You are on page 1of 23

POST PARTUM SECTIO SAESARIA

A. DEFINISI PUERPERIUM / NIFAS 1. Nifas (puerperium) adalah masa pulih kembali dari partus selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra hamil, lamanya 6-8 minggu (Mochtar, 2010). 2. Nifas adalah waktu yang diperlukan untuk pulihnya alat kandungan dalam keadaan normal, dan dijumpai dua kejadian penting dalam puerperium yaitu involusi uteri dan proses laktasi, berlangsung 6 minggu atau 42 hari (Manuaba, 2010). 3. Nifas adalah perubahan alat genetalia internal maupun eksternal secara berangsur-angsur pulih kembali seperti sebelum lahir (Prawirohardjo, 2011).

PERIODE Masa nifas dibagi dalam 3 periode: 1. Early post partum  Dalam 24 jam pertama. 2. Immediate post partum  Minggu pertama post partum. 3. Late post partum  minggu kedua sampai dengan minggu keenam.

TUJUAN ASUHAN KEPERAWATAN 1. Menjaga kesehatan Ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologiknya. 2. Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya. 3. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat. 4. Memberikan pelayanan keluarga berencana. 4. TANDA DAN GEJALA a. Perubahan Fisik 1) Sistem Reproduksi • Uterus • Involusi : Kembalinya uterus ke kondisi normal setelah hamil. Proses ini dipercepat oleh rangsangan pada puting susu.

- Lochea Komposisi  Jaringan endometrial, darah dan limfe. 1) Rubra (merah) : 1-4 hari. 2) Serosa (pink kecoklatan): 5-9 hari 3) Alba (kuning-putih) : 10-14 hari Lochea terus keluar sampai 3 minggu. 1) Bau normal seperti menstruasi, jumlah meningkat saat berdiri. 2) Jumlah keluaran rata-rata 240-270 ml. 3) Siklus Menstruasi  Ibu menyusui paling awal 12 minggu rata-rata 18 minggu, untuk itu tidak menyusui akan kembali ke siklus normal. 4) Uterus a) Uterus secara berangsur-angsur menjadi kecil (involusi) sehingga akhirnya kembali seperti sebelum hamil b) Bayi lahir fundus uteri setinggi pusat dengan berat uterus 1000 gr c) Akhir kala III persalinan tinggi fundus uteri teraba 2 jari bawah pusat dengan berate uterus 750 gr. d) Satu minggu post partum tinggi fundus uteri teraba pertengan pusat simpisis dengan berat uterus 500 gr e) Dua minggu post partum tinggi fundus uteri tidak teraba diatas simpisis dengan berat uterus 350 gr f) Enam minggu postpartum fundus uteri bertambah kecil dengan berat uterus 50 gr  Ovulasi Ada tidaknya tergantung tingkat proluktin. Ibu menyusui mulai ovulasi pada bulan ke-3 atau lebih.  Ibu tidak menyusui mulai pada minggu ke-6 s/d minggu ke-8. Ovulasi mungkin tidak terlambat, dibutuhkan salah satu jenis kontrasepsi untuk mencegah kehamilan.

Pada post natal hari ke 5. kembali mendekati ukuran seperti tidak hamil. Serviks Segera setelah lahir terjadi edema. perineum sudah mendapatkan kembali sebagian besar tonusnya sekalipun tetap lebih kendur dari pada keadaan sebelum melahirkan. ostium eksterna dapat dimasuki oleh 2 hingga 3 jari tangan. bentuk distensi untuk beberapa hari. Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang sangat besar selama proses melahirkan bayi. produksi mukus normal dengan ovulasi.  Laserasi TK I TK II TK III TK IV :Kulit :Meluas :Meluas dan strukturnya sampai sampai dari dengan dengan permukaan otot otot s/d otot perineal spinkter : melibatkan dinding anterior rectal .  Episiotomi  Penyembuhan dalam 2 minggu. perineum menjadi kendur karena sebelumnya teregang oleh tekanan kepala bayi yang bergerak maju. kedua organ ini tetap berada dalam keadaan kendur. dalam 6 sampai 8 minggu. struktur eksternal melebar dan tampak bercelah. Serviks mengalami involusi bersama-sama uterus.  Perineum Segera setelah melahirkan. bentuk ramping lebar. Setelah 3 minggu vulva dan vagina kembali kepada keadaan tidak hamil dan rugae dalam vagina secara berangsur-angsur akan muncul kembali sementara labia manjadi lebih menonjol. struktur internal kembali dalam 2 minggu. Setelah persalinan. dan dalam beberapa hari pertama sesudah proses tersebut. setelah 6 minggu persalinan serviks menutup  Vagina Nampak berugae kembali pada 3 minggu.

 Payudara Payudara membesar karena vaskularisasi dan engorgement (bengkak karena peningkatan prolaktin pada hari I-III). RR : 16-24 x/menit. LH. Pada ibu yang tidak menyusui akan mengecil pada 1-2 hari. Sistem Endokrin 1) Hormon Plasenta HCG (-) pada minggu ke-3 post partum. urethra dan meatus urinarius terjadi karena trauma. progesteron plasma tidak terdeteksi dalam 72 jam post partum normal setelah siklus menstruasi. . f. Persalinan normal : 200 – 500 cc. neutrophil meningkat. 2) Nafsu makan kembali normal.5 kg. c. 4) Jantung  Kembali ke posisi normal. tidak ditemukan pada minggu I post partum. sesaria : 600 – 800 cc. 3) Perubahan hematologic  Ht meningkat. e. suhu meningkat karena dehidrasi pada awal post partum terjadi bradikardi. COP meningkat dan normal 2-3 minggu. Sistem Gastrointestinal 1) Mobilitas lambung menurun sehingga timbul konstipasi. keseimbangan asam-basa kembali setelah 3 minggu post partum. 2) Hormon pituitary Prolaktin serum meningkat terjadi pada 2 minggu pertama. Sistem Kardiovaskuler 1) Tanda-tanda vital  Tekanan darah sama saat bersalin. 2) Volume darah  Menurun karena kehilangan darah dan kembali normal 3-4 minggu. d. Pada payudara yang tidak disusui. Sistem Urinaria 1) Edema pada kandung kemih. puting mudah erektil bila dirangsang. leukosit meningkat. Sistem Respirasi 1) Fungsi paru kembali normal. b. 3) Kehilangan rata-rata berat badan 5. engorgement akan berkurang dalam 2-3 hari. menurun sampai tidak ada pada ibu tidak menyusui FSH.

Seksio sesaria adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat syatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina (Mokhtar. Sistem Integumen  Hiperpigmentasi perlahan berkurang. infeksi intra uterin berat Yang paling banyak dilakukan saat ini adalah SC transperitoneal profunda dengan insisi dari segmen bawah uterus. bisa dengan teknik melintang atau memanjang  Section cesaria extra peritonilis: Rongga peritoneum tak dibuka. g. Secsio secaria adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan syaratrahim dalam keadaan utuh serta berat janin diatas 500 gram (Prawirohartjo. i. . Pengertian Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus atau vagina atau suatu histerotomi untuk melahirkan janin dari dalam rahim (Mansjoer. 2010). 2011) B. Sectio cesaria dibagi menjadi :  Section cesaria klasik / corporal : insisi meanjang pada segmen atas uterus  Section cesaria transperineals profunda: insisi pada bawah rahim. plasenta accrete. diberikan anti RHO imunoglobin. myoma uteri. dilakukan pada pasien infeksi uterin berat. diuresis mulai 12 jam. SECTIO SAECAREA A. h. 2010). Sistem Muskuloskeletal  Terjadi relaksasi pada otot abdomen karena terjadi tarikan saat hamil. Diastasis rekti 2-4 cm. 3) Fungsi kembali normal dalam 4 minggu. kembali normal 6-8 minggu post partum.2) Pada fungsi ginjal: proteinuria.  Section cesaria Hysteroctomi : Setelah sectio cesaria dilakukan hysteroktomy dengan indikasi: Atonia uteri. Sistem Imun  Rhesus incompability.

Keunggulan dari SC transperitoneal profunda : 1. Syok/anemia berat yang belum diatasi d. Perdarahan luka insisi tidak terlalu banyak 2. Indikasi Ibu : a. Indikasi Janin a) Kelainan Letak : Letak lintang Letak sungsang ( janin besar. Etiologi / Indikasi 1. C. Incordinate uterine action 2. Janin Mati c. Partus tak maju h. Rupture uteri membakat g. Panggul sempit b. Disproporsi janin panggul f. Tumor jalan lahir yang menimbulkan obstruksi c. Infeksi intrauterine b. Plassenta praevia e. Bahaya peritonitis tidak terlalu besar 3. Kelainan kongenital berat . Indikasi Kontra(relative) a. Parut pada uterus umumnya kuat sehingga bahaya terjadi ruptur uteri di kemudian hari tidak besar karena dalam masa nifas segmen bawah uterus tidak seberapa banyak mengalami kontraksi seperti korpus uteri sehingga luka dapat sembuh lebih sempurna. Stenosis serviks uteri atau vagina d.kepala defleksi) Latak dahi dan letak muka dengan dagu dibelakang Presentasi ganda Kelainan letak pada gemelli anak pertama b) Gawat Janin 3.

D. Patofisiologi Insufisiensi plasenta Sirkulasi uteroplasenta menurun Cemas pada janin Tidak timbul HIS Kadar kortisol menurun (merupakan metabolisme karbohidrat. protein dan lemak)      Faktor predisposisi : Ketidak seimbangan sepalo pelvic Kehamilan kembar Distress janin Presentsi janin Preeklampsi / eklampsi Tidak ada perubahan pada serviks Kelahiran terhambat Post date SC Persalinan tidak normal Kurang pengetahuan Nifas (post pembedahan) Estrogen meningkat Ansietas     Nyeri Imobilisasi Resti Infeksi Ansietas Penurunan laktasi Pembendungan laktasi .

Irisan kemudian diperlebar dengan gunting sampai kurang lebih sepanjang 12 cm saat menggunting lindungi janin dengan dua jari operator. c. Perlebar insisi dengan gunting sampai sepanjang kurang lebih 12 cm saat menggunting lindungi janin dengan dua jari operator. b. Plika vesikouterina diatas segmen bawah rahim dilepaskan secara melintang. Eksplorasi kedua adneksa dan bersihkan rongga perut dari sisa-sisa darah dan air ketuban g. d. Buatlah insisi membujur secara tajam dengan pisau pada garis tengah korpus uteri diatas segmen bawah rahim. Luka insisi dinding uterus dijahit kembali dengan cara :    Lapisan I : Miometrium tepat diatas endometrium dijahit secara silang dengan menggunakan benang chromic catgut no. a. Buat insisi secara tajam dengan pisau pada segmen bawah rahim kurang lebih 1 cm dibawah irisan plika vesikouterina. Lapisan III : Dilakukan reperitonealisasi dengan cara peritoneum dijahit secara jelujur menggunakan benang plain catgut no.1 dan 2 f. Setelah cavum uteri terbuka kulit ketuban dipecah.1 dan 2 Lapisan II : lapisan miometrium diatasnya dijahit secara kasur horizontal ( lambert) dengan benang yang sama. 2. Janin dilahirkan dengan meluncurkan kepala janin keluar melalui irisan tersebut. Bedah Caesar klasik /corporal. c. Bedah Caesar transperitoneal profunda a. e. . Setelah janin lahir sepenuhnya tali pusat diklem ( dua tempat) dan dipotong diantara kedua klem tersebut. Teknik Pelaksanaan 1. Stetlah cavum uteri terbuka kulit ketuban dipecah dan janin dilahirkan dengan cara meluncurkan kepala janin melalui irisan tersebut. kemudian secar tumpul disisihkan kearah bawah dan samping. b. Plasenta dilahirkan secara manual kemudian segera disuntikkan uterotonika kedalam miometrium dan intravena. Dinding abdomen dijahit lapis demi lapis.E.

d. Lapisan III : Peritoneum plika vesikouterina dijahit secara jelujur menggunakan benang plain catgut no. Setelah janin dilahirkan seluruhnya tali pusat diklem ( dua tempat) dan dipotong diantara kedua klem tersebut. Luka insisi dinding uterus dijahit kembali dengan cara :    Lapisan I : Miometrium tepat diatas endometrium dijahit secara silang dengan menggunakan benang chromic catgut no. e. Kedua cabang arteria uterina yang menuju ke korpus uteri di klem (2) pada tepi segmen bawah rahim.1 dan 2 h. b. Badan janin dilahirkan dengan mengaitkan kedua ketiaknya. Segmen bawah rahim diris melintang seperti pada bedah Caesar transperitoneal profunda demikian juga cara menutupnya. Bedah Caesar ekstraperitoneal a. c. Plasenta dilahirkan secara manual kemudian segera disuntikkan uterotonika kedalam miometrium dan intravena. Satu klem juga ditempatkan diatas kedua klem tersebut.d. Perdarahan yang terdapat pada irisan uterus dihentikan dengan menggunakan klem secukupnya.1 dan 2 Lapisan II : lapisan miometrium diatasnya dijahit secara kasur horizontal (lambert) dengan benang yang sama. Peritoneum kemudia digeser kekranial agar terbebas dari dinding cranial vesika urinaria. Eksplorasi kedua adneksa dan bersihkan rongga perut dari sisa-sisa darah dan air ketuban i. g. Dinding perut diiris hanya sampai pada peritoneum. 3. b. Dinding abdomen dijahit lapis demi lapis. Histerektomi Caersarian ( Caesarian hysterectomy) a. Irisan uterus dilakukan seperti pada bedah Caesar klasik/corporal demikian juga cara melahirkan janinnya. Kedua adneksa dan ligamentum rotunda dilepaskan dari uterus. . f. 4.

Kultur mengidentifikasi adanya virus herpes simplex II d. 2. sepsis. g.1 atau 2 ) dengan sebelumnya diberi cairan antiseptic. f. G. atau sedang. SC elektif : pembedahan direncanakan terlebih dahulu . Transfusi darah : pada umumnya SC perdarahannya lebih banyak disbanding persalinan pervaginam. Pemberioan antibiotik : pemberian antibiotik sangat dianjurkan mengingat adanya resiko infeksi pada ibu. Urinalis untuk mengetahui kadar albumin c. i. Darah lengkap. Dinding abdomen dijahit lapis demi lapis F. Dilakukan reperitonealisasi sertya eksplorasi daerah panggul dan visera abdominis. karena segala persiapan dapat dilakukan dengan baik. Jahit cabang arteria uterine yang diklem dengan menggunakan benang sutera no. Perdarahan pada tunggul serviks uteri diatasi. Uterus kemudian diangkat diatas kedua klem yang pertama. Anestesia : anestesia umum akan mempengaruhi defensif pada pusat pernafasan janin. Ultrasonografi melokalisasi plasenta. tetapi sering tidak dilakukan karena mengingat sikap mental penderita.e. Komplikasi Yang sering terjadi pada ibu SC adalah : 1. 4. 2. Kedua adneksa dan ligamentum rotundum dijahitkan pada tunggul serviks uteri. Pemerisaan Penunjang a. golongan darah (ABO) b. 3. sehingga perlu dipersiapkan. j. anestesi spinal aman buat janin tetapi ada kemungkinan tekanan darah ibu menurun yang bisa berakibat bagi ibu dan janin sehingga cara yang paling aman adalah anestesi local. h. menentukan pertumbuhan dan presentasi janin H. . Tunggul serviks uteri ditutup dengan jahitan ( menggunakan chromic catgut ( no. yang berat bisa berupa peritonitis. Infeksi puerperial : kenaikan suhu selama beberapa hari dalam masa nifas (ringan). HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN PADA SC 1.

Dibuat bladder flap yaitu dengan menggunting peritonium kandung kencing di depan segmen bawah rahim secara melintang pada vesikouterina ini disisihkan secara tumpul ke arah bawah dan samping dilindungi dengan spekulum kandung kencing 5. obat dan darah dipersiapkan b) Pelaksanaan 1. Mula-mula dilakukan disinfeksi pada dinding perut dan lapangan oprasi dipersempit dengan kain suci hama / steril. Dibuat insisi pada segmen bawah rahim 1 cm dibawah irisan plikavesikouretra tadi sc tajam dengan pisau sedang ± 2 cm. dalam rongga perut disekitar rahim dilingkari dengan kasa laparotomy / besar steril 4. Badan janin dilahirkan dengan mengait kedua ketiaknya. 3. I. Pada dinding perut dibuat insisi mediana mulai dari atas simpisis ampai dibawah umbilikus lapis demi lais sehingga kavum peritonium terbuka. sehingga pada kehamilan berikutnya bisa terjadi ruptur uteri. Komplikasi-komplikasi lainnya antara lain luka kandung kencinmg. Kurang kuatnya parut pada dinding uterus. Tali pusat dijepit dan dipotong.2. Dilakukan anastesi spinal / peridural pada oprasi elektif / anastesi umum pada darurat alat operasi. Kemudian diperlebar sc melintang secara tumpul dengan pinset anatomis. Penatalaksanaan Teknik SC transperitaneal profunda a) Persiapan pasien Pasien dalam posisi trandenburg ringan. 4. plasenta dilahirkan secara manual dari cavum uterus Lapisan dinding rahim dijahit lapis demi lapis: Lapisan I : Dijahit jelujur pada endometrium . embolisme paru yang sangat jarang terjadi. Arah insisi pada segmen bawah rahim dapat melintang (transversal) 6. 2. Setelah kavum uteri terbuka selaput ketuban dipecahkan. 3. Perdarahan : perdarahan banyak bisa terjadi jika pada saat pembedahan cabang-cabang arteri uterine ikut terbuka atau karena atonia uteri. janin dilahirkan.

Pemberian minuman dengan jumlah yang sedikit sudah boleh dilakukan pada 6 . Diet Pemberian cairan perinfus biasanya dihentikan setelah penderita flatus atau setelah peristaltic normal lalu dimulailah pemberian minuman dan makanan peroral. atau komplikasi pada organ tubuh lainnya. dan kemudian berjalan sendiri pada hari ke-3 sampai hari ke5 pasca operasi. lapisan fasia.10 jam setelah operasi b.10 jam pasca operasi. Bila kadar Hb rendah diberikan transfusi darah sesuai kebutuhan. Hari kedua post operasi. lapisan kulit. Latihan pernafasan dapat dilakukan penderita sambil tidur telentang sedini mungkin setelah sadar c. hari demi hari. belajar berjalan. Miring kanan dan kiri dapat dimulai sejak 6 . Rongga perut dibersihkan dari sisa-sisa darah dan akhirnya luka dinding perut dijahit lapis demi lapis mulai dari lapisan peritonium. lapisan lemak. penderita dapat didudukkan selama 5 menit dan diminta untuk bernafas dalam lalu menghembuskannya. Pemberian cairan Cairan diberikan karena 24 jam pertama penderita puasa pasca operasi. dehidrasi. garam fisiologi dan RL secara bergantian dan jumlah tetesan tergantung kebutuhan. 3. . J. Mobilisasi Mobilisasi dilakukan secara bertahap meliputi : a. Cairan yang biasa diberikan biasanya DS 10%. Kemudian posisi tidur telentang dapat diubah menjadi posisi setengah duduk (semifowler) e. lapisan otot. 2. Setelah dinding rahim selesai dijahit kedua admeksa dieksplorasi untuk mengetahui apakah ada tumor atau perdarahan 8. d. Selanjutnya selama berturut-turut. maka pemberian cairan perintavena harus cukup banyak dan mengandung elektrolit agar tidak terjadi hipotermi. berupa air putih dan air teh. Penatalaksanaan Medis Post SC Penatalaksanaan medis post SC menurut Manuaba (2010) : 1.Lapisan II : Dijahit jelujur hanya pada miometrium saja Lapisan III : Dijahit jelujur pada perimetrium 7. pasien dianjurkan belajar duduk selama sehari.

C 6. Obat-obatan lain Untuk meningkatkan vitalitas dan keadaan umum penderita dapat diberikan caboransia seperti neurobian I vit. Antibiotik Cara pemilihan dan pemberian antibiotic sangat berbeda-beda setiap institusi b.dan pernafasan. bila basah dan berdarah harus dibuka dan diganti 7. K.4. Perawatan rutin Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan adalah suhu. Kateterisasi Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri dan tidak enak pada penderita. Sirkulasi Kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira-kira 600-800 ml 2. tekanan darah. nadi. 5. menghalangi involusi uterus dan menyebabkan perdarahan. Integritas ego    Memperlihatkan ketidakmampuan menghadapi sesuatu Menunjukkan labilitas emosional dari kegembiraan sampai ketakutan. Perawatan luka Kondisi balutan luka dilihat pada 1 hari post operasi. Analgetik dan obat untuk memperlancar kerja saluran pencernaan a) Supositoria = ketopropen sup 2x/24 jam b) Oral = tramadol tiap 6 jam atau paracetamol c) Injeksi = penitidine 90-75 mg diberikan setiap 6 jam bila perlu c. marah atau menarik diri Klien / pasangan dapat memiliki pertanyaan atau salah terima dalam pengalaman kelahiran .48 jam / lebih lama lagi tergantung jenis operasi dan keadaan penderita. Kateter biasanya terpasang 24 . Asuhan Keperawatan Pengkajian Fokus 1. Pemberian obat-obatan a.

nyeri penyerta Distensi kandung kemih / abdomen 7. Eliminasi   Adanya kateter urinary Bising usus 4. Makanan / Cairan Abdomen lunak / tak ada distensi awal 5. Pernafasan Bunyi paru jelas dan vesicular 8. Seksualiatas Fundus kontraksi kuat dan terletak di umbilikus Aliran lokhea sedang dan bebas bekuan berlebihan / banyak . Nyeri / ketidaknyamanan Mulut mungkin kering Menunjukkan sikap tak nyaman pasca oprasi. Keamanan Balutan abdomen dapat tampak sedikit noda / kering dan utuh Jalur parenteral.3. bila digunakan. paten dan sisi bekas eritema bengkak / nyeri tekan 9. Neuro sensori          Kerusakan gerakan dan sensori dibawah tingkat anastesi spinal epidural 6.

Risiko cedera pada ibu berhubungan dengan diplopia. 4. 7. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelelahan sehabis bersalin 5. 3. 2. 6. Resiko terjadi gawat janin intra uteri (hipoksia) b/d penurunan suplay O2 dan nutrisi ke jaringan plasenta skunder terhadap penurunan cardiac output. peningkatan intra kranial:kejang . Resiko infeksi berhubungan dengan luka operasi. Nyeri akut berhubungan dengan injury fisik jalan lahir. Menyusui tidak efektif berhubungan dengan kurangnya pengetahuan ibu tentang cara menyusui yang bernar.DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Defisit pengetahuan berhubungan dengan tidak mengenal atau familiar dengan sumber informasi tentang cara perawatan bayi.

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN DIAGNOSA NO KEPERAWATAN TUJUAN 1. Berikan dukungan dan semangat pada ibu untuk melaksanakan pemberian Asi eksklusif 5.Faktor-faktor yang menghambat proses menyusui 2. Kaji secara komphrehensif tentang nyeri. Menyusui tidak Setelah diberikan tindakan keperawatan efektif berhubungan selama 1x24 jam klien menunjukkan dengan kurangnya respon breast feeding adekuat dengan pengetahuan ibu indikator: tentang cara . Ajarkan cara mengeluarkan ASI dengan benar.Kebutuhan diit khusus . frekuensi.d agen injuri fisik (luka insisi operasi) Health education: 1. cara menyimpan. Berikan analgetik sesuai dengan anjuran analgetik 4. Diskusikan tentang sumber-sumber yang dapat memberikan informasi/memberikan pelayanan KIA NOC: Setelah dilakukan asuhan Manajemen Nyeri keperawatan selama 3x24 jam pasien 1. dan faktor-faktor presipitasi Mengontrol nyeri dengan indikator:  Mengenal factor-faktor penyebab nyeri 2.klien mampu mendemonstrasikan perawatan payudara PERENCANAAN INTERVENSI 2.Perawatan payudara . Nyeri akut b. Anjurkan keluarga untuk memfasilitasi dan mendukung klien dalam pemberian ASI 7. observasi isyarat-isyarat non verbal dari ketidaknyamanan. Demonstrasikan breast care dan pantau kemampuan klien untuk melakukan secara teratur 3. intensitas/beratnya nyeri.klien mengungkapkan puas dengan menyusui yang kebutuhan untuk menyusui bernar . cara transportasi sehingga bisa diterima oleh bayi 4. infeksi payudara 6.Keuntungan menyusui . Berikan penjelasan tentang tanda dan gejala bendungan payudara. khususnya dalam ketidakmampuan untuk komunikasi secara  Mengenal onset nyeri efektif  Melakukan tindakan pertolongan non3. kualitas.Fisiologi menyusui . Gunakan komunikiasi terapeutik agar pasien dapat . Berikan informasi mengenai : . mampu untuk karakteristik dan onset. meliputi: lokasi. durasi.

penyinaran. Modifikasi tindakan mengontrol nyeri berdasarkan respon pasien  kegelisahan 16. keluarga dengan nyeri Keterangan: kronis 1 = tidak pernah dilakukan 8. Pemberian Analgetik 22. relationship. Beritahu dokter jika tindakan tidak berhasil atau terjadi keluhan  Perubahan ukuran Pupil 19. aktifitas kognisi. Tingkatkan tidur/istirahat yang cukup  perubahan respirasi rate 17. distraksi. karakteristik. Informasikan kepada tim kesehatan lainnya/anggota keluarga saat  Perspirasi tindakan nonfarmakologi dilakukan. mood. terapi musik. Monitor kenyamanan pasien terhadap manajemen nyeri Keterangan: 1 : Berat 21. Tentukan lokasi nyeri. berapa lama 5 = selalu dilakukan pasien terjadi. tanggungjawab peran 7. Kaji pengalaman individu terhadap nyeri. Kaji latar belakang budaya pasien 6. dll) Indikator: 12. Anjurkan pasien untuk memonitor sendiri nyeri  Melaporkan nyeri 13. Tentukan dampak dari ekspresi nyeri terhadap kualitas hidup: kesehatan pola tidur.  Melaporkan frekuensi nyeri guided imagery.dan keparahan .  Mengontrol nyeri pekerjaan. seperti: penyebab. Evaluasi keefektifan dari tindakan mengontrol nyeri  Menunjukan posisi melindungi tubuh 15. nafsu makan.mengekspresikan nyeri  Menggunakan analgetik  Melaporkan gejala-gejala kepada tim 5. Berikan dukungan terhadap pasien dan keluarga 4 =sering dilakukan 10. Anjurkan pasien untuk berdiskusi tentang pengalaman nyeri  perubahan Heart Rate secara tepat  Perubahan tekanan Darah 18. Evaluasi tentang keefektifan dari tindakan mengontrol nyeri 2 = jarang dilakukan yang telah digunakan 3 =kadang-kadang dilakukan 9. dan tindakan pencegahan 11. aplikasi panas-dingin. kualitas.  Melaporkan lamanya episode nyeri massase)  Mengekspresi nyeri: wajah 14. untuk pendekatan preventif  Kehilangan nafsu makan 20. kontrol faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien terhadap ketidaknyamanan (seperti: temperatur Menunjukan tingkat nyeri ruangan. Berikan informasi tentang nyeri. Ajarkan penggunaan teknik non-farmakologi (seperti: relaksasi.

NSAID) berdasarkan tipe dan keparahan nyeri 28.Deskripsi komplikasi penyakit g.Deskripsi tanda dan gejala komplikasi h. Tentukan pilihan analgetik (narkotik. Berikan obat dengan prinsip 5 benar 24.Deskripsi cara meminimalkan e. Cek riwayat alergi obat 25.Deskripsi tanda dan gejala d. Berikan informasi tentang hasil pemeriksaan diagnostik .Mengenal nama penyakit a.Deskripsi cara mencegah komplikasi Skala : 2. Lakukan tindakan-tindakan untuk menurunkan efek analgetik (konstipasi/iritasi lambung) 3. Dokumentasikan respon setelah pemberian analgetik dan efek sampingnya 31. Pembelajaran : proses penyakit pengetahuan . Deskripsikan tanda dan gejala umum penyakit operasi b/d . Pengetahuan : proses penyakit 1. Kaji tingkat pengetahuan klien tentang penyakit tentang perawatan . Diskusikan tentang pilihan terapi .Deskripsi faktor penyebab atau faktor anatomi dan fisiologi tubuh perawatan post pencetus c. non narkotik.2 : Agak berat 3 : Sedang 4 : Sedikit 5 : Tidak ada sebelum pengobatan 23. Informasikan klien waktu pelaksanaan prosedur/perawatan . Libatkan pasien dalam pemilhan analgetik yang akan digunakan 26. Kurang 1. Jelaskan patofisiologi penyakit dan bagaimana kaitannya dengan ibu nifas dan . Pembelajaran : prosedur/perawatan 1 : tidak ada a. Instruksikan klien untuk melaporkan tanda dan gejala kepada penyakit petugas . sebelum dan sesuadah pemberian analgetik 29. Pilih analgetik secara tepat /kombinasi lebih dari satu analgetik jika telah diresepkan 27.Deskripsi proses penyakit b. Monitor reaksi obat dan efeksamping obat 30. Berikan informasi tentang kondisi klien informasi perkembangan penyakit f. Identifikasi kemingkinan penyebab kurangnya sumber . Monitor tanda-tanda vital.

Mandi Kaji kemampuan mandi. Sediakan alat mandi pribadi. e. Cuci rambut jika ingin dan perlu. Monitor kemampuan fungsional ketika mandi.Deskripsi adanya pembatasan sehubungan dengan prosedur .4. Pengetahuan : prosedur perawatan . b. Kebutuhan eliminasi terpenuhi. 2 : sedikit 3 : sedang 4 : luas 5 : lengkap 2. 3. c. Instruksikan klien untuk berpartisipasi selama prosedur/perawatan f. Monitor kondisi kulit saat mandi. Bantuan perawatan diri: Mandi/Kebersihan diri a.Deskripsi prosedur perawatan . Jelaskan hal-hal yang perlu dilakukan setelah prosedur/perawatan 1. Bebas bau badan dan kulity intact. Kriteria hasil: 1. d. 4. 2. Mandi dengan bantuan pemberi perawatan. b. Adanya bantuan ketika toileting. 2. Informasikan klien lama waktu pelaksanaan prosedur/perawatan c.Deskripsi alat-alat perawatan Skala : 1 : tidak ada 2 : sedikit 3 : sedang 4 : luas 5 : lengkap Defisit perawatan Perawatan diri: Aktivitas hidup sehari-hari diri b. Kaji pengalaman klien dan tingkat pengetahuan klien tentang prosedur yang akan dilakukan d. .Penjelasan tujuan perawatan . Jelaskan tujuan prosedur/perawatan e. a. terpenuhi. Kelelahan. Berikan suhu air yang nyaman. Lakukan perawatan perineal. b.Deskripsi langkah-langkah prosedur . f. Tempatkan alat mandi sesuai kondisi klien.d.

Monitor dan jaga privasi klien selama eliminasi. d. Libatkan orang tua/keluarga dalam aktivitas mandi klien.Menjelaskan tanda-tanda dan gejala setelah meninggalkan ruangan pasien .Menerangkan cara-cara penyebaran 4. Ganti peralatan pasien setiap selesai tindakan 1. e. Bersikan lingkungan setelah digunakan oleh pasien 2. Ajarkan pasien untuk pengambilan urin porsi tengah . Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien meningkatkan resistensi terhadap 9. paparan lingkungan patogen Kaji kemampuan klien ke toilet. Fasilitasi ketika klien mandi. c. f. Fasilitasi toilet hygiene. Fasilitasi klien mandi sendiri. 3.c. Risiko infeksi b. g. Bantu kebutuhan eliminasi klien. Lepas pakaian bagian bawah saat eliminasi. Kembalikan pakaian klien setelah eliminasi. Ajarkan cuci tangan untuk menjaga kesehatan individu infeksi 5. Bantuan perawatan diri: Toileting a. d.d tindakan invasif. Batasi jumlah pengunjung . Gunakan sarung tangan steril Keterangan: 11.Menerangkan factor-faktor yang 6. 5.Menjelaskan aktivitas yang dapat 8.Pengetahuan:Kontrol infeksi Indikator: 3. b. Anjurkan pasien untuk cuci tangan dengan tepat . f. Lakukan teknik perawatan luka yang tepat 2 : terbatas 13. Libatakan keluarga dalam aktivitas toileting klien. Monitor kebersihan kuku. e. Gunakan sabun antimikrobial untuk cuci tangan berkontribusi dengan penyebaran 7. Anjurkan pengunjung untuk mencuci tangan sebelum dan . Setelah dilakuakan asuhan keperawatan Kontrol Infeksi selama 2x24 jam pasien dapat memperoleh 1. Lakukan perawatan aseptic pada semua jalur IV 1 : tidak pernah 12. Lakukan universal precautions infeksi 10.

Asupan nutrisi . Resiko terjadi Setelahasuhan 14.Energi . Instuksikan untuk tirah baring bila presentasi tidak masuk pelvis 4. 17. Ajarkan pasien dan anggota keluarga bagaimana mencegah infeksi keperawatan 1.Masa tubuh . Pantau turunnya janin pada jalan lahirKaji perubahan DJJ selama kontraksi O2 dan nutrisi ke jaringan skunder plasenta terhadap penurunan cardiac output. . Pantau DJJ dengan segera bila pecah ketuban uteri (hipoksia) b/d baik dengan criteria hasil: penurunan suplay  DJJ dbn 3.diharapkan janin dalam kondisi 2.3 : sedang 4 : sering 5 : selalu 2. 15. 16. Kaji adanya kondisi yang menurunkan situasi uteri plasenta gawat janin intra selama….Berat badan Keterangan: 1 : sangat bermasalah 2 : bermasalah 3 : sedang 4 : sedikit bermasalah 5 : tidak bemasalah 6.Asupan makanan dan cairan .. 18. Tingkatkan asupan nutrisi Anjurkan asupan cairan yang cukup Anjurkan istirahat Berikan terapi antibiotik Ajarkan pasien dan keluarga tentang tanda-tanda dan gejala dari infeksi 19.Status Nutrisi .

Monitor hasil laboratorium: kadar protein urine 8. pada ibu dengan criteria hasil: intra 1. Risiko cedera pada Setelah dilakukan asuhan keperawatan 3.7. Monitor DJJ 7. Lakukan palpasi ukur TFU. TTV dbn 5. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat anti hipertensi. Observasi TTV diplopia. letak janin. Kaji kesadaran pasien ibu berhubungan selama…diharapkan tidak terjadi cidera 4. Lakukan ekstrasi vakum atau forceps. Tidak kejang 2. dengan peningkatan kranial:kejang . dan letak oedem 6. jadi ibu dilarang mengedan 9.

Jakarta. 2011. H.edisi ketiga. Mosby. Prawirohardjo. Jakarta: Media Aesculapius Manuaba. Kapita Selekta Kedokteran. Philadelphia.C.. Jakarta : EGC McCloskey. M. second edition. Sinopsis Obstetri. Wiknojosastro. 2010.. A dkk. 2008. second edition.Nursing Outcomes Classification (NOC). Mansjoer. Ida Ayu Candranita 2010. . Mosby. Jakarta:EGC. Jilid 1 edisi 4. Nursing Intervention Classification (NIC). Ilmu Kandungan. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan. 2009. dan Keluarga Berencana. 2010. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.DAFTAR PUSTAKA Johnson. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka – SP. J. Philadelphia... Sarwono. 2009. Rustam Mokhtar.