. ruang pemulihan. Tangki gas dan pipa gas medik secara regular diperiksa. pada jalur eksit. jika dipasang. unit perawatan intensif. Katup pengaman dipasang untuk mencegah kebocoran dalam pipa gas. ruang operasi. ruang gawat darurat. ruang melahirkan. F SISTEM KESELAMATAN DAN SISTEM KEAMANAN. 1 Sistem Keselamatan dan Keamanan a Tanda arah di dalam rumah sakit yang menunjukkan lokasi jalur penyelamatan dan letak peralatan pemadam kebakaran. d Sistem alarm kebocoran tersedia dan dengan alat pengukur. c Detektor asap pada jarak cakupan yang tepat pada seluruh bangunan. dan pada pintu masuk untuk ruangan berisiko 4 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan 9 RI Kementerian Kesehatan .  peralatan penting untuk memelihara layanan telepon dan sistem dasar radio dua arah. d pemeriksaan regular dari detektor asap untuk memastikan fungsinya dan mempunyai pasokan daya listrik yang cukup. a b c Jalur gas medik dijaga dengan benar. unit perawatan intensif bayi baru lahir. menunjukkan lokasi evakuasi untuk setiap rawat inap rumah sakit. termasuk slang kebakaran dan alat pemadam api ringan yang harus ditempatkan pada tempat yang strategis di koridor. dan ruang melahirkan. lorong. ruang pemulihan. e Peralatan terlihat dan mudah dijangkau untuk mengendalikan api setempat. pemulihan.  sistem pengolahan air limbah. perawatan intensif. dan ruang pasien. Pendinginan dan sistem ventilasi:  ruang operasi. ruang bayi.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana peralatan untuk operasi. unit perawatan intensif bayi baru lahir. Pemanasa. unit perawatan intensif. ruang sebelum melahirkan. pos perawat dan area kasir. 4 Sistem Distribusi Gas Medik.  satu unit sterilisasi yang menggunakan listrik. b diagram tata letak bangunan disediakan untuk memudahkan identifikasi.

untuk memindahkan pasien untuk dirujuk ke rumah sakit lain atau memindahkan pasien ke rumah sakit lain karena rumah sakit sudah penuh dan untuk evakuasi dan relokasi pasien. area yang menyimpan zat dan kimia mudah menguap dan area yang berisi peralatan medik yang bernilai tinggi. c Tempat penyimpanan senjata api saat memasuki rumah sakit (tidak diperbolehkan ada senjata api di dalam rumah sakit). j Sistem panggilan petugas dan posisinya untuk kemungkinan memanggilnya dalam situasi darurat. f Pemeliharaan regular dari alat pemadam api ringan. d Ketentuan untuk mengingatkan dan memanggil penjaga untuk bertugas selama situasi darurat dan bencana.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana tinggi seperti laboratorium. c Daftar ambulans yang tersedia dan dapat digunakan dalam situasi darurat dan bencana. persediaan medik. obat-obatan untuk kondisi darurat. a b Tersedia unit pengaman (swasta atau organik). isinya yang sudah kadaluarsa dan harus diganti secara regular. 3 Sistem Komunikasi dan transportasi. TRANSPORTASI DAN SISTEM INFORMASI. 2 Sistem Keamanan. b Dilengkapi ambuans untuk transportasi korban dari lokasi ke rumah sakit. fasilitas komunikasi satelit). h i Latihan petugas untuk penggunaan alat pemadam api ringan. radio jinjing. a Fasilitas komunikasi cadangan (telepon seluler. d Daftar peralatan. e Koordinasi dengan pejabat setempat untuk membantu rumah sakit selama situasi darurat dan bencana. G KOMUNIKASI. dan petugas terlatih untuk ambulans. SOP yang ketat pada area berisiko tinggi tertentu seperti pintu masuk utama dan pintu keluar. k Sistem mengaktifkan dan menonaktifkan isyarat waspada. g Memenuhi pedoman untuk penempatan detektor api yang benar dan peralatan pemadam kebakaran. 5 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan 0 RI Kementerian Kesehatan . Kewaspadaan rumah sakit untuk selalu siap dan memobilisasi sumber daya dalam merespon tanda peringatan awal atau sinyal.

dan lembar deskripsi pekerjaan yang seragam Tersedia pusat operasi dan pusat operasi pengganti. (Contingency Plan) a Mudah diakses. e Prosedur berkomunikasi dengan publik dan media. b Pusat informasi publik yang dikoordiner oleh pekerja sosial dan dikelola oleh petugas atau relawan. H PERENCANAAN UNTUK SITUASI DARURAT DAN BENCANA. SOP dan protokol untuk manajemen darurat.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana 4 Sistem informasi publik a Pusat informasi publik dimana orang bisa memperoleh informasi tentang anggota keluarganya. 2 Rencana dalam situasi Darurat. d Prosedur untuk mengaktifkan dan menonaktifkan bencana. c d Pelatihan untuk petugas informasi tentang risiko komunikasi. rencana mengurangi kelemahan dan rencana pengembangan kapasitas. diuji. 5 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan 1 RI Kementerian Kesehatan . Kesadaran publik dan kampanye mendidik publik dengan pesanpesan peringatan dan risiko komunikasi. Rencana untuk perluasan layanan di saat tiba-tiba terjadi lonjakan pasien. pedoman. b c Termasuk rencana evakuasi dalam situasi darurat. 5 Sistem Manajemen Informasi a Persiapan sensus pasien yang dirawat. diperbaharui dan disebar luaskan kesiapan rumah sakit menghadapi situasi darurat. b c d Rekaman dan laporan yang benar menggunakan formulir standar. rencana merespon dan memulihkan termasuk pencegahan bahaya dan rencana penanggulangan. Cara berbagi informasi dengan pihak yang berwenang. b Sistem untuk mengaktifkan dan menonaktifkan Kelompok komando insiden. Rencana ini termasuk sistem. dan yang dirujuk ke rumah sakit yang lain. 1 Sistem komando insiden darurat di rumah sakit a Kepala Rumah Sakit sebagai pemegang komando insiden darurat dan staf lain mengisi kelompok komando insiuden. c d Dengan identifikasi. Sistem manajemen informai selama pemantauan kejadian dalam situasi darurat dan bencana.

memobilisasi sumber daya lain untuk situasi darurat. Pasokan air minum dan sumber pengganti air minum. dan perbaikan layanan kritis. 1 2 3 4 5 6 7 8 Pasokan listrik dan generator cadangan. 7 (tujuh) hari per minggu. I SUMBER DAYA MANUSIA. operasional 24 jam sehari. Instalasi pengolahan air limbah. Rencana darurat untuk tindakan medik yang dibutuhkan selama bencana yang berbeda. 3 Manual untuk pengoperasian. 1 Organisasi Komite Bencana Rumah Sakit dan Pusat Operasi Darurat. pengiriman tim yang merespon. d Komite keselamatan yang dikepalai oleh pimpinan yang mempromosikan keselamatan dalam rumah sakit terhadap semua bahaya. manajemen bencana dan darurat. Gas medik Standar dan cadangan sistem komunikasi. Pemadam kebakaran. Instalasi pengolahan limbah padat. respon dan pemulihan serta rencana respon rumah sakit lainnya. petugas teknisi manajemen darurat yang terlatih. c Kelompok perencana kesehatan darurat yang bertanggung jawab merumuskan rencana kesiapan. 5 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan 2 RI Kementerian Kesehatan . pemeliharaan pencegahan. sistem komputer.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana e f Pengaturan yang kooperatif dengan rencana darurat lokal. Cadangan bahan bakar. perawat. directori dan sistem komunikasi pengganti jika sistem gagal. a Komite Manajemen Krisis dengan tenaga ahli teknis yang dapat memberi nasehat komite eksekutif berkaitan dengan krisis. Memiliki kantor atau unit dengan petugas yang dilengkapi fasilitas komunikasi. paramedik dan pengemudi ambulans yang terlatih. bidan. termasuk bencana dengan potensi epidemik. e Pusat Operasional Rumah Sakit yang dipimpin oleh koordinator manajemen darurat rumah sakit yang bertanggung jawab memantau situasi darurat atau bencana. b Tim respon darurat yng terdiri dari dokter.

a Mengadakan latihan pemadaman api sekurang-kurangnya 2 kali dalam setahun. dan resusitasi cardiopulmonary. standar pertolongan pertama. 3 Evaluasi latihan simulasi darurat atau pemadaman sekurangkurang sekali dalam setahun.Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana 2 Kemampun Petugas Bangunan a Semua petugas kesehatan dilatih dasar-dasar penyelamatan jiwa. b Mengadakan simulasi pemadaman atau latihan sekurang- kurangnya sekali dalam setahun. d Manajer rumah sakit harus dilatih dalam hal sistem komando insiden darurat. J PEMANTAUAN DAN EVALUASI. 2 Evaluasi latihan pemadaman pada sekurang-kurangnya 2 kali dalam setahun. 5 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan 3 RI Kementerian Kesehatan . 1 Evaluasi Setelah kejadian darurat dan bencana yang telah di respon. b Petugas medik di ruang gawat darurat dilatih dalam hal membantu penyelamatan jiwa penyakit jantung lanjutan dan penyelamatan jiwa penyakit jantung anak-anak lanjutan. 3 Latihan pemadaman Kebakaran. yaitu Sistem komando Insiden dan untuk Insiden kecelakaan masa. c Responden rumah sakit yang dilatih mengikuti kursus teknis medik dalam situasi darurat.

Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman dalam situasi darurat dan bencana 5 Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan 4 RI Kementerian Kesehatan .