You are on page 1of 15

HIPOKONDRIASIS

Pembimbing: dr. M. Surya Husada, Sp.KJ Oleh: MICHAEL B WIJAYA 070100132

DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT JIWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA RUMAH SAKIT JIWA PROVSU MEDAN 2011

Oleh karenanya. cara mendiagnosa.KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas karunia dan rahmat-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh staff pengajar Departemen Ilmu Penyakit Jiwa atas segala bantuan yang telah diterima selama penyusunan makalah ini. ii . Penulisan makalah ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang pengertian hipokondriasis. Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih memiliki kekurangan dan jauh dari kesempurnaan dikarenakan keterbatasan kemampuan penulis. serta tatalaksana pasien dengan hipokondriasis menurut hasil penelitian yang terbaru agar didapatkan hasil yang optimal bagi para penderita. 1 Desember 2010 Penulis. penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk kesempurnaan laporan kasus ini. Medan.

...5 2........................3 2..................8 2....................... Hipokondriasis................................3 2.........................1.................................. Gambaran Klinis........................................... Prognosis........ Epidemiologi.............5...............8...11 DAFTAR PUSTAKA 12 iii ...................10 BAB 3 KESIMPULAN & SARAN 11 3........ Etiologi..........................................................3 2.....................................1.........2...1.....................................1........4 2.........................................................................................................................................1....1... Terapi............................................ Definisi...... Latar Belakang.............2.......................1.................................7 2................................ Tujuan Penulisan.................... Diagnosa Diferensial...........................................................................................................................3................1.........2 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 3 2............................1 1............Michael B............................... Wijaya DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ii DAFTAR ISI iii BAB 1 PENDAHULUAN 1 1....... Saran....................................................................................1....................2...........7.4..........................1.............11 3........1...................6...... Diagnosis...6 2....... Kesimpulan....1.............

Klinisi umumnya mengalami kesulitan dalam meyakinkan pasien hipokondriasis mengenai kondisinya.1 Pasien dengan hipokondriasis selalu dipenuhi dengan ketakutan ataupun kepercayaan bahwa diri mereka sendiri memiliki sebuah penyakit berat yang tidak terdiagnosa yang bermula dari interpretasi yang salah terhadap sensasi fisik tubuh yang ringan dan bersifat episodik. maupun jenis kelamin. Hipokondriasis ini tidak hanya refrakter terhadap pengobatan tetapi juga dapat menimbulkan berbagai komplikasi berupa efek samping pengobatan dan timbulnya gejala-gejala yang baru.1 Keluhan hipokondriasis juga dapat ditemukan pada 3% mahasiswa kedokteran yang umumnya terjadi pada 2 tahun pertama pendidikan.1. gangguan panik (pada 10-20% kasus).1 Kriteria diagnostik hipokondriasis juga memerlukan 1 .BAB 1 PENDAHULUAN 1. Pasien-pasien dengan kondisi tersebut tidak mengakui adanya faktor psikososial sebagai penyebab gejala yang dikeluhkan sehingga mereka cenderung tidak menyukai para klinisi yang berpendapat demikian. namun bersifat sesaat saja. ansietas dan banyak penyakit kronik lainnya. Disabilitas dan gangguan yang ditimbulkan oleh kondisi tersebut menyerupai kondisi yang ditimbulkan gangguan mood.2 Pada sekitar dua pertiga pasien dengan hipokondriasis.1 Hipokondriasis merupakan suatu gangguan yang dapat menimbulkan disabilitas dan bersifat kronik. dapat juga dijumpai gangguan psikiatri lainnya seperti depresi (pada 40% kasus). ras. tingkat edukasi. gangguan obsesif kompulsif (pada 5-10%) dan gangguan cemas menyeluruh.1 Latar Belakang Hipokondriasis merupakan salah satu gangguan dalam psikiatri yang umum dijumpai dengan prevalensi 4-6% pasien rawat jalan.4 Keadaan ini dapat berlanjut meskipun pasien telah diberi bukti bahwa tidak terdapat hal seperti yang dipikirkan pasien. Prevalensi ini tidak meningkat pada orang-orang dengan riwayat keluarga hipokondriasis dan tidak berhubungan dengan status sosioekonomi.

diperlukan adanya suatu pola penanganan yang lebih komprehensif terhadap penderita hipokondriasis agar didapatkan hasil yang optimal.3. 2 . Rumah Sakit Jiwa Provsu Medan.1.adanya bukti keterbatasan fungsional maupun distres berat yang berlangsung selama 6 bulan. 1. makalah ini juga dapat digunakan sebagai panduan klinisi dalam mengidentifikasi. Gejala somatik pasienpasien ini umumnya berupa sensasi fisiologik normal ( orthostatic dizziness) ataupun kondisi yang bersifat transient dan self-limiting (tinnitus transien). Selain itu.4 Pasien dengan hipokondriasis umumnya memiliki riwayat pengobatan yang ekstensif namun tidak memuaskan.3 Hipokondria dapat juga bersifat ringan maupun persisten dan mengakibatkan disabilitas dalam segi fungsional. mendiagnosa.3 Oleh karena itu. sensasi tersebut dapat menjadi pusat perhatian pasien dan pasien menjadi terpreokupasi dengan penyakit tersebut (illness as a way of life ). Selain itu. Perlu ditekankan bahwa pasien dengan hipokondriasis tidak menciptakan gejalagejala yang dirasakannya. Meskipun gejala tersebut bukan merupakan gejala tipikal penyakit yang berat.1.2 Tujuan Penulisan Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu syarat kelulusan di dalam Departemen Ilmu Penyakit Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. pasien tersebut juga dapat merasa diacuhkan oleh dokter-dokter yang menanganinya dan pergi berobat ke dokter lainnya. serta merawat pasien yang didiagnosa dengan hipokondriasis.

3.2 Epidemiologi Preokupasi dengan penyakit dapat dijumpai secara umum pada komunitas. karena pasien dengan hipokondriasis yakin akan penyakit yang dideritanya. Laki-laki dan wanita sama-sama dapat terkena hipokondriasis tanpa adanya perbedaan 3 . 9% diantaranya tidak mempercayai penjelasan yang telah diberikan oleh klinisi.4 2. dan mencerminkan seringnya keluhan abdomen yang dimiliki pasien dengan gangguan ini. Hipokondriasis disebabkan dari interpretasi pasien yang tidak realistik dan tidak akurat terhadap gejala atau sensasi fisik. yang menyebabkan preokupasi dan ketakutan bahwa mereka menderita penyakit yang serius. dapat dijumpai adanya rasa cemas terhadap penyakit yang bersifat intermiten dan tidak didasari alasan yang kuat serta diantara komunitas tersebut.BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Istilah “hipokondriasis” didapatkan dari sitilah medis yang lama “hipokondrium. studi populasi tersebut menunjukkan bahwa 4-9% pasien pada komunitas umum yang berobat memiliki gangguan hipokondriasis. Banyak pasien dapat menunjukkan gejala hipokondriasis sebagai bagian dari gangguan psikiatri lainnya. Penilaian insidensi dan prevalensi hipokondriasis memerlukan studi lebih lanjut pada komunitas yang lebih luas dan tidak hanya pada pasien psikiatri. Pada 10-20% manusia “normal” dan 45% pasien “neurotik”. kendatipun tidak ditemukan penyebab medis yang diketahui. Hingga kini. Hipokondriasis dapat didefinisikan sebagai seseorang yang berpreokupasi dengan ketakutan atau keyakinan menderita penyakit yang serius. dan beberapa memiliki gejala tersebut sebagai respon terhadap penyakit fisik berat yang baru dideritanya namun tidak memenuhi kriteria inklusi dari DSM-IV untuk hipokondriasis.” yang berarti di bawah rusuk.2. Gejala fisik dapat diinterpretasi secara luas sebagai adanya misinterpretasi fungsi tubuh yang normal.

3. Peran sakit memberikan peluang bagi seseorang untuk menghindari kewajiban berat. Diperkirakan 80% pasien dengan hipokondriasis mungkin memiliki gangguan depresif atau gangguan kecemasan yang ditemukan bersama-sama. Sebagai contoh. Gangguan yang paling sering dihipotesiskan berhubungan dengan hipokondriasis adalah gangguan depresif dan gangguan kecemasan.4 Menurut teori psikodinamik dorongan agresivitas dan permusuhan yang ditujukan kepada orang lain dipindahkan (lewat mekanisme represi dan displacement) ke dalam keluhan-keluhan somatik.4 2.4 Teori lainnya tentang penyebab hipokondriasis adalah bahwa gangguan ini adalah bentuk varian dari gangguan mental lain. menunda tangtangan yang tak dikehendaki dan mendapatkan permakluman untuk tidak memenuhi tugas dan tanggung jawabnya. Walaupun onset gejala dapat terjadi pada setiap usia. oleh pasien hipokondriasis dirasakan sebagai sakit perut. Pasien yang memenuhi kriteria diagnostik untuk hipokondriasis mungkin merupakan subtipe pensomatisasi (somatizing) dari gangguan lain tersebut. Kemarahan pasien hipokondriasis berasal dari ketidakpuasan. 2.kecenderungan. Namun pasien mengekspresikan kemarahannya di masa sekarang 4 . 2.4 Hipokondriasis dapat pula dipandang dari sudut model pembelajaran sosial.2. penolakan dan kehilangan di masa lalu.3 Etiologi Pasien dengan hipokondriasis memiliki skema kognitif yang salah. Orang hipokondriakal meningkatkan dan membesarkan sensasi somatik yang dirasakan. mereka memiliki ambang dan toleransi yang lebih rendah dari umumnya terhadap gangguan fisik. Mereka salah menginterpretasikan sensasi fisik. seseorang yang secara normal mempersepsikan sebagai rasa kembung. Gejala-gejala hipokondriasis dapat dilihat sebagai permintaan untuk mendapatkan peran sakit pada seseorang yang menghadapi masalah berat yang tak dapat diselesaikannya. onset paling sering antara usia 20 dan 30 tahun.

Kriteria diagnostik untuk hipokondriasis adalah: 2. F. tipe somatik) dan tidak terbatas pada kekhawatiran yang terbatas tentang penampilan (seperti pada gangguan dismorfik tubuh).dengan mencari bantuan dan kepedulian dari orang lain yang kemudian dicampakkannya dengan alasan tersebut tidak efektif. pekerjaan.3. gangguan obsesif-kompulsif. Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan kecemasan umum.4 2. atau gangguan somatoform lain. E. atau ide bahwa ia menderita. Preokupasi dengan ketakutan menderita. Keyakinan dalam kriteria A tidak memiliki intensitas waham (seperti pada gangguan delusional.5 A. gangguan panik. D. atau fungsi penting lain. C. B. suatu penyakit serius didasarkan pada interpretasi keliru orang tersebut terhadap gejala-gejala tubuh.4.4 Diagnosis Kategori diagnostik DSM-IV TRuntuk hipokondriasis mengharuskan bahwa pasien terpreokupasi dengan keyakinan palsu bahwa ia menderita penyakit yang berat dan keyakinan palsu tersebut didasarkan pada misinterpretasi tanda atau sensasi fisik. Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial. Lama gangguan sekurangnya 6 bulan. 2. dan sebagai tanda dari kepedulian berlebihan terhadap diri sendiri. ganggian depresif berat. Rasa sakit dan penderitaan somatik menjadi penebusan dan peniadaan yang dihayati sebagai hukuman terhadap kesalahan di masa lalu dan perasaan bahwa dirinya jahat serta berdosa. 5 . cemas perpisahan. Preokupasi menetap walaupun telah dilakukan pemeriksaan medis yang tepat dan penentraman. Hipokondriasis juga dipandang sebagai pertahanan terhadap rasa bersalah.

untuk sebagian besar waktu selama episode terakhir. perjalanan ringan dari penyakit yang ringan dengan berjalannya waktu. dengan berjalannya waktu. dan mereka tidak dapat diyakinkan akan kebalikannya. Hipokondriasis sering kali disertai suatu gangguan depresif atau kecemasan.5 Gambaran Klinis Pasien hipokondriakal percaya bahwa mereka menderita penyakit yang parah yang belum dapat dideteksi. paling sering kematian atau penyakit berat pada seseorang yang penting bagi pasien atau penyakit serius (kemungkinan membahayakan hidup) yang telah disembuhkan tetapi meninggalkan pasien hipokondriakal secara sementara dengan akibatnya. 2. Keyakinan tersebut menetap walaupun hasil laboratorium adalah negatif. atau. Setiap episode berlangsung berbulan-bulan sampai tahunan dan dipisahkan oleh periode 6 .3. Hipokondriakal sementara sebagai respons dari stres eksternal biasanya menyembuh jika stres dihilangkan. Keadaan hipokondriakal tersebut yang berlangsung kurang dari enam bulan harus didiagnosis sebagai gangguan somatoform yang tidak ditentukan. orang tidak menyadari bahwa kekhawatirannya tentang menderita penyakit serius adalah berlebihan atau tidak beralasan. Walaupun DSM-IV menyebutkan bahwa gejala harus ada selama sekurangnya enam bulan.4. Perjalanan penyakit hipokondriasis biasanya episodic. mereka mungkin mengubah keyakinannya tentang penyakit tertentu. keadaan hipokondriakal sementara (transient) dapat terjadi setelah stres berat. dan penentraman yang tepat dari dokter.5 2. Tetapi keyakinan tersebut tidak sangat terpaku sehingga merupakan suatu waham. Pasien hipokondriakal dapat mempertahankan suatu keyakinan bahwa mereka memiliki satu penyakit tertentu. tetapi dapat menjadi kronis jika diperkuat oleh orang-orang di dalam sistem sosial pasien atau oleh professional kesehatan.Sebutkan jika: dengan tilikan buruk: jika.

Terdapat asosiasi yang kuat antara kekambuhan hipokondriasis dengan stresor psikososial. pasien dengan skizofrenia yang juga memiliki delusi tersebut akan menunjukkan gejala lainnya seperti pembicaraaan yang terdisorganisir. Seringkali. Pasien yang delusional tidak akan mengakui hal tersebut.4 Membedakan hipokondriasis dengan gangguan delusional tipe somatik dapat sulit dilakukan karena hanya terdapat perbedaan tipis antara preokupasi pikiran dan ketakutan akan penyakit. seperti saat seorang pasien mengakui bahwa ia mencoba untuk tidak defekasi karena hal tersebut dapat menyebabkan otaknya berubah menjadi agar-agar. 3. halusinasi dan delusi lainnya.6 Diagnosa Diferensial Hipokondriasis dapat dibedakan dari gangguan somatoform lainnya seperti nyeri. perlu dibedakan apakah kepercayaan yang ada merupakan suatu bentuk delusi. 2.3 Selanjutnya. Delusi somatik penyakit yang berat dapat dilihat pada beberapa kasus skizofrenia dan gangguan delusional jenis somatik. Secara umum. konversi dan gangguan somatisasi dengan ciri khasnya yaitu adanya preokupasi dengan dan ketakutan pada penyakit yang didasarkan pada misinterpretasi gejala-gejala tubuh. Kepercayaan bahwa penyakit yang diderita disebabkan oleh hal-hal yang aneh juga dapat dijumpai. Pasien dengan gangguan somatoform lainnya umumnya dapat juga memiliki ketakutan pada kemungkinan adanya penyakit mendasar namun gejala yang lebih dominan adalah adanya fokus berlebih pada gejala yang dirasakan. umumnya dapat mengakui bahwa rasa khawatir yang dimilikinya tidak memiliki dasar yang kuat. dan bukan pada gejala yang dirasakan.tenang yang sama lamanya.4 2. Pasien dengan hipokondriasis. cara praktis untuk membedakan kedua kondisi tersebut adalah dengan memastikan apakah pasien dapat mengakui bahwa kepercayaannya tidak memiliki bukti 7 . keanehan pikiran maupun tingkah laku. meskipun mengalami preokupasi pikiran. Pasien skizofrenik juga dapat menunjukkan perbaikan dengan pengobatan neuroleptik.

Sindrom dengan waktu yang belum mencapai 6 bulan didiagnosa dengan gangguan somatoform yang tidak tergolongkan ataupun gangguan penyesuaian jika kondisi tersebut muncul setelah pasien mengalami stres. maka diagnosa tersebut dapat ditambahkan ke diagnosa hipokondriasis.4 2. restrukturisasi kognitif.4 Preokupasi pada hipokondriasis menyerupai obsesi dan pemeriksaan kesehatan serta usaha untuk mendapatkan jawaban menyerupai komponen kompulsi dari gangguan obsesif kompulsif. seperti monitoring secara mandiri. 3. Konsep ini menekankan bahwa emosi ataupun distress tingkah laku dipengaruhi oleh cara persepsi. Cognitive-Behavioral Therapy (CBT) CBT merupakan sebuah pendekatan terapi yang beranggapan bahwa kognisi. manipulasi. tujuan terapi adalah untuk mengembangkan sebuah struktur kognitif yang lebih rasional dan adaptif. dan pengujian hipotesis. jika manifestasi tersebut hanya menyangkut masalah kesehatan. Namun.7 Terapi Pendekatan manajemen hipokondriasis mencakup: 1 a. dan respon seseorang terhadap informasi yang tercakup didalam sistem kognitifnya. Jika pada pasien dapat ditemukan obsesi dan kompulsi terhadap hal yang tidak berkaitan dengan medis. serta kelakuan bermasalah melalui teknik yang secara aktif melibatkan partisipasi klien. diagnosa gangguan obsesif kompulsif tidak ditegakkan. dan tingkah laku merupakan satu kesatuan yang berkaitan secara fungsional. pertimbangan selanjutnya adalah memastikan apakah durasi kondisi tersebut telah mencapai 6 bulan. fisiologi.6 8 . tingkah laku. Terapi ditujukan pada identifikasi dan modifikasi proses pikir yang mengalami bias ataupun distorsi. Dengan demikian. Jika pasien telah dipastikan tidak delusional. 1.yang kuat ataupun merupakan kepercayaan yang salah. 3. yang dengan kemudian dipandang sebagai sebuah jalan untuk memperbaiki afek dan pola perilaku maladaptif.

venlafaxine. Sebuah meta analisis terbaru menyimpulkan bahwa terapi antidepresan jauh lebih efektif dibandingkan placebo pada lebih dari dua pertiga studi pada kelompok pasien dengan nyeri kepala. fibromialgia. Pasien demikian juga seringkali tidak mengikuti regimen pengobatan yang diberikan karena efek samping yang dialaminya. Karena berbagai efek samping yang ada. serangan panic. yang kemudian dinaikkan secara bertahap. dan fatique. dan jika telah diterapi secara adekuat. 1-4 c. Terdapat pula banyak bukti yang mendukung penatalaksanaan gangguan psikiatrik yang seringkali menyertai hipokondriasis. Strategi manajemen medis 9 . tinnitus. Farmakoterapi standar untuk gangguan psikiatri umum yang sering menyertai hipokondriasis (depresi mayor.7 Farmakoterapi untuk gangguan tersebut dapat mencakup penggunaan terapi dengan dosis tinggi dan berkepanjangan (selama delapan minggu atau lebih) sebelum respon adekuat dapat ditemukan. dll. irritable bowel syndrome. terapi perlu dimulai dengan dosis subterapeutik. paroxetine. farmakoterapi untuk pasien dengan gejala yang tidak dapat dijelaskan secara medis (terutama nyeri kronis) telah dilakukan. gangguan obsesif-kompulsif) mencakup penggunaan obat-obatan seperti fluoxetine. gejala hipokondriakal juga akan berkurang. Efek terapetik yang diberikan tidak boleh dijelaskan ataupun ditekankan secara berlebihan pada pasien hipokondriasis dan berbagai efek samping yang mungkin muncul juga perlu dijelaskan sebelumnya. nyeri kronik.b. Terapi psikofarmakologik (antidepresan) Meskipun farmakoterapi untuk hipokondriasis belum secara dalam dievaluasi. Gangguan-gangguan ini respon terhadap farmakoterapi. Kedua jenis terapi tersebut (CBT dan paroxetine) juga tidak berbeda jauh dalam hal efikasi.1-4 Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan paroxetine yang dikombinasikan dengan CBT dapat memberikan hasil yang optimal dibandingkan dengan placebo. alprazolam.

tidak adanya gangguan kepribadian. Data yang ada menunjukkan bahwa 25% pasien dengan hipokondriasis memiliki prognosa buruk.- Kontrol ulang pengobatan secara rutin Komunikasi diagnostik dan terapeutik Validasi gejala pasien Penjelasan gejala pasien Diagnosa dan terapi kondisi psikiatrik yang menyertai Utamakan perhatian dan bukan penyembuhan (care rather than cure)1-4 2. pengobatan terhadap cemas dan depresi yang responsif.3 10 .3 Penderita hipokondriasis sering dijumpai pada usia dewasa muda. 2. dan 10% lainnya sembuh.8 Prognosis Prognosis yang baik pada pasien hipokondriasis berkaitan dengan status sosial-ekonomi yang tinggi. 65% lainnya menunjukkan perjalanan penyakit yang kronik dan berfluktuasi. dan tidak ada kondisi medik nonpsikiatrik yang terkait. awitan dari gejala yang mendadak.

3. dan juga teori psikodinamik. Hipokondriasis itu sendiri merupakan suatu preokupasi seseorang dengan ketakutan atau keyakinan menderita penyakit yang serius. model varian dari gangguan mental lain. Penatalaksaan hipokondriasis menurut penelitian yang ada adalah dengan menggunakan Cognitive Behavioral Therapy. pengobatan terhadap cemas dan depresif yang responsif.1 Kesimpulan Hipokondriasis merupakan salah satu gangguan psikiatri yang umum dijumpai dengan prevalensi 4-6% pasien rawat jalan. 11 . dan tidak adanya kondisi medik nonpsikiatrik yang terkait. terapi psikofarmakologik untuk gangguan yang menyertai dan juga dengan menggunakan strategi manajemen medis seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Pasien-pasien dengan hipokondriasis tersebut cenderung meminta untuk dilakukan berbagai pemeriksaan klinis yang tidak bermanfaat dan cost-effective sehingga jika seorang klinisi dapat mengenali pasien hipokondriasis sejak awal. Etiologi dari hipokondriasis ini dapat dijelaskan dengan berbagai teori seperti model pembelajaran sosial.BAB 3 KESIMPULAN DAN SARAN 3. Hal ini disebabkan adanya interpretasi pasien yang tidak realistik dan tidak akurat terhadap gejala atau sensasi fisik yang dirasakan. tidak adanya gengguan kepribadian. Diagnosis hipokondriasis merujuk kepada kriteria diagnostik yang terdapat didalam DSM-IV TR. awitan dari gejala yang mendadak.2 Saran Adapun saran yang dapat diberikan untuk para klinisi yang terkait berupa pentingnya kewaspadaan terhadap pasien-pasien dengan sangkaan hipokondriasis. Prognosa yang baik umumnya dapat dijumpai pada pasien hipokondriasis dengan status sosial-ekonomi yant inggi. tatalaksana psikiatri dan psikofarmaka dapat segera diterapkan.

4. G. Elvira. 3. Kay. Am J Psychiatry 164: 91-99. 12 . B... 2002. 345(19): 1395-1399. 5. I. England: John Wiley & Sons Ltd. USA: Elsevier Science. dan Grebb. Barsky. Tangerang: Binarupa Aksara. Buku Ajar FK UI.. dan Sledge. Sinopsis Psikiatri Jilid Dua. N Engl J Med Vol.. A. S. 7. Jakarta: FK UI. A. H. 2007. Kaplan. W.. Hersen.. Encyclopedia of Psychotherapy. J. 2. 2011.. dan Hadisukanto. 2010. D. Washington: American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders Fourth Edition Text Revision. dan Tasman.. et al. Cognitive Behavior Therapy and Paroxetine in the Treatment of Hypochondriasis: A Randomized Controlled Trial. Greeven. 2006. The Patient With Hypochondriasis. M. 2010. A.. Essentials of Psychiatry.. Jerald. Saddock. 6.. 2000. American Psychiatric Association.DAFTAR PUSTAKA 1. J.. A. J.