Askep Fraktur Femur

.
Definisi Fraktur Femur

Fraktur femur adalah rusaknya kontinuitas tulang pangkal paha yang dapat disebabkan oleh trauma langsung, kelelahan otot, kondisi-kondisi tertentu seperti degenerasi tulang / osteoporosis.

Anatomi Fisiologi Fraktur

Persendian panggul merupakan bola dan mangkok sendi dengan acetabulum bagian dari femur, terdiri dari : kepala, leher, bagian terbesar dan kecil, trokhanter dan batang, bagian terjauh dari femur berakhir pada kedua kondilas. Kepala femur masuk acetabulum. Sendi panggul dikelilingi oleh kapsula fibrosa, ligamen dan otot. Suplai darah ke kepala femoral merupakan hal yang penting pada faktur hip. Suplai darah ke femur bervariasi menurut usia. Sumber utamanya arteri retikuler posterior, nutrisi dari pembuluh darah dari batang femur meluas menuju daerah tronkhanter dan bagian bawah dari leher femur.
Klasifikasi Fraktur

Ada 2 type dari fraktur femur, yaitu : 1. Fraktur Intrakapsuler; femur yang terjadi di dalam tulang sendi, panggul dan kapsula. • Melalui kepala femur (capital fraktur) • Hanya di bawah kepala femur • Melalui leher dari femur 2. Fraktur Ekstrakapsuler; • Terjadi di luar sendi dan kapsul, melalui trokhanter femur yang lebih besar/yang lebih kecil /pada daerah intertrokhanter. • Terjadi di bagian distal menuju leher femur tetapi tidak lebih dari 2 inci di bawah trokhanter kecil.
Patofisiologi Fraktur

Penyebab Fraktur Adalah Trauma Fraktur patologis; fraktur yang diakibatkan oleh trauma minimal atau tanpa trauma berupa

yang disebabkan oleh suatu proses., yaitu : • Osteoporosis Imperfekta • Osteoporosis • Penyakit metabolik Trauma Dibagi menjadi dua, yaitu : Trauma langsung, yaitu benturan pada tulang. Biasanya penderita terjatuh dengan posisi miring dimana daerah trokhanter mayor langsung terbentur dengan benda keras (jalanan). Trauma tak langsung, yaitu titik tumpuan benturan dan fraktur berjauhan, misalnya jatuh terpeleset di kamar mandi pada orangtua.
Tanda Dan Gejala Fraktur

• Nyeri hebat di tempat fraktur • Tak mampu menggerakkan ekstremitas bawah • Rotasi luar dari kaki lebih pendek • Diikuti tanda gejala fraktur secara umum, seperti : fungsi berubah, bengkak, kripitasi, sepsis pada fraktur terbuka, deformitas.
Penatalaksanaan Medik Fraktur

• X.Ray • Bone scans, Tomogram, atau MRI Scans • Arteriogram : dilakukan bila ada kerusakan vaskuler. • CCT kalau banyak kerusakan otot.
Traksi

Penyembuhan fraktur bertujuan mengembalikan fungsi tulang yang patah dalam jangka waktu sesingkat mungkin Metode Pemasangan traksi: Traksi Manual Tujuan : Perbaikan dislokasi, Mengurangi fraktur, Pada keadaan Emergency. Dilakukan dengan menarik bagian tubuh.
Traksi Mekanik

Ada dua macam, yaitu : Traksi Kulit Dipasang pada dasar sistem skeletal untuk struktur yang lain, misalnya: otot. Traksi kulit terbatas untuk 4 minggu dan beban < 5 kg. Untuk anak-anak waktu beban tersebut mencukupi untuk dipakai sebagai fraksi definitif, bila tidak diteruskan dengan pemasangan gips.
Traksi Skeletal

Merupakan traksi definitif pada orang dewasa yang merupakan balanced traction. Dilakukan untuk menyempurnakan luka operasi dengan kawat metal atau penjepit melalui tulang/jaringan metal.

Traksi Russell’s Traksi ini digunakan untuk frakstur batang femur. Tarikan dipertahankan sampai 2 minggu atau lebih. panas. terbatasnya gerakan • Kehilangan fungsi • Apakah klien mempunyai riwayat penyakit osteoporosis b. Kadang-kadang juga digunakan untuk terapi nyeri punggung bagian bawah.Kegunaan Pemasangan Traksi Traksi yang dipasang pada leher. Digunakan untuk immibilisasi tungkai lengan untuk waktu yang singkat atau untuk mengurangi spasme otot. kapan terjadinya kecelakaan atau trauma • Bagaimana dirasakan. Traksi kulit untuk skeletal yang biasa digunakan. Riwayat perjalanan penyakit • Keluhan utama klien datang ke RS atau pelayanan kesehatan • Apa penyebabnya. Sementara itu otot-otot paha dapat dilatih secara aktif. Traksi khusus untuk anak-anak Penderita tidur terlentang 1-2 jam. sampai tulangnya membentuk callus yang cukup. • Mengencangkan pada perlekatannya. Traksi Ekstension (Buck’s Extention) Lebih sederhana dari traksi kulit dengan menekan lurus satu kaki ke dua kaki. terutama pada wanita . adanya nyeri. bengkak • Perubahan bentuk. sedang tungkai bawah ditopang atau Pearson attachment. dipasang staples pada steiman pen. Traksi ini dibuat sebuah bagian depan dan atas untuk menekan kaki dengan pemasangan vertikal pada lutut secara horisontal pada tibia atau fibula. Askep Fraktur Femur Pengkajian Keperawatan 1. Paha ditopang dengan thomas splint. di bawah tuberositas tibia dibor dengan steinman pen. Riwayat keperawatan a. di tungkai. Riwayat pengobatan sebelumnya • Apakan klien pernah mendapatkan pengobatan jenis kortikosteroid dalam jangka waktu lama • Apakah klien pernah menggunakan obat-obat hormonal. lengan atau panggul. Macam – Macam Traksi Traksi Panggul Disempurnakan dengan pemasangan sebuah ikat pinggang di atas untuk mengikat puncak iliaka. kegunaannya : • Mengurangi nyeri akibat spasme otot • Memperbaiki dan mencegah deformitas • Immobilisasi • Difraksi penyakit (dengan penekanan untuk nyeri tulang sendi).

Inspeksi daerah mana yang terkena . dan pengobatan sehubungan dengan kesalahan dalam penafsiran. Ht) Rasional: a)Untuk mengetahui tanda-tanda syok sedini mungkin . Gangguan aktivitas sehubungan dengan kerusakan neuromuskuler skeletal. Proses pertolongan pertama yang dilakukan • Pemasangan bidai sebelum memindahkan dan pertahankan gerakan diatas/di bawah tulang yang fraktur sebelum dipindahkan • Tinggikan ekstremitas untuk mengurangi edema 2. stress. Palpasi • Bengkak.Perubahan warna kulit . ekimosis sekitar lokasi cedera . nyeri. lokasi. dan banyaknya per darahan c)Memberikan posisi supinasi d)Memberikan banyak cairan (minum) Kolaborasi: a)Pemberian cairan per infus b)Pemberian obat koagulan sia (vit. b)Mengkaji sumber. Resiko terjadinya syok s/d perdarahan yg banyak 2.Edema. immobilisasi. Adona) dan penghentian perdarahan dgn fiksasi. dingin • Observasi spasme otot sekitar daerah fraktur Diagnosa Keperawatan pada Fraktur Femur 1. Mengidentifikasi tipe fraktur b.Laserasi . tidak familier dengan sumber informasi.Deformitas yang nampak jelas . Kurangnya pengetahuan tentang kondisi. prognosa. Rencana Keperawatan Diagnosa 1 Resiko terjadinya syok s/d perdarahan yg banyak Intervensi Indenpenden: a)Observasi tanda-tanda vital. adanya nyeri dan penyebaran • Krepitasi • Nadi. Potensial infeksi sehubungan dengan luka terbuka. pemasangan back slab.• Berapa lama klien mendapatkan pengobatan tersebut • Kapan klien mendapatkan pengobatan terakhir c.Kehilangan fungsi daerah yang cidera c. dan cemas. Pemeriksaan fisik a.K. luka pada jaringan lunak. Gangguan rasa nyaman: Nyeri s/d perubahan fragmen tulang. 4. c)Pemeriksaan laboratorium (Hb. 3.

d)Untuk mencegah kekurangan cairan (mengganti cairan yang hilang) e)Pemberian cairan perinfus. Diagnosa 2 Gangguan rasa nyaman: Nyeri s/d perubahan fragmen tulang. durasi. b) Mencegah pergeseran tulang dan penekanan pada jaringan yang luka. g)Untuk mengetahui kadar Hb. Kolaborasi: a) Konsul dengan bagian fisioterapi . Independen: a) Kaji tingkat immobilisasi yang disebabkan oleh edema dan persepsi pasien tentang immobilisasi tersebut. monitor kebiasa an eliminasi dan menganjurkan agar b. membaca kora. dll ). pemasangan back slab. b) Mendorong partisipasi dalam aktivitas rekreasi (menonton TV. dan mengurangi nyeri. e) Mengurangi rasa nyeri Diagnosa 3 Gangguan aktivitas sehubungan dengan kerusakan neuromuskuler skeletal. f) Memberikan diit tinggi protein . menurunkan edem.b.a. Ht apakah perlu transfusi atau tidak. d) Membantu pasien dalam perawatan diri e) Auskultasi bising usus. luka pada jaringan lunak. nyeri. immobilisasi. c) Menganjurkan pasien untuk melakukan latihan pasif dan aktif pada yang cedera maupun yang tidak. stress. d) Untuk mempersiapkan mental serta agar pasien berpartisipasi pada setiap tindakan yang akan dilakukan. d) Menjelaskan seluruh prosedur di atas Kolaborasi: e) Pemberian obat-obatan analgesik Rasional a) Untuk mengetahui tingkat rasa nyeri sehingga dapat menentukan jenis tindak annya. vitamin . dan mineral. dan cemas Intervensi Independen: a) Mengkaji karakteristik nyeri : lokasi. c) Peningkatan vena return.b)Untuk menentukan tindak an c)Untuk mengurangi perdarahan dan mencegah kekurangan darah ke otak. teratur. intensitas nyeri dengan menggunakan skala nyeri (0-10) b) Mempertahankan immobilisasi (back slab) c) Berikan sokongan (support) pada ektremitas yang luka. f)Membantu proses pembekuan darah dan untuk menghentikan perdarahan.

e) Bedrest. d) Membantu meng. mempertahankan mobilitas sendi. dan harapan yang akan datang.Pasien akan membatasi gerak karena salah persepsi (persepsi tidak proposional) b) Memberikan kesempatan untuk mengeluarkan energi. d) Mengidentifikasi pelayanan umum yang tersedia seperti team rehabilitasi. c) Mengorganisasikan kegiatan yang diperlu kan dan siapa yang perlu menolongnya. penggunaan analgetika dan perubahan diit dapat menyebabkan penurunan peristaltik usus dan konstipasi. Catatan : Untuk sudah dilakukan traksi. perawat keluarga (home care) e) Mendiskusikan tentang perawatan lanjutan. Untuk menentukan program latihan. dan pengo. d) Meningkatkan kekuatan dan sirkulasi otot. b) Memberikan dukungan cara-cara mobilisasi dan ambulasi sebagaimana yang dianjurkan oleh bagian fisioterapi. c) Memilah-milah aktifitas yang bisa mandiri dan yang harus dibantu. meningkatkan pasien dalam mengontrol situasi. (apakah fisioterapi. memusatkan perhatian. mencegah kontraktur / atropi dan reapsorbsi Ca yang tidak digunakan. Independen: a) Menjelaskan tentang kelainan yang muncul prognosa. Diagnosa 4 Kurangnya pengetahuan tentang kondisi. meningkatkan kemauan pasien untuk sembuh. Daftar Kepustakaan .nafsiran. f) Mempercepat proses penyembuhan. e) Penyembuhan fraktur tulang kemungkinan lama (kurang lebih 1 tahun) sehingga perlu disiapkan untuk perencanaan perawatan lanjutan dan pasien koopratif. b) Sebagian besar fraktur memerlukan penopang dan fiksasi selama proses penyembuhan sehingga keterlambatan penyembuhan disebabkan oleh penggunaan alat bantu yang kurang tepat. prognosa. tidak familier dengan sumber in. Rasional: a) Pasien mengetahui kondisi saat ini dan hari depan sehingga pasien dapat menentukan pilihan.fasilitaskan perawatan mandiri memberi support untuk mandiri. c) Meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk meningkatkan tonus otot. mencegah penurunan BB.formasi. perawat atau keluarga).batan sehubungan dengan kesalahan dalam pe. meningkatkan perasaan mengontrol diri pasien dan membantu dalam mengurangi isolasi sosial. karena pada immobilisasi biasanya terjadi penurunan BB (20 – 30 lb).

Louis.A. F. Cv. Davis Company. Guidlines for Planning Patient Care (2 nd ed ).Doenges M. Long. . BC and Phipps WJ (1985) Essential of Medical Surgical Nursing : A Nursing Process Approach St. (1989) Nursing Care Plan. Philadelpia. Mosby Company.E.

(4) Tipe 4: tipe 1 atau tipe 2 ditambah fraktur acetabulum Femoral Neck fraktur Berdasarkan klasifikasi Pauwel: (1) Tipe 1: sudut inklinasi garis fraktur <30°. (3) Garden 3: fraktur lengkap. (4) Garden 4: Fraktur lengkap disertai pergeseran penuh Trochanteric fraktur Diklasifikasikan menjadi 4 tipe (1) Tipe 1: fraktur melewati trokanter mayor dan minor tanpa pergeseran. Ruang lingkup Fraktur tulang femur terdiri atas: Femoral Head fracture. alkoholism. Bisa disertai perdarahan masif sehingga berakibat syok b. Sering terjadi pada usia 60 tahun ke atas. dan jarang berolahraga. biasanya tulang bersifat osteoporotik. (2) Femoral Trochanteric fraktur karena trauma langsung atau trauma yang bersifat memuntir. (2) Tipe 2: fraktur diatas fovea. (3) Femoral Shaft fraktur terjadi apabila pasien jatuh dalam posisi kaki melekat pada dasar disertai putaran yang diteruskan ke femur. (2) Tipe 2: sudut inklinasi garis fraktur 30-50°. Mekanisme trauma yang berkaitan dengan terjadinya fraktur pada femur antara lain: (I) pada jenis Femoral Neck fraktur karena kecelakaan lalu lintas. pada pasien awal menopause. Supracondylar/Intercondylar Femoral fracture (Distal Femoral fracture) Femoral Head fraktur Berdasarkan klasifikasi Pipkin: (1) Tipe 1: fraktur dibawah fovea. (4) Tipe 4: fraktur disertai fraktur spiral Femoral Shaft fraktur . Fraktur patologis biasanya terjadi akibat metastasis tumor ganas. (2) Garden 2: fraktur lengkap. (3) Tipe 3: tipe 1 atau tipe 2 ditambah fraktur femoral neck. berat badan rendah. phenytoin. jatuh pada tempat yang tidak tinggi. merokok. Subtrochanteric fracture.Introduksi a. Fraktur bisa bersifat transversal atau oblik karena trauma langsung atau angulasi. merupakan trauma high energy. Definisi   Fraktur yang terjadi pada tulang femur. Femoral Shaft fracture. (3) Tipe 3: fraktur disertai fraktur komunitif. tidak ada pergeseran. disertai pergeseran tapi masih ada perlekatan atau inkomplet disertai pergeseran tipe varus. terapi steroid. terpeleset di kamar mandi dimana panggul dalam keadaan fleksi dan rotasi. Femoral Neck fracture. (2) Tipe 2: fraktur melewati trokanter mayor disertai pergeseran trokanter minor. Intertrochanteric fracture. (3) Tipe 3 : sudut inklinasi garis fraktur > 70° Berdasarkan klasifikasi Garden: (1) Garden 1: Fraktur inkomplet atau tipe abduksi/valgus atau impaksi.

transversal.Klasifikasi OTA: (1) Tipe A: Simple fraktur. (3) Tipe 2: 25-50% butterfly. Indikasi Operasi Pada fraktur femur anak. Indikasi pada anak dan remaja. Pipkin IV diterapi dengan cara yang sama pada fraktur acetabulum. Konservatif berupa pemasangan skin traksi selama 12-16 minggu. oblik. femur atau proksimal tibia. leukosit. hemiarthroplasti dan arthtroplasti total. Pipkin III pada dewasa muda dengan ORIF. Beban traksi 9 kg dan posisi lutut turns selama 12 minggu. (2) Tipe II A : fraktur suprakondiler dan kondiler dengan sebagian metafise (bentuk Y). Grantham. Sedangkan pemeriksaan laboratorium antara lain hemoglobin. indikasi konservatif sangat terbatas. dilakukan terapi berdasarkan tingkatan usia. Tipe II B : bagian metafise lebih kecil. prinsipnya adalah reduksi dulu dislokasi panggul. reposisi dan immobilisasi. (4) Tipe 3: >50% communition. II dengan peranjakan >1mm diterapi dengan ORIF. CT. untuk terapi konservatif. Juga dinilai gangguan sensoris daerah jari I dan II. Untuk fraktur femur dewasa. (3) Tipe C: Segmental communition Klasifikasi Winquist-Hansen: (1) Type 0: no communition. plate dan screw atau arthroplasti (pada pasien usia >55 tahun). Selain itu ditemukan nyeri dan bengkak. sedangkan pada dewasa tua dengan endoprothesis. Sedangkan operatif dilakukan pemasangan pin. Fraktur Shaft femur bisa dilakukan ORIF dan terapi konservatif. Pipkin I. Sedangkan untuk intercondylar. Terapi konsevatif hanya bersifat untuk mengurangi spasme. Anak diperbolehkan pulang dengan hemispica. c. Pada anak usia baru lahir hingga 2 tahun dilakukan pemasangan bryant traksi. Untuk pemeriksaan penunjang berupa foto roentgen posisi anteroposterior dan lateral. juga pulsasi arteri distal. Sedangkan usia 2-5 tahun dilakukan pemasangan thomas splint. beban traksi 6 kg. (3) fraktur suprakondiler komunitif dengan fraktur kondiler tidak total Untuk penegakkan diagnosis diperlukan diperlukan pemeriksaan fisik. Pada anak usia 5-10 tahun ditatalaksana dengan skin traksi dan pulang dengan hemispica gips. . trombosit. Sedangkan usia 10 tahun ke atas ditatalaksana dengan pemasangan intamedullary nails atau plate dan screw. Shelton (1) Tipe 1: fraktur suprakondiler dan kondiler bentuk 1. ditemukan pemendekkan dan rotasi eksternal. selama 12-14 minggu. (6) Tipe 5 : segmental dengan bone loss Supracondylar/Intercondylar Femoral fraktur (Distal Femoral fraktur) Klasifikasi Neer. antara lain fraktur spiral. Penanganan konservatif dilakukan pada supracondylar dan intercondylar. (2) Tipe 1: 25% butterfly. (2) Tipe B: wedge/butterfly comminution fraktur. berupa eksisi arthroplasti. Pada fraktur tipe femoral neck dan trochanteric. II post reduksi diterapi dengan touch down weight-bearing 4-6 minggu. BT. Pipkin I. (5) tipe segmental . tipe Femoral Head. Tipe Femoral Neck. Fraktur Trochanteric yang tidak bergeser dilakukan terapi konservatif dan yang bergeser dilakukan ORIF.

Bagian kulit yang tertembus dibuat sayatan.Ukur panjang K-nail. .Bebaskan periosteum untuk mencapai kedua fragmen fraktur.Approach posterolateral dari trochanter mayor ke condylus lateral sepanjang 15cm di atas daerah fraktur . untuk menghindari nekrosis tulang sekitar insersi pin (bila menggunakan alat otomatis). Approach bagian medial untuk distal femur dan lateral untuk proksimal tibia Wire diinsersikan dengan menggunakan hand drill. Insisi dengan pisau no. Anestesi disuntikkan hingga ke periosteum. Cast bracing dilakukan bila terjadi clinical union. dengan fleksi pada art genu. f. Anestesi lokal dengan lidokain 1%. Kontraindikasi Operasi Pada pasien dengan fraktur terbuka. adanya thromboplebitis dan pneumonia. Mikulicz line.Pasien tidur miring ke sisi sehat dengan fleksi sendi panggul dan lutut .Fascia lata dibelah dan m.5 Pemasangan K-Nail (Kuntscher-Nail) secara terbuka pada fraktur femur 1/3 tengah — > Adapun teknik pemasangan K-nail adalah sebagai berikut: . Prosedur aseptik/antiseptik Approach.Bebaskan kedua fragmen fraktur dari darah dan otot .level fraktur terlalu distal atau proksimal dan fraktur sangat kominutif. Atau pada pasien yang kondisi kesehatan tidak memungkinkan untuk operasi. Jika perlu dilakukan foto perbandingan. Pada proximal tibia 1 inchi inferior dan 5 inchi inferior tubercle tibia. dengan posisi fleksi dan adduksi sendi panggul. CT Scan dan MRI. pada distal femur 1 inchi inferior tubercle adduktor. . Kontraindikasi untuk traksi. Teknik Terapi Konservatif Operasi Pemasangan skeletal traksi        Pasien berbaring posisi supine.K-nail dipasang dengan guide menghadap posteromedial .11. diperlukan debridement hingga cukup bersih untuk dilakukan pemasangan ORIF. Pada anak. d. Pemeriksaan Penunjang Foto roentgen. vastus lateralis dibebaskan secara tajam dan septum intermuskularis disisihkan ke anterior Ligasi a/v perforantes . Pasang guide ke arah fragmen proksimal dan Ietakkan di tengah. Jenis wire yang bisa digunakan disini adalah Kirschner wire no.

fat embolism. Plating pada fraktur fémur 1/3 tengah         Pasien tidur miring ke sisi sehat dengan fleksi sendi panggul dan lutut Approach posterolateral dari trochanter mayor ke condylus lateral sepanjang 15cm di atas daerah fraktur Fascia lata dibelah dan m.Ujung proksimal K-nail dibenamkan 1-2 cm di atas tulang. Mortalitas Mortalitas berkaitan dengan adanya syok dan embolisme. Perawatan Pasca Bedah Pasien dengan pemasangan traksi. Pada fraktur distal perhatikan ganjal lutut. g. . Komplikasi lambat: delayed union. berikan fleksi ringan. tungkai adduksi < 30˚ dan kaki mid posisi. cek hemoglobin pasca operasi. rawat di ruangan dengan fasilitas ortopedi. termasuk yang diterapi secara konservatif antara lain.. nervus peroneus. Pada fraktur femur 1/3 proksimal traksi abduksi >30˚ dan exorotasi. atau pakai cerelage wiring atau ganti K-nail . sedangkan pada 1/3 distal. non union. Follow up Untuk Follow up pasien dengan skeletal traksi. thromboembolism. rawat di ruangan pemulihan.Pemasangan K-nail sebaiknya setelah 7-14 hari pasca trauma. Sedangkan pada pasien dengan pemasangan ORIF. i. .Cara lain pemasangan K-nail dengan bantuan fluoroscopy. lakukan latihan isotonik. volkmann ischemic dan infeksi. ISK dan joint stiffness. beri anti rotation bar. neurovascular injury seperti injury nervus pudendus. h. 15°. lakukan isometric exercise sesegera mungkin dan jika edema hilang. vastus lateralis dibebaskan secara tajam dan septum intermuskularis disisihkan ke anterior Ligasi a/v perforantes Bebaskan periosteum untuk mencapai kedua fragmen fraktur. Komplikasi Operasi Komplikasi pada fraktur femur. Bebaskan kedua fragmen fraktur dari darah dan otot Reduksi fragmen fraktur Pemasangan plate (Broad Plate) pada permukaan anterior atau lateral dengan memakai 8 screw pada masing-masing fragmen fraktur. Pada 1/3 tengah posisi abduksi 30˚ dan tungkai mid posisi. j. jika terdapat rotational instability. jika fiksasi terlalu panjang dan fiksasi tidak rigid jika terlalu pendek. Pada pemasangan K-nail adventitious bursa. decubitus ulcer. bersifat segera: syok.

pasang hemispica dan pasien boleh kontrol poliklinik. Minggu ke-2 jalan dengan tongkat dan isotonik quadricep. kemudian tiap 2 minggu. perhatikan arah. maka dilakukan weight bearing. kedudukan traksi. Sedangkan untuk follow up pasca operatif. jika sudah terjadi clinical union. follow up dengan roentgen. Fungsi lutut harus pulih dalam 6 minggu. About these ads . Pada pasien anak. Periksa dengan roentgen tiap 2 hari sampai accepted. posterior dan anterior bowing.Setiap harinya. minggu ke-1 –> hari pertama kaki fleksi dan ektensi. kemudian minggu selanjutnya miring-miring. half weight bearing dan non weight bearing dengan jarak tiap 4 minggu. Jika tercapai clinical union.

Sebagian besar fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba dan berlebihan. atau kelemahan abnormal pada tulang (fraktur patologik). di bawah trochanter major terdapat tuberositas glutealis. Tepian lateral menyatu ke bawah dengan crista supracondylaris lateralis. dan metafisis distal. linea aspera. penghancuran. Fraktur dapat disebabkan trauma langsung atau tidak langsung. Ujung atas femur memiliki caput. yang terletak antara trochanter minor hingga condylus femoralis. tekanan yang berulang-ulang. kolum. Tulang ini terdiri atas tiga bagian. pemuntiran. Trauma langsung berarti benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur di tempat itu. Besarnya sudut ini perlu diingat karena dapat dirubah oleh penyakit. yaitu femoral shaft atau diafisis. Pada pusat caput terdapat lekukan kecil yang disebut fovea capitis. Ujung atas femur memiliki caput. metafisis proximal. yang menghubungkan kepala pada batang femur. belakang. tulang rawan epifisis dan atau tulang rawan sendi baik yang bersifat total maupun yang parsial. Pada permukaan posterior batang femur. dan padanya terdapat tuberculum quadratum. Tulang ini terdiri atas tiga bagian. Trauma tidak langsung bila titik tumpu benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan. Fraktur di daerah kaput. Femoral shaft adalah bagian tubular dengan slight anterior bow. terpanjang. disebut fascia poplitea. ANATOMI Femur adalah tulang terkuat. Trochanter major dan minor merupakan tonjolan besar pada batas leher dan batang. Ia licin dan bulat pada permukaan anteriornya. dan terberat di tubuh dan memiliki fungsi yang sangat penting untuk pergerakan normal. collum. Tepian linea aspera melebar ke atas dan ke bawah. Umumnya fraktur femur terjadi pada batang femur 1/3 tengah.1. terpanjang. dan terberat di tubuh dan amat penting untuk pergerakan normal. . Fraktur dapat terjadi akibat peristiwa trauma tunggal. lateral dan membentuk sudut lebih kurang 125 derajat (pada wanita sedikit lebih kecil) dengan sumbu panjang batang femur. Sebagian suplai darah untuk caput femoris dihantarkan sepanjang ligamen ini dan memasuki tulang pada fovea. atau penarikan. yaitu tempat perlekatan ligamen dari caput. suprakondilus biasanya memerlukan tindakan operatif. trokanter. dan trochanter major dan minor. Bagian collum. Bagian caput merupakan lebih kurang dua pertiga bola dan berartikulasi dengan acetabulum dari os coxae membentuk articulatio coxae. Tepian medial berlanjut ke bawah sebagai crista supracondylaris medialis menuju tuberculum adductorum pada condylus medialis. dan trochanter major dan minor. Bagian batang femur umumnya menampakkan kecembungan ke depan. Femoral shaft adalah bagian tubular dengan slight anterior bow. collum. Fraktur adalah hilangnya kontinuitas jaringan tulang. penekukan. yaitu femoral shaft atau diafisis. subtrokanter. yang terletak antara trochanter minor hingga condylus femoralis. namun pada bagian posteriornya terdapat rabung. yang ke bawah berhubungan dengan linea aspera. metafisis proximal. Fraktur batang femur mempunyai insiden yang cukup tinggi di antara jenis-jenis patah tulang. PENDAHULUAN Femur adalah tulang terkuat. Bagian batang melebar ke arah ujung distal dan membentuk daerah segitiga datar pada permukaan posteriornya. 2. yang dapat berupa pemukulan. dan metafisis distal. Yang menghubungkan dua trochanter ini adalah linea intertrochanterica di depan dan crista intertrochanterica yang mencolok di bagian belakang. berjalan kebawah.

tulang rawan sendi. tulang rawan epifisis baik bersifat total ataupun parsial yang umumnya disebabkan oleh tekanan yang berlebihan. penghancuran.Ujung bawah femur memiliki condylus medialis dan lateralis. Bila tekanan kekuatan langsung tulang dapat patah pada tempat yang terkena dan jaringan lunak juga pasti akan ikut rusak. Kedua condylus ikut membentuk articulatio genu. MEKANISME PENYEBAB FRAKTUR Trauma dapat bersifat: a. Fraktur akibat peristiwa trauma Sebagian fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba berlebihan yang dapat berupa pemukulan. penari atau calon tentara yang berjalan baris-berbaris dalam jarak jauh. misalnya jatuh dengan tangan ekstensi dapat menyebabkan fraktur pada klavikula. b. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur lunak juga pasti akan ikut rusak. Trauma langsung Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan. Tuberculum adductorium berhubungan langsung dengan epicondylus medialis. Fraktur dapat diakibatkan oleh beberapa hal yaitu: a. c. 3. Fraktur patologik karena kelemahan pada tulang . apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur. Keadaan ini paling sering dikemukakan pada tibia. Permukaan anterior condylus dihubungkan oleh permukaan sendi untuk patella. b. pada keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap utuh. Trauma tidak langsung. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit diatasnya. fibula atau matatarsal terutama pada atlet. Di atas condylus terdapat epicondylus lateralis dan medialis. Trauma yang menyebabkan tulang patah dapat berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung. perubahan pemuntiran atau penarikan. yang di bagian posterior dipisahkan oleh incisura intercondylaris. 4. Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan. Fraktur akibat peristiwa kelelahan atau tekanan Retak dapat terjadi pada tulang seperti halnya pada logam dan benda lain akibat tekanan berulang-ulang. Penghancuran kemungkinan akan menyebabkan fraktur komunitif disertai kerusakan jaringan lunak yang luas. Trauma tidak langsung Disebut trauma tidak langsung bila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur misalnya jatuh dengan tangan ekstensi dapat menyebabkan fraktur pada klavikula. DEFINISI FRAKTUR Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang.

Tekanan berputar yang menyebabkan fraktur bersifat oblik atau spiral Tekanan membengkok yang menyebabkan fraktur transversa 3. Gambaran klinis fraktur subtrokanter anggota gerak bawah dalam keadaan rotasi eksterna. Kompresi vertikal dapat menyebabkan fraktur kominutif atau memecah. Fraktur oleh karena remuk Trauma karena tarikan pada ligamen atau tendo akan menraik sebagian tulang FRAKTUR SUBTROKANTER FEMORIS Fraktur subtrokanter merupakan fraktur dengan garis patahnya berada 5 cm distal dari trochanter minor. Klasifikasi ini paling berguna pada kepentingan penelitian. atau fraktur dislokas 4. Fraktur subtrokanter dapat terjadi pada setiap umur dan biasanya terjadi akibat trauma yang hebat. Tekanan sepanjang aksis tulang yang dapat menyebabkan fraktur impaksi. Tekanan pada tulang dapat berupa: 1. misalnya pada badan vertebra talus atau fraktur buckle pada anak-anak 5. dislokasi. . Kelompok usia yang lebih muda biasa terjadi karena mekanisme higher-energy seperti kecelakaan lalu lintas. 7. KLASIFIKASI FRAKTUR SUBTROCHANTER a. 6. atau spiral dan sering bersifat komunitif. memendek dan ditemukan pembengkakan pada daerah proksimal femur disertai nyeri pada pergerakan. atau trauma tembus. Garis fraktur dapat bersifat transversal. b. Seinsheimer : klasifikasi dengan 8 subgrup yang mengidentifikasi fraktur dengan hilangnya stabilitas kortikal. Association for the Study of Internal Fixation (AO-ASIF) : klasifikasi 3 bagian dengan 10 subtipe. oblik. Trauma langsung disertai dengan resistensi pada satu jarak tertentu akan menyebabkan fraktur oblik atau fraktur Z 6. Orang tua lebih dari 50 tahun dapat mengalami fraktur subtrokanterik dari mekanisme lower-energy seperti jatuh. Pada pemeriksaan radiologis dapat menunjukkan fraktur yang terjadi dibawah trokanter minor.Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang tersebut lunak (misalnya oleh tumor) atau tulang-tulang tersebut sangat rapuh. Fragmen proksimal dalam posisi fleksi sedangkan distal dalam posisi adduksi dan bergeser ke proksimal. 2. jatuh dari ketinggian. 5.

Faktor predisposisi. Pada pemeriksaan awal penderita perlu diperhatikan: . gangguan fungsi anggota gerak. untuk fraktur di bawah trokanter minor.c. Tipe 2A memiliki buttress medial stabil. 7. Fraktur tipe 2 melibatkan fossa piriformis. Fraktur tipe 1 tidak melibatkan fossa piriformis.Kerusakan pada organ-organ lain. baik yang hebat maupun trauma ringan dan diikuti dengan ketidak mampuan untuk menggunakan anggota gerak. misalnya pada fraktur patologis. misalnya otak. pembengkakan. Dibagi kedalam subtype A. PEMERIKSAAN KLINIS Biasanya penderita datang dengan suatu trauma (traumatic fraktur). Fraktur tipe 1 dapat diobat dengan generasi pertama atau kedua intramedullarydevices sementara fraktur tipe 2 memerlukan reduksi terbuka dan fiksasi internal (ORIF) dengan screw plate devices atau fixed angle implants. krepitasi atau datang dengan gejala lain. panggul dan abdomen . kelainan gerak. The Russell-Taylor classification system : membantu menentukan metode pengobatan yang tepat. Pemeriksaan lokal a. Tipe 2B tidak memiliki stabilitas korteks medial femoral. sumsum tulang belakang atau organ-organ dalam rongga thoraks.Syok. Inspeksi (look) – Bandingkan dengan bagian yang sehat – Perhatikan posisi anggota gerak secara keseluruhan – Ekspresi wajah karena nyeri – Adanya tanda-tanda anemia karena perdarahan – Apakah terdapat luka pada kulit dan jaringan lunak untuk membedakan fraktur tertutup atau terbuka – Ekstravasasi darah subkutan dalam beberapa jam sampai beberapa hari – Perhatikan adanya deformitas berupa angulasi. dan tipe B yang melibatkan trokanter minor. deformitas. Penderita biasanya datang karena adanya nyeri. rotasi dan kependekan – Lakukan survei pada seluruh tubuh apakah ada trauma pada organ-organ lain – Perhatikan kondisi mental penderita . anemia atau perdarahan .

arteri dorsalis pedis. ekstensi (iliopsoas menyebabkan fleksi dari fragmen proksimal) dan varus (otot pinggul menyebabkan abduksi dan rotasi eksternal fragmen proksimal. Pada fraktur femur ditemukan nyeri paha. c. nyeri tekan yang bersifat superfisial biasanya disebabkan oleh kerusakan jaringan lunak yang dalam akibat fraktur pada tulang Krepitasi.– Keadaan vaskularisasi. dapat diketahui dengan perabaan dan harus dilakukan secara hati-hati Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma berupa palpasi arteri radialis. disamping itu juga dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan lunak seperti pembuluh darah dan saraf. setiap gerakan akan menyebabkan nyeri hebat sehingga uji pergerakan tidak boleh dilakukan secara kasar. b. lokasi serta ekstensi fraktur. temperatur kulit Pengukuran tungkai terutama pada tungkai bawah untuk mengetahui adanya perbedaan panjang tungkai. Palpasi (feel) Palpasi dilakukan secara hati-hati oleh karena penderita biasanya mengeluh sangat nyeri. Tujuan pemeriksaan radiologis: Untuk mempelajari gambaran normal tulang dan sendi . warna kulit pada bagian distal daerah trauma. Refilling (pengisian) arteri pada kuku. Pergerakan (move) Periksa pergerakan dengan mengajak penderita untuk menggerakkan secara aktif dan pasif sendi proksimal dan distal dari daerah yang mengalami trauma. Pada penderita dengan fraktur. arteri tibialis posterior sesuai dengan anggota gerak yang terkena. dan deformitas. pembengkakan. Fraktur subtrokanterik dapat ditemukan pemendekan tungkai yang fraktur.PEMERIKSAAN RADIOLOGI Pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan keadaan. Halhal yang perlu diperhatikan: Temperatur setempat yang meningkat Nyeri tekan. dan adduktor paha mengadduksi fragmen distal 8.

Pada fraktur tertentu misalnya fraktur tulang skafoid foto pertama biasanya tidak jelas sehingga biasanya diperlukan foto berikutnya 10-14 hari kemudian. maka perlu dilakukan foto pada panggul dan tulang belakang Dua kali dilakukan foto. PENATALAKSANAAN .- Untuk konfirmasi adanya fraktur Untuk melihat sejauh mana pergerakan dan konfigurasi fragmen serta pergerakannya - Untuk menentukan teknik pegobatan Untuk menentukan apakah fraktur itu baru atau tidak Untuk menentukan apakah fraktur intra-artikuler atau ekstra-artikuler Untuk melihat adanya keadaan patologis lain pada tulang Untuk melihat adanya benda asing. 9. misalnya peluru Pemeriksaan radiologis dilakukan dengan beberapa prinsip dua: Dua posisi proyeksi: dilakukan sekurang-kurangnya yaitu pada anteroposterior dan lateral Dua sendi pada anggota gerak dan tungkai harus difoto. pada trauma yang hebat sering menyebabkan fraktur pada dua daerah tulang. Misalnya pada fraktur kalkaneus atau femur. Pada anak-anak sebaiknya dilakukan foto pada ke dua anggota gerak terutama pada fraktur epifisis Dua trauma. di atas dan di bawah sendi yang mengalami fraktur Dua anggota gerak.

dan anak kecil Fiksasi eksternal : pada fraktur terbuka yang tidak dapat di debridemen sempurna. Emboli lemak. . Nonunion: apabila permukaan fraktur menjadi bulat dan sklerotik dicurigai adanya nonunion dan diperlukan fiksasi interna dan bone graft. KOMPLIKASI Komplikasi Dini Syok: dapat terjadi perdarahan sebanyak 1-2 liter walaupun fraktur bersifat tertutup. IM nailing : merupakan penanganan pilihan untuk cedera ini karena dapat dilakukan secara tertutup dan dapat memantau jaringan lunak tetap terbungkus 3. Angulasi sering ditemukan. Infeksi. maka diperlukan pengamatan terus menerus selama perawatan. Alternatif: Traksi skeletal dan bracing : dapat dilakukan pada orang dewasa yang tidak dapat dilakukan operasi. Trauma Saraf. 10. Fraktur pada batang femur atau regio subtrokanter akan sembuh dengan imobilisasi.1. Trauma Pembuluh darah. dengan fossa piriformis intak dapat ditangani dengan generasi kedua locking (rekonstruksi atau sefalomedulary) IM nails. Stabilisasi fraktur subtrokanter : di bawah trokanter minor dan pada batang femur ditangani dengan standard interlocking IM nails. 4. jika di atas atau pada trokanter minor. stabilisasi dapat dilakukan dengan fixed-angle devices. Malunion juga menyebabkan pemendekan pada tungkai sehingga dieprlukn koreksi berupa osteotomi. Malunion: bila terjadi pergeseran kembali kedua ujung fragmen. Komplikasi Lanjut Delayed union: fraktur femur pada orang dewasa mengalami union dalam 4 bulan. Fraktur yang meliputi trokanter mayor dan fossa piriformis. Metode ini juga dapat untuk stabilisasi temporer. tapi traksi dan casting memerlukan rawat inap yang lama serta hasil yang tak dapat diprediksi 2.

- Kaku sendi lutut: setelah fraktur femur biasanya terjadi kesulitan pergerakan pada sendi lutut. . Hal ini disebabkan oleh adanya adhesi periartikuler atau adhesi intrmuskuler. Hal ini dapat dihindari apabila fisioterapi yang intensif dan sistematis dilakukan lebih awal.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful