You are on page 1of 23

Referat

Gangguan Obsesif Kompulsif

Disusun oleh: Citra Seftiani 04061001066

Dosen Pembimbing: dr. Laila Sylvia Sari, SpKJ

BAGIAN ILMU KESEHATAN JIWA RUMAH SAKIT JIWA DAERAH JAMBI 2010

HALAMAN PENGESAHAN
Referat Judul Gangguan Obsesif Kompulsif Oleh: Citra Seftiani 04061001066 Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat dalam mengikuti Kepaniteraan Klinik Senior di Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Univesitas Sriwijaya Rumah Sakit Jiwa Daerah periode 25 Oktober - 22 November 2010.

Jambi, Oktober 2010

dr. Laila Sylvia Sari, SpKJ

ii

KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur. yang merupakan salah satu syarat untuk menempuh kepaniteraan klinik senior bagian ilmu kesehatan jiwa RSJD Jambi. SpKJ. Palembang. Oktober 2010 Penulis 3 . tetapi penulis mengucapkan terima kasih kepada dr. sehingga penulis dapat menyelesaikan referat yang berjudul gangguan obsesif kompulsif. penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya. Di dalam penyusunan referat ini penulis menyadari keterbatasan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki. berkat bantuan dan bimbingan dalam penyusunan referat ini. sehingga penyusunan referat ini dapat diselesaikan walaupun masih jauh dari sempurna. Penulis juga mengucapkan terima kasih atas bantuan dari teman-teman di bagian ilmu kesehatan jiwa RSJD Jambi. Laila Sylvia Sari.

. BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA........ HALAMAN PENGESAHAN ........................................... BAB 1 PENDAHULUAN...........................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .................................................................... BAB 3 KESIMPULAN .... KATA PENGANTAR .................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................... i ii iii iv 1 6 21 22 4 .............................................. DAFTAR ISI .............................................................................................................................. DAFTAR PUSTAKA ........

gangguan penyalahgunaan zat dan gangguan depresi berat.4 Gangguan obsesif – kompulsif menduduki peringkat keempat dari gangguan jiwa setelah fobia.4 Hal ini menunjukkan bahwa dokter selain psikiater penting untuk mendapat diagnosis yang benar.2.3.1.3 Kebanyakan pasien dengan gangguan obsesif – kompulsif datang ke beberapa dokter sebelum mereka ke psikiater dan umumnya 9 tahun mendapat terapi. Gangguan ini prevalensinya diperkirakan 2 – 3% dari populasi.Bab I Pendahuluan Gangguan obsesif – kompulsif merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan adanya pengulangan pikiran obsesif atau kompulsif. baru kemudian mendapat diagnosis yang benar. 5 . dimana membutuhkan banyak waktu (lebih dari satu jam perhari) dan dapat menyebabkan penderitaan.

karena obsesi dapat menghabiskan waktu dan dapat mengganggu secara bermakna pada rutinitas normal seseorang. dibakukan.kompulsif biasanya menyadari irrasionalitas dari obsesi dan merasakan bahwa obsesi dan kompulsi sebagai ego-distonik. gangguan yang berhubungan dengan zat.1 B. Defiuisi Suatu obsesi adalah pikiran. sedangkan melakukan kompulsi bmenurunkan kecemasan seseorang. kira-kira dua pertiga dari pasien memiliki onset gejala sebelum usia 25 tahun. atau sensasi yang mengganggu (intrusif). ide. jika seseorang memaksa untuk melakukuan kompulsi. perasaan. Obsesi meningkatkan kecemasan seseorang. Secara keseluruhan. Seseorang dengan gangguan obsesif. Suatu kompulsi adalah pikiran atau perilaku yang disadari. memeriksa atau menghindari. atau hubungan dengan teman dan anggota keluarga. Epidemiologi Prevalensi seumur hidup gangguan obsesif kompulsif pada populasi umum diperkirakan adalah 2 sampai 3 persen. fungsi pekerjaan. Angka tersebut menyebabkan gangguan obsesif-kompulsif sebagai diagnosis psikiatrik tersering keempat setelah fobia. Usia onset rata-rata adalah kira-kira 20 tahun. Gangguan obsesif-kompulsif dapat merupakan gangguan yang menyebabkan ketidakberdayaan. laki-laki dan perempuan sama mungkin terkena. dan rekuren. tetapi untuk remaja. kecemasan meningkat.Bab II Tinjauan Pustaka A. 1 Untuk orang dewasa. laki-laki lebih sering terkena gangguan obsesif-kompulsif dibandingkan perempuan. aktifitas sosial yang biasanya. dan gangguan depresif berat. seperti menghitung. Tetapi. dan kurang dari 15 persen pasien memiliki onset gejala 6 . Beberapa peneliti memperkirakan bahwa gangguan obsesif-kompulsif ditemukan pada sebanyak 10 persen pasien rawat jalan di klinik psikiatrik.

Banyak uji coba kinis yang telah dilakukan terhadap berbagai obat mendukung hipotesis bahwa suatu disregulasi serotonin adalah terlibat di dalam pembentukan gejala obsesi dan kompulsi dari gangguan. Etiologi a. Data menunjukkan bahwa obat serotonergik lebih efektif dibandingkan obat yang mempengaruhi sistem neurotransmiter lain. dan gangguan makan. Diagnosis psikiatrik komorbid lainnya pada pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif adalah gangguan penggunaan alkohol. fobia spesifik. 1 C. Baik tomografi komputer (CT scan) dan pencitraan resonansi magnetik (MRI) telah menemukan adanya penurunan ukuran kaudata secara biateral pada pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif. sebagai contoh PET ( positron emission tomography).setelah usia 35 tahun. Tetapi apakah serotonin terlibat di dalam penyebab gangguan obsesif-kompulsif adalah tidak jelas pada saat ini. Gangguan obsesif-kompulsif ditemukan lebih jarang diantara golongan kulit hitam dibandingkan kulit putih. Orang yang hidup sendirian lebih banyak terkena gangguan obsesif-kompulsif dibandingkan orang yang menikah. Faktor Biologis Neurotransmiter. 1 Penelitian pencitraan otak. metabolisme dan aliran darah) di lobus frontalis. Baik penelitian pencitraan otak fungsional maupun struktural konsisten dengan pengamatan bahwa prosedur neurologis yang melibatkan singulum kadang-kadang efektif dalam pengobatan pasien dengan 7 . telah menemukan peningkatan aktifitas (sebagai contoh. ganglia basalis (khususnya kaudata). 1 Pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif umumnya dipengaruhi oleh gangguan mental lain. gangguan panik. Berbagai penelitian pencitraan otak fungsional. dan singulum pada pasien dengan gangguan obsesif kompulsif. Prevalensi seumur hidup untuk gangguan depresif berat pada pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif adalah kira-kira 67 persen dan untuk fobia sosial adalah kira-kira 25 persen.

gangguan obsesif-kompulsif. Stimulus yang relatif netral menjadi disertai dengan ketakutan atau kecemasan melalui proses pembiasaan responden dengan memasangkannya dengan peristiwa yang secara alami adalah berbahaya atau menghasilkan kecemasan. obsesi adalah stimuli yang dibiasakan. Penelitian elektrofisiologis. seperti nonsupresi pada dexamethasone-supprssion test pada kira-kira sepertiga pasien dan penurunan sekresi hormon pertumbuhan pada infus clonidine (catapres). Suatu penelitian MRI baru-baru ini melaporkan peningkatan waktu relaksasi T1 di korteks frontalis. 8 . Suatu insidensi kelainan EEG nonspesifik yang lebih tinggi dari biasanya telah ditemukan pada pasien gangguan obsesif-kompulsif. Penelitian neuroendokrin juga telah menemukan beberapa kemiripan dengan gangguan depresif. objek dan pikiran yang sebelumnya netral menjadi stimuli yang terbiasakan yang mampu menimbulkan kecemasan atau gangguan.3 Kompulsi dicapai dalam cara yang berbeda. 1. Penelitian kesesuaiaan pada anak kembar untuk gangguan obsesif-kompulsif telah secara konsisten menemukan adanya angka kesesuaian yang lebih tinggi secara bermakna pada kembar monozigotik dibandingkan kembar dizigotik. strategi menghindar yang aktif dalam bentuk perilaku kompulsif atau ritualistik dikembangkan untuk mengendalikan kecemasan. Seseorang menemukan bahwa tindakan tertentu menurunkan kecemasan yang berkaitan dengan pikiran obsesional. Faktor Perilaku Menurut ahli teori belajar. 1. penelitian elektroensefalogram (EEG) tidur. Penelitian EEG tidur telah menemukan kelainan yang mirip dengan yang terlihat pada gangguan depresif. Jadi. 1 Data biologis lainnya. dan penelitian neuroendokrin telah menyumbang data yang menyatakan adanya kesamaan antara gangguan depresif dan gangguan obsesif-kompulsif. Penelitian keluarga pada pasien gangguan obsesif kompulsif telah menemukan bahwa 35 persen sanak saudara derajat pertama pasien gangguan obsesif-kompulsif juga menderita gangguan. Jadi.3 b. 1 Genetika. seperti penurunan latensi REM (rapid eye movement).

Isolasi adalah mekanisme pertahanan yang melindungi seseorang dari afek dan impuls yang mencetuskan kecemasan.ah mekanisme meruntuhkan (undoing). strategi menghindar menjadi terfiksasi sebagai pola perilaku kompulsif yang dipelajari. Karena adanya ancaman terus-menerus bahwa impuls mungkin dapat lolos dari mekanisme primer isolasi dan menjadi bebas. isolasi. 1 Undoing. dan pasien secara sadar hanya menyadari gagasan yang tidak memiliki afek yang berhubungan dengannya. meruntuhkan (undoing). afek dan impuls yang didapatkan darinya adalah dipisahkan dari komponen idesional dan dikeluarkan dari kesadaran. Sebagian besar pasien gangguan obsesif-kompulsif tidak memiliki gejala kompulsif pramorbid. Tindakan kompulsif menyumbangkan manifestasi permukaan operasi defensif yang ditujukan untuk menurunkan kecemasan dan mengendalikan impuls dasar yang belum diatasi secara memadai oleh isolasi. Dengan demikian. Sigmund Freud menjelaskan tiga mekanisme pertahanan psikologis utama yang menentukanbentuk dan kualitas gejala dan sifat karakter obsesif-kompulsif. 1. Gangguan obsesif-kompulsif adalah berbeda dari gangguan kepribadian obsesif-kompulsif.1 Faktor psikodinamika. Hanya kira-kira 15 sampai 35 persen pasien gangguan obsesif-kompulsif memiliki sifat obsesional pramorbid. sifat kepribadian tersebut tidak diperlukan atau tidak cukup untuk perkembangan gangguan obsesif-kompulsif. impuls dan afek yang terkait seluruhnya terepresi. Operasi pertahanan sekunder yang cukup penting adal. Jika terjadi isolasi.3 c. operasi pertahanan sekunder diperlukan untuk melawan impuls dan menenangkan kecemasan yang mengancam keluar ke kesadaran. Seperti yang 9 .Secara bertahap. Jika isolasi berhasil sepenuhnya. dan pembentukan reaksi. Faktor Psikososial Faktor kepribadian. 1. karena manfaat perilaku tersebut dalam menurunkan dorongan sekunder yang menyakitkan (kecemasan).3 Isolasi.

Jika pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif merasa terancam oleh kecemasan tentang pembalasan dendam atau kehilangan objek cinta yang penting. mungkin terletak pada gangguan dan perkembangan pertumbuhan normal yang berhubungan dengan fase perkembangan anal-sadistik. Seringkali. mereka mundur dari fase oedipal dan beregresi ke stadium emosional yang sangat ambivalen yang berhubungan dengan fase anal. Ambivalensi adalah akibat langsung dari perubahan dalam karakteristik kehidupan impuls. Suatu ciri yang melekat pada pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif adalah derajat dimana mereka terpaku dengan agresi atau kebersihan. gangguan obsesif-kompulsif dinamakan neurosis obsesif-kompulsif dan merupakan suatu regresi dari fase perkembangan oedipal ke fase psikoseksual anal. Pembentukan reaksi melibatkan pola perilaku yang bermanifestasi dan sikap yang secara sadar dialami yang jelas berlawanan dengan impuls dasar. baik secara jelas dalam isi gejala mereka atau dalam hubungan yang terletak di belakangnya. meruntuhkan adalah suatu tindakan kompulsif yang dilakukan dalam usaha untuk mencegah atau meruntuhkan akibat yang secara irasional akan dialami pasien akibat pikiran atau impuls obsesional yang menakutkan.disebutkan sebelumnya. psikogenesis gangguan obsesif-kompulsif. Hal ini adalah ciri yang penting pada anak normal selama fase perkembangan anal-sadistik. pola yang terlihat oleh pengamat adalah sangat dilebih-lebihkan dan tidak sesuai. Dengan demikian. Adanya benci dan cinta secara bersama-sama kepada orang yang sama menyebabkan pasien dilumpuhkan oleh keragu-raguan dan kebimbangan. 1 Faktor psikodinamik lainnya. Pada teori psikoanalitik klasik. 1 Pembentukan reaksi. 1 10 . yaitu anak merasakan cinta dan kebencian kepada suatu objek. 1 Ambivalensi. Konflik emosi yang berlawanan tersebut mungkin ditemukan pada pola perilaku melakukan-tidak melakukan pada seorang pasien dan keragu-raguan yang melumpuhkan dalam berhadapan dengan pilihan.

• Orang berusaha untuk mengabaikan atau menekan impuls. impuls. pada suatu saat dimana selama gangguan. ketimbang impuls. atau bayangan-bayangan yang Obsesi seperti yang didefinisikan sebagai berikut: rekuren dan persisten yang dialami. menghitung. • yang nyata. yaitu fungsi ego. dan menyebabkan kecemasan dan penderitaan yang jelas. impuls. • pikiran. semata-mata hanya dengan berpikir tentang peristiwa tersebut. impuls. Orang merasa bahwa mereka dapat menyebabkan peristiwa di dunia luar terjadi tanpa tindakan fisik yang menyebabkannya. mengurutkan. atau bayangan-bayangan tidak semata-mata kekhawatiran yang berlebihan tentang masalah kehidupan mentralkannya dengan pikiran atau tindakan lain. dipengaruhi oleh regresi. memeriksa) atau tindakan mental (misalnya berdoa. atau obsesional adalah keluar dari pikirannya bayangan-bayangan sendiri( tidak disebabkan dari luar seperti penyisipan pikiran). 1 D. mencuci tangan. sebagai intrusif dan tidak sesuai. dan juga fungsi id. Perasaan tersebut menyebabkan memiliki suatu pikiran agresif akan menakutkan bagi pasien gangguan obsesif-kompulsif. atau bayangan-bayangan tersebut untuk Pikiran. mengulangi katakata dalam hati) yang berulang yang dirasakannya mendorong untuk 11 . Yang melekat pada pikiran magis adalah pikiran kemahakuasaan. Pikiran magis adalah regresi yang mengungkapkan cara pikiran awal. Kompulsi seperti yang didefinisikan sebagai berikut: • Perilaku (misalnya.Pikiran magis. Diagnosis Kriteria diagnostik untuk gangguan obsesif-kompulsif menurut DSM IV: 1. • Salah satu obsesi atau kompulsi Pikiran. Orang menyadari bahwa pikiran.

medikasi) atau kondisi medis umum.melakukannya sebagai respon terhadap suatu obsesi. permasalahan pada penampilan jika terdapat gangguan dismorfik tubuh. atau menurut dengan aturan yang harus dipatuhi secara kaku. menarik rambut jika terdapat kompulsi tidak terbatas padanya (misalnya preokupasi dengan makanan trikotilomania. orang telah menyadari bahwa obsesi atau kompulsi adalah berlebihan atau tidak beralasan. • Perilaku atau tindakan mental ditujukan untuk mencegah atau menurunkan penderitaan atau mencegah suatu kejadian atau situasi yang menakutkan. Sebutkan jika: Dengan tilikan buruk:jika selama sebagian besar waktu selama episode terakhir. preokupasi dengan dorongan atau fanatasi seksual jika terdapat parafilia. isi obsesi atau gangguan makan. fungsi pekerjaan (atau akademik). atau aktifitas atau hubungan sosial yang biasanya. preokupasi dengan menderita suatu penyakit serius jika terdapat hipokondriasis. atau perenungan bersalah jika terdapat gangguan depresif berat). Catatan: ini tidak berlaku bagi anak-anak 3. Pada suatu waktu selamaperjalanan gangguan. orang tidak menyadari bahwa obsesi dan kompulsi adalah berlebihan atau tidak beralasan. atau jelas berlebihan. tetapi perilaku atau tindakan mental tersebut tidak dihubungkan dengan cara yang realistik dengan apa mereka dianggap untuk menetralkan atau mencegah. jika terdapat Jika terdapat gangguan aksis I lainnya. atau secara bermakna mengganggu rutinitas normal orang. Tidak disebabkan oleh efek langsung suatu zat (misalnya obat yang disalahgunakan. 5. 2. menghabiskan waktu (menghabiskan lebih dari satu jam sehari). preokupasi dengan obat jika terdapat suatu gangguan penggunaan zat. Obsesi atau kompulsi menyebabkan penderitaan yang jelas. 1 Pedoman diagnosis menurut PPDGJ III: 12 . 4.

meskipun ada lainnya yang tidak lagi dilawan oleh penderita. gejala-gejala obsesif atau tindakan kompulsif. Dalam berbagai situasi dari kedua hal tersebut. maka baik menganggap depresi sebagai diagnosis yang primer. dan sebaliknya penderita gangguan depresi berulang dapat menunjukkan pikiran-pikiran obsesif selama episode depresifnya.• Untuk menegakkan diagnosis pasti. meningkat atau menurunnya gejala depresif umumnya dibarengi secara paralel dengan perubahan gejala obsesif. o Pikiran untuk melakukan tindakan tersebut di atas bukan merupakan hal yang memberi kepuasan atau kesenangan (sekedar perasaan lega dari ketegangan atau anxietas. o Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang tidak berhasil dilawan. Diagnosis gangguan obsesif kompulsif ditegakkan hanya bila tidak ada gangguan depresif pada saat gejalobsesif kompulsif tersebut timbul. maka prioritas diberikan pada gejala yang paling bertahan saat gejala yang lain menghilang. Pada gangguan menahun. maka diagnosis diutamakan dari gejala-gejala yang timbul lebih dahulu. atau impuls tersebut harus merupakan pengulangan yang tidak menyenangkan (unpleasantly repetitive) • Ada kaitan erat antara gejala obsesif. Bila terjadi episode akut dari gangguan tersebut. terutama pikiran obsesif. o Gagasan. penderita gangguan obsesif kompulsif seringkali juga menunjukkan gejala depresif. Bila dari keduanya tidak adayang menonjol. bayangan pikiran. • • Hal tersebut merupakan sumber penderitaan (distress) atau mengganggu aktivitas penderita. Gejala-gejala obsesif harus mencakup hal-hal berikut: o Harus disadari sebagai pikiran atau impuls diri sendiri. dengan depresi. 13 . atau kedua-duanya. tidak dianggap sebagai kesenangan seperti dimaksud di atas. harus ada hampir setiap hari selama sedikitnya dua minggu berturut-turut.

yang umumnya memang demikian. 14 . sindrom Tourette. atau gangguan mental organk. atau impuls ( dorongan perbuatan). Hal tersebut dilatarbelakangi perasaan takut terhadap bahaya yang mengancam dirinya atau bersumber dari dirinya. bayangan pikiran. • Tindakan ritual kompulsif tersebut menyita banyak waktu sampai beberapa jam dalam sehari dan kadang-kadang berkaitan dengan ketidakmampuan mengambil keputusan dan kelambanan.• Gejala obsesif ”sekunder” yang terjadi pada gangguan skizofrenia.2 Campuran Pikiran dan Tindakan Obsesif Pedoman Diagnostik • Kebanyakn dari penderita obsesif kompulsif memperlihatkan pikiran obsesif serta tindakan kompulsif. memeriksa berulang untuk meyakinkan bahwa suatu situasi yang dianggap berpotensi bahaya terjadi. harus dianggap sebagai bagian dari kondisi tersebut. 2 F42. yang sifatnya mengganggu (ego alien) Meskipun isi pikiran tersebut berbeda-beda. umumnya hampir selalu menyebabkan penderitaan (distress) 2 F42. Diagnosis ini digunakan bialmana kedua hal tersebut sama-sama menonjol.1 Predominan Tindakan Kompulsif ( obsesional ritual) Pedoman Diagnostik • Umumnya tindakan kompulsif berkaitan dengan kebersihan (khususnya mencuci tangan). atau masalah kerapian dan keteraturan.0 Predominan Pikiran Obsesif atau Pengulangan Pedoman Diagnostik • • Keadaan ini dapat berupa gagasan. dan tindakan ritual tersebut merupakan ikhtiar simbolik dan tidak efektif untuk menghindari bahaya tersebut. 2 F42.

8 Gangguan Obsesif Kompulsif Lainnya F42. hal ini berkaitan dengan respon yang berbeda terhadap pengobatan. Gejala pasien individual mungkin bertumpang tindih dan berubah dengan berjalannya waktu. Suatu perasaan ketakutan yang mencemaskan yang menyertai manifestasi sentral dan seringkali menyebabkan orang melakukan tindakan kebalikan melawan gagasan atau impuls awal. Kira-kira 80 persen dari semua pasien percaya bahwa kompulsi adalah irasional. 1 Gambaran obsesi dan kompulsi adalah heterogen pada dewasa.0 atau F42.9 Gangguan Obsesif Kompulsif YTT2 E. • Obsesi dan kompulsi adalah asing bagi ego (ego-alien). orang biasanya menyadarinya sebagai mustahil dan tidak masuk akal. yaitu dialami sebagai suatu yang asing bagi pengalaman seseorang tentang dirinya sendiri sebagai makhluk psikologis. Tindakan kompulsif lebih respondif terhadap terapi perilaku. tetapi gangguan obsesif-kompulsif memiliki empat pola gejala yang utama. pada anak-anak dan remaja. Pola yang paling sering ditemukan adalah suatu obsesi tentang kontaminasi. • Tidak peduli bagaimana jelas dan memaksanya obsesi atau kompulsi tersebut. • Orang yang menderita akibat obsesi dan kompulsi biasanya merasakan suatu dorongan yang kuat untuk menahannya. 1 Tetapi kira-kira separuh dari semua pasien memiliki pertahanan yang kecil terhadap kompulsi. Gambaran Klinis Obsesif dan kompulsi memiliki ciri tertentu secara umum: • • Suatu gagasan atau impuls yang memaksakan dirinya secara bertubi-tubi dan terus-menerus ke dalam kesadaran seseorang.sebaiknya dinyatakan dalam diagnosis F42.• Apabila salah satu memang jelas lebih dominan. diikuti oleh mencuci disertai 15 .1. 2 F42.

5 F. 1. urin. Pasien memiliki keragu-raguan terhadap diri sendiri yang obsesional. rasa malu dan rasa jijik yang obsesif juga sering ditemukan. Nobsesi tersebut biasanya berupa pikiran berulang akan suatu tindakan seksual atau agresi yang dicela oleh pasien. seperti lupa mematikan kompor atau tidak mengunci pintu.4. diikuti oleh pengecekan yang kompulsi. Objek yang ditakuti seringkali sukar untuk dihindari. 1 Pola ketiga yang tersering adalah pola dengan semata-mata pikiran obsesional yang mengganggu tanpa suatu kompulsi. Pasien mungkin secara terus-menerus menggosok kulit tangannya dengan mencuci tangan secara berlebihan atau mungkin tidak mampu pergi keluar rumah karena takut akan kuman. Diagnosis Bandimg • Kondisi medis Gangguan neurologis utama yang dipertimbangkan dalam diagnosis banding adalah gangguan Tourette. Walaupun kecemasan adaloah respon emosional yang paling sering terhadap objek yang ditakuti. 1 Pola kedua yang sering adalah obsesi keragu-raguan. Gejala 16 . gangguan tik lainnya. epilepsi lobus temporalis. Pengecekan tersebut mungkin menyebabkan pasien pulang beberapa kali ke rumah untuk memeiksa kompor. yang dapat menyebabkan perlambatan kompulsi. sebagai contoh feses. Pasien secara harfiah menghabiskan waktu berjam-jam untuk makan atau mencukur wajahnya. Trikotilomania dan menggigit kuku mungkin merupakan kompulsi yang beruhubungan dengan gangguan obsesif-kompulsif. Pasien dengan obsesi kontaminasi biasanya percaya bahwa kontaminasi ditularkan dari objek ke objek atau orang ke orang oleh kontak ringan.penghindaran obsesif terhadap objek yang kemungkinan terkontaminasi. Obsesi seringkali melibatkan suatu bahaya kekerasan. saat mereka selalu merasa bersalah karena melupakan atau melakukan sesuatu. debu atau kuman. 1 Pola keempat yang tersering adalah kebutuhan akan simetrisitas atau ketepatan. dan kadang-kadang komplikasi trauma dan pascaensefalitik.

oleh kurang kacaunya sifat gejala. Gangguan obsesif kompulsif biasanya dapat dibedakan dari skizofrenia oleh tidak adanya gejala skizofrenik lain. 1 G. walaupun biasanya diperlukan waktu delapan sampai enam belas minggu untuk mendapatkan manfaat terapeutik yang maksimum. dan kemungkinan gangguan impuls lainnya. gangguan dismorfik tubuh. Terapi • Farmakoterapi Data yang tersedia menyatakan bahwa semua obat yang digunakan untuk mengobati gangguan depresif atau gangguan mental lain. dan gangguan depresif. Gangguan depresif berat kadang-kadang dapat disertai oleh gagasan obseisf. sebagai contoh permasalahan tentang tubuhnya. Walaupun pengobatan dengan obat antidepresan adalah masih kontroversial. Gangguan kepribadian obsesif-kompulsif tidak memiliki derajat gangguan fungsional yang berhubungan dengan gangguan obsesif-kompulsif. 1.karakteristik dari gangguan Tourette adalah tik motorik dan vokal yang sering dan hampir setiap hari terjadi. fobia. atau perilaku yang berulang sebagai contoh mencuri. Fobia dibedakan dengan tidak adanya hubungan antara pikiran obsesif dan kompulsi. tetapi pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif saja tidak memenuhi kriteria diagnostik untuk gangguan depresif berat. sebagian pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif yang berespon terhadap pengobatan dengan antidepresan tampaknya 17 .3 Kondisi psikiatrik lain yang dapat berhubungan erat dengan gangguan obsesifkompulsif adalah hipokondriasis. seperti kleptomania dan judi patologis. Pada semua gangguan tersebut pasien memiliki pikiran yang berulang. dan oleh tiikan pasien terhadap gangguan mereka. Efek awal biasanya terlihat setelah empat sampai enam minggu pengobatan. 1 • Kondisi psikiatrik Pertimbangan psikiatrik utama di dalam diagnosis banding gangguan obsesifkompulsif adalah skizofrenia. gangguan kepribadian obsesif-kompulsif. dapat digunakan dalam rentang dosis yang biasanya.

terapi perilaku sama efektifnya dengan farmakoterapi pada gangguan obsesif-kompulsif. Pengobatan standar adalah memulai dengan obat spesifik-serotonin. kadang-kadang SSRI digunakan sebagai obat lini pertama dalam pengobatan gangguan obsesif kompulsif.mengalami relaps jika terapi obat dihentikan. khususnya Phenelzine (Nardil). kegelisahan. Walaupun SSRI mempunyai efek seperti overstimulasi. Obat lain yang dapat digunakan dalam pengobatan gangguan obsesif kompulsif adalah inhibitor monoamin oksidase (MAOI. dan efek samping gastrointestinal. 1 Clomipramine. Pendekatan perilaku utama pada gangguan obsesif-kompulsif adalah pemaparan dan pencegahan respon. 1 SSRI. Clomipramine biasanya dimulai dengan dosis 25 sampai 50 mg sebelum tidur dan dapat ditingkatkan dengan peningkatan 25 mg sehari setiap dua sampai tiga hari. contohnya clomipramine (Anafranil) atau inhibitor ambilan kembali spesifik serotonin (SSRI-serotonin specific reuptake inhibitor). mual. Terapi perilaku dapat dilakukan pada situasi rawat inap maupun rawat jalan. seperti mulut kering. SSRI dapat ditoleransi dengan lebih baik daripada obat trisiklik. banyak klinisi mempertimbangkan terapi perilaku sebagai terapi terpilih untuk gangguan obsesif-kompulsif. sampai dosis maksimum 250 mg sehari atau tampak efek samping yang membatasi dosis. 18 . hipotensi. Dengan demikian. Penelitian tentang Fluoxetine dalam gangguan obsesifkompulsif menggunakan dosis sampai 80 mg setiap hari untuk mencapai manfaat terapeutik. 1 Jika pengobatan dengan Clomipramine atau SSRI tidak berhasil. disfungsi seksual dan efek samping antikolinergik. 1 • Terapi perilaku Walaupun beberapa perbandinga telah dilakukan. seperti Fluoxetine (Prozac). nyeri kepala. obat ini disertai dengan efek samping berupa sedasi. Karena Clopramine adalah suatu obat trisiklik. banyak ahli terapi menambahkan lithium (Eskalith). monoamine oxidase inhibitor). insomnia. Dengan demikian.

5 • Terapi lain Terapi keluarga seringkali berguna dalam mendukung keluarga. 19 . dan pembiasaan tegas juga telah digunakan pada pasien gangguan obsesif kompulsif. terapi implosi. khususnya untuk pasien gangguan obsesif-kompulsif. pembanjiran.Desensitisasi. 5 • Psikoterapi Psikoterapi suportif jelas memiliki bagiannya. penentraman. adalah mampu untuk bekerja dan membuat penyesuaian sosial. 1 Anggota keluarga pasien seringkali menjadi putus asa karena perilaku pasien. Dalam terapi perilaku pasien harus benar-benar menjalankannya untuk mendapatkan perbaikan. menghentikan pikiran. 1 Terapi tingkah laku ini dimulai dengan pasien membuat daftar tentang obsesinya kemudian diatur sesuai hierarki mulai dari yang kurang membuat cemas sampai yang paling membuat cemas. simpatik. penjelasan dan nasihat tentang bagaimana menangani dan berespons terhadap pasien. pasien mungkin mampu untuk berfungsi berdasarkan bantuan tersebut. tanpa hal tersebut gejalanya akan menyebabkna gangguan. perlu untuk merawat pasien di rumah sakit sampai tempat penampungan institusi dan menghilangkan stres lingkungan eksternal menurunkan gejala sampai tingkat yang dapat ditoleransi. Dengan kontak yang kontinu dan teratur dengan tenaga yang profesional. 1. Tiap usaha psikoterapik harus termasuk perhatian pada anggota keluarga melalui dukungan emosional. dan mendorong. Kadang-kadang jika ritual dan kecemasan obsesional mencapai intensitas yang tidak dapat ditoleraansi. dan membangun ikatan terapi dengan anggota keluarga untuk kebaikan pasien. membantu menurunkan percekcokan perkawinan yang disebabkan gangguan. Dengan melakukan paparan berulang terhadap stimulus diharapkan akan menghasilkan kecemasan yang minimal karena adanya habituasi. walaupun gejalanya memiliki berbagai derajat keparahan.

yang berhasil dalam mengobati 25 sampai 30 persen pasien yang tidak responsif terhadap pengobatan lain. onset pada masa anak-anak. walaupun keterlambatan tersebut kemungkinan dipersingkat dengan meningkatkan kesadaran akan gangguan tersebut diantara orang awam dan profesional.4.3 Kira-kira 20 sampai 30 persen pasien dengan gangguan obsesif kompulsif memiliki gangguan depresif berat. terapi elektrokonvulsif (ECT) dan bedah psiko (psychosurgery) harus dipertimbangkan. dan kematian seorang sanak saudara. Suatu prognosis buruk dinyatakan oleh mengalah (bukannya menahan) pada kompulsi. Beberapa pasien yang tidak respon dengan bedah psiko saja dan dengan farmakoterapi atau terapi perilaku sebelum operasi menjadi respon terhadap farmakoterapi atau terapi perilaku setelah bedah psiko. ECT tidak seefektif bedah psiko tetapi kemungkinan harus dicoba sebelum pembedahan.6 H. adanya gagasan yang terlalu dipegang (overvalued)-yaitu penerimaan obsesi dan 20 . 1. Perjalanan Penyakit dan Prognosis Lebih dari setengah pasien dengan gangguan obsesif kompulsif memiliki onset gejala yang tiba-tiba. mereka seringkali terlambat 5 sampai 10 tahun sebelum pasien datang ke psikiater. Komplikasi yang paling sering dari bedah psiko adalah perkembangan kejang.Terapi kelompok berguna sebagai sistem pendukung bagi beberapa pasien. yang hampir selalu dikendalikan dengan pengobatan Phenytoin (Dilantin). kompulsi yang aneh (bizzare). Beberapa pasien mengalami penyakit yang berfluktuasi. seperti kehamilan. Perjalanan penyakit biasanya lama tetapi bervariasi. Kira-kira 50 sampai 70 persen pasien memiliki onset gejala setelah suatu peristiwa yang menyebabkan stres. masalah seksual. Untuk pasien yang sangat kebal terhadap pengobatan. Prosedur bedah psiko yang paling sering dilakukan untuk gangguan obsesif kompulsif adalah singulotomi. kepercayaan waham. Karena banyak pasien tetap merahasiakan gejalanya. dan bunuh diri adalah risiko bagi semua pasien dengan gangguan obsesif kompulsif. dan pasien lain mengalami penyakit yang konstan. perlu perawatan di rumah sakit. 1. gangguan depresif berat yang menyertai.

adanya peristiwa pencetus. atau kedua – duanya. dan adanya gangguan kepribadian (terutama gangguan kepribadian skizotipal). harus ada hampir setiap hari selama sedikitnya 2 minggu berturut – turut. gejala – gejala obsesif atau tindakan kompulsif. adanya stressor dan gejala yang bersifat periodik 21 . Beberapa faktor berperan dalam terbentuknya gangguan obsesif-kompulsif diantaranya adalah faktor biologi seperti neurotransmiter. dimana membutuhkan banyak waktu (lebih dari satu jam perhari) dan dapat menyebabkan penderitaan (distress). 1 Bab III Kesimpulan Gangguan obsesif – kompulsif merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan adanya pengulangan pikiran obsesif atau kompulsif. Untuk menegakkan diagnosis pasti. pencitraan otak. dan suatu sifat gejala yang episodik. Ada beberapa terapi yang bisa dilakukan untuk penatalaksanaan gangguan obsesif – kompulsif antara lain terapi farmakologi (farmakoterapi) dan terapi tingkah laku.kompulsi. Prognosis pasien dinyatakan baik apabila kehidupan sosial dan pekerjaan baik. yaitu faktor kepribadian dan faktor psikodinamika. Isi obsesional tampaknya tidak berhubungan dengan prognosis. faktor perilaku dan faktor psikososial. Prognosis yang baik ditandai oleh penyesuaian sosial dan pekerjaan yang baik. genetika.

rujukan ringkas dari PPDGJ – III. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder.J. USA: Williams and Wilikins Baltimore. 350 : 259-65 22 . 106(7): 133-41. 1993. H. Gangguan Jiwa.l dan Saddock B. 4. Obsessive compulsive disordes : what to do if you Jenike MA. Dalam : Buku saku Diagnosis Psychiatry vol. DSM-IV Washington DC: American Psychiatry Association. 2. Comprehensive Textbook of Gangguan obsesif – kompulsif. penyunting. Khouzan HR. Obsessive compulsive disorder.2 6th edition. 1994. Jakarta. recognize baffling behaviour. 5. Kaplan. Maslim R. 4th ed. Postgard Med 1999. N Engl J Med 2004.DAFTAR PUSTAKA 1. 2003.76 3.

23 .