GAMBARAN TATALAKSANA ASUHAN GIZI BAGI PASIEN GIZI BURUK DI RUANG PERAWATAN INSTALASI GIZI RSUD DEPATI HAMZAH

PANGKAL PINANG TAHUN 2010

Laporan Magang

Disusun Oleh: CINTIA ANGGRAINI 106101003309

PEMINATAN GIZI PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2010

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT PEMINATAN GIZI Magang, April 2008 Cintia Anggraini, NIM : 106101003309
GAMBARAN TATALAKSANA ASUHAN GIZI BAGI PASIEN GIZI BURUK DI RUANG PERAWATAN INSTALASI GIZI RSUD DEPATI HAMZAH PANGKAL PINANG

Xi + 117halaman, 16 tabel, 12 gambar ABSTRAK

Kegiatan magang ini dilaksanakan di ruang perawatan Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Depati Hamzah Pangkal Pinang yang bertempat di jalan Soekarno Hatta Pangkal Pinang. Waktu pelaksanaan magang ini dimulai dari 1 Februari sampai 2 Maret 2010 . Bertujuan untuk mendapatkan pengalaman kerja di Institusi tempat magang dan mengetahui gambaran tatalaksana asuhan gizi bagi pasien gizi buruk di ruang perawatan di Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Depati Hamzah Pangkal Pinang. Rumah Sakit Umum Daerah Depati Hamzah ini merupakan rumah sakit rujukan yang menangani masalah kasus gizi buruk, yang merupakan tempat perawatan dan pemulihan anak gizi buruk yang terjadi di Provinsi Bangka Belitung. Tatalaksana asuhan gizi pasien gizi buruk di ruang perawatan Instalasi Gizi RSUD Depati Hamzah dilakukan oleh tim asuhan gizi yang terdiri dokter, ahli gizi, perawat dan tenaga kesehatan lainnya, yang memberikan tindakan asuhan gizi dan pemulihan kepada pasien gizi buruk di ruang asuhan gizi rawat inap yang kegiatannya seperti pengkajian status gizi, penentuan kebutuhan gizi, penentuan macam diet, konseling gizi dan pemantauan/evaluasi terhadap pasien gizi buruk dapat dilaksanakan sesuai dengan sistematis yang berdasarkan rujukan dari Depkes RI. Tindakan perawatan dan pengobatan pada pasien gizi buruk di ruang perawatan Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Depati Hamzah Pangkal Pinang menerapkan 10 langkah tatalaksana pengobatan anak gizi buruk yang merupakan rujukan dari Depkes RI. Kegiatan ini semuanya dilaksanakan sangat efektif di Instalasi Gizi RSUDDH Pangkal Pinang. Saran untuk pemantauan yaitu meningkatkan pemantauan asupan makanan, pola makan dan pemantauan berat badan anak, disarankan tersedianya ruang perawatan khusus bagi pasien gizi buruk agar bisa memulihkan kondisi pasien yang mengalami gizi buruk. Daftar bacaan : 13 (1997-2009)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur bagi Allah SWT yang memberikan nikmat yang berlimpah bagi penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan magang yang berjudul Gambaran Tatalaksana Kegiatan Pelayanan Gizi Buruk Rawat Inap di Instalasi Gizi RSUD Depati Hamzah Pangkal Pinang tahun 2010, tepat pada waktunya. Sholawat beserta salam penulis haturkan kepada Rasulullah Muhammmad SAW, semoga kita semua mendapatkan syafaat dan pertolongannya nanti di Yaumil qiyamah. Amiin. Laporan magang ini penulis buat untuk memenuhi persyaratan menyelesaikan salah satu mata kuliah disemester 8 yaitu mata kuliah magang yang dilakukan untuk mengetahui kegiatan tatalaksana anak gizi buruk di RSUD Depati Hamzah dari input, proses da outputnya. Harapannya hasil laporan magang ini dapat dijadikan masukan dalam penatalaksanaan gizi buruk di Rumah Sakit yang lebih baik dan bermutu. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih yang sebesarbesarnya kepada : 1. Bapak Prof. Dr. (Hc) dr. M.K Tadjudin, Sp. And, Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Bpk. Yuli Prapanca Satar, MARS, selaku ketua Program Studi Kesehatan

Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan para dosen program studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 3. Ibu Minsarnawati, SKM, M.Kes, sebagai dosen pembimbing magang yang telah banyak membantu penulis dari awal sampaiakhir penulisan laporan magang ini.

Warsono. semagat kebersamaan. K’ Yuli yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan laporan magang. Orang tua saya tercinta khususnya ibunda tersayang Salwati dan ayahanda Azwar yang telah memberikan motivasi dan bantuan moril maupun materil. dan semuanya atas kebersamaannya. Thanks wat cerita hidup dan curhat nya yah. K’ arul. 7. Direktur Utama RSUD Depati Hamzah yang telah mengizinkan penulis untuk magang di RSUD Depati Hamzah. 8. 5. 9. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Thanks for All atas motivasi. Sahabat-sahabat setiaku tersayang erna. April 2010 Penyusun . Pak Apan. Kekeluargaan. Ciputat. aulia. zume’. Rekan-rekan di RSUD Depati Hamzah Ibu Ratmawati. Sahabat-sahabat kostan yang ceria dan semuanya atas kebersamaan. K’ tuti. sehingga sangat diharapkan saran dan masukannya. 6. deuis. 10. semoga tetap menjadi sahabat sejati..4. yeni. semoga tetap menjadi sahabat sejati. Penulis Menyadari penulis laporan ini masih kurang dari sempurna. SKM sebagai pembimbing lapangan di RSUDDH yang telah banyak membantu penulis dari awal sampai akhir magang. Bpk.. eka. Sahabat-sahabat seperjuangan yang telah telah membuat hidupku lebih berwarna dan hunting buku sama-sama.

SKM .Kes Warsono. SKM. 5 April 2010 Mengetahui Pembimbing Fakultas Pembimbing Lapangan Minsarnawati. M.PERNYATAAN PERSETUJUAN Laporan Magang dengan judul GAMBARAN TATALAKSANA ASUHAN GIZI BAGI PASIEN GIZI BURUK DI RUANG PERAWATAN INSTALASI GIZI RSUD DEPATI HAMZAH PANGKAL PINANG TAHUN 2010 Telah disetujui. diperiksa dan dipertahankan dihadapan Tim Penguji Magang program Studi kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta.

MKM . SKM. 5 April 2010 Penguji I Yuli Prapanca Satar.PANITIA SIDANG UJIAN LAPORAN MAGANG PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA Jakarta. MARS Penguji II Minsarnawati.

SMA Negeri 1 Koba 4. SD Negeri 11 Koba 2. Pisangan Ciputat Tangerang 15419 Nomor Telp/HP : 081381244516 PENDIDIKAN FORMAL 1. SLTP Negeri 1 Koba 3. Kel. S-1 Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2006-sekarang) (1994-2000) (2000-2003) (2003-2006) . H.08 No. Kerta Mukti Gang. 001/RW. RT. 128 D.RIWAYAT HIDUP PERSONAL DATA Nama Tempat/Tgl Lahir Jenis Kelamin Status Menikah Agama Alamat : Cintia Anggraini : Penyak. Nipan. 12 Februari 1988 : Perempuan : Belum Menikah : Islam : Jl.

BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………… 1. DAFTAR ISI ……………………………………………………………… DAFTAR GAMBAR …………………………………………………….DAFTAR ISI ABSTRAK ………………………………………………………………… PERNYATAAN PERSETUJUAN PEMBIMBING …………………… PERNYATAAN PERSETUJUAN PENGUJI …………………………..1 Latar Belakang ………………………………………………….4 Ruang Lingkup ………………………………………………….2 1. i ii iii iv v vii xii xiii xiv xv 1 1 1.1 1.3.2 Tujuan …………………………………………………………… 6 1. RIWAYAT HIDUP ………………………………………………………...1 1.2 Tujuan Umum …………………………………………… 6 Tujuan Khusus …………………………………………. 6 7 1. .3 Bagi Mahasiswa ………………………………………… 7 Bagi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan ………… Bagi Instansi Terkait…………………………………….2.3 Manfaat …………………………………………………………. . 1... DAFTAR TABEL ………………………………………………………… DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………………… DAFTAR SINGKATAN ………………………………………………….2. 8 8 9 1. KATA PENGANTAR ……………………………………………………..3.3.

...............4....3 Masalah Gizi ……………………………………………………… 26 2............................ 2........ 28 2. 28 2.........3.....4...........1....................... 17 2..2.....1 Gizi dan Tumbuh Kembang Anak ……………………………….1........ 25 2........5 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Gizi …………………… 20 2... 18 2......4..............3....1...... 27 2.1........3..1 Masalah Gizi Secara Umum ………………………………...........4 Masalah Gizi Buruk ..3 Berat Badan Menurut Tinggi Badan ..1.....2 Pengertian Status Gizi ……………………………..........................4... 18 2...2 Penyebab Secara Tidak Langsung .............1 Berat Badan Menurut Umur ..1 Penilaian Status Gizi Secara langsung ……………......BAB II TINJAUAN PUSTAKA …………………………………………… 10 2............... .... 2. 10 2..............1 Pengertian Gizi …………………………………….4. 23 2..1.1......3 Penilaian Status Gizi ………………………………............1 Penyebab Langsung ..........1. 26 2............ 2.1. ...4....................................1..................5.. 23 2..........2 Tumbuh Kembang Anak .................1....4 Indeks Antropometri ………………………………………… 17 2... Tanda-Tanda Penderita Gizi Buruk .. 2...1 Pengertian Gizi Buruk .............. 10 11 12 13 16 2..........1.......3............................2 Penilaian Status Gizi Secara Tidak langsung ……...............1............2 Masalah Kurang Energi Protein (KEP) .............5.4 Lingkar Lengan Atas Menurut Umur ........2 Tinggi Badan Menurut Umur .. 28 ............. 18 2.................

.....5...7..7...... 33 2.. Gejala Klinis balita KEP Berat/Gizi buruk .3 Penentuan Kebutuhan Gizi ……………………… .........3....2 Pelaksanaan Asuhan Gizi Di Rumah Sakit ………………… 36 2.2...4........6 Pemantauan..5.4......7......3 Pelacakan Balita Gizi Buruk dengan Investigasi….....5.1.2 Pelayanan Balita Gizi Buruk di Puskesmas ……….4.2 Riwayat Gizi ………………………………………..4 Pelayanan Balita Gizi Buruk di Rumah Tangga....1 Penanggulangan Balita Gizi Buruk ………………………....1.1.7. 44 .…. 31 2...3.7..7. 44 2....1.. 43 2......5...1 Asuhan Gizi ………………………………………………… 35 2....3.....5 Proses Terjadinya Gizi Buruk .. 32 2. Evaluasi Dan Tindak Lanjut ………. 43 2.3. 29 2. 33 2..3 Asuhan Gizi Rawat Inap …………………………………… 40 2...........5........ ....7.1 Tim Asuhan Gizi ………………………………. 36 2.2... 32 2.....1 Penjaringan kasus balita gizi buruk ………………....... 32 2.7......7 Proses Kegiatan Pelayanan Gizi ……………………………………35 2.6 Tatalaksana Anak Gizi Buruk …………………………………...5.....5 Konseling Dan Penyuluhan Gizi ………………...1........7... 42 2.....1 Pengkajian Status Gizi 41 2........7......4 Penetuan Macam Dan Jenis Diet ……………….2... 28 2.. Klasifikasi KEP/Gizi Buruk ..3.... 33 2...........3...7... 32 2..2 Jalur Koordinasi Tim Asuhan Gizi ………………… 37 2......3.5 Koordinasi Lintas Sektor ……………………….

1 Gambaran Umum Rumah Sakit Umum Depati Hamzah ................2 Jadwal Kegiatan Magang ...............3 Gambaran Ruangan Poliklinik Gizi ………………………… 79 .... 68 4..1. Terapi Gizi Pasien Gizi Buruk …………………………………. 2...1 Fasilitas Kesehatan …………………………………………......................................2 Gambaran Umum Ruang Perawatan&Instalasi Gizi RSUDDH Pangkal Pinang ...5....1...............2...........8...................1..1 Visi RSUDDH Pangkal Pinang ………………...2 Misi RSUDDH Pangkal Pinang ……………....... 2...... 73 4......1.............. 4.1.2...... 66 4........ 74 4....... Tujuan Dan Sasaran …………………………….....8...2..........8.3 Fase Rehabilitasi ..4 Ketenagaan RSUDDH Pangkal Pinang …………………….........5...... 69 4..5 Visi...................... Misi. 68 4.....................3 Sarana dan Prasarana RSUDDH Pangkal Pinang …………..........1 Fase Stabilisasi .....2...2 Gambaran Ruangan Dapur Pengelolaan Makanan …………….....8... 68 4.1 Gambaran Ruang Perawatan …………………………………............ BAB III LANGKAH DAN JADWAL KEGIATAN MAGANG...1................ 4........... 2.1.....1.6 Kinerja Kegiatan RSUDDH Pangkal Pinang ……………….1....... 45 45 47 49 52 3.... 4. 52 3.... 53 BAB IV HASIL ……………………………………………………………… 4. 76 4...........2 Motto RSUDDH Pangkal Pinang ……………...2 Struktur Organisasi RSUDDH Pangkal Pinang ……………...1 Bentuk dan Langkah-Langkah Kegiatan magang .........2 Fase Transisi …………………………………..5............. 59 59 61 63 64 4................ 72 4.......

...... 106 4.3......... 99 4....... 4.... Evaluasi dan Tindak lanjut ……………………........4 Penentuan Macam diet pasien gizi buruk ……………………........... 122 LAMPIRAN ..........................2 Saran .................3 Kegiatan Asuhan Gizi Pasien Gizi Buruk di Ruang Perawatan Rumah Sakit Umum Daerah Depati Hamzah ..................4 Pelaksanaan Kerja Asuhan Gizi Ranap Pasien Gizi Buruk ... 120 DAFTAR PUSTAKA ........4........1 Pengkajian Status Gizi bagi Pasien Gizi Buruk ...... 119 5........................3.............................. 79 80 96 4..1 Simpulan ............................3.................................................3..................2 Riwayat Gizi pasien gizi buruk …………………………….........5 Konseling Gizi Pasien Gizi buruk …………………………… 105 4...... 112 BAB V PENUTUP ...................... 108 4....... 4....... Tindakan Perawatan Pasien Gizi Buruk Di Ruang Perawatan Rumah Sakit Umum Daerah Depati Hamzah Pangkal Pinang ..........3................................3 Penentuan Kebutuhan Gizi pasien gizi buruk ………………....................................................................................3....6 Pemantauan....... 119 5............ 97 4..5...

1983 10. Form Baku Rujukan Penilaian Status Gizi Anak Laki-Laki dan Perempuan Menurut Berat Badan dan Tinggi Badan / Panjang Badan (BB/TB-PB) Menurut WHO-NCHS. Form Tabel Petunjuk pemberian F 75 Untuk Anak Gizi Buruk Tanpa Edema 12. Surat Terima Magang 3. Surat Keterangan Selesai Magang 4. Form Tabel Petunjuk pemberian F 75 Untuk Anak Gizi Buruk Edema Berat 13. Form Baku Rujukan Penilaian Status Gizi Anak Laki-Laki dan Perempuan Menurut Berat Badan dan Panjang Badan (BB/TB-PB) Menurut WHO-NCHS. Formulir Penyelidikan Kasus Gizi Buruk 7. Form Catatan Perawatan Harian Anak Gizi Buruk 5. 1983 11. Surat Izin Magang 2. Form Tabel Petunjuk pemberian F 100 Untuk Anak Gizi Buruk . Kartu Monitoring Berat Badan 6. Formulir Pemeriksaan Klinis 9.DAFTAR LAMPIRAN 1. Form Laporan Kasus Gizi Buruk di Rumah Sakit 8.

DAFTAR SINGKATAN RSUDDH PGRS KB UGD EKG USG CTG IPSRS SOP = Rumah Sakit Umum Daerah Depati Hamzah = Pelayanan Gizi Rumah Sakit = Keluarga Berencana = Unit Gawat Darurat = Elektrokardiography = Ultrasonography = Cotophography = Instalasi Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit = Standard Operational Procedure .

... Tabel 4.................. Tabel 4...... Tabel 4.........6 Jadwal..........1 Jadwal Kegiatan Magang ................... Tabel 4.......2 Tahap Pemberian Diet ...2 2 20 49 50 53 67 72 72 95 98 100 100 102 107 110 113 ....... Tabel 4.................................3 Indikator Pelayanan Rawat Inap RSUDDH Tahun 2009 .................... Tabel 4............................................................................. 2003)........11 Laporan Kasus Anak Gizi Buruk di RSUDDH .........................2 Prevalensi Gizi Buruk di Bangka Belitung ......................................5 Kebutuhan Zat Gizi ................................ Tabel 4.............9 Pedoman Pemberian Formula Anak Gizi Buruk (Depkes RI.. Tabel 4............................. Tabel 3.............................................. Tabel 4...... Kadar Albumin ..........................2 Indikator Kegiatan Kinerja RSUDDH Tahun 2008&2009............................. Tabel 2........................... Jenis dan Pemberian Makanan ...DAFTAR TABEL Tabel 1.................................1 Baku Antropometri (NCHS).... ...................10 Prosedur Kerja Asuhan Gizi Diruang Rawat Inap ....8 Bahan Makanan (Formula WHO) Dan Nilai Gizi Makanan Pada Pasien Gizi Buruk . Tabel 2.............. Tabel 2................3 Hasil Pemeriksaan dan Tindakan Pada Anak Gizi Buruk ..............1 Ketenagaan RSUDDH Pangkal Pinang .........................................7 Tahap Pemberian Diet ...............4......... Tabel 4............................... Tabel 1.......1 Prevalensi Gizi Buruk di Indonesia ............................................... Tabel 4......

Dalam mengkonsumsi makanan.1. tingginya angka kesakitan. Dampak yang lebih serius dari kekurangan gizi adalah timbulnya kecacatan.BAB I PENDAHULUAN 1. Kekurangan gizi akan menyebabkan hilangnya masa hidup sehat pada balita. 1998) Tabel 1. dianjurkan memilih bahan makanan yang alami dan bergizi agar dapat mendorong peningkatan fungsi tubuh baik ketika sehat maupun sakit. Berbagai penelitian menunjukan bahwa gangguan gizi kurang pada balita membawa dampak negatif terhadap pertumbuhan fisik maupun mental yang selanjutnya akan menghambat prestasi belajar. baik berupa kekurangan maupun kelebihan akan menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan. Masalah gizi merupakan salah satu penentu utama kualitas sumber daya manusia. dan percepatan kematian (Depkes RI.1 Prevalensi Gizi Buruk di Indonesia No Tahun Prevalensi . 1998). Latar Belakang Gizi adalah keseluruhan berbagai proses dalam tubuh makhluk hidup untuk menerima bahan makanan dari lingkungan hidupnya dan menggunakan bahan-bahan tersebut agar menghasilkan berbagai aktivitas penting dalam fungsi tubuhnya sendiri (Almatsier. Gizi yang tidak seimbang. Akibat lainnya adalah penurunan daya tahan sehingga kejadian infeksi meningkat (Depkes RI. 2004).

817 penderita gizi buruk dari tahun sebelumnya (Republika Online. Sumber : Dinkes provinsi Bangka Belitung Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bangka Belitung tahun 2005 prevalensi gizi buruk sebesar 8.6%.10% 3.163 balita dan mengalami peningkatan menjadi 15. 2005 2006 2007 1. 2.48% Sumber: Depkes RI Anak usia di bawah lima tahun merupakan golongan yang rentan terhadap masalah kesehatan dan gizi.kemudian naik menjadi 2.6% No. 2008) Tabel 1. Sedangkan pada tahun 2008 yang tersebar terjadi kasus gizi .1. Secara nasional prevalensi gizi kurang dan gizi buruk di Indonesia masih tinggi.10% pada tahun 2006. 3. 2.7% 7. Pada tahun 2005 tercatat 1. sedangkan pada tahun 2006 prevalensi gizi buruk sebesar 7.4%.980 balita pada tahun 2007 sehingga terjadi kenaikan sebanyak 6.7 %.2 Prevalensi Gizi Buruk di Bangka Belitung Tahun Prevalensi 2005 2006 2007 8. 3.03% 2. dan kembali melonjak manjadi 3. 1. Selama tahun 2006 terjadi kasus gizi gizi buruk sebanyak 9. pada tahun 2007 terjadi kasus gizi buruk sebesar 4. diantaranya adalah masalah kurang energi protein (KEP) yang merupakan masalah gizi utama di Indonesia.03% dari jumlah penduduk mengidap gizi buruk.4% 4.48% pada tahun 2007.

Menurut Rohde (1984). 2006). Salah satu konsekuensi dari kurang gizi adalah gangguan pertumbuhan. Bangka Selatan 0. tetapi merupakan kejadian kronis yang selalu ditandai dengan kenaikan berat badan yang tidak cukup.82% dan Belitung terjadi kasus gizi buruk dan kurang 3. Kondisi ini akan berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia. pemantauan pertumbuhan merupakan suatu rangkaian kegiatan yang terdiri dari pengukuran fisik dan perkembangan individu di masyarakat dengan tujuan meningkatkan status kesehatan anak. Peningkatan berat badan merupakan indikator yang sensitif terhadap pertumbuhan anak.58%.buruk dan gizi kurang dibeberapa kabupaten antara lain di Bangka tercatat kasus gizi buruk dan kurang 0. perkembangan. dan kualitas hidup. Kota Pangkal Pinang 0. Belitung tercatat 2.21%.93%. Provinsi Babel 0. Bangka Tengah 0. Pertumbuhan normal dapat tercapai bila berat badan anak berdasarkan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) dan bila di plot dalam kartu menuju sehat (KMS) berada pada garis pertumbuhan normalnya (Growth Trajectory).58%.97%. Pemantauan pertumbuhan merupakan salah satu kegiatan utama program perbaikan gizi di lebih dari 80 negara yang menitikberatkan pada upaya pencegahan dan peningkatan keadaan gizi anak (Minarto. Perubahan berat badan merupakan indikator yang dianggap sensitif untuk mendeteksi perubahan keadaan gizi masyarakat. Penyimpangan dapat memberikan manifestasi klinis baik kelainan dalam pertumbuhan dengan atau tanpa . Penyimpangan tumbuh kembang dapat terjadi apabila terdapat hambatan atau gangguan dalam prosesnya sejak intra uterin hingga dewasa.58%. Kekurangan energi protein (KEP) tidak terjadi secara tiba-tiba (akut). Bangka Barat 2.99%.

2004). dan status metabolisme tubuhnya. Walaupun terdapat kombinasi pengaruh faktor biologik. malnutrisi dan obesitas. Puskesmas. Pengaruh tersebut bisa berjalan timbal balik. termasuk pada sarana kesehatan seperti Rumah Sakit.kelainan perkembangan. diagnostik. Sering terjadi kondisi klien/pasien semakin buruk karena tidak diperhatikan keadaan gizinya. Keadaan gizi pasien sangat berpengaruh pada proses perjalanan penyakit dapat berpengaruh terhadap keadaan gizi pasien. Balai pengobatan. status gizi. Puskesmas Pembantu. dan Pusat Pemulihan Gizi yang disertai peran aktif masyarakat. Kelainan pertumbuhan anak yang dijumpai adalah antara lain perawakan pendek (short stature). perawakan gigi (tall stature). yang diklasifikasi sebagai variasi normal dan patologis. cidera dan melahirkan. Hal tersebut diakibatkan karena tidak . diperlukan upaya pencegahan dan penanggulangan secara terpadu di setiap tingkat pelayanan kesehatan. Psikologik dan sosial pada perkembangan anak. memberikan pelayanan kesehatan jangka pendek dan jangka panjang terdiri dari observasi. Puskesmas Perawatan. Pos Pelayanan Terpadu. sehingga diperlukan suatu kiat dalam pengukuran antropometri sebagai salah satu cara penilaiannya (Robert. terapeutik dan rehabilitatif untuk orang-orang yang menderita sakit. Pelayanan gizi di rumah sakit adalah pelayanan gizi yang disesuaikan dengan keadaan pasien dan berdasarkan keadaan klinis. Rumah sakit adalah suatu fasilitas pelayanan kesehatan perorangan yang menyediakan rawat inap dan rawat jalan. Untuk mengantisipasi masalah tersebut. pengaruh masing-masing faktor secara terpisah perlu diperhatikan. seperti lingkaran setan.

Rawat Jalan dan Penyelenggaraan Makanan. Pelayanan gizi rumah sakit bagian integral dari pelayanan kesehatan paripurna rumah sakit dengan beberapaa kegiatan anatara lain pelayanan Gizi rawat Inap. 2005). yang merupakan tempat perawatan dan pemulihan anak gizi buruk yang terjadi di Provinsi . sedangkan pelayanan gizi rawat jalan adalah kegiatan pelayanan gizi yang berkesinambungan dimulai dari perencanaan diet. RSUDDH ini adalah rumah sakit rujukan juga yang menangani masalah kasus gizi buruk. Pelayanan gizi rawat inap adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan gizi pasien melalui makanan sesuai dengan penyakit yang diderita selama pasien mendapat perawatan di Rumah Sakit ( Instalasi Gizi Perjan RSCM dan Asosiasi Dietsin Indonesia. menjadi badan layanan umum. Rumah Sakit Umum Daerah Depati Hamzah (RSUDDH) Pangkal Pinang merupakan rumah sakit rujukan di kawasan Bangka Belitung. pelaksanaan konseling gizi hingga evaluasi rencana diet kepada klien/pasien rawat jalan (Departemen Kesehatan RI. seiring ditetapkannya Pangkal Pinang sebagai Ibukota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.tercukupinya kebutuhan zat gizi tubuh untuk perbaikan organ tubuh (Depkes RI. serta menjadi rumah sakit trauma centre. Pelayanan gizi dirumah sakit dalam tatalaksana balita gizi buruk yaitu suatu kegiatan pelayanan gizi balita gizi buruk yang memberikan penanganan dan perawatan dalam pemulihan balita gizi buruk dengan cara rawat inap dan rawat jalan mulai pasien di rujuk/masuk ke rumah sakit sampai pasien keluar dari rumah sakit dengan kondisi yang cukup membaik. 2003). 2003).

sedangkan pada tahun 2008 terdapat 25 kasus pasien gizi buruk dan pada tahun 2009 berjumlah 23 kasus pasien gizi buruk. 1.1. 1. dan kinerja) kegiatan Rumah Sakit Umum Daerah Depati Hamzah Pangkal Pinang? . Kegiatan pelayanan gizi di RSUDDH ini terdapat di ruangan perawatan. sarana dan prasarana. saya berminat untuk melakukan magang khususnya dalam tatalaksana asuhan gizi pasien gizi buruk di Rumah Sakit Umum Depati Hamzah yang merupakan Rumah Sakit rujukan perawatan anak gizi buruk di Provinsi Bangka Belitung.2 Tujuan Khusus.2. Jumlah pasien gizi buruk di RSUDDH yang dirawat inap tahun 2007 terdapat 32 kasus. penentuan kebutuhan gizi. Diketahuinya informasi tentang gambaran umum meliputi (struktur organisasi. penentuan macam diet. konseling gizi dan pemantauan/evaluasi terhadap pasien gizi buruk Untuk itu dengan adanya kasus gizi buruk di Bangka Belitung ini. ketenagaan. Tujuan Umum Mengetahui gambaran tatalaksana asuhan gizi bagi pasien gizi buruk di ruang perawatan Rumah Sakit Umum Daerah Depati Hamzah Pangkal Pinang. 1.2 Tujuan 1. Ada beberapa tatalaksana asuhan gizi bagi pasien gizi buruk di ruang perawatan RSUD Depati Hamzah antara lain pengkajian status gizi . RSUDDH ini bekerja sama dengan program pemerintah dan Dinas-Dinas kesehatan dalam perawatan dan pemulihan kasus anak gizi buruk hanya rawat inap.Bangka Belitung.2.

Diketahuinya gambaran kegiatan dan ketenagaan asuhan gizi pada tatalaksana asuhan gizi pasien gizi buruk di ruang perawatan Rumah Sakit Umum Daerah Depati Hamzah Pangkal Pinang? 4. dosen.3.2. Bagi Mahasiswa 1. Mendapatkan kesempatan untuk mengaplikasikan berbagai teori yang didapat selama kuliah . maupun Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 1. Diketahuinya gambaran tindakan perawatan dan pengobatan pasien gizi buruk di ruang perawatan asuhan gizi Rumah Sakit Umum Daerah Depati Hamzah Pangkal Pinang? 1.1. institusi magang.3. Mendapatkan pengalaman bekerja dalam tim (team work) untuk memecahkan berbagai masalah kesehatan sesuai bidang institusi kerja tempat magang 2. Diketahuinya gambaran umum ruang perawatan dan Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Depati Hamzah Pangkal Pinang? 3. Manfaat Magang diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi semua pihak yang terlibat didalamnya. yaitu mahasiswa. Mengerti dan memahami berbagai masalah kesehatan masyarakat secara nyata di institusi kerja sebagai bagian dari kesiapan mahasiswa dalam memasuki dunia kerja 3.

2.3.3. Dapat memanfaatkan pengetahuan mahasiswa. 2. Ruang Lingkup Kegiatan magang ini dilaksanakan oleh Mahasiswa Peminatan Gizi Kesehatan Masyarakat FKIK UIN Syarif Hidayatullah yang bertujuan untuk . Terbinanya suatu jaringan kerja sama dengan instansi tempat magang dalam upaya meningkatkan ketertarikan dan kesepadanan antara substansi akademik dengan pengetahuan dan keterampilan sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam pembangunan kesehatan masyarakat. Mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kompetensi diri serta adaptasi dunia kerja 5.4. khususnya dalam menemukan solusi dari masalah kesehatan masyarakat secara proporsional 1.4. 1. Bagi Instansi Terkait 1. baik dalam kegiatan manajemen maupun kegiatan operasional. Bagi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan 1. Meningkatnya kapasitas dan kualitas pendidikan dengan menghasilkan peserta didik yang terampil dan berpengalaman.3. Mahasiswa mengetahui dan mendapatkan untuk mengetahui gambaran tatalaksana asuhan gizi bagi pasien gizi buruk di ruang perawatan RSUDDH Pangkal Pinang 1. Hasil analisa magang dapat menjadi pertimbangan untuk mengetahui gambaran tatalaksana asuhan gizi bagi pasien gizi buruk di ruang perawatan RSUDDH guna memberikan kontribusi bagi institusi magang. 2.

mengetahui gambaran tatalaksana asuhan gizi bagi pasien gizi buruk di ruang perawatan Rumah Sakit Umum Daerah Depati Hamzah Pangkal Pinang. Magang ini memiliki bobot nilai 4 sks yang sebanding dengan 26 hari kerja dengan lama kerja 8 jam perhari. . Mahasiswa masuk setiap hari sesuai dengan hari kerja di instansi terkait. Waktu pelaksanaan magang ini dimulai pada tanggal 1 Februari 2010.

1993).1. sedangkan jaringan lain seperti otot terus meningkat sepenjang usia remaja (Pipes & Christine. . Pertumbuhan diartikan sebagai peningkatan ukuran fisik dari tubuh secara keseluruhan atau peningkatan beberapa bagian yang berhubungan dengan peningkatan jumlah atau ukuran sel.1 Gizi dan Tumbuh Kembang Anak 2. Masing-masing organ dan sistem organ mempunyai periode percepatan pertumbuhan sendiri-sendiri. beberapa organ seperti otak mencapai ukuran orang dewasa pada umur 2 tahun. Pemantauan tersebut dapat dilakukan dengan melihat kenaikan berat badan ibu pada saat hamil dan pertumbuhan dan perkembangan kepala anak setelah lahir (Runawas.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. 1996). Perkembangan organ otak yang utuh dan sempurna akan menunjang kualitas sumberdaya manusia sehingga pemantauan pertumbuhan dan perkembangannya dimulai dari dalam rahim dan sesudah lahir.1 Pengertian Gizi Gizi dapat diartikan sebagai makanan yang diperlukan oleh tubuh manusia untuk dapat tumbuh dan berkembang guna menunjang kesehatan sesuai dengan periode kehidupannya.

Ekologi manusia diartikan sebagi ilmu yang mempelajari hubungan timbale balik antara manusia dengan lingkungan hidupnya. status gizi adalah keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan oleh konsumsi. dan penggunaan (utilization) zat gizi makanan. yaitu: . Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variable tertentu atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variable tertentu. Kekurangan gizi pada anak bukan saja disebabkan oleh kurangnya pangan dan kemiskinan tetapi banyak faktor lain yang berpengaruh. Status gizi adalah merupakan suatu indicator status kesehatan. Sunita Almatsier (2004) menyatakan bahwa status gizi merupakan keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi.2. dkk. penyerapan (absorbtion). 2002). Sedangkan menurut Riyadi (2005). biologis. mereka mendefinisikan status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu atau perwujudan dari nutrture dalam bentuk variabel tertentu.2 Pengertian Status Gizi Status gizi merupakan hasil akhir dari interaksi keseluruhan aspek ekologi. merupakan indeks yang statis dan agregatif sifatnya kurang peka untuk melihat terjadinya perubahan dalam waktu pendek misalnya bulanan. Status gizi pun juga didefinisikan lain oleh Deswarni Idrus dan Gatot Kunanto dalam Supriasa dkk (2002).. dan budaya dalam lingkungan hidup manusia. Status gizi dibedakan menjadi 4.1. seperti faktor-faktor fisik. baik secara langsung maupun tidak langsung (Supariasa.

HDL (High Density Lipoprotein) dan VLDL (Very Low Density Lipoprotein) (Supariasa. Fe. Specific deficiency: kekurangan zat gizi tertentu. Status gizi baik. Kedua. dkk. dan 4. Status gizi lebih Malnutrisi atau gizi salah adalah keadaan patologis akibat kekurangan atau kelebihan secara relatif maupun absolut satu atau lebih zat gizi. 3. dan lain-lain. Ada empat bentuk malnutrisi: 1. misalnnya kekurangan vitamin A. menelaah tingkat gizi secara individu atau perseorangan. memeriksa bagaimana hubungan antara tingkat hidup keluarga dengan status gizi masyarakat. 1989). Under nutrition: kekurangan konsumsi pangan secara relatif atau absolut untuk periode tertentu.1. Penilaian status gizi dapat dilakukan melalui 2 cara yaitu penilaian status gizi secara langsung dan penilaian status gizi secara tidak langsung : .. Imbalance: karena disproporsi zat gizi. misalnya: cholesterol terjadi karena tidak seimbangnya LDL (Low Density Lipoprotein). 2. yodium. (Djiteng Roedjito D. Over nutrition: kelebihan konsumsi pangan untuk periode tertentu.. 2002). Status gizi kurang 3.1. 4. 2. Status gizi buruk 2.3 Penilaian Status Gizi Penilaian keadaan gizi dari suatu kelompok individu atau masyarakat perlu memperhatikan 2 masalah dasar yaitu : pertama.

Antropometri Antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Pengertian ini bersifat sangat umum sekali. Antropos artinya tubuh dan metros artinya ukuran.1. 1. biokimia dan biofisik. maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. lingkar lengan atas dan tebal lemak di bawah kulit. Penilaian Antropometri.1 Penilaian Status Gizi Secara langsung Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi 4 penilaian yaitu : antropometri.3. Berbagai jenis ukuran tubuh antara lain : berat badan. Berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi.2. Jadi antropometri adalah ukuran dari tubuh. klinis. tinggi badan. Parameter . Antropometri digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi. Dari sudut pandang gizi. Pengertian dari sudut pandang gizi telah banyak diungkapkan oleh para ahli Jelliffe (1966) mengungkapkan bahwa : “Nutritional Anthropometry is measurement of the Variations of the Physical Dimensions and the Gross Composition of the Human Body at Different age levels and Degree of Nutrition”. Jenis parameter antropometri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan dengan mengukur beberapa parameter. Antropometri berasal dari kata antropos dan metros.

b. Di samping itu tinggi badan merupakan ukuran kedua yang penting. jika umur tidak diketahui dengan tepat. lingkar dada. Umur Faktor umur sangat penting dalam penentuan status gizi. berat badan.adalah ukuran tunggal dari tubuh manusia. lingkar kepala. Lingkar lengan atas Lingkar lengan atas dewasa ini memang merupakan salah satu pilihan untuk penentuan status gizi. Tinggi badan Tinggi badan merupakan parameter yang penting bagi keadaan yang telah lalu dan keadaan sekarang. antara lain : umur. Berat badan Berat badan merupakan ukuran antropometri yang terpenting dan paling sering digunakan pada bayi. lingkar lengan atas. d. tinggi badan. karena dengan menghubungkan berat badan terhadap tinggi badan. Hasil pengukuran tinggi badan dan berat badan yang akurat menjadi tidak berarti bila tidak disertai dengan penentuan umur yang tepat. lingkar pinggul dan tebal lemak di bawah kulit. karena mudah . c. a. Kesalahan penentuan umur akan menyebabkan interprestasi status gizi menjadi salah. Pada masa bayi balita berat badan dapat dipergunakan untuk melihat laju pertumbuhan fisik maupun status gizi.

f. Digunakan . karena rasio lingkar kepala dan lingkar dada sama pada umur 6 bulan. e. Lingkar kepala Lingkar kepala adalah standar prosedur dalam ilmu kedokteran anak secara praktis. Umumnya untuk survei klinis secara cepat. Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Survei ini dirancang untuk mendeteksi secara cepat tanda-tanda klinis umum dari kekurangan salah satu atau lebih zat gizi(Depkes RI. 2006a). Biokimia Yaitu pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. yang biasanya untuk memeriksa keadaan patologi dari besarnya kepala atau peningkatan ukuran kepala. Klinis Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk menilai status gizi masyarakat. 2. Contoh yang sering digunakan adalah hidrosefalus dan mikrosefalus. Lingkar dada Biasanya dilakukan pada anak yang berumur 2 sampai 3 tahun. 3.dilakukan dan tidak memerlukan alat-alat yang sulit diperoleh dengan harga lebih murah.

Untuk mengetahui penyebab .untuk suatu peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi (Depkes RI. Biofisik Adalah metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi dan melihat perubahan struktur dan jaringan. dan lingkungan budaya. 2. 4. Statistik vital Yaitu dengan menganalisis data beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur. Faktor ekologi Penilaian yang didasarkan pada hasil interaksi beberapa faktor fisik. 1. Umumnya digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja epidemik (Depkes RI. statistik vital dan faktor ekologi. Penggunaan dipertimbangkan sebagai bagian dari indikator tidak langsung pengukuran status gizi masyarakat. 2. biologis. angka kesakitan.3.1. Survei konsumsi makanan Yaitu metode penentuan status gizi dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi. dan lainlain. 2006a). 3. 2006a). Penggunaannya dapat untuk mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan zat gizi.2 Penilaian Status Gizi Secara Tidak Langsung Penilaian status gizi secara tidak langsung dapat dibagi menjadi 3 penilaian yaitu : survei konsumsi makanan.

4. Sebaliknya dalam keadaan abnormal. berat badan berkembang mengikuti pertambahan umur. Massa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan-perubahan yang mendadak.1. Berat badan adalah parameter antropometri yang sangat labil.1 Berat badan menurut umur Berat badan adalah salah satu parameter yang memberikan gambaran massa tubuh. Berdasarkan karakteristik berat badan maka indeks berat badan/umur digunakan sebagai salah satu cara mengukur status gizi. tinggi badan menurut umur (TB/U). terdapat 2 kemungkinan yaitu dapat berkembang cepat atau lebih lambat dari keadaan normal. dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). maka untuk berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) digunakan baku Harvard dan untuk lingkar lengan atas (LILA) digunakan baku Wolanski. BB/U dapat dipakai pada setiap kesempatan memeriksa kesehatan anak . Di Indonesia ukuran baku hasil pengukuran dalam negeri belum ada. Dalam keadaan normal. Kombinasi antara beberapa parameter disebut indeks antropometri. 2. 2.4 Indeks antropometri Parameter antropometri merupakan dasar dari penilaian status gizi.1.malnutrisi di suatu masyarakat sebagai dasar untuk melakukan program intervensi gizi. Beberapa indeks antropometri yang sering digunakan yaitu berat badan dan menurut umur (BB/U). Mengingat karakteristik berat badan yang labil maka berat badan/umur lebih menggambarkan status gizi seseorang.

2 Tinggi badan menurut umur Tinggi badan merupakan antropometri yang menggambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. tinggi badan tubuh seiring dengan pertambahan umur.4.1.1. 2002). indeks BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menilai status gizi saat kini (sekarang) (I Dewa Nyoman Supariyasa. Pertumbuhan tinggi badan tidak seperti berat badan. Lingkar lengan atas merupakan parameter antropometri yang sangat sederhana dan mudah . dapat digunakan timbangan apa saja yang relatif murah. 2. Pengaruh definisi gizi terhadap tinggi badan akan nampak dalam waktu yang relatif lama (I Dewa Nyoman Supariasa.1.3 Berat badan menurut Tinggi badan Berat badan memiliki hubungan yang linear dengan tinggi badan. mudah dan tidak memerlukan banyak waktu dan tenaga (I Dewa Nyoman Supariyasa. 2002). BB sensitif terhadap perubahan perubahan kecil. 2.4 Lingkar lengan atas menurut umur Lingkar lengan atas memberikan gambaran tentang keadaan jaringan otot dan lapisan lemak bawah kulit. perkembangan berat badan akan searah dengan pertumbuhan tinggi badan dengan kecapatan tertentu.pada semua kelompok umur.4. Pada keadaan normal. Dalam keadaan normal. 2002). Lingkar lengan atas berkorelasi dengan indeks BB/U maupun BB/TB. 2. relatif kurang sensitif terhadap masalah kekurangan gizi dalam waktu yang pendek.4.

Dari beberapa cara penilaian tersebut. Saat ini pengukuran status gizi anak Menggunakan standar baku dari World Health Organization United States National Health Centre For Statistics (WHO NCHS). Penilaian antropometri untuk memperkirakan pertumbuhan dan perkembangan fisik anak balita berupa indicator yang paling luas digunakan (WHO. Sedangkan pengertian antropometri menurut Jellife.dilakukan oleh tenaga yang bukan profesional (I Dewa Nyoman Supariyasa. status gizi yang pada saat ini sering digunakan adalah dengan cara antropometri. 2002). Pengertian dari antropometri secara singkat adalah ukuran dari tubuh. Adapun cara penilaian status gizi anak dapat dilihat menurut tabel dibawah ini. tinggi badan menurut umur (TB/U). dkk. 1986 adalah berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi (Supariasa. 2002). . Dalam penentuan status gizi indeks antropometri yang sering digunakan adalah berat badan menurut umur (BB/U).. 1990). berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) dan lingkar lengan atas menurut umur (LILA/U).

Indeks BB/U Tabel 2. 2002). 2. dapat mengevaluasi status gizi periode tertentu dan dapat digunakan untuk screening. alatnya murah dan mudah didapat. dkk. relative tidak membutuhkan tenaga ahli. tentang klasifikasi status gizi anak bawah lima tahun) Antropometri sebagai salah satu cara menilai status gizi mempunyai keunggulan dan kelemahan. Nomor: 902/Menkes/SK/VIII/2000. faktor non gizi seperti penyakit dapat menurunkan spesifisitas dan sensitifitas. dapat mendeteksi keadaan gizi masa lalu.1. Kualitas dan kuantitas makanan seorang . Keunggulan metode antropometri adalah prosedurnya sederhana. kesalahan yang terjadi pada saat pengukuran yang biasanya berhubungan dengan latihan petugas. metodenya tepat dan akurat. Sedangkan kelemahannya antara laina adalah metode ini tidak sensitif.5 Faktor-Faktor yang mempengaruhi Gizi Status gizi anak pada dasarnya ditentukan oleh dua hal yaitu : makanan yang dimakan dan keadaan kesehatan.1 Baku Antropometri (NCHS) Status Gizi Z-Score >+2 SD  Gizi Lebih >-2 SD sampai + 2 SD  Gizi Baik <-2 SD sampai >3 SD  Gizi Kurang <-3 SD  Gizi Buruk       Normal Pendek Gemuk Normal Kurus (wasted) Kurus sekali >2 SD <-2 SD >+2 SD >-2 SD sampai +2 SD <-2 SD sampai >-3 SD <-3 SD TB/U PB/U BB/TB BB/PB (KepMenKes RI. kesalahan alat dan kesulitan pengukuran (Supariasa.

2001). Konsumsi makanan dipengaruhi oleh nafsu makan anak dan penyediaan makanan untuk anak. Levinson (1974) mengemukakan dua faktor yang langsung berpengaruh terhadap status gizi anak yaitu konsumsi makanan dan status kesehatan. kebiasaan dan tradisi pemberian makanan.anak tergantung pada kandungan zat gizi makanan tersebut. daya beli keluarga dan karakteristik ibu tentang makanan dan kesehatan. status ekonomi dan lain-lain . tingkat pendidikan ibu. beban kerja ibu. (I Dewa Nyoman. ada tidaknya pemberian makanan tambahan di keluarga. Penyediaan waktu oleh ibu dipengaruhi oleh status kesehatan ibu. pembagian makanan dalam keluarga dan tersedianya makanan untuk keluarga. Keadaan kesehatan anak juga berhubungan dengan karakteristik ibu terhadap makanan dan kesehatan. Penyediaan makanan untuk anak dipengaruhi oleh waktu yang tersedia oleh ibu. ada tidaknya penyakit infeksi dan jangkauan terhadap pelayanan kesehatan. daya beli keluarga.

Tkt Pendidikan Rendah. peneliti menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya gizi buruk yaitu penyebab langsung dan tidak langsung.1 Faktor Mempengaruhi Status Gizi STATUS GIZI Penyebab Langsung Asupan zat gizi penyakit infeksi Ketersediaan pangan RT Perawatan anak dan ibu hamil Pelayanan/fasilitas kesehatan Penyebab Tidak Langsung Kemiskinan. Dan Sempitnya Lapangan Kerja Masalah Utama Krisis Ekonomi Dan Politik Akar Masalah Sumber: Unicef (1988) dengan penyesuaian Berdasarkan dari banyak data yang didapat. .Ketersediaan Pangan Di Masyarakat Menurun.Gambar 2.

Pendidikan rendah Berakibat pada sedikitnya pengetahuan khususnya dibidang kesehatan mengnai makanan apa saja yang mengandung gizi yang tinggi dan yang dibutuhkan oleh anak dalam tumbuh kembangnya. yaitu: 1. Ketersediaan pangan tingkat rumah tangga yang rendah 2. Penyebab secara tidak langsung. Keadaan gizi Dipengaruhi oleh ketidakcukupan asupan makanan dan penyakit infeksi yang ditimbulkan seperti penyakit diare. Ketersediaan pelayanan kesehatan yang tidak memadai 3.5. Kemiskinan Merupakan akibat dari krisis ekonomi dan politik yang mengakibatkan sulitnya mendapatkan pekerjaan yang kemudian berakibat pada minimnya pendapatan seseorang dan ketersediaan panganpun berkurang.1 Penyebab langsung. . maka pada gilirannya nanti akan mengakibatkan terlahirnya bayi dengan berat badan rendah yang kemudian akan mengakibatkan gizi buruk pada anak tersebut. 2. yaitu: 1. dan penyakit infeksi. 4. Mal nutrisi Berawal dari nutrisi ibu yang kurang saat sebelum dan sesudah hamil.1. campak dan infeksi saluran nafas yang kerap menimbulkan berkurangnya nafsu makan.2.

Oleh Unicef diidentifikasi bahwa penyebab permasalahan gizi oleh beberapa faktor. Selain itu faktor budaya yang lebih mendahulukan bapak dalam pemenuhan kebutuhan makanan juga masih ada di beberapa golongan masyarakat tertentu. 5. Dan kemudian penykit infeksi itu akan berpotensi sebagai penyokong atau pembangkit gizi buruk ( Gizi Dalam daur Kehidupan. Adapun penyebab secara langsung memepengaruhi terjadinya maslah gizi adalah rendahnya asupan zat pada saat ibu hamil ataupun balita serta adanya penyakit infeksi.. 2002).Hal ini juga diakibatkan karena pola asuh orang tua terhadap anak yang salah. MB. Lingkungan Keadaan lingkungan yang tidak sehat dan tempat tinggal yang berjejalan menyebabkan infeksi akan sering terjadi. ketersediaan pangan dimasyarakat menurun atau sempitnya lapangan pekerjaan (disebut juga sebagai permasalahan utama). Arisman. . diantaranya adalah penyebab dasar (akar masalah) berupa krisis ekonomi dan politik yang terjadi pada suatu negara atau daerah yang dapat mencetus terjadinya kemiskinan. tingkat pendidikan yang rendah. Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya masalah gizi.

stress dan afoksia (Supariasa. tetapi pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua. yaitu: (FK Universitas Indonesia. 2. yaitu faktor internal dan eksternal. Ukuran massa tubuh jaringan adalah berhubungan dengan massa tubuh seperti berat badan. Faktor internal mencakup faktor bawaan. ukuran panjang (meter) dan lain-lain. jumlah dan fungsi tingkat sel. Jenis pertumbuhan meliputi pertumbuhan yang bersifat linear dasn pertumbuhan massa jaringan. mekanis. toksin/zat kimia. infeksi. Pertumbuhan berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar. obstetric dan ras. Ukuran linear adalah ukuran yang berhubungan dengan panjang seperti tinggi badan atau panjang badan. Terdapat empat masa pertumbuhan anak semenjak lahir. tetapi saling berkaitan dan sulit dipisahkan. Sedangkan faktor eksternal anatara lain gizi ibu pada saat hamil. Perkembangannya adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan sebagai proses pematangan. 2002). Berbagai faktor yang mempengaruhi pertumbuhan. kemudian berkurang secara berangsur-angsur sampai anak berumur 5 tahun..2 Tumbuh Kembang Anak Pengertian pertumbuhan dan perkembangan mencakup dua peristiwa yang statusnya berbeda. Pertumbuhan yang berjalan lambat dan teratur sampai anak berumur aqil baligh (pubertas). radiasi. organ maupun individu yang bisa diukur dengan ukuran berat (gram). Pertumbuhan yang cepat sekali sampai anak umur 1 tahun.2. . 1. jenis kelamin. dkk. 1974).

Pertumbuhan yang cepat. 4. Dengan demikian jelas masalah gizi merupakan masalah bersama dan semua keluarga harus bertindak atau berbuat sesuatu bagi perbaikan gizi (Sayogya. 2003).1 Masalah Gizi Secara Umum Secara umum terdapat 4 masalah gizi utama di Indonesia yakni KEP (Kurang Energi Protein). pada umur satu tahun berat badan anak menjadi tiga kali berat badan lahir (King. Anak yang normal pada umur enam bulan berat badannya mencapai dua kali berat badan saat lahir. et all. 2.3. .3. KVA (Kurang Vitamin A). Pertumbuhan berkurang secara berangsur-angsur sampai berhenti sewaktu berumur kira-kira 18 tahun.3 Masalah Gizi 2. Akibat dari kurang gizi ini adalah kerentanan terhadap penyakit-penyakit infeksi dan dapat menyebabkan meningkatnya angka kematian (Suhardjo.M. 1983). Kurang Yodium (gondok endemik) dan kurang zat besi (anemi gizi besi). Kalau cukup banyak orang yang termasuk golongan ini masyarakat yang bersangkutan sulit sekali berkembang. pada masa pubertas. 1994). Gizi kurang atau gizi buruk pada balita dapat berakibat terganggunya pertumbuhan jasmani dan kecerdasan mereka.

Pemantauan pertumbuhan merupakan salah satu kegiatan utama program perbaikan gizi di lebih dari 80 negara yang menitikberatkan pada upaya pencegahan dan peningkatan keadaan gizi anak (Minarto. KEP merupakan defisiensi gizi (energi dan protein) yang paling berat dan meluas terutama pada balita. Kekurangan energi protein (KEP) tidak terjadi secara tiba-tiba (akut). Salah satu konsekuensi dari kurang gizi adalah gangguan pertumbuhan.3.2 Masalah Kurang Energi Protein (KEP) Kurang energi protein (KEP) adalah seseorang yang kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan seharihari dan atau gangguan penyakit tertentu. Perubahan berat badan merupakan indikator yang dianggap sensitif untuk mendeteksi perubahan keadaan gizi masyarakat. 2. KEP adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG) (Depkes RI. 1999). 200 .Kondisi ini akan berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia. Pada umumnya penderita KEP berasal dari keluarga miskin. Pertumbuhan normal dapat tercapai bila berat badan anak berdasarkan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) dan bila di plot dalam kartu menuju sehat (KMS) berada pada garis pertumbuhan normalnya (Growth Trajectory). Anak disebut KEP apabila berat badannya kurang dari 80% indeks berat badan menurut umur (BB/U) baku WHO-NCHS. tetapi merupakan kejadian kronis yang selalu ditandai dengan kenaikan berat badan yang tidak cukup.

3.2. yaitu : 1. Tanda-Tanda Penderita Gizi Buruk Ada beberapa cara untuk mengetahui seorang anak terkena gizi buruk (busung lapar). 2. Akan tetapi. Keadaan ini sangat umum terjadi di seluruh dunia dan mempengaruhi sekitar 800juta orang dewasa dan anak-anak. Bila perbandingan berat badan dengan umurnya dibawah 60% standar WHONCHS. 2. .4. Bila tidak sesuai dengan standar anak normal. Dengan mengukur tinggi badan dan Lingkar Lengan Atas (LILA). 1999). maka dapat dikatakan anak tersebut terkena busung lapar.4.2.4. Klasifikasi KEP/Gizi Buruk Untuk tingkat puskesmas penentuan KEP yang dilakukan dengan menimbang BB anak dibandingkan dengan umur dan Menggunakan KMS dan tabel BB/U baku median WHO-NCHS (Depkes RI. waspadai anak tersebut terkena busung lapar. Orang-orang kesehatan biasa menyebutnya dengan istilah kekurangan energi dan protein(KEP).1 Pengertian Gizi Buruk Gizi buruk merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan keadaan yang diakibatkan oleh kurangnya zat gizi terutama defisiensi protein dan energi. 2. dampak yang terburuk terjadi pada anak-anak karena dengan menderita gizi buruk mereka mengalami kegagalan pertumbuhan (Supariasa. Dengan cara menimbang berat badan secara teratur setiap bulan. dkk. 2002).

Adapun gejala yang ditimbulkan adalah: a. Hal ini terjadi karena penyapihan mendadak. Tanpa mengukur BB bila disertai edema yang bukan karena penyakit lain adalah KEP berat gizi buruk tipe kwashiorkor (Depkes RI. KEP ringan bila hasil penimbangan berat badan pada KMS terletak pada pita warna kuning. Marasmus Kata ”marasmus” berasal dari bahsa Yunani yang artinya kurus kering. kwashiorkor atau marasmic-kwashiorkor. Marasmus merupakan defisiensi intake energi yang umumnya terjadi pada anak-anak sebelum 18 bulan karena terlambat di beri makanan tambahan. 3. gejala klinis yang ditemukan hanya anak tampak kurus. Gejala klinis berat/ gizi buruk secara garis besar dapat dibedakan sebagai marasmus. 2. KEP berat/ gizi buruk bila hasil penimbangan BB/U <60% baku median WHO-NCHS. sehingga menentukan KEP berat/gizi buruk digunakan tabel BB/U median WHO-NCHS. Keterlambatan pertumbuhan yang parah . 1. Pada KMS tidak ada garis pemisah KEP berat/gizi buruk dan KEP sedang. Penyakit ini sering terjadi pada sosial ekonomi yang relatif rendah.4. Gejala Klinis balita KEP Berat/Gizi buruk Untuk KEP ringan dan sedang. KEP sedang bila hasil pinimbangan berat badan pada KMS terletak dibawah garis merah (BGM). 1999).1. 2. formula pengganti ASI yang terlalu encer dan tidak higienis atau sering terkena infeksi terutama gastroentritis.4.

Wajah seperti orang tua g. ISPA. Otot-otot berkurang dan melemah d.b. tuberkulosis. Oedema (pembengkakan). cacingan berat dan penyakit kronis lainnya k. Penyakit ini lebih banyak diderita pada anak berumur 2-3 tahun. suka merengek c. Kwarshiorkor Kata “kwarshiorkor” berasal dari bahasa Ghana yang artinya penyakit yang terjadi ketika bayi berikutnya lahir. Adapun gejala yang ditimbulkan adalah: a. Rambut jarang dan tipis e. kulit bersisi d. Cecile Williams tahun 1933. moonface dan gangguan psikomotor b. tidak mau makan. Sering disertai defisiensi vitamin A dan D 2. Istilah kwarshiorkor pertama diperkenalkan oleh Dr. Kurus sehingga hampir tidak ada lemak dibawah kulit c. Hati membesar dan berlemak . Sering terjadi dehidrasi. Hal ini menyebabkan komposisi makanan terutama makanan yang mengandung protein kurang dikonsumsi. terjadi pada anak yang terlambat pada masa penyapihan. Kulit dan rambut mengalami depigmentas. Perut cekung i. Cengeng dan rewel h. Anak menjadi apatis. Iga gambang j. Kulit tidak elastis dan keriput f.

Marasmus-Kwarshiorkor Marasmus-kwarshiorkor merupakan gabungan dari keduanya dan tanda-tanda adalah gejala dari keduanya. Proses Terjadinya Gizi Buruk Proses terjadinya gizi buruk dimulai dari tahapan ketika seorang anak mengalami gizi kurang (undernutrition). Pandangan mata sayu g. dkk. i. 3. umumnya akut. Sering disertai: penyakit infeksi.e. 2008). f. Keadaan ini akan mengakibatkan terjadinya marasmus atau kwashiorkor atau juga kedunya. Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas. anemia dan diare. Keadaan ini mengkibatkan anak menglami kegagalan pertumbuhan yang kemudian ia termasuk kedalam tahapan gizi buruk tingkat sedang. 2.5. lebih nyata diperiksa pada posisi berdiri atau duduk h. Sering disertai anemia dan xeroftamia. dengan BB/U <60% baku median WHO-NCHS disertai edema yang tidak mencolok (Modul Gizi Ksehatan Masyarakat. Hal ini akan menjadi lebih parah jika disertai dengan penyakit infeksi yang disebabkan dari kondisi lingkungan yang tidak sehat. Otot mengecil (hipotrofi). dan itu artinya bahwa anak sudah masuk kedalam kategori gizi buruk tingkat berat (Supariyasa. Jika asupan zat gizinya tidak cepat terpenuhi maka berat badan anak akan semakin turun. 2002) .

2.2. keluarga. tingkat Kecamatan (Puskesmas) sampai tingkat Kabupaten didapatkan hasil sebagai berikut: 2.2 Pelayanan Balita Gizi Buruk di Puskesmas Semua kasus gizi buruk yang dirujuk mendapatkan pelayanan di puskesmas ( baik puskesmas dengan rawat inap ataupun tanpa rawat inap maupun rujukan perawatan di Rumah Sakit Umum).5. kebiasaan makan dan lingkungan tempat tinggal ( rumah ).1. Pada tahun 2004 jumlah bayi dan balita gizi buruk sebanyak 309 anak sedangkan jumlah bayi dan balita gizi kurang sebanyak 1526 anak.5.5.1. Pada tahun 2004 ada tiga balita gizi buruk tanpa komplikasi di rawat di Rumah Sakit Umum Purworejo dan mendapatkan bantuan terapi gizi pasca perawatan serta satu balita mendapatkan bantuan untuk pemberdayaan keluarga.3 Pelacakan Balita Gizi Buruk dengan Cara Investigasi Diketahui identitas responden ( data penderita ).1. Petugas Gizi Puskesmas maupun Petugas Gizi Kabupaten . 2. 2006) dari tingkat Rumah Tangga.5. Semua balita gizi buruk telah dilacak baik oleh Bidan Desa. status kesehatan.1 Penjaringan kasus balita gizi buruk Diketahui jumlah kasus balita gizi buruk dan gizi kurang masing-masing desa di 25 wilayah kerja puskesmas se-Kabupaten Purworejo.1 Penanggulangan Balita Gizi Buruk Dengan dibuatnya prosedur penanggulangan balita gizi buruk oleh (Depkes RI.

6 Tatalaksana Anak Gizi Buruk 10 langkah utama tatalaksana gizi buruk.1. Pengobatanh dan pencegahan hypothermia adalah menghangatkan anak dengan mendekap anak di dada ibu/ orang dewasa lainnya dan ditutupi selimut atau membungkus anak dengan selimut tebal dan meletakkna lampu di dekatnya.5. 2. atau larutan air gula dengan sendok bila anak tidak dapat makan. Pada tahun 2004 bekerjasama dengan Dinas Pertanian dalam penanggulangan balita gizi buruk dengan memberikan bantuan pangan kepada keluarga miskin di kecamatan Bruno. 2. Pengobatan atau pencegahan hipoglekimia adalah bila anak sadar berikan makanan saring/cair 2-3 jam sekali.2. 2. Dari 309 bayi dan balita gizi buruk sebanyak 150 anak mendapatkan PMT-P susu dan sisanya mendapatkan MP-ASI bubur dan MP-ASI biskuit. 1999): 1.1. . yaitu (Depkes RI. Jika terdapat gangguan kesadaran diberikan infuse cairan glukosa dan segera dirujuk ke RSU kabupaten.4 Pelayanan Balita Gizi Buruk di Rumah Tangga Semua balita gizi buruk di rumah tangga mendapatkan pelayanan gizi (Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan / PMT-P ) .5. Pada masa ini dilakukan pengukuran suhu anak pada dubur setiap setengah jam sekali.5 Koordinasi Lintas Sektor Diperoleh dukungan / kesepakatan dengan sektor terkait dalam penanggulangan balita gizi buruk.

Pada awal fase stabilisasi perlu dilakukan pendekatan yang sangat hati-hati. serta vaksinasi campak bila anak belum di imunisasi dan umur sudah mencapai > 9 bulan. jangan memberikan zat besi pada masa stabilisasi karena dapat memperburuk keadaan infeksi. yaitu fase transisi dan fase rehabilitasi. yaitu fase stabilisasi. Perhatikan masa tumbuh kejar balita yang meliputi dua fase. Pengobatan dan pencegahan infeksi. Pengobatan dan pencegahan kekurangan cairan adalah dengan tetap memberikan ASI setiap setengah jam sekali jika anak masih menyusui dan memberikan minum 3 sendok makan setiap 30 menit. 8. 7. yaitu pada KEP berat/gizi buruk. jika anak tidak dapat minum diberikan infuse cairan ringer lactate/glukosa 5% NaCl dengan perbandingan 1:1.3. Lakukan pemulihan gangguan keseimbangan elektrolit dengan memberikan makanan tanpa garam/rendah garam dan bila balita bisa makan maka diberikan makanan banyak mengandung mineral dalam bentuk lunak. disebabkan keadaan faal anak sangat lemah dan kapasitas homeostatik berkurang. oleh karena itu pada semua KEP berat/ gizi buruk secara rutin diberikan antibiotik. fase transisi. 6. Pemberian makanan balita KEP berat/gizi buruk dibagi atas tiga fase. . 5. berikan pada saat anak sudah mau makan dan berat badannya sudah mulai naik (biasanya pada minggu ke 2). 4. umunya menunjukkan adanya infeksi seperti demam. dan fase rehabilitasi. Penanggulangan kekurangan zat gizi mikro dilakukan dengan hati-hati.

asuhan keperawatan dan asuhan gizi (Depkes RI. rencanakan aktifitas fisik segera setelah sembuh meningkatkan keterlibatan ibu. 2006a) Tujuan utama asuhan gizi adalah memenuhi kebutuhan zat gizi pasien secara optimal baik berupa pemberian makanan pada pasien yang dirawat maupun konseling gizi pada pasien rawat jalan. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan kerjasama tim yang terdiri dari unsure terkait untuk . 10. Tindak lanjut perawatan dirumah dilakukan bila berat badan anak sudah berada di garis warna kuning dan dipantau oleh tenaga kesehatan puskesmas atau bidan desa. Pelayanan gizi rawat inap sering disebut juga dengan terapi gizi medik. baik rawat inap maupun rawat jalan. ciptakan lingkungan yang menyenangkan. Memberikan stimulasi sensorik dan dukungan emosional.9. Pola pemberian makan yang baik dan stimulasi harus tetap dilanjutkan di rumah setelah pasien dipulangkan. 2. berikan terapi bermain terstruktur selama 15-30 menit/hari.1 Asuhan Gizi Asuhan gizi merupakan sarana dalam pemenuhan dalam upaya pemenuhan zat gizi pasien.7 Proses Kegiatan Pelayanan Gizi 2.7. secara teoritis memerlukan tiga jenis asuhan (care) yang pada pelaksanaannya dikenal sebagi pelayan (service). Ketiga jenis asuhan tersebut adalah : asuhan medik. yaitu berupa kasih sayang. Pelayanan kesehatan paripurna seorang pasien.

2. pemantauan dan evaluasi. tepat cara pemberian. penentuan terapi gizi pasien perlu mempertibangkan tiga (3) macam kebutuhan yaitu a) penggantian( replacement). 3. perawat dan tenaga kesehatan lainnya. enteral dan parenteral) sesuai kebutuhan. tepat formula. Menentukan kebutuhan terapi gizi. Membuat diagnosis masalah gizi 2. Melaksanakan pemberian makanan 5. pelaksanaan. dan c) penambahn akibat kehilangan (loss) yang berkelanjutan dan untuk pemulihan jaringan dengan berpedoman kepada : tepat zat gizi (bahan makanan).1 Tim Asuhan Gizi Tim asuhan gizi merupakan tim asuhan fungsional gizi mulai yang dari mengkoordinasikan penyelenggaraan perencanaan. yaitu : 1.7.melaksanakan urutan kegiatan. 4. b) pemeliharaan (maintenance). Dalam pelaksanaan asuhan gizi. yang dikelompokan menjadi lima (5) kegiatan.2 Pelaksanaan Asuhan Gizi Di Rumah Sakit 2. nutrionis atau dietsien.7. tepat bentuk. Memilih dan mempersiapkan bahan/makanan/formula khusus ( oral. Tim asuahn gizi bertugas menyelenggarakan pelayanan gizi paripurna kepada . Evaluasi/pengkajian gizi dan pemantauan 2. serta tepat dosis dan waktu. Tim ini dipimpin oleh seorang dokter dengan anggota yang terdiri dari dokter.

RI 2003 1. Dokter 1) Bertanggung jawab dalam aspek gizi yang terkait dengan keadaaan klinis diagnosa masalah gizi klien/pasien .7.2.klien/pasien. 2006a). 2. Peran anggota tim asuhan gizi a. maka perlu dukungan pimpinan rumah sakit. komite dan staf serta adanya koordinasi dan komunikasi antar anggota tim.2 Jalur Koordinasi Tim Asuhan Gizi Agar kegiatan asuhan gizi berjalan dengan optimal. Oleh karena itu rumah sakit perlu dibentuk Tim Asuhan gizi sesuai dengan struktur organisasi masing-masing rumah sakit Gambar 2.2 Contoh Jalur koordinasi TIM Asuhan Gizi Direktur Komite Medik Panitia Asuhan Gizi Tim Dukungan Gizi Tim Dukungan Gizi Tim Dukungan Gizi Tim Dukungan Gizi Sumber: Depkes. terutama yang membutuhkan terapi gizi pada pasien rawat jalan (Depkes RI.

4) Memantau masalah yang berkaitan dengan asuhan gizi kepada klien/pasien. 7) Mengevaluasi status gizi klien/pasien secar berkala asupan makanan. 5) Memberikan penyuluhan. .2) Menentukan diet/pasien bersama nutrisionis/ dietsien 3) Memberikan penjelasan kepada klien/p[asien dan keluarganya tentang pewranan terapi diet 4) Merujuk klien/pasien untuk konseling dan terapi gizi 5) Melakukan pemantauan dan evaluasio berkala bersama anggota tim selama klien/pasien dalam masa perawatan b. dan bila perlu melakukan perubahan diet pasien berdasarkan hasil diskusi dengan tim Asuhan Gizi. 6) Melakukan kunjungan keliling (visite) baik sendiri maupun bersama dengan Tim Asuhan Gizi kepada pasien. motivasi dan konseling gizi pada klien/pasien dan keluarganya. bersama dengan perawat ruangan. Nutrisionis/dietsien 1) Mengkaji status gizi/pasien berdasarkan rujukan 2) Melakukan anamnesis riwayat diet ke dalam bentuk makanan yang disesuaikan dengan kebiasaan makan serta keperluan terapi. 3) Memberikan saran kepada dokter berdasarkan hasil pemantauan/evaluasi terapi gizi.

10) Menentukan rencan diet awal/sementara bilamana belum ada penentuan diet dari dokter. 11) Melakukan pemantauan interaksi obat dan makanan bersama dengan Tim Asuhan Gizi lainnya.8) Mengkomunikasikan hasil terapi gizi kepada semua anggota Tim Asuhan Gizi. anggota Tim Asuhan Gizi lain. klien/pasien dan keluarganya dalam rangka evaluasi keberhasilan pelayanan gizi. Perawat 1) Melakukan kerjasama dengan dokter dan nutrisionis/dietsien dalam memberikan pelayanan gizi kepada klien/pasien 2) Membantu klien/pasien pada waktu makan 3) Melakukan pengukuran antropometri untuk menentukan dan mengevaluasi status gizi klien/pasien 4) Bersama dengan notrisionis memantau masalah-masalah yang berkaitan dengan asuhan gizi kepada klien/pasien 5) Melakukan pemantauan. 9) Berpartisipasi aktif dalam pertemuan/diskusi dengan dokter. mencatat dan melaporkan asupan makanan dan respon klinis/pasien terhadap diet yang diberikan . perawat. c.

3) Bertanggung jawab pada hasil pemeriksaan roentgen dan laboratorium 2. 2006a)).Tujuannya untuk memberikan . 3) Membantu mengawasi dan mengevaluasi penggunaan obat dan cairan parenteral oleh klien/pasien bersama perawat. Farmasi 1) Melaksanakan permintaan obat dan cairan parenteral berdasarkan resep dokter. menggantikan obat dari jenis yang sama sesuai dengan persetujuan dokter.3 Asuhan Gizi Rawat Inap Yaitu serangkaian proses kegiatan pelayanan gizi yang berkesinambungan dimulai dari perencanaan diet hingga evaluasi rencana diet pasien di ruang rawat inap (Depkes RI. termasuk interaksi obat dan kesehatan.d. 2) Bekerja sama dengan dokterdan perawat untuk pemeriksaan roentgen dan laboratorium. 5) Bersama dengan nutrisionis/deitsien`melakukan pemantauan interaksi obar dan makanan e.7. 2) Mendiskusikan keadaan atau hal-hal yang dianggap perlu dengan tim. Tenaga kesehatan lainnya (misalnya rontgen dan laboratorium) 1) Melakukan pemeriksaan roentgen dan laboratorium sesuai dengan permintaan dokter. 4) Jika perlu.

Pelayanan gizi rawat inap merupakan serangkaian kegiatan selama perawatan yang meliputi : 1.3. berat badan (BB). dalam upaya mempercepat proses penyembuhan.pelayanan kepada pasien rawat inap agar memperoleh gizi yang sesuai dengan kondisi penyakit. dan lain-lain sesuai dengan kebutuhan (Depkes RI. lingkar lengan atas (LILA). jaringan. tebal lemak bawah kulit (Skin fold technic). 5.7. Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mendeteksi adanya kelainan klinis yang berhubungan dengan gangguan gizi atau untuk menentukan hubungan sebab akibat antara status gizi dengan kesehatan serta menentukan terapi obat dan diet. 2. Pengkajian status gizi Penentuan kebutuhan gizi sesuai dengan status gizi dan penyakitnya Penentuan macam atau jenis diet sesuai dengan penyakitnya dan cara pemberian makanan 4. 2006a) 2. trofi otot dan defisiensi zat gizi lainnya. berupa tinggi badan (TB).1 Pengkajian Status Gizi 1. Antropometri Setiap pasien akan diukur data antropometri. tinggi lutut. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik meliputi kesan klinis keadaan gizi. Konseling gizi Evaluasi dan tindak lanjut pelayanan gizi 2. lemak subkutan. 3. panjang badan (PB). Pemeriksaan fisik .

trigliserida dll). 2006a) 3. Urin (glukosa. sistem metabolic/endokrin dan sistem neurologik/ psikiatrik (Depkes RI. sistem gastrointestinal. pola makan. bentuk dan frekuensi makan.2 Riwayat Gizi Setiap pasien rawat inap akan dianalisis mengenai kebiasaan makan sebelum dirawat yang meliputi asupan zat gizi. b.meliputi: : tanda-tanda klinis kurang gizi (sangat kurus. kadar gula.3. 2006a). sistem pernafasan. asam urat. Laboratorium Pemerikrsaan laboratorium dilakukan untuk mendeteksi adanya kelainan biokimia dalam rangka mendukung diagnosa penyakit serta menegakkan masalah gizi klien/pasien. LDL. Pemeriksaan ini dilakukan juga untuk menentukan intervensi gizi dan memonitor/mengevaluasi terapi gizi (Depkes RI. kolesterol total. keratin.gula darah. HDL. Asupan zat gizi diukur dengan menggunakan model makanan (food model) dan selanjutnya dianalisis zat gizinya dengan menggunakan daftar analisa bahan makanan atau daftar bahan makanan penukar (Depkes RI. ureum. 2006a) . serta pantangan makan. Pemeriksaan darah (Hb. dan c. Pemeriksaan laboratorium yang perlu dilakukan antara lain : a. pucat atau bengkak) atau gizi lebih (gemuk/sangat gemuk/obesitas) : sistem kardiovaskuler. Feses 2.7. albumin dll).

kebutuhan harian. pola makan. 2. semua data antropometri. contohnya “ NutriClin” yang dapat memberi informasi tentang status gizi.Analisis asupan gizi memberikan informasi perbandingan antara asupan dengan kebutuhan gizi dalam sehari. Kajian data gizi dapat juga dilakukan melalui penggunaan perangkat lunak (software).7. dan data laboratorium.3. Penghitungan ini dapat menggunakan software seperti NutriClin (Depkes RI. 2. Setiap pasien rawat inap akan dianamnesis untuk mengetahui asupan makanan sebelum dirawat yang meliputi: asupan zat gizi. pemeriksaan klinis. Selain itu juga memperhatikan kebutuhan untuk penggantian status gizi (replacement). klinis dan bio kimia yang didapat dicatat pada formulir pencatatan gizi.3. dan saran diet sesuai dengan kondisi pada saat melakukan konseling (Depkes RI. 2006a). dietesien akan mempelajari menyusun rencana diet dan bila sudah sesuai selanjutnya akan menterjemahkan kedalam menu dan porsi makanan serta frekuensi .4 Penetuan Macam Dan Jenis Diet Setelah dokter menentukan diet pasien tersebut. kebutuhan tambahan karena kehilangan (loss) serta tambahan untuk pemulihan jaringan atau organ yang sedang sakit.7.3 Penentuan Kebutuhan Gizi Penentuan kebutuhan gizi diberikan kepada klien/pasien atas dasar status gizi. 2006a). hasil anamnesis dibandingkan dengan angka kecukupan gizi (AKG).

terlebih dahulu dibuat rencana konseling yang mencakup penetapan tujuan. metode. worlldfood. atau NutriClin. dsb) sesuai dengan kebutuhan memperhatikan zat gizi yang dibutuhkan serta macam dan jumlah bahan makanan yang digunakan. Apabila dari rencana diet tersebut diperlukan penyesuaian maka dietesien akan menkonsultasikan kepada dokter (Depkes RI. tujuan dari konseling gizi membuat perubahn prilaku makan pada pasien. 2006a).7. pelaksanaan konseling terutama pada saat anamnesis dan penentuan diet. dan tindak lanjut. 2006a). Penyuluhan dan konsultasi gizi dapat diberikan secara perorangan maupun secara kelompok. pemecahan masalah yang timbul dalam melaksanakan diet tersebut. materi. . Hal ini akan terwujud melalui. cair. EbisPro. berdasrkan kesamaan terapi diet pasien (Depkes RI. b. lunak. penjelasan diet yang perlu dijalankan oleh pasien.5 Konseling dan Penyuluhan Gizi Sebelum melaksankan kegiatan konseling gizi.3. 2. sasaran. a. yang diperlukan untuk proses penyembuhan. dapat dilakukan dengan memanfaatkan software tertentu seperti food processor (FP2). Makanan diberikan dalam berbagai bentuk/konsistensi.makan akan diberikan. Untuk meningkatkan efisiensi. (biasa. kepatuhan pasien untuk melaksanakan yang telah ditentukan dan c. strategi. penilaian.

sesuai dengan kebutuhan dan kondisinya. Pada pasien anak pemantauan berat badan sebaiknya dilakukan setiap hari (Depkes RI. yang dilakukan dengan mengubah preskripsi diet sesuai dengan kondisi pasien. mual. toleransi terhadap makanan yang diberikan.tindak lanjut yang dilaksanakan berdasarkan kebutuhan sesuai dengan hasil evaluasi pelayanan gizi antara lain perubahan diet. muntah. nafsu makan rendah dsb. 2006a). Evaluasi dan Tindak Lanjut Aktivitas utama dari proses evaluasi pelayanan gizi pasien adalah memantau pemberian makanan secara berkesinambungan untuk menilai proses penyembuhan dan status gizi pasien. keadaan klinis difekasi. hasil laboratorium dll. Apabila perlu. muntah.5 Pemantauan.2.3. dilakukan kunjungan ulang atau kunjungan rumah. . asupan makanan. Untuk pasien yang dirawat walaupun tidak memerlukan diet khusus tetapi tetap perlu mendapatkan perhatian agar tidak terjadi “Hospital Malnutrition” terutama pada pasien-pasien yang mempunyai masalah dalam asupan makanannya seperti adnya mual.bentuk makanan. Pemantauan tersebut mencakup antara lain perubahan diet.7. Pemantauan berat badan status gizi perlu dilakukan secara rutin.

2.8. Terapi Gizi Pasien Gizi Buruk Cara pemberian diet pada pasien gizi buruk terdiri dari 3 fase yaitu fase stabilisasi, fase transisi dan fase rehabilitasi. Tiap fase dengan penjelasan sebagai berikut : 2.8.1 Fase Stabilisasi ( 1-2 hari) Pada awal fase stabilisasi perlu pendekatan yang sangat hati-hati, karena keadaan faali anak sangat lemah dan kapasitas homeostatik berkurang. Pemberian makanan harus dimulai segera setelah anak dirawat dan dirancang sedemikian rupa sehingga energi dan protein cukup untuk memenuhi metabolisma basal saja. Formula khusus seperti Formula WHO 75/modifikasi/Modisco ½ yang dianjurkan dan jadwal pemberian makanan harus disusun sedemikian rupa agar dapat mencapai prinsip tersebut di atas dengan persyaratan diet sebagai berikut: 1. Porsi kecil, sering, rendah serat dan rendah laktosa 2. Energi : 100 kkal/kg/hari 3. Protein : 1-1.5 gr/kg bb/hari 4. Cairan : 130 ml/kg bb/hari (jika ada edema berat 100 ml/Kg bb/hari) 5. Bila anak mendapat ASI teruskan , dianjurkan memberi Formula WHO 75/pengganti/Modisco ½ dengan menggunakan cangkir/gelas, bila anak terlalu lemah berikan dengan sendok/pipet 6. Pemberian Formula WHO 75/pengganti/Modisco ½ atau pengganti dan jadwal pemberian makanan harus disusun sesuai dengan kebutuhan anak

Keterangan: a. Pada anak dengan selera makan baik dan tidak edema, maka tahapan pemberian formula bisa lebih cepat dalam waktu 2-3 hari (setiap 2 jam) b. Bila pasien tidak dapat menghabiskan Formula WHO

75/pengganti/Modisco ½ dalam sehari, maka berikan sisa formula tersebut melalui pipa nasogastrik ( dibutuhkan ketrampilan petugas ) c. Pada fase ini jangan beri makanan lebih dari 100 Kkal/Kg bb/hari. d. Pada hari 3 s/d 4 frekwensi pemberian formula diturunkan menjadi setiap jam dan pada hari ke 5 s/d 7 diturunkan lagi menjadi setiap 4 jam. e. Lanjutkan pemberian makan sampai hari ke 7 (akhir minggu 1)
Pantau dan catat :

1) 2) 3) 4) 5)

Jumlah yang diberikan dan sisanya Banyaknya muntah Frekwensi buang air besar dan konsistensi tinja Berat badan (harian) Selama fase ini diare secara perlahan berkurang pada penderita dengan edema , mula-mula berat badannya akan berkurang kemudian berat badan naik

6)

Perhatikan masa tumbuh kejar balita (catch- up growth)

2.8.2 Fase Transisi (minggu ke 2) Fase transisi merupakan fase peralihan dari fase stabilisasi yang cara pemberian makanan sebagai berikut:

1. Pemberian makanan pada fase transisi diberikan secara berlahan-lahan untuk menghindari risiko gagal jantung, yang dapat terjadi bila anak mengkonsumsi makanan dalam jumlah banyak secara mendadak. 2. Ganti formula khusus awal (energi 75 Kkal dan protein 0.9-1.0 g per 100 ml) dengan formula khusus lanjutan (energi 100 Kkal dan protein 2.9 gram per 100 ml) dalam jangka waktu 48 jam. Modifikasi bubur/makanan keluarga dapat digunakan asalkan dengan kandungan energi dan protein yang sama. 3. Kemudian naikkan dengan 10 ml setiap kali, sampai hanya sedikit formula tersisa, biasanya pada saat tercapai jumlah 30 ml/kgbb/kali pemberian (200 ml/kgbb/hari). Pemantauan pada fase transisi: a. Frekwensi nafas b. Frekwensi denyut nadi Bila terjadi peningkatan detak nafas > 5 kali/menit dan denyut nadi > 25 kali /menit dalam pemantauan setiap 4 jam berturutan, kurangi volume pemberian formula. Setelah normal kembali, ulangi menaikkan volume seperti di atas. c. Timbang anak setiap pagi sebelum diberi makan Setelah fase transisi dilampaui, anak diberi: 1) Formula WHO 100/pengganti/Modisco 1 dengan jumlah tidak terbatas dan sering. 2) Energi : 150-220 Kkal/kg bb/hari.

3) 4) Protein 4-6 gram/kg bb/hari Bila anak masih mendapat ASI. Formula WHO-F 135/pengganti/Modisco 1½ dengan jumlah tidak terbatas dan sering 2. perlu re-evaluasi menyeluruh.8. teruskan. Setiap minggu kenaikan bb dihitung jika: 1) Baik bila kenaikan bb  50 g/Kg bb/minggu. Timbang anak setiap pagi sebelum diberi makan. 2. Protein 4-6 g/kgbb/hari 4. 2) Kurang bila kenaikan bb < 50 g/Kg bb/minggu. ditambah dengan makanan Formula ( lampiran 2 ) karena energi dan protein ASI tidak akan mencukupi untuk tumbuh-kejar. Energi : 150-220 kkal/kgbb/hari 3. karena energi dan protein ASI tidak akan mencukupi untuk tumbuh-kejar. b.3 Fase rehabilitasi (minggu ke 3-7) anak diberi : 1. . 5. Bila anak masih mendapat ASI. Secara perlahan diperkenalkan makanan keluarga Pemantauan fase rehabilitasi: Kemajuan dinilai berdasarkan kecepatan pertambahan badan: a. teruskan ASI. tetapi juga beri formula WHO 100/Pengganti/Modisco 1.

Tabel 2.2 Tahap Pemberian Makanan TAHAPAN PEMBERIAN DIET Fase stabilisasi : Fase transisi : Fase rehabilitasi : Sumber: Depkes. 2006 Formula who 75 atau pengganti Formula who 75  formula who 100 atau pengganti Formula who 135 (atau pengganti) Makanan keluarga Tabel 2.3 Hasil Pemeriksaan dan Tindakan Pada Anak Gizi Buruk (A) Tanda Bahaya dan Tanda Penting Tanfa Bahaya&Tanda Penting Renjatan (syok) Letargis (tidak sa Muntah/Diare/Dehidrasi Sumber: Depkes RI. 2003 Kondisi L Ada Ada Ada Ll Tidak ada Ada Ada Lll Tidak ada Tidak ada Ada lV Tidak ada Ada Tidak ada V Tidak ada Tidak ada Tidak Ada (B) Perawatan Awal Pada Fase Stabilisasi Pemeriksaan  Berat badan  Suhu badan Tindakan  Memberikan oksigen  Menghangatkan tubuh  Pemberian cairan dan makanan sesuai  Antibiotika sesuai umur Sumber: Depkes RI. 2003 + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + . RI.

Tabel 2. 2003 Tabel 2.3 Hasil Pemeriksaan dan Tindakan Pada Anak Gizi Buruk (Lanjutan) (C) Perawatan Lanjutan Pada Fase Stabilisasi Anamnesis lanjutan Konfirmasi kejadian campak dan TB paru Pemeriksaan Fisik Umum  Panjang badan/tin ggi badan Dada (thorak) Perut (abdome) Otot Jaringan lemak Khusus    Pemeriksaan mata Pemeriksaan kulit Pemeriksaan telinga.3 Hasil Pemeriksaan dan Tindakan Pada Anak Gizi Buruk (Lanjutan) (E) Perawatan Lanjutan Pada Fase Rehabilitasi Pemeriksaan  Monitoring Tindakan      Makanan tumbuh kejar Multivitamin tanpa Fe Stimulasi Pengobatan penyakit penyulit Persiapan/ keterlibatan ibu Sumber: Depkes RI. tenggorokan (THT) Pemeriksaan Laboratorium   Kadar gula Hemoglobin Tindakan       Vitamin A Asam folat Multivitamin folat Multivitamin tanpa Fe Pengobatan penyakit penyulit Stimulasi     (D) Perawatan Lanjutan Pada Fase Transisi Pemeriksaan  Berat badan naik Tindakan      Makanan tumbuh kejar Multivitamin tanpa Fe Stimulasi Pengobatan penyakit penyulit Persiapan/ keterlibatan ibu Sumber: Depkes RI. 2003 . hidung.

Gambaran kegiatan pengukuran antropometri : a. Studi literatur 5. TB/PB. Tugas dan peran 3. Konfirmasi tempat magang 3. Kemampuan pemasyarakat hasil penelitian h.1. Studi observasi dan wawancara mengenai kegiatan pelayanan gizi dalam tatalaksana gizi buruk di Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Depati Hamzah Pangkal Pinang 2. Kegiatan pelayanan gizi c. Instalasi Gizi Saat Kegiatan Magang 1. Penyusunan laporan magang 7. Profil pelayanan gizi pada balita gizi buruk a. Metode dan cara pengukuran antropometri d. Studi dokumentasi :  Mempelajari data pasien gizi buruk rawat inap di Poli Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Depati Hamzah Pangkal Pinang  Telaah data antropometri pasien gizi buruk yang berobat jalan di Poli Gizi Rumah Sakit Umum Sumber: DataHamzah Primer Pangkal Pinang Daerah Depati  Obsevasi kegiatan pengukuran antropometri 4. Data BB. Profil RSUD a. Alat untuk pengukuran antropometri c. Sarana ilmiah 2. Pembuatan proposal 4. Tugas dan fungsi d. Pengamatan dan ikut serta dalam kegiatan di Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Depati Hamzah Pangkal Pinang 3. Visi dan misi c. Konsultasi proposal Output 1.BAB III LANGKAH DAN JADWAL KEGIATAN MAGANG 3. Konsultasi laporan magang Sumber Data Primer Setelah Magang Presentasi Laporan magang Perbaikan laporan Magang . Kerja sama penelitian g. Cara pencatatan dan pengolahan data hasil pengukuran antropometri serta penggunaan informasi hasil pengolahan data. Langkah Kegiatan Magang Berikut ini merupakan langkah-langkah kegiatan magang RSUD Depati Hamzah Pangkal Pinang Gambar 3. Pengajuan surat magang 2. Struktur organisasi e.1 Langkah-Langkah Kegiatan Magang Sebelum Kegiatan Magang 1. SDM f. LK. Sejarah b. LLA. dan LD pasien gizi buruk yang berobat jalan di Poli Gizi b. Evaluasi kegiatan magang 6. Ruang lingkup b.

Mendapat penjelasan dari kepala Biokimia serta observasi ke Laboratorium Mendapatkan data-data cakupan pasien gizi buruk di Instalasi gizi. 3 3 Rabu /3 Pebruari Observasi pasien gizi buruk dan Ikut serta dalam pemantauan kondisi pasien diruang perawatan Mengumpulkan data dan profil RSUDDH Observasi ke laboratorium Biokimia 4 3 Kamis /4 Pebruari Observasi cakupan pasien gizi buruk di instalasi gizi. dan tenaga SDM KPP Biokimia. Mengetahui kondisi pasien gizi buruk setelah dilakukan pemantauan Mengetahui langkah-langkah di Instalasi Gizi Mengetahui kegiatan yang dilakukan di Instalasi Gizi Mendapatkan hasil pemantaun kondisi pasien gizi buruk Hasil Mengetahui letak ruang dan ketua masing-masing bagian rumah sakit Fiksasi jadwal observasi masing-masing 2 2 Selasa /2 Pebruari Memberikan Fiksasi jadwal magang dengan pembimbing lapangan. Mengamati dan mengikuti kegiatan di Instalasi Gizi.1 Jadwal Kegiatan Magang No 1 Hari ke 1 Hari/ Tanggal Senin /1 Pebruari Kegiatan Perkenalan. Mendapatkan penjelasan langkahlangkah kegiatan diruang asuhan gizi. Ikut serta dalam kegiatan asuhan gizi di ruang perawatan. Keterangan Melakukan perkenalan ke masingmasing pegawai bagian rumah sakit. pemeriksaan klinis. Studi dokementasi dalam pelayanan gizi tatalaksana gizi buruk Mengumpukan data dan profil RSUDDH di bagian TU serta membaca profil.3. Mengetahui jumlah cakupan pasien gizi buruk yang dirawat inap di Instalasi gizi RSUDDH. Diskusi dengan pembimbing lapangan Melakukan kegiatan di Instalasi gizi dari mulai pendaftaran. Mendapatkan penjelasan tentang jenis dokumentasi pelayanan gizi tatalaksana gizi buruk Mengetahui ruang lingkup kegiatan. pengukuran antropometrii.2 Jadwal Kegiatan Magang Tabel 3. serta mengetahui macammacam Lab. Mengetahui kegiatan pelayanan gizi dan asuhan gizi dalam tatalaksana pasien gizi buruk Sumber: Data Primer 53 . mitra kerjasama. dan pemberian obat. penyuluhan.

Mengetahui kegiatan dan mendapatkan penjelasan melakukan kegiatan di Instalasi gizi Hasil Mengetahui cakupan status gizi balita gizi buruk rawat inap di rekam medik Mengetahui cara pengolahan bahan makanan pada pasien gizi buruk dan pendistribusiannya. TB/PB. dan LD balita yang mengikuti pemulihan di Instalasi Gizi dan kegiatan dilaksanakan di Instalasi gizi Sumber: Data Primer 54 . Mengetahui kegiatan rutin serta kegiatan lain yang dilaksanakan di Instalasi Gizi. Mengetahui cakupan angka gizi buruk di Provinsi Bangka Belitung setiap tahun.Tabel 3. Bangka Belitung Ikut serta dalam kegiatan persiapan bahan susu formula serta pengolahan formula pasien anak gizi buruk Studi dokumentasi antropometri Ikut serta kegiatan di Instalasi gizi 4 8 Selasa /9 Pebruari 5 9 Rabu/10 Pebruari Mengetahui ukuran BB.Bangka Belitung Mendapatkan pengetahuan dan pengalaman dalam proses pengolahan makanan khusus pasien gizi buruk Mendapatkan penjelasan tentang jenis dokumentasi pengukuran antropometri.1 Jadwal Kegiatan Magang (Lanjutan) No 1 Hari ke 5 Hari/Tanggal Jumat /5 Pebruari Kegiatan Observasi cakupan pasien gizi buruk di rekam medik Observasi dalam pengolahan-pendistribusian makanan pasien gizi buruk Wawancara Keterangan Mendapatkan data pasien gizi buruk yang berobat jalan dan rawat inap di rekam medis Mendapatkan pengetahuan dalam proses pengolahan –pendistribusian makanan pasien gizi buruk Melakukan wawancara dengan orang tua dari balita yang mengikuti pemulihan di Instalasi Gizi Melakukan penyuluhan kepada keluarga pasien mengenai asupan makanan bagi pasien gizi buruk Melakukan kegiatan yang dilakukan di instalasi Gizi dan ikut serta dalam kegiatan. Mendapatkan data prevalensi gizi buruk Prov. LLA. Mengetahui cara dan proses mulai pengolahan dan pendistribusian makanan khusus untuk pasien gizi buruk 2 6 Sabtu/6 Pebruari 3 7 Senin /8 Pebruari Ikut serta dalam kegiatan konseling gizi diruang perawatan asuhan gizi Ikut serta kegiatan di Instalasi Gizi Observasi ke Dinkes Pemprov. LK. Mengetahui bagaimana cara orang tua memantau antropometri balitanya di rumah Mengetahui hasil kegiatan konseling gizi sebagai pemantauan kondisi perkembangan anak.

Melakukan kegiatan yang dilakukan di ruang Instalasi Gizi dan ikut serta dalam kegiatan tersebut Melndapatkan hasil dokumentasi cara pengukuran antropometri di ruang perawatan. Mendapatkan pengetahuan dan pengalaman dalam kegiatan penyuluhan dan pengukuran antropometri 3 12 Sabtu /13 Pebruari Wawancara 4 13 Senin/15 Pebruari Ikut serta dalam kegiatan asuhan gizi diruang perawatan Konsultasi dengan pembimbing lapangan Studi literature Mengetahui kendala/kesulitan dalam pengukuran antropometri Mengetahui cara mengatasi kendala tersebut Mendapatkan penjelasan cara kegiatan pengkajian status gizi Mendapatkan saran dalam membuat laporan magang Mendapatkan rujukan atau teori untuk membahas hasil magang Sumber: Data Primer 55 . Keterangan Melakukan wawancara dengan orang tua dari balita yang mengikuti pemulihan di ruang Instalasi Gizi Melakukan kegiatan pengukuran antropometri pada pasien gizi buruk. 2 11 Jumat /12 Pebruari Ikut serta dalam penimbangan berat badan pasien gizi buruk Ikut serta kegiatan di Instalasi Gizi Studi dokumentasi Mendapatkan pencatatan hasil penimbangan berat badan pasien.1 Jadwal Kegiatan Magang (Lanjutan) No 1 Hari ke 10 Hari/Tanggal Kamis/11 Pebruari Kegiatan Wawancara.Tabel 3. Melakukan wawancara dengan staff pegawai diruang Instalasi Gizi yang melakukan pengukuran antropometri Melakukan kegiatan asuhan gizi yaitu mengenai pengkajian status gizi Melakukan konsultasi dengan pembimbing lapangan Mengumpulkan berbagai referensi mengenai teori gizi di ruang ahli gizi Hasil Mengetahui cara orang tua memantau antropometri balitanya di rumah.

Observasi cakupan kenaikab berat badan anak di KMS Ikut serta kegiatan di Poli/Instalasi Gizi Mengetahui ukuran BB. Melakukan pengamatan pemeriksaan biokimia pada spesimen pasien gizi buruk Mengikuti kegiatan pengukuran antropometri pada pasien gizi buruk Mendapatkan penjelasan penulisan laporan magang Mendapatkan pengetahuan dan pengalaman dalam kegiatan penyuluhan dan pengukuran antropometri. TB/PB. Mendapatkan penjelasan dari orang tua pasien mengenai pola asuh Mengetahui cara pemeriksaan spesimen pasien gizi buruk secara biokimia Mendapatkan pengetahuan dan pengalaman pada pengukuran antropometri pada pasien gizi buruk serta cara penulisan laporan magang Sumber: Data Primer 56 . Mendapatkan penjelasan tentang jenis dokumentasi pengukuran antropometri Hasil Mengetahui cakupan status gizi balita gizi buruk di Instalasi Gizi Mengetahui bahan-bahan yang digunakan untuk proses pembuatan susu formula 2 15 Rabu/17 Pebruari 3 16 Kamis /18 Pebruari Studi dokumentasi Ikut serta dalam kegiatan pengukuran antropometri. LLA. dan LD balita yang mengikuti pemulihan di Instalasi Gizi Studi wawancara 4 17 Jumat /19 Pebruari Sabtu/20 Pebruari Observasi ke Laboratorium 5 18 Ikut dalam kegiatan antropometri Konsultasi dengan pembimbing lapangan Melakukan pengamatan kegiatan yang dilakukan di Instalasi Gizi dan ikut serta dalam kegiatan tersebut Wawancara dengan orang tua pasien mengenai pola asuh anak. LK.1 Jadwal Kegiatan Magang (Lanjutan) No 1 Hari ke 14 Hari/Tanggal Selasa /16 Pebruari Kegiatan Telaah data antropometri pasien gizi buruk yang konsultasi di Instalasi Gizi Studi dokumentasi Keterangan Mendapatkan data pasien gizi buruk yang dirawat inap di Instalasi gizi Mendapatkan penjelasan tentang jenis bahan makanan (formula khusus) yang diberikan kepada pasien.Tabel 3.

LK. dan LD balita yang mengikuti pemulihan di Instalasi Gizi Mengetahui perawatan balita gizi buruk selama rawat jalan di rumah Mendapatkan saran dalam membuat laporan magang Mendapatkan rujukan atau teori untuk membahas hasil magang Mendapatkan pengetahuan dan pengalaman dalam kegiatan penyuluhan dan pengukuran antropometri Mendapatkan informasi dari data-data yang telah diperoleh untuk pembuatan laporan magang. LLA. Mendapatkan penjelasan dan mengetahui kegiatan di Instalasi gizi Mengetahui ukuran BB. LK. Mencari refrensi ke perpustakaan Stikes setempat Melakukan pengamatan kegiatan yang dilakukan di nstalasi Gizi dan ikut serta dalam kegiatan tersebut Melakukan analisa data yang telah diperoleh selama kegiatan magang. Melakukan wawancara dengan ibu balita gizi buruk Melakukan konsultasi dengan pembimbing lapangan. TB/PB.Tabel 3. dan LD balita yang ikut pemulihan di Instalasi Gizi Mengetahui perawatan balita gizi buruk ranap Wawancara 2 20 Selasa/23 Pebruari Konsultasi dengan dosen pembimbing lapangan&dosen fakultas Studi Literatur 3 21 Rabu /24 Pebruari Mengamati dan mengikuti kegiatan di Instalasi Gizi 4 22 Kamis /25 Pebruari Analisa data 5 23 Jumat/26 Pebruari Ikut serta dalam kegiatan instalasi gizi Observasi dan studi dokumentasi Wawancara Sumber: Data Primer 57 . TB/PB. LLA. Mengetahui kegiatan di Instalasi gizi Mendapatkan penjelasan tentang jenis dokumentasi pengukuran antropometri Melakukan wawancara dengan ibu pasien balita Hasil Mengetahui ukuran BB.1 Jadwal Kegiatan Magang (Lanjutan) No 1 Hari ke 19 Hari/Tanggal Senin/22 Pebruari Kegiatan Studi dokumentasi Keterangan Mendapatkan penjelasan tentang jenis dokumentasi pengukuran antropometri.

Mengumpulkan laporan dan persiapan sidang magang . Perpisahan dengan pembimbing lapangan dan staff pegawai rumah sakit 3 26 Selasa/2 Maret Mengumpulkan laporan magang Perpisahan Sumber: Data Primer 58 .Tabel 3. Pamitan dengan pembimbing lapangan dan staff pegawai rumah sakit Hasil Laporan magang 75% Studi Dokumentasi dan observasi Mengetahui cara pembuatan pengolahan susu formula WHO 2 25 Senin/1 Maret Evaluasi kegiatan magang secara keseluruhan Mengetahui data-data yang masih kurang lengkap dan berusaha untuk melengkapinya.1 Jadwal Kegiatan Magang (Lanjutan) No 1 Hari ke 24 Hari/Tanggal Sabtu/27 Pebruari Kegiatan Penyusunan laporan magang Keterangan Melakukan penyusunan laporan hasil kegiatan magang Mendapatkan Mendapatkan penjelasan tentang jenis dokumentasi pengolahan susu formula WHO di Dapur Melakukan evaluasi guna melengkapi data-data yang dibutuhkan dalam pembuatan laporan magang Mengumpulkan laporan magang dan menyerahkannya.

serta menjadi rumah sakit trauma centre.1 Gambaran Umum Rumah Sakit Umum Depati Hamzah Rumah sakit adalah suatu fasilitas pelayanan kesehatan perorangan yang menyediakan rawat inap dan rawat jalan. menjadi badan layanan umum. diagnostik. memberikan pelayanan kesehatan jangka pendek dan jangka panjang terdiri dari observasi. cidera dan melahirkan. berbatasan dengan kompleks perkuburan Cina Sentosa Pangkal Pinang RSUD Pangkal Pinang yang semula berstatus kelas D meningkat statusnya menjadi kelas C dan sekarang sedang dipersiapkan untuk perubahan status menjadi kelas B non pendidikan dan sebagai rumah sakit rujukan di kawasan Bangka Belitung. terapeutik dan rehabilitatif untuk orang-orang yang menderita sakit. seiring ditetapkannya Pangkal Pinang sebagai Ibukota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Bertepatan dengan peringatan setengah abad Kota Pangkal Pinang sebagai .59 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Untuk penyediaan pelayanan kesehatan di Kota Pangkalpinang maka pada tahun anggaran 1981/1982 dengan menggunakan dana APBN mulailah dibangun secara bertahap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pangkal Pinang yang berlokasi di Jalan Soekarno Hatta.

sesuai dengan tuntutan dan perkembangan pembangunan. Perubahan status Rumah Sakit Umum Daerah Depati Hamzah Pangkal Pinang memang sangat diperlukan seiring dengan perkembangan Kota Pangkal Pinang sebagai Ibukota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. serta ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran yang berkembang sangat pesat. perlu diimbangi oleh tenaga kesehatan yang memadai dalam rangka memberikan pelayanan standar kesehaan yang bermutu. Rumah Sakit Umum Depati Hamzah Pangkal Pinang adalah tanggung jawab pemerintah dalam meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat. khususnya dibidang kesehatan maka Rumah sakit Umum Depati Hamzah pangkal Pinang mengalami perubahan status dari kelas D menjadi kelas C berdasarkan surat Menteri Kesehatan RI No 197/Menkes/sk/11/1993 tanggal 26 Februari serta surat . Sebagai Rumah Sakit Umum Daerah.60 daerah otonom pada tanggal 14 November 2006 ditetapkanlah nama RSUD Pangkal Pinang dengan nama RSUD Depati Hamzah. Sebagai tempat penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. RSUD Depati Hamzah memberikan pelayanan kesehatan pada semua bidang dan jenis penyakit dan untuk persiapan peningkatan statusnya dari tipe C ke tipe B non pendidikan. RSUD Depati Hamzah Pangkal Pinang adalah Rumah Sakit milik Pemerintah Kota Pangkal Pinang yang didirikan pada tahun 1981/1982 dari dana APBN Departemen Kesehatan RI. Berbagai jenis pelayanan. Hal ini akan membuat permasalahan di semakin kompleks. personal tenaga kesehatan dan perangkat keilmuan yang beragam akan berinteraksi satu sama lain.

292 m2 dan luas bangunan sebesar 7. Gerunggang e. Taman sari 3. memiliki luas tanah sebesar 74. Bhakti Wara c. Rumah sakit Swasta a.61 keputusan Walikota madya KDH Tk II Pangkal Pinang No 069/SK/HUK/1993 tanggal 30 juni 1993 RSUD Depati Hamzah Pangkal Pinang beralokasi di Jalan Soekarno Hatta Pangkal Pinang.563 m2 4. DKT 2.1.199 penduduk yang tersebar pada 5 (lima) kecamatan. juga melayani masyarakat di Kecamatan (Kabupaten) tetangga. Pangkal balam d. Fasilitas kesehatan di Kota pangkalpinang sebagai pendukung maupun Competitor rumah sakit Umum Depati hamzah pangkalpinang terlihat sebagai berikut. Puskesmas Pembantu (19 buah) .1 Fasilitas Kesehatan RSUD Depati hamzah kota Pangkal pinang secara geografis berada pada kondisi strategis. Bukit intan c. Rangkui b. 1. karena disamping bisa memberikan pelayanan kesehatan kepada 178. Puskesmas/ Kecamatan a. Bakti timah b.

radiologi. umum (35 Orang) b. Dokter Praktek a.62 4. Klinik Bersalin (5 buah) RSUDDH ini memiliki fasilitas pelayanan kesehatan yang cukup lengkap untuk menanggulangi masalah berbagai penyakit seperti poliklinik kebidanan dan kandungan. fisioterapi dan lainlain . poliklinik penyakit dalam. Spesialis (24 Orang) c. gizi. unit pelayanan medis. poliklinik bedah. poliklinik KB. Gigi (11 Orang) d. unit rawat inap. Polindes (17 buah) 5. poliklinik umum. poliklinik anak. laboratorium. poliklinik saraf. Bidan praktek (19 buah) 6. instalasi farmasi. polikoinik gizi.

1 Struktur Organisasi Dan Ketenagaan Rumah Sakit Depati Hamzah Pangkal Pinang DIREKTUR KABAG.2 Struktur Organisasi RSUDDH Pangkal Pinang Gambar 4.63 4. TATA USAHA KASUBAG UMUM&KEPEGAWAIAN KASUBAG REKAM MEDIK KASUBAG KEUANGAN KABID KEPERAWATAN KABID PELAYANAN KABID DIKLAT&PERENCANAAN KASI PELAYANAN&ASKEP KASI PELAYANAN MEDIK KASI DIKLAT&PENGEM BANGAN SDM KASI PERENCANAAN&P ROGRAM KASI ETIKA&MUTU KEPERAWATAN KASI PELAYANAN PENUNJANG MEDIK .1.

terdiri dari pelayanan Poliklinik meliputi : a.3 Sarana dan Prasarana Rumah Sakit Umum Depati Hamzah Pangkal Pinang Fasilitas sarana dan prasarana pelayanan RSUDDH Pangkal Pinang terdiri: 1. Pelayanan Rawat Inap terdiri ruang perawatan sebagai berikut : a. Kelas Pavilliun b. Kelas II e. Ruang Luka bakar Dengan jumlah tempat tidur yang terbagi menjadi beberapa kelas perawatan antara lain: a. Ruang ICU h. Ruang Perawatan nusa Indah b. Kelas Utama c. Poliklinik Kandungan dan Kebidanan b. Kelas II 3. Ruang Pera watan Anggrek e. Poliklinik Anak .64 4. Ruang Perawatan Melati d. Pelayanan Rawat jalan. Ruang Perawatan kelas utama g. Pelayanan Gawat Darurat (UGD) 24 jam 2. Ruang Perawatan Asoka c. Ruang Perawatan Paviliun i.1. Ruang Perawatan kelas 1 f. Kelas 1 d.

Poliklinik Gigi f. Bidan 4. Poliklinik Penyakit Dalam e. Ruang Rekam medis d. poliklinikGizi d. Radiologi e. Pembuatan Akte Kelahiran n. Laboratorium b. Ambulance 24 Jam p. Rumah Dokter j. Apotek c. Gizi g. Fisioterapi f. Kamar Jenazah o. EKG. Mushola . CTG l.65 c. OK Central h. Laundry q. Imunisasi dan KB m. Rumah Paramedis k. Pelayanan Dan Fasilitas lain meliputi : a. Obs-Gyn i. Poliklinik Umum g. USG.

imunisasi dan KB. Poliklinik Umum dan kebidanan dan memiliki pelayanan dan fasilitas lain meliputi: Laboratorium.4 Ketenagaan RSUDDH Pangkal Pinang Adapun jumlah ketenagaan di Rumah Sakit Umum Daerah Depati Hamzah Pangkal Pinang sebagai berikut: Tabel 4. radiology. Kepala Tata Usaha 3 Dokter Spesialis 4 Dokter Umum 5 Dokter Gigi 6 Staf di ruang rawat 7 Staf Keperawatan 8 Fisioterapi 10 Instalasi farmasi 11 Radiology 12 Laboratorium 13 Tranfusi darah 14 Loket 1 ( Poliklinik Rawat Jalan) Sumber: Profil RSUDDH Pangkal Pinang JUMLAH 1 Orang 1 Orang 18 Orang 15 Orang 2 Orang 194 Orang 7 Orang 3 Orang 14 Orang 5 Orang 12 Orang 2 Orang 3 Orang . Pelayanan rawat inap yang mempunyai kapasitas 144 tempat tidur. Poliklinik Gigi. ctg.66 Dalam menunjang segala kegiatan pelayanan kesehatan rumah sakit baik rawat inap maupun rawat jalan. ok central. ruang rekam medis. usg. Pelayanan Rawat jalan terdiri dari pelayanan Poliklinik meliputi: Poliklinik Kandungan dan Kebidanan. ekg. 4. KETENAGAAN 1 Direktur 2. Poliklinik Anak. Poliklinik Penyakit Dalam. kamar jenazah. apotek. pembuatan akte kelahiran. ambulance 24 jam. gizi. rumah dokter.1 Ketenagaan RSUDDH Pangkal Pinang No. laundry. obs-gyn. parker dan mushola. RSUDDH memiliki beberapa sarana dan prasarana kesehatan cukup lengkap seperti Pelayanan Gawat Darurat (UGD) 24 jam.1. rumah paramedic.

Staf di ruang rawat. perawat.Informasi Secretariat BLUD Petugas kebersihan (CS) Jumlah JUMLAH 6 Orang 3 Orang 1 Orang 7 Orang 5 Orang 2 Orang 1 Orang 4 Orang 12 Orang 2 Orang 11 Orang 5 Orang 12 Orang 5 Orang 5 Orang 4 Orang 3 Orang 3 Orang 9 Orang 3 Orang 3 Orang 43 Orang 426 Orang Sumber: Profil RSUDDH Pangkal Pinang Untuk menjalankan kegiatan pelayanan kesehatan. 15 16 17 18 19 20 21 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 KETENAGAAN Loket II Loket Rawat Inap Staf Penunjang medik Rekam Medik Kepegawaian Komite Medik Pelayanan Umum / kepegawaian IPSRS Askes Satpam Jenazah+sopir Tenaga dapur Jamkesda & jamkesmas Perlengkapan Diklat & Perencanaan Program Akuntansi Penerimaan keuangan Keuangan R. tetapi menurut penulis ada beberapa bagian khusus yang kurang tertangani karena minimnya tenaga yang ada seperti bagian gizi. RSUDDH memiliki ketenagaan yang cukup terpenuhi untuk menangani setiap pelayanan kesehatan rumah sakit. dokter umum. dokter spesialis. instalasi farmasi. bidan. tenaga radiologi. . fisioterapi.1 Ketenagaan RSUDDH Pangkal Pinang (Lanjutan) No. Kepala Tata Usaha.67 Tabel 4. dokter gigi. tenaga laboratorium. staf penunjang medik. Ketenagaan yang ada saat ini berjumlah 426 orang baik tenaga medis maupun tenaga non medis yang terdiri dari Direktur. apoteker.

1. komite medik. perlengkapan. sekretariat BLUD operator.5. satpam. baik pasien dari Kabupaten Bangka dan Belitung sehingga tidak perlu lagi di rujuk ke luar daerah karena dapat ditangani oleh dokter-dokter yang ada di RSUDH Pangkalpinang dan dapat menghemat biaya transport dan lain-lain. administrasi keuangan. Peryataan Visi “Menjadi Rumah Sakit terpercaya dan Mitra Rujukan Terbaik di Bangka Belitung” 2. petugas ruang informasi.1.2 Misi RSUDDH Pangkal Pinang . Jamkesda/Jamkesmas.68 staf kepegawaian. Penjelasan Makna Visi Rumah Sakit Umum Kota Pangkalpinang merupakan Rumah Sakit yang terletak di ibu Kota Propinsi sudah sewajarnya mempunyai sarana dan prasarana yang lebih lengkap di bandingkan dengan rumah sakit daerah lainnya sehingga dapat menjadi rumah Sakit pusat rujukan yang dapat memberikan pelayanan secara paripurna kepada pasien. 4.5. Diklat/perencanaan program. Misi. administarsi umum. sopir.1 Visi RSUDH Pangkal Pinang 1. tenaga Askes. kasir.5 Visi.1. Tujuan Dan Sasaran 4. tenaga IPSRS. 4. CS (tenaga kebersihan) dan laundry. dapur (juru masak).

69 1. Pernyataan Misi a. Melengkapi sarana dan prasarana rumah sakit b. meningkatkan Profesionalisme dan Motivasi Kerja karyawan 2. Penjelasan Makna Misi Peningkatan mutu sumber daya manusia RSUDH Pangkal Pinang dapat dicapai melalui pendidikan dan latihan maupun pendidikan formal lainnya baik untuk tenaga perawat yang mendapat pendidikan tambahn dibidang tekhnis medis fungsional maupun pendidikan dibidang manajemen administrasi. Pelaksanaan misi ini harus ditunjang dengan sarana dan prasarana gedung dan peralatan yang memadai . Sehingga semua Dokter Spesialis dapat bekerja secara maksimal sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang dimilikinya. Hal ini tentu saja akan berdampak secara langsung terhadap peningkatan mutu pelayanan di Rumah sakit yang diharapkan dapat memberikan pelayanan prima kepada pasien dirawat 4.1.5.3 Motto RSUDDH Pangkal Pinang “IKAK SEHAT KAMI SENENG” (Kesembuhan Anda kebahagiaan Kami) 1. Tujuan dan Sasaran Rumah Sakit Umum Depati Hamzah Pangkal Pinang Dalam penjabaran Visi dan Misi Rumah Sakit Umum Depati Hamzah Pangkal Pinang perlu menetapkan tujuan yang

70 menggambarkan hasil akhir yang akan dicapai dalam penetapan tujuan tersebut pada umumnya didasarkan pada faktor kunci keberhasilan sebagai mana telah diuraikan dalam visi dan misi tersebut, berdasarkan hal diatas, maka telah ditetapkan tujuan dan sasaran yang harus dicapai dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan diupayakan untuk dicapai rumah sakit umum Depati Hamzah Pangkal Pinang adalah sebagai berikut : a. Terwujudnya pelayanan rumah sakit umum depati Hamzah Pangkal Pinang yang paripurna dengan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) yang Profesional secara keseluruhan, bermutu dan terjangkau. Sasaran dari tujuan kesatu sebagai berikut : 1) Meningkatnya klasifikasi rumah sakit 2) Pelayanan kesehatan yang mudah di akses dan terjangkau 3) Peningkatan jumlah kunjungan pasien kerumah sakit 4) Pengembangan citra rumah sakit sebagai stakeholder pembangunan kesehatan 5) Menciptakan suasana kerja yang kondusif, aman dan nyaman yang berbasis kepada kinerja 6) Membangun dan mengembangkan jejaring pelayanan kepada seluruh stake holder pelayanan kesehatan

71 7) Pengembangan rumah sakit sebagai pusat pendidikan dan penelitian bagi praktek keperawatan, kebidanan,

kedokteran dan lain-lain 8) Meningkatnya kinerja keuangan rumah sakit sesuai dengan standar 9) Terpenuhinya kuantitas SDM rumah sakit sesuai dengan standar 10) Peningkatan kualitas/mutu sdm rumah sakit sesuai dengan profesi kesehatan 11) Masyarakat pengguna pelayanan mendapatkan pelayanan dari tenaga yang kompeten 12) Meningkatnya kinerja pelayanan 13) Tertib administrasi seluruh pelaporan yang dibutuhkan 14) Meningkatnya kinerja sdm sesuai dengan kompetensinya b. Terwujudnya rumah Sakit Umum Depati Hamzah Pangkal Pinang menjadi pusat rujukan di Propinsi Kepulauan Bangka Balitung Sasaran dari tujuan kedua sebagai berikut: Setiap satuan pelayanan memiliki sarana, prasarana dan peralatan dan peralatan yang memadai dan sesuai dengan standar pelayanan minimal

4.1.6 Kinerja Kegiatan RSUDDH Pangkal Pinang Tabel 4.2

594 hari 119 orang/hari 8.66% 3 hari 3 kali 64.3/mill 63. Jenis indicator BOR AVLOS BTO TOI NDR GDR Tahun 2009 66.24/mill Standar Depkes 60-80 4 – 7 hari 40 – 50 kali 1-3 kali 25/mill 45/mill Sumber : Rekam Medis RSUD Depati Hamzah Pangkal Pinang Keterangan : 1.155 orang 309 orang 259 orang 8. AVLOS 3. 6. 12 Uraian Jumlah hari rawat Rata-rata kunjungan Rajal/hari Jumlah pasien keluar hidup Jumlah pasien mati < 48 jam Jumlah pasien mati > 48 jam Jumlah pasien keluar hidup+mati BOR AVLOS TOI BTO NDR GDR Tahun 2008 31. TOI 5.40% 4 hari 69.40% 4 hari 2 kali 69.33/mil Tahun 2009 34.904 hari 138 orang/hari 9335 orang 321 orang 288 orang 9944 orang 66.72 Indikator Kegiatan Kinerja RSUD Depati Hamzah Tahun 2008&2009 No.05 kali 2 kali 28.06 kali 30. NDR 6. 5. GDR : : : Turn Over Interval (rata-rata jumlah tempat tidur yang kosong Neto Death Rate (rata-rata jumlah kematian lebih dari 48 jam) Gross Date Rate (rata-rata semua pasien meninggal) . 11. 1. 9. 2. BOR 2. 3.723 orang 61. 2.05 kali 28.96/ mill 61. 5. 8.24/ mill Sumber: Rekam Medis RSUDDH Pangkal Pinang Tabel 4. 3. 6. 4. BTO : : : Bed Ocupancy Rate (rata-rata penggunaan tempat tidur) Average Length Of Stay (rata-rata lamanya pasien dirawat) Bed Turn Over (rata-rata produktivitas tempat tidur/ perputaran pergantian orang dalam kurun waktu 1 tahun/lebih 4. 7. 1. 4. 10.3 Indikator Pelayanan Rawat Inap RSUD Depati Hamzah Pangkalpinang Tahun 2009 No.96/mill 61.

Instalasi gizi dipimpin oleh kepala Instalasi yang berkoordinasi langsung kepada direktur rumah sakit.1 Gambaran Ruang Perawatan RSUDDH . Instalasi gizi RSUD Depati Hamzah salah satu unit pelayanan fungsional yang bertugas menyelenggarakan pelayanan gizi rawat inap dan menyelenggarakan makanan untuk pengaturan diet pasien yang sesuai dengan kelas perawatan.2. selain dilakukan oleh dokter-dokter yang bertugas pada poliklinik rawat jalan dan rawat inap. 4.73 Pelaksanaan kegiatan pelayanan kesehatan di RSUDDH. Namun selain di Instalasi Gizi untuk mengetahui proses pengolahan makanan untuk pasien gizi buruk namun proses magang ini sebagian besar berlangsung di ruang perawatan dan poliklinik gizi yang merupakan bagian dari rumah sakit dengan tujuan untu k mengetahui proses penatalaksanaan pasien gizi buruk. juga dilakukan oleh petugas medis dan non medis. Instalasi gizi RSUDDH merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang merupakan pelayanan penunjang medis yang dibentuk dalam upaya mendukung fasilitas pelayanan rawat inap dan rawat jalan. Peran serta masing-masing petugas yang berperan aktif dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang diberikan kepada konsumen dapat terlihat dari kinerja pelayanan kesehatan RSUDDH tahun 2009. Instalasi gizi RSUDDH terdiri dari dapur pengelolaaan makanan. Namun kegiatan magang ini berlangsung di Instalasi gizinya juga.2 Gambaran Umum Ruang Perawatan dan Instalasi gizi RSUD Depati Hamzah Pangkal Pinang Instalasi di RSUD Depati Hamzah terdiri dari Instalasi Farmasi dan Instalasi Gizi. 4.

pecatatan dan pelaporan kegiatankegiatan gizi di ruangan. Pada pasien rawat inap dilakukan tahap penapisan dan pengkajian berdasarkan hasil pemeriksaan fisik. yaitu: Pasien Rawat Inap dan pasien rawat jalan. Kegiatan ini dilakukan secara terpadu antara ketiga unsur di atas. penyajian makanan ke pasien. 2006).74 Di ruang perawatan RSUDDH terdapat tim asuhan gizi yang terdiri dari dokter. yang ketua tim adalah dokter. antropometri. tenaga gizi dan perawat. Pelayanan gizi rawat inap yang terdapat di ruang perawatan RSUD Depati Hamzah sesuai dengan rujukan yang dikemukakan oleh Depkes RI (2006 a). Kegiatan di ruang perawatan yaitu pengkajian status gizi. perencanaan/penentuan diet. Berdasarkan pasien masuk kerumah sakit dapat dibedakan dalam 2 (dua) kategori.2 Alur Kegiatan Pelayanan Gizi Rawat Inap Asuhan gizi RSUDDH Pasien masuk ruang rawat inap Pengkajian status gizi . Alur kegiatan pelayanan gizi rawat inap Asuhan gizi RSUD Depati Hamzah dapat digambarkan kegiatannya seperti dibawah ini Gambar 4. dokter akan menetapkan apakah pasien memerlukan terapi diet atau tidak (Depkes RI. penyuluhan/penilaian. laboratorium dan pemeriksaan lainnya.

75 Pengadaan makanan pasien Penentuan diet Konseling gizi Pencatatan gizi Monitoring dan evaluasi Pasien pulang Sumber: Asuhan gizi RSUD Depati Hamzah Pangkal Pinang Sedangkan pada pasien rawat jalan hanya dilakukan pemeriksaan fisik. dalam upaya mempertahankan dan meningkatkan keadaan kesehatan dirinya dan lingkungannya. pasien akan dikirim ke klinik gizi untuk memperoleh penyuluhan/konseling tentang diet/terapi yang ditetapkan dokter. kemudian menentukan perlu pasien terapi diet.2. antropometri. laboratorium dan pemeriksaan dokter lainnya.2 Gambaran Ruangan Dapur Pengelolaan Makanan . Proses selanjutnya mengikuti prosedur dari klinik tersebut (Depkes RI. b. 2006) 4. Seperti uraian berikut: a. Bila memerlukan terapi diet. pasien hanya akan mendapat penyuluhan gizi umum dan makanan sehat untuk diri dan keluarganya. Bila tidak memerlukan diet.

Adapun struktur dapur Instalasi gizi RSUDDH sebagai berikut : Gambar 4. Distribusi Bag.76 Dapur pengelolaan makanan Instalasi gizi RSUDDH terdapat tim tenaga pemasak.3 Struktur Dan Tugas Pokok Instalasi gizi/Dapur RSUDDH Pangkal Pinang Ka.Persiapan Bag. Dari gambar 4. perencanaan menu sampai pendistribusian makanan ke pasien. Pengolahan Bag. penyiapan bahan makanan serta pendistribusian makanan ke pasien. Kebersihan Sumber: Asuhan gizi RSUD Depati Hamzah. Asuhan gizi/dapur Administrasi Bag. tenaga gizi yang melakukan kegiatan penyelenggaraan makanan yang dimulai dari pengadaan bahan makanan. Tupoksi Ka Asuhan gizi/Dapur . pemesan bahan makanan. Kegiatan perencanaan menu dan penyusunan menu disesuaikan dengan taksiran kebutuhan bahan makanan.3 adapun tugas dan fungsi pokok untuk masing-masing instalasi gizi RSUDDH sebagai berikut: 1.

Mengawasi & mengendalikan proses kegiatan penyelenggaraan makanan di rumah sakit b. Melakukan proses distribusi makanan bagi pasien rawat inap . Memberikan pelayanan konsultasi gizi d. Tupoksi Bagian Distribusi a. Mengatur penyimpanan bahan makanan basah & kering c. Melakukan penyimpanan bahan makanan sesuai kebutuhan 4. bumbu dan bahan makanan untuk diolah c. Melakukan penerimaan bahan makanan basah b. Tupoksi Bagian Persiapan a. Bertanggungjawab dalam memberikan pelayanan gizi di rumah sakit c. Membantu mengatur kebutuhan bahan makanan pasien & karyawan b. Mengecek kualitas & kuantitas bahan makanan c. Melakukan pengolahan bahan makanan sesuai dengan standar menu b. Mengolah bahan makanan sesuai dengan standar diet yang ada d. Mempersiapkan peralatan.77 a. Mempersiapkan makanan pasien untuk proses distribusi 5. Tupoksi Bagian Pengolahan a. Membuat laporan kegiatan harian & bulanan 3. Bertanggungjawab dalam evaluasi & pencatatan pelaporan kegiatan 2. Mempersiapkan bahan makanan sesuai standar menu d. Tupoksi Bagian Administrasi a. Memperhatikan kualitas bahan makanan d.

Tupoksi Bagian Kebersihan a. Analisa anggaran makan pasien dan karyawan rumah sakit e. Mengatur pembuangan sampah basah & kering 7.78 b.2. Mempersiapkan peralatan makan & memasak d. Membantu memenuhi kebutuhan makan pasien d. Mengontrol distribusi kebutuhan pasien dan karyawan g. Membuat perencanaan standart porsi dan standart menu d. Evaluasi kualitas dan kuantitas bahan makanan yang diterima 4. Mengisi data jumlah pasien dan standar diet pasien 6. Melakukan kegiatan hygiene & sanitasi ruangan dan peralatan b. Mengatur pemberian makanan sesuai dengan standar diet c. Mempersiapkan bahan dan peralatan untuk mendukung proses penyelenggaraan makanan c. Uraian Tugas Kepala Asuhan gizi Secara Umum a.3 Gambaran Ruangan Poliklinik Gizi . Mengawasi dan mengendalikan proses kegiatan penyelenggaraan makanan di rumah sakit b. Membuat pesanan kebutuhan bahan makanan pasien dan karyawan rumah sakit f. Menjaga kebersihan & keamanan peralatan makan pasien c.

4. Dalam melaksanakan penyuluhan gizi dan rujukan gizi di Polikilinik gizi pasien akan dianamnesis gizi dan penentuan diet pasien.79 Di ruang poliklinik RSUDDH terdapat tenaga gizi. baik pasien rawat jalan maupun pasien rawat inap. Penentuan macam atau jenis diet sesuai dengan penyakitnya dan cara pemberian makanan 10. Konseling gizi 11. 2006a). dalam upaya mempercepat proses penyembuhan (Depkes RI. Evaluasi dan tindak lanjut pelayanan gizi Kegiatan asuhan gizi bagi pasien gizi buruk di ruang perawatan RSUD Depati Hamzah dilaksanakan secara sistematis berdasarkan Kriteria Depkes (2006a). Pelayanan asuhan gizi rawat inap merupakan serangkaian kegiatan selama perawatan yang meliputi: 6. Penentuan kebutuhan gizi sesuai dengan status gizi dan penyakitnya 9. perawat dan dokter. . Pengkajian status gizi 7. Dengan tujuannya untuk memberikan pelayanan kepada pasien rawat inap agar memperoleh gizi yang sesuai dengan kondisi penyakit. Riwayat gizi 8.3 Kegiatan Asuhan Gizi Pasien Gizi Buruk di Ruang Perawatan Rumah Sakit Umum Daerah Depati Hamzah Rangkaian proses kegiatan pelayanan gizi yang berkesinambungan dimulai dari perencanaan diet hingga evaluasi rencana diet pasien diruang rawat inap. Poliklinik gizi adalah tempat kegiatan penyuluhan gizi dan konsultasi kepada pasien yang menjalani diet.

Antropometri Setiap pasien akan diukur data antropometri. mekanisme yang dilakukan dengan cara: 1. dan lain-lain sesuai dengan kebutuhan (Depkes RI. tinggi lutut. 4. mengidentifikasi gizi(kurang atau lebih).1 Pengkajian Status Gizi Bagi Pasien Gizi Buruk Pengkajian status gizi adalah proses yang digunakan untuk menentukan status gizi pasien. tebal lemak bawah kulit (skin fold technic). penyakit serta cara pemberian makanan. untuk menentukan preskripsi diet atau rencana diet.80 Kegiatan asuhan gizi pasien gizi buruk meliputi pengkajian status gizi pasien gizi buruk. berupa tinggi badan (TB). lingkar lengan atas (LILA). berat badan (BB). perawat dan tenaga kesehatan lainnya. pada saat awal balita masuk kerumah sakit dilakukan kegiatan pengkajian status gizi pada pasien gizi buruk. sedangkan penentuan macam atau jenis diet sesuai dengan kondisi anak. 2006a). Pada kegiatan ini pengkajian status gizi bagi pasien gizi buruk. 2006a). Gangguan ini biasanya terlihat dari pola . dan menu makanan yang harus diberikan kepada pasien (Depkes RI. Antropometri sangat umum digunakan untuk mengukur status gizi dari berbagai ketidakseimbangan antara asupan protein dan energi.3. penentuan kebutuhan gizi pasien gizi buruk sesuai dengan status gizi dan penyakit. panjang badan (PB). Kemudian kegiatan terakhir yaitu evaluasi dan tindak terhadap pelayanan pasien gizi buruk. ahli gizi RSUD Depati Hamzah tidak bekerja sendiri tetapi dibantu oleh tim asuhan gizi yang terdiri dari dokter.

sehingga intervensi yang diberikan diharapkan tepat sasaran. Kegiatan in bertujuan untuk mengetahui status gizi balita yang mengikuti pemulihan dan perawatan. Secara keseluruhan kegiatan pengukuran antropometri dapat digambarkan dengan gambar berikut ini. Tinggi Badan/Panjang Badan. Gambar 4. Lingkar Lengan Atas. 2001). Lingkar Kepala. dkk. Lingkar Dada . Tatalaksana asuhan gizi buruk di Ruang Perawatan RSUDDH pada tahap pengkajian status gizi berdasarkan dengan pedoman dari Depkes (2006a) yaitu adanya pengukuran antropometri terlebih dahulu terhadap pasien gizi buruk.4 Proses kegiatan pengukuran antropometri Pengukuran Berat Badan. otot dan jumlah air dalam tubuh (Supariasa. Dari penelitian status gizi inilah dapat diketahui intervensi apa yang akan diberikan. Kegiatan pengukuran antropometri adalah salah satu kegiatan pelayanan gizi dalam tatalaksana pasien gizi buruk di ruang perawatan RSUDDH. Pengukuran ini sering digunakan dalam penentuan status gizi anak dan rutin pengukurannya yaitu dengan metode pengukuran antropometri yang mempertimbangkan memilih dan faktor-faktor menggunakan yang suatu harus metode dipertimbangkan dalam pengukuran.81 pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak.

. Sedangkan pengukuran tidak langsung seperti survei konsumsi. biokimia. Pengukuran langsung seperti pengukuran antropometri. Metode yang digunakan untuk penilaian status gizi adalah metode penilaian status gizi secara langsung yaitu pengukuran antropometri. TB/PB. LLA. Menurut jelliffe (1989) penilaian status gizi terbagi menjadi dua.82 Pencatatan Data Hasil Pengukuran Pengolahan Data Hasil Pengukuran Penggunaan Informasi Hasil Pengolahan Data Interpretasi Hasil Pengolahan Data Sumber: Data Primer Dari gambar akan dapat diketahui bahwa proses kegiatan antropometri dimulai dari pengukuran BB. Kemudian data tersebut diolah sehingga menghasilkan sebuah informasi yang dapat digunakn untuk pengambilan keputusan atau tindakan dalam menaggulangi masalah gizi buruk atau kurang. statistic vital. dan faktor ekologi. yaitu pengukuran langsung dan pengukuran tidak langsung. LK dan LD. klinis dan biofisik.

Fasilitas dan peralatan. dan dana.83 Kegiatan asuhan gizi di ruang perawatan RSUDDH memilih metode pengukuran langsung dalam penilaian status gizi anak salah satu nya dengan metode antropometri untuk menilai status gizi anak karena prosedurnya lebih mudah dan tidak membutuhkan biaya yang banyak. Alat pengukuran Antropometri yang digunakan oleh tim asuhan gizi di ruang perawatan RSUDDH untuk menilai status gizi pasien dalam . waktu. unit sample yang diukur. dana. tetapi tenaga tersebut cukup dilatih. Sesuai dengan pedoman yang dikemukakan oleh Supariasa (2002). waktu. Untuk SDM atau tenaga yang melakukan pengukuran antropometri adalah tim asuhan gizi seperti perawat dan nutrisionis yang mendapatkan pelatihan metode dan cara pengukuran antropometri. Tenaga atau sumber daya yang melakukan pengukuran antropometri adalah Tim Asuhan Gizi di ruang perawatan yang telah mendapatkan pelatihan mengeanai metode dan cara pengukuran antropometri. sampel yang diukur dan informasi yang ingin dihasilkan dari pengukuran tersebut. peralatan. Menurut Gibson (1990) penilaian status gizi secara antropometri tidak memerlukan tenaga ahli. Metode pengukuran antropometri mempertimbangkan faktor tenaga. jenis informasi yang dibutuhkan. Tenaga. menurut Supariasa (2002) beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih dan menggunakan suatu metode pengukuran yaitu tujuan pengukuran. tingkat reliabilitas dan akurasi yang dibutuhkan.

1 cm 4. Length Board untuk mengukur panjang badan 3.84 melaksanakan kegiatan pengukuran antropometri. Sebelum penggunaan alat tersebut ditera terlebih dahulu. Menurut Depkes (1999) alat yang digunakan dalam ke tempat yang menimbang berat badan harus memenuhi beberapa persyaratan antara lain mudah digunakan dan dibawa dari satu tempat ke tempat yang lain. Menurut Puslitbang Gizi (1980). Detecto yang digunakan oleh tim asuahan gizi di ruang perawatan telah memenuhi persyaratan yang diajukan oleh Depkes. Detecto dengan ketelitian 0.1 cm. Pita pengukur untuk mengukur lingkar lengan atas. dan cukup aman untuk menimbang balita. 2. Microtoise untuk mengukur tinggi badan dengan ketelitian 0. tim asuhan gizi menggunakan alat-alat sebagai berikut : 1. Untuk mengukur panjang badan di Asuhan gizi menggunakan length board dengan ketelitian 0.01 kg untuk mengukur berat badan. untuk bayi atau anak . alat ini telah disesuaikan dengan kondisi pasien. karena sebagian besar pasien adalah balita yang belum dapat berdiri atau sudah dapat berdiri namun tidak mampu untuk berdiri karena kondisi fisiknya yang lemah.01 kg. mudah diperoleh dan relative murah harganya. Skalanya mudah dibaca. dan lingkar dada Alat yang digunakan oleh tim asuhan gizi pada tatalaksana asuhan pasien gizi buruk untuk mengukur berat badan adalah Detecto dengan ketelitian 0. lingkar kepala.1 kg. sehingga akurasi dan ketepatan hasil pengukuran dapat dipertanggungjawabkan. ketelitian penimbangan sebaiknya maksimal 0.

fleksibel. dan tidak mudah patah. penggunaan Microtoise untuk parameter tinggi badan sesuai dengan anjuran Depkes sebab hasil pengukuran dengan Microtoise untuk parameter tinggi badan berbeda dengan hasil pengukuran dengan length board untuk parameter panjang badan. Parameter lingkar lengan atas.85 yang belum dapat berdiri digunakan alat pengukur panjang bayi. Sedangkan untuk mengukur parameter tinggi badan dilakukan untuk balita yang sudah dapat berdiri dengan kondisi badan sudah tidak memungkinkan lagi menggunakn Length board. Pengukuran lingkar lengan atas. dan lingkar dada dewasa ini menjadi salah satu pilihan untuk penentuan status gizi. sesuai dengan pernyataan tersebut. dalam penggunaan alat Microtoise dan Length board harus disesuaikan dengan kondisi balita yang akan diukur agar hasil pengukurannya tepat dan akurat. Tim Asuhan gizi telah menerapkan penggunaan alat pengukur panjang bayi (length board) untuk mengukur parameter panjang badan. ada . lingkar kepala.1 cm. Hal ini telah diterapkan oleh Asuhan gizi dalam kegiatan pengukuran antropometri. Maka Asuhan gizi menggunakan microtoise sebagai alat pengukur tinggi badan dengan ketelitian 0. Menurut Supariasa (2002). linhkar kepala. dan lingkar dada diukur dada diukur dengan menggunakan alat yang sama yaitu pita pengukur yang terbuat dari serat kaca (Fiberglass) dengan lebar kurang dari 1 cm. Karena mudah dilakukan dan tidakmemerlukan alat-alat yang sulit diperoleh dengan harga yang lebih murah. Untuk itu.

tetapi kurang sensitif pada golongan lain terutama orang dewasa. 3. 1. mengingat batas anatara baku dengan gizi kurang. Sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Supariasa (2002) bahwa banyak hal yang perlu diperhatikan untuk menggunakan parameter LLA sebagai . Ini berarti kesalahan yang sama besar jauh lebih berarti pada LLA dibandingkan dengan tinggi badan. 2. Baku lingkar lengan atas yang sekarang digunakan belum mendapatkan pengujian yang memadai untuk digunakan di Indonesia. lebih sempit pada LLA dari pada tinggi badan. tim asuhan gizi tidak menggunakan parameter LLA untuk penilaian status gizi. Hal ini didasarkan pada hasil-hasil penelitian yang umumnya menunjukan perbedaan angka prevalensi KEP yang cukup berarti antara penggunaan LLA disatu pihak dengan berat badan menurut umur atau berat badan menurut tinggi badan maupun indeks-indeks lain di pifak lain. Tidak demikian halnya dengan berat badan.86 beberapa hal yang perlu mendapat perhatian terutama jika menggunkan parameter lingkar lengan atas sebagai pilihan tunggal untuk indeks gizi . Kesalahan pengukuran pada LLA ( pada berbagai tingkat keterampilan pengukuran) relative lebih besar dibandingkan dengan tinggi badan. sekalipun terdapat korelasi statistic yang berarti antara indeks-indeks tersebut dengan LLA. Dalam menjalankan kegiatan tatalaksana anak gizi buruk. Lingkar lengan atas sensitif untuk suatu golongan tertentu (prasekolah).

Untuk parameter berat badan diukur setiap hari selama perawatan sedangkan parameter tinggi badan atau panjang badan. lingkar lengan atas. . maka diperlukan parameter lain untuk penilaian status gizi sehingga penilaian yang dilakukan tepat dan akurat. lingkar kepala dan lingkar dada diukur pada hari pertama dirawat dan rutinnya setiap 1 kali per minggu. Lingkar Lengan Atas (LLA). Lingkar Dada (LD). Tinggi Badan (TB) atau Panjang Badan (PB).87 pilihan untuk penilaian status gizi. Gambar 4. dan Lingkar Kepala (LK).5 Alat Pengukuran Antropometri Microtoise Pengukur Lengan Length Board Detecto Cara pengukuran Antropometri yang dilakukan oleh tim asuhan gizi dalam mengukur antropometri anak yang mengikuti pemulihan adalah mengukur Berat Badan (BB).

cara penggunaan Microtoise untuk parameter tinggi badan sesuai dengan anjuran Depkes yaitu sewaktu pengukuran anak tidak boleh memakai alas kaki (sepatu atau sandal) dan penutup kepala (topi atau kerudung).1 cm. Letak kepala menyinggung bagian atas alat pengukur dan kaki bayi harus diluruskan hingga telapak kaki bayi menyinggung bagian alat ukur sebelah bawah. berat badan menggambarkan jumlah dari protein. . Sebelum digunakan alat ditera terlebih dahulu serta pakaian dan alas kaki dilepaskan pada saat penimbangan sehingga hasil pengukuran tepat dan akurat. dan mineral pada tulang. Sedangkan untuk mengukur parameter tinggi badan yang dilakukan untuk balita yang sudah dapat berdiri dengan kondisi badan sudah tidak memungkinkan lagi menggunakan Length board. lemak. Cara mengukurnya adalah bayi diletakan di atas alat pengukur dalam posisi tidur.01 kg.88 Berat badan merupakan ukuran antropometri yang terpenting dan paling sering digunakan pada bayi baru lahir (neonatus). maka di Asuhan gizi menggunakan Microtoise sebagai alat pengukur tinggi badan dengan ketelitian 0. air. Cara pengukuran berat badan pada kegiatan tatalaksana gizi di ruang perawatan RSUDDH ini menggunakan Detecto yang mempunyai ketelitian 0. Menurut Soetjiningsih (1998). Pengukuran panjang badan dilakukan dengan menggunakan length board yang telah disesuaikan untuk bayi atau anak yang belum dapat berdiri. Berat badan digunakan untuk mendiagnosis bayi normal atau Berat bayi lahir rendah (BBLR).

89 Cara pengukuran lingkar lengan atas. yakni untuk parameter lingkar lengan ats diukur dengan cara mengukur pertengahan lengan atas sebelah kiri.6 Cara Pengukuran Antropometri Pengukuran LLA Pengukuran BB . dan untuk parameter lingkar dada pengukuran dilakukan pada garis putting susu dengan cara melingkarkan pita pada dada. Pada saat pengukuran pita pengukur tidak terlalau kuat atau terlalu longgar. Gambar 4. Lengan yang diukur dalam keadaan bergantung bebas dan tidak tertutup pakaian. Untuk parameter lingkar kepala diukur dengan cara melingkarkan pita pada kepala. pertengahan ini dihitung jarak dari siku sampai batas lengan dan kemudian dibagi dua. dan lingkar dada yang dilakukan di Asuhan gizi sesuai dengan pedoman Depkes. lingkar kepala.

Pembacaan hasil atau interpretasinya dilakukan oleh petugas asuhan gizi untuk menilai status gizinya sehingga dapat ditentukan perawatan dan pemulihan yang akan diterima untuk pasien yang baru dan pasien yang masih dirawat di ruang perawatan RSUDDH. yaitu cara manual dan komputerisasi. dan TB/U. Program yang digunakan adalah NutriClin dan Nutrisoft. BB/U. . Sedangkan untuk penentuan status gizi secara komputerisasi dilakukan untuk tujuan penelitian dengan jumlah data relatif banyak. indikator yang digunakan meliputi BB/TB. Pengolahan data hasil pengukuran antropometri di ruang perawatan asuhan gizi ini bertujuan untuk menentukan status gizi dan penatalaksanaannya. Penentuan status gizi secara manual dengan menggunakan tabel baku WHO-NCHS (National Centre for Health Statistic) dan indeks yang digunakan adalah BB/TB.90 Pengukuran PB Sumber : Dokumentasi Penulis Hasil pengukuran antropometri pada kegiatan tatalaksana asuhan Gizi buruk di ruang perawatan RSUDDH langsung dicatat ke dalam formulir pengukuran antropometri yang terdapat dalam formulir pemeriksaan klinis. Pengolahan data dilakukan dengan dua cara.

yaitu cara manual dan komputerisasi. jaringan. Selain itu. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik meliputi kesan klinis keadaan gizi. Informasi hasil pengukuran antropometri digunakan untuk mendeteksi status gizi balita yang mengikuti pemulihan di ruang perawatan RSUDDH dan sebagai rujukan dalam pengambilan keputusan atau tindakan untuk menanggulangi masalah gizi buruk atau kurang. Cara manual yang dilakukan untuk menentukan status gizi pasien menggunakan standar deviasi unit (SD) dengan baku rujukan WHO-NCHS (National Centre for Health Statistic) dan indeks yang digunakan adalah BB/TB. BB/U.91 Pengolahan data hasil pengukuran antropometri di ruang perawatan RSUDDH khususnya oleh petugas asuhan gizi dilakukan dengan dua cara. indicator yang digunakan meliputi BB/TB. trofi otot dan defisiensi zat gizi lainnya. lemak subkutan. Sedangkan cara komputerisasi untuk pengolahan dat hasil pengukuran antropometri digunakan untuk penelitian dengan jumlah dta relative banyak. 2. informasi hasil pengukuran antropometri juga digunakan oleh para peneliti untuk menganalisis masalah-masalah gizi yang terkait dengan antropometri. Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mendeteksi adanya kelainan klinis yang berhubungan dengan gangguan gizi atau untuk menentukan hubungan sebab akibat antara . Pada tatalaksana asuhan gizi pasien gizi buruk di ruang perawatan RSUDDH menggunakan baku rujukan WHO-NCHS dalam melakukan penilaian status gizi. Program computer yang digunakan adalah NutriClin dan Nurisoft. dan TB/U.

Tandatanda yang dilihat dari pasien gizi buruk yaitu apakah tanda-tanda tersebut mengalami marasmus kwashiorkor dan marasmus kwashiorkor. Pemeriksaan fisik meliputi: tanda-tanda klinis kurang gizi (sangat kurus. Wajah seperti orang tua r. pucat atau bengkak) atau gizi lebih (gemuk/sangat gemuk/obesitas): sistem kardiovaskuler. sistem gastrointestinal. Rambut jarang dan tipis p. (2006a). Jika pasien mengalami marasmus dapat diketahui tanda klinis adan gejala yang ditimbulkan sebagi berikut: l. sistem metabolic/endokrin dan sistem neurologik/ psikiatrik (Depkes RI. Otot-otot berkurang dan melemah o. 2006a) Di ruang perawatan asuhan gizi RSUDDH dilakukan pemeriksaan fisik terhadap pasien gizi buruk sesuai dengan kriteria dari Depkes RI. Keterlambatan pertumbuhan yang parah m.92 status gizi dengan kesehatan serta menentukan terapi obat dan diet. Cengeng dan rewel s. Perut cekung . Kurus sehingga hampir tidak ada lemak dibawah kulit n. Kulit tidak elastis dan keriput q. Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mendeteksi adanya kelainan klinis yang berhubungan dengan gangguan gizi atau untuk menentukan sebab akibat antara status gizi dengan kesehatan pasien. sistem pernafasan. serta menentukan terapi obat dan diet untuk pasien gizi buruk jika disertai dengan penyakit penyerta.

93 t. Iga gambang u. Sering terjadi dehidrasi, ISPA, tuberkulosis, cacingan berat dan penyakit kronis lainnya v. Sering disertai defisiensi vitamin A dan D Bila pasien gizi buruk mengalami kwashiorkor dapat diketahuinya tanda klinis dan gejala yang ditimbulkannya sebagai berikut: j. Oedema (pembengkakan), moonface dan gangguan psikomotor k. Anak menjadi apatis, tidak mau makan, suka merengek l. Kulit dan rambut mengalami depigmentas, kulit bersisi m. Hati membesar dan berlemak n. Sering disertai anemia dan xeroftamia. o. Pandangan mata sayu p. Otot mengecil (hipotrofi), lebih nyata diperiksa pada posisi berdiri atau duduk q. Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas. r. Sering disertai: penyakit infeksi, umumnya akut, anemia dan diare Marasmus-Kwarshiorkor merupakan gabungan dari keduanya dan tanda-tanda adalah gejala dari keduanya, dengan BB/U <60% baku median WHO-NCHS disertai edema yang tidak mencolok (Modul Gizi Ksehatan Masyarakat, 2008). 3. Pemeriksaan Laboratorium

94 Pemerikrsaan laboratorium dilakukan untuk mendeteksi adanya kelainan biokimia dalam rangka mendukung diagnosa penyakit serta menegakkan masalah gizi klien/pasien. Pemeriksaan ini dilakukan juga untuk menentukan intervensi gizi dan memonitor/mengevaluasi terapi gizi. Pemeriksaan laboratorium yang perlu dilakukan antara lain : Pemeriksaan darah (Hb, kolesterol total, HDL, LDL,gula darah, ureum, keratin, asam urat, trigliserida, urin (glukosa, kadar gula, albumin dll), dan feses (Depkes dan Asuhan gizi Perjan RSCM dan Asosiasi Dietsien Indonesia, 2006) Pemeriksaan laboratorium dilaksanakan pada saat pasien gizi masuk dengan bantuan unsur terkait yaitu oleh tim asuhan gizi Asuhan gizi RSUD Depati Hamzah dalam pengkaijian status gizi untuk mendeteksi mendiagnosa penyakit dan untu menentukan terapi gizi antara lain: a. Pemeriksaan darah: contoh darah lengkap, HB, kolesterol darah, HDL, LDL, glukosa darah, ureum, creatinin, asam urat dan trigliserida serta kadar vitamin dan mineral lain. b. Urin: contoh urin lengkap, glukosa/kadar gula, albumin. c. Feses: contoh feses (tinja), fungsi pencernaan, lemak, cacing (Depkes RI, 2006a) Pada pemeriksaan laboratorium ini dapat diketahui oleh analis kesehatan di Asuhan gizi RSUD Depati Hamzah kadar albumin, prealbumin pada pasien gizi buruk dapat dilhat pada tabel berikut ini yang merupakan rujukan dari Depkes RI, (2006a). Tabel 4.4

95 Kadar Albumin pada Urin Albumin Serum(µg/dl) Malnutrisi ringan Malnutrisi sedang Malnutrisi berat Sumber: Depkes RI, 2003 3.0-3.5 2.1-3.0 < 2.1 Transferin serum (µg/dl) 150-200 100-150 < 100

Nilai prealbumin dalam kaitannya daya status gizi dapat diketahui sebagai berikut (Depkes RI, 2003). a. Baik b. Gizi sedang c. Gizi kurang marasmus : 23.8 +/- 0.9 µg/dl : 16.6 +/- -0.8 µg/dl : 12.4 +/- 10 µg/dl

d. Gizi buruk marasmus kwashiorkor : 7.6 +/- 0.6 µg/dl e. Gizi buruk kwashiorkor : 3.2 +/- 0.4 µg/dl

4.3.2 Riwayat Gizi Pasien Gizi Buruk Setiap pasien rawat inap akan dianalisis mengenai kebiasaan makan sebelum dirawat yang meliputi asupan zat gizi, pola makan, bentuk dan frekuensi makan, serta pantangan makan. Asupan zat gizi diukur dengan menggunakan model makanan (food model) dan selanjutnya dianalisis zat gizinya dengan menggunakan daftar analisa bahan makanan atau daftar bahan makanan penukar (Depkes RI, 2006a).

Selain itu memperhatikan kebutuhan untuk penggantian status gizi (replacement). kebutuhan tambahan karena kehilangan (loss) serta tambahan untuk pemulihan jaringan atau organ yang sedang sakit.3. kebutuhan harian. sikap terhadap makanan. dengan menggunakan nutriclin(software) dapat diketahui informasi tentang status gizi pasien. jika . pemeriksaan klinis. dan data laboratorium. yaitu dengan melakukan wawancara riwayat gizi kepada keluarga pasien gizi buruk yang dilakukan oleh perawat dan ahli gizi ruamah sakit mengenai pola makan dan frekuensi makan. alegi terhadap makanan penggunaan obat secara kuantitatif (food recall) dan kualitatif. BB anak . dokter beserta ahli gizi akan menentukan diet pasien gizi buruk berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut. Ahli gizi akan menentukan pemberian diet pasien gizi buruk ini disesuaikan juga dengan kondisi pasien pada saat konseling.3 Penentuan Kebutuhan Gizi Pasien Gizi Buruk Penentuan kebutuhan gizi diberikan kepada klien/pasien atas dasar status gizi. 2006a). hasil anamnesis dbandingkan dengan angka kecukupak gizi (AKG). 4. Setelah diketahui hasil berbagai pemeriksaan. Proses kegiatan penentuan kebutuhan gizi dalam tatalaksana asuhan gizi di ruang perawatan asuhan gizi RSUDDH yaitu setelah selesai pemeriksaan.96 Di ruang perawatan Asuhan gizi RSUD Depati Hamzah dalam tatalaksana asuhan gizi dilakukan anamnesis riwayat gizi pada pasien gizi buruk sesuai dengan rujukan dari Depkes RI (2006a). Penghitungan ini dapat menggunakan software seperti NutriClin (Depkes. dan pola makan (bentuk dan frekuensi makanan) serta asupan zat gizi sesuai dengan angka kecukupan gizi (AKG) .

5 gram/kgBB/hr Cairan 130 ml/kgBB/hr atau 100 ml/kgBB/hr bila ada adema berat Sumber: Depkes RI.5 Kebutuhan Zat Gizi Berdasarkan Fase Pemberian Makanan STABILISASI ( hari ke 1-7) 80100kkal/kgBB/hr Protein 1-1. Indikator pemberian makanan pada pasien gizi buruk di Asuhan gizi RSUDDH.97 kondisi pasien gizi buruk mengalami kondisi diambang kilinis maka pasien akan dirawat selam proses pemulihan kondisi anak. 2003 ZAT GIZI Energi TRANSISI ( hari ke 8-14) 100-150 kkal/kgBB/hr 2-3 gram/kgBB/hr 150 ml/kgBB/hr REHABILITASI (minggu ke 3-6) 150-220 kkal/kgBB/hr 3-4 gram/kgBB/hr 150-200 ml/kgBB/hr Kebutuhan energi : 80-220 kkal/kgBB/hr Kebutuhan protein : 1-4 gram/kgBB/hr Cairan : 130-200 ml/kgBB/hr bila edema berat cairan harus diberikan 100 ml/kg/BB/hr + : edema pada tangan dan kaki . standar kebutuhan zat gizi beradasarkan fase pemberian makanan yang merupakan rujukan dari Depkes RI (2003) yaitu sebagai berikut: Tabel 4. kemudian ahli gizi mengambil data pasien untuk digunakan pada tahap selanjutnya yaitu penentuan kebutuhan gizi pasien dan diet pasien yang akan diberikan sesuai dengan kondisi anak dan jenis penyakit penyerta lainnya.

Tahap pemberian makanan. dsb) sesuai dengan kebutuhan memperhatikan zat gizi yang dibutuhkan serta macam dan jumlah bahan makanan yang digunakan. penentuan kebutuhan zat gizi pasien gizi buruk berdasarkan kebutuhan zat gizi rujukan dari Depkes RI (2003). Tatalaksana asuhan gizi di ruang perawatan Asuhan gizi RSUDDH .5 kebutuhan zat gizi pada gizi buruk berdasarkan fase pemberian makanan. 2006a). Setelah kebutuhan gizi diketahui maka dokter beserta ahli gizi akan menentukan diet pasien tersebut. ahli gizi akan mempelajari pemberian makanan dan menyusun rencana diet dan bila sudah sesuai selanjutnya akan meterjemahkan kedalam menu. dietesien akan mempelajari menyusun rencana diet dan bila sudah sesuai selanjutnya akan menterjemahkan kedalam menu dan porsi makanan serta frekuensi makan akan diberikan. jenis diet . lunak. porsi makanan dan frekuensi makanan yang akan diberikan kepada pasien gizi buruk. 4. .98 ++ : edema pada tungkai dan lengan +++: edema pada seluruh tubuh (wajah dan perut) Pada tabel 4. Apabila dari rencana diet tersebut diperlukan penyesuaian maka dietesien akan mengkonsultasikan kepada dokter (Depkes RI. Dengan penambahan energi dan protein bisa membantu pertumbuhan dan perkembangan anak.4 Penentuan Macam diet pasien gizi buruk Setelah dokter menentukan diet pasien tersebut.makanan diberikan dalam berbagai bentuk/konsistensi.3. cair. (biasa. Setiap fase pemberian makanan memerlukan penambahan zat gizi yang lebih khususnya energi dan protein.

2003 . Dan Jumlah Makanan Yang Diberikan Jumlah cairan (ml) setiap minum menurut bb anak 4 Kg 6 Kg 8 Kg 10 Kg 45 45 65 65 90 90 65 65 100 100 130 130 90 130 175 110 160 220 Fase Waktu pemberian Stabilisasi Hari 1-2 Hari 3-4 Hari 3-7 Jenis makanan F75/modifikasi F75/Modisco ½ F75/modifikasi F75/Modisco ½ F75/modifikasi F75/Modisco½ Frekwensi 12 x (dg ASI) 12 x (tanpa ASI) 8 x (dg ASI) 8 x (tanpa ASI) 6 x (dg ASI) 6 x (tanpa ASI) 4 x (dg ASI ) I 6 x (tanpa ASI) 3 x (dg/tanpa III. ASI) Transisi Minggu 2-3 Rehabilitasi Minggu F100/modifikasi F100/Modisco /modisco II 3-6 F135/modifikasi F135/Modisco ditambah 130 90 90 195 130 100 175 150 220 175 BB < 7 Kg BB >7 Kg 3 x 1 porsi Makanan lumat makan lembik 1x Sari buah Makanan lunak makan 3 x 1 porsi biasa 1 –2 x 1 buah Buah 100 - 100 - 100 - 100 - Sumber: Depkes RI.99 jumlah dan jadwal makanan pada pasien gizi buruk pada tatalaksana asuhan gizi di ruang perawatan asuhan gizi RSUDDH berdasarkan rujukan dari Depkes RI (2003) yaitu sebagai berikut: Tabel 4. Jenis.6 Jadwal.

fase transisi dan fase rehabilitasi yaitu makanannya berupa formula WHO ( F 75. Pemberian Formula ini sangat diterapkan jika ada pasien gizi buruk baru masuk. F 135). 2003 Pemberian makanan atau diet pada pasien gizi buruk dalam tatalaksana asuhan gizi diruang perawatan RSUD Depati Hamzah berdasarkan tahapan fase makanan rujukan dari Depkes RI (2003) yang terdiri dari fase stabilisasi. F 100.7 Tahap Pemberian Makanan TAHAPAN PEMBERIAN DIET Fase stabilisasi : Fase transisi : Formula who 75 atau pengganti Formula who 75  formula who 100 atau pengganti Fase rehabilitasi : Formula who 135 (atau pengganti) Makanan keluarga Sumber: Depkes RI. Pemberian Formula F 75 diberikan pada saat fase stabilisasi (1-7 hari) artinya pemberian Formula F 75 ke pasien sesuai dengan tabel petunjuk pemberian F 75 (terlampir) yaitu pemberiannya sesuai dengan berat badan anak dan kondisi anak .100 Tabel 4. jika hasil pemantauan . selama perawatan akan dipantau pemberiannya untuk mengetahui pasien cocok dengan pemberian formula ini. sedangkan pemberian Formula F 100 diberikan pada fase transisi artinya pemberian Formula F 100 ke pasien sesuai dengan tabel petunjuk pemberian F 75 (terlampir) yaitu pemberiannya sesuai dengan berata badan anak dan kondisi anak. Dan pemberian Formula F 135 diberikan pada saat fase rehabilitasi artinya pemberian F 135 ke pasien sesuai dengan tabel petunjuk pemberian F 135 (terlampir) yaitu pemberiannya kondisi anak menagalami perkembangan.

maka oleh ahli gizi pemberian formula fleksibel artinya dalam pemberian makanan pada pasien disesuaikan dengan kondisi anak. sehingga kebutuhan zat gizi energi dan protein mengimbangi kondisi anak.8 Bahan Formula WHO FORMULA WHO Bahan Per 1000 ml Makanan Formula WHO Susu skim G bubuk Gula pasir G Minyak G sayur Mineral Bungkus mix Larutan Ml elektrolit Tambahan Ml air s/d lebih sedikit dikurangi untuk bisa F 75 F 100 F 135 25 100 30 3 bungkus 20 1000 85 50 60 3 bungkus 20 1000 90 65 75 3 bungkus 27 1000 Sumber: Instalasi gizi RSUDDH .101 ada pasien yang mengalami diare setiap pemberian formula. maka pemberian diet bagi pasien yang mengalami diare yaitu tetap pemberian formula kepada pasien tetapi bahan formula dikurangi pada saat pengolahan artinya pengolahan formula ini bahan formulanya tidak sesuai dengan takaran rujukan dari Depkes. Bahan makanan dan takaran bahan yang digunakan untuk pembuatan dan pengolahan formula WHO oleh Instalasi gizi RSUDDH yaitu sebagai berikut: Tabel 4.

F 100. protein. dan dapat juga diketahui % energi protein. Formula WHO ini mengandung berbagai macam zat gizi seperti energi. Formula WHO F 75. Proses pengolahannya sebagai berikut untuk masing – masing formula. kalium.6 Bahan Formula Bahan Formula Bahan Formula Proses pembuatan formula WHO untuk pasien gizi buruk ini dibuat oleh tenaga pemasak yang sudah dilatih oleh ahli gizi. larutan elektrolit dan cairan. F 135 . Proses pengolahan formula ini berdasarkan permintaan pasien dan ahli gizi. berat badan pasien dan kondisi pasien . tembaga (Cu).8 adalah Bahan makanan yang digunakan pembuatan formula WHO oleh Instalasi gizi RSUDDH berdasarkan standar rujukan Depkes RI (2003) yang bahan makanannya berupa susu skim bubuk. % energi lemak dan osmolaritasnya. seng. mineral mix. 1. laktosa. minyak sayur. Bahan makanan ini di takar sesuai standar masing-masing formula dengan kebutuhan gizi. Gambar 4. magnesium. gula pasir.102 Tabel 4. Setiap kandungan zat gizi di atas sudah diketahui nilai gizinya tiap masing – masing formula.

Proses .103 Campurkan gula dan minyak sayur. Masak selama 4 menit. larutan ini bisa langsung diminum. kemudian masukan susu skim sedikit demi sedikit. Encerkan dengan air hangat sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai homegen dan volume menjadi 1000 ml. aduk sampai rata dan tambahkan larutan mineral mix.7 Pengolahan Bahan Formula Penimbangan Bahan Formula Bahan Formula Hasil Olahan Formula Hasil Olahan Formula Proses pembuatan modifikasi makanan (formula WHO) untuk pasien gizi buruk ini dibuat oleh tenaga pemasak yang sudah dilatih oleh ahli gizi. bagi anak yang disentri atau diare persisten. aduk sampai kalis dan berbentuk gel. Gambar 4.

pemberian makanan akan di modifikasika agar proses pemulihan gizi akan semakin cepat dengan pertambahan zat gizi lebih. kemudian masukan susu skim/full cream/susu segar dan tepung sedikit demi sedikit. Proses pengolahannya sebagai berikut untuk masing – masing formula 2. Formula WHO F 75 Modifikasi (I. aduk sampai rata dan tambahkan larutan mineral mix. 4. II.5 Konseling Gizi Pasien Gizi buruk Sebelum melaksanakan kegiatan konseling gizi. sasaran. dan tindak lanjut. penjelasan diet yang perlu dijalankan oleh pasien. Modifikasi makanan ini berupa makanan khusus mengikuti standar formula WHO. Encerkan dengan air hangat sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai homegen dan volume menjadi 1000 ml dan didihkan sambil diaduk-aduk hingga larut selama 5-7 menit Jika kondisi anak mengalami perkembangan yang baik dan berat badannya pun meningkat. F 135 Modifikasi Campurkan gula dan minyak sayur. metode. F 100 Modifikasi.104 pengolahan modifikasi makanan (formula WHO) berdasarkan permintaan pasien dan ahli gizi. terlebih dahulu dibuat rencana konseling yang mencakup penetapan tujuan. strategi. yang diperlukan untuk proses penyembuhan. kepatuhan pasien untuk melaksanakan yang telah ditentukan dan pemecahan masalah yang timbul dalam melaksanakan diet tersebut. aduk sampai kalis dan berbentuk gel. materi. Untuk . Hal ini akan terwujud melalui:. III).3. tujuan dari konseling gizi membuat perubahn prilaku makan pada pasien. penilaian.

toleransi terhadap makanan yang diberikan. .105 meningkatkan efisiensi. yang dilakukan dengan mengubah preskripsi diet sesuai dengan kondisi pasien.tindak lanjut yang dilaksanakan berdasarkan kebutuhan sesuai dengan hasil evaluasi pelayanan gizi antara lain perubahan diet. berdasarkan kesamaan terapi diet pasien (Depkes RI. Pemantauan tersebut mencakup antara lain perubahan diet. nafsu makan rendah dsb (Depkes RI. Untuk pasien yang dirawat walaupun tidak memerlukan diet khusus tetapi tetap perlu mendapatkan perhatian agar tidak terjadi “Hospital Malnutrition” terutama pada pasien-pasien yang mempunyai masalah dalam asupan makanannya seperti adnya mual. Apabila perlu. muntah.6 Pemantauan.bentuk makanan. 4. atau NutriClin. hasil laboratorium dll.3. dilakukan kunjungan ulang atau kunjungan rumah. 2006a). Evaluasi dan Tindak lanjut Aktivitas utama dari proses evaluasi pelayanan gizi pasien adalah memantau pemberian makanan secara berkesinambungan untuk menilai proses penyembuhan dan status gizi pasien. pelaksanaan konseling terutama pada saat anamnesis dan penentuan diet. worlldfood. asupan makanan. EbisPro. muntah. Penyuluhan dan konsultasi gizi dapat diberikan secara perorangan maupun secara kelompok. keadaan klinis difekasi. mual. 2006a). dapat dilakukan dengan memanfaatkan software tertentu seperti food processor (FP2). Pelaksanaan konseling gizi di ruang perawatan Asuhan gizi RSUDDH dilaksanakan sesuai dengan kriteria dari Depkes RI (2006a) yaitu kegiatannya memberikan penyuluhan kepada keluarga balita mengenai penentuan diet dan terapi gizi pasien gizi buruk yang didapatkan dari berbagai pemeriksaan.

9 Pedoman Pemberian Formula Pada Anak Gizi Buruk Jumlah Makanan Formula yang harus diberikan sesuai BB anak dalam sehari BB < 7 kg BB 7-8 BB 9-10 kg BB 11kg 13 kg 1 ½ resep 1 resep 1 ½ resep 1 ½ resep 1 ½ resep 1 ½ resep 1 ½ resep 1 ½ resep 3 resep 2 resep 1 ½ resep 2 resep 2 resep 2 resep 1 ½ resep 2 resep 2 resep 3 ½ resep 3 resep 4 resep Saring 6 kali Karakteristik A. Bentuk Makanan Cair C. status gizi pada pasien gizi buruk yang dirawat di ruang perawatan Asuhan gizi RSUDDH dilakukan secara rutin oleh tim asuhan gizi sesuai dengan kebutuhan dan kondisinya. Sedangkan evaluasi yang dilakukan dengan penilaian masalah pemberian formula dan makanan ke pasien.106 Tahap pemantauan dalam tatalaksana asuhan gizi di ruang perawatan asuhan gizi RSUDDH yaitu Pemantauan berat badan. Terdapat pedoman pemberian formula atau makanan tambahan pada anak gizi buruk seperti berikut ini: Tabel 4. Frekuensi pemberian 8 kali makanan dalam sehari Lunak/ Lembik 5 kali Padat 5 kali . Pemantauan lainnya yaitu mengenai perubahan diet jika anak mengalami kenaikan berat badan maka terjadi perubahan asupan makanan dan bentuk makanan yang dikonsumsi. Jenis Makanan Formula tempe Formula ikan Formula kacang hijau Formula kacang hijau dan kuning telur Formula kacang hijau dan susu Formula tahu ayam Formula kentang Formula tempe wortel Formula Tim hati ayam Formula jagung pipil dan ikan Formula jagung segar dan ikan B. Pada pasien anak pemantauan berat badan sebaiknya dilakukan setiap hari. pemberiannya cocok atau tidak dengan kondisi anak.

4 Pelaksanaan Kerja Asuhan Gizi Ruang Rawat Inap Pasien Gizi Buruk Tim asuhan gizi merupakan tim fungsional yang mengkoordinasikan penyelenggaraan asuhan gizi mulai dari perencanaan. 2003 Berdasarkan tabel 4. kondisi anak dan usia anak diatas satu tahun. Di Asuhan gizi RSUDDH.107 Sumber: Depkes RI. S1 SKM (ahli kesehatan masyarakat) & DIII Gizi yaitu 2 orang ahli gizi sebagai koordinator pelayanan gizi Rumah Sakit. formula kacang hijau dan susu. perawat dan tenaga kesehatan lainnya (Depkes RI. Bentuk makanan (cair. saring. Tim ini dipimpin oleh seorang dokter dengan anggota yang terdiri dari dokter. nutrionis atau dietsien. Jenis makanan yang diberikan oleh ahli gizi kepada pasien gizi buruk biasanya Formula tempe. Formula tambahan ini biasanya di berikan berdasarkan berat badan anak. pelaksanaan. formula kacang hijau.9 Pedoman Pemberian Formula anak gizi buruk berdasarkan rujukan Depkes RI (2003) dibedakan beberapa karakteristik jenis makanan. DIII Keperawatan yaitu 19 orang perawat yang membantu dalam perawatan&pemeriksaan . jumlah makanan formula yang harus diberikan sesuai BB anak. formula tim hati ayam. Di ruang perawatan asuhan gizi RSUDDH ketenagaan khusus dalam tatalaksana asuhan gizi pasien gizi buruk berjumlah 52 orang dengan spesifikasi pendidikan Dokter untuk tanaga ahli penyakit yaitu 2 orang dokter. pemantauan dan evaluasi. lunak/lembik dan padat) dan frekuensi pemberian formula tambahan dalam sehari pemberiannya sesuai dengan tabel di atas. formula tempe wortel. Analis Kesehatan yaitu 10 orang . 2006a). formula ikan. 4.

Sistem kerja ahli gizi sesuai dengan kerja pegawai kantor yaitu hari Senin-Sabtu dari jam 08. perawat dan tenaga pemasak sistem kerjanya dibagi menjadi 2 shift dengan masing-masing shift. Namun demikian hal ini bisa diatasi dibantu oleh tenaga kesehatan lainnya baik tenaga kesehatan lainnya sudah mengerti tugas – tugas serta tindakan dalam pelaksanaan perintah tugas masing-masing.108 analis dalam pemeriksaan laboratorium. sedangkan untuk tenaga dokter. Adapun tugas pokok masing-masing ketenagaan tim asuhan gizi dalam tatalaksana pasien gizi buruk di ruang perawatan Asuhan gizi RSUDDH. Untuk tenaga gizi di Asuhan gizi ini masih kurang karena belum ada rekrutmen tenaga baru oleh pihak rumah sakit namun pihak rumah sakit mengusahakan akan menerima tenaga baru untuk meringankan tugas ahli gizi sebelumnya.00. tapi yang berperan dalam membantu pembuatan formula WHO&formula tambahan untuk anak Gizi buruk terdiri 3 orang. Tim asuhan gizi antara lain ahli gizi serta tenaga-tenaga kesehatan lainnya yang berperan dalam tatalaksana asuhan gizi cukup efektif dalam pelaksanaan tugas masing-masing.14.00. fisioterapi yaitu 3 orang fisioterapi serta untuk non ahli berpendidikan SD-SMU yang terdiri dari 12 orang tenaga pemasak. Berdasarkan tabel 4. Radiologi yaitu 4 orang Radiografer. Prosedur diatas sangat efektif dilaksanakan sesuai dengan tugas masing-masing.10 prosedur asuhan gizi rawat inap sesuai dengan prosedur di atas yang merupakan rujukan Depkes RI. .

Pelaporan Sumber: Depkes RI. Klinis Mekanisme Unsur terkait Pen. Deteksi Dilakukan pada saat pasien Dokter baru masuk Dokter&kep. Ruangan 3. dehidrasi. a. Diet Mengatasi segala penyakit Dokter/perawat Dokter (hipoglikemia. 2003 . lengkap.109 Prosedur kerja asuhan gizi rawat inap di Asuhan gizi RSUDDH sebagi berikut : Tabel 4. d. infeksi l dll) i Dokter/Dietesien/Nutrit Dietesien  Menentukan diet ionis/Perawat  Pemantauan  Konsumsi makanan  Status Gizi  Penyuluhan Gizi  Pemberian diet  Persiapan pulang  Pencatatan Gizi Berdasarkan rekam medik :  Ruang rawat jalan  Ruang rawat inap Dokter/Dietesien/ Nutritionis/Perawat Dokter/dietesien/kep. Ruangan c. Dietesien/nutritionis Dietesien/nutritionis 2. 1 Kegiatan Penentuan Status Gizi a. Ruangan Dokter/analis e. urin Dokter/analis Kep.10 Prosedur Kerja Asuhan Gizi Diruang Rawat Inap No. K hipotermia. Jawab Dokter Dilakukan untuk setiap pasien Dokter baru dan dimonitor setiap hari b. Klinis b. feses Anamnesis Gizi riwayat Wawancara dilakukan Perawat/deitesien/nutrit ionis Hb. Intervensi a. Antropometri diukur Penimbangan BB dan TB/PB seminggu sekali laboratorium Glukosa darah.

tim asuhan gizi. namun saat ini masalah yang diketahui dalam tatalaksana asuhan gizi yaitu belum terdapat prasarana ruangan khusus untuk perawatan pasien gizi buruk. 4. Ruangan khusus ini sangat penting untuk mengoptimalkan kondisi anak karena desain ruangannya seperti suhu. penerangan sudah dikondisikan dengan kondisi anak gizi buruk. serta dinas kesehatan akan mengajukan ruangan khusus pemulihan anak gizi buruk kepada pihak rumah sakit dalam waktu dekat menuju BLU agar proses penatalaksanaan gizi buruk akan semakin optimal.5. pemantauan obat yang diberikan oleh dokter serta konsutasi diet oleh keluarga pasien. Oleh karena itu. Tindakan Perawatan Pasien Gizi Buruk di Ruang Perawatan Rumah Sakit Umum Daerah Depati Hamzah Pangkal Pinang . kepala gizi . Dari pematauan yang dilakukan untuk mengoptimalkan kondisi pasien gizi buruk harus ada prasarana ruangan khusus bagi pasien gizi buruk.110 Anak gizi buruk yang dirawat inap di ruang perawatan akan dipantau terus kondisi perkembangannya seperti pemantauan makanan yang diberikan. pemantauan BB anak.

Gambar 4.8 Hasil Pemeriksaan dan Tindakan Pada Pasien Gizi Buruk Tanda Bahaya dan Tanda Penting (A) Perawatan Awal pada Fase Stabilisasi(B) Perawatan Lanjutan pada Fase Stabilisasi(C) Perawatan pada Fase Transisi(D) Perawatan pada Fase Rehabilitasi (E) Sumber: Depkes RI. 2006 .111 Adapun tindakan perawatan pasien gizi buruk yang dirawat di ruang perawatan RSUDDH yaitu pada gambar dibawah ini.

4 kg 64 cm Marasmus Pneumoni Lama perawatan: 1 bulan Kenaikan BB/bln: 800 gram Perubahan terapi gizi: F 135 Kondisi:+ 2.11 Laporan Kasus Anak Gizi Buruk Di Rumah Sakit Umum Daerah Depati Hamzah Pangkal Pinang Januari 2010 No Nama L P Umur BB TB Dignosa Keterangan Ranap : 9/1/10Ekonomi : Baik Terapi: F75 BB lahir : 1. Elga (Bangka Barat) P 2 thn 8 kg 58 cm Marasmus Ascites & GE Lama perawatan: 1 bulan Kenaikan BB/bln: 500 gram Perubahan terapi gizi: F 135 Kondisi:+ Sumber: RSUDDH Pangkal Pinang .2 kg Pekerjaan : tidak Umur ibu : 28 Anak ke 2 dr 3 BB : naik Ranap : 26/1/10 Ekonomi : Baik Terapi:F75 BB lahir : 2.9 kg PB : 39 cm Anak ke 4 Pendidikan ibu: SMA Pekerjaan : bekerja Umur ibu : 35 BB : naik Ranap :18/1/10 Eknomi:Kurang Terapi: F75 Pendidikan ibu : SD BB lahir : 3. Fathir (Bangka L Selatan) 8 bln 4.7 kg Anak ke 5 Pendidikan ibu SD Pekerjaan : bekerja Umur ibu : 37 BB : naik Pemantauan 1. Dina (Bangka Barat) P 5 bln 3 kg 57 cm Marasmus Lama perawatan: 1 bulan Kenaikan BB/bln: 1 kg Perubahan terapi gizi: F 135 Kondisi:+ 3.112 Dari kegiatan magang yang dilakukan didapatkan beberapa kasus pasien gizi buruk yang dirawat di ruang perawatan RSUDDH Pangkal Pinang yang datanya sebagai berikut: Tabel 4.

11. Tindakan yang dilakukan dari studi kasus pasien gizi buruk yang pernah dirawat ruang perawatan asuhan gizi RSUDDH yaitu sebagai berikut: .11 Laporan Kasus Anak Gizi Buruk Di Rumah Sakit Umum Daerah Depati Hamzah Pangkal Pinang Januari 2010 (lanjutan) N o Nama L P Umur BB TB Dignosa Keterangan Ranap : 27/1/10 Ekonomi : kurang Terapi:F75 BB lahir : 2. Dinar (Bangka Tengah) P 5 bln 2.7 kg Anak ke 3 Pendidikan ibu SD Pekerjaan : tidak bekerja Umur ibu : 35 BB : naik Pemantauan Lama perawatan: 1 bulan Kenaikan BB/bln: 1. Tindakan dan langkah-langkah yang dilakukan oleh tim asuhan gizi pada pasien gizi buruk berdasarkan rujukan Depkes RI (2009) mengenai 10 langkah utama tatalaksana pengobatan pasien gizi buruk.113 Tabel 4.9 kg 57 cm Marasmus Hipotermia /hipoglike mia 5 .2 kg Perubahan terapi gizi: F 135 dan makanan lunak Kondisi:+ 4 .9 kg 58 cm Ranap:27/1/10 Eknomi:Kurang Terapi : F75 Anak ke 1 Marasmus Pendidikan ibu : & Infeksi SD Kulit Pekerjaan : tidak bekerja Umur ibu : 19 thn BB : naik Lama perawatan: 1 bulan Kenaikan BB/bln: 800 gram Perubahan terapi gizi: F 135 dan makanan tambahan(lunak) Kondisi: + Sumber: RSUDDH Pangkal Pinang Dari hasil observasi yang dilakukan diruangan perawatan Asuhan gizi RSUDDH bulan Februari 2010 ada 5 kasus pasien gizi buruk yang dirawat yaitu datanya pada tabel 4. Aryo Saputra (Bangka Barat) L 6 bln 2.

jadi anak yang mengalami hipotermia (suhu < 36. diare. 2. tidak letargis. Biasanya jadwal pengobatan ini dilakukan pada fase stabilisasi.50C) hanya meletakkan lampu 50 cm dari tubuh anak. kontak langsung kulit ibu dengan kulit anak. memonitor suhu setiap 30 menit agar suhu dalam keadaan normal dan tidak terlalu tinggi dan menghentikan bila suhu tubuh tubuh sudah mencapai 37 0C 4. Pengukuran antropometri dan pemeriksaan klinis Bertujuan untuk mengetahui status gizi anak dengan penimbangan BB. pengukuran TB. Mengatasi hipoglikemia dan hipotermia Diruang perawatan pasien gizi buruk yang mengalami hipoglikemia tanda –tandanya mengalami letargis. hipotermia dsb) 3. Identifikasi balita gizi buruk Yaitu melakukan anamnesis dengan mengenali tanda-tanda gizi-gizi buruk dan pemeriksaan fisik pada pasien gizi buruk. dikarenakan di Asuhan gizi belum ada ruang perawatan khusus untuk pasien gizi buruk. dan renjatan (syok). Mengatasi dehidrasi . dehidrasi. Sangat diperlukan ruang perawatan khusus untuk pasien gizi buruk yang mengalami hipotermia.114 1. LILA anak dan mengamati tanda-tanda klinis seperti hipoglikemia. Tindakan yang dilakukan untuk mengatasi hipoglikemia ini oleh tim asuhan gizi yaitu memberikan larutan Glukosa 10 % atau larutan gula pasir 10% secara oral dan NGT sebanyak 50 ml.

anemia. Pemberian modifikasi makanan ini jika kondisi pasien dalam keadaan baik dan sudah melewati fase yang kritis. ranitidin. formula kacang hijau. antibiotik. Pengobatan seperti ini berlangsung diberikan secara berkala mulai pasien dirawat dari fase stabilisasi sampai fase rehabilitasi/fase tindak lanjut.susu full cream. Koreksi gangguan keseimbangan elektrolit Tindakan yang dilakukan oleh tim asuhan gizi yaitu dengan memberikan cairan agar bisa memperbaiki gangguan keseimbangan elektrolit 6. Mengobati infeksi Dari kasus yang dirawat. infeksi kulit (dermatosis). Pengamatan tumbuh kejar kembang . 8. formula tahu. F 100. Pemberian makan Dari kasus yang dirawat. pasien gizi buruk yang diikuti dengan penyakit penyerta seperti plumonia. Tindakan yang dilakukan oleh tim asuhan gizi yaitu memberikan obat-obatan seperti Isoniasid. mata cekung. haus kembali cubitan/ turgor kulit lambat. tidak ada air mata. pasien gizi buruk akan diberikan makanan khusus seperti Formula WHO. tandatandanya seperti anak letargis. anak gelisah dan rewel. Biasanya jadwal pengobatan ini dilakukan pada fase stabilisasi. cefotaxime.115 Diruang perawatan pasien gizi buruk yang mengalami dehidrasi. suplemen Fe. F 135 dan modifikasi makanan seperti formula tempe. cefadroxil. Rifampisin. 5. Pemberian makanan ini berdasarkan fase perawatan yang disesuaikan dengan BB anak dan kondisi anak. formula ikan. formula yang sering diberikan oleh tim asuhan gizi kepada pasien gizi buruk misalnya F 75. TBC. 7. mulut dan lidah kering.

Tindak lanjut setelah sembuh Dari pasien yang dirawat. Buku Tatalaksana Gizi Buruk Anak di Rumah Tangga dan Puskesmas b. Laporan bulanan kasus balita gizi buruk b. DPBM ( Daftar Penukar Bahan Makanan ) e. tindak lanjut bagi anak gizi buruk yang diberikan oleh tim asuhan gizi khususnya sosialisasi kepada keluarga dengan pemberian pola makan yang baik dan stimulasi harus tetap dilanjutkan dirumah setelah penderita dipulangkan. tindakan berlangsung jika kondisi anak semakin membaik berlangsung pada saat fase rehabiltasi dan fase tindak lanjut. Leatlet gizi buruk c. Tatalaksana ini sangat efektif . Diit balita gizi buruk d. NCP Rujukan : a. 9. Nutri Clien/NutriSurvey f. Penuntun Diet Anak Dalam tatalaksana pasien gizi buruk di ruang perawatan RSUDDH Pangkal Pinang menerapkan kriteria dari Depkes RI.116 Dari kasus yang dirawat. pasien gizi buruk akan dipantau perkembangan anak selama perawatan. biasanya tindakan yang dilakukan oleh tim asuhan gizi di ruang perawatan RSUDDH ini memberikan cairan dan makanan untuk tumbuh kejar anak dan memberikan stimulasi untuk tumbuh kembang anak. Dokumen terkait : a.

hal ini sesuai dengan Acuan dari Depkes RI. Dikatakan efektif tatalaksana asuhan gizi pada pasien gizi buruk ini diRSUDDH ini jika selama perawatan 1 bulan mengalami perubahan berat badan yaitu mengalami kenaikan yang indikator nya 500 gram-2000 gram berat badan dalam perbulan. .117 jika dilihat dari hasil pemantauan yang dilakukan. Kondisi pasien gizi buruk selama perawatan 1 bulan sudah memasuki fase rehabilitasi berat badan anak mengalami kenaikan dan terjadi perubahan terapi gizi.

penyuluhan/penilaian. Ketenagaan yang ada saat ini berjumlah 426 orang baik tenaga medis maupun tenaga non medis. RSUDDH ini memiliki fasilitas sarana dan prasarana pelayanan kesehatan yang cukup lengkap. Rumah Sakit Umum Daerah Depati Hamzah merupakan tempat pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan satu atau lebih pelayanan medis spesialistik atau pelayanan penunjang medis yang menjadi program pemerintah dalam bentuk pemulihan & perawatan berbagai penyakit.118 BAB V PENUTUP 5. penyajian makanan ke pasien. tenaga gizi dan perawat. perencanaan/penentuan diet.RSUDDH adalah salah satu rumah sakit rujukan provinsi Bangka Belitung dalam penanganan pasien gizi buruk yang letak tempatnya sangat strategis. 2. pecatatan dan pelaporan kegiatan-kegiatan gizi di ruangan sedangkan Instalasi gizi terdiri dari dapur pengelolaaan makanan salah satu unit pelayanan fungsional yang bertugas . Gambaran umum ruang perawatan RSUDDH terdapat tim asuhan gizi yang terdiri dari dokter. maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Kegiatan di ruang perawatan yaitu pengkajian status gizi.1 Simpulan Berdasarkan hasil kegiatan magang selanjutnya dilakukan pembahasan. yang ketua tim adalah dokter. Kegiatan ini dilakukan secara terpadu antara ketiga unsur di atas.

119 menyelenggarakan pelayanan gizi rawat inap dan menyelenggarakan makanan untuk pengaturan diet pasien yang sesuai dengan kelas perawatan 3. Namun di RSUDDH belum adanya ruang perawatan khusus bagi pasien gizi buruk dengan fungsi untuk membantu pemulihan kondisi pasien. perawat dan tenaga kesehatan lainnya yang memberikan tindakan asuhan gizi dan pemulihan kepada pasien gizi buruk yang kegiatannya seperti pengkajian status gizi . penentuan kebutuhan gizi. Tatalaksana asuhan gizi pasien gizi buruk diruang perawatan RSUD Depati Hamzah dilakukan oleh tim asuhan gizi yang terdiri dokter. 5. maka dirumuskan beberapa saran untuk peningkatan tatalaksana kegiatan pelayanan gizi buruk rawat inap di instalasi gizi RSUD Depati Hamzah Pangkal Pinang sebagai berikut: . konseling gizi dan pemantauan/evaluasi terhadap pasien gizi buruk dapat dilaksanakan sesuai dengan sistematis yang berdasarkan kriteria dari Depkes RI. Kegiatan ini semuanya dilaksanakan sangat efektif di RSUDDH Pangkal Pinang. Tindakan perawatan dan pengobatan pada pasien gizi buruk di ruang perawatan asuhan gizi Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Depati Hamzah Pangkal Pinang telah menerapkan 10 langkah tatalaksana pengobatan anak gizi buruk yang berdasarkan kriteria dari Depkes RI (1999). penentuan macam diet. ahli gizi.2 Saran Setelah meninjau hasil magang. Dari studi kasus pasien gizi buruk yang dirawat di RSUDDH Pangkal Pianag. kondisi pasien gizi buruk selama perawatan 1 bulan sudah memasuki fase rehabilitasi berat badan anak mengalami kenaikan dan terjadi perubahan terapi gizi. 4. (2006).

4. Untuk meningkatkan kegiatan asuhan gizi pasien gizi buruk diruang perawatan disarankan kepada pihak rumah sakit untuk menambah fasilitas di ruang perawatan yaitu ruang perawatan khusus gizi buruk. . Untuk meningkatkan kegiatan asuhan gizi pasien gizi buruk sangat diperlukan koordinasi antara pihak rumah sakit dan pihak Dinas kesehatan dalam hal rujukan kasus gizi buruk untuk perawatan dan pemulihannya. Disarankan kepada tenaga yang ada di perwtn asuhan gizi memantau kegiatan asuhan gizi buruk di ruang perawatan lebih intensif khususny pemantauan berat badan anak setiap hari dan pemantauan pemberian susu formula serta jenis makanan yang diberikan. 3.120 1.. Untuk meningkatkan kegiatan pelayanan gizi di RSUDDH disarankan kpd pihak manajemen rumah sakit menambah tenaga ahli gizi agar proses kegiatan pelayanan gizi semakin efektif. 2.

Budiyanto. Pencapaian pertumbuhan pada Balita Gizi Buruk selama Mengikuti Pemulihan di Klinik Gizi Bogor. Soetjiningsih. Agus Krisno. B. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Malang : Universitas Muhammad Malang. Muninjaya. Badan Litbang Kes Depkes RI.Jakarta : EGC. Jakarta. Tumbuh Kembang Anak. Prosiding Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi VII. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. RSUD Depati Hamzah. Penuntasan Masalah Gizi Utama. Jakarta : Dirjen Binkesmas Direktorat Gizi Masyarakat. Jakarta : Dirjen Binkesmas Direktorat Gizi Masyarakat ________2002. Dasar-Dasar Ilmu Gizi. Jakarta. Jakarta : Depkes RI. Pemantauan Pertumbuhan Balita. 1998. Gramedia Pustaka. I Dewa Nyoman. 2009. dkk. ________2006. 2001. Jakarta : Dirjen Binkesmas Direktorat Gizi Masyarakat Johari A. 2004.2009. Risalah pada Semiloka PraWKNPG VI. B. 1997. dkk. Kodyat. laporan Hasil Kegiatan Kesehatan Rumah Sakit Umum Daerah tahun 2009.121 DAFTAR PUSTAKA Almatsier.A Gde. Profil Rumah Sakit Umum Daerah tahun 2009. Jakarta : PT. Supariasa. __________________. Sri. Jakarta : Depkes RI. Status Gizi Balita di Indonesia Sebelum dan Setelah Krisis (Analisis Data Antropometri Susenas 1989-1999). . Sunita. Puslitbang Gizi dan Makanan. 2004. Penilaian Status Gizi. Manajemen Kesehatan. 2006. Mulyati. Jakarta : EGC. Depkes RI.2009. 2000. A. 2002. Petunjuk Bagan Tatalaksana Anak Gizi Buruk. Pelayanan Gizi Rumah Sakit.

122 .

123 .

124 .

125 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful