komunikasi sosial dan pembangunan

Sabtu, 24 Maret 2012
Teori Perbandingan sosial

Teori Perbandingan Sosial
Dalam teorinya festinger membedakan antara kenyataan fisik dan kenyataan sosial. apabila terdapat suatu pendapat, sikap, dan keyakinan yang dapat kita ukur secara fisik. berarti kita berhubungan langsung dengan kenyataan secara fisik, sehingga kita tidak perlu lagi berhubungan langsung dalam berkomunikasi. Akan tetapi apabila suatu pendapat, prilaku atau sikap, dan keyakinan kita tidak di dasarkan pada suatu kejdian nyata yang dapat di ukur dan kalau di temukan bukti-bukti yang dapat membantah pedapat orang lain serta keyakinan tersebu, maka kita harus berhubungan langsung dengan suatu keadaan sosial. Dengan ini dapat di ukur secara baik dengan cara berkomunikasi langsung dengan orang lain yang menurut kita anggap itu penting bagi kita. Jadi cara berkomunikasi kelompok sosial timbul karena adanya suatu kebutuhan - kebutuhan individu untuk membandingkan suatu pendapat, suatu sikap, suatu prilaku, keyakinan atau kepercayaan mereka sendiri dengan orang lain. Menurut pendapat Festinger, suatu dorongan komunikasi yang kita rasakan tentang suatu kejadian dengan anggota lain dengan kelompok akan meningkat apabila kita menyadari bahwa kita tidak setuju dengan suatu kejadian yang ada. sebagai suatu anggota kelompok kita lebih cenderung kepada mengarahkan komunikasi kita terhadap suatu kejadian yang kelihatannya mereka paling setuju dengan kita dalam kejadian hal tersebut. Dan jika ternyata anggota kelompok yang menjadi sasaran penyampaian pendapat - pendapat kita menunjukan gejala-gejala yang dapat akan berubah. contohnya : Manusia terkadang membandingkan dirinya dengan orang lainyang memiliki kelemahan lebih buruk dari dirinya. yang pada umumnya untuk mencari perasaan yang lebih baik dirinya sendiri. disini manusia terkadang tidak objektif dalam melakukan perbandingan sosial, maka karena itu sering terjadi kecemburuan sosial antara individu satu dengan individu yang lain.

Rilis
KECEMBURUAN SOSIAL STRESOR POTENSIAL KEHIDUPAN

“Untuk memodifikasi stress agar menjadi suatu kekuatan. (Humas UGM) stratifikasi sosial Agustus 18. 27 Oktober 2005. Sardjito Yogyakarta juga menuturkan. Soewadi. Konflik antar suku. Pada dasarnya mengatasi stress adalah dengan cara mengatasi sumber konflik penyebab stress. 2009 5 Komentar STRATIFIKASI SOSIAL Pengertian : Stratifikasi sosial atau pelapisan sosial adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (vertikal). kita akan benar-benar jatuh dalam kondisi gangguan jiwa”. Ketua SMF Jiwa Dr. Karena kalau tidak demikian. Berpikir positip yaitu mempersepsikan setiap kejadian dengan melihat hikmah dan manfaat dibalik suatu peristiwa”.stres baik apabila stress tersebut bias dimodifikasi menjadi suatu dorongan positif untuk melakukan perubahan kea rah yang lebih baik. tambah Prof. dan cemburu bercampur aduk menjadi satu tanpa harus tahun kapan akan berakhir. Hal ini tergantung tawar-manawar pada diri kita. Kenaikan BBM dan kenaikan tunjangan wakil rakyat hanya sebagian kecil dari stressor yang bisa menyebabkan stress. “Selain kematangan kepribadian. Bicara soal penyebab stress (stressor) tidak terbatas pada stressor buatan manusia saja tetapi juga stressor alamiah. tidak bisa beradaptasi dan pada akhirnya jatuh sakit. Hal ini tergantung dari berbagai faktor. PTSD sampai psikotik (baca “gila”). Hal tersebut diungkapkan Prof. dr. Tetapi sebagian lainnya tidak mampu bahkan menjadi sakit. dan disebut stres buruk apabila dengan adanya stressor justru menjadikan seseorang lelemah mentalnya. Perasaan sedih. MPH. Soewadi. intinya adalah berpikir positip.Tanggal Posting 2005-10-28 13:19:35 Saat ini masyarakat sedang menghadapi situasi sulit. Dr. KJ (K) dalam releasenya Kamis. Kesedihan itu masih terasa dan semakin terasa ditengah himpitan ekonomi dan melihat ketimpangan kenaikan tunjangan anggota dewan sebesar sepuluh juta per bulan. Menurut Kepala Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK UGM tersebut. bahwa manifestasi dari gangguan jiwa akibat stress berupa cemas. tetapi kalau hal itu tidak memungkinkan tentunya cara pandang kita terhadap persoalan tersebut yang harus diubah. marah. nilai-nilai religius menjadi kekuatan yang besar agar kita mampu beradaptasi dengan stresor. kata Prof. Soewadi. Lalu apakah kita akan terus membiarkan diri kita tenggelam dalam situasi stres atau segera bangkit mengatasi stress. . Karena itu secara spesifik stress dapat dikategorikan menjadi stress baik (eustres) dan stres buruk (distress). depresi. ancaman terorisme mengusik ketenangan rakyat. Disebut. Pada umumnya dengan berjalannya waktu seseorang dapat beradaptasi dengan stressor. H. inilah kenyataan yang sedang kita hadapi. Stresor tersebut tersebut berpotensi menimbulkan gangguan jiwa. Tentunya kesedihan kita belum pupus akibat bencana Tsunami yang memporak-porandakan tanah Rencong. Sp.

orang-orang yang hidup dari upah kerja. dan orang-orang yang hidup dari keuntungan perdagangan. perkumpulan. usia dan sebagainya. sesuai dengan perkembangan masyarakat yang bersangkutan. dan prestise Hal-hal yang dihargai sebagai pembentuk pelapisan sosial :        a. c. Cara terbentuknya pelapisan sosial :   1) Terbentuk dengan sendirinya. partai politik. e. Thorstein Veblen : Membagi masyarakat dalam dua golongan yaitu golongan pekerja yang berjuang mempertahankan hidup dan golongan yang banyak mempunyai waktu luang karena kekayaannya. 5) Kriteria otoritas : yaitu kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain sehingga pihak lain tersebut bertindak seperti yang diinginkan. f. 2) Kriteria kualitas pribadi : meliputi kebijakan. yaitu orang-orang yang hidup dari penyewaan tanah. Uang. sifat keaslian keanggotaan kerabat seorang kepala masyarakat dan harta kekayaan. pangkat dalam pekerjaan. dan sebagainya. prestasi belajar. Selo Soemardjan : Pelapisan sosial akan selalu ada selama dalam masyarakat terdapat sesuatu yang dihargai. privelese. dan sebagainya. Kekuasaan. kebangsawanan. 2) Dengan sengaja disusun. . tingkat umur. untuk mengejar tujuan tertentu. yaitu mereka yang kaya sekali. Tanah. prestasi kerja. Lawang : Pelapisan sosial merupakan penggolongan orang-orang dalam suatu sistem sosial tertentu secara hierarkhis menurut dimensi kekuasaan. g. kecerdasan. kesalehan. b. Kriteria tinggi rendah pelapisan Talcott Parsons menyebutkan lima kriteria tinggi rendahnya status seseorang. kearifan. Misal kepandaian. Ilmu Pengetahuan. mereka yang melarat dan mereka yang berada di tengah-tengahnya. yaitu:      1) Kriteria kelahiran: meliputi faktor ras. Misal pada organisasi formal pemerintahan. 4) Kriteria pemilikan: meliputi kekayaan akan uang dan harta benda. d. Adam Smith : Masyarakat di bagi menjadi tiga. Kekayaan. jenis kelamin. perusahaan. keturunan. Robert M. Prof. Keturunan dari keluarga terhormat. Kesalehan. 3) Kriteria prestasi : meliputi kesuksesan usaha.Z. jenis kelamin.     Aristoteles : Pada jaman kuno di dalam setiap negara terdapat tiga unsur. dan sebagainya. angkatan bersenjata.

seperti penghasilan. 2) Ada sejumlah unsur untuk membuat analisa pelapisan sosial yaitu : a. Dua analisis Prof. c. d. 3) Sifat keaslian keanggotaan di dalam masyarakat (misalnya cikal bakal. Pada masyarakat yang taraf hidupnya masih rendah biasanya pelapisan sosial ditentukan oleh: a. Solidaritas di antara individu-individu atau kelompok-kelompok sosial yang menduduki kedudukan yang sama dalam sistem sosial masyarakat. b. wewenang. d. d. Ukuran kehormatan. hak milik. Kriteria sistem pertentangan. Perbedaan karena kekayaan dan usia. 4) Pemilikan harta. wewenang. b. dan kekuasaan. Sistem pertanggaan yang sengaja diciptakan sehingga ada prestise dan penghargaan atas posisi pelapisan sosial tertentu. cara berpakaian. Kriteria Penggolongan Pelapisan Sosial : a. kepala desa dsb). Masyarakat pemburu biasanya mendasarkan pada tingkat kepandaian untuk membentuk pelapisan sosial. Perbedaan seksual (jenis kelamin). Masyarakat yang telah hidup menetap dan bercocok tanam mendasarkan pada sistem kerabat dari pembuka tanah yang asli dianggap sebagai golongan yang menduduki lapisan yang tinggi. yaitu dikukur adanya perbedaan kualitas pribadi. bentuk rumah. Perbedaan antara pemimpin dengan yang dipimpin. b.Faktor-Faktor yang dijadikan alasan/dasar terbentuknya pelapisan sosial :            1) Kepandaian. Distribusi hak-hak istimewa yang objektif. Perbedaan golongan budak dengan bukan budak. Mudah atau sukarnya bertukar kedudukan. Soerjono Soekanto tentang proses terbentuknya pelapisan sosial :         1) Sistem pelapisan sosial kemungkinan berpokok kepada sistem pertentangan dalam masyarakat. c. kekuasaan. Ukuran kekuasaan. keanggotaan kelompok kerabat tertentu. 2) Tingkat umur. f. Ukuran kekayaan. Ukuran ilmu pengetahuan Sifat Pelapisan Sosial : . c. keanggotaan suatu organisasi tertentu. Lambang-lambang kedudukan. seperti misalnya tingkah laku hidup. e. kekayaan.

pemujaan. Kekuasaan yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang yang diakui oleh masyarakat disebabkan oleh rasa takut. • Susunan dari atas ke bawah adalah: • 1) Raja. masyarakat apartheid. Contoh sistem kasta pada masyarakat feodal.a. Misal seorang Gubernur. tetapi untuk hal-hal tertentu yang lain bersifat tertutup Fungsi Stratifikasi Sosial : • 1) Alat untuk mencapai tujuan. • Munculnya sistem kekuasaan kemudian menimbulkan lapisan-lapisan kekuasaan yang sering disebut “Piramida Kekuasaan”. Campuran. setiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan untuk naik ke lapisan sosial lebih tinggi. • Wewenang adalah kekuasaan yang ada pada diri seseorang atau sekelompok orang yang mendapat pengakuan dari masyarakat. kepercayaan. Contoh masayarakat pada negara-negara industri maju. Tertutup (closed social stratification) membatasi kemungkinan untuk pindah dari satu lapisan ke lapisan yang lain. • Kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain menurut kehendak atau kemauan pemegang kekuasaan. yaitu status yang dimiliki seseorang secara hierarkhis dalam struktur formal suatu organisasi. • 2) Bangsawan. . • 3) Orang-orang yang bekerja di pemerintahan. yaitu status yang dimiliki seseorang merupakan hasil penilaian orang lain terhadap diri seseorang dengan siapa ia berkontak atau berhubungan. Kriteria penentuan status subjektif adalah: 1) Kelahiran 2) Mutu pribadi 3) Pemilikan 4) Otoritas Pelapisan dalam masyarakat dapat dilihat berdasarkan kriteria sosial. • 2) Mengatur dan mengawasi interasksi antar anggota dalam sebuah sistem stratifikasi. adalah kombinasi terbuka dan tertutup dan ini sering terjadi dalam masyarakat. • Status objektif. pegawai rendahan dan seterusnya. • Tipe Kasta adalah sistem lapisan kekuasaan dengan garis pemisahan yang tegas dan kaku. rasa cinta. Kriteria politik adalah pembedaan penduduk atau warga masyarakat menurut pembagian kekuasaan. tipe demokratis. • 4) Mengkategorikan manusia dalam stratum yang berbeda. Terbuka (opened social stratification). b. tipe oligarkhis. • Menurut Max Iver terdapat tiga pola umum “Piramida Kekuasaan” yaitu tipe kasta. politik dan ekonomi. Status adalah posisi yang didukuki seseorang dalam suatu kelompok. • 3) Stratifikasi sosial mempunyai fungsi pemersatu. c. Status dalam pelapisan sosial Status dan peranan adalah unsur yang baku dalam sistem berlapis-lapis dalam masyarakat. Misalnya untuk hal-hal tertentu bersifat terbuka. • Status subjektif.

terdiri atas: • a. • Tipe Demokratis. • Tipe Oligarkhis adalah sistem lapisan kekuasaan dengan garis-garis pemisahan yang tegas. Faktor kelahiran tidak menentukan pelapisan tertentu seseorang. • Max Weber menyebutkan adanya kelas yang mendapat kehormatan khusus dari masyarakat yang dinamakan stand. dan karena adanya rasa segolongan dalam kelas itu masing-masing sehingga kelas yang satu dapat dibedakan dari kelas yang lain. tidak digambarkan sebagai pelapisan dari atas ke bawah tetapi sebagai lingkaran kambium. Pada tipe ini lebih menekankan pada kemampuan orang untuk menentukan pelapisan sosial.• 4) Tukang-tukang. • 5) Petani-petani. • b. • Susunan dari atas ke bawah sebagai berikut: • 1) Raja (penguasa) • 2) Bangsawan dari macam-macam tingkatan. • b. • c. • Hasan Shadily menyebutkan bahwa kelas sosial adalah golongan yang terbentuk karena adanya perbedaan kedudukan tinggi dan rendah. • c. Kelas atas lapisan atas. Akan tetapi dasar pembedaan kelas-kelas sosial ditentukan oleh kebudayaan masyarakat tersebut terutama dalam hal kesempatan untuk naik lapisan sosial. Kelas bawah lapisan bawah. • 6) Tukang dan pedagang. • Joseph Schumpater menyebutkan bahwa sistem kelas diperlukan untuk menyediakan masyarakat dengan keperluan-keperluan yang nyata. Kelas menengah lapisan tengah. • b. Kelas bawah lapisan atas. Kelas menengah lapisan bawah. Kelas atas lapisan bawah. • Pada lapisan sosial di lingkungan kraton (masa feodal kerajaan). pelayan-pelayan. • 6) Budak-budak. adalah sistem pelapisan kekuasaannya terdapat garis pemisah antara lapisan yang sifatnya sangat mobil. yaitu kelas atas yang memiliki tanah atau alat-alat produksi lainnya dan kelas bawah yaitu kelas yang tidak memiliki alat-alat produksi kecuali tenaga yang disumbangkan dalam proses produksi. 2) Kelas Menengah (Middle Class). Kelas atas lapisan menengah. • 7) Buruh tani dan budak. Kelas menengah lapisan atas. • 5) Pengacara. • 3) Pegawai tinggi (sipil dan militer). Pelapisan sosial berdasar kriteria ekonomi membedakan penduduk atau warga masyarakat menurut jumlah dan sumber pendapatan • Sistem pelapisan yang berdasarkan kriteria ekonomi disebut kelas sosial. • c. • 4) Orang-orang kaya. buruhan tani. • Menurut Karl Marx ada dua macam kelas dalam setiap masyarakat. • Secara teoritis kelas-kelas ekonomi masyarakat adalah sebagai berikut: 1) Kelas Atas (Upper Class). . 3) Kelas Bawah (Lower Class): • a. terdiri atas: • a. pengusaha dan sebagainya. Kelas bawah lapisan tengah. Dimana raja merupakan tokoh sentral yang penuh kekuasaan dan mempunyai privelese (hak-hak istimewa).

Pande. kolusi. • e. • 4) Kasta Sudra (golongan masyarakat pekerja kasar). maupun konflik. Pasek (nama untuk orang Sudra). • d. Anilisis Gordon Alport (1958) tentang parasangka atau kecemburuan sosial akibat adanya pelapisan sosial yang dikenal dengan beberapa pendekatan antara lain: • a. Orang yang menduduki pelpisan sosial yang berbeda akan memiliki kekuasaan. korupsi. yaitu konflik antara kelas . Ngahan (nama untuk Ksatria). • Gelar-gelar tersebut di atas diwariskan secara patrilineal. pedagang. yakni pemusatan kedudukan-kedudukan yang penting kepada orangorang atau segolongan orang tertentu. I Gusti. petani). Pendekatan historis. kontravensi. • 2) Kaum Bangsawan (Sentono Dalem). • 3) Priyayi (Abadi Dalem tingkat tinggi). • 4) Kawulo (wong cilik). Konsentrasi elite status. Tjokorda. dan nepotisme. Pendekatan fenomenologis. Pendekatan kepribadian (psikologis). Konsekuensi perbedaan kedudukan dan peran sosial dalam tindakan dan interakasi sosial : • a. prostitusi. kejahatan. Pelapisan sosial berdasarkan kriteria sosial. • 3) Kasta Waisya (golongan masyarakat biasa. (Baik privelese ekonomi maupun privelese budaya). yaitu: • 1) Kasta Brahmana (ahli agama. pendeta). Sedang lapisan terakhir disebut “jaba”. • b. model pelapisannya berhubungan dengan prestise atau gengsi. drug abuse. Bagus. Kemungkinan timbulnya proses sosial yang disosiatif berupa persaingan. dan Waisya. • Di Tanah Karo kedudukan pendiri desa (Marge Taneh) jauh lebih tinggi daripada rakyat biasa (ginemgem) dan budak (derip). • d. • 2) Kasta Ksatria (golongan masyarakat bangsawan). Dewa. Pendekatan sosiokultural dan situasional. Kegagalan itu dapat berupa alkoholisme. • Di Inggris ada golongan NOBILITY (Bangsawan) dan dibawahnya COMMONER (rakyat biasa). Kbon. kenakalan reamaja dan sebagainya. • Ida (nama untuk Brahmana). • Prestises atau gengsi pada masyarakat feodal umumnya diukur dari garis keturunan. Penyimpangan perilaku karena kegagalan atau ketidakmampuan mencapai posisi tertentu. Pendekatan naïve. • c. • Di Timor ada kedudukan USIF (bangsawan) dan TOG (orang-orang biasa). • Pada Zaman Hindu warga masyarakat digolongkan ke dalam 4 tingkatan. • Di Jawa masa kerajaan terdapat pelapisan dari atas ke bawah yakni: • 1) Raja (Sultan).• Mengapa kelas-kelas sosial di dalam masyarakat digambarkan dalam bentuk kerucut? Hal ini berkaitan dengan jumlah warga masyarakat semakin tinggi jumlahnya semakin sedikit. Ksatria. dan Gusti (nama untuk Waisya). privelese dan prestise yang berbeda pula. Akibat logisnya adalah dimungkinkan terjadinya korupsi. • c. • b. • Pada sistem kasta yang disebut TRI WANGSA adalah Brahmana. • Pendekatan historis didasarkan atas teori pertentangan kelas.

• b. • c. . Pendekatan fenomenologis. dan kelas bawah. Mobilitas sosial. • b. • e. Faktor-faktornya bisa bervariasi.atas. yang menyebabkan penurunan status sosial sekelompok orang. bahwa timbulnya prasangka dan ketidakpastian di kota disebabkan oleh noda yang dilakukan sekelompok tertentu Anilisis Gordon Alport (1958) tentang parasangka atau kecemburuan sosial akibat adanya pelapisan sosial yang dikenal dengan beberapa pendekatan antara lain: • a. Disebabkan oleh timbulnya prasangka dan perilaku non integratif dari anggota-anggotanya. • Pendekatan kepribadian (psikologis) menyatakan bahwa prasangka dan kecemburuan sosial sosial diakibatkan oleh keadaan frustasi yang mendorong tindakan agresif. Menurut teori ini tindakan agresi. Pendekatan sosiokultural dan situasional. Bahwa yang menimbulkan prasangka adalah individu itu sendiri yang berprasangka atas perilaku tertentu. yang secara historis dipengaruhi oleh budaya “Tuan” dan “Budak”. • Pendekatan historis didasarkan atas teori pertentangan kelas. dan kecemburuan tertentu. kelas menengah. • d. kadangkadang melahirkan prasangka dan menyalahkan situasi masyarakat. yang secara historis dipengaruhi oleh budaya “Tuan” dan “Budak”. sikap. Stigma perkotaan. Pendekatan kepribadian (psikologis). • Pendekatan naïve lebih menyoroti objek prasangka atau objek tindakan individu. timbulnya prasangka dan kecemburuan sosial. Contohnya prasangka orang kulit putih terhadap ras negro. Contohnya prasangka orang kulit putih terhadap ras negro. timbulnya prasangka dan kecemburuan sosial. Pertentangan kelas itu diwarnai oleh kondisi saling menyalahkan. Konflik antar kelompok. dan tindakan individu merupakan gejala-gejala yang bersifat fenomenal atau bersifat umum. dan frustasi lebih ditentukan oleh tipe kepribadian seseorang akibat proses sosialisasi yang keliru terhadap lingkungan masyarakatnya. perbedaan kemampuan. • Pendekatan kepribadian (psikologis) menyatakan bahwa prasangka dan kecemburuan sosial sosial diakibatkan oleh keadaan frustasi yang mendorong tindakan agresif. antara lain: • a. • c. Menurut teori ini tindakan agresi. Pendekatan historis. kelas menengah. Menurut teori ini terjadinya pelapisan sosial. • Pendekatan sosiokultural dan situasional adalah pendekatan yang menyoroti tentang kondisi dan situasi saat ini sebagai penyebab timbulnya perilaku. • Pendekatan fenomenologis menyatakan bahwa prasangka dan kecemburuan sosial dipengaruhi oleh bagaimana individu memandang masyarakat dan lingkungannya. dan bukan menyoroti pelakunya/ individunya. dan kelas bawah. prasangka. Pertentangan kelas itu diwarnai oleh kondisi saling menyalahkan. sehingga persepsilah yang menyebabkan prasangka dan kecemburuan sosial. Pendekatan naïve. yaitu konflik antara kelas atas. Contoh pada masa lalu Pegawai Negri Sipil selalu disangka akan hanya mendukung partai tertentu padahal belum tentu benar. prasangka.

sehingga persepsilah yang menyebabkan prasangka dan kecemburuan sosial. . dan tindakan individu merupakan gejala-gejala yang bersifat fenomenal atau bersifat umum. prasangka. Contoh pada masa lalu Pegawai Negri Sipil selalu disangka akan hanya mendukung partai tertentu padahal belum tentu benar. • Pendekatan fenomenologis menyatakan bahwa prasangka dan kecemburuan sosial dipengaruhi oleh bagaimana individu memandang masyarakat dan lingkungannya. Bahwa yang menimbulkan prasangka adalah individu itu sendiri yang berprasangka atas perilaku tertentu.prasangka. sikap. dan bukan menyoroti pelakunya/ individunya. dan kecemburuan tertentu. • Pendekatan sosiokultural dan situasional adalah pendekatan yang menyoroti tentang kondisi dan situasi saat ini sebagai penyebab timbulnya perilaku. • Pendekatan naïve lebih menyoroti objek prasangka atau objek tindakan individu. Menurut teori ini terjadinya pelapisan sosial. dan frustasi lebih ditentukan oleh tipe kepribadian seseorang akibat proses sosialisasi yang keliru terhadap lingkungan masyarakatnya. perbedaan kemampuan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful